Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR


LANTAI 25 TOWER B PROYEK PEMBANGUNAN APARTMENT
THE ASPEN PEAK RESIDENCES @ADMIRALTY FATMAWATI
JAKARTA SELATAN

Diusulkan oleh :
AMELIA SULISTIANI

3112110011

PROGRAM STUDI TEKNIK KONSTRUKSI GEDUNG


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
DEPOK
2015

PROPOSAL PENGAJUAN TUGAS AKHIR


[Type text]

Page 1

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Tugas Akhir

: Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Lantai 25


Tower B Proyek Pembangunan Apartement
Teh Aspen Peak Residences Fatmawati
Jakarta Selatan

1. Subjek Tugas Akhir


2. Nama Mahasiswa
3. Pembimbing yang diusulkan

: Tata Laksana
: Amelia Sulistiani
: Mursid
xxxxxxxxxxxxx x xxx

3112110011

Depok, Februari 2015


Diajukan oleh,
Mahasiswa

Amelia Sulistiani
NIM 3112110011

Mengetahui,
Koordinator KPK Tata Laksana

Dosen Pembimbing

Sarito

Mursid

NIP.

NIP.
i

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI ..
BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

i
ii

PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakangMasalah .
1.2 Permasalahan .
1.3 PembatasanMasalah .
1.4 TujuanPenulisan

1
2
2
2

STUDI KASUS
2.1 Kolom
2.1.1 Pengertian Kolom
2.2 Balok .
2.2.1 PengertianBalok .
2.2.2 PersyaratanBalok
2.3 Pelat .
2.3.1 PengertianPelat .
2.3.2 PersyaratanPelat
2.4 PekerjaanPembesian
2.4.1 Pengertian Pekerjaan Pembesian
2.5 PekerjaanBekisting .
2.5.1 PerencanaanCetakan
2.5.2 PembongkaranCetakan
2.6 PekerjaanPengecoran .
2.6.1 RencanaPembuatanBeton
2.6.2 KinerjaBeton .
2.6.3 PerawatanBeton .

3
4
4
5
6
6
6
7
7
7
7
8
8
8
9
9

METODELOGI
3.1 MetodePenulisan
3.2 SistematikaPenulisan
3.3 Schedule

3.3Objek / Lokasi

11
11
12
12

PENUTUP

13

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

ii
9

1.1

Latar Belakang
Proyek konstruksi merupakan suatu kegiatan yang berlangsung dalam

waktu yang terbatas dengan sumber daya tertentu untuk mendapatkan hasil
konstruksi dengan standar kualitas yang baik. Dalam usaha pencapaian hasil
pekerjaan konstruksi yang baik dibutuhkan berbagai macam elemen pendukung
dalam pelaksanaan pekerjaantersebut.
Dalam perkembangan pekerjaan konstruksi untuk saat ini menjadi semakin
komplek dan semakin canggih. Pelaksanaan proyek konstruksi sekarang banyak
memanfaatkan teknologi baru, sumber daya manusia maupun material yang
semakin banyak.
Catatan:
1. Tolongditambahkankalimatdalambeberapaparagraf yang memuatpermasalahan
yang

timbulakibatkompleksnyapermasalahandalampembanunan

(misalnyadenganjumlahlantaitertentu)
misalnya:

1)

Tower

sehinggamenimbulkanpermasalah,

mungkinsajabiayapelaksanaanmeningkat,

2)

waktukerjatidakefektif, 3) resikokecelakaan, dan lain-lain.


2. Masukankalimatdalamparagraf yang memuattentangkajiandanhasilkajian yang
akandigunakansesuaipermasalah di lapangan, sesuaiteori

1.2

Permasalahan

Dengan memperhatikan hal-hal yang telah dipaparkan dalam latar


belakang masalah, maka masalah yang akan dibahas dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1. Mengkaji metode pelaksanaan pekerjaan struktur (kolom, balok, dan slab)
pada proyek Admiralty Residence (Tower B)
2. Merencanakankuantitas pekerjaan pembesian,

pembekistingan

dan

pengecoran pada struktur proyek Adiralty Residence (Tower B)

1.3

Pembatasan Masalah
Dari permasalahan di atas peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
1. Objek tugas akhir adalahPembangunan Apartemen The Aspen Peak
Residences @Admiralty Jl. RS. Fatmawati No. 1, Jakarta Selatan
2. Peninjauan tugas akhir adalah pekerjaan struktur dari lantai 21 sampai
dengan lantai 28 (atap).

1.4

Tujuan Penulisan
1. Mengetahui metode pelaksanaan pekerjaan struktur
2. Mengetahui kuantitas pekerjaan pembesian, pembekistingan

dan

pengecoran pada struktur proyek Admiralty Residence (Tower B)

BAB II
STUDI PUSTAKA

2.1

Kolom

2.1.1

Pengertian Kolom
Kolom adalah komponen struktur bangunan yang bertugas menyangga

beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang ditopang paling tidak tiga
kali dimensi lateral terkecil (Dipohisodo,1994). Kolom merupakan salah satu
pekerjaan beton bertulang.Kolom beton (tiang beton) adalah beton bertulang yang
diletakkan dengan posisi vertikal. Kolom berfungsi sebagai pengikat pasangan
dinding bata dan penerus beban dari atas menuju sloof yang kemudian diterima
oleh pondasi.
Seperti kita ketahui bahwa kolom adalah bagian dari struktur atas dalam
posisi vertikal yang berfungsi sebagai pengikat pasangan dinding bata dan
meneruskan beban diatasnya. Sedangkan komponen struktur yang menahan beban
aksial vertikal dengan rasio bagian tinggi dengan dimensi lateral terkecil kurang
dari tiga dinamakan pedestalatauseringdisebutistilah lain dari pedestal. Sebagian
dari suatu kerangka bangunan dengan fungsi dan peran seperti tersebut. Kolom
menempati posisi penting di dalam sistem struktur bangunan.
Kegagalan kolom akan berakibat langsung akan runtuhnya komponen
struktur lain yang berhubungan dengannya atau bahkan merupakan batas runtuh
total keseluruhan struktur suatu bangunan. Pada umumnya kegagalan atau
keruntuhan komponen tekan tidak diawali dengan tanda peringatan yang jelas,
bersifat mendadak. Oleh karena itu, dalam merencanakan struktur kolom harus
diperhitungkan secara cermat dengan memberikan cadangan kekuatan lebih tinggi
daripada untuk komponen struktur lainnya.
Bentuk dan susunan tulangan pada kolom dapat dibagi menjadi tiga
kategori, yaitu :

1. Kolom segi empat atau bujur sangkar dengan tulangan memanjang dan
sengkang.
2. Kolom bundar dengan tulangan memanjang dan tulangan lateral sengkang
atau laterial.
3. Kolom komposit yang terdiri atas beton dan profil baja atau pipa.
Struktural di dalamnya dengan/tanpa diberi tulangan pokok memanjang.
2.2

Balok

2.2.1

Pengertian Balok
Balok juga merupakan salah satu pekerjaan beton bertulang. Balok

merupakan bagian struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan pengikat
kolom lantai atas. Fungsinya adalah sebagai rangka penguat horizontal bangunan
akan beban-beban.
Apabila suatu gelagar balok bentangan sederhana menahan beban yang
mengakibatkan timbulnya momen lentur akan terjadi deformasi (regangan) lentur
di dalam balok tersebut. Regangan-regangan balok tersebut mengakibatkan
timbulnya tegangan yang harus ditahan oleh balok, tegangan tekan di sebelah atas
dan tegangan tarik dibagian bawah. Agar stabilitas terjamin, batang balok sebagai
bagian dari sistem yang menahan lentur harus kuat untuk menahan tegangan tekan
dan tarik tersebut karena tegangan baja dipasang di daerah tegangan tarik bekerja,
di dekat serat terbawah, maka secara teoritis balok disebut sebagai bertulangan
baja tarik saja (Dipohusodo,1996).
Untuk menjadi penyaluran gaya yang baik di dalam balok, maka di daerah
momen lapangan dan momen tumpuan maksimum dianjurkan supaya antara
batang tulangan utama tidak melebihi 150 mm. Bila momen di suatu tempat
menurun, jarak batas ini dapat digandakan menjadi 300 mm. Oleh karena itu,
dalam sebuah penampang balok persegi setidaknya harus terdapat empat batang
tulangan dipasang pada tiap sudut penampang, batang-batang disudut ini dan yang
membentang sepanjang balok dilingkari oleh

sengkang-sengkang. Agar

mendapatkan kekakuan secukupnya bagi sengkang tulangan dianjurkan agar


menggunakan batang-batang yang diameternya tidak kurang dari 6 mm.

2.2.2

Persyaratan Balok
Persyaratan balok menurut PBBI 1971.N.I - 2 hal. 91 sebagai berikut :

1. Lebar badan balok tidak boleh diambil kurang dari 1/50 kali bentang
bersih. Tinggi balok harus dipilih sedemikian rupa hingga dengan lebar
badan yang dipilih.
2. Untuk semua jenis baja tulangan, diameter (diameter pengenal) batang
tulangan untuk balok tidak boleh diambil kurang dari 12 mm. Sedapat
mungkin harus dihindarkan pemasangan tulangan balok dalam lebih dari 2
lapis, kecuali pada keadaan-keadaan khusus.
3. Tulangan tarik harus disebar merata didaerah tarik maksimum dari
penampang.
4. Pada balok-balok yang lebih tinggi dari 90 cm pada bidang-bidang
sampingnya harus dipasang tulangan samping dengan luas minimum 10%
dari luas tulangan tarik pokok. Diameter batang tulangan tersebut tidak
boleh diambil kurang dari 8 mm pada jenis baja lunak dan 6 mm pada
jenis baja keras.
5. Pada balok senantiasa harus dipasang sengkang. Jarak sengkang tidak
boleh diambil lebih dari 30 cm, sedangkan dibagian balok sengkangsengkang bekerja sebagai tulangan geser. Atau jarak sengkang tersebut
tidak boleh diambil lebih dari 2/3 dari tinggi balok. Diameter batang
sengkang tidak boleh diambil kurang dari 6 mm pada jenis baja lunak dan
5 mm pada jenis baja keras.

2.3

Pelat

2.3.1

Pengertian Pelat
Pelat beton bertulang merupakan sebuah bidang datar yang lebar, biasanya

mempunyai arah horizontal dengan permukaan bawah dan atasnya sejajar atau
mendekati sejajar. Pelat beton bertulang direncanakan untuk memikul beban yang
merata yang bekerja pada seluruh luas permukaannya.

Pelat biasanya ditumpu oleh gelagar atau balok bertulang dan biasanya
pelat dicor menjadi satu kesatuan dengan gelagar tersebut. Tulangan-tulangan baja
pada pelat biasanya dipasang sejajar dengan permukaan pelat. Batang-batang baja
lurus dapat dipakai sebagai tulangan walaupun pada pelat-pelat menerus batangbatang baja bawah seringkali dibengkokkan ke atas untuk memikul momenmomen negatif yang bekerja pada perekatan.

2.3.2

Persyaratan Pelat
Persyaratan pelat menurut PBBI 1971.N.I.- 2 hal.89 sebagai berikut :

1. Pelat-pelat dimana tulangan pokoknya hanya berjalan dalam satu arah


maka tegak lurus pada tulangan pokok tersebut harus dipasang tulangan
pembagi.
2. Pada pelat-pelat yang dicor setempat, diameter dari batang tulangan pokok
dari jenis baja lunak dan baja sedang harus diambil minimum 8 mm dan
dari tulangan pembagi minimum diameter 6 mm. Pada penggunaan batang
tulangan dari jenis baja keras, diameter dari batang tulangan pokok
diambil minimum 5 mm dan dari tulangan pembagi minimum 4 mm

2.4

Pekerjaan Pembesian

2.4.1

Pengertian Pekerjaan Pembesian


Pembesian adalah pekerjaan merangkai baja tulangan polos atau ulir yang

berfungsi untuk menahan gaya tarik pada komponen struktur beton bertulang.
Pembesian salah satu tahapan yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan ini
memiliki ketentuan-ketentuan standar yang harus dipenuhi agar tahapan
pembesian berjalan dengan baik dan benar sesuai standar perencanaan pekerjaan
pembesian. Pada pabrikasi tulangan, digunakan tower crane untuk mengangkat
tulangan yang telah dirangkai, dibutuhkan tenaga kerja yang terampil dalam
pemasangan dan penyambungan pada tulangan dinding Sewage Treatment Plant.
2.5

Pekerjaan Bekisiting
9

Bekisting adalah suatu konstruksi yang bersifat sementara pada


pelaksanaan pekerjaan beton yang berfungsi untuk membentuk beton sesuai
dengan ukuran dan tempat kedudukannya atau dapat juga disebut suatu konstruksi
yang merupakan cetakan atau mal. Adapun fungsi dari acuan dan perancah:
1. Memberi bentuk pada suatu konstruksi beton.
2. Menahan beban, sampai konstruksi beton cukup kuat memikul/menahan
beban berat sendiri beton.
3. Memperoleh struktur permukaan beton sesuai yang diharapkan.
Ada dua jenis proses bekisting yaitu:
1. Pembekistingan vertikal, Pembekistingan vertikal terdiri dari :
(a) Pembekistingan dinding
2. Pembekistingan horizontal, Pembekistingan horizontal terdiri dari:
(a) Pembekistingan slab
(b) Pembekistingan balok

2.5.1

Perencanaan Cetakan

1. Cetakan harus menghasilkan struktur akhir yang memenuhi bentuk, garis,


dan dimensi komponen struktur seperti yang disyaratkan pada gambar
rencana dan spesifikasi.
2. Cetakan harus mantap dan cukup rapat untuk mencegah kebocoran mortar.
3. Cetakan harus diperkaku atau diikat dengan baik untuk mempertahankan
posisi dan bentuknya.
4. Cetakan dan tumpuannya harus direncanakan sedemikian hingga tidak
merusak struktur yang dipasang sebelumnya.
5. Perencanaan cetakan harus menyertakan pertimbangan faktor-faktor
berikut:
a) Kecepatan dan metode pengecoran beton.
b) Beban selama konstruksi, termasuk beban-beban vertikal, horizontal,
dan tumbukan.
c) Persyaratan-persyaratan cetakan khusus untuk konstruksi cangkang,
pelat lipat, kubah, beton arsitektural, atau elemen-elemen sejenisnya.

6. Cetakan untuk elemen struktur beton prategang harus dirancang dan dibuat
sedemikian hingga elemen struktur dapat bergerak tanpa menimbulkan
kerusakan pada saat gaya prategang diaplikasikan.

2.5.2

Pembongkaran Cetakan (kebalik)


Pembongkaran cetakan harus dibongkar dengan cara-cara yang tidak

mengurangi keamananan dan kemampuan layan struktur. Beton yang akan


dipengaruhi oleh pembongkaran cetakan harus memiliki kekuatan cukup sehingga
tidak akan rusak pada proses pembongkaran.

2.6

Pekerjaan Pengecoran
Admixture adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam campuran

beton pada saat atau selama pencampuran berlangsung, pencampuran dari bahan
ini yaitu untuk mengubah sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk
pekerjaan tertentu dan dapat meningkatkan kualitas mutu beton.

2.6.1

Rencana Pembuatan Beton

1. Beton harus dicor sedekat mungkin pada posisi akhirnya untuk


menghindari terjadinya segregasi akibat penanganan kembali atau
segregasi akibat pengaliran.
2. Pengecoran beton harus dilakukan dengan kecepatan sedemikian hingga
beton selama pengecoran tersebut tetap dalam keadaan plastis dan dengan
mudah dapat mengisi ruang di antara tulangan.
3. Beton yang telah mengeras sebagian atau beton yang telah terkontaminasi
oleh bahan lain tidak boleh digunakan untuk pengecoran.
4. Beton yang ditambah air lagi atau beton yang telah dicampur ulang setelah
pengikatan awal tidak boleh digunakan, kecuali bila disetujui oleh
pengawas lapangan.

5. Setelah dimulainya pengecoran, maka pengecoran tersebut harus


dilakukan secara menerus hingga mengisi secara penuh panel atau
penampang

sampai

batasnya,

atau

sambungan

yang

ditetapkan

sebagaimana yang diizinkan atau dilarang.


6. Permukaan atas cetakan vertikal secara umum harus datar.
7. Semua beton harus dipadatkan secara menyeluruh dengan menggunakan
peralatan yang sesuai selama pengecoran dan harus diupayakan mengisi
sekeliling tulangan dan seluruh celah dan masuk ke semua sudut cetakan.

2.6.2

Kinerja beton
Tiga kinerja yang dibutuhkan dalam pembuatan beton adalah (STP 169c,

Concrete and concrete making materials):


1. Memenuhi kriteria konstruksi yaitu dapat dengan mudah dikerjakan dan
dibentuk serta mempunyai nilai ekonomis.
2. Kuat tekan.
3. Durabilitas
atau keawetan. Kinerja yang dihasilkan pada proses
pengadaan beton haruslah seragam, secara umum prosedur untuk
mendapatkan kinerja yang seragam.

2.6.3

Perawatan Beton
Tujuan perawatan yaitu suatu proses hidrasi selanjutnya tidak mengalami

gangguan, jika hal ini terjadi beton akan mengalami keretakan karena kehilangan
air yang begitu cepat. Perawatan dilakukan minimal selama 7 (tujuh) hari dan
beton berkekuatan awal tinggiminimal selama 3 (tiga) hari serta harus
dipertahankan dalam kondisi lembab, kecuali dilakukan dengan perawatan yang
dipercepat (PBI,1989).
Berikut adalah perawatan beton pada keadaan tertentu:

1. Beton (selain beton kuat awal tinggi) harus dirawat pada suhu di atas 10 OC
dan dalam kondisi lembab untuk sekurang-kurangnya selama 7 hari
setelah pengecoran.
2. Beton kuat awal tinggi harus dirawat pada suhu di atas 10OC dan dalam
kondisi lembab untuk sekurang-kurangnya selama 3 hari pertama.
3. Bila diperlukan oleh pengawas lapangan, maka dapat dilakukan
penambahan uji kuat tekan beton sesuai dengan pasal 7.6(4) untuk
menjamin bahwa proses perawatan yang dilakukan telah memenuhi
persyaratan.
Sebelum dimulainyaa pekerjaan konstruksi, kontraktor harus membuat
prosedur dan jadwal untuk pembongkaran penopang dan pemasangan kembali
penopang dan untuk penghitungan beban-beban yang disalurkan ke struktur
selama pelaksanaan pembongkaran tersebut.

BAB III
METODOLOGI
3.1

Metode Penulisan
Dalam penulisan tugas akhir ini kami menggunakan metode sebagai

berikut :
1. Studi Lapangan
Studi lapangan

adalah sebuah metode dalam pengumpulan data

berdasarkankondisi pelaksanaan di lapangan untuk mendapatkan hasil


yang dilaksanakan.
2. Studi Literatur
Studi literatur adalah suatu metode dalam pengambilan keputusan dan
berdasarkan buku-buku yang memberikan gambaran secara umum
terhadap masalah di atas.
3. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode dalam pengumpulan data berdasarkan
dari narasumberyang memberikan gambaran secara umum terhadap
masalah di atas.

3.2

Sistematika Penulisan
Penulisan tugas akhir ini kami susun dalam bab-bab sehingga pembaca

bisa memahami isi dari laporan tugas akhir ini. Secara garis besar tugas akhir ini
kami susun sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN
Berisi latar belakang dari permasalahan yang diajukan dan merupakan
gambaranumum dari isi tugas akhir, uraian permasalahan secara umum, batasan
masalah, tujuan dan sistimatika penulisan tugas akhir.
9

BAB II.STUDI LITERATUR/ STUDI PUSTAKA


Bab ini menguraikan dasar-dasar teori yang berhubungan dengan
permasalahanyang diajukan dan dilengkapi dengan sumber yang dipakai.
BAB III.METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan metode-metode yang digunakan didalam mengumpulkan
data maupun dalam menganalisis data dalam menyelesaikan permasalahan yang
dikemukakan.
BAB IV.DATA DAN ANALISIS DATA
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA/BAHAN RUJUKAN
LAMPIRAN

3.3 Schedule

3.4 Objek / Lokasi


Pengumpulan data untuk Tugas Akhir ini berlokasi di Proyek
Pembangunan Apartemen The Aspen Peak Residences @Admiralty Jl. RS.
Fatmawati No. 1 Cilandak, Jakarta Selatan.

3.5
9

BAB IV
PENUTUP

Demikian proposal Tugas Akhir ini penulis ajukan. Penulis meminta


dengan hormatkepada dosen pembimbing untuk membantu penulis dalam
penyusunan Tugas Akhir ini.
Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.