Anda di halaman 1dari 23

BAB I

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny.Soeketi

Umur

: 77 Tahun

No. RM

: 24.74.40

Alamat

: Salaman, Magelang

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Tanggal masuk poli

: 03 Juni 2015

ANAMNESIS

Keluhan Utama
Mata kanan dekat hidung bengkak, panas dan nerocos

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli mata RST Magelang, dengan keluhan mata kanan

dekat hidung bengkak, panas, dan nerocos. Keluhan tersebut disadari sejak 1
bulan yang lalu. Sehari setelahnya pasien merasakan keluhan tersebut dan
diperiksakannya ke puskesmas, dan diberikan obat penghilang radang, tetapi
setelah obat habis keluhan pasien tidak hilang. Seminggu yang lalu keluhan
semakin bertambah berat, bengkak sudah tidak ada namun masih nerocos disertai
rasa sakit pada hidung kanan daerah atas dan gatal pada mata kanan. 2 hari yang
lalu keluhan diperberat dengan nerocos yang berlebih terutama saat mengendarai
motor, air mata yang keluar, jernih, dan tidak berbau. Akhirnya pasien datang ke
poli mata RST Magelang. Mata kiri pasien tidak ada keluhan yang sama.
Selain itu pasien mengaku pandangannya kabur saat melihat jauh

dan

saat membaca dekat pasien merasa nyaman apabila bacaannya sedikit dijauhkan.
1

Menyangkal jika kesulitan melihat garis lurus. Namun untuk melakukan kegiatan
sehari-hari tidak terlalu mengganggu. Pasien menyangkal menggunakan kacamata
sebelum usia 40 tahun dan baru menggunakan kacamata baca sejak 20 tahun
yang lalu (riw.kebiasaan) terakhir ganti ukuran kacamata baca 10 thn yll.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengaku tidak pernah mengalami hal yang serupa seperti nerocos,
nyeri dan gatal pada matanya.
Pasien mengaku memiliki riwayat diabetes mellitus tidak terkontrol,
dengan hasil pemeriksaan terakhir 236 mg/dL.

Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengaku keluarganya tidak pernah mengalami hal yang serupa


seperti nerocos, nyeri dan gatal pada matanya .
Pasien menyangkal keluarganya memiliki riwayat diabetes mellitus.
Pasien menyangkal ibunya menggunakan kaca mata.

Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien seorang pekerja ibu rumah tangga, dan biaya perawatan ditanggung
BPJS.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Umum

Kesadaran

: Compos mentis

TD

: 130/80 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,50

STATUS GENERALIS
-

Kepala

Bentuk : Normocephal, simetris


Rambut : Distribusi merata, tidak mudah dicabut
-

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-).

Telinga

: aurikuler dbn, meatus akustikus eksternus hiperemis (-), serumen

minimal (+), membran timpani kanan=kiri intak.


-

Hidung

Mulut

Leher :

Thorax
Cor

: Darah (-), deviasi septum (-)


: Bibir tidak sianosis, faring tidak hiperemis (-), tonsil T1-T1
KGB teraba (-) , kelenjar tiroid tidak membesar, JVP 5+0 cmH2O
: Inspeksi

: Ictus cordis tak tampak.

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Batas pinggang jantung ICS III parasternal kiri


Batas kiri jantung : ICS V midklavikularis kiri
Batas kanan jantung : ICS V midstrenalis kanan

Auskultasi
Pulmo

: Inspeksi

: BJ I-II reguler, murmur(-), gallop (-)


: Dinding dada simetris. retraksi interkostal (-),

tidak ada gerakan napas yang tertinggal


Palpasi

: Vokal fremitus paru kanan = kiri normal

Perkusi

: Hipersonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara dasar :

Vesikuler +/+

Suara tambahan : Ronkhi basah kasar (-/-),


wheezing (-/ -)
-

Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi

: Datar, benjolan (-), deformitas (-), jejas (-)

Auskultasi

: Bising Usus (+) normal

Palpasi

: Supel, nyeri tekan epigastrium (-), undulasi (-)


Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba

Perkusi

: Tympani, pekak beralih (-), undulasi (-), nyeri


ketok kostovertebre (-/-)

Pemeriksaan Extremitas
Superior

: Edema (-/-), akral hangat (+), CRT < 2 detik

Inferior

Status Ophtalmicus

No. Pemeriksaan

OD

OS

6/12NC
AddS +3,00
Baik

6/20 S1,506/12NBC
Add S+3,00
J3
Baik

Enoftalmus

(-)

(-)

Eksoftalmus

(-)

(-)

Strabismus

Tidak ditemukan

Tidak ditemukan

(+)

(+)

Ptosis

(-)

(-)

Edema

Tidak ditemukan

(-)

Hematom

(-)

(-)

Hiperemi

Tidak ditemukan

(-)

Laserasi

(-)

(-)

Tidak ditemukan

Tidak ditemukan

(-)

(-)

1.

Visus

2.

Gerak bola mata

Nyeri gerak bola mata


3.

: Edema (-/-), akral hangat (+), CRT < 2 detik

Palpebra Superior

Xantelasma
Entropion

Ektropion
4.

(-)

(-)

Tidak ditemukan

(-)

Hematom

(-)

(-)

Hiperemi

Tidak ditemukan

(-)

Laserasi

(-)

(-)

Tidak ditemukan

Tidak ditemukan

Entropion

(-)

(-)

Ektropion

(-)

(-)

Ditemukan
sumbatan

Tidak ditemukan
sumbatan

Hiperemi

(-)

(-)

Injeksi Konjungtiva

(-)

(-)

Injeksi Siliar

(-)

(-)

Sekret

(-)

(-)

Jernih

Jernih

Edema

(-)

(-)

Infiltrat

(-)

(-)

Ulkus

(-)

(-)

Sikatrik

(-)

(-)

Cukup

Cukup

(-)

(-)

Palpebra Inferior
Edema

Xantelasma

Saccus lacrimalis
5.

6.

Konjungtiva

Kornea
Permukaan

7.

COA
Kedalaman

8.

Isi
(Hifema
Hipopion)
Iris

9.

Edema

(-)

(-)

Sinekia

(-)

(-)

3 mm

3 mm

(+)
(+)

(+)
(+)

Pupil
Diameter
Reflek pupil langsung
Reflek pupil tidak
langsung
-

10.

Isokor
Tetes Midriatil

Snowflake appearance

Jernih

Jernih

Tidak ditemukan

Tidak ditemukan

Jernih

Jernih

Cemerlang

Cemerlang

Fokus 0
Batas tegas, Warna
jingga
AVR 2-3,
mikroaneurisma
tidak ditemukan,
neovaskularisasi
tidak ditemukan,
Cemerlang, edema
macula tidak
ditemukan
Perdarahan retina
tidak ditemukan,
neovaskularisasi
tidak ditemukan,
cotton wool patch
tidak ditemukan,
ablasio retina tidak
ditemukan

Fokus -3
Batas tegas, Warna
jingga,

Corpus Vitreum
Kejernihan

12

Fundus Refleks

13.

Funduskopi :
Papil
Vasa

Makula
Retina

14.

(+)
Melebar sempurna

Lensa
Kejernihan

11.

(+)
Melebar sempurna

TIO

Normal

AVR 2-3
mikroaneurisma tidak
ditemukan
Neovaskularisasi
tidak ditemukan
Cemerlang, edema
macula tidak
ditemukan
Perdarahan retina
tidak ditemukan,
neovaskularisasi tidak
ditemukan, cotton
wool patch tidak
ditemukan, ablasio
retina tidak
ditemukan
Normal

15.

Probing test

Tidak Lancar

Lancar

DIAGNOSA BANDING
OD

OD Dakriosistitis
Dipertahankan, karena dari keluhan pasien merasakan mata kanan bawah

dekat dengan hidung bengkak, nyeri, gatal dan nerocos. Pada Probing Test didapatkan
aliran tidak lancar.

OD Dakrioadenitis
Disingkirkan, karena pada nyerinya didaerah glandula lakrimal yaitu didaerah

temporal atas rongga orbita dan disertai kelopak mata bengkak. Pada konjungtiva
ditemukan kemotik konjungtiva dengan belek. Pada palpasi kelenjar preaurikuler
didapatkan pembengkakan kelenjar tersebut
OS

OS Miopia
Dipertahankan, karena dari keluhan pasien mengeluh melihat jauh dan

pemeriksaan didapatkan mengalami penurunan visus yang dikoreksi dengan Sferis


-1,50.
Hipermetropia
-

Disingkirkan karena pasien tdk mengeluhkan pandangan jauh yg kabur. Dan pada
px.snellen chart dapat dikoreksi dgn sferis negative

Astigmatisma disingkirkan dr anamnesis tdk ada keluhan melihat garis yg berbayang


ODS

ODS Presbiopia

Dipertahankan, karena dari usia 77 tahun, pada anamnesa pasien lebih


nyaman jika membaca harus menjauhkan kertas yang dibacanya pada pemeriksaan
dapat dikoreksi dengan lensa AddS +3,00 J3
-

ODS Hipermetropia

Tidak ada keluhan yg lebih kabur pada saat melihat dekat. Kabur hanya saat
melihat jauh.lalu di px Snellen chart koreksi didapatkan dgn lensa sferis
negative bukan positif.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak diperlukan karena diagnosa dapat ditegakan dari anamnesa dan
pemeriksaan status oftalmikus

DIAGNOSIS
OD Dakriosistitis, OS Miopia, ODS Presbiopia

TERAPI
Medikamentosa
-

Topikal

: Na Klorida dan Kalium Klorida 3 kali sehari pada mata kanan

(Cendo Lyteers 3 dd 1). Berfungsi sebagai melunakkan/melicinkan atau sebagai


pengganti air mata pada kontak lensa, prostesis mata atau mata kering.
-

Oral

Amoxicillin 500 mg peroral tiap 8 jam sebagai antibiotik

Asam mefenamat 500 mg proral 2x/hari sebagai antinyeri

Parenteral

: Tidak dilakukan

Operatif

: Insisi dan drainase pada abses

Non Medikamentosa
-

Kompres air hangat dan massase di bawah area kantus.

KOMPLIKASI
Demam dan Abses

EDUKASI
Awal kondisi segera konsultasi ke dokter karena infeksi dapat menebar ke bola
mata dan menyebabkan komplikasi seperti konjungtivitis.
hangat di sekita kantung mata

Kompres
Memberitahu

kepada

pasien bahwa keadaannya akan kembali seperti semula setelah dilakukan insisi dan
drainase, Kemudian setelah diinsisi agar menjaga kebersihan dari mata dan muka
serta dalam bekerja menggunakan alat pelindung muka atau mata agar terhindar dari
sumbatan lagi.

RUJUKAN
Dalam kasus ini dilakukan rujukan Disiplin Ilmu Kedokteran lainnya yaitu
Penyakit Dalam untuk mengontrol gula darahnya.

PROGNOSA
OS

Quo ad visam

: Ad bonam

Quo ad sanam

: Ad bonam

Quo ad functionam

: Ad bonam

Quo ad vitam

: Ad bonam

Quo ad kosmetikam : Ad bonam

OD

Quo ad visam

: Ad bonam

Quo ad sanam

: ad bonam

Quo ad functionam

: Ad bonam

Quo ad vitam

: Ad bonam

Quo ad kosmetikam : dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Anatomi sistem lakrimalis

Aparatus lakrimalis
Terdiri atas :

Pars glandula lakrimalis

Bag.yang produksi air mata

Pars ekskretorius

Bag yang menampung air mata dan mengalirkan ke hidung

Glandula sekretorius assesorius

Gld.Krause, gld Wolfring, sel goblet

Persarafan :

N.trigeminus sensoris

N.simpatis lwt gln.cervicale

N.fascialis parasimpatis

10

Glandula lakrimalis
Glandula lakrimalis diperdarahi oleh pembuluh darah a. lakrimalis. Vena-vena
dari glandula lakrimalis akan bergabung dengan vena oftalmika. Aliran limfe menyatu
dengan pembuluh limfe konjungtiva untuk mengalir ke dalam limfonodus
preaurikuler.
Glandula lakrimalis dipersarafi oleh nervus lakrimalis (sensoris) yang
merupakan cabang dari divisi pertama trigeminus (nervus oftalmikus) , nervus
petrosus superfisialis magna (sekretorius) yang merupakan cabang dari nucleus
salivarius superior, dan nervus simpatis yang menyertai arteri lakrimalis dan nervus
lakrimalis.
Glandula lakrimalis terdiri dari struktur berikut :
1. Bagian orbita berbentuk kenari yang terletak di dalam fossa lakrimalis di
segmen temporal atas anterior dari orbita, dipisahkan dari bagian palpebra oleh kornu
lateralis dari muskulus levator palpebra.
2. Bagian palpebra yang lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal dari
forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimalis, yang bermuara melalui
11

kira-kira 10 lubang kecil, menghubungkan bagian orbital dan palpebral glandula


lakrimalis dengan forniks konjungtiva superior. Pembuangan bagian palpebra dari
kelenjar memutuskan semua saluran penghubung dan dengan demikian mencegah
kelenjar itu bersekresi.
3. Glandula lakrimalis assesorius (glandula Krause dan Wolfring) terletak di
dalam substansia propia di konjungtiva palpebrae.

Lakrima
Air mata mengalir dari lacuna lakrimalis melalui pungtum superior dan
inferior dan kanalikule ke sakkus lakrimalis yang terletak di dalam fossa lakrimalis.
Duktus nasolakrimalis berlanjut ke bawah dari sakkus lakrimasi dan bermuara ke
dalam meatus inferior dari rongga nasal . Air mata diarahkan ke dalam pungtum oleh
isapan kapiler , gaya berat, dan berkedip. Kekuatan gabungan dari isapan kapiler
dalam kanalikuli, gaya berat, dan kerja memompa dari otot Horner yang merupakan
perluasan muskulus orbikularis okuli ke titik di belakang sakkus lakrimalis, semua
cenderung meneruskan air mata ke bawah melalui duktus nasolakrimalis ke dalam
hidung.
Sistem lakrimalis mencakup struktur-struktur yang terlibat dalam produksi dan
drainase air mata. Komponen sekresi terdiri atas kelenjar yang menghasilkan berbagai
unsure pembentuk cairan air mata. Sistem eksresi mulai pada punctum lakrimal,
kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, meatus inferior. Cairan air
mata disebarkan di atas permukaan mata oleh kedipan mata.
Kompleks lakrimalis terdiri atas glandula lakrimalis, glandula lakrimalis

12

aksesorius,

kanalikuli,

punctum

lakrimalis,

sakkus

lakrimalis,

dan

duktus

nasolakrimalis.
Sakkus lakrimalis terletak di dalam fossa lakrimalis yang merupakan os
lakrimalis dan os maksilaris. Lebar sakkus lakrimalis kira-kira 6-7mm dengan
panjang antara 12-15 mm. mukosa sakkus merupakan pseudostratified columnar
ephiltelium dengan sejumlah substansi limfoid dan jaringan elastic yang terletak pada
lapisan jaringan konektif. Sakkus yang normal berbentuk ireguler dan datar dengan
lumen yang kolaps.
Pada prosesus frontalis di kantus anterior dari sakkus lakrimalis terdapat
ligament palpebrale medial yang menghubungkan tarsus superior dan inferior. Bagian
sakkus lakrimalis di bawah ligament ditutupi sedikit serat dari muskulus orbikularis
okuli. Serat-serat ini tidak dapat menahan pembengkakan dan pengembangan sakkus
lakrimalis. Daerah di bawah ligamentum palpebrale mediale membengkak pada
dakriosistitis akut ,dan sering terdapat fistula yang bermuara di daerah ini.

DAKRIOSTITIS
Definisi
Dakriosistitis adalah suatu infeksi pada kantong air mata yang terletak di
antara sudut bagian dalam kelopak mata dengan hidung. Dakriosistitis biasanya
disebabkan oleh karena adanya blockade pada saluran yang mengalirkan air mata dari
kantong air mata ke hidung. Duktus yang terhalang menjadi terinfeksi. Dakriosistitis
dapat berupa akut maupun kronik. Hal ini dapat dihubungkan dengan suatu
malformasi pada duktus lakrimalis, luka, infeksi pada mata, maupun trauma
Insidensi
Infeksi pada sakkus lakrimalis umumnya ditemukan pada 2 kategori usia, pada
infant dan orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun. Dakriosistitis akut pada
bayi baru lahir jarang ditemukan, terjadi pada kurang dari 1% dari semua kelahiran.
Dakriosistitis didapat secara primer terjadi pada wanita dan lebih sering pada pasien
dengan usia di atas 40 tahun, dengan puncak insidensi pada usia 60 70 tahun.
Kebanyakan penelitian mendemonstrasikan sekitar 70 83% kasus dakriosistitis
terjadi pada wanita, sementara dakriosistitis congenital memiliki frekuensi yang sama
antara pria dan wanita
13

Etiologi
Etiologi

primer

dakriosistitis

adalah

obstruksi

nasolakrimal

yang

menyebabkan mukokel pada sakkus lakrimalis yang dipresipitasi oleh blokade kronik
pada duktus nasolakrimal interosseus atau intramembranous. Dakriosistitis akut pada
anak-anak biasanya disebabkan oleh Haemophylus influenza. Pada orang dewasa,
biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus hemoliticus
sedangkan

dakriosistitis

kronis

disebabkan

oleh

Staphyloccus

epidermidis,

Streptococcus pneumoniae dan jarang disebabkan oleh Candida albicans. Agen


infeksi dapat ditemukan secara miroskopik dengan apusan konjungtiva yang diambil
setelah memeras sakkus lakrimalis.
Manifestasi Klinis
Dakriosistitis dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu : akut, kronik dan congenital.
Gejala utama dakriosistitis adalah mata berair dan kotoran mata berlebih. Pada
dakriosistitis berbentuk akut, di daerah sakkus lakrimalis terdapat gejala radang, sakit,
bengkak , nyeri tekan. Materi purulen dapat diperas dari sakkus. Peradangan berupa
pembengkakan, merah dan nyeri , biasanya disertai dengan pembengkakan kelenjar
pre aurikuler, submandibuler dan disertai peningkatan suhu tubuh. Kadang-kadang
kelopak mata dan daerah sisi hidung membengkak. Pada stadium lanjut dapat terjadi
komplikasi berupa fistula. Pada dakriosistitis kronik , tanda satu-satunya adalah keluar
air mata berlebih.
Diagnosis
Untuk menentukan adanya gangguan pada system eksresi air mata dilakukan :
Inspeksi pada posisi pungtum
Palpasi daerah sakkus lakrimal, apakah mengeluarkan cairan bercampur nanah
Irigasi melalui pungtum dan kanalikuli lakrimal, bila cairan mencapai rongga hidung
, maka system eksresi berfungsi baik (tes anel).
Probing yaitu memasukkan probe Bowman melalui jalur anatomic system eksresi
lakrimal. Tindakan probing didahului oleh dilatasi pungtum dengan dilatators.

14

Gambar : Pertama punctum dilatasi dengan memutar suatu probe berbentuk kerucut,
kemudian dibilas dengan larutan salin fisiologis
Tatalaksana
Penatalaksanaan dakriosistitis tergantung pada manifestasi klinik penyakit.
Antibiotic sistemik dengan regimen sebagai berikut :
o Anak-anak
Pasien tidak demam, keadaan umum baik, kasus ringan, diberikan amoxicillin
clavulanate 20-40mg/kg/hari peroral yang dibagi dalam tiga dosis.
Pasien demam, akut, kasus sedang hingga berat dirawat di rumah sakit dan
diterapi dengan cefuroxime 50-100 mg/kg/hari iv dalam 3 dosis.
o Dewasa
-

Pasien tidak demam, keadaan umum baik, kasus ringan diberikan cephalexin

500 mg peroral tiap 6 jam.


-

Terapi alternative berupa amoxicillin /clavulanate 500 mg peroral tiap 8 jam.

15

Pasien demam dan akut dirawat di rumah sakit dengan penanganan cefazolin

1gr

iv

tiap

jam.

Terapi antibiotik diberikan berdasarkan respon klinik dan hasil kultur dan sensitivitas.
Antibiotik intravena dapat diganti dengan antibiotik oral dengan dosis yang sebanding
tergantung dari tingkat perbaikan, tetapi terapi antibiotic harus tetap dilakukan selama
10-14 hari.
-

Antibiotik tetes topical seperti trimetorim/polymixin

Kompres air hangat dan massase di bawah area kantus

Pemberian analgesic seperti acetaminophen bila perlu

Insisi dan drainase pada abses

Koreksi

dengan

pembedahan

dapat

dipertimbangkan

berupa

dacryocystorhinostomy setelah episode akut sembuh, khususnya pada pasien dengan


dakriosistitis kronik.

Gambar teknik dakriosistorinostomi


Diagnosis Banding
Dakriodesintis

16

Hordeolum
Komplikasi
Dakriosistorinostomi bila dilakukan dengan baik merupakan prosedur yang
cukup aman dan efektif. Namun, seperti pada semua prosedur pembedahan,
komplikasi berat dapat terjadi. Perdarahan merupakan komplikasi tersering dan
dilaporkan terjadi pada 3% pasien. Selain itu, infeksi juga merupakan komplikasi
serius dakriosistorinostomi. Beberapa ahli menyarankan pemberian antibiotic drop
spray

pada

hidung

setelah

pembedahan.

Kegagalan dakriosistorinostomi paling sering disebabkan oleh osteotomi atau


penutupan fibrosa pada pembedahan ostium yang tidak adekuat. Kebanyakan kasus
kemudian diterapi dengan dilatasi ostium menggunakan probing Bowman berturutturut.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan higienitas pada palpebra
,termasuk melakukan kompres air hangat dan membersihkan silia. Selain itu,
higienitas nasal dengan spray salin dapat mencegah obstruksi aliran lakrimal bagian
distal
Prognosis
Tingkat

kesuksesan

dakriosistorinostomi

eksternal

kira-kira

95%.

Dakriosistostorinostomi memiliki tingkat kesuksesan yang sedikit lebih rendah,


diduga oleh ketidakmampuan untuk membuat ostium yang lebih lebar.

MIOPIA
Definisi
Merupakan kelainan refraksi mata, dimana sinar sejajar yang datang dari jarak
tak terhingga, oleh mata dalam keadaan istirahat, dibiaskan di depan retina, sehingga
pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur.
Pada penderita mata rabun jauh (miopia) tidak dapat melihat objek atau benda
jarak jauh, namun akan terlihat jelas apabila objek atau benda itu berada dalam jarak
dekat. Sering kali para penderita rabun jauh merasakan pusing pada kepala jika terlalu
memaksa melihat benda yang jauh dari kemampuan jarak pandangnya.

17

Penderita miopia dapat dibantu dengan menggunakan lensa (corrective lenses)


seperti lensa kontak, dengan operasi refraktif seperti lasik atau yang banyak
digunakan oleh penderita miopia adalah kacamata dengan kontak lensa negatif.
Etiologi
Penyebab miopia dapat bersifat keturunan, ketegangan visual atau faktor
lingkungan. Faktor keturunan pada miop pengaruhnya lebih kecil dari faktor
ketegangan visual. Terjadinya miop lebih dipengaruhi oleh bagaimana seseorang
menggunakan penglihatannya, dalam hal ini seseorang yang lebih banyak
menghabiskan waktu di depan komputer atau seseorang yang menghabiskan banyak
waktu dengan mebmbaca tanpa istirahat akan lebih besar kemungkinan untuk
menderita miopi.
Klasifikasi
1.
Menurut penyebabnya:
a.
Miopia refraktif bertambahnya indeks bias media penglihatan (katarak
intumesen) dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat.
b.
Miopia aksialis akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan
kornea dan lensa yang normal.
2.
Menurut derajat beratnya (tinggi dioptrinya)
a.
Miopia sangat ringan sampai dengan 1 dioptri
b.
Miopia ringan sampai dengan 1-3 dioptri
c.
Miopia sedang sampai dengan 3-6 dioptri
d.
Miopia tinggi sampai dengan 6-10 dioptri
e.
Miopia sangat tinggi sampai dengan lebih dari 10 dioptri
3.
Secara klinik
a.
Miopia stasioner, miopia simpleks, miopia fisiologik
Timbul pada usia muda, kemudian berhenti. Dapat juga naik sedikit pada waktu atau
segera setelah pubertas atau didapat kenaikan sedikit sampai usia 20 tahun. Besarnya
dioptri kurang dari - 5 D atau 6 D.
b.

Miopia progresif

Ditemukan pada semua umur dan mulai sejak lahir. Kelainan mencapai puncaknya
waktu masih remaja, bertambah terus sampai usia 25 tahun atau lebih. Besarnya
dioptri melebihi 6 dioptri.
c.

Miopia maligna

18

Miopia yang berjalan progresif, karena disertai kelainan degenerasi dikoroid dan
bagian lain dari mata.
Gejala Klinis
1.
Melihat jauh kabur, melihat dekat jelas
2.
Sakit kepala
3.
Mempunyai kebiasaan mengernyitkan dahi atau memicingkan mata saat
melihat objek yang jauh.
Penatalaksanaan
1.
Kacamata dengan sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman
penglihatan maksimal.
2.
Terapi dengan menggunakan laser dengan bantuan keratomilesis (lasik) atau
operasi lasik mata. Dalam prosedurnya dilakukan pergantian ukuran kornea mata dan
dirubah tingkat miopia dengan menggunakan sebuah laser.

PRESBIOPIA
Definisi
Presbiopia merukan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan
fleksibilitasnya sehingga membuatnya tidak dapat fokus pada benda yang dekat.
Presbiopia

adalah

suatu

bentuk

gangguan

refraksi,

dimana

makin

berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.


Presbiopia merupakan bagian alami dari penuaan mata. Presbiopia ini bukan
merupakan penyakit dan tidak dapat dicegah.
Presbiopia

adalah

suatu

bentuk

gangguan

refraksi,

dimana

makin

berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.


Daya akomodasi adalah kemampuan lensa mata mencembung dan memipih. Biasanya
terjadi diatas usia 40 tahun, dan setelah umur itu umumnya seseorang akan
membutuhkan kaca mata baca untuk mengkoreksi presbiopnya.
Etiologi
1.
2.
3.

Terjadi gangguan akomodasi lensa pada usia lanjut


Kelemahan otot-otot akomodasi
Lensa mata menjadi tidak kenyal, atau berkurang elastisitasnya akibat

kekakuan (sklerosis) lensa.


Patofisiologi

19

Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi


mata karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan
kapsul sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka lensa
menjadi lebih keras (sklerosis) dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung.
Dengan demikian kemampuan melihat dekat makin berkurang.
Klasifikasi
1.
Presbiopi Insipien, tahap awal perkembangan presbiopi. Dari anamnesa
didapati pasien memerlukan kaca mata untuk membaca dekat, tapi tidak tampak
kelainan bila dilakukan tes, dan pasien biasanya akan menolak preskripsi kaca mata
baca.
2.
Presbiopia Fungsional, amplitudo akomodasi yang semakin menurun dan akan
didapatkan kelainan ketika diperiksa.
3.
Presbiopi Absolut, peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi fungsional,
dimana proses akomodai sudah tidak terjadi sama sekali.
4.
Presbiopi Prematur, presbiopi yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan
biasanya berhubungan dengan lingkungan, nutrisi, penyakit, atau obat-obatan.
5.
Presbiopi Nokturnal, kesulitan untuk membaca jarak dekat pada kondisi gelap,
disebabkan oleh peningkatan diameter pupil.
Diagnosis Presbiopia
1.
Anamnesis
a.
Kesulitan membaca tulisan dengan cetakan huruf yang halus/kecil
b.
Setelah membaca, mata menjadi merah, berair, dan sering terasa pedih. Bisa
juga disertai kelelahan mata dan sakit kepala jika membaca terlalu lama.
c.
Membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca atau menegakkan
punggungnya karena tulisan tampak kabur pada jarak baca yang biasa (titik dekat
mata makin menjauh).
d.
Sukar mengerjakan pekerjaan dengan melihat dekat, terutama di malam hari.
e.
Memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca.
f.
Sulit membedakan warna.
2.
Pemeriksaan Oftalmologi
a.
Visus, pemeriksaan dasar untuk mengevaluasi presbiopi dengan menggunakan
Snellen Chart.
b.
Refraksi, periksa mata satu persatu, mulai dengan mata kanan. Pasien diminta
untuk memperhatikan kartu Jaeger dan menentukan kalimat terkecil yang bisa dibaca
pada kartu. Target koreksi pada huruf sebesar 20/30.
Diagnosis Banding

20

Diagnosis banding presbiopia adalah hipermetropia dan low vision jika


hipermetropi lebih dari 3 dioptri.
Penatalaksanaan Presbiopia
1.

Digunakan lensa positif untuk koreksi presbiopia. Tujan koreksi adalah untuk

mengkompensasi ketidakmampuan mata untuk memfokuskan objek-objek yang dekat.


2.
Kekuatan lensa mata yang berkurang ditambahkan dengan lensa positif yang
sesuai usia, dan hasil pemeriksaan subjektif sehingga pasien mampu membaca tulisan
pada kartu Jaeger.
3.
Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi +3,00 D adalah lensa positif
terkuat yang dapat diberikan pada pasien. Pada kekuatan ini, mata tidak melakukan
akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm, karena tulisan yang dibaca terletak pada
titik fokus lenca +3,00 D.
Usai (Tahun)
40

4.

Kekuatan
Lensa
Dibutuhkan

tahun

+1,00 D

40-45 tahun

+1,25 D

45

tahun

+1,50 D

45-50 tahun

+1,75 D

50

tahun

+2,00D

50-55 tahun

+2,25 D

55

tahun

+2,50 D

55-60 tahun

+2,75 D

60

+3,00 D

tahun

Positif

yang

Selain kaca mata untuk kelainan presbiopi, ada beberapa jenis lensa lain yang

digunakan untuk mengkoreksi berbagai kelainan refraksi yang ada bersamaan dengan
presbiopinya. Ini termasuk :
a.
Bifokal, untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bisa yang
mempunyai garis horizontal atau yang progresif.
b.
Trifokal, untuk mengkoreksi penglihatan dekat, sedang dan jauh, bisa yang
mempunyai garis horizontal atau yang progresif.

21

c.

Bifokal kontak, untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat, bagian bawah

adalah untuk membaca. Sulit dipasang dan kurang memuaskan hasil koreksinya.
d.
Monovisioin kontak, lensa kontak untuk melihat jauh di mata dominan, dan
lensa kontak untuk melihat dekat pada mata non dominan. Mata yang dominan
umumnya adalah mata yang digunakan untuk fokus pad a kamera untuk mengambil
foto.
e.

Monovision modified, lensa kontak bifokal pada mata non dominan, dan lensa

kontak untuk melihat pada mata dominan. Kedua mata digunakan untuk melihat jauh
dan satu mata digunakan untuk membaca.
f.
Pembedahan refraktif seperti keratoplasti konduktif, LASIK, LASEK, dan
keratektomi fotorefraktif.

DAFTAR PUSTAKA

22

American Academy of Ophtamlology Orbit, Eyelids, and Lachrymal System


Basic and Clinical Science Course, section II, The Foundation of AAO San Fransisco
2008. 207-11.
Sidharta I. Kelainan Kelopak dan Kelainan Jaringan Orbita. Penuntun Ilmu
Penyakit Mata. Edisi ke 3. Jakarta: FKUI. 2005. 98.
S Valentine Fernandes.
Dacryocystorhinostomy.http://emedicine.medscape.com/article/879096-overview diak
ses tanggal 19 juli 2012
Wagner P.; Lang G.K. Lacrimal System. In: Lang G.K. ed. Ophtalmology.
New York. Thieme Stuttgart: 2000.
Nana Wijana. 1993. Ilmu penyakit mata. Edisi 6. p. 1.
Vaughan, dkk. (2000). Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika.
Snell, Richard S,. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran; Ed 6.
EGC: Jakarta

23