Anda di halaman 1dari 10

Macam macam Pasar dalam Makro Ekonomi

Empat macam pasar dalam makro ekonomi yaitu :


a. Pasar Barang (Good of Market)
Pasar barang menggambarkan pertemuan antara permintaan dan penawaran akan barang.
Sebuah perusahaan atau individu dapat beroperasi di pasar barang dengan menawarkan
barang hasil produksi atau pula melakukan permintaan akan produk. Misalnya, perusahaan
tekstil dan produk tekstil menghasilkan berbagai macam kain, pakaian, kaos, jaket,
permadani, sepatu dll. Pembelinya adalah masyarakat sebagai sektor rumah tangga,
pemerintah dan sebagian lagi warga asing (sektor luar negeri) yang mengimpor barangbarang tersebut (Shaleha, 2012).
Keseimbangan Di Pasar Barang
Suku bunga memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi tingkat investasi.
Semakin tinggi tingkat suku bunga (r) akan meningkatkan tabungan (S) dan menurunkan
investasi (I). Perubahan dalam investasi dapat mempengaruhi pembelanjaan agregat (AE)
dan pendapatan nasional (Nurbiyah, 2011).
Rentetan pengaruh ini dapat disederhanakan dengan persamaan :
r I AE Y
Keseimbangan dalam pasaran barag akan tercapai manakala jumlah tabungan sama
dengan invetasi, sederhananya S=I. Pada gilirannya persamaan ini akan mempengaruhi
tingkat pembelanjaan agregat (AE) dan pendapatan riil. Secara tidak langsung, keseimbangan
ekonomi yang dapat dicapai oleh tabungan (S) dan Investasi adalah ketika perekonomian
mencapai keadaan AE=Y (Nurbiyah, 2011). Keadaan ini dapat dituangkan dalam grafik di
bawah ini:

Gambar 1. kurva keseimbangan di pasar barang


b. Pasar Tenaga Kerja (Labour of Market)
Pasar tenaga kerja merupakan pertemuan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja.
Pertemuan ini akan menghasilkan konsep upah dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.
Biasanya yang melakukan permintaan adalah badan usaha (perusahaan), lembaga-lembaga,
instasi-instasi, atau dapat juga perseorangan, sedangkan yang melakukan penawaran tenaga
kerja adalah angkatan kerja yang tersedia di pasar kerja. Sebagai contoh Singapura,
Malaysia, Arab Saudi dan beberapa negara di Eropa banyak melakukan permintaan terhadap
tenaga kerja Indonesia. Sedangkan Indonesia meminta tenaga kerja ahli dari Jepang,
Amerika, Inggris, Jerman untuk menjadi konsultan (Shaleha, 2012).
Pasar tenaga kerja ini tidak ada bedanya dengan pasar barang lainnya. Bila harga dari
tenaga kerja (upah) juga cukup fleksibel maka permintaan akan tenaga kerja selalu seimbang
dengan penawaran akan tenaga kerja. Sedangkan, mereka yang menganggur dengan
demikian hanyalah mereka yang tidak bersedia bekerja pada tingkat upah yang berlaku, jadi
mereka inilah yang disebut pengangguran sukarela.
Keseimbangan dalam Pasar Tenaga Kerja Single Competitif
Kurva penawaran tenaga kerja menunjukkan jumlah jam kerja dari pekerja pada berbagai
tingkat upah. Sedangkan kurva permintaan tenaga kerja menunjukkan jumlah jam kerja
yang digunakan oleh perusahaan pada berbagai tingkat upah. Keseimbangan terjadi pada saat
penawaran tenaga kerja sama dengan permintaan tenaga kerja yaitu di titik upah
keseimbangan w* dan jumlah jam kerja sebanyak E*. Setelah tingkat upah keseimbangan
tercapai, setiap perusahaan di dalam industri berusaha mempekerjakan orang sampai pada
titik dimana nilai marjinal produk tenaga kerja (value of marginal product of labor) sama
dengan upah di pasar kerja yang kompetitif yaitu di titik E.

Gambar 2. Keseimbangan di Pasar kerja yang kompetitif


Mengapa upah bisa naik turun? Dalam perekonomian yang modern, terdapat kendala
yang dihadapi berupa gangguan (shock) yang terjadi baik di sisi permintaan maupun

penawaran. Upah dan kesempatan kerja yang selalu berubah merupakan respon dari
perubahan yang terjadi dari sisi ekonomi, politik dan sosial. Ketika pasar kerja bereaksi
terhadap gangguan yang terjadi, upah dan kesempatan kerja akan selalu bergerak menuju titik
keseimbangan yang baru.
Keseimbangan Kompetitif antar Pasar Tenaga Kerja
Bagaimana keseimbangan pasar tenaga kerja terjadi bila di daerah utara mempunyai upah
yang lebih tinggi dari daerah selatan? Diasumsikan dua pasar ini mempekerjakan pekerja
yang memiliki ketrampilan yang sama sehingga orang yang bekerja di daerah Utara memiliki
substitusi yang sempurna dengan daerah di Selatan. Upah keseimbangan di daerah Utara w N
melebihi upah keseimbangan di daerah Selatan w S. Kurva permintaan dan penawaran di
masing-masing pasar yaitu SN dan DN untuk daerah Utara sedangkan S S dan DS untuk daerah
Selatan. Pekerja di daerah Selatan melihat upah di daerah Utara lebih besar, akan berpindah
untuk bekerja di Utara. Penghasilan yang besar menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih
besar. Sebaliknya perusahaan melihat adanya perbedaan upah di kedua daerah, akan
berpindah ke daerah Selatan yang memiliki karakteristik tingkat upah yang lebih rendah
dibandingkan di Utara, sehingga perusahaan memperoleh keuntungan lebih besar dengan
mempekerjakan pekerja yang lebih murah. Jika pekerja berpindah antar daerah dengan bebas,
perpindahan pekerja (migrasi) akan mengubah kur!a penawaran baik di daerah Utara maupun
Selatan. Di daerah Selatan, kurva penawaran tenaga kerja akan bergeser ke kiri (ke S S)
sampai sebagian pekerja di daerah Selatan meninggalkan daerahnya menuju daerah Utara.
Akibatnya karena pekerja sangat langka di daerah Selatan, upah pekerja mengalami
kenaikan. Sebaliknya di daerah Utara, kurva penawaran tenaga kerja akan bergeser ke kanan
(ke SN) sebagai akibat pekerja di daerah Selatan terus berdatangan. Dampaknya, upah di
daerah Utara mengalami penurunan. Jika ada kebebasan bagi pekerja untuk berpindah dan
kebebasan untuk keluar atau masuk ke pasar, maka dampaknya perekonomian nasional akan
menghasilkan tingakat upah tunggal yaitu sebesar w*.

Gambar 3. Pasar tenaga kerja


c. Pasar Uang (Money of Market)
Di pasar uang, permintaan akan uang bertemu dengan penawaran akan uang.
Diasumsikan bahwa, penawaran akan uang, yaitu jumlah uang yang beredar ditentukan oleh
pemerintah (uang giral) lembaga keuangan sesuai dengan kebijakan tertentu. Dengan kata
lain, jumlah uang yang beredar (uang giral dan kartal) ditentukan oleh kebijakan moneter
seperti di Indonesia.
Fungsi pasar uang adalah sebagi sarana alternatif, khususnya bagi lembaga-lembaga
keuangan, perusahaan-perusahaan nin keuangan dan peserta lainnya untuk memenuhi
kebutuhan dana jangka pendeknya maupun untuk menempatkan dana atas kelebihan
likuiditasnya. Yang dimaksud dengan kelebihan likuiditas adlaah lembaga-lembaga keuangan
yang mempunyai kelebihan dana dalam bentuk dana segar, baik berupa kas maupun dalam
bentuk-bentuk suarat-surat berharga dengan jangka waktu satu tahun.
Keseimbangan Di Pasar Uang
Kondisi perekonomian suatu negara juga dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran
uang. Permintaan uang adalah keseluruhan jumlah uang yang ingin dipegang oleh
masyarakat dan perusahaan, yang dilatar belakangi oleh motif transaksi, berjaga-jaga dan
spekulasi. Sedangkan penawaran uang adalah jumlah uang yang tersedia dalam
perekonomian yang digunakan untuk membiayai transaksi (Nurbiyah, 2011).
Besarnya

permintaan

uang

dipengaruhi

oleh

pendapatan

nominal

sedangkan

penawarannya merupakan otoritas dari bank sentral. Dengan demikian, permintaan uang
memiliki hubungan berbanding terbalik dengan suku bunga (r) tetapi penawaran uang tidak
terpengaruh. Oleh karena itu, keseimbangan di pasar uang dapat terjadi ketika terjadi
perpotongan antara permintaan dan penawaran uang dalam perekonomian (Nurbiyah, 2011).
Dapat digambarkan dengan grafik di bawah ini:

Gambar 4. keseimbangan di pasar uang.

Pasar Modal
Pasar modal dalam arti sempit identik dengan bursa efek. Dalam arti luas, pasar modal

adalah pertemuan antara mereka yang mempunyai dana dengan mereka yang membutuhkan
dana untuk modal usaha. Jika pasar uang lebih memfokuskan pada penggunaan jangka
pendek, maka pasar modal lebih memfokuskan pada penggunaan jangka panjang (Shaleha,
2012).
d. Pasar Luar Negri (Foreigh of Market)
Pasar luar negeri menggambarkan hubungan antara permintaan dalam negeri akan produk
impor dan penawaran ke luar negeri berupa produk ekspor (Shaleha, 2012). Di pasar luar
negeri pun kaum klasik juga mempertahankan pandangan mereka mengenai dunia yang
selalu bisa mengoreksi ketidakseimbangan otomatis. Pemerintah hanya memakai salah satu
dari sistem pembayaran luar negeri di bawah ini :
Sistem Standart Emas
Sistem dimana uang dalam negeri (misalkan rupiah) dijamin penuh dengan emas.
Standart Kertas dan Kurs Devisa yang Fleksibel
Dalam sistem ini kita boleh mempunyai sistem keuangan dalam negeri yang mengikuti
standart kertas yaitu menggunakan uang kertas.

Gambar 5. Pasar luar negeri

Model IS-LM
Semua pelajar ekonomi pasti mengetahui masalah keseimbangan ekonomi. Hal yang
sama juga dipahami mengenai luas kecilnya skala perekonomian sebagai dasar analisis utama.
Ketika perekonomian masih dalam kondisi awal, kegiatan ekonomi hanya terdiri dari kegiatan
konsumsi, investasi dan pemerintah (C,I,G). Ketika muncul peran hubungan luar negeri,
perekonomian kemudian berkembang menjadi kegiatan konsumsi, investasi, pemerintah dan luar
negeri (C,I,G,(X-I)). Perekonomian negara yang sudah memasukkan unsur hubungan luar negeri
tentu membawa konsekuensi munculnya sistem aliran devisa negara serta sistem nilai tukar mata
uang antar negara.
Berbicara mengenai perekonomian secara luas, kita semua pasti mengetahui sebuah nama
Mundell Flemming. Ekonom inilah yang kemudian memodifikasi bentuk analisa IS-LM yang
sederhana dengan memasukkan unsurBalance of Payment (BOP) sehingga analisanya menjadi
lebih kompleks. Dari hasil analisa IS-LM-BOP inilah nantinya dapat dijadikan dasar penentuan
apakah kebijakan fiskal atau moneter yang lebih berperan bagi perekonomian suatau negara,
berdasarkan sistem nilai tukar negara maupun sistem aliran devisa negara.

Gambar 6. Kebijakan Fiskal pada Fixed Exchange Rate


Sebagai contoh ilustrasi ekonomi berada pada kondisi awal di titik A dengan tingkat suku
bunga domestik (r) sama dengan tingkat suku bunga luar negeri (rf). Karena kondisinya sedang
krisis, sektor swasta tidak tumbuh sebagaimana mestinya dan sektor pemerintahlah yang
memegang peranan dalam bentuk peningkatan suku bunga domestik menjadi r 1. Kenaikan
tingkat suku bunga ke r1 menyebabkan terjadinya aliran modal masuk bertambah (capital inflow)
yang mengindikasikan BOP adanya kenaikan permintaan terhadap rupiah. Hal tersebut juga
dapat diartikan tingkat suku bunga domestik lebih tinggi daripada tingkat suku bunga
internasional sehingga orang tertarik untuk menabung di domestik. Naiknya demand terhadap
Rupiah menyebabkan pemerintah harus menambah supply dari Rupiah (karena kurs tetap maka
kurs tidak akan disesuaikan). Adanya kenaikan penawaran terhadap Rupiah inilah yang
menyebabkan ekspor mengalami penurunan dan impor justru meningkat pesat. Peningkatan dari
supply Rupiah menyebabkan kurva LM bergerak menuju LM 1 yang artinya kurva LM
mengalami penurunan. Keseimbangan ekonomi kembali berpindah menuju titik C dengan
tingkat pendapatan naik dari Y menuju Y2. Kenaikan tingkat pendapatan inilah yang menjadi
barometer kesuksesan kebijakan fiskal pada kondisi fixed exchange rate.

Gambar 7. Kebijakan Moneter pada Fixed Exchange Rate


Dengan ilustrasi yang sama kita dapat menjelaskan jalannya perekonomian pada kondisi
krisis dengan kebijakan moneter di dalamnya. Perekonomian diumpamakan berada pada kondisi
keseimbangan awal di titik A dengan IS0-LM0. Perubahan yang terjadi pada fixed exchange rate
juga sama di sini hingga terjadinya kenaikan penawaran Rupiah. Adanya peningkatan penawaran
Rupiah akan menyebabkan bergeraknya LM ke LM1 sehingga perekonomian berpindah dari titik
A menuju B. Perpindahan kondisi perekonomian dari A menuju B menyebabkan penurunan pada
tingkat bunga dari r ke r1 sehingga terjadi aliran modal keluar (capital outflow) akibat rendahnya
tingkat suku bunga domestik dibandingkan suku bunga internasional. Meningkatnya capital
outflow ini akan menyebabkan terjadinya kenaikan permintaan valuta asing. Peningkatan
permintaan valuta asing di satu sisi menyebabkan terjadinya penurunan penawaran Rupiah
sebagai substitusi valuta asing. Pengurangan penawaran Rupiah sama saja artinya dengan
penurunan kurva LM sehingga kurva LM kembali bergerak dari LM 1 ke LM0 dan keseimbangan
kembali berpindah dari B menuju A. Keseimbangan ini biasanya tidak permanen dan hanya
terjadi pada periode jangka pendek sehingga dapat disimpulkan pada negara dengan kebijakan
fixed exchange rate, kebijakan moneter tidak efektif dibandingkan kebijakan fiskal.

Gambar 8. Kebijakan Fiskal pada Flexible Exchange Rate


Adanya kebijakan fiskal dalam arti terjadinya kenaikan government spending (fiskal
ekspansif) akan menggerakkan kurva IS ke kanan atau berpindah dari IS 0 menuju IS1. Akibatnya
suku bunga domestik mengalami kenaikan dan terjadi capital inflow dari dunia internasional.
Dengan kebijakan kurs yang flexible maka kenaikan permintaan terhadap Rupiah akan
memungkinkan perubahan kurs yang menyebabkan harga tukar Rupiah meningkat (apresiasi
Rupiah). Efek dari apresiasi Rupiah terhadap perdagangan Indonesia cukup merugikan, sebab
secara relatif harga komoditi Indonesia lebih mahal dalam valuta asing sehingga mengurangi
permintaan ekspor kita serta meningkatkan permintaan impor. Akibatnya apresiasi Rupiah akan
kembali menurunkan kurva IS ke kiri dan menurunkan keseimbangan ekonomi dari titik B
kembali ke titik A dalam jangka panjang. Jadi dapat disimpulkan pada negara dengan BOP
kebijakan flexible exchange rate, kebijakan fiskal tidak efektif dibandingkan kebijakan moneter.

Gambar 9. Kebijakan Moneter pada Flexible Exchange Rate


Kebijakan moneter yang ekspansif akan menyebabkan kenaikan kurva LM sehingga
bergeser dari LM0 menuju LM1. Akibatnya tingkat suku bunga domestic turun dan terjadinya
capital outflow ke luar negeri. Dalam kondisi flexible exchange rate maka capital outflow akan
menaikkan permintaan valuta asing sehingga harga valuta asing naik atau dengan kata lain terjadi
depresiasi Rupiah. Depresiasi Rupiah akan menaikkan neraca perdagangan Indonesia dan kurva
IS bergeser ke kanan (IS0- IS1). Keseimbangan akhir berada pada titik C dengan tingkat
pendapatan sebesar Y1. Karenanya dapat disimpulkan kebijakan moneter justru sangat efektif
untuk diterapkan di suatu negara yang menganut sistem nilai tukar yang flexible.

Daftar Pustaka
Nurbiyah, Biyah Siti. 2011. Analisis Keseimbangan Ekonomi. STEI Cirebon.
Shaleha,

Nouna.

2012.

Jenis

Pasar

Pada

Ekonomi

Makro.

http://maphiablack.

blogspot.com/2012/11/jenis-pasar-pada-ekonomi-makro.html Diakses pada 6 Maret 2015


pukul 11.01 wib.