Anda di halaman 1dari 19

SINDROM RAMSAY HUNT

A. PENDAHULUAN
James Ramsay Hunt adalah dokter dan ilmuwan pertama yang mendeskripsikan
penderita dengan lesi herpetic pada rongga mulut dan telinga luar dikombinasikan dengan
kelumpuhan pada wajah yang biasa terdapat pula gangguan neurologis yang lainnya pada
abad 20. Sejak saat itu Sindrom ramsay hunt telah di investigasi dengan teliti kedalam
klasifikasi yang berbeda.[1] Herpes zoster oticus atau dikenal juga sebagai Sindrom
ramsay hunt, Hunts syndrome, atau herpes ganglion geniculatum, penyakit akibat virus
Herpes Zoster ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saraf wajah dan saraf
cranial lainnya. Selain itu terdapat pula paralisis nervus fasialis yang memberikan gejala
seperti polikranial neuropati misalnya pendengaran menurun, vertigo, gangguan bicara,
dan gangguan menelan.[2]
Menurut James Ramsay Hunt (1907) yang dikutip dari Colemon, Sindrom
Ramsay Hunt atau SRH adalah suatu sindrom yang terdiri dari otalgia, vesikel pada
aurikula dan parese nervus fasialis perifer.

[3]

Definisi lain dari SRH adalah suatu parese

nervus VII perifer yang disertai dengan eritem vesikuler pada telinga dan mulut.[3]
SRH termasuk salah satu penyakit yang terjadi di dalam dunia kesehatan.SRH
sendiri termasuk ke dalam penyakit yang jarang menurut the Office Of Rare Disease of
the National Institutes of Health (USA), artinya penyakit ini diderita kurang dari 200,000
orang di Amerika, dimana populasinya mencapai 300 juta. SRH dikatakan sebagai salah
satu penyebab kelamahan otot wajah unilateral dengan angka 16% pada anak-anak dan
18% pada orang dewasa. SRH sangat jarang terjadi pada anak yang usianya dibawah 6
tahun.[4] Selain itu SRH juga dikatakan menjadi penyebab dari Bells Palsy sebanyak 20%
dari kasus yang ada.[5]

B. ANATOMI
Nervus fasialis merupakan saraf kranial terpanjang yang berjalan di dalam tulang
temporal, sehingga sebagian besar kelainan nervus fasialis terletak dalam tulang ini.
Nervus VII terdiri dari 3 komponen yaitu komponen motoris, sensoris, dan para simpatis.
1

[6]

Komponen motoris mempersarafi otot wajah kecuali musculus levator palpebra

superior.Selain itu nervus facialis juga mempersarafi stapedius dan venter posterior
musculus gastricus.Komponen sensoris mempersarafi 2/3 anterior lidah untuk mengecap
melalui meatus corda timpani.Komponen parasimpatis memberikan persarafan pada
glandula lakrimalis, glandula submandibular, dan glandula sublingualis.Nervus facialis
memliki 2 inti yaitu superior dan inferior. Inti superior mendapat persarafan dari korteks
motor secara bilateral sedangkan inti inferior hanya mendapat persarafan dari 1 sisi.
Serabut dari kedua inti berjalan mengelilingi inti nervus abducens (N.VI) kemudian
meninggalkan pons bersama nervus vestibulococlearis (N.VIII) dan nervus intermedius
masuk ke dalam tulang temporal melalui poros meatus akustikus internus. Setelah masuk
ke dalam tulang temporal N.VII kan berjalan dalam saluran yang disebut kanal Fallopi.
Dalam perjalan di dalam tulang temporal N. VII dibagi dalam 3 segmen yaitu segmen
labirin, segmen timpani, dan segmen mastoid. Segmen labirin terletak antara akhir kanal
akustik internus dan ganglion genikulatom.Panjang nervus ini 2-3milimeter.Segmen
timpani (segmen vertical) terletak diantara bagian distal ganglion genikolatum dan
berkala kea rah posterior telinga tengah, kemudian naik ke arah tingkap lonjong (fenestra
ovalis) dan stapes, lalu turun dan kemudian terletak sejajar dengan kanal semisirkularis
horizontal.Panjang segmen ini kira-kira 12 milimeter.Segmen mastoid (segmen vertical),
mulai dari dinding medial dan superior kavum timpani.Perubahan posisi dari segmen
timpani menjadi segmen mastoid disebut segmen pyramidal atau genu eksterna.Bagian
ini merupakan bagian paling posterior dari N. VII sehingga mudah terkena trauma pada
saat operasi.Selanjutnya segmen ini berjalan ke arah caudal menuju foramen
stylomastoid.Panjang segmen ini 15-20 milimeter.Setelah keluar dari tulang mastoid, N.
VII menuju glandula parotis dan membagi diri untuk mepersarafi otot-otot wajah.DI
dalam tulang temporal N.VII memberikan 3 cabang penting, yaitu nervus petrosus
superior mayor, nervus stapedius, dan corda timpani.Nervus petrosus superior mayor
keluar ganglion genukulatum dan memberi rangsang pada glandula lakrimalis.Nervus
stapedius mempersarafi muskulus stapedius dan berfungsi sebagai peredam suara. Corda
timpani mempersarafi pengecapan pada 2/3anterior lidah. [6]
Korteks serebri akan memberikan persaratan bilateral pada nucleus N VII yang
mengontrol otot dahi, tetapi hanya mernberi persarafan kontra lateral pada otot wajah

bagian bawah. Sehingga pada lesi LMN akan menimbulkan paralysis otot wajah
ipsilateral bagian atas bawah, sedangkan pada lesi UMN akan menimbulkan kelemahan
otot wajah sisi kontra lateral.
Pada kerusakan sebab apapun di jaras kortikobulbar atau bagian bawah korteks
motorik primer, otot wajah muka sisi kontralateral akan memperlihatkan kelumpuhan
jenis UMN. Ini berarti otot wajah bagian bawah lebih jelas lumpuh dari pada bagian
atasnya, sudut mulut sisi yang lumpuh tampak lebih rendah.Jika kedua sudut mulut
disuruh diangkat maka sudut mulut yang sehat saja yang dapat terangkat.
Lesi LMN : bisa terletak di pons, disudut serebelo pontin, di os petrusus, cavum
tympani di foramen stilemastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus facialis. Lesi di
pon yang terletak disekitar ini nervus abducens bisa merusak akar nevus facialis, inti
nervus abducens dan fasikulus longitudinalis medialis. Karena itu paralysis facialis LMN
tersebut akan disertai kelumpuhan rektus lateris atau gerakan melirik ke arah lesi, Proses
patologi di sekitar meatus akuatikus intemus akan melibatkan nervus facialis dan
akustikus sehingga paralysis facialis LMN akan timbul berbarengan dengan tuli perseptif
ipsilateral dan ageusia ( tidak bisa rnengecap dengan 2/3 bagian depan lidah). [6]

Gambar 1: Anatomi nervus kranialis[7]

Gambar 2: Anatomi nervus fasialis [7]

Gambar 3: Neuroanatomi nervus fasialis[8]

Gambar

4:

Anatomi nervus fasialis bagian motorik

C. EPIDEMIOLOGI
The Center of Disease Control memperkirakan 32 % penduduk Amerika akan
mengalami herpes zoster sepanjang hidupnya . Faktor resiko yang penting adalah
pertambahan usia. SRH memiliki insiden yang lebih rendah, hanya terdapat 0,2% dari
semua kasus herpes zoster. [9] Angka kejadian Sindrom Ramsay Hunt (SRH) dari seluruh
kejadian paresis fasialis akut adalah 10-15 %. Pada dewasa terdapat angka kejadian
sekitar 18%, anak-anak 16% dan jarang terjadi pada anak dibawah umur kurang dari 6
tahun. Perbandingan insiden antara laki-laki dan wanita 1:1[4]
Herpes zoster merupakan penyakit yang terdapat pada semua kelompok umur
dimana insiden terjadinya sekitar 150-300 kasus per 100.000 penduduk.[3] Sedangkan
insiden SRH sekitar 5 kasus dari 100.000

populasi di US, yang secara signifikan

insidennya meningkat pada pasien berusia lebih dari 60 tahun. Vaksinasi chickenpox atau
cacar air baik pada masa kanak-kanak maupun saat dewasa mencegah dari penyakit ini. [10]
Insiden herpes zoster dengan kelumpuhan saraf f.asial perifer sekitar 4.5%-8.9%.
Dibandingkan dengan Bells palsy, SRH memiliki darajat kelumpuhan yang berat dan
susah untuk sembuh dengan sempurna.[3]
6

Sindrom Ramsay Hunt merupakan penyakit kedua terbanyak penyebab paralisis


perifer nervus fasialis nontraumatik. Namun berdasarkan studi retrospektif Kaiser pada
tahun 1507 pasien dengan gejala kelumpuhan fasialis unilateral yang belakangan disebut
sebagai Sindrom Ramsay Hunt adalah 185 (12% pasien) berdasarkan trias nya yaitu
paralisis fasialis, nyeri telinga, dan lesi herpetic sesuai dermatom..[8]
D. ETIOPATOGENESIS
Pada tahap awal virus varisela zoster masuk ke dalam tubuh melalui saluran nafas
atas dan mukosa konjungtiva, kemudian bereplikasi pada kelenjar limfe regional dan
tonsil. Virus kemudian menyebar melalui aliran darah dan berkembang biak di organ
dalam. Fokus replikasi virus terdapat pada system retikuloendotelial hati, limpa dan organ
lain. Pada saat titer tinggi, virus dilepaskan kembali ke aliran darah (viremia kedua) dan
membentuk vesikel pada kulit dan mukosa saluran nafas atas.Kemudian berkembang dan
menyebar melalui saraf sensoris dari jaringan kutaneus, menetap pada ganglion
serebrospinalis dan ganglion saraf kranial. Parese nervus VII timbul akibat reaktivasi
virus varisela zoster yang menetap pada ganglion genikulatum dan proses ini disebut
dengan ganglionitis. Ganglionitis

menekan selubung jaringan saraf, sehingga

menimbulkan gejala pada nervus VII. Peradangan dapat meluas sampai ke foramen
stilomastoid. Gejala kelainan nervus VIII yang juga dapat timbul akibat infeksi
padaganglion yang terdapat di telinga dalam atau penyebaran proses peradangan dari
nervus VII. Lokasi ruam bervariasi dari pasien ke pasien, seperti halnya wilayah
dipersarafi oleh nervus intermedius (yaitu, bagian sensorik dari CN VII). Daerah ini
mungkin termasuk anterior dua pertiga dari lidah, langit-langit lunak, kanal auditori
eksternal, dan pinna.[4].
Walaupun SRH didefinisikan sebagai herpes zoster oticus dan fasial palsi tipe
lower motor neuron (LMN), Hunt juga menyatakan terdapar gangguan lainnya seperti
tinnitus, hilang pendengaran, mual, muntah, vertigo, dan nistagmus. Dia menjelaskan
bahwa terdapat keterlibatan pula dengan N. vestibulocochlear karena letaknya yang
berdekatan dengan ganglion genikulata pada kanalis fasialis. Hunt berhipotesis bahwa
gasserian, genikulata, petrosus, aksesorius, jugular, fleksiform, ganglion dorsalis C2 dan
C3 merupakan akibat dari rantai inflamasi yang terjadi pada salah satu ganglion dan
menyebar ke ganglion sekitarnya. Hipotesis ini menjelaskan penyebab terjadinya

kelumpuhan fasialis disertai dengan neuropati lainnya seperti vesikel pada daerah mulut
biasanya pada daerah lidah dan palatum ataupun telinga. Walaupun hipotesisnya tetap
valid, neuropati cranial yang menyebar dapat pula dijelaskan melalui pembuluh darah
yang terkontaminasi dengan virus varicela zoster dan suplai darah dari cabang kecil A.
karotis, meningeal media, dan system faringeal asendens yang saraf cranial. Sebagai
contoh A. pharingeus asendes menyuplai darah kepada N. glossopharingeus, vagus,
aksesorius, dan hipoglosus dan cabang A. meningeal media menyuplai darah untuk N.
fasialis serta cabang N. trigeminus yaitu maksilaris dan mandibularis. Penyebaran
transaksonal dari virus varicela zoster dari satu atau lebih serabut saraf aferen ke vasa
vasorum saraf cranial dapat mengakibatkan infark oleh karena polyneuritis kranialis
zoster.[8]
Secara primer infeksi virus varicela zoster terjadi saat menderita chickenpox
(cacar air) setelah virus menjadi laten pada ganglion saraf cranial termasuk ganglion
genikulata dan ganglion dorsalis sepanjang neuraksis. [8] Vesikel timbul setelah paralisis
fasial pada sebagian kasus (sekitar 14%). Hal ini berarti bahwa proporsi pasien di
diagnosa dengan Belld palsy yang sebenarnya adalah SRH.[9]
E. MANIFESTASI KLINIS
Adapun manifestasi klinis dari SRH adalah sebagai berikut:
Ruam atau lecet di atau di sekitar garis telinga, kulit kepala atau rambut serta erosi pada

mulut [11]
Ruam / lepuh sering menyakitkan dengan sensasi umum terbakar di daerah yang terkena.
[12]

Kelemahan pada sisi wajahyang terkena menyebabkan otot-otot wajah terkulai.


Kesulitan menutup mata atau berkedip pada sisi yang terkena.
Perubahan rasa pada lidah di sisi yang terkena.
Kehilangan ekspresi wajah pada sisi yang terkena.
Kesulitan makan, minum dan berbicara sebagai akibat dari kelemahan di bibir dan pipi

pada sisi yang terkena.


Sakit pada telinga, wajah dan kepala.
Gangguan pendengaran pada sisi yang terkena
Pusing / vertigo
Tinnitus pada sisi yang terkena[13]

Gambar 5 : vesikel eritema pada


leher wanita yang didiagnose dengan
Sindrom ramsay hunt

Gambar 6: lesi blister disertai


jaringan sikatrik pada kanalis
akustikus eksterna kanan

Tabel

2:

Gejala klinis
Sindrom
Ramsay
Hunt[3]
F. DIAGNOSIS
Diagnosis SRH ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
fungsi nervus VII diperlukan untuk menentukan letak lesi, beratnya kelumpuhan dan evaluasi
pengobatan. Pemeriksaan meliputi fungsi motorik otot wajah, tonus otot wajah, gustatometri dan
tes Schimer.[6]
1. Anamnesis
Dari dalam anamnesis riwayat penyakit dahulu bisa didapatkan ada riwayat
terkena penyakit cacar air. Penyakit ini didahului dengan gejala prodromal berupa nyeri
9

kepala, nyeri telinga, lesu, demam, sakit kepala, mual dan muntah. Lesi terdapat di
telinga luar dan sekitarnya, kelainan berupa vesikel berkelompok di atas daerah yang
eritema, edema dan disertai rasa nyeri seperti terbakar pada telinga dan kulit sekitarnya
(nyeri radikuler).Gejala yang biasanya dikeluhkan adalah nyeri telinga paroksismal, ruam
pada telinga atau mulut (80% pada kasus yang ada, ruam bisa menjadi awal dari adanya
paresis), ipsilatereal lower motor neuron paresis wajah (N. VII), vertigo, ipsilateral
ketulian (50% kasus), tinnitus, sakit kepala, diastrhia, gait ataxia, cervical adenopathy.
Nyeri telinga sering kali nyeri menjalar ke luar telinga sampai ke daun telinga.Nyeri
bersifat konstan, difus, dan tumpul. Nyeri muncul biasanya beberapa jam sampai
beberapa hari setelah muncul ruam.[4]
2. Pemeriksaan Fisis
Pada inspeksi biasanya terlihat vesikel pada meatus eksternus dan konka
aurikuler. Disertai juga dengan limfadenitis pada kelenjar limfa.[6]
Pada pemeriksaan klinis dilakukan pemeriksaan fungsi saraf motorik. Terdapat
10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk terciptanya mimik dan ekspresi
wajah. Pemeriksaan N. VII dimulai dari fungsi saraf motorik dengan cara menggerakkan
otot-otot wajah utama di muka, mulai dari mengangkat alis (m. frontalis), mengerutkan
alis (m. soucilier), mengangkat serta mengerutkan hidung ke atas (m. piramidalis),
memejamkan mata kuat-kuat (m. orbicularis okuli), tertawa lebar sambil memperlihatkan
gigi (m. zygomatikus), memoncongkan mulut ke depan sambil memperlihatkan gigi (m.
relever komunis), meggembungkan kedua pipi (m. businator), bersiul (m. orbicularis
oris), menarik kedua sudut bibir ke bawah (m. triangularis), dan memoncongkan mulut
yang tertutup rapat ke depan (m. mentalis).Setiap gerakkan yang dilakukan dibandingkan
kanan dan kiri. Penilaian yang diberikan adalah:[6]
a)
b)
c)
d)

jika gerakkan normal serta simetrisangka 3,


jika sedikit ada gerakkanangka 1,
gerakkan yang berada diantara angka 3 dan 1dinilai dengan angka 2,
jika tidak ada gerakkan sama sekaliangka 0.

10

Gambar 7: Tes motorik pasien saat datang pertama berobat[4]

Disamping itu juga dapat dilakukan tes topografi untuk menentukan letak lesi
saraf fasialis dengan tes Schirmer dan tes gustometri.2,. Tes gustatomeri ini digunakan
untuk menilai n.korda timpani, dengan cara membandingkan ambang rasa antara sisi
lidah kanan dan kiri. Perbedaan 50% anatara kanan dan kiri adalah patologis.[6]
Tes SCHIRMER (Naso-lacrymal reflex) digunakan untuk mengetahui fungsi
serabut serabut pada simpatis dari N.VII yang disalurkan melalui nervus petrosus
superfisialis mayor setinggi genikulatum, dengan cara meletekkan kertas lakmus pada
bagian inferior konjungtiva dan dihitung berapa banyak sekresi kelenjar lakrimalis[6]
Derajat kelumpuhan saraf fasialis dapat dinilai secara subjektif dengan
menggunakan sistim House-Brackmann selain itu derajatdapat digunakan untuk evaluasi
pengobatan.[14]

11

. Tabel 2: House - Brackman[14, 15]


3.

Pemeriksaan Penunjang

Tes Garpu Tala


Macam-macam Penala : Penala terdiri dari 1 set (5 buah) dengan frekuensi 128Hz, 256
Hz, 512 Hz, 1024 Hz, 2048 Hz. Jika akan memakai hanya 1 penala digunakan 512 Hz.
Untuk mempermudah interpretasi secara klinik dipakai tes Rinne, tes Weber, tes
Schwabach secara bersamaan Pemeriksaan ini merupakan tes kualitatif. Terdapat
berbagai macam tes penala, seperti:[6]
Tes Rinne ialah tes untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran
melalui tulang yang diperiksa
Cara :
Penala digetarkan, tangkainya diletakkan di processus mastoid, setelah tidak
terdengar penala dipegang di depan telinga kira-kira 2,5cm. Bila masih terdengar disebut
Rinne positif (+), bila tidak terdengar disebut Rinne negatif (-).
Tes Weber ialah tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang telinga
kiri dengan telinga kanan
Cara :
Penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan di garis tengah kepala ( di vertex,
dahi, pangkal hidung, di tengah-tengah gigi seri atau di dagu), apbila bunyi penala
terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut.
12

Bila tidak dapat dibedakan ke arah telinga mana bunyi terdengar lebih keras
disebut Weber tidak ada lateralisasi.
Tes Schwabach ialah tes untuk membandingkan hantaran tulang orang yang
diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal.
Cara :
Penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan pada processus mastoideus
sampai tidak terdengar bunyi, kemusdian tangkai penala segera dipindahkan pada
processus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal.
Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila
pemeriksa tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya yaitu
penala diletakkan pada processus mastoideus pemeriksa lebih dulu, bila pasien masih
dapat mendengar bunyi disebut Schwabach memanjang dan bila pasien dan pemeriksa
kira-kira sama-sama mendengarnya disebut schwabach sama dengan pemeriksa.

Tes Rinne

Tes Weber

Tes Schwabach

Diagnosis

Positif

Tidak ada lateralisasi

Sama dgn pemeriksa

Normal

Negatif

Lateralisasi ke telinga yang Memanjang

Tuli konduktif

sakit
Positif

Lateralisasi ke telinga yang Memendek

Tuli

sehat

sensorineural

Catatan: Pada tuli konduktif <30db,>


Tes Berbisik
Pemeriksaan ini bersifat semi-kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal
yang perlu diperhatikan ialah ruangan cukup tenang, dengan panjang minimal 6 meter.
Nilai normal tes berbisisk 5/6-6/6[6]

Audiometri Nada Murni


13

Pada Sindrom Ramsay Hunt biasanya terjadi tuli sensorineural [3]. Adapun audiogram
pada tuli sensorineural adalah sebagai berikut:

Gambar 8: Grafik audiogram pada tuli sensorineural[6]

Polymerase Chain Reaction


Penggunaan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteks ivirus varicella-zoster
pada kulit yang terkena daerah teling adapat membantu membedakan antara pasien Bellpalsy
dan pasien dengan sindrom Ramsay Hunt pada tahap awal.[8, 10]

G. DIAGNOSIS BANDING
Berdasarkan keluhan pasien dan temuan fisik yang beberapa penyakit dapat
dijadikan diagnosis banding untuk SRH, antara lain adalah Bells Palsy, meringitis
bulosa, otitis eksterna, dan trigeminal neuralgia.[9]
Diagnosis banding yang mungkin adalah Bells Palsy hal ini didasarkan pada
tampilan klinis yang terdapat kelamahan separuh otot wajah. Hal yang sangat
membedakan adalah adanya ruam pada SRH
Meningitis Bullosa memiliki karakteristik gambaran klinis pasien yaitu tiba-tiba
mengalami sakit telinga yang parah atau otalgia sifatnya berdenyut. Nyeri biasanya
14

terletak di dalam telinga, tetapi dapat menyebar ke ujung mastoid, tengkuk,


temporomandibula hingga ke seluruh wajah.Karakteristik pemeriksaan fisik dari
meningitis bullosa adalah adanya bulla pada membran timpani.Bulla yang muncul paling
sering pada sisi posterior atau postero inferior membran timpani atau pada dinding
kanalis posterior.Pada pemeriksaan pendengaran dapat ditemukan adanya penurunan
pendengaran.[16]
Otitis eksterna juga bisa dijadikan diagnosis banding berdasarkan adanya otalgia,
pruritus, keluarnya cairan dan hilangnya pendengaran. Pada pemeriksaan didapatkan
adanya nyeri tekan tragus dan liang telinga hiperemis dan bengkak.

Gambar 9: Diagnosis banding otitis eksterna[16]

Tabel 3: Diferensial diagnosis sindrom ramsay hunt.[9]


15

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan SRH selain pemberian obat simptomatik juga diberikan obat
virostatik yaitu preparat asiklovir yang dikombinasikan dengan preparat kortikosteroid.
Asiklovir mampu menghambat replikasi intraseluler virus varisela zoster dan virus herpes
simplek secara selektif melalui mekanisme inhibitor kompetitif dengan DNA yang
mengkode polimerase virus. Terapi herpes zoster pada individu normal dapat diberikan
asiklovir 5x800mg sehari selama 7 hari, paling lambat 72 jam setelah lesi muncul.
Menurut Gupta J dkk,14 pemberian asiklovir 7-10 hari dan kortikosteroid 3-5 hari dengan
regimen tapperring. Kortikosteroid dapat diberikan selama 10-14 hari dengan dosis 4060mg/hari atau 1mg/KgBB/hari dengan regimen tappering.[4]
Brivudin oral memiliki potensi yang lebih kuat terhadap virus varicela zoster
daripada regimen oral asiklovir, valasiklovir, dan famsiklovir. Dan pemberian juga cukup
sederhana yaitu satu tablet per hari dan tidak ada efek nefrotoksik. [10]
Pasien dengan lagopthalmus karena SRH, dapatdiberikan regimen pelembab
kornea yang terdiri dari tetes mata artificial tears setiap saat dan tetes pelembab mata, hal
ini bertujuan untuk menghindari mata kering dan iritasi akibat benda asing.6,15 Pada
pasien ini diberikan cendolyter eye drop (ED) 6x1 OD dan cendolubricant eye drop (ED)
3x2OD.[4]
Untuk mencegah dan mengobati neuralgia post herpetic maka dapat digunakan
obat-obat dibawah ini:

Agen-agen neuroaktif
Agen antikonvulsan (gabapentin, pregabalin)
Analgesik narkotik dan nonnarkotik seperti opioid dan topikal[17]

Selain terapi medikamentosa, juga diperlukan terapi rehabilitative untuk


mengembalikan fungsi nervus fasialis. Yang terdiri dari
1) Relaksasi otot yang hiperaktif
2) Latihan masase wajah
3) Biofeedback training dengan menggunakan cermin supaya pasien tahu gerakan
wajahnya
4) Latihan wajah yang spesifik seperti senyum, menyeringai,bersiul

16

Selanjutnya, untuk mengurangkan rasa sakit dan mengawal spasme otot , cahaya infrared
digunakan pada jarak 30 sampai 60cm tegak lurus dengan lesi wajah pasien.[14]
I. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari SRH adalah sebagai berikut:

Abrasi dan ulkus kornea, jika penutupan mata terganggu


Infeksi sekunder akibat bakteri (selulitis)
postherpetic neuralgia, seperti VaricellaReactivations virus Zoster yang lain
kelumpuhan otot wajah permanen
Gangguan pendengaran ipsilateraljangka panjang dan tinnitus[9]
Paralysis berat akan mengakibatkan tidak lengkap atau tidak sempurnanya

kesembuhan dan berpotensi untuk menjadi paralysis fasial yang permanen dan
synkinesis. Adakalanya, virus dapat menyebar ke saraf-saraf lain atau bahkan ke otak
dan jaringan saraf dalam tulang punggung, menyebabkan sakit kepala, sakit punggung,
kebingungan, kelesuan, dan kelemahan.Neuralgia pasca herpetik adalah rasa nyeri yang
timbul pada daerah bekas penyembuhan.Neuralgia ini dapat berlangsung berbulan-bulan
sampai beberapa tahun. Keadaan ini cenderung terjadi pada penderita diatas usia 40 tahun
dengan gradasi nyeri yang bervariasi. Makin tua penderita makin tinggi persentasenya.
Sepertiga kasus diatas usia 60 tahun dikatakan akan mengalami komplikasi ini, sedang
pada usia muda hanya terjadi pada 10 % kasus.Infeksi sekunder oleh bakteri akan
menyebabkan terhambatnya penyembuhan dan akan meninggalkan bekas sebagai
sikatriks. Vesikel sering menjadi ulkus dan jaringan nekrotik.Paralisis motorik dapat
terjadi pada sebagian kecil penderita (1 5 % kasus), terutama bila virus juga menyerang
ganglion anterior, bagian motorik kranialis.Terjadinya biasanya 2 minggu setelah
timbulnya erupsi. Berbagai paralisis dapat terjadi, misalnya di muka, diafragma batang
tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan anus.[18, 19]
J. PROGNOSIS

Prognosis SRH dipengaruhi oleh umur, diabetes mellitus, hipertensi dan


pemberian terapi yang cepat. Yeo dkk menyatakan bahwa Herpes Zoster Oticus (HZO)
memiliki prognosis yang buruk daripada Bells Palsy. Sekitar setengah dari jumlah pasien
SRH masih memiliki gangguan motorik nervus fasial, hanya sebagian kecil pasien
17

dengan gangguan paralisis komplit.Hasil pemulihan akan lebih baik jika perawatan
dimulai pada hari ke tiga setelah gejala timbul. Kesembuhan yang sempurna akan
tercapai pada 70% kasus jika pengobatan dimulai pada saat ini. Namun, jika pengobatan
tertunda lebih dari 3 hari, kesempatan untuk mencapai kesembuhan sempurna akan turun
sekitar 50%.[4, 10]
Dokter harus lebih waspada bahwa terjadinya paralisis nervus fasialis, vesikel
pada konka telinga, dan otalgia tidak selalu muncul bersamaan, dan memerlukan waktu
untuk mendiagnosanya sebagai sindrom ramsay hunt. Diagnosis awal sangatlah penting
sehingga pemberian asiklovir dan steroid sesegera mungkin dapat memaksimalkan
kembali fungsi nervus fasialis dari kelumpuhan.[3]
Prognosis Sindrom Ramsay Hunt tidak sebaik Bells palsy. Gejala klinis biasa
lebih lama bertahan misalnya kelumpuhan wajah yang asimetris. Selain itu kehilangan
pendengaran dapat mejadi permanen. Vertigo dan disequilibrium dapat terjadi jika
melibatkan nervus vestibular.[20]

DAFTAR PUSTAKA

1.

Rasmussen, E.R., Ramsay Hunt Syndrome Revisited-Emphasis on Ramsay


Hunt Syndrome with Multiple Cranial Nerve Involvement. Virology Discovery,

2.

Herbert Open Access Journal, 2014: p. 1-2.


Coulson, S., Prognostic Factors in Herpes Zoster Oticus (Ramsay HUnt

3.

Syndrome). Otology and Neurotology, 2011. 32: p. 01.


Kim, D., Ramsay Hunt Syndrome Presenting as Simple Otitis Exerna
Departement of, 2008. 3: p. 248.
18

4.

Munilson, J., Diagnosis dan Penatalaksanaan Sindrom Ramsay Hunt. Bagian


Telinga HIdung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran

5.
6.

Universitas Andalas 2009: p. 1.


JM, G., Seventh Cranial Neuropathy. Guideline, Feb 2009. 29: p. 5-13.
Sjarifudin, B., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga dan Tenggorok, Kepala dan
Leher. 6 ed. Kelumpuhan nervus fasialis perifer. 2007, Jakarta: Fakultas

7.

Kedokteran Indonesia.
Anne Agur, A.D., Cranial nerves, in Grant's Atlas of Anatomy, J. Christ, Editor.

8.

2009, Lippincott William: U.S.A.


Gilden, S., Ramsay Hunt Syndrome. Nosological entities, 2001. 71: p. 149-

9.

154.
worme, M., An unexpected case of Ramsay HUnt Syndrome: case report and

10.

literature review. BioMed Central, 2013. 6: p. 2.


Uscatgui, T., Antiviral therapy for ramsay hunt syndrome (herpes zoster

11.

oticus with facial palsy) in adults. The Cochrane Collaboration, 2009. 2: p. 1.


Costa, A., Ramsay Hunt Syndrome in the Differential Diagnosis of Stroke.

12.

Images in Infection Disease, 3012: p. 663.


Chodkiewicz, H.M., Ramsay hunt syndrome revisited. Cutis, 2013. 91: p. 181-

13.

182.
Pieter. Ramsay HUnt Syndrome. What are the symptomps of ramsay hunt

14.

syndrome 2014 [cited 2014 26 Sept].


Ho, C.-W., The Intervention of Rehabilitation Therapy on the Treatment of

15.

Ramsay Hunt Syndrome. J-Med Science, 2004: p. 37-40.


Cummings, C., Bells Palsy: Spontaneus Idiopatic of Facial Paralysis, in

16.

Cummings Otolaringology, Cumming, Editor. 2013, Elsevier Mosby.


Probst, R., Overview: Differential Diagnosis of Infalammatory Changes in the
External Ear, in Basic Otorhino-laryngology, G. Grevers, Editor. 2006, Georg

17.

Thieme Verlag: NewYork.


Janniger, C., Herpes Zoster, in Medscape emedicine, D. Elston, Editor. 2014,

18.
19.

http://www.emedicine-medscape.com. p. 2.
Miravalle, A. Ramsay Hunt Syndrome. 2012 6 Feb 2012 [cited 2014 25 Sep ].
JAn, A.M., Unilateral Facial Swelling Caused by Ramsay Hunt Syndrome

20.

Resembles Odontogenic Infection. Practique Clinique, 2006. 72: p. 829.


Menner, A., Ramsay Hunt Syndrome, in A Pocket Guide to the Ear, Elmira,
Editor. 2003, Stuttgart: New york.

19