Anda di halaman 1dari 22

Malpresentasi dan Malposisi pada

Janin

NOFRIS MANTO
102008170
Fakultas Kedokteran UKRIDA Jakarta 2012
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email : nofriz_xfile@yahoo.com
PENDAHULUAN
Dari skenario didapatkan kasus Ny.Cl datang ke rumah sakit dengan kehamilan
cukup bulan merasa mulas-mulas seperti mau melahirkan. Dari pemeriksaan
didapatkan ini kehamilan pertama, keadaan umum baik, TD 110/70, N 72X/mnt,
P 22x/mnt, kontraksi cukup kuat. Pernah memeriksakan kandungan nya saat usia
kandungan 3 bulan. Dokter menyatakan terdapat kelainan letak dan disarankan
untuk seksio sesaria.
Malpresentasi adalah bagian terendah janin yang berada disegmen bawah rahim
bukan belakang kepala. Malposisi adalah penunjuk (presenting part) tidak berada
di anterior. Secara epidemiologis pada kehamilan tunggal didapatkan presentasi
kepala sebesar 98,8%, bokong 2,7%, letak lintang 0,3%, majemuk 0,1%, muka
0,05%, dan dahi 0,01 %. Persalinan normal dapat terjadi manakala terpenuhi
keadaan-keadaan tertentu dari faktor-faktor persalinan : jalan lahir (passage),
janin (passanger), dan kekuatan (power). Pada waktu persalinan hubungan
antara janin dan jalan lahirsangatlah penting untuk diperhatikan karena akan
menentukan mekanisme dan prognosis persalinannya. Dalam keadaan normal,
presentasi janin adalah belakang kepala dengan penunjuk ubun-ubun kecil dalam
posisi tranversal (saat masuk pintu pintu atas panggul), dan posisi anterior
(setelah melewati pintu tengah panggul). Dengan presentasi tersebut, kepala
janin

akan

masuk

panggul

dalam

ukuran

terkecilnya

(sirkumferensia

suboksipitobregmaticus). Hal tersebut di capai bila sikap kepala janin fleksi.


Sikap yang tidak normal akan menimbulkan malpresentasi pada janin, dan
kesulitan persalinan terjadi oleh diameter kepala yang harus melalui panggul
menjadi lebih besar.

ANAMNESIS

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 1

Identitas pasien
Berdasarkan kasus didapatkan seorang wanita dengan usia 27 tahun. Untuk identitas

ini harus kita tanyakan lagi secara lebih lengkap.


Keluhan Utama
Pasien mengeluh sudah mules-mules seperti mau melahirkan dan kehamilan sudah

cukup bulan.
Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan distosia akibat kelainan letak pada janin nya. Pasien sudah hamil cukup

bulan, dan sudah mulas-mulas seperti mau melahrikan.


Riwayat penyakit terdahulu
Tidak didapatkan riwayat penyakit terdahulu. Pada pemeriksaan kandungan usia 3

bulan, keadaan umum baik.


Riwayat menstruasi
Dalam kasus ini tidak diketahui. Namun harus ditanyakan kapan menarche nya, lama
nya berapa lama setiap kali haid, apakah ada nyeri ketika haid, dan ditanyakan tanggal

HPHT.
Riwayat perkawinan
Harus ditanyakan kapan pertama kali menikah, dan ini perkawinan yang keberapa.
Riwayat kehamilan sekarang
Ditanyakan usia kehamilan, riwayat ante natal care.2

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Fisik Umum


Dari pemeriksaan umum ini kita lihat keadaan umum nya, kesadaran, tanda-tanda
vital yang meliputi nadi, suhu, pernapasan, tekanan darah, kemudian berat badan,

tinggi badan.
Pemeriksaan Obstetri
Pemeriksaan inspeksi disini meliputi inspeksi, palpasi, dan auskultasi.
Yang pertama kita inspeksi perut membesarkah, ada striae gravidarum atau tidak.
Setelah itu kita lakukan palpasi dan tentukan berdasarkan Leopold, dan laporkan
hasilnya.
Kemudian kita lakukan auskultasi denyut jantung janin. Bisa menggunakan dopler
atau stetoskop janin.
Karena pada kasus ini pasien sudah mengalami mules-mules seperti mau melahirkan,
maka kita catat hisnya, juga kita lihat apakah ada darah atau lendir yang keluar dari
vagina.2

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 2

Umur kehamilan

Tinggi fundus uteri

20 minggu

-/+20 cm

24 minggu

-/+24 cm

28 minggu

-/+28 cm

32 minggu

-/+32 cm

36 minggu

-/+34- 46 cm

Gambar 1. Tinggi fundus uteri berdasarkan umur kehamilan


Pemeriksaan leopold
1. Pemeriksaan leopold I, untuk menentukan bagian janin yang berada dalam
fundus

uteri.

Petunjuk cara pemeriksaan :


Pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien, menghadap kearah kepala
pasien. Kedua tangan diletakkan pada bagian atas uterus dengan
mengikuti

bentuk

uterus.Lakukan

palpasi

secara

lembut

untuk

menentukan bentuk, ukuran konsistensi dan gerakan janin. Tentukan


bagian janin mana yang terletak di fundus.
Hasil: jika kepala janin yang nerada di fundus, maka palpasi akan teraba
bagian bulat, keras dan dapat digerakkan (balotemen). Jika bokong yang
terletak di fundus,maka pemeriksa akan meraba suatu bentuk yang tidak
spesifik, lebih besar dan lebih lunak dari kepala, tidak dapat digerakkan,

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 3

serta fundus terasa penuh. Pada letak lintang palpasi didaerah fundus
akan terasa kosong.
2. Pemeriksaan Leopold II, untuk menentukan bagian janin yang berada pada
kedua

sisi

uterus.

Petunjuk pemeriksaan :
pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien, menghadap kepala pasien.
Kedua telapak tangan diletakkan pada kedua sisi perut, dan lakukan
tekanan yang lembut tetapi cukup dalam untuk meraba dari kedua sisi.
Secara perlahan geser jari-jari dari satu sisi ke sisi lain untuk menentukan
pada sisi mana terletak pada sisi mana terletak punggung, lengan dan
kaki.
Hasil : bagian bokong janin akan teraba sebagai suatu benda yang keras
pada beberapa bagian lunak dengan bentuk teratur,sedangkan bila teraba
adanya bagian bagian kecil yang tidak teratur mempunyai banyak
tonjolan serta dapat bergerak dan menendang, maka bagian tersebut
adalah kaki, lengan atau lutut. Bila punggung janin tidak teraba di kedua
sisi mungkin punggung janin berada pada sisi yang sama dengan
punggung ibu (posisi posterior) atau janin dapat pula berada pada posisi
dengan punggung teraba disalah satu sisi.
3. Pemeriksaan Leopold III, untuk menentukan bagian janin apa yang berada
pada bagian bawah. Petunjuk cara memeriksa:
dengan lutut ibu dalam posisi fleksi, raba dengan hati-hati bagian bawah
abdomen pasien tepat diatas simfisis pubis. Coba untuk menilai bagian
janin apa yang berada disana. Bandingkan dengan hasil pemeriksaan
Leopold.
bila bagian janin dapat digerakkan kearah cranial ibu, maka bagian
terbawah dari janin belum melewati pintu atas panggul. Bila kepala yang
berada diabagian terbawah, coba untuk menggerakkan kepala. Bila kepala
tidak dapat digerakkan lagi, maka kepala sudah engaged bila tidak
dapat diraba adanya kepala atau bokong, maka letak janin adalah
melintang.

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 4

4. Pemeriksaan

Leopold

IV,

untuk

menentukan

presentasi

dan

engangement
Petunjuk dan cara memeriksa :
Pemeriksa menghadap kearah kaki ibu. Kedua lutut ibu masih pada posisi
fleksi. Letakkan kedua telapak tangan pada bagian bawah abdomen dan
coba untuk menekan kearah pintu atas panggul
Hasil: pada dasarnya sama dengan pemeriksaan Leopold III, menilai
bagian janin terbawah yang berada didalam panggul dan menilai seberapa
jauh bagian tersebut masuk melalui pintu atas panggul.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pelvimetri radiologik
Bisa dilakukan pada akhir trimester 3 jika diperlukan, untuk perhitungan jalan lahir.
Pada trimester 3 akhir, pembentukan dan pematangan organ janin sudah hampir
selesai, sehingga kemungkinan mutasi atau karsinogen jauh lebih kecil dibandingkan
pada trimester pertama atau kedua. Tetap harus digunakan dosis radiasi sekecil-

kecilnya.
Ultrasonografi (USG)
USG tidak berbahaya karena menggunakan gelombang suara. Frekuensi yang
digunakan dari 3.5, 5.0, 6.5 atau 7.5 MHz. Makin tinggi frekuensi, resolusi yang
dihasilkan makin baik tetapi penetrasi tidak dapat dalam, karena itu harus disesuaikan
dengan kebutuhan. 3

MALPRESENTASI
1. PRESENTASI DAHI
Presentasi dahi terjadi manakala kepala janin dalam sikap ekstensi sedang. Pada
pemeriksaan dalam dapat diraba daerah sinsiput yang berada di antara ubunubun besar dan pangkal hidung. Bila menetap, janin dengan presentasi ini tidak
dapat dilahirkan oleh karena besarnya diameter oksipitomental yang harus
melalui panggul. Janin dengan ukuran kecil dan punggungnya berada diposterior
atau

ukuran

panggul

yang

sedemikian

pervaginam.
Faktor predisposisi
PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 5

luas

mungkin

dapat

dilahirkan

Kejadian presentasi dahi meningkat bila didapatkan adanya poluhidaramnion


(0,4%), berat badan lahir < 1500 g (0,19%), prematuritas (0,16%) dan
postmaturitas (0,1%).
Diagnosis
Diagnosis presentasi dahi dapat ditegakkan apabila pada pemeriksaan vaginal
dapat diraba pangkal hidung, tepi atas orbita, sutura frontalis, dan ubun-ubun
besar, tetapi tidak dapat meraba dagu atau mulut janin. Apabila mulut dan dagu
janin dapat teraba, maka diagnosisnya adalah presentasi muka. Pada palpasi
abdomen dapat teraba oksiput dan dagu janin di atas simfisis dengan mudah.
Mekanisme persalinan
Pada umumnya presentasi dahi bersifat sementara untuk kemudian dapat
berubah menjadi presentasi belakang kepala, presentasi muka, atau tetap
presentasi dahi. Perubahan presentasi dapat terjadi terutama pada janin kecil
atau pada janin mati yang sudah mengalami maserasi. Pada janin dengan
ukuran normal, terutama apabila selaput ketuban sudah pecah, biasanya tidak
terjadi perubahan presentasi. Mekanisme persalinan pada presentasi dahi
hampir serupa dengan presentasi muka. Oleh karenanya, janin kecil mungkin
dapat dilahirkan vaginal bila punggungnya berada diposterior.
Apabila presentasi dahi yang menetap dibiarkan berlanjut, maka akan terjadi
molase yang hebat sehingga diameter oksipitomental akan berkurangdan
terbentuk caput succedaneum didaerah dahi. Persalinan dapat berlangsung
apabila molase tersebut membuat kepala bisa masuk panggul. Saat lahir melalui
pintu bawah panggul, kepala akan fleksi sehingga lahirkan dahi, sinsiput, dan
oksiput. Proses selanjutnya terjadi ekstensi sehingga lahirkan wajah.
Penanganan
sebagian besar presentasi dahi memerlukan pertolongan persalinan secara
bedah sesar untuk menghindari manipulasi vaginal yang sangat meningkatkan
mortalitas perinatal. Apabila presentasi didiagnosis pada persalinan awal dengan
selaput ketuban yang utuh, observasi ketat dapat dilakukan. Observasi ini
dimakasudkan untuk menunggu kemungkinan perubahan presentasi secara
spontan. Pemberian stimulasi oksitosin pada kontraksi uterus yang lemah harus
dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak boleh dilakukan bila tidak terjadi
penurunan kepala atau dicurigai adanya disproporsi kepala panggul. Presentasi
PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 6

dahi yang menetap atau dengan selaput ketuban yang sudah pecahsebaiknya
dilakukan bedah sesar untuk melahirkannya. 1
2. PRESENTASI MUKA
Presentasi muka terjadi apabila sikap janin ekstensi maksimal sehingga oksiput
mendekat ke arah punggung janin dan dagu menjadi bagian presentasinya.
Faktor predisposisi

malformasi janin
berat badan lahir < 1500g
polihidramnion
postmaturitas
multiparitas

Diagnosis
Diagnosis presentasi muka ditegakkan apabila pada pemeriksaan vaginal dapat
diraba mulut, hidung, tepi orbita, dan dagu. Penunjuk presentasi muka adalah
dagu. Pada palpasi abdomen kadang-kadang dapat diraba tonjolan kepala janin
didekat punggung janin. Pada waktu persalinan, sering kali muka menjadi
edema, sehingga diagnosis dapat keliru menjadi presentasi bokong. Pada
keadaan tersebut perabaan mulut mirip dengan perabaan pada anus. Sebanyak
49% kasus presentasi muka tidak terdiagnosis sebelum kala II.
Mekanisme persalinan
Mekanisme persalinan presentasi muka serupa dengan persalinan presentasi
belakang kepala. Secara berurutan akan terjadi proses kepala mengalami
penurunan (descent), rotasi internal, fleksi, ekstensi, dan rotasi eksternal.
Sebelum masuk panggul biasanya kepala janin belum dalam sikap ekstensi
maksimal, sehingga masih presentasi dahi. Ketika terjadi penurunan kepala,
tahanan dari panggul akan menyebabkan kepala lebih ekstensi sehingga terjadi
perubahan menjadi presentasi muka. Ketika masuk pintu atas panggul dagu
dalam posisi transversal atau obliq.
Pada pintu tengah panggul, rotasi internal terjadi. Tujuan rotasi internal ini
adalah membuat kepala agar dapat semakin memasuki panggul dengan cara
mengubah posisi dagu kearah anterior. Apabila dagu berputar kearah posterior,
maka kepala akan tertahan oleh sakrum sehingga kepala tidak mungkin turun
lebih lanjut, dan terjadilah persalinan macet. Pada janin yang sangat kecil atau
PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 7

sudah terjadi maserasi, bahu, dan kepala dapat secara bersamaan masuk
kedalam panggul, sehingga meskipun dagu diposteior kepala dapat mengalami
penurunan. Keadaan demikian tidak dapat terjadi pada janin seukuran cukup
bulan. Perputaran dagu ke arah anterior akan membuat kepala dapat memasuki
pintu tengah panggul dan dagu serta mulut muncul ke vulva. Pada keadaan
demikian dagu bawahtepat berada disimfisis.
Sesuai dengan arah sumbu panggul, gerakan selanjutnya adalah fleksi kepala
sehingga berturut-turut lahirkan hidung, mata, dahi, dan oksiput. Setelah kepala
lahir, karena gaya beratnya akan terjadi ekstensi kepala sehingga oksiput
menekan kearah anus. Proses selanjutnya adalahterjadi putaran eksternal pada
kepala menyesuaikan kembali dengan arah punggung janin.

Penanganan
Posisi dagu di anterior adalah syarat yang harus dipenuhi apabila janin
presentasi muka hendak dilahirkan vaginal. Apabila tidak ada gawat janin dan
persalinan berlangsung dengan kecepatan normal, maka cukup dilakukan
observasi terlebih dahulu hingga terjadi pembukaan lengkap. Apabila setelah
pembukaan

lengkap

dagu

berada

di

anterior,

maka

persalinan

vaginal

dilanjutkan seperti persalinan dengan persalinan presentasi belakang kepala.


Bedah sesar dilakukan apabila setelah pembukaan lengkap posisi dagu masih
posterior, didapatkan tanda-tanda disproporsi, atau atas indikasi obstetri lainnya.
Stimulasi oksitosin hanya diperkenankan pada posisi dagu anterior dan tidak ada
tanda-tanda disproporsi. Melakukan perubahan posisi dagu secara manual ke
arah anterior atau mengubah presentasi muka menjadi presentasi belakang
kepala sebaiknya tidak dilakukan karena lebih banyak menimbulkan bahaya.
Melahirkan

bayi

presentasi

muka

menggunakan

ekstrasi

vakum

tidak

diperkenankan. Pada janin yang meninggal, kegagalan melahirkan vaginal secara


spontan dapat diatasi dengan kraniotomi atau bedah sesar. 1
3. PRESENTASI MAJEMUK
Presentasi majemuk adalah terjadinya prolaps satu atau lebih ekstremitas pada
presentasi kepala ataupun bokong. Kepala memasuki panggul bersamaan
dengan kaki dan/atau tangan. Presentasi majemuk juga dapat terjadi manakala
bokong memasuki panggul bersamaan dengan tangan. Dalam pengertian
PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 8

presentasi majemuk tidak termasuk presentasi bokong kaki, presentasi bahu,


atau prolaps tali pusat. Apabila bagian terendah janin tidak menutupi dengan
sempurna pintu atas panggul, maka presentasi majemuk dapat terjadi.
Faktor predisposisi

prematuritas
multiparitas
panggul sempit
kehamilan ganda
pecahnya selaput ketuban dengan bagian terendah janin yang masih
tinggi

jenis presentasi majemuk yang sering terjadi adalah kombinasi kepala dengan
tangan atau lengan.

Diagnosis
Kemungkinan adanya presentasi majemuk dapat dipikirkan apabila terjadi
kelambatan kemajuan persalinan pada persalinan fase aktif, bagian terendah
janin (kepala atau bokong) tidak dapat masuk panggul terutama setelah terjadi
pecah ketuban. Diagnosis presentasi majemuk dibuat melalui periksa dalam
vagina. Apabila pada presentasi kepala teraba juga tangan/lengan dan/atau kaki
atau apabila pada presentasi bokong teraba juga tangan/lengan, maka diagnosis
presentasi majemuk dapat ditegakkan.
Mekanisnme persalinan
Kelahiran spontan pada persalinan dengan presentasi majemuk hanya dapat
terjadi apabila janinya sangat kecil (sedemikian sehingga panggul dapat dilalui
bagian terendah janin bersamaan dengan ekstremitas yang menyertainya), atau
apabila janin mati yang sudah mengalami maserasi. Mekanisme persalinan dapat
terjadi sebagaimana mekanisme persalina presentasi kepala atau presentasi
bokong apabila terjadi reposisi baik secara spontan ataupun melaui upaya.
Penanganan
Penanganan presentasi majemuk dimulai dengan menetapkan adanya prolaps
tali pusat atau tidak. Adanya prolaps tali pusat akan menimbulkan keadaaan
PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 9

emergency bagi janin, dan penanganan dengan melakukan bedah sesar


ditujukan untuk mengatasi akibat prolaps tali pusat tersebut dari pada presentasi
majemuknya. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah presentasi janin, ada
tidaknya prolaps tali pusat, pembukaan serviks, keadaan selaput ketuban,
kondisi dan ukuran janin, serta ada tidaknya kehamilan kembar. Bergantung
pada keadaan-keadaan tersebut persalinan dapat berlangsung vaginal atau pun
abdominal.
Apabila tidak terjadi prolaps tali pusat, maka dilakukan pengamatan kemajuan
persalinan dengan seksama. Pada kasus-kasus presentasi majemuk dengan
kemajuan persalinan yang baik (fase aktif pembukaan serviks minimal 1cm/jam,
atau pada kala 2 terjai penurunan kepala), umumnya akan terjadi reposisi
spontan. Setelah pembukaan lengkap, dengan semakin turunnya kepala, maka
ekstremitas yang prolaps akan tertinggal dan tidak memasuki panggul.
Selanjutnya pertolongan persalinan dilakukan sebagaimana biasanya.
Pada keadaan terjadinya kemajuan persalinan lambat atau macet (biasanya
pada pembukaan serviks praktis lengkap), dilakukan upaya reposisi ekstremitas
yang prolaps. Tekanan ekstremitas yang prolaps oleh bagian terendah janin
(kepala atau bokong) dilonggarkan dulu denga cara membuat ibu dalam posisi
dada-lutut (knee chest position). Apabila ketuban masih utuh dilakukan
amniotomi terlebih dahulu. Dorong ekstremitas yang prolaps kearah kranial,
tahan hingga timbul his yang akan menekan kepala atau bokong memasuki
panggul. Seiring dengan turunnya bagian terendah janin, jari penolong
dikeluarkan perlahan-lahan. Keberhasilan upaya ini ditunjukkan denga tidak
teraba lagi ekstremitas yang prolaps. Apabila tindakan reposisi itu gagal, maka
dilakukan bedah sesar utnk melahirkannya. 1

4. PRESENTASI BOKONG
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian terendahnya
bokong, kaki, atau kombinasi keduanya. Atau dengan kepala difundus uteri dan
bokong dibagian bawah cavum uteri.
Macam presentasi bokong:
1.

Presentasi Bokong murni

2.

Presentasi Bokong Kaki / bokong sempurna

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 10

3.

Presentasi lutut

4.

Presentasi Kaki
1. Presentasi bokong murni (frank breech presentation)
Bagian terbawah adalah bokong saja, sendi paha dan sendi lutut dalam
keadaan ekstensi. Presentasi bokong murni adalah yang tersering pada
presentasi bokong

Gambar2. presentasi bokong murni / frank breech presentation


2. Presentasi Bokong Kaki (Complete breech presentation)
Bagian Terbawah adalah bokong, dengan kaki disampingnya, sendi paha dan
sendi lutut dalam keadaan ekstensi

Gambar 3. Presentasi bokong sempurna / complete breech presentation


Terbagi lagi menjadi 2:
PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 11

Presentasi bokong kaki sempurna : bagian terbawah ada bokong dan dua
kaki

Presentasi bokong kaki tidak sempurna : bagian terbawah ada bokong dan
satu kaki
3. Presentasi lutut
Bagian terbawah adalah lutut
Terbagi lagi menjadi 2:

Presentasi lutut sempurna : bagian terbawah adalah kedua lutut


Presentasi lutut tidak sempurna : bagian terbawah hanya ada satu lutut

4. Presentasi Kaki
Bagian terbawah adalah kaki

Gambar 4. Presentasi kaki

Terbagi lagi menjadi 2:


Presentasi kaki sempurna : bagian terbawah adalah kedua kaki
Presentasi kaki tidak sempurna : bagian terbawah hanya ada satu kaki

Faktor Predisposisi

Faktor Ibu: kelainan bentuk rahim, multiparitas, riwayat presentasi


sungsang, panggul sempit, bentuk panggul platiloid/ android.

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 12

Faktor

Janin:

prematuritas,

malformasi

congenital,

polihidramnion,

oligohidramnion, kehamilan multiple hamil kembar, plasenta previa,


implantasi di daerah kornu
Diagnosis
Pemeriksaan Abdomen

Palpasi
Dengan perasat Leopold didapatkan:
Leopold I : Kepala janin yang keras dan bulat dengan balotemen
menempati

bagian

fundus

uteri

Leopold II : Teraba punggung berada satu sisi dengan abdomen dan


bagian-bagian kecil berada pada sisi yang lain.
Leopold III : Bokong janin teraba di atas pintu atas panggul selama
engagement belum terjadi.

Auskultasi
Denyut jantung janin biasanya terdengar paling keras pada daerah sedikit
diatas umbilikus, sedangkan bila ada engagement kepala janin, denyut

jantung janin terdengar dibawah umbilikus.


Pemeriksaan dalam
Dapat diraba lebih jelas adanya bokong yang ditandai dengan adanya
sakrum,kedua tuber ossis iskii dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka
harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit, sedangkan
pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari
lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan telapak tangan. Pada
persalinan lama, bokong janin mengalami edema, sehingga kadangkadang sulit membedakan bokong dengan muka karena jari yang
akan dimasukkan kedalam anus mengalami rintangan otot, sedangkan jari
yang dimasukkan mulut akan meraba tulang rahang dan alveola tanpa
hambatan. Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat
diraba disamping bokong,sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak
sempurna, hanya teraba satu kakidisamping bokong

Pemeriksaan Penunjang.

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 13

Apabila masih ada keraguan harus dipertimbangkan untuk melakukan


pemeriksaan ultrasonografik atau M.R.I. (Magnetic Resonance Imaging).
Mekanisme persalinan
Kepala adalah bagian janin yang terbesar dan kurang elastis. Pada presentasi
kepala, apabila kepala dapat dilahirkan, maka bagian janin yang lainnya relatif
mudah dilahirkan. Tidak demikian halnya dengan presentasi bokong.
Bokong masuk PAP dengan garis pangkal paha melintang atau miring. Setelah
masuk dasar panggul terjadi putaran paksi dalam, sehingga diPBP trochanter
depan berada dibawah simfisis, fleksi lateral pada badan janin sehingga
trochanter belakangmelewati perineum dan lahir seluruh bokong diikuti oleh
kedua kaki.
Putaran paksi dalam bahu shg bahu depan berada dibawah simfisis dan bahu
belakang melewati perineum,saat ini kepala masuk panggul, putaran paksi
dalam hingga oksiput kearah simfisis hingga kepala lahir.

Penanganan
Perawatan antenatal pada presentasi bokong.
Pada Primigravida:

Pada usia kehamilan 30-32 minggu, dapat dianjurkan untuk melakukan

knee chest position selama 10 menit, sebanyak 3 kali sehari


Pasien diminta dating kembali 2 minggu kemudian
Pada usia kehamilan 34-36 minggu, bisa dicoba untuk melakukan versi

luar, dengan syarat:


ketuban belum pecah
janin belum masuk pintu atas panggul,
tersedia fasilitas kamar operasi darurat jika terjadi gawat janin dan seksio
sesarea harus segera dilakukan.

Pada Multigravida:

Pada usia kehamilan 32-34 minggu, dapat dianjurkan untuk melakukan

knee chest position selama 10 menit, sebanyak 3 kali sehari


Pasien diminta dating kembali 2 minggu kemudian

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 14

Pada usia kehamilan 36-38 minggu, bisa dicoba untuk melakukan versi

luar, dengan syarat:


(1) ketuban belum pecah
(2) janin belum masuk pintu atas panggul,
(3) tersedia fasilitas kamar operasi darurat jika terjadi gawat janin dan
seksio sesarea harus segera dilakukan.

Persalinan pada presentasi bokong


1.

Persalinan Spontan (spontan bracht)

Persalinan berlangsung dengan tenaga ibu sendiri , tanpa manipulasi penolong

Gambar 5. Persalinan dengan spontan Bracht

2.

Ekstraksi Parsial

Ekstraksi parsial dilakukan jika persalinan spontan tidak berhasil, atau jika
scapula inferior tidak terlihat setelah ibu mengedan sebanyaki 2-3 kali.
Fase persalinan pada ekstraksi parsial:

Fase lambat
Fase dimana penolong menunggu dengan sabar lahirnya bokong sampai

umbilicus, setelah itu tali pusat dikendorkan


Fase Cepat
Fase dimana penolong harus bertindak cepat, mulai dari lahirnya

umbilicus sampai lahirnya mulut, maksimal waktu adalah 8 menit


Fase Lambat
Fase mulai dari lahirnya mulut, sampai berturut turut lahir hidung, dahi
dan seluruh kepala.

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 15

Ekstraksi Parsial dapat dilakukan dengan tiga cara:


1.

Cara Klasik

Prinsipnya adalah melahirkan bahu belakang terlebih dahulu. Untuk melahirkan


bahu belakang, kedua kaki dipegang dengan satu tangan, di tarik cunam ke atas
sejauh mungkin , dan tangan yang satu lagi melahirkan tangan belakang.

GAMBAR 6. Klasik Manuver

2.

Cara Muller

Prinsipnya adalah melahirkan bahu depan terlebih dahulu, kedua tangan


penolong memegang panggul bayi secara femuro-pelvik dan ditarik cunam ke
bawah sampai bahu depan lahir, kemudian ditarik ke atas untuk melahirkan
bahu belakang

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 16

Gambar &. Muller manuver

3.

Cara Lovset

Prinsipnya adalah melahirkan bahu depan dengan cara memutar badan janin
180 derajad, kemudian setelah bahu depan lahir, badan janin diputar lagi ke arah
berlawanan untuk melahirkan bahu belakang 1

Gambar 8. Lovset manuver


5. KELAINAN LETAK LINTANG
Pada letak lintang sumbu panjang anak tegak lurus atau hampir tegak lurus pada
sumbu panjang ibu. Pada letak lintang bahu menjadi bagian terendah, maka juga
disebut presentasi

bahu atau presentasi

akromion.

Jika

punggung

terdapat

sebelah depan disebut dorsoanterior dan jika dibelakang disebut dorsoposterior.


Diagnosis
PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 17

Pada inspeksi tampak bahwa perut melebar ke samping dan fundus uteri rendah
dari biasa, hanya beberapa jari diatas pusat, pada kehamilan cukup bulan. Pada
palpasi

ternyata

bahwa

fundus

uteri

maupun

bagian

bawah

rahim

kosong sedangkan bagian-bagian besar (kepala dan bokong) teraba disamping di


atas fossa illiaca.

MALPOSISI
1. Posisi Oksiput Posterior
Pada letak belakang kepala biasanya ubun-ubun kecil akan memutar ke depan
dengan sendirinya dan janin lahir secara spontan. Kadang-kadamg UUK tidak
berputar kedepan tetapi tetap berada dibelakang, yang disebut POSITIO OCIPUT
POSTERIOR.
Dalam mengahadapi persalinan dimana UUK terdapat dibelakang kita harus
sabar, sebab rotasi kedepan kadang-kadang baru terjadi didasar panggul.
Etiologi

Sering dijumpai pada panggul anthropoid, endroid dan kesempitan


midpelvis.
Letak punggung janin dorsoposterior
Putar paksi salah satu tidak berlangsung pada :
o Perut gantung
o Janin kecil atau janin mati
o Arkus pubis sangat luas
o Dolichocephali
o Panggul sempit

Diagnosis

Pemeriksaan abdomen, Bagian bawah perut mendatar, ekstremitas janin

teraba anterior
Auskultasi, DJJ terdengar disamping
Pemeriksaan vagina, Fontanella posterior

dekat

sakrum,

fontanella

anterior dengan mudah teraba jika kepala dalam keadaan defleksi.


Penanganan

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 18

Rotasi secara spontan menjadi oksiput anterior terjadi pada 90% kasus.
Persalinan yang terganggu terjadi jika kepala janin tidak rotasi atau turun. Para
persalinan dapat terjadi robekan perineum yang tidak teratur atau ekstensi
episiotomi.

Jika ada tanda-tanda persalinan macet atau DJJ lebih dari 180 atau kurang

dari 100 pada fase apapun, lakukan seksio sesarea.


Jika ketuban utuh, pecahkan ketuban dengan pengait amnion atau klem

kocher.
Jika pembukaan serviks belum lengkap dan tidak ada tanda abstruksi,

akselerasi persalinan dengan desitoksin.


Jika pembukaan serviks lengkap dan tidak ada kemajuan pada fase
pengeluaran periksa kemungkinan adanya obstruksi. Jika tidak ada

obstruksi, akselerasi persalinan dengan aksitoksin.


Jika pembukaan lengkap dan jika :
- Kepala janin teraba 3/5 atau lebih diatas simfisis pubis (PAP) atau
-

kepala diatas stasion (-2) lakukan seksio sesarea.


Kepala janin diantara 1/5 dan 3/5 diatas simfisis pubis atau bagian

terdepan kepala janin diantara stasion 0 dan -2 :


o Lakukan ekstraksi vakum
o Atau seksio sesarea
Kepala tidak lebih dari 1/5 diatas simfisis pubis atau bagian terdepan
dari kepala janin berada di stasion 0, lakukan ekstraksi vakumatau
ekstraksi cunam.5

PENATALAKSANAAN
Seksio sesarea
Adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada
dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta
berat janin di atas 500 gram.
Indikasi ibu
-

panggul sempit absolut


tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
plasenta previa
stenosis serviks/vagina

indikasi janin

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 19

kelainan letak
gawat janin

Prosedur
1. desinfeksi pada dinding perut
2. pada dinding perut dilakukan insisi mediana mulai dari atas simfisis
sepanjang 12cm sampai bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga
cavum peritoneal terbuka
3. dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi
4. dibuat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen atas rahim (SAR)
kemudian diperlebar secara sagitaldengan gunting.
5. Setelah cavum uteri tervuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan
dengan meluksir kepala dan mendorong fundus uteri. Tali pusat dijepit dan
di potong di antara ke dua penjepit.
6. Plasenta dilahirkan dilahirkan secara manual. Di suntikkan 10 U oksitosin
ke dalam rahim secara intra mural.

Obat anestetik yang sering digunakan:


Lidocain 1-5 %
Bupivacain 0,25-0,75 %
KOMPLIKASI

Komplikasi janin
-

Kematian perinatal

Prolaps funikuli

Trauma pada bayi akibat : tangan yg extended,CPD

Asfiksia krn prolaps funikuli,kompresi talipusat,pelepasan


plasenta,kepala macet

Trauma pada organ abdominal atau pada leher

Komplikasi pada ibu


-

Pelepasan plasenta

Perlukaan vagina atau serviks

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 20

endometriosis

PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarakan kasus diatas pasien diduga mengalami distosia karena kelainan
letak. Distosia karena kelainan letak dibedakan menjadi kelainan letak janin
intrauteri, kelainan fleksi kepala (presentasi), kegagalan putaran fraksi dalam
(posisi).
Untuk

dapat

menegakan

diagnosis

penyebab

distosia

nya

diperlukan

pemeriksan-pemeriksaan yang dapat menunjang seperti fisik obstetri (inspeksi,


palpasi, auskultasi) dan pemeriksaan alat bantu dengan USG.
Penatalaksanaan

nya

adalah

disarankan

mengurangi resiko bagi ibu dan bayi nya.

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 21

dengan

seksio

sesaria

untuk

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo Sarwono. Ilmu kebidanan. Edisi 4. Jakarta. Bina Pustaka. 2011,hal581598


2. Manuaba, Ida Ayu Chandranita. Buku ajar patologi obstetric untuk mahasiswa
kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008. h.30.
3. Manuaba, Ida Bagus Gde. Penuntun kepaniteraan klinik obstetri dan ginekologi. Edisi
2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003. h.195-7.
4. Prawirohardjo Sarwono. Ilmu bedah kebidanan. Edisi kedelapan. Jakarta. Bina Pustaka.
2010.hal133-4
5. http://www.scribd.com/doc/90961731/Malpresentasi-Dan-Malposisi

PBL-25 Obstetri & Ginekologi

Page 22