Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Kerugian sosial yang
terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota
keluarga dan berkurangnya usia harapan hidup. Dampak ekonomi langsung yang
dirasakan pada penderita DBD adalah biaya pengobatan, sedangkan yang tidak langsung
adalah kehilangan waktu kerja, waktu sekolah dan biaya lain yang dikeluarkan selain
untuk pengobatan seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan penderita.
Sejak ditemukan pertama kali tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta, jumlah kasus
DBD maupun luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan
meningkatnya mobilitas dan kepadatan pe\nduduk.
Sedangkan dari data Puskesmas Talang Padang pada bulan desember tahun 2012
ditemukan sebanyak 6 kasus dengan supek penyakit Demam Bedarah Dengue.
Upaya pencegahan penyakit ini telah dilakukan antara lain dengan pemutusan
rantai nyamuk penularnya dengan cara penaburan larvasida, fogging focus serta
pemberantasan sarang nyamuk (PSN). PSN merupakan cara pemberantasan yang lebih
aman, murah dan sederhana. Oleh sebab itu kebijakan pemerintah dalam pengendalian
vektor DBD lebih menitikberatkan pada program ini, walaupun cara ini sangat tergantung
pada peran serta masyarakat.
Pemahaman penyakit DBD dan penanggulangannya masih kurang, yang tampak
pada masih dibebankannya masalah DBD dan tanggung jawabnya pada sektor kesehatan,
padahal DBD sebenarnya harus menjadi tanggung jawab semua pihak karena erat
kaitannya dengan kebersihan dan perilaku manusia. Penanggulangan penyakit DBD lebih
banyak terkait dengan peranserta masyarakat.
Pada wilayah Talang Padang, belum pernah dilakukan kegiatan Jumantik (juru
pemantau jentik). Padahal jumantik merupakan salah satu bentuk pemberdayaan
masyarakat agar ada solusi untuk menekan populasi jentik Aedes aegypti, karena
jumantik bertugas melakukan pemeriksaan jentik secara berkala dan terus menurus.
1

Bentuk peran serta masyarakat lain yang diharapkan dapat meningkatkan ABJ
(Angka Bebas Jentik) adalah dengan mengikutsertakan bidan desa dan ketua Rukun
tetangga (RT) sebagai supervisor pelaksanaan PSN. Ketua RT diharapkan mampu
memotivasi warganya untuk mengamati keberadaan jentik di rumah masing-masing,
kemudian menuliskan hasilnya ke form jentik dan menyerahkan form tersebut kepada
kepala desa yang nantinya akan berkoordinasi bersama dengan bidan desa setempat.
Peran serta aktif dari pemilik rumah, diharapkan mampu meningkatkan ABJ di
lingkungan masing-masing. Pada penelitian ini, sebelum dan sesudah jumantik dan ketua
RT melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, akan dilakukan pengamatan
jentik untuk mengetahui ABJ di masing-masing desa.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah terdapat penurunan angka kejadian DBD sebelum dan sesudah pelatihan
jumantik di wilayah kerja Puskesmas Talang Padang?
I.3 Tujuan Penelitian
1.3.1

Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta siswa/i Sekolah Dasar

dalam pelaksanaan program PSN-DBD, dengan memberikan penyuluhan DBD dan


pelatihan jumantik untuk membantu menurunkan angka kejadian DBD di wilayah kerja
Puskesmas Talang Padang.

1.3.2

Tujuan Khusus

Membentuk kerjasama dan koordinasi yang baik pihak puskesmas dengan pihak

sekolah.
Mengetahui tingkat pengetahuan siswa SD sebelum dan sesudah dilakukan

penyuluhan DBD.
Mengetahui efektivitas dari keterampilan penyuluh terhadap respon dari siswa SD
2

Mengetahui efektivitas dari penyuluhan terhadap lingkungan sekolah dengan

melihat kebersihan
Mengetahui kepatuhan siswa SD dalam mengisi lembar jumantik.

I.4 Manfaat Penelitian


1.4.1
1.

Manfaat Aplikatif
Bagi Puskesmas Kecamatan Talang Padang, penelitian ini diharapkan dapat
membantu menurunkan angka kejadian DBD.

2.

Bagi Pemerintah Daerah Kota Agung, Tanggamus penelitian ini diharapkan dapat
memberikan masukan dalam mengambil kebijakan ke depan sehingga perlu
adanya suatu usaha untuk melanjutkan program dan memberi perhatian lebih
terhadap pencegahan dan angka kejadian DBD.

1.4. 2 Manfaat bagi peneliti


-

Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan penelitian


Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat dan instansi terkait
Mengembangkan minat dan kemampuan untuk meneliti
Meningkatkan peran serta dalam aktivitas msyarakat wilayah Talang Padang,
Kabupaten Tanggamus.

1.5 Bahan dan Cara


Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas DBD di Kecamatan Talang
Padang, Kabupaten Tanggamus, kami melakukan berbagai kegiatan diantaranya:
1. Pelatihan Jumantik Kid di 7 Sekolah Dasar Negeri wilayah Talang Padang,
pelatihan ini dilaksanakan mulai tanggal 23 September 2013 sampai 28
September 2013 dengan berkoordinasi dengan pihak sekolah. Mengingat jam
gigitan nyamuk menurut informasi dari Departemen Kesehatan bahwa nyamuk
menggigit di jam pagi sekitar pukul 08.00-10.00 dan sore pukul 15.00-17.00,
perlu melakukan pengawasan jentik-jentik nyamuk dan pemberantasan sarang
nyamuk di sekolahan. Pada acara ini kami memaparkan pengetahuan dasar
3

tentang penyakit DBD (gejala, pencegahan dan pertolongan pertama) dan materi
pelatihan jumantik pada siswa kelas 4 dan 5 SD, agar mampu melaksanakan
pemeriksaan jentik 3 hari dalam seminggu di rumah tiap siswa, rumah tetangga
sebelah kanan dan tetangga sebelah kiri, sekolah; menuliskan laporan serta
mengumpulkan laporan kepada guru UKS setiap sekolah, 1 kali dalam seminggu.
2. Membuat media informatif berupa slide presentasi yang berisi tentang peringatan
dan bahaya DBD serta pencegahan dan pertolongan pertama.
Hasil dari pelatihan juru pemantau jentik yang telah dilaksanakan, kami membuat
semacam laporan penelitian, guna mengevaluasi jalannya program tersebut. Penelitian ini
dilakukan di tujuh sekolah dasar negeri wilayah Talang Padang, yaitu SDN 01 Banding
Agung, SDN 01 Talang Padang, SDN 02 Talang Padang, SDN 03 Talang Padang, SDN
04 Talang Padang, SD Alhariyah Sinar Banten, MIM Sinar Banten yang dilaksanakan
pada 23 September 2013 hingga 28 September 2013. Dipilihnya 7 sekolah dasar tersebut
didasarkan pada :
a. Ketujuh SD berada di wilayah yang terdapat peningkatan angka kejadian
DBD di wilayah Talang Padang.
b. Lokasi ketujuh SD tersebut termasuk yang wilayah kerja dengan
Puskesmas Talang Padang.
1.6 Lokasi Penelitian
Puskesmas Talang Padang dengan luas wilayah 45,13 km2 dengan batas - batas
wilayah sebagai berikut :
-

Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Gunung Alip

Sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Pugung

Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Pugung

Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Pulau Punggung

Wilayah kerja terdiri dari 19 (sembilan belas) desa:


-

Desa Suka Merindu

Desa Suka Agung


4

Desa Suka Negeri

Desa Singosari

Desa Talang Padang

Desa Banding Agung

Desa Sinar Semendo

Desa Talang Sepuh

Desa Sinar Petir

Desa Sukarame

Desa Negeri Agung

Desa Sukanegeri Jaya

Desa Sinar Banten

Desa Sukabumi

Desa Banjarsari

Desa Kejayaan

Desa Kalibening

Desa Way Halom

Desa Sinar Betung

Desa Sinar Harapan

Kegiatan survei jentik diadakan 3 kali dalam seminggu yaitu pada hari senin,
rabu, dan jumat. Pada hari senin dilakukan pemeriksaan jumantik di rumah siswa serta 1
rumah tetangga di sebelah kanan rumah siswa. Pada hari rabu dilakukan pemeriksaan
jumantik di rumah siswa serta 1 rumah tetangga di sebelah kiri rumah siswa. Pada hari
jumat dilakukan pemeriksaan jumantik di rumah siswa serta di sekolah. Penelitian ini
menggunakan rancangan quasi experimental, dengan melakukan intervensi (pelatihan)
dipantau hasilnya melalui penurunan angka kejadian DBD.
Tim peneliti menghubungi pihak sekolah dasar dan menemui kepala sekolah serta
staf guru setiap SD yang akan diberikan penyuluhan dan pelatihan. Peneliti meminta izin
untuk melakukan penyuluhan serta pelatihan jumantik kid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 PENDAHULUAN
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue hemorrhagic
fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan
5

manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam,
limfadenopati, trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan
plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan
cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah
demam berarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok.

II.2 ETIOLOGI
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang
termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Falvivirus merupakan virus
dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul
4x106.
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang
semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Keempat
serotipe ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak. Terdapat
reaksi silang antara serotipe dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow Fever,
Japanese enchepalitis dan West Nile virus.
Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti
tikus, kelinci, anjing, kelelawar dan primata. Survey epidemiologi pada hewan ternak
didapatkan antibodi terhadap virus dengue pada hewan kuda, sapi dan babi. Penelitian
pada artropoda menunjukkan virus dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus Aedes
(Stegomyia) dan Toxorhynchites.

II.3 EPIDEMIOLOGI
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat dan
Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah
air. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989 hingga
1995); dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per 100.000
penduduk pada tahun 1998, sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun hingga
6

mencapai 2% pada tahun 1999.


Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk genus Aedes
(terutama A.aegypti dan A.albopictus). peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan
dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina
yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air
lainnya).
Beberapa factor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue
yaitu: 1). Vektor: perkembangbiakan vector, kebiasaan menggigit, kepadatan vector di
lingkungan, transportasi vector dari satu tempat ke tempat lain; 2). Penjamu: terdapatnya
penderita di lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan
jenis kelamin; 3). Lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.

II.4 PATOGENESIS
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue hingga saat ini masih
diperdebatkan.
Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis
berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue.
Respon imun yang diketahui berperan dalam patogenesis DBD adalah: a). respon
humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses netralisasi virus,
sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang dimediasi antiobodi. Antibodi
terhadap virus dengue berperan dalam mempercepat replikasi virus pada monosit atau
makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent enhancement (ADE); b). Limfosit T
baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berperan dalam respon imun seluler terhadap
virus dengue. Diferensiasi T helper yaitu TH1 akan memproduksi interferon gamma, IL-2
dan limfokin, sedangkan TH2 memproduksi IL-4, IL-5, IL-6 dan IL-10; c). Monosit dan
makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi antibodi. Namun proses
fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh
makrofag; d). Selain itu aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan
terbentuknya C3a dan C5a.
Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary heterologous infection
7

yang menyatakan bahwa DHF terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan
tipe yang berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi anamnestik antibodi sehingga
mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
Kurane dan Ennis pada tahun 1994 merangkum pendapat Halsstead dan peneliti lain;
menyatakan bahwa infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang mefagositosis kompleks virus-antibody non netralisasi sehingga virus bereplikasi di
makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T helper
dan T sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma
akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator inflamasi seperti TNF, IL-1, PAF (platelet activating factor), IL-6 dan histamine yang mengakibatkan
terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a
terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus-antibodi yang juga mengakibatkan terjadinya
kebocoran plasma.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme: 1). Supresi
sumsum tulang, dan 2). Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit. Gambaran
sumsum tilang pada fase awal infeksi (< 5 hari) menunjukkan keadaan hiposeluler dan
supresi megakariosit. Setelah keadaan nadir tercapai akan terjadi peningkatan proses
hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar trombopoietin dalam darah pada saat
terjadinya trombositopenia justru menunjukkan kenaikan, hal ini menunjukkan terjadinya
stimulasi

trombopoesis

sebagai

mekanisme

kompensasi

terhadap

keadaan

trombositopenia. Destruksi trombosit terjadi melalui pengikatan fragmen C3g,


terdapatnya antibodi VD, konsumsi trombosit selama proses koagulopati dan sekuestrasi
di perifer. Gangguan fungsi trombosit terjadi melalui mekanisme gangguan pelepasan
ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin dan PF4 yang merupakan petanda degranulasi
trombosit.
Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang
menyebabkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukkan terjadinya koagulopati
konsumtif pada demam berdarah dengue stadium III dan IV. Aktivasi koagulasi pada
demam berdarah dengue terjadi melalui aktivasi jalur ekstrinsik (tissue factor pathway).
Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi faktor XIa namun tidak melalui aktivasi
kontak (kalikrein C1-inhibitor complex).
8

II.5 MANIFESTASI KLINIS DAN PERJALANAN PENYAKIT


Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik, atau dapat
berupa demam yang tidak khas, demam dengue, demam berdarah dengue atau sindrom
syok dengue (SSD).
Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari, yang diikuti oleh
fase kritis selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak demam, akan tetapi
mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat.

II.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam
dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit dan
hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relatif disertai gambaran limfosit
plasma biru.
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun
deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RTPCR (Reverse Transcriptase
Polymerase Chain Reaction), namun karena teknik yang lebih rumit, saat ini tes serologis
yang mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap dengue berupa antibodi total, IgM
maupun IgG.
Parameter laboratoris yang dapat diperiksa antara lain:
Leukosit: dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis
relatif (>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) > 15%
dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat.
Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
Hematokrit: Kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan
hematokrit 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam.
Hemostasis: dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada
keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
9

Protein/albumin: dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma.


SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase): dapat meningkat.
Ureum, kreatinin: bila didapatkan gangguan fungsi ginjal.
Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian cairan.
Golongan darah dan cross match (uji cocok serasi): bila akan diberikan transfusi
darah atau komponen darah.
Imuno serologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue.
IgM: terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3, menghilang
setelah 60-90 hari.
IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada infeksi sekunder
IgG mulai terdeteksi hari ke-2.
Uji HI: Dilakukan pengambilan bahan pada hari pertama serta saat pulang dari
perawatan, uji ini digunakan untuk kepentingan surveilans.
Pemeriksaan Radiologis
Pada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan tetapi
apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua
hemitoraks. Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus
kanan (pasien tidur pada sisi badan sebelah kanan). Asites dan efusi pleura dapat pula
dideteksi dengan pemeriksaan USG.
II.7 DIAGNOSIS
Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari), timbul
gejala prodormal yang tidak khas seperti: nyeri kepala, nyeri tulang belakang dan
perasaan lelah.
Demam Dengue (DD). Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai
dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:
Nyeri kepala
Nyeri retro-orbital
Mialgia/artralgia
Ruam kulit
10

Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bendung positif)


Leukopenia
dan pemeriksaan serologi dengue positif; atau ditemukan pasien DD/DBD yang
sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.
Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD
ditegakkan bila semua hal di bawah ini dipenuhi:
Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik.
Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut:
-

Uji bendung positif

Petekie, ekimosis, atau purpura

Perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi), atau perdarahan


dari tempat lain

Hematemesis atau melena

Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ul)


Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma) sebagai
berikut:
-

Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan


jenis kelamin

Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan


dengan nilai hematokrit sebelumnya.

Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.

Dari keterangan di atas terlihat bahwa perbedaan utama antara DD dan DBD adalah pada
DBD ditemukan adanya kebocoran plasma.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding perlu dipertimbangkan bilamana terdapat kesesuaian klinis dengan
demam tifoid, campak, influenza, chikungunya dan leptospirosis.
Sindroma Syok Dengue (SSD). Seluruh kriteria di atas untuk DBD disertai kegagalan
sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah turun (20
mmHg), hipotensi dibandingkan standar sesuai umur, kulit dingin dan lembab serta
gelisah.
11

DERAJAT PENYAKIT INFEKSI VIRUS DENGUE


Untuk menentukan penatalaksanaan pasien infeksi virus dengue, perlu diketahui
klasifikasi derajat penyakit seperti tertera pada tabel 1.
II.8 PENATALAKSANAAN
Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi
suportif. Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga
kurang dari 1%. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling
penting dalam penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga, terutama
cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan
suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara
bermakna.
Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bersama dengan Divisi
Penyakit Tropik dan Divisi Hematologi dan Onkologi Medik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia telah menyusun protokol penatalaksanaan DBD pada pasien
dewasa berdasarkan kriteria:
Penatalaksanaan yang tepat dengan rancangan tindakan yang dibuat sesuai atas
indikasi
Praktis dalam pelaksanaannya
Mempertimbangkan cost effectiveness.
Protokol ini terbagi dalam 5 kategori:
Protokol 1
Penanganan tersangka (Probable) DBD dewasa tanpa syok
Protokol 2
Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat
Protokol 3
Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%
Protokol 4
Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD dewasa
Protokol 5
Tatalaksana Sindroma Syok Dengue pada dewasa
12

Protokol 1. Penanganan Tersangka (Probable) DBD Dewasa Tanpa Syok


Protokol 1 ini digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama pada
penderita DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat dan juga dipakai
sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat.
Seseorang yang tersangka menderita DBD di ruang Gawat Darurat dilakukan
pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan trombosit, bila:
Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien dapat
dipulangkan dengan anjuran control atau berobat jalan ke Poliklinik dalam waktu 24
jam berikutnya (dilakukan pemeriksaan Hb, Ht, Lekosit dan trombosit tiap 24 jam)
atau bila dalam keadaan penderita memburuk segera kembali ke Instalasi Gawat
Darurat.
Hb, Ht normal tetapi trombosit <100.000 dianjurkan untuk dirawat
Hb, Ht meningkat dan trombosit normal atau turun juga dianjurkan untuk dirawat

Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di Ruang Rawat


Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masif dan tanpa syok maka di
ruang rawat diberikan cairan infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus berikut ini:
Volume cairan kristaloid per hari yang diperlukan, sesuai rumus berikut:
1500 + {20 x (BB dalam kg - 20)}
Contoh volume rumatan untuk BB 55 kg: 1500 + {20 x (55-20)} = 2200 ml
Setelah pemberian cairan dilakukan pemeriksaan Hb, Ht tiap 24 jam:
Bila Hb, Ht meningkat 10-20% dan trombosit <100.000, jumlah pemberian cairan
tetap seperti rumus di atas tetapi pemantauan Hb, Ht, trombosit dilakukan tiap 12
jam.
Bila Hb, Ht meningkat >20% dan trombosit <100.000 maka pemberian cairan sesuai
dengan protokol penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht >20%.
Protokol 3. Penatalaksanaan DBD dengan Peningkatan Hematokrit >20%
Meningkatnya Ht >20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami defisit cairan
13

sebanyak 5%. Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah dengan memberikan
infus cairan kristaloid sebanyak 6-7 ml/kgBB/jam. Pasien kemudian dipantau setelah 3-4
jam pemberian cairan. Bila terjadi perbaikan yang ditandai dengan tanda-tanda
hematokrit turun, frekuensi nadi turun, tekanan darah stabil, produksi urin meningkat
maka jumlah cairan infus dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam. 2 jam kemudian dilakukan
pemantauan kembali dan bila keadaan tetap menunjukkan perbaikan maka jumlah cairan
infus dikurangi menjadi 3 ml/kgBB/jam. Bila dalam pemantauan keadaan tetap membaik
maka pemberian cairan dapat dihentikan 24-48 jam kemudian.
Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/kgBB/jam tadi keadaan tetap
tidak membaik, yang ditandai dengan hematokrit dan nadi meningkat, tekanan nadi
menurun <20 mmHg, produksi urin menurun, maka kita harus menaikkan jumlah cairan
infus menjadi 10 ml/kgBB/jam. 2 jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan bila
keadaan menunjukkan perbaikan maka jumlah cairan dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam,
tetapi bila keadaan tidak menunjukkan perbaikan maka jumlah cairan infus dinaikkan
menjadi 15 ml/kgBB/jam dan bila dalam perkembangannya kondisi menjadi memburuk
dan didapatkan tanda-tanda syok maka pasien ditangani sesuai dengan protocol
tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa. Bila syok telah teratasi maka pemberian
cairan dimulai lagi seperti terapi pemberian cairan awal.
Protokol 4. Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa
Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dewasa adalah: perdarahan
hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon hidung,
perdarahan saluran cerna (hematemesis dan melena atau hematoskesia), perdarahan
saluran kencing (hematuria), perdarahan otak atau perdarahan tersembunyi dengan
jumlah perdarahan sebanyak 4-5 ml/kgBB/jam. Pada keadaan seperti ini jumlah dan
kecepatan pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok lainnya. Pemeriksaan
tekanan darah, nadi pernafasan dan jumlah urin dilakukan sesering mungkin dengan
kewaspadaan Hb, Ht dan trombosit serta hemostase harus segera dilakukan dan
pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit sebaiknya diulang setiap 4-6 jam.
Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan tandatanda koagulasi intravaskular diseminata (KID). Transfusi komponen darah diberikan
14

sesuai indikasi. FFP diberikan bila didapatkan defisiensi faktor-faktor pembekuan (PT
dan aPTT yang memanjang), PRC diberikan bila nilai Hb kurang dari 10 g/dl. Transfusi
trombosit hanya diberikan pada pasien DBD dengan perdarahan spontan dan masif
dengan jumlah trombosit <100.000/mm3 disertai atau tanpa KID.
Protokol 5. Tatalaksana Sindroma Syok Dengue pada Dewasa
Bila kita berhadapan dengan Sindroma Syok Dengue (SSD) maka hal pertama yang
harus diingat adalah bahwa renjatan harus segera diatasi dan oleh karena itu penggantian
cairan intravaskular yang hilang harus segera dilakukan. Angka kematian sindrom syok
dengue sepuluh kali lipat dibandingkan dengan penderita DBD tanpa renjatan, dan
renjatan

dapat

terjadi

karena

keterlambatan

penderita

DBD

mendapatkan

pertolongan/pengobatan, penatalaksanaan yang tidak tepat termasuk kurangnya


kewaspadaan terhadap tanda-tanda renjatan dini, dan penatalaksanaan renjatan yang tidak
adekuat.
Pada kasus SSD cairan kristaloid adalah pilhan utama yang diberikan. Selain
resusitasi cairan, penderita juga diberikan oksigen 2-4 liter/menit. Pemeriksaanpemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL),
hemostasis, analisis gas darah, kadar natrium, kalium dan klorida, serta ureum dan
kreatinin.
Pada fase awal, cairan kristaloid diguyur sebanyak 10-20 ml/kgBB dan dievaluasi
setelah 15-30 menit. Bila renjatan telah teratasi (ditandai dengan tekanan darah sistolik
100 mmHg dan tekanan nadi lebih dari 20 mmHg, frekuensi nadi kurang dari 100 kali per
menit dengan volume yang cukup, akral teraba hangat, dan kulit tidak pucat serta diuresis
0,5-1 ml/kgBB/jam) jumlah cairan dikurangi menjadi 7 ml/kgBB/jam. Bila dalam waktu
60-120 menit keadaan tetap stabil pemberian cairan menjadi 5 ml/kgBB/jam. Bila dalam
waktu 60-120 menit kemudian tetap stabil pemberian cairan menjadi 3 ml/kgBB/jam.
Bila dalam 24-48 jam setelah renjatan teratasi tanda-tanda vital dan hematokrit tetap
stabil serta diuresis cukup maka pemberian cairan perinfus harus dihentikan (karena jika
reabsorpsi cairan plasma yang mengalami ekstravasasi telah terjadi, ditandai dengan
turunnya hematokrit, cairan infus terus diberikan maka keadaan hipervolemi, edema paru
atau gagal jantung dapat terjadi).
Pengawasan dini kemungkinan terjadinya renjatan berulang harus dilakukan
15

terutama dalam waktu 48 jam pertama sejak terjadi renjatan (karena selain proses
patogenesis penyakit masih berlangsung, ternyata cairan kristaloid hanya sekitar 20%
saja yang menetap dalam pembuluh darah setelah 1 jam saat pemberian). Oleh karena
untuk mengetahui apakah renjatan telah teratasi dengan baik, diperlukan pemantauan
tanda vital yaitu status kesadaran, tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi jantung dan
nafas, pembesaran hati, nyeri tekan daerah hipokondrium kanan dan epigastrik, serta
jumlah diuresis. Diuresis diusahakan 2 ml/kgBB/jam. Pemantauan kadar hemoglobin,
hematokrit dan jumlah trombosit dapat dipergunakan untuk pemantauan perjalanan
penyakit.
Bila setelah fase awal pemberian cairan ternyata renjatan belum teratasi, maka
pemberian cairan kristaloid dapat ditingkatkan menjadi 20-30 ml/kgBB, dan kemudian
dievaluasi setelah 20-30 menit. Bila keadaan tetap belum teratasi, maka perhatikan nilai
hematokrit. Bila nilai hematokrit meningkat berarti perembesan plasma masih
berlangsung maka pemberian cairan koloid merupakan pilihan, tetapi bila nilai
hematokrit menurun, berarti terjadi perdarahan (internal bleeding) maka pada penderita
diberikan transfusi darah segar 10 ml/kgBB dan dapat diulang sesuai kebutuhan.
Sebelum cairan koloid diberikan maka sebaiknya kita harus mengetahui sifat-sifat
cairan tersebut. Pemberian koloid sendiri mula-mula diberikan dengan tetesan cepat 1020 ml/kgBB dan dievaluasi setelah 10-30 menit. Bila keadaan tetap belum teratasi maka
untuk memantau kecukupan cairan dilakukan pemasangan kateter vena sentral, dan
pemberian koloid dapat ditambah hingga jumlah maksimum 30 ml/kgBB (maksimal 11,5 l/hari) dengan sasaran tekanan vena sentral 15-18 cmH 2O, bila keadaan tetap belum
teratasi harus diperhatikan dan dilakukan koreksi terhadap gangguan asam basa,
elektrolit, hipoglikemia, anemia, KID, infeksi sekunder. Bila tekanan vena sentral
penderita sudah sesuai dengan target tetapi renjatan tetap belum teratasi maka dapat
diberikan obat inotropik/vasopresor.

16

BAB III
METODE

III.1.

Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dimana

pengambilan data dilakukan dua kali pada setiap responden, yang bertujuan untuk
mengetahui peran kepala keluarga dan anggota keluarga dalam pelaksanaan program
PSN-DBD, dengan memberikan penyuluhan DBD dan pelatihan jumantik untuk
membantu menurunkan angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Tanjangawan.
III.2

Waktu dan Tempat Penelitian

17

a. Lokasi

: Desa Pangkahkulon, desa Pangkahwetan, desa


Banyuurip, desa Ngemboh,desa Karangrejo, desa
Ketapanglor, desa Tanjangawan

b. Waktu penelitian
III.3

: 18 Mei 2015 hingga 6 Juni 2015

Populasi dan Sampel


Polulasi pada penelitian ini di Desa Pangkahkulon, desa Pangkahwetan, desa

Banyuurip, desa Ngemboh,desa Karangrejo, desa Ketapanglor, desa Tanjangawan.


Sedangkan sampel pada penelitian ini adalah warga Desa Pangkahkulon, desa
Pangkahwetan, desa Banyuurip, desa Ngemboh,desa Karangrejo, desa Ketapanglor, desa
Tanjangawan pada 18 Mei 2015 hingga 6 Juni 2015 yaitu sebanyak 140 orang.
III.4

Kriteria Responden

a.

Kriteria inklusi : kepala keluarga Desa Pangkahkulon, desa


Pangkahwetan,

b.

III.5

desa

Banyuurip,

desa

Ngemboh,desa

Karangrejo, desa Ketapanglor, desa Tanjangawan.


Kriteria eksklusi : subyek yang tidak datang penyuluhan.

Instrumen Penelitian
Alat atau instrumen pengumpul data yang digunakan dalam survey ini berupa

materi pertanyaan pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengetahuan subjek mengenai


seberapa jauh pengetahuannya mengenai penyakit DBD berupa gejala, pencegahan serta
pertolongan pertama pada penyakit DBD. Selain materi pertanyaan juga terdapat lembar
jumantik.
III.6

Metode Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam survey ini menggunakan data primer yaitu data

yang diambil dari sumbernya langsung (responden) yang dikumpulkan melalui lembar
materi pertanyaan serta lembar jumantik yang dikumpulkan setiap minggu. Sebelum
penyuluhan dan pelatihan jumantik diberikan, responden diberikan materi pertanyaan
pretest mengenai penyakit DBD, kemudian setelah penyuluhan dan pelatihan jumantik
dilakukan, diberikan materi pertanyaan posttest mengenai penyakit DBD dan jumantik.
18

Lembar jumantik diisi 3 kali dalam seminggu, dan dikumpulkan setiap 1 kali dalam
seminggu yaitu pada hari Senin kepada petuguas puskesmas masing masing desa.
Kemudian setiap 2 minggu sekali, akan dilakukan pengumpulan lembar jumantik serta
evaluasi kegiatan oleh petugas puskesmas.
III.7

Metode Analisa Data


Setelah data penelitian didapatkan, maka dilakukan entry data dan dilakukan

editing, yaitu memeriksa adanya kesalahan atau ketidaklengkapan data.

BAB IV
HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN

IV.1. Profil Komunitas Umum


Kabupaten Gresik merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang
memiliki luas 1.191,25 km2. Kecamatan Ujung Pangkah merupakan salah
satu kecamatan dari 18 kecamatan yang berada di Kabupaten Gresik,
Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Ujung Pangkah terdiri dari 7 desa
dengan nama sebagai berikut:
1.

Desa Pangkahkulon

2.

Desa Pangkahwetan

3.

Desa Banyuurip

4.

Desa Ngemboh
19

5.

Desa Karangrejo

6.

Desa Ketapanglor

7.

Desa Tanjangawan

Gambar 4.1. Peta Kecamatan Ujung Pangkah Gresik.


Luas wilayah UPT Puskesmas Ujung Pangkah sendiri sebesar 5.108,72 M 2. Batas
Wilayah Kerja Puskesmas Ujung Pangkah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara

: Laut Jawa

2. Sebelah Timur

: Puskesmas Sidayu

3. Sebelah Selatan

: Puskesmas Sekapuk

4. Sebelah Barat

: Puskesmas Panceng

IV.2. Data Demografik


IV.2.1. Data Demografik Kecamatan Ujung Pangkah
1. Jumlah Penduduk ( Riil )
: 32.054 Jiwa
- Laki laki

: 15.930 Jiwa

- Perempuan

: 16.153 Jiwa
20

2. Jumlah Kepala Keluarga

557 Jiwa

3. Jumlah Penduduk Miskin

255 Jiwa

4. Piramida Penduduk

Gambar 4.3. Piramida Penduduk Kecamatan Ujung Pangkah Gresik.

IV.3. Sumber Daya Kesehatan yang Ada


Pada tahun 2014, di wilayah kecamatan Ujung Pangkah terdapat 4 orang
dokter umum, 1 dokter gigi, 27 bidan, 17 perawat, 1 orang sanitarian, dan 1
orang analis laboratorium. Di desa Ngemboh, terdapat 1 orang dokter 1 orang
bidan dan 2 orang perawat. Selain itu, peran serta masyarakat di Desa Ngemboh
yaitu terdapat 15 orang kader posyandu, 3 orang kader posyandu usia lanjut, 3
orang kader kesehatan yang lain, dan 2 orang guru UKS.
IV.4

Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada

21

Di Kecamatan Ujung Pangkah terdapat 2 Puskesmas yaitu Puskesmas


Ujung Pangkah dan Puskesmas Sekapuk, wilayah Puskesmas Ujung Pangkah
terdiri dari 2 Puskesmas Pembantu, 1 Puskesmas Keliling, 4 Polindes, 4
Poskesdes, dan 1 Sarana Kesehatan Alternatif Berijin. Di Desa Ngemboh
terdapat 1 Puskesmas Pembantu, 3 Posyandu Balita, dan 2 Posyandu Lansia.

IV.5

Data Kesehatan Masyarakat (Primer)


Penelitian dilakukan pada 7 Desa di wilayah kerja Puskesmas
Ujungpangkah yaitu Desa Pangkahkulon, desa Pangkahwetan, desa Banyuurip,
desa Ngemboh,desa Karangrejo, desa Ketapanglor, desa Tanjangawan, kabupaten
Gresik pada bulan Mei 2015. Dengan populasi pada warga umur <40 tahun dan
warga >40 tahun dengan jumlah 140 warga.
Di bawah ini adalah gambaran distribusi frekuensi atau besarnya frekuensi
pada masing-masing variabel yang diteliti :
Tabel IV.1. Distribusi frekuensi variabel
Umur

Persen (%)

<40

86

61,4

>40

54

38,6

Nilai Pretest dan Posttest


Desa

Kelas

Pretest

Posstest

SDN 01

IV V

SDN 01

IV V

SDN 02

IV V

SDN 03

IV

SDN 04

IV

3
22

SD Alharijah

IV

MIM

IV

Nilai Rata-Rata
SD

Kelas

Nilai

SDN 01

IV V

7,65

SDN 01

IV V

7,55

SDN 02

IV V

7,51

SDN 03

IV-V

7,23

SDN 04

IV-V

7,02

SD Alharijah

IV-V

6,88

MIM

IV-V

6.87

BAB V
DISKUSI
V.1

Kinerja Jumantikid terhadap upaya penurunan kejadian penyakit DBD


beberapa wilayah kerja Puskesmas Ujung Pangkah
23

Penelitian dilakukan terhadap beberapa wilayah kerja puskesmas


UjungPangkah antara lain Desa Pangkahkulon, desa Pangkahwetan, desa
Banyuurip, desa Ngemboh,desa Karangrejo, desa Ketapanglor, desa
Tanjangawan. Adapun para peserta Jumantik merupakan kepala keluarga dari
20 rumah yang dipilih di desa Tanjangawan
Telah dijadwalkan kegiatan Jumantik yang dilakukan di rumah masingmasing yaitu untuk di rumah para Jumantik memeriksa setiap hari Senin,
Rabu, dan Jumat. Lalu hasil pemeriksaan ditulis menjadi satu di lembar
jumantik dan dikumpulkan setiap 1 minggu pada masing-masing petugas
puskesmas. Direncanakan ke depan bahwa pengumpulan lembar jumantik
oleh petugas Puskesmas adalah setiap 2 minggu. Namun untuk 1 bulan ini,
peneliti bersama dengan petugas puskesmas melakukan pengumpulan setiap
minggu dan langsung melakukan PSN ke rumah-rumah yang di nyatakan
jentik (+). Hal yang banyak terjadi di lapangan saat PSN adalah
ketidakcocokan antara pengisian lembar dan kenyataan dilapangan. Hal ini
dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik dari Jumantik sendiri, anggota
keluarga,dan penyuluh / petugas puskesmas.
Data angka kesakitan penyakit DBD pada bulan Mei tahun 2015
ditemukan sebanyak 2 kasus sedangkan pada bulan Juni 2015 tidak ditemukan
kasus
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan beberapa wilayah mengalami
penurunan angka kejadian DBD setelah direkrutnya Jumantik dan berjalan
pemberantasan sarang nyamuk. Namun ,ada beberapa Jumantik dari beberapa
rumah yang tidak melaporkan hasil sebagaimana yang telah dijadwalkan. Hal
ini sangat disayangkan karena pada wilayah Desa tersebut, angka kejadian
DBD cenderung masih meningkat.
Hal ini dipengaruhi banyak faktor antara lain adalah waktu antara
penyuluhan, pengisian lembar jumantik, PSN mingguan, dan

pembuatan

laporan terlalu singkat. Pemeriksaan yang dilakukan hanya terbatas di rumah


saja.

24

V.2

Mengetahui tingkat pengetahuan warga sebelum dan sesudah dilakukan


penyuluhan DBD
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa warga desa Pangkahkulon dapat
menjawab pretest sebanyak 2 soal dan posttest sebanyak 4 soal. Pada warga desa
Pangkahwetan didapatkan jawaban soal pretest sebanyak 2 soal dan posttest
sebanyak 3 soal. Pada desa Banyuurip dapat menjawab soal pretest sebanyak 1
soal dan posttest sebanyak 3 soal. Sedangkan pada desa Ngemboh dapat
menjawab prestest sebanyak 2 soal dan posttest sebanyak 5 soal. Pada warga
Karangrejo dapat menjawab soal pretest sebanyak 1 soal dan posttest sebanyak 3
soal. Kemudian pada warga Ketapanglor dapat menjawab soal pretest sebanyak 2
soal dan posttest sebanyak 4 soal. Pada warga Tanjangawan dapat menjawab soal
pretest sebanyak 2 soal dan jumlah soal posttest sebanyak 4 soal.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa desa Ngimbo ,Ketapanglor,
Tanjangawan merupakan sekolah dengan siswa yang paling banyak menjawab
soal pretest dan posttest dengan benar.. Hal ini juga didukung oleh kondisi balai
desa yang memadai, kondusif dan bantuan dari balai desa.

V.3

Mengetahui efektivitas dan pengetahuan penyuluh terhadap respon dari


warga
Dari hasil kerja lapangan untuk pelatihan juru pemantau jentik di ke 7 desa
yang dilakukan oleh 5 orang penyuluh, terdapat 2 orang dari 5 penyuluh tersebut
yang melakukan pelatihan sebanyak 2 sesi di desa yang berbeda, didapatkan hasil
pretest dan posttest yang berbeda antara desa masing-masing. Dan diketahui
bahwa desa yang memiliki nilai pretest dan posttest yang baik, ternyata tidak
memliki hubungan yang signifikan dengan keterampilan penyuluh dalam
memberikan pelatihan . Hal ini lebih berhubungan dengan SDM dan kondisi
lingkungan yang mendukung saat pelatihan berlangsung, seperti koordinasi yang
baik dengan pegawai puskesmas dan petugas balai desa, ketertiban warga saat
mendengarkan materi, media audio visual, serta keaktifan warga saat bertanya
kepada penyuluh.
25

V.4

Mengetahui

efektivitas

dari

penyuluhan

terhadap

lingkungan

desa

Tanjangawan dengan melihat kebersihan rumah warga


Pada saat penyuluhan desa Tanjangawan didapatkan jentik nyamuk DBD
pada rumah 3,5,6,12,18,sedangkan rumah 1,2,4,7,8,9,10,11,13,14,15,16,17,19,20
tidak ditemukan jentik. Setelah dilakukan penyuluhan selanjutnya kami
melakukan kunjungan 2 minggu kemudian ke tiap-tiap rumah tersebut, didapatkan
bahwa rumah 6,12,18 tidak ditemukan jentik nyamuk, sedangkan rumah 3 dan 5
masih terdapat jentik nyamuk. Sesuai dengan kesepakatan jadwal pemeriksaan di
rumah yang mana dilakukan tiap 1 minggu 3 kali, para warga mengatakan rutin
melakukan pemeriksaan setiap pagi. Para Jumantik juga menerapkan langkah
langkah cara memeriksa jentik sesuai yang diterangkan saat pelatihan. Pada
beberapa rumah Jumantik selain mendapat tugas untuk memeriksa jentik juga
dihimbau untuk menguras bak mandi rumah. Menurut petugas puskesmas selaku
pengawas Jumantik mengatakan bahwa terdapat beberapa kendala dalam
melakukan pemeriksaan jentik. Adapun beberapa kendala adalah ketidak
tersediaan alat (lampu senter). Namun saat peneliti mengunjungi rumah untuk
melakukan PSN bersama Jumantik, kami melihat kurangnya koordinasi antara
kepala keluarga dan anggota keluarga, sehingga pada beberapa rumah PSN tidak
berjalan dengan lancar. Pentingnya pengetahuan dasar mengenai DBD, PSN, dan
3M di kalangan kepala rumah tangga perlu diperhatikan. Seperti salah satu warga
di daerah desa Tanjangawan, terdapat tanaman air dengan jentik (+) namun tidak
menaburkan bubuk abate karena takut tanaman tersebut mati.
V.5

Mengetahui kepatuhan warga dalam mengisi lembar jumatik


Dari ke 20 rumah yang melakukan program jumantik semua warga selalu
mengumpulkan hasil lembar pemeriksaan jumantik setiap minggunya dan disusun
dengan rapi. Kepatuhan mengumpulkan lembar jumantik ini sangat memerlukan
koordinasi yang baik antara petugas puskesmas dengan warga, serta koordinasi.
Selain itu, kendala kesibukan dan usia untuk mengisi lembar jumantik juga
berperan penting dalam kepatuhan mengumpulkan hasil lembar jumantik ini.
26

Disini kami juga menilai bagaimana tingkat pemahaman dan keakuratan para
warga dalam mengisi lembar jumantik. Kami menilainya dengan beberapa kriteria
sebagai berikut, yaitu :
1. Terdapatnya nama petugas jumantik
2. Ada 3 nomor yang diperiksa (hari Senin, rabu, jumat memeriksa rumah petugas)
3. Tanggal dan hari pemeriksaan benar
Dari kriteria yang disebut diatas kami bisa memilih sampel yang menjadi tujuan
kami untuk survey lapangan. Dari hasil kerja evaluasi pengumpulan lembar
Jumatik dengan keakuratan pemeriksaan jentik di lapangan berbanding lurus
dengan kesibukan warganya. Keakuratan dalam pengisian lembar Jumantik ini
juga berbanding lurus dengan usia warganya.
V.6

Kendala Pelaksanaan Kegiatan


Dalam melaksanakan kegiatan Jumantik ini, peneliti menemukan beberapa
kendala yang cukup bermakna terhadap hasil kegiatan dalam menurunkan angka
kejadian DBD.
Adapun berikut adalah beberapa kendala dalam hal lembar jumantik yaitu
kurangnya kesadaran warganya . Hal ini mengakibatkan beberapa warga tidak
mengumpulkan lembar jumantik sesuai jadwal. Masalah lain yaitu pengisian
lembar jumantik, banyak kami temukan kesalahan pada pengisian. Hal ini
mungkin dikarenakan pada saat kegiatan pelatihan, kepala keluarga yang mana
berlaku sebagai pembimbing karena beberapa hal tidak hadir mendampingi
anggota keluarganya. Beberapa kepala keluarga juga tidak memahami secara baik
tujuan dan pelaksanaan kegiatan Jumantik ini. Sehingga saat anggota keluarga
bingung dalam cara mengisi lembar, kepala keluarga pun tidak dapat menjawab
secara benar. Kendala lain adalah tidak tersedianya alat periksa berupa lampu
senter di rumah waqrga. Tidak terpenuhinya kriteria juru pemantau jentik yang
telah ditetapkan resmi oleh dinas kesehatan Republik Indonesia.
Kader juru pemantau jentik direkrut dari masyarakat sesuai dengan tujuan
berfungsi sebagai penggerak masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk.
Adapun kriteria yang dimaksud :
27

a. Pendidikan : minimal SMU atau sederajat


b. Berasal dari desa/kelurahan yang bersangkutan
c. Belum atau tidak mempunyai pekerjaan tetap
d. Mampu melaksanakan tugas dan bertanggung jawab
e. Mampu menjadi motivator ditempat tinggalnya
f. Mampu bekerja sama dengan petugas PUSTU dan puskesmas dan
masyarakat

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
VI.1

Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang kami laksanakan proses berjalan dengan lancar dan

perlu dilkakukan evaluasi kedepannya untuk kesinambungan program yang sudah terlaksana ini.
Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan adalah terdapat hubungan antara kinerja jumantik,
pemberian edukasi dan PSN terhadap penurunan angka penyakit DBD di beberapa wilayah kerja
Puskesmas Ujungpangkah yang sebelumnya data angka kesakitan penyakit DBD pada bulan

Mei tahun 2015 ditemukan sebanyak 2 kasus sedangkan pada bulan Juni 2015 tidak
ditemukan kasus. Dan masyarakat sekitar pun telah menyadari bahwa angka kejadian penyakit
DBD ini berhubungan erat dengan kesehatan lingkungan masyarakat itu sendiri. Tingkat
pengetahuan warga sebelum dan sesudah dilakukannya pelatihan dan penyuluhan tentang
28

penyakit DBD, serta kepatuhan dan keakuratan dalam mengisi lembar jumantik berbanding lurus
dengan perkerjaan dan usianya. Untuk efektifitas dari penyuluh terhadap kesehatan lingkungan
sekolah dengan survei lapangan secara langsung untuk melihat kebersihan rumah warga
berbanding lurus dengan diadakannya pelatihan dan penyuluhan tentang penyakit DBD. Namun
dalam pelatihan dan penyuluhan jumantik tidak ditemukan nilai bermakna ataupun hubungan
antara efektifitas dan pengetahuan penyuluh terhadap respon dari warga tersebut, ini dikarenakan
oleh banyaknya faktor yang menjadi peranan dalam responsif warga.

VI.2

Saran
Agar pemantauan jentik yang berkesinambungan dapat berjalan sesuai
dengan yang diharapkan, perlu dilakukan motivasi kepada ketua RT dan kader
jumantik secara berkesinambungan. Keterlibatan petugas kesehatan sangat
diperlukan untuk memberdayakan masyarakat dalam pemantauan jentik secara
berkala. Lalu untuk tolak ukur data angka kejadian penyakit DBD maka pihak
puskesmas dapat menyediakan fasilitas laboratorium lengkap untuk menunjang
dignosis penyakit DBD. Untuk mencapai Angka Bebas Jentik pada wialayah kerja
puskesmas Ujungpangkah peneliti menyarankan perekrutan kader Juru Pemantau
Jentik ( JUMANTIK ) resmi yang memenuhui kriteria dari Departemen
Kesehatan 2012. Untuk mendapatkan keakuratan data tentang angka bebas jentik,
maka nantinya diperlukan peran serta kader JUMANTIK beserta petugas
puskesmas dalam survei lapangan secara berkesinambungan pada hari jumat.
Menyikapi kendala tidak tersedianya alat jumantik maka dibutuhkan dana
khusus untuk pengadaan alat tersebut (senter dan lembar jumantik).

VI.3

Ucapan Terima Kasih


Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten

Gresik,

Kepala

Puskesmas

Ujungpangkah,

Kepala

Desa

Pangkahkulon, Kepala Desa Pangkahwetan, Kepala Desa Ngemboh, Kepala Desa


29

Banyuurip, Kepala Desa Ketapanglor, Kepala Desa Karangrejo, Kepala Desa


Tanjangawan atas izin penelitian dan dukungan yang telah diberikan kepada kami.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada pengelola program DBD, dan Kesehatan
Lingkungan di Puskesmas Ujungpangkah, para jumantik dan petugas puskesmas
atas bantuannya selama penelitian ini berlangsung sehingga dapat dilaksanakan
sesuai dengan yang diharapkan. Terima kasih yang tak terhingga juga kami
ucapkan kepada masyarakat di daerah penelitian yang secara koperatif telah
mendukung kegiatan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Departemen Kesehatan R.I. Petunjuk Pelaksanaan Pemberantasan Sarang


Nyamuk Demam Berdarah Dengeu (PSN DBD) oleh Juru Pemantau Jentik
(Jumantik), Dirjen P2M dan PL. Jakarta. 2004.

2.

Hayani A., Ahmad Erlan, Yunus W., Samarang. Pengaruh pelatihan guru UKS
terhadap efektivitas pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue di
Tingkat Sekolah Dasar, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Jurnal Ekologi Kesehatan
5(1): 376-379. 2006.

3.

http://irwandykapalawi.wordpres.com/

2008/03/01mengenal-ilmu-kesehatan-

masyarakat/# . comment. Diakses pada tanggal 15 November 2012.


4.

Departemen kesehatan R.I. Pedoman Survey Entomologi DBD. Dirjen P2M dan
PL. Jakarta. 2002.

30

5.

Suroso, T. Strategi baru Penangggulangan DBD di Indonesia. Jakarta. Depkes RI .


2003.

6.

Depkes RI. Pedoman tatalaksana klinis infeksi dengue di sarana pelayanan


kesehatan. Jakarta : Departemen Kesehatan RI; 2005

7.

Zulkarnain I. Penatalaksanaan demam berdarah dengue pada dewasa di RSCM.


dalam: Hadinegoro SR, Demam berdarah dengue. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
1999. hlm 150-66.

31