Anda di halaman 1dari 143

PERKEMBANGAN POLITIK DAN EKONOMI

PASCA KEDAULATAN TAHUN 1955 - 1998


Karya Tulis Ini Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Ujian Nasional
(UN) dan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN)
Tahun Pelajaran 20102011
Disusun Oleh Kelompok V
Kelas XII IPS 2
Anggota :
Ahmad Ruyani
NISN.
Dedeh Salbiah
NISN.
Imran Rifai
NISN.
Indri Amelia
NISN.

M. Kahfi
NISN.
Siti Khaeryah
NISN.
Yuni Wardini
NISN
.
NISN.

Madrasah Aliyah Nurul Falah Sangiang


Jl. Moh Toha Km 3,8 Periuk Jaya Periuk Kec. Periuk Kota Tangerang
Telp. (021) 55791011 Kode Pos 15131

LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis ini Telah Disetujui dan Disahkan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Ujian Akhir Madrasah
Berstandar Nasional (UAMBN) Tahun Ajaran 2010-2011.

Tangerang,.....Februari 2011

Disetujui Oleh :

Kepala Madrasah Aliyah,

( Drs. H . Sudirman )

Guru Pebimbing,

(Hj. Euis Farhati M. Pd )

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ......................................... ......... i
MOTTO ................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ............................................................ iii
DAFTAR ISI ........................................................................... v

BAB I

PENDAHULUAN .............................................................
1.1; Latar Belakang Masalah ............................................
1.2; Batasan Masalah .........................................................
1.3; Tujuan Penulisan .......................................................
1.4; Rumusan Penulisan ....................................................
1.5; Metode Penulisan ......................................................
1.6; Alasan Memilih Judul ................................................
1.7; Sistematika Penulisan ..............................................

BAB II

KEMBALI KE NEGARA
KESATUAN SAMPAI PEMILU 1955 ...............
2.1;

Kembali Ke Negara Kesatuan RI ...................................

2.2;

Kehidupan Politik Pasca Kedaulatan ..............................

2.3;

Gangguan Keamanan Dalam negeri ...............................

2.4;

Pergolakan Di daerah ......................................................

2.5;

Pemilihan Umum I Tahun 1955 ......................................

2.6;

Bebagai faktor yang mempengaruhi Republik


negara indonesia kembali ke negara kesatuan .................

BAB III

PEMBENTUKAN KELEMBAGAAN DAN


PERTENTANGAN IDEOLOGIS ..........................
3.1 Pembentukan Kelembagaan .............................................
3.2 Pertentanagan Antar Ideologi Politik ...............................

BAB IV

KEHIDUPAN EKONOMI
PASCA KEDAULATAN ...........................................
4.1 Peristiwa-Peristiwa Politik Dan Ekonomi
IndonesiaPasca Pengakuan Kedaulatan..................................

4.2 Kondisi Politik Dalam Negeri pada Masa


Demokrasi Terpimpin

4.3 Politik Luar Negeri Masa Demokrasi Terpimpin


4.4 Sebab sebab krisis ekonomi ditahun 1997-1998

BAB V

PERKEMBANAN EKONOMI PADA MASA ORDE


BARU
5.1 Tabel dimensidimensi Sistem Ekonomi
5.2 Periode Orde Lama (1945 1966)
5.3 Periode Orde Baru (1966 1998)

BAB VI

KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA,


ORDE BARU PERSAMAAN
6.1 Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)
6.2 Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)
6.3 Pakdes 1987
6.4 Pakto 88
6.5 Pakdes 88
6.6 Awal Pertumbuhan Koperasi Indonesia
6.7 Pertumbuhan Koperasi Setelah Kemerdekaan
6.8 Perkembangan Koperasi Dalam Sistem Ekonomi Terpimpin
6.9 Perkembangan Koperasi Pada Masa Orde Baru
6.10 Kelahiran Bapepam
6.11 Akhir Dualisme
6.12 Posisi Pertanian : Kini dan Ke Depan

6.13 Sketsa Koperasi Pertanian di Masa Depan

BAB VII

PENUTUP

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya
atas rahmat dan petunjuk-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan karya tulis berupa
makalah yang berjudul nama judul karya tulisnya
Sumber dari makalah ini berupa buku-buku sejarah yang ditambah dengan
informasi yang didapat dari bapak ibu guru di sekolah, browsing di internet referensi
dan sumber-sumber lainnya. Diantara sumber-sumber tersebut saya susun semua
informasi dan fakta yang sesuai dengan karya tulis ini, sehingga menurut saya datadata di dalam paper ini sudah cukup akurat.
Dalam penulisan makalah ini pastilah ada banyak kendala yang saya temui
namun saya berhasil menghadapinya dan menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Akhir kata jika ada sesuatu pada khususnya kata-kata yang tidak berkenan pada hati
pembaca mohon dimaklumi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1; LATAR BELAKANG
Supaya lebih dapat mengetahui sejarah-sejarah perkembangan politik dan
ekonomi pada masa Orde Lama dan Orde Baru dan juga rasa keingintahuan tentang
ilmu sejarah, dalam mempelajari ilmu sejarah dapat menambah wawasan atau ilmu
pengetahuan terutama tentang sejarah perkembangan politik dan ekonomi pada tahun
1995-1998 yang termasuk kedalam sejarah politik dan ekonomi di Republik
Indonesia dan untuk mengembangkan rasa kebersamaan serta kerjasama antar siswa.
1.2 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan kaya tulis ini yaitu:
1; Sebagai salah satu syarat memenuhi UN/UANBN tahun ajaran 2010-2011.
2; Menambah pengetahuan tentang sejarah Republik Indonesia bagi para siswa.
3; Mengembangkan kemampuan dalam penjurusan karya tulis ini.
4;

Memberi pengetahuan agar bisa mengetahui sejarah perkembangan politik

dan
ekonomi pada masa lampau.
5; Menambah informasi terhadap sejarah politik dan ekonomi di negara Republik
Indonesia.
1.3 METODE PENULISAN
Dalam penyelusuran karya tulis ini, pencarian data dan bahannya penulis
menggunakan metode:
a;

Study Literature
Yaitu penulis menyusun karya tulis ini dengan cara mempelajari buku-buku
yang berhubungan dengan judul yang di bahas.

b;

Bimbingan dan Konsultasi


Penulis banyak melakukan konsultasi dengan guru pembimbing untuk
dimintai arahannya terkait dengan judul yang dibahas.

c;

Media Massa
Penulis juga mencari data melalui media massa seprti majalah, koran dan
internet.

1.4 SISTEMATIKA PENULISAN


Adapun sistematika penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN .............................................................
1.8; Latar Belakang Masalah ............................................
1.9; Batasan Masalah .........................................................
1.10; Tujuan Penulisan .......................................................
1.11;

Rumusan Penulisan ....................................................

1.12; Metode Penulisan ......................................................


1.13; Alasan Memilih Judul ................................................
1.14; Sistematika Penulisan ..............................................

BAB II

KEMBALI KE NEGARA
KESATUAN SAMPAI PEMILU 1955 ...............
2.7;

Kembali Ke Negara Kesatuan RI ...................................

2.8;

Kehidupan Politik Pasca Kedaulatan ..............................

2.9;

Gangguan Keamanan Dalam negeri ...............................

2.10; Pergolakan Di daerah ......................................................


2.11;

Pemilihan Umum I Tahun 1955 ......................................

2.12; Bebagai faktor yang mempengaruhi Republik


negara indonesia kembali ke negara kesatuan .................

BAB III

PEMBENTUKAN KELEMBAGAAN DAN


PERTENTANGAN IDEOLOGIS ..........................
3.1 Pembentukan Kelembagaan .............................................
3.2 Pertentanagan Antar Ideologi Politik ...............................

BAB IV

KEHIDUPAN EKONOMI
PASCA KEDAULATAN ...........................................
4.1 Peristiwa-Peristiwa Politik Dan Ekonomi
IndonesiaPasca Pengakuan Kedaulatan..................................

4.2 Kondisi Politik Dalam Negeri pada Masa


Demokrasi Terpimpin

4.3 Politik Luar Negeri Masa Demokrasi Terpimpin


4.4 Sebab sebab krisis ekonomi ditahun 1997-1998

BAB V

PERKEMBANAN EKONOMI PADA MASA ORDE

BARU
5.1 Tabel dimensidimensi Sistem Ekonomi
5.2 Periode Orde Lama (1945 1966)
5.3 Periode Orde Baru (1966 1998)

BAB VI

KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA,


ORDE BARU PERSAMAAN
6.1 Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)

6.2 Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)


6.3 Pakdes 1987
6.4 Pakto 88
6.5 Pakdes 88
6.6 Awal Pertumbuhan Koperasi Indonesia
6.7 Pertumbuhan Koperasi Setelah Kemerdekaan
6.8 Perkembangan Koperasi Dalam Sistem Ekonomi Terpimpin
6.9 Perkembangan Koperasi Pada Masa Orde Baru
6.10 Kelahiran Bapepam
6.11 Akhir Dualisme
6.12 Posisi Pertanian : Kini dan Ke Depan

6.13 Sketsa Koperasi Pertanian di Masa Depan

BAB VII

PENUTUP

BAB II
KEMBALI KE NEGARA KESATUAN SAMPAI
PEMILU 1955
2.1. KEMBALI KE NEGARA KESATUAN RI
Negara RIS yang berbentuk federal berdiri sejak Indonesia
memperoleh pengakuan kedaulatan dari Belanda tanggal 27 Desember
1949, ternyata tidak mencerminkan cita-cita persatuan dan kesatuan
bangsa seperti yang diamanatkan pada proklamasi kemerdekaan 17
Agustus 1945. Rakyat Indonesia sebagian besar menyadari bahwa RIS
merupakan warisan kolonial Belanda dan bukan keinginan rakyat
Indonesia.
Atas dasar kesadaran itu, maka rakyat di negara-nagara bagian
berusaha kembali ke negara kesatuan. Mereka menuntut bergabung
dengan Negara RI. Pada tanggal 5 April 1950 Negara RIS hanya tinggal
tiga Negara bagian, yaitu Negara Bagian RI, Negara Indonesia Timur dan
Negara Sumatera Timur.
Pada tanggal 19 Mei 1950 berlangsung perundingan antara
Pemerintah RIS yang diwakili Moh Hatta dengan pemerintah RI yang
diwakili oleh Abdul Halim. Perundingan tesebut menghasilkan piagam
persetujuan yang isinya :
a. RIS dan RI sepakat untuk mmbentuk Negara Kesatuan berdasarkan
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

b. RIS dan RI membentuk panitia bersama yang bertugas menyusun


UUD.
UUD yang disusun tersebut diketuai oleh Prof. Dr. Mr. Soepomo
(Menteri Kehakiman RIS) dan Abdul Halim ( wakil Perdan Menteri RI).
Pada tanggal 21 Juli 1950, naskah rancangan UUD terbentuk, dan
disahkan pada tanggal 14 Agustus 1950 oleh Parlemen RI dan Senat RIS.
Rancangan UUD NKRI tersebut kemudian terkenal dengan sebutan
UUD Sementara Tahun 1950 (UUDS 1950 ).
Pada tanggal 15 Agustus 1950 Presiden RI, Ir. Soekarno
membacakan piagam terbentuknya Negara Kesatuan RI. Pada saat itu
juga pejabat Presiden sementara RI, Mr. Asaat menyerahkan kembali
mandatnya kepada Presiden Soekarno. Selanjutnya secara resmi pada
tanggal 17 Agustus 1950 RIS dibubarkan, dan lahirlah Negara Kesatuan
Republik IIdonesia (NKRI).
RIS hanya berumur 8 bulan.
2.2 KEHIDUPAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN PASCA
KEDAULATAN
Sejak kembalinya ke Negara Kesatuan Republik Indonesia pada
tanggal 17 Agustus 1950, Indonesia menganut sistem Demokrasi Liberal,
dimana kedaulatan rakyat disalurkan melalui partai-partai politik. Pada
waktu itu ada empat partai besar yang sangat berpengaruh dalam
pemerintahan, yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI.
Dalam masa Demokrasi Liberal Indonesia menganut sistem

Kabinet Parlementer, artinya kabinet dipimin oleh seorang Perdana


Menteri. Perdana Menteri dan para Menteri bertanggung jawab kepada
Parlemen (DPR). Jatuh banguanya pemerintah atau kabinet sangat
tergantung kepada DPR. Bila mayoritas dalam parlemen

tidak

mempercayai

harus

atau

mendukung

kabinet,

maka

kabinet

mengembalikan mandate kepada presiden dan perlu dibentuk kabinet


baru.
Para menteri mewakili partainya. Partai yang wakilnya duduk
dalam pemerintahan disebut partai pemerintah, dan yang tidak duduk
dalam pemerintahan disebut partai oposisi. Partai pemerintah banyak
mengurus kepentingan partainya, sehingga timbul mosi tidak percaya
terhadap Kabinet yang sedang berkuasa. Krisis kabinet dan jatuhnya
kabinet sering terjadi. Keadaan seperti ini memberi peluang pada partai
oposisi untuk menyatakan ketidakpercayaan terhadap kabinet yang
memerintah, sehingga terjadilah jegal-menjegal antar partai politik.
Dampak sistem Demokrasi Liberal yang berlangsung di Indonesia
selama kurang lebih 9 tahun (1950 -1959) terhadap pemerinthan antara
lain:
a. Pemerintahan tidak stabil, saling jegal-menjegal antar partai sehingga
kabinet jatuh bangun.
b. Kabinet tidak dapat bekerja secara maksimal karena usianya pendek.
c. Program kabinet tidak berkesinambungan, karena setiap kabinet
mementingkan partainya.
Kabinet-kabinet yang pernah memegang pemerintahan pada masa

Demokrasi Liberal adalah tersebut di bawah ini.


1. Kabinet Natsir (6 September 1950 27 April 1951)
Pimpinan

: Perdana Menteri Muhammad Natsir (dari Partai


Masyumi )

Alasan bubar

: a. Kegagalan dalam perundingan masalah Irian Barat


dengan Belanda menimbulkan Emosi tidak percaya
dalam parlemen.
b. Pembentukan DPRD ditentang oleh PartaiOposisi,
karena dianggap menguntungkan Masyumi.

2. Kabinet Sukiman ( 27 April 1951 3April 1952 )


Pimpinan

: Perdana Menteri Sukiman ( koalisi dari Partai


Masyumi dan PNI )

Alasan Bubar

: Mosi tidak percaya dari Masyumi dan PNI sendiri,


karena politik luar Negerinya dianggap condong ke
Barat, yang bertentangan dengan politik bebas aktif,
yaitu ditandatanganinya bantuan, ekonomi, tehnik
dan persenjataan dari Amerika Serikat atas dasar
MSA (Mutual Scurity Act ) tahun 1951

3. Kabinet Wilopo ( 3 April 1952 -30 Juni 1953 )


Pimpinan

: Perdana Menteri Mr. Wilopo (dari PNI)

Alasan bubar

: a. Goncangan peristiwa 17 Oktober 1952


(demonstrasi rakyat Menuntut pembubaran DPR
Sementara yang didukung TNI AD)

b.Ketidak mampuan menyelesaikan sengketa tanah


di Sumatera Timur (peristiwa Tanjung Morawa ).
4. Kabinet Ali - Wongso atau Ali Sastroamijoyo 1 ( 30 Juli 1953 12
Agustus 1955)
Pimpinan

: Perdana Menteri Mr. Ali Sastroamijoyo (koalisi


PNI dan NU).

Prestasi

: Berhasil melaksanakan KAA di Bandung, dan


persiapan pemilu.

Alasan bubar

: Masalah pergantian pimpinan TNI AD (peristiwa 27


Juni 1955).

5. Kabinet Burhanudin Harahap (12 Agustus 1955 24 Maret 1956)


Pimpinan

: Perdana Menteri Burhanudin Harahap (dari


Masyumi )

Prestasi

: Berhasil menyelenggarakan pemilu I tahun 1955

Alasan bubar

6. Kabinet Ali II ( 24 Maret 1956 9 April 1957 )


Pimpinan

: Perdana Menteri Mr. Ali Sastroamijoyo (koalisi PNI,


NU dan Masyumi)

Alasan Bubar

: Munculnya pemberontakan di daerah-daerah, serta


ditarik mundurnya Menteri-menteri dari Masyumi.

7. Kabinet Juanda atau Kabinet Karya (9 April 1957 5 Juli 1959)


Pimpinan

: Perdana Menteri ir. Juanda ( dari Non Partai atau


ekstra parlementer )

Alasan bubar

: Menghadapi spartatisme dari dewan militer seperti


Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Manguni dll.

2.3 GANGGUAN KEAMANAN DALAM NEGERI


Kembalinya ke Negara Kesatuan juga berdampak pada sebagian
tokoh dari Negara bagian ingin tetap mempertahankan sebagai sebuah
Negara yang berdiri sendiri dengan cara mengadakan pemberontakanpemberontakan.. Sehingga hal ini menjadi gangguan dan ancaman
keamanan dalam negeri. Adapun pemberontakan-pemberontakan itu
antara lain:
a. Pemberontakan DI / TII
Gerakan DI / TII pertama kali didirikan oleh Sukarmaji Marijan
Kartosuwiryo.

Tujuannya adalah ingin mendidrikan

Negara Islam

Indonesia (NII ), yang diproklamasikan tanggal 7 Agustus 1949. Pusat


gerakannya di Gunung Geber, Tasik Malaya Jawa Barat. Gerakan ini
bernama Darul Islam (DI) dan pasukannya

bernama Tentara Islam

Indonesia (TII).
Dan DI / TII dilakukan dengan mencoba menghalang-halngi
Divisi Siliwangi kemabli ke Jawa Barat. Waktu itu pasukan Siliwangi
baru kemabali dari Jateng untuk melakukan perang gerilya, dalam aksi
mIliter Belanda II. Disamping itu gerombolan DI / TII sering melkukan

terror kepada rakyat dengan jalan merampok, membakar rumah-rumah


penduduk, menyiksa dan membunuh rakyat.
Upaya penumpasan gerombolan DI / TII di Jawa barat memakan
waktu lama karena 1) medannya di daerah pegunungan, 2) pasukan
DI/TII bergerak leluasa di kalangan rakyat, 3) masalah politik yang tidak
stabil. Namun pada tahun 1960 pasukan siliwangi

bersama rakyat

melakukan penumpasan yangdiberi nama Operasi Pagar Betis dan


Operasi Baratayudha yang berhasil menangkap kartosuwiryo beserta
keluarganya pada tanggal 4 Juni 1962 di Gunung Geber Majalaya, Jawa
Barat. Dan tanggal 16 Agustus ia dijatuhi hukuman mati.
1. DII/TII di Brebes, Tegal dan Pekalongan
Pimpinan DI/TII di daerah ini adalah Amir Fatah, yang setelah
bergabung dengan Kartosuwiryo diangkat sebagai Jenderal Mayor
Tentara Islam Indonesia.
Dalam menumpas gerakan ini diadakan operasi

militer Gerakan

Bentyeng Negara (GBN).


2. Di Kebumen
Gerakan ini dikenal dengan pemberontakan Angkatan Umat
Islam (AUI). Gerakan ini dipimpin oleh Kyai Moh. Mahfud
Abdurrohman yang dikenal sebagai Kyai Sumolangu. Geombolan ini
dapat ditumpas dalam waktu 3 bulan, sedangkan sisanya bergabung
dengan DI/TII Kartosuwiryo.

3. DII/TII di Sulawesi Selatan


Gerakan ini dipimpin oleh Kahar Muzakar. Dia seorang mantan
pejuang kemerdekaan, kemudian menghimpun laskar gerila yang
tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan ( KGSS). Ia
menuntut kepada pemerintah agar KGSS dimasukkan dalam tentra
APRIS dengan nama Briade Hasanudin, namun tuntutan itu ditolak.
Pemerintah melakukan pendekatan dan memberi pangkat Letnan
Kolonel , tetapi saat menjelang dilantik pada tanggal 17 Agustus 1950,
ia melarikan diri ke hutan bersama anak buahnya dengan membawa
peralatan senjata. Bulan januari 1952 ia menyatakan bahwa daerah
Sulawesi Selatan sebagai bagian NII Kartosuwiryo. Selama 14 tahun
Kahar mmMuzakar mengadakan kekacauan dan terror, namun dengan
operasi militer ia dapat ditembak mati pada bulan Pebruari

1965.

Orang kedua yang bernama Gerunga juga dapat ditangkap pada bulan
Juli 1965.Berbagai kajian yang menelaah krisis keuangan Asia telah
banyak dilakukan, dari berbagai sudut pandang pula. Secara umum
terlihat suatu pola dan karakteristik yang berlaku sama di seluruh
negara yang dilanda krisis. Namun, dalam hal kedalamannya dan
jangka waktunya, Indonesia dapat dikatakan sangat unik. Sulit mencari
pembandingnya,

barangkali

negara

yang

paling

layak

untuk

dibandingkan waktu itu adalah Rusia, dan sekarang mungkin Argentina.


Oleh karena itu, dalam uraian berikut kita akan mengkaji secara singkat
mengapa krisis di Indonesia begitu parah, dan mengapa pemulihannya
begitu lambat.

Sebagai introspeksi, harus kita akui bahwa krisis di Indonesia


benar-benar tidak terduga datangnya, sama sekali tidak terprediksi
sebelumnya. Seperti dikatakan oleh Furman dan Stiglitz (1998), bahwa
di antara 34 negara bermasalah yang diambil sebagai percontoh
(sample) penelitiannya, Indonesia adalah negara yang paling tidak
diperkirakan akan terkena krisis bila dibandingkan dengan negaranegara lainnya dalam percontoh, tersebut. Ketika Thailand mulai
menunjukkan gejala krisis, orang umumnya percaya bahwa Indonesia
tidak akan bernasib sama. Fundamental ekonomi Indonesia dipercaya
cukup kuat untuk menahan kejut eksternal (external shock) akibat
kejatuhan ekonomi Thailand.

4. Di Aceh
Gerakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Daud Beureueh. Ia pernah
menjabat Gubernur Militer di Aceh. Gerakan ini diproklamasikan pada
tanggal 20 September 1953 yang menyatakan bahwa Aceh merupakan
bagian NII Kartosuwiryo. Ia juga mengeluarkan maklumat yang
menyatakan bahwa Dengan lahirnya proklamasi Negara Islam
Indonesia di Aceh, lenyaplah kekuasaan Pancasila di Aceh dan diganti
pemerintah dari Negara Islam.
Usaha pemerintah menumpas gerakan itu antara lain: 1) operasi
militer yang berhasil merebut kota-kota yang direbut gerombolan
DI/TII. 2)musyawarah kerukunan rakyat Aceh. Musyawarah ini

diprakarsai oleh Pangdam I Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin yang


berhasil menyadarkan Daud Beureueh untuk kembali ke tengah-tengah
masyarakat Aceh. Akhirnya keamanan di Aceh dapat pulih kembali.
b. Pemberontakan APRA
Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada tanggal 23 Januari
1950 mengadakan pemberontakan di

bandung. Pemimpinnya adalah

Kapten Raymond Westerling, yang didalangi oleh Sultan Hamid II.


APRA menuntut agar RIS mengakuinya sebagai Tentara Pasundan,
namun tuntutan itu ditolak oleh RIS. Dalam pertempuran di Pacet pada
tanggal 24 Januari 1950, pasukan TNI berhasil menumpas gerombolan
APRA. Akan tetapi Westerling dapat meloloskan diri ke Jakarta dan
berencana akan menangkap para menteri RIS, namun usaha itu dapat
digagalkan.
Untuk mengatasi pemberontakan APRA, pemerintah mengadakan
operasi militer dan berhasil menangkap Sultan Hamid II pada tanggal 4
April 1950. Sedangkan Westerling melarikan diri ke Singapura dengan
menumpang pesawat Catalina milik Angkatan Laut Belanda. Dengan
tertangkapnya para

gembong tersebut, maka berakhirlah APRA di

Indonesia.
c. Pemberontakan Andi Azis
Andi Azis adalah bekas tentara KNIL di Makasar. Pada tanggal 5
April 1950 ia melakukan pemberontakan dengan tujuan ingin
memperthankan Negara Indonesia Timur. Adapun latar belakang
pembrontakan adalah :

1; Menuntut pada pemerintah agar yang menjadi tentara keamanan di

Wilayah Indonesia Timur adalah bekas tentara KNIL( bekas tentara


Belanda dari orang-orang Indonesia).
2; Mempertahankan berdirinya Negara Indonesdia Timur.
3; Menolak kedatangan TNI di Makasar.

Untuk menumpas pemberontakan Andi Azis pemerintah


melakukan operasi militer dibawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang.
Pada tanggal 8 Agustus 1950 Andi Azis menyerahkan diri dan pada
tahun 1953 ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara di pengadilan militer.
Dan pada saat itu berakhirlah pemberontakan Andi Azis.
d. Pemberontakan RMS ( Republik Maluku Selatan )
Di Ambon pada tanggal 25 April 1950, diproklamasikan
berdirinya RMS ( Republik Maluku Selatan ). RMS yang terlepas dari
NIT dan RIS ini dipimpin oleh Dr. Soumakil, mantan jaksa Agung NIT.
Ia

juga

menjadi

dalang

pemberontakan

Andi

Azis.

Ketika

Pemberontakan Andi Azis ditumpas pemerintah, ia memindahkan


kesatuan tentara KNIL dari Makasar ke Ambon. Pasukan inilah yang
menjadi kekuatan RMS.
Pemerintah RIS beritikad baik menyelesaikan RMS secara damai
dengan mengirim

delegasi perdamaian yang dipimpin oleh Dr. J.

Leimena.Akan tetapi Soumakil menolaknya. Karena

jalan damai

ditolaknya, maka tanggal 14 Juli 1950 dilangsungkan gerakan militer


dipimpin Kolonel Alex Kawilarang. Pada bulan November 1950
Tentara APRIS ( TNI ) berhasil menguasai Ambon, namun dalam

pertempuran merebut benteng Victoria itu Letkol Slamet Riyadi gugur.


Namun pada 12 Desember 1963 akhirnya Dr. Soumakil dapat ditangkap
dan dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa di
Jakarta
2.4 PERGOLAKAN DI DAERAH
Awal terjadinya pergolakan di daerah merupakan gerakan
sparatis yang bertujuan memisahkan diri dai pemerintah RI yang sah.
Adapun latar belakang terjadinya pergolakan di daerah antara lain :
a; Anggapan bahwa pembangunan hanya dipusatkan di Pulau jawa.
b; Pertentangan

politik yang berlarut-larut, antar

politik saling

menjatuhkan.
c; Lahirnya konsepsi presiden Soekarno tahun 1957 tentang pelaksanaan

Demokrasi Terpimpin yang sangat menguntungkan PKI.


Pergolakan di daerah yang sangat membahayakan keutuhan
NKRI adalah pemberontakan PRRI di Sumatera Barat dan Permesta di
Sulawesi Utara.
a; Pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik

Indonesia)
Pada tanggal 15 Pebruari 1958, Ahmad Husein
memproklamasikan berdirinya PRRI dengan Syafrudin Prawiranegara
seabagai Perdana Menterinya. Namun sebelum lumnya di dahului
adanya pembentukan dewan-dewan di daerah seperti :
1; Dewan Banteng di Sunmatera barat dipimpin oleh Letkol Ahmad

Husein
2; Dewan Gajah di Medan dipimpin oleh Kolonel M. Simbolon
3; Dewan Garuda di Palembang dipimpin oleh Letkol Berlian

Pemberontakan PRRI muncul sebagai akibat pertentangan antara


pemerintah Pusat dengan Daerah. Pertentangan itu mengenai masalah
otonomi dan dan perimbangan anggaran di pusat dan daerah. Dalam
mengatasi hal itu pemerintah melakukan operasi militer antara lain:
operasi tegas, operasi 17 agustus, operasi Saptamarga dan operasi
Sadar. Dan Akhirnya pada tanggal 19 Mei 1961, Ahmad Husein
menyerahkan diri dan kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh PRRI yang
lain.
b. Pemberontakan Permesta (Piagam Perjuangan Semesta)
Pada tanggal 2 Maret 1957, Letkol Vence Semual
memproklamasikan berdirinya Permesta. Pemberontakan ini muncul
karena adanya tuntutan agar pemerintah pusat memberi otonomi seluasluasnya kepada daerah Sulawesi Utara. Tuntutan itu ditolak pemerintah
karena mengarah pada gerakan spsratis.
Pemebrontakan Permesta di Sulawesi Utara akhirnya dapat
dilumpuhkan pada pertengahan tahun 1961, dengan opersi militer
gabungan dengan nama operasi merdeka di bawah pimpinan Letkol
Rukminto Hendraningrat.

2.5 PEMILIHAN UMUM I TAHUN 1955


a. Pelaksanaan Pemilu 1955
Pemilihan Umum merupakan program pemerintah dari setiap
kabinet, namun baru dapat terlaksana pada masa Kabinet Burhanudin
Harahap yang sebelumnya pada masa kabinet Ali I panitianya sudah
terbentuk. Pemilhan umum ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu :
a; Tahap I, tanggala 29 September 1955 memilih anggota Dewan

Perwakilan Rakyat (DPR).


b; Tahap II, tanggal 15 Desember 1955 memilih anggota Badan

Kontituante (Badan Pembuat Undang-undang Dasar).


Pemilu 1955 berlangsung secara demokratis. Dalam pemilu 1955
telah keluar empat partai besar pemenang pemilu, yaitu PNI dengan 57
kursi, Masyumi dengan 57 kursi, NU dengan 45 kursi, dan PKI dengan
39 kursi. Kemudian anggota Konstituante berjumlah 542 0rang. Anggota
DPR hasil pemilu 1955 dilantik pada tanggal 20 Maret 1956, sedankan
pelantikan anggota Badan Konstituante pada tanggal 10 November 1956.
Pada semester kedua tahun 1957 diadakan pemilihan anggota
Dewan Provinsi. Pada pemilihan daerah, PKI menjadi partai rakyat yang
sangat dikenal terutama di desa.desa. Oeh karena itu pada pemilihan
daerah PKI mengalami peningkatan yang sangatluar biasa dalam
perolehan suara.

Hal ini menunjukkan bahwa PKI

makin kuat pengaruhnya di

masyarakat. Basis PKI adalah jawa. Terkait dengat kenyataan ini,


Presiden Sukarno berpendapat bahwa PKI harus diberi peranan dalam
pemerintahan. Keadaan yang demikian ini sangat menguntungkan PKI
di masa-masa berikutnya.
Pemilihan umum telah terlaksana dengan baik , namun tidak
berhasil membawa stbilitas politik seperti yang didambakan oleh
rakyat.Hal ini ini disebabkan masih adanya perselisihan antar partai yang
masih berlanjut seperti sebelumnya. Merka masih mempertahankan
partai masing-masing. Akhirnya di Indonesia mengalami krisis yan
menghasilkan system politik Demokrasi Terpimpin.
b. Kegagalan Dewan Konstituante dan Dekrit presiden
Pemilu tahun 1955 tahap II telah memilih anggota Dewan
Konstituante yang bertugas membuat Undang-Undang Dasar (konstitusi),
karena waktu itu Indonesia belum memiliki Undang-Undang Dasar yang
tetap sebab masih enggunakan UUDS.
Dewan Konstituante mulai bersidang tanggal 10 November 1956
bertempat di Bandung. Sidang pertama dipimpin oleh ir. Wilopo. Namun
hingga

tahun 1959

sidang

Dewan

Konstituante

tidak

mampu

menghasilkan UUD baru. Justru dalam siding tersebut terjadi perpecahan


antar partai atau golongan. Setiap partai mempejuangkan partainya
masing-masing sehingga terjadi perdebatan yang tidak ada habishabisnya. Hal ini membuat pemerintah tidak stabil. Untuk itu Presiden
Sukarno pada tanggal 21 Februari 1957 mengeluarkan Konsepsi

Presiden. Adapun isi konsepsi presiden adalah sbb:


1; Sistem demokrasi paerlementer model barat tidak sesuai kepribadian

Indonesia maka harus diganti dengan demokrasi terpimpin.


2; Untuk melaksanakan demokrasi terpimpin perlu dibentuk cabinet

Gotong Royong.
Melihat keadaan yang serba tidak stabil, rakyat merasa tidak puas.
Mereka telah lama mendambakan keadaan yang tenteram, aman dan
damai. Melihat kenyataan itu maka timbul pendapat untuk kembali ke
UUD

1945.

Presiden

Sukarno

sendiri

mengamanatkan

Dewan

Konstituante menetapkan kembali berlakunya UUD 1945. Teapi Dewan


Konstituante sendiri tidak berhasil mengambil kesepakatan dalam
menaggapi usulan kembali ke UUD 1945.
Situasi yang demikian dipandang oleh presiden Sukarno sebagai
keadaan yang kritis. Situasi ketatanegaraan Indonesia berada pada tahap
yang membahayakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena
itu demi keselamatan bangsa dan negara Presiden Sukarno mengeluarkan
Dekrit Presiden pada tanggal 5 juli 1959. Adapun isi Dekrit Presiden
adalah:
1. Pembubaran Dwan Konstituante
2. Berlakunya kembali UUD 1945
3. Akan dibentuk DPRS dan DPAS
Dengan dikeluarkannnya Dekrit Presiden berarti UUDS tidak berlaku
lagi dan bangsa Indonesi kembali menggunakan UUD 1945 sebagai

konstitusi Negara. Dekrit Presiden itu mendapat dukungan dari TNI AD


dan sebagian besar rakyat Indonesia, sehingga rakyat memiliki harapan
besar bangsa ini akan menjadi lebih baik setelah adanya Dekrit Presiden.
2.6 BERBAGAI FAKTOR YANG MEMENGARUHI PROSES
KEMBALINYA REPUBLIK INDONESIA SEBAGAI NEGARA
KESATUAN
Bagian penting dari keputusan KMB adalah terbentuknya Negara
Republik Indonesia Serikat. Memang hasil KMB diterima oleh
Pemerintah Republik Indonesia, namun hanya setengah hati. Hal ini
terbukti dengan munculnya perbedaan dan pertentangan antar kelompok
bangsa. Dua kekuatan besar yang saling berseberangan yaitu:
1; Kelompok unitaris, artinya kelompok pendukung Negara Kesatuan

Republik Indonesia; dan


2. Kelompok pendukung Negara Federal-RIS.
Dampak dari terbentuknya Negara RIS adalah konstitusi yang
digunakan bukan lagi UUD 1945, melainkan Konstitusi RIS tahun 1949.
Dalam pemerintahan RIS jabatan presiden dipegang oleh Ir. Soekarno,
dan Drs. Mohammad Hatta sebagai perdana menteri. Perlu diingat bahwa
dalam Konstitusi RIS 1949 tidak mengenal jabatan wakil presiden.
Berdasarkan pandangan kaum nasionalis pembentukan RIS merupakan
strategi pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah kekuatan
bangsa Indonesia sehingga Belanda akan mudah mempertahankan

kekuasaan dan pengaruhnya di Republik Indonesia. Kelompok ini sangat


menentang dan menolak ide federasi dalam bentuk negara RIS.
Pada akhirnya kelompok unitaris semakin memperoleh simpati.
Berikut ini sejumlah faktor yang memengaruhi proses kembalinya negara
RIS menjadi NKRI.
1; Bentuk negara RIS bertentangan dengan cita-cita Proklamasi

Kemerdekaan 17 Agustus 1945.


2. Pembentukan negara RIS tidak sesuai dengan kehendak rakyat.
3. Bentuk RIS pada dasarnya merupakan warisan dari kolonial Belanda
yang tetap ingin berkuasa di Indonesia.
4. Berbagai masalah dan kendala politik, ekonomi, sosial, dan sumber daya
manusia dihadapi oleh negara-negara bagian RIS.
Pada tanggal 17 Agustus 1950, Presiden Soekarno membacakan
Piagam terbentuknya NKRI. Peristiwa ini juga menandai berakhirnya
bentuk RIS. Indonesia kembali menjadi negara kesatuan.

BAB III
A; PEMBENTUKAN KELEMBAGAAN DAN PERTENTANGAN

IDEOLOGIS
Setelah Dekrit Presiden semestinya kehidupan berbangsa dan
bernegara didasarkan pada UUD 1945 dan pelaksanaan Pancasila.
Namun

dalam

kenyataannya

justru

melakasanakan

Demokrasi

Terpimpin, sehingga pelaksanaan berbangsa dan bernegara sangat


ditentukan oleh seorang pemimpin, yaitu Presiden Sukarno. Hal itu jelas
tidak sesuai dengan perinsip-perinsip demokrasi, yaitu dari, oleh dan
untuk rakyat.
Untuk memantapkan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin
pemerintah dilengkapi beberapa kelembagaan yang diperlukan. Presiden
Sukarno kemudian membentuk Kabinet Kerja dan menetapkan DPR,
MPRS, DPAS dan lain-lain.
1. PEMBENTUKAN KELEMBAGAAN
a. Pembentukan Kabinet Kerja
Sebelum DekritPresiden, Kepala pemerintahan dipegang Perdana
Menteri. Namun setelah Dekrit Presiden dan kembali ke UUD 1945
Presiden disamping sebagai kepala Negara jauga sebagai kepala
pemerintahan. Pada saat itu presiden membentuk Kabinet Kerja , dan
sebagai menteri pertama adalah ir. Juanda. Para menteri dalam Kabinet
Kerja tidak lagi

terikat oleh partai asalnya. Para menteri tidak

bertanggung jawab pada parlemen, tetapi langsung bertanggung jawab


pada presiden.
Kabinet Kerja dilantik pada tanggal 10 Juli 1959 dan memiliki 3
program yang dikenal dengan TRI Program, yaitu :
1. Sandang pangan
2. Keamanan
3. Perjuangan mengembalikan Irian Barat
b. Penetapan DPR
ejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang memeberlaukan kembali
UUD 1945, maka para anggota DPR hasil pemilu 1955 bersedia bekerja
terus, sehingga presiden mengeluarkan ketetapan pada tanggal 22 Juli
1959 tentang penetapan DPR.
Dijelaskan bahwa sementara DPR menurut UUD 1945 belum
tersusun, maka DPR yang sudah ada menjalankan tugas hingga DRP
baru terbentuk. Pelantikan anggota DPR hasil pemilu 1955 menjadi DPR
berdasarkan UUD 1945 itu dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 1959.
c. Pembentukan MPRS dan DPAS
Sebagai pelaksanaan Dekrit Presiden sebelum terbentuk MPR
yang tetap, sesuai dengan UUD 1945
Permusyawaratan

Rakyat

Sementara

berdasarkan Penetapan Presiden

maka dibentuk
(MPRS).

MPRS

Majelis
dibentuk

No.2 Tahun 1959. Anggota MPRS

ditunjuk dan diangkat oleh presiden dengan syarat sebagai berikut :

1. Setuju kembali kepada UUD 1945


2. Setia kepada perjuangan RI
3. Setuju dengan manifesto politik
Keanggotaan MPRS terdiri darianggota DPR ditambah utusanutusan daerah dan wakil-wakil golongan. Ditegaskan bahwa tugas MPRS
adalah menetapkan GBHN. Disamping itu juga dibentuk Dewan
Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Sebagai ketua adalah Presiden
Sukarno dan wakilnya adalah Ruslan Abdul gain. DPAS bertugas
menjawab atas pertanyaan presiden dan berhak mengajukan usul kepada
pemerintah. DPAS dilantik pada tanggal 15 Agusts 1959.
Mencermati proses pembentkan MPRS jelas tidak sesuai dengan
UUD 1945, sebab menurut ketentuan UUD 1945 presiden adalah
mendataris MPR sehingga presiden tidak memiliki wewenang untuk
membentuk MPR. MPR adalah lembaga tetinggi yang terbentuk dari
DPR hasil pemilihan umum.
d. Penetapan GBHN
Untuk melaksanakan Tri Program Kabinet Kerja diperlukan suatu
pedoman yang merupakan haluan Negara. Akan tetapi saat itu Indonesia
belum memiliki haluan Negara atau GBHN sebagai pedoman utuk
melaksanaan pembangunan. Oleh karena itu pada saat memperingati hari
kemerdekaan RI yang ke 14 pada tanggal 17 Agustus 1959, Presiden
Sukarno berpidato berjudul Penemuan Kembali revolusi Kita. Kemudian
pidato itu di kenal dengan Manifesto Politik Republik Indonesia
(Manipol).

Sebagai inti dari Manipol adalah USDEK (Undang-Undang Dasar


1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin,
Kepribadian Indonesia). Selanjutnya atas usulan DPAS pidato Presiden
Sukarno tersebut dijadikan GBHN. Akhirnya Usulan itu disetujui dalam
sidang MPRS dan dikukuhkan dalam Ketetapan MPRS No.1/
MPRS/1960. Disamping itu MPRS juga menetapkan bahwa pidato
Presiden Sukarno tanggal 17 Agustus 1960 yang berjudul jalannya
Revolusu Kita (Jarek) dan pidato Presiden Sukarno tanggal 30
September 1960 di muka Sidang Umum PBB yang berjudul To Built The
World A New (membangun Dunia Kembali) menjadi pedoman
pelaksanaan Manipol.
e. Pembentukan DPR-GR
Pada bulan Juni 1960 saat pemerintah mengajukan APBN untuk tahun
1961, DPR menolak anggaran yang diajukan oleh pemerintah. Akibat
penolakan itu maka presiden membubarkan DPR hasil pemilu 1955.
Selanjutnya presiden membentuk DPR baru yang disebut DPR Gotong
Royong (DPR-GR). Semua anggota DPR-GR adalah hasil penunjukan
presiden sendiri, dan tanpa adanya perimbangan kekuatan partai
politik.
Proses pembubaran DPR hasil penmilu 1955 dan penunjukan
anggota DPR-GR jelas sangat tidak demokratis dan tidak sesuai
konstitusi UUD 1945, sehingga menuai banyak kecaman dari berbagai
pihak. Kelompok yang menolak itu kemudian membentuk Liga
Demokrasi yang diketuai Imron Rosyadi dari NU. Partai yang tergabung

dalam liga demokrasia adalah NU, Parkindo, Partai katolik, Liga Muslim,
PSI, PSII, IPKI dan Masyumi. Liga Demokrasi pada bulan Maret 1960
mengeluarkan pernyataan agar dibentuk DPR yang demokratis dan
Konstitusional. Atas usulan atau pernyataan itu peresmian DPR-GR
ditangguhkan sementara. Namun akhirnya anggota DPR-GR tetap
dilantik oleh presiden.
2. PERTENTANGAN ANTAR IDEOLOGI POLITIK
Berbagai upaya untuk melaksanakan Demokrasi Terpimpin telah
dilakukan. Seiring dengan itu, penyelewengan terhadap UUD 1945 juga
banyak dilakukan. Di samping itu terjadi pula pertentangan antar
kelompok politik dengan idiologi yang berbeda.
a. Persaingan kelompok Agama dan Komunis
Persaingan dan pertentangan antara partai politik berdasarkan
ideology semakain nampak sejak pemilu tahun 1955. Hal itu terbukti
dengan empat partai besar pemenang pemilu, yaitu PNI, Masyumi, NU
dan PKI yang memberi gambaran adanya persaingan antara kelompok
Nasionalis, Agama dan komunis.
Pada saat pembentukan DPR-GR, kelompok agama mulai tersisih
(Masyumi). Masyumi tidak terwakili sama sekali. Masyumi dengan
dukungan PSI dan partai-partai lain membentuk liga demokrasi
menentang pembentuka DPR-GR. Para tokoh masyumi mendapat
tekanan dari berbagai pihak yang pro pemerintah. Akhirnya Masyumi
membubarkan diri dan bulan Agustus 1960 Masyumi dilarang oleh
pemerintah.

Pertentangan antara keompok agama dan komunis juga sering


terjadi sehingga keduanya menolak duduk dalam satu kabinet. Namun
pertentangan antara kelompok agama dan komunis, ternyata membawa
keuntungan bagi komunis (PKI). Apalagi setelah Presiden Sukarno
membentuk Front Nasional pada akhir tahun 1959. Front nasional
bertugas

memperjuangkan

cita-cita

proklamasi.

Namun

dalam

perkembangannya menyimpang dari tujuan semula. Fron nasional


menjadi wadah kader-kader PKI untuk meraih cita-cta partai dan sebagai
alat politik PKI. Bahkan pada tahun 1960 pimpinan PKI D.N. Aidit
ditunjuk sebagai salah satu pimpinan front nasional.
b. Ajaran Nasakom
Karena ingin menyatukan seluruh kekuatan politik masyarakat
dalam demokrasi terpimpin, Presiden Sukarno mengemabangkan ajaran
Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis). Ajaran Nasakom berintikan
3 Kekuatan, yaitu PNI mewakili kekuatan Nasionalis, NU mewakili
kekuatan Agama dan PKI mewakili kekuatan Komunis. Presiden
mewajibkan ajaran nasakom menjadi inti dan jiwa dari setiap lembaga
negara yang ada.
`

Langkah berikutnya tanggal 18 Maret 1966 yaitu pengamanan dan


penangkapan terhadap lima belas mentri Kabinet Dwikora yang terlibat
dalam persitiwa di tahun 1965. Kelimabelas mentri tersebut adalah : Dr.
Soebandrio, Dr. Chairul Saleh, Ir. Setiadi Reksoprodjo, Sumardjo, Oei
Tju Tat, SH., Ir. Surachman, Yusuf Muda Dalam, Armunanto, Sutomo

Martopradoto, A. Astrawinata,SH., Mayor Jenderal Achmadi, Drs. Moh.


Achadi, Letnan Kolonel Sjafei, J.K. Tumakaka, dan Mayor Jendral Dr.
Soemarno.
Langkah berikutnya adalah pada tanggal 25 Juli 1966 tentang
pembentukan Kabinet Ampera sebagai pengganti Kabinet Dwikora.
Adapun tugas pokok dari Kabinet Ampera dikenal dengan nama
Dwidharma yaitu dalam rangka mewujudkan stabilitas politik dan
ekonomi. Dalam melaksanakan tugas ini maka penjabarannya tertuang
dalam program Kabinet Ampera yang dikenal dengan nama Catur Karya,
meliputi:
1; Memperbaiki perikehidupan rakyat, terutama dalam bidang sandang

dan pangan;
2; Melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu seperti tercantum

dalam Ketatapan MPRS No.XI/MPRS/1966;


3; Melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk

kepentingan

nasional

sesuai

dengan

Ketatapan

MPRS

No.XI/MPRS/1966, dan;
4; Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam

segala bentuk dan manifestasinya.

Dan pada tanggal 11 Agustus 1966 melaksanakan persetujuan


normalisasi hubungan dengan Malaysia, yang pernah putus sejak 17
September 1963. Persetujuan normalisasi hubungan tersebut merupakan
hasil perundingan Bangkok (29 Mei 1 Juni 1966).
Dalam sidang umum MPRS tanggal 20 Juni 1966 Soekarno
diminta menyampaikan pidato pertanggungjawabannya terkait dengan
peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Dalam
pertanggungjawaban

ini

Soekarno

berpidato

dengan

nama

NAWAKSARA yang artinya sembilan pasal.


Pidato Presiden Soekarno tersebut diatas tidak dapat diterima oleh
MPRS, sehingga MPRS memberikan waktu kepada Presiden Soekarno
untuk menyempurnakan lagi pada tanggal 10 januari 1967 yang disebut
PELENGKAP NAWAKSARA yang dituangkan dalam Surat Presiden
Republik Indonesia No. 01/Pres/1967. Disini nampak terjadi pergeseran
peranan MPRS di C.

BAB IV
KEHIDUPAN EKONOMI PASCA PENGAKUAN
KEDAULATAN
4.1; Peristiwa-Peristiwa Politik Dan Ekonomi Indonesia Pasca

Pengakuan Kedaulatan
Sejak pengakuan kedaulatan pemerintah Indonesia dihadapkan pada
masalah yang berkaitan dengan dipertahankannya dominasi Belanda atas
ekonomi

Indonesia.Pemerintah

Indonesia

masih

menghormati

kepentingn historis dunia usaha Belanda di Indonesia. Hal ini banyak


mendapat tentangan dari para pemimpin revolusioner Indonesia. Banyak
desakan agar Indonesia menutup perusahaan-perusahaan swasta Belanda,
dan sekaligus mendorong usaha swasta pribumi.Sehingga diharapkan
dapat mengubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
Menurut Sumitro Doyohadikusumo, untuk mengubah ekonomi
kolonial menjadi ekonomi nasional, pemerintah perlu membantu dan
membimbing

pengusaha

lemah

dengan

bantuan

pemberian

kredit.Usaha ini dikenal dengan Program Benteng. Sasaran program ini


adalah pembangunan industri. Menurut Sumitro, Bangsa Indonesia harus
segera dibangun kelas pengusaha, sehingga struktur ekonomi kolonial
dalam bidang perdagangan dapat segera diubah. Program Benteng ini
dimulai pada bulan April 1950. Selama tiga tahun, kurang lebih 700
perusahaan bangsa Indonesia mendapat bantuan dari proram ini. Namun

program in tidak tepat sasaran karena banyak pengusaha yang


menyalahgunakan. Program ini terjadi pada masa Kabinet Natsir.
Akibat tidak stabilnya politik, maka defisit anggaran pemerintah
semakin besar. Hal ini ada kecenderungan pemerintah mencetak uang
baru. Akibatnya, inflasi membumbung tinggi dan mengancam kehidupan
ekonomi Indonesia. Harga terus meningkat didikuti dengan kenaikan
upah,

sehingga

kemungkinan

ekspor

semakin

berkurang.Untuk

mengatasi inflasi, pemerintah melakukan pemotongan uang (sinering)


pada tanggal 19 Maret 1950. Uang yang ada di bank setengahnya diganti
dengan obligasi Republik Indonesia 1950. Uang yang ada diperedaran
digunting jadi dua, hanya yang kiri yang berlaku, dengan harga
setenganhnya dari harga semula.Hal ini bertujuan agar orang kecil tidak
terlalu merugi. Sebagai akibat sinering maka uang 1,5 milyar rupiah
ditarik dari peredaran.Dengan uang itu pemerintah dapat membayar
utang sebagian kepada Bank Sentral.
Situasi politik sampai tahun 1957 masih tetap tidak stabil, apalgi
waktu itu masalah usaha pengembalikan Irian Barat tidak kunjung
selesai. Oleh karena itu pada 18 November 1957 terjadi pemogokan
buruh

perusahaan-perusahaan

Belanda.

Setealah

itu

terjadi

pengambilalihan (nasionalisasi) modal dan berbagai perusahaan Belanda


menjadi milik Indonesia.

Berbagai macam usaha pemerintah mengatasi kesulitan ekonomi pada


Masa Demokrasi
Pejuang Masa Depan
* Beranda
* BUKU TAMU
* Farewel YESC2009
* Gambar
* PDF
* Teman
* YESC
1.Peristiwa-Peristiwa

Politik

Dan

Ekonomi

Indonesia

Pasca

Pengakuan Kedaulatan
Dapatkah kalian menyebutkan kembali isi KMB? Seperti yang
pernah dibahas pada materi sebelumnya, KMB telah menghasilkan
kesepakatan yang diterima oleh masing-masing pihak. Salah satunya
adalah Belanda mengakui kedaulatan RIS. Bagaimanakah kondisi politik
dan ekonomi pada masa pasca pengakuan kedaulatan RIS? Apakah jauh
lebih lebih buruk atau membaik? Setelah kembali ke bentuk negara
kesatuan, RI mengalami dua kali pergantian sistem pemerintahan. Apa
sajakah sistem pemerintahan tersebut? Bagaimana kehidupan politik dan

ekonomi pada masa periode pemerintahan tersebut? Agar lebih jelas


dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, cermatilah pembahasan
materi pada bab ini!
1. Situasi Politik Menjelang Dekrit Presiden
Sistem Demokrasi Liberal ternyata membawa akibat yang kurang
menguntungkan bagi stabilitas politik. Berbagai konflik muncul ke
permukaan. Misalnya konflik ideologis, konflik antar kelompok dan
daerah, konflik kepentingan antarpartai politik. Hal ini mendorong
Presiden Soekarno untuk mengemukakan Konsepsi Presiden pada
tanggal 21 Februari 1957.Berikut ini isi Konsepsi Presiden.
a. Penerapan sistem Demokrasi Parlementer secara Barat tidak cocok
dengan kepribadian Indonesia, sehingga sistem demokrasi parlementer
harus diganti dengan Demokrasi Terpimpin.
b. Membentuk Kabinet Gotong Royong yang anggotanya semua partai
politik.
c; Segera dibentuk Dewan Nasional.

2. Sidang Konstituante Menjelang Keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959


Dari pemilu tahun 1955 terbentuk dewan konstituante. Badan ini
bertugas menyusun UUD yang baru. Anggota Konstituante terbagi dalam
dua kelompok yaitu kelompok Islam dan kelompok nasionalis, kedua

kelompok sulit mencapai kata sepakat dalam pembahasan isi UUD.


Dalam sidang sering terjadi perpecahan pendapat. Setiap wakil partai
memaksakan pendapatnya. Akibatnya gagal menghasilkan UUD. Hal ini
mendorong

presiden

menganjurkan

konstituante

untuk

kembali

menggunakan UUD 1945. Untuk mewujudkan anjuran tersebut maka,


diadakan pemungutan suara sampai tiga kali. Akan tetapi hasilnya belum
mencapai batas quorum, dua pertiga suara. Akibatnya Dewan
Konstituante gagal mengambil keputusan. Untuk mengatasi masalah
tersebut pada tanggal 5 Juli 1959 presiden mengeluarkan dekrit. Isi
Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yaitu:
a. Pembubaran Konstituante;
b. Perlakunya kembali UUD 1945, dan tidak berlakunya lagi UUDS
1950;
c. Akan dibentuk MPRS dan DPAS.
Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit sebagai langkah untuk
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Keluarnya Dekrit Presiden
menandai berakhirnya Demokrasi Liberal dan dimulainya Demokrasi
Terpimpin.
3. Tindak Lanjut Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Setelah keluarnya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 terjadi beberapa
perkembangan politik dan ketatanegaraan di Indonesia.

4. Dampak Lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959


Dekrit Presiden ternyata memiliki beberapa dampak, berikut.
a;

Terbentuknya lembaga-lembaga baru yang sesuai dengan tuntutan


UUD 1945, misalnya MPRS dan DPAS.

b; Bangsa Indonesia terhindar dari konflik yang berkepanjangan yang

sangat membahayakan persatuan dan kesatuan.


c;

Kekuatan militer semakin aktif dan memegang peranan penting


dalam percaturan politik di Indonesia.

d. Presiden Soekarno menerapkan Demokrasi Terpimpin.


e.

Memberi kemantapan kekuasaan yang besar kepada presiden, MPR,


maupun lembaga tinggi negara lainnya.

2. Kondisi Politik Dalam Negeri pada Masa Demokrasi Terpimpin


Demokrasi Terpimpin yang menggantikan sistem Demokrasi
Liberal, berlaku tahun 1959 1965. Pada masa Demokrasi Terpimpin
kekuasaan presiden sangat besar sehingga cenderung ke arah otoriter.
Akibatnya sering terjadi penyimpangan terhadap UUD 1945. Berikut ini
beberapa penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang terjadi
semasa Demokrasi Terpimpin.
a. Pembentukan MPRS melalui Penetapan Presiden No. 2/1959.
b. Anggota MPRS ditunjuk dan diangkat oleh presiden.

c. Presiden membubarkan DPR hasil pemilu tahun 1955.


d. GBHN yang bersumber pada pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1959
yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita ditetapkan oleh DPA
bukan oleh MPRS.
e. Pengangkatan presiden seumur hidup.
Dalam periode Demokrasi Terpimpin, Partai Komunis Indonesia
(PKI) berusaha menempatkan dirinya sebagai golongan yang Pancasilais.
Kekuatan politik pada Demokrasi Terpimpin terpusat di tangan Presiden
Soekarno dengan TNI-AD dan PKI di sampingnya.
Ajaran Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) ciptaan Presiden
Soekarno sangat menguntungkan PKI. Ajaran Nasakom menempatkan
PKI sebagai unsur yang sah dalam konstelasi politik Indonesia. Dengan
demikian kedudukan PKI semakin kuat PKI semakin meningkatkan
kegiatannya dengan berbagai isu yang memberi citra sebagai partai yang
paling manipolis dan pendukung Bung Karno yang paling setia. Selama
masa Demokrasi Terpimpin, PKI terus melaksanakan programprogramnya secara revolusioner. Bahkan mampu menguasai konstelasi
politik. Puncak kegiatan PKI adalah melakukan kudeta terhadap
pemerintahan yang sah pada tanggal 30 September 1965.

3. Politik Luar Negeri Masa Demokrasi Terpimpin


Politik luar negeri masa Demokrasi Terpimpin lebih condong ke
blok Timur. Indonesia banyak melakukan kerja sama dengan negaranegara blok komunis, seperti Uni Soviet, RRC, Kamboja, maupun
Vietnam. Berikut ini beberapa contoh pelaksanaan politik luar negeri
masa Demokrasi Terpimpin.
a. Oldefo dan Nefo
Oldefo (The Old Established Forces), yaitu dunia lama yang sudah
mapan ekonominya, khususnya negara-negara Barat yang kapitalis. Nefo
(The New Emerging Forces), yaitu negara-negara baru. Indonesia
menjauhkan diri dari negara-negara kapitalis (blok oldefo) dan menjalin
kerja sama dengan negara-negara komunis (blok nefo). Hal ini terlihat
dengan terbentuknya Poros Jakarta Peking (Indonesia Cina) dan
Poros Jakarta Pnom Penh Hanoi Peking Pyongyang ( Indonesia
Kamboja Vietnam Utara - Cina Korea Utara).
b. Konfrontasi dengan Malaysia
Pada tahun 1961 muncul rencana pembentukan negara Federasi
Malaysia yang terdiri dari Persekutuan Tanah Melayu, Singapura,
Serawak, Brunei, dan Sabah. Rencana tersebut ditentang oleh Presiden
Soekarno karena dianggap sebagai proyek neokolonialisme dan dapat
membahayakan revolusi Indonesia yang belum selesai. Keberatan atas

pembentukan Federasi Malaysia juga muncul dari Filipina yang


mengklaim daerah Sabah sebagai wilayah negaranya.
Pada tanggal 9 Juli 1963 Perdana Menteri Tengku Abdul Rahman
menandatangani dokumen tentang pembentukan Federasi Malaysia.
Kemudian,

tanggal

16

September

1963

pemerintah

Malaya

memproklamasikan berdirinya Federasi Malaysia. Menghadapi tindakan


Malaysia tersebut, Indonesia mengambil kebijakan konfrontasi. Pada
tanggal 17 September 1963 hubungan diplomatik antara dua negara
putus. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1964 Presiden Soekarno
mengeluarkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora), isinya:
1) perhebat ketahanan revolusi Indonesia, dan
2) bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak,
Sabah, dan Brunei untuk memerdekakan diri dan menggagalkan
negara boneka Malaysia.
Di tengah situasi konflik Indonesia - Malaysia, Malaysia
dicalonkan sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Masalah
ini mendapat reaksi keras dari Presiden Soekarno. Namun akhirnya
Malaysia tetap terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan
PBB. Terpilihnya Malaysia tersebut mendorong Indonesia keluar dari
PBB. Secara resmi Indonesia keluar dari PBB pada tanggal 7 Januari
1965.1998.liberal hingga awal masa Demokrsi terpimpin, tetap tidak
dapat menjamin kehidupan ekonomi yang layak bagi bangsa Indonesia.

Karena situasi politik pada waktu itu tidak mendukung terciptanya


stabilits ekonomi.
4. Sebab sebab krisis ekonomi ditahun 1997-1998
Pada tahun 1997-1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi
Berikut ini 4 Penyebab Krisis Ekonomi Indonesia tahun 1997-1998 :
1.Yang pertama, stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan
umumnya

berjangka

pendek,

telah

menciptakan

kondisi

bagi

ketidakstabilan. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang


berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri di
bidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi
besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut.
Pemerintah selama ini selalu ekstra hati-hati dalam mengelola
hutang pemerintah (atau hutang publik lainnya), dan senantiasa
menjaganya dalam batas-batas yang dapat tertangani (manageable).
Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia,
pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah
krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar
-benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan
bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia
berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Hal ini mirip dengan

yang terjadi di negara-negara lain di Asia yang dilanda krisis. Dalam


banyak hal, boleh dikatakan bahwa negara telah menjadi korban dari
keberhasilannya sendiri. Mengapa demikian? Karena kreditur asing
tentu bersemangat meminjamkan modalnya kepada perusahaanperusahaan (swasta) di negara yang memiliki inflasi rendah, memiliki
surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar,
memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem
perdagangan terbuka.
Daya tarik dari dynamic economies ini telah menyebabkan net
capital inflows atau arus modal masuk (yang meliputi hutang jangka
panjang, penanaman modal asing, dan equity purchases) ke wilayah
Asia Pasifik meningkat dari US$25 milyar pada tahun 1990 menjadi
lebih dari US$110 milyar pada tahun 1996 (Greenspan 1997).
Sayangnya, banyaknya modal yang masuk tersebut tidak cukup
dimanfaatkan untuk sektor-sektor yang produktif, seperti pertanian atau
industri, tetapi justru masuk ke pembiayaan konsumsi, pasar modal, dan
khusus bagi Indonesia dan Thailand, ke sektor perumahan (real estate).
Di sektor-sektor ini memang terjadi ledakan (boom) karena sebagian
dipengaruhi oleh arus modal masuk tadi, tetapi sebaliknya kinerja
ekspor yang selama ini menjadi andalan ekonomi
nasional justru mengalami perlambatan, akibat apresiasi nilai tukar
yang terjadi, antara lain, karena derasnya arus modal yang masuk itu.

Selain itu, hutang swasta tersebut banyak yang tidak dilandasi oleh
kelayakan ekonomi, tetapi lebih mengandalkan koneksi politik, dan
seakan didukung oleh persepsi bahwa negara akan ikut menanggung
biaya apabila kelak terjadi kegagalan. Lembaga keuangan membuat
pinjaman atas dasar perhitungan aset yang telah digelembungkan
yang pada gilirannya mendorong lagi terjadinya apresiasi lebih lanjut
(Kelly and Olds 1999). Ini adalah akibat dari sistem yang sering disebut
sebagai crony capitalism. Moral hazard dan penggelembungan aset
tersebut, seperti dijelaskan oleh Krugman (1998), adalah suatu strategi
kalau untung aku yang ambil, kalau rugi bukan aku yang tanggung
(heads I win tails somebody else loses). Di tengah pusaran (virtous
circle) yang semakin hari makin membesar ini, lembaga keuangan
meminjam US dollar, tetapi menyalurkan pinjamannya dalam kurs lokal
(Radelet and Sachs 1998). Yang ikut memperburuk keadaan adalah
batas waktu pinjaman (maturity) hutang swasta tersebut rata-rata makin
pendek. Pada saat krisis terjadi, rata-rata batas waktu pinjaman sektor
swasta adalah 18 bulan, dan menjelang Desember 1997 jumlah hutang
yang harus dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun adalah sebesar
US$20,7 milyar (World Bank 1998).
2. Yang kedua, dan terkait erat dengan masalah di atas, adalah banyaknya
kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan
sistemik perbankan tersebut, masalah hutang swasta eksternal langsung
beralih menjadi masalah perbankan dalam negeri.

Ketika

liberalisasi

sistem

perbankan

diberlakukan

pada

pertengahan tahun 1980-an, mekanisme pengendalian dan


pengawasan dari pemerintah tidak efektif dan tidak mampu mengikuti
cepatnya pertumbuhan sektor perbankan. Yang lebih parah, hampir
tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar
ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya
sendiri, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan pelanggaran
kriteria layak kredit. Pada waktu yang bersamaan banyak sekali bank
yang sesunguhnya tidak bermodal cukup (undercapitalized) atau
kekurangan modal, tetapi tetap dibiarkan beroperasi. Semua ini berarti,
ketika nilai rupiah mulai terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu
menempatkan dirinya sebagai peredam kerusakan, tetapi justru
menjadi korban langsung akibat neracanya yang tidak sehat.
3. Yang ketiga, sejalan dengan makin tidak jelasnya arah perubahan
politik, maka isu tentang pemerintahan otomatis berkembang menjadi
persoalan ekonomi pula.
Hill (1999) menulis bahwa banyaknya pihak yang memiliki vested
interest dengan intrik-intrik politiknya yang menyebar ke mana-mana
telah menghambat atau menghalangi gerak pemerintah, untuk
mengambil tindakan tegas di tengah krisis. Jauh sebelum krisis terjadi,

investor asing dan pelaku bisnis yang bergerak di Indonesia selalu


mengeluhkan kurangnya transparansi, dan lemahnya perlindungan
maupun kepastian hukum. Persoalan ini sering dikaitkan dengan
tingginya biaya siluman yang harus dikeluarkan bila orang
melakukan kegiatan bisnis di sini. Anehnya, selama Indonesia
menikmati economic boom persepsi negatif tersebut tidak terlalu
menghambat ekonomi
Indonesia. Akan tetapi begitu krisis menghantam, maka segala
kelemahan itu muncul menjadi penghalang bagi pemerintah untuk
mampu mengendalikan krisis. Masalah ini pulalah yang mengurangi
kemampuan kelembagaan pemerintah untuk bertindak cepat, adil, dan
efektif. Akhirnya semua itu berkembang menjadi krisis kepercayaan
yang ternyata menjadi penyebab paling utama dari segala masalah
ekonomi yang dihadapi pada waktu itu. Akibat krisis kepercayaan itu,
modal yang dibawa lari ke luar tidak kunjung kembali, apalagi modal
baru.

4.Yang keempat, perkembangan situasi politik telah makin menghangat


akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis
ekonomi itu sendiri.

Faktor ini merupakan hal yang paling sulit diatasi. Kegagalan


dalam mengembalikan stabilitas sosial-politik telah mempersulit kinerja
ekonomi dalam mencapai momentum pemulihan secara mantap dan
berkesinambungan.
Meskipun persoalan perbankan dan hutang swasta menjadi
penyebab dari krisis ekonomi, namun, kedua faktor yang disebut
terakhir di atas adalah penyebab lambatnya pemulihan krisis di
Indonesia. Pemulihan ekonomi musykil, bahkan tidak mungkin dicapai,
tanpa pulihnya kepercayaan pasar, dan kepercayaan pasar tidak
mungkin pulih tanpa
stabilitas politik dan adanya permerintahan yang terpercaya (credible).

BAB V
PERKEMBANGAN BIDANG EKONOMI PADA MASA
ORDE BARU
Dalam upaya pembangunan dalam bidang ekonomi Orde Baru
dilaksanakan melalui REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
yang dimulai pada tanggal 1 April 1969. Sektor pertanian merupakan
sektor yang terbesar dalam ekonomi Indonesia. Kurang lebih 55% dari
produksi nasional berasal dari sektor pertanian, sedangkan 75%
penduduk memperoleh penghidupan dari sektor pertanian. Kedudukan
yang menentukan dari sektor pertanian dapat dilihat juga dari sumbangan
penghasilan devisa negara. Lebih 60% dari ekspor Indonesia berasal dari
sektor pertanian. Sebagai sektor terbesar dalam ekonomi Indonesia maka
sektor pertanian merupakan landasan bagi setiap usaha pembangunan.
Sasaran pembangunan dirumuskan secara sederhana dalam Repelita ini
yaitu:
1. pangan;
2. sandang;
3. perbaikan prasarana;
4. perumahan rakyat;
5. perluasan lapangan kerja; dan
6. kesejahtraan rohani.

Pelaksanaan pembangunan ini bertumpu pada Trilogi Pembangunan yaitu:


1. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju kepada
terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
2. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
3. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Dan Pembangunan ini berdasarkan pada asas:
1. Asas manfaat;
2. Asas usah ebersama dan kekeluargaan;
3. Asas demokrasi;
4. Asas adil dan merata;
5. Asas perikehidupan dalam keseimbangan;
6. Asas kesadaran; dan
7. Asas kepercayaan pada diri sendiri.

Adapun modal dasar yang disebutkan dalam Pola Dasar Pembangunan


Nasional
ialah:
1. Kemerdekaan dan kedaulatan bangsa;
2. Kedudukan geografi;
3. Sumber-sumber kekayaan alam;
4. Jumlah penduduk;
5. Modal rohani dan mental;
6. Modal budaya;
7. Potensi efektif bangsa;
8. Angkatan bersenjata.
Dalam menggerakkan modal dasar untuk mencapai tujuan
pembangunan, perlu pula diperhatikan faktor-faktor dominan sebagai
berikut:
1. Faktor demografi dan sosial-budaya;
2. Faktor geografi, hidrografi, geologi dan topografi;
3. Faktor klimatologi;
4. Faktor flora dan fauna;
5. Faktor kemungkinan pengembangan.
Dengan segala kelebihan yang dimiliki di masa Orde Baru di bidang
ekonomi, terdapat juga kekuarangannya. Hal ini dapat dilihat adanya
KKN(Korupsi,

Kolusi

dan

Nepotisme)

yang

merajalela,

krisis

multidemensional yang menyebabkan keruntuhan Orde Baru pada bulan


Mei
Negara Indonesia yang merdeka sejak 17 Agustus 1945 hingga saat
ini (Oktober 2007) masih termasuk dalam Negara Dunia Ketiga. Istilah
Dunia Ketiga dimaksudkan sebagai sebutan untuk kelompok negara
negara yang terbelakang. Istilah ini mulai populer sejak tahun 1960-an
sebagai hasil rumusan dalam berbagai pertemuan Politik Internasional
seperti Konferensi Bandung (1955) dan Konferensi Belgrado (1961).
Dunia pada saat itu dilihat dari pola kemajuannya yang ditandai dengan
klasifikasi tiga kelompok negara yaitu : Dunia Pertama (Dunia Bebas
atau Blok Antlantik meliputi Eropa Non Komunis dan Amerika Utara),
Dunia Kedua (meliputi negara negara Eropa Timur dan Blok Uni
Sovyet), dan Dunia Ketiga (meliputi Asia, Afrika dan Amerika Latin).
Dunia Pertama dan Kedua bersama sama berpenduduk 30% dari
jumlah penduduk seluruh dunia (15 milyard, 2001) dan menghuni 40%
daratan dunia seluruhnya (total luas bumi 510.074.600 km2, daratan
148.940.540 km2 atau 30% dan lautan 361.134.060 km2 atau 70%).
Selebihnya 60% adalah sejumlah besar negara merdeka yang pada
umumnya baru melepaskan diri dari penjajahan (tercatat dalam atlas
tahun 1991 jumlah negara dunia 206 negara). Ada beberapa nama
tambahan yang diberikan kepada negara negara yang termasuk Dunia
Ketiga (the third world) antara lain, negara terbelakang (backward
countries), negara yang belum maju termasuk Indonesia saat ini (under
developed countries), negara selatan, dan nama negara negara miskin

(un-developing countries). Umumnya nama yang diberikan memiliki tiga


ciri umum yaitu 3K, Kemiskinan, Kebodohan dan Keterbelakangan yang
diukur dari indikator GNP per kapita, pendapatan bersih per kapita,
jumlah pemakaian energi per kapita, pendapatan bersih per kapita,
jumlah pemakaian energi per kepala, tingkat melek huruf, tingkat
kematian bayi dan ukuran ukuran sosial lainnya.
Indonesia di masa Orde Lama (Soekarno, 1945 1966) lebih
banyak konflik politiknya daripada agenda ekonominya yaitu konflik
kepentingan antara kaum borjuis, militer, PKI, parpol keagamaan dan
kelompok kelompok nasionalis lainnya. Kondisi ekonomi saat itu
sangat parah dengan ditandai tingginya inflasi yaitu mencapai 732%
antara tahun 1964 1965 dan masih mencapai 697% antara tahun 1965
1966.
Indonesia sejak tahun 1967, dibawah pemerintahan militer
(Soeharto, 1965 - 1998), menjadi pelaksana teori pertumbuhan Rostow
dalam melakukan pembangunan ekonominya. Dalam teori ini, ada lima
tahap pertumbuhan ekonomi yaitu, tahap pertama Masyarakat
Tradisional (The Traditional Society), tahap kedua Pra Kondisi untuk
Tinggal Landas (The Preconditions for Take-off), tahap ketiga Tinggal
Landas (The Take-off), tahap keempat Menuju Kedewasaan (The Drive
to Maturity) dan tahap kelima Konsumsi Massa Tinggi (The Age of
High Mass-Consumption). Pembangunan di Indonesia dilaksanakan
secara berkala untuk waktu lima tahunan yang dikenal dengan PELITA
(Pembangunan Lima Tahunan). PELITA I (1 April 1969 31 Maret

1974) memprioritaskan sektor pertanian dan industri, PELITA II (1 April


1974 31 Maret 1979) memprioritaskan pembangunan ekonomi dengan
dititikberatkan pada sektor pertanian dan peningkatan industri yang
mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. PELITA III (1 April 1979
31 Maret 1984) memprioritaskan pembangunan ekonomi dengan titik
berat pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dengan
meningkatkan sektor industri yang mengolah bahan baku menjadi barang
jadi dalam rangka menyeimbangkan struktur ekonomi Indonesia.
PELITA IV (1 April 1984 31 Maret 1989) memperioritaskan
pembangunan ekonomi dengan titikberat pada sektor pertanian untuk
memantapkan swasembada pangan dengan meningkatkan sektor industri
yang menghasilkan mesin mesin industri berat dan ringan,
pembangunan bidang politik, sosbud, pertahanan dan keamanan
seimbang dengan pembangunan ekonomi. PELITA V (1 April 1989 31
Maret 1999) memprioritaskan pembangunan ekonomi dengan titik berat
pada sektor pertanian untuk memantapkan swasembada pangan dan
meningkatkan produksi pertanian serta industri yang menghasilkan
barang ekspor, menyerap tenaga kerja, pegolahan hasil pertanian dan
menghasilkan mesin mesin industri, meningkatkan pembangunan
bidang politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Namun pada
tanggal 21 Mei 1998, Indonesia mengalami Krisis Moneter yang
membuat Soeharto lengser (runtuhnya rezim Orde Baru). Indonesia
belum sempat tinggal landas malah kemudian meninggalkan
landasannya hingga lupa pijakan ekonominya rapuh dan mudah hancur.

Periode Orde Reformasi (1998 2007/sekarang) berjalan tak jelas


arahnya. Masa tahun 1998 2004 adalah masa transisi dari Orde Baru ke
Orde Reformasi yang ditandai dengan silih bergantinya Presiden
Republik Indonesia dalam waktu relatif singkat. Dari B.J. Habibie (21
Mei 1998 20 Oktober 1999), Abdurrahman Wahid (20 Oktober 1999
23 Juli 2001) kemudian Megawati (23 Juli 2001 20 Oktober 2004),
semuanya belum menunjukkan pembangunan ekonomi yang berarti.
Pembangunan ekonominya berjalan terseok terseok sebagai akibat
kebijakan Rezim yang lalu (Orde Baru) yang membuat pijakan/pondasi
ekonominya sangat rapuh dan mudah hancur tersebut, disambut dengan
gegap gempita euforia politik rakyat Indonesia yang selama masa Orde
Baru dikekang kemudian menjadi bebas lepas di masa Orde Reformasi
ini. Dalam masa ini, Indonesia masih mencari jati dirinya kembali
dengan mencoba menerapkan demokrasi yang sesungguhnya yang
ternyata sangat mahal biayanya. Praktis, dana pembangunan banyak
teralokasikan untuk pembiayaan pesta demokrasi tersebut, mulai dari
Pemilihan Presiden (PILPRES, periode 2004 - 2009) langsung oleh
rakyat, yang menghasilkan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai
Presiden RI, hingga berbagai Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)
yang masih berlangsung silih berganti hingga saat ini di berbagai daerah
di wilayah nusantara ini.
Wal hasil, proses pembangunan di Indonesia sudah dilakukan
selama 62 tahun, namun masih banyak rakyatnya yang miskin,
kebodohan masih banyak ditemui terutama di wilayah pedesaan,

pengangguran dimana mana, nilai rupiah terhadap dolar terpuruk, dan


sebagainya. Sebenarnya apa yang salah dalam proses pembangunan di
Indonesia? Mengapa semua itu terjadi? Pertanyaan ini menarik untuk
dikaji dan dianalisis. Dan dengan maksud itulah tulisan ini dibuat.

Good Governance adalah cara mengatur pemerintahan yang


memungkinkan layanan publiknya efisien, sistem pengadilannya bisa
diandalkan dan administrasinya bertanggung jawab pada publik (Meier,
1991:299-300). Dan dalam pemerintahan seperti ini mekanisme pasar
merupakan pertimbangan utama dalam proses pembuatan keputusan
mengenai alokasi sumber daya. Dua tipe ideal ekonomi yang diletakkan
dalam 2 kutub berlawanan, yakni:
1; Kutub Laissez-Faire, cenderung penciptaan good governance;
2; Kutub Dirigisme / Hegemoni, negara intervensi penuh dalam

ekonomi.
Dalam kutub LAISSEZ-FAIRE, negara membiarkan mekanisme
dan lembaga-lembaga pembuatan dan penerapan keputusan ekonomi
dikendalikan oleh swasta. Dan dalam Dirigisme / hegemoni, negara
mengendalikan sepenuhnya mekanisme dan lembaga-lembaga itu. Dua
kutub laissez-faire hegemoni adalah gambaran yang ideal .
Tidak ada negara yang sepenuhnya bersifat laissez-faire ataupun
hegemoni. Artinya tidak ada negara yang sepenuhnya berlepas tangan,
sebaliknya juga tidak ada yang mampu sepenuhnya mengendalikan

segala segi kegiatan ekonomi masyarakatnya. Semua negara bersifat


campuran. Contoh kasus dalam konteks ini, Debirokratisasi berarti
proses menjauhi kutub hegemoni dan mendekati kutub laissez-faire.
Secara lebih spesifik kita bisa menunjukkan sifat peran negara itu dengan
melihat bekerjanya mekanisme dan lembaga pembuatan dan penerapan
keputusan ekonomi dalam negara itu. Lebih jelas lihat tabel di bawah ini.

Tabel 1. Dimensi dimensi Sistem Ekonomi


Kutub
NO.

Pertanyaan
Siapa pembuatan keputusan

1.

investasi, produksi, dan


distribusi?

Laisser-Faire

Dirigisme

Desentralisasi

Sentralisasi

(individu)

(negara)

Bagaimana transaksi
2.

informasi alokasi
sumberdaya dan koord.

Pasar

Proses
administrasi

keputusan dilakukan?
3.

Siapa berhak memiliki


faktor produksi dan
menentukan

Pemilikan Pribadi

Pemilikan
kolektif

penggunaannya?
Bgmn mekanisme
4.

memotivasi individu &

Insentif Ekonomi

Komando

Kompetitif

Non-kompetitif

Internasionalis

Nasionalis

prshn?
5.

Bagaimana sifat interaksi


aktor-2 ekonomi?
Bagaimana interaksi

6.

ekonomi domestik dengan


sistem internasional?

Dalam rangka menganalisis kondisi ekonomi politik di Indonesia,


kondisinya dibagi dalam 3 periode yaitu periode Orde Lama (1945
1966), periode Orde Baru (1966 1998), dan periode Reformasi (1998
2007). Analisis per periode sebagai berikut :

1.

Periode Orde Lama (1945 1966), Pandangan strukturalis tentang


pembangunan berlaku dari tahun 1940-an hingga awal tahun 1960-an.
Pandangan ini berasumsi negara negara sedang berkembang
ditandai oleh kelompok budaya, sosial dan kelembagaan yang
menghambat atau mencegah perubahan, sumber daya cenderung
mandek (persediaan barang dan jasa tidak elastis). Pandangan ini juga

mementingkan kuantitas manajemen dibandingkan harga. Umumnya


mengalami kegagalan, kadang kadang target tercapai namun sering
pelaksanaannya buruk dan prestasi yang kurang baik. Bank Dunia
memberikan pinjaman pertamanya kepada negara di luar Eropa pada
tahun 1948. Saat itu banyak negara yang sedang berkembang sudah
sibuk dalam beberapa bentuk perencanaan ekonomi terpusat. Pada
tahun 1950-an, gelombang antusiasme mencapai puncaknya dalam
rangka perencanaan yang komprehensif. Sedangkan yang terjadi di
Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia
memproklamirkan kemerdekaannya. Pemimpin yang ada saat itu
terdiri dari kaum elit yang berpendidikan Barat dan orang orang
militer yang dilatih Jepang. Secara ekonomi, Belanda masih
menguasai perusahaan perusahaan di sektor perkebunan dan
menguasai perdagangan internasional {Konferensi Meja Bundar
(KMB), 1949}. Periode 1945 1949 adalah periode Indonesia
berjuang untuk status negara merdeka dan diakui oleh dunia yang
ditandai dengan pengakuan Belanda di KMB dengan syarat
perusahaan Belanda di Indonesia tidak dinasionalisasikan. Di sisi lain,
Cina menguasai perdagangan dalam negeri dan mayoritas orang
Indonesia pribumi masih tetap menjadi petani, hanya sedikit elit
politik (kaum elit terpelajar dan militer) yang menguasai negara. Elit
politik itu berperan sebagai birokrat negara tanpa basis ekonomi, tak
ada pengusaha pribumi yang berarti dan tak ada borjuasi yang
berperan dalam ekonomi. Demokrasi Parlementer (1949 1959),

menghasilkan kebijakan Politik Benteng yang bertujuan


menciptakan pengusaha pribumi. Akumulasi modal pengusaha
pribumi terjadi melalui jalur politik benteng dan jalur perusahaan
perusahaan negara, namun masih relatif kecil dibandingkan akumulasi
modal pengusaha asing dan Cina. Demokrasi Liberal (1957 - 1959),
menghasilkan gejolak politik yang cukup serius yaitu Sumatera Barat
dan Sulawesi Utara melakukan perlawanan bersenjata sebagai reaksi
dominasi Jawa dan ketimpangan ekonomi antara daerah dan pusat,
akibatnya Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia dibubarkan. Pada
masa ini, politisi kelas menengah ke atas menguasai ekonomi politik
Indonesia sedangkan rakyat Indonesia belum berubah, masih miskin.
Demokrasi Terpimpin (1959 1965), Dekrit Presiden 1959 (yang
mendapat dukungan dari militer dan PKI) adalah upaya Soekarno
menggeser dominasi politisi kelas menengah ke atas dan sekaligus
upaya mengembalikan kekuasaan Presiden yang selama ini dipegang
Perdana Menteri dan DPR. Pada masa ini, Soekarno menguasai penuh
birokrasi negara. Pada tahun 1957, perusahaan perusahaan Belanda
dinasionalisasikan, setelah tahun 1959, proses nasionalisasi
perusahaan asing makin meluas. Pada tahun 1963, perusahaan
perusahaan Inggris juga diambil alih, milik Amerika Serikat juga
diambil alih di tahun 1965. Semua perusahaan tersebut dikelola oleh
perwira perwira militer namun bisnis masih dikuasai pengusaha
Cina. Konflik antara PKI dan Militer mencapai klimaksnya pada 1
Oktober 1965 yang berakhir dengan kemenangan Militer dimana

Soeharto sebagai simbolnya. Kondisi ekonomi sangat parah dengan


ditandai tingginya inflasi yaitu mencapai 732% antara tahun 1964
1965 dan masih mencapai 697% antara tahun 1965 1966. Jadi
periode Orde Lama yang dipimpin Soekarno lebih kuat
nasionalismenya, sentralisasi, komando dan kepemilikan kolektif bisa
disimpulkan berarti prosesnya menjauhi kutub Laissez-Faire dan
mendekati kutub Dirigisme/hegemoni.
2.

Periode Orde Baru (1966 1998), pemerintah didukung kuat


Militer dan kemudian mencari dukungan dari kelompok borjuasi (elit
politk kelas menengah ke atas). Prioritas yang dilakukan adalah
pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Dukungan dari Barat dan Jepang juga mengalir melalui
bantuan/pinjaman. Modal asing mulai masuk sehingga industrialisasi
mulai dikerjakan dan Rencana Pembangunan Lima Tahun
(REPELITA) yang pertama dibuat tahun 1968. Pada tahun 1970-an
dan awal 1980-an harga minyak bumi melonjak tinggi di pasar dunia
sehingga Orde Baru mampu membangun dan mengendalikan inflasi
serta membuat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Stabilitas
politik dilakukan kaum militer dengan membuat Golongan Karya
(Golkar) yang tidak berkoalisi dengan partai politik yang ada dan
memaksa parpol bergabung hingga hanya ada dua yaitu Partai
Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Pada tahun 1970-an, negara Orde Baru Rente terbentuk sehingga
negara menduduki posisi investor terbesar, disusul pengusaha non

pribumi (Cina) dan pengusaha pribumi di posisi ketiga. Perusahaan


negara banyak yang merugi namun pengelolanya bertambah kaya.
Pengusaha Cina terus berkembang melalui koneksi dengan pejabat
tinggi negara. Pengusaha pribumi berkembang melalui fasilitas negara
karena hubungan kekeluargaan dengan petinggi negara. Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi tidak membuat rakyatnya bebas dari kemiskinan
dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati segelintir
orang saja. Dampak negatif kondisi ekonomi Indonesia pada masa
Orde Baru antara lain :
a. Ketergantungan terhadap Minyak dan Gas Bumi (Migas)
Migas merupakan salah satu sumber pendapatan utama
bagi anggaran belanja negara. Jadi harga Migas sangat
berpengaruh bagi pendapatan negara sehingga turunnya harga
minyak mengakibatkan menurunnya pendapatan negara.
b. Ketergantungan terhadap Bantuan Luar Negeri
Akibat berkurangnya pendapatan dari Migas, pemerintah
melakukan penjadualan kembali proyek proyek pembangunan
yang ada, terutama yang menggunakan valuta asing.
Mengusahakan peningkatan ekspor komoditi non migas dan
terakhir meminta peningkatan pinjaman luar negeri kepada
negara negara maju. Tahun 1983, Indonesia negara ketujuh
terbesar dalam jumlah hutang dan tahun 1987 naik ke peringkat
keempat. Ironisnya, di tahun 1986/87, sebanyak 81% hutang

yang diperoleh untuk membayar hutang lama ditambah


bunganya.
Akhir 1970-an, proses pembangunan di Indonesia mengalami non
market failure sehingga banyak kerepotan dalam proses pembangunan,
misalnya merebaknya kemiskinan dan meluasnya kesenjangan
pendapatan, terutama disebabkan oleh market failure.
Mendekati pertengahan 1980-an, terjadi kegagalan pemerintah
(lembaga non pasar) dalam menyesuaikan mekanisme kinerjanya
terhadap dinamika pasar. Ekonomi Indonesia menghadapi tantangan
berat akibat kemerosotan penerimaan devisa dari ekspor minyak bumi
pada awal 1980-an. Kebijakan pembangunan Indonesia yang diambil
dikenal dengan sebutan structural adjustment dimana ada 4 jenis
kebijakan penyesuaian sebagai berikut :
1.

Program stabilisasi jangka pendek atau kebijakan manajemen


permintaan dalam bentuk kebijakan fiskal, moneter dan nilai tukar
mata uang dengan tujuan menurunkan tingkat permintaan agregat.
Dalam hal ini pemerintah melakukan berbagai kebijakan mengurangi
defisit APBN dengan memotong atau menghapus berbagai subsidi,
menaikkan suku bunga uang (kebijakan uang ketat) demi
mengendalikan inflasi, mempertahankan nilai tukar yang realistik
(terutama melalui devaluasi September 1986).

2.

Kebijakan struktural demi peningkatan output melalui peningkatan


efisiensi dan alokasi sumber daya dengan cara mengurangi distorsi
akibat pengendalian harga, pajak, subsidi dan berbagai hambatan

perdagangan, tarif maupun non tarif. Kebijakan Paknov 1988 yang


menghapus monopoli impor untuk beberapa produk baja dan bahan
baku penting lain, telah mendorong mekanisme pasar berfungsi efektif
pada saat itu.
3.

Kebijakan peningkatan kapasitas produktif ekonomi melalui


penggalakan tabungan dan investasi. Perbaikan tabungan pemerintah
melalui reformasi fiskal, meningkatkan tabungan masyarakat melalui
reformasi sektor finansial dan menggalakkan investasi dengan cara
memberi insentif dan melonggarkan pembatasan. Kebijakan Pakdes
I/1987 yang menggalakkan penarikan pajak sehingga menghidupkan
kembali pasar modal, Pakto 27/1988 yang menyebabkan
menjamurnya bank bank swasta, Pakdes II/1988 yang
menderegulasikan bisnis asuransi dan berbagai jasa finansial. Pakem
1986 dan Pakjun 3/1991 yang mengurangi hambatan perdagangan
internasional dan memberi insentif yang sangat menarik pada investor
asing dan terakhir Pakjul 1993 yang bertujuan mempermudah
perijinan investasi.

4.

Kebijakan menciptakan lingkungan legal dan institusional yang


bisa mendorong agar mekanisme pasar beroperasi efektif termasuk
jaminan hak milik dan berbagai tindakan pendukungnya seperti
reformasi hukum dan peraturan, aturan main yang menjamin
kompetisi bebas dan berbagai program yang memungkinkan
lingkungan seperti itu. Pemberlakuan Undang Undang Hak Cipta

dan Hak Milik Intelektual juga merupakan bagian dari berbagai paket
di atas (Pangestu, 1989:3-8, dan 1992:196-197; Nelson, 1990:3-5).
Reformasi besar besaran dalam mekanisme kerja administrasi
negara Indonesia seperti yang disebutkan di atas, menimbulkan dampak
positif terhadap pertumbuhan sektor industri ekspor dan pertumbuhan
ekonomi pada umumnya. Dalam ekonomi mikro terjadi penurunan
hambatan masuk ke pasar (entry barrier), pelonggaran kendala terhadap
kegiatan sektor bisnis dan swastanisasi terbatas yaitu perpindahan
pemilikan BUMN dari pemerintah ke swasta. (Nasution, 1991:14-17)
Dampaknya cukup meyakinkan terhadap ekonomi makro, seperti
investasi asing terus meningkat, sumber pendapatan bertambah dari
perbaikan sistem pajak, produktivitas industri yang mendukung ekspor
non-migas juga meningkat. Namun hutang Indonesia membengkak
menjadi US$ 70,9 milyar (US$20 milyar adalah hutang komersial
swasta) dan debt-service rationya sudah melewati 30%. Hutang inilah
sebagai salah satu faktor penyebab Rezim Orde Baru runtuh akibat krisis
moneter (penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika dari
2.000-an menjadi 10.000-an per 1 US$). Rezim Orde Baru membangun
ekonomi hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
pengendalian inflasi tanpa memperhatikan pondasi ekonomi. Kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa Indonesia, sebagai salah satu
faktor produksi, tidak disiapkan untuk mendukung proses industrialisasi.
Barang barang impor (berasal dari luar negeri) lebih banyak digunakan
sebagai bahan baku dalam proses industri sehingga industri Indonesia

sangat bergantung pada barang impor tersebut. Pembangunan tidak


didistribusikan merata ke seluruh wilayah Indonesia dan ke seluruh
rakyat Indonesia sehingga hanya sedikit elit politik dan birokrat serta
pengusaha pengusaha Cina yang dekat dengan kekuasaan saja yang
menikmati hasil pembangunan. Jadi periode Orde Baru yang dipimpin
Soeharto lebih kuat peran pemerintah/proses administrasinya, aktor
ekonominya nepotisme/non kompetitif, sentralisasi, nasionalismenya,
komando dan kepemilikan kolektif bisa disimpulkan berarti prosesnya
menjauhi kutub Laissez-Faire dan mendekati kutub
Dirigisme/hegemoni.

Dari hasil analisis di., dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.

Periode Orde Lama yang dipimpin Soekarno lebih kuat


nasionalismenya, sentralisasi, komando dan kepemilikan kolektif bisa
disimpulkan berarti prosesnya menjauhi kutub Laissez-Faire dan
mendekati kutub Dirigisme/hegemoni.

2.

Periode Orde Baru yang dipimpin Soeharto lebih kuat peran


pemerintah/proses administrasinya, aktor ekonominya nepotisme/non
kompetitif, sentralisasi, nasionalismenya, komando dan kepemilikan
kolektif bisa disimpulkan berarti prosesnya menjauhi kutub LaissezFaire dan mendekati kutub Dirigisme/hegemoni.

3.

Pemerintahan Soekarno bermaksud untuk membangun Indonesia


secara mandiri namun tidak didukung kualitas SDM yang tangguh.

Jadi seharusnya investasi yang dilakukan Orde Lama lebih banyak


investasi SDM dan investasi pada sarana / prasarana penunjang
ekonomi. Soekarno termasuk agak terburu buru menasionalisasikan
perusahaan perusahaan asing tanpa disertai kesiapan sarana dan
prasarana penunjang aktifitas ekonomi baik di dalam negeri yang
dikuasai Cina maupun di luar negeri yang dikuasai Belanda, Inggris
dan Amerika. Pandangannya untuk mandiri dalam membangun sudah
baik namun proses pembangunan yang mandiri tersebut tidak berjalan
dengan baik.
4.

Pemerintahan Soeharto yang berjalan lebih dari tiga puluh tahun


membuat Negara Indonesia semakin miskin. Soeharto hanya
membangun ekonomi di tingkat permukaan saja tidak sampai di
tingkat akar. Soeharto hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi
tanpa

memperhatikan

pemerataan

hasil

pembangunan

dan

mengendalikan inflasi tanpa memperhatikan kemampuan daya beli


rakyat Indonesia. Soeharto bisa dibilang tidak membangun meskipun
dikenal sebagai Bapak Pembangunan karena proses pembangunan
yang terjadi lebih banyak dibantu dari harga minyak bumi yang tinggi.
Migas merupakan salah satu sumber pendapatan utama bagi anggaran
belanja negara. Di akhir masa jabatannya, Soeharto hanya membuat
hutang Indonesia semakin besar. Negara Indonesia semakin miskin
sehingga masih termasuk dalam Negara Dunia Ketiga namun
Soeharto dan kroni kroninya semakin kaya dan makmur.

BAB VI

KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA ORDE LAMA, ORDE


BARU
PERSAMAAN
Sama-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan
ketidakadilan.
Setelah Indonesia Merdeka, ketimpangan ekonomi tidak separah
ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan
ekonomi, kemiskinan dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru
(1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk
daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik
lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi
pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006).
Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat
terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun
pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat.
Adanya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)
Orde Lama: Walaupun kecil, korupsi sudah ada.
Orde Baru: Hampir semua jajaran pemerintah koruptor (KKN).
Reformasi: Walaupun sudah dibongkar dan dipublikasi di mana-mana
dari media

massa, media elektronik, dll tetap saja membantah


melakukan korupsi.
Hal ini menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat yang sulit untuk
disembuhkan akibat praktik-pratik pemerintahan yang manipulatif dan
tidak terkontrol.
Kebijakan Pemerintah
Sejak pemerintahan orde lama hingga orde reformasi kini, kewenangan
menjalankan anggaran negara tetap ada pada Presiden (masing-masing
melahirkan individu atau pemimpin yang sangat kuat dalam setiap
periode pemerintahan sehingga menjadikan mereka seperti manusia
setengah dewa). Namun tiap-tiap masa pemerintahan mempunyai
cirinya masing-masing dalam menjalankan arah kebijakan anggaran
negara. Hal ini dikarenakan untuk disesuaikan dengan kondisi: stabilitas
politik, tingkat ekonomi masyarakat, serta keamanan dan ketertiban.
Kebijakan anggaran negara yang diterapkan pemerintah selama ini
sepertinya berorientasi pada ekonomi masyarakat. Padahal kenyataannya
kebijakan yang ada biasanya hanya untuk segelintir orang dan bahkan
lebih banyak menyengsarakan rakyat. Belum lagi kebijakan-kebijakan
yang tidak tepat sasaran, yang hanya menambah beban APBN. Bila
diteliti lebih mendalam kebijakan-kebijakan sejak Orde Baru hingga
sekarang hanya bersifat jangka pendek. Dalam arti kebijakan yang
ditempuh bukan untuk perencanaan ke masa yang akan datang, namun
biasanya cenderung untuk mengatur hal-hal yang sedang dibutuhkan saat
ini.

PERBEDAAN :
- Orde Lama (Demokrasi Terpimpin)
1. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)
Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat
buruk, antara lain disebabkan oleh :
a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari
satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara
waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di
wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah
Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada
tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands
East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di
daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946,
pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang
Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori
moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan
tingkat harga.
b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945
untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI.
c. Kas Negara kosong.
d. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan
ekonomi, antara lain :
a. Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir.

Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli


1946.
b. Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India,
mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus
blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia.
c. Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh
kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi
yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan,
masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
d. Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari
1947
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948,
mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif.
e. Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan
dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan
swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik
(mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber
kekayaan).

2. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)


Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem
ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian
diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan
laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan

belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha


Cina. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi
perekonomian Indonesia yang baru merdeka.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara
lain :
a) Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret
1950, untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga
turun.
b) Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menumbuhkan
wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa
bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor
barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir
pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi
agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi
nasional. Namun usaha ini gagal, karena sifat pengusaha pribumi yang
cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi.
c) Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15
Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank
sentral dan bank sirkulasi.
d) Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang
diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama
antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi
diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan

pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta


nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik, karena pengusaha
pribumi kurang berpengalaman, sehingga hanya dijadikan alat untuk
mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
e) Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar, termasuk
pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Akibatnya banyak pengusaha
Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha
pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut.

3. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)


Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia
menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia
menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah).
Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran
bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi (mengikuti
Mazhab Sosialisme). Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang
diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan
ekonomi Indonesia, antara lain :
a) Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai
uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang
kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank
yang melebihi 25.000 dibekukan.
b) Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap
ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam
pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian
Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%.
c) Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang
senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya
dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah
baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan pemerintah
untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.
Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah
karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada
masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan
pemerintah, dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia
dan negara-negara Barat. Sekali lagi, ini juga salah satu konsekuensi dari
pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan
bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik,
eonomi, maupun bidang-bidang lain.
- Orde Baru/ Orba (Demokrasi Pancasila)
Pada masa orde baru, pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak
mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. Dikarenakan

pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik


sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. Karena hal itulah
maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan
kebijakan terutama dalam hal anggaran negara.
Pada masa pemerintahan orde baru, kebijakan ekonominya berorientasi
kepada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ekonomi tersebut didukung
oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. Hal tersebut
dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan
Trilogi Pembangungan, yaitu stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi
yang stabil, dan pemerataan pembangunan.
Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun, pemerintahan
mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi.
Kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), yang pada akhirnya
selalu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan
menjadi APBN.
APBN pada masa pemerintahan Orde Baru, disusun berdasarkan asumsiasumsi perhitungan dasar. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi, tingkat
inflasi, harga ekspor minyak mentah Indonesia, serta nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai
ukuran fundamental ekonomi nasional. Padahal sesungguhnya,
fundamental ekonomi nasional tidak didasarkan pada perhitungan hal-hal
makro. Akan tetapi, lebih kearah yang bersifat mikro-ekonomi. Misalnya,
masalah-masalah dalam dunia usaha, tingkat resiko yang tinggi, hingga

penerapan dunia swasta dan BUMN yang baik dan bersih. Oleh karena
itu pemerintah selalu dihadapkan pada kritikan yang menyatakan bahwa
penetapan asumsi APBN tersebut tidaklah realistis sesuai keadaan yang
terjadi.
Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan
pengeluaran. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan
pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan
pengeluaran pembangunan. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan
berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya. Kebijakan yang disebut tahun
fiskal ini diterapkan seseuai dengan masa panen petani, sehingga
menimbulkan kesan bahwa kebijakan ekonomi nasional memperhatikan
petani.
APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip
berimbang, yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan
anggaran pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara
penerimaan dan pengeluaran. Hal perimbangan tersebut sebetulnya
sangat tidak mungkin, karena pada masa itu pinjaman luar negeri selalu
mengalir. Pinjaman-pinjaman luar negeri inilah yang digunakan
pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit.
Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada
anggaran penerimaan. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut
adalah utang yang harus dikembalikan, dan merupakan beban
pengeluaran di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pada dasarnya
APBN pada masa itu selalu mengalami defisit anggaran.

Penerapan kebijakan tersebut menimbulkan banyak kritik, karena


anggaran defisit negara ditutup dengan pinjaman luar negeri. Padahal,
konsep yang benar adalah pengeluaran pemerintah dapat ditutup dengan
penerimaan pajak dalam negeri. Sehingga antara penerimaan dan
pengeluaran dapat berimbang. Permasalahannya, pada masa itu
penerimaan pajak saat minim sehingga tidak dapat menutup defisit
anggaran.
Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses pemerintah pada
masa itu untuk mempertahankan stabilitas, khususnya di bidang
ekonomi. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi, yang
sumber pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. Sehingga
pembangunanpun terus dapat berjalan.
Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip
fungsional. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran
pembangunan dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk
membiayai anggaran belanja pembangunan. Karena menurut pemerintah,
pembangunan memerlukan dana investasi yang besar dan tidak dapat
seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam negeri.
Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus, karena pinjaman yang
digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. Akan tetapi, dalam
APBN tiap tahunnya cantuman angka pinjaman luar negeri selalu
meningkat. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk
selalu meningkatkan penerimaan dalam negeri. Dalam Keterangan
Pemerintah tentang RAPBN tahun 1977, Presiden menyatakan bahwa

dana-dana pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri harus


meningkat. Padahal, ketergantungan yang besar terhadap pinjaman luar
negeri akan menimbulkan akibat-akibat. Diantaranya akan menyebabkan
berkurangnya pertumbuhan ekonomi.
Hal lain yang dapat terjadi adalah pemerataan ekonomi tidak akan
terwujud. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan penghasilan. Selain itu
pinjaman luar negeri yang banyak akan menimbulkan resiko kebocoran,
korupsi, dan penyalahgunaan. Dan lebih parahnya lagi ketergantungan
tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha
meningkatkan penerimaan dalam negeri.
Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam
APBN adalah, dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah
untuk membiayai pembangunan. Dalam hal ini pemerintah akan
berupaya untuk mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi
dengan pengeluaran rutin, agar dapat dijadikan tabungan pemerintah.
Oleh karena itu, pemerintah dapat memanfaatkan tabungan tersebut
untuk berinvestasi dalam pembangunan.
Kebijakan pemerintah ini dilakukan dengan dua cara, yaitu derelgulasi
perbankan dan reformasi perpajakan. Akan tetapi, kebijakan demikian
membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama. Akibatnya, kebijakan
untuk mengurangi bantuan luar negeri tidak dapat terjadi karena jumlah
pinjaman luar negeri terus meningkat. Padahal disaat yang bersamaan
persentase pengeluaran rutin untuk membayar pinjaman luar negeri terus
meningkat. Hal ini jelas menggambarkan betapa APBN pada masa

pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri.


Sehingga pada akhirnya berakibat tidak dapat terpenuhinya keinginan
pemerintah untuk meningkatkan tabungannya.

- Masa Reformasi (Demokrasi Liberal)


Pada masa krisis ekonomi,ditandai dengan tumbangnya pemerintahan
Orde Baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh
pemerintahan Presiden Habibie. Pada masa ini tidak hanya hal
ketatanegaraan yang mengalami perubahan, namun juga kebijakan
ekonomi. Sehingga apa yang telah stabil dijalankan selama 32 tahun,
terpaksa mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan keadaan.
Pemerintahan presiden BJ.Habibie yang mengawali masa reformasi
belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang
ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan
stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman
Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan
negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang
diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN,
pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden
terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata
masyarakat. Akibatnya, kedudukannya digantikan oleh presiden
Megawati.
Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-

masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi


dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk
mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain :
a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada
pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar
negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
b)Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan
negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan
negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban
negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak
kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan
korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir
dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu
jalannya pembangunan nasional.
Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan
kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain
menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya
harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor
pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan

kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi


masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang
berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah
sosial.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan
perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing
dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah
diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November
2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala
daerah.
Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan
kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang
selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama
investor asing, yang salah satunya adalah revisi undang-undang
ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia,
diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.
Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa
utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka
diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam
menentukan kebijakan dalam negeri. Namun wacana untuk berhutang
lagi pada luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa
kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan
jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari
2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini disebabkan

karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke


sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di
SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya
investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga
menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena
inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya
mengundang investor dari luar negri, tapi di lain pihak, kondisi dalam
negeri masih kurang kondusif.

Masalah Pemanfaatan Kekayaan Alam.


Pada masa orde lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam
sangat jelas. Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya
iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di
dalam perut bumi Indonesia. Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan
anak cucu di masa depan. Biarlah anak cucu yang menikmati jika mereka
sudah mampu dan bisa. Jadi saat dipimpin Bung Karno, meski RI hidup
miskin, tapi Bung Karno tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambangtambang milik bangsa ke perusahaan asing. Penebangan hutan pada masa
Bung Karno juga amat minim.
Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan orde
lama.Apa yang bisa digadaikan; digadaikan. Kalo bisa ngutang ya
ngutang. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah. Rakyat
pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba. Beras murah, padahal
sebagian adalah beras impor. Beberapa gelintir orang mendapat rente
ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi
bahan pokok, termasuk beras, terigu, kedelai dsb. Semua serba tertutup
dan tidak tranparan. Jika ada orang mempertanyakan, diancam tuduhan
subversif. Hutan dijadikan sumber duit, dibagi menjadi kapling-kapling
HPH; dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan.
Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang
memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN. Jangan dilupakan
pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke
Rp 16.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru.
Masa Reformasi krisis ekonomi parah sudah terjadi. Utang LN tetap
harus dibayar. Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan,
meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan

wujudnya.. Rakyat menikmati kebebasan (namun sepertinya terlalu


bebas). Media masa menjadi terbuka.
Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah
sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme
kenikmatan duniawi di zaman Orba.Sekarang kita mewarisi hutan yang
sudah rusak parah; industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana
akibat dari berbagai HPH , menjadi muara dari illegal logging.
Sistem Pemerintahan
Orde lama : kebijakan pada pemerintah, berorientasi pada politik,semua
proyek diserahkan kepada pemerintah, sentralistik,demokrasi Terpimpin,
sekularisme.
Orde baru : kebijakan masih pada pemerintah, namun sektor ekonomi
sudah diserahkan ke swasta/asing, fokus pada pembangunan ekonomi,
sentralistik, demokrasi Pancasila, kapitalisme.

Soeharto dan Orde Baru tidak bisa dipisahkan. Sebab, Soeharto


melahirkan Orde Baru dan Orde Baru merupakan sistem kekuasaan yang
menopang pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade.
Betulkah Orde Baru telah berakhir? Kita masih menyaksikan praktikpraktik nilai Orde Baru hari ini masih menjadi karakter dan tabiat politik
di negeri ini. Kita masih menyaksikan koruptor masih bercokol di negeri
ini. Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi secara kultural dan
substansi semakin kabur. Mengapa semua ini terjadi? Salah satu
jawabannya, bangsa ini tidak pernah membuat garis demarkasi yang jelas

terhadap Orde Baru. Tonggak awal reformasi 11 tahun lalu yang


diharapkan bisa menarik garis demarkasi kekuatan lama yang korup dan
otoriter dengan kekuatan baru yang ingin melakukan perubahan justru
terbelenggu oleh faktor kekuasaan.Sistem politik otoriter (partisipasi
masyarakat sangat minimal) pada masa orba terdapat instrumeninstrumen pengendali seperti pembatasan ruang gerak pers,
pewadahunggalan organisasi profesi, pembatasan partai poltik, kekuasaan
militer untuk memasuki wilayah-wilayah sipil, dll.
Orde reformasi : pemerintahan tidak punya kebijakan (menuruti alur
parpol di DPR), pemerintahan lemah, dan muncul otonomi daerah yang
kebablasan, demokrasi Liberal (neoliberaliseme), tidak jelas apa
orientasinya dan mau dibawa kemana bangsa ini.
Referensi :
Langkah demi langkah diambil oleh pemerintah Orde Baru untuk
mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap nilai mata uang rupiah.
Disamping pengerahan dana dari masyarakat melalui tabungan dan
deposito, pemerintah terus mengadakan persiapan khusus untuk
membentuk Pasar Modal.
Dengan surat keputusan direksi BI No. 4/16 Kep-Dir tanggal 26 Juli
1968, di BI di bentuk tim persiapan (PU) Pasar Uang dan (PM) Pasar
Modal. Hasil penelitian tim menyatakan bahwa benih dari PM di
Indonesia sebenarnya sudah ditanam pemerintah sejak tahun 1952, tetapi
karena situasi politik dan masyarakat masih awam tentang pasar modal,
maka pertumbuhan Bursa Efek di Indonesia sejak tahun 1958 s/d 1976

mengalami kemunduran.
Setelah tim menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka dengan surat
keputusan Kep-Menkeu No. Kep-25/MK/IV/1/72 tanggal 13 Januari
1972 tim dibubarkan, dan pada tahun 1976 dibentuk Bapepam (Badan
Pembina Pasar Modal) dan PT Danareksa. Bapepam bertugas
membantu Menteri Keuangan yang diketuai oleh Gubernur Bank Sentral.

Dengan terbentuknya Bapepam, maka terlihat kesungguhan dan


intensitas untuk membentuk kembali PU dan PM. Selain sebagai
pembantu menteri keuangan, Bapepam juga menjalankan fungsi ganda
yaitu sebagai pengawas dan pengelola bursa efek.
Pada tanggal 10 Agustus 1977 berdasarkan kepres RI No. 52 tahun
1976 pasar modal diaktifkan kembali dan go publik-nya beberapa
perusahaan. Pada jaman orde baru inilah perkembangan PM dapat di bagi
menjadi 2, yaitu tahun 1977 s/d 1987 dan tahun 1987 s/d sekarang.
Perkembangan pasar modal selama tahun 1977 s/d 1987 mengalami
kelesuan meskipun pemerintah telah memberikan fasilitas kepada
perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan dana dari bursa efek.
Fasilitas-fasilitas yang telah diberikan antara lain fasilitas perpajakan
untuk merangsang masyarakat agar mau terjun dan aktif di Pasar Modal.
Tersendatnya perkembangan pasar modal selama periode itu

disebabkan oleh beberapa masalah antara lain mengenai prosedur emisi


saham dan obligasi yang terlalu ketat, adanya batasan fluktuasi harga
saham dan lain sebagainya.
Untuk mengatasi masalah itu pemerintah mengeluarkan berbagai
deregulasi yang berkaitan dengan perkembangan pasar modal, yaitu
Paket Kebijaksanaan Desember 1987, Paket Kebijaksanaan Oktober
1988, dan Paket Kebijaksanaan Desember 1988.

Pakdes 1987
Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi
saham dan obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut
oleh Bapepam, seperti biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu dibuka
pula kesempatan bagi pemodal asing untuk membeli efek maksimal 49%
dari total emisi.
Pakdes 87 juga menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa
efek dan memperkenalkan bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten
yang belum memenuhi syarat untuk memasuki bursa efek.

Pakto 88
Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai
dampak terhadap perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang
ketentuan 3 L (Legal, Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga
deposito.
Pengenaan pajak ini berdampak positif terhadap perkembangan pasar
modal. Sebab dengan keluarnya kebijaksanaan ini berarti pemerintah
memberi perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor pasar
modal.
Pakdes 88
Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada
pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk
menyelenggarakan bursa.
Karena tiga kebijaksanaan inilah pasar modal menjadi aktif untuk periode
1988 hingga sekarang.

PERKEMBANGAN KOPERASI DI INDONESIA


Koperasi, sebuah badan usaha yang tujuan utamanya adalah
mensejahterakan anggota pada umumnya dan masyarakat pada
umumnya. Dan untuk mencapai tujuan-tujuan itu diperlukan berbagai
perubahan-perubahan di berbagai sektor. setiap periode pemerintahan,
dikeluarkan berbagai kebijakan untuk memperbaiki kualitas
perkoperasian di Indonesia.
Dan berikut ini adalah perkembangan koperasi dari periode ke periode
pemerintahan :

I. Awal Pertumbuhan Koperasi Indonesia


Pertumbuhan koperasi di Indonesia dimulai sejak tahun 1896 (Ahmed
1964, h. 57) yang selanjutnya berkembang dari waktu ke waktu sampai
sekarang. Perkembangan koperasi di Indonesia mengalami pasang naik
dan turun dengan titik berat lingkup kegiatan usaha secara menyeluruh
yang
berbeda-beda dari waktu ke waktu sesuai dengan iklim lingkungannya.
Jikalau pertumbuhan koperasi yang pertama di Indonesia menekankan
pada
kegiatan simpan-pinjam (Soedjono 1983, h.7) maka selanjutnya tumbuh
pula
koperasi yang menekankan pada kegiatan penyediaan barang-barang
konsumsi dan dan kemudian koperasi yang menekankan pada kegiatan
penyediaan barang-barang untuk keperluan produksi. Perkembangan
koperasi dari berbagai jenis kegiatan usaha tersebut selanjutnya ada
kecenderungan menuju kepada suatu bentuk koperasi yang memiliki
beberapa jenis kegiatan usaha. Koperasi serba usaha ini mengambil
langkah-langkah kegiatan usaha yang paling mudah mereka kerjakan
terlebih
dulu, seperti kegiatan penyediaan barang-barang keperluan produksi
bersama-sama dengan kegiatan simpan-pinjam ataupun kegiatan
penyediaan barang-barang keperluan konsumsi bersama-sama dengan
kegiatan simpan-pinjam dan sebagainya (Masngudi 1989, h. 1-2).
Pertumbuhan koperasi di Indonesia dipelopori oleh R. Aria Wiriatmadja

patih
di Purwokerto (1896), mendirikan koperasi yang bergerak dibidang
simpanpinjam.
Untuk memodali koperasi simpan- pinjam tersebut di samping
banyak menggunakan uangnya sendiri, beliau juga menggunakan kas
mesjid
yang dipegangnya (Djojohadikoesoemo, 1940, h 9). Setelah beliau
mengetahui bahwa hal tersebut tidak boleh, maka uang kas mesjid telah
dikembalikan secara utuh pada posisi yang sebenarnya.
Kegiatan R Aria Wiriatmadja dikembangkan lebih lanjut oleh De Wolf
Van Westerrode asisten Residen Wilayah Purwokerto di Banyumas.
Ketika
ia cuti ke Eropa dipelajarinya cara kerja wolksbank secara Raiffeisen
(koperasi simpan-pinjam untuk kaum tani) dan Schulze-Delitzsch
(koperasi
simpan-pinjam untuk kaum buruh di kota) di Jerman. Setelah ia kembali
dari
cuti melailah ia mengembangkan koperasi simpan-pinjam sebagaimana
telah
dirintis oleh R. Aria Wiriatmadja . Dalam hubungan ini kegiatan
simpanpinjam
yang dapat berkembang ialah model koperasi simpan-pinjam lumbung
dan modal untuk itu diambil dari zakat.
Selanjutnya Boedi Oetomo yang didirikan pada tahun 1908

menganjurkan berdirinya koperasi untuk keperluan rumah tangga.


Demikian
pula Sarikat Islam yang didirikan tahun 1911 juga mengembangkan
koperasi
yang bergerak di bidang keperluan sehari-hari dengan cara membuka
tokotoko
koperasi. Perkembangan yang pesat dibidang perkoperasian di
Indonesia yang menyatu dengan kekuatan social dan politik
menimbulkan
kecurigaan Pemerintah Hindia Belanda. Oleh karenanya Pemerintah
Hindia
Belanda ingin mengaturnya tetapi dalam kenyataan lebih cenderung
menjadi
suatu penghalang atau penghambat perkembangan koperasi. Dalam
hubungan ini pada tahun 1915 diterbitkan Ketetapan Raja no. 431 yang
berisi
antara lain :
a. Akte pendirian koperasi dibuat secara notariil;
b. Akte pendirian harus dibuat dalam Bahasa Belanda;
c. Harus mendapat ijin dari Gubernur Jenderal;
dan di samping itu diperlukan biaya meterai f 50.
Pada akhir Rajab 1336H atau 1918 K.H. Hasyim Asyari Tebuireng
Jombang mendirikan koperasi yang dinamakan Syirkatul Inan atau
disingkat

(SKN) yang beranggotakan 45 orang. Ketua dan sekaligus sebagai


manager
adalah K.H. Hasyim Asy ari. Sekretaris I dan II adalah K.H. Bishri dan
Haji
Manshur. Sedangkan bendahara Syeikh Abdul WAhab Tambakberas di
mana branndkas dilengkapi dengan 5 macam kunci yang dipegang oleh 5
anggota. Mereka bertekad, dengan kelahiran koperasi ini unntuk
dijadikan
periode nahdlatuttijar . Proses permohonan badan hukum direncanakan
akan diajukan setelah antara 2 sampai dengan 3 tahun berdiri.
Berbagai ketentuan dan persyaratan sebagaimana dalam ketetapan
Raja no 431/1915 tersebut dirasakan sangat memberatkan persyaratan
berdiriya koperasi. Dengan demikian praktis peraturan tersebut dapat
dipandang sebagai suatu penghalang bagi pertumbuhan koperasi di
Indonesia, yang mengundang berbagai reaksi. Oleh karenanya maka pada
tahun 1920 dibentuk suatu Komisi Koperasi yang dipimpin oleh DR.
J.H.
Boeke yang diberi tugas neneliti sampai sejauh mana keperluan
penduduk
Bumi Putera untuk berkoperasi.
Hasil dari penelitian menyatakan tentang perlunya penduduk Bumi
putera berkoperasi dan untuk mendorong keperluan rakyat yang
bersangkutan. Selanjutnya didirikanlah Bank Rakyat ( Volkscredit Wezen
).

Berkaitan dengan masalah Peraturan Perkoperasian, maka pada tahun


1927
di Surabaya didirikan Indonsische Studieclub Oleh dokter Soetomo
yang
juga pendiri Boedi Oetomo, dan melalui organisasi tersebut beliau
menganjurkan berdirinya koperasi. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh
Partai Nasional Indonesia di bawah pimpimnan Ir. Soekarno, di mana
pada
tahun 1929 menyelenggarakan kongres koperasi di Betawi. Keputusan
kongres koperasi tersebt menyatakan bahwa untuk meningkatkan
kemakmuran penduduk Bumi Putera harus didirikan berbagai macam
koperasi di seluruh Pulau Jawa khususnya dan di Indonesia pada
umumnya.
Untuk menggiatkan pertumbuhan koperasi, pada akhir tahun 1930
didirikan Jawatan Koperasi dengan tugas:
a. memberikan penerangan kepada pengusaha-pengusaha Indonesia
mengenai seluk beluk perdagangan;
b. dalam rangka peraturan koerasi No 91, melakukan pengawasan dan
pemeriksaan terhadap koperasi-koperasi, serta memberikan
penerangannya;
c. memberikan keterangan-keterangan tentang perdagangan
pengangkutan, cara-cara perkreditan dan hal ihwal lainnya yang
menyangkut perusahaan-perusahaan;
d. penerangan tentang organisasi perusahaan;

e. menyiapkan tindakan-tindakan hukum bagi pengusaha Indonesia


( Raka.1981,h.42)
DR. J.H. Boeke yang dulunya memimpin Komisi Koperasi 1920
ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Koperasi yang pertama.
Selanjutnya pada tahun 1933 diterbitkan Peraturan Perkoperasian
dalam berntuk Gouvernmentsbesluit no.21 yang termuat di dalam
Staatsblad
no. 108/1933 yang menggantikan Koninklijke Besluit no. 431 tahun
1915.
Peraturan Perkoperasian 1933 ini diperuntukkan bagi orang-orang Eropa
dan
golongan Timur Asing. Dengan demikian di Indonesia pada waktu itu
berlaku 2 Peraturan Perkopersian, yakni Peraturan Perkoperasian tahun
1927 yang diperuntukan bagi golongan Bumi Putera dan Peraturan
Perkoperasian tahun 1933 yang berlaku bagi golongan Eropa dan Timur
Asing.
Kongres Muhamadiyah pada tahun 1935 dan 1938 memutuskan
tekadnya untuk mengembangkan koperasi di seluruh wilayah Indonesia,
terutama di lingkungan warganya. Diharapkan para warga
Muhammadiyah
dapat memelopori dan bersama-sama anggota masyarakat yang lain
untuk
mendirikan dan mengembangkan koperasi. Berbagai koperasi dibidang
produksi mulai tumbuh dan berkembang antara lain koperasi batik yang

diperlopori oleh H. Zarkasi, H. Samanhudi dan K.H. Idris.


Perkembangan koperasi semenjak berdirinya Jawatan Koperasi tahun
1930 menunjukkan suatu tingkat perkembangan yang terus meningkat.
Jikalau pada tahun 1930 jumlah koperasi 39 buah, maka pada tahun 1939
jumlahnya menjadi 574 buah dengan jumlah anggota pada tahun 1930
sebanyak 7.848 orang kemudian berkembang menjadi 52.555 orang.
Sedang kegiatannya dari 574 koperasi tersebut diantaranya 423 kopersi
(=77%) adalah koperasi yang bergerak dibidang simpan-pinjam
(Djojohadikoesoemo,1940 h.82) sedangkan selebihnya adalah kopersi
jenis
konsumsi ataupun produksi. Dari 423 koperasi simpan-pinjam tersebut
diantaranya 19 buah adalah koperasi lumbung.
Pada masa pendudukan bala tentara Jepang istilah koperasi lebih
dikenal menjadi istilah Kumiai. Pemerintahan bala tentara Jepang di di
Indonesia menetapkan bahwa semua Badan-badan Pemerintahan dan
kekuasaan hukum serta Undang-undang dari Pemerintah yang terdahulu
tetap diakui sementara waktu, asal saja tidak bertentangandengan
Peraturan
Pemerintah Militer. Berdasarkan atas ketentuan tersebut, maka Peraturan
Perkoperasian tahun 1927 masih tetap berlaku. Akan tetapi berdasarkan
Undang-undang No. 23 dari Pemerintahan bala tentara Jepang di
Indonesia
mengatur tentang pendirian perkumpulan dan penmyelenggaraan
persidangan. Sebagai akibat daripada peraturan tersebut , maka jikalau

masyarat ingin mendirikan suatu perkumpulan koperasi harus mendapat


izin
Residen (Shuchokan) dengan menjelaskan syarat-syarat sebagai berikut :
a. Maksud perkumpulan atau persidangan, baik sifat maupun
aturanaturannya
b. Tempat dan tanggal perkumpulan didirikan atau persidangan
diadakan
c. Nama orang yang bertangguing jawab, kepengurusan dan
anggotaanggotanya
d. Sumpah bahwa perkumpulan atau persidangan yang bersangkutan
itu sekali-kali bukan pergerakan politik.
Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka di beberapa daerah
banyak koperasi lama yang harus menghentikan usahanya dan tidak
boleh
bekerja lagi sebelum mendapat izin baru dariScuchokan. Undangundang
ini pada hakekatnya bermaksud mengawasi perkumpulan-perkumpulan
dari
segi kepolisian (Team UGM 1984, h. 139 140).
Perkembangan Pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang
dikarenakan masalah ekonomi yang semakin sulit memerlukan peran
Kumiai (koperasi). Pemerintah pada waktu itu melalui kebijaksanaan
dari
atas menganjurkan berdirinya Kumiai di desa-desa yang tujuannya

untuk
melakukan kegiatan distribusi barang yang jumlahnya semakin hari
semakin
kurang karena situasi perang dan tekanan ekonomi Internasional
(misalnya
gula pasir, minyak tanah, beras, rokok dan sebagainya). Di lain pihak
Pemerintah pendudukan bala tentara Jepang memerlukan barang-barang
yang dinilai penting untuk dikirim ke Jepang (misalnya biji jarak, hasilhasil
bumi yang lain, besi tua dan sebagainya) yang untuk itu masyarakat agar
menyetorkannya melalui Kumiai. Kumiai (koperasi) dijadikan alat
kebijaksanaan dari Pemerintah bala tentara Jepang sejalan dengan
kepentingannya. Peranan koperasi sebagaimana dilaksanakan pada
zaman
Pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang tersebut sangat merugikan
bagi para anggota dan masyarakat pada umumnya.

II. PERTUMBUHAN KOPERASI SETELAH KEMERDEKAAN


Gerakan koperasi di Indonesia yang lahir pada akhir abad 19 dalam
suasana sebagai Negara jajahan tidak memiliki suatu iklim yang
menguntungkan bagi pertumbuhannya. Baru kemudian setelah Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya, dengan tegas perkoperasian ditulis
di

dalam UUD 1945. DR. H. Moh Hatta sebagai salah seorang Founding
Father Republik Indonesia, berusaha memasukkan rumusan
perkoperasian
di dalam konstitusi. Sejak kemerdekaan itu pula koperasi di Indonesia
mengalami suatu perkembangan yang lebih baik. Pasal 33 UUD 1945
ayat 1
beserta penjelasannya menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai
usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Dalam penjelasannya
disebutkan bahwa bangun perekonomian yang sesuai dengan azas
kekeluargaan tersebut adalah koperasi. Di dalam pasal 33 UUd 1945
tersebut
diatur pula di samping koperasi, juga peranan daripada Badan Usaha
Milik
Negara dan Badan Usaha Milik Swasta.
Pada akhir 1946, Jawatan Koperasi mengadakan pendaftaran
koperasi dan tercatat sebanyak 2500 buah koperasi di seluruh Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia bertindak aktif dalam pengembangan
perkoperasian. Disamping menganjurkan berdirinya berbagai jenis
koperasi
Pemerintah RI berusaha memperluas dan menyebarkan
pengetahuantentang
koperasi dengan jalan mengadakan kursus-kursus koperasi di berbagai
tempat.
Pada tanggal 12 Juli 1947 diselenggarakan kongres koperasi se Jawa

yang pertama di Tasikmalaya. Dalam kongres tersebut diputuskan antara


lain
terbentuknya Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia yang
disingkat
SOKRI; menjadikan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi serta
menganjurkan diselenggarakan pendidikan koperasi di kalangan
pengurus,
pegawai dan masyarakat. Selanjutnya, koperasi pertumbuhannya semakin
pesat. Tetapi dengan terjadinya agresi I dan agresi II dari pihak Belanda
terhadap Republik Indonesia serta pemberontakan PKI di Madiunpada
tahun
1948 banyak merugikan terhadap gerakan koperasi.
Pada tahun 1949 diterbitkan Peraturan Perkoperasian yang dimuat di
dalam Staatsblad No. 179. Peraturan ini dikeluarkan pada waktu
Pemerintah
Federal Belanda menguasai sebagian wilayah Indonesia yang isinya
hampir
sama dengan Peraturan Koperasi yang dimuat di dalam Staatsblad No. 91
tahun 1927, dimana ketentuan-ketentuannya sudah kurang sesuai dengan
keadaan Inidonesia sehingga tidak memberikan dampak yang berarti bagi
perkembangan koperasi.
Setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun
1950 program Pemerintah semakin nyata keinginannya untuk
mengembangkan perkoperasian.Kabinet Mohammad Natsir menjelaskan

di
muka Dewan Perwakilan Rakyat yang berkaitan dengan program
perekonomian antara lain sebagai berikut :
.. Menggiatkan pembangunan organisasi-organisasi
rakyat , istimewa koperasi dengan cara pendidikan, penerangan,
pemberian
kredit yang lebih banyak dan lebih mudah, satu dan lain seimbang
dengan
kemampuan keuangan Negara.
Untuk memperbaiki perekonomian-perekonomian rakyat Kabinet
Wilopo antara lain mengajukan suatu program koperasi yang terdiri
dari tiga
bagian, yaitu :
a. Usaha untuk menciptakan suasana dan keadaan sebaik-baiknya bagi
perkembangan gerakan koperasi;
b. Usaha lanjutan dari perkembangan gerakan koperasi;
c. Usaha yang mengurus perusahaan rakyat yang dapat diselenggarakan
atas dasar koperasi.
Selanjutnya Kabinet Ali Sastroamidjodjo menjelaskan program
Pemerintahannya sebagai berikut :
Untuk kepentingan pembangunan dalam
lapangan perekonomian rakyat perlu pula diperluas dan dipergiat gerakan
koperasi yang harus disesuaikan dengan semangat gotong royong yang
spesifik di Indonesia dan besar artinya dalam usaha menggerakkan rasa

percaya pada diri sendiri di kalangan rakyat. Di samping itu Pemerintah


hendak menyokong usaha itu dengan memperbaiki dan memperlluas
perkreditan, yang terpenting antara lain dengan pemberian modal kepada
badan-badan perkreditan desa seperti Lumbung dan Bank Desa, yang
sedapat-dapatnya disusun dalam bentuk koperasi (Sumodiwirjo 1954, h.
4546).
Sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah sebagaimana tersebut di
atas, koperasi makin berkembang dari tahun ketahun baik organisasi
maupun
usahanya.
Selanjutnya pada tanggal 15 sampai dengan 17 Juli 1953
dilangsungkan kongres koperasi Indonesia yang ke II di Bandung.
Keputusannya antara lain merubah Sentral Organisasi Koperasi Rakyat
Indonesia (SOKRI) menjadi Dewan Koperasi Indonesia (DKI). Di
samping itu
mewajibkan DKI membentuk Lembaga Pendidikan Koperasi dan
mendirikan
Sekolah Menengah Koperasi di Provinsi-provinsi. Keputusan yang lain
ialah
penyampaian saran-saran kepada Pemerintah untuk segera diterbitkannya
Undang-Undang Koperasi yang baru serta mengangkat Bung Hatta
sebagai
Bapak Koperasi Indonesia.

Pada tahun 1956 tanggal 1 sampai 5 September diselenggarakan


Kongres Koperasi yang ke III di Jakarta. Keputusan KOngres di samping
halhal
yang berkaitan dengan kehidupan perkoperasian di Indonesia, juga
mengenai hubungan Dewan Koperasi Indonesia dengan International
Cooperative Alliance (ICA).
Pada tahun 1958 diterbitkan Undang-Undang tentang Perkumpulan
Koperasi No. 79 Tahun 1958 yang dimuat di dalam Tambahan Lembar
Negara RI No. 1669. Undang-Undang ini disusun dalam suasana
UndangUndang Dasar Sementara 1950 dan mulai berlaku pada tanggal 27
Oktober
1958. Isinya lebih biak dan lebih lengkap jika dibandingkan dengan
peraturan-peraturan koperasi sebelumnya dan merupakan UndangUndang
yang pertama tentang perkoperasian yang disusun oleh Bangsa Indonesia
sendiri dalam suasana kemerdekaan.
Perlu dipahami bersama perbedaan sikap Pemerintah terhadap
pengembangan perkoperasian atas dasar perkembangan sejarah
pertumbuhannya di Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Pemerintahan Kolonial Belanda bersikap pasif;
b. Pemerintahan Pendudukan Balatentara Jepang bersikap aktif
negatif, karena akibat kebijaksanaannya nama koperasi menjadi hancur
(jelek);

c. Bersikap aktif positif di mana Pemerintah Republik Indonesia


memberikan dorongan kesempatan dan kemudahan bagi koperasi.
Tabel berikut menunjukkan perkembangan koperasi pada saat-saat
akhir Pemerintahan Kolonial Belanda dan angka perkembangan koperasi
setelah Indonesia merdeka sampai dengan tahun 1959, dengan catatan
angka-angka perkembangan koperasi pada zaman Pemerintahan
Pendudukan Balatentara Jepang tidak tersedia.

III. PERKEMBANGAN KOPERASI DALAM SISTEM EKONOMI


TERPIMPIN
Dalam tahun 1959 terjadi suatu peristiwa yang sangat penting dalam
sejarah bangsa Indonesia. Setelah Konstituante tidak dapat
menyelesaikan
tugas menyusun Undang-Undang Dasar Baru pada waktunya, maka pada
tanggal 15 Juli 1959 Presiden Soekarno yang juga selaku PAnglima
Tertinggi

Angkatan Perang mengucapkan Dekrit Presiden yang memuat keputusan


dan salahsatu daripadanya ialah menetapkan Undang-Undang Dasar 1945
berlaku bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tanah Tumpah Darah
Indonesia, terhitung mulai dari tanggal penetapan dekrit dan tidak
berlakunya
lagi Undang-Undang Dasar Sementara. Pada tanggal 17 Agustus 1959
Presiden Soekarno mengucapkan pidato kenegaraan yang berjudul
Penemuan Kembali Revolusi Kita, atau lebih dikenal dengan
Manifesto
politik (Manipol). Dalam pidato itu diuraikan berbagai persoalan pokok
dan
program umum Revolusi Indonesia yang bersifat menyeluruh.
Berdasarkan
Ketetapan MPRS No. 1/MPRS/1960 pidato itu ditetapkan sebagai Garisgaris
Besar Haluan Negara RI dan pedoman resmi dalam perjuangan
menyelesaikan revolusi. Dampak Dekrit Presiden dan Manipol terhadap
Undang-Undang No. 79 Tahun 1958 tentang Perkumpulan Koperasi
adalah
undang-undang yang belum berumur panjang itu telah kehilangan dasar
dan
tidak sesuai lagi dengan jiwa dan semangat UUD 1945 dan Manipol.
Karenanya untuk mengatasi keadaan itu maka di samping UndangUndang

No. 79 Tahun 1958 tentang Perkumpulan Koperasi dikeluarkan pula


Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1959 tentang Perkembangan
Gerakan
Koperasi (dimuat dalam Tambahan aLembaran Negara No. 1907).
Peratuarn ini dibuat sebagai peraturan pelaksanaan dari UndangUndang No. 79 Tahun 1958 tentang Perkumpulan Koperasi dan
merupakan
penyempurnaan dari hal-hal yang belum diatur dalam Undang-Undang
tersebut. Peraturan itu membawa konsep pengembangan koperasi secara
missal dan seragam dan dikeluarkan berdasarkan
pertimbanganpertimbangan
sebagai berikut :
(1) Menyesuaikan fungsi koperasi dengan jiwa dan semangat UUD 1945
dan Manipol RI tanggal 17 Agustus 1959, dimana koperasi diberi
peranan sedemikian rupa sehingga kegiatan dan penyelenggaraannya
benar-benar dapat merupakan alat untuk melaksanakan ekonomi
terpimpin berdasarkan sosialisme ala Indonesia, sendi kehidupan
ekonomi bangsa Indonesia dan dasar untuk mengatur perekonomian
rakyat guna mencapai taraf hidup yang layak dalam susunan
masyarakat adil dan makmur yang demokratis;
(2) Bahwa pemerintah wajib mengambil sikap yang aktif dalam membina
Gerakan Koperasi berdasarkan azas-azas demokrasi terpimpin, yaitu
menumbuhkan, mendorong, membimbing, melindungi dan
mengawasi

perkembangan Gerakan Koperasi, dan;


(3) Bahwa dengan menyerahkan penyelenggaraan koperasi kepada
inisiatif Gerakan Koperasi sendiri dalam taraf sekarang bukan saja
tidak mencapai tujuan untuk membendung arus kapitalisme dan
liberalism, tetapi juga tidak menjamin bentuk organisasi dan cara
bekerja yang sehat sesuai dengan azas-azas koperasi yang
sebenarnya (Sularso 1988, h. VI-VII).
Dalam tahun 1960 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah
No. 140 tentang penyaluran bahan pokok dan penugasan Koperasi untuk
melaksanakannya. Dengan peraturan ini maka mulai ditumbuhkan
koperasikoperasi
konsumsi. Penumbuhan koperasi oleh Pemerintah secara missal
dan seragam tanpa memperhatikan syarat-syarat pertumbuhannya yang
sehat, telah mengakibatkan pertumbuhan koperasi yang kurang sehat.
Lebih
jauh dari itu Ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960 menetapkan bahwa
sector
perekonomian akan diatur dengan dua sektor yakni sector Negara dan
sector
koperasi, dimana sector swasta hanya ditugaskan untuk membantu. Pada
saat mulai dikemukakan ide pengaturan ekonomi dengan prinsip
Demokrasi
dan Ekoomi Terpimpin. Undang-undang No. 79 tahun 1958 tentang
Perkembangan Gerakan Koperasi. Peraturan ini membawa konsep

pengembangan koperasi secara massal dan seragam.


Pada tahun 1961 diselenggarakan Musyawarah Nasional KOperasi I
(Munaskop I) di Surabaya untuk melaksanakan prinsip Demokrasi
Terpimpin
dan Ekonomi Terpimpin. Langkah-langkah mempolitikankan
(verpolitisering)
koperasi mulai nampak. Dewan Koperasi Indonesia diganti dengan
Kesatuan
Organisasi KOperasi Seluruh Indonesia (KOKSI) yang bukan sematamata
organisasi koperasi sendiri malainkan organisasi koperasi-koperasi yang
dipimpin oleh Pemerintah, dimasa Menteri Transmigrasi, Koperasi dan
Pembangunan Masyarakat Desa (Trasnkopenda) menjadi Ketuanya
(Team
UGM, 1984, h.143-144).
Sebagai puncak pengukuhan hokum dari uapaya mempolitikkan
(verpolitisering) koperasi dalam suasana demokrasi terpimpin yakni di
terbitkannya UU No.14 tahun 1965 tentang perkoperasian yang dimuat
didalam Lembaran Negara No. 75 tahun 1960. Salah satu pasal yang
terpenting adalah pasal 5 yang berbunyi :
Koperasi, struktur, aktivitas dan alat pembinaan serta alat
perlengkapan organisasi koperasi, mencerminkan kegotong-royongan
progresif revolusioner berporoskan Nasakom (Nasional, Agama,
Komunis).

Dalam memori penjelasannya dinyatakan sebagai berikut :


Sesuai dengan penjelasan umum perkoperasian (pola koperasi) tidak
dapat dipisahkan dari masalah Revolusi pada umumnya (doktrin
Revolusi),
sehingga tantangan-tantangan dari gerakan koperasi hakekatnya
merupakan
tantangan daripada Revolusi itu sendiri
Pengalaman-pengalaman perjuangan kita dalam menghadapi
tantangan-tantangan tersebut, menunjukkan keharusan obyektif adanya
persatuan dan kesatuan segenap potensi dan kekuatan rakyat yang
progresif
Revolusioner berporos Nasakom, yang pelaksanaannya diatur dengan
kegotong-royongan antara Pemerintah dengan kekuatan-kekuatan
Nsakom.
Selanjutnya peranan gerakan koperasi dalam demokrasi terpimpin dan
ekonomi terpimpin diatur didalam pasal 6 dan pasal 7. Pasal 6 berbunyi
sebagai berikut : Gerakan Koperasi mempunyai peranan :
a) Dalam tahap nasional demokrasis :
1. Mempersatukan dan memobilisir seluruh rakyat pekerja dan
produsen
kecil yang merupakan tenaga-tenaga produktif untuk meningkatkan
produksi, mengadilkan dan meratakan distribusi;
2. Ikut serta menghapus sisa-sisa imperalisme, kolonialisme dan
feodalisme;

3. Membantu memperkuat sector ekonomi Negara yang memegang


posisi memimpin;
4. Menciptakan syarat-syarat bagi pembangunan masyarakat sosialis
Indonesia.
b) Dalam Tahap sosialisme Indonesia :
1. Menyelenggarakan tata ekonomi tanpa adanya penghisapan oleh
manusia atas manusia;
2. Meningkatkan tingkat hidup rakyat jasmaniah dan rokhaniah;
3. Membina dan mengembangkan swadaya dan daya kreatif rakyat
sebagai perwujudan masyarakat gotong-royong.
Pasal 7 menyatakan sebagai berikut :
1. Pemerintah menetapkan kebijaksanaan pokok perkoperasian.
2. Dengan Peraturan Pemerintah diatur hubungan antara gerakan
koperasi
dengan Pemerintah, Perusahaan Negara/Perusahaan Daerah dan
swasta
bukan koperasi. Memori penjelasannya menyatakan : Untuk
menjamin
asas Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin kebijaksanaan
perkoperasian ditetapkan oleh Pemerintah.
Bersamaan dengan disyahkannya UU No. 14 tahuhn 1965
dilangsungkan Musyawarah Nasional KOperasi (Munaskop) II di Jakarta
yang
pada dasarnya merupakan ajang legitiminasi terhadap masuknya

kekuatankekuatan
politik di dalam koperasi sebagaimana diatur oleh UU
Perkoperasian tersebut. Dalam kesempatan tersebut, juga diputuskan
bahwa
KOKSI (Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia) Menyatakan
keluar dari keanggotaan ICA.
Tindakan berselang lama yakni dalam bulan September 1965 terjadi
pemberontakan Gerakan 30 September yang didalangi oleh Partai
Komunis
Indonesia (PKI) yang terpengaruh besar terhadap pengembangan
koperasi.
Mengingat dalam UU no. 14 tahun 1965 secara tegas memasukan warna
politik di dalam kehidupan perkoperasian, maka akibat pemberontakan
G30S/PKI pelaksanaanya perlu di pertimbangkan kembali. Bahkan
segera
disusul langkah-langkah memurnikan kembali kekoprasi kepada azasazas
yang murni dengan cara deverpolitisering . Koperasi-koperasi
menyelenggarakan rapat anggota untuk memperbaharui kepengurusan
dan
Badan Pemeriksaannya. Reorganisasi dilaksanakan secara menyeluruh
untuk memurnikan koperasi di atas azas-azas koperasi yang sebenarnya
(murni).

IV. PERKEMBANGAN KOPERASI PADA MASA ORDE BARU


Pemberontakan G30S/PKI merupakan malapetaka besar bagi rakyat
dan bangsa Indonesia. Demikian pula hal tersebut didalami oleh gerakan
koperasi di Indonesia. Oleh karena itu dengan kebulatan tekad rakyat dan
bangsa Indonesia untuk kembali dan melaksanakan UUD-1945 dan
Pancasila secara murni dan konsekwen, maka gerakan koperasi di
Indonesia tidak terkecuali untuk melaksanakannya. Semangat Orde Baru
yang dimulai titik awalnya 11 Maret 1996 segera setelah itu pada tanggal
18 Desember 1967 telah dilahirkan Undang-Undang Koperasi yang baru
yakni dikenal dengan UU No. 12/1967 tentang Pokok-pokok
Perkopersian.
Konsideran UU No. 12/1967 tersebut adalah sebagai berikut ;
1. Bahwa Undang-Undang No. 14 Tahun 1965 tentang Perkoperasian
mengandung pikiran-pikiran yang nyata-nyata hendak :
a. menempatkan fungsi dan peranan koperasi sebagai abdi langsung
daripada politik. Sehingga mengabaikan koperasi sebagai wadah
perjuangan ekonomi rakyat.
b. menyelewengkan landasan-landasan, azas-azas dan sendi-sendi
dasar koperasi dari kemrniannya.
2. a. Bahwa berhubung dengan itu perlu dibentuk Undang-Undang baru
yang
sesuai dengan semangat dan jiwa Orde Baru sebagaimana
dituangkan
dalam Ketepatan-ketepatan MPRS Sidang ke IV dan Sidang

Istimewa
untuk memungkinkan bagi koperasi mendapatkan kedudukan
hokum
dan tempat yang semestinya sebagai wadah organisasi perjuangan
ekonomi rakyat yang berwatak sosial dan sebagai alat
pendemokrasian ekonomi nasional.
b. Bahwa koperasi bersama-sama dengan sector ekonomi Negara dan
swasta bergerak di segala sektor ekonomi Negara dan swasta
bergerak di segala kegiatan dan kehidupan ekonomi bangsa dalam
rangka memampukan dirinya bagi usaha-usaha untuk mewujudkan
masyarakat Sosialisme Indonesia berdasarkan Panvcasila yang adil
dan makmur di ridhoi Tuhan Yang Maha Esa.
3. Bahwa berhubungan dengan itu, maka Undang-Undang No. 14 tahun
1965 perlu dicabut dan perlu mencerminkan jiwa, serta cita-cita yang
terkandung dalam jelas menyatakan, bahwa perekonomian Indonesia
disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan
dan koperasi adalah satu bangunan usaha yang sesuai dengan susunan
perekonomian yang dimaksud itu. Berdasarkan pada ketentuan itu dan
untuk mencapai cita-cita tersebut Pemerintah mempunyai kewajiban
membimbing dan membina perkoperasian Indonesia dengan sikap ing
ngarsa sung tulada, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani .
Dalam rangka kembali kepada kemurnian pelaksanaan UndangUndang Dasar 1954, sesuai pula dengan Ketetapan MPRS No.
XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaharuan Kebijaksanaan Landasan

Ekonomi,
Keuangan dan Pembangunan, maka peninjauan serta perombakan
UndangUndang No. 14 tahun 1965 tentang Perkoperasian merupakan suatu
keharusan karena baik isi maupun jiwanya Undang-Undang tersebut
mengandung hal-hal yang bertentangan dengan azas-azas pokok,
landasan
kerja serta landasan idiil koperasi, sehingga akan menghambat kehidupan
dan perkembangan serta mengaburkan hakekat koperasi sebagai
organisasi
ekonomi rakyat yang demokratis dan berwatak social.
Peranan Pemerintah yang terlalu jauh dalam mengatur masalah
perkoperasian Indonesia sebagaimana telah tercermin di masa yang
lampau
pada hakekatnya tidak bersifat melindungi, bahkan sangat membatasi
gerak
serta pelaksanaan strategi dasar perekonomian yang tidak sesuai dengan
jiwa dan makna Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33. Hal yang
demikian itu
akan menghambat langkah serta keswakertaan yang sesungguhnya
merupakan unsur pokok dari azas-azas percaya pada diri sendiri yang
pada
gilirannya akan dapat merugikan masyarakat sendiri.
Oleh karenanya sesuai dengan Ketetapan MPRS No. XIX/MPRS/1966

dianggap perlu untuk mencabut dan mengganti Undang-Undang No. 14


tahun 1965 tentang Perkoprasian tersebut dengan Undang-Undang baru
yang benar-benar dapat menempatkan koperasi pada fungsi yang
semestinya yakni sebagai alat dari Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33
ayat (1)
Di bidang idiil, koperasi Indonesia merupakan satu-satunya wadah
untuk menyusun perekonomian rakyat berazaskan kekeluargaan dan
kegotong-royongan yang merupakan cirri khas dari tata kehidupan
bangsa
Indonesia dengan tidak memandang golongan, aliran maupun
kepercayaan
yang dianut seseorang. Kiperasi sebagai alat pendemokrasian ekonomi
nasional dilaksanakan dalan rangka dalam rangka politik maupun
perjuangan
bangsa Indonesia.
Di bidang organisasi koperasi Indonesia menjamin adanya hak-hak
individu serta memegamg teguh azas-azas demokrasi. Rapat Anggota
merupakan kekuasaan tertinggi di dalam tata kehidupan koperasi,
Koperasi mendasarkan geraknya pada aktivitas ekonomi dengan tidak
meninggalkan azasnya yakni kekeluargaan dan gotong-royong.
Dengan berpedoman kepada Ketetapan MPRS No. XXIII/MPRS/1966
Pemerintah memberikan bimbingan kepada koperasi dengan sikap seperti
tersebut di atas serta memberikan perlindungan agar koperasi benar-benar
mampu melaksanakan pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 beserta

penjelasannya.
Menurut pasal. 3 UU No. 12/1967, koperasi Indonesia adalah
organisasi ekonomi rakyat yang berwatak social, beranggotakan orangorang
atau badan hukum koperasi yang merupakan tata azas kekeluargaan.
Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa koperasi Indonesia adalah
kumpulan orang-orang yang sebagai manusia secara bersamaan, bekerja
untuk memajukan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka dan
kepentingan masyarakat.
Dari pengertian umum di atas, maka cirri-ciri seperti di bawah ini
seharusnya selalu nampak:
a. Bahwa koperasi Indonesia adalah kumpulan orang-orang dan bukan
kumpulan modal. Pengaruh dan penggunaan modal dalam koperasi
Indonesia tidak boleh mengurangi makna dan tidak boleh
mengaburkan
pengertian koperasi Indonesia berdasarkan perkumpulan orang-orang
dan bukan sebagai perkumpulan modal. Ini berarti bahwa koperasi
Indonesia harus benar-benar mengabdikan kepada perikemanusiaan
dan bukan kepada kebendaan;
b. Bahwa koperasi Indonesia bekerjasama, bergotong-royong
berdasarkan
persamaan derajat, hak dan kewajiban yang berarti koperasi adalah dan
seharusnya merupakan wadah demokrasi ekonomi dan social. Karena
dasar demokrasi ini, milik para anggota sendiri dan pada dasarnya

harus
diatur serta diurus sesuai dengan keinginan para anggota yang berarti
bahwa hak tertinggi dalam koperasi terletak pada Rapat Anggota.
c. Bahwa segala kegiatan koperasi Indonesia harus didasarkan atas
kesadaran para anggota. Dalam koperasi tidak boleh dilakukan
paksaan, ancaman, intimidasi dan campur tangan dari pihak-pihak lain
yang tidak ada sangkut-pautnya dengan soal-soal intern koperasi;
d. Bahwa tujuan koperasi Indonesia harus benar-benar merupakan
kepentingan bersama dari para anggotanya dan disumbangkan para
anggota masing-masing. Ikut sertanya anggota sesuai dengan kecilnya
karya dan jasanya harus dicerminkan pula dalam hal pembagian
pendapatan dalam koperasi.
Dengan berlakunya UU No. 12/1967 koperasi-koperasi yang telah
berdiri harus melaksanakan penyesuaian dengan cara menyelenggarakan
Anggaran dan mengesahkan Anggaran Dasar yang sesuai dengan
UndangUndang tersebut. Dari 65.000 buah koperasi yang telah berdiri ternyata
yang
memenuhi syarat sekitar 15.000 buah koperasi saja. Sedangkan
selebihnya
koperasi-koperasi tersebut harus dibubarkan dengan alasan tidak dapat
menyesuaikan terhadap UU No. 12/1967 dikarenakan hal-hal sebagai
berikut:
a. Koperasi tersebut sudah tidak memiliki anggota ataupun pengurus

serta
Badan Pemeriksa, sedangkan yang masih tersisa adalah papan nama;
b. Sebagian besar pengurus dan ataupun anggota koperasi yang
bersangkutan terlibat G30S/PKI ;
c. Koperasi yang bersangkutan pada saat berdirinya tidak dilandasi oleh
kepentingan-kepentingan ekonomi, tetapi lebih cenderung karena
dorongan politik pada waktu itu ;
d. koperasi yang bersangkutan didirikan atas dasar fasilitas yang tesedia,
selanjutnya setelah tidak tersedia fasilitas maka praktis koperasi telah
terhenti.
Sejak awal Pelita I pelaksanaan pembangunan telah diarahkan untuk
menyentuh segala kehidupan bangsa sebagai suatu gerak perubahan
kearah kemajuan. Seperti halnya Negara-negara berkembang yang
menderita penjajahan di masa lalu, maka pembangunan yang berlangsung
dalam suatu hubungan kemasyarakatan yang terbentuk dalam
kemerdekaan, merupakan gerak perubahan yang bersifat mendasar dan
menyeluruh. Dalam kaitan ini, proses pembangunan yang berlangsung
dalam periode transisional dari hubungan saling pengaruh mempengaruti
yang berlaku dalam lingkungan masyarakat colonial kea rah susunan dan
hubungan kemasyarakatan baru, sungguh merupakan pekerjaan besar
yang tidak mudah.
Periode pelita I pembangunan perkoperasian menitikbertkan pada
investasi pengetahuan dan ketrampilan orang-orang koperasi, baik
sebagai orang gerakan koperasi maupun pejabat-pejabat perkoperasian.

Untuk memberikan peranan pada koperasi di masa dating sebagai


konsekuensi Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat (1), maka
koperasi-koperasi perlu dilandasi lebih dulu dengan jiwa koperasi yang
mendalam, perlengjkapan perlengkapan pengetahuan dan ketrampilan di
bidang mental, organisasi, usaha dan ketatalaksanaan agar mampu terjun
di tengah-tengah arena pembangunan. Untuk melaksanakan tujuan ini
maka Pemerintah membangun Pusat-pusat Pendidikan Koperasi
(PUSDIKOP) di tingkat Pusat
dan juga di tiap ibukota Propinsi. Pusat Pendidikan Koperasi tersebut
sekarang dirubah menjadi Pusat Latihan dan Penataran Perkoperasian
(PUSLATPENKOP) di tingkat Pusat dan Balai Latihan Perkoperasian
(BALATKOP) di tingkat Daerah.
Di samping investasi mental ini telah dimulai pula rintisan investasi fisik
dan financial untuk melatih koperasi bergerak di bidang ekonomi. Untuk
itu maka di samping pembinaan usaha dan tatalaksana didirikan pula
Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) di tahun 1970 yang menjamin
pinjamanpinjaman koperasi dari bank-bank Pemerintah, secara selektif
dan bertahap. Di samping itu LJKK juga berperan untuk ikut dalam
partisipasi modal pada proyek kredit investasi sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Dalam kebijakan tertentu, Pemerintah atas dasar
pertimbangannya apabila dinilai bunga atas sesuatu kredit pada koperasi
terlalu tinggi, LJKK memberikan subsidi bunga. Sekarang Lembaga
Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) dirubah statusnya menjadi Perusahaan
Umum Pengembangan Keuangan Koperasi (PERUM PKK).

Untuk mengatasi kelemahan organisasi dan memajukan manajemen


koperasi maka sejak tahun1972 dikembangkan penggabungan
koperasikoperasi kecil menjadi koperasi-koperasi yang besar. Daerahdaerah di pedesaan dibagi dalam wilayah-wilayah Unit Desa (WILUD)
dan koperasikoperasi yang yang ada dalam wilayah unit desa tersebut
digabungkan menjadi organisasi yang besar dan dinamakan Badan Usaha
Unit Desa (BUUD). Pada akhirnya koperasi-koperasi desa yang
bergabung itu dibubarkan, selanjutnya BUUD menjelmas menjadi KUD
(Koperasi Unit Desa). Karena secara ekonomi menjadi besar dan kuat,
maka BUUD/KUD itu mampu membiayai tenaga-tenaga yang cakap
seperti manajer, juru buku, juru mesin, juru toko dan lain-lain. Juga
BUUD/KUD itu dipercayai untuk meminjam uang dari Bank dan
membeli barang-barang produksi yang lebih
modern, sesuai dengan tuntutan kemajuanzaman (mesin gilingan padi,
traktor, pompa air, mesin penyemprot hama dan lain-lain). Ketentuanketentuan yang mengatur tentang Wilayah Unit Desa, BUUD/KUD
dituangkan dalam Instruksi Presiden No.4/1973 yang selanjutnya
diperbaharui menjadi Instruksi Presiden No.2/1978 dan kemudian
disempurnakan menjadi Instruksi Presiden No.4/1984.
Dalam kenyataannya meskipun arus sumber-sumber daya pembangunan
yang dicurahkan untuk mengatasi kemiskinan, khususnya di daerahdaerah pedesaan, belum pernah sebesar seperti dalam era pembangunan
selama ini, namun kita sadarai sepenuhnya bahwa gejala kemiskinan
dalam bentuk yang lama maupun yang baru masih dirasakan sebagai

masalah mendasar dalam pembangunan nasional.


Keadaan yang telah berlangsung lama tersebut membuat masyarakat
yang tergolong miskin dan lemah ekonominya belum pernah mampu
untuk ikut memanfaatkan secara optimal berbagai sumber pendapatan
yang sebenarnya tersedia. Pada umumnya masyarakat yang termasuk
golongan ini antara lain : kelompok petani, buruh tani, nelayan yang
hidup di desa-desa dan kelompok pekerja kasar di kota-kota bahkan
meliputi pula kelompok penerima dengan hasil tetap seperti karyawankaryawan perusahaan serta pegawai-pegawai kecil. Mereka miskin dan
lemah karena mereka tidak memiliki modal yang cukup dan ketrampilan
serta pendidikan yang layak. Namun demikian, di samping kelemahan
yang ada, dapat pula dicatat
berbagai potensi yang mereka miliki. Potensi dan kekuatan tersebut
antara
lain :
(1). bahwa ada kemauan dan kemampuan bekerja keras dan keuletan
untuk
dapat tumbuh dan berkembang;
(2). bahwa sebagian besar dari mereka adalah pekerja dalam bidang
pertanian yang mempengaruhi dan menentukan kekuatan
perkekonomian nasional;
(3). bahwa sejumlah besar mereka (70 sampai dengan 80% rakyat
Indonesia tinggal di daerah pedesaan); dan
(4). bahwa pada dasarnya mereka memiliki potensi social ekonomi yang

dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pendekatan pembangunan


yang bersifat khusus.
Sedangkan untuk keberhasilan koperasi di dalam melaksanakan
peranannya perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
1. Kemampuan menciptakan posisi pasar dan pengawasan harga yang
layak oleh, dengan cara :
a. bertindak bersama dalam menghadapi pasar melalui pemusatan
kekuatan bersaing dari anggota;
b. memperpendek jaringan pemasaran;
c. Memiliki manajer yang cukup trampil berpengetahuan luas dan
memiliki idealisme;
d. Mempunyai dan meningkatkan kemampuan koperasi sebagai satu
unit usaha dalam mengatur jumlah dan kualitas barang-barang yang
dipasarkan melalui kegiatan pergudangan, penelitian kualitas yang
cermat dan sebagainya.
2. Kemampuan koperasi untuk menghimpun dan menanamkan kembali
modal, dengan cara pemupukan pelbagai sumber keuangan dari
sejumlah besar anggota.
3. Penggunaan faktor-faktor produksi yang lebih ekonomis melalui
pembebanan biaya over head yang lebih, dan mengusahakan
peningkatan kapasitas yang pada akhirnya dapat menghasilkan biaya
per unit yang relative kecil
4. Terciptanya ketrampilan teknis di bidang produksi, pengolahan dan
pemasaran yang tidak mungkin dapat dicapai oleh para anggota secara

sendiri-sendiri.
5. Pembebasan resiko dari anggota-anggota kepada koperasi sebagai satu
unit usaha, yang selanjutnya hal tersebut kembali ditanggung secara
bersama di antara anggota-anggotanya.

6. Pengaruh dari koperasi terhadap anggota-anggotanya yang berkaitan


dengan perubahan sikap dan tingkah laku yang lebih sesuai dengan
perubahan tuntutan lingkungan di antaranya perubahan teknologi,
perubahan pasar dan dinamika masyarakat.
Pemerintah di dalam mendorong perkoperasian telah menerbitkan
sejumlah kebijaksanaan-kebijaksanaan baik yang menyangkut di dalam
pengembangan di bidang kelembagaan, di bidang usaha, di bidang
pembiayaan dan jaminan kredit koperasi serta kebijaksanaan di dalam
rangka penelitian dan pengembangan perkoperasian. Sebagai gambaran
perkembangan koperasi setelah masa Orde Baru dapat diikuti pada table
berikut.
Garis-Garis Besar haluan Negara 1988 menetapkan bahwa koperasi
dimungkinkan bergerak di berbagai sector kegiatan ekonomi, misalnya
sektor-sektor : pertanian, industri, keuangan, perdagangan, angkutan dan
sebagainya.
Dalam pola umum Pelita ke lima menyebutkan bahwa : Dunia usaha
nasional yang terdiri dari usaha Negara koperasi dan usaha swasta perlu
terus dikembangkan menjadi usaha yang sehat dan tangguh dan
diarahkan agar mampu meningkatkan kegairahan dan kegiatan ekonomi
serta pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, memperluas lapangan
kerja, meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat,
serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan memantapkan
ketahanan nasional. Dalam hal ini perlu diperluas kesempatan berusaha
serta ditumbuh kembangkan swadaya dan kemampuan berusaha
khususnya bagi koperasi, usaha kecil serta usaha informal dan
tradisional, baik usaha masyarakat di pedesaan maupun di perkotaan.
Selanjutnya perlu disiptakan iklim usaha yang sehat serta tata hubungan
yang mendorong tumbuhnya kondisi saling menunjang antara usaha

Negara, usaha koperasi dan usaha swasta


keterkaitan yang saling menguntungkan dan adil sntara golongan
ekonomi kuat dan golongan ekonomi lemah (butir 2).
Untuk mewujudkan demokrasi ekonomi seperti yang dikehendaki
dalam undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 1 berikut penjelasan,
Pola Umum Pelita V juga menyebutkan : Dalam rangka mewujudkan
demokrasi ekonomi, koperasi harus makin dikembangkan dan
ditingkatkan kemampuannya serta dibina dan dikelola secara efisien.
Dalam rangka meningkatkan peranan koperasi dalam kehidupan ekonomi
nasional, koperasi perlu dimasyarakatkan agar dapat tumbuh dan
berkembang sebagai gerakan dari masyarakat sendiri. Koperasi di bidang
produksi, konsumsi, pemasaran dan jasa perlu terus didorong, serta
dikembangkan dan ditingkatkan kemampuannya agar makin mandiri dan
mampu menjadi pelaku
uatama dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Pembinaan yang tepat
atas koperasi dapat tumbuh dan berkembang secara sehat serta hasil-hasil
usahanya makin dinikmati oleh para anggotanya, Koperasi Unit Desa
(KUD)
perlu terus dibina dan dikembangkan agar tumbuh sehat dan kuat
sehingga
koperasi akan semakin berakar dan peranannya makin besar dalam
kehidupan sosial ekonomi masyarakat terutama di pedesaan (butir d.
33).
Dalam Pelita V kebijakan pembangunan tetap bertumpu pada trilogy

pembangunan dengan menekankan pemerataa pembangunan dan


hasilhasilnya
menuju terciptanya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia,
yang disertai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi serta stabilitas
yang
mantap. Ketiga unsure Trilogi Pembangunan tersebut saling mengkait
dan
saling memperkuat serta perlu dikembangkan secara selaras, serasi dan
seimbang.
Dalam memperkokoh kerangka landasan untuk tinggal landas dibidang
ekonomi, peranan koperasi merupakan aspek yang strategis di samping
peran pelaku ekonomi lainnya. Kopperasi harus tumbuh kuat dan mampu
menangani seluruh aspek kegiatan dibidang pertanian, industry yang kuat
dan dibidang perdagangan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.
Sejalan dengan prioritas pembangunan nasional, dalam Pelita V masih
terpusatkan pada sector pertanian, maka prioritas pembinaan koperasi
mengikuti pola tersebut dengan memprioritaskan pembinaan 2.000
sampai
dengan 4.000 KUD Mandiri tanpa mengabaikan pembinaan-pembinaan
terhadap koperasi jenis lain.
Adapun tujuan pembinaan dan pengembangan KUD Mandiri adalah
untuk mewujudkan KUD yang memiliki kemampuan manajemen
koperasi
yang rasional dan efektip dalam mengembangkan kegiatan ekonomi para

anggotanya berdasarkan atas kebutuhan dan keputusan para anggota


KUD.
Dengan kemampuan itu KUD diharapkan dapat melaksanakan fungsi
utamanya yaitu melayani para anggotanya, seperti melayani perkreditan,
penyaluran barang dan pemasaran hasil produksi.
Dalam rangka pengembangan KUD mandiri telah diterbitkan
Instruksi Menteri Koperasi No. 04/Ins/M/VI/1988 tentang Pedoman
Pembinaan dan Pengembangan KUD mandiri. Pembinaan dan
Pengembangan KUD mandiri diarahkan :
1. Menumbuhkan kemampuan perekonomian masyarakat khusunya di
pedesaan.
2. Meningkatkan peranannya yang lebih besar dalam perekonomian
nasional.
3. Memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam peningkatan
kegiatan
ekonomi dan pendapatan yang adil kepada anggotanya.

Ukuran-ukuran yang digunakan untk menilai apakah suatu KUD sudah


mandiri atau belum adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai anggota penuh minimal 25 % dari jumlah penduduk
dewasa
yang memenuhi persyaratan kenggotaan KUD di daerah kerjanya.
2. Dalam rangka meningkatkan produktivitas usaha anggotany maka
pelayanan kepada anggota minimal 60 % dari volume usaha KUD
secara
keseluruhan.
3. Minimal tiga tahun buku berturut-turut RAT dilaksanan tepat pada
waktunya sesuai petunjuk dinas.
4. Anggota Pengurus dan Badan Pemeriksa semua berasal dari anggota
KUD dengan jumlah maksimal untuk pengurus 5 orang dan Badan
Pemeriksa 3 orang.
5. Modal sendiri KUD minimal Rp. 25,- juta.
6. Hasil audit laporan keuangan layak tapa catatan (unqualified opinion).
7. Batas toleransi deviasa usaha terhadap rencana usaha KUD (Program
dan Non Program) sebesar 20 %.
8. Ratio Keuangan :
Liquiditas, antara 15 % s/d 200 %.
Solvabilita, minimal 100 %.
9. Total volume usaha harus proposional dengan jumlah anggota,
denngan
minimal rata-rata Rp. 250.000,- per anggota per tahun.
10. Pendapatan kotor minimal dapat menutup biaya berdasarkan prinsip
effisiensi.
11. Sarana usaha layak dan dikelola sendiri
12. Tidak ada penyelewengan dan manipulasi yang merugikan KUD oleh
Pengelola KUD.
13. Tidak mempunyai tunggakan.
Keberhasilan atau kegagalan koperasi ditentukan oleh keunggulan
komparatif koperasi. Hal ini dapat dilihat dalam kemampuan koperasi
berkompetisi memberikan pelayanan kepada anggota dan dalam
usahanya
tetap hidup (survive) dan berkembang dalam melaksnakan usaha.
Pengalaman empiris dimancanegara dan di negeri kita sendiri

menunjukkan
bahwa struktur pasar dari usaha koperasi mempengaruhi performance
dan
success koperasi (Ismangil, 1989).

Kelahiran Bapepam
Pada waktu Pasar Modal dihidupkan kembali tahun 1976, dibentuklah
Bapepam, singkatan dari Badan Pelaksana Pasar Modal.
Menurut Keppres No.52/1976, Bapepam bertugas:

Mengadakan penilaian terhadap perusahaan-perusahaan yang akan


menjual saham-sahamnya melalui Pasar Modal apakah telah
memenuhi persyaratan yang ditentukan dan sehat serta baik;

Menyelenggarakan Bursa Pasar Modal yang efektif dan efisien;

terus-menurus mengikuti perkembangan perusahaan-perusahaan


yang menjual saham-sahamnya melalui pasar modal.

Bapepam dipimpin oleh seorang ketua yang diangkat oleh Presiden dan
dalam melaksanakan tugasnya ia bertanggung-jawab kepada Menteri

Keuangan.
Akhir Dualisme
Pada mulanya, selain bertindak sebagai penyelenggara, Bapepam
sekaligus merupakan pembina dan pengawas. Namun akhirnya dualisme
pada diri Bapepam ini ditiadakan pada tahun 1990 dengan keluarnya
Keppres No. 53/1990 dan SK Menkeu No. 1548/1990.
Keluarnya Keppres 53 tentang Pasar Modal dan SK Menkeu No. 1548
tahun 1990 itu menandai era baru bagi perkembangan pasar modal.
Dualisme fungsi Bapepam dihapus, sehingga lembaga ini dapat
memfokuskan diri pada pengawasan pembinaan pasar modal.
Dengan fungsi ini, Bapepam dapat mewujudkan tujuan penciptaan
kegiatan pasar modal yang teratur wajar, efisien, serta melindungi
kepentingan pemodal dan masyarakat. Dibandingkan dengan tugas pokok
Securities Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat, tugas ini
hampir sama. SEC bertugas menjaga keterbukaan pasar modal secara
penuh kepada masyarakat investor dan melindungi kepentingan
masyarakat investor dari malpraktik di pasar modal.
Latar Belakang
1. Meskipun koperasi pertanian pernah menjadi model pengembangan
pada tahun 1960an hingga awal tujuh puluhan, namun pada dasarnya
koperasi pertanian di Indonesia diperkenalkan sebagai bagian dari
dukungan terhadap sektor pertanian. Sejak dahulu sektor pertanian di

Indonesia selalu didekati dengan pembagian atas dasar sub-sektor seperti


pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Cara
pengenalan dan penggerakan koperasi pada saat itu mengikuti program
pengembangan komoditas oleh pemerintah. Sehingga terlahir koperasi
pertanian, koperasi kopra, koperasi karet, koperasi nelayan dan lain-lain.
Dua jenis koperasi yang tumbuh dari bawah dan jumlahnya terbatas
ketika itu adalah koperasi peternakan sapi perah dan koperasi tebu rakyat.
Kedua-duanya mempunyai ciri yang sama yaitu menghadapi pembeli
tunggal pabrik gula dan konsumen kota.
2. Pada sub sektor pertanian tanaman pangan yang pernah diberi nama
pertanian rakyat praktis menjadi instrumen untuk menggerakkan
pembangunan pertanian, terutama untuk mencapai swasembada beras.
Hal serupa juga di ulang oleh pemerintah Orde Baru dengan mengaitkan
dengan pembangunan desa dan tidak lagi terikat ketat dengan
Departemen Pertanian seperti pada masa Orde Lama dan awal Orde
Baru. Tugas koperasi pertanian ketika itu adalah menyalurkan sarana
produksi pertanian terutama pupuk, membantu pemasaran yang
kesemuanya berkaitan dengan program pembangunan sektor pertanian
dan pengerakannya kepada koperasi selalu apabila gagal dilaksanakan
sendiri atau langsung oleh pemerintah, contoh padi sentra, kredit BIMAS
hingga distribusi pupuk.
3. KUD sebagai koperasi berbasis wilayah jumlahnya hanya 8620 unit
dan pendiriannya memang tidak terlalu luas. Hingga menjelang
dicabutnya Inpres 4/1984 KUD hanya mewakili 25% dari jumlah

koperasi yang ada ketika itu, namun dalam hal bisnis mereka mewakili
sekitar 43% dari seluruh volume bisnis koperasi di Indonesia. KUD
meskipun bukan koperasi pertanian namun secara keseluruhan
dibandingkan koperasi lainnya tetap lebih mendekati koperasi pertanian
dan karakternya sebagai koperasi berbasis pertanian juga sangat
menonjol. Diantara koperasi yang ada di Indonesia yang jumlahnya pada
saat ini lebih dari 103 ribu unit, KUD termasuk yang mempunyai jumlah
KUD aktif tertinggi yaitu 92% atau sebanyak 7931 unit KUD pada saat
ini tidak berbeda dengan koperasi lainnya dan tidak memperoleh
privilege khusus, tidak terikat dengan wajib ikut program sektoral,
sehingga pada dasarnya sudah menjadi koperasi otonomi yang memiliki
rata-rata anggota terbesar.
4. Koperasi pertanian yang digerakan melalui pengembangan
kelompok tani setelah keluarnya Inpres 18/1998 mempunyai jumlah yang
besar, namun praktis belum memiliki basis bisnis yang kuat dan mungkin
sebagian sudah mulai tidak aktif lagi. Usaha mengembangkan koperasi
baru di kalangan tani dan nelayan selalu berakhir kurang
menggembirakan. Mereka yang berhasil jumlah terbatas dan belum dapat
dikategorikan sebagai koperasi pertanian sebagai mana lazimnya
koperasi pertanian di dunia atau bahkan oleh KUD-khusus pertanian
yang ada.
Posisi Pertanian : Kini dan Ke Depan
5. Posisi sektor pertanian sampai saat ini tetap merupakan penyedia
lapangan kerja terbesar dengan sumbangan terhadap pembentukan

produksi nasional yang kurang dari 19%. Jika dimasukkan keseluruhan


kegiatan off form yang terkait dan sering dinyatakan sebagai sektor
agribisnis juga hanya mencakup 47%, sehingga dominasi pembentukan
nilai tambah juga sudah berkurang dibandingkan dengan sektor-sektor di
luar pertanian. Isue peran pertanian sebagai penyedia pangan, bentuk
ketahanan pangan juga menurun derajat kepentingan nya.
6. Ditinjau dari unit usaha pertanian terdapat 23,76 juta unit atau 59%
dari keseluruhan unit usaha yang ada. Disektor pertanian hanya terdapat
23,76 juta usaha kecil dengan omset dibawah 1 miliar/tahun dimana
sebagian terbesar dari usaha tersebut adalah usaha mikro dengan omset
dibawah Rp. 50 juta/thn. Secara kasar dapat diperhitungkan bahwa hanya
sekitar 670 ribu unit usaha kecil di sektor pertanian yang bukan usaha
mikro, oleh karena itu daya dukungnya sangat lemah dalam memberikan
kesejahteraan bagi para pekerja. Sementara itu penguasaan tanah
berdasarkan sensus pertanian 1993 sekitar 43% tanah pertanian berada di
tangan 13% rumah tangga dengan pemilikan diatas 1 hektar saja.
Sehingga petani besar sebenarnya potensial dilihat sebagai modal untuk
menjadi lokomotif pembangunan pertanian.
7. Problematika sektor pertanian di Indonesia yang akan
mempengaruhi corak pengembangan koperasi pertanian dimasa depan
adalah issue kesejahteraan petani, peningkatan produksi dalam suasana
desentralisasi dan perdagangan bebas. Bukti empiris di dunia
Mengungkapkan bahwa pertanian keluarga tidak mampu menopang
kesejahteraan yang layak setara dengan sektor lainnya dalam suasana

perdagangan bebas. Thema ini menjadi penting untuk melihat arah


kebijakan pertanian dalam jangka menengah dan panjang, terutama
penetapan pilihan sulit yang melilit sektor pertanian akibat berbagai
Rasionalisasi. Kelangsungan hidup koperasi pertanian dimasa lalu sangat
terkait politik reservasi tersebut, dan ke depan hal ini juga akan sangat
menentukan.
8. Untuk melihat posisi koperasi secara kritis perlu didasarkan pada
posisi sektor pertanian yang semakin terbuka dan bebas. Dengan dasar
bahwa proses liberalisasi perdagangan yang berdampak pada sektor
pertanian dalam bentuk dihapuskan kebijakan perencanaan pertanian
yang kaku dan terpokus. Sehingga pengekangan program pembangunan
pertanian tidak mungkin lagi dijalankan secara bebas, tetapi hanya dapat
dilakukan secara lokal dan harus sesuai dengan potensi lokal. Olah
karena itu prinsip pengembangan pertanian akan lebih bersifat insentif
driven ketimbang program driven seperti dimasa lalu. Dengan demikian
corak koperasi pertanian akan terbuka tetapi untuk menjamin
kelangsungan hidupnya akan terbatas pada sektor selektif yang
memenuhi persyaratan tumbuhnya koperasi.
Sketsa Koperasi Pertanian di Masa Depan
9. Perkembangan koperasi pertanian ke depan digambarkan sebagai
restrukturisasi koperasi yang ada dengan fokus pada basis penguatan
ekonomi untuk mendukung pelayanan pertanian skala kecil. Oleh karena
itu konsentrasi ciri umum koperasi pertanian di masa depan adalah
koperasi kredit pedesaan, yang menekankan pada kegiatan jasa keuangan

dan simpan pinjam sebagai ciri umum. Pada saat ini saja hampir di semua
KUD, unit simpan pinjam telah menjadi motor untuk menjaga
kelangsungan hidup Koperasi. Sementara kegiatan pengadaan sarana
produksi dan pemasaran hasil menjadi sangat selektif. Hal ini terkait
dengan struktur pertanian dan pasar produk pertanian yang semakin
kompetitif, termasuk jasa pendukung pertanian (jasa penggilingan dan
pelayanan lainnya) yang membatasi insentif berkoperasi.
10. Koperasi Nelayan karena kekuatan utamanya terletak pada
kekuatan monopoli penguasaan pendaratan dan lelang oleh pemerintah,
akan sangat di tentukan oleh policy daerah hak itu akan diberikan kepada
siapa ? Pemerintah daerah juga potensial untuk melahirkan pesaing baru
dengan membangun pendaratan baru. Dengan pengorganisasian atas
dasar kesamaan tempat pendaratan pada dasarnya kekuatannya terletak
pada daya tarik tempat pendaratan. Persoalan yang dihadapi koperasi
nelayan ke depan adalah alih fungsi dari "nelayan tangkap" menjadi
nelayan budidaya, karena hampir sebagian terbesar perairan perikanan
pantai sudah di kategorikan overfishing. Fenomena ini juga terjadi di
negara seperti Canada, Korea Selatan dan Eropa dimana koperasi nelayan
sedang menghadapi situasi surut.
11. Koperasi perkebunan tetap mempunyai prospek yang bagus
terutama yang terkait dengan industri pengolahan. Namun dalam situasi
kesulitan menarik investasi karena kurangnya insentif, kebangkitan ini
akan tertunda. Potensi besar sektor perkebunan untuk memanfaatkan
kelembagaan koperasi dapat direalisasi dengan dukungan restrukturisasi

status aset anggota dalam koperasi atau pengenalan konsep "saham"


sebagai equity dibanding "simpanan" yang tidak transferable.
12. Koperasi di sub sektor peternakan terutama peternakan sapi perah
apapun kebijakan yang ditempuh akan mampu berkembang dengan
karakter koperasi yang kental. Prasyarat untuk memajukan koperasi di
bidang persusuan ini dalam menghadapi persaingan global antara lain:
a. Bebaskan anggota yang ada hingga usahanya minimal skala mikro atau
minimal 10 ekor/anggota.
b. Bebaskan setiap koperasi hingga mencapai satuan yang layak sebagai
kluster peternakan minimal 15.000liter/hari dan idealnya menuju pada
100.000 liter/hari.
c. Integrasi untuk konsep pertanian dan peternakan agar menjamin
kesatuan unit untuk meningkatkan kepadatan investasi pertanian.
13. Untuk kegiatan pertanian lainnya agar lebih berhati-hati untuk
mengenalkan konsep koperasi ke dalam kegiatan pertanian.
Persyaratan usaha masing-masing anggota, kesesuaian struktur pasar
dan keterkaitan jangka panjang antara bisnis anggota dan kegiatan
koperasi akan tetap menjadi pertimbangan kepentingan untuk
menumbuhkan koperasi pertanian. Pada akhirnya daerah otonom
sebagai suatu kesatuan administrasi harus dilihat sebagai basis
pemusatan koperasi.

DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Arief. 1991. Negara dan Pembangunan, Studi tentang
Indonesia dan Korea Selatan. Indonesia: Yayasan Padi dan Kapas.

Effendi Siregar, Amir. 1991. Arus Pemikiran Ekonomi Politik.


Yogyakarta: PT. TIARA WACANA YOGYA.

Masoed, Mohtar. 2003. Politik, Birokrasi dan Pembangunan.

Rachbini, Didik J. 2004. Ekonomi Politik, Kebijakan dan Strategi


Pembangunan.

Suryono, Agus. 2006. Ekonomi Politik Pembangunan Dalam Perspektif


Teori Ilmu Sosial.. Jawa Timur: Universitas Negeri Malang.

BAB VII
PENUTUP