Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

TUMOR TESTIS

Pembimbing :
Dr. Rochani, Sp.U

Disusun Oleh :
Rahmi Nurfitriani Misilu

2010730154

Yuli Triretno

2010730118

Aryanti Puspitarini

2010730154

KEPANITERAAN KLINIK SMF BEDAH


RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, Puji syukur penyusun panjatkan kehadiran ALLAH SWT atas


terselesaikannya laporan mengenai Peritonitis .
Laporan ini disusun dalam rangka untuk dapat lebih mendalami dan memahami tentang
Tumor Testis. Tujuan khususnya adalah sebagai pemenuhan tugas kepaniteraan SMF Bedah.
Pada kesempatan ini, penyusun ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
Dr.Rochani, Sp.U selaku pembimbing dalam laporan ini.
Semoga dengan adanya laporan ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan berguna
bagi penyusun maupun peserta didik lainnya.
Penyusun menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
penyusun sangat membutuhkan saran dan kritik untuk membangun laporan kasus yang lebih baik
di masa yang akan datang.
Terimakasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Jakarta, April 2015

Penyusun

IDENTITAS PASIEN
2

Nama

: Tn.D

Umur

: 52 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Supir Angkot

Alamat

: Rawamangun

Tanggal Masuk

: 28 Februari 2015

AUTOANAMNESIS
Keluhan utama : benjolan di buah zakar kiri
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan pada buah zakar kiri sejak 1 bulan SMRS.
Benjolan dirasakan semakin lama semakin membesar. Ukuran benjolan tidak dipengaruhi oleh
aktifitas dan tetap sepanjang hari. Os menyangkal benjolan terasa nyeri, merah dan panas.
Namun benjolan terasa berat. Demam (-).
Os menyangkal adanya benjolan di perut dan leher. Keluhan mual dan muntah disangkal. BAK
dan BAB lancar. Sesak, batuk berdarah dan penurunan BB disangkal. Riwayat nyeri punggung
(+), pembesaran payudara disangkal. Riwayat trauma (-), riwayat tidak ditemukannya buah zakar
pada waktu kecil (-). Os baru pertama kali menderita penyakit seperti ini. Os telah menikah dan
mempunyai 1 orang anak.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien belum pernah sakit seperti ini. Hipertensi (-), Penyakit jantung (-), diabetes (-)
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Dari keluarga tidak ada mengeluhkan yang sama seperti pasien. Hipertensi (-), Penyakit jantung
(-), diabetes (-), keganasan (-)
ALERGI
Pasien tidak mempunyai riwayat alergi
RIWAYAT PENGOBATAN
3

Keluhan pasien belum pernah diobati


RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Pasien merokok sudah lama. Sehari bisa 2 bungkus.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran

: Tampak sakit sedang


: Compos Mentis

TD

: 120/80 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 36.6 0C

Pemeriksaan Fisik
Bentuk
Rambut

: Bulat, simetris tanpa kelainan


: Hitam tebal, tidak mudah di cabut

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/Pupil bulat isokor , Refleks cahaya: +/+.

Telinga

: Bentuk normal, serumen -/-, sekret -/-

Hidung

: Bentuk normal, deviasi septum (-), sekret (-)

Mulut

: Bentuk tidak ada kelainan, sianosis (-) lidah kotor (-)

Leher

: pembesaran tiroid (-), JVP tidak meningkat, Tidak


teraba pembesaran KGB leher dan supraclavicula,

Thoraks
Inspeksi

: Hemithorak dekstra sinistra simetris, pembesaran


payudara (-).
4

Palpasi

: Vocal fremitus tactil dextra dan sinistra normal

Perkusi

: Sonor disemua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler paru kanan dan kiri, ronchi(-), wheezing(-)

Jantung
Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus kordis teraba di ICS V midclavicula sinistra

Perkusi
Batas jantung kanan : ICS IV parasternal dekstra
Batas jantung kiri

: ICS IV midclavicula sinistra

Pinggang jantung

: ICS III parasterna lsinistra

Auskultasi

: BJ1 BJ2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: abdomen datar, simetris, tidak terlihat massa

Palpasi

: soepel, tidak teraba pembesaran hepar dan lien,


nyeri tekan (-), defans muscular (-)

Perkusi

: timpani di seluruh kuadran abdomen

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Ekstremitas
Superior

: oedem (-), akral hangat

Inferior

: oedem (-), akral hangat

STATUS LOKALIS
Regio
Inspeksi

: Scrotum sinistra
: terlihat benjolan pada scrotum kiri, warna sama
kulit sekitar, luka (-), ekskoriasi (-), darah (-)

dengan
5

Palpasi

: benjolan sebesar telur ayam ras, konsistensi benjolan


keras, permukaan rata, tidak teraba hangat, nyeri
tekan (-).

Aukulstasi

: BU (-) Transluminasi (-)

Scrotum dextra

: tidak terdapat kelainan

RESUME
Pasien Tn.D, 52 thn datang dengan keluhan terdapat benjolan di Scrotum kiri sejak 1 bulan
terakhir. Benjolan terasa semakin membesar, tidak nyeri dan tidak dipengaruhi aktifitas. Pada
pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal.
Status lokalis :
Regio
Inspeksi

: Scrotum sinistra
: terlihat benjolan pada scrotum kiri, warna sama
kulit sekitar, luka (-), ekskoriasi (-), darah (-)

Palpasi

dengan

: benjolan sebesar telur ayam ras, konsistensi benjolan


keras, permukaan rata, tidak teraba hangat, nyeri
tekan (-).

Aukulstasi

: BU (-) Transluminasi (-)

Scrotum dextra

: tidak terdapat kelainan

DIAGNOSIS BANDING
Tumor testis sinistra
Hidrokel
DIAGNOSIS KERJA
Tumor Testis Sinistra
USULAN PEMERIKSAAN
Laboratorium darah lengkap dan urinalisis
USG Testis
CT Scan abdomen
6

Penanda tumor : AFP, beta HCG, LDH


Thorax fhoto
PENATALAKSANAAN
Pembedahan : Orkiektomi

BAB I
PENDAHULUAN
Tumor merupakan sel neoplastik yang otonom dalam arti tumbuh dengan kecepatan yang tidak
terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada
7

pengawasan homeostasis sebagian besar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplastik biasanya
progresif, yaitu tidak mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan
massa sel yang mempunyai sifat-sifat yang sama. Neoplasma tidak melakukan tujuan adaptif
yang menguntungkan hospes, tetapi lebih sering membahayakan.
Tumor dapat bersifat ganas atau jinak, tumor ganas atau kanker terjadi karena timbul dan
berkembang biaknya sel jaringan sekitarnya (infiltratif) sambil merusaknya (destruktif), dapat
menyebar ke bagian lain tubuh dan umumnya fatal jika dibiarkan. Tumor jinak tumbuh dengan
batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi membesar dan menekan jaringan
sekitarnya (ekspansif).
Frekuensi relatif kanker pada beberapa daerah di Indonesia tidak sama, yang banyak ditemukan
ialah karsinoma servik uteri, karsinoma hepatoseluler, karsinoma payudara, karsinoma paru dan
leukemia. Pada dasawarsa terakhir telah terbukti bahwa 80-90% kasus kanker pada manusia
dipromosi oleh faktor lingkungan. Dalam hal ini, lingkungan dalam arti luas yang meliputi gaya
hidup, bahan kimia, fisika, maupun virus.
Tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria berusia diantara 15-35 tahun dan
merupakan 1-2% dari semua neoplasma pada pria. Akhir-akhir ini terdapat perbaikan usia
harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi jika dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu,
karena sarana diagnosis lebih baik, diketemukan petanda tumor, diketemukan regimen
kemoterapi dan radiasi, serta teknik pembedahan yang lebih baik. Angka mortalitas menurun dari
50% (1970) menjadi 5% (1977).
Dari semua tumor maligna pada laki-laki 1-2% terlokalisasi di dalam testis. Kira-kira 90% dari
semua tumor testis primer terdiri atas tumor sel embrional, selanjutnya dapat dijumpai tumor sel
Sertoli-Leydig dan limfoma maligna. Insidensi tumor sel embrional maligna di Nederland adalah
kira-kira 4 per 100.000 laki-laki tiap tahun. Ini berarti bahwa tiap tahun kira-kira 300 penderita
baru didiagnosis dengan kelainan maligna ini. Tumor-tumor sel embrional maligna testis
merupakan tumor maligna yang paling sering terdapat pada laki-laki usia 20-40 tahun meskipun
pada penderita kurang dari 5 tahun dan lebih dari 70 tahun juga dapat dijumpai tumor testis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi testis
9

Testis adalah organa genitalia pria yang terletak di scrotum. Ukuran testis pada orang dewasa
adalah 4x3x2,5 cm, dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid. Kedua buah testis terbungkus
oleh jaringan Tunika albuginea yang melekat pada testis. Diluar Tunika albuginea terdapat
Tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan parietalis, serta Tunika dartos. Otot
kremaster yang berada di sekitar testis memungkinkan testis dapat digerakkan mendekati rongga
abdomen untuk mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil.
Testis bagian dalam terbagi atas lobulus yang terdiri dari Tubulus seminiferus, sel-sel Sertoli dan
sel-sel Leydig. Produksi sperma atau spermatogenesis terjadi pada T. seminiferus. Sel-sel Leydig
mensekresi testosteron. Pada bagian posterior tiap-tiap testis terdapat duktus melingkar yang
disebut epididimis, bagian kepalanya berhubungan dengan duktus seminiferus (duktus untuk
aliran keluar) dari testis, dan bagian ekornya terus melanjut ke vas deferens. Vas deferens adalah
duktus ekskretorius testis yang membentang hingga ke duktus vesikula seminalis, kemudian
membentuk duktus ejakulatorius. Duktus ejakulatorius selanjutnya bergabung dengan urethra
yang merupakan saluran keluar bersama baik untuk sperma maupun kemih.
Secara histopatologis , testis terdiri atas 250 lobuli dan tiap lobulus terdiri atas Tubuli
seminiferi. Didalam Tubulus seminiferus terdapat sel-sel Spermatogonia dan sel Sertoli, sedang
10

diantara Tubuli seminiferi terdapat sel-sel Leydig. Sel-sel sperma togonium pada proses
spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. Sel-sel sertoli berfungsi memberi makan pada bakal
sperma, sedangkan sel-sel Leydig atau disebut sel-sel interstisial testis berfungsi dalam
menghasilkan hormon testosteron.
Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di Tubuli seminiferi testis disimpan dan mengalami
pematangan/maturasi di epididimis. Setelah mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama
dengan getah dari epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens. Sel-sel
itu setelah bercampur dengan cairan-cairan dari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis,
serta cairan prostat membentuk cairan semen atau mani.
Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu :
1. Arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta.
2. Arteri deferensialis cabang dari A. vesikalis inferior
3. Arteri kremasterika yang merupakan cabang A. Epigastrika
Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus Pampiniformis.

FISIOLOGI TESTIS
Testis mempunyai fungsi eksokrin dalam spermatogenesis dan fungsi endokrin untuk mensekresi
hormon-hormon seks yang mengendalikan perkembangan dan fungsi seksual. Pusat
pengendalian hormonal dari sistem reproduksi adalah sumbu hipotalamus-hipofisis. Hipotalamus
memproduksi Gonadotropin Hormone Releasing Hormone (GnRH). Hormon-hormon ini adalah
Follicle Stimulating Hormone Releasing Hormone (FSHRH) dan Luteinizing Hormone
Releasing Hormone (LHRH). Hormone-hormon ini dibawa ke hipofisis anterior untuk
11

merangsang sekresi Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH), yang
pada pria lebih umum dikenal sebagai Interstitial Cell Stimulating Hormone (ICSH).
Proses pematangan sel-sel Leydig janin dikendalikan oleh kromosom Y dan dirangsang oleh
ICSH. Sel-sel Leydig ini akan menghasilkan testosteron yang menyebabkan proses
diferensiasidari

vasa

deferens

dan

vesikula

seminalis.

Metabolit

testosteron

yaitu

Dihirotestosteron (DHT), menyebabkan proses diferensiasi dari prostat dan genitalia eksterna.
Produksi testosteron oleh sel-sel interstitial Leydig pada pria akan sangat meningkat pada
permulaan pubertas. ICSH akan merangsang sel-sel Leydig untuk menghasilkan testosteron,
DHT dan estradiol, FSH akan merangsang sel sertoli untuk mempengaruhi pembentukan sperma.
FSH dalam kadar yang rendah juga akan memperkuat efek perangsangan ICSH. Testosteron
harus dihasilkan dalam kadar yang cukup supaya proses spermatogenesis dapat berlangsung
dengan sempurna. Dengan demikian, baik FSH maupun ICSH harus dilepaskan oleh hipofisis
anterior agar spermatogenesis dapat berlangsung. Selanjutnya testosteron, DHT, estradiol dan zat
yang disekresi oleh tubular-inhibin akan menghambat sekresi ICSH dan FSH oleh hipofisis
anterior, sehingga terjadi sistem umpan balik yang mengatur kadar testosteron dalam sirkulasi
darah.
ETIOLOGI
Penyebab tumor testis belum diketahui dengan pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang erat
kaitannya dengan peningkatan kejadian tumor testis, antara lain maldesensus testis, trauma testis,
atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormon.
Penderita kriptorkismus atau bekas kriptorkismus mempunyai resiko lebih tinggi terjadinya
tumor testis ganas. Walaupun pembedahan kriptorkismus pada usia muda mengurangi insidens
tumor sedikit, resiko terjadinya tumor tetap tinggi. Kriptorkismus merupakan suatu ekspresi
disgenesia gonad yang berhubungan dengan transformasi ganas. Penggunaan hormon
dietilstilbestrol yang terkenal sebagai DES oleh ibu pada kehamilan dini meningkatkan resiko
tumor maligna pada alat kelamin bayi pada usia dewasa muda.
PATOGENESIS
12

Sebagian besar ( 95%) tumor testis primer, berasal dari sel germinal, sedangkan isinya berasal
dari non germinal. Tumor germinal testis terdiri atas seminoma dan non seminoma. Seminoma
berbeda sifatnya dengan non-seminoma, antara lain sifat keganasannya, respon terhadap
radioterapi dan prognosis tumor.
Tumor-tumor sel embrional testis merupakan satu golongan tumor yang heterogen. Dari berbagai
klasifikasi tumor testis ganas, klasifikasi organisasi kesehatan dunia (WHO) paling sering
dipakai. Disamping seminoma yang memang berasal dari sel germinal terdapat karsinoma
embrional, teratoma dan koriokarsinoma yang digolongkan non seminoma, yang dianggap
berasal dari sel germinal pada tahap perkembangan lain histogenesis. Seminoma meliputi sekitar
40% dari tumor ganas testis. Koriokarsinoma jarang sekali ditemukan (1%). Metastasis tumor
testis kadang berbeda sekali dari tumor induk, yang berarti tumor primer terdiri dari berbagai
jenis jaringan embrional dengan daya invasi yang berbeda.

Klasifikasi tumor ganas testis


Seminoma

- khas
- spermatositik
- anaplastik

Non seminoma

- karsinoma embrional
- teratokarsinoma
- teratom matur dan imatur

Koriokarsinoma
13

Seminoma merupakan tumor maligna testis yang tersering, diikuti dengan Karsinoma embrional,
teratoma dan khoriokarsinoma. Sekresi Gonadotropin khorionik berhubungan dengan hiperplasia
sel Leydig. Tumor testis sel benigna jarang terjadi.
Seminoma dapat dianggap sebagai tumor pendahulu sel embrional (gonosit) yang arah
diferensiasinya berlanjut ke arah sel embrional (germ cell). Tumor-tumor non seminoma dapat
dianggap sebagai tumor sel embrional pluripoten. Tumor yang paling tidak terdiferensiasi dalam
golongan ini adalah karsinoma sel embrional yang didalamnya tidak tampak arah diferensiasi
spesifik. Koriokarsinoma berupa produk kehamilan, Teratoma merupakan campuran jaringanjaringan somatik, seperti berbagai tipe epitel, tulang rawan, jaringan otot dan saraf dan berasal
dari berbagai lapisan embrional (ektoderm, mesoderm, endoderm). Jika jaringan-jaringan ini
menunjukkan struktur normal (hampir normal) maka ini disebut teratoma matur, jika arah
diferensiasi jaringan dapat dikenal dengan baik, dan jika diferensiasinya tidak seluruhnya
dewasa/matang, maka ini disebut teratoma imatur. Tipe non-seminoma merupakan manifestasi
berbagai arah diferensiasi sel-sel embrional pluripoten, maka tidak mengherankan bahwa suatu
non seminoma hampir selalu tersusun atas bermacam-macam komponen.

PERTUMBUHAN DAN PENYEBARAN


Penentuan stadium klinis yang sederhana dikemukakan oleh Boden dan Gibb :
1.Stadium A atau I : tumor testis terbaas pada testis, tidak ada bukti penyebaran baik secara
klinis maupun radiologis.
2. Stadium B atau II : tumor telah mengadakan penyebaran ke kelenjar regional (para aorta) atau
nodus limfatikus iliaka. Stadium II A untuk pembesaran limfonodi para aorta yang belum teraba,
stadium II B untuk pembesaran limfonodi yang telah teraba (>10 cm).
3. Stadium C atau III : tumor telah menyebar keluar dari kelenjar retroperitoneum atau telah
mengadakan metastasis supradiafragma.

14

Tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe. Kelenjar limfe terletak para aortal kiri setinggi
L2 tepat dibawah hilus ginjal dan di sebelah kanan antara aorta dan v. kava setinggi L3 dan
prakava setinggi L2. Metastasis di kelenjar inguinal hanya terjadi setelah penyusupan tumor ke
dalam kulit skrotum atau setelah dilakukan pembedahan pada funikulus spermatikus. Penyebaran
hematogen luas pada tahap dini merupakan tanda koriokarsinoma.
Rute penyebaran hematogen primer adalah melalui sirkulasi darah dari testis ke paru, rute kedua
adalah dari metastasis kelenjar retroperitoneal melalui ductus thoracicus dan v.subclavia ke paru.
Kecepatan terjadinya metastasis sering tampak ada hubungan dengan subtipe histologiknya.
Seminoma bermetastasis lambat dan terutama ke kelenjar paralumbal, koriokarsinoma
bermetastasis cepat dan kebanyakan hematogen.

Untuk klasifikasi tingkat penyebaran, digunakan sistem TNM Karsinoma Testis.


T.

Tumor primer

Tis

Pra invasif (intratubular)

T1

Testis dan retetestis

T2

Di luar T.albuginea atau epididimis

T3

Funikulus spermatikus

T4

Skrotum

N.

Kelenjar limfe

N0

Tidak ditemukan keganasan

N1

Tunggal < 2 cm
15

N2

Tunggal 2-5 cm ; multiple < 5 cm

N3

Tunggal atau multiple > 5 cm

M.

Metastasis jauh

M0

Tidak dapat ditemukan

M1

Terdapat metastasis jauh

GAMBARAN KLINIS
Pasien biasanya mengeluh adanya pembesaran testis yang seringkali tidak nyeri, namun 30%
mengeluh nyeri dan terasa berat pada kantung skrotum, sedang 10% mengeluh nyeri akut pada
skrotum. Tidak jarang pasien mengeluh karena merasa ada massa di perut sebelah atas (10%)
karena pembesaran kelenjar para aorta, benjolan pada kelenjar leher dan 5% pasien mengeluh
adanya ginekomastia. Ginekomastia adalah manifestasi dari beredarnya kadar HCG didalam
sirkulasi sistemik yang banyak terdapat pada koriokarsinoma.
Pada pemeriksaan fisis testis terdapat benjolan padat keras, tidak nyeri pada palpasi dan tidak
menunjukkan tanda transiluminasi. Diperhatikan adanya infiltrasi tumor pada funikulus atau
epididimis. Perlu dicari kemungkinan adanya massa di abdomen, benjolan kelenjar
supraklavikuler, ataupun ginekomasti.
Simtomatologi dari tumor primer :

Permulaan akut ( gambaran seperti orkitis, epididimitis, torsio testis ).

Permulaan yang diskret seperti pembengkakan tanpa nyeri testikal atau pengerasan lokal
atau deformasi testikel.

Hidrokel simtomatik ( sesudah pungsi palpasi testis ).

Nyeri lokal, sering menyebar di sisi yang sama ke krista iliaka.

16

Kadang-kadang sama sekali tanpa keluhan atau kelainan ; metastasis merupakan


manifestasi pertama penyakitnya.

Simtomatologi mengenai metastasis :

Nyeri punggung yang samar akibat metastasis kelenjar retroperitoneal.

Kolik ginjal sebagai akibat bendungan atau penutupan ureter oleh metastasis kelenjar
retroperitoneal.

Nyeri yang menyebar ke tungkai.

Tumor yang palpabel di perut sebagai akibat metastasis kelenjar limfe.

Pembengkakan subklavikular, terutama kiri.

Dispnoe, hemoptoe, iritasi pleura oleh metastasis paru.

Malaise umum dengan anemia dan laju enap darah yang tinggi.

Pada dasarnya, diagnosis karsinoma testis mudah karena merupakan benjolan di dalam testis
yang tidak nyeri dan yang tidak diafan pada uji transiluminasi. Biasanya tumor terbatas di dalam
testis sehingga mudah dibedakan dari epididimis pada palpasi yang dilakukan dengan telunjuk
dan ibu jari. Gejala dan tanda lain seperti nyeri pinggang, kembung, dispnoe atau batuk dan
ginekomasti menunjukkan pada metastasis yang luas. Metastasis paraaorta sering luas dan besar
sekali menyebabkan perut menjadi kembung. Metastasis di paru kadang tertabur luas dan cepat
menjadi besar, sehingga sesak nafas. Gonadotropin yang mungkin disekresi oleh sel tumor dapat
menyebabkan ginekomasti. Kadang keadaan umum merosost cepat dengan penurunan berat
badan.
DIAGNOSIS
Transiluminasi, ultrasonografi dan pemeriksaan endapan kemih sangat berguna untuk
membedakan tumor dari kelainan lain. kadang tumor testis disertai hidrokel, karena itu
ultrasonografi sangat berguna.

17

Sebaiknya diagnostik laboratorium dikerjakan dulu sebelum menjalankan orkidektomi. Pada


penderita dengan non-seminoma zat-zat penanda tumor spesifik dapat ditunjukkan dalam serum
yaitu Human Chorion Gonadotropin (HCG) dan -1-fetoprotein (AFP). Pada penderita dengan
seminoma kadar HCG dapat naik sedikit, sering juga terdapat kenaikan Placenta Like Alkaline
Phosphatase (PLAP). Pada semua penderita tumor sel embrional Laktat Dehidrogenase (LDH)
dapat naik.
Diagnosis ditentukan dengan pemeriksaan histologik sediaan biopsi. Setiap benjolan testis yang
tidak menyurut dan hilang setelah pengobatan adekuat dalam waktu dua minggu harus dicurigai
dan dibiopsi. Biopsi harus dilakukan dari tetis yang didekati melalui sayatan inguinal. Testis
diinspeksi dan dibuat biopsi insisi setelah funikulus ditutup dengan jepitan klem untuk mencegah
penyebaran limfogen atau hematogen. Tidak boleh diadakan biopsi langsung melalui kulit
skrotum karena bahaya pencemaran luka bedah dengan sel tumor dengan implantasi lokal atau
penyebaran ke regio inguinal. Bila ternyata ganas dilakukan orkidektomi, yang disusuli
pemeriksaan luas untuk menentukan jenis tumor, derajat keganasan dan luasnya penyebaran.
Jika diagnosis tumor sel embrional telah ditetapkan, perlu dilakukan pemeriksaan tambahan
penetapan stadium. Ini berarti di samping pemeriksaan fisik lengkap juga pemeriksaan
pencitraan terdiri atas CT-scan toraks dan abdomen. Pemeriksaan ini tergantung pada
simtomatologinya.
Penanda tumor pada karsinoma testis germinal bermanfaat untuk membantu diagnosis,
penentuan stadium tumor, monitoring respons pengobatan dan sebagai indikator prognosis tumor
testis. Penanda tumor yang paling sering diperiksa pada tumor testis adalah :
o FP (Alfa Feto Protein) adalah suatu glikoprotein yang diproduksi oleh karsinoma embrional,
teratokarsinoma atau tumor yolk sac, tetapi tidak diproduksi oleh koriokarsinoma murni dan
seminoma murni. Penanda tumor ini mempunyai masa paruh 5-7 hari.
o

HCG (Human Chorionic Gonadotropin) adalah suatu glikoprotein yang pada keadaan normal

diproduksi oleh jaringan trofoblas. Penanda tumor ini meningkat pada semua pasien
koriokarsioma, pada 40%-60% pasien karsinoma embrional, dan 5%-10% pasien seminoma
murni. HCG mempunyai waktu paruh 24-36 jam.
18

Pemeriksa ultrasonografi yang berpengalaman dapat membedakan dengan jelas lesi intra atau
ekstratestikuler dan masa padat atau kistik, namun ultrasonografi tidak dapat memperlihatkan
tunika albuginea, sehingga tidak dapat dipakai untuk menentukan penderajatan tumor testis.
Berbeda halnya dengan ultrasonografi, MRI dapat mengenali tunika albuginea secara terperinci
sehingga dapat dipakai untuk menentukan luas ekstensi tumor testis. Pemakaian CT scan
berguna untuk menentukan ada tidaknya metastasis pada retroperitoneum. Sayangnya
pemeriksaan CT tidak mampu mendeteksi mikrometastasis pada kelenjar limfe retroperitoneal.
Semula stadium perluasan tumor sel embrional didasarkan atas lokalisasi metastasis, jika tidak
dapat ditunjukkan metastasis dan zat-zat penanda tumor HCG dan AFP tidak dapat ditunjukkan
dalam serum atau menjadi normal setelah orkidektomi, maka dikatakan stadiumnya adalah
stadium I. Pada stadium II dapat ditetapkan adanya metastasis kelenjar limfe retroperitoneal,
pada stadium III metastasis kelenjar limfe di atas diafragma, pada stadium IV metastasis di paru,
hepar, otak atau tulang.

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis diferensial meliputi setiap benjolan didalam skrotum yang berhubungan dengan testis
dan keluhan-keluhan pada daerah testis, seperti epididimitis dan orkitis (nyeri dan gejala-gejala
inflamasi), torsio testis, hidrokel (kemungkinan hidrokel simtomatik terdapat sebagai akibat
tumor testis, diperlukan pungsi dan kemudian palpasi), varikokel, spermatokel, kista epididimis,
hernia skrotalis.
PENATALAKSANAAN
Pada dugaan tumor testis tidak diperbolehkan melakukan biopsi testis, karena itu untuk
penegakan diagnosis patologi anatomi, bahan jaringan harus diambil dari orkidektomi.
Orkidektomi dilakukan melalui pendekatan inguinal setelah mengangkat testis dan funikulus
spermatikus sampai anulus inguinalis internus. Biopsi atau pendekatan trans-skrotal tidak
diperbolehkan karena ditakutkan akan membuka peluang sel-sel tumor mengadakan penyebaran.
Pada eksplorasi melalui insisi inguinal dalam instansi pertama funikulus spermatikus harus
19

diklem dulu untuk menghindari penyebaran sel melalui darah atau saluran limfe. Kemudian tetis
diluksasi dari skrotum di dalam luka insisi dan diperiksa. Pungsi atau biopsi skrotum harus
dianggap sebagai satu kesalahan tindakan.
Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dikategorikan antara seminoma dan non seminoma.
Seminoma
Seminoma merupakan tumor yang sangat sensitif terhadap sinar. Karena itu sesudah orkidektomi
pada seminoma kebanyakan dilakukan radioterapi pada stasiun-stasiun kelenjar limfe regional,
juga jika tidak dapat ditunjukkan adanya metastasis kelenjar limfe dibaeah diafragma. Lapangan
penyinaran juga harus meliputi sikatriks di daerah inguinal dan terapinya terdiri atas paling
sedikit 30 Gy dalam 3-4 minggu.
Penderita dengan stadium I, IIA, dan IIB, setelah orkidektomi diradiasi pada regio paraaorta dan
regio panggul ipsilateral. Karena kurang lebih separuh penderita dengan stadium IIC mendapat
kekambuhan dengan terapi penyinaran, pada penderita ini dilakukan kemoterapi. Kepada
penderita stadium III diberikan skema kemoterapi yang berlaku untuk penderita non seminoma.
Bila penanganan bedah sempurna serta kemoterapi dan penyinaran lengkap prognosis baik
sekali.
Sejak beberapa tahun pada seminoma, jika tidak dapat ditunjukkan metastasis (stadium I), dalam
beberapa pusat yang terspesialisasi cukup dikerjakan kontrol penderita yang frekuen tanpa
radioterapi. Dalam hal ada metastasis kelenjar retroperitoneal dengan diameter lebih dari 5 cm
dan atau metastasis kelenjar di atas diafragma dan atau metastasis hematogen maka ini
terindikasi untuk kemoterapi. Kebanyakan hal ini digunakan empat siklus masing-masing 3
minggu yang terdiri atas sisplatin dan etoposid (Mencel dkk., 1994). Dalam pusat tertentu nilai
kombinasi kemoterapi ini dibandingkan dengan karboplatin, sendirian atau dalam kombinasi.
Non-seminoma
Penderita dengan tumor non seminoma stadium I tidak membutuhkan terapi tambahan setelah
pembedahan. Penderita stadium IIA dapat diobservasi saja, kadang diberikan kemoterapi dua
20

seri. Pada stadium IIB biasanya diberikan empat seri kemoterapi. Penderita stadium IIC dan III
diberikan kemoterapi yang terdiri dari sisplatin, beomisin dan vinblastin. Bila respon tidak
sempurna diberikan seri tambahan dengan sediaan kemoterapi lain. Bila masih terdapat sisa
jaringan di regio retroperitoneal dilakukan laparatomi eksplorasi. Pada kebanyakan penderita
ternyata hanya ditemukan jaringan nekrotik atau jaringan matur. Jaringan matur merupakan
jaringan yang berdiferensiasi baik dan tidak bersifat ganas lagi.
Jika tidak dapat ditunjukkan metastasis dan tumor terbatas pada testis maka ini disebut stadium I.
Sesudah orkidektomi cukup pemantauan yang sering terhadap penderita (wait and see policy).
Dalam hal ini harus diperhatikan kenyataan bahwa kira-kira 25% penderita selama follow up
menunjukkan pertumbuhan tumor. Dengan kontrol yang sering, dengan menetapkan zat-zat
penanda, pertumbuhan tumor dapat cepat didiagnosis, dan karena kecilnya massa tumor dapat
diterapi kuratif dengan kemoterapi. Jika dibuktikan adanya metastasis, pertama-tama dinilai
dengan polikemoterapi. Semula kemoterapi ini terdiri atas kombinasi sisplatin, vinblastin, dan
bleomisisn, sesudah itu vinblastin diganti dengan etoposid. Kombinasi ini sama efektifnya tetapi
cukup ringan toksisitasnya.
PROGNOSIS
Prognosis umumnya memuaskan, kecuali pada penderita dengan metastasis banyak di paru atau
bila terdapat kekambuhan dengan kadar petanda tumor yang tinggi. Prognosis tumor testis bukan
hanya bergantung kepada sifat histologiknya, melainkan terutama pada stadium tumor.
Ketahanan hidup 5 tahun adalah sebagai berikut :
o Seminoma, stadium I dan II : 95%
o Seminoma, stadium III-IV : 70-90%
o Non-seminoma, stadium I : 99%
o Non-seminoma, tumor sedikit : 70-90%
o Non-seminoma, tumor banyak : 40-70%

21

Pada tumor testis follow up harus dijalankan sebagai berikut : tahun ke-1 tiap 1 bulan ; tanuh ke2 tiap 2 bulan ; tahun ke-3 tiap 3 bulan ; tahun ke-4 dan 5 tiap 6 bulan ; tahun ke-6 hingga 10 tiap
tahun. Pada waktu kontrol harus diperhatikan khusus zat-zat penanda tumor, pemeriksaan
abdomen (CT scan retroperitoneum), dan testis sisi lainnya, deteksi limfoma supraklavikuler,
pemeriksaan paru (foto thorak dan CT) dan keadaan umum penderita

DAFTAR PUSTAKA
1. Purnomo, B.B. 2003. Dasar-dasar Urologi, edisi ke dua. Sagung Seto : Jakarta.
2. Alberts P.2012. testicular cancer. American cancer society. http.Cancer.org
(available based January 2013)

22