Anda di halaman 1dari 5

spirometer

Date: September 27, 2009Author: agung supriyadiKategori: Daur Ulang Tugas dan Kampus

Navigasi pos
Shaum Sunnah
Sebuah Peringatan untuk kamu (terutama aktivis)

2.1

Pengertian Spirometer

Spirometer adalah alat untuk mengukur aliran udara yang masuk dan keluar paruparu dan dicatat dalam grafik volum per waktu.
2.2

Sejarah Terciptanya Spirometer

129200
A.D.

Galen melakukan eksperimen volumetric terhadap saluran


udara manusia. Dia menyuruh seorang anak menghirup
dan mengeluarkan udara dan menemukan volum
gas,setelah beberapa waktu,tetap. Galen menemukan
ukuran yang mutlak dari ukuran paru-paru.

1681

Borelli mencoba untuk mengukur volume inspirasi dalam


satu kali bernafas. Dia melakukannya dengan menghisap
cairan dari tabung silinder.

1718

Jurin J. meniupkan udara dalam kantung dan mengukur


volume udara menggunakan prinsip arcimedes. Dia
mengukur 650 ml volum tidal dan volume ekspirasi
maksimal sebanyak 3610 ml.

1788

Goodwyn E. menghisap air ke dalam bejana berisi udara


yang sudah diukur beratnya dalam skala. Dia menyebutkan
bahwa kapasitas vital paru-paru dapat mencapai 4460 ml.
Dia memeriksa temperaturnya, tapi dia tidak menggunakan
nose-clip.

1793

Abernethy mencoba untuk menentukan seberapa jauh


kadaluarsa gas yang dihabiskan oksigen. Dia
mengumpulkan gas-gas kadaluarsa di sekeliling merkuri.
Abernethy mengukur kapasitas vital paru-paru adalah 3150
ml.

1796

Menzies R. mencelupkan seorang laki-laki ke dalam air


berisi lebih dari satu barel ke dagunya dan mengukur
kenaikan dan penurunan tingkatan sekitar dagu. Dengan
metode body plethysmography, dia menentukan volume
tidal paru-paru.

1799

Pepys W.H. jun. menemukan volum tidal biasa menjadi 270


ml dengan menggunakan dua gasometer air raksa dan
sebuah gastometer biasa.

1800

Davy H. mengukur kapasitas vital paru-parunya sendiri


sebesar 3110 ml. volume tidal paru-paru sebesar 210 ml
menggunakan gasometer dan volume residu paru-paru
sebesar 590-600 ml menggunakan metode pengenceran
hidrogen atau hydrogen dilution method.

1813

Kentish E. menggunakan Pulmometer yang cukup


sederhana untuk mempelajari volum saluran udara ketika
sakit.

1831

Thrackrah C.T. menggambarkan pulmometer mirip dengan


Kentish, tetapi udara memasuki botol kaca dari bawah.
Disana tidak terdapat perbaikan untuk tekanan, sehingga
pengukuran mesin tidak hanya terpaku pada volume
respirasi tetapi juga kekuatan dari otot-otot ekspirasi.

1844

Maddock, A.B. mempublikasikan di Lancet, sebuah surat


untuk editor tentang Pulmometer nya. Penemuan luar
biasa yang saya temukan sangat berguna untuk mengukur
kekuatan dari paru-paru di dalam lingkungan dan kondisi
yang berbeda. Maddock tidak menyebutkan Thrackrah
atau Kentish.

1845

Vierordt mempublikasikan bukunya Physiologie des


Athmens mit besonderer Rcksicht auf die Auscheidung der
Kohlensure. Walaupun Vierordt tertarik tentang
penentuan penghembusan nafas, dia telah melakukan
penentuan parameter volume dengan seksama. Dalam
percobaannya dia menggunakan expirator. Vierordt
mendeskripsikan beberapa parameter tersebut masih
digunakan dewasa ini dalam spirometer modern. Sebagai
contoh volume residu (Rckstndige Luft), kapasitas vital
(vitales Atmungsvermgen),

1852
(184
4)

John Hutchinson mempublikasikan laporannya tentang air


di spirometer yang tetap digunakan sampai hari ini hanya
dengan perubahan kecil (perubahan besar yang terjadi
sekarang adalah penambahan alat pengukur grafik dan
waktu dan reduksi masa bel). Hutchinson mencatat

kapasitas vital paru-paru 4000 orang dengan


spirometernya. Dia mengklasifikasikan manusia, sebagai
contoh Paupers, First Battalion Grenadier Guards,
Pugilists and Wrestlers, Giants and Dwarfs, Girls,
Gentleman, Deseased cases. Dia menunjukan bahwa
kapasitas vital paru-paru berbanding lurus dengan tinggi
dan dia pun menunjukan bahwa kapasitas vital paru-paru
tidak memiliki kaitan dengan berat badan. Hutchinson telah
memulai pekerjaannya dengan spirometers pada tahun
1844.
1854

2.3

Wintrich mengembangkan spirometer yang sudah


diperbaharui, pengunaan spirometer ini lebih sederhana
dibandingkan dengan spirometer Hutchinson. Wintrich
menguji 4000 orang dengan spirometernya. Terdapat 500
kasus tentang penyakit di paru-paru. Dia menyimpulkan
ada 3 parameter yang menentukan kapasitas vital paruparu yaitu tinggi badan, berat badan dan umur.
Prinsip Kerja Spirometer

Spirometer menggunakan prinsip salah satu hukum dalam fisika yaitu hukum
Archimedes. Hal ini tercermin pada saat spirometer ditiup, ketika itu tabung yang
berisi udara akan naik turun karena adanya gaya dorong ke atas akibat adanya
tekanan dari udara yang masuk ke spirometer. Spirometer juga menggunakan
hukum newton yang diterapkan dalam sebuah katrol . Katrol ini dihubungkan kepada
sebuah bandul yang dapat bergerak naik turun. Bandul ini kemudian dihubungkan
lagi dengan alat pencatat yang bergerak diatas silinder berputar.
2.4

Cara Kerja

Sebenarnya cara kerja spirometer cukup mudah yaitu sesorang disuruh bernafas
(menarik nafas dan menghembuskan nafas) di mana hidung orang itu ditutup.
Tabung yang berisi udara akan bergerak naik turun, sementara itu drum pencatat
bergerak putar (sesuai jarum jam) sehingga pencatat akan mencatat sesuai dengan
gerak tabung yang berisi udara.
Hasil pencatatan akan terlihat seperti gambar di bawah ini.

Pada waktu istirahat, spirogram menunjukkan volume udara paru-paru 500 ml.
Keadaan ini disebut tidal volume. Pada permulaan dan akhir pernafasan terdapat
keadaan reserve; akhir darisuatu inspirasi dengan suatu usaha agar mengisi paruparu dengan udara, udara tambahan ini disebut inspiratory reserve volume,
jumlahnya sebanyak 3.000 ml. Demikian pula akhir dari suatu respirasi, usaha
dengan tenaga untuk mengeluarkan udara dari paru-paru, udara ini disebut
dengan expiratory reserve volume yang jumlahnya kira-kira 1.100 ml. Udara yang
tertinggal setelah ekspirasi secara normal disebut fungtional residual capacity (FRC).
Seorang yang bernapas dalam keadaan baik inspirasi maupun ekspirasi, kedua
keadaan yang ekstrim ini disebut vital capacity.
Dalam keadaan normal, vital capacity sebanyak 4.500 ml. Dalam keadaan apapun
paru-paru tetap mengandung udara, udara ini disebut residual volume (kira-kira
1.000 ml) untuk orang dewasa.
Untuk membuktikan adanya residual volume, penderita disuruh bernafas dengan
mencampuri udara dengan helium, kemudian dilakukan pengukuran fraksi helium
pada waktu ekspirasi. Di klinik biasanya dipergunakan spirometer. Penderita disuruh
bernafas dalam satu menit yang disebut respiratory minute volume. Maksimum
volume udara yang dapat dihirup selama 15 menit disebut maximum voluntary
ventilation. Maksimum ekspirasi setelah maksimum inspirasi sangat berguna untuk
mengetes penderita emphysema dan penyakit obstruksi jalan pernafasan. Penderita
normal dapat mengeluarkan udara kira-kira 70% dari vital capacity dalam 0.5 detik.;
85% dalam satu detik; 94% dalam 2 detik; 97% dalam 3 detik. Normal peak flow rate
350-500 liter/menit.
2.5

Manfaat Spirometer

Pengukuran Laju Metabolisme


Dalam penetapan laju metabolisme, konsumsi Oksigen umumnya diukur dengan
menggunakan spirometer yang diisi dengan O2 dan suatu sistem yang
mengabsorpsi CO2. Bandul Spirometer dihubungkan dengan alat pencatat yuang
bergerak diatas suatu silinder yang berputar, sementara bandul bergerak naik
turun.Dengan menarik garis sepanjang grafik yang dibuat,akan diperoleh suatu

kemiringan tertentu yang sebanding dengan besarnya konsumsi O2.Jumlah O2 yang


dipakai (dalam ml) persatuan waktu dikoreksi pada suhu dan tekanan
standar,kemudian dikonversikan menjadi energi yaitu dengan dikalikan 4,82 kcal/L O
yang dipakai.
Laju metabolisme dipengaruhi banyak faktor.Yang terpenting adalah kerja
otot.Konsumsi O meningkat tidak hanya pada kerja otot,tetapi juga setelahnya
sepanjang diperlukan untuk O debt.Pemberian makanan juga akan meningkatkan
laju metabolisme,karena adanya spesific dynamic action (SDA).SDA suatu
makanan adalah besarnya energi yang diperliukan untuk proses asiimilasi makanan
tersebut dalam tubuh.Sejumlah protein yang dapatr menghasilkan 100 kcal,akan
meningkatkan laju metabolisme sebesar 30 kcal.Hidrat arang dalam jumlah yang
sama akan menyebabkan peningkatan sebesar 6 kcal,dan lemak akan meningkatkan
laju metabolisme sebesar 4 kcal.Tentu saja ini berarti bahwa jumlah kalori yang
dihasilkan oleh ketiga jenis bahan makanan tersebut akan dikurangi oleh besarnya
SDA,dan energi yang diperlukan untuk proses asimilasi ini dapat diperoleh dari
makanan itu sendiri atau diambil dari simpanan energi tubuh.Penyebab SDA
belum jelas.SDA mungkin sebagian disebabkan karena kenaikan perangsangan
simpatis setelah makan,dengan peningkaytan pengeluaran epinefrin dan
norepinefrin dan akibatnya terjadi peningkatan laju metabolisme.SDA protein
mungkin juga dihubungkan dengan proses deaminasi asam amino
dalam hati.SDA dari lemak mungkin disebabkan karena adanya stimulasi langsung
terhadap proses metabolisme oleh adanya asam lemak bebas.Sedang pada hidrat
arang mungkin merupakan manifestasi kebutuhan energi ekstra untuk
membentuk glikogen.Efek stimulasi daripada makanan terhadapa proses
metabolisme dapat berlangsung selama 6 jam atau lebih.
Faktor lain yang merangsang metabolisme adalah suhu lingkungan.Bila suhu
lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh,mekanisme untuk mempertahankan suhu
tubuh akan digiatkan,misalnya dengan menggigil,dan laju metabolisme
akan meningkat.Bila suhu lingkungan cukup tinggi hingga mengakibatkan
meningkatnya suhu tubuh,terjadi peningkatan proses metabolisme secara
keseluruhan,dan laju metabolisme juga meningkat.