Anda di halaman 1dari 22

TUGAS AUDITING II

PENGENDALIAN INTERNAL KAS


DOSEN : Masno Marjohan, SE., MM

DISUSUN OLEH
:
YAHYA
NURYANTO
2006120479
VII A PAGI

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI S-1


UNIVERSITAS PAMULANG
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat
diselesaikan.

i
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Auditing II dengan
judul “Sistem Pengendalian Internal Kas” di Jurusan Akuntansi S-1 Fakultas
Ekonomi Universitas Pamulang.

Terima kasih disampaikan kepada Bapak Masno Marjohan, SE., MM. selaku
dosen mata kuliah Auditing II yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi
lancarnya tugas ini.

Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas
mata kuliah Auditing II.

Pamulang, 9 Januari 2010


Penyusun

Yahya nuryanto

DAFTAR ISI

JUDUL ....................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................... iii

ii
BAB I PENDAHULAN
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Perumusan Masalah................................................................................ 1
C. Tujuan Penelitian.................................................................................... 2
D. Manfaat Penelitian.................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kas........................................................................................ 3
B. Komposisi Kas........................................................................................ 4
C. Pengendalian Intern Terhadap Kas....................................................... 5

BAB III KESIMPULAN............................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian intern atau kontrol
intern didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya
manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu
organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern
merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber
daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi
penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud
(seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan
intelektual seperti merek dagang).
Setiap perusahaan selalu berusaha menciptakan system yang baik untuk
keberadaan kasnya. Kas sangat berperan terhadap jalannya operasional
perusahaan, bila kasnya sangat terbatas maka operasional perusahaan akan
terganggu,demikian juga bila kas yang berlebih akan mengakibatkan timbulnya
idle cash, yang merupakan aktiva yang tidak produktif.
Bila dilihat dari keberadaannya di neraca kas adalah aktiva paling lancar,
dalam arti paling sering berubah. Hampir pada setiap transaksi dengan pihak luar
selalu mempengaruhi kas. Kas merupakan suatu alat pertukaran dan juga
digunakan sebagai ukuran dalam akuntansi. Namun kas juga sangat mudah
dipindahtangankan dan tidak dapat dibuktikan pemiliknya, maka kas mudah
digelapkan.Oleh karena itu perlu diadakan pengawasan yang ketat terhadap kas.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan terhadap
kas yaitu bagaimana meningkatkan pengendalian intern terhadap kas pada suatu
perusahaan atau instansi.

1
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana meningkatkan pengendalian intern
terhadap kas pada suatu perusahaan.

D. Manfaat Penelitian
Menambah wawasan dan pengatahuan serta masukan bagi pihak-
pihak yang membutuh informasi pengendalian terhadap kas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Untuk menjawab permasalahan diatas, pada bagian yang pertama saya


akan uraikan pengertian kas, dan komposisi kas. Pada bagian kedua akan
diuraikan tentang pengendalian intern terhadap kas.
a. Pengertian Kas
Menurut Munawir (1983:14), pengertian kas adalah sebagai berikut:
Kas merupakan uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai
operasi perusahaan, termasuk dalam pengertian kas adalah cek yang diterima
dari para pelanggan dan simpanan perusahaan di bank dalam bentuk giro atau
demand deposit, yaitu simpanan di bank yang dapat diambil kembali (dengan
menggunakan cek atau bilyet).

Pendapat lainnya juga hampir sama di kemukakan oleh: Theodarus M.


Tuanakotta, AK, (1982:150) dalam bukunya Auditing Petunjuk Pemeriksaan
Akuntan Publik, yaitu:
Kas dan bank meliputi uang tunai dan simpanan-simpanan di bank
yang langsung dapat diuangkan pada setiap saat tanpa mengurangi nilai
simpanan tersebut. Kas dapat terdiri dari kas kecil atau dana-dana kas lainnya
seperti penerimaan uang tunai dan cek-cek (yang bukan mundur) untuk
disetor ke bank keesokan harinya.

Menurut PSAK No.2 2002, kas difenisikan sebagai berikut:


Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro dan setara kas
(cash equivalent)adalah investasi yang sifatnya sangat likuid berjangka
pendek dan dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa
menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan.

Menurut PSKA No.9 2002, Kas didefinisikan sebagai berikut: “Kas ialah alat
pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan
umum perusahaan”.

Menurut (Baridwan, 2002:85) Kas didefinisikan sebagai:


“Kas merupakan salah satu alat pertukaran dan juga digunakan sebagai
ukuran dalam akuntansi. Dalam neraca, kas merupakan aktiva yang paling
lancar, dalam arti paling sering berubah. Hampir pada setiap transaksi dengan
pihak luar selalu mempengaruhi kas. Daya beli uang bisa berubah-ubah

3
mungkin naik atau turun tetapi penurunan daya beli ini tidak akan
mengakibatkan penilaian kembali terhadap kas.”

Menurut (Sartono, 2000 : 519 ) menyatakan bahwa Kas adalah seluruh uang
tunai yang ada ditangan ( cash on hand ) dan dana yang disimpan dibank
dalam berbagai bentuk deposito dan rekening koran.

Menurut (Indrigo dan Basri, 1999 : 61 ) menyatakan bahwa:


Kas dapat diartikan sebagai nilai uang kontan yang ada dalam perusahaan
beserta pos-pos lain dalam jangka waktu dekat dapat diuangkan sebagai alat
pembayaran kebutuhan financial yang mempunyai sifat paling tinggi tingkat
likuiditas.

Sedangkan menurut (Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti, 1998 : 111 )


menyatakan bahwa :Kas merupakan bentuk aktiva yang paling likuid yang
bisa dipergunakan segera untuk memenuhi kewajiban financial perusahaan.

Jadi kas merupakan aktiva lancar yang paling liquid dan terdiri dari “pos-
pos” yang berlaku sebagai alat tukar dan memberikan dasar pengukuran
akuntansi atau seluruh uang tunai dan bentuk-bentuk lainnya yang dapat
diuangkan setiap saat apabila perusahaan membutuhkan.

b. Komposisi Kas
Yang termasuk dalam kas menurut pengertian akuntansi adalah
alat pertukaran yang dapat diterima untuk peluanasan utang, sebagai
setoran ke bank, juga simpanan dalam bank atau tempat-tempat lain yang
dapat diambil sewaktu-waktu. Kas terdiri dari uang kertas, uang logam,
cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau bilyet,
traveller’s checks, cashier’s checks, bank draft dan money order. Untuk
dapat digolongkan sebagai kas biasanya dibatasi dengan diterima sebagai
setoran oleh bank dengan nilai nominal tidak dikelompokkan dalam kas.
Jika ada wesel tagih yang diserrahkan ke bank untuk ditagihkan,maka
wesel tagih ini tetap dicatat sebagai piutang wesel sampai dilunasi oleh
yang membuat wesel. Kadang-kadang perangko dapat digunakan untuk
pembayaran yang jumlahnya kecil, tetapi perangko tidak akan diterima
sebagai setoran oleh bank, maka perangko bukan kas.

4
Cek mundur (post dated checks) tetap dicatat sebagai piutang
sampai tanggal dimana cek dapat diuangkan.Cek mundur termasuk dalam
kelompok piutang.
Surat-surat berharga seperti saham-saham dan obligasi mungkin
dapat segera dijual dan menjadi uang tunai, tetapi sebelum dujual surat-
surat berharga tersebut tidak termasuk kelompok kas. Sebelum dijual surat
berharga tetap dilaporkan sebagai investasi jangka pendek.
Simpanan dalam bank-bank diluar negeri menimbulkan suatu
masalah khusus karena mata uang yang berbeda.Oleh karena itu
simpanan di bank luar negeri harus dikurskan dalam rupiah.Sering kali
simpanan-simpanan di bank luar negeri tidak dapat diambilsewaktu-waktu,
oleh karena itu dalam neraca simpanan tadi akan dilaporkan terpisah.
Uang kas yang dibatasi penggunaannya, biasanya dalam bentuk
dana, tidak dimasukkan dalam kas tetapi dilaporkan terpisah sebagai
dana.Jika penggunaannya masih dalam waktu satu tahun, maka termasuk
dalam kelompok aktiva lancer, tetapi jika tidak dapat digunakan dalam
waktu satu tahun,maka dilaporkan dalam kelompoka aktiva tidak lancer.

c. Pengendalian intern terhadap kas.


Pada umumnya suatu system pengawasan intern terhadap kas
akan memisahkan fungsi-fungsi penyimpanan, pelaksana dan pencatatan.
Tanpa adanya fungsi seperti diatas, akan mudah menggelapkan uang kas.
Indikator-indikator yang menjadi penyebab terhambatnya Praktek
Yang Sehat terhadap Efektivitas Pengelolaan Kas tersebut yaitu:
1. Perceived Opportunity (Kesempatan seseorang untuk melakukan dan

menyembunyikan kecurangan)

Perilaku seseorang untuk melakukan dan menyembunyikan

kecurangan dapat terjadi karena Sistem Pengendalian Intern yang

lemah dan kurang memberikan kejelasan. Tindakan kecurangan tidak

5
akan berhasil dalam suatu organisasi dimana terdapat Sistem

Pengendalian Intern yang kuat dan kesadaran karyawan dalam

menjalankan tugasnya dengan baik.

2. Rasionalisasi (Pemikiran perilaku)

Dalam pemikiran mereka, dengan merasionalisasikan perilakunya,

pelaku kecurangan biasanya secara modal telah memperoleh suatu

alasan terhadap kejahatan mereka.

Karena bentuk dan jenis perusahaan ada bermacam-macam, maka


system pengawasan intern suatu perusahaan akan berbeda dengan
perusahaan lain . Tetapi ada dasar-dasar tertentu yang bisa digunakan
sebagai pedoman untuk mengadakan pengawasan terhadap kas.
1. Penerimaan Uang
Penerimaan uang dalam suatu perusahaan bisa berasal dari
beberapa sumber antara lain dari penjualan unai, pelunasan piutang, atau
dari pinjaman. Prosedur-prosedur pengawasan yang dapat digunakan
antara lain :
1. Harus ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan
kas dan setiap penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke
bank.
2. Diadakan pemisahaan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi
pencatatan kas.
3. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan
pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
2. Pengeluaran kas
Pengeluaran kas dalam suatu perusahaan itu adalah untuk
membayar bermacam-macam transaksi. Apabila pengawasan tidak
dijalankan dengan ketat, sering kali jumlah pengeluaran diperbesar dan
selisihnya digelapkan. Beberapa prosedur pengawasan yang penting
sebagai berikut :

6
1. Semua Pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk
pengeluaran-pengeluaran kecil dibayar dari kas kecil.
2. Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3. Penulisan cek hanya apabila didukung bukti-bukti (dokumen) yang
lengkap atau digunakan system voucher.
4. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti
pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek dan
yang mencatat pengeluaran kas.
5. Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak
tentu.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.
Dengan diterapakan prinsip-prinsip pengawasan intern terhadap
kas seperti yang telah disebutkan diatas, timbul beberapa masalah, yaitu
mengenai pembentukan kas kecil dan adanya rekening giro bank yang
memerlukan dilakukannya rekonsiliasi bank.
1. Kas Kecil.
Dana kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar
pengeluaran – pengeluaran yang jumlahnya relative kecil dan tidak
ekonomis bila dibayar dengan cek. Dalam hubungannya dengan kas
kecil, ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu (a) system imprest (b)
metode fluktuasi.

a. Sistem Imprest.
Didalam system ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap,yaitu
sebesar cek yang diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk
dana kas kecil. Oleh kasir kas kecil, cek tadi diuangkan ke bank dan
uangnya digunakan untukmembayar pengeluaran-pengeluaran kecil.
Setiap kali melakukan pembayaran kasir kas kecil harus membuat
bukti pengeluaran.

7
Prosedur akuntansi untuk dana kas kecil dengan system imprest
sebagaiberikut :

Misalnya PT.X pada tanggal 1 Desember 2008 membentuk


dana kas kecil sebesar Rp100.000,00.Pengeluaran kas kecil sampai
tanggal 19Desember 2009 sebesar Rp90.000,00 dengan rincian sebagai
berikut :

Biaya angkut Rp15.000,00


Listrik Rp17.000,00
Telpon Rp28.000,00
Administrasi kantor Rp30.000,00

Pada tanggal 19 Desember 2005 dilakukan pengisian kembali sebesar


Rp90.000,00 Mulai tanggal 20 Desember sampai dengan 31 Desember
2008 pengeluaran kas kecil sebesar Rp80.000,00 dengan rincian
sebagai berikut :

Biaya kirim penjualan Rp25.400,00


Langganan surat kabar Rp 4.750,00
Biaya rapat dan pertemuan Rp30.850,00
Biaya cetak formulir Rp19.000,00
Kas Rp80.000,00

Apabila pada tanggal 31 Desember 2008 tidak dilakukan pengisian


kembali maka kas kecil jumlahnya tinggal Rp20.000,00 dan yang Rp80.000,00
sudah dikeluarkan untuk membayar biaya-biaya. Karena tidak dilakukann
pengisian kembali maka biaya-biaya sejumlah Rp80.000,00 tersebut tidak dicatat.
Oleh karena itu pada tanggal 31 Desember 2008 dibuat jurnal penyesuaian
sebagaiberikut :

8
Biaya kirim penjualan Rp25.400,00
Surat kabar,majalah dll Rp 4.750,00
Biaya rapat dan pertemuan Rp30.850,00
Biaya cetak Rp19.000,00
Kas kecil Rp80.000,00

b. Metode Fluktuasi
Dalam metode fluktuasi pembentukan dana kas kecil dilakukan
dengan cara sama seperti dalam metode system imprest. Perrbedaan
dengan system imprest adalah dalam metode fluktuasi saldo rekening kas
kecil tidak tetap, tetapi
berfluktuasi sesuai dengan jumlah pengisian kembalidan
pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil. Dalam metode fluktuasi setiap
terjadi pengeluaran uang dari kas kecil langsung dicatat. Jadi buku
pengeluarna kas kecil mempunyai fungsi sebagai buku jurnal dan menjadi
dasar pembukuan kerekening-rekening buku besar.Karena pencatatan
dilakukan setaip kali terjadi pengeluaran, maka rekening kas kecil didebit
sebesar uang yang diterima. Misalnya PT.X membentuk kas kecil sebesar
Rp100.000,00 pada tanggal 1 Desember 2008.

Transaksi-transaksi pengeluaran kas kecil sebagai berikut :

2008
2 Desember : Membayar Koran Rp7.200,00
3 Desember : Membayar biaya angkut Rp45.000,00
7 Desember : Biaya adinistrasi dan umum Rp17.800,00
9 Desember : Membayar reeking listrik Rp14.000,00
10Desember : Dana kas kecil diisi kembali Rp75.000,00

9
Dengan menggunakan metode fluktuasi transaksi-transaksi di atas dicatat
dengan jurnal-jurnal sebagai berikut :

2008
1 Desember : Kas kecil Rp100.000,00
Kas Rp100.000,00
2 Desember : Biaya Koran Rp7.200,00
Kas kecil Rp7.200,00
3 Desember : Biaya angkut Rp45.000,00
Kas kecil Rp45.000,00
7 Desember : Biaya adm.Umum Rp17.800,00
Kas kecil Rp17.800,00
9 Desember : Biaya listrik Rp14.000,00
Kas kecil Rp14.000,00
10 Desember : Kas Kecil Rp75.000,00
Kas Rp75.000,00

Jurnal-jurnal tersebut apabila dibukukan kedalam rekening kas kecil


akan nampak sebagai berikut :
Kas Kecil

2005 2005
Desember 1 Rp100.000,00 Desember 2 Rp 7.200,00
10 Rp 75.000,00 3 Rp45.000,00
7 Rp17.800,00
9 Rp14.000,00

Dari rekening kas kecil di atas dapat dilihat bahwa saldonya


berfluktuasi sesuai dengan penerimaan dan pengeluaran kas kecil.

10
2. Rekonsiliasi Laporan Bank
Apabila setiap penerimaan uang disetor ke bank dans etiap
pengeluaran uang (kecuali jumlahnya relative kecil) menggunakan cek
maka rekening kas akan dapat dibandingkan dengan laporan bank.
Biasanya laporan bank diterrima bulanan dan akan direkonsiliasi dengan
catatan kas dan catatan bank. Selain itu rekonsiliasi juga beguna untuk
mengetahui penerimaan atau pengeluaran yang sudah terjadi di bank tetapi
belum dicatat oleh perusahaan.
Rekonsiliasi laporan bank sebaiknya dibuat oleh pegawai yang
tidak mempunyai kepentingan terhadap kas, agar penyusunan rekonsiliasi
bank ini dapat digunakan untuk mengecek catatan-catatan kas dan bank.
Dalam membuat rekonsiliasi laporan bank perlu diketahui bahwa yang
direkonsiliasikan itu adalah catatan perusahaan dan bank, sehingga harus
dibuat perbandingan antara keduanya agar dapat diketahui perbedaan-
perbedaan yang ada.
Hal-hal yang menimbulkan perbedaan dapat digolongkan sebagai
berikut :
1. Elemen-elemen yang oleh perusahaan sudah dicatat sebagai
penerimaan tetapi belum dicatat oleh bank.
Contoh :
a. Setoran yang dikirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum
diterima oleh bank sampai bulan berikutnya (setoran dalam
perjalanan).
b. Setoran yang diterima oleh bank pada akhir bulan, atetapi
dilaporkan sebagai setoran bulan berikutnya,karena laporan
bank sudah terlanjur dibuat (setoran dalam perjalanan).
c. Uang tunai yang tidak disetorkan ke bank.

11
2. Elemen-elemen yang sudah dicatat sebagai penerimaan oleh bank
tetapi belum dicatat oleh perusahaan
Contoh :
a. Bunga yang diperhitungkan oleh bank terhadap simpanan,
tetapi belum dicatat dalam buku perusahaan (jasa giro).
b. Penagihan wesel oleh bank, sudah dicatat oleh bank sebagai
penerimaan tetapi perusahaan belum mencatatnya.
3. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh perusahaan sebagai
pengeluaran tetapi bank belum mencatatnya.
Contoh :
a. Cek-cek yang beredar (outstanding checks) yaitu cek yang
sudah dikeluarkan oleh perusahaan dan sudah dicatat sebagai
pengeluaran kas tetapi oleh yang meneriman belum diuangkan
sehingga bank belum mencatatnya sebagai pengeluaran.
b. Cek yang sudah ditulis dan sudah dicatat dalam jurnal
pengeluaran uang tetapi ceknya belum diserahkan kepada yang
dibayar,maka cek tersebut belum merupakan pengeluaran oleh
karena itu jurnal pengeluaran kas harus dikoreksi pada akhir
periode.
4. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran
tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
Contoh :
a. Cek dari langganan yang ditolak oleh perusahaan karena
kosong tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
b. Bunga yang diperhitungkan atas overdraft (saldo kredit kas)
tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
c. Biaya jasa bank yang belum dicatat oleh perusahaan.

12
Rekonsiliasi bank dapat dibuat dalam 2 macam cara yang berbeda :
1. Rekonsiliasi saldo akhir yang bisa dibuat dalam 2 bentuk :
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk
menunjukkan saldo yang benar
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas.
2. Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dansaldo akhir yang
bisa dibuat 2 bentuk :
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom).
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk
menunjukan saldo yang benar (8 kolom).

Rekonsiliasi Saldo akhir


Contoh penyusunan laporan rekonsiliasi saldo akhir disusun
berdasarkan data yang dperoleh dari catatan kas PT. X pada tanggal 31 Desember
2008 sebagai berikut :
Dari laporann bank
Jasa giro Rp8.900,00
Biaya bank 1.600,00
Saldo akhir 661.600,00
Dari rekening
Setoran dalam perjalanan 180.000,00
Uang kas yang tidak disetor 40.000,00
Cek-cek yang telah beredar
No.001 Rp 60.000,00
No.002 Rp 80.000,00
No.003 Rp121.000,00
Rp261.200,00
Kesalahan mencatat penerimaan Rp101.200,00
dicatat sebesar Rp102.100 ,00
Rp 900,00
Saldo akhir Rp614.000,00

13
Data diatas jika disusun dalam laporan rekonsiliasi saldo bank dan
saldo kas untuk menunjukkan saldo yang benar sebagaiberikut :

PT.X
Rekonsiliasi Laporan Bank
31 Desember 2008

Saldo per laporan bank Rp661.600 Saldo kas Rp614.000

Ditambah : Ditambah :
Setoran dalam perjalanan Rp180.000 Jasa giro 8.900
Uang kas yang tidak disetor Rp 40.000
Rp220.000 Rp622.900
Rp881.600

Dikurangi : Dikurangi :
Cek yang beredar : Biaya jasa bank Rp1.600
No. 001 Rp 60.000 Koreksi penerimaan Rp900
No.002 Rp 80.000 Rp 2.500
No.003 Rp 121.200
Rp261.200
Saldo bank yang benar Rp620.400 Saldo kas yang benar Rp620.400
======== ==========

14
Apabila disusun dalam bentuk kedua yaitu rekonsiliasi saldo bank
kepada saldo kas maka bentuknya sebagaiberikut :

PT. X
Rekonsiliasi Laporan Bank
31 Desember 2008

Saldo per laporan bank Rp 661.600


Ditambah :
Setoran dalam perjalanan Rp180.000
Uang kas yang tidak disetor Rp 40.000
Biaya bank Rp 1.600
Koreksi penerimaan Rp 900
Rp222.500
Rp 884.100
Dikurangi :
Cek-cek yang beredar :
No.001 Rp 60.000
No.002 Rp 80.000
No.003 Rp121.200
Rp261.200
Jasa giro Rp 8.900

Rp 270.100
Saldo kas Rp 614.000
=========

15
Sesudah membuat rekonsiliasi, perusahaan harus mencatat elemen-
elemen yang mempengaruhi saldo kas . Elemen-elemen itu dapat dilihat dalam
rekonsiliasi pertama yaitu mengenai jasa giro, biaya bank dan koreksi kesalahan
penerimaan. Tetapi bila rekonsiliasinya dibuat dengan bentuk kedua, pemegang
buku masih harus meneliti elemen-elemen yang mempengaruhi kas yang perlu
dicatat.
Sebagai haasil rekonsiliasi di atas dalam buku-buku PT.X dibuat
jurnal sebagaiberikut :
Kas Rp8.900
Pendapatan jasa giro Rp8.900

Macam-macam biaya umum Rp1.600


Kas Rp1.600

Piutang Rp900
Kas Rp900
Jurnal-jurnal diatas dapat digabung dalam satu jurnal sebagai berikut :

Kas Rp6.400
Macam-macam biaya umum Rp1.600
Piutang Rp 900
Pendapatan jasa giro Rp8.900

16
BAB III
KESIMPULAN

kas merupakan aktiva lancar yang paling liquid dan terdiri dari “pos-
pos” yang berlaku sebagai alat tukar dan memberikan dasar pengukuran akuntansi
atau seluruh uang tunai dan bentuk-bentuk lainnya yang dapat diuangkan setiap
saat apabila perusahaan membutuhkan.
Yang termasuk dalam kas menurut pengertian akuntansi adalah alat
pertukaran yang dapat diterima untuk peluanasan utang, sebagai setoran ke bank,
juga simpanan dalam bank atau tempat-tempat lain yang dapat diambil sewaktu-
waktu. Kas terdiri dari uang kertas, uang logam, cek yang belum disetorkan,
simpanan dalam bentuk giro atau bilyet, traveller’s checks, cashier’s checks, bank
draft dan money order.
Indikator-indikator yang menjadi penyebab terhambatnya Praktek Yang Sehat
terhadap Efektivitas Pengelolaan Kas tersebut yaitu:
1. Perceived Opportunity (Kesempatan seseorang untuk melakukan dan
menyembunyikan kecurangan)
2. Rasionalisasi (Pemikiran perilaku)
pedoman untuk mengadakan pengawasan terhadap kas :
1. Penerimaan Uang
Prosedur-prosedur pengawasan yang dapat digunakan antara lain :
1. Harus ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan
kas dan setiap penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke
bank.
2. Diadakan pemisahaan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi
pencatatan kas.
3. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan
pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
2. Pengeluaran kas

17
prosedur pengawasan yang penting sebagai berikut :
1. Semua Pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk
pengeluaran-pengeluaran kecil dibayar dari kas kecil.
2. Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3. Penulisan cek hanya apabila didukung bukti-bukti (dokumen) yang
lengkap atau digunakan system voucher.
4. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti
pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek dan
yang mencatat pengeluaran kas.
5. Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak
tentu.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.
Pembentukan kas kecil dan adanya rekening giro bank yang memerlukan
dilakukannya rekonsiliasi bank.
1. Kas Kecil.
Dalam hubungannya dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat
digunakan yaitu (a) system imprest (b) metode fluktuasi.
2. Rekonsiliasi Laporan Bank
Apabila setiap penerimaan uang disetor ke bank dan setiap pengeluaran
uang (kecuali jumlahnya relative kecil) menggunakan cek maka rekening
kas akan dapat dibandingkan dengan laporan bank.

18
DAFTAR PUSTAKA

http://dahlanforum.wordpress.com/2008/01/07/kas/
http://catatan-akt.blogspot.com/2008/07/pengendalian-intern-terhadap-kas.html
http://www.scribd.com/doc/11320626/-Definisi-Pengendalian-Internal?
secret_password=&autodown=doc
jurnal ilmiah Siti Nurhayati Nafsiah
Kosasih, Ruchyat.1985.Auditing Prinsip dan Prosedur buku
satu.Bandung:Ruchko
Tuanakotta, Theodorus M.1982.Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan
Publik.Jakarta:LPFE UI

19