Anda di halaman 1dari 10

Pengobatan Akne Vulgaris : Skenario Terkini

Abstrak
Akne vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit yang umum dimana ahli kulit yang
mengobatinya. Akne vulgaris biasanya terjadi pada remaja, meskipun bisa terjadi diusia
berapa saja. Pada tahun ini, untuk memahami dengan baik dari patogenesis akne, modalitas
terapi dan bermacam-macam permutasi dan combinasi telah dibentuk. Pada agen topikal;
benzoil peroksida, antibiotik, retinoid, dan lainnya merupakan pengobatan andalan; dapat
diberikan dalam kombinasi. Sementara terapi sitemik antibiotik oral dilibatkan, terapi
hormonal, dan isotretinoin, bergantung pada kebutuhan pasien yang harus dipilih. Pengobatan
fisik dalam bentuk dari pengangkatan lesi, fototerapi juga sedikit membantu pad apengobatan
ini. Sejak jenis-jenis topikal lama dan baru dan agen sistemik yang tersedia untuk mengobati
akne, terkadang ahli kulit bingung untuk mengobati. Untuk mengatasi hal ini, panel dari
dokter dan peneliti bekerjasama sebagai aliansi global dan satuan tugas untuk meningkatkan
hasil pada pengobatan akne. Mereka berusaha untuk meberikan rekomendasi konsensus
untuk pengobatan dari akne. Managemen yang sukses dari akne memerlukan seleksi yang
hati-hati dari agen anti-akne berdasarkan presentasi klinis dan kebutuhan individu pasien.
Kata kunci: Akne, pengobatan, rekomendasi konsensus.

Pendahuluan
Akne vulgaris merupakan kelainan umum pada kulit dimana ahli kulit harus
mengobatinya, terutama sering terjadi pada remaja, meskipun dapat terjadi pada semua usia.
Akne didefinisikan merupakan penyakit inflamasi multifaktorial kronik dari unit
pilosebasous. Presentasi klinis dari akne bermacam-macam termasuk seborea, komedo,
papula eritematous dan pustul, sedikit frekuensi nodul, pustula yang dalam atau pseudocyst,
dan beberapa bekas jaringan parut. Akne memiliki empat mekanisme patogenesis utama dari
peningkatan produksi sebum, hiperkeratinisasi folikel, kolonisasi Propionibacterium acne (P.
acne), dan produk dari inflamasi.
Tahun ini, untuk memahami lebih baik dari patogenesis akne, modalitas terapi baru
dibentuk. Adanya pilihan terbaru pengobatan terhadap keberadaan armamentarium dapat

membantu dalam pencapaian suksesnya terapi dari bertambahnya jumlah pasien akne,
memastikan meningkatnya tolerabilitas dan memenuhi ekspetasi pasien. Suksenya suatu
manajemen dari akne memerlukan seleksi yang hati-hati dari agen anti-akne menurut
presentasi klinis dan kebutuhan individu pasien.
Tujuan dari artikel ini adalah untuk mereview pilihan pengobatan yang tersedia
dengan kami dalam skenario sekarang ini. Terapi topikal digunakan dalam akne ringan dan
sedang, sebagai monoterapi, dalam kombinasi dan juga sebagai terapi maintanance. Ini
merupakan agen topikal yang efektif sejak tahun-tahun yang lalu dan tersedia dalam
formulasi berbeda (sabun cuci muka, losion, krim, dan gel) dan konsentrasi (2,5-10%).
Stabilitas sangat tergantung pada pembawa. Gel secara keseluruhan lebih stabil dan
aktif dan gel dengan dasar air lebih sedikit iritasi merupakan lebih dipilih daripada krim dan
losion. Bensoil peroksida merupakan agen bakterisidal spektrum luas dimana efektifnya
karena aktivitas oksidasinya.
Obat memiliki suatu anti-inflamasi, keratolitik, dan aktivitas komedolitik, dan sebagai
indikasi dalam akne vulgaris ringan hingga sedang. Seorang dokter harus membuat suatu
keseimbangan diantara penentuan konsentrasi, bahan dasar pembawanya, dan risiko dari efek
samping, sebagai konsentrasi yang tinggi tidak selalu lebih baik dan lebih efikasinya.
Batasan utama dari benzoil peroksida konsentrasinya tergantung pada iritasi kutaneus
atau kekeringan dan pemutih pakaian, rambut, dan sprei. Hal itu bisa menimbulkan dermatitis
iritan dengan gejala kulit terbakar, eritema, kulit terkelupas, dan kering. Hal ini muncul dalam
beberapa hari dari terapi dan sebgian besar mereda dengan penggunaan lebih lanjut.

B. Retinoid topikal
Retinoid telah digunakan selama lebih dari 30 tahun. Target retinoid topikal adalah lesi
mikrokomedo dari akne. Sekrang ada konsensus yang menyatakan bahwa retinoid topikal
dapat digunakan sebagai terapi lini pertama, dosis tunggal atau kombinasi, untuk inflamasi
akne ringan hingga sedang dan juga agen yang dipilih untuk terapi maintanance.
Keefektifannya didokumentasikan dengan baik, sebagai targetnya hipoproliferasi epitel
folikel yang abnormal, mereduksi sumbatan di folikel dan mereduksi mikrokomedo dan
kedua non-inflamasi dan lesi inflamasi akne. Efek bilogiknya sedang melalui reseptor

hormon nuklear (reseptor asam retionoid RAR dan reseptor retinoid X RXR dengan tiga
subtipe ,, dan ) dan pengikatan protein sitosolik. Pemblokiran agen metabolisme asam
retinoid (RAMBAs) seperti liarozol baru-baru ini memiliki perkembangan untuk mengatasi
kedaruratan dari semua resistansi trans asam retinoid.
Tretinoin, adapalene,tazarotene, isotretinoin, metretinid, retinal dehyde, dan glukoronid retinoil sekarang tersedia dalam retinoid topikal. Paling banyak dipelajari retionoid topikal
untuk pengobatan akne diseluruh dunia adaalah tretinoin dan adapalene. Disana tidak ada
konsensus tentang hubungan efikasi dari retinoid topikal yang tersedia sekarang (tretionin,
adaplane, tazarotene, dan isotretinoin). Konsentrasi dan/atau pembawa dari beberapa bagian
retinoid dengan perbandingannya. Tretionin baru-baru ini menjadi formulasi yang tersedia
dengan sistem penghantar yang baru yang mana meningkatkan tolerabilitas. Salah satunya
produk Retin-A Micro (gel 0,1%) terdiri dari tretionin yang disatukan dengan mikrosphere
porous kopolimer. Avita, tretinoin menggabungkan dengan suatu polioilprepolimer (PP-2).
Setiap dari formulasi ini melepaskan secara perlahan-lahan tretinoin dalam folikel dan
kedalam permukaan kulit, dimana pada gilirannya mereduksi iritansi dengan efikasi yang
sama.
Efek samping utama dengan retinoid topikal ini adalah dermatitis iritan, dimana dapat
diprexentasikan sebagai eritema, scaling, sensai terbakar dan bermacam-macam tergantung
pada tipe kulit, sensitifitas, dan formulasi.
C. Antibiotik Topikal
Banayk formulasi antibiotik topikal tersedia, baik dalam bentuk tunggal maupun dalam
kombinasi. Mereka menghambat pertumbuhan dari P. acne dan mereduksi inflamasi.
Antibiotik topikal seperti eritromisin dan clindamycin adalah yang paling terpopuler dalam
mengatasi akne dan tersedia dalam bermacam-macam bentuk dan kemasan. Clindamycin dan
eritromisisn keduanya efektif melawan inflamasi akne dalam bentuk topikal pada kombinasi
dari 1-4% dengan atau tanpa penambahan zink. Suatu penambahan dari 2% zink sulfat
topikal dan nicotinamid tidak berbeda dari plasebo untuk pengobatan akne. Clarithromycin
topikal, azithromycin, dan nadifloxacin tersedia di India, tetapi percobaan untuk efikasi dan
keamanannya masih kurang.
Efek samping biarpun kecil temasuk eritema, pengelupasan kulit, rasa gatal, kekeringan, dan
terbakar, kolitis pseudomembran sangat jarang, tetapi telah dilaporkan dengan klindamisin.

Hal yang paling penting efek samping dari antibiotik topikal adalah perkembangan dari
resistensi bakteri dan resistensi silang; oleh karena itu , hal tersebut tidak harus digunakan
sebagai monoterapi.
Terapi kombinasi: benzoil peroksida memiliki keuntungan untuk mencegah dan
mengeliminasi perkembangan dari resistensi P.acne. oleh karena itu hal tersebut menjadi
lebih dipilih dari pada sebagai terapi kombinasi. Efikasinya dan tolerabilitas ditingkatkana
ketika dikombinasi dengan eritromisin topikal atau klindamisin, dikonfirmasi dalam
bermacam-macam percobaan. Benzoil peroksida dapat dikombinasi dengan tretinoin dan
ditemukan lebih unggul terhadap monoterapi. Kedua molekul tidak harus diaplikasikan
secara simultan sebagai benzoil peroksida mungkin mengoksidasi tretinoin. Suatu kombinasi
dari retinoid topikal dan antimikroba topikal lebih efektif dalam mereduksi kedua inflamasi
dan lesi noninflamasi akne daripada agen digunakan sendiri. Klindamisin topikal dan benzoil
peroksida diaplikasikan sekali sehari keduanya ditemukan lebih efektif mengobati akne.
Penambahan zink asetat ke klindamisin dan gel eritromisin menunjukan kesamaan efikasi
tetapi mungkin mereduksi perkembangan dari resistensi mikroba.
Asam salisilat : telah digunakan pada banyak tahun dalam akne sebagai agen komedolitik,
tetapi sedikit potensi daripada retinoid topikal.
Asam azeleat: tersedia sebagai 10-20% krim topikal dimana telah menunjukan efektif pada
inflamasi dan komedo pada akne.
Asam laktat/losion laktat: ditemukan lebih berguna dalam pencegahan dan mereduksi dari
jumlah lesi pada akne.
Minyak pohon teh 5%: respon klinis awal dengan preparasi ini pasti lambat perbandingannya
terhadap modalitas pengobatan lainnya.
Gel asam pikotinik: adalah suatu metabolisme menengah dari asam amino, tritopan. Ini
memiliki antivirus, antibakteri, dan properti imunomodulator. Ketika diaplikasikan dua kali
sehari selama 12 minggu efektif pada kedua tipe lesi akne, tetapi percobaan lebih lanjut
memerlukan konfirmasi tentang keamanan dan efikasinya.
Gel dapson 5%: merupakan sulfon dengan properti anti-inflamasi dan antimikroba.
Percobaan telah dikonfirmasi bahwa gel dapson 5% topikal efektif dan aman sebagai

monoterapi dan dalam kombinasi dengan agen topikal lainnya pada akne vulgaris ringan
sampai sedang.

Terapi sistemik
Antibiotik sistemik oral diindikasikan dalam inflamasi akne sedang hinga berat. Tetrasiklin
dan derivat-derivatnya masih menjadi pilihan pertama. Makrolid, kotrimoksazol, dan
trimetoprim merupakan alternatif lain untuk akne. Agen pengikut tidak seharusnya digunakan
pada akne oleh karena rendahnya efikasi dan pertimbangan keamanan seperti sefalosporin,
sulfonamid, dan inhibitor girase.
Tetrasiklin (500 mg- 1g/ hari), doksisiklin (50-200 mg/hari), minosiklin (50-200 mg/hari),
limesiklin (150-300 mg/hari), eritromisin (500mg 1g/hari), kotrimoksazol, trimetoprim, dan
baru-baru ini azitromisin (500 mg tiga kali seminggu) sukses digunakan untuk pengobatan
akne. Minosiklin dan doksisiklin lebih efektif dibanding tetrasiklin dan eritromisin. Baru-baru
ini, doksisiklin dalam dosis subantimikroba (20 mg dua kali sehari) dan suatu pelepasan luas
dari tablet minosiklin (1 mg/kg/hari) digunakan dan ditemukan efektif, tetapi percobaan
kontrol lebih jauh diperlukan.
Gangguan pencernaan dan kandidiasis vaginal merupakan efek samping umum yang sering.
Doksisiklin dapat berhubungan dengan fotosensitivitas. Minosiklin dapat memproduksi
deposit pigmen pada kulit, membran mukosa, dan gigi geligi. Hepatitis autoimun, sindrom
seperti systemic lupus erythematosus, dan reaksi serum seperti sakit jarang muncul dengan
minosiklin.
Terapi jangka panjang dengan antibiotik oral tidak hanya ancaman untuk resistensi dari P.
acne, tetapi juga koagulasi stafilokokus negatif pada kulit, Staphylococcus aureus pada
hidung, dan streptokokus pada cavum oral. Disana terdapat asosiasi signifikan antara
antibiotik yang digunakan untuk akne dan insidensi dari infeksi saluran nafas atas.
Mengoptimalkan terapi antibiotik: penelitian telah didemonstrasikan bahwa masalah dari
resistensi P. acne terhadap antibiotik meningkat, dan hal itu sering dijumpai dengan
penggunaan eritromisin. Oleh karena itu diperlukan pertimbangan untuk peresepan antibiotik
dan anjuran penggunaan dari persiapan non-antibiotik sedapat mungkin.

Monoterapi antibiotik dihindari dan dapat dikombinasi dengan retinoid topikal atau

benzoil peroksida sesuai kebutuhan.


Jika mungkin durasi dari terapi dapat dibatasi. Durasi penggunaan minimum dari

terapi adalah 6-8 minggu, tetapi dapat diberikan hingga 12-18 minggu dan lebih.
Hal ini sebaiknya utnuk menggunakan antibiotik yang sama jika pengobatan
dibutuhkan dan gunakan benzoil peroksida untuk minimum dari 5-7 hari antara

tujuan pemberian antibiotik untuk mereduksi organisme resisten.


Concomitan dignakan oral dan terapi topikal dengan antibiotik kimawi yang berbeda
harus dihindari.

Terapi hormonal mungkin diperlukan pada pasien wanita dengan seborea berat, klinis yang
jelas , alopesia androgenik, sindroma seborea/akne/hirstuisme/alopesia (SAHA), akne onset
lambat (akne tarda), dan dengan terbukti hiperandrogenisme ovarium atau adrenal.
Pencapaian utama dari terapi hormonal pada akne adalah untuk mencegah efek dari androgen
pada kelenjar sebasea dan memungkinakn juga keratinosit folikel. Hal ini bijak untuk
mendapat konsultasi ke ahli ginekologi sebelum memulai terapi.
a). Kontrasepsi oral
Estrogen umum dikombinasi dengan progestin untuk menghindari risiko dari kanker
endometrium. Efek anti-akne dari kontrasepsi oral ditentukan oleh penurunan tingkat dari
androgen melalui inhibisi dari hormon luteinizing (LH) dan hormon stimulasi folikel (FSH).
Sekarang FDA menyetujui termasuk norgestimat dengan etinil estradiol, dan noetidron asetat
dengan etinil estradiol.
b). Spironolakton
Berfungsi utama sebagai steroidal androgen receptor blocker. Ini mungkin menyebabkan
hiperkalemia (ketika dosis tinggi diresepkan atau ketika ada gawat jantung atau ginjal),
ireguleritas menstruasi.
c). Siproteron asetat
Merupakan agen reseptor bloking androgen pertama yang diteliti baik dan ditemukan efektif
pada akne di perempuan. Dosis tinggi telah ditemukan lebih efektif daripada dosis rendah. Ini
juga di kombinasi (2 mg) dengan etinil estradiol (35 atau 50 g) sebagai suatu formulasi
kontrasepsi oral utnuk mengobati akne.

d). Flutamide
berguna pada akne ketika diberikan pada perempuan dengan hirsuitisme.
Isotretinoin oral, retinoid oral merupakan indikasi pada berat, sedang hingga beratnya akne
atau derajat lebih rendah dari akne menghasilkan jaringan parut secara fisik ataupun
psikologkal, ketidakresponsif yang adekuat terhadap terapi konvensional. Ini hanya obat satusatunya yang mempengaruhi keempat faktor patogenik diimplikaiskan dalam etiologi dari
akne.
Meskipun banyak penelitian , tetapi sangat besar penelitian evidence-based yang masih
rendah untuk konfirmasi jadwal dosis. Dosis yang disetujui adalah 0,5-2 mg/kg/hari, dimana
biasanya diberikan selama 20 minggu. Alternatifnya, dosis rendah dapat digunakan untuk
periode yang lama, dengan dosis kumulatif total dari 120 mg/kg. Perkembangan baru dan tren
masa depan adalah dosis rendah jangka panjang dari regimen isotretinoin dan formulasi
isotretinoin baru (mikronisasi isotretinoin).
Efek samping termasuk muskuloskeletal, mukokutaneus, dan sistem ophtalmik, dan juga
sakit kepala, dan efek sistem saraf pusat. Kebanyakan dari efek samping sementara dan
selesai setelah obat tidak dikonsumsi lagi. Isotretinoin oral berpotensi teratogen. Oleh karena
itu wanita usia subur diperlukan tes kehamilan negatif sebelum pengobatan, penghitungan
kontrasepsi esensial yang ketat sebelum, selama, dan bahkan 6 minggu postterapi. Karena itu,
di Amerika, risiko baru program managemen (iPLEDGE) dikembangkan dimana semua
pasien menerima obat ini harus didaftarkan.

Pengobatan fisik
A. Menghilangkan lesi
a). Komedo
kedua komedo terbuka dan tertutup dapat dihilangkan secara mekanik dengan
ekstraktor komedo dan jarum halus atau pisau runcing. Prosedur sebelum aplikasi
retinoid topikal membuat prosedur mudah. Kauter lembut dan tusukan laser dari
makrokomedo juga membantu prosedur. Batasan dari ekstraksi komedo termasuk
ekstraksi tidak komplit, menjadi penuh kembali, dan risiko kerusakan dari jaringan.
b). Lesi aktif inflamasi dalam

Aspirasi dari lesi inflamasi dalam mungkin dibutuhkan pada beberapa kasus deimana
diikuti oleh injeksi steroid IL dalam kista dan traktus sinus.
B. Fototerapi
a). Pencahayaan
ada beberapa indikasi untuk inflamasi akne ringan hingga sedang. Pencahayaan In
vitro dan in vivo dari bakteri akne 405-420 nm dari ultraviolet bebas cahaya biru
menghasilkan dalam foto destruksi melalui efek dari produksi profirin alami oleh P.
acne. Penggunaan dari panjang gelombang spektrum terbatas, seperti cahaya biru
(puncak 415 nm), dan cahaya campuran biru dan merah (puncak 415 dan 660 nm)
telah ditemukan menjadi efektif dalam mereduksi lesi akne setelah 4-12 minggu.
b). Terapi fotodinamik
(dengan tambahan dari asam -aminolevulinic) dan denyutan oleh pewarna laser (585
nm) juga efektif pada akne, tetapi lebih jauhnya diperlukan percobaan untuk
mengkonfirmasi kesamaan.
Pengobatan fisik untuk jaringan parut pada akne dapat secara luas dibagi kedalam dua
kelompok, yang melibatkan kehilangan jaringan (parut Ice pick, box scar, rolling scar,
dan atropi makular folikel) dan itu melibatkan kelebihan jaringan (hipertrofi jaringan
parut atau keloid) . Baru-baru ini tersedia pengobatan untuk jaringan parut termasuk
eksisi sederhana, dan penjahitan, tunggal maupun kombinasi dengan punch grafting
dan laser resurfacing, dermabrasi, berbagai macam tipe dari laser, pengelupasan kulit
secara kimiawi, dan pengisi. Untuk hipertrofi jaringan parut, pengobatan termasuk
terapi tekanan, kortikosteroid IL, 5-fluorouracil dan injeksi bleomisin, eksisi surgikal,
radioterapi, terapi laser, dan krioterapi.
Semua prosedur memiliki keuntungan dan kekurangan; untuk dipilih dengan hati-hati
melihat keuntungannya.
Restriksi diet belum didemonstrasikan menjadi keuntungan pada pengobatan akne.
Mitos menyebutkan bahwa diet mempengaruhi penyebaran akne, tetapi penelitian
sebelumnya tidak mendukung hal tersebut. Akhir-akhir ini, banyak penulis mengklaim
bahwa ada aturan definisi dari diet pada akne tetapi untuk menyimpulkan bahwa
percobaan kontrol lebih jauh diperlukan. Hal itu diperlihatkan bahwa prevalensi dari
akne rendah pada pedesaan, masyarakat nonindustri daripada populasi modern barat
mungkin dikarenakan oleh diet indek rendah glikemik, mengklaim satu percobaan.
Meskipun tidak diakui dengan standar perawatam dermatologi kami, tapi karena
untuk konsisten dan bukti orientasi pasien berkualitas baik, managemen diet dari
akne muncul untuk diakumulasi.
Keuntungan dari managemen diet ini dalam pengobatan akne telah tidak
didemonstrasikan maupun dibantah.

Kesimpulan
Berbagai macam obat-obat topikal da sistemik tersedia untuk pengobatan akne,
dengan terkadang membingungkan ahli dermatologi. Untuk mengatasi hal ini suatu
panel dokter dan peneliti bekerjasama sebagai Aliansi Global dan Gugusan Tugas
untuk meningkatkan hasil pada pengobatan akne ini. Mereka telah dicoba diberikan
rekomendasi konsensus untuk pengobatan akne, kebanyakan evidence-based dan
pemasukan dari berbagai macam negara. Kemiripan aliansi juga dibentuk di India
baru-baru ini dengan rekomendasi mereka.
Retinoid topikal
Seharusnya menjadi pengobatan utama untuk berbagai bentuk akne vulgaris
Untuk diaplikasikan pada seluruh area yang dipengaruhi
Antimikroba ditambahkan untuk lesi inflamasi
Bagian esensial dari terapi maintanance
Terapi kombinasi

Bekerja lebih baik dan membersihkan lesi cepat


Hentikan antibiotik jika lesi inflamasi reda
Jika putus obat tidak mungkin, tukar dengan benzoil peroksida plus antibiotik
Ratinoid topikal dapat diteruskan untuk mencegah remisi

Antibiotik

Antibiotik oral dan topikal tidak digunakan sebagai monoterapi untuk

mencegah resistensi bakteri.


Membantu pada akne sedang hingga berat
Secara umum antibiotik oral ditoleransi baik, terkadang berhubungan dengan

kejadian sampingan yang berat.


Selalu menggunakan antibiotik yang sama jika pemakaian sebelumnya efektif
Doksisiklin dan minosiklin lebih efektif daripada tetrasiklin
Jangan menggunakan oral kimia berbeda dan antibiotik topikal bersamaan.

Terapi hormonal merupakan pilihan yang sempurna pada wanita yang membutuhkan
kontrasepsi oral (mengandung estrogen) untuk alasan lain dan memiliki akne sedang
hingga berat dengan gejala SAHA. Antiandrogen oral seperti spironolacton dan
siproteron asetat dapat berguna pada pengobatan akne.
Isotretinoin oral disetujui dalam akne rekalsitran nodulasit berat. Ini juga dapat
digunakan pada akne vulgaris resisten sedang sampai berat terhadap terapi

konvensional, frekuensi relaps, dengan jaringan parut psikologik dan fisik berat
dikarenakan oleh akne. Konseling sebelum pengobatan, seleksi pasienm dan
monitoring kritis karena efek sampingnya seperti teratogensitas, dan kejadian
sampingan kesehatan jiwa.