Anda di halaman 1dari 22

Inovasi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap orang berhak mandapatkan pendidikan sesuai usianya sebagai kebutuhan hidup dimasa
depannya. Kebutuhan pendidikan setiap orang berbeda-beda karena setiap orang memiliki
bakat, minat, dan kemampuannya di bidang yang berbeda-beda serta tingkat yang berbeda
pula. Untuk mengembangkan kemampuan tersebut, diperlukan pelayanan pendidikan yang
optimal sehingga mencapai hasil yang maksimal.
Pendidikan dibagi menjadi 3, yaitu :
§ Pendidikan formal
§ Pendidikan informal
§ Pendidikan nonformal

Seiring dengan berkembangnya zaman, kebutuhan akan ilmu pengetahuanpun meningkat.


Hal ini, dibatasi oleh kemampuan seseorang dalam menangkap materi yang disampaikan oleh
guru (pembimbing). Di dalam suatu kelas (reguler) terdapat perbedaan yang sangat
mencolok. Seorang guru belum tentu dapat menangani hal seperti ini dengan baik.
Oleh karena itu, munculah sebuah pemikiran yang mengidekan untuk membuat program-
program pendidikan baru yang merupakan sebuah kemajuan. Program baru ini telah
dijalankan di Indonesia. Namun, setiap metode tersebut memiliki dampak postif dan negatif
yang berbeda-beda. Untuk itu, harus ditentukan terlebih dahulu program mana yang sesuai
dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki seseorang karena program ini diciptakan
untuk membantu mengatasi keterbatasan tersebut.

B. MASALAH
1. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Untuk mengembangkan
kemampuan tersebut, setiap orang memiliki metode/cara mendidik atau mengembangkan
bakat diri yang berbeda-beda. Jika terdapat kesalahan dalam memilih pendidikan tersebut
maka tidak didapatkan hasil yang maksimal.
2. Lingkungan sekolah formal kurang mendukung karena saat ini banyak sekali aksi
kriminalitas di lingkungan sekolah.
3. Pilihan program belajar yang beragam membutuhkan penyesuaian diri terhadap pelayanan
setiap program yang dipilih.
4. Setiap program pendidikan yang ditawarkan memiliki dampak positif dan negatif.

C. TUJUAN
Setiap program pendidikan, seperti : akselerasi, home-schooling, e-learning, boarding school,
internasional school, dll. memiliki dampak positfnya dan negatif masing-masing. Untuk itu
diperlukan kesesuaian diri terhadap program-program tersebut.
Di dalam karya tulis ini, penulis akan membahas dampak-dampak dari masing-masing
program, tujuan program tersebut dibuat, ciri-ciri pelajar yang membutuhkan program
tersebut, dan saran–saran agar tepat dalam memilih program pendidikan yang harus dijalani,
serta pengalaman dari pengikut program-program tersebut dan juga opini para siswa terhadap
program-program tersebut. Ini sangat perlu diketahui agar tidak salah memilih program
pendidikan yang akan dijalani. Selain itu juga, tujuan penulis adalah agar dapat menambah
masukan bagi sekolah untuk mengembangkan pelayanan pendidikannya.
D. CARA PENGUMPULAN DATA
Penulis berdasarkan materi yang diambil dengan cara melakukan survei kepada siswa SMP
Labschool Jakarta (terdapat pada lampiran) dan melakukan studi pustaka melalui Internet
dengan mengambil beberapa artikel yang berhubungan dengan materi karya tulis ini.
E. RUANG LINGKUP
Penulis membahas berbagai program belajar serta keterangan dari masing-masing program
tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PROGRAM BELAJAR (METODE BELAJAR)
Zaman sekarang ini merupakan zaman yang disebut “Era Globalisasi”. Di zaman seperti
inilah terjadi perkembangan dan kemajuan yang pesat di berbagai bidang, terutama di bidang
IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).
Dengan adanya perkembangan IPTEK ini, maka pendidikanpun terkena dampaknya.
Sekarang ini banyak sekali ditemukan program-program pendidikan baru, seperti : Home
schooling, e-learning, akselerasi, dll.
Program pendidikan baru ini diterapkan karena sekolah formal sudah tidak dapat lagi
menjamin untuk dapat membimbing para pelajar dengan kondisi kelas yang tidak stabil
karena di dalam suatu kelas (reguler) terdapat perbedaan kemampuan dan keterbatasan yang
terjadi pada setiap anak.
Di Indonesia ini baru-baru ini telah diterapkan penggunaan program-program pendidikan
seperti ini. Hasilnya cukup memuaskan.
Setiap program yang ditawarkan memiliki perbedaan yang memiliki dampak positif dan
negaif masing-masing. Diperlukan penyesuaian karakter diri terhadap sisi positif dan negatif
dari setiap program. Jika ada kesalahan dalam memilih program belajar, maka tidak akan
mendapatkan hasil yang optimal untuk mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan
diri.
Di bagian selanjutnya dari karya tulis ini, akan dijelaskan tentang beberapa program-program
pendidikan yang telah disebutkan di atas.
B. AKSELERASI
B.1 Pendahuluan
Pendidikan di Indonesia bersifat klasikal, artinya semua siswa diperlakukan sama. Padahal
setiap siswa memiliki Intelegensi, bakat, dan minat yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan
siswa yang memiliki kemampuan diatas normal merasa jenuh karena harus menunggu siswa
lain yang lebih lamban darinya. Hal terburuk yang dapat terjadi adalah siswa tersebut
cenderung memberikan kesan dan tindakan yang kurang baik sehingga kegiatan belajar
mengajar dalam kelas kurang lancar. Siswa-siswa yang memiliki kemampuan diats normal
juga menjadi tidak dapat mengembangkan potensinya se-optimal mungkin.
Untuk itu, diperlukan penanganan khusus berupa program khusus yang lebih cepat atau lebih
luas dari program pendidikan biasa/reguler.
“Lebih cepat” dapat diartikan bahwa siswa akan dapat menyelesaikan program reguler dalam
waktu yang lebih singkat. Jika itu terjadi berarti merupakan efisiensi waktu yang cukup
signifikan.
“Lebih luas” dapat diartikan bahwa siswa akan memperoleh kemampuan yang lebih banyak
dan dalam dibandingkan dengan siswa program reguler.
B.2 Pengertian Akselerasi
Program percepatan belajar atau program siswa berbakat akademis adalah program
pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki kemampuan diatas
rata-rata untuk dapat menyelesaikan program pendidikannya dalam waktu lebih cepat dari
siswa lainnya.
B.3 Landasan hukum
Pada Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB III:
§ Pasal 8 menyatakan bahwa: warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang
luar biasa, berhak memperoleh perhatian khusus.
§ Pasal 24 menyatakan bahwa setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai
hak-hak antara lain sebagai berikut:
- Mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.(butir 1)
- Menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan. (butir 6)
Landasan hukum untuk melaksanakan program siswa berbakat adalah Undang-undang no.20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut : Pasal 5 ayat 4 dan Pasal 12
ayat 1.
Penyelenggaraan Program Siswa berbakat akademik mempunyai tujuan:
1. Memberi pelayanan khusus kepada siswa yang mempunyai bakat dan kecerdasan
istimewa.
2. Memberi kesempatan kepada siswa yang ingin menyelesaikan program pendidikan lebih
cepat.
3. Mengembangkan kemampuan berfikir dan bernalar siswa lebih komprehensif dan optimal.
4. Mengembangkan kreativitas secara optimal.
Indikator keberhasilan siswa-siswa berbakat akademik adalah :
1. Memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi untuk masuk ke perguruan tinggi favorit.
2. Munculnya minat dan bakat siswa secara optimal.
Siswa-siswa berbakat yang dihasilkan lewat program siswa berbakat akademik diharapkan
memiliki :
1. Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Motivasi dan komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi tinggi.
3. Gemar membaca dan meneliti
4. Disiplin yang tinggi
5. Memiliki jiwa seni yang tinggi
Persyaratan menjadi siswa/siswi berbakat adalah :
1. Akademis
• Nialai UN minimal rata-rata 8,00
• Rata-rata nilai raport minimal 8,00
• Nilai Tes Akademik (IPA, Matematika, Bahasa Indonesia) Rata-rata minimal 8,00.
2. Hasil Pemeriksaan Psikologis
• Tingkat kecerdasan IQ minimal 125
• Memiliki Tingkat kreativitas CQ yang tinggi
• Komitmen terhadap tugas TC yang tinggi
3. Memiliki minat yang tinggi dan mampu belajar mandiri
4. Mendapat persetujuan Orang Tua
5. Mengikuti Wawancara
Selama kurang lebih 1 bulan siswa berbakat akan diamati oleh guru dan teman sebaya
sebagai bahan rekomendasi pengamatan kepribadian. (Biasanya yang lolos sekitar 3 – 10%).
B.4 Penyelenggaraan program Akselerasi
Pertemuan dengan orang tua perlu dilakukan, baik sebelum maupun sesudah hasil seleksi.
Pertemuan sebelum hasil seleksi bertujuan menjelaskan kepada orang tua maksud dan
pentingnya identifikasi anak berbakat dalam rangka memperoleh pelayanan program
pendidikan sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Sedangkan pertemuan sesudah
penetapan hasil seleksi bertujuan untuk menjelaskan program akselerasi yang akan
diselenggarakan oleh sekolah dan betapa pentingnya peran serta orang tua dalam menunjang
kelancaran dan keberhasilan program tersebut. Dalam pertemuan ini sekaligus dibuat
kesepakatan bahwa bila nantinya siswa tidak bisa mengikuti program ini dengan baik, maka
siswa tersebut akan dikembalikan ke program reguler.

Unsur– unsur kelas akselerasi :


1) Guru
Guru yang mengajar Program Akselerasi adalah guru-guru biasa yang juga mengajar program
reguler. Hanya saja sebelumnya, mereka telah dipersiapkan dalam suatu lokakarya dan
Workshop sehingga memiliki pemahaman tentang perlunya layanan pendidikan bagi anak-
anak berbakat, keterampilan menyusun Program Kerja Guru (PKG), pemilihan strategi
pembelajaran, penyusunan catatan lapangan serta melakukan evaluasi pengajaran bagi
program Siswa Cepat.
2) Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Alokasi jam belajar tatap muka atau lama belajar diatur sama dengan program reguler dalam
satu minggu. Perbedaan antara kurikulum siswa akselerasi dengan reguler adalah :
§ Penyusunan struktur program pengajaran dengan alokasi waktu yang lebih singkat. Yaitu
dari tiga tahun menjadi dua tahun.Tahun Pertama :
§ 100% materi pelajaran kelas 1
§ 50% materi pelajaran kelas 2
Tahun Kedua :
§ 50% materi pelajaran kelas 2
§ 100% materi pelajaran kelas 3
§
§ Terletak pada pemilihan materi esensial dan non esensial serta pengembangan kurikulum
berdiferensiasi. Untuk itu setiap guru yang mengajar di kelas akselerasi perlu terlebih dulu
melakukan analisis materi pelajaran untuk menentukan sifat materi yang esensial dan kurang.
Suatu materi dikatakan memiliki konsep esensial bila memenuhi unsur kriteria berikut ini:
(1) konsep dasar
(2) konsep yang menjadi dasar untuk konsep berikut
(3) konsep yang berguna untuk aplikasi
(4) konsep yang sering muncul pada EBTANAS
(5) konsep yang sering muncul pada UMPTN untuk SMU.
3.) Strategi Pembelajaran
Pembelajaran untuk Program akselerasi harus diwarnai kecepatan dan tingkat kompleksitas
yang lebih sesuai dengan tingkat kemampuan yang lebih tinggi dan siswa kelas reguler, serta
menekankan pada perkembangan kreatif dan proses berpikir tinggi.
Strategi pembelajaran yang sesuai untuk Program akselerasi adalah : Strategi pembelajaran
yang terfokus pada belajar bagaimana seharusnya belajar. Strategi itu harus menekankan pada
perkembangan kemampuan intelektual tinggi. Strategi itu harus memiliki kepekaan (sensitif)
terhadap kemajuan belajar dari tingkat konseptual rendah kepada tingkat intelektual tinggi.
Untuk itu metode pembelajaran yang paling sesuai adalah metode pembelajaran induktif,
divergen dan berpikir evaluatif. Hafalan pada pembelajaran Program Siswa Cepat sejauh
mungkin dicegah dengan memberikan tekanan pada teknik yang berorientasi pada penemuan
(discovery oriented) dan pendekatan induktif.

4) Evaluasi Belajar dan Laporan Hasil Belajar.


Evaluasi belajar yang dilakukan pada Program Siswa Cepat pada dasarnya tidak berbeda
dengan siswa kelas reguler. Perbedaannya hanya terletak pada jadual tes karena untuk
Program Siswa Cepat mengacu kepada kalender pendidikan yang dibuat khusus. Meskipun
demikian, ada baiknya pada saat siswa kelas reguler mengikuti ulangan umum akhir cawu,
mereka dapat diikutsertakan. Hal ini sangat baik untuk mendapatkan data pembanding tingkat
daya serap mereka dengan menggunakan alat tes yang diperuntukkan untuk mengukur daya
serap mereka dengan menggunakan alat tes yang diperuntukkan untuk mengukur daya serap
siswa kelas reguler. Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA-EBTANAS) untuk Program Siswa
Cepat dijadualkan pada cawu III tahun kedua, bersama-sama dengan siswa reguler yang
sudah menempuh masa belajar cawu III tahun ketiga. Laporan hasil evaluasi belajar atau
rapor untuk Program Siswa Cepat pada dasarnya sama dengan rapor untuk program reguler.
Nilai/angka pada buku laporan tetap terisi untuk 9 cawu. Pembagian rapor untuk Program
Siswa Cepat dilakukan sesuai dengan Kalender Pendidikan yang berlaku khusus untuk
Program Siswa Cepat.

5) Bimbingan Konseling
Pelayanan Bimbingan dan Konseling sangat diperlukan agar potensi keberbakatan tinggi
yang dimiliki oleh siswa dapat dikembangkan dan tersalur secara optimal. Program
Bimbingan dan Konseling diarahkan untuk dapat menjaga terjadinya keseimbangan dan
keserasian dalam perkembangan intelektual, emosional dan sosial. Hendaknya dijaga agar
jangan sampai penyelenggaraan Program Siswa Cepat terlalu menekankan perkembangan
intelektual dan kurang dipentingkannya perkembangan emosional dan sosial anak se-irama
dengan jiwa keremajaannya. Selain itu program bimbingan dan konseling diharapkan dapat
mencegah dan mengatasi potensi-potensi negatif yang dapat terjadi dalam proses percepatan
belajar. Potensi negatif tersebut misalnya siswa akan mudah frustasi karena adanya tekanan
dan tuntutan untuk berprestasi, siswa menjadi terasing atau agresif terhadap orang lain karena
sedikit kesempatan untuk membentuk persahabatan pada masanya, ataupun kegelisahan
akibat harus menentukan keputusan karir lebih dini dari biasanya.
Berbagai fungsi/pelayanan bimbingan dan konseling tersebut dapat diupayakan dengan
melakukan langkah seperti:
1. Pertemuan rutin dengan orang tua siswa untuk saling bertukar informasi.
2. Menghimpun berbagai data dari guru yang mengajar di kelas akselerasi, khususnya
berkaitan dengan aktivitas siswa pada saat pembelajaran.
3. Menjaring data dari siswa melalui daftar cek masalah, sosiometri kelas, angket maupun
wawancara.
B.5 PRO DAN KONTRA AKSELERASI
Keberadaan kelas akselerasi sering diperdebatkan banyak pihak. Penyelanggaraan kelas
akselerasi (mempercepat) yang sudah diujicobakan beberapa tahun terakhir ini masih
mengandung pro dan kontra.
Pihak yang pro mengatakan bahwa ada anak-anak tertentu yang punya kemampuan lebih
daripada anak lainnya dan mereka berhak belajar sesuai kemampuan mereka yang lebih itu.
Pihak yang kontra mengatakan hal akademis bukanlah prioritas pertama dalam hidup
seseorang, dan yang lebih penting adalah kemampuan sosial. Jadi, anak-anak berbakatpun
sebaiknya ditempatkan di kelas biasa supaya bisa bergaul dengan anak-anak lainnya.
B.6 KELEMAHAN AKSELERASI
Stigmatisasi pada diri siswa kelas reguler
Dalam sebuah kesatuan lingkungan, bisa dikatakan bahwa kelas reguler adalah kelas yang
relatif jelek bila dibandingkan dengan kelas akselerasi.
Timbulnya budaya inferior, kelas eksklusif, arogansi, dan elitisme
Dengan kondisi yang betul-betul berbeda dengan segenap potensi intelektual yang lebih
tinggi, jelas siswa-siswa kelas akselerasi akan jauh lebih berprestasi dibanding kelas reguler.
Inferioritas pun mudah menghinggapi siswa-siswi kelas reguler, dan sebaliknya
eksklusivisme, arogansi dan elitisme akan mudah melekat pada diri siswa-siswa kelas
akselerasi. Masing-masing siswa membentuk group reference mereka sendiri-sendiri.
§ Terjadi dehumanisasi pada proses belajar di sekolah
Materi pelajaran yang diselesaikan oleh siswa reguler selama satu tahun harus dilalap habis
siswa akselerasi selama satu semester (setengah tahun). Dengan alokasi waktu yang jauh
lebih pendek ini mau tidak mau siswa harus belajar keras. Segi intelektualitas, potensi mereka
memang memungkinkan. Tetapi, mereka bukanlah mesin yang bisa diset untuk hanya
melakukan satu aktivitas.
§ Siswa kelas akselerasi tidak memiliki kesempatan luas untuk belajar mengembangkan
aspek afektif
Padatnya materi yang harus mereka terima, banyaknya pekerjaan rumah yang harus mereka
selesaikan, ditunjang kemampuan intelektual yang mereka miliki dan teman-teman sekelas
yang rata rata pandai, membuat iklim kerja sama mereka menjadi terbatas. Tugas-tugas itu
bisa mereka selesaikan sendiri.
§ Pendidikan nilai kemanusiaan memerlukan latihan dan penghayatan yang membutuhkan
waktu lama, sehingga sulit dipercepat
Pendidikan nilai tidak bisa dipercepat, bahkan instan. Pentingnya pendidikan nilai, termasuk
pendidikan budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain, seperti emosionalitas, religiusitas,
sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, dan afektivitas, memerlukan latihan dan
penghayatan yang membutuhkan waktu lama, sehingga sulit dipercepat. Misalnya,
penanaman nilai sosialitas perlu diwujudkan dalam banyak tindakan interaksi antarsiswa dan
kerja sama; penanaman nilai penghargaan terhadap manusia lain membutuhkan latihan dan
mungkin hidup bersama orang lain, dan tidak cukup hanya dengan pengajaran
pengetahuannya.
§ Masih banyak anak-anak yang perlu dibantu dalam memperoleh pendidikan yang layak
Sebagai bangsa, kita perlu membantu anak-anak yang belum dapat menikmati pendidikan.
Mereka akan menjadi bagian penting pengembangan bangsa ini di kemudian hari, maka kita
bertanggung jawab untuk membantu mereka. Jangan sampai ada segelintir siswa dibantu
dipercepat, sedangkan kebanyakan anak yang masih tidak dapat menikmati pendidikan
minimal dibiarkan atau tidak diurus karena kurang menarik dan memakan biaya besar
§ Tidak ada jaminan dengan adanya siswa yang berhasil menjalankan program akselerasi
juga dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
Belum ada jaminan bahwa program kelas unggulan atau akselerasi mampu mendongkrak
mutu SDM kita yang dinilai masih rendah. Jika ini yang terjadi, berarti yang dilahirkan oleh
institusi pendidikan kita hanyalah generasi-generasi berotak brilian dan cerdas intelektualnya,
tetapi miskin kecerdasan hati nurani dan spiritual. Pada akhirnya justru membuat mereka
menjadi asing hidup di tengah-tengah masyarakat. Tidak memiliki kepekaan dalam
merasakan denyut nadi kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya. Kita amat
membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual dan apresiasi tinggi
terhadap nilai-nilai kejujuran, yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian,
yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan. Yang menabur benih kerukunan
bila terjadi silang sengketa, yang memberikan kepastian bila terjadi kebimbangan. Yang
menegakkan kebenaran bila terjadi beragarn bentuk penyelewengan dan kesesatan. Yang
menjadi pembawa terang di tengah kegelapan hidup. Nilai-nilai kejujuran, sudah menjadi
moralitas bangsa yang tergadaikan. Budaya malu sudah nyaris hilang dari memori bangsa.
Korupsi, manipulasi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya marak terjadi di mana-mana. Perilaku
keagamaan hanya sampai pada tataran ekstrinsik. Agarna hanya dijadikan sebagai topeng
untuk pencapaian kepentingan. Para elite pemimpin tidak bisa jadi teladan bagi anak-anak
bangsa. Yang terjadi justru sebuah kebanggaan bila mereka mampu melakukan pembohongan
publik, sehingga terlepas dari jerat hukum yang mengancam mereka atas perbuatan korup
yang telah dilakukan. Sementara itu, di aras akar rumput, sentimen kesukuan dan etnis,
anarkisme yang dibungkus fanatisme keagamaan, main hakim sendiri, dan kekerasan lainnya
menjadi adonan perilaku yang gampang disaksikan dalam kehidupan sehari-hari.

§ Anak dapat menjadi tertekan


Orang tua mana yang tak bangga jika anaknya punya kemampuan otak di atas rata-rata.
Apalagi jika kemudian si anak ikut program akselerasi (program percepatan belajar) di
sekolahnya, yang dinilai banyak orang punya nilai prestis. Tapi apakah benar kelas akselerasi
lebih baik dibanding kelas reguler? Lalu bagaimana bila si anak tak dapat beradaptasi dengan
lingkungannya yang lebih dewasa saat harus loncat kelas?
Sekilas tak ada yang membedakan diri Sho Yano (13) dengan bocah-bocah lain
seumurannya, kecuali satu hal, ia adalah mahasiswa termuda yang kuliah di Fakultas
Kedokteran Universitas Chicago. Bocah keturunan Jepang, putra sulung pasangan Katsura
dan Kyung Yano ini memang istimewa. Sejak berusia 2 tahun, ia sudah bisa menulis dan
membaca. Menginjak usia 3 tahun Sho sudah bisa memainkan musik klasik dengan
menggunakan instrumen piano. Bahkan di usia 4 tahun ia sudah bisa menggubah lagu.
Kyung masih ingat, pernah suatu kali dirinya mencoba mempelajari karya Chopin dengan
piano. Sementara itu, Sho sedang bermain kereta api di dekat kakinya. Karena merasa lelah,
Kyung lalu beranjak sebentar ke dapur untuk mengambil minum. Tapi yang terjadi sungguh
mengejutkan, ketika kembali, ia melihat Sho sudah duduk di depan piano dan memainkan
irama yang tadi mati-matian dipelajarinya.
Kemampuan Sho menyerap informasi juga begitu cepat, tak heran di usia tujuh tahun ia
sudah mengerjakan pelajaran SMA yang diajarkan sendiri oleh orang tuanya, karena tak ada
sekolah yang mampu mengakomodir. Menginjak umur 9 tahun Sho sudah kuliah di “Loyola
University Chicago” dan lulus dalam waktu 3 tahun dengan predikat summa cum laude.
Setelah itu, Sho yang memasuki usia 13 tahun tak berhenti, ia lalu merealisasikan rencananya
untuk kuliah di Fakultas Kedokteran. Kelak, jika semuanya berjalan lancar, diperkirakan Sho
akan menjadi dokter pada usia 19 tahun.
Anak-anak seperti Sho Yano memang istimewa. Mereka memiliki kemampuan otak di atas
normal, sehingga untuk lebih dapat mengembangkan potensinya mereka juga memerlukan
perlakuan istimewa. Salah satu cara yang dilakukan institusi pendidikan dewasa ini untuk
mengistimewakan mereka adalah dengan jalan membuka kelas akselerasi. Ada yang
mengatakan, kelas akselerasi merupakan wadah yang tepat untuk mengakomodir siswasiswa
dengan kecerdasan jauh di atas rata-rata. Tapi tak sedikit pula yang berpendapat, kelas
akselerasi justru menghambat kemampuan sosialisasi anak.
Seperti yang disampaikan oleh Psikolog Pendidikan, Lucia RM Royanto, program akselerasi
sendiri sebenarnya bertujuan melayani anak-anak berbakat. Sebab, anak-anak berbakat ini
akan cenderung merasa bosan jika harus mengikuti kelas biasa atau reguler. Mereka tak lagi
merasa tertantang, karena apa yang diajarkan guru di depan kelas menjadi sangat mudah. Di
lingkungannya ia juga sering terlihat tak sabar, karena dia merasa lebih banyak tahu
ketimbang teman-teman lain. Jika sudah demikian, mereka biasanya akan cari perhatian
dengan bikin ulah dan berkelakuan nakal, malah tak sedikit yang kemudian menjadi
underachiever atau tak berprestasi.
Di Indonesia untuk dapat digolongkan sebagai anak berbakat, seorang anak harus memenuhi
3 kriteria yang sudah diterapkan. Tiga poin penting tersebut adalah kemampuan intelegensia
yang di atas rata-rata atau biasa dipatok dengan kisaran skor nilai IQ antara 125-130,
kreativitas tinggi dan tes komitmen terhadap tugas atau motivasi yang juga tinggi. Jadi
seorang anak yang IQ-nya 140 tapi tak punya komitmen dan kreativitas tinggi, maka ia belum
bisa dikategorikan sebagai anak berbakat.
Lalu kapan dapat diputuskan seorang anak perlu mengikuti kelas akselerasi atau tidak? Tak
sedikit yang mengatakan justru sebagian besar orang tualah yang mendorong dengan sedikit
‘memaksa’ agar anaknya dapat masuk kelas akselerasi. Orang tua mana sih yang tak bangga
jika anaknya digolongkan sebagai anak cerdas dan berbakat. Namun dengan adanya
kecenderungan semakin banyak sekolah yang mengadakan kelas akselerasi, timbul kesan
bahwa pihak sekolah juga punya kepentingan.
Alasannya klasik, membuka kelas untuk siswa yang punya tingkat kecerdasan excelent,
namun kesan yang timbul justru keinginan menaikkan pamor sekolah. Bahkan ada juga
sekolah yang sengaja menurunkan standar kelas akselerasinya, berhubung menjaring anak
berbakat dengan tiga kriteria ideal di atas tadi sangat sulit, sehingga yang terjadi kelas hanya
berisi anak-anak yang sebenarnya memiliki tingkat kecerdasan biasa saja. Maklum beberapa
sekolah ada yang mematok uang sekolah siswa akselerasi-nya dengan biaya lebih tinggi,
sehingga bisa ditebak, selain gengsi mereka juga ingin mendapatkan keuntungan.
Hal-hal seperti itu semestinya tak boleh terjadi, sebab bagaimanapun juga yang menjalani
proses belajar adalah si anak. Harus diperhatikan betul apakah si anak mau dan mampu untuk
mengikuti program akselerasi. Sebab, salah-salah bukannya mengoptimalkan bakat dan
kecerdasan, si anak justru menjadi stres karena tertekan. Benturan mental ini jika tak segera
ditangani bukannya tak mungkin akan menjadi semakin parah dan berlanjut pada gangguan
jiwa.
“Banyak juga Iho anak yang ditawari akselerasi tidak mau padahal mampu. Sebab mereka
sadar, akselerasi tekanannya akan lebih tinggi. Bayangkan saja 3 tahun masa belajar,
berdasarkan program akselerasi harus dipadatkan hanya menjadi 2 tahun. Sedangkan 6 tahun
di SD hanya jadi 5 tahun. Otomatis, bebannya akan lebih berat. Anak seharusnya kita tawari
lebih dahulu, mau tidak dia belajar dengan beban seperti ini. Jika tak mau, maka kita sebagai
orang tua harus bisa menerima. Yang kita utamakan kan bagaimana di sekolah anak ini bisa
belajar dengan happy, tidak merasa tertekan”. Hal lain yang juga perlu dicermati kembali dari
ilustrasi cerita Sho Yano di atas adalah mengenai hubungan si anak dengan lingkungan sosial.
Bayangkan saja, Sho Yano yang masih berusia 13 tahun tiba-tiba harus ber- baur dengan
teman-teman kuliahnya yang rata-rata sudah berusia 17-18 tahun, dimana umumnya mereka
sudah mengalami masa puber. Untuk mengatasi kesenjangan usia inilah, sangat diperlukan
adanya pendampingan psikologis, sehingga anak mampu beradaptasi.
Mungkin kalau di sekolah tersebut ada kelas akselerasi dan kelas reguler, tidak terlalu
masalah, karena mereka masih bisa bermain dengan teman-teman seumurannya. Yang
menjadi masalah adalah ketika si anak masuk ke lingkungan yang lebih dewasa. Karena itu,
jika sekolah menyelenggarakan program akselerasi, maka ia harus sudah menyiapkan
psikolog atau konselor yang betul-betul dapat menangani segi emosional anak-anak ini.
Pada dasarnya, pola pendampingan psikologis itu sendiri lebih ditujukan untuk membentuk
pribadi anak-anak berbakat ini menjadi lebih tenggang rasa dan mau mendengarkan orang
lain. Sikap-sikap seperti itulah yang harus ditanamkan, sebab konon anak-anak seperti ini
cenderung menunjukkan perilaku egois, angkuh dan tak mau mendengar pendapat orang lain.
“Jangan sampai karena terlanjur biasa dengan sesama temannya di kelas akselerasi yang
berdaya pikir cepat, ia tak bisa toleransi dengan orang yang berbeda dengannya. Ini sangat
penting ketika ia harus terjun ke dunia nyata seperti dunia kerja.
Pembentukan sikap pada anak ini dapat dilatih sejak dini. Misalnya saja, dengan jangan
terlalu mengangap anak ini `sangat lebih’, sehingga akan membuat anak menjadi besar
kepala. Namun sebaliknya juga jangan terlalu meremehkan, misalnya dengan berkata, “Ala…
masa kamu begini saja nggak bisa, kamu kan anak berbakat.” Pernyataan-pernyataan seperti
itu tak hanya akan membuat kecewa si anak dan berdampak tak baik, tapi juga menurunkan
kepercayaan dirinya.
Dengan alasan tak ingin mengkotak-kotakkan anak, tak sedikit juga sekolah yang menolak
membuka kelas akselerasi. Mereka berpendapat, seorang anak tak perlu diistimewakan
dengan dibuatkan kelas akselerasi. Jika memang ingin diikutkan program akselerasi, maka ia
harus di-aksel secara tersendiri. Misalnya, ada anak yang punya bakat menonjol di bidang
matematika, maka untuk menyalurkan minatnya itu si anak bisa diikutkan les atau semacam
klub matematika. Dalam hal ini kepekaan guru dan orang tua untuk melihat potensi anak
amat dibutuhkan.
Lebih dari itu, perlu disadari, anak terdiri dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik. Semua
aspek dalam kehidupannya itu perlu dikembangkan secara optimal, bukan hanya dari segi
intelegensianya saja. Cara bersikap, kepribadian dan kepercayaan diri juga harus mengalami
proses pembentukan yang matang. Karena itu, jangan terlalu memaksa anak untuk mengisi
waktu luangnya dengan les kumon, les bahasa inggris atau les pelajaran saja.
Agar berimbang, usahakan anak ikut dalam kelompok organisasi, misalnya pecinta buku,
pecinta alam, kelompok musik dan lain sebagainya. Dengan demikian, kemampuan untuk
organisasi, mengambil keputusan dan human relation-nya juga akan terasah. Dari segi
psikomotorik, anak juga harus dikembangkan dengan banyak melakukan kegiatan-kegiatan
fisik, seperti olah raga misalnya.
Perlu juga diingat, meski memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata, anak ini tetaplah
anak yang juga memiliki keterbatasan-keterbatasan, bukannya superkid. Mereka tetap
memerlukan perhatian orang tua dan keluarga baik dari aspek sosial dan emosionalnya.
Sehingga, saat anak mengeluh dirinya sudah merasa jenuh dan tak mampu lagi mengikuti
kelas akselerasi, orang tua harus mau membantu dan mendengarkan keluh kesah putra
putrinya.
“Mungkin saja karena sudah terlalu frustasi, dia akhirnya menyerah, tak mau lagi di kelas
akselerasi dan memilih pindah ke kelas reguler. Karena itulah, perlu dipikirkan juga oleh para
pelaku di bidang pendidikan untuk membuat satu sistem yang fleksibel, sehingga
memungkinkan anak dapat pindah dari kelas akselerasi ke kelas reguler, atau sebaliknya.
B.7 Keunggulan program akselerasi :
Kelas ini dirancang menjadi kelas unggulan. Proses rekrutmen untuk melihat potensi siswa
dilakukan secara multidimensional. Dari sisi waktu, penyelenggaraan kelas akselerasi
menguntungkan, siswa yang bakat intelektualnya tinggi dibantu secara khusus, sehingga
mereka mendapatkan bantuan pengajaran lebih sesuai bakatnya. Mereka akan dapat cepat
lulus, diperkirakan setahun lebih awal dibanding siswa biasa. Jadi, keuntungannya terletak
pada akselerasi pengajaran. Dengan program percepatan ini diharapkan siswa berbakat tidak
bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas,
dan dia dapat terus maju dengan cepat. Kelas model ini memang menjanjikan siswa lebih
cepat selesai dibandingkan melalui tahapan-tahapan pada umumnya.
Selain itu, untuk lebih dapat mengembangkan potensinya, anak-anak yang memiliki
kemampuan otak di atas normal, mereka juga memerlukan perlakuan istimewa. Salah satu
cara yang dilakukan institusi pendidikan dewasa ini untuk mengistimewakan mereka adalah
dengan jalan membuka kelas akselerasi ini.
Siswa juga dapat menjadi memiliki motivasi dan komitmen tinggi untuk mencapai prestasi
dan keunggulan karena untuk menjadi dan menjalani program akselerasi ini menuntut
kesabaran dan usaha yang keras sehingga mencapai hasil yang maksimal. Dengan dituntutnya
kesabaran dan usaha yang keras, maka dapat melatih siswa-siswanya untuk menjadi yang
terbaik di berbagai macam bidang dan berguna di masa depannya.
Dengan adanya siswa akselerasi ini juga menyebabkan kelas reguler menjadi stabil karena
siswa yang memiliki kemampuan rata-rata dan di bawah rata-rata tidak merasa tersaingi dan
tergangggu lagi dengan adanya siswa yang jauh lebih cerdas darinya. Keadaan ini dapat
melancarkan kegiatan belajar-mengajar serta dapat juga meningkatkan kemampuan siswa
karena sudah tidak ada persaingan lagi sehingga setiap anak memiliki kepercayaan dirinya
masing-masing.
Selain itu, seperti di SMP 1 Surabaya, mendapat kemudahan memasuki perguruan tinggi
yang terkenal di Jawa Timur seperti ITS dan Unair tanpa memlalui tes SPMB karena
universitas tersebut mengakui bahwa anak-anak kelas akselerasi memiliki kemampuan dan
bakat di atas rata-rata.
C. HOME-SCHOOLING
C.1 Sejarah homeschooling
Filosofi berdirinya sekolah rumah adalah “manusia pada dasarnya makhluk belajar dan
senang belajar; kita tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang membunuh
kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyelak, mengatur, atau
mengontrolnya” (John Cadlwell Holt dalam bukunya How Children Fail, 1964). Dipicu oleh
filosofi tersebut, pada tahun 1960-an terjadilah perbincangan dan perdebatan luas mengenai
pendidikan sekolah dan sistem sekolah. Sebagai guru dan pengamat anak dan pendidikan,
Holt mengatakan bahwa kegagalan akademis pada siswa tidak ditentukan oleh kurangnya
usaha pada sistem sekolah, tetapi disebabkan oleh sistem sekolah itu sendiri.
Pada waktu yang hampir bersamaan, akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Ray dan
Dorothy Moor melakukan penelitian mengenai kecenderungan orang tua menyekolahkan
anak lebih awal (early childhood education). Penelitian mereka menunjukkan bahwa
memasukkan anak-anak pada sekolah formal sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak
efektif, tetapi sesungguhnya juga berakibat buruk bagi anak-anak, khususnya anak-anak laki-
laki karena keterlambatan kedewasaan mereka (Sumardiono, 2007: 21).
Setelah pemikirannya tentang kegagalan sistem sekolah mendapat tanggapan luas, Holt
sendiri kemudian menerbitkan karyanya yang lain Instead of Education; Ways to Help People
Do Things Better, (1976). Buku ini pun mendapat sambutan hangat dari para orangtua
homeschooling di berbagai penjuru Amerika Serikat. Pada tahun 1977, Holt menerbitkan
majalah untuk pendidikan di rumah yang diberi nama: Growing Without Schooling.
Serupa dengan Holt, Ray dan Dorothy Moore kemudian menjadi pendukung dan konsultan
penting homeschooling. Setelah itu, homeschooling terus berkembang dengan berbagai
alasan. Selain karena alasan keyakinan (beliefs) , pertumbuhan homeschooling juga banyak
dipicu oleh ketidakpuasan atas sistem pendidikan di sekolah formal.

C.2 Pengertian homeschooling


Pengertian secara umum homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga
memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik
anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis kegiatan pendidikannya. Dalam
homeschooling keterlibatan penuh orang tua dalam proses penyelenggaraan pendidikan,
mulai dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan, values yang ingin dikembangkan,
kompetensi yang hendak diraih, silabus dan bahan ajar, metode belajar dan sistem penilaian
belajarnya.
C.3 Perkembangan di Indonesia
Sebetulnya sudah lama bangsa kita mengenal konsep homeschooling ini, bahkan jauh
sebelum sistem pendidikan Barat datang.
Perkembangan homeschooling di Indonesia belum diketahui secara persis karena belum ada
penelitian khusus tetang akar perkembangannya. Istilah homeschooling merupakan khazanah
relatif baru di Indonesia. Namun jika dilihat dari konsep homeschooling sebagai
pembelajaran yang tidak berlangsung di sekolah formal alias otodidak, maka sekolah rumah
sudah tidak merupakan hal baru. Banyak tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang sudah
mempraktekkan homeschooling seperti KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya
Hamka (Makalah Dr. Seto Mulyadi, 18 Juni 2006).
Saat ini sistem persekolahan di rumah juga bisa dikembangkan untuk mendukung program
pendidikan kesetaraan. Khususnya terhadap anak bermasalah, seperti anak jalanan, buruh
anak, anak suku terasing, sampai anak yang memiliki keunggulan seperti atlet atau artis cilik
yang padat dengan kegiatan mereka.
Dalam pengertian homeschooling ala Amerika Serikat, sekolah rumah di Indonesia sudah
sejak tahun 1990-an. Misalnya Wanti, seorang ibu yang tidak puas dengan sistem pendidikan
formal. Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting setir. Tahun
1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan mengajar sendiri
anak-anaknya di rumah. Ia mempersiapkan diri selama 2 tahun sebelum menyekolahkan
anaknya di rumah. Semua kurikulum dan bahan ajar diimpor dari Amerika Serikat. Wanti
sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena
bersekolah di rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang
harus banyak belajar.
Demikian juga Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan
bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal
ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan. Kebetulan waktu itu kondisi
ekonomi sedang krisis sehingga kami banyak di rumah. Ternyata enak juga belajar bersama
di rumah.
Di Indonesia baru beberapa lembaga yang menyelenggarakan homeschoooling, seperti
Morning Star Academy dan lembaga pemerintah berupa Pusat Kegiatan Belajar Mengajar
(PKBM).
Morning Star Academy, Lembaga pendidikan Kristen ini berdiri sejak tahun 2002 dengan
tujuan selain memberikan edukasi yang bertaraf internasional, juga membentuk karakter
siswanya.
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan program pemerintah dalam
menyelenggarakan pendidikan jalur informal. Badan penyelenggara PKBM sudah ada ratusan
di Indonesia. Di Jakarta Selatan ada sekitar 25 lembaga penyelenggara PKBM dengan jumlah
siswa lebih kurang 100 orang. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A (untuk
setingkat SD), B (setingkat SMP), dan Paket C (setingkat SMA). PKBM sebenarnya
menyelenggarakan proses pendidikan selama 3 hari di sekolah, selebihnya, tutor mendatangi
rumah para murid. Para murid harus mengikuti ujian guna mendapatkan ijazah atau
melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Perbedaan Ijazah dengan sekolah umum,
PKBM langsung mengeluarkannya dari pusat.
Saat ini, perkembangan homeschooling di Indonesia dipengaruhi oleh akses terhadap
informasi yang semakin terbuka dan membuat para orang tua memiliki semakin banyak
pilihan untuk pendidikan anak-anaknya.
C.4 Faktor pemicu dan pendorong berdirinya Home-Schooling
§ Kegagalan sekolah formal
Ketidakpuasan dengan sekolah formal yang selalu berorientasi pada nilai rapor (kepentingan
sekolah). Padahal selain itu, bagi seorang anak yang penting bag masa depannya bukan saja
nilai yang bagus, melainkan keterampilan hidup dan sosialisasi ( nilai-nilai iman dan moral ).
Sehingga saat ini banyak kasus ilegal dalam masalah pendidikan, sperti mengejar nilai rapor
dengan menyontek atau membeli ijazah palsu.
§ Kurangnya profesionalitas para guru
Guru-guru yang lemah dalam keterampilan pedagogis dan penguasaan materi justru sering
menumpulkan potensi siswa

§ Teori Inteligensi ganda


Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah
Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences) dalam buku Frames of Minds: The Theory of
Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh Howard Gardner. Gardner menggagas teori
inteligensi ganda. Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi (kecerdasan)
manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga
menjadi 9 jenis inteligensi manusia. Jenis-jenis inteligensi tersebut adalah:Inteligensi
linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani;
Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan;
dan Inteligensi eksistensial.
Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi inteligensi
yang dimiliki anak. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak,
sebab sistem sekolah formal sering kali malahan memasung inteligensi anak. (Buku acuan
yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori
Inteligensi Ganda, oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).

§ Sosok homeschooling terkenal


Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani
sekolah formal juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin,
Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya.
Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu,
pemimpin sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya
menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya
pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di
rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.
§ Tersedianya aneka sarana
Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di
dunia nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga
penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan,
rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan
fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).

§ Suasana yang tidak nyaman bagi sebagian anak


Suasana pembelajaran di banyak sekolah sering kurang mengedepankan kepentingan terbaik
bagi anak. Akhirnya banyak anak yang stres dan kehilangan kreativitas alamiahnya
§ Ingin memperoleh pendidikan yang mencerdaskan dan menyenangkan
Dengan memperoleh pendidikan yang meneyenagkan. Setiap anak akan menjadi termotivasi
dan menambah semangat mereka dalam belajar. Selaitu itu menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan juga dapat menghindarkan pemikiran anak bahwa belajar merupaka hal yang
membosankan dan cenderung meremehkan setiap pelajaran yang diajarkan.
§ Sangat menguntungkan untuk daerah terpencil
Keterbatasan sekolah formal yang keterbatasannya di setiap derah tidak merata. Hal inilah
yang menyebabkan masyarakat Indonesia dinilai kurang dalam memilki pendidikan. Padahal
anak-anak inilah yang akan menjadi penerus bangsa. Ini hanya akan membuat Indonesia
terpuruk di mata dunia. Dengan adanya Homeschooling, kebutuhan dan hak untuk menerima
pendidikan menjadi terpenuhi karena msyarakat sudah tidak lagi tergantung pada
keberadaannya sekolah formal.
§ Para siswa yang memiliki karir tidak perlu takut ketinggalan pelajaran
Lewat sistem pendidikan ini ternyata tak menghalangi para siswa terus berprestasi. Simak
saja pengalaman Nia Ramadhani. Walau hanya mengikuti program home schooling selama
enam bulan, dara kelahiran 9 April 1990 ini berhasil diterima di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia melalui jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB).
Sebelum menjalani program sekolah di rumah, Nia adalah siswa di sekolah menengah umum
swasta yang bercokol di kawasan Rawamangun, Jakarta. Ketika memutuskan memilih
program home schooling, tak pelak, hal itu menimbulkan tanda tanya di kalangan teman-
temannya. Apalagi keputusan itu diambil hanya enam bulan sebelum ujian nasional (UN)
digelar pada April 2006.
Alasan Nia memilih program itu karena ia ingin lebih intensif mempersiapkan diri
menghadapi UN dan SPMB. Lagi pula, ”Materi pelajaran home schooling tidak berbeda
dengan yang formal,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Semakin bulat tekadnya,
juga karena didukung penuh oleh orang tuanya.
Selama mengikuti program home schooling, Nia didampingi sejumlah tutor (tergantung
materi pelajarannya) yang khusus datang ke rumah. Sebenarnya, model home schooling yang
ditekuninya, nyaris tak berbeda dengan model les privat atau bimbingan belajar. Jika ada
yang berbeda adalah biayanya yang relatif agak mahal, yakni setiap bulannya Rp 1,2 juta.
Toh, ikhtiarnya tak sia-sia.
Sistem pendidikan yang amat lentur dengan waktu ini juga banyak diminati kalangan artis
muda. Salah satu adalah Ayu Shita Widyastuti Nugraha. Karena tidak terikat dengan waktu,
”Sistem belajar seperti ini sangat cocok dengan profesi saya saat ini,” ujar artis yang ngetop
setelah membintangi FTV Bekisar Merah (2003) itu. Saat masih berstatus sebagai siswi
SMAN 3, Setiabudi, Jakarta, Shita mengaku kerap kesulitan membagi waktu untuk sekolah
dan kegiatannya sebagai artis. Bahkan tak jarang ia harus mengorbankan kewajiban
bersekolah, alias sering membolos. Dilemanya, di satu sisi Shita tak mau ketinggalan prestasi
belajar, dan di sisi lain gadis yang saat ini berusia 18 tahun itu juga bertekad bisa
mengembangkan karirnya sebagai artis. Sejak tahun lalu Shita mulai mengikuti program
home schooling. Hasilnya, patut dibanggakan. Tahun ini ia berhasil meraih ijazah SMA,
sementara profesinya sebagai artis tetap berkembang.
§ Pola relasi sekolah yang sering tidak dapat dikontrol dan dimonitori guru dan sekolah
Hal ini sering menumbulkan rasa kekhawatiran yang berlebihan dari para orang tua.
§ Lingkungan sekolah yang rawan
Saat ini banyak sekali kasus kriminalitas dikalangan pelajar. Hal ini membuat sebagian
pelajar mejalani pendidikan di rumah agar tidak terpengaruh dengan lingkungan yang rawan
tersebut.
C.5 Landasan Hukum
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) :
Pasal 27 Ayat (1): “Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan
lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.”
Pasal 27 Ayat (2) : “Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diakui sama
dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan
standar nasional pendidikan.”
Secara hukum kegiatan persekolahan di rumah dilindungi oleh undang-undang. Klasifikasi
bentuk persekolahan di rumah ini ada tiga macam, yaitu tunggal, majemuk, dan komunitas.
Persekolahan di rumah dalam bentuk tunggal apabila diselenggarakan oleh sebuah keluarga
tanpa bergabung dengan keluarga lain. Dia dikategorikan majemuk apabila dilaksanakan
berkelompok oleh beberapa keluarga. Adapun disebut komunitas bila persekolahan di rumah
itu merupakan gabungan beberapa model majemuk dengan kurikulum yang lebih terstruktur
sebagaimana pendidikan nonformal.
Oleh karena itu, persekolahan di rumah dapat didaftarkan ke dinas pendidikan setempat
sebagai komunitas pendidikan nonformal. Pesertanya kemudian dapat mengikuti ujian
nasional kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA).
C.6 Perbedaan homeschooling dan sekolah formal :
Pada hakekatnya, baik homeschooling maupun sekolah umum, sama-sama sebagai sebuah
sarana untuk menghantarkan anak-anak mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan.
Namun homeschooling dan sekolah memiliki perbedaan.
Pada sistem sekolah, tanggung jawab pendidikan anak didelegasikan orang tua kepada guru
dan pengelola sekolah. Pada homeschooling, tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya
berada di tangan orang tua.
Sistem di sekolah terstandardisasi untuk memenuhi kebutuhan anak secara umum, sementara
sistem pada homeschooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam untuk seluruh siswa. Pada
homeschooling jadwal belajar fleksibel, tergantung pada kesepakatan antara anak dan orang
tua.
Pengelolaan di sekolah terpusat, seperti pengaturan dan penentuan kurikulum dan materi ajar.
Pengelolaan pada homeschooling terdesentralisasi pada keinginan keluarga homeschooling.
Kurikulum dan materi ajar dipilih dan ditentukan oleh orang tua.
C.7 Keunggulan dan Kelemahan homeschooling :
Keunggulan :
Adaptable : Sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
Mandiri : Lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas indivual yang tidak
didapatkan di sekolah umum.
Potensi yang maksimal
Home schooling dapt memaksimalkan potensi anak tanpa harus mengikuti standar waktu
yang ditetapkan sekolah biasa.
Siap terjun ke dunia nyata
Output homeshooling lebih siap terjun pada dunia nyata karena proses pembelajarannya
berdasarkan lingkungannya.
Terlindung dari pergaulan yang menyimpang
Ada kesesuaian pertumbuhan anak dengan kelurga sehingga relatif terlindung dari hamparan
nilai dan pergaulan yang menyuimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi,
mencontek, dan sebagainya)
Ekonomis
Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga.
Meningkatkan kreativitas.
Peluang untuk mencapai kompetensi individual secara maksimal.

Kelemahan :
§ Membutuhkan komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua.
§ Memiliki kompleks yang lebih tinggi karena orangtua harus bertanggung jawab atas
keseluruhan proses pendidikan anak.
§ Keterampilan dan dinamika bersosialisasi dengan teman sebaya relatif rendah sehingga
orangtua harus terampil memfasilitasi proses pembelajaran.
§ Ada resiko kurangnya kemampuan bekerjasama dalam team (team work), organisasi, dan
kepemimpinan.
§ Proteksi berlebihan dari orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan
menyelasaikan situasi dan masalah sosial yang kompleks yang tidak terprediksi.
§ Sulitnya memperoleh dukungan atau tempat bertanya.
§ Evaluasi dan penyetaraannya tidak mudah.
D. E-LEARNING (BELAJAR ONLINE)
D.1 Sistem pembelajaran E-learning
Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat
E-learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan
konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-
learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas
untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat
mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang
harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan.
D.2 Sejarah dan Perkembangan E-learning
E-pembelajaran atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas
Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer
(computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-
learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:(1) Tahun 1990 : Era CBT (Computer-
Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC
standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun
multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
(2) Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT
muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
(3) Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan
teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan
informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan
jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS
yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar
LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar
yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM,
ARIADNE, dsb.
(4) Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS
menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar
(learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-
situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan
multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data
yang lebih standar, dan berukuran kecil.
D.3 Penyelenggaraan e-learning
1. Di tempat-tempat umum yang dibangun khusus untuk Akses Gratis Internet untuk
siswa/mahasiswa oleh Pemerinah (Depdiknas), Swasta, atau Lembaga Non-Profit, seperti di
Perpustakaan Umum, Hot Spots WiFi di Mall, Cafe, Warnet, Taman, dsb. Untuk yang akses
gratisan, maka di layar PC atau Laptop diperbolehkan dipasang iklan produk atau jasa
sebagai imbalannya.
2. Bila siswa/mahasiswa sudah memiliki PC atau Laptop, baik milik sendiri atau fasilitas
perusahaan tempatnya bekerja, maka mereka dapat melakukan akses ke materi-materi atau
kuliah pendidikan yang dipilihnya, gratis atau berbayar murah.
3. Untuk materi pendidikan atau kuliah, dibuat di DN atau dari terjemahan dari Open Course
Ware (OCW) produk berbagai Univesitas atau sekolah di LN, dan agar didapat secara gratis.
4. Pemerintah melaui DEPDIKNAS agar memberikan subsidi kepada Penyelenggara
Pendidikan Online ini dari sebagian dana APBN untuk pendidikan yang Rp 49 Trilyun
tersebut. Subsidi atau Kontribusi dana ini dapat pula diberikan oleh perusahaan-perusahaan
Swasta, Operator-operator Telekomunikasi, dll, sebagai kewajiban Corporate Social
Responsibility (CSR).
5. Untuk menghemat biaya Akses Internet, di lokasi-lokasi Pendidikan tersebut diatas juga
disediakan Akses Offline, dengan menyimpan data-data Course Ware tertentu yang sangat
populer, di Harddisk PC/Laptop, atau Pusat Server Jaringan LAN.
6. Diadakan kerjasama khusus antara Organisasi Warnet dengan Organisasi Penyelenggara
Online Education/Learning ini.
D.4 Dampak e-learning :
Dapat mempersingkat waktu pembelajaran sehingga membuat biaya studi menjadi lebih
ekonomis.
Mempermudah interaksi antara pelajar dengan bahan/materi, peserta didik dengan
dosen/guru/instruktur, maupun sesama pelajar.
Pelajar dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat
dan berulang-ulang. Dengan ini para pelajar dapat memantapkan penguasaannya terhadap
materi pelajaran tersebut.
Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur akan lebih mudah :
melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai
dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir
mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya
mengontrol kegiatan belajar peserta didik.
Kehadiran guru sebagai makhluk yang hidup yang dapat berinteraksi secara langsung dengan
para murid telah menghilang dari ruang-ruang elektronik e-learning ini. Inilah yang menjadi
ciri khas dari kekurangan e-learning yang tidak bagus. Sebagaimana asal kata dari e-learning
yang terdiri dari e (elektronik) dan learning (belajar), maka sistem ini mempunyai kelebihan
dan kekurangan.
E. BOARDING SCHOOL
E.1 Pengertian Boarding School
Boarding School adalah sistem sekolah dengan asrama, dimana peserta didik dan juga para
guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam
kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai
menamatkan sekolahnya.
Di lingkungan sekolah, para siswa dapat melakukan interaksi dengan sesama siswa, bahkan
berinteraksi dengan para guru setiap saat. Contoh yang baik dapat mereka saksikan langsung
di lingkungan mereka tanpa tertunda. Dengan demikian, pendidikan kognisi, afektif, dan
psikomotor siswa dapat terlatih lebih baik dan optimal.
Boarding School yang baik dijaga dengan ketat agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang
tidak sesuai dengan sistem pendidikan atau dengan ciri khas suatu sekolah berasrama.
Dengan demikian peserta didik terlindungi dari hal-hal yang negatip seperti merokok,
narkoba, tayangan film/sinetron yang tidak produktif dan sebagainya
Di sekolah dengan sistem ini, para siswa mendapatkan pendidikan dengan kuantitas dan
kualitas yang berada di atas rata-rata pendidikan dengan sistem konvensional.
Untuk menjawab kemajuan jaman, sekolah-sekolah dengan sistem boarding telah merancang
kurikulumnya dengan orientasi kebutuhan masa depan. Penerapan pembelajaran berbasis IT
semisal penggunaan bahan ajar dengan power point, flash, penggunaan internet sebagai
sumber informasi utama, pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar yang efektif,
penayangan film yang relevan dengan materi pelajaran, penggunaan lab bahasa dan lab
komputer yang intensif, telah lazim diterapkan di sekolah- sekolah ini. Kurikulum yang
disajikan kepada para siswapun sedikit berbeda di banding sekolah lainnya.
E.2 Latar Belakang Dibentuknya Boarding School
§ Proses pendidikan secara konvensional, terutama di kota besar, dinilai kurang efektif.
§ Pelajar dan pendidik banyak menghabiskan waktu dan tenaganya diluar jam belajar karena
jarak tempuh dan kondisi lingkungan yang macet dll.
§ Mayoritas pelajar diluar jam sekolah lebih banyak yang menghabiskan waktunya untuk
bermain, nonton TV, dll.
§ Diperlukan sistem belajar terbaik yang memungkinkan adanya perbaikan mutu
pembelajaran.
§ Belajar dengan sistem boarding school sampai saat ini merupakan yang terbaik di antara
berbagai pilihan. Sistem ini bukan barang baru, karena sudah lama dipraktikkan di pesantren.
Dengan sistem mesantren atau mondok, seorang siswa atau santri tidak hanya belajar secara
kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotor.
§ Belajar afektif adalah mengisi otak siswa/santri dengan berbagai macam ilmu pengetahuan,
dengan cara melatih kecerdasan anak. Sementara menghadapi era modernisme seperti
sekarang ini, otak siswa tidak lagi cukup dengan dipenuhi ilmu pengetahuan, melainkan perlu
keterampilan dan kecerdasan merasa dan berhati nurani. Sebab, pada kenyataannya, dalam
menghadapi kehidupan, manusia menyelesaikan masalah tidak cukup dengan kecerdasan
intelektual, melainkan perlu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Mengajarkan kecerdasan emosional dan spiritual tidak cukup dilakukan secara kognitif,
sebagaimana mengajarkan kecerdasan intelektual. Dalam hal ini diperlukan proses
internalisasi dari berbagai pengertian yang ada dalam rasio ke dalam hati sanubari. Salah satu
cara terbaik mengajarkan dunia afektif adalah pemberian teladan dan contoh dari para
pemimpin dan orang-orang yang berpengaruh di sekitar anak.
§ Dengan mengasramakan anak didik sepanjang 24 jam, anak didik tidak hanya mendapatkan
pelajaran secara kognitif, melainkan dapat menyaksikan langsung bagaimana perilaku ustaz,
guru, dan orang-orang yang mengajarkan mereka. Para siswa bisa menyaksikan langsung,
bahkan mengikuti imam, bagaimana cara salat yang khusuk, misalnya. Ini sangat berbeda
dengan pelajaran salat, misalnya, yang tanpa disertai contoh dan pengalaman makmum
kepada imam yang salatnya khusuk. Jangan-jangan pelajaran di ke kelas bisa berbeda dengan
pelaksanaan di rumah saat murid/santri melaksanakannya sendiri.
§ Di samping itu, dengan sistem boarding school, para pimpinan pesantren dapat melatih
psikomotorik anak lebih optimal. Dengan otoritas dan wibawa yang dimiliki, para guru
mampu mengoptimalkan psikomotorik siswa, baik sekadar mempraktikkan berbagai mata
pelajaran dalam bentuk gerakan-gerakan motorik kasar maupun motorik lembut, maupun
berbagai gerakan demi kesehatan jiwa dan psikis anak.
§ Karena sistem boarding school mampu mengoptimalkan ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor siswa, maka sistem mesantren ini memiliki prasyarat agar para guru dan
pengelola sekolah siap mewakafkan dirinya selama 24 jam. Selama siang dan malam ini,
mereka melakukan proses pendidikan, baik ilmu pengetahuan, maupun memberikan contoh
bagaimana mengamalkan berbagai ilmu yang diajarkan tersebut.
§ Dengan adanya boarding school, keinginan orang tua mendapatkan sekolah berkualitas
didukung tempat tinggal yang bagus bagi anak-anaknya dapat terpenuhi.
§ Selain adanya pengawasan 24 jam, menyekolah anak di boarding school juga bisa
meningkatkan persaudaraan yang kental di antara anak-anak, menciptakan hubungan yang
baik antara guru dan murid.
§ Dan di beberapa sekolah boarding school dimanfaatkan untuk meningkatkan fektifitas dari
visi sekolah itu sendiri.
E.3 Perkembangan Boarding School Di Indonesia
Di Indonesia, sekolah semacam boarding school telah banyak didirikan, biasanya berada di
daerah atau lingkungan pedesaan. Contohnya adalah SMA Taruna, SMA unggulan di
berbagai daerah, pesantren-pesantern baik yang modern maupun sallafy (Pesantren Gontor,
Al-Zaytun, Tebuireng dsb), SMUT Krida Nusantara di Bandung, SMU Madaniah di Parung
Bogor dan Al-Azhar di Lippo Cikarang. Semua itu cukup bagus dan memiliki hasil positif
dalam membangun pendidikan berkualitas.
Sistem pembelajarannya cukup bagus, tidak hanya pendidikan dalam kelas, tapi di asrama
juga ada pembinaan. Seperti di pesantren, setiap jam empat pagi anak-anak dibangunkan
untuk salat tahajud, kekurangannya hampir tidak ada, kecuali kalau manajemennya jelek.
Visi sekolah yang membedakan boarding school dengan pesantren, pesantren itu nyantri.
Dari mulai ilmu pengetahuannya sampai sikapnya harus sikap santri. Ada pula boarding
school yang punya visi seperti itu. Tapi, yang populer sekarang ini orang mencoba mencari
jalan tengah. Pesantren mau digabungkan dengan teknologi modern, sedang yang modern
digabungkan agama
E.4 Syarat-Syarat Untuk Menjadi Boarding School Yang Baik
Manajemen boarding school yang bagus memiliki enam kriteria :
1. tujuan visi dari pendidikan di sekolah itu jelas dan dimengerti
2. peraturan di sekolah jelas dimengerti dan konsisten
3. hubungan antara struktur yang ada (kepala sekolah, tata usaha, guru-murid, dan orang tua)
mempunyai hubungan yang egaliter dan demokratis, tapi memperhatikan tatakrama
ketimuran dan agama
4. struktur organisasi dan personalianya mempunyai kriteria yang mapan mengikuti arus
zaman yang paling baru
5. ada tolok ukur sistem evaluasi pendidikan yang sering disebut sukses pendidikan atau
sukses pembelajaran
6. manajemen yang baik adalah tidak isolatif, tapi dia mempunyai interaksi dan networking
(jaringan-jaringan) yang cukup ke mana-mana.
E.5 Manfaat Boarding School
§ Dari sisi kualitas, sekolah dengan sistem pendidikan boarding memungkinkan interaksi
antara siswa dengan guru terjalin lebih leluasa, bahkan hingga 24 jam. Interaksi yang kerap
ini membuat siswa terhindar dari pengaruh negatif lingkungan, semisal penyalahgunaan
narkoba, perilaku seks bebas, tawuran, bergabung dalam geng kriminal, dan hal – hal lain
yang bersifat negatif yang berasal dari lingkungan.
§ Dengan sistem boarding, komunikasi antara siswa dengan guru jauh lebih cair. Para siswa
memandang gurunya tidak hanya sebagai pengajar, namun lebih dari itu, yakni sebagai
teman, sahabat, dan pengganti orang tua, yang dengannya mereka bebas untuk berbicara
tentang apa saja. Dengan cara ini pengawasan terhadap perilaku siswa dapat lebih
dipertanggung jawabkan”
§ Faktor yang tidak kalah penting dari pelaksanaan sekolah dengan sistem boarding adalah
mekanisme pembentukan siswa menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak mulia. Para
siswa dibiasakan untuk dapat mengurus dirinya sendiri, dari mulai mengurus hal-hal ringan
semisal bangun pagi hingga ke hal-hal yang lebih serius semisal menjaga kesehatan dan
menjaga ritme belajar.
§ Siswa juga dibiasakan menata hidupnya dengan cermat, mengatur waktunya dengan efektif,
bersosialisasi dengan sehat, mengatur emosi, pendeknya mereka dibiasakan untuk rajin,
tekun, ulet, berdisiplin, dan memiliki empati, sehingga kelak ia akan menjadi pribadi yang
menyenangkan.
§ Kedisiplinan dan ketaatan beribadah kepada Allah swt hingga kini masih menjadi alasan
utama para orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah boarding. Di sini para
siswa dibiasakan disiplin dan taat dalam beribadah, suatu hal yang sangat sulit di lakukan di
rumah, terutama di keluarga dengan kedua orang tua berkarir di luar.
§ Memperdalam ilmu agama tak pelak menjadi bagian yang sangat penting dalam proses ini.
Semua ilmu-ilmu kepesantrenan umumnya diajarkan di sekolah-sekolah boarding khususnya
yang berbasis Islam. Ilmu-ilmu itu, seperti ilmu Hadits, Tafsir, Aqidah, Akhlak, dan
sebagainya, disajikan dengan formulasi berbeda, lebih moderen dan menarik minat anak,
tanpa harus kehilangan esensinya
§ Peserta didik fokus kepada pelajaran
§ Pembelajaran hidup bersama
§ Terhindar dari hal-hal yang negatif seperti merokok narkoba
§ Bebas dari kemacetan saat peserta didik berangkat sekolah
§ Bebas dari tawuran
§ Bebas dari tayang/film/sinetron yang tidak mendidik
§ Lingkungan nyaman, udara bersih bebas polusi
§ Orang tua tidak terlalu khawatir terhadap anaknya, karena aman
E.6 Penilaian Terhadap Boarding School
Era globalisasi yang sesaat lagi akan menjelang tentu harus kita sikapi dengan positif dan
dengan antisipasi yang positif pula. Diperlukan keseriusan semua komponen bangsa dalam
mempersiapkan generasi muda yang kelak akan menjadi pemain utama serta melanjutkan
cita-cita kita di era yang dahsyat itu. Untuk tujuan itulah sekolah-sekolah boarding didirikan.
Memang ini bukanlah jenis pendidikan yang murah. Namun jika dilihat dari hasil yang kelak
akan kita tuai dari anak-anak ini, berupa kemaslahatan dan kemampuan memajukan, serta
mensejahterakan seluruh bangsa Indonesia, maka tentu hal ini sangat sepadan dengan nilai
dan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Sekolah boarding adalah sekolah yang berorientasi
masa depan dan sangat antisipatif dalam menyikapi perubahan jaman yang sangat pesat. Dari
sekolah-sekolah ini diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang memiliki segenap
kualifikasi unggul, baik dalam akhlak maupun dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi ” .
F. SISTEM SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)
F.1 Pengertian SBI
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah yang diselenggarakan dengan kurikulum
berkarakte-ristik Indonesia tapi bertaraf internasional. SBI dalam pembelajaran di sekolah
menggunakan pengantar bahasa Inggris pada kelompok mata pelajaran berkategori hard
science seprti matematika, fisika, kimia, biologi dan teknologi informasi, yang memang
membutuhkan pertukaran dan kekinian informasi dari negara-negara lain yang menjadikan
bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan internasional. Sehingga dipersyaratkan juga gurunya
harus mengusai bahasa inggris. Calon siswa harus lolos seleksi bahasa Inggris baik reading,
listening, writing dan speaking. Walaupun demikian bahasa Indonesia tetap diajarkan, juga
sebagai bahasa pengantar pada mata pelajaran tertentu seperti olahraga, sejarah, kesenian dll,
supaya tidak melupakan jati diri bangsa.
Kurikulum tetap menitik beratkan pada bidang akademik, yang dipadukan dengan kegiatan
ekstrakurikuler agar terjadi keseimbangan. Siswa dilatih bukan cuma mengejar prestasi
akademis di kelas dan menjadi yang terbaik, tapi juga dilatih mengetahui proses dan usaha
untuk mencapainya supaya terbangun kreativitasnya. Targetnya adalah pandai secara
akademis dan juga kreatif, sehingga kalau menghadapi masalah-masalah yang keluar dari
formula tidak menjadi bin
gung.
SBI diarahkan tidak hanya mengedepankan kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun
kecerdasan hati, rasa, dan raga. Keempat kecerdasan itu diasah bersama-sama dan beriringan
agar siswa menjadi manusia yang unggul.
Kurikulum sekolah internasional di Indonesia mempertimbangkan keseimbangan dengan
tetap mengacu pada kultur dan budaya timur, agar anak Indonesia tetap menyadari akar
budayanya. Disini dibangun dengan sangat baik secara etika timur hubungan keakraban
antara guru dan murid untuk menghindari terbentuknya manusia yang individualistis.
F.2 Landasan hukum
Penyelenggaraan SBI ini didasarkan pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50
ayat (3), yaitu “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-
kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan
menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”
F.3 Latar Belakang Didirikan SBI
Kompetisi, perjuangan, inovasi, kreativitas, keunggulan, dan kompetensi adalah jargon-
jargon dari manusia yang berpikiran maju dan mau berubah. Era globalisasi semakin
menuntut kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing secara internasional.
Sumber daya manusia yang unggul hanya akan dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas.
Pendidikan yang berkualitas inilah yang harus terus-menerus diupayakan, baik oleh
pemerintah maupun oleh para pelaksana pendidikan di lapangan.
Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan rintisan sekolah bertaraf internasional
(SBI) untuk menjawab tuntutan dan tantangan zaman dalam menyiapkan SDM unggul dan
berkualitas. Salah satunya adalah rintisan SMP bertaraf internasional yang dimulai tahun
ajaran 2007/2008, yang selanjutnya disebut rintisan sekolah bertaraf internasional. Rintisan
SBI pada tingkat SMP diselenggarakan dengan beberapa alasan.
1) Sejak tahun 2004 telah ada sebanyak 1.027 SMP di seluruh Indonesia yang telah menjadi
rintisan sekolah standar nasional (SSN), yaitu sekolah yang minimal telah memenuhi standar
nasional pendidikan (SNP) sebagaimana disebutkan dalam PP No. 19 Tahun 2005 yang
terdiri dari SKL (standar kompetensi lulusan), SI (standar isi), standar proses, standar tenaga
pendidik dan kependidikan, standar pengelolaan, standar sarana, standar pembiayaan, dan
standar penilaian. SMP yang ditunjuk sebagai rintisan SSN setelah lima tahun diharapkan
dapat menjadi SSN mandiri atau sekolah bertaraf internasional. Dengan kata lain, SSN adalah
embrio rintisan SBI di SMP.
2) Sejak tahun 2004, terdapat beberapa SMP yang ditetapkan sebagai sekolah koalisi di setiap
provinsi. Sekolah koalisi adalah SMP yang melaksanakan kerja sama dengan negara-negara
ASEAN dalam berbagai bidang dan melaksanakan pembelajaran dalam bilingual (bahasa
Inggris dan Indonesia) untuk mata pelajaran matematika dan IPA. Dengan demikian, sekolah
koalisi ini juga merupakan embrio untuk menjadi rintisan SBI.
3) Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sejumlah siswa Indonesia
mampu bersaing dalam lomba matematika dan sains serta bidang-bidang nonakademik
tingkat internasional. Hal ini memperkuat alasan akan pentingnya peyelenggaraan rintisan
SBI di SMP.
4) Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UU SPN No. 20/2003) Pasal 50 ayat 3 yang menyebutkan bahwa, "Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada
semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf
internasional".

F.4 Tujuan Didirikan SBI


§ Kemampuan bahasa Inggris guru dan siswa berkembang pesat karena bahasa tersebut
dijadikan bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar.
§ Membekali siswa untuk memahami perubahan jaman secara global dan mempersiapkan diri
menghadapi dan beradaptasi terhadap perubahan itu.
§ SBI ditargetkan segera bisa sejajar dengan sekolah bermutu di luar negeri, untuk memenuhi
kebutuhan siswa Indonesia yang ingin berkompetisi di sekolah-sekolah elit di negara maju.
§ Siswa lulusan SBI mendapat ijazah dengan standar internasional.
§ Peningkatan citra pendidikan Indonesia di dunia Internasional dengan harapan, masyarakat
lokal dan asing tertarik bersekolah di SBI. Masuknya siswa asing memiliki berbagai
keuntungan yaitu bahasa Indonesia, studi Indonesia, dan seni budaya Indonesia dipelajari
oleh orang asing.
F.5 Perkembangan SBI di Indonesia
Tahun 2004 telah bermunculan sekolah-sekolah swasta yang mengadopsi kurikulum dari
Singapura, Australia, Cambridge Univ, bahkan sebuah sekolah di Semarang mengadopsi
kurikulum Turki. Seperti biasa karena levelnya international maka bahasa pengantarnya harus
bahasa Inggris, dan SPP-nya harus dikalkulasi dengan dolar, rupiah sudah tidak laku di sini !
Guru-gurunya pun didatangkan khusus dari negara asalnya. Supaya tetap dapat diakui
keberadaannya di negara RI, tentunya sekolah-sekolah ini harus menggunakan kurikulum
nasional. Ya, menurut wakasek sebuah sekolah yang saya wawancarai, mereka memang tetap
mengacu kepada kurnas sekedar untuk meloloskan siswa di UAN, tetapi buku-buku, metode
pembelajaran semuanya menjiplak dari negara asalnya. Target sekolah ini tentu saja orang
tua yang menginginkan anaknya bersekolah ke luar negeri, yg menurut laporan ada sekitar
2500 anak yang ingin bersekolah ke luar negeri setiap tahunnya.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Untuk setiap orang diperlukan program pendidikan yang berbeda :
Akselersi : Program ini dikhususkan untuk anak yang memilki kemampuan inteligensi di atas
rata-rata agar tidak jenuh berada di dalam satu kelas dengan anak-anak lain yang berbeda
dengan dirinya.
Home-schooling : Program ini baik dilaksanakan bagi anak yang membutuhkan perhatian
khusus untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi dirinya sendiri sehingga
dapat mengembangkan kemampuan secara optimal. Ini juga menguntungkan bagi pelajar
yang sudah memiliki mata penceharian sendiri agar tidak ketinggalan pelajaran. Tetapi
kebanyakan dari pengguna home-schooling, kuarng dapat bersosialisasi dengan baik. Untuk
itu, diperlukan tanggung jawab penuh dan perhatian yang lenih dari orang tua.
E-learning : E-learning merupakan program home-schooling, tetapi perbedaannya, peran
pengajar digantikan oleh komputer. Ini berguna untuk membiasakan diri berhadapan dengan
perkembangan teknologi.
Boarding school : Boarding school merupakan sekolah asrama yang bertujuan untuk melatih
kemandirian, tanggung jawab, dan meningkatkan iman serta akhlak.
Sekolah Bertaraf Internasional : Program ini menggunakan bahasa pengantar bahasa asing
dan menerapkan sistem belajar dari luar negri. Internasional school biasanya dipakai oleh
pelajar yang akan melanjutkan pendidikan di luar begri ataupun untuk pelajar asing yang
akan menetap di Indonesia.
B. SARAN
Dibutuhkan kecerrmatan pikiran untuk memilih program apa yang tepatuntuk diri kita. Kita
perlu mengetahui dengan pasti kemampuan yang kita miliki. Untuk mengetahui kemampuan
tersebut, kita dapat melakukan tes psikologis. Tes psikologis ini juga dapat mengetahui
kesiapan mental kita.
Selan itu dibutuhkan peranan penting dari orang tua untuk memberikan perhatian yang lebih
terhadap masalah ini karena bukan hanya kemampuan yang tidak berkembang secara optimal,
hal lain yang disebabkan adalah anak akan terkena dampak psikologisnya. Untuk itu, sebagai
masukan terhadap sekolah-sekolh, agar menyediakan layanan bimbingan konseling agar
setiap anak dapat berkonsultasi untuk menyelesaikan masalahnya sehingga akan terlihat
kemampuan dan kelemahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Asmaldi Ulsa, 2006, “Tingginya Kualitas Belajar Siswa Kelas Akselerasi di
Kota Yogya”, 19 Januari.
Dadang Hendrana, 2005, “SBI, Langkah Maju Siapkan SDM Unggul”, 1 Mei.
Romi Satria Wahono, 2006, “e-Learning Award 2006 dari Depdiknas”, 19
Desember.
Paulus Murjian, 2004, “Persoalan Kelas Akselerasi”, 18 Maret.
Pormadi Simbolon, 2005, “Homeschooling: Sebuah Pendidikan Alternatif”, 13
Maret.
www.bpkpenabur.or.id
www.belajar-gratis.com
www.dpade.wordpress.com
www.ilmukomputer.com
www.wikipedia.org
LAMPIRAN
HOME-SCHOOLING
CHART OF REASON FOR HOMESCHOOLING