Anda di halaman 1dari 26

KEBIJAKAN

PERTANIAN
DJOHAR NOERIATI R.D.
NUHFIL HANANI

6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN PERTANIAN
Teori ekonomi tradisional: dalam keadaan
persaingan bebas sempurna maka akan
tercapai efisiensi ekonomi yang tertinggi.
Permasalahan: tidak ada persaingan
bebas yang sempurna, ada kekuatan
tertentu yang mempengaruhi perilaku
pasar, diantaranya pemerintah.
Intervensi pemerintah --- BAIK or
BURUK ???
6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN PERTANIAN
INTERVENSI PEMERINTAH

YANG UTAMA
Bagaimana pemerintah dapat
mendorong masyarakat untuk
mencapai efisiensi tertinggi dalam
usaha meningkatkan
kesejahteraannya?
6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN PERTANIAN
KEBIJAKAN PERTANIAN:
Serangkaian tindakan yang telah, sedang
dan akan dilaksanakan oleh pemerintah
untuk mencapai tujuan tertentu.

TUJUAN UMUM KEBIJAKAN PERTANIAN


INDONESIA:
Memajukan pertanian,
Mendorong agar pertanian lebih produktif.
Produksi & efisiensi produksi naik
Tingkat kehidupan & kesejahteraan petani
meningkat.
6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN PERTANIAN
PERATURAN-PERATURAN untuk
melaksanakan kebijakan pada
dasarnya meliputi:
Kebijakan yang bersifat mengatur
(regulating policies), misal
pengaturan rayon distribusi /
perdagangan pupuk.
Kebijakan yang bersifat pembagian
yang lebih adil dan merata
(distributive policies), misal
6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN PERTANIAN
Kesulitan dalam melaksanakan
kebijakan adalah masalah /
persoalan keadilan.
Misal kebijakan harga minimum dan
maksimum dari beras mulai tahun
1969.

6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN PERTANIAN
Tujuan kebijakan :
Harga minimum -- Merangsang
peningkatan produksi, krn ada kepastian
harga, memudahkan perhitungan biaya
& pendapatan oleh petani.
Harga maksimum -- Melindungi
konsumen.
Penentuan batas antara harga
minimum & harga maksimum -perlindungan pemerintah pada golongan
penggilingan
6/12/15 pedagang &
DJH -pabrik-pabrik
PP PEP
7

KEBIJAKAN PERTANIAN
KEBIJAKAN PERTANIAN YANG BAIK adalah
yang dapat mencapai tujuan nasional
untuk menaikkan produksi secara optimal
dengan perlakuan yang adil pada pihakpihak yang bersangkutan.

6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN PERTANIAN
MELIPUTI:
Kebijakan dari aspek produksi (irigasi, benih unggul,
teknologi & kredit)
Kebijakan struktural (untuk memperbaiki struktur produksi,
misal luas pemilikan tanah, pengenalan & pengusahaan alatalat pertanian yang baru & perbaikan prasarana pertanian
pada umumnya, fisik maupun sosial ekonomi).

Kebijakan harga
Kebijakan perdagangan
Pengaturan-pengaturan kelembagaan (di sektor
pertanian maupun yang terkait dengan sektor
pertanian), misal landreform, penyuluhan pertanian,
dan lain-lain.
6/12/15

DJH - PP PEP

KEBIJAKAN
PERTANIAN
KEBIJAKAN DARI
ASPEK PRODUKSI
6/12/15

DJH - PP PEP

10

KEBERHASILAN PRODUKSI
(SWASEMBADA PANGAN)

Self-sufficiency ratio dari Beras ,2008 (AFSIS, 1 Desember 2008)

Vietnam
Thailand
Singapore
Philippines
Myanmar
Malaysia
Lao PDR
Indonesia
Cambodia
Brunei
0

20

40

60

80

100

120

140

160

180

200

DIKUTIP DARI:
nuhfil hanani :
Rasio produksi terhadap penggunaan domestik (Persen)
nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.id/
www.lecture.brawijaya.ac.id/nuhfil
nuhfil

CADANGAN PANGAN UNTUK


KETAHANAN PANGAN
Food security ratio dari beras,2008 (AFSIS 1 Desember 2008)
Standar
Vietnam
Thailand
Singapore

Ind
o
san nesi
a
kar gat k
r it i
e
s
kur na
ang
20
%)

Philippines
Myanmar
Malaysia
Lao PDR
Indonesia
Cambodia
Brunei
0

10

20

30

40

50

60

Rasio stok terhadap penggunaan domestik (Persen)

DIKUTIP DARI:
nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.i
d/nuhfil

nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.id/nuhfil

70

KEBIJAKAN PERTANIAN
PENINGKATAN PRODUKSI PERTANIAN,
KHUSUSNYA PRODUKSI PANGAN

Salah satu tujuan utama dari


kebijakan pemerintah di sektor
pertanian

6/12/15

DJH - PP PEP

13

INOVASI TEKNOLOGI untuk


peningkatan produksi &
produktivitas

TEKNOLOGI = seperangkat alat,


pengetahuan manusia, dan
kelembagaan sosial ekonomi untuk
melaksanakan suatu ikhtiar atau
usaha.
Pada sisi produksi, teknologi berupa
proses produksi, yi bagaimana faktorfaktor produksi dikombinasikan untuk
menghasilkan suatu produk.
Produktivitas = ukuran efisiensi
6/12/15

DJH - PP PEP

14

INOVASI TEKNOLOGI
Pengembangan aplikasi teknologi
pada pertanian terutama didorong
oleh adanya kelangkaan dari faktorfaktor produksi tertentu, sehingga
harganya relatif menjadi lebih mahal.
Teknologi di produksi pertanian:
Teknologi mekanis
Teknologi biologis & kimiawi
6/12/15

DJH - PP PEP

15

INOVASI TEKNOLOGI
USA --- fokus pada teknologi mekanis
Jepang & Taiwan --- fokus pada teknologi
biologis & kimiawi.
Indonesia -- Jawa, Madura & Bali --- teknologi bologi &
kimiawi
Kalimantan, Sulawesi & Irian Jaya --teknologi mekanis.

Latar belakang & sebab akibat inovasi


teknologi di luar negeri & Indonesia
sangat jauh berbeda.
6/12/15
DJH - PP PEP
16

KEBIJAKAN PERBAIKAN
TEKNOLOGI
Output
per
time
period

100

O3

1.
2.

A
O2

50

O1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
6/12/15

DJH - PP PEP

3.

INOVASI
BENIH
UNGGUL
PERBAIKAN
TEKNOLOGI
USAHATANI
(INTENSIFIKASI)
PERBAIKAN IRIGASI

DIKUTIP DARI:
nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.i
d/nuhfil

Labor per
time
period
17

kebijakan perluasan areal


Output
per
time
period

100

O2

50
O1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
6/12/15

DJH - PP PEP

DIKUTIP DARI:
nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.id/nu
hfil

Labor per
time period
18

PERMASALAHAN SISTEM USAHATANI DI


INDONESIA

Yield gap I
Yield gap II

Hasil
Research

Potensial
Usahatani

Hasil
Petani
sebenarnya
DIKUTIP DARI:
nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.id/nu
hfil

6/12/15

DJH - PP PEP

19

Energi yang tak tertransfer


Yield gap I

Perbedaan lingkungan
Varietas, hama dan penyakit

Yield gap II

Biologis

Kesuburan tanah
Gulma, dll

Sosial
Ekonomi
masyarakat

Biaya, resiko
Kelembagaan, Pengetahuan
DIKUTIP DARI:
nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.id/nu
hfil

6/12/15

DJH - PP PEP

20

ALIH TEKNOLOGI &


PRIORITAS PETANI
Sistem pendidikan & pelatihan
(formal & informal, profesional &
amatir, dalam skala besar & skala
kecil) ----- berdasar skenario proses
alih teknologi (transfer of
technology).
Untuk itu harus berorientasi kepada
petani sebagai pelaku atau subyek.
6/12/15

DJH - PP PEP

21

KEBIJAKAN KREDIT
KREDIT adalah modal pertanian yang
diperoleh dari pinjaman.
Pentingnya peranan kredit
disebabkan oleh:
Secara relatif, modal merupakan faktor
produksi non-alami (buatan manusia)
yang persediaannya masih sangat
terbatas, terutama di negara-negara
berkembang.
Kemungkinan sangat kecil untuk
memperluas
tanah pertanian, 22
6/12/15
DJH - PP PEP

KEBIJAKAN KREDIT
Oleh sebab itu cara yang dianggap
paling mudah & tepat untuk
memajukan pertanian & peningkatan
produksi adalah dengan
memperbesar penggunaan modal
---- menjiwai pelaksanaan
intensifikasi pertanian.

6/12/15

DJH - PP PEP

23

KEBIJAKAN KREDIT
Output
per
time
period

100

B
O2

50

A
O1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
6/12/15

DJH - PP PEP

DIKUTIP DARI:
nuhfil hanani :
www.lecture.brawijaya.ac.id/nu
hfil

Labor per
time period
24

KEBIJAKAN KREDIT
KRITIK terhadap pendapat / asumsi
bahwa petani memerlukan kredit
karena mereka miskin dan modalnya
lemah.
Yang mutlak adalah mendorong
motivasi petani untuk menggunakan
barang modal dan teknologi baru
untuk meningkatkan produksi
dengan cara menyediakan alat dan
bahan pertanian di dekat petani.
6/12/15

DJH - PP PEP

25

KEBIJAKAN KREDIT

6/12/15

DJH - PP PEP

26

Anda mungkin juga menyukai