Anda di halaman 1dari 72

STANDAR PEMELIHARAAN PREFENTIF

ULTRASONOGRAFI
(USG)
No. Dokumen

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Prosedur

USG (Ultrasonograph) adalah alat yang berfungsi untuk mendeteksi


janin dalam kandungan. Periksa ginjal, jantung, dan organ-organ
tubuh bagian dalam
Pritap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan langkah-langkah
Pemeliharaan USG (Ultrasonograph) agar dapat digunakan
sebagaimana mestinya.
Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000
Buku pengoperasian alat kesehatan pemerintah propinsi Jawa
Timur (Dinkes)
Persyaratan
1. satu orang teknisi elektromedik
2. peralatan kerja tersedia
3. Dokumen teknis tersedia
4. Bahan pemeliharaan, bahan operasional dan material bantu
tersedia
5. Mekanisme kerja tersedia dan jelas
Persiapan
Siapkan perintah kerja
Siapkan formolir laporan kerja
Siapkan dokumen teknis penyerta :
- Protap pemeliharaan
- Operating MANUAL
- Servise manual
Siapkan peralatan kerja
- Tool set
- Multi tester
- Pengukuran arys bocor
Siapkan bahan pemeliharaan, bahan operasional dan material
bantu
- Contact cleaner
- Kain lap halus dan kapas
- Pasta/jelly
- Film polaroid/kertas printer
- Alkohol
- Amplas
- Lamu indikator
Pemberitahuan kepada user
Pelaksanaan
1. Cek dan bersihkan bagian-bagian alat, meliputi :
Periode 3 bulanan
- Meja kontrol (tombol-tombol, joy stick/track ball).
2. Periksa unjuk kerja alat dengan menggunakan probe dan

perhatikan gambar tampilan (sensitivitas, brightness, tampilan


dan lain-lain) lakukan penyetelan bila perlu
periode 3 bulanan
3. Periksa camera dan cek shuter camera polaroid
Periode 1 Tahunan
4. Periksa semua sistem/bagian-bagian yang diijinkan oleh pabrik
Periode 1 Tahunan
5. Periksa kebocoran arus listrik
Periode 1 Tahunan
6. Periksa hubungan pembumian
Periode 1 Tahunan
Pencatatan
Isi kartu pemeliharaan alat
Isi formolir laporan kerja
User menandatangani laporan kerja dan alat diserahkan kembali
kepada user
Pengemasan Alat Kerja dan Dokumen Teknis Penyerta
- Cek alat kerja dan sesuaikan dengan catatan
- Cek dan rapikan dokumen teknis penyerta
- Kembalikan alat kerja dan dokumen teknis
penyerta ke tempat semula
Pelaporan
- laporkan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas
Unit Terkait

Unit Rawat Jalan

HUBUNGAN KERJASAMA UNIT RAWAT INAP DENGAN


UNIT KASIR/T.U.K
No. Dokumen

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian

Prosedur pasien pulang merupakan suatu jaringan prosedur yang


dilakukan sehubungan dengan kepulangan Pasien Rawat Inap

Tujuan

Mempercepat proses kepulangan pasien Rawat Inap

Kebijakan

Mempercepat administrasi kepulangan pasien Rawat Inap

Prosedur

Unit Terkait

1. Menerima data pasien dari perawatan


2. menghubungi Unit-Unit terkait dengan data pasien Rawat
Inap
3. memasukkan obat-obatan, resep, laborat, rontgen, honor
doketer, dan lain-lain.
4. mencetak nota/rekening pasien Rawat Inap
5. keluarga pasien Rawat Inap melakuakn pembayaran di kasir
kemudian keluarga pasien menerima bukti pembayaran
berupa nota/rekening Rawat Inap
6. keluarga pasien kembali ke ruangan (Perawatan) dengan
menunjukkan nota/rekening Rawat Inap pada Suster ruangan
7. pasien Rawat Inap diperkenankan pulang setelah semua
administrasi di selesaikan
8. pasien Rawat Inap diperbolehkan pulang pada jam kerja
Unit Rawat Inap
Sub Unit Kasir

HUBUNGAN KERJASAMA ANTARA UNIT RAWAT INAP


SUB UNIT TRANSPORTASI (AMBULANCE)
No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian

Hubungan kerjasama Unit Rawat Inap dengan kendaraan ambulance


adalah suatu rangkaian kerjasama antara Unit Rawat Inap dengan unit
kendaraan ambulance sebagai sarana transportasi baik untuk
pengiriman pasien ke Rumah Sakit lain ataupun untuk mengantar
penderita yang memelurkan pemerikasaan keluar Rumah Sakit

Tujuan

Agar pelayanan terhadap pasien berjalan lancar

Kebijakan

Tarif sesuai dengan yang telah ditentukan kepala Rumah Sakit


Petugas
1. Sopir Ambulance
2. Perawat Unit Rawat Inap
3. SDM
4. Satpam

Prosedur

1. Bila ada penderita memerlukan kendaraan ambulance untuk


pengiriman pasien ke RS lain atau pemeriksaan ke luar Rumah
Sakit Umum Kaliwates
Misal :
- Periksa Lab, Foto Bor dll
- Rujuk, pulang
- Petugas Sub Unit Rawat Inap
- Menghubungi SDM atau satpam
2. Perawat Unit Rawat Inap memberi penjelasan sesuai dengan
keperluan penderita
3. Ambulance siap di UGD
4. petugas Unit Rawat Inap mendampingi penderita yang akan
dikirim/dirujuk

Unit Terkait

SDM
Unit Rawat Inap

STANDAR PEMELIHARAAN PREVENTIF VACUM


EXTRACTOR
No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian

Pemeliharaan Preventif Vacum extractor adalah upaya-upaya yang


dilakukan petugas untuk melakukan pemeriksaan kondisi Vacum
Extractor secara teratur

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan langkah-langkah


Pemeliharaan Vacum Extractor agar dapat digunakan sebagaimana
mestinya

Kebijakan

Prosedur

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


Manual Book, Operational Book us
alkes Pemprov Jatim (Depkes)

Persyaratan
1. Satu orang teknisi elektromedik atau tekhnis terlatih
2. Peralatan kerja tersedia
3. Dokumen teknis tersedia
4. Bahan pemeliharaan dan material bantu tersedia
5. mekanisme kerja tersedia dan jelas
Persiapan

Siapkan perintah kerja


Siapkan formulir laporan kerja
Siapkan dokumen teknis penyerta
- Protap pemeliharaan
- Operating Manual
- Service manual
Siapkan peralatan kerja
- Tool set
- Multi tester
- Pengukuran arus bocor
Siapkan bahan pemeliharaan, bahan
operasional dan material bantu
- Kain lap halus/kain kasa
- Vaselin
- Amplas
- filter
Pemberitahuan kepada user

STANDAR PEMELIHARAAN PREVENTIF VACUM


EXTRACTOR
No. Dokumen

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pelaksanaan
1. Cek dan bersihkan bagian-bagian pompa penghisap
3 Bulanan
2. Cek dan berikan pelumasan pada lager
3 Bulanan
3. Cek filter, bersihkan dan ganti bila perlu
3 Bulanan
4. Cek katup inlet dan outlet, ganti bila perlu
3 Bulanan
5. Cek daya hisap, lakukan penyetelan bila perlu
3 Bulanan
6. Cek kebocoran arus listrik
1 Tahunan
7. Cek hubungan pembumian
1 Tahunan
Pencatatan
-

Isi kartu pemeliharaan alat


Isi formulir laporan kerja
User menandatangani laporan kerja dan alat
diserahkan kembali kepada user

Pengemasan Alat Kerja dan Dokumen Teknis Penyerta


Cek alat kerja dan sesuaikan dengan catatan
Cek dan rapikan dokumen teknis penyerta
Kembalikan alat kerja dan dokumen teknis penyerta ke
tempat semula
Pelaporan
Laporkan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas
Unit Terkait

Ruangan VK Bersalin
IPS-RS

STANDAR PENGOPERASIAN STERILISATOR


No. Dokumen

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian

Sterilisator adalah alat mensterilkan alat kesehatan seperti gunting,


pinset, mangkok steril dan alat-alat lain agar terhindar dari bakteri,
sehingga aman dalam melakukan tindakan pemakaian alat-alat
kesehatan tersebut

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam pengoperasian Sterilisator


untuk mensterilkan alat-alat kesehatan sesuai dengan kebutuhan yang
diperlukan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


Buku pengoperasian alat kesehatan pemerintah propinsi Jawa
Timur (Dinkes).

PERSIAPAN
Alat : bisa dioperasikan
Pelaksanaan
1. Air sampai batas level max
2. Siapkan alat-alat yang disterilkan
3. Masukkan alat-alat kke dalam sterilisator
4. On kan pesawat
5. Pilih temperature
6. Perhatikan termometer
7. Atur waktu yang dibutuhkan
8. Setelai selesai off kan pesawat

Ruangan kamar bersalin


Ruangan OK

STANDAR PENGOPERASIAN TELEPON


No. Dokumen

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian

Telepon adalah alat komonikasi dengan menggunakan suara.


Termasuk dalam pengertian telepon adalah aiphone, dan bentukbentuk sejenis lainnya baik yang berfungsi di lingkup internal
maupun sampai ke luar rumah sakit

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam pemakaian telepon dengan


baik dan benar.

Kebijakan
Prosedur

Unit Terkait

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


1. Penerimaan telepon
Bel telepon berbunyi
Tunggu bunyi bel telepon hingga 3 kali
Angkat gagang telepon dan katakan :
Assalamualaikum, Rumah Sakit Bersalin Esto Ebhu
Sumenep, ada yang bisa kami bantu.
Tanyakan dan catat nama dan alamat
penelpon
Akhiri hubungan telepon dengan ucapan
Terima kasih, Assalamualaikum
Letakkan gagang telepon dengan baik dan
benar
2. Pemakaian telepon :
- Angakat gagang telepon hingga terdengar nada telepon.
- Tekan nomor telepon yang dituju
- Tunggu hingga telepon yang dituju diangkat (ditandai nada
telepon hilang)
- Lakukan pengecekan nomor telepon yang dituju, serta nama
dan alamat tujuan dengan mengatakan Assalamualaikum
apaila betul disini nomor telepon .. (nomor telepon
tujuan), rumah . (tujuan) (alamat tujuan)
- Sebutkan nama dan tujuan telepon
- Sampaikan pesan informasi
- Akhiri hubungan telepon dengan mengucapkan : Terima
kasih, Wassalamualaikum
- Letakkan gagang telepon dengan baik dan benar
- Semua ruangan penerima telepon

STANDAR PENGOPERASIAN AUTO CLAVE


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian

UV Lamp adalah alat yang digunakan untuk mensterilkan ruangan,


agar selalu terhindar dari bakteri

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam pengoperasian UV Lamp


untuk mensterilkan ruangan agar tidak terjangkau oleh bakteri.

Kebijakan
Prosedur

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


Manual Bock, Operational Book Alkes Pemprof Jatim (Depkes)

Persiapan :
1. Hubungkan alat dengan catu daya
2. Hidupkan alat dengan menekan tombol on / off
3. Ke posisi on sampai indikator menyala
Pelaksanaan
1. Atur timer berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyeterilkan
ruangan
2. Tinggalkan ruangan yang kita steril, maka lampu akan menyala
sendiri dan akan menyala sendiri dan akan mati sendiri secara
otomatis sesuai dengan yang kita inginkan.
3. Setelah selesai rapikan kembali keadaan lampu.

Unit Terkait

Ruangan OK
Ruangan Bayi

STANDAR PENGOPERASIAN VACUM EXTRACTOR


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
Ditetapkan Direktur
RSB Esto Ebhu

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit
dr. Moh.Ibnu Hajar, SpOG.

Pengertian

Vacum Extractor adalah alat yang digunakan untuk membantu pada


saat proses kelahiran bayi

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam pengoperasian Vacum


Extraktor secara baik dan benar.

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


Manual Book, Operational Book us alkes Pemprov Jatim
(Depkes)

Alat
: dalam kondisi baik
Pasien
:
Pelaksanaan
1. Hubungkan alat dengan satu daya
2. Tekan tombol on/off pada posisi on
3. Cek dya hisap dengan menmpel ibu jari pada ujung selang,
kemudian regulator diatur dari minimum ke max.
4. Pasang selang dan lap penghisap sesuai keperluan
5. Lakukan tindakan
6. Jika selesai off-kan pesawat
Unit Kamar Bersalin

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

STANDAR PENGOPERASIAN VENTILATOR


Ventilator adalah alat yang berfungsi sebagai alat bantu
pernafasan yang diberikan pada pasien sesuai dosis yang
dibutuhkan
Protap ini disusun sebagai acuan dalam pengoperasian
Ventilator untuk memberikan bantuan pernafasan bagi
pasien
Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000
Manual BOOK, Operational Book us alkes
Pemprov Jatim (Depkes)
Persiapan :
1. Pasang humidity unit
2. Pasang supplay oksigen dengan alat
3. Hubungkan alat dengan menekan on/off ke on
sampai indikator menyala
4. Atur regulator oksigen
5. Buka regilator oksigen
6. Cek sistem alarm O2 untuk mengetahui kurang /
lebih
Pelaksanaan
1. Atur ventiiation mode sesuai dengan kebutuhan
2. Atur O2 concentration
3. Pasang fase mask pada pasien
4. Lakukan tindakan
5. Kembalikan alat pada tempatnya
- Ruangan Ok

TATA CARA PEMULANGAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP


Pengertian
Tata Cara Pemulangan Pasien adalah tata cara
pemulangan pasien yang telah dinyatakan sembuh
ataupun atas permintaan pasien sendiri dan/keluarganya
Tujuan
Mempermudah proses pemulangan pasien
Kebijakan
Prosedur pemulangan pasien sesuai dengan ketentuan
yang berlaku selama jam kerja
Petugas
- Perawat di Ruang Rawat Inap
- Bagian Administrasi dan Keuangan
Prosedur
1. Pasien mendapat ijin pulang dari dokter yang
merawat
Bila pasien dan / keluarga menginginkan pulang
sebelum diijinkan oleh doketr yang merawat,
harus menandatangani surat penolakan untuk
dilanjutkan perawatan di Ruang Rawat Inap
2. Perawat menyiapkan check list penderita
kemudian dibawa ke bagian TUK
3. Keluarga pasien menyelesaikan administrasi biaya
perawatan di kasir
Bagi pasien relasi harus sudah melengkapi Surat
Pengantar Tanggungan dari instansinya
4. Perawat mengecek ulang nota pembayaran pasien,
bila terdapat kesalahan dikofirmasikan kembali ke
Bagian Administrasi
5. Peawat membrikan sisa obat-obat untuk
dilanjutkan di rumah dan hasil pemeriksaan
penunjang
6. Pasien diantar oleh parawat sampai pintu keluar
Rumah Sakit Bersalin Esto Ebhu Sumenep
Unit Terkait
Unit A.K.U
Unit Pelayanan Medik

Pengertian
Tujuan
Waktu
Prosedur

Unit Terkait

STANDAR PERAWAT JAGA SIFT PAGI


Prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan oleh
petugas jaga pagi
Memberikan acuan bagi pelaksanaan askep pada shift
jaga pagi
Jam 07.00 14.00
1. Perawat dan pembantu rawat datang 15 menit
sebelum dilakukan serah terima
2. Membaca buku keterangan / laporan yang dibuat
shift dinas malam
3. Melakukan serah terima pasien dengan cara
keliling ke ruang-ruang pasien
4. Melakukan serah terima alat-alat kesehatan /
tenun / RT
5. Kepala ruang mengatur pembagian tugas masingmasing perawat (Job perawat)
6. Kepala ruang / Kepala jaga menyiapkan
administrasi Px pulang, menlakukan koordinasi
denga unit lain
7. Bersama-sama dengan perawat pelaksana
membuat rencana tindakan keperawatan sesuai
dengan
keadaan
pasien
serta
tingkat
perkembangannya
8. Melaksanakan
Pendokumentasian
asuhan
keperawatan
9. Melakukan tumbang terima dengan petugas jaga
shift selanjutnya
Unit Keperawatan

Pengertian
Tujuan
Waktu
Prosedur

Unit Terkait

STANDAR PERAWAT JAGA SHIFT SORE


Prosedur atau langkah-langkah yang harus dilakukan oleh
petugas jaga sore
Memberikan acuan bagi pelaksanaan askep pada shift
jaga sore
Jam 14.00 21.00
1. Perawat dan pembantu rawat datang 15 menit
sebelum dilakukan serah terima
2. Membaca buku keterangan / laporan yang dibuat
oleh shift dinas pagi
3. Melakukan serah terima dengan dinas pagi dengan
cara keliling ke ruang-ruang Px.
4. Melakukan serah terima alat kesehatan / tenun /
RT.
5. Ketua Tim membagi tugas kepada masing-masing
perawat sesuai job.
6. Pelaksanaan askep mis : memandikan Px,
melakukan injeksi dan lain-lain.
7. Menyiapkan pasien yang akan dilakukan
pemeriksaan / tindakan operatif keesokan harinya.
8. Melakukan pelaporan / pencatatan tindakan yang
sudah dilakukan.
9. Melakukan timbang terima dengan shift dinas
malam
Unit Keperawatan

Pengertian
Tujuan
Waktu
Prosedur

Unit Terkait

STANDAR PERAWAT JAGA SHIFT MALAM


Prosedur atau langkah-langkah yang harus dilakukan oleh
petugas jaga malam
Memberikan acuan bagi pelaksanaan askep pada shift
jaga malam
Jam 21.00 07.00 WIB
1. Perawat dan pembantu rawat datang 15 menit
sebelum dilakukan serah terima
2. Membaca buku keterangan / laporan yang dibuat
shift dinas malam
3. Melakukan serah terima pasien dengan cara
keliling ke ruang-ruang pasien
4. Melakukan serah terima alat-alat kesehatan /
tenun / RT
5. Kepala ruang mengatur pembagian tugas masingmasing perawat (Job perawat)
6. Kepala ruang / Kepala jaga menyiapkan
administrasi Px pulang, menlakukan koordinasi
denga unit lain
7. Bersama-sama dengan perawat pelaksana
membuat rencana tindakan keperawatan sesuai
dengan
keadaan
pasien
serta
tingkat
perkembangannya
8. Melaksanakan
Pendokumentasian
asuhan
keperawatan
9. Melakukan pencatatan / pelaporan selama
pelaksanaan tugas
10. Melakukan tumbang terima dengan petugas jaga
shift selanjutnya
Unit Keperawatan

PENANGANAN PELANGGARAN ETIK KEPERAWATAN


Pelanggaran etik Keperawatan dan Kebidanan adalah
setiap ucapan, tulisan maupun perbuatan yang dilakukan
seorang petugas keperawatan yang melanggar ketentuan,
peraturan kode etik keperawatan / kode etik kebidanan
yang dilakukan pad ajam kerja maupun diluar jam kerja
Tujuan
1. Agar tenaga keperawatan mampu melaksanakan
tugas dengan baik secara profesional.
2. Meningkatkan akuntabilitas perawat terhadap
pasien dan masyarakat
3. Meningkatkan mutu pelayanan
4. Menginventarisasi dan menyelesaikan masalah
pelanggaran etik
5. Mengatur dalam pemberian punishment dari
pelanggaran etik
Kebijakan
1. Pengelolaan pelanggaran etik keperawatan
menjadi tanggung jawab Bidang Pelayanan, yang
pelaksanaannya dilakukan oleh panitia etik komite
keperawatan dan Tim Etik Kredensial Rumah
Sakit
2. Surat Keputusan Direktur RSB Esto Ebhu
Sumenep
Prosedur
1. Tenaga keperawatan yang melakukan pelanggaran
dilakukan klarifikasi dan pembinaan oleh kepala
ruangan yang bersangkutan dan dilakukan
penyelesaian masalah terhadap perawat yang
melakukan pelanggaran
2. Bila terjadi pelanggaran yang tidak dapat
siselesaikan maka kepala ruangan membuat
rekomendasi ke tim etik komite keperawatan
3. Tim etik keperawatan melakukan pembinaan dan
penyelesaian masalah bersama kasi keperawatan
4. Bila masalah tersebut perlu tindak lanjut yang
berkaitan dengan kebijakan diektur maka tim etik
Keperawatan bersama kasi keperawatan membuat
rekomendasi kepasa Tim Etik Kredensial Rumah
Sakit
5. Selanjutnya Tim Etik Kredensial Rumah Sakit
menyelesaikan masalah sesuai ketentuan yang
berlaku untuk kemudian dibuatkan rekomendasi
kepada direktur.
6. Direktur RSB Esto Ebhu Sumenep melalui Kabid
Pelayanan dan Kasi Keperawatan menetapkan
penyelesaian masalah dengan surat keputusan
Unit Terkait
1. Unit Rawat Jalan
2. Unit Rawat Inap
3. Unit Rawat Darurat
4. Unit Kamar Bersalin
5. Ruang Bayi
Pengertian

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

ANAFILAKSIS
Anafilaksis adalah suatu alergi yang terjadi akut, segera,
dan hebat, sebagai kontak dengan alergan
Sebagai acuan dalam menegakkan diagnosa dan
memberikan terapi
Dalam penanganan penyakit anafilaksis diperlukan buku
standar pelayanan medik
1.
Kriteria Diagnosa :
Anafilaksis merupakan reaksi alergi sistemik,
kadang-kadang didahului rasa tidak enak/takut secara
akut dan segera dapat timbut :
a. Obstruksi jalan nafas atas dan bawah, disusun
renjatan kardiovaskuler secara sekunder
b. Secara primer timbul renjatan tanpa didahului
gejala-gejala pernafasan
c. Rasa gatal, kemerahan seluruh tubuh dan
pembengkakan tangan menjadi lebih hebat
(urtikaria dan sembab angioneurotik)
2.
Diagnosa Banding :
Renjatan karena sebab lain, renjatan ini biasanya
terjadi begitu mendadak
3.
Terapi :
a. Adrenalin 1 : 1000 dengan dosis 0.01 ml/Kg,
subkutan (maksimal 0,3 ml)
b. Pasang tourniquet pada bagian pangkal dari
tempat masuknya alergen (gigitan, serangan,
suntikan obat)
c. Beri adrenalin 0,1-1,3 ml sub kutan pada tempat
masuknya
alergen
bila
alergen
telah
diberikan/masuk secara subkutan
d. Bila perlu pemberian adrenalin dapat diulang
setiap 15-20 menit
e. Beri zat asam dengan nose prong atau sunkup 23, 1/menit
f. Beri difenhidramin 2 mg/kg intavena atau
intramuskulus, dilanjutkan dengan 3 mg/kg/24
jam dibagi 3 dosis
g. Pasang infus NaCI 0,9%. Bila terjadi hipotensi
atau tekanan darah tak teratur beri NaCL 0,9%
20-40 ml/kg dalam 1-2 jam. Bila perlu
ditambahklan plasma atau cairan ekspander
volume lain 10-20 ml/kg dalam 1-2 jam
h. Pemberian Kortikosteroid :
Hidrokotison 4-7 mg/kg secara intravena,
dilanjutkan dengan 4-7 mg/kg/24 jam dibagi
dalam 3-4 dosis selama 24-28 jam atau
Metilprednisolon 1/5 dosis hidrokortison atau
Dexametason 1/25 dosis hidrokortison
i. Bari Aminofilin bila ada tanda-tanda obstruksi
jalan nafas di bagian bawah dengan dosis 7
mg/kg dilanjutkan dalam 10-20 ml NaCI 0,9%
secara intravena dalam waktu 10-20 menit,
dilanjutkan dengan 9 mg/kg/24 jam dibagi 3-4
dosis
j. Bila nadi dan tekanan darah sudah stabil, infus

Unit Terkait

diganti dengan Dektrose 5% dalam 0,45% NaCL


1-1 kali kebutuhan rumatan
4.
Penyulit :
a. Obstruksi jalan nafas bagian atas (sembab
laring)
b. Obstruksi jalan bagian bawah (asma)
5.
Konsultasi :
Spesialis Anak
1. Unit Rawat Inap
2. Unit Rawat Jalan
3. Unit Gawat Darurat

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

PEMBUATAN JADWAL DINAS


Tata cara dan ketentuan pangaturan jadwal jaga perawat
di ruang unit khusus untuk tiga shift
Efisiensi tenaga keperawatan dengan memperhatikan
kemampuan perawat dan tingkat ketergantungan pasien
pada tiap shift
Adanya penanggung jawab dan perawat yang dianggap
mampu pada tiap shift jaga.
Petugas Shift : - Penanggung jawab shift / ketua tim
- Perawat pelaksana
- Tenaga penunjang perawatan
- Waktu dinas :
- Shift pagi jam 07.00 14.00
- Shift sore jam 14.00 21.00
- Shift malam jam 21.00 07.00
1. Kepala ruangan menyusun jadwal dinas untuk
satu bulan dimulai tanggal 15 pada tiap bulannya
2. Daftar jaga harian mempertimbangkan tersedianya
penanggung jawab shift pada tiap shift jaga dan
tingkatketergantungan pasian pada tiap shift
3. Kepala ruangan menentukan perawat penanggung
jawab shift dengan ketentuan :
a. Masa kerja minimal 2 tahun di Rumah
Saki Bersalin Esto Ebhu Sumenep
b. Telah dianggap mampu melaksanakan
tugas teknis keperawatan
c. Mempunyai rasa tanggung jawab yang
tinggi
d. Disiplin dan mempunyai kemampuan
komonikasi yang baik
4. Jumlah jam kerja maksimal dalam 1 minggu
untuk tiap staf adalah 40 jam.
5. Tidak diperbolehkan dinas pada dua shift yang
berurutan kecuali ada peningkatan ketergantungan
pasien (beban kerja) perawat yang tersedia tidak
mencukupi kebutuhan misalnya karena sakit dan
lain-lain dengan kompensasi penggantian libur
6. Jadwal dinas pada unit khusus harus
mempertimbangkan adanya perawat yang
mempunyai sertifikat keahlian khusus di ruangan
tersebut pada tiap shift jaga
-Unit Keperawatan

Pengertian
Tujuan

Kebijakan

Prosedur

ALUR PELAPORAN
Tata cara pelaporan hasil rekapitualsi data mulai dari tim
Pengendalian Mutu Keperawatan sampai Kepala Rumah
Sakit

Untuk mengetahui
jalur pelaporan yang benar

Sebagai
panduan
dalam melaksanakan program peningkatan mutu
keperawatan

Adanya kejelasan
langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk
mendapatkan rekomendasi

Untuk
membantu
kerja tim dalam memberikan arah tujuan hasil
pelaporan
Dilakukan
oleh
Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan
Rekapitulasi hasil dan laporan
dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali secara periodik
1. Pengumpulan data dilakukan oleh Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan di ruangan
masing-masing setiap bulannya
2. Data yang harus dikumpulkan oleh Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan adalah
a.
Kelengkapan asuhan keperawatan
b.
Evaluasi
persepsi
mutu
asuhan
keperawatan
c.
Evaluasi kegiatan asuhan keperawatan
d.
Indikator klinik
3. Setelah data terkumpul tiap bulannya data direkap
tiap tiga bulan sekali
4. Hasil rekapitulasi dilaporkan untuk minta
rekomendasi dan tindak lanjut pada Kepala
Rumah Sakit
5. Alur pelaporan adalah
Tim Pengendalian Mutu Keperawatan

Kepala Pelayanan Medik / Keperawatan

Kepala Rumah Sakit

Unit Terkait

6. Kemudian Kepala Rumah Sakit memberikan


Rekomendasi dan tindak lanjut melalui Kepala
Pelayanan Medik / Keperawatan ke Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan
Unit Rawat Inap

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

SYOK KARDIOGENIK
Ketidakmampuan jantung mengalirkan cukup darah ke
jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolism basal
akibat gangguan fungsi pompa jantung
1.
Mengembalikan fungsi sistemik yang adekuat
2.
Mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut
3.
Mencegah kematian
Persiapan Alat :
1. Oropharingeal tube / mayo tube sesuai dengan
ukuran pasien
2. Fase mask sesuai dengan ukuran pasien
3. Air bag
4. Peralatan intubasi
5. Papan resusitasi
6. Bantal kecil
7. Meja emergency berisi alat-alat dan obat-obat
emergency
8. Plester, gunting
9. Peralatan suction
10. Peralatan oksigen
11. Pasien
Beritahu pasien bila sadar/keluarga tentang prosedur
tindakan dan tujuan
Langkah-Langkah :
1. Kaji riwayat penyakit jantung : AMI, Miokarditis,
Decomp cord, dll.
2. Pastikan dengan rekaman EKG 12 lead
3. Kaji tanda-tanda vital
4. Atur posisi pasien dalam posisi syok
5. Berikan terapi 4-6 liter/ menit
6. Bila pasien tidak sadar lakukan gerakan tripel :
ektensi kepala, mendorong mandibula kedepan dan
membuka mulut
7. Bila pasien henti nafas segera lakukan ventilasi 2
kali buatan, kalau memungkinkan denganoksigen
murni
8. Setelah dua kali ventilasi buatan awal, segera raba
arteri karotis atau femoralis
9. Bila nadi berdenyut tetapi pasien masih henti nafas
teruskan ventilasi buatan 12 kali/menit sampai
timbul ventilasi spontan dan adekuat
10. Bila tidak teraba nadi berarti henti jantung segera
lakukan kompresi jantung luar 15 kali dengan laju
80-100/menit yang kemudian dilakukan ventilasi 2
kali (1 ventilasi = 1-1,5 detik) dievakuasi setiap
menit apakah tindakan efektif
11. Beri Nore ephineperine iv 8-12ug/menit sampai
mencapai tekanan sistolik sekurang-kurangnya 80
mmhg.
12. Setelah tekanan sistolik mencapai 80 mmhg ganti
dengan dopamine 5-15 ug/kg BB/menit pemberian
dalam infuse D 5% mikro
13. Bila terjadi takikardi, tambahkan drip dobutamin 520 ug/kg BB/menit, mulai dosis kecil sampai terjadi
tanda-tanda peningkatan tekanan darah 80/50 mmhg
14. Evaluasi tanda-tanda vital dn respon pasien

Unit Terkait

15. Bila pemberian dopamine/dobutamin satu kali belum


berespon menaikkan tekanan darah 80/50 mmgh,
pertimbangkan pasien untuk masuk ICU guna terapi
causatik (misalnya trombolitik untuk kasusu AMI)
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Penanganan cepat,tepat, teliti
2. Jaga kenyamanan lingkungan
3. Respon pasien
UGD, RR,Ruang Perawatan, Kamar Bersalin
-

40. PEMINDAHAN KLIEN ANTAR UNIT RAWAT INAP


Pengertian
Memindahkan klien dari unit ke unit perawatan lain atas
permintaan klien / keluarga atau atas perintah dokter
Tujuan
1. Memenuhi permintaan klien/keluarga
2. Memenuhi kebutuhan pelayanan keperawatan
Kebijakan
Perpindahan klien antar unit dilaksanakan sesuai
permintaan atau kebutuhan pelayanan
Prosedur
I. Menyiapkan alat
1. Kereta dorong
2. Kursi roda
3. Status klien
4. Hasil pemeriksaan laboratorium, foto dan lain-lain
5. Obat-obatan
6. Buku serah terima
II. Menyiapkan klien
1. Memberitahu klien tentang rencana tindakan yang
akan diberikan
2. Memindahkan klien ke kereta dorong / kursi roda
sesuai prosedur
III. Melaksanakan
1. Menghubungi unit perawatan yang dituju
2. Membuat buku serah terima
3. Menyiapkan status klien hasil, pemeriksaan
laboratorium, hasil foto, obat-obatan
4. Membereskan barang-barang klien
5. Mengantar klien ke unit perawatan yang dituju
6. Menyerahkan
klien
beserta
status
klien,
laboratorium, foto, program pengobatan beserta buku
serah terima yang ditanda tangani unit masingmasing
Unit Terkait
Unit Rawat Inap

40. TATA CARA PENERIMAAN PASIEN BARU DI RUANG RAWAT INAP


Pengertian
Tata Cara Penerimaan Pasien Baru adalah tata cara
penerimaan pasien baru di Ruang Rawat Inap setelah
penderita / keluarganya menyelesaikan administrasi dan
keuangan di bagian administrator
Tujuan
Meningkatkan mutu Pelayanan dan memenuhi kepuasan
pasien
Kebijakan
Prosedur penerimaan pasien baru harus sesuai dengan tata
cara yang telah ditetapkan
Petugas
: Perawat di Ruang Rawat Inap
Prosedur
1.
Perawat mempersiapkan sarana dan prasarana
kelengkapan alat tidur penderita yang meliputi :
1.1
Sarana tempat tidur beserta peralatannya
1.2
Alat-alat lain : Termometer, Tensimeter,
Timbangan Berat Badan dan pengukur
tinggi badan
2.
Cara kerja penerimaan penderita
2.1 Pasien dan keluarga diterima oleh Bagian
Triage UGD untuk ditentukan klasifikasi
kegawatan dan mendapat pertolongan bila
perlu
2.2 Pasien/keluarga
mengurus
administrasi
pendaftaran pasien di Bagian Penerimaan
(admition)
2.3 Pasien diantar oleh petugas
2.4 Perawat memperkenalkan diri
2.5 Bila pasien dapat berdiri, ditimbang berat
badan sebelum dibaringkan ke tempat tidur
2.6 Setelah pasien berbaring di tempat tidur
dilakukan :
- Anamnese (pengumpulan data pasien
pada catatan perawatan)
- Pemeriksaan tanda vital (suhu, Respirasi,
nadi, tekanan darah)
2.7 Pasien dan keluarga diberitahu tentang sarana
dan fasilitas yang ada di ruangan dan tata
cara-cara menggunakannya
2.8 Perawat
menghubungi
dokter
dan
membritahukan bahwa penderita masuk di
Ruang Rawat Inap
2.9 Perawat menjalankan instruksi dokter
Unit Terkait

Unit A.K.U
Unit Pelayanan Medik

36. MERAWAT LUKA DAN MEMASANG BALUTAN


Pengertian
Tata cara merawat dan memasangka pembalut atau
penutup pada luka agar luka tidak terbuka
Tujuan
- Mencegah masuknya kuman dan kotoran ke dalam
luka
- Mencegah infeksi silang
- Memberi rasa aman dan nyaman
Kebijakan
Dilakukan pada semua jenis luka sesuai dengan
kebutuhannya
Prosedur
A. PERSIAPAN
1. Alat-alat steril
- 1 pinset anatomi
- 2 pinset chirugi
- Kapas lidi secukupnya
- Kasa steril 10-15 lembar
- Deppers 5 buah/secukupnya
- Mangkuk steril
- Handschoen
2. Alat-alat yang tidak steril
- Gunting Plester
- Plester
- Alkohol 70 % dalam botol
- Obat luka bethadin
- Bengkok
B. PERSIAPAN PASIEN DAN LINGKUNGAN
1. Memperkenalkan diri
2. Beritahu maksud dan tujuan
3. Mengatur posisi
4. Bicara dengan sopan
5. Ada respon dari pasien
6. Mengatur lingkungan aman dan nyaman
C. PELAKSANAAN
1. Membawa alat-alat ke dekat pasien
2. Perawat cuci tangan
3. Balutan lama dibuka dan dibuang pada tempatnya
dengan menggunakan pinset
4. Bekas plester dibersihkan dengan alcohol
5. Luka dibersihkan dengan kapas desinfektan ke satu
arah
*Jika luka ada darah / pus diambil dengan deppers
dengan cara ditekan
6. Kapas kotor dibuang pada tempatnya
7. Pinset yang sudah dipakai ditaruh pada bengkok
8. luka diberi obat yang ditentukan / diolesisi
betadine dengan kapas lidi
9. Luka ditutup dengan kain kassa steril secukupnya
dengan menggunakan pinset dan usahakan serat
kasa jangan melekat pada luka.
10. Luka dibalut atau diplester dengan rapi
11. Pasien dirapikan dan alat-alat dibersihkan
12. Perawat mencuci tangan
* Perhatian : Tahnik aseptik harus dipertahankan
Unit Terkait
- Unit Keperawatan
- Unit Rawat Jalan
- Unit UGD

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

35. MERAWAT PASIEN MENJELANG AJAL


Memberikan pelayanan / perawatan khusus jasmaniah
dan rohaniah kepada pasien yang akan meninggal
Memberi rasa tenang dan rasa puas jasmaniah dan
rohaniah kepada pasien dan keluarga
Dilakukan pada pasien yang akan meninggal (sakaratul
maut)
A. PERSIAPAN ALAT HANDSCOEN
1. Alat-alat pemberian O2
2. Alat-alat resusitasi
3. Tensi meter
4. Stetoskop
5. Pinset
6. Kasa penekan dan air matang dalam kom untuk
membasahi bibir
7. Kertas tissue/kertas lap.
8. Handuk
9. Handuk kecil untuk menyeka keringat
10. Alat tenun secukupnya
11. Meja bersih dengan taplak
12. Al-Quran / Alkibat
B. PERSIAPAN
PASIEN,
KELUARGA
DAN
LINGKUNGAN
1. Pasien dalam ruangan tertutup (memasang
sampiran).
2. Memberitahu keluarga
3. Pasien dipersiapkan menurut agama dan
kepercayaannya.

Unit Terkait

C. PELAKSANAAN
1. Pasien disendirikan / isolasi dari pasien lain
2. Pasien tidak boleh ditinggal sendiri
3. Keluarga diijinkan menunggu dan diberitahu
keadaan pasien dengan cara yang bijaksana
4. Membersihkan keringat supaya pasien selalu
bersih
5. Sekeliling pasien dalam keadaan tenang
6. Membasahi bibir yang kering dengan kapas dan
pinset
7. Membantu melayani dalam upacara keagamaan
8. Mengamati tanda-tanda vital
9. Perawat selalu bicara dengan suara yang lembut
dan penuh perhatian
- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap

Pengertian
Tujuan

Kebijakan
Prosedur

Unit Terkait

34. MEMBERI MAKAN DAN MINUM


Menyajikan makanan dan minuman kepada pasien sesuai
dengan daftar makanan / diet pasien
- Agar pasien mendapatkan makanan dan minuman pada
waktunya dan sesuai dengan kebutuhan / dietnya
- Untuk mendolong pasien yang tidak sanggup atau
tidak dapat makan / minum sendriri
- Membantu mempercepat penyembuhan
- Membantu meningkatkan selera makan / minum pasien
Dilakukan pada pasien yang dapat makan sendiri / tidak
dapat makan sendiri
A. PERSIAPAN ALAT
Tersedia dalam baki
1. Piring berisi nasi atau bubur
2. Mangkok berisi sayuran / kuah
3. Piring kecil berisi lauk
4. Sendok makan
5. Sendok garpu
6. Gelas berisi minuman
7. Sedotan
8. Buah-buahan
9. Tissue
B. PERSIAPAN LINGKUNGAN
1. Menjelaskan maksud dan tujuan
2. Jauhkan benda-benda yang kurang menyenangkan
untuk dilihat
C. PELAKSANAAN
1. Bawa makanan dan alat-alatnya ke dekat pasien
2. Perawat cuci tangan
3. Pasang /beri pasien serbet untuk alas
4. Hidangkan makanan dan minuman kedekat
pasien dengan hati-hati
5. Bantu pasiaen untuk memotong lauknya bila
diinginkan
6. Persilahkan paseien untuk makan dan minum
Bila pasien tidak dapat makan dan minum sendiri :
1. Suapi pasien sedikit demi sedikit sambil
komonikasi
2. Memberi minuman/obat sesuai dosisnya
3. Memberi buah-buahan
4. Membersihkan mulut dan sekitarnya dengan
serbet/tissue
5. Pasien dirapikan kembali
6. Alat dibereskan dan mencuci tangan
- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap
- Unit Gizi

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

Unit Terkait

33. MEMASANG ALAT TENUN


Tata cara memasang alat tenun pada tempat tidur sesuai
dengan jenis dan fungsinya
Mempersiapkan tempat tidur yang siap pakai
Semua tempat tidur yang kosong pada setiap kamar
Ruang harus siap pakai
Terlihat rapi dan indah
1. Memcuci tangan
2. Membawa/meletakkan alat-alat didekat tampet tidur
3. Letakkan laken dengan lipatan memanjang yang
menentukan garis tengah2 tempat tidur
4. Masukkan laken bagian kepala dibawah kasur lebih
25 cm kemudian buatkan sudut
5. Masukkan laken bagian kaki dibawah kasur lalu buat
sudut (masuk-kan laken bagian kepala lebih banyak
dari pada bagian kaki)
6. Masukkan laken bagian sisi ke bawah kasur (sisi
tempat perawat berdiri ).
7. Letakkan perlak melintang +50 cm dari garis kasur
bagian kepala demikian juga steek laken lalu
masukkan sama-sama ke bawah kasur.
8. Letakkan boven laken dengan jahitan lebar di bagian
kepala mulai dari garis kasur, (masukkan sama-sama
ke bawah).
9. Letakkan selimut + 25 cm dari garis kasur dengan
bagian bawah kaki ke bawah kasur.
10. Melipat boven laken bagian atas tepat di atas garis
selimut.
11. Masukkan bantl ke dalam sarungnya dan letakkan
bantal dengan bagian tertutup ke jurusan pintu.
12. Menyelesaikan sisi yang lain seperti sisi yang
pertama.
13. Memasang overlaken.
14. Mencuci tangan.
TEMPAT TIDUR TERBUKA
15. Bila sudah tersedia tempat tidur tertutup hanya
overlaken yang diangkat kemudian disimpan
sebagaimana mestinya.
16. Melipat ovenlaken dan selimut ke bawah pada
bagian kaki dengan cara 2 tangan memegang boven
laken dan selimut, kemudian tarik-tarik ke bagian
kaki lalu lipat secara bersusun.
- Unit Keperawat
- Keperawatan Rawat Jalan

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

32. MELAKSANAKAN REKAMAN EKG


Melakukan
tindakan
rekam
jantung
dengan
mengutamakan alat EKG
1. Merekam denyut jantung
2. Mengetahui kelainan jantung
3. Menegakkan diagnosa
Tindakan Rekam Jantung dilakukan sesuai kebutuhan dan
pada pasien usia 40 tahun ke atas.
I. Persiapan Alat :
1. Alat EKG lengkap siap pakai
2. Ky Jelly
3. Kassa lembab
4. Tissue / lap
5. Bengkok
6. Kapas alkohol
II. Persiapan Kien :
1. Memberikan pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan.
2. Mengatur posisi pasien tidur terlentang datar.
III. Pelaksanaan :
1. Membuka pakaian bagian atas dan melepas
perlengkapan lain (jam tangan, gelang, perhiasan
logam).
2. Membersihkan kotoran dan lemak pada daerah
dada, pergelangan tangan dan kaki dengan kapas
alkohol.
3. Mengoleskan jelly pada pergelangan tangan,
pergelangan kaki dan daerah dada yang akan
dipasang elektroda.
4. Memasang manset elektroda pada kedua
pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
5. Menjepit arde pada kassa lembab.
6. Menyambung kabel EKG pada kedus
pergelangan tangan dan kedua tungkai pasien
untuk rekaman ekstremitas lead (I, II, III, AVR,
AVL, AVF) dengan cara :
a. Warna merah pada tangan kanan
b. Warna kuning pada tangan kiri
c. Warna hitam pada kaki kanan
d. Warna hijau pada kaki kiri
7. Memasang elektroda pada dada untuk rekam
precordial lead :
a. V1
: Pada intercosta keempat pada garis
sternum sebelah kanan.
b. V2
: Pada intercosta keempat pada garis
sternum sebelah kiri.
c. V3
: Pertengahan antara V2 V4.
d. V4
: Pada intercosta kelima pada
midclavicula kiri.
e. V5
: Pada axilla sebelah depan kiri
f. V6
: Pada intercosta kelima pada mid
axilla.
g. V7
: Pada intercosta kelima pada axilla
bagian belakang kiri

h. V8

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Unit Terkait

: Satu bidang sejajar dengan V7 pada


garis scapula.
i. V9
: Sejajar dengan V8 pada batas kiri
dan columna vertebra.
Menghidupkan monitor EKG
Melakukan kalibrasi 10 mm dengan kecepatan
25 milivolt / detik.
Membuat rekaman secara berurutan sesuai
dengan pemilihan lead.
Melakukan kalibrasi kembali setelah rekaman
selesai dan mematikan mesin EKG.
Melepas semua peralatan dan tubuh pasien dan
membersihkan jelly dengan tissue.
Merapikan pasien.
Membereskan alat-alat.
Memberikan identitas pasien pada hasil rekaman
meliputi :
a. Nama
b. No. RM
c. Umur
d. Tanggal dan Jam
e. Tinggi badan
f. Berat badan
g. Tekanan darah

- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

116 STANDAR PEMELIHARAAN UV THERAPY


Pemeliharaan UV Terhphy adalah upaya-upaya yang
dilakukan petugas untuk melakukan pemeriksaan kondisi
UV Teraphy secara teratur
Protap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan
langkah-langkah Pemeliharaan UV Teraphy agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000
. Persiapan
Siapkan perintah kerja
Siapkan formulir laporan kerja
Siapkan dokumen teknis penyerta
- Protap pemeliharan
- Service manual
Siapkan peralatan kerja
- Tool set
- Multimeter
. Pelaksanaan
1. Cek dan bersihkan bagian-bagian alat
2. Cek fungsi timer
3. Cek life time pemakaian UV
4. Periksa unjuk kerja alat
5. Cek kebocoran arus listrik
6. Cek hubungan pembumian
7. Isi kartu pemeliharaan alat
8. Isi kartu formulir kerja
9. User menandatangani laporan kerja dan alat
diserahkan kembali kepada user.

Unit Terkait

Pengertian

STANDAR PEMELIHARAAN TIMBANGAN BAYI


Pemeliharaan timbangan bayi upaya-upaya yang
dilakukan petugas untuk melakukan pemeriksaan kondisi
timbangan bayi secara teratur.

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan


langkah-langkah Pemeliharaan timbangan bayi agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Kebijakan

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


Pemeliharaan rutin dilakukan tiap bulan sekali
Pemeriksaan alat bisa dilakukan sewaktu-waktu
apabila ada keluhan alat dari pemakai.

Prosedur

Unit Terkait

Ruangan Bayi
Ruangan Perawatan Anak
Ruangan VK Bersalin

Cek dan bersihkan bagian-bagian alat


Cek catu daya (baterai, jika menggunakan baterai)
Cek termometer pesawat dan timer
Cek kebocoran arus
Cek hubungan pembumian
Isi kartu pemeliharaan alat
Isi Formulir laporan kerja
User mendatangi laporan kerja dan alat diserahkan
kembali kepada user.

Pengertian

STANDAR PEMELIHARAAN TENSI AIR RAKSA


Pemeliharaan tensi air raksa adalah upaya-upaya yang
dilakukan petugas untuk melakukan pemeriksaan kondisi
tensi air raksa secara teratur.

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan


langkah-langkah Pemeliharaan tensi air raksa agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Kebijakan

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


Buku Operation Alat Kes. Pemprov (Depkes)
Pemeliharaan rutin dilakukan tiap 1 bulan sekali
Pemeliharaan alat bisa dilakukan sewaktu-waktu
apabila ada keluhan alat dari pemakai.

Prosedur

Cek dan bersihkan bagian-bagian alat


Cek fungsi alat.
Cek kondisi air raksa, manset, knop.
Isi kartu pemeliharaan alat.
Isi formulir laporan kerja.
User menandatangani laporan kerja dan alat diserahkan
kembali kepada user.

Unit Terkait

- Unit Rawat Inap


- Unit Rawat Jalan
- Unit Kamar Bersalin

Pengertian

16 PENGIRIMAN PASIEN KE KAMAR OPERASI


Mengirimkan klien yang akan dilakukan tindakan operasi
ke Kamar Operasi.

Tujuan

Terlaksananya program operasi sesuai jadwal.

Kebijakan

Pengiriman klien ke Kamar Operasi Jam sebelum


pelaksanaan operasi.

Prosedur

I.

Unit Terkait

1. Unit Kamar Operasi


2. Unit Rawat Inap

Menyiapkan alat
1. Brancard / kereta dorong
2. Kursi roda.
3. Status klien lengkap berisi : Lembar Rekam
Medis, Hasil Laboratorium, Foto (USG, Thorax,
Scan dan lain-lain), Informed Consent, Check
Lyst penderita operasi.
4. Obat-obatan yang diperlukan
Dara bila diperlukan
Obat-obat pre operasi
II. Menyiapkan klien
Menyiapkan klien sesuai dengan jenis operasi yang
akan dilakukan.
III. Melaksanakan
1. Memasang infus sesuai advis dokter.
2. Memindahkan klien dari tempat tidur ke kereta
dorong.
3. Mengantar pasien ke kamar operasi jam
sebelum pelaksanaan operasi.
4. Melaksanakan serah terima klien beserta status
lengkap, ruangan dengan petugas kamar operasi.

Pengertian

115 STANDAR PEMELIHARAAN VENTILATOR


Ventilator adalah alat yang berfungsi sebagai alat bantu
pernafasan yang diberikan pada pasien sesuai dosis yang
dibutuhkan.

Tujuan

Prota ini disusun sebagai acuan dalam penerapan


langkah-langkah Pemeliharaan Ventilator agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya dalam memberikan
bantuan pernafasan bagi pasien.

Kebijakan

Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


Manual Book Operational Book Alkes Pemprov Jatim
(Depkes)

Prosedur

Prasyarat
Satu orang teknisi terlatih
Peralatan kerja tersedia
Dokumen tertulis tersedia
Bahan pemeliharaan dan material bantu tersedia.
Mekanisme kerja tersedia dan jelas
PERSIAPAN
.
Siapkan perintah kerja
.
Siapkan formulir laporan kerja
.
Siapkan dokumen teknis penyerta
- Protap pemeliharan
- Service manual
.
Siapkan peralatan kerja
- Tool set
- Multimeter
- Pengukur arus bocor
- Oxymeter
- Presure meter
. Siapkan bahan pemeliharaan dan material bantu :
- Contact cleaner
- Kain lap halus
- Lampu indikator
- Filter oxygen
- Seal tape
- Amplas
.
Pemberitahuan kepada user
Pelaksanaan
1. Cek dan bersihkan bagian-bagian alat
Periode 3 Bulanan
2. Cek keutuhan mekanik dan tombol-tombol
Periode 3 Bulanan
3. Cek perangkat tekanan kerja dari kebocoran
Periode 3 Bulanan
4. Cek filter masuk udara tekan dan kesatuan O-ring
Periode 3 Bulanan
5. Cek regulator control
Periode 3 Bulanan
6. Cek dan bersihkan manifol tabung
Periode 3 Bulanan
7. Cek dan bersihkan unit humidifier, ganti O-ring bila
perlu
8. Cek semua sistem/bagian-bagian alat yang diijinkan

oleh pabrik
9. Periksa unjuk kerja alat
10. Cek kebocoran arus listrik
11. Cek hubungan pembumian
Pencatatan
Isi kartu pemeliharaan
Isi formulir laporan kerja
User menndatangani laporan kerja dan alat diserahkan
kembali kepada user
Pengemasan Alat Kerja dan Dokumen Teknis
Penyerta
Cek alat kerja dan sesuaikan dengan catatan
Cek dan rapikan dokumen teknis penyerta
Kembalikan alat kerja dan dokumen teknis penyerta ke
tempat semula.
Pelaporan
Laporkan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas.
Unit Terkait

Ruangan OK

Pengertian
Tujuan

Kebijakan
Prosedur

105 STANDAR PEMELIHARAAN INFANT WARMER


Infant wrmer adalah alat pemanas bayi.
Protap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan
langkah-langkah Pemeliharaan Infant Warmer agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya dalam penghangatan
bayi.
Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000
PRASYARAT
Satu orang teknisi terlatih
Peralatan kerja tersedia
Dokumen tertulis tersedia
Bahan pemeliharaan dan material bantu tersedia
Mekanisme kerja tersedia dan jelas
PERSIAPAN
Siapkan perintah kerja
Siapkan fomulir laporan kerja
Siapkan dokumen teknis penyerta
- Protap pemeliharaan
- Service manual
Siapkan peralatan kerja :
- Tool set
- Multi tester
- Pengukur arus bocor
Siapkan bahan pemeliharaan dan material bantu :
- Contact celaner
- Kain lap halis
- Lampu indikator
Pemberitahuan kepada user
PELAKSANAAN
1. Cek dan bersihkan bagian-bagian alat
Periode 3 bulanan
2. Cek kondisi lampu/elemen pemanas, ganti bila perlu
Periode 3 bulanan
3. Cek fungsi indikator dan alarm
Periode 3 bulanan
4. Cek fungsi timer
Periode 3 bulanan
5. Cek kebocoran arus listrik
Periode 1 tahunan
6. Cek hubungan pembumian
Periode 1 tahunan
PENCATATAN
1. Isi kartu pemeliharaan
2. Isi formulir laporan kerja
3. User menandatangani laporan kerja dan alat diserahkan
kembali kepada user.
PENGEMASAN ALAT KERJA DAN DOKUMEN
TEKNIS PENYERTA
1. Cek alat kerja dan sesuaikan dengan catatan
2. Cek dan rapikan dokumen teknis penyerta
3. Kembalikan alat kerja dan dokumen teknis penyerta ke

tempat semula.
PELAPORAN
1. Laporkan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas.
Unit Terkait

Ruangan PICU / NICU


Ruangan VK Bersalin
Kamar bersalin / Ruang Obsgyn

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

103 STANDAR PEMELIHARAAN GENSET


Pemeliharaan Genset adalah upaya-upaya yang dilakukan
oleh petugas untuk melakukan pemerikasaan kondisi
genset secara teratur
Protap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan
langkah-langkah Pemeliharaan Genset agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya
Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000
Persyaratan
Satu orang teknisi yang terlatih
Peralatan kerja tersedia
Dokumen teknis tersedia
Bahan pemeliharaan, bahan operasional dan metrial
bahan tersedia
Mekanisme kerja jelas
Persiapan
Siapkan perintah kerja
Siapkan formulir laporan kerja
Siapkan dokumen teknis penyerta :
- Protap pemeliharaan
- Operating mnaual
- Servise
Siapkan peralatan kerja :
Tool set
Multi tester
Lang ampere
Siapkan bahan pemeliharaan, bahan operasional dan
material bahan :
- Contack cleaner
- kain lap
- Solar
- Oli
- Air (pendingin radiator)
- Ban kipas
- Filter oli
- Filter solar
- Accu 100A
Cek dan bersihkan bagian-bagian alat, meliputi :
Bersihkan bahan bakar solar
Cek air di radiator
Cek strum accu
Cek oli
Cek filter oli
Cek filter solar
Cek ban kipas
Melakukan pemanasan Genset
Cek suhu mesin
Cek voltage genset
Cek ampere pada saat memasuki beban
PELAKSANAAN
Isi kartu pemeliharaan alat
Isi formulir laporan kerja
Pengemasan
Penyerta

Alat

Kerja

dan

Dokumen

Teknis

Cek alat kerja dan sesuai dengan catatan


Cek dan rapikan dokumen teknis penyerta
Kembalikan alat kerja dan dokumen teknis penyerta ke
tempat semula.
Pelaporan
Laporkan hasil kerja kepada pemberi tugas (Ka. IPS)
Unit Terkait

IPS
Seluruh Pengguna Genset

Pengertian

21 KATETERISASI
Mengeluarkan air kemih (urine) dari kandung kemih
dengan menggunakan kateter steril.

Tujuan

- Mengosongkan kandung kemih


- Mengambil air kemih (urine) untuk bahan pemeriksaan

Kebijakan

Dilakukan pada pasien retensio urine, incontinensia urine,


pasien dengan gangguan system urologi dan persiapan
operasi.

Prosedur

A. PERSIAPAN ALAT
Tersedia dalam baki :
1. Kateter steril, ukuran disesuaikan dengan pasien.
2. Kapas sublimat/kapas savlon steril dalam tempatnya.
3. Korentang steril
4. Jelly
5. Perlak dan alasnya.
6. Bengkok 2 buah (untuk kapas kotor dan penampung
urine)
7. Pinset anatomi steril / handscoen steril.
8. Spuit 10 CC + Aquabidest 25 cc.
9. Sketsel
10. Urobag
11. Doek Lubang
B.
1.
2.
3.

PERSIAPAN PASIEN
Menjelaskan maksud dan tujuan
Atur posisi pasien
Memasang tabir / sketsel dan menutup pintu.

C. PELAKSANAAN
1. Cuci tangan
2. Perlak dan alasnya dipasang di bawah bokong.
3. Meletakkan 2 bengkok diantara kedua tungkai
4. Menjelaskan pada pasien
Membuka labia mayora dengan ibu jari dan telunjuk
1. Tangan kiri, yang sebelumnya dibungkus dengan
kapas savlon
2. Vulva dibersihkan dengan kapas savlon minimal 3x
(dari atas ke bawah, kapas kotor diletakkan ke dalam
bengkok, kapas yang terakhir dibiarkan diantara
labia minora).
3. Dengan memakai sarung tangan atau dengan pinset
mengambil kateter dan diberi jelly pada ujungnya.
4. Perawat membuka labia minora dengan tangan kiri
dan kapas tadi dibuang.
5. Memasukkan kateter ke dalam uretra perlahan-lahan
dan menganjurkan pasien untuk menarik nafas
panjang.
6. Bila kateter dipasang permanen / tetap maka kateter
dikunci memakai spuit dan aquades steril (mengisi
balon)
7. Menyambung kateter dengan urobag / urine bag.
8. Pasien dirapikan dan alat-alat dibereskan.

9.
Unit Terkait

Mencuci tangan.

- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap.

Pengertian

17 CARA PENGGUNAAN SUCTION


Tata cara penggunaan Suction (alat penghisap) yaitu cara
pengoperasian suatu alat yang berfungsi untuk menghisap
cairan (misal : sekret) yang tidak bisa dikeluarkan secara
spontan oleh pasien.

Tujuan

Alat terpelihara dengan baik dan siap pakai.

Kebijakan

Penggunaan peralatan sesuai prosedur

Prosedur

1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.
9.
Unit Terkait

Sambungkan kabel suction pada sumber listrik sesuai


dengan voltage alat untuk mesin suction manure.
Mencuci tangan
Sambungkan kabel air pada panel air yang
tersedia untuk suction sentral.
Pasang slang suction yang sesuai ukuran pada mesin
suction.
Lakukan pengecekan fungsi mesin dengan cara
menghisap air steril dalam botol sebelum dipakai.
pada pasien.
Hisap cairan pasien, untuk suction pada ETT,
masukkan slang suction sepanjang ETT tanpa
menghisap, tarik + 1 cm kemudian hisap dengan cara
memutar, penghisapan tidak boleh lebih dari 10
detik. Sebelum dan sesudah penghisapan selalu
dilakukan oksigenasi.
Bersihkan slang suction dengan kapas alkohol, hisap
air untuk membersihkan bagian dalan slang suction.
Setelah selesai melakukan suction sampai bersih,
rapikan pasien, bereskan alat, siapkan untuk
pamakaian selanjutnya.
Setelah selesai melaksanakan prosedur cuci tangan.

- Unit Rawat INap


- Unit OK

Pengertian

126 PEMELIHARAAN INSTRUMENT / ALAT LOGAM


Suatu proses membersihkan semua peralatan logam
(stainles steel) untuk keperluan opeasi atau pelayanan
medik lain dari kotoran sampai siap di steril.

Tujuan

Untuk membersihkan instrumen dari kotoran / mikro


organisme dan menghindari terjadinya kontaminasi alat
kepada petugas maupun pasien.

Kebijakan

Terlaksananya proses atau kegiatan sterilisasi secara


efektif dan efisien.

Prosedur

Dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :


1. Pencucian pada Instrumen Infeksius
A. Pencucian pada Instrumen Infeksius
a. Petugas memakai sarung tangan
b. Alat dicuci dengan ditergent sambil disikat
(Umpower), kemudian dibilas.
c. Alat yang digunakan dikumpulkan tetap dalam
kondisi terbuka (klem, pean, gunting) direndam
dalam larutan bayclin 5% dalam 10 menit.
d. Setelah itu alat dicuci dengan ditergent dalam air
yang mengalir hingga bersih.
e. Letakkan dalam bak Instrumen dan dikeringkan.
f. Beri label nama-nama alat.
g. Masukkan alat dalam bak instrument ke dalam
sterilisator (untuk klem, pean, gunting) dibuka.
h. Alat siap disterilkan.
B. Prosedur pencucian Instrument Non Infeksius
a. Petugas memakai sarung tangan
b. Alat-alat dicuci dengan ditergent dan dibilas.
c. Alat yang telah digunakan dikumpulkan (klem,
pean, gunting) tetap dalam kondisi terbuka
direndam dalam larutan desinfektan (Em Power)
selama 5 menit.
d. Setelah itu alat dibilas dengan air mengalir
hingga bersih.
e. Letakkan dalam bak instrument kemudian
dikeringkan
f. Pemberian label nama dan tanggal.
g. Masukkan alat tersebut dalam sterilisator
(gunting, pean dan klem) tetap dibuka.

Unit Terkait

- Unit Kamar Bersalin


- Tim Pengendalian Infeksi Nasokomial Rumah Sakit
- Unit OK

Pengertian

124 CARA PEMELIHARAAN ALAT INKUBATOR


Memelihara / menjaga kebersihan dan fungsi alat
incubator.

Tujuan

- Terpeliharanya kebersihan alat incubator.


- Mempertahankan alat tetap berfungsi dengan baik.
- Menghindari infeksi silang.

Kebijakan

Pemeliharaan incubator dilaksanakan setiap selesai


dipergunakan.

Prosedur

I.

Unit Terkait

- Unit Ruang Bayi


- Unit Kamar Bersalin

Menyiapkan Alat :
a. Waskom berisi larutan desinfektan clorin 0,56
b. Waskom berisi air bersih yang hangat
c. Lap kering (+ 3 kali)
II. Melaksanakan :
Membersihkan incubator menggunakan lap yang
dibasahi larutan desinfektan dengan :
1. Membuka hood, membersihkan bagian dalam
Hood yang terdiri dari matras dan tempat matras.
2. Membersihkan Filter untuk kelembagaan dengan
merendam filter pada larutan desinfektan selama
+ 15 menit.
3. Tempat filter dibersihkan
4. Bilas semua alat dengan air bersih.
5. Keringkan dengan menggunakan lap kering.
6. Hood ditutup kemudian bersihkan bagian luar
hood sampai dengan bagian bawah incubator,
cara membersihkan seperti saat membersihkan
bagian dalam hood.
7. Bila sudah selesai semua isi air kelembaban
dengan air bersih batas maximal air.
8. Incubator ditutup dengan tutup incubator.

Pengertian

2 MENILAI KESADARAN
Melakukan penilaian tingkat kesadaran
menggunakan Glascow Coma Scale (GCS)

dengan

Tujuan
Kebijakan

Mengetahui tingkat kesadaran pasien.


Penilaian tingkat kesadaran dengan menggunakan
Glascow Coma Scale (GCS) dilakukan pada pasien
dengan adanya penurunan kesadaran.

Prosedur

1.
2.

3.

Unit Terkait

Persiapan Alat
a. Status Pasien
b. Bolpoint
Persiapan Pasien
a. Mengatur posisi pasien
b. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
terhadap pasien atau keluarga.
Pelaksanaan
a. Atur posisi pasien dengan aman dan nyaman
b. Jelaskan pada pasien atau kluarga tentang
prosedur yang akan dilakukan
c. Kaji respon mata pasien dengan panduan nilai
1. Mata tidak dapat membuka
2. Mata terbuka dengan dirangsang
3. Mata terbuka setelah diperintah
4. Mata terbuka secara spontan
d. Kaji respon verbal dengan panduan nilai
1. Tidak bersuara
2. Suara tidak jelas
3. Kata-kata tidak sesuai
4. Percakapan / kalimat membingungkan
5. Pembicaraan berorientasi pada ruang,
tempat dan waktu.
e. Kaji respon motor dengan panduan nilai
1. Tidak dapat merespon nyeri
2. Merespon nyeri dengan refleks extensi
3. Merespon nyeri dengan flexi abnormal
4. Merespon nyeri dengan flexi normal
5. Dengan nyeri, pasien melokalisir
6. Respon motorik sesuai dengan perintah
f. Catat nilai tingkat kesadaran pada status pasien.
g. Rapikan pasien

- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap

Pengertian

4 MENGHISAP LENDIR DENGAN SUCTION


Tindakan keperawatan yang dilakukan dengan
menggunakan alat penghisap lendir (suction) pada pasien
yang tidak dapat mengeluarkan dahak, secret dalam mulut
atau saluran nafas dengan spontan / sendiri.

Tujuan

1. Mengerluakan kotoran / sekret dari rongga mulut


2. Membebaskan jalan nafas.

Kebijakan

Pelaksanaan menghisap lendir dilakukan sesuai dengan


program pengobatan.

Prosedur

I.

Menyiapkan Alat
1. Suction set siap pakai
2. Tong spatel
3. Kasa
4. Bengkok
5. Gelas / Cawan berisi air bersih
6. Mayo tube (bila perlu)
7. Kain pengalas / tissue
8. Sarung tangan
9. Sampiran
II. Menyiapkan Pasien
1. Memberitahu pasien / keluarga tentang rencana
tindakan yang akan dilakukan
2. Mengatur posisi pasien
3. Memasang mayo tube bila perlu
III. Melaksanakan:
1. Perawat mencuci tangan
2. Melaksanakan sampiran
3. Mendekatkan suction set disamping pasien
4. Memastikan alat berjalan baik
5. Memasang kain pengalas dibawah dagu pasien
6. Memasang sarung tangan
7. Memasang mayo tube (bila perlu)
8. Menghubungkan kabel penyambung pada
saluran listrik
9. Menghidupkan mesin penghisap lender
10. Membuka mulut pasien dengan tong spatel yang
dibalut kain kassa.
11. Memasukkan canule penghisap ke rongga mulut
dengan lubang pada pangkal canule terbuka dan
membersihkan rongga mulut dari secret, kotoran
yang lain dengan menutup lubang pada pangkal
canule.
12. Membilas canule dengan cara memasukkan
ujung canule ke dalam gelas / cairan berisi air
bersih berulang kali.
13. Memasukkan canule ke jalan nafas sedalam
mungkin dengan cara yang sama sambil melihat
respon pasien (cyanosis, batuk-batuk)
14. Menarik canule penghisap dengan cara menutup
lubang pada pangkal canule
15. Membilas canule penghisap berulang kali
sampai rongga mulut dan saluran nafas bersih
16. Tindakan ini dilakukan berulang kali sampai

Unit Terkait

rongga mulut dan saluran nafas bersih kemudian


melepas tong spatel.
17. Mematikan mesin penghisap lender (suction)
bila tindakan sudah selesai dan mencabut kabel
penghubung dari saluran listrik.
18. Membersihkan sekitar mulut pasien dengan lap /
tissue dan membuang ke bengkok.
19. Melepas sarung tangan dan merapikan pasien
20. Membuka sampiran
21. Membereskan,
membersihkan,
dan
mengembalikan ke tempat semula.
22. Mencuci tangan
23. Mencatat tindakan pada status pasien.
24. Mengobservasi pasien.
- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap

Pengertian
Tujuan

Kebijakan
Prosedur

5 MENGGOSOK GIGI
Membersihkan gigi dari kotoran / sisa makanan dengan
menggosok gigi
Supaya mulut gigi dan tetap sehat, bersih dan tidak
berbau
Mencegah terjadinya infeksi misalnya stomatitis,
caries gigi dan lain-lain
Memberikan perasaan segar pada pasien
Dilakukan pada pasien yang tidak dapat menggosok gigi
sendiri
A. PERSIAPAN ALAT
Tersedia di baki :
1. Handuk / pengalas
2. Bengkok pengalas
3. Air untuk kumur-kumur dalam gelas plastik
4. Sikat gigi dan pasta gigi
5. Tissue
6. Sedotan (kalau perlu)
B. PELAKSANAAN
1. Perawat mencuci tangan
2. Kepala pasien dimiringkan
3. Handuk atau pengalas diletakkan dibawah dagu
4. Bengkok diletakkan dibawah dagu
5. Pasien diberi air untuk kumur-kumur
6. Sikatlah gigi pasien dengan perlahan dari atas ke
bawah luar dan dalam geraham atas dan bawah
7. Pasien diberi air untuk kumur-kumur
8. Mulut dibersihkan/dikeringkan dengan tissue
9. Bengkok dan pengalas diangkat pasien
dibaringkan kembali
10. Alat-alat dibereskan dan perawat cuci tangan
* Perhatian

Unit Terkait

: Apakah ada perdarahan digusi, gigi rusak,


luka-luka pada bibir dan lidah

- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

6 MENGANGKAT JAHITAN LUKA


Mengangkat / membuka benang jahitan pada luka yang
dijahit
- Mencegah timbulnya infeksi
- Mencegah tertinggalnya benang
Dilkukan pada luka operasi yang sudah waktunya
diangkat jahitannya
A. PERSIAPAN ALAT
Tersedia di baki :
1. Alat-alat steril
- 1 Pinset anatomi.
- 2 pinset chirugi.
- Arteri klem ( bila perlu ).
- 1 gunting lurus/gunting angkat jahitan.
- Kapas lidi sejukupnya
- Kasa steril 10-15 lembar
- Mangkuk steril
- Agrave (kalau perlu)
2. Alat-alat yang tidak steril
- Plaster
- Alkohol 70 % dalam botol
- Bethadine
- Bengkok
- Kantong plastik
- Obat luka
- Gunting plester
B. PERSIAPAN PASIEN DAN LINGKUNGAN
1. Memperkenalkan diri
2. Memberitahu maksud dan tujuan
3. Bicara dengan sopan
4. Mengatur posisi
5. Perhatikan respon dari pasien
6. Mengatur lingkungan aman dan nyaman
C. PELAKSANAAN
1. Alat-alat dibawa kedekat pasien
2. Perawat cuci tangan
3. Balutan lama dibuka dan dibuang
4. Luka dibersihkan dengan kapas desinfektan
kesatu arah
5. Kapas kotor dibuang pada tempatnya
6.Simpul jahitan ditarik sedikit ke atas benang
digunting dan ditarik hati-hati digunting dan
disimpul
7. Tekan sekitar luka untuk mengetahui ada tidaknya
pus
8. Luka ditutup dengan kain kasa steril secukupnya
lalu diplester.
9. Pasien dirapikan dan alat-alat dibersihkan
10. Parawat cuci tangan.
* Perhatikan : - Tehnik kerja harus secara aseptik
- Mengangkat jahitan tergantung pada jenis jahitan

Unit Terkait

Unit Rawat Jalan


Unit Rawat Inap

Pengertian

9 MEMBERI KOMPRES BASAH


Tata cara memberikan kompres pada luka atau bagian
badan yang memerlukan agar selalu dalam keadaan
basah.

Tujuan

- Membersihkan luka
- Mengobati luka
- Mencegah kekeringan pada luka-luka tertentu

Kebijakan
Prosedur

Dilakukan pada luka yang kotor


A. PERSIAPAN
Tersedia dalam baki
1. Kain kasa steril secukupnya dalam mangkok
berisi cairan untuk dikompres
2. Pinset anatomis steril 3 buah
3. Kapas sublimat/kapas savlon dalam tempatnya
4. Kasa kering dan steril
5. Gunting verban
6. Plaster
7. Bengkok 1 buah
8. Baskom berisi cairan kompres
NaCI 0,9%
Bethadin salution
H2O2 / Perhidrol 3%
B. PERSIAPAN PASIEN DAN LINGKUNGAN
1. Memperkenalkan diri
2. Memberitahu maksud dan tujuan
3. Mengatur posisi pasien/mengatur lingkungan
aman dan nyaman
C. PELAKSANAAN
1. Membawa alat-alat ke dekat pasien
2. Perawat cuci tangan
3. Plaster dan balutan dibuka
4. Kain kasa kotor diangkat memakai pinset dan
masukkan ke bengkok
5. Deran luka dibersihkan dengan kapas sublimat/
savlon satu arah saja lalu dibuang dilakukan
sampai bersih.
6. Pinset yang kotor dimasukkan dalam bengkok
yang diberi larutan desinfektan.
7. Dengan pinset steril ambil kasa steril yang telah
dibasahi cairan obat, kemudian peras dengan
pinset, bentangkan dan letakkan secukupnya
diatas luka tutup dengan kasa kering kemudian
balut dengan plaster.
8. Alat-alat dibereskan kemudian perawat cuci
tangan.

Unit Terkait

Unit Keperawatan

Pengertian

10 MEMBERIKAN BANTUAN OKSIGEN


Memasukkan zat asam ke dalam paru-paru melalui
saluran pernafasan dengan menggunakan alat khusus.

Tujuan

Membantu menambah kekurangan zat asam (O2)


Membantu kelancaran metabolisme
Pengobatan
Mencegah hypoxia

Kebijakan

Dilakukan pada pasien anoxia, hypoxia, pasien yang


mendapat trauma paru-paru.
Pasien dengan kelumpuhan alat-alat pernafasan pasien
shok, dispneu, cyanosis, apneu atau pasien dalam
keadaan gawat (koma).

Prosedur

A. PERSIAPAN ALAT
1. Tabung oksigen dengan manumeternya.
2. Flow meter (pengukur aliran)
3. Humidifer (botol pelembab yang diisi air matang
aquadest sampai batasnya.
4. Slang (pipa saluran zat asam)
5. Kanula hidung ganda (Nasal Canule) / Pipa
endothracheal / alat resusitasi otomatis yang
lengkap.
6. Alat tulis untuk mencatat.
B. PERSIAPAN ALAT DAN LINGKUNGAN
1. Memberitahu maksud dan tujuan (bila pasien
sadar).
2. Mengatur posisi pasien sesuai dengan kebutuhan.
3. Ada respon dari pasien.
4. Mengatur lingkungan aman dan nyaman.
C. PELAKSANAAN
Prosedur dan cara-cara kerja.
1. Setelah alat-alat dibawa ke dekat pasien perawat
mencuci tangan.
2. Isi tabung dicoba dan diperiksa.
3. Memasang pipa oksigen pada tabung.
4. Pipa oksigen dihubungkan dengan kateter
hidung/kanula hidung.
5. Mengatur volume sesuai program terapi dokter
dengan membuka flow meter.
6. Memasang kateter hidung pasien.
7. Mengobservasi reaksi pasien.
8. Mencatat hasil tindakan
9. Pasien dirapikan dan alat-alat dibereskan.
10. Mencuci tangan.

Unit Terkait

- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap

11 TATA CARA HUBUNGAN KERJASAMA UNIT RAWAT INAP DENGAN


SUB UNIT REKAM MEDIK
Pengertian
Tata cara yang mengatur koordinasi kerja antara Unit
Rawat Inap dengan Sub Unit Rekam Medik yang meliputi
pengiriman sensus harian, peminjaman berkas Rekam
Medik (Status Pasien Lama) dan serah terima berkas
Rekam Medik.
Tujuan

Pelayanan Medis untuk pasien di Unit Rawat Inap yang


membutuhkan perawatan dapat berjalan dengan lancar.

Kebijakan

- Buku Pedoman Rekam Medik


- Buku Pedoman Pelayanan Medik

Prosedur

A. PENGISIAN SENSUS HARIAN


1. Perawat dinas malam mengecek ulang jumlah
pasien tiap hari, meliputi jumlah pasien baru,
pasien pindah ruangan, pasien pindahan dari
ruang lain dan pasien keluar dari Rumah Sakit
(hidup, meninggal dunia, pulang paksa).
2. Data mutasi pasien tiap hari direkap pada lembar
sensus harian pasien Rawat Inap.
3. Data yang harus dicantumkan pada lembar
sensus/mutasi adalah jumlah pasien berdasarkan
jenis pelayanan, jumlah pasien masuk (meliputi
pasien baru/pindahan dari ruang lain) dan pasien
keluar Rumah Sakit.
4. Penanggung jawab Shift dinas malam
bertanggung jawab atas kelengkapan dan
ketetapan pengisian Rekapitulasi Sensus Harian
pasien Rawat Inap.
5. Lembar sensus tersebut diserahkan ke Sub Unit
Rekam Medik keesokan harinya melalui Kepala
Unit Rawat Inap.
B. PEMINJAM BERKAS REKAM MEDIK
1. Perawat ruangan memberitahu petugas Rekam
Medik bahwa ada peminjaman berkas Rekam
Medik (Status Lama) dengan menyebutkan
nomor Rekam Mediknya.
2. Petugas Rekam Medik mencarikan berkas
Rekam Medik yang dimaksud.
3. Petugas Rekam Medik memberitahu perawat
ruangan bahwa berkas yang dimaksud sudah ada.
4. Perawat meminjam berkas Rekam Medik dengan
menulis Buku Peminjaman Berkas Rekam Medik
yang disediakan di Rekam Medik.
C. PENGIRIMAN BERKAS REKAM MEDIK
1. Perawat meneliti kelengkapan berkas Rekam
Medik pasien yang telah dinyatakan pulang oleh
dokter yang merawat.
2. Berkas Rekam Medik pasien pulang ditulis pada
Buku Ekspedisi pengiriman berkas Rekam
Medik sebelum dikirim ke Rekam Medik.
3. Petugas Rekam Medik meneliti jumlah berkas

Rekam Medik yang diterima sebelum


membubuhkan tanda tangan pada Buku
Ekspedisi pengiriman berkas Rekam Medik
Ruangan.
Unit Terkait

- Unit Rawat Jalan


- Unit Rawat Inap
- Sub Unit Rekam Medik

Pengertian

12 TATA CARA HUBUNGAN KERJASAMA


UNIT RAWAT INAP DENGAN UNIT GIZI
Tata cara yang mengatur hubungan kerja di Unit
Pelayanan Keperawatan dengan Unit Gizi dan Dapur.

Tujuan

Kelancaran pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan


pelayanan diit pasien di unit pelayanan keperawatan.

Kebijakan

Koordinasi kerja antara Unit Gizi dan Unit Keperawatan


meliputi pelayanan gizi pada pasien rawat inap.

Prosedur

1.
2.

3.
4.
5.

6.
7.
Unit Terkait

Perawat dinas malam mengecek ulang jenis diet tiaptiap pasien.


Perawat dinas malam menyusun daftar diet pasien
sesuai jenis diet yang ditetapkan dengan mengisi
lembar daftar makanan penderita yang berisi :
tanggal, nomor RM, nama pasien, kelas, macam diet
dan keterangan lain yang diperlukan.
Setelah mengisi daftar makanan pasien, perawat
membuat permintaan diet yang tercatat dalam lembar
daftar makanan pasien.
Permintaan diet pasien diserahkan kepada dapur gizi
untuk pelayanan diet pasien keesokan harinya.
Untuk permintaan diet bagi pasien baru/pasien
pindah/permintaan penggantian diet, perawat yang
bertugas pada shift tersebut membuat bon makan
yang memuat permintaan diet pasien baru atau
penggantian atau pembaritahuan pasien pindah
kamar.
Distribusi dan pelayanan diet pasien di Unit Rawat
Inap dikoordinasi olh petugas dapur ruangan.
Perawat mengkaji ulang kemampuan pasien dan
membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan
makan/minum.
Unit Rawat Inap
Unit Gizi

7
Pengertian

MEMBERIKAN OBAT PERORAL


Tata cara memberikan obat melalui mulut baik berupa
obat padat (tablet / kaplet / kapsul) maupun cair (sirup /
larutan).

Tujuan

Memberikan obat melalui mulut sesuai dosis indikasi


dengan cara yang tepat.

Kebijakan

- Pelaksanaan pemberian sesuai prosedur.


- Pemberian obat per oral dengan cara ditelan langsung
atau sublingual.

Prosedur

I.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Obat-obatan yang sesuai


Tempat obat
Martil obat
Etiket obat
Air minum
Sendok takar obat/sendok makan (sesuai dosis).
Baki.

II. Persiapan Pasien


1. Jelaskan maksud dan tujuan
2. Atur posisi sesuai kebutuhan
III. Pelaksanaan
1. Cuci tangan
2. Cek pemberian obat pada daftar obat (sesuaikan
dosis dan cara pemberiannya).
3. Siapkan obat sesuai cara masuknya dan
pemberiannya:
- Siapkan obat dalam gelas obat untuk obat
syrup.
- Untuk obat padat bila pasien tidak bisa
menelan langsung bila perlua hancurkan
dengan martil.
4. Bawa obat pada pasien, jelaskan bagi cara
pemberian waktu pemberiannya.
5. Berikan obat pada pasien, yakinkan obat benarbenar bisa dihabiskan.
6. Bereskan alat.
7. Cuci tangan.
Unit Terkait

- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap.

13
Pengertian

Tujuan

PERHITUNGAN BALANCE CAIRAN


Perhitungan jumlah cairan yang masuk ke tubuh pasien
meliputi jumlah cairan infuse, obat, transfuse darah,
makan, minum, spoel kateter (mis: TUR) dan jumlah
cairan yang keluar dari tubuh pasien meliputi jumlah
BAB, BAK, muntah, perdarahan, Cairan drain cairan
NGT dan IWL (Insesible Water Loss).
Mengetahui defisit / excess cairan
Mempertahankan kebutuhan cairan
seimbang / sesuai tujuan pengobatan.

tubuh

yang

Kebijakan

- Dilakukan pada pasien post operasi besar


- Dilakukan pada pasien dengan pembatasan cairan.
- Dilakukan pada pasien yang mendapatkan pengobatan
tertentu misalnya : lasix, dopamine.

Prosedur

Cara Perhitungan
1. Balans cairan pasien dihitung tiap 3 jam, 6 jam dan
24 jam.
2. Jumlah cairan yang masuk dan keluar yang telah
dihitung dicatat di sebelah kiri jam perhitungan,
jumlah cairan sisa yang akan dihitung pada balans
cairan selanjutnya dicatat di sebelah kanan jam
perhitungan.
3. Hitung cairan yang masuk meliputi jumlah cairan
infus, obat, transfusi darah, makan, minum, spoel
catheter (mis: TUR)
4. Hitung jumlah cairan yang keluar meliputi :
BAB = diperkirakan air dalam feces adalah 100
ml/hr
BAK = jumlah urine
Muntah
Perdarahan
Cairan drain
Cairan NGT
IWL (Insensible Water Loss)
Dewasa : 15 cc / Kg BB / hari, diperkirakan
250 cc / 6 jam.
Anak : [30 usia (tahun)] cc / Kg BB /
hari.
Jika ada kenaikan suhu : IWL + 200 (suhu
badan sekarang 36,8c)
5. Hitung antara jumlah cairan yang keluar dan masuk,
tentukan apakah pasien mengalami kekurangan
cairan (defisit) atau kelebihan cairan (excess).
6. Pada keadaan defisit cairan, ganti jumlah cairan
pasien dengan cairan koloid (Hass, RL, PZ, D5
NS) sesuai dengan jumlah yang harus digantikan bila
tidak ada kontra indikasi.
7. Pada keadaan excess bila perlu diberikan diuretik
sesuai perintah dokter.

Unit Terkait

- Unit Keperawatan
- Keperawatan Rawat Inap

123
Pengertian

STANDAR PEMELIHARAAN STERILISATOR


Pemeliharaan sterilisator adalah upaya-upaya yang
dilakukan petugas untuk melakukan pemeriksaan kondisi
sterilisator secara teratur.

Tujuan

Protap ini disusun sebagai acuan dalam penerapan


langkah-langkah Pemeliharaan Sterilisator agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Kebijakan

- Persyaratan SMM ISO 9001 : 2000


- Pemeliharaan rutin dilakukan tiap 3 bulan sekali.
- Pemeriksaan alat bisa dilakukan sewaktu-waktu
apabila ada keluhan alat dari pemakai.

Prosedur

Cek dan bersihkan bagian-bagian alat


Cek catu daya
Cek elemen
Cek termometer pesawat dan timer
Cek kebocoran arus
Cek hubungan pembumian
Isi kartu pemeliharaan alat
Isi formulir laporan kerja
User mendatangi laporan kerja dan alat diserahkan
kembali kepada user.

Unit Terkait

IRD
PICU / NICU
Semua Ruangan
IPS - RS

PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN STIRILISATOR KERING


Pengertian
Pemeliharaan dan perawatan stirilisator kering oleh
petugas terutama perawat.
Tujuan

Untuk menjaga kebersihan dan keawetan stirilisator.

Kebijakan

- Pemeliharaan Stirilisator dilakukan setiap selesai


dipergunakan.

Prosedur

1. Sebelum digunakan, psatikan stirilisator dalam


keadaan kering dan bersih.
2. Penggunaan stirilisator tidak lebih dari 2 x / hari
3. Membersihkan stirilisasi minimal 1 bulan sekali
dengan kain basah kemudian keringkan.
4. Pada saat stirilisator menyala / on diharapkan tidak
membuka pintu stirilisator sebelum lampu padam
(selesai).

Unit Terkait

- Unit OK

Pengertian

PEMELIHARAAN ALAT MEDIS DARI KARET NELATON


Pemeliharaan Alat Medis dari Karet Nelaton adalah cara
pemeliharaan alat medis dari bahan karet nelaton di
masing-masing unit yang menggunakan.

Tujuan

Untuk membersihkan alat medik dari bahan karet yang


habis pakai dan menghindari kontaminasi.

Kebijakan

Sebagai acuan untuk membersihkan alat medis dari karet.

Prosedur

1. Petugas memakai sarung tangan.


2. Masukkan alat medis karet dalam larutan desinfektan
yakni:
- First aid 5 cc = 1 liter air
3. Mencuci dengan sikat
4. Bilas dengan air mengalir kuat.
5. Dikeringkan dengan lap
6. Untuk hand scoen / wwz / es cap setelah kering betul
diberi alas / ditaburi bedak.
7. Untuk hand scoen masukkan dalam stoples dan diberi
formalin.
- Memberi etiket, tanggal dan penyeterilan
- Setelah 2 x 24 jam siap digunakan.
8. Untuk barang lainnya diletakkan pada tempat yang
kering.

Unit Terkait

- Unit Rawat Inap


- Unit Kamar Bedah
- Bagian A.K.U

CARA PEMELIHARAAN ALAT PORTABLE DEFIBRILATOR


Pengertian
Cara pemeliharaan dan menyimpan alat khusus berupa
Portable Defibrilator
Tujuan

Agar alat khusus berupa Defibrilator dapat terjaga fungsi


dan kondisinya dengan baik.

Kebijakan

Mempertahankan aset yang dimiliki rumah sakit agar


tetap dapat memberikan pelayanan yang optimal terhadap
pasien dengan menggunakan alat tersebut.

Prosedur

1. Untuk pembersihan rutin, lap Defibrilator dan alat-alat


perlengkapannya dengan alkohol.
2. Jangan menggunakan pembersih yang mengandung
sther, thinner dan bensin karena akan merusak bahanbahan yang terbuat dari plastik.
3. Bersihkan paddle dengan air biasa atau solusion,
jangan membersihkan dengan air yang bersuhu lebih
dari 60 C.
4. Jangan menggunakan autoklaf atau metode desinfeksi
lain yang menggunakan temperature tinggi. Sterilkan
paddle dengan menggunakan sthylene oxide gas.
5. Permbersihan dilakukan dan sesudah tidak digunakan.
Simpan alat di tempat yang tidak lembab.

Unit Terkait

- UGD
- ICU

Pengertian

PEMELIHARAAN ALAT MEDIS


DARI KARET NELATON ENDOTRACHEAL
Pemeliharaan Alat Medis dari Karet Nelaton
Endotracheal adalah cara pemeliharaan alat medis dari
bahan karet nelaton di masing-masing unit yang
menggunakan.

Tujuan

Untuk membersihkan alat medik dari bahan karet yang


habis pakai dan menghindari kontaminasi.

Kebijakan

Sebagai acuan untuk membersihkan alat medis dari karet.

Prosedur

1. Petugas memakai sarung tangan dan scont plastik.


2. Masukkan alat medis karet dalam larutan dsinfektan
yakni:
- Protelitic Enzymes
- Nionitic Surfactane
30 cc dilarutkan dalam 3 liter air bersih.
3. Mencuci dengan sikat
4. Bilas dengan air mengalir kuat.
5. Dikeringkan dengan lap dan disemprot dengan
kompresor.
6. Masukkan dalam stoples / bak instrument dan diberi
formalin.
7. Memberi etiket, tanggal dan penyeterilan.
8. Setelah 2 x 24 jam siap digunakan.
9. Bila alat akan dipakai direndam dulu dengan aqua.

Unit Terkait

- Unit Rawat Inap


- Unit Kamar Bedah
- Bagian A.K.U

Pengertian

PEMELIHARAAN DOPLER
Pemeliharaan Dopler adalah memelihara / menjaga
kebersihan dan fungsi alat dopler.

Tujuan

1. Terpeliharanya kebersihan alat.


2. Mempertahankan fungsi alat.

Kebijakan

Pemeliharaan
dipergunakan.

Prosedur

1. Menyiapkan alat
a. Lap kering
b. Tissue
c. Eengkok
2. Menyiapkan Klien
a. Membersihkan tranduser dari jelly dengan
menggunakan tissue dan tissue kotor dibuang
dibengkok.
b. Membersihkan badan dopler dengan menggunakan
lap kering.
c. Mengecek baterai, bila lemah langsung dicharge,
agar alat siap pakai.
d. Membersihkan alat-alat, mengembalikan pada
tempatnya.
e. Petugas mencuci tangan.

Unit Terkait

Ruang Kandungan / BKIA

dopler

dilaksanakan

setiap

selesai

45
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
GAWAT DARURAT

DAFTAR ISI
1.
2.
3.
4.
5.

Syock Septik
Syock Hipovolemik
Anafilaksis
Penanggulangan Bencana
Syock Kardiogenik

Pengertian

SYOK SEPTIK
Suatu kegagalan sirkulasi perifer dengan perfusi jaringan
yang adekuat akibat septicemia.

Tujuan

1.
2.
3.

Mengembalikan sirkulasi perifer yang adekuat.


Mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Mencegah kematian

Kebijakan

1.
2.

Menyelamatkan jiwa.
Mengacu pada pelayanan standar medik.

Prosedur

Alat-alat:
1. Oropharingeal tuber / mayo tube sesuai dengan
ukuran pasien.
2. Face mask sesuai dengan ukuran pasien.
3. Air bag
4. Peralatan intubasi
5. Papan resusitasi
6. Bantal kecil
7. Meja emergency berisi alat-alat dan obat-obat
emergency.
8. Plester gunting
9. Peralatan suction
10. Peralatan oksigen
11. Pasien
Beritahu pasien bila sadar / keluarga tentang
prosedur tindakan dan tujuan.
Lankah-langkah:
1. Kaji tanda-tanda vital
2. Kaji tanda-tanda syok septic: demam tinggi,
menggigil,
takikardi,
takipneu,
proteinuria,
leukositosis, dll.
3. Mengkaji ABC dan kesadaran.
4. Atur posisi pasien dalam posisi syok.
5. Berikan terapi 4-6 liter/menit
6. Bila pasien tidak sadar lakukan gerakan tripel:
ektensi kepala, mendorong mandibula kedepan dan
membuka mulut.
7. Bila pasien henti nafas segera lakukan ventilasi 2
kali buatan, kalau memungkinkan dengan oksigen
murni.
8. Setelah dua kali ventilasi buatan awal, segera raba
arteri karotis atau femoralis.
9. Bila nadi berdenyut tetapi pasien masih henti nafas
teruskan ventilasi buatan 12 kali/menit sampai
timbul ventilasi spontan dan adekuat.
10. Bila tidak teraba nadi berarti henti jantung segera
lakukan kompresi jantung luar 15 kali dengan laju
80-100/menit yang kemudian dilakukan ventilasi 2
kali (1 ventilasi = 1-1,5 detik) dievaluasi setiap menit
apakah tindakan efektif.
11. Pasang infuse NaCI 0,9 % / RL.
12. Untuk mengatasi hemodinamik berikan dopamine IV
drip 5-20 u/kg B/menit.
13. Bila terjadi takikardi, tambahkandrip dobutamin 5-20

ug/kg BB/menit, bila dalam satu keur pemberian


belum ada tanda-tanda tekanan darah sampai
80/50mmhg.
15. Cek analisis gas darah, apabila terjadi asidosis
metabolic koreksi dengan natrium bikarbonat sampai
pH normal.
16. Pemberian antibiotik secara empiris, yaitu:
a. Cefalosporin jenis ke III denan jenis, dosis dan
cara pemberian yang sesuai dengan kondisi
organ-organ ginjal, hepar.
b. Aminoglikosida, jenis, dosis dan cara pemberian
disesuaikan dengan kondisi organ seperti ginjal,
hepar.
17. Evaluasi tanda-tanda vital dan respon pasien, bila
tidak membaik dipertimbangkan untuk masuk ICU.
Hal.hal yang harus diperhatikan:
1. Bekerja cepat, tepat, dan teliti.
2. Jaga kenyamanan lingkungan
Unit Terkait

- UGD, RR, Ruang Perawatan, Kamar Bersalin.

Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Prosedur

SYOK HIPOVOLEMIK
Merupakan keadaan darurat yang disebabkan kegagalan
peruse darah ke jaringan dengan volume plasma yang
berkurang.
1.
2.
3.
1.
2.
3.

Mengembalikan sirkulasi yang adekuat


Mencegah terjadinya komplikasi terlalu jauh
Mencegah kematian
Penyelamatan jiwa
Mengacu pada standar pelayanan medis
Dilakukan oleh dokter atau perawat yang telah pelatihan
PPGD/ATLS/ACLS
Persiapan
1. Alat
a. Air bag
b. Oropharingeal air way
c. Face mask
d. Endotracheal tube
e. Perlengakapan infuse
f. Set intubasi
g. Obat-obat emergency : adrenalin, SA, dopamine,
aminophilin, difenhidramine HCL, dll.
2. Pasien
Beri penjelasan tentang prosedur tindakan terhadap
keluarga/pasien bila sadar
Langkah-langkah
1. Kaji tanda-tanda vital dan pendarahan
2. Kaji tanda-tanda kekurangan cairan : mukosa kering,
mata cekung
3. Bila disebabkan karena pendarahan, hentikan dengan
tourniquet, balut tekan atau penjahitan
4. Atur posisi pasien dalam posisi syok :
a. Kepala setinggi atau lebih tinggi dari dada
b.Tubuh horizontal atau dada lebih rendah kedua tungkai
lurus, diangkat 20
5. Beri oksigen 4-6 liter binasal kanul
6. Bila pasien tidak sadar lakukan gerakan tripel (ekstensi
kepala, mendorong mandibula kedepan dan membuka
mulut)
7. Bila paasien henti nafas segera lakukan ventilasi buatan
2 kali buatan, kalau memungkinkan dengan O2 murni
(100 %)
8. Setelah dua kali ventilasi buatan awal, segera raba arteri
karotis atau arteri femoralis
9. Bila nadi berdenyut tetapi pasien masih henti nafas
teruskan ventilasi buatan 12 kali/menit sampai timbul
ventilasi spontan dan adequate.
10. Bila tidak teraba berarti henti jantung (cardiac arrest)
segera lakukan kompresi jantung luar 15 kali dengan laju
80-100 kali mneit yang kemudian dilakukan ventilasi 2
kali (1 ventilasi = 1-1,5 detik) dievakuasi setiap satu
mneit, apakah tindakan efektif
11. Pasang infuse NaCl / RL 1-2 liter dalam 30-60 menit,
bila syok disebabkan oleh vomitus atau GEA sambil
memonitoring tanda-tanda vital dan CVP
12. Pasang infuse NaCI / RL 1-2 liter dalam 30-60 menit dan

13.
14.
15.
16.
17.

persiapan transfusi bila karena perdarahan. Sebelum


tersedia darah diberikan plasma expander: plasmafusin
maksimal 20ml/kg BB.
Berikan transfusi PRC bila diperlukan hingga Ht >30%
Pasang kateter untuk memonitoring produksi urine.
Cek elektrolit dan koreksi kelainannya.
Koreksi acidosis
Bila dari pemeriksaan AGD terjadi acidosis metabolic
diberikan Na-Bikarbonat 0,3 X BB X base exces meq IV
Observasi TTV tiap 5 menit, sampai terlihat kembalinya
organ vital:
a. Otak : kembalinya kesadaran
b. Ginjal : volume urine bertambah, sekitar 30 cc / jam
c. Jantung : denyut nadi turun, tensi meningkat
d. Kulit : ekstrimitas menjadi hangat.

Hal-hal yang harus diperhatikan


1. Tindakan cepat, tepat dan akurat
2. Monitoring respon pasien.
Unit Terkait

UGD, RR, Ruang Perawatan, Kamar Bersalin