Anda di halaman 1dari 209

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah


Seiring dengan bertambahnya masa produksi suatu lapangan,
produktivitasnya

akan

semakin

berkurang.

Hal

ini

disebabkan

bertambahnya jumlah minyak yang telah diproduksikan dari reservoir, dan


berpengaruh terhadap berkurangnya energi reservoir alamiah yang
diperlukan untuk mengalirkan minyak ke dalam sumur produksi. Pada
banyak reservoir minyak, tekanan reservoir juga akan berkurang selama
produksi berlangsung. Penurunan tekanan reservoir dibawah tekanan
jenuh (Bubble Point) dari hidrokarbon mengakibatkan keluarnya gas
(komponen hidrokarbon yang ringan) dari dalam minyak. Gelembung gas
akan membentuk fasa yang berkesinambungan dan mengalir ke arah
sumur sumur produksi, bila saturasinya melampaui harga saturasi
equilibrium. Saturasi equilibrium adalah kondisi dimana saturasi oil, gas
dan air nya dalam kondisi yang setimbang. Terproduksinya gas ini akan
mengurangi energi yang tersedia secara alami untuk memproduksikan
minyak, sehingga jumlah minyak yang dapat diproduksikan (recovery)
secara alami dapat berkurang pula. Secara umum dapat dikatakan bahwa
penurunan tekanan yang tidak terkontrol memberikan kontribusi terhadap
pengurangan recovery.
Pada tahap primary recovery tersebut dimana pada saat minyak
diproduksikan dengan tenaga alamiah dan pada tahap secondary recovery
dimana minyak diinjeksi dengan air untuk diproduksikan, maka tidak
seluruhnya minyak dapat diangkat ke permukaan sehingga menyebabkan
adanya cadangan minyak tersisa yaitu cadangan minyak yang belum dapat
diproduksikan pada tahap primary recovery karena cadangan minyak
terjebak didalam matrik batuan. Hal tersebut disebabkan karena
berkurangnya tekanan di dalam reservoir, pengaruh tekanan kapiler dan
1

sifat kebasahan batuan yang kuat, distribusi fluida reservoir yang tidak
merata, tingginya viskositas minyak, kecilnya porositas dan permeabilitas
batuan, serta besarnya tegangan antar muka. Untuk mengatasi hal tersebut
maka perlu diterapkan tahap selanjutnya yaitu tahap tertiery recovery atau
biasa yang disebut dengan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) yang
sesuai dengan kondisi reservoir di masing masing sumur minyak.
Pada

teknik

produksi

primer

(primary

recovery)

yaitu

memproduksikan minyak dengan cara sembur alam atau pengangkatan


buatan karena tidak semua minyak yang ada di dalam reservoir dapat
diperoleh ke permukaan karena kemampuan reservoir untuk mengangkat
minyak sangat terbatas. Dengan demikian akan tertinggal minyak yang
tidak dapat diproduksikan atau terdapat saturasi minyak tersisa (Sor).
Penurunan produksi akan selalu diiringi dengan penurunan tekanan
reservoir. Penurunan tekanan reservoir dapat diperlambat secara alami
bila penyerapan reservoir oleh sumur sumur produksi diimbangi oleh
perembesan air ke dalam reservoir dari aquifer. Air ini berperan sebagai
pengisi atau pengganti minyak yang terproduksi disamping berperan
sebagai media pendesak. Mekanik produksi minyak yang mengandalkan
tenaga penambahan dari gas yang keluar dari larutan (Depletion Drive).
Kenyataan ini mendorong orang untuk melakukan proses penginjeksian air
(Waterflooding) dari permukaan bumi kedalam reservoir minyak.
Salah satu alasan yang dapat dikemukakan mengapa dilakukannya
Enhanced Oil Recovery (EOR) atau peningkatan perolehan minyak adalah
karena nilai ekonomis hidrokarbon yang tersisa dari tahapan produksi
primer (primary recovery) masih menguntungkan untuk diproduksikan
lagi dengan penerapan metode EOR tertentu.
Tidak semua metode EOR bisa diaplikasikan di berbagai jenis
reservoir. Masih banyak klasifikasi atau kriteria khusus untuk menetapkan
pemilihan jenis EOR yang tepat. Waterflooding atau yang sering disebut
dengan injeksi air juga merupakan salah satu metode EOR, perlu adanya
penganalisaan untuk mengetahui bagaimana prinsip kerja dari metode ini

dan di reservoir yang bagaimana metode ini dapat di aplikasikan agar


pengurasan hidrokarbon dapat dilakukan semaksimal mungkin.

1.2.

Maksud Dan Tujuan


Maksud penulisan komprehensif ini adalah sebagai salah satu
persyaratan program perkuliahan untuk dapat melaksanakan Tugas Akhir
dan sebagai salah satu syarat kelulusan.
Sedangkan tujuan ditulisnya komprehensif ini sebagai metode
peningkatan perolehan minyak, karena nilai ekonomis hidrokarbon yang
tersisa dari tahapan produksi primer (primary recovery) masih
menguntungkan untuk diproduksikan lagi dengan penerapan metode EOR
tertentu.
Adapun tujuan dari penulisan komprehensif ini adalah agar dapat :
1. Untuk mengetahui kemampuan maksimal suatu lapangan dapat
diproduksikan.
2. Mengetahui perbedaan antara efisiensi pendesakan dan efisiensi
penyapuan pada waterflooding.
3. Menentukan efisiensi recovery minyak maksimum waterflood dengan
menggunakan metode Buckley-Leverent.

1.3.

Batasan Masalah
Dalam penulisan komprehensif ini penulis menitik beratkan pada
penjelasan secara umum tentang metode Enhanced Oil Recovery dan lebih
spesifik

pada

Waterflooding.

penjelasan

mengenai

prinsip

kerja

dari

metoda

1.4.

Sistematika Penulisan
Pada dasarnya pembaca akan melihat abstrak dari suatu laporan
sebelum membaca laporan secara keseluruhan. Untuk lebih mempermudah
para pembaca dalam memahami isi dari komprehensif yang penulis
sajikan, maka penulis memberikan suatu sistematika penulisan yang mana
ini komprehensif ini terdiri dari beberapa bab yang saling berhubungan
satu dengan yang lainnya sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan
komprehensif, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

BAB II

KARAKTERISTIK RESERVOIR
Bab ini berisi tentang penjelasan mengenai karakteristik
batuan reservoir, karakteristik fluida reservoir, kondisi
reservoir dan juga jenis jenis dari reservoir.

BAB III

METODE ENHANCED OIL RECOVERY


Pada bab ini berisi tentang penjelasan dari pengertian
metode Enhanced Oil Recovery (EOR), faktor faktor yang
mempengaruhi efektivitas EOR dan macam macam
metode dari Enhanced Oil Recovery (EOR).

BAB IV

WATERFLOODING
Bab ini memberikan penjelasan mengenai pengertian
Waterflooding,

prinsip

kerja

Waterflooding,

tujuan

dilakukannya Waterflooding, desain sumur Waterflooding,


monitoring lapangan dari Waterflooding dan perkiraan
perolehan minyak dengan metode Waterflooding.

BAB V

STUDI KASUS
Pada bab ini akan dibahas mengenai kasus lapangan dengan
penambahan beberapa sumur injeksi dengan perhitungan
menggunakan metode Buckley-Leverett.

BAB VI

PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan memberikan ulasan atau rangkuman
dari studi kasus pada bab sebelumnya.

BAB VII

KESIMPULAN
Bab ini berisi ulasan atau jawaban dari semua tujuan dari
penulisan laporan komprehensif ini.
BAB II

KARAKTERISTIK RESERVOIR

Reservoir merupakan suatu tempat terakumulasi atau terkumpulnya fluida


hidrokarbon, yang terdiri dari minyak dan gas, dan air. Proses bisa terjadinya
akumulasi minyak bumi di bawah permukaan haruslah memenuhi beberapa
persyaratan, yang merupakan unsur-unsur suatu reservoir minyak bumi. Unsurunsur yang menyusun reservoir adalah sebagai berikut :
1. Batuan reservoir, sebagai wadah yang diisi dan dijenuhi oleh minyak bumi,
gas bumi atau keduanya. Biasanya batuan reservoir berupa lapisan batuan
yang porous dan permeable.
2. Lapisan penutup (cap rock), yaitu suatu lapisan batuan yang bersifat
impermeable, yang terdapat pada bagian atas suatu reservoir, sehingga
berfungsi sebagai penyekat fluida reservoir.
3. Perangkap reservoir (reservoir trap), merupakan suatu unsur pembentuk
reservoir yang berupa suatu sinklin, yakni suatu bentuk cekungan dimana
nantinya akan terisi fluida yang secara urutannya dari densitas yang paling
ringan ke densitas yang paling besar adalah fasa gas, minyak dan air.

Karakteristik suatu reservoir sangat dipengaruhi oleh karakteristik batuan


penyusunnya, fluida reservoir yang menempatinya dan kondisi reservoir itu
sendiri, yang satu sama lain akan saling berkaitan. Ketiga faktor itulah yang akan
kita bahas dalam mempelajari karakteristik reservoir.

Gambar 2.1. Karakteristik Reservoir (Pettijohn, F. J., Sedimentary Rock, 1957)

2.1.

Karakteristik Batuan Reservoir


Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral, sedangkan suatu
mineral dibentuk dari beberapa ikatan kimia. Komposisi kimia dan jenis
mineral yang menyusunnya akan menentukan jenis batuan yang
terbentuk.
Masing-masing batuan tersebut mempunyai komposisi kimia yang
berbeda, demikian juga dengan sifat fisiknya. Komponen penyusun batuan
serta macam batuannya dapat dilihat pada Diagram di bawah ini.

Gambar 2.2. Diagram Komponen Penyusun Batuan (Pettijohn, F. J., Sedimentary


Rock, 1957)

Unsur atau atom-atom penyusun batuan reservoir perlu diketahui


mengingat macam dan jumlah atom-atom tersebut akan menentukan sifatsifat dari mineral yang terbentuk, baik sifat-sifat fisik maupun sifat-sifat
kimiawinya. Mineral merupakan zat-zat yang tersusun dari komposissi
kimia tertentu yang dinyatakan dalam bentuk rumus-rumus dimana
menunjukkan macam unsur-unsur serta jumlahnya yang terdapat dalam
mineral tersebut.

2.1.1. Komposisi Kimia Batuan Reservoir


Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa
batupasir, batuan karbonat dan shale atau kadang-kadang vulkanik.
a)

Batu Pasir
Menurut Pettijohn, batupasir dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
Orthoquarzites, Graywacke dan Arkose.
Orthoquarzites, merupakan jenis batuan sedimen yang terbentuk
dari proses yang menghasilkan unsur silica yang tinggi, dengan
tidak mengalami metamorfosa dan pemadatan, terutama terdiri atas
mineral kwarsa (quartz) dan mineral lainnya yang stabil. Material

pengikatnya (semen) terutama terdiri atas carbonate dan silica.


Graywacke, merupakan jenis batupasir yang tersusun dari unsurunsur mineral yang berbutir besar, terutama kwarsa dan feldspar
serta fragmen-fragmen batuan. Material pengikatnya adalah clay

dan carbonate.
Arkose, merupakan jenis batupasir yang biasanya tersusun dari
quartz sebagai mineral yang dominan, meskipun seringkali mineral
arkose feldspar jumlahnya lebih banyak dari quartz.

b)

Batuan Karbonat
Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang mempunyai
komposisi yang dominan (lebih dari 50%) terdiri dari garam-garam
karbonat. Seluruh proses pembentukan batuan karbonat tersebut terjadi
pada lingkungan laut, sehingga praktis bebas dari detritus asal darat,
yang dalam prakteknya secara umum meliputi Limestone dan Dolomit.

Limestone, adalah kelompok batuan yang mengandung paling


sedikit

80%

calcium

carbonate

atau

magnesium.

Fraksi

penyusunnya terutama oleh calcite.


Dolomite, adalah jenis batuan yang merupakan variasi dari
Limestone yang mengandung unsur karbonat lebih besar dari 50%.
Komposisi kimia dolomite hampir mirip dengan Limestone, kecuali

unsur MgO merupakan unsur yang penting dan jumlahnya cukup


besar.
c)

Batuan Shale
Pada umumnya unsur penyusun shale ini terdiri dari lebih kurang
58% silicon dioxide (SiO2), 15% aluminium oxide (Al2O3), 6% iron
oxide (FeO) dan Fe2O3, 2% magnesium oxide (MgO), 3% calcium
oxide (CaO), 3% potassium oxide (K2O), 1% sodium oxide (Na2O) dan
5% air (H2O). sisanya adalah metal oxide dan anion.

2.1.2. Sifat Sifat Fisik Batuan Reservoir


Karakteristik formasi merupakan faktor yang tidak bisa diubah,
sehingga tidak dapat dikontrol. Batuan formasi mempunyai sifat-sifat atau
karakteristik yang secara umum dikelompokkan menjadi dua, yaitu sifat
fisik batuan dan sifat mekanik batuan. Sifat-sifat fisik batuan meliputi :
porositas, saturasi, permeabilitas serta kompressibilitas, sedangkan sifatsifat mekanik batuan meliputi : strength (kekuatan) batuan, hardness
(kekerasan) batuan, abrasivitas, elastisitas dan tekanan batuan. Pada
bagian ini akan dibahas mengenai sifat fisik dari batuan reservoir.
1) Porositas ( )
Dalam reservoir minyak, porositas mengambarkan persentase dari
total ruang yang tersedia untuk ditempati oleh suatu cairan atau gas.

Gambar 2.3. Porosity

(Fagan, Alphonsus,

An Introduction to The

Petroleum
Industry. 1991)

10

Porositas dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara volume


total pori-pori batuan dengan volume total batuan per satuan volume
tertentu, yang jika dirumuskan :
=

Vp
Vp
VbVgr
=
=
x 100 ............................................(2-1)
Vb Vgr +Vp
Vb

Dimana :
Vp
Vb
Vgr

= Porositas absolute (total), fraksi (%)


= Volume pori-pori, cc
= Volume batuan (total), cc
= Volume butiran, cc

Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua,


yaitu:
a. Porositas absolute, adalah perbandingan antara volume pori total
terhadap volume batuan total yang dinyatakan dalam persen, atau
secara matematik dapat ditulis sesuai persamaan sebagai berikut:
=

volume pori total


x 100 ...................................................(2-2)
bulk volume

b. Porositas efektif, adalah perbandingan antara volume pori-pori


yang saling berhubungan terhadap volume batuan total (bulk
volume) yang dinyatakan dalam persen.
e=

Volume pori yang berhubungan


Volume total batuan

x 100% =

gb
gf (2-3)

Dimana : e
= Porositas efektif, fraksi (%)
g = Densitas butiran, gr/cc
b = Densitas total, gr/cc
f = Densitas formasi, gr/cc

Berdasarkan waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga


diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

11

1. Porositas primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu yang


bersamaan dengan proses pengendapan berlangsung.
2. Porositas sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk setelah
proses pengendapan.

Besar kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu


ukuran butir, susunan butir, sudut kemiringan dan komposisi mineral
pembentuk batuan. Untuk pegangan dilapangan, ukuran porositas
dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 2.1. Ukuran Porositas dan Kualitas

Porositas (%)

Kualitas

05

Dianggap Jelek Sekali

5 10

Dianggap Jelek

10 15

Dianggap Sedang

15 20

Dianggap Baik

Diatas 20

Sangat Baik

Sumber : Sonny Irawan (2000)

2) Permeabilitas ( k )
Permeabilitas didefinisikan sebagai ukuran media berpori untuk
meloloskan/melewatkan fluida. Apabila media berporinya tidak saling

12

berhubungan maka batuan tersebut tidak mempunyai permeabilitas.


Oleh karena itu ada hubungan antara permeabilitas batuan dengan
porositas efektif.

13

Gambar 2.4. Permeability (Fagan, Alphonsus, An Introduction to The Petroleum


Industry. 1991)

Sekitar tahun 1856, Henry Darcy seorang ahli hidrologi dari


Prancis mempelajari aliran air yang melewati suatu lapisan batu pasir.
Hasil penemuannya diformulasikan kedalam hukum aliran fluida dan
diberi nama Hukum Darcy.

Dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :

Q=

k . A dP
dL .............................................................................(2-4)

Dimana : Q

= laju alir fluida, cc/det

14

= permeabilitas, darcy

= viskositas, cp

dP/dL = gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm


A

= luas penampang, cm2

Tanda negatif pada persamaan menunjukkan bahwa bila tekanan


bertambah dalam satu arah, maka alirannya berlawanan dengan arah
pertambahan tekanan tersebut. Besaran permeabilitas satu darcy
didefinisikan sebagai permeabilitas yang melewatkan fluida dengan
viskositas 1 centipoises dengan kecepatan alir 1 cc/det melalui suatu
penampang dengan luas 1 cm2 dengan penurunan tekanan 1 atm/cm.
Persamaan Darcy berlaku pada kondisi :
1. Alirannya mantap (steady state)
2. Fluida yang mengalir satu fasa
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan
4. Kondisi aliran isothermal
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal
6. Fluidanya incompressible

Skala permeabilitas yang diukur dalam satuan lapangan adalah


sebagai berikut:

15

1. Ketat (tight), kurang dari 5 md


2. Cukup (fair), antara 5-10 md
3. Baik (good), antara 10-100 md
4. Baik sekali (very good), antara 100 1000 md

Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan reservoir,


permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :

Permeabilitas absolute (Kabs)


Permeabilitas absolute yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan
fluida dimana fluida yang mengalir melalui media berpori tersebut
hanya satu fasa atau disaturasi 100% fluida, misalnya hanya
minyak atau gas saja.

Permeabilitas efektif (Keff)


Permeabilitas efektif yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan
fluida dimana fluida yang mengalir lebih dari satu fasa, misalnya
(minyak dan air), (air dan gas), (gas dan minyak) atau ketigatiganya. Harga permeabilitas efektif dinyatakan sebagai ko, kg, kw,
dimana masing-masing untuk minyak, gas dan air.

Permeabilitas relatif (Krel)


Permeabilitas relatif yaitu perbandingan antara permeabilitas
efektif pada kondisi saturasi tertentu terhadap permeabilitas
absolute. Harga permeabilitas relatif antara 0 1 darcy. Dapat juga
dituliskan sebagai beikut :

16

Krw=

K off
K abc ............................................................................(2-5)

Permeabilitas relatif reservoir terbagi berdasarkan jenis fasanya,


sehingga didalam reservoir akan terdapat Permeabilitas relatif air
(Krw), Permeabilitas relatif minyak (Kro), Permeabilitas relatif gas
(Krg) dimana persamaannya adalah :

Krw =

Kw
K abc ...........................................................................(2-6)

Kro =

Ko
K abc ............................................................................(2-7)

Krg =

Kg
K abc ............................................................................(2-8)

Dimana : Krw

= Permeabilitas relatif air

Kro

= Permeabilitas relaitf minyak

Krg

= Permeabilitas relatif gas

17

Permeabilitas relatif ini merupakan fungsi kombinasi dari geometri


pori, kebasahan batuan, distribusi fluida, dan sejarah saturasi. Dengan
demikian, untuk menggambarkan aliran simultan minyak dan air di
reservoir dengan menggunakan hukum Darcy, maka permeabilitas
absolut k diganti dengan permeabilitas efektif ko (Sw) dan kw (Sw).
pada gambar grafik dapat dilihat karakteristik permeabilitas relatif.

18

Gambar 2.5. Karakteristik Permeabilitas Relatif (Asep Kurnia Permadi, 2004)

3) Tegangan Permukaan
Di dalam sistem multifasa terjadi gaya tarik menarik di daerah
interface (antar muka) pada fluida yang tidak saling bercampur missal
antara minyak dan air apabila dicampurkan maka akan muncul
tegangan antar muka sehingga minyak dan air tetap dalam keadaan
terpisah.
Jadi tegangan antar muka muncul akibat adanya gaya unbalanced
dari molekul molekul fluida, sehingga diantara permukaan molekul
molekul tersebut muncul suatu membran. Dalam kata lain tegangan
antar muka adalah besarnya gaya per satuan panjang yang diperlukan
untuk memperluas permukaan interface, umunya ditulis dalam satuan
dyne/cm2.

4) Saturasi
Saturasi adalah perbandingan antara volume pori-pori batuan yang
terisi fluida formasi tertentu terhadap total volume pori-pori batuan
yang terisi fluida atau jumlah kejenuhan fluida dalam batuan reservoir
per satuan volume pori. Oleh karena didalam reservoir terdapat tiga
jenis fluida, maka saturasi dibagi menjadi tiga yaitu saturasi air (Sw),

19

saturasi minyak (So) dan saturasi gas (Sg), dimana secara matematis
dapat ditulis :

Sw =

Volume pori yang diisi olehair , cc


....................................(2-9)
volume pori total , cc

So =

Volume pori yang diisi olehoil , cc


...................................(2-10)
Volume pori total , cc

Sg =

Volume pori yang diisi gas , cc


.........................................(2-11)
Volume pori total , cc

Total saturasi fluida jika reservoir mengandung 3 jenis fluida :

Sw + So + Sg = 1...........................................................................(2-12)

Untuk

sistem

air-minyak,

maka

persamaan

(2-12)

dapat

disederhanakan menjadi :

Sw + So = 1....................................................................................(2-13)

20

Distribusi fluida pada injeksi air di batuan reservoir water wet,


ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Pada saat sebelum air diinjeksi,
saturasi air connate rendah dan di reservoir sebagai lapisan film pada
butiran pasir, dan pori batuan lainnya terisi oleh minyak.

21

Gambar 2.6. Distribusi Fluida Sepanjang injeksi Air pada Batuan Water wet
(John Lee, 1995)

Fluida yang mengisi reservoir bisanya tidak terdistribusi secara


merata melainkan bervariasi, tergantung pada kecepatan distribusi
ukuran pori batuan serta kecenderungan sifat pembasahan fluida. Pada
saat produksi primer terjadi pengurangan saturasi fluida disekitar

22

sumur produksi, sehingga akan memperngaruhi distribusi saturasi


secara keseluruhan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi saturasi fluida reservoir
adalah :
a.Ukuran dan distribusi pori-pori batuan.
b.

Ketinggian diatas free water level.

c.Adanya perbedaan tekanan kapiler.

Didalam kenyataan, fluida reservoir tidak dapat diproduksi


semuanya. Hal ini disebabkan adanya saturasi minimum fluida yang
tidak dapat diproduksi lagi atau disebut dengan irreducible saturation
sehingga berapa besarnya fluida yang diproduksi dapat dihitung dalam
bentuk saturasi dengan persamaan berikut :

23

St = 1 (Swi + Sgi + Soi)..............................................................(2-14)

Dimana: St

= Saturasi total fluida terproduksi

Swirr

= Saturasi air tersisa (iireducible)

Sgirr

= Saturasi gas tersisa (iireducible)

Soirr

= Saturasi minyak tersisa (iireducible)

5) Resistiviti
Batuan reservoir terdiri atas campuran mineral-mineral, fragmen
dan

pori-pori.

Padatan-padatan

mineral

tersebut

tidak

dapat

menghantarkan arus listrik kecuali mineral clay. Sifat kelistrikan


batuan reservoir tergantung pada geometri pori-pori batuan dan fluida
yang mengisi pori. Minyak dan gas bersifat tidak menghantarkan arus
listrik sedangkan air bersifat menghantarkan arus listrik apabila air
melarutkan garam.
Arus listrik akan terhantarkan oleh air akibat adanya gerakan dari
ion-ion elektronik. Untuk menentukan apakah material didalam
reservoir bersifat menghantar arus listrik atau tidak maka digunakan
parameter resistiviti. Resistiviti didefinisikan sebagai kemampuan dari
suatu material untuk menghantarkan arus listrik, secara matematis
dapat dituliskan sebagai berikut :

24

rA
L ......................................................................................(2-15)

Dimana :

= Resistiviti fluida didalam batuan, ohm-m

= Tahanan, ohm

= Luas area konduktor, m2

= Panjang konduktor, m

25

Konsep dasar untuk mempelajari sifat kelistrikan batuan diformasi


digunakan konsep faktor formasi dari Archie yang didefinisikan :

F=

Ro
R w ......................................................................................(2-16)

Dimana : Ro

= Resistiviti batuan yang terisi minyak

Rw = Resistiviti batuan yang terisi air

6) Wettabiliti
Wettabiliti didefinisikan sebagai suatu kemampuan batuan untuk
dibasahi oleh fasa fluida atau kecenderungan dari suatu fluida untuk
menyebar atau melekat ke permukaan batuan. Sebuah cairan fluida
akan bersifat membasahi bila gaya adhesi antara batuan dan partikel
cairan lebih besar dari pada gaya kohesi antara partikel cairan itu
sendiri. Tegangan adhesi merupakan fungsi tegangan permukaan setiap
fasa didalam batuan sehingga wettabiliti berhubungan dengan sifat
interaksi (gaya tarik menarik) antara batuan dengan fasa fluidanya.
Dalam sistem reservoir digambarkan sebagai air dan minyak atau gas
yang terletak diantara matrik batuan. Untuk sistem fasa fluida
pembasahnya dibedakan atas:

a) Wetting Phase Fluid

26

Fasa fluida pembasah biasanya akan dengan mudah membasahi


permukaan batuan, akan tetapi karena adanya gaya tarik menarik
antara batuan dan fluida, fasa pembasahan akan mengisi ke pori
pori yang lebih kecil dahulu dari batuan berpori. Fasa fluida
pembasah

umumnya

hidrokarbon.

sangat

sukar

bergerak

ke

reservoir

27

b) Non-Wetting Phase Fluid


Non wetting phase fluid sukar membasahi batuan. dengan
adanya gaya repulsive (tolak) antar batuan dan fluida menyebabkan
Non-Wetting Phase Fluid akan menempati sebagian besar pori
pori batuan. Non-Wetting Phase Fluid umumnya sangat mudah
bergerak.
Jika dua fluida yang saling tidak bercampur (immicible)
ditempatkan pada permukaan zat padat, maka salah satu fasa akan
tertarik lebih kuat disbanding fasa yang lain sehingga cenderung
akan membasahi permukaan zat padat. Terjadinya gaya tarik
menarik (gaya adhesi) pada kontak interaksi zat cair dan zat padat
merupakan faktor dari tegangan permukaan antara kedua
permukaan zat tersebut.

Gambar 2.7. Sistem pembasahan batuan oleh air dan minyak (John Lee,1995)

28

Gambar diatas memperlihatkan sistem air-minyak yang kontak


dengan benda padat, dengan sudut kontak sebesar . Sudut kontak
diukur antara fluida yang lebih ringan terhadap fluida yang lebih berat,
yang berharga 0o 180o, yaitu antara air dengan padatan, sehingga
tegangan adhesi (AT) dapat dinyatakan dengan persamaan :

A T = so sw= wo cos

Dimana : AT
so

............................................................(2-17)

= Tegangan adhesi, dyne/cm


= Tegangan

permukaan

benda

padat-minyak,

dyne/cm
sw

= Tegangan permukaan benda padat-air, dyne/cm

wo

= Tegangan permukaan air-minyak, dyne/cm

= Sudut kontak air-minyak

Suatu cairan yang dikatakan membasahi zat padat jika tegangan


adhesinya positif (q < 90o), yang berarti batuan bersifat water wet,
sedangkan bila air tidak membasahi zat padat maka tegangan
adhesinya negative (q > 90o), berarti batuan bersifat oil wet.
Pada umumnya, reservoir bersifat water wet yang dicari, sehingga
air cenderung untuk melekat pada permukaan batuan, sedangkan
minyak akan terletak diantara fasa air.

29

7) Tekanan Kapiler (Pc)


Tekanan kapiler pada batuan berpori didefinisikan sebagai
perbedaan tekanan antara fluida yang membasahi batuan dengan fluida
yang bersifat tidak membasahi batuan jika didalam batuan tersebut
terdapat dua atau lebih fasa fluida yang tidak bercampur dalam kondisi
statis. Secara matematis dapat dilihat bahwa :

Pc = Pnw Pw...............................................................................(2-18)

Dimana : Pc
Pnw

= Tekanan kapiler, dyne/cm2


= Tekanan pada permukaan fluida non wetting
phase, dyne/cm2

Pw

= Tekanan pada permukaan fluida wetting phase,


dyne/cm2

30

Gambar 2.8. Proses aliran sistem imbibisi dan drainage (John Lee, 1995)

Tekanan kapiler dipengaruhi oleh ukuran dari rongga pori,


besarnya sudut kontak antara fasa yang membasahi dengan sifat
pembasah batuan, serta tegangan permukaan dari fasa fluida. Pada
gambar 2.8. memperlihatkan proses aliran sistem imbibisi dan drainage
dengan hubungan tekanan kapiler (Pc) terhadap saturasi air (Sw).
secara ringkas, kedua proses yang menggambarkan hubungan Pc dan
Sw tersebut dalam kaitannya dengan proses recovery di reservoir
adalah:
1. Imbibisi
Penggantian fluida yang membasahi (air) oleh fluida yang tidak
membasahi (minyak) disebut dengan imbibisi. Contoh : injeksi gas
kedalam reservoir minyak atau sistem tenaga dorong depletion
drive.
2. Drainage

31

Penggantian fluida yang tidak membasahi (minyak) oleh fluida


yang membasahi (air) disebut dengan drainage. Contoh : injeksi
air kedalam reservoir.

Hubungan tekanan kapiler di dalam rongga pori batuan juga dapat


dilukiskan dengan sebuah sistim tabung kapiler. Dimana cairan fluida
akan cenderung untuk naik bila ditempatkan didalam sebuah pipa
kapiler dengan jari-jari yang sangat kecil. Hal ini diakibatkan oleh
adanya tegangan adhesi yang bekerja pada permukaan tabung.
Besarnya tegangan adhesi dapat diukur dari kenaikkan fluida , dimana
gaya total untuk menaikan cairan sama dengan berat kolom fluida.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan kapiler merupakan
kecenderungan rongga pori batuan untuk menata atau mengisi setiap
pori

batuan

dengan

fluida

yang

berisi

bersifat

membasahi.

Tekanan didalam tabung kapiler diukur pada sisi batas antara


permukaan dua fasa fluida. Fluida pada sisi konkaf (cekung)
mempunyai tekanan lebih besar dari pada sisi konvek (cembung).
Perbedaan tekanan diantara dua fasa fluida tersebut merupakan
besarnya tekanan kapiler didalam tabung.

32

Gambar 2.9. Tekanan Dalam Pipa Kapiler (Ahmed, Tarek H,Reservoir


Engineering_2E. 1946)

Untuk sistem udara-air :

Pa Pw = Pc =

w . g . h

............................................................(2-19)

Untuk sistem minyak-air:

Pa Pw = Pc = (

Dimana :

Pa

w o . g . h

..................................................(2-20)

= Tekanan udara, dyne/cm2

33

2.2.

Pw

= Tekanan air, dyne/cm2

Pc

= Tekanan kapiler, dyne/cm2

= Densitas air, gr/cc

= Densitas minyak, gr/cc

= Percepatan gravitasi, m/det2

= Tinggi kolom, m

Karakteristik Fluida Reservoir


Fluida reservoir yang tedapat dalam ruang pori-pori batuan reservoir
pada tekanan dan temperatur tertentu, secara alamiah merupakan
campuran yang sangat kompleks dalam susunan atau komposisi kimianya.
Sifat-sifat dari fluida hidrokarbon perlu dipelajari untuk memperkirakan
cadangan akumulasi hidrokarbon, menentukan laju aliran minyak atau gas
dari rservoir menuju dasar sumur mengontrol gerakan fluida dalam
reservoir dan lain-lain.
Fluida reservoir dapat berupa hidrokarbon dan air (air formasi).
Hidrokarbon terbentuk di alam, dapat berupa gas, zat cair ataupun zat
padat. Sedangkan air formasi merupakan air yang dijumpai bersama-sama
dengan endapan minyak.
Setiap reservoir yang ditemukan, akan diperoleh sekelompok molekul
yang terdiri dari elemen kimia Hidrogen (H) dan Karbon (C). Minyak dan
gas bumi terdiri dari kedua elemen ini, yang mempunyai proporsi yang
beraneka ragam. Apabila ditemukan deposit hidrokarbon disuatu tempat,

34

akan sangat jarang dapat ditemukan di tempat lain dengan komposisi yang
sama, karena daerah pembentukkannya berbeda.
2.2.1. Sifat Sifat Fisik Fluida Reservoir
Fluida reservoir terdiri dari fluida hidrokarbon dan air formasi.
Hidrokarbon sendiri terdiri dari fasa cair (minyak bumi) maupun fasa gas,
tergantung pada kondisi (tekanan dan temperatur) reservoir yang
ditempati. Perubahan kondisi reservoir akan mengakibatkan perubahan
fasa serta sifat fisik fluida reservoir.
Fluida minyak bumi dijumpai dalam bentuk cair, sehingga sesuai
dengan sifat cairan pada umumnya. Pada fasa cair, jarak antara molekulmolekulnya relatif lebih kecil daripada gas. Sifat-sifat minyak bumi yang
akan dibahas adalah densitas dan spesifik grafiti, viskositas, faktor volume
formasi, kelarutan gas, dan kompressibilitas.

2.2.1.1.Sifat Fisik Gas


Gas bumi merupakan campuran dari hidrokarbon golongan parafin
terdiri dari C1 sampai C4 tiap molekulnya. Tetapi sering ditemukan gas
bumi yang mengandung hidrokarbon dengan berat molekul lebih besar
dari molekul C1 sampai C4.
Disamping senyawa hidrokarbon, gas bumi juga mengandung CO2,
N2, H2S, He dan uap air. Pada umumnya proses terbesar pembentuk gas
bumi adalah komponen methana yang dapat mencapai 98%.
Sifat fisik gas yang akan dibahas disini adalah densitas, viskositas,
faktor volume formasi gas dan kompresibilitas gas. Sifat-sifat ini memberi
peranan dalam perkiran-perkiraan reservoir yaitu sebagai berikut:

35

a) Specific gravity Gas


Specific gravity Gas adalah perbandingan antara berat molekul gas
tersebut terhadap berat molekul udara kering pada tekanan dan
temperatur yang sama. Ada dua hukum tentang specific gravity gas,
yaitu hukum efusi/difusi dari Graham dan hukum Avogadro.
Hukum efusi/difusi menyatakan bahwa laju efusi dan difusi dua
gas pada temperatur dan tekanan yang sama berbanding terbalik
dengan akar kuadrat massa jenisnya. Adapun persamaannya adalah :
v 1 d 2
=
v 2 d 1 .................................................................................(2-21)

Dimana :
v = kecepatan efusi/difusi gas
d = densitas gas.
Hukum Avogadro mengatakan bahwa kondisi tekanan, temperatur
dan volume tertentu, massa jenis gas berbanding lurus dengan berat
molekulnya, atau secara matematis dinyatakan sebagai berikut :
d1 M 1
=
d 2 M 2 ..................................................................................(2-22)

Dimana :
d = densitas gas.
M = berat molekul gas
Didalam specific gravity gas memiliki faktor deviasi gas, biasanya
dinamakan dengan gas ideal. Suatu gas ideal adalah fluida yang :

36

1.

Memiliki

volume

dari

molekul

relatif

dapat

diabaikan

2.

dibandingkan dengan volume dari fluida secara menyeluruh.


Tidak memiliki gaya tarik atau gaya tolak antara sesama molekul
atau antara molekul dengan dinding dari tempat dimana gas itu

3.

berada.
Semua tumbukan dari molekul elastis murni, yang berarti tidak
ada kehilangan energi dalam akibat tubrukan tadi.
Dasar untuk menggambarkan suatu gas ideal adalah hukum gas,
antara lain hukum Boyle, hukum Charles dan hukum Avogadro. Dari
gabungan antara ke tiga hukum tersebut, didapat persamaan
kesetimbangan :
P.V = n.R.T.....................................................................................(2-23)
Dimana : P

= Tekanan, psia

= Volume, cuft

= Temperatur, oR

= Jumlah mol gas

= Konstanta, 10.732 psia cuft/lb-mol oR

Faktor deviasi gas adalah perbandingan antara volume gas pada


keadaan tekanan dan temperatur sebenarnya dibagi dengan volume gas
pada keadaan ideal/standar.
Sehingga persamaan kesetimbangan :
P.V = Z.n.R.T.................................................................................(2-24)
Harga faktor deviasi gas tergantung dari perubahan tekanan,
temperatur atau komposisi gas. Katz dan Standing telah menghasilkan
grafik korelasi :

37

Z = f (Ppr, Tpr)...............................................................................(2-25)
Dimana Persamaannya adalah :
Ppr

= P/Ppc

Tpr

= T/Tpc

Tpc

= yi. Tci,

Ppc

= yi. Pci.

Dimana :
yi

= fraksi mol komponen i

Tci

= temperatur kritis komponen ke I, oR

Pci

= tekanan kritis komponen ke I, psia

b) Faktor Volume Formasi Gas (Bg)


Faktor

volume

formasi

gas

(Bg)

didefinisikan

sebagai

perbandingan volume gas dalam kondisi reservoir dengan volume gas


dalam kondisi permukaan. Adapun persamaannya penentuan factor
volume formasi gas (Bg) dengan asumsi menggunakan Tsc = 520 oR
dan Psc = 14.7 psia serta Zsc = 1, maka persamaan faktor volume
formasi gas (Bg) adalah :

Bg =

0.0283. Z . T Ft 3
P
scf

( ) atau Bg =

0.00504 . Z . T bbl
(
)
P
scf ....(2-26)

c) Kompressibilitas Gas (Cg)


Kompressibilitas isothermal dari gas diukur dari perubahan volume
per unit volume dengan perubahan tekanan pada temperatur konstan.
Adapun persamaan kompressibilitas gas adalah :

Gas ideal :

C=

P nRT
1
=
2
nRT
P
P

......................................(2-27)

38

1
1
C=
P
Z
Gas nyata :
Z( ) ................................................(2-28)
P

d) Viskositas Gas (g)


Viskositas adalah gesekan dalam fluida (resistance) untuk
mengalir. Jika gesekan antara lapisan fluida kecil (low viscosity), gaya
shearing yang ada akan mengakibatkan gradien kecepatan besar
sehingga mengakibatkan fluida untuk bergerak. Jika viskositas
bertambah maka masing-masing lapisan fluida mempunyai gaya gesek
yang besar pada persinggungan lapisan, sehingga kecepatan akan
menurun.
Viskositas dari fluida didefinisikan sebagai perbandingan shear
force per unit luas dengan gradien kecepatan. Viskositas dinyatakan
dengan Centipoise (cp).
Viscositas dari suatu gas campuran tergantung pada tekanan,
temperatur

dan

komposisi.

Carr-Kobayashi-Burrows

membuat

persamaan yaitu :
1=f ( M ,T )=f ( , T )

=f ( Ppr , Tpr ) ......................................................................(2-29)


1

Dimana :
1 = viskositas pada tekanan 1 atm
= viskositas pada tekanan > 1 atm
e) Densitas Gas (g)

39

Densitas gas (g) didefinisikan sebagai massa gas per satuan


volume. Dari definisi ini kita dapat menggunakan persamaan keadaan
untuk menghitung densitas gas pada berbagai P dan T tertentu, yaitu:
g=

m PM
=
V RT ............................................................................(2-30)

Dimana :
m

= berat gas, lb

= volume gas, cuft

= berat molekul gas, lb/lb mole

= tekanan reservoir, psia

= temperatur, oR

= konstanta gas = 10.73 psia cuft/lbmole oR

2.2.1.2.Sifat Fisik Minyak


Dengan mengetahui sifat-sifat fisik minyak kita dapat memperkirakan
dan merencanakan pemboran, penyelesaian sumur, produksi serta sistem
pengiriman yang efisien dan aman.
a) Densitas Minyak.
Berat jenis minyak atau oil density didefinisikan sebagai
perbandingan berat minyak terhadap volume minyak. Densitas minyak
dinyatakan dengan spesific gravity. Hubungan berat jenis minyak
dengan spesific gravity didasarkan pada berat jenis air, dengan
Persamaan :

SG Minyak =

BJ minyak
.........................................................(2-31)
BJ air

40

Didalam dunia perminyakan, spesific gravity minyak sering


dinyatakan dalam satuan

API (American Petroleum Instute).

Hubungan SG minyak dengan oAPI dapat dirumuskan sebagai berikut :

API =

141.5
131,5
................................................................(2-32)
SG

Harga-harga oAPI untuk beberapa jenis minyak :


- minyak ringan, 30 oAPI
- minyak sedang, berkisar 20 - 30 oAPI
- minyak berat, berkisar 10 - 20 oAPI
b) Viscositas Minyak
Viscositas minyak sangat dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan
jumlah gas yang terlarut dalam minyak tersebut. Hubungan antara
viscositas minyak (o) terhadap tekanan dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Bila tekanan

mula-mula di atas tekanan gelembung, maka

penurunan tekanan akan menyebabkan viscositas minyak berkurang,


karena penambahan volume minyak, berarti gas yang terkandung di
dalam minyak cukup besar. Kemudian bila tekanan diturunkan sampai
tekanan gelembung, maka penurunan tekanan di bawah tekanan
gelembung (Pb) akan menaikkan viscositas minyaknya, karena pada
keadaan ini mulai dibebaskan sejumlah gas dari larutan minyak.
c) Kelarutan Gas Dalam Minyak (Rs)
Kelarutan gas dalam minyak (Rs) didefinisikan sebagai banyaknya
SCF gas yang terlarut dalam 1 STB minyak pada kondisi standart 14.7
psia dan 60 oF, ketika minyak dan gas masih berada dalam tekanan dan
temperatur reservoir.

41

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan gas dalam minyak


antara lain :

Tekanan reservoir
Bila temperatur dianggap tetap maka Rs akan naik bila tekanannya

naik, kecuali jika tekanan gelembung (Pb) telah terlewati.


Temperatur reservoir
Jika tekanan dianggap tetap maka Rs akan turun jika temperatur

naik.
Komposisi gas
Pada tekanan dan temperatur tertentu Rs akan berkurang dengan

naiknya berat jenis gas.


Komposisi minyak
Pada temperatur dan tekanan tertentu Rs akan naik dengan
turunnya

berat

jenis

minyak

atau

naiknya

API

minyak.
Kelarutan gas dalam minyak sangat dipengaruhi oleh cara
bagaimana gas dibebaskan dari larutan hidrokarbon.
d) Faktor Volume Formasi Minyak (Bo)
Faktor volume formasi minyak didefinisikan sebagai volume
dalam barrel pada kondisi reservoir yang ditempati oleh satu stock
tank barrel minyak termasuk gas yang terlarut. Atau dengan kata lain
perbandingan antara volume minyak termasuk gas yang terlarut pada
kondisi reservoir dengan volume minyak pada kondisi standard (14,7
psia, 60oF). Satuan yang digunakan adalah bbl/stb. Istilah faktor
penyusutan atau shrinkage factor sering digunakan sebagai kebalikan
dari harga faktor volume formasi minyak ( Bo).
e) Kompresibilitas Minyak
Kompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan volume
minyak akibat adanya perubahan tekanan. Untuk kompressibilitas
minyak yang berada diatas tekanan gelembung dapat dinyatakan
dengan :

42

Co = -

1 dV
.
V dP ...........................................................................(2-33)

Kompressibilitas minyak jenuh jelas lebih tinggi dibandingkan


dengan minyak tak jenuh, karena adanya penurunan tekanan sebagai
akibat keluarnya gas dari minyak volume total minyak sisa akan
berkurang.
Kompressibilitas minyak dibawah titik gelembung akan membesar
bila dibandingkan dengan ketika berada diatas titik gelembung, hal ini
dapat dijelaskan karena turunnya tekanan, gas akan membebaskan diri
dari larutan. Volume minyak yang tertinggal akan berkurang dengan
turunnya tekanan akibatnya volume fluida hidrokarbon total yang
terdiri dari minyak dan gas alam lambat laun terjadi lebih banyak
seiring

dengan

turunnya

tekanan

dan

ini

menyebabkan

kompressibilitas sistem menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan


kompressibilitas cairan minyaknya sendiri.
2.2.1.3. Sifat Fisik Air Formasi
Air formasi hampir selalu dijumpai bersama-sama dengan endapan
minyak. Sering dijumpai dalam produksi suatu sumur minyak justru
jumlah produksi air formasi lebih besar dari produksi minyaknya. Seperti
pada gas dan minyak, maka sifat-sifat fisik air formasi meliputi : berat
jenis air, viskositas air, faktor volume formasi air, kompresibilitas, dan
kelarutan gas dalam gas.
a) Densitas Air Fomasi (w)
Densitas air formasi adalah massa air murni pada suatu reservoir
dinyatakan dengan massa per satuan volume, specific volume yang
dinyatakan dalam persatuan massa dan specific gravity yaitu densitas
air formasi pada suatu kondisi tertentu yaitu pada tekanan 14.7 psi dan
temperatur 60 oF. Berat jenis formasi (w) pada reservoir dapat

43

ditentukan dengan membagi w pada kondisi standart dengan faktor


volume formasi (Bw) dan perhitungan itu dapat dilakukan bila air
formasi jenuh terhadap gas alam pada kondisi reservoir.
b) Viskositas Air Formasi (w)
Viskositas air formasi akan tergantung pada tekanan, temperatur
dan tingkat salinitas yang dikandung air formasi tersebut. Viskositas
air formasi (w) akan naik terhadap turunnya temperatur dan kenaikan
tekanan. Kegunaan mengenai perilaku kekentalan air formasi pada
kondisi reservoir terutama untuk mengontrol gerakan air formasi di
dalam reservoir.
c) Faktor volume formasi air formasi (Bw)
Faktor volume formasi air formasi (Bw) menunjukkan perubahan
volume air formasi dari kondisi permukaan. Faktor volume formasi air
formasi ini dipengaruhi oleh pembebasan gas dan air dengan turunnya
tekanan, penambahan air dengan turunnya tekanan dan penyusutan air
dengan turunnya suhu.
d) Kompressibilitas Air Formasi (Cw)
Kompressibilitas air formasi didefinisikan sebagai perubahan
volume air formasi yang disebabkan oleh adanya perubahan tekanan
yang mempengaruhinya. Kompressibilitas air murni tergantung pada
suhu, tekanan, dan kelarutan gas dalam air.
Kompressibilitas air formasi dapat ditentukan dengan persamaan
sebagai berikut :
Cw = Cwp (1 + 0.0088 Rsw).........................................................(2-34)
dimana : Rsw
Cwp

= kelarutan gas dalam air formasi


= kompressibilitas air murni, psi-1

44

Cw

= kompressibilitas air formasi, psi-1

e) Kelarutan Gas dalam Air Formasi


Kelarutan gas dalam air formasi akan lebih kecil bila dibandingkan
dengan kelarutan gas dalam minyak di reservoir pada tekanan dan
temperatur yang sama. Pada temperatur tetap, kelarutan gas dalam air
formasi akan naik dengan naiknya tekanan. Sedangkan pada tekanan
tetap, kelarutan gas dalam air formasi mula-mula menurun sampai
harga minimum kemudian naik lagi terhadap naiknya suhu, dan
kelarutan gas dalam air formasi akan berkurang dengan bertambahnya
kadar garam, dengan demikian kelarutan gas dalam air formasi juga
dipengaruhi oleh kegaraman air formasi, maka harga kelarutan gas
dalam air formasi perlu dikoreksi.

45

2.2.2. Komposisi Kimia Fluida Reservoir


Fluida reservoir terdiri dari hidrokarbon dan air formasi. Hidrokarbon
terbentuk di alam, dapat berupa gas, zat cair maupun zat padat. Sedangkan
air formasi merupakan air yang dijumpai bersama sama dengan endapan
minyak.
Sedangkan hidrokarbon sendiri, selain mengandung hydrogen (H) dan
karbon (C) juga mengandung unsur unsur senyawa lain terutama
belerang, nitrogen dan oksigen.
2.2.2.1.

Komposisi Kimia Hidrokarbon


Bentuk dari senyawa hidrokarbon merupakan senyawa alamiah yaitu
dapat berupa gas, cair atau padatan tergantung dari komposisinya yang
khusus serta tekanan dan temperatur yang mempengaruhinya. Endapan
hidrokarbon yang berbentuk cair dikenal sebagai minyak bumi, sedangkan
yang berbentuk gas dikenal sebagai gas bumi.
Hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri dari atom karbon dan
hydrogen. Senyawa karbon dan hydrogen mempunyai banyak variasi yang
berdasarkan jenis rantai ikatannya dibagi menjadi dua golongan yaitu :
a) Golongan Asiklik (Parafin)
Hidrokarbon jenis ini mempunyai rantai ikatan antar atom yang
terbuka, terdiri dari hidrokarbon jenuh dan hidrokarbon tak jenuh.
b) Golongan Siklik
Sedangkan hidrokarbon golongan siklik mempunyai rantai tertutup
(susunan cincin). Golongan ini terdiri dari naftena dan aromatic.
Keluarga hidrokarbon dikenal sebagai seri homolog, anggota dari seri
homolog ini mempunyai struktur kimia dan sifat sifat fisiknya dapat
diketahui dari hubungan dengan anggota deret lain yang sifat fisiknya
sudah diketahui. Sedangkan pembagian tingkat dari seri homolog tersebut
didasarkan pada jumlah atom karbon pada struktur kimianya.

2.2.2.2.

Komposisi Kimia Non-Hidrokarbon

46

Selain mengandung unsur hydrogen dan karbon (HC), pada minyak


bumi juga terdapat komposisi unsur belerang, nitrogen, oksigen serta
unsur unsur lain dengan presentase yang sedikit.
a) Senyawa Belerang
Kadar belerang dalam minyak bumi bervariasi anatara 4% sampai 6%
beratnya. Kandungan minyak bumi yang terdapat di Indonesia
merupakan minyak bumi yang mempunyai kadar belerang relatif
rendah yaitu rata rata 1%. Distribusi belerang dalam fraksi fraksi
minyak bumi akan bertambah sesuai dengan bertambahnya berat
fraksi. Kandungan senyawa belerang dalam minyak bumi dapat
menyebabkan pencemaran udara da korosi. Pencemaran udara tersebut
disebabkan oleh bau yang tidak sedap dari jenis jenis belerang yang
mempunyai titik didih rendah seperti hydrogen sulfit, belerang dioksit
dan merkaptan. Disamping menimbulkan bau, jenis belerang tersebut
juga beracun. Sedangkan pembentukan korosi oleh belerang dapat
terjadi pada temperatur diatas 300oF. jenis jenis belerang dengan titik
didih rendah, pada kondisi udara lembab akan merubah besi menjadi
besi sulfit yang rapuh.
b) Senyawa Oksigen
Kadar oksigen dalam minyak bumi bervariasi antara 1% sampai 2%
beratnya. Peningkatan kadar oksigen dalam minyak bumi dapat terjadi
karena kontak minyak bumi dan udara. Hal ini disebabkan adanya
proses oksidasi minyak bumi dengan oksigen dari udara. Dalam
minyak bumi oksigen terdapat sebagai asam organic yang terdistribusi
dalam semua fraksi dengan konsentrasi tertinggi pada fraksi gas. Asam
organic tersebut biasanya berupa asam naftenat dan sebagian kecil
lainnya berupa asam alifatik. Asam naftenat mempunyai bau yang
tidak enak dan bersifat korosif.
c) Senyawa Nitrogen

47

Kadar nitrogen dalam minyak bumi pada umumnya rendah dan


bervariasi pada kisaran 0.1% sampai 2% beratnya. Senyawa nitrogen
terdapat dalam semua fraksi minyak bumi, dengan konsentrasi yang
semakin tinggi pada fraksi fraksi yang mempunyai titik didih yang
lebih tinggi. senyawa nitrogen yang sering terdapat dalam minyak
bumi antara lain adalah piridin, qinoloin, indol dan karbosol.

2.2.2.3.

Komposisi Kimia Air Formasi


Air formasi atau disebut dengan connate water mempunyai komposisi
kimia yang berbeda beda antara reservoir yang satu dengan yang
lainnya. Oleh karena itu analisa kimia pada air formasi perlu sekali
dilakukan dengan menentukan jenis dan sifat sifatnya. Jika dibandingkan
dengan air laut maka air formasi ini rata rata memiliki kadar garam yang
lebih tinggi, sehingga studi mengenai ion ion air formasi dan sifat sifat
fisiknya ini menjadi penting karena kedua hal tersebut sangat berhubungan
dengan terjadinya penyumbatan pada formasi dan korosi pada peralatan
dibawah dan diatas permukaan.
Air tersebut terdiri dari bahan bahan mineral, misalnya kombinasi
metal metal alkali dan alkali tanah, belerang, oksida besi dan
alumunium. Sedangkan komposisi ion ion penyusun air formasi terdiri
dari kation kation Ca, Mg, Fe, Ba dan anion anion chloride, CO3,
HCO3 dan So4. Tabel dibawah menunjukkan contoh hasil analisa air
formasi suatu reservoir.

48

Tabel 2.2. Contoh Hasil Analisa Kandungan Air Formasi

Konstituen
Na
Ca
Mg
Fe
Cl
HCO3
SO4
CO3
Total

Hasil Analisa (ppm)


6.715
549
51
0
11.172
295
181
0
18,813

(Sumber, Fanny Septia Lesmana, 2012)

Kation kation yang terkandung dalam air formasi dapat


dikelompokkan sebagai berikut :
Alkali : K+, Na+, dan Li+ yang membentuk
basa kuat.
Metal Alkali Tanah

: Br++, Mg++, Ca++, Sr+

, Ba++ membentuk basa lemah.


Ion Hidrogen : OH+
Metal Berat : Fe++, Mn++
Sedangkan anion anion yang terkandung di dalam air formasi adalah
sebagai berikut:
Asam Kuat
Asam Lemah

: Cl-, SO4-, NO3: CO3-, HCO3-, S-

49

Ion ion tersebut diatas yaitu kation dan anion akan tergabung
berdasarkan beberapat sifat yaitu:
1. Salinitas Primer
Yaitu bila alkali bereaksi dengan asam kuat misalnya NaCl dan
Na2SO4-.
2. Salinitas Sekunder
Yaitu bila alkali tanah bereaksi dengan asam kuat misalnya CaCl 2,
MgCl2, CaSO4, MgSO4.
3. Alkalinitas Primer
Yaitu apabila alkali bereaksi dengan asam lemah seperti Na 2CO3 dan
Na(HCO3)2
4. Alkalinitas Sekunder
Yaitu bila alkali tanah bereaksi dengan asam lemah seperti CaCO3,
MgCO3, Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2.

2.3.

Kondisi Reservoir
Kondisi reservoir terdiri dari tekanan dan temperatur reservoir, kedua
besaran ini merupakan besaran yang sangat berpengaruh terhadap batuan
reservoir maupun fluida yang dikandungnya (air, minyak dan gas).
Kondisi reservoir berhubungan dengan kedalaman reservoir sehingga
untuk reservoir yang berbeda kondisinya juga akan berbeda tergantung
kedalamannya, pada umumnya bersifat linier walaupun sering terjadi
penyimpangan.

2.3.1. Tekanan Reservoir


Konsep tekanan adalah gaya persatuan luas yang diterapkan oleh suatu
fluida, hal ini adalah konsep mekanik dari tekanan. Tekanan itu
disebabkan oleh benturan diantara berbagai molekul fluida pada dinding
tersebut disetiap detik. Tekanan merupakan sumber energi yang
menyebabkan fluida dapat bergerak.
Ada dua hal yang berlawanan yang perlu diperhatikan yaitu pada suatu
interval tertentu tekanan akan naik hingga stabil tetapi dengan
bertambahnya waktu maka tekanan akan turun kembali. Hal ini

50

disebabkan karena adanya gangguan atau karena pengaruh interferensi


sumur disekitarnya yang sedang berproduksi, sehingga tekanan tersebut
tidak stabil. Dengan alasan tersebut maka tekanan dasar sumur biasanya
diukur dalam interval waktu tertentu, kemudian tekanan yang didapat dari
hasil pengukuran diplot dan diekstrapolasikan untuk mendapatkan tekanan
static dari sumur tersebut.
a) Tekanan hidrostatik
Yaitu tekanan yang disebabkan adanya gaya kapiler yang besarnya
dipengaruhi oleh tegangan permukaan dan sifat-sifat kebasahan batuan
oleh fluida (terutama air) yang mengisi pori-pori batuan di atasnya.
Tekanan hidrostatik juga merupakan suatu tekanan yang timbul
akibat adanya desakan oleh ekspansi gas dan desakan oleh gas yang
membebaskan diri dari larutan akibat penurunan tekanan selama proses
produksi berlangsung.
b) Tekanan Overburden
Tekanan overburden adalah tekanan yang diderita oleh formasi
karena beban (berat) batuan di atasnya yang berada di atas suatu
kedalaman tertentu tiap satuan luas. Gradient tekanan overburden
adalah 1 psi/ft, yaitu diambil dengan menganggap berat jenis batuan
rata rata 2.3 dari berat jenis air. Sedangkan besarnya gradient tekanan
air adalah 0.433 psi/ft maka gradient tekanan overburden sebesar 2.3 x
0.433 psi/ft = 1 psi/ft.
Tekanan awal reservoir adalah tekanan reservoir pada saat pertama
kali diketemukan. Tekanan dasar sumur yang sedang berproduksi
disebut tekanan aliran (flowing) sumur. Kemudian jika sumur tersebut
ditutup maka selang waktu tertentu akan didapat tekanan statik sumur.

51

c) Tekanan Rekah
Tekanan rekah adalah tekanan hidrostatik maksimum yang dapat
ditahan oleh formasi tanpa menyebabkan terjadinya pecah formasi
tersebut. Besarnya gradient tekanan rekah dipengaruhi oleh tekanan
overburden, tekanan formasi dan kondisi kekuatan batuan. mengetahui
gradient tekanan rekah sangat berguna ketika meneliti kekuatan dasar
casing.
Tekanan rekah dapat diintreprestasikan pada sebuah hasil log
gradient, tekanan rekah dapat ditentukan memakai prinsip leak of
test yaitu memberikan tekanan sedikit sedikit sedemikian rupa
sampai terlihat tanda tanda formasi akan pecah dengan ditunjukkan
kenaikan tekanan terus menerus dan tiba tiba menurun drastis.
d) Tekanan Normal
Tekanan formasi normal adalah suatu tekanan formasi dimana
tekanan hidrostatik fluida formasi dalam keadaan normal sama dengan
tekanan kolom cairan yang ada dalam dasar formasi sampai ke
permukaan. Bila isi dari kolom yang terisi dengan cairan yang berbeda
maka besar tekanan hidrostatik akan berbeda.
Gradient tekanan berhubungan dengan lingkungan pengendapan
geologi. Karena pada umumnya sedimen diendapkan pada lingkungan
air garam, maka banyak tempat didunia ini mempunyai gradient
tekanan antara 0.433 psi/ft sampai 0.465 psi/ft. jadi formasi yang
mempunyai gradient tekanan formasi antara 0.433 psi/ft sampai 0.465
psi/ft merupakan tekanan normal.

52

e) Tekanan Subnormal
Tekanan formasi subnormal adalah formasi yang mempunyai
gradient tekanan dibawah 0.433 psi/ft. tekanan subnormal diakibatkan
adanya rekahan rekahan batuan atau adanya gaya diatrophisma
(penekanan batuan dan isinya oleh gaya pada kerak bumi). Mekanisme
terjadinya tekanan subnormal dapat diuraikan sebagai berikut:
Thermal Expansion
Karena batuan sedimen dan fluida dalam pori dipengaruhi oleh
adanya temperatur, jika fluida mengalami penambahan maka

densitas akan berkurang dan juga tekanan akan berkurang.


Formation Foreshortening (Pengkerutan Formasi)
Selama kompresi aka nada beberapa lapisan yang melengkung
perlapisan teratas melengkung keatas sementara perlapisan
terbawah

melengkuh

mengembang

sehingga

kebawah

sedangkan

lapisan

tengah

dapat

menghasilkan

zona

tekanan

subbormal. Pada kondisi ini juga menyebabkan terjadinya


overpressure pada lapisan teratas dan terbawah.
f) Tekanan Abnormal
Tekanan abnormal adalah tekanan formasi yang mempunyai
gradient tekanan lebih besar dari harga 0.465 psi/ft. Tekanan abnormal
tidak mempunyai komunikasi tekanan secara bebas sehingga
tekanannya tidak akan cepat terdistribusi dan kembali menuju tekanan
normalnya. Tekanan abnormal berkaitan dengan sekat (seal) terbentuk
dalam suatu periode sedimentasi, kompaksi atau tersekatnya fluida
didalam suatu lapisan yang dibatasi oleh lapisan yang permeabilitasnya
sangat rendah.
Pada proses kompaksi normal, mengecilnya volume pori akibat
dari pertambahan berat beban diatasnya dapat mengakibatkan fluida
yang ada didalam pori terdorong keluar dan mengalir ke segala arah
menuju formasi disekitarnya. Berat batuan diatasnya akan ditahan oleh
partikel pertikel sedimen. Kompaksi normal pada umunya
menghasilkan suatu gradient tekanan formasi yang normal.

53

Kompaksi abnormal akan terjadi jika pertambahan berat beban


diatasnya tidak menyebabkan berkurangnya ruang pori. Ruang pori
tidak mengecil karena fluida didalamnya tidak bisa terdorong keluar.
Tersumbatnya fluida didalam ruang pori disebabkan karena formasi itu
terperangkap didalam formasi lain yang menyebabkan permeabilitas
sangat kecil.

2.3.2. Temperatur Reservoir


Berdasakan anggapan bahwa inti bumi berisi magma yang sangat panas maka
degan bertambahnya kedalaman suatu reservoir maka temperaturnya akan naik.
Besar kecil nya kenaikan temperatur ini akan tergantung pada gradient
temperaturnya yang biasa disebut sebagai gradient geothermis yang dipengaruhi
oleh jauh dekatnya dari pusat magma. Besarnya gradient geothermis ini bervariasi
dari satu tempat ke tempat lainnya, dimana harga rata ratanya adalah 2 oF/100 ft
sedangkan gradient geothermis yang tertinggi adalah 4oF/100 ft, dan harga
gradient geothermis yang terendah adalah 0.5oF/100 ft. variasi terkecil gradient
gethermis tersebut disebabkan oleh sifat konduktivitas thermal beberapa jenis
batuan.
Besarnya gradient geothermis dari suatu daerah dapat dicari dengan
persamaan :

Gradien Geothermal =

T formasi T standart
Kedalaman Formasi .................................(2-35)

Harga gradien geotermal berkisar antara 1.11oF/100 ft sampai 2oF/100


ft. Seperti diketahui temperatur sangat berpengaruh terhadap sifat sifat
fisik fluida reservoir. Hubungan temperatur terhadap kedalaman dapat
dinyatakan sebagai berikut :

54

Td = Ta + Gt x D....................................................................................(2-36)
Dimana

: Td

= Temperatur reservoir pada kedalaman D ft,oF

Ta

= Temperatur pada permukaan, oF

Gt

= Gradien temperatur, oF

= Kedalaman, ratusan ft

Pengukuran temperatur formasi dilakukan setelah komplesi sumur,


dengan melakukan drill steam test. Temperatur formasi ini dapat dianggap
konstan, kecuali bila dilakukan proses stimulasi, Karena adanya proses
pemanasan.

2.4.

Jenis Jenis Reservoir


Reservoir adalah tempat terakumulasinya minyak bumi, seperti yang
kita ketahui jenis jenis reservoir terbagi menjadi tiga bagian yaitu
berdasarkan fasa fluida, berdasarkan perangkap reservoir dan berdasarkan
mekanisme pendorong.

2.4.1. Berdasarkan Perangkap Reservoir


Perangkap reservoir adalah suatu lapisan kedap air (impermeable)
yang membatasi gerakan migas, dimana migas yang masuk ke lapisan
tersebut tidak dapat keluar sehingga terperangkap/terjebak di sana. Ada
tiga jenis reservoir berdasarkan perangkap nya yaitu perangkap struktur,
perangkap stratigrafi dan perangkap kombinasi.

55

Gambar 2.10. Perangkap Hidrokarbon (Fagan, Alphonsus. An Introduction to the


Petroleum Industry.1991)

a) Perangkap Struktur
Perangkap Struktur merupakan perangkap yang paling orisinil dan
sampai dewasa ini merupakan perangkap yang paling penting.
Berbagai unsur perangkap yang membentuk lapisan penyekat dan
lapisan reservoir, sehingga dapat menjebak hidrokarbon, disebabkan
karena gejala tektonik atau struktur, misalnya pelipatan dan patahan.
Perangkap yang disebabkan perlipatan merupakan perangkap
utama. Unsur yang mempengaruhi perangkap ini adalah lapisan
penyekat dan penutup yang berada diatasnya dan dibentuk sedemikian
sehingga minyak tidak dapat lagi kemana mana. Untuk mengevaluasi
suatu perangkap lipatan terutama mengenai ada tidaknya tutupan
(batas maksimal wadah dapat diisi oleh fluida), sehingga tidak masalah
jika lipatan tersebut ketat atau landau yang terpenting adalah adanya
batuan penutup atau cap rock. Apabila suatu lipatan terbentuk tanpa
adanya batuan penutup atau cap rock tidak dapat disebut suatu
perangkap.

56

Perangkap patahan sering juga terdapat dalam berbagai reservoir


minyak dan gas. Gejala patahan (sesar) dapat bertindak sebagai unsur
penyekat dalam penyaluran minyak. Sering dipermasalahkan apakah
patahan itu merupakan penyekat atau penyalur. Secara teoritis,
memperlihatkan bahwa patahan dalam batuan yang basah air
tergantung pada tekanan kapiler dari medium dalam jalur patahan
tersebut. Besar kecilnya tekanan yang disebabkan oleh pelampungan
minyak atau kolom minyak terhadap besarnya tekanan kapiler,
menentukan sekali apakah patahan itu bertindak sebagai penyalur atau
penyekat. Jika tekanan tersebut lebih besar daripada tekanan kapiler
maka minyak masih dapat tersalurkan melalui patahan, tetapi jika lebih
kecil maka patahan tersebut bertindak sebagai suatu penyekat. Patahan
yang berdiri sendiri tidaklah dapat membentuk suatu perangkap.
Dalam prakteknya jarang sekali terdapat perangkap patahan yang
murni. Patahan biasanya hanya merupakan suatu pelengkungan dari
suatu perangkap struktur.
b) Perangkap Stratigrafi
Levorsen (1958), mengemukakan bahwa perangkap stratigrafi
adalah suatu istilah umum untuk perangkap yang terjadi karena
berbagai variasi lateral dalam litologi suatu lapisan reservoir atau
penghentian dalam kelanjutan penyaluran minyak dalam bumi.
Prinsip perangkap stratigrafi adalah bahwa minyak dan gas bumi
terjebak dalam perjalannya keatas terhalang dari segala arah terutama
dari bagian atas dan pinggir, karena batuan reservoir menghilang atau
berubah fasies menjadi batuan lain.
Pada hakekatnya perangkap stratigrafi didapatkan karena letak
posisi struktur tubuh batuan sedemikian sehingga batas lateral tubuh
tersebut merupakan penghalang permeabilitas ke arah atas atau ke
pinggir. Jika tubuh batuan reservoir itu kecil dan sangat terbatas, maka
posisi struktur tidak begitu penting karena seluruhnya atau sebagian

57

besar dari tubuh tersebut merupakan perangkap. Posisi struktur hanya


menyesuaikan letak hidrokarbon pada bagian tubuh reservoir. Jika
tubuh reservoir memanjang atau meluas, maka posisi struktur sangat
penting. Perangkap tidak akan terjadi jika tubuh reservoir berada
dalam keadaan horizontal. Jika bagian tengah tubuh terlipat, maka
perangkap yang terhadi adalah perangkap struktur (antiklin). Untuk
terjadinya perangkap stratigrafi, maka posisi struktur lapisan reservoir
harus sedemikian sehingga salah satu batas lateral tubuh reservoir
(yang dapat berupa unsur tadi) merupakan penghalang permeabilitas
ke atas.
c) Perangkap Kombinasi
Perangkap hidrokarbon banyak yang merupakan perangkap
kombinasi antara perangkap struktur dengan perangkap stratigrafi
dimana setiap unsur struktur merupakan faktor bersama dalam
membatasi bergeraknya minyak dan gas.

2.4.2. Berdasarkan Fasa Fluida Hidrokarbon


Secara kimiawi, minyak dan gas bumi terdiri dari molekul-molekul
yang tersusun dari unsur kimia hidrogen (H) dan karbon (C) dengan ikatan
kimia tertentu. Komposisi ikatan molekul-molekul tersebut dapat berbeda
satu sama lain yaitu mempunyai proporsi yang beraneka ragam. Suatu
jenis hidrokarbon yang ditemukan di suatu tempat, akan sangat jarang
dapat ditemukan di tempat lain dengan komposisi yang sama persis.
Selanjutnya, komponen hidrokarbon juga dapat terbentuk menjadi ikatan
yang sangat rumit. Tergantung ikatan antara atom-atom C dan H,
hidrokarbon dapat berupa hidrokarbon ringan, seperti gas, atau dapat pula
berupa minyak berat. Semakin banyak komponen ringan yang terbentuk
maka semakin banyak gas yang akan dihasilkan. Sebaliknya, semakin

58

banyak komponen berat yang terbentuk, maka semakin banyak minyak


yang akan dihasilkan.
Keberadaan fasa hidrokarbon apakah itu berupacairan, yaitu minyak,
atau gas tergantung pada tekanan reservoir. Jika tekanan berubah maka
keberadaan fasa juga berubah. Bila tekanan naik, maka molekul tertekan
untuk bersatu bersama-sama sehingga cenderung untuk menjadi cairan.
Sebaliknya bila tekanan berkurang, maka gas akan mengembang dan
cairan akan menguap dan berubah menjadi gas. Keberadaan fasa
hidrokarbon juga dipengaruhi oleh temperatur. Bila temperatur naik, maka
molekul mendapat energi kinetik yang tinggi, sehingga terjadi
kecenderungan cairan untuk menjadi gas. Sebaliknya bila temperatur
turun, maka terjadi kondensasi dimana gas menjadi cairan. Karena
perubahan tekanan dan temperatur tersebut maka dapat terjadi perubahan
fasa selama perjalanan hidrokarbon dari reservoir ke permukaan pada
waktu hidrokarbon tersebut diproduksikan. Keadaan ini biasanya
digambarkan oleh yang apa yang disebut dengan diagram fasa. Dengan
diagram fasa ini maka reservoir dapat dibagi menjadi beberapa jenis
tergantung keberadaan fluidanya, yaitu:

Reservoir minyak

Reservoir gas

Reservoir kondensat

59

Gambar
2.11.

Diagram

Fasa P

vs T
(McCain,

William D., Jr. The Properties Of Petroleum Fluids Second Edition. 1993)

Fluida reservoir diklasifikasi berdasarkan beberapa parameter yaitu:

GOR pada saat awal produksi

API Gravity

Warna dari fluida ketika di stock tank


Berikut ini gambar tabel matriks klasifikasi fluida reservoir

berdasarkan beberapa parameter :

Gambar 2.12. Tabel klasifikasi Fluida Reservoir (McCain, William D., Jr. The
Properties Of Petroleum Fluids Second Edition. 1993)

60

Dari tabel diatas diketahui bahwa jenis fluida reservoir adalah sebagai
berikut:
1. Black Oil
Fluida terdiri dari rantai hidrokarbon yang besar, berat dan tidak
mudah menguap. Hal ini dapat dilihat dari diagram fasanya (Gambar
1), pada diagram fasa tersebut dapat dilihat bahwa Temperatur Kritis
(Tc) lebih besar daripada Temperatur reservoir (Tr). Pada saat Pr lebih
tinggi dari Pb, fluida dalam kondisi tak jenuh (undersaturated) dimana
pada kondisi ini minyak dapat mengandung banyak gas. Ketika
tekanan reservoir (Pr) turun dan dibawah tekanan gelembung (Pb)
maka fluida akan melepaskan gas yang dikandungnya dalam reservoir
hanya saja pada separator jumlah cairan yang dihasilkan masih lebih
besar.

Gambar 2.13. Diagram Fasa Black Oil (McCain, William D., Jr. The Properties Of
Petroleum Fluids Second Edition. 1993)

2. Volatile Oil
Terdiri dari rantai hidrokarbon ringan dan intermediate sehingga
mudah menguap. Temperatur kritis (Tc) lebih kecil daripada black oil
bahkan hampir sama dengan Temperatur reservoirnya (Tr). Rentang
harga temperatur cakupannya lebih kecil dibandingkan black oil.
Penurunan sedikit tekanan selama masa produksi akan mengakibatkan
pelepasan gas cukup besar di reservoir. Jumlah liquid yang dihasilkan
pada separator lebih sedikit dibandingkan black oil. Gambar dibawah

61

menunjukan sifat dari fluida jenis Volatile Oil (minyak yang mudah
menguap).

Gambar 2.14. Diagram Fasa Volatile Oil (McCain, William D., Jr. The Properties
Of Petroleum Fluids Second Edition. 1993)

3. Retrograte Gas
Pada kondisi awal reservoir fluida berbentuk fasa gas, dengan
seiring penurunan tekanan reservoir maka gas akan mengalami
pengembunan dan terbentuklah cairan direservoir. Diagram fasa dari
retrograde gas (Gamabr 3) memiliki temperatur kritik lebih kecil dari
temperatur

reservoir dan

cricondentherm

lebih

besar

daripada

temperatur reservoir. Cairan yang diproduksi inilah yang disebut


dengan gas kondensat.

Gambar 2.15. Diagram Fasa Retrograte Gas (McCain, William D., Jr. The
Properties Of Petroleum Fluids Second Edition. 1993)

62

4. Wet Gas
Wet gas terjadi semata-mata sebagai gas di dalam reservoir
sepanjang penurunan tekanan reservoir. Jalur tekanan, garis 1-2, tidak
masuk ke dalam lengkungan fasa (Gambar dibawah). Maka dari itu,
tidak ada cairan yang terbentuk di dalam reservoir. Walaupun
demikian, kondisi separator berada pada lengkungan fasa, yang
mengakibatkan sejumlah cairan terjadi di permukaan (disebut
kondensat). Kata wet (basah) pada wet gas (gas basah) bukan berarti
gas tersebut basah oleh air, tetapi mengacu pada cairan hidrokarbon
yang terkondensasi pada kondisi permukaan.

Gambar 2.16. Diagram Fasa Wet Gas (McCain, William D., Jr. The Properties Of
Petroleum Fluids Second Edition. 1993)

5. Dry Gas
Dry

gas

terutama

merupakan

metana

dengan

sejumlah

intermediates. Gambar dibawah menunjukkan bahwa campuran


hidrokarbon semata-mata berupa gas di reservoir dan kondisi separator
permukaan yang normal berada di luar lengkungan fasa. Maka dari itu,
tidak terbentuk cairan di permukaan. Reservoir dry gasbiasanya
disebut reservoir gas.

63

Gambar 2.17. Diagram Fasa Dry Gas (McCain, William D., Jr. The Properties Of
Petroleum Fluids Second Edition. 1993)

2.4.3. Berdasarkan Mekanisme Pendorong


Telah diketahui bahwa minyak bumi tidak mungkin mengalir sendiri
dari reservoirnya ke lubang sumur produksi bila tidak terdapat suatu
energi yang mendorongnya. Kenyataan seperti ini tidak cukup
menjelaskan tentang cara dan sebab-sebab timbulnya masalah saat minyak
bumi diproduksikan.
Jenis reservoir berdasarkan mekanisme pendorong reservoir dibagi
menjadi lima, yaitu : solution gas drive reservoir, gas cap drive reservoir,
water drive reservoir, gravitational segregation drive reservoir, dan
combination drive reservoir.
a. Solution gas drive Reservoir
Reservoir jenis ini disebut solution gas drive disebabkan oleh
karena energi pendesak minyaknya adalah terutama dari perubahan
fasa pada hidrokarbon-hidrokarbon ringannya yang semula merupakan
fasa cair menjadi gas. Kemudian gas yang terbentuk ini ikut mendesak
minyak ke sumur produksinya pada saat penurunan tekanan reservoir
karena produksi tersebut.
Setelah sumur selesai dibor menembus reservoir dan produksi
minyak dimulai, maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar
lubang bor. Penurunan tekanan ini akan menyebabkan fluida mengalir

64

dari reservoir menuju lubang bor melalui pori-pori batuan. Penurunan


tekanan disekitar sumur bor akan menimbulkan terjadinya fasa gas.
Pada saat awal, karena saturasi gas tersebut masih kecil (belum
membentuk fasa yang kontinyu), maka gas tersebut terperangkap pada
ruang antar butiran reservoirnya, tetapi setelah tekanan reservoir
tersebut cukup kecil dan gas sudah terbentuk banyak atau dapat
bergerak maka gas tersebut turut serta terproduksi ke permukaan.
Pada awal produksi, karena gas yang dibebaskan dari minyak
masih terperangkap pada sela-sela pori batuan, maka gas oil ratio
produksi akan lebih kecil jika dibandingkan dengan gas oil ratio
reservoir. Gas oil ratio produksi akan bertambah besar bila gas pada
saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir, hal ini terus-menerus
berlangsung hingga tekanan reservoir menjadi rendah. Bila tekanan
telah cukup rendah maka gas oil ratio akan menjadi berkurang sebab
volume gas di dalam reservoir tinggal sedikit. Dalam hal ini gas oil
ratio dan gas oil produksi reservoirnya harganya hampir sama
reservoir jenis ini pada tahap teknik produksi primernya akan
meninggalkan residual oil yang cukup besar. Produksi air hampirhampir tidak ada karena reservoirnya terisolir, sehingga meskipun
terdapat connate water tetapi hampir-hampir tidak dapat terproduksi.
Efisiensi dari mekanisme pendorong jenis ini tergantung pada
jumlah gas terlarut, sifat fisik batuan dan fluida, dan struktur geologi
reservoir. Karena sifat gas yang secara alami lebih mobile dari
minyak, perolehan minyak dari reservoir jenis ini biasanya kecil,
berkisar antara 10-30% dari OOIP. Reservoir ini merupakan kandidat
yang bagus untuk penerapan injeksi air.

65

Gambar

2.18.
Mekanisme

solution

gas drive

(Asep

Kurnia
Permadi, 2004)

b. Gas Cap Drive Reservoir


Dalam beberapa tempat dimana terakumulasinya minyak bumi,
kadang-kadang pada kondisi reservoirnya komponen-komponen
ringan dan menengah dari minyak bumi tersebut membentuk suatu
fasa gas. Gas bebas ini kemudian melepaskan diri dari minyaknya dan
menempati bagian atas dari reservoir itu membentuk suatu tudung. Hal
ini bisa merupakan suatu energi pendesak untuk mendorong minyak
bumi dari reservoir ke lubang sumur dan mengangkatnya ke
permukaan.
Bila reservoir ini dikelilingi suatu batuan yang merupakan
perangkap, maka energi ilmiah yang menggerakkan minyak ini berasal
dari dua sumber, yaitu ekspansi gas cap dan ekspansi gas yang terlarut
lalu melepaskan diri.
Mekanisme yang terjadi pada gas cap reservoir ini adalah minyak
pertama kali diproduksikan, permukaan antara minyak dan gas akan
turun, gas cap akan berkembang ke bawah selama produksi
berlangsung. Untuk jenis reservoir ini, umumnya tekanan reservoir
akan lebih konstan jika dibandingkan dengan solution gas drive. Hal
ini disebabkan bila volume gas cap drive telah demikian besar, maka
tekanan minyak akan jadi berkurang dan gas yang terlarut dalam
minyak akan melepaskan diri menuju ke gas cap, dengan demikian

66

minyak akan bertambah ringan, encer, dan mudah untuk mengalir


menuju lubang bor.
Kenaikan gas oil ratio juga sejalan dengan pergerakan permukaan
ke bawah, air hampir-hampir tidak diproduksikan sama sekali. Karena
tekanan reservoir relatip kecil penurunannya, juga minyak berada di
dalam reservoirnya akan terus semakin ringan dan mengalir dengan
baik, maka untuk reservoir jenis ini akan mempunyai umur dan
recovery sekitar 20 - 40 %, yang lebih besar jika dibandingkan dengan
jenis solution gas drive. Sehingga residu oil yang masih tertinggal di
dalam reservoir ketika lapangan ini ditutup adalah lebih kecil jika
dibandingkan dengan jenis solution gas drive.

Gambar

2.19.

Mekanisme

gas cap

drive (Asep

Kurnia
Permadi, 2004)

c. Water Drive Reservoir


Untuk reservoir jenis water drive ini, energi pendesakan yang
mendorong minyak untuk mengalir adalah berasal dari air yang
terperangkap bersama-sama dengan minyak pada batuan reservoirnya.
Apabila dilihat dari terbentuknya batuan reservoir water drive,
maka air merupakan fluida pertama yang menempati pori-pori
reservoir. Tetapi dengan adanya migrasi minyak bumi maka air yang
berada disana tersingkir dan digantikan oleh minyak. Dengan demikian
karena volume minyak ini terbatas, maka bila dibandingkan dengan
volume air yang merupakan fluida pendesaknya akan jauh lebih kecil.

67

Gas oil ratio untuk reservoir jenis ini relatip lebih konstan jika
dibandingkan dengan reservoir jenis lainnya. Hal ini disebabkan
karena tekanan reservoir relatip akan konstan karena dikontrol terus
oleh pendesakan air yang hampir tidak mengalami penurunan.
Produksi air pada awal produksi sedikit, tetapi apabila permukaan air
telah mencapai lubang bor maka mulai mengalami kenaikan produksi
yang semakin lama semakin besar secara kontinyu sampai sumur
tersebut ditinggalkan karena produksi minyaknya tidak ekonomis lagi.
Untuk reservoir dengan jenis pendesakan water drive maka bagian
minyak yang terproduksi akan lebih besar jika dibandingkan dengan
jenis pendesakan lainnya, yaitu antara 35 - 75% dari volume minyak
yang ada. Sehingga minyak sisa (residual oil) yang masih tertinggal
didalam reservoir akan lebih sedikit.

Gambar

2.20.

Mekanisme reservoir water drive (Asep Kurnia Permadi, 2004)

d. Gravitational Segregation Drive Reservoir


Gravity drainage atau gravitational segregation merupakan energi
pendorong minyak bumi yang berasal dari kecenderungan gas, minyak,
dan air membuat suatu keadaan yang sesuai dengan massa jenisnya
(karena gaya gravitasi).
Gravity drainage mempunyai peranan yang penting dalam
memproduksi minyak dari suatu reservoir. Sebagai contoh bila
kondisinya cocok, maka recovery dari solution gas drive reservoir bisa
ditingkatkan dengan adanya gravity drainage ini. Demikian pula

68

dengan reservoir-reservoir yang mempunyai energi pendorong


lainnya.
Seandainya dalam reservoir itu terdapat tudung gas primer
(primary gas cap) maka tudung gas ini akan mengembang sebagai
proses gravity drainage tersebut. Reservoir yang tidak mempunyai
tudung gas primer segera akan mengadakan penentuan tudung gas
sekunder (secondary gas cap).
Pada awal dari reservoir ini, gas oil ratio dari sumur-sumur yang
terletak pada struktur yang lebih tinggi akan cepat meningkat sehingga
diperlukan

suatu

program

penutupan

sumur-sumur

tersebut.

Diharapkan dengan adanya program ini perolehannya minyaknya


dapat mencapai maksimum.
Besarnya gravity drainage dipengaruhi oleh gravity minyak,
permeabilitas zona produktip, dan juga dari kemiringan dari
formasinya. Faktor-faktor kombinasi seperti misalnya, viskositas
rendah, specipic gravity rendah, mengalir pada atau sepanjang zona
dengan permeabilitas tinggi dengan kemiringan lapisan cukup curam,
ini semuanya akan menyebabkan perbesaran dalam pergerakan minyak
dalam struktur lapisannya.
Dalam reservoir gravity drainage perembesan airnya kecil atau
hampir tidak ada produksi air. Laju penurunan tekanan tergandung
pada jumlah gas yang ada. Jika produksi semata-mata hanya karena
gas gravitasi, maka penurunan tekanan dengan berjalannya produksi
akan cepat. Hal ini disebabkan karena gas yang terbebaskan dari
larutannya terproduksi pada sumur struktur sehingga tekanan cepat
akan habis.
Recovery yang mungkin diperoleh dari jenis reservoir gravity
drainage ini sangat bervariasi. Bila gravity drainage baik, atau bila laju
produksi dibatasi untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari gaya
gravity drainage ini maka recovery yang didapat akan tinggi. Pernah
tercatat bahwa recovery dari gravity drainage ini melebihi 80% dari

69

cadangan awal (IOIP). Pada reservoir dimana bekerja juga solution


gas drive ternyata recovery-nya menjadi lebih kecil.
e. Combination Drive Reservoir
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa reservoir minyak dapat dibagi
dalam beberapa jenis sesuai dengan jenis energi pendorongnya. Tidak
jarang dalam keadaan sebenarnya energi-energi pendorong ini bekerja
bersamaan dan simultan. Bila demikian, maka energi pendorong yang
bekerja pada reservoir itu merupakan kombinasi beberapa energi
pendorong, sehingga dikenal dengan nama combination drive
reservoir. Kombinasi yang umum dijumpai adalah antara gas cap
drive dengan water drive.
Untuk reservoir minyak jenis ini, maka gas yang terdapat pada gas
cap akan mendesak kedalam formasi minyak, demikian pula dengan
air yang berada pada bagian bawah dari reservoir tersebut. Pada saat
produksi minyak tidak sempat berubah fasa menjadi gas sebab tekanan
reservoir masih cukup tinggi karena dikontrol oleh tekanan gas dari
atas dan air dari bawah. Dengan demikian peristiwa depletion untuk
reservoir jenis ini dikatakan tidak ada, sehingga minyak yang masih
tersisa di dalam reservoir semakin kecil karena recovery minyaknya
tinggi dan effesiensi produksinya lebih tinggi.

2.5.

Heterogenitas Reservoir
Heterogenitas

reservoir

yang

disebabkan

oleh

lingkungan

pengendapan akan berlanjut dengan proses yang mengikuti pengendapan


itu sendiri. Proses lanjut yang mempengaruhi keseragaman sifat batuan
sedimen dapat berbentuk kompaksi juga sedimentasi.
Adanya lingkungan pengendapan ini akan dapat memberikan
gambaran mengenai besar butir, bentuk atau jenis packingnya dan juga
distribusi penyebarannya. Heterogenitas reservoir dapat terjadi pada suatu

70

reservoir, dimana kondisi seperti ini paling ideal dan paling banyak
didapatkan di reservoir. Peninjauan heterogenitas reservoir meliputi
tentang klasifikasinya, faktor faktor yang mempengaruhi serta tipe tipe
heterogenitas reservoir.
Dalam studi reservoir sering digunakan anggapan bahwa formasi
bersifat homogen dengan ketebalan serba sama (uniform thickness),
lapisan produktif horizontal, distribusi porositas konstan dan permeabilitas
sama di setiap arah (isotropik). Pada kenyataannya struktur reservoir
sangat kompleks sebab mengandung heterogenitas mulai dari ukuran
(skala) beberapa milimeter, centimeter bahkan kilometer. Dari ukuran ini
batuan maupun data singkapan diketahui bahwa heterogenitas merupakan
sifat alami pada batuan reservoir. Proses-proses geologi seperti proses
sedimentasi, erosi, glasiasi, dan tektonik berperan menghasilkan batuan
reservoir tidak seragam. Jadi heterogenitas merupakan ketidakseragaman
(variasi) sifat fisik batuan dan fluida dari satu lokasi ke lokasi lainnya
dalam suatu reservoir, diakibatkan oleh proses pengendapan, patahan,
lipatan, diagenesa lithologi batuan dan perubahan jenis maupun sifat
fluida.
Sebagai contoh untuk lingkungan pengendapan marine maka batuan
sedimen yang lebih berat akan terendapkan terlebih dahulu pada bagian
dekat pantai atau zona neritik, kemudian yang lebih ringan akan
terendapkan ke tempat yang lebih dalam dan jauh, yaitu pada zona bathyal
dan abysal. Batuan yang lebih ringan berasosiasi dengan batuan yang
halus atau lembut dalam hal ini adalah silt atau clay.
Dari antar batuan yang terendapkan tersebut terbentuk porositas dan
permeabilitas yang besarnya tergantung litologi, kompaksi, dan posisi
strukturnya. Pembentukan porositas dan permeabilitas dari reservoir
karbonat berbeda dengan reservoir batupasir dalam proses lanjut
pengendapannya, dimana pada batuan karbonat terbentuk karena proses
pelarutan, rekristalisasi, dan dolomitisasi. Sehingga dengan adanya

71

lingkungan pengendapan akan menambah semakin kompleks atau


bertambah tidak seragamnya lapisan batuan yang terbentuk.
Batuan yang mengalami pelapukan, erosi, dan transportasi akan
mengalami perubahan selama pengendapan pada lingkungannya. Faktor
media, jarak, dan bentuk lingkungan akan mempengaruhi besar butir,
sortasi, dan derajat kebundaran. Bentuk, susunan, dan keseragaman butir
batuan akan mempengaruhi besarnya porositas dan permeabilitas sehingga
terjadi

heterogenitas

resevoar.

Dengan

bertambah

kompleksnya

sedimentasi yang berlangsung dan proses-proses yang kemudian terjadi


akan menambah derajat ketidakseragaman.

2.5.1. Klasifikasi Heterogenitas Reservoir


Dalam mempelajari perkembangan reservoir, selalu dimulai dari studi
geologi yang menguraikan luasan reservoir dan heterogenitas reservoir
dalam skala yang berlainan. Heterogenitas reservoir sangat berpengaruh
pada perilaku reservoir dan distribusinya sangat penting untuk
mengevaluasi reservoir.
Adapun klasifikasi heterogenitas reservoir dibedakan menjadi tiga
bagian yaitu :
a. Heterogenitas Reservoir Skala Mikroskopis
Heterogenitas reservoir skala mikro merupakan pencerminan
ukuran pori-pori, bentuk batuan, dan distribusinya. Lasseter dan
Waggoner mengelompokkan heterogenitas dalam ukuran centimeter
sebagai heterogenitas skala mikro. Contoh mekanisme pembentukan
heterogenitas skala mikro adalah terbentuknya endapan-endapan clay
dan silt gelembur gelombang (ripple marks) atau sisipan pada
batupasir (shally sand) dan pembentukan dua macam porositas pada
batu karbonat terbentuk karena proses pelarutan, rekristalisasi, dan
dolomitisasi. Sehingga dengan adanya lingkungan pengendapan akan

72

menambah semakin kompleks atau bertambah tidak seragamnya


lapisan batuan yang terbentuk.
Ketidakseragaman porositas dan permeabilitas terjadi karena
pengaruh susunan, bentuk dan ukuran butir batuan serta kandungan
material semen seperti silt dan clay. Selain proses sedimentasi,
heterogenitas skala mikro dapat terjadi karena proses tektonik baik
pada batuan sedimen, metamorf maupun batuan beku yang menjadi
basement rock. Dipandang dari sudut mekanika ke dalam heterogenitas
skala mikro dapat juga dimasukkan dalam masalah viscous capillary
regime dimana gaya gaya gravitasi umumnya tidak terlalu berperan.
Heterogenitas skala mikro penting dalam menentukan distribusi
saturasi minyak sisa (residual oil saturation) dan mempengaruhi
distribusi saturasi minyak yang terlampaui (by passed) atau yang tidak
ikut terdesak yang merupakan informasi penting untuk heterogenitas
skala makro.

b. Heterogenitas Reservoir Skala Makroskopis


Heterogenitas skala mikro adalah heterogenitas yang terjadi pada
suatu atau sejumlah satuan pengendapan. Satuan pengendapan yaitu
suatu tubuh batuan yang terbentuk sebagai hasil kejadian tunggal
proses pengendapan atau dari segi kejadian yang sama. Heterogenitas
skala makroskopis meliputi susunan lithologi antar beberapa sumur
yang diidentifikasikan oleh adanya tekstur primer dalam struktur
sedimen yang terdapat dalam batupasir seperti besar butir, pemilahan
dan crossbedding. Selain itu, heterogenitas reservoir skala makro dapat
berupa patahan, kontak antar fluida, perubahan ketebalan dan lithologi
yang berbeda pada setiap lapisannya.
Dipandang dari sudut mekanika, heterogenitas skala makroskopis
dipengaruhi gaya viscous-capillary-gravity regime dalam menentukan
perilaku dinamik aliran fluida multi fasa. Heterogenitas skala makro
sangat berperan dalam menentukan recovery, sebab berpengaruh pada

73

efisiensi penyapuan vertikal. Adapun contoh heterogenitas skala makro


adalah variasi porositas dan permeabilitas pada tubuh batupasir
endapan pantai (non-marine fluviatile sandstone) dan delta (bar sand,
channel sand).
c.

Heterogenitas Reservoir Skala Megaskopis


Heterogenitas skala megaskropis adalah skala beberapa satuan
pengendapan bahkan meliputi beberapa lingkungan pengendapan.
Heterogenitas skala mega merupakan heterogenitas dengan skala
terbesar dengan deskripsi meliputi : lithologi, stratigrafi dan
lingkungan pengendapan. Sebagian besar heterogenitas reservoir
diidentifikasikan pada skala ini untuk mengetahui aliran fluida tiaptiap lapisan dan dikontrol oleh viskositas dan gravitasinya.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa heterogenitas skala mikro dan
makro berperan penting dalam menentukan jumlah minyak yang
terperangkap

dan

yang

tidak

ikut

terdesak,

sehingga

harus

dipertimbangkan dengan cermat, tetapi penampakan geologi yang


paling berperan dalam menentukan

perilaku reservoir adalah

heterogenitas skala megaskopis. Esensi penampakan reservoir yang


mengendalikan perilaku skala mega adalah kontinuitas lateral dan
komunikasi vertikal. Secara fisik aspek-aspek ini ditentukan oleh
dimensi satuan pengendapan, yaitu kontras antara daerah-daerah yang
permeabilitasnya rendah dan tinggi, dan juga kejadian-kejadian setelah
proses pengendapan seperti patahan dan rekahan.
Kontinuitas lateral sangat penting dalam pengurasan reservoir
tahap lanjut karena komunikasi antar sumur-sumur injeksi dan
produksi sangat menentukan efisiensi recovery-nya. Disamping itu
komunikasi vertikal yang buruk sebagai hasil hambatan lapisan
impermeabel yang luas sering mengakibatkan differensiasi pendesakan
tiap-tiap

lapisan

sehingga

menghasilkan

waktu

tembus

air

74

(breaktrough) yang

lebih

awal

terutama

pada

lapisan

yang

permeabilitasnya tinggi.

2.5.2. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Heterogenitas Reservoir


Batuan

reservoir

merupakan

batuan

yang

porositas

dan

permeabilitasnya terdistribusi secara tidak merata untuk semua bagian


yang luas. Sebagian reservoir dibentuk oleh hasil pengendapan dalam air
atau basin dalam waktu yang lama dan lingkungan pengendapan yang
bermacam-macam.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya heterogenitas
reservoir antara lain:
a) Sedimentasi Tektonik Regional
Sedimentasi

tektonik

regional

menyebabkan

terjadinya

ketidakseragaman karena dalam suatu reservoir dimungkinkan adanya


bermacam-macam lingkungan pengendapan, misalnya : laut, transisi,
dan darat. Sehingga dengan adanya bermacam macam lingkungan
pengendapan tersebut, reservoir menjadi tidak seragam (heterogen).
Ketidakseragaman

ini

didukung

oleh

proses

diagenesa

yang

menyertainya yang merubah harga porositas dan permeabilitas serta


proses

tektonik

antara

lain

patahan,

pengangkatan,

dan

ketidakselarasan yang menyebabkan perubahan struktur geologi


reservoir.
Dengan demikian faktor sedimentasi tektonik regional, diagenesa,
dan struktur merupakan kontrol geologi untuk mengetahui adanya
ketidakseragaman secara regional (megaskopis).

75

b) Komposisi Batuan dan Tekstur


Komposisi batuan dan tekstur mengontrol ketidakseragaman
reservoir terutama antara batuan penyusun reservoir (skala makro).
Perubahan yang terjadi berupa perubahan komposisi lithologi dan
mineralogi yang mempengaruhi besar ukuran butir maupun batuan
reservoir sebelumnya sehingga menimbulkan ketidakseragaman
parameter reservoir.
Demikian teksturnya, karena tekstur sendiri terdiri dari ukuran
butir, sortasi, fabric, dan kekompakan yang berpengaruh terhadap
besar kecilnya kemampuan batuan untuk mengalirkan kembali fluida
yang dikandungnya.

c) Geometri Pori-pori
Geometri pori-pori dapat berupa ukuran rongga pori (pore throat
size), ukuran tubuh pori (pore body size), peretakan (fracturing) dan
permukaan butir (surface roughness) akan mempengaruhi besar
kecilnya porositas dan permeabilitas serta saturasi batuan reservoir,
dan sekaligus parameter diatas menunjukkan besarnya cadangan yang
dapat ditampung dan diproduksikan. Oleh karena itu, geometri pori
dapat digunakan sebagai pengontrol heterogenitas reservoir dalam
skala mikroskopis.

2.5.3. Tipe Heterogenitas Reservoir


Kontrol Geologi yang mempengaruhi terjadinya heterogenitas vertikal
adalah beragamnya lingkungan pengendapan, diagenesa dan tekstur
sedimennya. Model pengendapan tergantung dari unsur-unsur lingkungan
pengendapan. Unsur ini meliputi material sedimen, keadaan pembatas,
energi mekanik, kimia dan aktivitas geologi. Kontrol geologi yang

76

mempengaruhi heterogenitas horizontal adalah lingkungan pengendapan,


diagenesa, struktur dan tekstur sedimennya.
Setelah didapat parameter-parameter penting untuk mengetahui
terjadinya heterogenitas dan penyebabnya serta faktor yang mengontrol
adanya heterogenitas, selanjutnya dilakukan pembagian tipe heterogenitas
reservoir, dari arah penyebarannya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Heterogenitas Reservoir Vertikal
Untuk mengetahui adanya jenis heterogenitas vertikal di dalam
reservoir, harus diperhatikan parameter-parameter penentu baik yang
skala mikroskopis, makroskopis, maupun megaskopis dan parameter
penyebab, seperti : porositas, permeabilitas, dan saturasi. Jenis
heterogenitas secara vertikal pada skala megaskopis ditunjukkan oleh
adanya lingkungan pengendapan yang berlainan, diagenesa dan
struktur yang mempengaruhi komposisi, mineralogi (butiran, matriks
dan semen), serta tekstur seperti butir, sortasi, kekompakan dan kemas
didalam batuan.
Pada arah penyebaran vertikal, umumnya juga terjadi heterogenitas
fluida reservoir. Faktor yang mengontrol terjadinya heterogenitas
reservoir adalah source rock dan kondisi (tekanan dan temperatur)
reservoir.

Source

rock

dari

material-material

sedimen

yang

terendapkan pada suatu lingkungan pengendapan akan mengontrol


mineral-mineral pembentuk batuan, sehingga batuan yang terjadi
(lithifikasi) cenderung ditempati fluida tertentu. Sedangkan tekanan
dan temperatur reservoir akan mempengaruhi sifat fisik fluida
reservoir. Sifat fisik minyak bumi yang dipengaruhi oleh perubahan
tekanan dan temperatur reservoir adalah viskositas, faktor volume
formasi, kompresibilitas dan densitas, sedangkan sifat fisik gas bumi
sangat dipengaruhi perubahan tekanan dan temperatur.
Heterogenitas reservoir umumnya akan terjadi pada arah
penyebaran vertikal, sebab besarnya tekanan dan temperatur reservoir

77

akan bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Maka pada zona


transisi, heterogenitas vertikal fluida reservoirnya semakin kompleks.
Zona transisi akan bertambah besar dengan berkurangnya perbedaan
densitas fluidanya dan mengecilnya harga permeabilitas batuannya.
Batuan reservoir yang permeabilitasnya besar memiliki tekanan
kapiler yang rendah, sehingga ketebalan pada zona transisi lebih tipis
daripada reservoir yang permeabilitasnya rendah.
b. Heterogenitas Reservoir Horizontal
Untuk mengetahui adanya jenis heterogenitas horizontal, yang
harus diperhatikan terlebih dahulu adalah faktor-faktor penyebabnya
baik untuk skala mikroskopis, makroskopis maupun megaskopis. Bila
dilihat dalam skala megaskopis, reservoir tersebut terbatas, terstruktur
dan ada genesa sehingga secara horizontal terjadi ketidakseragaman
antara tempat yang satu dengan yang lainnya baik terhadap ukuran
butir, sortasi, porositas, permeabilitas, saturasi air, dan kontinuitasnya
yang akan mempengaruhi penentuan cadangan dan berbagai tahap
eksploitasi seperti penentuan spasi atau produksi tahap lanjut.
Kemudian jika dilihat dari skala makroskopis dan mikroskopis, baik
untuk komposisi dan struktur batuannya yang terdiri dari lithologi,
mineralogi (butiran, matriks dan semen), maka secara horizontal pada
kedalaman

yang

sama

akan

didapat

ketidakseragaman

yang

mempengaruhi geometri pori, porositas, permeabilitas dan saturasinya.


Sehingga secara heterogenitas reservoir horizontal akan memberikan
kemampuan yang berbeda pada setiap kedudukan untuk menyimpan
dan mengalirkan fluida.

78

2.6.

Perkiraan Perkiraan Cadangan Reservoir


Cadangan adalah Perkiraan jumlah minyak mentah, gas alam, gas
condensate, fasa cair yang diperoleh dari gas alam, dan material lainnya
(mis. sulfur), yang dianggap bernilai komersial untuk diambil dari
reservoir dengan menggunakan teknologi yang ada pada suatu saat dalam
keadaan ekonomi dan dengan peraturan yang berlaku pada saat yang sama.
Besar cadangan yang ada di dalam reservoir dapat diperkirakan
berdasarkan :

Data hasil interpretasi geologi dan

Data engineering yang tersedia pada suatu waktu

Besar cadangan dapat berubah selama masa produksi sejalan dengan

Bertambahnya data/informasi reservoir

Keadaan ekonomi yang memaksa adanya perubahan


Ada beberapa metode dalam menghitung cadangan yang ada di dalam

reservoir, akan tetapi metode tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian


yaitu perhitungan cadangan sebelum produksi dan perhitungan cadangan
setelah produksi. Adapun metodenya adalah sebagai berikut:
a. Menghitung cadangan pada tahap sebelum produksi:
Metode volumetrik (yang bersifat deterministik)
Metode probabilistik (mis. metode simulasi Monte Carlo)
tidak tergantung pada data produksi.
b. Menghitung cadangan pada tahap setelah produksi:
Metode material balance
Metode simulasi numerik
makin banyak data produksi; makin baik perkiraan volume
hidrokarbon

79

Metode yang digunakan tergantung pada ketersediaan data dan


informasi reservoir yang mendukung metode tersebut. Beberapa metode
menurut SPE:

Metode volumetrik jika ada data geologi, data log, dan/atau data

core
Metode volumetric probabilistic jika tidak ada data geologi, data

log, dan data core. (mis. simulasi Monte Carlo)


Performance analysis methods jika ada data geologi, data log, data
core, dan data produksi (mis. metode material balance, decline curve,
simulasi reservoir)
Metode perhitungan cadangan yang sering digunakan dikelompokkan

menjadi empat bagian yaitu metode volumetric, decline curve, material


balance dan simulasi. Penjelasan tentang ketiga metode tersebut adalah
sebagai berikut:
a) Metode Volumetrik
Metode Volumetrik merupakan metode perhitungan cadangan
paling sederhana. Reservoir dipandang sebagai sebuah wadah dengan
geometri atau bentuk sederhana (mis. bentuk kotak, kerucut, atau
lingkaran). Metode ini terutama diterapkan pada reservoir yang belum
tersedia data produksi atau pada daerah yang baru ditemukan.
1. Persamaan untuk menghitung OOIP
N=

7758. Vb . .(1Sw)
..............................................(2-37)
Boi

Dimana : N

: Original oil in place, STB.

Vb : Jumlah

volume

hidrokarbon, cuft.

: Porositas batuan, fraksi.

batuan

mengandung

80

Sw

: Saturasi air mula-mula, fraksi.

Boi

: faktor volume formasi minyak mula-mula,


bbl/STB.

7758 : Konstanta faktor konversi, bbl/acre-ft.


2. Persamaan untuk menghitung OGIP
G=

43560. Vb . .(1Sw)
.............................................(2-38)
Bgi

Dimana : G

Vb

: Original gas in place, SCF


: Jumlah

volume

batuan

mengandung

hidrokarbon, cuft.

: Porositas batuan, fraksi.

Sw

: Saturasi air mula-mula, fraksi.

Bgi

: Faktor volume formasi gas mula-mula,


cuft/SCF.

43560 : Konstanta faktor konversi, cuft/acre-ft


b) Metode Decline Curve
Perkiraan performance dengan cara decline curve adalah perkiraan
yang didasarkan data kelakuan produksi dari suatu reservoir atau suatu
sumur, dengan jalan ekstrapolasi trend, digambarkan oleh kelakuan
produksi sebelumnya.
Dua hal yang dapat ditentukan dengan cara diatas, yaitu :
Cadangan minyak tersisa
Umur produksi reservoir atau sumur tersebut

81

Ada 3 type decline curve yang biasa dipakai pada saat perhitungan
cadangan, yaitu:
1. Rate produksi vs. waktu
2. Rate produksi vs. kumulatif produksi
3. Prosen water cut vs. kumulatif produksi
Berdasarkan loss rationya bentuk-bentuk kurva penurunan
produksi diklasifikasikan dalam 3 type, yaitu :
1. Exponential decline curve,
2. Hyperbolic decline curve.
3. Harmonic decline curve.
c) Metode Material Balance
Metode material balance didasarkan pada kesetimbangan volume
fluida (air, minyak, dan gas) antara volume produksi kumulatif
terhadap jumlah volume penambahan fluida didalam reservoir dengan
volume air yang masuk kedalam reservoir.

Np [ Bo+ ( RpRs ) Bg ] + BwWp=mNB ti

Bg
NBti
1)+ N ( BtBti ) +We+
(1+ m) ( Sw
( Bgi
1Swi

........................................................................................................(2-39)
Dimana : Np

= Jumlah kumulatif produksi minyak.STB

= Initial oil in place,STB

Bo

= Factor volume dari minyak, bbl/STB

Bg

= Factor volume dari gas, bbl/SCF

Bw

= Factor volume dari air, bbl/STB

Rp

= Perbandingan antara produksi gas kumulatif


dengan produksi minyak kumulatif,SCF/STB

Rs

= Kelarutan gas didalam minyak,SCF/STB

Cw

= Kompresibilitas air,psi-1

Cf

= Kompresibilitas batuan, psi-1

82

Swc

= Saturasi kritis dari air, fraksi

We

= Jumlah komulatif perembesan air, bbl

Wp

= Jumlah kumulatif produksi air,STB

= Perbandingan bulk volume gas cap dengan bulk


volume reservoir minyak, fraksi

index I = Menyatakan keadaan mula mula


d) Metode Simulasi Reservoir
Pengertian kata simulasi adalah porses pemanfaatan model
buatan yang dibuat untuk mewakili karakteristik reservoir, dengan
tujuan untuk mempelajari, mengetahui

ataupun

memperkirakan

kelakuan dan kinerja aliran fluida pada reservoir tersebut. Terdapat


beberapa macam metode yang dapat digunakan dalam pembuatan
tiruan sistem tersebut, yang biasa disebut sebagai model. Jenis model
yang dapat digunakan pada simulasi adalah model analog, model fisik,
dan model matematik. Jenis model yang akan dibahas disini adalah
model matematik, yang sering disebut sebagai Simulasi Numerik.
1. Tujuan Simulasi
Secara umum simulasi reservoir digunakan sebagi acuan
dalam

perencanaan manajemen reservoir, antara lain sebagai

berikut :
a. Memperkirakan kinerja reservoir pada berbagai tahapan dan
metode produksi yang diterapkan, yaitu seperti:

Sembur alam

Pressure maintenance

Reservoir energy maintenance (secondary recovery)

Enhanced oil recovery (EOR)


b. Mempelajari pengaruh laju alir terhadap perolehan minyak
dengan menentukan laju alir maksimum (maximum efficient
rate, MER).
c. Menentukan jumlah dan lokasi sumur untuk mendapatkan
perolehan minyak yang optimum.

83

d. Menentukan

pola

sumur

injeksi

dan

produksi

untuk

mengoptimalkan pola penyapuan.


e. Memperhitungkan adanya indikasi coning dalam menentukan
interval komplesi yang optimum serta pemilihan jenis sumur,
vertikal, atau horizontal.
2. Jenis Simulator
Jenis simulasi secara garis besar dibedakan menjadi 3, antara
lain :

Black Oil Simulasi


Black oil simulation digunakan untuk kondisi isothermal, aliran
simultan dari minyak, gas, dan air yang berhubungan dengan
viskositas, gaya gravitasi dan gaya kapiler. Komposisi fasa
dianggap konstan walau kelarutan gas dalam minyak dan
air ikut diperhitungkan. Hasil studi ini biasanya digunakan

untuk studi injeksi air dan juga untuk peramalan.


Thermal Simulasi
Simulasi jenis ini digunakan untuk studi aliran fluida,
perpindahan panas maupun reaksi kimia. Biasanya digunakan
untuk studi injeksi uap panas dan pada proses perolehan

minyak tahap lanjut (in situ combution).


Compotional Simulasi
Simulasi reservoir ini digunakan untuk berbagai komposisi fasa
hidrokarbon yang berubah terhadap tekanan. Biasanya simulasi
ini digunakan untuk studi perilaku reservoir yang berisi volatile
oil dan gas condensat.

3. Model Simulator
Prediksi peningkatan perolehan minyak yang dilakukan
dalam studi ini, menggunakan simulasi yang diterapkan dengan
simulator yang digunakan berupa simulator Frontsim. Frontsim
adalah suatu simulator reservoir yang didasarkan pada formula
IMPES (implicit pressure explicit saturation) dan konsep

84

streamline atau frontsim. Program ini merupakan suatu alat yang


rangenya meliputi pada saat dimulai
sampai

full

fledged

field

perhitungan

simulator

simulator. Persamaan meliputi

persamaan tekanan dan persamaan saturasi. Persamaan tekanan


diselesaikan secara implicit dengan suatu metode control volume
finite difference. Jika gridnya sama, maka metode finite difference
dapat digunakan.
Penyelesaian saturasi di frontsim sangat berbeda dengan
simulator

lainnya. Tidak sama seperti penyelesaian finite

difference umumnya, penyelesaian saturasi dengan frontsim di


rancang sampai menbentuk fronts (ketidaksinambungan pada
saturasi) yang di tampilkan secara makro di reservoir.
Hal ini dilakukan oleh metode fron-tracking yang diaplikasikan
pada streamline. Streamline dihitung berdasarkan pada gradient
tekanan dan mewakily velocity darcy (jumlah kecepatan fhasa).
Perintah dalam input data untuk frontsim terhimpun dalam suatu
filename yang berextension .data yang kemudian digunakan
untuk di run oleh simulator dan menghasilkan keluaran dalam
bentuk extension .alloc, .grid, .init, .msg, .prnt, .rsgrid, .rsinit,
.rsnnc, .rsrst, .rswell, .slnpec, .smspec, .unrst, dan .unsmry.
Penyelesaian suatu tekanan yang dihasilkan frontsim akan
memperhitungkan suatu set streamline untuk menggambarkan
aliran

di

reservoir.

Masing-masing

streamline

akan

menggambarkan volume rate dan melambangkan sikap saturasi


suatu

grid

dimensi.

Persamaan

saturasi

selanjutnya

di

selesaikankan dengan front tracking dan saturasi masingmasing

streamline menggambarkan atas suatu grid sampai

membentuk suatu saturasi global sebagai output.

Menentukan

timestep adalah pilihan oleh pengguna dan tidak terdapat batas


pada panjang step. Saat ini simulator reservoir pada umumnya
digunakan

pada

industry perminyakan.

Berdasarkan

pada

85

metode

finite

difference

untuk

memperkirakan persamaan

differensial parsil yang menggambarkan aliran fluida pada


media berpori. Pada saat tekanan dan saturasi di seselaikan secara
iterasi membutuhkan penentuan time step dalam memperoleh
hasil yang stabil. Simulator finite difference yang lama telah
telah mencapai batas ketika model geometri reservoirnya tidak
rata. Penyebaran angka biasa mempengaruhi ketika digunakan
dimensi block grid yang besar. Pemodelan ini membutuhkan
system grid baru untuk menghasilkan penyelesaian yang dapat di
percaya.
Frontsim merupakan suatu teknologi yang berbeda, dimana
dasar pemikiran matematikanya sama dengan simulator black
oil. Persamaan yang digunakan untuk mengambarkan aliran
fluida didalam media berpori adalah persamaan darcy dan
kesetimbangan

massa,

dengan

mengkombinasikan

suatu

pasangan persamaan tersebut dihasilkan persamaan differensial


parsial non linier.
Persamaan ini dibagi menjdi persamaan tekananan dan
persamaan

saturasi.

Hal

ini

di

selesaikan

dengan

mengaplikasikan metode IMPES, suatu penyelesaikan dengan


pemikiran awal digunakan untuk persamaan tekanan kemudian
didasarkan pada kenyataan jumlah velocity lapangan, persamaan
saturasi diselesaikan dengan menggunakan suatu metode front
tracking.
Penyelesaian tekanan menggunakan suatu metode control
volume finite difference yang berlawanan dengan metode finite
difference standar, hasilnya sangat akurat dan bebas merespek
pada arsitektur grid. system grid

tergantung pada grid cell segi

empat.
Persamaan saturasi merupakan suatu hukum kekekalan
hyperbolic yang menggambarkan suatu velocity shocks. Proses

86

penyebaran

displacement digambarkan

dengan

suatu

front

tersendiri, yang didefinisikan dengan saturasi.


Hukum

kekekalan

hyperbolic

melalui

suatu

konsep

fracsional flow digunakan untuk menggambarkan velocity dari


masing-masing

front

saturasi

(shock)

yang berkembang

berdasarkan waktu. Penyelesaian persamaan saturasi menjadi suatu


tingkat independent yang besar dari ukuran grid dan geometry
pada

saat

grid

tidak

secara

langsung digunakan

penyelesaiannya. Front adalah track streamline yang panjang


yang dibuat dari penyelesaian tekanan dan menghasilakan
suatu tipe profil saturasi buckley-leverett.
Penyelesaian sepenuhnya secara stabil untuk semua ukuran
time step dan metode penyelesaian secara numeric sangat cepat
(penyelesaian secara langsung). Pada

geometri

menguntungkan,

CPU

membuat

konsep

grid

lebih

yang
efesien

dibandingan dengan menggunakan metode finite difference yang


lama, terutama sekali system grid yang sangat besar. Secara khusus
waktu CPU akan meningkat secara linier sesuai dengan ukuran
system grid.
Setelah frontsim dijalankan, biasanya proses sebelum dan
sesudah digambarkan secara grafik. Hasilnya run data dari
frontsim

dilihat

dengan menggunakan

gridsim

untuk

mengambarkan hasil simulasinya (grid array, streamline dan


grafik produksi). Sebelum suatu proses dijalankan, gridsim
digunakan untuk mengedit grid dan array untuk di input kedalam
file data frontsim dan simulator lainya. Kriteria frontsim yang
digunakan saat ini:

Dua phasa ( juga tersedia versi tiga phasa)


Tracers
Aliran immicible
Compessible dan incompressible
Pengaruh gravity

87

Titik koordiant disesuaikan berdasarkan geometri grid block


Penyebaran tidak secara numeric dan biasanya tidak di

pengaruhi grid
Perbaikan grid local
Heterogen dan geologi anistropic serta data fisik batuan
Permeabilitas
Multiplay transmibiliti
Persamaan tekanan dengan control volume atau finite

difference standar
Penyelesaian persamaan tekanan dengan menggunkan suatu

metode iterative
Penyelesaian persamaan saturasi dengan suatu metode front

tracking pada streamline 3D


Variasi laju alir produksi/injeksi pada sumur, kumpulan sumur

atau lapangan
Perhitungan streamline dan tekanan secara otomatis
Spesifikasi umum output dari tekanan dan fluida di lapangan
Input format file sesuai struktur keyword

BAB III

METODE ENHANCED OIL RECOVERY

3.1.

Pengertian Metode Enhanced Oil Recovery


Di dalam eksplorasi maupun eksploitasi sangat memerlukan teknik
reservoir, yang dapat mengubah ke arah maksimum dari reservoir. Awal
dari program reservoir didesain untuk mendapatkan minyak secara
optimal dengan biaya yang seminimal mungkin dengan mendayagunakan
reservoir sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Program recovery
dipengaruhi oleh ukuran reservoir, ketebalan, tipe dari mekanisme drive-

88

nya dan bagaimana tekanan reservoir dihemat untuk menjadikan recovery


yang maksimum. Pada dasarnya definisi Enhanced Oil Recovery adalah
suatu metode peningkatan perolehan minyak bumi dengan cara
menginjeksikan material atau bahan lain ke dalam reservoir (Lake, 1989
dalam I Wayan Aris Widarmayana, 1979). Metode ini dikenal dengan
nama Tertiary Recovery yang dapat dibedakan menjadi dua kategori , yaitu
tahap perolehan kedua (secondary recovery) dan tahap perolehan ketiga
(tertiary recovery). Metode EOR ini dilakukan setelah tahap perolehan
pertama (primary recovery) tidak mampu lagi mengambil secara optimal
sisa minyak yang terdapat di dalam batuan reservoir. Proses pada EOR ini
meliputi beberapa prinsip yang umumnya melibatkan karakter minyak dan
interaksinya terhadap batuan dan air yang terdapat di sekelilingnya.
Proses-proses tersebut termasuk pengurangan gaya tegangan antar muka,
emulsifikasi minyak dan air, pengurangan viskositas driving fluid dan oil
oveling (William, D.B., 1993, dalam I Wayan Widarmayana, 1997).
Seandainya yang digunakan adalah metode recovery berupa waterflood,
perubahan sifat wettability akan menyebabkan perubahan efisiensi
perolehan minyak. Salah satu cara untuk mengetahui pengaruh wettability
terhadap efisiensi perolehan minyak adalah dengan tes waterflood. Adapun
prosedur dari tes waterflood pada core adalah sebagai berikut :

Menjenuhi core dengan air formasi untuk menentukan permeabilitas

core terhadap air formasi.


Mengalirkan minyak ke dalam core sampai kejenuhan minyak awal

(Soi) mencapai 70 % - 80 % serta produksi air formasi berakhir.


Mengalirkan air formasi dengan tekanan tetap (50 psi, untuk mencegah

terjadinya end-effects ).
Menghitung permeabilitas relatif. Di dalam aplikasi secara langsung,
wettability digunakan untuk menentukan teknik perolehan minyak
sekunder ataupun tersier melalui injeksi ke dalam reservoir.
Pada batuan yang bersifat water-wet seharusnya menggunakan teknik

Waterflooding, sedangkan batuan yang bersifat oil-wet sebaiknya

89

menggunakan teknik steam flooding. Adapun sifat-sifat reservoir pada


kodisi awal diperlukannya recovery kedua antara lain:

Kejenuhan minyak dalam lubang rendah.- Vikositas dari minyak tinggi


Formasi volume factor pada minyak rendah
Tegangan permukaan pada minyak tinggi
Tegangan antar muka antara minyak dan air tinggi
Awal perbedaan tekanan atau distribusi kejenuhan yang berhubungan
dengan sifat alami batuan.
Rendahnya kejenuhan minyak disebabkan oleh kejenuhan gas yang
bebas semakin tinggi, kenaikan dari viskositas minyak menyebabkan
hilangnya mobilitas minyak dan mengurangi kejenuhan minyak.
Sedangkan untuk injeksi air atau gas perlu memperhatikan Model
Hysterisis. Hal ini dikarenakan perpindahan minyak oleh air atau gas yang
dialirkan adalah kombinasi dari imbibisi dan proses drainase yang terjadi
dalam tiga fase aliran. Kunci mekanisme dalam meningkatkan efisiensi
penyapuan atau dalam profile flooding control adalah proses terjebaknya
gas dalam reservoir. Dalam reservoir water wet dan reservoir yang adanya
mixed wettability, jebakan fase nonwetting oleh tekanan kapiler
mengurangi pemisahan gas. Pada waktu yang sama, sisa minyak setelah
Waterflooding dapat dipindahkan oleh proses entrapment (adanya
penjebakan hidrokarbon setempat-setempat atau dikontinuitas dari
pendesakan saat injeksi fluida tidak maksimal). Peningkatan perolehan
minyak dapat dicapai jika aliran gas tepat pada reservoir tertentu yang
diinjeksi, dalam selang seling diisi dengan air. Kejenuhan gas yang lebih
tinggi ditujukan ada proses Waterflooding, jumlah yang banyak dari gas
yang dijebak ke atas dalam jumlah pasti yang dicirikan pada macammacam property yang diberikan reservoir. Jadi volume gas injeksi yang
tersimpan dalam alur perpindahan seharusnya lebih dari cukup untuk
membentuk kejenuhan gas yang digunakan untuk alur injeksi air
berikutnya.

90

Terdapat dua hal pokok yang menjadi latar belakang dilakukannya


metode EOR, yaitu:
1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yaitu hal hal yang tidak terkait dengan kondisi
reservoir misalnya kenaikan harga minyak dan meningkatnya
permintaan. Saat ini, harga minyak terus meningkat hingga mencapai
145 dollar/barrel. Sedangkan di satu sisi produksi minyak dunia terus
menurun.
2. Faktor Internal
Faktor internal yaitu hal hal yang berkaitan dengan keadaan
reservoir tertentu yang memungkinkan perolehan minyak dapat
ditingkatkan setelah kondisi primary dan hal ini sangat berkaitan
dengan kondisi fluida dan batuan reservoir.

91

3.2.

Tujuan Dilakukannya Metode EOR


Metode Enhanced Oil Recovery di terapkan didalam produksi minyak
dan gas bumi dengan mempertimbangkan beberapa faktor yaitu karena
metode primary dan secondary sudah tidak dapat menguras reservoir yang
masih tersisa di reservoir. Tujuan dipilih metode EOR sebagai tertiary
recovery yaitu :
Meningkatkan faktor perolehan minyak
Mengurangi saturasi minyak residual (Sor)
Menurunkan viskositas minyak yang terdapat dalam reservoir
Mengurangi tekanan kapiler pada sistem fluida-batuan reservoir
Memberikan driving force pada laju produksi minyak yang sudah

rendah
Meningkatkan areal sweep efficiency (bergantung pada karakteristik
reservoir

3.3..................................................Metode Metode Enhanced Oil Recovery


Dalam sub bab ini akan dibahas secara garis besar mengenai dasar
dasar metode EOR (Enhanced Oil Recovery) yang digunakan untuk
meningkatkan perolehan minyak atau sering dikenal sebagai metode EOR.

3.3.1. Secondary Recovery


Secondary recovery adalah produksi fluida reservoir yang disebabkan
oleh injeksi fluida kedalam reservoir dengan menggunakan fluida yang
sama dengan fluida reservoir, apakah itu bagian dari produksi dari
reservoir bersangkutan atau reservoir lainnya, seperti water atau gas
injection. Secondary recovery ini juga sering disebut immicible
displacement (injeksi tak tercampur). Secondary recovery ini terdiri dari
dua metode yaitu Waterflooding dan gasflooding. Proses pendesakan
disebut injeksi air (Waterflooding) apabila air sebagai fluida pendesaknya,
sedangkan proses pendesakan disebut injeksi gas (Gasflooding) apabila
gas sebagai fluida pendesaknya.

92

Proses yang terjadi pada pendesakan tak tercampur (immicible


displacement) mirip dengan penginjeksian fluida pada operasi pressure
maintenance. Penginjeksian fluida pada operasi pressure maintenance
dimaksudkan untuk mempertahankan tekanan reservoir tetap besar
sehingga minyak dapat sampai di permukaan, sedangkan penginjeksian
fluida pada proses pendesakan tak tercampur dimaksudkan untuk
mendesak sisa minyak yang masih tertinggal di reservoir (yang tidak
mampu naik ke permukaan). Tertinggalnya minyak tersebut merupakan
akibat dari tekanan reservoir yang semakin kecil sehingga minyak sudah
tidak mampu lagi mengalir ke permukaan, atau dengan kata lain saturasi
minyak telah mencapai batas saturasi minyak sisa (residual oil saturation).
Penjelasan mengenai macam macam injeksi tak tercampur adalah
sebagai berikut:

a. Waterflooding
Waterflooding adalah proses penginjeksian air untuk mendorong
minyak ke suatu sumur produksi dengan pola pola pendesakan
tertentu. Pola injeksi yang dikenal antara lain direct line drive,
staggered line drive, five-spot, seven-spot, dan nine-spot. Selain itu
injeksi air ada yang bertujuan untuk mengimbangi penurunan tekanan
reservoir yang sering disebut dengan pressure maintenance. Air
sebagai fluida injeksi mempunyai kecenderungan menuju ke tempat
yang lebih rendah sehingga jika diterapkan pada reservoir yang
memiliki kemiringan lapisan yang besar maka hasilnya tidak akan
memuaskan.
Injeksi air merupakan salah satu metode EOR yang paling banyak
dilakukan sampai saat ini. Proses penginjeksian air dari permukaan ke
dalam reservoir minyak didasarkan pada kenyataan bahwa air aquifer
berperan sebagai media pendesak disamping berperan sebagai pengisi
atau pengganti minyak yang terproduksi.
Pertimbangan lain dilakukannya injeksi air adalah bahwa sebagian
besar batuan reservoir bersifat water wet (basah air), sehingga fasa air

93

lebih banyak melekat pada batuan dan minyak akan terdesak dan
bergerak ke tempat lain (sumur).
Injeksi sir sukar dilakukan untuk reservoir minyak yang
mempunyai viskositas lebih besar dari 200 cp, karena akan cenderung
terjadi fingering yang berhubungan dengan mobilitas. Fingering juga
akan terjadi pada reservoir yang heterogen.

Gambar

3.1.

Mekanisme

Waterflooding (Dake l.P., Fundamental of Reservoir Engineering. 1978)

Tujuan lain dari injeksi air adalah untuk mengimbangi penurunan


tekanan reservoir dengan menginjeksikan air ke dalam reservoir agar
tekanan reservoir tetap stabil. Alasan alasan sering digunakannya
injeksi air yaitu:

Mobilitas yang cukup rendah


Air yang cukup mudah diperoleh
Berat kolom air di dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga
besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan dapat
dikurangi. Berat air ini akan lebih menguntungkan apabila

dibandingkan dengan injeksi gas.


Air biasanya mudah tersebar ke seluruh reservoir, sehingga

menghasilkan efisiensi penyapuan yang cukup tinggi.


Efisiensi pendesakan air cukup baik.
Pelaksanaan injeksi air membutuhkan persediaan air yang cukup

besar. Persediaan air dapat diperoleh dari air permukaan (danau,

94

sungai, laut) ataupun bawah permukaan. Syarat syarat air untuk


injeksi antara lain:
Tersedia dalam jumlah yang cukup selama masa injeksi
Tidak mengandung padatan padatan yang tidak dapat larut
Stabil secara kimiawi dan tidak mudah bereaksi dengan elemen
elemen yang terdapat dalam sistem injeksi dan reservoir.
b. Gasflooding
Proses injeksi gas immiscible pada prinsipnya sama dengan proses
injeksi air

(waterflooding).

Usaha ini terutama ditujukan untuk

meningkatkan energy dorong dalam reservoir, yaitu dengan melakukan


penginjeksian fluida gas melalui sumur sumur injeksi sedang
minyaknya diproduksikan pada sumur sumur produksi dengan pola
geometri tertentu. Dengan proses tersebut diharapkan minyak yang
masih tertinggal dirongga pori pori batuan akan mampu didesak ke
permukaan.

Gas

yang

diinjeksikan

biasanya

merupakan

gas

hidrokarbon. Injeksi gas dilakukan jika terdapat sumber gas dalam


jumlah yang sangat besar dan cukup dekat dengannya, termasuk gas
dari hasil produksi lapangan itu sendiri.
Injeksi gas dapat diterapkan untuk mempertahankan tekanan
(pressure maintenance), atau juga dapat mengambil minyak yang
tersembunyi dibagian atas reservoir yang terhalang oleh patahan atau
bongkah garam (salt dome) yang sering disebut dengan attic oilt.
Penggunaan gas sebagai fluida pendesak yang tidak tercampur sudah
berlangsung cukup lama, tetapi akhir akhir ini sudah tidak begitu
digunakan lagi karena pendesakannya tidak effisien, dan kini
peranannya diganti oleh air.

3.3.2. Chemical Flooding


Produksi fluida reservoir yang disebabkan oleh injeksi fluida atau hal
lainnya ke dalam reservoir dimana fluida yang diinjeksikan tersebut tidak
sama dengan fluida reservoir, seperti chemicals, steam atau solvent. Pada

95

bab ini akan dibahas mengenai injeksi kimia yang merupakan suatu
metoda EOR dengan menginjeksikan air yang telah dicampur dengan zat
zat kimia.
Pada metode ini, digunakan zat kimia sebagai injektan seperti sodium
hidroksida, sodium silikat atau sodium karbonat. Zat zat kimia ini
beraksi dengan asam organik yang terdapat pada minyak bumi membentuk
surfaktan ditempat. Disamping itu, beraksi dengan batuan reservoir
sehingga mengubah sifat kebasahan.
Konsentrasi yang diinjeksikan biasanya 0.2 sampai 5%. Ukuran slug
biasanya 10 sampai 50% pore volume. Kadang kadang ditambahkan pula
polimer didalam larutan yang digunakan. Kemudian air, yang juga telah
dicampur dengan polimer, diinjeksikan setelah slug tadi diinjeksikan.
Metode ini meningkatkan perolehan minyak dengan jalan :
Menurunkan tegangan permukaan
Mengubah sifat batuan dari basah minyak menjadi basah air, atau

sebaliknya.
Membentuk sistem emulsi
Memperbaiki mobilitas

96

Zat zat kimia yang digunakan dalam campuran injeksi kimia adalah
sebagai berikut:
a) Injeksi Surfactant
Injeksi Surfactant

digunakan

untuk

menurunkan

tegangan

antarmuka minyak-fluida injeksi supaya perolehan minyak meningkat.


Jadi effisiensi injeksi meningkat sesuai dengan penurunan tegangan
antarmuka (L.C Uren and E.H Fahmy). Ojeda et al (1954)
mengidentifikasikan parameter parameter penting yang menentukan
kinerja injeksi Surfactant, yaitu:
1. Geometri Pori
2. Tegangan antarmuka
3. Kebasahan atau sudut kontak
4. P atau P/L
5. Karakteristik perpindahan kromatografis Surfactant pada sistem
tertentu
Injeksi Surfactant ini ditujukan untuk memproduksikan residual oil
yang ditinggalkan oleh water drive, dimana minyak yang terjebak oleh
tekanan kapiler tidak dapat bergerak dan dapat dikeluarkan dengan
menginjeksikan larutan surfaktan. Percampuran Surfactant dengan
minyak membentuk emulsi yang akan mengurangi tekanan kapiler.
Setelah minyak dapat bergerak, maka diharapkan tidak ada lagi
minyak yang tertinggal. Pada surfactant flooding kita tidak perlu
menginjeksikan surfaktan seterusnya, melainkan diikuti dengan fluida
pendesak lainnya yaitu air yang dicampur dengan polymer untuk
meningkatkan efisiensi penyapuan dan akhirnya diinjeksikan air.
Untuk memperbaiki kondisi reservoir yang tidak diharapkan, seperti
konsentrasi ion bervalensi dua, salinitas air formasi yang sangat tinggi,
serta absorbs batuan reservoir terhadap larutan dan kondisi kondisi
lain yang mungkin dapat menghambat proses surfactant flooding,
maka perlu ditambahkan bahan bahan kimia yang lain sepeti
cosurfaktan (umumnya alcohol) dan larutan NaCl. Disamping kedua

97

additif diatas, yang perlu diperhatikan dalam operasi surfaktan


flooding adalah kualitas dan kuantitas dari zat tersebut.

Gambar 3.2. Chemical Flooding, Micellar-polymer (reprinted from Enhanced Oil


Recovery and Improved Drilling Technology, Report No.DOE/BETC-82/1,courtesy
Bartlesville Energy Technology Center, DOE)

Mekanisme injeksi Surfactant itu sendiri dilakukan dengan sangat


hati hati. Larutan Surfactant yang merupakan microemulsion yang
diinjeksikan ke dalam reservoir, mula mula bersinggungan dengan
permukaan gelembung gelembung minyak melalui film air yang
tipis, yang merupakan pembatas antara batuan reservoir dan
gelembung gelembung minyak. Surfactant memulai perannya
sebagai zat aktif permukaan untuk menurunkan tegangan permukaan
minyak air. Pertama sekali molekul molekul Surfactant yang
mempunyai rumus kimia RSO3H akan terurai dalam air menjadi ion
ion RSO3- dan H+. ion ion RSO3- akan bersinggungan dengan
gelembung gelembung minyak, ia akan mempengaruhi ikatan antara
molekul molekul minyak dan juga mempengaruhi adhesion tension
antara gelembung gelembung minyak dengan batuan reservoir,
akibatnya ikatan antara gelembung gelembung minyak akan semakin
besar dan adhesion tension semakin kecil sehingga terbentuk oil bank
didesak dan diproduksikan.

98

Pada operasi lapangan, setelah slug Surfactant diinjeksikan


kemudian diikuti oleh larutan polimer. Hal ini dilakukan untk
mencegah terjadinya fingering dan chanelling. Karena Surfactant + co
Surfactant harganya cukup mahal, di satu pihak polymer melindungi
bank ini sehingga tidak terjadi fingering menerobos zone minyak dan
di lain pihak melindungi Surfactant bank dari terobosan air pendesak.
Agar slug Surfactant efektivitasnya dalam mempengaruhi sifat
kimia fisika sistem fluida di dalam batuan reservoir dapat berjalan
baik, maka hal hal diatas harus di control. Mobilitas slug Surfactant
harus lebih kecil dari mobilitas minyak dan air didepannya.
Pelaksanaan dilapangan untuk injeksi Surfactant meliputi sistem
perlakuan terhadap air injeksi, sistem pencampuran slug Surfactant
dan sistem injeksi fluida.

b) Injeksi Polymer
Tujuan utama dari injeksi polimer adalah memperbaiki pendesakan
dan efisiensi penyapuan secara volumetric pada operasi injeksi air
(waterflood). Polimer ini dilarutkan dengan air injeksi sebelum air
tersebut diinjeksikan kedalam reservoir. Biopolymer (250 - 2000 mg/l)
biasanya digunakan.
Injeksi polimer pada dasarnya merupakan injeksi air yang
disempurnakan.

Penambahan

polimer

ke

dalam

air

injeksi

dimaksudkan untuk memperbaiki sifat fluida pendesak, dengan


harapan perolehan minyaknya akan lebih besar. Injeksi polimer dapat
meningkatkan perolehan minyak yang cukup tinggi dibandingkan
dengan

injeksi

air

konvensional.

Akan

tetapi

mekanisme

pendesakannya sangat kompleks dan tidak dipahami seluruhnya.


Jika minyak reservoir lebih sukar bergerak dibandingkan dengan
air pendesak, maka air cenderung menerobos minyak, hal ini akan
menyebabkan air cepat terproduksi sehingga effisiensi pendesakan dan
recovery minyak rendah.

99

Pada kondisi reservoir seperti diatas, injeksi polimer dapat


digunakan. Polimer yang terlarut dalam air injeksi akan mengentalkan
air, mengurangi mobilitas air dan mencegah air menerobos minyak.
Dua hal yang perlu diperhatikan dalam injeksi polimer adalah
heterogenitas reservoir dan perbandingan mobilitas fluida reservoir.

Gambar
3.3.

Chemical flooding, polymer (reprinted from Enhanced Oil Recovery and Improved
Drilling Technology, Report No.DOE/BETC-82/1,courtesy Bartlesville Energy
Technology Center, DOE)

Mekanisme injeksi polimer itu sendiri seperti halnya pada metode


lainnya dalam proyek peningkatan perolehan minyak, maka saat fluida
diinjeksikan masuk ke dalam sumur dan kontak pertama terjadi maka
mekanisme mulai bekerja. Dengan adanya penambahan sejumlah
polimer ke dalam air, akan meningkatkan viskositas air sebagai fluida
pendesak, sehingga mobilitas air sendiri menjadi lebih kecil dari
semula dengan demikian mekanisme pendesakan menjadi lebih efektif.
Polimer ini berfungsi untuk meningkatkan efisiensi penyapuan dan
invasi, sehingga Sor yang terakumulasi dalam media pori yang lebih
kecil akan dapat lebih tersapu dan terdesak. Dalam usaha proyek
polimer flooding ini membutuhkan analisa dan kriteria yang tepat
terhadap suatu reservoir, oleh karena itu studi pendahuluan merupakan
faktor yang penting. Pelaksanaan operasi injeksi polimer di lapangan

100

pada garis besarnya dibagi menjadi dua, yaitu sistem pencampuran


polimer dan sistem injeksi polimer.
c) Injeksi Alkaline
Injeksi alkaline atau kaustik merupakan suatu proses dimana pH air
injeksi dikontrol pada kisaran harga 12 13 untuk memperbaiki
perolehan minyak. Beberapa sifat batuan dapat mempengaruhi
terhadap injeksi alkaline. Ion divalent dalam air di reservoir, jika
jumlahnya cukup banyak dapat mendesak slug alkaline karena
mengendapnya hidroksida hidroksida yang tidak dapat larut.
Gypsum dan anhydrite jika jumlahnya melebihi dibandingkan dengan
jumlahnya yang ada di dalam tracer akan menyebabkan mengendapnya
Ca(OH)2 dan membuat slug NaOH menjadi tidak efektif. Clay dengan
kapasitas pertukaran ion yang tinggi dapat menghasilkan slug NaOH
dengan menukar hydrogen dari sodium. Limestone dan dolomit
bersifat tidak reaktif dan reaksi dengan komponen silica di dalam batu
pasir sangat lambat dan tidak lengkap, sedangkan resistivitas alkalin
dengan batuan reservoir dapat ditentukan di laboratorium.

Gambar 3.4.
Chemical
Flooding,
Alkaline (reprinted from Enhanced Oil Recovery and Improved Drilling
Technology, Report No.DOE/BETC-82/1,courtesy Bartlesville Energy Technology
Center, DOE)

Dari pengalaman dilapangan untuk penggunaan Co surfaktan ini


ternyata dapat meningkatkan recovery minyak sampai 20%. Hal ini
disebabkan karena selain ikut mendesak, surfaktan juga turut
melarutkan minyak. Zat tambahan lain yang sering dipakai adalah

101

larutan elektrolit NaCl yang digunakan sebagai preflush, untuk


menggerakkan air formasi yang tidak cocok dengan komposisi slug
surfaktan.
Injeksi alkaline sebagai salah satu alternative injeksi kimia,
mempunyai pengaruh dalam peningkatan recovery yang dapat
dibandingkan dengan injeksi kimia lain. Pada injeksi alkaline, banyak
sekali kemungkinan bahan yang dapat dipakai, pemilihan bahan
dilakukan berdasarkan pH tertinggi, sebab pH yang tinggi akan
mengakibatkan penurunan tegangan permukaan minyak. Bahan kimia
yang menghasilkan pH tinggi pada konsentrasi yang rendah adalah
NaOH. Hasil pengamatan laboratorium menunjukkan bahwa kondisi
optimum pada injeksi alkaline dicapai dengan konsentrasi NaOH 0.1%
berat dan ukuran slug nya sekitar 15% volume pori, selain itu bahan
kimia injeksi ini paling murah dibandingkan dengan bahan untuk
injeksi kimia lainnya.
Adapun kriteria injeksi alkaline yang penting dalam pemakaian
metoda EOR adalah tentang kecocokan dengan reservoirnya.
Kelebihan injeksi alkaline dalam menutupi kebutuhan injeksi lainnya
sehubungan dengan permasalahan teknis adalah karena injeksi alkaline
baik pada kondisi:
Gravity dari mengengah sampai tinggi (13 35o API)
Viskositas tinggi (sampai 200 cp)
Salinitas cukup tinggi (sampai 20000 ppm)

102

3.3.3. Thermal Flooding


Injeksi thermal adalah salah satu metode EOR dengan cara
menginjeksikan energy panas ke dalam reservoir untuk mengurangi
viskositas minyak yang tinggi yang akan menurunkan mobilitas minyak,
sehingga akan memperbaiki efisiensi pendesakan dan efisiensi penyapuan.

Gambar 3.5.

Cyclic

steam
stimulation

(reprinted

from Enhanced Oil Recovery and Improved Drilling Technology, Report


No.DOE/BETC-82/1,courtesy Bartlesville Energy Technology Center, DOE)

Penggunaan proses thermal dalam EOR sangatlah luas, hal ini


disebabkan oleh reservoir yang mengandung minyak berat tidak dapat
diproduksi secara ekonomis oleh injeksi air atau injeksi gas. Reservoir ini
umumnya mengandung minyak dengan API gravity 10 20 dengan
viskositas pada temperatur reservoir 200 1000 cp. Meskipun pada
beberapa kasus permeabilitasnya cukup besar, tetapi energy reservoirnya
tidak cukup untuk memproduksi minyak tersebut karena viskositasnya
yang sangat tinggi. dengan kenaikan temperatur yang kecil mengakibatkan
penurunan viskositas yang cukup besar dan inilah yang merupakan dasar
dari proses thermal yaitu dengan cara memberi energy panas pada
reservoir agar temperaturnya naik. Injeksi panas dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu injeksi fluida panas (injeksi air panas dan injeksi
steam) dan In-situ Combustion (pembakaran ditempat).
a) Injeksi Uap
Injeksi uap adalah menginjeksikan uap kedalam reservoir minyak
untuk mengurangi viskositas yang tinggi supaya pendesakan minyak

103

lebih efektif, sehingga akan meningkatkan perolehan minyak. Proses


pelaksanaan injeksi uap hamper sama dengan injeksi air. Uap
diinjeksikan secara terus menerus melalui sumur injeksi dan minyak
yang didesak akan diproduksikan melalui sumur produksi yang
berdekatan.

Gambar

3.6.

Steamflooding (reprinted from Enhanced Oil Recovery and Improved Drilling


Technology, Report No.DOE/BETC-82/1,courtesy Bartlesville Energy Technology
Center, DOE)

b) In-situ Combustion
Metode pembakaran ditempat (In-situ Combustion) dilaksanakan
dengan jalan menyalakan api di reservoir melalui suatu sumur,
kemudian diinjeksikan udara. Sebagian minyak bumi akan terbakar di
reservoir. Yang umum dilakukan adalah proses yang disebut teknik
forward combustion, dimana reservoir dinyalakan melalui sumur
injeksi kemudian udara diinjeksikan untuk menyebarkan front api yang
terjadi ke sekelilingnya. Salah satu teknik yang dapat dilakukan adalah
metode COFCAW (Combination of Forward Combustion and Water
Flooding). Metode yang lain adalah Reverse Combustion dimana api
dinyalakan pada sumur yang nantinya akan menjadi sumur produksi.
Udara kemudian diinjeksikan dari sumur didekatnya. Akan tetapi
keberhasilan metode ini sangat kecil.

104

Gambar

3.7. In

Situ Combustion (reprinted from Enhanced Oil Recovery and Improved Drilling
Technology, Report No.DOE/BETC-82/1,courtesy Bartlesville Energy Technology
Center, DOE)

3.3.4. Miscible Displacement


Pada miscible displacement ini terdapat beberapa metode yang
diterapkan, diantaranya yaitu:
a) Injeksi Hidrokarbon
Metode ini dilaksanakan dengan menginjeksikan hidrokarbon ringan
kedalam reservoir sehingga dapat tercampur. Ada tiga macam metode
yang biasa digunakan pada injeksi hidrokarbon ini, yaitu:
Diinjeksikan 5% (pore volume) liquefied petroleum gas (LPG)

misalnya propane, diikuti oleh gas alam atau air.


Metode yang disebut injeksi gas yang diperkaya, yang terdiri
atas 10 20 % (pore volume) gas alam yang diperkaya dengan gas
etana sampai dengan heksana (C2 C6) diikuti oleh lean gas
(pada umumnya metana) atau air. Gas gas pengaya ini terlarut

kedalam minyak bumi.


Metode yang ketiga adalah yang disebut pendorongan gas dengan
tekanan tinggi, yaitu menginjeksikan lean gas dengan tekanan
tinggi untuk melepaskan komponen komponen C2 C6 dari
minyak bumi yang didesak.

b) Injeksi Gas Nitrogen

105

Metode peningkatan perolehan minyak menggunakan niterogen dapat


terjadi sebagai akibat pendesakan gas dengan kondisi dapat baur
tergantung pada tekanan dan komposisi minyak. Gas nitrogen ini
relatif murah harganya sehingga dapat digunakan dalam jumlah
banyak secara ekonomis. Bahkan seringkali gas ini digunakan sebagai
gas pengganti pada injeksi hidrokarbon atau karbondioksida, setelah
sejumlah material tersebut diinjeksikan.

Gambar

3.8.

Nitrogen

flooding

(reprinted

from

Enhanced Oil Recovery and Improved Drilling Technology, Report


No.DOE/BETC-82/1,courtesy Bartlesville Energy Technology Center, DOE)

c) Injeksi Karbondioksida
Metode peningkatan perolehan minyak dengan injeksi CO2 dilakukan
dengan menginjeksikan sejumlah besar gas CO2 (15% pore volume
atau lebih) kedalam reservoir. Meskipun CO2 ini benar benar dapat
baur dengan minyak bumi, namun CO 2 juga dapat mengekstrasi
komponen ringan sampai menengah dari minyak. Apabila tekanan
cukup tinggi, maka terjadi kondisi dapat baur dan minyak terdesak ke
sumur sumur produksi.

106

Gambar

3.9.

Carbon

dioxide

flooding

(reprinted

from

Enhanced

Oil

Recovery

and

Improved

Drilling
Technology, Report No.DOE/BETC-82/1,courtesy Bartlesville Energy Technology
Center, DOE)

3.3.5. Microbial EOR


Injeksi mikroba adalah suatu metode pengurasan minyak tahap lanjut
dengan cara menginjeksikan mikroba ke dalam reservoir untuk
meningkatkan perolehan minyak. Bakteri yang ada dalam reservoir
kemungkinan berasal dari sisa sisa populasi bakteri yang ada pada saat
pembentukan minyak bumi. Ada kemungkinan adalah karena penetrasi
sepanjang aquifer dari permukaan. Penetrasi bakteri dari permukaan bisa
memerlukan waktu yang berthaun tahun, selama air tersebut
mengandung karbon atau bahan organic dalam batuan yang mereka lewati.
Adanya bakteri dalam reservoir akan mempunyai pengaruh seperti:
Penyumbatan pori yaitu penyumbatan pada pore throat sehingga akan
memperkecil porositas dan permeabilitas batuan. hal ini dapat
diakibatkan oleh adanya bakteri yang berspora atu dapat juga sebagai

adanya pertumbuhan bakteri itu sendiri.


Degradasi hidrokarbon, jenis hidrokarbon sangat dipengaruhi oleh
komposisi dan ikatan kimia. Zobell (1950) mengamati kemampuan
mikroba dalam mendegradasi hidrokarbon.
a. Hidrokarbon alifatik lebih mudah

didegradasi

dari

pada

hidrokarbon aromatk.
b. Rantai panjang mudah didegradasi sari pada rantai pendek.
c. Hidrokarbon tidak jenuh lebih mudah didegradasi dari pada
hidrokarbon jenuh.

107

d. Hidrokarbon rantai bercabang lebih mudah didegradasi dari pada

hidrokarbon rantai lurus.


Pengasaman (souring), produksi asam oleh mikroba sebagai hasil
proses glikolisis atau proses fermentasi. Produksi asam ini dapat
mengakibatkan adanya perubahan pororsitas dan permeabilitas. Jika
bereaksi dengan karbonat dan menghasilkan CO 2 permeabilitas pada
reservoir karbonat diharapkan naik. Gas CO2 ini dapat mengakibatkan
terjadinya oil swelling sehingga viskositas minyak akan turun.

3.4.........................................................................................Screening Kriteria
Saat ini dunia perminyakan sedang menghadapi permasalahan dengan
laju produksi yang terus menurun. Oleh karena itu, sekarang ini sedang
dikembangkan teknologi teknologi baru dalam usaha meningkatkan laju
produksi minyak. Salah satu diantaranya adalah Enhanced Oil Recovery
(EOR).
Penerapan metode EOR harus mempertimbangkan beberapa hal
diantaranya adalah pemilihan metode EOR yang sesuai untuk suatu
reservoir agar metode yang dipilih dapat bekerja secara optimal. Oleh
karena itu, diperlukan suatu proses yang disebut screening criteria yaitu
suatu proses pemilihan metode EOR berdasarkan karakteristik reservoir,.
Parameter yang biasa diperhitungkan antara lain : gravity, viskositas,
saturasi minyak, jenis formasi, ketebalan lapisan, permeabilitas rata rata,
transmibility, kedalaman, serta temperatur.
Seringkali salah satu karakteristik reservoir tidak sesuai dengan
kriteria aplikasinya. Namun hal ini bukan merupakan suatu hal yang
menentukan bahwa proses injeksi tidak dapat dilakukan. Dapat saja ada
parameter yang kurang menguntungkan tersebut. Selain itu, pada beberapa
metode misalnya injeksi air kedalaman tidak menjadi faktor yang penting.

BAB IV

WATERFLOODING

108

4.1.............................................................................Pengertian Waterflooding
Pada reservoir minyak, tekanan reservoir akan berkurang selama
produksi berlangsung. Penurunan tekanan reservoir di bawah tekanan
bubble point dari hidorkarbon mengakibatkan keluarnya gas dari minyak.
Gelembung gas akan membentuk fasa yang berkesinambungan dan
mengalir kea rah sumur sumur produksi, bila saturasinya melampaui
harga saturasi equilibrium. Terproduksinya gas ini akan mengurangi
energy yang tersedia secara alami dapat berkurang pula. Secara umum
dapat dikatakan bahwa penurunan tekanan yang tidak dikontrol memberi
kontribusi terhadap pengurangan recovery.
Penurunan tekanan reservoir dapat diperlambat secara alami bila
penyerapan reservoir oleh sumur sumur produksi diimbangi oleh
perembesan air kedalam reservoir dari aquifer. Air ini akan berperan
sebagai pengisi atau pengganti minyak yang terproduksi, selain itu dapat
berperan sebagai media pendesak. Produksi minyak yang mengandalkan
tenaga penambahan dari gas yang keluar dari larutan (depletion drive). Hal
inilah yang menyebabkan orang melakukan proses penginjeksian air
(waterflooding) dari permukaan bumi kedalam reservoir minyak.
Waterflooding merupakan metode tahap kedua, dimana air diinjeksikan
ke dalam reservoir untuk mendapatkan perolehan minyak agar dapat
bergerak dari reservoir menuju sumur produksi setelah reservoir tersebut
mendekati batas ekonomis produktif melalui perolehan tahap pertama.
Penginjeksian air yang dimaksud disini merupakan penambahan
energy kedalam reservoir melalui sumur sumur injeksi. Air akan
mendesak minyak mengikuti jalur jalur arus (stream line) yang dimulai
sumur dari injeksi dan berakhir pada sumur produksi.
Waterflooding (injeksi air) merupakan salah satu dari metode
perolehan

tahap

kedua

yang

banyak

digunakan

dalam

industri

perminyakan, karena memiliki keuntungan daripada metode perolehan


tahap kedua lainnya yaitu gas flooding. Alasan diterapkannya metode
waterflooding dilapangan yaitu sebagai berikut:

109

1.
2.
3.
4.

Mobilitas yang cukup rendah


Air mudah didapatkan
Pengadaan air cukup murah
Berat kolom air dalam sumur injeksi turut memberikan tekanan,
sehingga cukup banyak mengurangi tekanan injeksi yang perlu

diberikan di permukaan
5. Mudah tersebar ke daerah reservoir, sehingga efisiensi penyapuannya
cukup tinggi
6. Memiliki efisiensi pendesakan yang sangat baik

4.2..................................................................................Sejarah Waterflooding
Penemuan minyak mentah oleh Edwin L. Drake di Titusville pada
tahum 1859 menandai dimulainya era industri minyak bumi. Penggunaan
minyak bumi yang semakin meluas membuat orang mulai berpikir untuk
meningkatkan perolehan produksi minyak bumi. Maka pada awal 1880-an,
J.F. Carll mengemukakan pendapatnya bahwa kemungkinan perolehan
minyak dapat ditingkatkan melalui penginjeksian air dari suatu sumur
injeksi untuk mendorong minyak ke sumur produksi adalah sangat besar.
Eksperimen waterflood pertama tercatat dilakukan di lapangan
Bradford, Pennsylvania pada tahun 1880-an. Dari eksperimen pertama ini,
mulai terlihat bahwa program waterflood akan dapat meningkatkan
produksi minyak. Maka pada awal 1890-an, dimulailah penerapan
waterflood di lapangan-lapangan minyak di Amerika Serikat.
Pada 1907, ditemukan metoda baru dalam pengaplikasian waterflood
di Lapangan Bradford, Pennsylvania, yang disebut sebagai metoda
lingkar (circular method), yang juga tercatat sebagai pengaplikasian
flooding pattern pertama. Karena adanya regulasi pemerintah yang
melarang penerapan waterflood di masa itu, proyek ini dilakukan secara
sembunyi-sembunyi, sampai larangan itu dicabut pada 1921.
Mulai tahun 1921, penerapan waterflood mulai meningkat. Pola
pattern waterflood berubah dari circular method menjadi line method.

110

Pada 1928, pola five spot ditemukan dan diterapkan secara meluas di
lapangan-lapangan

minyak.

Selain

tahun-tahun

tersebut,

operasi

waterflood juga tercatat dilakukan di Oklahoma pada tahun 1931, di


Kansas pada tahun 1935, dan di Texas pada tahun 1936.
Dibandingkan dengan masa sekarang, penerapan waterflood pada masa
dahulu boleh dibilang sangat sedikit. Salah satu faktor penyebabnya adalah
karena pada zaman dahulu pemahaman tentang waterflood masih sangat
sedikit. Selain itu, pada zaman dahulu produksi minyak cenderung berada
diatas kebutuhan pasar.
Signifikansi waterflood mulai terjadi pada akhir 1940-an, ketika
sumur-sumur produksi mulai mencapai batasan ekonomis (economic limit)
nya dan memaksa operator berpikir untuk meningkatkan producable
reserves dari sumur-sumur produksi. Pada 1955, waterflood tercatat
memberikan konstribusi produksi lebih dari 750000 BOPD dari total
produksi 6600000 BOPD di Amerika Serikat. Dewasa ini, konstribusi
waterflood mencapai lebih dari 50% dari total produksi minyak di
Amerika Serikat.

111

4.3...................................................................................Tujuan Waterflooding
Pertimbangan dilaksanakannya operasi perolehan minyak tahap kedua
(secondary recovery) dengan injeksi air adalah untuk memperoleh minyak
sisa di reservoir yang tidak dapat diambil dengan metode tahap awal. Laju
produksi yang terjadi pada suatu sumur minyak mengalami penurunan
sehingga secara ekonomis sudah tidak menguntungkan. Tekanan reservoir
yang ada semakin berkurang sehingga tidak mampu lagi mengalirkan
minyak ke permukaan.
Penginjeksian air bertujuan untuk memberikan tambahan energy
kedalam reservoir. Pada proses pendesakan, air akan mendesak minyak
mengikuti jalur kalur arus (stream line) yang dimulai dari sumur injeksi
dan berakhir pada sumur produksi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
4.1, yang menunjukkan kedudukan partikel air yang membentuk batas airminyak sebelum breakthough (a) dan sesudah breakthough (b) pada sumur
produksi.

Gambar 4.1. Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus (a) Sebelum dan (b) Sesudah
Tembus Air Pada Sumur Produksi (Craft, B. C.,Hawskin, M.F,. Applied Reservoir
Engineering.1959)

Pertimbangan lain dilakukannya injeksi air adalah bahwa sebagian


besar batuan reservoir bersifat water wet, sehingga fasa air lebih banyak
melekat pada batuan dan minyak akan terdesak dan bergerak ke tempat
lain.
Pada saat ini air telah digunakan secara luas sebagai fluida injeksi. Air
pada umumnya lebih effisien dari pada gas saat mendesak fluida, karena:

112

1. Batuan reservoir lebih mudah dibasahi air dari pada gas, oleh karena
itu air dalam jumlah yang banyak mudah masuk dalam pori pori
batuan reservoir.
2. Viskositas air lebih besar daripada viskositas gas, yang mana akan
menaikkan perolehan minyak.
3. Dalam reservoir water wet, permeabilitas efektif air umunya lebih
rendah, kecuali pada saturasi yang sangat besar yang mana juga
mengurangi mobilitas fasa air.

4.4.

Prinsip Kerja Waterflooding


Dalam operasi perolehan tahap kedua ini air di injeksikan kedalam
reservoir minyak sisa tersebut bukan untuk mempertahankan energy
reservoir, tetapi secara fisik mendesak minyak sisa dari reservoir.
Dalam pelaksanaan waterflooding ini, dibutuhkan sumur injeksi dan
sumur produksi. Bisa menggunakan lebih dari satu sumur injeksi,
banyaknya sumur tergantung dari tingkat penyapuan dan keekonomisan.
Sumur sumur injeksi ini biasanya merupakan sumur lama yang tidak
produksi lagi.
Mekanisme kinerja waterflooding ini yaitu dengan dipompakannya
sejumlah air ke dalam sumur injeksi dengan tekanan tertentu dan
diharapkan air tersebut dapat mendorong hidrokarbon yang ada di
reservoir untuk mengalir ke sumur produksi, seperti yang ditunjukkan
pada gambar diatas air akan terus mengalir mendorong hidrokarbon
hingga air juga ikut terproduksi, sampainya air injeksi disumur produksi
dinamakan dengan breakthrough. Waterflooding dihentikan bila pada
sumur produksi tidak ada hidrokarbon yang terproduksi lagi , atau hanya
air yang terproduksi.
Syarat dari pelaksanaan waterflooding yaitu sumur injeksi dan sumur
produksi harus di reservoir yang sama dan waterflooding ini cocok untuk
reservoir yang homogen. Karena bila metode ini di terapkan pada
reservoir yang heterogen maka akan terjadi fingering. Fingering yaitu

113

kedudukan air injeksi yang tidak sama karena adanya perbedaan


permeabilitas

dan

porositas

dalam

reservoir

sehingga

dalam

pelaksanaannya reservoir yang memiliki perbandingan permeabilitas dan


porositas yang besar akan terjadi breakthrough lebih cepat dibandingkan
dengan yang kecil.
4.5.

Screening Kriteria Waterflooding


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan injeksi
air sebagai secondary recovery seperti keseragaman formasi, struktur
batuan reservoir (patahan, kemiringan dan ukuran), topografi, sumur
sumur yang sudah ada dan ekonomis. Bila melihat faktor faktor tersebut,
maka reservoir batuan karbonat untuk injeksi air sangat mendukung.
Injeksi air secara umum dapat saja diterapkan pada semua reservoir,
tetaoipi yang menjadi pertimbangan apakah air injeksi tersedia dalam
jumlah yang cukup selama masa produksi dan apakah fluida injeksi sesuai
dengan sifat fisik batuan dan fluida reservoir. Kemudian apakah dengan
injeksi air dapat meningkatkan perolehan produksi. Jadi sebelum
dilakukannya injeksi air harus diketahui beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi injeksi air, yaitu sebagai berikut:
1. Geometri Reservoir
Menurut Cole F.W. struktur dan stratigrafi reservoir mempunyai
pengaruh yang cukup besar dalam menentukan dan memilih pola
sumur injeksi, umumnya proyek injeksi air dilakukan pada reservoir
reservoir yang mempunyai relief yang tidak curam. Hal ini karena air
cenderung untuk maju lebih cepat di bagian bawah reservoir. Tingkat
keseragaman formasi reservoir batuan karbonat, secara umum sangat
menunjang. Reservoir batuan karbonat memiliki sifat penyebaran yang
sangat luas, meskipun demikian reservoir batuan karbonat tetap dapat
mempertahankan sifat sifat fisik batuannya. Struktur reservoir batuan
karbonat dapat membentuk lipatan dan patahan. Dimana lipatan dan
patahan dapat meningkatkan effisiensi pendesakan.

114

2. Kedalaman Reservoir
Kedalaman reservoir merupakan salah satu faktor yang harus
dipertimbangkan dalam injeksi air. Setelah operasi primary, saturasi
minyak sisa pada daerah yang dalam kemungkinan lebih rendah
daripada daerah dangkal karena volume gas terlarut yang besar
umunya ada untuk mengeluarkan minyak dan karena faktor
penyusutan besar sehingga sisa minyaknya sedikit. Kedalaman yang
menyebabkan tekanan yang besar dan jarak sumur yang lebar,
memberikan batuan reservoir pengaruh pada derajat keseragaman
lateral. Perhatian seharusnya ditujukan pada lapangan yang dangkal
karena tekanan maksimum dapat diterapkan pada secondary recovery
yang dibatasi oleh kedalaman reservoir. Pada injeksi air terdapat
tekanan kritis (biasanya diperkirakan bahwa tekanan static kolom
batuan atau pilih 1 psi/ft dari kedalaman sand) yang jika melebihi, air
akan menembus dan memperlebar rekahan atau bidang lainnya
menjadi lemah, seperti joints dan bedding plane.
Hasilnya terjadi chanelling air yang diinjeksikan atau melewati
bagian yang luas dari matrik reservoir. Akibatnya gradient tekanan
operasi yang 0.75 psi/ft pada kedalaman normal yang biasanya
dibolehkan untuk memberikan sedikit batasan untuk keamanan agar
tekanan tidak terbagi. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan
keraguan yang ada, informasi mengenai tekanan rekah dan tekanan
breakdown pada lokasi yang diberikan seharusnya diteliti. Salah satu
tekanan seharusnya dipertimbangkan sebagai batas atas untuk injeksi.
Pertimbangan ini juga akan mempengaruhi pemilihan peralatan dan
desain plant, demikian pula jumlah dan lokasi sumur injeksi.
3. Sifat Fisik Batuan dan Fluida Reservoir
Faktor faktor sifat fisik fluida dan batuan reservoir seperti
porositas, permeabilitas, kandungan lempung dan wettability (sifat
kebasahan) juga mempengaruhi keberhasilan dari injeksi air tersebut.
Karena apabila faktor faktor tersebut tidak memenuhi syarat untuk

115

dilakukannya waterflooding maka target pendesakan minyak untuk


naik ke permukaan tidak akan tercapai. Dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Lithologi
Lithology memiliki pengaruh yang sangat besar dalam efisiensi
injeksi air. Faktor lithologi yang mempengaruhi injeksi adalah
porositas, permeabilitas dan kandungan clay. Pada beberapa sistem
reservoir yang kompleks, hanya sebagian kecil dari porositas total
seperti porositas rekahan akan mempunyai permeabilitas yang
cukup efektif pada operasi injeksi air. Pada hal ini, injeksi air
hanya akan memiliki pengaruh yang kecil pada porositas matrik.
Evaluasi pengaruh semacam ini membutuhkan penyelidikan
laboratorium yang lebih teliti dan studi reservoir yang lebih

komprehensif.
Porositas
Perolehan total minyak dari reservoir merupakan fungsi langsung
dari porositas, karena porositas menentukan jumlah minyak yang
ada dalam persen saturasi minyak. Porositas batuan yang semakin
besar akan menghasilkan cadangan sisa yang semakin besar,
wettability dapat mempengaruhi effisiensi pendesakan air dan
batuan reservoir yang bersifat oil wet akan lebih sulit didesak oleh
air jika dibandingkan dengan batuan reservoir yang bersifat water

wet.
Permeabilitas
Variasi permeabilitas kea rah lateral maupun ke arah vertical
adalah sangat penting untuk diperhatikan pada operasi injeksi air.
Batuan reservoir yang uniform lebih menguntungkan untuk
dilakukan injeksi air dibandingkan dengan batuan reservoir yang
mempunyai variasi permeabilitas yang besar. Karena air yang
merupakan fluida injeksi akan cenderung mengalir pada bagian
bagian reservoir yang besar permeabilitasnya, sehingga dapat
menimbulkan penerobosan penerobosan oleh air dan hal ini akan
mengurangi effisiensi pendesakan. Injeksi air sukar dilakukan

116

untuk reservoir minyak yang mempunyai viskositas lebih besar


dari 200 cp karena akan cenderung terjadi fingering yang
berhubungan dengan mobilitas. Fingering juga akan terjadi pada

reservoir yang heterogen.


Mobilitas Ratio
Perbandingan antara permeabilitas batuan dan viskositas fluida
reservoir dinamakan mobilitas. Fluida yang mengalir didalam
reservoir dipengaruhi oleh permeabilitas batuan, viskositas fluida
dan perbedaan tekanan. Mobilitas fluida didefinisikan sebagai
perbandingan antara permeabilitas efektif dan viskositasnya yang
merupakan ukuran kemampuan fluida untuk mengalir dalam media
berpori

sedangkan

mobilitas

relatif

adalah

perbandingan

permeabilitas relatif dan viskositas. Semakin tinggi mobilitas suatu


fluida reservoir maka semakin mudah fluida tersebut mengalir di
dalam reservoir. Sifat sifat fisik fluida reservoir yaitu minyak, air
dan gas serta karakteristik batuan reservoir dapat mempengaruhi
mempengaruhi gaya kapiler dan mobilitas fluida. Gaya kapiler
adalah merupakan hasil dari pengaruh gabungan antara gaya
permukaan, tegangan antar pemrukaan, wettability dan geometri
pori pori batuan. Gaya ini mempengaruhi hubungan antara
permeabilitas relatif dengan saturasi fluida, baik air sebagai fluida
pendesak dan minyak sebagai fluida yang didesak. Dalam suatu
injeksi air yang diharapkan adalah mobilitas minyak jauh lebih
besar dari pada mobilitas air, sehingga diperoleh suatu effisiensi
pendesakan yang paling besar. Pada proses penginjeksian air yang
bertindak sebagai fluida pendesak adalah air. Sedangkan minyak
merupakan fluida yang didesak. Perbandingan antara mobilitas
fluida pendesak dengan mobilitas fluida yang didesak dinamakan
mobilitas rasio.
Mobilitas Rasio (M) =

mobilitas fluida pendesak


mobilitas fluida terdesak

p
t . (4-1)

117

Hubungan Sifat Fisik Fluida dan Permeabilitas relatif


Sifat fisik fluida reservoir juga berpengaruh pada kelayakan injeksi
air. Hal yang paling penting diantara sifat fisik fluida adalah
viskositas minyak. Viskositas minyak mempengaruhi mobility
ratio. Permeabilitas relatif batuan reservoir juga merupakan faktor
dalam mobility ratio, sebagaimana viskositas mendesak fluida
(air). Mobility pada fasa tunggal misalnya minyak adalah
perbandingan permeabilitas minyak terhadap viskositas minyak.
Mobility ratio (M) adalah perbandingan mobilitas fluida pendesak
terhadap mobilitas fluida yang didesak. Semakin besar mobility
ratio maka semakin kecil recovery pada saat breakthrough, karena

itu air yang diproduksikan lebih banyak. Hal ini dikarenakan :


Pada saat breakthrough daerah yang disapu lebih kecil
Pengaruh stratifikasinya sangat tinggi
Minyak dengan viskositas yang tinggi (gravity rendah), primary
recovery umumnya rendah dan pengurangannya lebih sedikit dari
pada minyak dengan viskositas yang rendah. Kecenderungan ini
mengimbangi pengaruh buruk minyak yang viskositasnya tinggi
karena sering kali menghasilkan saturasi minyak yang besar pada
awal operasi injeksi air. Efisiensi perolehan minyak dengan injeksi
air pada reservoir batuan karbonat tergantung pada sifat sifat
fisik batuan. dimana sifat sifat fisik ini akan mempengaruhi
porositas, permeabilitas dan kandungan clay. Sifat fisik batuan
meliputi ukuran butir, bentuk butir (euhedral, subhedral, anhedral),
pemilahan (baik atau buruk) dan kemas (terbuka atau tertutup).
Apabila bentuk butir semakin bulat (euhedral) maka porositas dan
permeabilitas akan semakin baik. Kemas terbuka cenderung
memiliki porositas dan permeabilitas yang baik. Semakin banyak
kandungan clay akan menyebabkan porositas dan permeabilitas
kecil. Efisiensi penyapuan dipengaruhi oleh ketidak seragaman
permeabilitas yang ada pada batuan karbonat. Selain itu pola sumur

118

injeksi juga turut mempengaruhi perbandingan mobilitas ratio dan


air injeksi yang digunakan. Hal ini menyebabkan tidak meratanya
daerah penyapuan oleh injeksi air. Efisiensi invasi sangat
dipengaruhi oleh sifat sifat fisik batuan. pada reservoir batuan
karbonat terdapat perlapisan yang berbeda beda terutama
permeabilitasnya. Bidang front dan zona transisi akan bergerak
cepat pada lapisan yang lebih permeable. Sehingga breakthrough
air akan lebih dulu pada lapisan permeable. Dimana efisiensi invasi
akan memperngaruhi efisiensi volumetric yang merupakan
perbandingan volume pori pori yang dapat didesak oleh fluida
pendesak terhadap volume pori reservoirnya.
4. Laju injeksi
Sebetulnya secara teoritis bila diinjeksikan air dengan rate injeksi
yang tinggi, maka akan dapat diperoleh minyak dengan segera. Tetapi
bila rate injeksi dibuat terlalu besar kemungkinan untuk timbulnya
penerobosan penerobosan (chanelling, fingering) oleh air lebih besar,
sehingga pada akhirnya akan dapat mengurangi efisiensi pendesakan.
Sebaliknya jika rate injeksi air kecil, maka dengan adanya pengaruh
gravitasi juga akan dpat mendesak minyak yang terperangkap di dalam
pori pori batuan reservoir, tetapi dengan cara ini minyak tidak dapat
dengan segera diperoleh. Besarnya debit injeksi sangat tergantung
pada tekanan injeksi didasar sumur dan tekanan reservoirnya.
Penentuan performance injeksi berpola berhubungan dengan effisiensi
penyapuannya volume air injeksi, fraksi laju alir air injeksi dan
mobilitas air terhadap minyak.
5. Sifat Injeksi Air
Keberhasilan atau kegagalan pendesakan air sangat dipengaruhi
oleh keadaan atau sifat sifat air yang dipakai sebagai fluida injeksi.
Jika sifat sifat air injeksi tidak dapat di satukan (compatible) dengan
air yang semula terdapat di dalam reservoir maka akan dapat

119

menimbulkan masalah yang serius. Seperti misalnya terjadi endapan


scale di dalam reservoir atau air injeksi dapat menjadi bersifat korosif
sehingga dapat merusak peralatan yang ada. Efisiensi pendesakan
untuk reservoir batuan karbonat umumnya tidak merata. Hal ini karena
kesanggupan fluida injeksi yang bermacam macam sehingga masih
ada pori pori batuan yang ditempati minyak atau gas. Tidak semua
minyak atau gas yang dapat didesak oleh air karena ketidakseragaman
permeabilitas dan faktor wettabilitas batuan yang mempengaruhi.
6. Tata Letak Sumur
Untuk memperoleh hasil yang optimal pad secondary recovery.
Diperlukan perencanaan antara lain penentuan lokasi dan pola sumur
injeksi-produksi, penentuan debit injeksi dan tekanan penetuan
performa injeksi berpola. Untuk memilih lokasi sebaiknya digunakan
peta distribusi cadangan minyak sisa. Pada daerah yang minyak sisa
masih besar mungkin diperlukan lebih banyak sumur produksi
daripada daerah yang minyaknya tinggal sedikit. Peta isopermeabilitas
juga membantu dalam memilih arah aliran supaya penembusan fluida
injeksi tidak terlalu dini. Sumur sumur injeksi dan produksi
umumnya dibentuk dalam suatu pola misalnya pola tiga titik, pola lima
titik, pola tujuh titik dan sebagainya.
Apabila suatu pola sumur dimana sumur produksi dikelilingi oleh
sumur sumur injeksi disebut dengan pola normal. Sedangkan apabila
sebaliknya disebut pola inverted. Pada umunya dipegang prinsip
bahwa sumur sumur yang sudah ada sebelum injeksi dipergunakan
secara maksimal pada waktu berlangsungnya injeksi nanti. Jika masih
diperlukan sumur sumur baru, maka perlu ditentutakan lokasinya.
Dalam penentuan pola sumur injeksi produksi tergantung pada tingkat
keseragaman formasi, struktur batuan reservoir (patahan, kemiringan),
topografi dan turut mempertimbangkan faktor keekonomian.
7. Waktu Perencanaan Injeksi Air

120

Waktu yang tepat untuk injeksi air tergantung pada tujuan utama
dilakukannya injeksi air. Diantara tujuan yang mungkin antara lain :
1. Maksimum Oil Recovery
2. Keuntungan maksimum dimasa datang
3. Keuntungan maksimum dari biaya nyang diinvestasikan
4. Pengembalian biaya yang stabil
5. Potongan maksimum dengan nilai yang sekarang
Umumnya waktu yang tepat untuk injeksi air dihitung berdasarkan
oil recovery yang diinginkan, laju produksi, investasi, keuntungan
diawal operasi dan kemudian memperkirakan pengaruh faktor faktor
ini terhadap tujuan yang diinginkan.

121

4.6.

1.

Desain Sumur Waterflooding


Sebelum dilakukan proses waterflooding maka diperlukan studi
pendahuluan yang meliputi:
Perolehan Data data
Sifat Fisik Batuan Reservoir meliputi permeabilitas rata rata
dalam berbagai luasan reservoir, data porositas dalam berbagai
luasan reservoir dan heterogenitas reservoir mengenai perubahan

permeabilitas dalam setiap ketebalan.


Sifat Fisik Fluida meliputi Spesific Gravity, Faktor Volume

Formasi dan viskositas sebagai fundsi saturasi fluida.


Distribusi saturasi air yaitu distribusi saturasi sesudah dan sebelum

injeksi.
Model Geologi yaitu diperlukan pengetahuan tentang model
geologi yang dapat diterapkannya waterflooding dengan tepat,

pengetahuan meliputi stratigrafi dan struktur.


Sejarah produksi dan tekanan meliputi identifikasi mengenai
mekanisme pendorong selama produksi tahap awal seperti water
drive, gas cap drive, solution gas drive, segregation drive atau
combination drive. Perkiraan minyak yang tersisa setelah produksi

awal serta distribusi tekanan dalam reservoir.


Air untuk injeksi memiliki syarat syarat yaitu tersedia dalam
jumlah yang cukup selama masa injeksi, tidak mengandung
padatan padatan yang tidak dapat larut, dan secara kimiawi stabil
dan tidak mudah bereaksi dengan elemen elemen yang terdapat

2.

dalam sistem injeksi dan reservoir.


Simulasi Reservoir
Simulasi dibuat berdasarkan data data diatas, simulasi dapat dibuat
dalam sistem 1 dimesi, 2 dimensi dan 3 dimensi dengan teknik
numeric.

122

3.

4.

Laboratorium
Diadakan penelitian laboratorium untuk mencari kecocokan antara
proses waterflooding dengan sifat batuan dan fluidanya.
Pilot Project
Mencoba mengaplikasikan ke dalam permasalahan di lapangan. Ada
dua jenis pola injeksi yang umum digunakan, yaitu pola five-spot dan
single injection. Kedua pola ini dapat memaksimalkan jumlah migrasi

5.

minyak.
Monitoring
Melihat dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari lapangan. Untuk
mengamati apakah tidak terjadi aliran minyak yang keluar dari pilot

6.

area.
Resimulasi
Hasil yang diperoleh dari lapangan dibandingkan dengan simulasi
reservoir yang dibuat, kemudian mengadakan penyesuaian antara

7.

kondisi lapangan dengan simulasi reservoir.


Evaluasi Ekonomi
Meliputi perkiraan biaya yang akan dibutuhkan, perhitungan
perhitungan dan presentasi.
Sedangkan penilaian layak tidaknya suatu proyek waterflooding
memerlukan keterangan mengenai:
Tahap Pendahuluan
: Perkiraan recovery menyeluruh
Tahap Lanjut
: Perkiraan laju produksi terhadap waktu
Perkiraan recovery ini diperlukan untuk memperoleh gambaran kasar
apakah proses injeksi air layak untuk dilaksanakan. Persamaan empiris
yang dapat digunakan adalah :

123

Geuthrie-Grennberger
ER = 0.2719 log K + 0.25569 Sw + 0.1355 log

1.538

- 0.0003488 h + 0.11403 ........................................................

API (American Petroleum Institute)

ER = 54.898

(1S w )
B oi

0.0422

0.0770

] [ ]
KW i
oi

Sw-0.1903

[ PiPa ]

-0.2159

..........................................................................................................(4-3)
Dimana :Sw
K

= Saturasi Air, Fraksi


= Permeabilitas, mD
= Porositas, Fraksi

o
w

Bo
Pi
Pa

= Tebal Formasi
= Viscositas Minyak, cp
= Viskositas Air, cp
= Faktor Volume Formasi Minyak, STB/BBL
= tekanan Reservoir Mula mula, psia
= Tekanan Reservoir Saat Ditinggalkan, psia

Secara volumetric dapat pula ditentukan jumlah minyak yang dapat


dihasilkan oleh penginjeksian air yaitu berdasarkan persamaan:

Npf = 7758 Vsw

Dimana :

E
t

S opS
BopB

......................................................(4-4)

Npf
Vsw
Sop
Sor
Bop

=
=
=
=
=

Kumulatif produksi minyak, STB


Gross swept volume, acre-ft
Saturasi minyak pada saat dimulai injeksi, %
Saturasi minyak pada saat akhir injeksi, %
Faktor volume minyak pada awal injeksi,

Bor

BBL/STB
= Faktor volume minyak pada akhir injeksi,

Et

BBL/STB
= Effisiensi total penginjeksian, %

124

Gross swept volume (Vsw) merupakan volume minyak yang


dipengaruhi oleh letak dari sumur injeksi-produksi yang harganya belum
tentu sama dengan volume reservoir keseluruhannya. Faktor efisiensi (E t)
dipengaruhi sifat homogenitas reservoir (variasi harga permeabilitas
dalam arah vertical) dan pola susunan injeksi-produksi.

4.6.1. Perencanaan Waterflooding


Perencaan sumur injeksi atau waterflooding merupakan hal terpenting
sebelum dilakukannya injeksi air atau waterflooding. Ada beberapa
parameter yang harus diperhatikan dalam melakukan waterflooding,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Penentuan Lokasi Sumur Injeksi Produksi
Pada umumnya sumur sumur yang sudah ada sebelum injeksi
dipergunakan secara maksimal pada waktu berlangsungnya injeksi
nanti. Jika masih dibutuhkan sumur - sumur baru maka perlu
ditentukan lokasinya. Untuk memilih lokasi sebaiknya digunakan peta
distribusi cadangan minyak tersisa. Di daerah yang sisa minyaknya
masih besar mungkin diperlukan lebih banyak sumur produksi dari
pada daerah yang cadangan minyaknya sedikit. Peta isopermeabilitas
juga membantu dalam memilih arah aliran supaya penembusan fluida
injeksi (breakthrough) tidak terjadi terlalu dini.

125

3. Penentuan Pola Sumur Injeksi Produksi


Salah satu cara untuk meningkatkan faktor perolehan minyak
adalah dengan membuat pola sumur injeksi produksi. Tetapi harus
tetap memegang prinsip bahwa sumur yang sudah ada harus dapat
dipergunakan semaksimal mungkin pada waktu berlangsungnya
injeksi nanti.
Pertimbangan pertimbangan dalam penentuan pola sumur
injeksi produksi tergantung pada:
Tingkat keseragaman formasi, yaitu penyebaran permeabilitas

kearah lateral maupun kearah vertical.


Struktur batuan reservoir meliputi patahan, kemiringan dan

ukuran.
Sumur sumur yang sudah ada (lokasi dan penyebarannya).
Topografi
Ekonomi
Pada operasi waterflooding sumur sumur injeksi dan produksi

umumnya dibentuk dalam suatu pola tertentu yang beraturan, misalnya


pola tiga titik, lima titik, tujuh titik, dan sebagainya. Pola sumur
dimana sumur produksi dikelilingi oleh sumur sumur injeksi disebut
dengan pola normal. Sedangkan bila sebaliknya sumur sumur
produksi mengelilingi sumur injeksi disebut pola inverted. Masing
masing pola mempunyai jalur arus berbeda beda sehingga
memberikan luas daerah penyapuan yang berbeda beda. Pola pola
yang paling umum digunakan adalah sebagai berikut dengan
keterangan symbol () adalah sumur produksi dan symbol () adalah
sumur injeksi:

126

Direct Line Drive


Sumur injeksi dan produksi membentuk garis tertentu dan saling
berlawanan. Dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam sistem
ini adalah jarak antara sumur sumur sejenis (a) dan jarak antara
sumur sumur tak sejenis (b).

Gambar 4.2. Direct Line Drive (Ahmed, Tarek H,Reservoir Engineering_2E.


1946)

Staggered Line Drive..................................


Sumur sumur yang membentuk garis tertentu dimana sumur
injeksi dan produksinya saling berlawanan dengan jarak yang sama
panjang, umumnya adalah a/2 yang ditarik secara lateral dengan
ukuran tertentu.

127

Gambar 4.3. Staggered


H, Reservoir

Line Drive (Ahmed, Tarek


Engineering_2E. 1946)

Four Spot
Terdiri dari tiga jenis sumur injeksi yang membentuk segitiga dan
sumur produksi terletak ditengah tengahnya.

Gambar 4.4. Four Spot (Ahmed, Tarek H, Reservoir Engineering_2E. 1946)

Five Spot
Pola yang paling dikenal dalam waterflooding dimana sumur
injeksi membentuk segi empat dengan sumur produksi terletak
ditengah tengahnya.

128

Gambar 4.5. Five


Engineering_2E. 1946)

Spot (Ahmed, Tarek H, Reservoir

129

Seven Spot

Sumur sumur injeksi ditempatkan pada sudut sudut dari bentuk


hexagonal dan sumur produksinya terletak ditengah tengahnya.

Gambar 4.6. Seven Spot (Ahmed, Tarek H, Reservoir Engineering_2E. 1946)

Nine Spot
Pola yang terakhir yaitu nine spot dimana satu sumur injeksi yang
terletak ditengah tengah dengan dikelilingi 8 sumur produksi
dengan membentuk segi empat atau sebaliknya.

Gambar 4.7. Nine Spot (Ahmed, Tarek H, Reservoir Engineering_2E. 1946)

130

4. Penentuan Debit Injeksi dan Tekanan


Debit awal injeksi suatu sumur tergantung pada permeabilitas
efektif, viskositas minyak dan air, ketebalan sand, radius sumur
efektif, tekanan reservoir serta tekanan reservoir serta tekanan injeksi
pada sandface. Bila air mulai mengisi reservoir faktor faktor lain
akan muncul mempengaruhi kelakuan sumur injeksi. Faktor tersebut
adalah pengaruh bertambahnya tahanan aliran jika air berkembang ke
dalam reservoir dan kualitas air injeksi. Persamaan dasar untuk debit
injeksi adalah :

)
rw
0.00708 k w h( Piwf P e ) ........................................................(4-5)

w ln (

iw =

Jika air diinjeksikan terus menerus maka jari jari pendesakan


(re) akan bertambah, sedangkan laju injeksi ( i ) akan berkurang
dengan bertambahnya waktu. Jari jari pendesakan tergantung pada
volume air injeksi kumulatif di dalam ruang yang dapat dilewati air
injeksi tersebut dan dapat dinyatakan dengan persamaan:
V = 1.976 f h re2 (10-5)......................................................................(4-6)
Dimana : V
F
H
re

= Volume air injeksi kumulatif, bbl


= Bagian batuan yang dapat ditempati air, fraksi
= Ketebalan pasir, ft
= Jari jari pendesakan, ft

Umumnya harga f adalah perkalian dari porositas batuan dengan


saturasi gas. Minyak mungkin bisa di dorong oleh kemajuan air, tetapi
mungkin pula tidak. Bila minyak tidak bergerak maka air akan mengisi
ruang gas. Bila minyak bergerak di depan water bank, volume injeksi
air untuk mengisi reservoir dengan cairan (minyak dan air) untuk jarak
pendesakan tertentu masih merupakan volume yang diisi dengan gas.
Debit injeksi yang akan ditentukan disini adalah untuk sumur
sumur dengan pola tertutup dengan anggapan bahwa mobility ratio

131

(M) sama dengan satu. Besarnya debit injeksi sangat tergantung pada
perbedaan tekanan injeksi di dasar sumur dan tekanan reservoirnya.
Bentuk persamaan dikembangkan dari persamaan Darcy sesuai dengan
pola sumur injeksi produksi, sebagai berikut :
Pola Direct Line Drive (d/a1)
3,541 k w P 103
i=

..........................................(4-7)

w ln

( ra )+1.57 i da 1.838 ]

..........................................(4-8)

Pola Five Spot (d/a = 0.5)


3
3,541 k w h P 10
i=

( ra )+1.57 i da 1.838 ]

Pola Staggered Line Drive (d/a1)


3
3,541 k w h P 10
i=

w ln

[()

w ln

.......................................................(4-9)

.......................................................(4-10)

d
0.619
rw

Pola Seven Spot


472 k w h P 103
i=

[()

w ln

d
0.619
rw

Dimana : i
=
kw =
h
=
P
w

Laju injeksi, bbl/day


Permeabilitas efektif terhadap air, mD
Ketebalan, ft
=......................Perbedaan tekanan di dasar, psi
=.............................................Viscositas air, cp

= Jarak antara sumur tidak sejenis, ft

= Jarak antara sumur sejenis, ft

rw

= Jari jari efektif sumur, ft

Persamaan yang disebutkan diatas adalah laju injeksi dari fluida


yang mempunyai mobilitas yang sama (M=1) karena minyak terisi

132

oleh cairan saja. Untuk menentukan laju injeksi sampai dengan


terjadinya interferensi digunakan persamaan:
3

7.07 10 k w h P

i=

[()

w
o r e
r
ln
+ ( )
k rw
r w k ro r

Dimana : re
r

..........................................................(4-11)

= Radius terluar oil bank,ft


= Radius terluar dari front pendesakan air, ft

Dari persamaan Darcy terlihat bahwa debit injeksi dan tekanan


injeksi mempunyai keterkaitan. Masalah sekarang adalah besaran
mana yang harus ditentukan terlebih dahulu, karena keduanya
merupakan besaran yang dapat diatur dalam operasi injeksi air. Untuk
mencapai keuntungan ekonomis yang maksimal, namun ada
pembatasan yang harus diperhatikan. Batas bawah debit injeksi adalah
debit yang menghasilkan produksi minyak yang merupakan batas
ekonomisnya. Batas atas debit injeksi adalah debit yang berhubungan
dengan tekanan injeksi yang mulai menyebabkan terjadinya rekahan di
reservoir.
Analisa berikut adalah injeksi air dari interface sampai dengan fillup. Besarnya laju injeksi pada perioda ini dinyatakan dengan
persamaan:
i = I .....................................................................................(4-12)
Dimana : iwf
I

= Laju injeksi ir selama fill-up, bbl/day


= Laju injeksi air dengan M=1, bbl/day
= Conductance ratio yang ditentukan dari grafik

Metode untuk memperkirakan debit injeksi yang terbaik dengan


mempergunakan pola five spot yang memperlihatkan salah satu contoh
grafik conductance ratio untuk pola five spot. Dengan diketahuinya
laju injeksi pada setiap periode dari perilaku waterflooding, maka
diramalkan waktu injeksi dari setiap periode.

133

5. Penentuan Performance Injeksi Berpola


Percobaan model fisik berskala kecil menghasilkan beberapa
grafik performance dalam bentuk hubungan Es (effesiensi penyapuan)
terhadap Vid (Volume yang diinjeksikan, tidak berdimensi) atau fw
(Fraksi laju aliran dari fluida pendesak, misalnya air) terhadap M
(perbandingan mobilitas air terhadap minyak). Model fisik ini
menggambarkan reservoir dan aliran sebagai berikut:
Tebal lapisan dibandingkan dengan ukuran reservoir adalah kecil,

sehingga persoalan dapat dianggap 2 dimensi.


Tidak ada pengaruh gravitasi atau kemiringan reservoir adalah

kecil (<100).
Reservoir bersifat homogen.
Pendesakan torak dan aliran mantap berlaku pada proses injeksi.
Hasil percobaan diperoleh dari perekaman daerah yang didesak

dan dinyatakan dalam hubungan Es terhadap bermacam macam harga


fw dan Vid.

Es

Luas daerah dibelakang front


......................................(4-13)
Luas unit polainjeksi

Vid

Volume yang telah diinjeksi(V i )


Volume pori pori yang didesak (V d ) ..........................(4-14)

Vd

= Vb (1-Swc Sor)............................................................(4-15)

Untuk tiap tiap pola injeksi ada grafik tersendiri. Hasil percobaan
ini dapat digunakan untuk menentukan performance dari reservoir
yang mengalami injeksi berpola, baik untuk lapisan tunggal maupun
untuk reservoir berlapis lapis. Dalam hal ini akan untuk reservoir
lapisan tunggal.

134

Pada waktu injeksi dimulai reservoir akan mengandung gas bebas


bila tekanan reservoir berada dibawah tekanan jenuh. Gas bebas ini
baru dapat mengalir bila saturasi gas sudah melampaui harga saturasi
yang kritis (Sg > Sgc). Gas bebas pada saat saturasi mencapai S g Sgc
masih belum dapat mengalir, sehingga injeksi air tidak dapat
mendesak gas kea rah sumur sumur produksi melainkan tertinggal
dibelakang front atau larut kembali dalam minyak.

4.6.2. Penentuan Jumlah Minyak Mula Mula di Tempat (Original Oil in


Place)
Original Oil in Place (Ni) adalah jumlah total hidrokarbon mula-mula
yang terperangkap dalam reservoir, baik yang dapat diproduksikan
maupun yang tidak dapat diproduksikan. Besarnya cadangan minyak
mula-mula ditempat untuk suatu reservoir minyak dapat ditentukan
dengan persamaan volumetrik dimana Vb dalam satuan acre-ft, sebagai
berikut :

OOIP (Ni) = 7758

Vb avg (1Swiavg )
,(STB) ...........................(4-16)
Boi

135

Dimana:

Ni

= Jumlah minyak mula-mula ditempat, STB

Vb

= Volume batuan reservoir, Acre-ft

Boi

= Faktor Volume Formasi minyak mula-mula,


Bbl/STB

Swiavg = Saturasi air mula-mula rata-rata, fraksi


Avg

= Porositas rata-rata, fraksi

7758

= Konversi satuan, dari Acre-feet ke Bbl.

Petroleum Reservoir juga menunjukkan adanya perbedaan yang besar


dalam kondisi fisik sebagaimana batuan dan fluidanya. Disebabkan karena
perbedaan ini maka harga recovery factor berbeda dari satu reservoir
dengan reservoir yang lainnya. Meskipun terkadang reservoirnya sama,
faktor perolehan (recovery factor) tergantung pada proses produksi dan
rencana penambahannya. Dalam skala kecil sejumlah minyak yang dapat
diektrasi dari sebuah core tergantung pada teknik ekstraksi yang
dipergunakan.
Faktor perolehan atau yang disebut Recovery Factor (RF) dapat
dihitung, diukur, dan diperkirakan dari sample core yang jelas merupakan
bagian dari batuan reservoir. Harganya bervariasi bisa sampai 0 hingga
100%. Fluida hidrokarbon yang berat, mungkin faktor perolehannya
hanya 5% bahkan dapat juga kurang. Sebaliknya jika reservoir
mengandung fluida hidrokarbon ringan maka akan mempunyai RF yang
mencapai 30 atau 40%.

136

4.6.3. Macam Macam Efisiensi Pendesakan Minyak


Efisiensi pendesakan minyak terbagi menjadi beberapa bagian,
diantaranya :
a) Displacement Efficiency
Effisiensi pendesakan

adalah

perbandingan

antara

volume

hidrokarbon yang dapat didesak oleh fluida pendesak berbanding


dengan

volume

pendesakan

hidrokarbon

disebut

sebagai

seluruhnya.

Biasanya

Displacement

efisiensi

Efficiency

yang

didefinisikan juga sebagai jumlah total minyak yang berhasil didesak


dibagi dengan total Oil in Place yang ada di daerah sapuan tersebut.
Berdasarkan pengertian tersebut, Displacement Efficiency dapat
dirumuskan dengan persamaan :
ED

Oil volume displaced by water


OIPthe region swept by water ...................................(4-17)

Efisiensi pendesakan ini merupakan efisiensi pendesakan tak


bercampur

dalam skala makroskopik yang digunakan untuk

menggambarkan efisiensi pendesakan volume spesifik minyak oleh


injeksi air pada batuan reservoir, sehingga dapat ditentukan seberapa
efektifnya fluida pendesak menggerakkan minyak pada saat fluida
pendesak telah membentuk kontak dengan minyak.
Rata rata saturasi minyak So tergantung pada sifat dari proses
pendesakan, khususnya apakah pendesakan tersebut tercampur atau
tidak. Pendesakan tercampur dapat digunakan untuk mengurangi
saturasi minyak sampai tingkat yang rendah sehingga effisiensi
pendesakannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan injeksi tak
tercampur.
Dalam

proses

pendesakan

tak

tercampur,

selama

proses

berlangsung tidak terjadi perpindahan massa antara fluida pendesak


dengan fluida yang di desak atau dapat dikatakan bahwa selama proses

137

pendesakan tersebut fluida pendesak tidak masuk kedalam fluida yang


di desak.
Efisiensi pendesakan fluida reservoir dapat dilihat pada dua
konsep berikut :
1. Konsep desaturasi (leaky piston like displacement)
Pendesakan desaturasi menganggap bahwa saturasi air dizona
minyak yang telah didesak bervariasi dari 1 - Sor hingga Swf. Nilai
Sw = 1 - Sor merupakan saturasi air pada titik masuk (sumur
injeksi), sedangkan Sw = Swf merupakan saturasi air pada batas
front minyak-air. Pada Gambar 4.8. memperlihatkan profil
pendesakan desaturasi. Titik masuk (x = 0) saturasi minyak
berkisar dari saturasi residual (Sor) hingga So = 1 - Swf pada
belakang front , hal ini berarti minyak masih mengalir bersamasama air dibelakang front. Pendesakan desaturasi lebih realistik di
lapangan dibandingkan pendesakan torak.

Gambar 4.8. Profil Pendesakan Air-Minyak Secara Leaky Piston (Jhon Lee
W, Waterflooding industry School. 1995)

2. Konsep pendesakan torak (piston like displacement)


Pendesakan torak menganggap bahwa dibelakang front hanya
fluida pendesak (air) yang mengalir sedangkan dimuka front hanya

138

fluida yang didesak (minyak) yang mengalir. Profil pendesakan


torak diperlihatkan pada gambar 4.9.
Gambar 4.9. Profil Pendesakan Torak dalam Pendesakan Air-Minyak (Jhon

Lee W, Waterflooding industry School. 1995)

Displacement Efficiency mempunyai nilai maksimum, yang


dirumuskan sebagai berikut :

E Dis=

Soi S ( 1Swc ) S
=
.....................................................(4-18)
S oi
1S wc

Dimana : Soi
Sor
S

= Saturasi minyak awal


= Saturasi minyak sisa
wc

= Saturasi water conate

Sedangkan nilai displacement efficiency pada saat breakthrough


adalah :

E Dis=

Swoc S wc
1Swc .........................................................................(4-19)

139

Gambar 4.10.

Effisiensi

Displacement (PT

CPI. Waterflood

Reservoir

(Management
School, 2002)

b) Areal Sweep Efficiency


Pada pelaksanaan waterflood, air diinjeksikan dari beberapa sumur
injeksi dan produksi akan terjadi dari sumur yang berbeda. Ini akan
menyebabkan terbentuknya distribusi tekanan dan streamlines di
daerah antara sumur injeksi dengan sumur produksi. Dua faktor ini
akan menentukan seberapa besar kontak waterflood dengan daerah
antara tersebut. Besar daerah reservoir yang mengalami kontak dengan
air ini yang disebut dengan Areal sweep efficiency.
Efisiensi areal penyapuan (Areal Sweep Efficiency) pada sejumlah
volume pori yang di injeksi akan turun dengan naiknya mobilitas rasio.
Untuk sebuah harga mobilitas rasio akan naik jika volume yang
diinjeksikan dinaikkan. Besarnya areal sweep efisiensi ditentukan dari
data korelasi tanpa menggunakan refleksi anisotrhophy (arah
permeabilitas dan heterogenitas). Untuk kasus dimana faktor faktor
tersebut diketahui ada, teknik simulasi reservoir dapat dipergunakan
untuk memperkirakan efisiensi penyapuan areal.

140

Gambar 4.11. (a) Areal Sweep Effisiensi, (b) Vertical Sweep Effisiensi (PT CPI.
Waterflood Reservoir Management School, 2002)

Secara rumus matematik, Areal sweep efficiency didefinisikan


sebagai berikut:

Ea =

Luas area yang mengalami kontak dengan air


.................(4-20)
OIPdireservoir (pattern)

c) Mobility Efficiency
Efisiensi mobilitas merupakan efisiensi yang dipengaruhi oleh nilai
saturasi minyak tersisa dan sifat pembasahan batuan. Didefinisikan
sebagai fraksi minyak pada awal proses yang dapat diambil pada 100%
area vertikal.
Persamaan efisiensi mobilitas adalah sebagai berikut :

EM =

S oi S orp

BO i BO i
S oi
BO i

....................................................................(4-21)

Untuk nilai Boi yang konstan, maka persamaan (4-11) diatas


menjadi :
EM =

( S oiS orp )
S oi

Dimana : EM

.........................................................................(4-22)

= Efisiensi mobilitas

Soi

= Saturasi minyak awal

Sorp

= Saturasi minyak residual/immobile oil

141

d) Vertical Sweep Efficiencies


Bervariasinya nilai permeabilitas pada arah vertikal dari reservoir
menyebabkan fluida injeksi akan bergerak dengan bentuk front yang
tidak beraturan. Semakin sedikit daerah berpermeabilitas bagus,
semakin lambat pergerakan fluida injeksi.
Ukuran ketidakseragaman invasi air adalah vertical sweep
efficiency, yang juga sering disebut sebagai invasion efficiency.
Vertical sweep efficiency ini bisa didefinisikan sebagai bidang tegak
lurus yang mengalami kontak dengan air injeksi dibagi dengan
keseluruhan bidang tegak lurus di darah belakang front. Secara
sederhana, vertical sweep efficiency ini menyatakn seberapa banyak
bagian tegak lurus (vertikal) reservoir yang dapat dijangkau oleh air
injeksi.
Persamaan untuk vertical sweep efficiency adalah :
Evert

Luas bidang tegak lurus yang mengalami kontak dengan air injeksi
Bidang tegak lurus yang tertutupi oleh water front
........................................................................................................(4-23)
Ada beberapa hal yang mempengaruhi vertical sweep efficiency,
ini :

Mobility Ratio
Term injektivitas relatif ini adalah perbandingan indeks
injekstivitas pada sembarang waktu dengan injektivitas pada saat
dimulainya waterflood. Pada M = 1, injekstivitas relatif cenderung
konstan. Pada M < 1, terlihat bahwa injektivitas menurun seiring
menaiknya radius flood front. Sedangkan untuk M > 1, injektivitas
relatif meningkat seiring naiknya radius flood front.

142

Gaya Gravitasi
Karena air merupakan fluida dengan densitas yang tinggi, maka
ia cenderung untuk bergerak di bagian bawah reservoir. Efek ini
disebut dengan gravity segregation dari fluida injeksi, merupakan
akibat dari perbedaan densitas air dan minyak.
Terlihat bahwa baik untuk sistem linear maupun untuk sistem
five spot, derajat dari gravity segeragation ini tergantung dari

perbandingan antara gaya viscous dengan gaya gravitasi,

Pk
Pv

. Sehingga laju alir yang lebih besar akan menghasilkan vertical


sweep efficiency yang lebih baik pula.

Gaya kapiler
Penelitian membuktikan bahwa volume hanya menurun sedikit
walaupun laju alir injeksi dinaikkan sampai sepuluh kali lipat.
a. Crossflow antar lapisan
b. Laju alir
Perhatikan semua properties yang mempengaruhi vertical
sweep efficiency diatas. Keseluruhannya dipengaruhi oleh laju alir

e) Volumetric sweep efficiency


Volumetric sweep efficiency ini merupakan ukuran pendesakan tiga
dimensi. Definisi volumetric sweep efficiency adalah perbandingan
antara total volume pori yang mengalami kontak dengan air injeksi
dibagi dengan total volume pori area injeksi. Volumetric sweep
efficiency dirumuskan dalam persamaan berikut :
Evol = Earea x Evert.............................................................................(4-24)

143

Faktor-faktor yang mempengaruhi volumetric sweep efficiency


sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi vertical

sweep

efficiency.

4.7.

Metode Perhitungan Displacement


Pada bagian ini akan dibahas beberapa metode untuk menghitung
kemampuan injeksi air. Metode yang pertama kali dikembangkan untuk
penerapan pada reservoir yang berlapis yaitu metode Stiles dan DykstrParsons. Metode Stiles berdasarkan asumsi bahwa pergerakan fluida
terjadi dengan cara seperti piston, pada bidang linear yang memiliki
permeabilitas yang specific dan laju kemampuan injeksi sebanding dengan
permeabilitas

bidang.

Metode

Dykstra-Parsons

memperkirakan

kemampuan injeksi air berdasarkan pertimbangan mobilitas fluida yang


sebenarnya dengan asumsi mobilitas yang sama untuk fluida pendesak dan
di desak. Dengan pengecualian ini, asumsi dasar dari kedua metode ini
pada dasarnya sama.
Untuk menggambarkan pergerakan air atau minyak pada reservoir
yang homogen, ada dua metode yang sangat penting yaitu Metode
Buckley-Leverett dan Metode Welge. Pada dasarnya kedua metode ini
memberikan penjelasan dasar karakteristik pergerakan air atau minyak
pada bagian reservoir yang linear dengan sifat sifat reservoir yang
homogen.

4.7.1. Metode Stiles


Pada metode Stiles beberapa asumsi dibuat. Kenaikan laju injeksi pada
bidang linear sebanding dengan permeabilitas bidang tersebut. Setelah
breakthrough, laju produksi air atau minyak ditentukan oleh perbandingan
mobilitas air dan minyak dari lapisan yang menghasilkan minyak dan air
pada sumur produksi. Poin yang terakhir sama dengan asumsi bahwa laju
perpindahan fluida pada setiap lapisan sebanding dengan mobilitas minyak

144

jika breakthrough tidak terjadi atau sebanding dengan permeabilitas air


jika breakthrough telah terjadi serta tidak terjadi crossflow antar lapisan.
Data yang dibutuhkan untuk perhitungan antara lain permeabilitas,
mobility ratio air dan minyak, dan Faktor Volume Formasi minyak saat
dilakukannya injkesi. Perhitungan Stiles memberikan nilai water cut yang
terproduksi vs oil recovery sebagai fraksi dari total minyak yang dapat
diambil. Pada penerapannya, total minyak yang dapat diambil dihitung
tersendiri yaitu sebagai perbedaan antara jumlah minyak di reservoir saat
injeksi air dimulai dengan jumlah minyak yang tersisa setelah injeksi
selesai (sampai water cut 100%).
Untuk memudahkan perhitungan,

nilai

permeabilitas

disusun

berdasarkan yang terbesar. Jika terdapat nilai yang sangat besar, nilai
tersebut dapat dikelompokkan kedalam batasan permeabilitas (range
permeability) dan total kapasitas milidarcy-foot serta footage dalam setiap
batasan (range) dapat dihitung. Pada kasus seperti ini, lebih dipilih
menyusun range yang kira kira kapasitasnya sama dalam range
permeabilitas yang sedang dan kapasitas yang kecil ke dalam range
permeabilitas yang besar dan kecil.
Nilai kapasitas kumulatif dan ketebalan kumulatif sebagaimana
permeabilitas rata - rata untuk setiap kelompok juga dihitung. Fraksi
kapasitas kumulatif diplot terhadap fraksi ketebalan kumulatif, hasilnya
berupa kurva distribusi kapasitas. Pada metode Stiles yang original, data
permeabilitas diplot terhadap nilai midpoint ketebalan kumulatif, kurva
yang smooth digambar melewati titik ini dan nilai permeabilitas yang baru
dibaca pada nilai ketebalan yang dapat digunakan untuk perhitungan akhir.
Persamaan untuk water cut , recovery dan mobility ratio adalah
sebagai berikut:
fw

kh M wo
kh M wo +( kh)1kh ...........................................................(4-25)

Npa

(kh)1kh
1
h+
h
k

..............................................................(4-26)

145

K rw

Mwo

K ro

Bo

........................................................................(4-27)

Dimana : Krw/Kro
= Perbandingan permeabilitas relatif minyak/air
o

/ w
=..................Perbandingan viskositas minyak/air
Bo
Npa
Kh
1-Kh
Mwo

=
=
=
=
=

Faktor volume formasi minyak


Recovery
Kapasitas air yang mengalir
Kapasitas minyak yang mengalir
Mobility ratio dikali Faktor volume formasi
pada saat injeksi

Hasil data recovery terhadap water cut dapat digunakan sebagai titik
awal perhitungan selanjutnya dengan unit injeksi. Sebagai contoh, jika
pola injeksi adalah five spot dan diperkirakan terdapat ruang gas dalam
reservoir, perhitungan waktu kelakuan injeksi dapat membuat jadwal laju
injeksi yang diasumsikan. Perhitungan ini melibatkan perhitungan waktu
fill-up dan kurva recovery water cut

sebagaimana menghitung laju

produksi minyak terhadap waktu.


Sebagai catatan, metode Stiles ini menyajikan data recovery vs water
cut unit injeksi, yang mana breakthrough masuk ke dalam berbagai sumur
produksi terjadi pada waktu yang bersamaan. Informasi ini diharapkan
dapat memperkirakan kelakuan pola five spot atau untuk kelompok five
spot, asalkan faktor cakupan areal yang tepat dapat diterapkan.

4.7.2. Metode Dykstra-Parsons


Dykstra-Parsons melakukan test laboratorium injeksi air pada contoh
core dan menyimpulkan oil recovery oleh injeksi air sebagai fungsi
mobility ratio dan distribusi permeabilitas, mobility ratio dinyatakan
dengan persamaan berikut :

146

M=

K w o
K o w ......................................................................................(4-28)

Dimana Kw adalah permeabilitas terhadap air pada bagian reservoir yang


kontak dengan air dan Ko adalah permeabilitas minyak yang berbatasan
dengan air (atau mobilitas penyapuan pada daerah yang tidak tersapu).
Salah satu dasar hasil tes laboratorium dan perhitungan pada model
lapisan linear yang diasumsikan tidak ada crossflow, kemudian
dikembangkan korelasi antara recovery injeksi air dengan mobility ratio
dan distribusi permeabilitas. Distribusi permeabilitas dihitung dengan
effisiensi variasi permeabilitas Ek, sebagai berikut :
Ek =

kk o
......................................................................................(4-29)
k

Dimana k adalah permeabilitas rata rata dan ko adalah nilai permeabilitas


dari sampel kumulatif.
Dykstra dan Parsons (1950) bertujuan mengkorelasikan prediksi
cadangan minyak dengan waterflooding menggunakan mobilitas rasio,
variasi permeabilitas, dan produksi WOR sebagai parameter yang
dikorelasi. Johnson (1956) mengembangkan grafik sederhana yang
mendekati metode Dykstra dan Parsons berdasarkan pada prediksi
cadangan minyak menyeluruh (R) pada WOR 1, 5, 25, dan 100 bbl/bbl.
Ditunjukkan pada gambar dibawah dengan chart grafik untuk 4 WOR s.
parameter korelasi ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

147

Gambar 4.12. Grafik

Perbandingan Permeabilitas Vs

Mobility Ratio Untuk WOR 1 (Ahmed, Tarek H, Reservoir Engineering_2E. 1946)

148

Gambar 4.13. Grafik Perbandingan Permeabilitas Vs Mobility Ratio Untuk WOR 5


(Ahmed, Tarek H, Reservoir Engineering_2E. 1946)

Gambar 4.14.

Grafik

Perbandingan
Permeabilitas Vs
Mobility Ratio

Untuk WOR 25 (Ahmed, Tarek H,


Reservoir Engineering_2E. 1946)

149

Gambar

4.15.

Grafik

Perbandingan Permeabilitas Vs

Mobility Ratio Untuk WOR 100

(Ahmed, Tarek H,

Reservoir

Engineering_2E.

1946)

Pada awal injeksi, mobilitas di lapisan ditentukan oleh fasa minyak


dan gas. Ketika air masuk ke dalam lapisan, mobilitasnya ditentukan oleh
mobilitas minyak, gas dan air setelah fill-up, mobilitas ditentukan oleh
permeabilitas relatif dan perbandingan viskositas. Perubahan dalam
seluruh

mobilitas

menghasilkan

perubahan

injeksi

secara

berkesinambungan. Asumsi metode ini bahwa distribusi permeabilitas


merupakan log normal.
Dengan menggunakan persamaan aliran linear Darcy untuk fluida
incompressible, persamaan berikut untuk coverage atau conformance
efficiency dan WOR dikembangkan. Ketika cakupan (coverage) dan fwo
diketahui, ini memungkinkan untuk memprediksi oil recovery dan water
cut sebagai fungsi waktu dan laju injeksi.

150

Ec =

nBT +

( nn BT ) M
( M 1)

( M 1) i =(N + 1)
BT

M 2+

]}

ki
(1M 2) n ...(4-30)
kx

dan
nBT

ki
i=1

fwo =

i=(nBT +1)

Dimana : Ec
Fwo
N
ki
kx
M
nBT

ki
K
M 2 + i (1M 2)
Kx
=
=
=
=
=
=
=

...................................................(4-31)

Cakupan fraksional atau conformance efficiency


WOR
Jumlah lapisan
Permeabilitas lapisan
Permeabilitas lapisan x atau lapisan yang diinjeksi
Mobility ratio
Jumlah lapisan dimana air brokenthrough
(nilainya bervariasi antara 1 sampai n)

4.7.3. Metode Buckley-Leverett (Frontal Advance Calculation)


Metode Buckley-Leverett adalah sebuah metode prediksi yang klasik.
Metode ini tidak menggunakan simulator dan perhitungannya dibuat
sesingkat

mungkin

dengan

menggunakan

kalkulator.

Kinerja

(performance) ini kemudian dapat direncanakan sesuai dengan konversi


sebuah lapangan dari primary sampai secondary recovery.
Dalam metode Buckley-Leverett mengasumsikan :

Linear dan aliran mantap (steady state).


Fluida tidak termampatkan
Pendesakan tidak tercampur
Laju alir total konstan dan kesetimbangan vertikal.
Ketebalan konstan dari sistem lapisan single (single layer).
Distribusi fluida awal seragam diseluruh reservoir.
Reservoir homogen

151

Metode Buckley-Leverett yang diterapkan dalam sistem lapisan,


penting menghitung permeabilitas rata-rata untuk meramalkan perilaku
pendesakan. Metode peramalan perilaku injeksi air dengan BuckleyLeverett dapat dibagi tiga kelompok perhitungan, ketiganya tersebut
adalah :
1. Dari awal sampai fill-up.
2. Fill-up sampai breakthrough.
3. Breakthrough sampai after breaktrough.
Setelah tiga langkah tersebut dilaksanakan, kesimpulannya dapat
diplot untuk membantu menampilkan peramalan perilaku dari injeksi
air.

4.7.4. Metode Welge


Pada tahun 1952, Welge meneruskan pekerjaan Buckley dan Leverett
untuk mendapatkan metode yang mudah untuk perhitungan fractional flow
dan kemampuan recovery setelah breakthrough air. Persamaan dasar yang
dikembangkan oleh Welge adalah sebagai berikut:
Sw Sw2=W i f o 2 .............................................................................(4-62)

dan
Wi = -

1
dsw
dsw

( )

Dimana : Sw
Sw2
Wi
Fo2

..............................................................................(4-63)

sw 2

=
=
=
=

Saturasi rata rata, fraksi PV


Saturasi pada akhir produksi
Kumulatif air yang diinjeksikan
Fraksi minyak pada akhir produksi

152

4.8.

Perkiraan Perolehan Minyak


Dalam melakukan perhitungan perkiraan perolehan minyak terdapat
dua

periode

breakthrough.

yaitu

periode

Pendesakan

sebelum

yang

breakthrough

dilakukan

dan

sesudah

menggunakan

prinsip

incompressible, sehingga minyak yang diproduksikan sama dengan jumlah


air yang diinjeksikan.

4.8.1. Sebelum Breakthrough


Sebelum breakthrough (BT) dalam sumur produksi persamaan untuk
menentukan posisi bidang dengan Sw konstan untuk Swi<Sw<1<1-So
adalah:
xsw =

W i df w
A dS w | Sw.............................................................................(4-64)

Pada saat breakthrough dan sesudahnya yang diamati adalah kenaikan


Sw pada sumur produksi, dalam hal ini x = L, sehingga persamaan
menjadi:
Wi
1
=
=W id
L A df w
..................................................................(4-65)
S we
dS w

Dimana : Swe
Wid

= Sw sesaat di sumur produksi


= Injeksi air dalam jumlah

volume

pori,

dimensionless
Pada saat breakthrough, saturasi front pendesakan Swf = Sw bt mencapai
sumur produksi dan water cut reservoir bertambah dengan cepat dari nol
sampai fw bt = fw swf. Perolehan minyak untuk fasa ini dinyatakan dengan
persamaan berikut:

153

Np db Wid bt = qid bt = ( S

w bt

Swc) =

1
df w
S w bt .............................(4-66)
dS w

Jadi perolehan minyak pada saat breakthrough adalah sebagai berikut:


SwBT Swc = WidBT = NpDBT.....................................................................(4-67)
Dimana : SwBT

= Saturasi air pada saat breakthrough (dicari secara

Swc
WidBT

grafis)
= Saturasi water connate
= Jumlah air yang diinjeksikan

NpDBT

breakthrough
= Kumulatif minyak pada saat breakthrough

Bila laju injeksi tanpa dimensi iwd =

qi
,
L A

pada

saat

(PV/ satuan waktu), maka

waktu terjadinya breakthrough dapat dihitung dengan persamaan:

t bt =

W id bt
i wd .......................................................................................(4-68)

Dimana : tbt

= Waktu sampai breakthrough

Widbt

= Jumlah air injeksi

iwd

= Rate penginjeksian air

4.8.2. Sesudah Breakthrough


Setelah breakthrough, L tetap konstan pada persamaan (4-63), Sw dan
fraksi aliran pada sumur produksi berangsur naik. Selama fasa ini
perhitungan recovery minyak lebih komplek maka digunakan persamaan
Welge. Persamaan Welge dipakai simana front sudah lebih dahulu sampai
pada sumur produksi. Maka persamaan yang dipakai adalah sebagai
berikut:

154

1
df w
w = Swe + (1 few)
S we ....................................................(4-69)
dS w

Dari persamaan (4-63) dan persamaan (4-67) berubah menjadi:


S

= Swe + (1 few)Wid....................................................................(4-70)

Bila masing masing ruas dikurangi Swc maka akan diperoleh persamaan
untuk menghitung perolehan minyak, yaitu:

Npd = S

Swc = (Swe Swc) + (1 fwe)Wid......................................(4-71)

BAB V

STUDI KASUS

Studi kasus pada bab ini merupakan tahap yang bertujuan untuk mengetahui
atau melihat perilaku reservoir yang disimulasi menggunakan software ECLIPSE
100 pada masa yang akan datang berdasarkan kondisi yang diharapkan, dalam hal
ini dilakukan production run untuk waktu waktu yang diinginkan dengan
mengoptimalkan kemampuan suatu reservoir berproduksi setelah dan sebelum
dilakukannya penambahan sumur injeksi. Sedangkan untuk perhitungan
pendesakan pada saat waterflooding menggunakan metode Buckley-Leveret.
5.1.

Sejarah Lapangan
Sejarah lapangan sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi adanya
reservoir. Lapangan yang akan diteliti bernama BNP Field dengan data
yang disajikan dalam table dibawah ini:
Tabel 5.1. Karakteristik Reservoir Lapangan BNP
Petrophysis

Net Porosity

20.10%

Net Permeability

62.1 mD

155

Stock Tank Oil Density

849.7 kg/m3

Gas Solution Factor

124.1 kg/m3

Oil

Saturation Pressure

220 bara

Properties

Oil Volume Factor

1.15 vol/vol @Psat

Compressibility

0.5 x 10-4 bar3

Viscosity

1.20 cp@Psat

Stock Tank Oil Density

0.9 kg/m3

Gas Volume Factor

0.0059 rm3/m3 @220bara

Fluid
Properties

Gas
Propesties

Viscosity

0.026 cp @220bara

Water Density

1000.5 kg/m3

Water

Compressibility

0.44 x 10-4 bar3

Properties

Viscosity

0.481 cP

Initial State

Formation Volume Factor

1.01 vol/vol @250bara

Initial Pressure

250 bars @2000 m TVDSS

Water Oil Contact

2160 m TVDSS (assumed)

Tabel 5.2. Karakteristik Reservoir Lapangan BNP

Date
21-Dec-02
1-Jan-03
1-Feb-03
1-Apr-03
1-Jul-03
1-Oct-03
1-Jan-04
1-Apr-04
1-Jul-04
1-Oct-04
1-Jan-05
1-Apr-05
1-Jul-05
1-Oct-05
1-Jan-06
1-Apr-06
1-Jul-06
1-Oct-06

Gas Rate

BHP Target

Oil Rate

Well Bore

(m3/day)
93075
93075
93075
95502
96410
98230
101370
106100
112540
120680
129130
136780
147430
152500
154860
150140
149330
151410

(m3/day)
230
225.2
206.1
193.1
189.4
187.1
184.8
182.6
180.3
177.7
174.7
171.2
166.5
154.5
137.7
120.6
107.2
96.7

(bar)
750
750
750
750
750
750
750
750
750
750
750
750
750
740
713
674
634
601

ID
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333
0.333

156

5.2.

Gambar Penampang Lapangan dan Data PVT Lapangan pada


Lapangan BNP
a. Gambar Penampang

Gambar 5.1. Penampang 2D Sumur P3 Lapangan BNP Tanggal 31 Desember 2002


dan 01 Januari 2007 (Eclipse 100)

Gambar 5.2. Penampang 3D Sumur P3 Lapangan BNP (Eclipse 100)

b. Grafik PVT

157

Grafik 5.1. Oil PVT Function (Eclipse 100)

Grafik 5.2. Gas PVT Function (Eclipse 100)

158

Grafik 5.3. SWOF (Water/Oil Saturation Function)(Eclipse 100)

159

Grafik 5.4. SGOF (Gas/Oil Saturations Functions) (Eclipse 100)

160

5.3.

Perencanaan Penambahan Sumur pada Lapangan BNP


a. Perencanaan Penambahan Sumur
Lapangan BNP memiliki cadangan hidrokarbon yang berupa
minyak atau yang lebih dikenal dengan Original Oil In Place sebesar
8741850 m3, sedangkan untuk air yang sudah berada di reservoir
sebagai akuifer sebesar 219022220 m3.
Penambahan yang dilakukan pada Lapangan BNP ini dibuat
beberapa plan scenario untuk mengembangkan lapangan ini hingga
tahun 2020. Adapun perencanaan penambahan sumur pada lapangan
ini berdasarkan penyebaran saturasi minyak dan strategi penambahan
yang direncanakan secara teknikal. Adapun beberapa scenario yang di
rencanakan , sebagai berikut :
Tabel 5.3. Skenario Reservoir Lapangan BNP

PLAN OF DEVELOPMENT (31 Dec 2002 - 1 Jan 2020)


Base Case
Case 1
(P3)
Case 1 + 5 Sumur produksi
Case 2
(P4;P5;P6;P7;P8)
Case 1 + 10 Sumur produksi
Case 3
(P4;P5;P6;P7;P8;P9;P10;P11;P12;P13)
Case 3 + 2 Well Water Injection
Case 4
(I1;I2)
Case 4 + 3 Well Water Injection
Case 5
(I3;I4;I5;I6)
Dari running ECLIPSE 100 yang kita lakukan, didapatkan hasil
recovery factor maksimum setiap case adalah sebagai berikut:

161

Case 1 ( Base Case )

Gambar 5.3. Model Case 1 Pada Tanggal 31 Desember 2002 (Eclipse 100)

Gambar 5.4.

Model Case 1 Pada Tanggal 01 Januari 2020


(Eclipse 100)

Pada
scenario

base

case

merupakan

penambahan sumur sumur

yang

telah

ada.
Terdapat

Sumur

existing

yang

diterapkan

dengan

memperpanjang waktu sumur tersebut. Produksi kumulatif minyak


(Np) yang diperoleh pada scenario base case ini sebesar 2233122.3
m3. Maka recovery factor yang dapat diperoleh berdasarkan nilai
OOIP dari Lapangan BNP sebesar 25.29%.

162

Case 2 ( Case 1 + 5 Sumur produksi )

Gambar

5.5.
Model Case 2 Pada Tanggal 31 Desember 2002 (Eclipse 100)

Gambar 5.6. Model Case 2 Pada Tanggal 01 Januari 2020 (Eclipse 100)

Pada scenario case 2 merupakan penambahan dari base case


yang kemudian ditambahkan 4 sumur produksi, yaitu P4; P5; P6;
P7; P8. Produksi kumulatif minyak (Np) yang diperoleh pada
scenario case 2 mengalami penurunan jumlah produksi sebesar
2052674.6 m3. Maka recovery factor yang dapat diperoleh
berdasarkan nilai OOIP dari Lapangan BNP sebesar 23.24%,
dengan penurunan sebesar 2.04 % dari scenario pada case 1.

163

Case 3 (Case 1 + 10 Sumur produksi)

Gambar 5.7. Model Case 3 Pada Tanggal 31 Desember 2002 (Eclipse 100)

Gambar 5.8. Model Case 3 Pada

Tanggal 01 Januari 2020

(Eclipse 100)

Pada scenario case 3

merupakan

penambahan dari

case 1 yang kemudian


ditambahkan 10 sumur produksi,
yaitu P4; P5; P6; P7; P8; P9; P10; P11; P12;

P13.

Produksi

kumulatif minyak (Np) yang diperoleh pada scenario case 3


sebesar 2086667.7 m3. Maka recovery factor yang dapat diperoleh
berdasarkan nilai OOIP dari Lapangan BNP mengalami penurunan
sebesar 23.63%, dengan penurunan sebesar 1.66% dari scenario
pada case 1. Oleh karena nilai RF yang tidak mengalami kenaikan
maka dilakukannya scenario selanjutnya yaitu pada kasus ke empat

dengan penambahan sumur injeksi.


Case 4 (Case 3 + 2 Well Water Injection)

164

Gambar 5.9. Model Penambahan Case 3

dengan 2

Sumur Injeksi (Eclipse 100)

Gambar 5.10. Model Case 4 Pada Tanggal 01

Januari

2020 (Eclipse 100)

Pada scenario case 4 merupakan penambahan dari case 3 yang


kemudian ditambahkan 2 sumur injeksi, yaitu I1 dan I2. Penentuan
titik-titik koordinat pada sumur injeksi didasarkan pada zona
aquifer dan permeabilitas pada Lapangan BNP, sehingga air yang
diinjeksikan mampu mendorong minyak sebagai fungsi dari water
drive. Penambahan sumur injeksi dikarenakan recovery factor
meningkat hanya beberapa persen dari scenario base case hingga
scenario case 3, sehingga diharapkan dengan ditambahkannya
sumur injeksi pada scenario case 4 dapat meningkatkan recovery
factor secara signifikan. Namun ternyata jumlah recovery factor
(RF) yang diperoleh pada scenario case 4 naik sebesar 0.90% dari
case 1 dan naik sebesar 2.56% dari case ke-3 dengan jumlah
produksi kumulatif minyak (Np) sebesar 2312830.3 m 3. Maka
recovery factor yang dapat diperoleh berdasarkan nilai OOIP dari
Lapangan BNP sebesar 26.19%.

Case 5 (Case 4 +4 WellWater Injection)

165

Gambar 5.11. Model Penambahan Case 4 dengan

Sumur Injeksi (Eclipse 100)

Gambar 5.12. Model

Case 5 Pada Tanggal 01 Januari 2020

(Eclipse 100)

Pada

scenario

case

merupakan

penambahan dari case 4 yang kemudian

ditambahkan 4 sumur injeksi, yaitu I3; I4; I5; I6. Penentuan titiktitik koordinat pada sumur injeksi didasarkan pada zona aquifer
dan permeabilitas pada Lapangan BNP, sehingga water yang
diinjeksikan mampu mendorong minyak sebagai fungsi dari water
drive. Penambahan 4 sumur injeksi pada case 4 dapat menaikkan
nilai Recovery Factor (RF) sebesar 9.76% dari case 1 dan sebesar
8.86% dari case 4 sedangkan jumlah produksi kumulatif minyak
(Np) yang diperoleh pada scenario case 5 sebesar 3095332.7 m3.
Maka recovery factor yang dapat diperoleh berdasarkan nilai OOIP
Lapangan BNP sebesar 35.05%.
b. Jadwal Penambahan Sumur pada Lapangan BNP
Case 1
Perencanaan penambahan skenario base case pada Lapangan BNP
dengan satu sumur sebagai sumur produksi dapat dilihat pada table
dibawah ini.

166

Tabel 5.4. Jadwal Penambahan sumur pada lapangan BNP Case 1


Grid
Well

P3

Datum
J

29

Depth (ft)
-2000

Status
Productio
n

Start

End

Production

Production

(YY-MM-DD)

(YY-MM-DD)

2002-12-31

2020-01-01

Case 2 (Case 1 + 5 Sumur produksi)


Pada penambahan case 2 ini dari base case ditambah dengan lima
sumur produksi pada Lapangan BNP
Tabel 5.5. Jadwal Penambahan sumur pada lapangan BNP Case 2
Grid

Well

Datum
J

Depth (ft)

P3

29

-2000

P4

13

-2000

P5

21

-2000

P6

21

-2000

P7

36

-2000

P8

36

-2000

Status
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n

Start

End

Production

Production

(YY-MM-DD)

(YY-MM-DD)

2002-12-31

2020-01-01

2007-02-01

2020-01-01

2007-06-01

2020-01-01

2007-10-01

2020-01-01

2008-02-01

2020-01-01

2008-06-01

2020-01-01

Case 3 (Case 1 + 10 Sumur produksi)


Skenario penambahan yang ketiga adalah base case ditambah
dengan sepuluh sumur produksi pada Lapangan BNP
Tabel 5.6. Jadwal Penambahan sumur pada lapangan BNP Case 3
Grid

Well

Datum
J

Depth (ft)

P3

29

-2000

P4

13

-2000

Status
Productio
n
Productio
n

Start

End

Production

Production

(YY-MM-DD)

(YY-MM-DD)

2002-12-31

2020-01-01

2007-02-01

2020-01-01

167

P5

21

-2000

P6

21

-2000

P7

36

-2000

P8

36

-2000

P9

41

-2000

P10

46

-2000

P11

46

-2000

P12

52

-2000

Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n

2007-06-01

2020-01-01

2007-10-01

2020-01-01

2008-02-01

2020-01-01

2008-06-01

2020-01-01

2008-10-01

2020-01-01

2009-02-01

2020-01-01

2009-06-01

2020-01-01

2009-10-01

2020-01-01

168

Case 4 (Case 3 + 2 Well Water Injection)


Skenario penambahan yang keempat adalah case ke-3 ditambah
dengan dua sumur injeksi pada Lapangan BNP
Tabel 5.7. Jadwal Penambahan sumur pada lapangan BNP Case 4
Grid

Well

Datum
J

Depth (ft)

P3

29

-2000

P4

13

-2000

P5

21

-2000

P6

21

-2000

P7

36

-2000

P8

36

-2000

P9

41

-2000

P10

46

-2000

P11

46

-2000

P12

52

-2000

I1

25

-2000

I2

17

-2000

Status
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n

Start

End

Production

Production

(YY-MM-DD)

(YY-MM-DD)

2002-12-31

2020-01-01

2007-02-01

2020-01-01

2007-06-01

2020-01-01

2007-10-01

2020-01-01

2008-02-01

2020-01-01

2008-06-01

2020-01-01

2008-10-01

2020-01-01

2009-02-01

2020-01-01

2009-06-01

2020-01-01

2009-10-01

2020-01-01

2010-02-01

2020-01-01

2010-07-01

2020-01-01

169

Case 5 (Case 4 + 4 Well Water Injection)


Skenario penambahan yang terakhir adalah case keempat ditambah
dengan empat sumur injeksi pada Lapangan BNP
Tabel 5.8. Jadwal Penambahan sumur pada lapangan BNP Case 5
Grid

Well

Datum
J

Depth (ft)

P3

29

-2000

P4

13

-2000

P5

21

-2000

P6

21

-2000

P7

36

-2000

P8

36

-2000

P9

41

-2000

P10

46

-2000

P11

46

-2000

P12

52

-2000

I1

25

-2000

I2

17

-2000

P3

29

-2000

I3

33

-2000

I4

38

-2000

I5

44

-2000

I6

49

-2000

Status
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n
Productio
n

Start

End

Production

Production

(YY-MM-DD)

(YY-MM-DD)

2002-12-31

2020-01-01

2007-02-01

2020-01-01

2007-06-01

2020-01-01

2007-10-01

2020-01-01

2008-02-01

2020-01-01

2008-06-01

2020-01-01

2008-10-01

2020-01-01

2009-02-01

2020-01-01

2009-06-01

2020-01-01

2009-10-01

2020-01-01

2010-02-01

2020-01-01

2010-07-01

2020-01-01

2010-12-01

2020-01-01

2010-12-01

2020-01-01

2011-05-01

2020-01-01

2011-10-01

2020-01-01

2012-03-01

2020-01-01

170

171

5.4.

Hasil Perencanaan Penambahan sumur pada lapangan BNP


Berdasarkan beberapa perencanaan yang telah dilakukan untuk
mengoptimasi lapangan BNP demi meningkatkan Recovery Factor
sehingga dapat dikembangkan secara ekonomis. Maka didapatkan hasil
perencanaan penambahan sumur pada lapangan BNP BNP sebagai berikut:
Tabel 5.9. Hasil Perencanaan Penambahan sumur pada lapangan BNP
OOIP (m3)

Parameter
3

Production Total (sm )


Oil Production Rate (sm3/day)
Liquid Production Rate
(sm3/day)
Water cut Total
(dimensionless)
Gas Oil Ratio (sm3/sm3)
Gas Liquid Ratio (sm3/sm3)
Produksi Gas Total (sm3)
Densitas Oil (kg/m3)
Viskositas Oil Rata Rata (Cp)
FPR, Field Pressure (BarA)
Water Injection Rate (sm3/day)
Water Injection Total (sm3)
Water Production Rate
(sm3/day)
Water Production Total
RF
Incremental Recovery (%)

8831574.9

Case 1
2233122.3
87.186272

Plan Of Development
Case 2
Case 3
Case 4
2052674.6
2086667.7
2312830.3
41.199551
30.430599
75.280205

Case 5
3095332.7
113.32115

344.0249

155.64107

46.704975

1896.5188

30000.902

0.74656987

0.73529124

0.3484506

0.96030611

0.99622273

463.95505
117.5802
807247170
846.11108
2.1993945
68.238914
0
0

364.63055
96.520889
1032564900
843.17548
3.7962074
11.836346
0
0

112.03056
72.993446
1082959100
841.62628
4.302187
2.6937916
0
0

18.746641
0.74412709
1065038500
844.24493
4.051527
27.206266
2000
7092000

9.2423582
0.034910772
1033956400
868.55658
4.0354891
304.50897
30000
97265000

256.8386

265.7

265.5809

2080.098

4807.142

612683.8
25.29%
-

3012868.3
23.24%
-2.04%

4215938
23.63%
-1.66%

8987446
26.19%
0.90%

94288784
35.05%
9.76%

172

5.5.

Perhitungan Fluid Displacement


Dari data diatas dapat dilihat bahwa kasus yang paling berpotensi
menaikkan performa dari sumur injeksi adalah kasus ke-lima. Oleh karena
itu dari data kasus ke-lima akan dihitung prediksi performa waterflood
dengan menggunakan metode Buckley-Leverett dan metode Welge.
SOLUSI DAN PENYELESAIAN!
Pada tabel dibawah adalah data awal dari lapangan BNP yang
mengalami penurunan produksi dan dapat dilihat pada recovery factor nya.
Oleh karena itu perlu dilakukannya metode secondary recovery seperti
waterflooding. Dari running ECLIPSE 100 didapatkan nilai sebagai
berikut:
PV HC
iw
Ns
Qo
Winj

= 5675336.5
= 30000 sm3/day = 188.7 bbl/day
= 8831575 sm3
= 113.32115 sm3/day
= 97265000 sm3

Permeabilitas relatif batuan air dan minyak tersusun dalam tabel


dibawah ini.
1. Langkah awal yaitu mencari nilai Fw dengan persamaan sebagai
berikut:
Fw

1
Kro o ............................................................(5-1)
(1+
)
Krw w

1
0.7524 1.2
(1+
)
0.0009 0.481

= 0.000479

173

Tabel 5.10. Data Sw, Krw, Kro, Pc dan Fw

Sw
0
0.0625
0.125
0.1875
0.25
0.3125
0.375
0.4375
0.5
0.5625
0.625
1

Krw
0
0.0009
0.0054
0.0148
0.0304
0.053
0.0837
0.123
0.1717
0.2305
0.3
1

Kro
1
0.7524
0.5474
0.3817
0.2518
0.1539
0.0842
0.0387
0.0013
0.0002
0
0

Pc (bar)
1
0.468
0.252
0.149
0.094
0.063
0.044
0.032
0.024
0.018
0.014
0

Fw
0
0.000479
0.003939
0.015304
0.046159
0.121295
0.284924
0.56024
0.981461
0.99784
1
1

2. Setelah itu membuat grafik frational flow dengan cara plot grafik Fw
dengan Sw.
Grafik 5.5. Fractional Flow

Fwbt

Tan

Swbt

3. Pengambilan Nilai dari Grafik dengan cara menarik garis linear dari
Swc sampai menyinggung kurva Fw vs Sw. dari garis singgung ini
diperoleh:
Tabel 5.11. Nilai dari Grafik Fractional Flow

Parameter

Nilai

174

Swbt
Fwbt

Swbt
Swc
Fwi

0.52
0.9985
0.61
0.33
0.01

Keterangan Tabel:
Titik singgung antara garis tersebut dengan kurva memberikan S w

= Swbt
Titik potong antara garis, yaitu pada garis Fw = 1 menghasilkan
saturasi air rata rata system pendesakan pada saat breakthrough

( Swbt )
4. Mengansumsikan nilai

Swbt
, Swbt, dan Fwbt dengan plot grafik

mengambil nilai setelah breakthrough grafiknya dapat dilihat dibawah


ini.
Grafik 5.6. Fractional Flow setelah Breakthrough

5.
Dari

grafik di atas didapatkan asumsinya sebagai berikut.


Tabel 5.12. Asumsi nilai setelah breakthrough

175

Swbt

Fwbt

Swbt

0.52
0.56
0.59
0.625
0.63
0.64

0.9985
0.9988
0.9992
0.9996
0.9998
0.999

0.61
0.68
0.74
0.82
0.92
0.97

6. Langkah selanjutnya yaitu menghitung Tan dan menghitung Q iBT,


dengan persamaan sebagai berikut:

Tan

df w
dS w

( )

F wBT F wi
S wBT S wc

0.99850.01
0.520.03

Swf

....................................................................(5-2)

= 2.017347
1

QiBT

df w
dS w

( )

...................................................................(5-3)

Swf

1
2.017347

= 0.495701
Nilai yang didapatkan dari perhitungan diatas adalah sebagai berikut :
Tabel 5.13. Perhitungan Tan a dengan QiBT

Tan
2.01734
7
1.86566
1.76642
9
1.66319
3

QiBT
0.49570
1
0.53600
3
0.566114
0.60125
3

176

1.64966
7
1.621311

0.60618
3
0.61678
5

7. Menentukan kro dan krw pada saat Swi dan

S wBT

dari permeabilitas

relative. Nilai tersebut dicari dengan menggunakan interpolasi seperti


contoh perhitungan dibawah ini.
Perhitungan Krw (Swi)
Sw

0.625
0.61

0.5625
Krw
0.6250.61
0.3

0.6250.5625
0.015
0.0625

0.3x 0.2305
0.30.2305

0.3x
0.0695

0.01875 0.0010425 = 0.0625 x


0.0177075
0.0625

= x

= 0.28332

Perhitungan Kro ( S wBT )

Sw

0.375
0.33

0.3125
Kro

0.1539

0.0842

177

0.3750.33
0.3750.3125

0.1539x
0.15390.0842

0.045
0.0625

0.1539x
0.0697

0.0031365 0.0096

= -0.0625 x

0.0064635
0.0625

= x

= 0.103416

Tabel 5.14. Hasil Perhitungan Kro @Swi dan Kro@

Kro @Swi

Krw @ Swbt

0.103416
0.103416
0.103416
0.103416
0.103416
0.103416

0.28332
0.0000293
0.0000613
0.000104
0.000157
0.000184

Swbt

8. Menghitung nilai M dan EaBT


Parameter yang terpenting untuk menentukan keefektifan dari
waterflood adalah titik akhir mobilitas ratio dan mencari kalkulasi
areal efisiensi penyapuan dari persamaan sebagai berikut:
M

k rw / w
k ro / o ......................................................................(5-4)

0.28332/1.2
0.103416/0481

= 6.83479774

178

EaBT

0.03170817
M

0.54602036 +

= 0.54602036 +

0.30222997
eM

0.03170817
6.83479774

...(5-5)

+ 000509693. M

0.30222997
6.83479774
e

000509693 x 6.83479774

= 0.516148
Dari contoh perhitungan diatas didapatkan hasil pada tabel dibawah
ini:
Tabel 5.15. Hasil Perhitungan M dan EaBT

M
6.8347977
4
0.0007068
3
0.0014788
0.0025088
9
0.0037874
6
0.0044388
1

eM
929.8989871

EaBT
0.51614
8

1.00070708

45.7076

1.014897863

22.2856
6

1.00251204

13.4858

1.003794641

9.21897

1.004448676

7.99028
8

9. Menghitung QiBT dan WiBT pada saat breakthrough

QiBT
= ( S wBT Swi).............................................................(5-6)
= (0.61 0.03)
= 0.58

WiBT

= (PV) x QiBT x EaBT.........................................................(5-7)


= (5675336.5+224533900) x 0.58 x 0.516148
= 68916796.67
Tabel 5.16. Hasil Perhitungan QiBT dan WiBT

Qibt
0.58
0.65

Wibt
68916796.6
7
168613925.
2

179

0.71
0.79
0.89
0.94

89799808.2
4
60463806.3
7
46565475.5
7
42626720.5
7

10. Menghitung waktu terjadinya breakthrough


W iBT
tBT
=
i w ........................................................................(5-8)
=

68916796.67
30000

= 2297.23 days
Tabel 5.17. Hasil Perhitungan tBT

tBT (day)
2297.23
5620.46
2993.33
2015.46
1552.18
1420.89

tBT (year)
6.293771
15.39853
8.200896
5.521809
4.252555
3.892851

11. Selanjutnya menghitung EdBT, efisiensi displacement pada saat


breakthrough dan menghitung NpBT yaitu nilai kumulatif produksi
minyak.
EdBT

S wi
S wBT
1S wi ................................................................(5-9)

0.610.03
10.03

= 0.597938
(Np)BT

= Ns x EDBT x EABT...........................................................(5-9)
= 8831575 x 0.597938 x 0.516148
= 2725641.7 sm3
Tabel 5.18. Hasil Perhitungan EdBT dan NpBT

180

EdBT
0.59793
8
0.67010
3
0.73195
9
0.81443
3
0.91752
6
0.96907
2

NpBT (sm3)
2725641.7
270500610
144062259
96999678.
4
74703139.
4
68384351.
5

181

12. Menghitung Water cut

di surface dan di reservoir pada saat

breakthrough
E

S wf S wi
E ABT (S wBT S wi) ....................................................(5-10)

0.520.03
0.516148(0.520.03)

= 1.636792935
W iBT
W inj

= 0.2749

( )

= 0.2749

( 68916796.67
97265000 )

.......................................................(5-11)

= 0.19477949
P

newly

= E .............................................................................

(5-12)
= 1.636792935 x 0.19477949
= 0.318813698
f wf [ 1( N p ) newly ]
WORs

Bo
Bw

( )

1f wf [ 1( N p )newly ]

0.9985 [ 10.318813698 ]
10.9985 [ 10.318813698 ]

.............................(5-13)

( 1.15
1.01 )

= 2.421385 vol/vol
WORr

f wf
(1f wf ) .................................................................(5-14)

0.9985
(10.9985)

= 665.6667 vol/vol

182

Tabel 5.19. Hasil Perhitungan

( N p ) newly

E
1.63679293
5
0.01783914
5
0.03539192
9
0.05584870
4
0.07312718
0.08121561
4

0.1947794
9
0.4765534
2
0.25380113
0.1708888
1
0.1316079
7
0.1204758
7

0.318813698

WORs
(vol/vol)
2.42138
5

WORr
(vol/vol)
665.666
7
832.333
3

0.008501306

116.352

0.008982512

115.3397

1249

0.009543919

113.4089

2499

0.00962412

114.7839

4999

0.009784522

104.535
8

999

13. Menghitung nilai Qo dan Qw


iw
Qo
= Bo .........................................................................(5-15)
=

188.7
1.15

= 164.087 bbl/day
Qw

= Qo x WORs................................................................(5-16)
= 164.087 x 2.421385
= 397.3177 bbl/day

Tabel 5.20. Hasil Perhitungan Qo dan Qw

Qo
(bbl/da
y)
164.08
7
164.08
7
164.08
7
164.08
7
164.08
7
164.08

Qw
(bbl/da
y)
397.31
77
19091.
85
18925.
75
18608.
92
18834.
55
17152.

183

96
BAB VI

PEMBAHASAN

Pada tanggal 31 Desember 2002, proeses memproduksikan fluida pada


Lapangan BNP sumur P3 berhasil dilakukan pertama kalinya dan sesuai dengan
gambar penampang reservoir posisi sumur P3 Lapangan BNP berada pada kondisi
saturasi oil sebesar 1 mD dan dengan target BHP nya adalah sebesar 230 m 3/day.
Data yang didapatkan pada sumur P3 Lapangan BNP pada tanggal 31 Desember
2002 adalah Gas Rate : 93075 m3/day dan Oil Rate : 750 bar.

Gambar 6.1. Penampang 2D Sumur P3 Lapangan BNP Tanggal 31 Desember 2002 (Eclipse
100)

Pada tanggal 1 January 2007, menurut historinya sumur P3 pada Lapangan


BNP telah ditutup. Tetapi kandungan fluida yang terdapat di dalamnya masih
sangat produktif untuk diproduksikan. Hal tersebut terbukti melalui gambar
dibawah ini dimana reservoir pada Lapangan BNP masih produktif untuk
diproduksikan. Maka dari itu penambahan yang signifikan dan efisien dapat di
kembangkan untuk menguras kembali kandungan fluida yang terdapat pada
Lapangan BNP yang telah ditutup produksinya melaui sumur P3.

184

Gambar 6.1. Penampang 2D Sumur P3 Lapangan BNP Tanggal 01 Januari 2007

Gambar dibawah ini menunjukkan mekanisme pendorong minyak yang


digunakan oleh reservoir pada Lapangan BNP. Terlihat pada gambar bahwa
mekanisme pendorong yang dominan adalah air dan gas, akan tetapi mekanisme
pendorong air lebih kuat dibandingkan dengan mekanisme pendorong gas.
Biasanya system mekanisme pendorong water drive yang kuat tidak
direkomendasikan untuk menggunakan waterflooding karena masuknya air alami
atau aquifer secara berkelanjutan sehingga dapat menyebabkan

water

breakthrough. Namun pada beberapa kasus mekanisme pendorong air juga


dilengkapi dengan injeksi air dalam rangka untuk mendukung tingkat
pendorongan minyak yang lebih tinggi.
Grafik 6.1. Mekanisme Pendorong pada Lapangan BNP (Eclipse 100)

185

Pada kelima studi kasus yang ada, studi kasus yang ke lima adalah studi kasus
yang paling berpotensi untuk menaikkan nilai recovery factor. Tidak hanya dilihat
pada kenaikan nilai recovery factor akan tetapi juga dilihat dari beberapa faktor
yang mempengaruhi yaitu seperti parameter yang mempengaruhi dan performa
dari lapangan dan sumur BNP. Penempatan sumur injeksi dan sumur produksi
juga berpengaruh dalam penurunan nilai recovery factor. Pada kasus ini pola
sumur injeksi dan sumur produksi menggunakan four spot (pola 4 titik) dengan
keberhasilan kenaikan nilai recovery factor sebesar 9.76%.
6.1.

Parameter Parameter yang Mempengaruhi Laju Alir Fluida


Didalam produksi terdapat beberapa parameter yang sangat
berpengaruh untuk mendorong minyak ke permukaan di Lapangan BNP
ini. Pada sejarah lapangan, pengeboran pertama kali dilakukan pada 31
Desember 2002 dengan satu sumur produksi yang diberi nama P3 dan
dilakukan penambahan sumur pada lapangan BNP sampai tahun 2020
dengan penambahan beberapa sumur produksi. Akan tetapi OOIP dari
lapangan tersebut tidak bisa terproduksi secara keseluruhan karena
beberapa factor tertentu sehingga dilakukannya metode primary recovery
seperti artificial lift, gas lift dll. Seiring berjalannya waktu primary
recovery di Lapangan BNP ini tidak bekerja secara maksimal sehingga
dilakukannya

metode

secondary

recovery

seperti

waterflooding.

Parameter parameternya adalah sebagai berikut :


a. Tekanan (Pressure)
Pada awal pengeboran yaitu pada tanggal 31 Desember 2014,
Lapangan BNP ini berproduksi dengan satu sumur produksi. Dapat
terlihat pada gambar penampang Lapangan BNP dibawah ini bahwa
dengan satu sumur produksi tekanan tidak akan berubah secara
signifikan. Pada gambar (a) terlihat kondisi tekanan masih berada pada
titik nilai 276.26 bar, sedangkan pada gambar (b) kondisi tekanan
berada pada titik nilai 134.75 bar sampai dengan titik 1.08 bar. Hal itu
menandakan bahwa tekanan pada gambar (b) semakin berkurang
seiring dengan penambahan sumur produksi dengan laju alir yang

186

tinggi maka tekanan yang ada di reservoir lama kelamaan dapat drop,
oleh karena itu dilakukan metode kedua yaitu waterflooding untuk
memulihkan kondisi reservoir minyak dengan cara penginjeksian air
sebagai pressure maintenance, apabila langkah tersebut tidak dapat
optimal maka dapat diterapkan metode tertiary recovery seperti
chemical flooding, thermal flooding dll.

(a)

(b)

Gambar 6.2. 2D Kondisi Tekanan Lapangan BNP : (a) Awal Produksi pada 31
Desember 2002 (b) Akhir Produksi pada 01 Januari 2020 (Eclipse 100)

b. SGAS (Saturation Gas)

187

(b)
Gambar 6.3. 2D Kondisi Saturation Gas Lapangan BNP : (a) Awal Produksi pada
31 Desember 2002 (b) Akhir Produksi pada 01 Januari 2020 (Eclipse 100)

Gambar diatas adalah kondisi dimana saturasi gas saat berproduksi.


Saturasi gas itu sendiri yaitu perbandingan volume pori yang diisi gas
dengan volume pori total batuan yang ada di reservoir. Pada gambar
(a) saturasi gas berada pada titik -0.00002 pada saat tahun produksi
pertama hingga tahun terakhir sumur ditutup, akan tetapi berbeda hal
dengan gambar (b) gas sudah mulai rilis pada titik 0.13428 dengan
volume yang masih sedikit. Untuk perbandingan volume gas yang
terproduksi dapat dilihat pada grafik Gas Oil Ratio.
c. SOIL (Saturation Oil)

(a)

(b)

Gambar 6.4. 2D Kondisi Saturation Oil Lapangan BNP : (a) Awal Produksi pada
31 Desember 2002 (b) Akhir Produksi pada 01 Januari 2020 (Eclipse 100)

Parameter sebuah reservoir potensi menghasilkan minyak dan gas


bumi adalah adanya nilai saturasi oil yang mendekati 1, sehingga dapat

188

diasumsikan reservoir tersebut 100% terisi oleh minyak. Pada awal


produksi di gambar (a) terlihat bahwa saturasi minyak berada pada
nilai 1.0001 akan tetapi setelah minyak terproduksikan air yang sudah
ada di reservoir akan menggantikan pori pori minyak yang kosong
sehingga terlihat pada gambar (b) saturasi minyak nya berkurang
sampai 0.5 karena banyak nya minyak yang sudah terproduksi ke
permukaan.
d. SWAT (Saturation Water)
Saturasi water yang ada di reservoir tidak diharapkan bernilai
100% akan tetapi terdapat air alami atau aquifer yang berpotensi untuk
ikut terproduksi pada saat terproduksikannya minyak ke permukaan.
Seperti terlihat pada gambar (a) dibawah ini bahwa pada koordinat grid
yang di bor sumur produksi kondisi saturasi air nya sangat kecil yaitu
(-0.0001) akan tetapi dengan bertambahnya tahun produksi kondisi
saturasi air mulai naik hampir ke titik yang bernilai 1.000 karena air
tersebut menggantikan pori minyak yang kosong dan telah terproduksi
ke permukaan. Hal ini harus diantisipasi karena berpotensi air ikut
terproduksi ke permukaan dengan masuk melalui celah celah casing.

189

(b)
Gambar 6.5. 2D Kondisi Saturation Water Lapangan BNP : (a) Awal Produksi pada
31 Desember 2002 (b) Akhir Produksi pada 01 Januari 2020 (Eclipse 100)

190

e. RS ( Gas Oil Ratio )

(a)

(b)

Gambar 6.6. 2D Kondisi Gas Oil Ratio Lapangan BNP : (a) Awal Produksi pada 31
Desember 2002 (b) Akhir Produksi pada 01 Januari 2020 (Eclipse 100)

RS didefinisikan sebagai banyaknya SCF gas yang terlarut dalam 1


STB minyak pada saat minyak terproduksikan ke permukaan. Pada
gambar (a) GOR berada pada titik diantara 90.20 134.75, sedangkan
pada gambar (b) terlihat GOR sudah mulai menurun yaitu nilainya
sekitar 1.08 45.64. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa factor,
seperti jarak antar sumur produksi atau sumur injeksi, atau posisi
pengeboran kurang tepat dll.
6.2.

Performa Lapangan dan Sumur


Dari tabel 5.13 dapat dipilih dan ditentukan case yang mana yang lebih
ekonomis dan menghasilkan recovery factor yang lebih besar. Untuk
melihat lebih jelas performa dari lapangan BNP tersebut dapat dilihat pada
analisa grafik dibawah ini.

191

FOPT (Field Oil Production Total)


Pada grafik dibawah ini terdapat 5 buah garis yang menunjukkan
hubungan waktu hingga tahun 2020 terhadap Field Oil Production
Total artinya rata rata jumlah keseluruhan minyak yang dapat
diproduksikan pada Lapangan BNP hingga tahun 2020, dimana garis
yang berwana merah muda merupakan Case 5. Dari grafik FOPT dapat
dilihat bahwa pada scenario case 1 peningkatan Np sebesar 2233122.3
m3. Setelah itu, diterapkan scenario case 2 yang merupakan
penambahan case 1 ditambah dengan 5 sumur produksi yang
mengalami penurunan Np sebesar 2052674.6 m3. Pada case 3
penambahan case 1 ditambah dengan 10 sumur produksi yang
mengalami kenaikan nilai Np dari case 2 sebesar 2086667.7 m3. Oleh
karena peningkatan Np hanya beberapa persen dari kasus ketiga, maka
diterapkan scenario case 4 yang merupakan penambahan case 4
ditambah dengan 2 sumur injeksi yang mengalami kenaikan Np
sebesar 2312830.3 m3. Penambahan case 5 ditambah dengan 4 sumur
injeksi yang mengalami peningkatan Np sebesar 3095332.7 m3. Dapat
terlihat pada grafik kenaikan produksi terjadi pada saat dilakukannya
Case 2 hingga Case 5, itu menunjukkan bahwa penambahan sumur
produksi dan sumur injeksi sangat berpengaruh penting untuk
menaikkan jumlah produksi kumulatif minyak (Np) yang ada di
Lapangan BNP.

192

Grafik 6.2. FOPT (Field Oil Production Total) (Eclipse 100)

FOPR (Field Oil Production Rate)


Pada grafik dibawah ini terdapat 5 buah garis yang menunjukkan
hubungan waktu hingga tahun 2020 terhadap Field Oil Production
Rate yang artinya rata rata laju alir minyak yang dapat berproduksi
pada Lapangan BNP hingga tahun 2020 yang mana grafik FOPR ini
dapat digunakan untuk melihat performa suatu lapangan dari tahun
pertama dilakukannya pengeboran hingga tahun terakhir ditutupnya
sumur, dimana garis yang berwana merah muda merupakan Case 5.
Dari grafik FOPR dapat dilihat bahwa pada scenario case 1
peningkatan laju alir minyak sebesar 87.186272 m3/day. Setelah itu,
diterapkan scenario case 2 yang merupakan penambahan case 1
ditambah dengan 5 sumur produksi yang mengalami penurunan laju
alir minyak sebesar 41.199551 m3/day. Pada case 3 penambahan case 1
ditambah dengan 10 sumur produksi yang mengalami penurunan laju
alir minyak dari kasus pertama dan mengalami kenaikan laju alir dari
kasus ke dua sebesar 30.430599 m3/day. Oleh karena penurunan laju
alir minyak yang terjadi terus menerus, maka diterapkan scenario case
4 yang merupakan penambahan case 4 ditambah dengan 2 sumur
injeksi yang bertujuan untuk menaikkan laju alir minyak dan

193

menghasilkan kenaikan laju alir minyak sebesar 75.280205 m3/day.


Lalu untuk case yang terakhir yaitu Penambahan case 5 ditambah
dengan 4 sumur injeksi mengalami peningkatan laju alir minyak
sebesar 113.32115 m3/day. Dapat terlihat pada grafik kenaikan laju alir
minyak terjadi pada saat dilakukannya Case 1, akan tetapi bersamaan
dengan penambahan sumur produksi laju alir minyak di reservoir juga
ikut

menurun.

Sehingga

metode

secondary

recovery

seperti

waterflooding digunakan untuk menaikkan laju alir minyak yang ada


di reservoir, pada case 4 dengan penambahan 2 sumur injeksi dan pada
Case 5 yaitu 4 sumur injeksi sehingga terdapat 6 sumur injeksi untuk
menaikkan laju alir minyak 10 sumur produksi dan ternyata laju alir
minyak Lapangan BNP dapat naik tiga kali lebih besar dari laju alir
minyak yang terakhir di record.
Grafik 6.3. FOPR (Field Oil Production Rate) (Eclipse 100)

FLPR (Field Liquid Production Rate)


Pada grafik dibawah ini terdapat 5 buah garis yang menunjukkan
hubungan waktu hingga tahun 2020 terhadap Field Liquid Production
Rate yang artinya rata rata laju alir liquid yaitu air, minyak dan gas
yang dapat berproduksi pada Lapangan BNP hingga tahun 2020 yang
mana grafik FLPR ini dapat digunakan untuk melihat performa suatu
lapangan dari tahun pertama dilakukannya pengeboran hingga tahun

194

terakhir ditutupnya sumur, dimana garis yang berwana merah muda


merupakan Case 5. Dari grafik FLPR dapat dilihat bahwa pada
scenario case 1 peningkatan laju alir liquid sebesar 344.0249 m3.
Setelah itu, diterapkan scenario case 2 yang merupakan penambahan
case 1 ditambah dengan 5 sumur produksi yang mengalami penurunan
laju alir liquid sebesar 155.64107 m3. Pada case 3 penambahan case 1
ditambah dengan 10 sumur produksi yang mengalami penurunan laju
alir liquid yang sangat signifikan sebesar 46.704975 m3. Oleh karena
penurunan laju alir liquid yang terjadi terus menerus, maka diterapkan
scenario case 4 yang merupakan penambahan case 4 ditambah dengan
2 sumur injeksi yang bertujuan untuk menaikkan laju alir liquid
sehingga didapatkan kenaikan laju alir liquid sebesar 1896.5188m3.
Kenaikan laju alir liquid pada Case 4 ini terjadi karena terdapat 2
sumur injeksi air yang digunakan untuk meningkatkan laju alir liquid
pada sumur produksi. Lalu untuk case yang terakhir yaitu Penambahan
case 5 ditambah dengan 4 sumur injeksi mengalami peningkatan laju
alir liquid yang sangat signifikan sebesar 30000.902m3. Hal tersebut
dikarenakan pemanfaatan sumur injeksi air yang digunakan untuk
menaikkan laju alir minyak dan mempertahankan tekanan yang ada di
reservoir. Hal ini yang biasa dinamakan water breakthrough yaitu
kondisi dimana air mulai banyak yang terproduksi dibandingkan
dengan minyak. Dapat terlihat pada grafik kenaikan laju alir liquid
terjadi pada saat dilakukannya Case 1, akan tetapi bersamaan dengan
penambahan sumur produksi laju alir liquid di reservoir juga ikut
menurun. Sehingga metode secondary recovery seperti waterflooding
digunakan untuk menaikkan laju alir liquid yang ada di reservoir, pada
case 4 dengan penambahan 2 sumur injeksi laju alir liquid naik lalu
dilakukan penambahan sumur injeksi lagi pada Case 5 yaitu 4 sumur
injeksi sehingga terdapat 6 sumur injeksi untuk menaikkan laju alir
liquid 10 sumur produksi dan ternyata laju alir liquid Lapangan BNP

195

dapat naik tiga kali lebih besar dari laju alir liquid pada saat pertama
kali produksi.
Grafik 6.4. FLPR (Field Liquid Production Rate) (Eclipse 100)

FWCT (Field Water cut Total)


Pada grafik dibawah ini terdapat 5 buah garis yang menunjukkan
hubungan waktu hingga tahun 2020 terhadap Field Water cut Total
yang artinya jumlah keseluruhan rata rata air yang ikut terproduksi
pada Lapangan BNP, dimana garis yang berwana hitam merupakan
Case 5. Dari grafik FWCT dapat dilihat bahwa pada scenario case 1
peningkatan water cut sebesar 0.74656987 m3. Setelah itu, diterapkan
scenario case 2 yang merupakan penambahan case 1 ditambah dengan
5 sumur produksi yang mengalami kenaikan water cut

sebesar

0.73529124 m3. Pada case 3 penambahan case 1 ditambah dengan 10


sumur produksi yang mengalami penurunan nilai water cut sebesar
0.3484506 m3. Selanjutnya diterapkan skenario case 4 yang merupakan
penambahan case 4 ditambah dengan 2 sumur injeksi yang bertujuan
untuk menaikkan laju alir sehingga didapatkan kenaikan water cut
sebesar 0.96030611 m3. Kenaikan water cut pada Case 4 ini terjadi
karena terdapat 2 sumur injeksi air yang digunakan untuk

196

meningkatkan laju alir pada sumur produksi. Lalu untuk case yang
terakhir yaitu Penambahan case 5 ditambah dengan 4 sumur injeksi
mengalami peningkatan water cut sebesar 0.99622273 m3. Air yang
ikut terproduksi ke permukaan meningkat seiring berjalannya waktu
akan tetapi mengalami penurunan pada kasus ke-3 karena jumlah
sumur produksi yang semakin banyak akan tetapi pada kasus ke-4
mengalami kenaikan water cut dikarenakan terdapat penambahan air
yang diinjeksikan melalui dua sumur injeksi. Dapat juga dilihat pada
grafik water cut terjadi pada saat pengeboran pertama kali, akan tetapi
bersamaan dengan penambahan sumur produksi water cut di reservoir
juga ikut naik.
Grafik 6.5. FWCT (Field Water cut Total) (Eclipse 100)

FGOR (Field Gas Oil Ratio)


Pada grafik dibawah ini terdapat 5 buah garis yang menunjukkan
hubungan waktu hingga tahun 2020 terhadap Field Gas Oil Ratio yang
artinya jumlah ratio gas yang terproduksi bersamaan dengan
terproduksinya minyak ke surface pada Lapangan BNP, dimana garis
yang berwana merah merupakan Case 5. Dari grafik FGOR dapat
dilihat bahwa pada scenario case 1 peningkatan GOR sebesar
463.95505 m3/m3. Setelah itu, diterapkan scenario case 2 yang

197

merupakan penambahan case 1 ditambah dengan 5 sumur produksi


yang mengalami penurunan GOR sebesar 364.63055 m3/m3. Pada case
3 penambahan case 1 ditambah dengan 10 sumur produksi yang
mengalami penurunan GOR sebesar 112.03056 m3/m3. Setelah itu pada
penerapan case 4 yang merupakan penambahan case 4 ditambah
dengan 2 sumur injeksi nilai GOR menurun sebesar 18.746641 m3/m3.
Pada case yang terakhir yaitu Penambahan case 5 ditambah dengan 4
sumur injeksi mengalami penurunan GOR sebesar 9.2423582 m3/m3.
Penurunan GOR terjadi seiring dengan penambahan sumur produksi
dan sumur injeksi, hal tersebut terjadi karena volume air yang lebih
banyak mendominasi untuk ikut terproduksi ke permukaan. Dapat
terlihat pada grafik GOR terjadi pada saat pengeboran pertama kali,
Gas sudah mulai rilis terlebih dahulu. Akan tetapi pada saat
penambahan sumur produksi nilai GOR mulai turun, pada saat
penambahan case 3, case 4 dan case 5 nilai GOR juga menurun secara
berkala. Hal tersebut dapat terjadi karena volume air yang ikut
terproduksi lebih banyak dikarenakan mekanisme pendorong dari
lapangan BNP merupakan water drive yang sangat kuat sehingga nilai
ratio gas nya akan berkurang seiring berjalannya proses produksi.
Dapat terlihat jelas pada grafik yaitu pada kasus ke-5 nilai GOR yang
meningkat tajam pada saat perforasi pertama kali, hal tersebut bisa
terjadi ketika perforasi menembus lapisa gas sehingga gas rilis terlebih
dahulu.

Grafik 6.6. FGOR (Field Gas Oil Ratio) (Eclipse 100)

198

FGLR (Field Gas Liquid Ratio)


Gas Liquid Ratio sama dengan Gas Oil Ratio akan tetapi perbandingan
liquid yaitu antara air dan minyak. Pada grafik dibawah ini terdapat 5
buah garis yang menunjukkan hubungan waktu hingga tahun 2020
terhadap Field Gas Liquid Ratio yang artinya jumlah ratio gas yang
terproduksi bersamaan dengan terproduksinya liquid ke surface pada
Lapangan BNP, dimana garis yang berwana merah merupakan Case 5.
Pada kasus pertama nilai gas liquid ratio sebesar 117.5802 m3/m3, pada
kasus kedua dengan penambahan 5 sumur produksi nilai gas liquid
ratio nya menurun sebesar 96.520889 m3/m3. Dikarenakan nilai gas
liquid ratio nya menurun maka dilakukan penambahan sumur pada
lapangan BNP pada kasus ke-3 yaitu dengan 10 sumur produksi
didapatkan nilai sebesar 72.993446 m3/m3. Pada kasus selanjutnya
yaitu kasus penambahan dengan sumur injeksi didapatkan penurunan
sebesar 0.74412709 m3/m3 dan pada kasus ke-5 didapatkan nilai
sebesar 0.034910772 m3/m3. Nilai perbandingan gas yang ikut
terproduksi liquid ke permukaan yaitu semakin lama semakin menurun
dengan penurunan yang sangat tajam setelah pemasangan sumur
injeksi pada kasus ke-4 dan kasus ke-5. Kondisi tersebut yang sangat
diharapkan dikarenakan ratio gas yang ikut terproduksi semakin kecil

199

sehingga gas tidak akan banyak terproduksi karena yang diinginkan


dari lapangan BNP yaitu produksi minyak.
Grafik 6.7. FGLR (Field Gas Liquid Ratio) (Eclipse 100)

FGPT (Field Gas Production Total)


Setelah kita mengetahui perbandingan ratio gas yang ikut terproduksi
oleh minyak dan liquid setelah itu kita dapat mengetahui produksi gas
total pada grafik FGPT. Pada grafik dibawah ini terdapat 5 buah garis
yang menunjukkan hubungan waktu hingga tahun 2020 terhadap Field
Gas Production Total artinya rata rata jumlah keseluruhan gas yang
dapat diproduksikan pada Lapangan BNP hingga tahun 2020, dimana
garis yang berwana merah merupakan Case 5. Dari grafik FGPT dapat
dilihat bahwa pada scenario case 1 peningkatan Gp sebesar
807247170m3. Setelah itu, diterapkan scenario case 2 yang merupakan
penambahan case 1 ditambah dengan 5 sumur produksi yang
mengalami penurunan Gp sebesar 1032564900 m3. Pada case 3
penambahan case 1 ditambah dengan 10 sumur produksi yang
mengalami kenaikan nilai Gp dari kasus 2 sebesar 1082959100 m3.
Setelah itu dilakukan penambahan kasus ke-3 dengan penambahan 2
sumur injeksi nilai Gp menurun sebesar 1065038500 m3 dan pada

200

kasus ke-5 nilai Gp yang didapatkan menurun sebesar 1033956400 m3.


Hal tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 6.8. FGPT (Field Gas Production Total) (Eclipse 100)

FWIR (Field Water Injection Rate) & FWIT (Field Water Injection
Total)
Field Water Injection Rate adalah laju alir injeksi air pada reservoir di
lapangan BNP. Dari grafik FWIR kita dapat mengetahui performa laju
alir air yang telah diinjeksikan pada reservoir sehingga kita dapat
mengetahui keakuratan posisi titik sumur injeksi yang kita pilih.
Karena apabila titik injeksi yang kita pilih terdapat zona fract atau
rekahan maka akan berbahaya dikarenakan air injeksi tersebut dapat
menjari sehingga tidak tepat sasaran pada sumur produksi dan akan
mengakibatkan rugi dengan buang buang cost yang mahal untuk
melakukan injeksi air. Pada kasus pertama sampai kasus ke-3 laju alir
air injeksi didapatkan nilai sebesar 0 sm3/day dikarenakan pemasangan
sumur injeksi dimulai pada tahun 2010 sampai tahun 2020. Pada kasus
keempat didapatkan nilai laju alir injeksi air sebesar 2000 sm3/day
sedangkan pada kasus ke-5 didpatkan kenaikan laju alir sebesar 30000
sm3/day. Setelah kita dapatkan seberapa besar nilai laju alir air yang
telah diinjeksikan ke reservoir, kita dapat mengetahui jumlah total air

201

injeksi yang diinjeksikan ke reservoir pada grafik FWIT. Dari grafik


dibawah ini dapat terlihat bahwa injeksi air dimulai pada tahun 2010
sehingga nilai injeksi total air sebesar 0 sm3 pada kasus pertama, ke-2
dan kasus ke-3. Pada kasus ke-4 didapatkan nilai injeksi total sebesar
7092000 sm3 sedangkan pada kasus ke-5 mengalami kenaikan injeksi
air total sebesar 97265000 sm3. Dapat terlihat jelas bahwa gambar dari
grafik FWIR dan FWIT sama akan tetapi berbeda nilai. Sehingga laju
alir injeksi berbanding lurus dengan injeksi total.
Grafik 6.9. (a) Field Water Injection Rate (b) Field Water Injection Total (Eclipse
100)

(a)

(b)

FWPT (Field Water Production Total) & FWPR (Field Water


Production Rate)
Performa suatu sumur dapat dilihat juga pada air yang ikut terproduksi
ke permukaan. FWPT adalah jumlah total air yang terproduksi ke
permukaan sedanngkan FWPR adalah performa laju alir air yang ada
di reservoir. Semakin sedikit air yang ikut terproduksi maka semakin
banyak minyak yang akan terproduksi. Kondisi tersebut yang
diharapkan untuk menjaga tingkat produksi minyak selama 20 tahun.
Laju alir yang didapatkan pada kasus pertama yaitu 256.8386 sm3/day,
pada kasus ke-2 mengalami penurunan sebesar 265.7 sm3/day, pada

202

kasus ke-3 mengalami penurunan sebesar 265.5809 sm3/day, setelah itu


pada kasus ke-4 mengalami kenaikan sebesar 2080.098 sm3/day dan
pada kasus ke-5 sebesar 4807.142 sm3/day. Sedangkan pada total
produksi air dari tahun pertama hingga tahun 2020 yaitu pada kasus
pertama sebesar 612683.8 sm3, pada kasus ke-2 mengalami penurunan
sebesar 3012868.3 sm3, dan pada kasus ke-3 mengalami kenaikan
sebesar 4215938 sm3, produksi total air mengalami kenaikan yang
signifikan pada kasus ke-4 sebesar 8987446 sm3 dan pada kasus ke-5
sebesar 94288784 sm3. Nilai laju alir air di reservoir dan total produksi
air mengalami penurunan seiring dengan penambahan sumur produksi
akan tetapi mengalami kenaikan pada saat ditambahkannya sumur
injeksi hal tersebut dikarenakan air yang diinjeksikan berfungsi untuk
menaikkan laju alir yang ada di reservoir dan bertambahnya nilai
kumulatif injeksi air. Hal tersebut dapat terlihat pada grafik dibawah
ini yaitu grafik FWPT dan grafik FWPR. Garis yang berwarna hitam
adalah nilai dari grafik kasus ke-5 yang menjadi parameter untuk
menentukan waktu breakthrough.

Grafik 6.10. (a) Field Water Production Rate (b) Field Water Production Total
(Eclipse 100)

(a)

(b)

203

Densitas Minyak, Viskositas Minyak dan Tekanan


Densitas, Viskositas dan Tekanan merupakan hal yang sangat
berpengaruh dalam menaikkan nilai recovery. Oleh karena itu perlu
adanya monitoring pada ketiga parameter tersebut. Untuk nilai densitas
minyak pada kasus pertama sebesar 846.11108 kg/m3, pada kasus
kedua sebesar 843.17548 kg/m3, pada kasus ketiga sebesar 841.62628
kg/m3, kasus ke empat sebesar 844.24493 kg/m3 dan pada kasus ke
lima sebesar 868.55658 kg/m3. Dari nilai yang didapatkan densitas dari
fluida dari kasus pertama, kasus kedua dan kasus ketiga hanya
mengalami sedikit penurunan akan tetapi pada kasus ke empat dan
kelima mengalami kenaikan. Pada viskositas minyak yang ada di
reservoir didapatkan nilai pada kasus pertama sebesar 2.1993945 cp,
pada kasus kedua sebesar 3.7962074 cp, pada kasus ketiga sebesar
4.302187, sedangkan pada kasus ke empat mengalami penurunan
sebesar 4.051527 cp dan kasus ke lima sebesar 4.0354891 cp. Nilai
viskositas yang didapatkan dari grafik mengalami kenaikan seiring
dengan penambahan sumur produksi akan tetapi mengalami penurunan
pada saat ditambahkannya sumur injeksi. Factor tekanan merupakan
factor yang paling penting didalam meningkatkan laju alir, pada kasus
pertama nilai tekanan yang didapat sebesar 68.238914 BarA,
menngalami penurunan tekanan pada kasus kedua sebesar 11.836346
BarA dan pada kasus ketiga sebesar 2.6937916 BarA, lalu mengalami
kenaikan tekanan pada kasus ke-4 sebesar 27.206266 BarA dan kasus
kelima sebesar 304.50897 BarA. Dapat diidentifikasikan dari ketiga
parameter tersebut bahwa densitas fluida berbanding lurus dengan
tekanan yang ada di reservoir akan tetapi berbanding terbaik dengan
viskositas. Hal tersebut dapat terlihat pada grafik dibawah ini pada
garis yang berwarna merah muda yaitu pada kasus kelima.

204

205

Grafik 6.10. FODEN (Field Oil Density) (Eclipse 100)

Grafik
6.11.

FPR

(Field

Pressure) (Eclipse 100)

Grafik 6.12. FOVIS (Field Oil Viscosity) (Eclipse 100)

206

Dari
diatas

data
kita

dapat
menghitung nilai pada saat sebelum breakthrough dan pada saat
breakthrough. Perhitungan data tersebut menggunakan metode BuckleyLeverett yang mana menggunakan perhitungan fractional flow pada
perhitungan awal yaitu untuk menentukan Swbt, Fwbt dan

Swbt
.

Setelah itu menghitung QiBT yang didapatkan nilai sebesar 0.495701, lalu
menghitung keefektifan dari waterflood dengan menghitung mobilitas
ratio yang didapatkan nilai sebesar 6.83479774 dan keefektifan pada saat
breakthrough yaitu EaBT didapatkan nilai sebesar 0.516148.
Pada saat breakthrough didapatkan nilai QiBT tidak jauh dengan nilai
QiBT pada saat sebelum breakthrough yaitu sebesar 0.58 dengan WiBT
sebesar 68916796.67, lalu menghitung waktu terjadinya breakthrough (tBT)
didapatkan nilai sebesar 2297.23 days. Efisiensi displacement pada saat
breakthrough yaitu sebesar 0.597938 dan kumulaif minyak pada saat
breakthrough sebesar 2725641.7 sm3. Setelah itu didapatkan nilai water
cut di surface WORs sebesar 2.421385 vol/vol dan water cut di reservoir
WORr sebesar 665.6667 vol/vol, sedangkan untuk nilai laju alir minyak
dan air nya yaitu Qo sebesar 26086.96 bbl/day dan Qw sebesar 63166.56
bbl/day.

207

BAB VII

KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas yaitu pada penambahan sumur pada lapangan BNP
1.

dan perhitungan fractional flow dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:


Lapangan BNP dapat berproduksi maksimal dengan simulasi waterflooding
hingga 01 Maret 2012 dengan penambahan case 5 yaitu 10 sumur produksi

2.

dan 6 sumur injeksi yang didapatkan kenaikan nilai RF sebesar 35.05%.


Perbedaan antara efisiensi pendesakan yaitu perbandingan volume hidrokarbon

3.

sedangkan efisiensi penyapuan yaitu perbandingan luas daerah hidrokarbon.


Dari perhitungan metode Buckley-Leverett didapatkan nilai EdBT sebesar
0.597938, nilai (Np)BT sebesar 2725641.7 sm3, nilai WORs sebesar 2.421385,
nilai WORr sebesar 665.6667, nilai laju alir minyak (Qo) sebesar 164.087
bbl/day dan laju alir air (Qw) sebesar 397.3177 bbl/day.

208

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmed, Tarek. 2001. Resevoir Engineering Handbook Second


Edition. United States : British Library Cataloguing in Publication
Data.
2. Craft, B. C., Hawkins, M. F. 1959. Applied Reservoir
Engineering. New Jersey : Prentice Hall Inc. Englewood Clifts
3. Dake, L.P. 1977. Fundamentals Of Reservoir Engineering.
Netherlands : ELSEVIER SCIENCE B.V.
4. Fagan, Alphonsus. 1991. An Introduction

to

THE

PETROLEUM INDUSTRY. Government Of Newfoundland and


Labrador : Department of Mines and Energy
5. Herniyadi, Ganang. 2013. Laporan Komprehensif Penerapan
Waterflooding untuk Optimasi Produksi. Balikpapan : STT
Migas Balikpapan.
6. H. C, Slider. 1983. Worldwide Practical Petroleum Reservoir
Engineering Methods. United States of America : PennWell
Publishing Company
7. John, W. Lee. 1995. Waterflooding Industry School. Texas A&M
University Texas : Petroleum Engineering Department.
8. Lesmana, Fanny Septia. 2012. Laporan Komprehensif
Meningkatkan Recovery Oil Yang Masih Tersimpan di
Reservoir

dengan

Immisible

Waterflooding

(EOR).

Balikpapan : STT Migas Balikpapan.


9. Manik, Victor Tulus. 2010. Laporan Tugas Akhir Analisa
Kinerja Injeksi Air Dengan Menggunakan Interwell Tracer
Test Di Lapangan Kenji. Pekanbaru : Universitas Islam Riau.
10. McCAIN, Jr, William D. 1990. The Properties Of Petroleum
Fluids Second Edition. United States of America : PennWell
Publishing Company

209

DAFTAR PUSTAKA
(Lanjutan)

11. Pradhitasari, Fitriana Yniastuti. 2011. Laporan Tugas Akhir


Evaluasi Kinerja waterflooding Pada Lapisan M Sumur LS
135 LS 129 Blok VII Dengan Pola Direct Line Lapangan
Sago Unit Bisnis PT. Pertamina EP Lirik. Yogyakarta :
Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional
VETERAN.
12. Permadi, A.K. 2004. Diktat Teknik Reservoir I & II. Bandung :
Institute Teknologi Bandung.
13. Sifaudin, Ifham. 2014. Blog Karakteristik Fluida Reservoir. 17
Oktober

2014

http://ifham-sifaudin.blogspot.com/2014/01

/karakteristik-fluida-reservoir.html
14. Subagya, Agus. 2012. Blog Basic Enhanced Oil Recovery. 17
Oktober 2014 : http://oilgas-training.blogspot.com/2012/09/dasardasar-enhanced-oil-recovery-eor.html
15. Wirlynda, Dina. 2011. Laporan Tugas Akhir Optimasi Injeksi
Air

Dengan

Reduce

Spacing

Pola

Inverted

5-Spot

Menggunakan Simulasi Reservoir. Pekanbaru : Universitas


Islam Riau.