Anda di halaman 1dari 8

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajar
an kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memp
ersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar, (QS. Luqman (31) aya
t 13).
Ayat ini, bersama dengan ayat-ayat serupa (al-Baqarah 132, Yusuf 67) bercerita t
entang para ayah (Luqman, Nabi Ya kub, dan Nabi Ibrahim) yang sedang mendidik anak
-anaknya. Ternyata, proses pendidikan (dalam keluarga) yang digambarkan melalui
al-Qur an dilakukan oleh para ayah.
Tidak ada satu ayat pun yang memotret momen pendidikan dari para ibu, kecuali ad
anya perintah menyusui tanpa menafikan tugas amar ma ruf nahi mungkar yang sifatnya
umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, Seorang ayah yang m
endidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa di jalan
Allah.
Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan meng
hadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan)
untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi
, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendid
ik, termasuk ketika beliau sedang shalat.
Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban
terhadap apa yang dipimpin.
Seorang suami adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai per
tanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka. (HR. Muslim)
Sudah jamak diketaui, di dalam syariat Islam, kedudukan seorang ayah dinilai san
gat penting dan mulia. Malah, hadis di atas mengungkapkan bahwa Ayah adalah kepa
la keluarga yang memimpin isteri, anak dan siapa saja yang tinggal bersamanya. K
arena itu, setiap laki-laki yang diklaim sebagai ayah akan dimintai pertanggungj
awaban oleh Allah Swt. Timbul pertanyaan, apa saja beban yang dipikul seorang ay
ah terhadap anaknya? Sejauh mana peran ayah dalam mendidik anaknya?
Ayah, di dalam Islam, bukan hanya berperan sebagai hamba yang diamanahi untuk memb
esarkan anak yang dititipkan kepadanya. Dalam Islam, beban utama yang dipikul ayah
adalah sebagai pembentuk generasi Islam yang saleh.
Karena menjalankan tugas dan kewajiban merawat anak secara syar i hanyalah bertuju
an untuk menjadikannya sebagai perhiasaan. Dikatakan perhiasan, karena anak yang
akan menjadi bekal saat ditanya di hadapan Allah, dan mampu memberikan bonus amal
. Ia tak perlu merasa risau, karena anaknya sendiri yang akan menjadi saksi beta
pa ayahnya, memang, telah membentuknya menjadi generasi muslim yang saleh.
Apa saja yang harus dilakukan seorang ayah agar anaknya memiliki kepribadian yan
g saleh dan menjadi generasi Islam yang unggul? Jawabannya
pembentukan dalam pendidikan akhlak. Akhlak dijadikan pendidikan yang paling uta
ma, karena di dalam Al-Quran sendiri cukup banyak termuat kaidah-kaidah akhlak d
an etika dalam segala aktifitas manusia.
Pendidikan a`nak perempuan sekalipun menjadi tanggung jawab ayah. Begitu intensi
fnya peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya, hingga tatkala menjelang sakaratu
l maut pun, seorang ayah yang baik memastikan sejauh mana keberhasilannya dalam
mendidik anak-anaknya dengan bertanya kepada mereka, Apa yang kamu sembah sepenin
ggalku? (maa ta buduuna min ba dii, al-Baqarah 133).
Sungguh berbeda dengan kondisi masyarakat kita yang seakan-akan membebankan semu
a urusan anak-anak kepada para istri, dan menghabiskan waktunya untuk urusan di
luar rumah. Seorang dokter yang sangat sibuk ternyata bisa dengan antusias mendi
dik para mahasiswa kedokterannya dan bahkan berceramah keliling nusantara, namun
, bagaimana mungkin dia menjadi begitu loyo dan beralasan tidak punya waktu keti
ka harus mendidik anak-anaknya sendiri?
Sumber : islampos (edit)
yah, Hadirlah untuk Anakmu di 7 Waktu Ini!
25 Desember 2014 | Dibaca : 300346 Kali | Rubrik : Psikologi Keluarga

Sample Image
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, Seorang ayah yang m
endidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa di jalan
Allah.
Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan meng
hadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan)
untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi
, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendid
ik, termasuk ketika beliau sedang shalat.
Saat ini banyak keluarga di Indonesia yang kehilangan figur ayah. Ayah sudah ber
angkat kerja saat pagi buta, ketika si kecil masih tidur. Ketika ayah pulang mal
am hari, sering kali anak sudah tertidur.
Tak heran jika anak ditanya, 'Bagaimana ayahmu?', jawabnya, 'Auk, ah gelap'. Kare
na memang mereka hanya bertemu waktu gelap, saat dini hari dan tengah malam, kata
Bendri Jaisyurahman, salah satu penggagas Komunitas Sahabat Ayah.
Minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan membuat anak mengalami beberapa masa
lah psikologis. Di antaranya, anak yang rendah harga dirinya, anak laki-laki yan
g cenderung feminin dan anak perempuan yang cenderung tomboy, anak yang lambat d
alam mengambil keputusan, serta anak yang cenderung reaktif. Termasuk juga, mara
knya generasi alay.
Lalu bagaimana idealnya peran seorang ayah dalam pendidikan anak? Menurut Bendri
setidaknya ada 7 waktu yang perlu diluangkan ayah untuk anaknya.
1. Pagi hari
Ayah bisa memulai dengan membangunkan anak. Luangkan 5 menit untuk bermain atau
mendengar cerita anak mengenai mimpinya.
2. Siang hari
Luangkan 5 menit saja untuk menelepon anak di siang hari. Mulailah dengan cerita
ringan mengenai aktivitas ayah di kantor dan pancing anak untuk bercerita menge
nai kegiatannya hari itu.
3. Malam hari
Sediakan waktu untuk bermain serta mendengar cerita anak mengenai aktivitasnya s
eharian. Beri komentar dan arahkan anak secara positif. Malam hari merupakan wak
tu yang efektif untuk menanamkan budi pekerti dan sikap-sikap yang baik.
4. Liburan
Saat hari libur, ayah bisa secara total melakukan aktivitas bersama anak. Tidak
harus pergi berlibur, bisa juga dengan mencuci mobil bersama, memancing, pergi k
e toko buku. Aktivitas tersebut akan menciptakan ikatan yang kuat antara ayah da
n anak.
5. Di kendaraan
Saat mengantar anak ke sekolah atau ke tempat lain, terutama jika menggunakan mo
bil, tersedia kesempatan untuk ngobrol dengan buah hati. Selipkan nasihat, misal
nya mengenai pentingnya berkendara dengan santun, menghormati hak orang lain, me
ngikuti aturan lalu lintas, dan lain-lain.

6. Saat anak sedih


Saat anak mengalami kesedihan, ia membutuhkan tempat untuk curhat dan menyampaik
an keresahan hatinya. Jika ayah mampu hadir dalam situasi ini, anak tidak akan m
elabuhkan kepercayaan pada orang yang salah. Karena pahlawan bagi anak adalah me
reka yang ada di dekat mereka, menghibur, mendukung dan menguatkan ketika mereka
sedih dan mengalami masalah.
7. Saat anak unjuk prestasi
Luangkan waktu untuk hadir saat anak mengikuti lomba atau tampil di panggung. Ke
hadiran ayah dan ibu dalam momen itu merupakan bentuk pengakuan akan kemampuan a
nak. Tepuk tangan, foto, dan rekaman yang dibuat ayah atau ibu akan menjadi kena
ngan yang terus mereka bawa hingga besar nanti.

Hal yang perlu diperhatikan, anak tidak hanya butuh ayah, namun juga ibu. Sebaga
imana pepatah Arab, al-umm madrasatun, ibu adalah sekolah bagi anak. Maka, ayah
kepala sekolahnya. Ayahlah yang bertanggung jawab agar 'sekolah' tersebut berjal
an dengan baik dengan menyediakan sarana dan prasarana, mengambil peran, serta m
embuat instrumen evaluasi. Sedangkan ibu menjadi sumber ilmu, hikmah, dan inspir
asi bagi anak dalam proses tumbuh dan berkembang.
Jika masing-masing fungsi tersebut tidak dijalankan dengan baik, pengasuhan anak
akan menjadi 'pincang'. Minimnya keterlibatan ayah, membuat anak cenderung pena
kut dan lambat mengambil keputusan. Sementara jika peran ibu yang hilang dalam r
umah tangga, anak cenderung mengedepankan logika, tapi tidak memiliki kepekaan.
Peran Ayah & Perkembangan sosial-emosional
Keterlibatan ayah sejak dini pada masa-masa penting perkembangan anak adalah
sumber keamanan emosional bagi anak. Perlakuan ayah yang penuh cinta pada bayi
sangat berkontribusi pada rasa aman pada anak. (Rosenberg & Wilcox, 2006).
Ketika ayah mengenali respon emosi anak dan membantu mereka menyelesaikannya
dengan pendekatan penyelesaian masalah (problem-solving approach), anak-anak ak
an memiliki nilai tes Kecerdasan Emosi (EQ) yang tinggi (Civitas, 2001)
Ayah yang mengisi waktu berkualitas bersama anak meningkatkan kenyamanan-dir
i, kepercayaan diri, kompetensi sosial dan keterampilan sosial anak (Amato, 1994
)
Anak yang memiliki hubungan dekat bersama ayahnya memiliki kenyamanan-diri (
self-esteem) yang lebih tinggi dan memiliki kecenderungan lebih sedikit merasa d
epresi (Dubowitz et al, 2001)
Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak-anak sebelum usia 7 dapat memberikan
perlindungan psikologis terhadap ketidakmampuan menyesuaikan diri ketika mereka
menjalani masa remaja (Flouri & Buchanan, 2002).
Peran Ayah & Perkembangan Kecerdasan Anak
Sejumlah studi menunjukkan bahwa ayah yang terlibat, mengasuh, dan bercanda
dengan bayi-bayi mereka memiliki anak-anak dengan IQ yang lebih tinggi, serta ka
pasitas bahasa dan kognitif yang lebih baik (Pruett, 2000)
Pengasuhan ayah lebih cenderung mempromosikan kemandirian dan eksplorasi ana
k mereka dunia luar daripada ibu (Rosenberg & Wilcox, 2006).
Ayah lebih sering menemukan cara-cara baru dan tak terduga untuk bermain den
gan mainan akrab, yang memperluas cakrawala kreatif anak mereka (Ladd, 2000).
Peran Ayah & Perkembangan Motorik Anak
Bayi enam bulan yang memiliki ayah yang terlibat dalam pengasuhannya memilik

i nilai lebih baik dalam perkembangan motoriknya (Gestwicki, 2010).


Ayah memiliki kecenderungan melakukan permainan one-on-one, keras dan kasar ya
ng dapat mendukung perkembangan motorik anak dan memberikan kesempatan pada anak
mengeksplorasi hal-hal yang bisa dilakukan tubuh mereka dan membantu mereka men
gatur emosi saat terlibat dalam interaksi fisik impulsif (Rosenberg & Wilcox, 20
06).
Sumber: http://www.parentsasteachers.org/
"AYAH BISU"
Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis u
ntuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidika
n, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan, mungkin bisa menyemangati para
ayah untuk rajin berdialog dengan anak-anaknya.
Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:
?
Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur an al-Karim dan aplikasi pendidikannya
Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya.
Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara or
angtua dengan anak dalam al-Qur an yang tersebar dalam 9 Surat.
Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)
Lihatlah ayah, subhanallah...
Ternyata al-Qur an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi ist
imewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi s
eperti di atas.
Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak d
aripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 ba
nding 2!
Kalau hari ini banyak muncul ayah bisu dalam rumah, inilah salah satu yang menyeba
bkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi.
Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagia
n lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias marah.
Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan ata
u memang tidak bisa bicara.
Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah y
ang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, Cukup yah, saya bisa la
njutkan pembicaraan ayah. Saking rutinitas pembicaraannya yang hanya basa basi da
n itu-itu saja.
Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang dih
arapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memak
sakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pes
annya, kisahnya dan dialognya.
Ayah, kembali ke al-Qur an..

Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur an, hanya dialog ayah kepad
a anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya.
Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan ta
bungan yang diberikan kepadanya.
Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada
yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog
seorang ibu dengan anaknya.
Pemahaman yang benar adalah, al-Qur an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: aya
h, harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-har
i bersama buah hati kalian.
Dan...
Jangan sampai menjadi seorang ayah bisu!
Ayah dan Kokohnya Jiwa Anak
akbarOctober 23rd, 2014, 2:54 amNo comment
?????

155 views

mom-and-baby-hands-300x202Pertengahan Juni 2014 seorang anak perempuan berusia 1


4 tahun mengumumkan dalam akun media sosialnya. Ia menyatakan, dirinya telah men
jadi seorang transgender berganti kelamin menjadi laki-laki. Dalam sebuah wawanc
ara ia mengatakan bahwa keputusan itu didukung oleh ibunya. Aku sangat mencintai
ibuku, tapi ayah tak pernah menghubungiku, ujarnya.
Ungkapan tersebut menyiratkan kekecewaan dirinya yang tidak dipedulikan oleh san
g ayah. Siapakah ayah anak tersebut? Dialah penyanyi legendaris R Kelly yang ter
kenal dengan lagunya I Believe I Can Fly . Lagu yang ditulisnya ini sangat populer
karena menginspirasi banyak orang untuk percaya bahwa apapun dapat kita lakukan
jika kita yakin bisa.
Selain suara dan lagu-lagunya yang mendunia, dia juga terkenal sangat kontrovers
ial. Sederet catatan hitam mengiringi perjalanan hidupnya.
Lalu apa komentar R Kelly saat mengetahui keputusan anaknya? Sangat berat bagiku
untuk menyebut 'Putriku' sekarang berubah menjadi 'Putraku', tapi memang begitu
kenyataannya, ujar Kelly yang merasa shock menerima kenyataan ini.
Yang membuat Jay Kelly, sang anak, mengambil keputusan demikian boleh jadi karen
a protes dan mencari perhatian sang ayah yang tidak dekat dengan anak-anaknya, b
ahkan tak pernah menelepon menanyakan kabar mereka.
Kisah di atas semakin membuktikan betapa pentingnya dialog ayah dengan anak dala
m mengkokohkan jiwa anak. Al Qur`an sudah memberi contoh. Terdapat 17 dialog tem
atik antara orangtua dengan anak dalam al-Qur an yang tersebar dalam 9 Surat. Adap
un rinciannya sebagai berikut: 14 dialog antara ayah dengan anaknya, 2 dialog an
tara ibu dan anaknya, 1 dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya.
Kehidupan keluarga saat ini banyak yang keliru dalam merancang pendidikan anakny
a. Agar dapat memberikan pendidikan yang terbaik, maka ayah bekerja keras mencar
i nafkah, karena sekolah yang bagus identik dengan mahal. Walhasil, banyak ayah
yang tidak terlibat dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya.
Namun apa yang terjadi, begitu banyak masalah sosial yang terjadi. Gay, lesbi, d
an transgender sebagaimana ilustrasi kisah di atas ternyata banyak disebabkan ka
rena peran ayah yang hilang dan tidak memberi identitas yang jelas pada anak. Se
hingga anak menyimpang dari fitrahnya.
Menarik kisah bagaimana Nabi Yusuf saat digoda oleh Zulaikha. Dalam Surat Yusuf
ayat 24 dijelaskan, sesungguhnya Yusuf pun mempunyai keinginan yang sama andai k
ata dia tidak melihat tanda dari Rabbnya. Dalam tafsir Jalalain disebutkan, menu

rut Ibnu Abbas RA bahwa pada saat yang kritis itu tiba-tiba Nabi Yakub, sang aya
h, tampak di hadapannya. Itulah yang membuat nafsu syahwat Yusuf yang telah memb
ara surut. Bagi Yusuf yang sangat dekat dan merasa begitu dicintai ayahnya, maka
sekelebat saja wajah sang ayah, mampu membuatnya tersadar dari kekhilafannya.
Kisah ini menjadi ibrah bahwa kedekatan ayah dengan anak yang dibangun sejak kec
il melalui dialog intens dan kebersamaan itu penting. Cara demikian mampu menjag
a seorang anak untuk senantiasa berada dalam fitrah kesuciannya.
Momen Ramadhan dan Idul Fitri Allah hadirkan untuk menjaga kefitrahan manusia. S
emoga dengan menjaga hubungan dan kedekatan selama sebulan penuh akan membuat an
ak terjaga dari berbagai penyimpangan.* (Ida S. Widayanti/Penulis Serial Catatan
Parenting-www.idawidayanti.com) SUARA HIDAYATULLAH-AGUSTUS 2014
Pukulan Sayang Sang Ayah Oleh Ida S Widayanti
akbarJune 12th, 2014, 3:36 amNo comment 157 views
?????
Oleh Ida S Widayanti*
Seorang anak berusia 10 tahun hidup dalam lingkungan keluarga yang taat beragama
. Meski serba kekurangan, tetapi si anak tetap semangat belajar dan membantu ora
ngtuanya berdagang.
Suatu hari tokonya dikunjungi banyak pembeli, ia pun sangat sibuk. Tanpa disadar
i ia melewatkan shalat Zuhurnya. Dengan jujur ia ceritakan hal itu kepada ayahny
a sambil berlinang air mata.
Mendengar cerita anaknya, sang ayah tak berbicara sepatah kata pun. Ia menuju ka
marnya, lalu keluar dengan membawa sebuah tongkat. Sang anak tahu bahwa ayahnya
akan memberi pukulan atas kelalaiannya melaksanakan shalat. Anak itu mengulurkan
kedua tangannya.
Sang anak memejamkan mata, bersiap menerima pukulan ayahnya. Namun apa yang terj
adi sangat mengagetkan hatinya. Ternyata pukulan yang ia terima hanyalah sebuah
pukulan lembut.
Saat si anak membuka mata, ia melihat pemandangan yang jauh lebih mengagetkan. J
anggut ayahnya telah basah dengan cucuran air matanya. Lelaki itu berkata, Nak, k
alau bukan perintah Rasulullah SAW aku tidak akan memukulmu, jangan ulangi ya, N
ak! Selanjutnya sang ayah memeluk erat dan menciumi anak kesayangannya itu.
Anak tersebut kemudian menjadi seorang tokoh dan ilmuwan. Sambil mengusap air ma
tanya ia menceritakan bahwa hukuman itu masih terasa sakit sampai saat ini. Rasa
sakit yang bukan karena pukulan tongkatnya, namun karena sesuatu yang dahsyat m
emukul hatinya.
Yang membuat hati saya merasa sakit, pertama karena aku mendurhakai Allah, kedua
karena aku telah menghancurkan hati ayahku dengan memaksanya memukul buah hatiny
a yang ia cintai, yaitu aku.
Kisah yang ditulis Dr Fadl dalam Daurah Sautiyah Fii Tarbiyah tersebut memberi i
nspirasi tentang cara memberikan hukuman pada seorang anak. Islam tidak seperti
Barat yang dengan humanismenya membabi buta melakukan pelarangan terhadap bentuk
hukuman fisik. Di negeri yang menganut kebebasan itu, banyak anak yang berhasil
menjebloskan orangtuanya ke penjara karena alasan kekerasan, apapun bentuk dan
alasannya.
Dalam Islam dibolehkan melakukan pukulan ketika anak meninggalkan shalat di usia
10 tahun, sebagaimana sabda Nabi SAW, Perintahkan anak-anak kalian untuk melakuk
an shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukulah mereka saat usia sepuluh tah

un. Dan pisahkan tempat tidur mereka.

(Riwayat Ahmad dan Abu Daud).

Islam sangat ketat membatasi pelaksanaan hukuman pada anak-anak. Rasulullah SAW
jarang sekali dikisahkan memberi hukuman fisik pada anak kandung juga anak-anak
Sahabat, justru sangat memuliakan mereka.
Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid mengatakan, Hendaknya diketahui, dalam perjalan
an hubungan bapak dengan anak-anaknya dan pengajarannya bahwa bapak memukul anak
nya semata-mata bertujuan agar ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tujuannya unt
uk kebaikannya secara sempurna dan perhatiannya dalam mendidiknya sesuai ketentu
an syari agar jangan sampai timbul perasaan benci sang anak terhadap perkara syar
'i yang berat ia lakukan dan karena meninggalkannya ia dipukul.
Jelaslah bahwa memukul anak seharusnya didorong oleh kasih sayang, bukan karena
emosi kemarahan. Sebagaimana kisah tersebut, dampak ekspresi kasih sayang sang a
yah jauh lebih melekat di hatinya ketimbang pukulan di tangannya. Wallahu a lam bi
s shawab.* Penulis buku Mendidik Karakter dengan Karakter HIDAYATULLAH-APRIL 2014
Ayah Sang Pemimpin
akbarMarch 20th, 2014, 5:55 amNo comment
?????

122 views

Oleh Ida S Widayanti*


Di sebuah supermarket, seorang suami terdiam melihat istrinya sedang memarahi an
aknya. Si anak yang berusia sekitar lima tahun itu ingin membeli sebuah mainan,
namun ibunya melarangnya. Anak itu lalu menangis. Si ibu menyuruh anaknya menghe
ntikan tangisannya, namun tangisan si anak semakin keras. Akhirnya, si ibu memuk
uli anaknya. Tangisan anak itu semakin menjadi-jadi. Si ibu semakin tak sabar se
hingga pukulannya semakin keras dan bertubi-tubi. Melihat keadaan itu, suaminya
pergi menjauh.
Seorang ibu yang membawa anak remaja lelakinya melihat kejadian tersebut. Ibu it
u kaget dan ingin sekali berbicara kepada ibu yang memukuli anaknya itu. Namun,
karena melihat ekspresi si ibu yang masih marah, ia mengurungkan niatnya. Sebab,
ketika seseorang sedang marah tentu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Akhirny
a, ia mendekati bapak yang sudah menjauh dari ibu dan anaknya itu.
Maaf Pak, apakah Bapak ayah dari anak itu? Si bapak mengangguk dengan ekspresi waj
ah sedih bercampur malu.
Mengapa Bapak membiarkan anaknya dipukuli oleh istri Bapak? Mengapa membiarkan an
ak yang masih lemah dizalimi? Allah menitipkan anak pada kita untuk dididik deng
an baik. Tentu Allah tidak ridha kalau titipannya dianiaya. Pak, kita akan dimin
ta pertanggungjawaban oleh Allah. Anak itu diam tak membalas karena ia masih lem
ah. Suatu saat dia sudah besar akan membalasnya. Dia menyimpan rasa dendam. Anak
itu peniru. Kelak dia akan meniru yang dilakukan ayah-ibunya terhadap anak dan
keluarganya juga. Bagaimana perasaan Bapak kalau hal itu terjadi? Bapak tersebut
terdiam mendengarkan si ibu yang sulit membendung kata-katanya.
Tak lama kemudian Bapak itu mendekati anaknya. Ia membawa anaknya pergi dengan m
enaiki sepeda motor. Anak remaja laki-laki itu menyaksikan semua kejadian terseb
ut.
Lalu ibunya memberi penjelasan bahwa seorang ayah adalah pemimpin dalam keluarga
. Ia seharusnya yang mengendalikan dan mendidik keluarganya. Perbuatan si ibu ta
di tidak boleh dibiarkan.
Hari itu, si anak remaja laki-laki itu belajar dua hal. Pertama, tentang bagaima
na seharusnya peran seorang ayah. Kedua, bagaimana jika melihat kemungkaran atau
ketidakaadilan di depan mata tidak boleh membiarkannya.

Di dalam masyarakat kita sering melihat seorang ayah yang begitu lemah tidak ber
daya dalam memimpin keluarganya. Hal itu sering dijadikan anekdot. Maka munculah
istilah Ikatan suami takut istri , bahkan sampai dijadikan serial sinetron. Sehing
ga hal itu pun berdampak dalam mendidik anak. Ayah tak mengambil peran dalam men
didik anak. Ibulah yang mengambil alih seluruh kepemimpinan pendidikan anaknya.
Memang dalam pelaksanaannya seringkali ibulah yang lebih banyak berperan. Namun,
tetap yang menjadi komandannya adalah ayah. Ayah turut mengkonsep, melaksanakan
dan mengontrol pelaksanannya.
Bayi manusia dikandung selama sembilan bulan. Sebuah waktu yang cukup lama. Sela
ma itu, bukan hanya ibu yang bersiap menjalani peran sebagai ibu, namun juga aya
h. Ayah harus belajar banyak bukan karena banyak melaksanakannya, namun karena a
yahlah yang memimpin dan mengendalikannya. Ketika ada kekeliruan istri dalam men
didik anak, maka suami seharusnya bertindak meluruskannya. Semoga Allah SWT sena
ntiasa membimbing kita semua.* Penulis Buku Mendidik Karakter dengan Karakter. S
UARA HIDAYATULLAH PEBRUARI 2014