Anda di halaman 1dari 8

PELESTARIAN ZONA EKONOMI INDONESIA

I. Aspek Historis Zona Ekonomi Eksklusif


Latar belakang lahirnya konsepsi zona ekonomi eksklusif tidak terlepaskan dari

tindakan sepihak Amerika Serikat dalam bentuk Proklamasi Truman Tahun 1945. Klaim

Negara-negara Amerika Latin dalam mengikuti tindakan Amerika Serikat ini, seperti Chli,

Peru Dan Equador sudah jauh menyimpang dari pengertian “continental shelf” dalam arti

geologis. Negara-negara ini bukan saja menuntut perluasan yurisdiksi yang ditujukan kepada

penguasaan kekayaan alamnya yang terdapat di dasar laut dan tanah di bawahnya, tetapi juga

meliputi perairan diatasnya. Pada waktu berlangsungnya Konferensi Hukum Laut PBB I di

Jenewa Tahun 1958, Peru, negara-negara Amerika Latin mengajukan usul yang dinamakan

“economic zone”. Tetapi usul Peru ini tidak mendapat tanggapan yang menggembirakan

karena pada waktu itu negara-negara peserta mengangagapnya terlalu ekstrim. Dan oleh Peru

usul “economic zone” ini mendapat dukungan negara-negara Afrika dan pada waktu negara-

negara Afrika mengadakan seminar di Yaounda salah satu keputusannya berisi dukungan

terhadap “economic zone”. Selain mendapat dukungan negara-negara sedang berkembang,

konsepsi “economic zone” mulai menarik dukungan negara-negara maju, seperti Kanada dan

Norwegia. Walaupun pada mulanya negara Amerika Serikat, Uni Soviet dan negara-negara tak

berpantai (“land locked countries”) serta negara-negara yang secara geografis tidak beruntung

(“geographically disadvantages”) menentang konsepsi ini, tetapi pada kenyataannya konsepsi

“economic zone” dianggap sebagai usul yang dikompromikan dengan diterimanya konsepsi ini

sebagai suatu rejim hukum baru dalam Hukum Laut Internasional yang terdapat pengaturannya

dalam Konvensi Hukum Laut 1982.

Sedangkan di Indonesia konsep tentang zona ekonomi eksklusif diawali dengan

paham wawasan nusantara yang termuat dalam Deklarasi Djuanda 1957 yang kemudian

dituangkan dalam UU No 4/Prp./1960 tentang Perairan, yang menyatakan bahwa Teritorriale

Zee en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 diganti dengan Wawasaan Nusantara atau
1
Archipelago Principle. Paham ini diperjuangkan dalam berbagai konferensi laut internasional

antara lain dalam Konferensi Jenewa tahun 1977. Konferensi ini berhasil menyusun konsep

satu paket persetujuan umum, yang dikenal sebagai Informal Compesite Negotiating Text

(ICNT). Walau bukan persetujuan resmi, namun ICNT menjadi referensi penting dalam

perundingan-perundingan selanjutnya mengenai hukum laut. Dalam konferensi itu, telah diakui

prinsip wilayah laut territorial yang lebarnya 12 mil ditambah 188 mil Zona Ekonomi,

sehingga seluruhnya berjumlah 200 mil dihitung dari garis dasar laut negara bersangkutan.

Kemudian pengumuman tentang zona ekonomi eksklusif Indonesia dikeluarkan oleh

pemerintah Indonesia tanggal 21 Maret 1980.

II. Pengertian dan Hak Negara Pantai dan Hak Negara Lain di Zona Ekonomi Eksklusif

Zona Ekonomi Eksklusif adalah suatu daerah diluar dan berdampingan dengan laut
teritorial, yang tunduk pada rezim hukum khusus yang ditetapkan berdasarkan hak-hak dan
yuridiksi negara pantai dan hak-hak serta kebebasan-kebebasan negara lain (Pasal 55
UNCLOS 1982). Indonesia telah meratifikasi UNCLOS 1982 melalui Undang-Undang Nomor
17 tahun 1985. Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1983 tentang Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia yang dimaksud dengan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di
luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan
undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di
bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis
pangkal laut wilayah Indonesia. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 menyatakan
bahwa apabila ZEE Indonesia tumpang tindih dengan ZEE negara-negara yang pantainya
saling berhadapan atau berdampingan dengan Indonesia maka batas ZEE antara Indonesia dan
negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Indonesia dengan negara tersebut.
Dengan diterimanya konsepsi zona ekonomi eksklusif, maka terdapat dua rejim
hukum di perairan di atas landas kontinen 200 mil, yaitu perairan zona ekonomi eksklusif 200
mil dari garis pangkal laut teritorial dan perairan di atas landas kontinen diluar 200 mil sebagai
laut lepas. Dapat disimpulkan bahwa perairan di atas landas kontinen 200 mil yang berhimpit
dengan zona ekonomi eksklusif adalah perairan zona ekonomi eksklusif. Di perairan ini
Negara pantai mempunyai hak berdaulat untuk tujuan eksplorasi dan eksploitasi terhadap
kekayaan alamnya di perairannya, dasar laut dan tanah di bawahnya yang meliputi kekayaan
2
hayati dan non hayati dan juga mineral. Sedangkan perairannya tetap merupakan laut lepas
yang dapat dilalui oleh kapal-kapal dari semua negara. Di perairan di atas landas kontinen di
luar 200 mil sesuai dengan statusnya sebagai laut lepas, maka pengaturannya tunduk pada
rejim hukum laut lepas yang dapat dinikmati oleh semua negara-negara baik terhadap
pelayarannya maupun sumber-sumber kekayaan alam hayati maupun non hayati termasuk
sumber mineral di perairan tersebut.
Bila negara pantai mempunyai kedaulatan penuh atas laut wilayahnya dan sumber-
sumber kekayaan alam yang terkandung didalamnya, terhadap zona ekonomi eksklusif, hanya
diberikan hak-hak berdaulat kepada negara pantai untuk keperluan eksplorasi, eksploitasi,
konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan alam, baik hayati maupun non-hayati, dari
perairan di atas dasar laut dan dari dasar laut dan tanah dibawahnya dan berkenaan dengan
kegiatan lain untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi ekonomi di zona tersebut, seperti
produksi energi dari air, arus dan angin (Pasal 56, UNCLOS 1982). Pasal 4 Undang-Undang
Nomor 5 tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia menyatakan bahwa di Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia, Republik Indonesia mempunyai dan melaksanakan :
a. Hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan dan konservasi
sumber daya alam hayati dan non hayati dari dasar laut dan tanah di bawahnya serta air
di atasnyadan kegiatan-kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan eksploitasi ekonomis
zona tersebut, seperti pembangkitan tenaga dari air, arus dan angin;
b. Yurisdiksi yang berhubungan dengan :
1. pembuatan dan penggunaan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan
bangunan-bangunan lainnya;
2. penelitian ilmiah mengenai kelautan;
3. perlindungan dan pelestarian lingkungan laut.
c. Hak-hak lain dan kewajiban-kewajiban lainnya berdasarkan Konvensi Hukum Laut
yang berlaku.
Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, kebebasan pelayaran dan penerbangan
internasional serta kebebasan pemasangan kabel dan pipa bawah laut diakui sesuai dengan
prinsip-prinsip hukum laut internasional yang berlaku.(Pasal 4 ayat 3 UU No. 5 Tahun 1983).
Adapun beberapa peraturan perundang-undangan yang memuat tentang Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 1984 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Alam Hayati Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Keputusan
Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor 60/Men/2001 Tentang Penataan Penggunaan Kapal
Perikanan Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor Kep.60/MEN/2001 Tentang Penataan Penggunaan Kapal Perikanan Di Zona Ekonomi
3
Eksklusif Indonesia, Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan yang
menyatakan bahwa wilayah perikanan Indonesia termasuk dalam zona ekonomi eksklusif
indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal
Asing Dalam Melaksanakan Lintas Damai Melalui Perairan Indonesia yang menyatakan
tentang hak dan kewajiban kapal asing untuk melaksanakan Hak Lintas Damai di wilayah zona
ekonomi eksklusif Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.04/2007 tentang
Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Hasil Laut Yang Ditangkap Dengan Sarana Penangkap
Yang Telah Mendapat Izin dinyatakan bahwa impor hasil laut yang ditangkap dan diambil
dengan sarana penangkap dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia diberikan pembebasan bea
masuk, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 05/MEN/2008 tentang Usaha
Perikanan Tangkap, Peraturan Presiden RI Nomor 109 tahun 2006 tentang Penanggulangan
Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut yang menyatakan bahwa prosedur
penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut termasuk di wilayah zona ekonomi
eksklusif Indonesia. Sedangkan perjanjian internasional tentang Zona Ekonomi Eksklusif antar
negara berdasarkan UNCLOS 1982 belum begitu banyak, Indonesia baru menetapkan
Perjanjian ZEE hanya dengan Australia melalui Perjanjian Antar Pemerintah Republik
Indonesia dan Pemerintah Australia tentang Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif dan
Batas-Batas Dasar Laut Tertentu yang ditandatangani di Perth pada tanggal 14 Maret 1997.

III. Pengelolaan dan Pengawasan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

Berdasarkan konvensi hukum laut 1982, wilayah perairan Indonesia meliputi


kawasan seluas 3,1 juta km² terdiri atas perairan kepulauan seluas 2,8 juta km² dan laut dengan
luas sekitar 0,3 juta km² Indonesia juga memiliki hak berdaulat atas berbagai sumber kekayaan
alam serta berbagai kepentingan yang melekat pada ZEE seluas 2,7 juta km² dan hak
partisipasi dalam pengelolaan kekayaan alam di laut lepas di luar batas 200 mil ZEE, serta
pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam dasar laut perairan internasional di luar landas
kontinen. Pasal 192 – 237 UNCLOS membebankan kewajiban bagi setiap negara pantai untuk
mengelola dan melestarikan sumber daya laut mereka.
Kekayaan mineral seperti minyak dan gas bumi, kerang, rumput laut, sponges, dan
sumber hayati lainnya menyimpan harapan untuk dikelola sesuai peraturan dan dengan tetap
memperhatikan kelestarian lingkungan hidup di laut. Disamping itu, kerjasama dengan nelayan
asing yang sudah maju teknologinya perlu dilakukan, baik mengenai alih teknologi, tukar
pengetahuan, maupun dalam hal penjualan hasil tangkapan ikan, cara ini diharapkan nelayan
kita bertambah ketrampilannya. Untuk pengelolaan sumber daya alam di zona ekonomi
4
eksklusif ini diperlukan kerjasama dengan negara lain, dengan Pemerintah Daerah dan
kerjasama antar sektor.
Pada tahun 2005 muncul gagasan dari Dewan Maritim Indonesia untuk membentuk
Badan Penataan Batas Wilayah dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang bertujuan untuk
mempertegas kedaulatan negara dan meningkatkan keamanan laut yang memiliki tugas:
1. menuntaskan dan memelihara batas wilayah NKRI;
2. melakukan penelitian dan pengembangan basis data sumebr daya alam kelautan
di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia;
3. melakukan pengendalian dan pengawasan pemanfaatan sumber daya alam di
Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia;
4. melakukan pengamanan wilayah laut di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia;
5. mengkoordinasikan pengembangan wilayah pulau-pulau perbatasan dengan
instansi terkait di pusat dan daerah.
Dalam upaya penerapan tindakan pemantauan (monitoring), pengendalian
(controlling), dan pengawasan (surveillance) secara efektif terhadap kegiatan penangkapan
ikan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di perairan Indonesia, Departemen Kelautan dan
Perikanan memberlakukan sistem pemantauan kapal atau VMS (Vessel Monitoring System)
dengan maksud mempermudah pemantauan seluruh aktivitas kapal. Melalui sistem
pemantauan ini, dapat diketahui tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan yang ada di
Indonesia. Ketentuan Code of Conduct for Responsible Fisheries (FAO 1995) menetapkan
bahwa negara bertanggung jawab menyusun serta mengimplementasikan sistem Monitoring,
Controlling, Surveillance terhadap pengelolaan penangkapan ikan. Konvensi hukum laut PBB
1982 menyebutkan pula bahwa pengelolaan sumber daya ikan mempunyai tiga tujuan utama.
Pertama, pemanfaatan sumber daya ikan secara rasional. Kedua, pelestarian sumber daya ikan.
Ketiga, keserasian usaha pemanfaatan. Dengan ketentuan itu, jelas setiap negara wajib
melakukan pengelolaan sumber daya ikan secara lestari dan bertanggung jawab. Dalam
konteks inilah VMS sebagai bagian dari MCS menjadi sangat penting dan relevan.
Proyek VMS muncul sebagai akibat dari keprihatinan karena semakin banyak kapal
ilegal yang beroperasi, baik lokal maupun kapal asing. VMS juga eksis lantaran ada dorongan
untuk mengurangi kerugian negara akibat pencurian ikan (illegal fishing). Permasalahan lain
yang cukup serius adalah bagaimana pemerintah dapat menekan adanya kerugian dari sektor
perikanan yang mencapai nilai mendekati 2 miliar dollar AS per tahun. Munculnya angka
kerugian pemerintah yang mendekati 2 miliar dollar AS per tahun itu adalah karena beberapa
penyebab berikut ini. Pertama, adanya penangkapan ikan di zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan
5
ekspornya yang tidak termonitor, sekitar 4.000 kapal yang kerugiannya berkisar 1,2 miliar
dollar AS per tahun. Kedua, kapal eks impor dengan penetapan pengadilan negeri sebanyak
475 kapal yang diperkirakan mencapai 142 juta dollar AS tiap tahun. Ketiga, kapal-kapal
illegal fishing yang melanggar daerah penangkapan sebanyak 1.275 kapal berkisar 573 juta
dollar AS tiap tahun. Keempat, kapal eks impor sebanyak 650 unit dengan anak buah kapal
asing yang tidak mengurus (membayar) iuran tenaga kerja sebesar 7,8 juta dollar AS.
Vessel Monitoring System merupakan salah satu bentuk sistem pengawasan yang
dapat memantau kegiatan kapal perikanan yang memiliki transmitter. Berdasarkan Surat
Edaran Nomor 003/DJ. P2S DKP/2007 maka bagi kapal yang minimal bermuatan 100GT
wajib memasang transmitter. Pembangunan VMS di Indonesia di pegang oleh pihak
Departemen Kelautan dan Perikanan yang bekerja sama dengan PT. CLS ARGOS untuk
membentuk sistem antara transmitter dan satelit. Terpantaunya posisi kapal karena transmitter
yang dipasang di atas kapal akan memancarkan sinyal ke satelit kemudian dikirimkan ke
Processing Center untuk diolah lebih lanjut dan disampaikan ke Pusat Pemantauan Kapal
Perikanan Direktorat Jendral Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan di Jakarta. Melalui VMS dapat diketahui kegiatan kapal di laut misalnya sedang
melakukan kegiatan penangkapan atau menuju fishing ground pelabuhan yang diinterpretasi
berdasarkan kecepatan kapal dan trek kapal dalam jangka waktu tertentu. Melalui layar
monitor dari sistem VMS juga terpantau kegiatan kapal yang menjurus ke arah pelanggaran.
Beberapa contohnya yaitu, terdeteksinya beberapa kapal asing yang melakukan kegiatan
penangkapan di perairan teritorial. Hal ini melanggar UNCLOS Pasal 62 Tahun 1982 yang
diratifikasi oleh pemerintah Indonesia yang tertuang dalam UU No.17/1985, karena izin yang
diberikan adalah hanya diperairan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).

Kesimpulan
1 Konferensi PBB tentang UNCLOS 1982memberikan dasar hukum bagi negara-negara
pantai untuk memiliki wewenang mengeksploitasi sumber daya yang ada di zona ekonomi
eksklusif terutama perikanan, energi, gas bumi, minyak dan berbagai bahan tambang lainnya.
Di zona ekonomi eksklusif Indonesia, kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional
serta kebebasan pemasangan abel dan pipa bawah laut diakui dengan prinsip-prinsip hukum
laut internasional yang berlaku
Didalam zona ekonomi eksklusif tersimpan kekayaan alam yang melimpah yang
merupakan berkah bagi negara pantai pada khususnya. Oleh karena itu negara pantai memiliki
kewajiban dalam pelestarian sumber daya alam di zona ekonomi eksklusif. Penerapan sistem
keamanan Vessel Monitoring System merupakan upaya negara pantai untuk menjaga
6
kelestarian sumber daya di laut agar tindakan yang dapat merusak ekosistem laut bisa dicegah.
Indonesia telah menerapkan sistem keamanan laut ini sejak tahun 2006, karena penggunaan
sistem ini merupakan kewajiban bagi negara pantai yang merupakan anggota dari UNCLOS
1982.

7
DAFTAR PUSTAKA

Jurnal

Abdul Alim Salam, Strategi Pengelolaan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia, 2005

Rosmi Hasibuan, Kaitan Permasalahan Rejim Hukum Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Dan

Landas Kontinen Dalam Konvensi Hukum Laut 1982, 2002

Aninda Wisaksanti Rudiastuti, Jonson L. Gaol, I Wayan Nurjaya, Distribusi Klorofil-A Dari

Citra Modis Dan Hubungannya Dengan Aktivitas Kapal Penangkap Ikan dari Vessel

Monitoring System, 2007