Anda di halaman 1dari 10

PERCOBAAN III

EKTRAKSI SOXHLET
I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memahami proses ekstraksipadat-cair dan
memahami cara kerja ekstraktor soxhlet.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Minyak dan lemak tidak larut dalam air, kecuali minyak jarak.Minyak dan lemak
hanya sedikit larut dalam alkohol, tetapi akan melarut sempurna dalam etil ester, karbon
disulfida, dan pelarut-pelarut halogen. Ketiga jenuh ini memiliki sifat non polar
sebagaimana halnya minyak dan lemak netral, kelarutan dari lemak dan minyak ini
dipergunakan sebagai dasar untuk mengekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang
diduga mengandung minyak (Shanty, 2000).
II.1. Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu metode pemisahan atau isolasi dua atau lebih komponen
dengan menambahkan suatu pelrut yang hanya dapat melarutkan salah satu
komponennya saja. Cairan ini berguna memisahkan penyusun yang dimulai dari suatu
campuran lewat pelarutan selektif (Arsyad, 2001).
Ekstraksi adalah suaru cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan
yang diduga mengandung minyak atai lemak. Adapun cara ekstraksi ini bermacammacam, yaitu rendering (dry rendering dan wet rendering), mechanical experssion dan
solvent extraction.
a. Rendering
Merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung
minyak atau lemak dengan kadar yang tinggi.
b. Pengepresan Mekanis
Merupakan suatu cara kstraksi minyak atau lemak, terutama untuk bahan yang
berasaldari biji-bijian.

c. Ekstraksi dengan Pelarut


Melarutkan minyak dalam pelarut minyak atau lemak
(Ketaren, 1986)
Ekstraksi padat-cair (leaching) merupakan salah satu unit operasi pemisahan
tertua yang digunakan untuk memperoleh komponen-komponen zat terlarut dari
campurannya dalam padatan dengan cara mengontakkanya dengan pelarut yang sesuai.
Operasi ekstraksi dapat dilakukan dengan mengaduk suspensi padatan di dalam tangki
atau dengan menyusun padatan tersebut dalam suatu unggun tetap (fixed-bed).
Kemudian cairan pelarut mengalir diantara butiran padatan, cara ini disebut cara
perkolasi. Semakin tinggi laju alir pelarut, maka koefisien transfer massanya semakin
besar, sehingga penurunan konsentrasi zat terlarut dalam cairan keluar kolom terjadi
lebih cepat (Shanty, 2000).
Pemilihan pelarut untuk ekstraksi ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan
berikut :
1. Angka banding distribusi yang tinggi untuk zat terlarut, angka banding yang rendah
untuk zat-zat pengotor yang tak diinginkan.
2. Kelarutan yang rendah dalam fase air.
3. Kekentalan yang cukup rendah dan perbedaan rapatan yang cukup besar dari fase
airnyauntuk mencegah pembentukan emulsi.
4. Tidak mudah terbakar.dan tidak bersifat beracun.
5. Mudah mengambil kembali zat terlarut dari pelarut untuk proses-proses analisis
berikutnya.
(J. Basset, 1994).
II.2. Ekstraktor Soxhlet
Ekstraksi lemak dari bahan kering dapat dikerjakan secara terputus-putus atau
bersinambungan. Ekstraksi secara terputus-putus dijalankan dengan alat soxhlet atau
alat ekstraksi ASTM (American Society Testing Material). Sedangkan cara
bersinambungan dengan alat goldfisch atau ASTM yang dimodifikasi (Sudarmadji,
1987).

Penentuan kadar minyak atau lemak sesuatu bahan dapat dilakukan dengan
menggunakan soxhlet apparatus, cara ini dapat juga digunakan untuk ekstraksi minak
dari suatu bahan yang mengandung minyak. Ekstraksi dengan alat soxhlet apparatus
merupakan cara ekstraksi yang efisien karena dengan ini pelarut dapat diperoleh
kembali, bahan padat umumnya membutuhkan waktu ekstraksi yang lebih lama, karena
itu dibutuhkan pelarut yang lebih banyak (Ketaren, 1986).
Ekstraktor soxhlet terdiri dari gelas bulat, alat refluks berupa bejana dengan
sarung ekstraksi dipsang dalam bejana tersebut, dan alat pendingin (kondensor).
Kegunaan ekstraktor soxhlet adalah untuk menentukan zat minyak dan lemak yang
dikandung suatu larutan sampel. Bejana bulat, alat refluks dan alat pendingin terbuat
dari kaca tahan panas dan sarung ekstraksi terbuat dari kertas kuhsus (Alaert, 1984).
II.3. Minyak Atsiri
Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap, minyak terbang
merupakan campuran dari senyawa yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki
komposisi maupun titik didih yang beragam. Pengertian atau definis minyak atsiri yang
ditulis dalam Encyclopedia of Chemical Technology menyebutkan bahwa minyka
atsiri merupakan senyawa yang umumnya berwujudd cairan, yang diperoleh dari bagian
tanaman yaitu akar, kulit, batang, daun, nuah, biji, maupun dari bunga dengan cara
penyulingan dengan uap (Hardjono, 2004).
Minyak atsiri dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah
kelompok minyak atsiri yang dapat dengan mudah dipisahkan menjadi komponenkomponen atau penyusun murninya. Komponen-komponen ini dapat menjadi bahan
dasar untuk diproses menjadi produk-produk lain. Contoh kelompok pertama ini yaitu
minyak sereh, minyka daun cengkeh dan minyka terpentin. Kelompok kedua adalah
minyak atsiri yang sukar dipisahkan menjadi komponen murninya. Contoh minyak atsiri
dapat dijadikan kelompok kedua, yaitu akar wangi, minyak nilam dan minyak kenangna
(Hardjono, 2004).

III. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah satu set alat ekstraktor soxhlet
padat cair 250 mL, nerada analitik, thimbel, evaporator vakum, erlenmeyer 100 mL,
piknometer, lanu alas, selang penghubung, kertas saring dan blender.
B. Bahan
Bahan-bahan yang dipergunakan adalah kemiri 25 gram, n-heksana 100 mL dan air.

IV.

PROSEDUR KERJA
25 gram kemiri
- Ditempatkan ke dalam kertas saring
- Dimasukkan kedalam ekstraktor soxhlet
- Dituangkan ke dalamnya
200 ml n-heksana
- Dibiarkan cairan tersebut mengalir kebawah
melalui pipa penghubung (sifon)
- Kondensor dipasang lagi,
- Air dialirkan ke kondensor melalui kran
- Labu alas bulat di panaskan dengan water bath
- Jika n-heksana mendidih dan terjadi
kondensasi uap n-heksana dalam kondensor
- Destilat n-heksana akan memenuhi ruangan
soxhlet sampai mencapai ketinggian sifon
- Diamati apa yang terjadi
- Ekstraksi ini dilakukan + 6 kali sirkulasi
pelarut n-heksana
- Proses ekstraksi dihentikan
- Alat ekstraksi dipindahkan dari water bath dan
cairan dibiarkan dingin
Cairan n-heksana

- Diambil, dan dimasukkan kedalam rotary


evaporator vakum
- Dilakukan penguapan sampai pelarut nheksana benar-benar keluar semua
Cairan minyak
- Diambil dan diukur volumenya
- Ditimbang berat jenisnya dengan
menggunakan piknometer
Hasil

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil dan Perhitungan
1. Hasil
No. Langkah Kerja
Pengamatan
1
Menimbang sebanyak 25 gram sampel yang M sampel = 25 gram
sudah diblender, dan menempatkan didalam M labu = 106,77 gram
kertas saring.
2

Memasukkan kertas saring yang berisi sampel


tersebut kedalam ekstraktor soxhlet kemudian
menuangkan dengan n-heksana 200 mL.
biarkan cairan n-heksana mengalir ke bawah
melalui pipa penghubung.

Mengalirkan air ke kondensor melalui kran


setelah kondensor dipasang lagi.

Memanaskan

labu

alas

bulat

dengan

menggunakan water bath.


5

Mengamati apa yang terjadi jika n-heksana


sudah mendidih dan terjadi kondensasi uap nheksana dalam kondensor, maka distilat nheksana akan memenuhi ruangan soxhlet
sampai mencapai ketinggian sifon.

Melakukan ekstraksi ini sampai terjadi 6 kali

sirkulasi pelarut n-heksana.


7

Menghentikan

proses

ekstraksi

tersebut,

memindahkan alat ekstraksi dari water bath,


membiarkan cairan menjadi dingin.
8

Mengambil carian n-heksana, memasukkan


kedalam rotary evaporator vakum, kemudian
melakukan penguapan sampai pelarut nheksana benar-benar keluar semua.

Mengambil cairan minyak yang diperoleh, Massa


mengukur volumenya dan menimbang.

10

Menentukan

berat

jenisnya

labu+Minyak

117,32 g
dengan Massa minyak = 117,32

menggunakan piknometer.

106,77 = 10,55 gram


V minyak = 10 mL

2. Perhitungan
Diketahui : massa kemiri (sampel) = 25 gram
massa minyak

= 10,55 gram

Volume minyak

= 10 mL = 0,01 L

Ditanya

: Massa jenis minyak () = .?

Jawab

:
massa min yak

Massa jenis minyak () = volume min yak


=

10,55 gram
0,01L

= 1055 gr/L
massa min yak

% rendemen minyak = massasampel x100%


=

10,55 gram
x100%
25 gram

= 42,2 %

B. Pembahsan
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah satu set ekstraktor soxhlet.
Prosedur klasik untuk memperoleh kandungan senyawa organik jaringan tumbuhan
kering (biji kering, akar dan daun) ialah dengan mengekstraksi sinambung serbuk
bahan dengan alat soxhlet dengan menggunkan sederet pelarut secara bergantiganti, mulai dengan eter dan kloroform (untuk memisahkan eter dan terpenoid).
Kemudian digunakan alkohol dan etil asetat (untuk senyawa lebih polar). Metoda
ini berguna bila kita bekerja dengan skala gram. Tetapi jarang sekali kita mencapai
pemisahan kandungan dengan sempurna, dan senyawa yang sama mungkin saaja
terdapat ( dalam perbandingan yang berbeda) dalam beberapa fraksi.
Sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah kemiri yang telah
dihancurkan dengan menggunakan blender. Penghancuran bertujuan agar minyak
yang terdapat dalam kacang tersebut mudah keluar dari komponen padatannya.
Sampel tersebut kemudian dibungkus dengan kertas saring (thimbel). Ukuran
kertas saring ini dipilih sesuai dengan besarnya soxhlet yang digunakan.
Selanjutnay dimasukkan kedalam ekstraksi yang disebut ekstraktor soxhlet.
Pelarut yang digunakan adalah pelarut n-heksana. Pelarut ini merupakan
pelarut yang sering digunakan karena harganya relatif lebih murah, kurang
berbahaya terhadap resiko ledakan dan kebakaran, dan lebih selektif terhadap lipida
yang non polar. Pelarut yang dipilih harus bersifat tidak menyerap air. Apabila
sampel masih mengandung air, maka bahan pelarut akan sulit masuk ke dalam sel
atau jaringan sampel dan pelarut menjadi jenuh dengan air. Selanjutnya, ekstraksi
minyak atau lemak kurang efisien.
Sampel kemiri yang telah dibungkus dengan kertas saring, dialiri pelarut nheksan yang didihkan pada labu alas bulat. Proses pemanasan diperlukan agar
mempercepat penguapan dan sirkulasi pelarut menjadi lebih cepat. Kalor yang
terikat dalam seluruh proses ini adalah kalor laten, karena temperatur tetap (pada
titik didih pelarut) sedangkan pada zat berubah cair ke uap (laten penguapan) dan
uap ke cair di dalam kondensor (laten pengembunan).

Uap-uap n-heksan akan naik ke atas, kemudian didinginkan oleh kondensor,


sehingga pelarut tersebut mengalami kondensasi. Kondensor yang digunakan
biasanya memerlukan air sebagai pendingin. Oleh sebab itu dialirkan air kran yang
dibiarkan mengalir memalui ekstraktor soxhlet. Pelarut yang sudah terkondensasi
akan memenuhi destilat dan sampel. Minyak yang terkandung dalam padatnnya
akan terbawa dan larut dalam n-heksana. Kemudian minyak tersebut akan diekstrak
untuk mendapatkan minyak dalam keadaan murni. Proses yang demikian
dinamakan pelcutan atau stripping yaitu pembebasan zat terlarut yang telah
diekstraksi dari fase organi tersebut untuk disipakan lebih lanjut pada analisis
berikitnya. Selanjutnya, melalui sifon minyak terkumpul ke dalam labu alas bulat.
Ekstraksi dilakukan sebanyak 6 kali sirkulasi. Semakin banyak sirkulasi yang
dilakukan, maka akan semakin banyak pula minyak yang terekstrak.
Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan titik didih. Pelarut nheksana mempunyai titik didih yang lebih rendah (60oC) daripada minyak pada
umunya. Hal ini terjadi karena minyak dari kacang tanah mengandung asam-asam
lemak dengan rantai karbon yang panjang seperti asam lemak palmitat, stearat,
oleat, linoleat dan linolenat. Titik didih ini akan semakin meningkat dengan
bertambah panjangnya rantai karbon. Sehingga pelarut n-heksana akan menguap
terlabih dahulu daripada minyak dan minyak akan tertinggal dalam labu alas bulat.
Pelarut n-heksana merupakan senyawa volatil (mudah menguap) karena struktur
rantai alifatik tunggalnya yang sederhana, tidak mengikat gugus tertentu, sehingga
ikatan antara atomnya mudah putus. Berat jenis dari minyak atau lemak biasanya
dditentukan pada suhu 25oC, akan tetapi dalam hal ini dianggap penting jiuga untuk
diukur pada temperatur 40oC atau 60oC untuk minyak atau lemak yang titik cairnya
tinggi.
Minyak yang diperoleh dari hasil ekstraksi sebesar 10,55 gram dengan
volume 10 mL. Berdasarkan hasil perhitungan, massa jenis praktek minyak kacang
seebsar 1055 gr/L dan kadar minyak yang dikandung kacang tanah tersebut sebesar
= 42,2 %

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1. Proses ekstraksi ini adalah proses ekstraksi padat cair yaitu dari sampel padatan
dan yang diekstraksi dalam fase cairan menggunakan pelarut n-heksana (non
polar) dengan menggunakan alat ekstraktor soxhlet.
2.

Pelarut n-heksana merupakan pelarut yang sering digunakan karena harganya


relatif lebih murah, kurang berbahaya terhadap resiko ledakan dan kebakaran,
dan lebih selektif terhadap lipida yang non polar serta bersifat volatil (mudah
menguap).

3. Minyak yang diperoleh dari hasil ekstraksi sebesar 10,55 gram dengan volume
10 mL.
4.

Massa

jenis praktek

minyak kacang seebsar 1055 gr/L gr/mL dan kadar

minyak yang dikandung kacang tanah tersebut sebesar 42,2 %

DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G. Dr. Ir. 1984. Metoda Penelitian Air. Usaha Nasional, Surabaya
Arsyad, M. N. 2001. Kamus Kimia. PT. Gramedia Utama, Jakarta.
Bassett, J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Hardjono, S. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Unoversitas Indonesia, Jakarta.
Shanty, E. B. 2000. Pemodelan Ekstraksi Padat-Cair dalam Kolom Unggulan Tetap
Berdasarkan Teori Perkolasi. ITB Ganesa Exact, Bandung.
Sudarmadji, Slamet, dkk. 1987. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty,
Yogyakarta.