Anda di halaman 1dari 10

BEROBAT dalam ISLAM

MUQODDIMAH
Alloh menghendaki sehat dan sakit, bukan karena kezaliman, tetapi karena kebijaksanaan-Nya. Alloh
memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha menjalani sebab- sebab yang mengantarkan kepada setiap
kebaikan, dan itu merupakan kesempurnaan tawakkal seorang hamba.
Tidak selamanya manusia merasakan kesehatan badan yang sempurna, Alloh menimpakan rasa sakit yang
berbeda-beda menurut perbedaan sebab dan kondisinya, dan tidak ada yang dapat menyembuhkannya
kecuali Alloh semata, [1].
HUKUM BEROBAT
Para fuqoha (ahli fiqih) bersepakat bahwa berobat hukum asalnya dibolehkan[2], kemudian mereka
berbeda pendapat (mengenai hukum berobat, -ed) menjadi beberapa pendapat yang masyhur[3]:
1. Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya wajib, dengan alasan adanya perintah
Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam untuk berobat dan asal hukum perintah adalah wajib[4], ini
adalah salah satu pendapat madzhab Malikiyah, Madzhab Syafiiyah, dan madzhab Hanabilah[5].
2. Pendapat kedua mengatakan sunnah/ mustahab, sebab perintah Nabi shallallahu alaihi wa
sallam untuk berobat dan dibawa kepada hukum sunnah karena ada hadits yang lain
Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan bersabar[6], dan ini adalah madzhab
Syafiiyah[7].
3. Pendapat ketiga mengatakan mubah/ boleh secara mutlak , karena terdapat keterangan dalil- dalil yang
sebagiannya menunjukkan perintah dan sebagian lagi boleh memilih, (ini adalah madzhab Hanafiyah dan
salah satu pendapat madzhab Malikiyah)[8].
4. Pendapat kelima mengatakan makruh, alasannya para sahabat bersabar dengan sakitnya[9], Imam
Qurtubi rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu Masud, Abu Dardaradhiyallahu
anhum, dan sebagian para Tabiin[10].
5. Pendapat ke enam mengatakan lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat tawakkalnya dan lebih baik
berobat bagi yang lemah tawakkalnya, perincian ini dari kalangan madzhab Syafiiyah[11].
Kesimpulan dari berbagai macam pendapat
Sesungguhnya terdapat berbagai macam dalil dan keterangan yang berbeda- beda tentang berobat, oleh
karena itu sebenarnya pendapat- pendapat di atas tidaklah bertentangan. Akan tetapi berobat
hukumnya berbeda- berbeda menurut perbedaan kondis. Ada yang haram, makruh, mubah, sunnah,
bahkan ada yang wajib[12].

ISLAM MEMERINTAHKAN UMATNYA UNTUK BEROBAT


Berobat pada dasarnya dianjurkan dalam agama islam sebab berobat termasuk upaya memelihara jiwa dan
raga, dan ini termasuk salah satu tujuan syariat islam ditegakkan, terdapat banyak hadits dalam hal ini,
diantaranya;
1.

Dari Abu Darda berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


Sesungguhnya Alloh menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Dia jadikan setiap penyakit ada
obatnya, maka berobatlah kalian, tetapi jangan berobat dengan yang haram. (HR.AbuDawud 3874, dan
disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif al-Jami 2643)
2.

Dari Usamah bin Syarik berkata, ada seorang arab baduwi berkata kepada Nabishallallahu alaihi
wa sallam:

( ) :
( ) : :
Wahai Rosululloh, apakah kita berobat?, Nabi bersabda,berobatlah, karena sesungguhnya Alloh tidak
menurunkan penyakit, kecuali pasti menurunkan obatnya, kecuali satu penyakit (yang tidak ada
obatnya), mereka bertanya,apa itu ? Nabi bersabda,penyakit tua.(HR.Tirmidzi 2038, dan disahihkan
oleh al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah 3436)
BEROBAT HUKUMNYA BERBEDA-BEDA
1.
Menjadi
wajib
dalam
beberapa
kondisi:
a.Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka menyelamatkan jiwa adalah wajib.
b.Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara wajib padahal dia mampu berobat, dan
diduga kuat penyakitnya bisa sembuh, berobat semacam ini adalah untuk perkara wajib, sehingga
dihukumi wajib.
c.Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit menular adalah wajib untuk
mewujudkan kemaslahatan bersama.
d.Jika penyakit diduga kuat mengakibatkan kelumpuhan total, atau memperburuk penderitanya, dan tidak
akan sembuh jika dibiarkan, lalu mudhorot yang timbul lebih banyak daripada maslahatnya seperti
berakibat tidak bisa mencari nafkah untuk diri dan keluarga, atau membebani orang lain dalam perawatan
dan biayanya, maka dia wajib berobat untuk kemaslahatan diri dan orang lain.
2. Berobat menjadi sunnah/ mustahab
Jika tidak berobat berakibat lemahnya badan tetapi tidak sampai membahayakan diri dan orang lain, tidak
membebani orang lain, tidak mematikan, dan tidak menular , maka berobat menjadi sunnah baginya, [13].

3. Berobat menjadi mubah/ boleh


Jika sakitnya tergolong ringan, tidak melemahkan badan dan tidak berakibat seperti kondisi hukum wajib
dan sunnah untuk berobat, maka boleh baginya berobat atau tidak berobat[14].
4. Berobat menjadi makruh dalam beberapa kondisi
a. Jika penyakitnya termasuk yang sulit disembuhkan, sedangkan obat yang digunakan diduga kuat tidak
bermanfaat, maka lebih baik tidak berobat karena hal itu diduga kuat akan berbuat sis- sia dan membuang
harta.
b.Jika seorang bersabar dengan penyakit yang diderita, mengharap balasan surga dari ujian ini, maka lebih
utama tidak berobat, dan para ulama membawa hadits Ibnu Abbas dalam kisah seorang wanita yang
bersabar atas penyakitnya kepada masalah ini.
c.Jika seorang fajir/rusak, dan selalu dholim menjadi sadar dengan penyakit yang diderita, tetapi jika
sembuh ia akan kembali menjadi rusak, maka saat itu lebih baik tidak berobat.
d.Seorang yang telah jatuh kepada perbuatan maksiyat, lalu ditimpa suatu penyakit, dan dengan penyakit
itu dia berharap kepada Alloh mengampuni dosanya dengan sebab kesabarannya.
Dan semua kondisi ini disyaratlkan jika penyakitnya tidak mengantarkan kepada kebinasaan, jika
mengantarkan kepada kebinasaan dan dia mampu berobat, maka berobat menjadi wajib.
5. Berobat menjadi haram
Jika berobat dengan sesuatu yang haram atau cara yang haram maka hukumnya haram, seperti berobat
dengan khomer/minuman keras, atau sesuatu yang haram lainnya.
BAGAIMANA DENGAN SEBAGIAN SALAF YANG TIDAK BEROBAT?
Adapun hadits- hadits yang dhohirnya menunjukkan tidak berobat itu lebih utama, maka hal itu hanya
dalam kondisi tertentu saja.
Seperti hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang perkataan beliau kepada Atho


Inilah wanita kulit hitam yang pernah datang kepada Nabi lalu berkata,(wahai
Rosululloh) Aku menderita sakit sawan, dan tersingkap aurotku, maka doakan aku (agar

sembuh) kepada Alloh, Nabi bersabda,jika engkau mau bersabar maka surga
balasanmu, tapi jika engkau mau aku doakan kepada Alloh supaya menyembuhkanmu
maka aku doakan,wanita itu berkata,kalau begitu aku bersabar saja, tetapi auratku
masih tersingkap, maka doakan aku kepada Alloh supaya auratku tidak
tersingkap, maka Rosululloh mendoakannya (agar aurotnya tidak tersingkap).
(HR.Bukhori 5652).
Jawabnya, tidak berobat lebih utama jika kondisi orang yang sakit seperti wanita ini, dia
yakin bisa bersabar untuk mendapat pahala surga, dan penyakitnya tidak mengakibatkan
kebinasaan, tidak menular kepada yang lain, dan dia mampu menghadapi ujian ini, oleh
karenanya wanita dalam hadits ini dijanjikan surga oleh Rosululloh kalau dia bersabar.
Adapun hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma tentang 70.000 orang yang masuk
surga tanpa hisab dan adzab, yang menunjukkan mereka tidak berobat dengan cara
Ruqyah dan cara kay (besi dipanaskan lalu diletakkan pada anggota tubuh yang sakit).
(HR.Bukhori 5705, dan Muslim 347)
Jawabnya, hadits ini menujukkan yang lebih utama adalah tidak meminta diruqyah demi
kesempurnaan tauhid, adapun meruqyah dan diruqyah, maka sungguh telah dilakukan
oleh generasi yang paling utama yaitu Nabi dan para sahabatnya, bukanlah yang
dimaksud adalah meninggalkan pengobatan, karena beliau juga berobat, dan
memerintahkan kaum muslimin untuk berobat (HR.Abu Dawud 3874)[15], beliau
meruqyah, dan diruqyah[16].
Demikian pula apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa Abu
Bakar,Ubai bin Kaab, serta Abu Dzar radhiyallahu anhum jamian, mereka tidak
berobat[17].
Maka jawabnya, hal itu karena kondisi dan sebab tertentu, bukan berarti mereka
menganggap berobat adalah makruh.[18]
KONTRADIKSI SEBAGIAN KAUM SUFI YANG TIDAK MAU BEROBAT
Sebagian kaum shufi mengingkari orang- orang yang berobat, dengan dalih segala
sesuatu sudah ditaqdirkan Alloh termasuk sehat dan sakit, menurut mereka jika Alloh
menghendaki sembuh, tanpa berobatpun akan sembuh dengan takdir Alloh, mereka ada
yang menganggap bahwa berobat berarti menentang taqdir. Akan tetapi tatkala mereka
lapar, mereka berusaha mencari makanan, dan saat kedinginan mereka memakai pakaian

tebal, mereka tidak mengatakan yang memberi makanan dan rasa hangat adalah
Alloh[19].
Maka jawabnya, para ulama membantah mereka dengan hadits- hadits Nabi yang
memerintahkan kaum muslimin berobat, Nabi dan shabatnya berobat, dan berobat
termasuk usaha manusia untuk mendapatkan kesembuhan dari Alloh, dan berobat juga
termasuk taqdir Alloh, sebagaimana jawaban Rosululloh ketika ditanya sahabatnya



Wahai Rosululloh bagaimana ruqyah- ruqyah (jampi- jampi) dan obat- obatan yang
kami gunakan, serta pantangan- pantangan yang kami hindari, apakah semua ini
menolak taqdir Alloh?, Nabi menjawab,itu semua termasuk taqdir Alloh. (HR.Tirmidzi
2148, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Takhrij Musykilat al-Faqr 1/13)
BEROBAT SEJALAN DENGAN TAWAKAL
Tidak diragukan bahwa Rosululloh adalah orang yang paling sempurna tawakkalnya,
walau demikian beliau tidak berserah diri begitu saja kepada Alloh, beliau menjalani
sebab- sebab yang mengantarkan kepada hasil yang diharapkan, oleh karenanya beliau
membawa bekal dan berkendaraan serta menyewa penunjuk jalan ketika hijrah, beliau
sempat bersembunyi 3 hari di goa, beliau memakai baju besi saat berperang, dan beliau
berobat saat sakit dan mengobati yang sakit, bahkan beliau memerintahkan kita untuk
berobat, semua ini dilakukan karena sejalan dengan tawakkalnya yang sempurna.[20]
SETIAP PENYAKIT PASTI ADA OBATNYA
Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah haditsnya, bersabda;


Setiap penyakit ada obatnya, jika obatnya mengenai penyakit, maka sembuhlah dengan
izin Alloh. (HR.Muslim 4084)
Hadits ini menjelaskan bahwa semua penyakit tanpa kecuali pasti ada obatnya sampai
pada penyakit- penyakit yang mematikan, hanyasaja kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya, tidaklah seorang manusia itu mengetahui ilmu kecuali dari Alloh, oleh
karenanya Nabi mensyaratkan kesembuhan jika obat itu mengenainya penyakit, karena

segala sesuatu itu memiliki lawannya, setiap penyakit mempunyai lawan berupa obat
penawarnya. Kita menjumpai banyak orang berobat tetapi tidak kunjung sembuh dari
sakitnya, maka ini sebabnya lantaran manusia tidak mengetahui hakikat obat yang sesuai
dengan penyakitnya atau cara pengobatannya yang kurang tepat seperti kelebihan dosis
sehingga efeknya lebih buruk, atau kurangnya dosis sehingga tidak bermanfaat, dan
bukan berarti penyakit tersebut tidak ada obatnya[21].
BEROBAT KEPADA DOKTER KAFIR PADAHAL ADA DOKTER MUSLIM
Jika kita dihadapkan pada pilihan dokter muslim atau kafir, maka jelas kita lebih memilih
dokter muslim, karena seorang muslim dengan muslim lainnya seperti satu bangunan
yang utuh dan kokoh yang saling tolong menolong, tetapi jika ada dokter kafir lebih
berpengalaman , dan terpercaya (tidak dikhawatirkan berkhiyanat) maka boleh bagi
seorang muslim berobat kepadanya sebagaimana bolehnya seorang muslim
bermuamalah (transaksi jual beli dan lainnya) dengan orang kafir.[22]
BOLEHKAH BEROBAT KEPADA LAWAN JENIS?
Hukum asal berobat adalah kepada ahlinya sesama jenisnya, dan tidak boleh kepada
lawan jenisnya, karena didalamnya akan terjadi saling melihat, menyentuh dan
sebagainya,dan ini di haramkan, hanyasaja dalam kondisi darurat/ terpaksa, maka hal ini
dibolehkan, Imam Bukhori membuat suatu bab dalam shahihnya tentang seorang wanita
mengobati laki- laki, lalu beliau membawakan kisah Rubayyi bintu Muawwidh yang
ikut berperang dan bertugas merawat yang sakit (HR.Bukhori 5679), berkata Al-Hafidz
Ibnu Hajar,boleh mengobati lawan jenis dalam kondisi terpaksa, tetapi dibatasi
kebolehannya sebatas kebutuhan saja berupa menyentuh(atau melihat bagian- bagian
yang diperlukan saja) dan semisalnya[23]
HARAM BEROBAT DENGAN YANG HARAM, KECUALI DALAM KONDISI
DARURAT
Alloh berfirman:


Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan atasmu,
kecuali apa yang terpaksa kamu kepadanya (kondisi darurat). (QS.Al-Anam[6]: 119)

Para ulama mengatakan tidak sah dikatakan kondisi darurat kecuali terpenuhi 3
perkara[24];
1. jika dibiarkan, kondisinya semakin memburuk dan mengantarkan kepada kebinasaan.
2. harus diyakini atau diduga kuat barang yang haram ini menghilangkan penyakitnya.
3. tidak dijumpai obat lain setelah dicari kecuali hanya yang haram ini.
Jika terpenuhi 3 syarat diatas, maka diizinkan sesuatu yang haram sebagaimana ayat
diatas, dan sebagi bukti Nabi mengizinkan sahabat Zubair dan Tolhah memakai kain sutra
untuk menghilangkan sakit gatal saat berperang (padahal sutra asalnya haram bagi lakilaki) (HR.Bukhori 2762, dan Muslim 2076)
TIDAK ADA DARURAT UNTUK BEROBAT DENGAN KHAMAR
Adapun khomar
, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan khomar bukanlah obat tetapi ia adalah
penyakit, Thoriq bin Suwaid bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang berobat dengan
khomar, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarangnya, ia bertanya lagi dan Nabi shallallahu alaihi
wa sallam melarangnya, lalu ia berkata;



Wahai Nabinya Alloh sesungguhnya (khomer itu) obat, lalu Nabi bersabda,(khomer) bukan obat,
tetapi dia adalah penyakit. (HR.Muslim 1984).
Maka perkataan khomer menjadi boleh jika kondisi darurat tidak dapat dibenarkan, karena berobat
dengan khomar tidak terpenuhi syarat darurat di dalamnya, sebab;
1. khomar tidak diyakini dengan pasti dapat mengobati penyakit seseorang, bahkan Nabi menjelaskan
khomer adalah penyakit.
2. masih dijumpai obat- obatan yang halal selain khomar yang belum digunakan, sehingga belum dikatakan
darurat[25].

MACAM-MACAM PENGOBATAN NABI


Sebaik- baik petunjuk adalah petunjuk Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam, beliau telah menunjukkan
kepada umatnya berbagai macam pengobatan dan cara- caranya,beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu

tetapi Alloh membimbingnya dengan wahyu-Nya[26], ada beberapa pengobatan yang beliu lakukan dan
anjurkan, diantaranya;
1- Pengobatan dengan bahan- bahan yang bermanfaat, seperti habbatussauda (jinten hitam)[27], kurma
ajwah[28], madu[29], susu sapi[30], jamur/cendawan[31],dan selainnya.
2- Pengobatan dengan cara bekam(hijamah), yaitu mengeluarkan darah kotor dari bawah kulit dengan
suatu alat penghisap[32], dan banyak hadits- hadits yang menerangkan keutamaan bekam dibanding
dengan pengobatan lainnya, seperti sabdanya;


Sesungguhnya yang paling bagus dari cara berobat kalian adalah bekam
(HR.Bukhori 5263)
3- Pengobatan dengan ruqyah syariyah , yaitu dengan membaca ayat- ayat al-Quran, atau berdoa
dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, untuk mengharap kesembuhan dari Alloh
semata, atau menjaga diri dari sakit fisik dan jiwa[33]. Sungguh Rosululloh shallallahu alaihi wa
sallam pernah diruqyah[34], meruqyah dirinya sendiri,[35] dan meruqyah orang lain,[36] dan diantaranya
adalah hadits berikut;







Apabila Rosululloh sedang sakit, beliau meniupkan bacaan muawwidzat* pada dirinya sendiri dan
beliau mengusapkannya dengan tangannya, dan tatkala sakit yang berakibat kematian, maka akulah yang
meniupkan bacaan taawudz pada dirinya sebagaimana dia dahulu melakukan, dan aku mengusapkannya
dengan tangannya. (HR.Bukhori 4085)
Wallohu Alam.

[1] . Penulis banyak mengambil pelajaran berharga dalam makalah ini dari kitabAhkamul Tadwiyah fisy
Syariatil Islamiyah Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al-Fakki, diberi pengantar oleh Dr. Muhammad bin
Nashir bin Sulthon as-Sahibani cet.Pertama, Maktabah Darul MinhajTh.1425 H.
[2] . Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rusyd dalam al-Jami minal Muqoddimah hlm.313, al-Baghdadi
dalam at-Thib an-Nabawi hlm.181, Kecuali pendapat sebagian kaum shufi yang berlebihan, mereka
mengatakan berobat hukumnya tidak boleh, tetapi pendapat mereka tertolak dengan hadits Nabi yang
memerintahkan umat Islam untuk berobat (HR.Tirmidzi 2038, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Sunan
Ibnu Majah 3436), maka pendapat ini tidak dianggap menyelisihi ijma/ kesepakatan para fuqoha. (Lihat

perkataan Imam Nawawi dan Imam Qurthubi dalam Syarh Muslim 14/191, dan Al-Jami li Ahkamil
Quran 10/138).
[3] . Diringkas perincian pendapat ini dari Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.27-28.
[4] . Akan dijelaskan dalilnya dalam bab yang akan datang.
[5] . Lihat Hasyiyah Ibnu Abidin 5/215-249
[6] . Akan dijelaskan dalilnya dalam bab yang akan datang.
[7] . Lihat Hasyiyah Ibnu Abidin 5/215-249
[8] . Lihat Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.28.
[9] . Seperti HR. Bukhori 5652.
[10] . Al-Jami li Ahkamil Quran 10/138.
[11] . Lihat Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.28.
[12] . Lihat kesimpulan ini dalam Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 18/12, dan Ahkamul Tadwiyah fisy
Syariatil Islamiyah hlm.28-29.
[13] . Lihat Majma al-Fiqh al-Islami hlm.147.
[14] . Idem.
[15] . Lihat perkataan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Maad 4/9.
[16] . Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.35-36.
[17] . Lihat Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 21/564.
[18] . Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.31.
[19] . Lihat Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.36-37.
[20] . Lihat Tahdzib Siroh Ibnu Hisyam hlm.144, dan Zadul Maad 3/52.
[21] . Lihat Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.39-41, al-Mulim 3/98, Fathul Bari 10/142,
dan Zadul Maad 4/14-15.
[22] . Lihat perkataan semisal oleh Ibnu Muflih dalam al-Adab asy-Syariyah (dinukil dariFiqhus
Sunnan karya as-Sayyid Sabiq 1/314.

[23] . Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhori (dinukil dari Fiqhus Sunnan karya as-Sayyid Sabiq 1/314).
[24] . Lihat Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm.187, dan Mandhumah Ushul Fiqh wa
Qowaiduhu, karya Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm.59-61.
[25] . Lihat masalah ini secara mendetail dalam Mandzumah Ushul Fiqih wa Qowaiduhuhlm.59-61.
[26] . Lihat QS.An-Najm 3-4.
[27] . Terdapat keterangan dari Nabi bahwa habbatussauda adalah obat bagi semua penyakit kecuali
kematian (HR.Bukhori 5687) dan Nabi memerintahkan umatnya untuk berobat dengannya (HR.Bukhori
5688, dan Muslim 1735).
[28] . Sebagaimana sabdanya,Barangsiapa makan 7 butir kurma ajwah di pagi hari, maka racun dan
sihir tidak akan membahayakannya. (HR.Bukhori 5445, dan Muslim 4702). Lihat kitab yang bagus dalam
masalah manfaat susu sapi dalam sebuah risalah berjudul at-Tadawi bi Albanil Baqor wat-Tahdzir min
Luhumihakarya Syihab al-Badri Yasin, cet. Maktabah Minhaj an-Nubuwah thn1425H.
[29] . lihat QS.An-Nahl 68-69, dan HR. Bukhori 5680 dan 5684, dan Muslim 2217)
[30] . Seperti sabda Nabi, Berobatlah dengan susu sapi, sesungguhnya aku berharap supaya Alloh
menjadikannya sebagai obat, karena (sapi) makan setiap dedaunan. (HR.Thobroni dalam al-Mujam alKabir 9788, dan dihasankan oleh al-Al-Bani dalam Shahih wa Dhoif al-Jami 5240)
[31] . Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda Jamur termasuk anugrah, dan airnya
sebagai obat mata (HR.Bukhori 5708), akan tetapi para ahli medis meneliti dan disesuaikan dengan
kenyataan bahwa tidak semua jenis jamur menjadi obat, ada yang berbahaya, oleh karena itu kita
kembalikan masalah ini kepada ahlinya. ( Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah dengan sedikit
penyesuain hlm.227)
[32] . Lihat Lisanul Arob 3/67-68.
[33] . Lihat Ahkamul Tadwiyah fisy Syariatil Islamiyah hlm. 446-447.
[34] . HR.Muslim 2185.
[35] . HR.Muslim 2192.
[36] . Lihat Fathul Bari 8/680, dan 10/205.
* Al-Muawwidzat adalah surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas.
Sumber: Artikel di rubrik Fiqh Islam pada Majalah AL FURQON No. 111, Edisi 08 Th. 10, Rabiul Awwal
1432 H, hal. 28-32 dengan sedikit perbedaan redaksi