Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

EMBRIOLOGI DAN HISTOLOGI HEWAN


PENGAMATAN TAHAP PERKEMBANGAN EMBRIO AYAM

OLEH :
EMILTA SAPUTRI
F05112022
KELOMPOK 4

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

PENGAMATAN TAHAP PERKEMBANGAN EMBRIO AYAM


A. TUJUAN
Tujuan praktikum ini adalah untuk :
1. Mengamati tahapan perkembangan embrio ayam pada berbagai umur.
2. Menggambarkan dan memberi keterangan berdasarkan pengamatan.
B. DASAR TEORI
Telur merupakan suatu tempat penimbunan zat gizi yang diperlukan
untuk perkembangan suatu embrio hingga menetas. Embriologi dari ayam
adalah perkembangan ayam di dalam telur. Dalam proses perkembangannya
terjadi di dalam alat tubuh embrio yang disebut organogenesis (Basri, 2012).
Organogenesis yang berperan dalam kopulasi pada ayam bentuknya
rudimenter ( belum sempurna ). Ayam tidak mempunyai penis. Sperma
diproduksi di dalam testis, disalurkan ke luar tubuh melalui ductus deferens
yang bermuara pada papilla. Perkawinan ayam jantan dengan ayam betina
pada hakikatnya ialah mempersatukan dua kloaka untuk memungkinkan
pemancaran sistem yang mengandung sperma. Sistem reproduksi ayam betina
terdiri atas ovarium dan oviduk (Subo, 2013).
Pada ayam betina, terdapat sepasang ovari, hanya yang dextrum
mengalami atrophis (mengecil dan tidak bekerja lagi). Dari ovari menjulur
oviduct panjang berkelok-kelok, berlubang pada bagian cranial dengan suatu
bentuk corong. Lubang oviduct itu disebut ostium abdominalis. Dinding
oviduct selanjutnya tersusun atas musculus dan ephytelium yang bersifat
glandular, yang memberi sekresi yang kelak membungkus telur, yakni
albumen sebagai putih telur, membran tipis di sebelah luar albumen, dan
cangkok yang berbahan zat kapur yang disebut oleh kelenjar di sebelah
caudal. Uterus yang sebenarnya belum ada. Fertilisasi terjadi di dalam tubuh
dengan jalan melakukan kopulasi (Jasin, 1992).
Awal perkembangan embrio ayam menunjukkan bahwa splanknopleura
dan somatopleura meluap keluar dari tubuh embrio hingga di atas yolk.
Daerah luar tubuh embrio dinamakan daerah ekstra embrio. Mula-mula tubuh
embrio tidak mempunyai batas sehingga lapisan-lapisan ekstra embrio dan
intra embrio saling berkelanjutan. Dengan terbentuknya tubuh embrio, secara

berurutan terbentuk lipatan-lipatan tubuh sehingga tubuh embriohampir


terpisah dari yolk. Adanya lipatan-lipatan tubuh, maka batas antara daerah
intra dan ekstra embrio menjadi semakin jelas. Daerah kepala embrio
mengalami pelipatan yang disebut dengan lipatan kepala dan meisahkan
antara bagian intra dan ekstra embrio. Lipatan kepala membentuk sub sephal.
Pada bagian lateral tubuh juga terbentuk lipatan tubuh lateral dan
memisahkan bagian ekstra dan intra embrio. Bagian posterior mengalami
pelipatan dan dukenal dengan nama lipatan ekor membentuk kantung sub
kaudal. Lipatan-lipatan tersebut embentuk dinding saluran percernaan
primitive. Bagian tengah usus tengah yang menghadap yolk tetap terbuka dan
pada daerah ini, dinding kantung yolk berhubungan dengan dinding usus pada
kantung yol. Walaupun kantung yolk berhubungan dengan usus melalui
tangkai yolk, namun makanan tidak diambil embrio melalui tangkai yolk
(Adnan, 2010).
Pada perkembangan embrio ayam, embrio dibantu kantung oleh
kuning telur, amnion, dan alantois. Kantung kuning yang telur dindingnya
dapat menghasilkan enzim. Enzim ini mengubah isi kuning telur sehingga
mudah diserap embrio. Amnion berfungsi sebagai bantal, sedangkan alantois
berfungsi pembawa sebagai ke oksigen embrio, menyerap zat asam dari
embrio, mengambil yang sisa-sisa pencernaan yang terdapat dalam ginjal dan
menyimpannya dalam alantois, serta membantu alantois, serta membantu
mencerna albumen (Riecka, 2013).
Bagian dari kuning telur yaitu kantung chorion, dimana membran ekstra
embrio yang paling luar dan yang berbatasan dengan cangkang atau jaringan
induk, merupakan tempat pertukaran antara emrio dan lingkungan
disekitarnya adalah chorion atau serosa. Kantung allantois, dimana kantung
ini merupakan suatu kantung yang terbentuk sebagai hasil evaginasi bagian
ventral usus belakang pada tahap awal perkembangan. Fungsi kantung ini
sebagai tempat penampungan dan penyimpanan urine dan sebagai organ
pertukaran gas antara embrio dengan lingkungan luarnya. Lapisan penyusun
kantung allantois sama dengan kantung yolk, yaitu splanknopleura yang
terdiri atas endoderm di dalam dan mesoderm splank di luar. Kantung

amnion, kantung ini adalah suatu membran tipis yang berasal dari
somatoplura berbentuk suatu kantung yang menyelubungi embrio yang berisi
cairan. Dimana kantung ini berfungsi sebagai pelindung embrio terhadap
kekeringan, penawar goncangan, pengaturan suhu intrauterus, dan anti adhesi
(Adnan, 2010).
C. METODOLOGI
1. Waktu dan Tanggal
Waktu
:
Tanggal
: 13 April 16 April 2015
2. Alat dan Bahan
Telur ayam kampong
NaCl fisiologis 0,9%
Kertas saring
Inkubator
Cawan petri
Gunting
Pinset
Gelas objek
Mikroskop
D. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Hasil pengamatan embrio ayam
Waktu
24 jam

48 jam

Kenampakan Embrio di bawah


mikroskop

Perbandingan literatur

72 jam

E. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini yang berjudul Pengamatan Tahap Perkembangan
Embrio Ayam bertujuan untuk mengamati tahapan perkembangan embrio
ayam pada berbagai umur, menggambarkan dan memberikan keterangan
berdasarkan pengamatan. Telur yang diamati disini berbeda umur yaitu 24
jam, 48 jam dan 72 jam yang masing-masing diinkubasi.
Telur merupakan suatu tempat penimbunan zat gizi yang diperlukan
untuk perkembangan suatu embrio hingga menetas. Embriologi dari ayam
adalah perkembangan ayam di dalam telur. Dalam proses perkembangannya
terjadi di dalam alat tubuh embrio yang disebut organogenesis (Basri, 2012).
Pada prinsipnya semua jenis telur mempunyai struktur yang sama. Telur
terdiri dari enam bagian yaitu: kerabang telur atau kulit luar (shell), selaput
kerabang, putih telur (albumin), kuning telur (yolk), tali kuning telur
(chalaza) dan sel benih (germ plasm). Masing-masing bagian memiliki fungsi
khas.Kerabang telur berfungsi sebagai pelindung embrio dari gangguan luar
yang tidak menguntungkan. Kerabang juga berfungsi melindungi putih telur
dan kuning telur agar tidak keluar dan terkontaminasi dari zat-zat yang tidak
diinginkan. Kerabang telur memiliki pori-pori sebagai media lalu lintas gas
oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) selama proses penetasan.
Oksigen

diperlukan

embrio

untuk

proses

pernapasan

dan

perkembangannya.Putih telur merupakan tempat penyimpanan air dan zat

makanan di dalam telur yang digunakan untuk pertumbuhan embrio. Kuning


telur merupakan bagian telur yang bulat bentuknya, berwarna kuning sampai
jingga dan terdapat di tengah-tengah telur. Kuning telur mengandung zat
lemak yang penting bagi pertumbuhan embrio. Di dalam kuning telur terdapat
sel benih yang menjadi unsur utama embrio unggas. Pada bagian ujung yang
tumpul dari telur terdapat rongga udara yang berguna untuk bernapas bagi
embrio selama periode penetasan, yang berlangsung rata-rata 20-22 hari.
Pada pengamatan pertama 24 jam, terlihat seperti adanya gumpalan
yang menunjukkan adanya embrio yang akan berkembang. Menurut Syahrum
(1994), inkubasi selama 24 jam dapat dibedakan antara daerah intra
embrional dengan daerah ekstraembrional. Epiblast bagian tengah yang lebih
terang disebut area pelusida, bagian tepi yang lebih gelap disebut daerah
opaca. Daerah intra embrional yakni terdiri dari daerah pellusida dan daerah
opaka. Daerah kepala akan mengalami perkembangan yang cepat, namun
karena adanya daerah batas pertumbuhan (zone over growth), terjadi lipatan
kepala (head fold), mula-mula ke ventral. Setelah ke ventral daerah agak
terangkat melipat ke posterior. Organ yang dapat terlihat dalam stadium 24
jam inkubasi adalah: area embrional, area pellusida, area opaka vaskulosa,
area ovaka vitelin, lipatan neural, usus depan, somit dan daerah primitive,
proamnion, notokor dan keping darah.
Pada pengamatan selanjutnya 42 jam, bentuk gumpalan menjadi lebih
jelas dari sebelumnya, bentuknya sudah hampir menyerupai embrio ayam.
Menurut Syahrum (1994), embrio ayam umur inkubasi 48 jam, kepala embrio
mengalami pelekukan (chepalic flexure) sehingga mesenchepalon tampak di
sebelah drsal dan prosenchepalon dan rhombenchepalon tampak sejajar.
Badan embrio memutar sepanjang sumbunya sehingga sehingga bagian kiri
menjadi kunir dibagian atas sedangkan pandangan dari dorsal tampak kepala
bagian kanan;badan bagian posterior masih menunjukkan bagian dorsal
(tampak sebelah atas). Bagian badan sebelah tengah telah menunjukkan
adanya lipatan lateral (lateral body fold) sedangkan di daerah ekor telah
terjadi pula tail fold (lipatan yang akan menyelubungi daerah ekor). Lamakelamaan, seluruh bagian badan embrio berada dalam selubung amnion,

setelah semua lipatan-lipatan bertemu. Pada akhir perkembangan embrio


ayam umur 48 jam , terbentuk dua membran ekstra embrional yaitu amnion
dan khorion.
Pada pengamatan berikutnya 72 jam, bentuk kepala embrio ayam sudah
terlihat jelas, dengan lekuk-lekuk pada bagian embrio ayam. Menurut
Syahrum (1994), bahwa pada inkubasi 72 jam embrio ayam, embrio
mengalami pelekukan servikal, sehingga daerah rhombesenfalon berada di
sebelah dorsal dan telensephalon mendekati perkembangan jantung. Lipatan
kepala makin berkembang ke arah posterior.
F. KESIMPULAN
1. Telur merupakan suatu tempat penimbunan zat gizi yang diperlukan
untuk perkembangan suatu embrio hingga menetas. Embriologi dari
ayam adalah perkembangan ayam di dalam telur.
2. Telur terdiri dari enam bagian yaitu: kerabang telur atau kulit luar (shell),
selaput kerabang, putih telur (albumin), kuning telur (yolk), tali kuning
telur (chalaza) dan sel benih (germ plasm).
3. Organ yang dapat terlihat dalam stadium 24 jam inkubasi adalah: area
embrional, area pellusida, area opaka vaskulosa, area ovaka vitelin,
lipatan neural, usus depan, somit dan daerah primitive, proamnion,
notokor dan keping darah.
4. Pada inkubasi 48 jam telur yang telah diinkubasi maka kepala embrio
mengalami pelekukan (chepalic flexure) sehingga mesenchepalon
tampak di sebelah drsal dan prosenchepalon dan rhombenchepalon
tampak sejajar.
5. Pada inkubasi 72 jam embrio ayam, embrio mengalami pelekukan
servikal, sehingga daerah rhombesenfalon berada di sebelah dorsal dan
telensephalon mendekati perkembangan jantung. Lipatan kepala makin
berkembang ke arah posterior.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2010. Perkembangan Hewan. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM


Makassar.
Basri. 2012. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Surabaya: Sinar wijaya.
Riecka.
2013.
Praktikum
Embrio
Ayam.(Online)
http://rieckamissziiph.blogspot.com. Diakses tanggal 12 Desember 201328
April 2015.
Subo.

2013.
Perkembangan
Embrio
Ayam.(Online)
http://myexperience.sausuboy.blogspot.com. Diakses tanggal 28 April
2015.

Syahrum, M. H; Kamaluddin dan A. Djokronegoro. 1994. Reproduksi dan


Embriologi dari Satu Sel menjadi Organisme. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai