Anda di halaman 1dari 6

ABLASIO RETINA

Definisi
Ablasio retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang
retina dari sel epitel pigmen retina. Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang
dari koroid atau sel pigmen epitel akan mengakibatkan gangguan nutrisi retina
dari pembuluh darah koroid. Ketika retina terpisah dari suplai darah utamanya,
fotoreseptor secara lambat mulai beregenerasi, menjadi nonfungsional dalam 6
minggu. (1,2). Ablasio retina dikenal 3 bentuk yaitu : (a) Ablasio retina
regmatogenosa, (b) Ablasio retina eksudatif dan (c) Ablasio retina traksi (tarikan).
Epidemiologi
Keadaan Ablasio retina pada kedua mata biasanya terjadi sekitar 12-30%.
Insidens 8,9/100.000. Sekitar 1 dari 10.000 populasi normal akan mengalami
ablasio retina regmatogenosa. (3,4)

Etiologi
Keadaan dan penyakit yang dapat menimbulkan ablasio retina antara lain,
yaitu (3,2) :
1. Sekunder terhadap penyakit retina atau badan kaca
a. Degenerasi retina dengan adanya robekan
Robekan retina dengan ketebalan penuh yang disebabkan oleh Ablasio
vitreus posterior (PVD) spontan atau trauma memungkinkan cairan vitreus
memasuki ruangan di antara retina dan epitel pigmen retina sehingga
menyebabkan terjadinya ablasio retina regmatogenosa.
b. Eksudatif
Beberapa kondisi neoplastik dan inflamatoris dapat menyebabkan eksudasi
serosa dari pembuluh darah yang bocor dibawah retina tanpa adanya lubang
retina.
c. Ruda paksa

d. Kelainan sirkulasi
e. Tarikan oleh jaringan fibrosis di badan kaca
Membran vaskular atau fibrosa yang tumbuh abnormal dalam vitreus
(misalnya pada pasien diabetes atau pasien cedera mata tembus) dapat
mengkontraksi dan menarik retina menjauhi epitel pigmen retina.
2. Sekunder terhadap penyakit koroid
a. Eksudatif
b. Ruda paksa
c. Kelainan sirkulasi
3. Sekunder terhadapa penyakit mata umum
a. Miopia tinggi
b. Hipotoni yang tinggi
Patofisiologi
Ablasio retina regmatogenosa
Ablasio ini terjadi akibat adanya robekan pada retina sehingga cairan masuk
ke belakang antara sel pigmen epitel dengan retina. Retina terdorong oleh badan
kaca cair (fluid vitreous) yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke
rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel
pigmen koroid. (1) Ablasio retina regmatogenosa spontan biasanya didahului atau
disertai oleh pelepasan vitreous posterior dan berhubungan dengan miopia, afakia,
degerasi lattice dan trauma mata. (5)
Ablasio retina eksudatif
Ablasio ini terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan
mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan
dari pembuluh darah retina dan koroid (ekstra vasasi). Hal ini disebabkan penyakit
koroid. Kelainan ini dapat terjadi pada skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar,
radang uvea, idiopati, toksemia gravidarum. Cairan di bawah retina dipengaruhi
oleh posisi kepala. Permukaan retina yang terlihat cincin. (1)
Gambaran Klinis

Penderita biasanya akan mengeluh dan merasa seperti ada tirai yang
menutupi sebagian lapang pandang pada mata yang menderita ablasi retina.
Penderita sering merasakan melihat adanya kilatan-kilatan cahaya (fotopsia) pada
mata yang menderita ablasi beberapa hari samapai beberapa minggu sebelumnya.
Diikuti kekaburan atau kehilangan penglihatan secara bertahap jika makula
terlepas. (3,2)
Dignosis dan pemeriksaan
Ablasio retina regmatogenosa
Retina yang mengalami ablasio ketika dilihat menggunakan oftalmoskop
akan tampak membran abu-abu merah muda yang sebagian menutupi gambaran
vaskular koroid. Jika terdapat akumulasi cairan pada ruang subretina, didapatkan
pergerakan undulasi retina ketika bergerak. Satu robekan pada retina terlihat agak
merah muda dikarekan pembuluh darah koroid di bawahnya. Mungkin didapatkan
debris terkait pada vireous yang terdiri dari darah dan pigmen atau kelopak retina
dapat ditemukan mengembang bebas. (4)
Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas (ablasi) bergoyang.
Kadang-kadang terdapat pigmen di dalam badan kaca. Pada pupil akan terlihat
defek aferen pupil akibat penglihatan menurun. Tekanan bola mata rendah dan
dapat meninggi bila telah terjadi neovaskular glaukoma pada alasi yang telah
lama. (1)
Oftalmoskopi

tidak

langsung

binokular

dengan

depresi

sklera

memperlihatkan peninggian retina sensorik translusen yang lepas. Pemeriksaan


yang teliti biasanya memperlihatkan satu atau lebih pemutusan retina total
misalnya robekan berbentuk tapal kuda, lubang atrofik bundar atau robekan
sirkumferensial anterior. (5)
Ablasio retina eksudatif
Cairan di bawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi kepala. Permukaan
retina yang terangkat terlihat cincin. Penglihatan dapat berkurang dari ringan
sampai berat. Ablasi dapat hilang atau menetap bertahun-tahun setelah
penyebabnya berkurang atau hilang. (1)

Ablasio retina traksi


Ablasio retina ini memiliki permukaan yang lebih konkaf dan lebih
terlokalisasi dibandingkan dengan ablasio retina regmatogenosa dan biasanya
tidak meluas ke ora serata. (5)
Terapi
Ablasio retina regmatogenosa
Pengobatan pada ablasi retina adalah pembedahan. Sebelumnya pasien
dirawat terlebih dahulu dengan mata ditutup. Pembedahan dilakukan secepat
mungkin dan sebaiknya antara 1-2 hari. (1) terdapat dua teknik bedah utama untuk
memperbaki ablasio retina yaitu eksternal (pendekatan konvensional) dan internal
(pembedahan vitreoretina). Prinsip utama pada kedua teknik ini adalah untuk
menutupi robekan penyebab pada retina dan memperkuat perlekatan antara retina
dan sekitar epitel pigmen retina dengan cara menginduksi inflamasi di daerah
tersebut dengan pembekuan lokal menggunakan cryoprobe atau laser. Pada
pendekatan eksternal, robekan ditutup dengan menekan sklera menggunakan pita
plomb silikon yang diletakkan eksternal, ini menghilangkan traksi vitreous.
Sedangkan pada pendekatan internal, vitreous diangkat dengan pemototng bedah
mikro khusus yang dimasukkan ke dalam rongga vitreous melalui pars plana,
tindakan ini menghilangkan traksi vitreous pada robekan retina. Cairan dapat
dialirkan melalui robekan retina penyebab dan laser atau krioterapi digunakan
pada retina sekitar. (4)
Pengobatan bertujuan untuk melekatkan kembali bagian retina yang lepas
dengan diatermi dan laser. Diatermi dapat berupa diatermi permukaan dan
diatermi setengah tebal sklera sesudah reseksi sklera. Hal ini dapat dilakuakn
dengan atau tampa mengeluarkan cairan subretina. Pengeluaran di luar daerah
reseksi dan terutama di daerah ablasi paling tinggi. Implan diletakkan di dalam
kantong sklera yang sudah direseksi yang akan mendekatkan sklera dengan retina
dan mengakibatkan pendekatan yang terlokalisir. (1)

Ablasio retina eksudatif


Tentukan penyebab dan obati penyebabnya. (5)

Ablasio retina tarikan atau traksi


Pengobatan ablasi akibat tarikan di dalam kaca dilakukan dengan
melepaskan tarikan jaringan parut atau fibrosis di dalam badan kaca dengan
tidakan vitrektomi. (1) Vitrektomi pars plana memungkinkan untuk mengangkat
unsur penyebab traksi dan menghilangkan membran-membran fibrotik. Mungkin
perlu dilakukan retinotomi atau penyuntikan perfluorokarbon atau cairan berat
untuk meratakan retina. Dapat digunakan tamponade gas, minyak silikon, atau
scleral bucking. (5)
Komplikasi
Jika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami
komplikasi, dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati
proliferatif, PVR). PVR dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina
lebih lanjut. (4) Ablasio retina rekuren

dapat menyebabkan risiko ablasio

membran subretina dan ablasio traksional sekunder. (2)

Daftar Pustaka
1.

Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. 3rd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007,
183-6.

2.

Olver J, Cassidy L. At a Glance Oftalmologi Safitri A, editor. Jakarta:


Penerbit Erlangga; 2011, 84-5.

3.

Ilyas S, Tanzil M, S, Azhar Z. Sari Ilmu Penyakit Mata Jakarta: Balai


Penerbit FKUI; 2003, 101-2.

4.

James B, Chew C, Bron A. Lectur Notes Oftalmologi. 9th ed. Safitri A,


editor. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2006.117-21

5.

Vaughan DG, Asbury T, Rordan-Eva P. Oftalmologi Umum. 14th ed.


Suyono YJ, editor. Jakarta: Widya Medika; 2000, 207-8.