Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

LIMNOLOGI

KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN DANAU LAIT


DESA SUBAH KECAMATAN TAYAN HILIR
KABUPATEN SANGGAU

DISUSUN OLEH:
NAMA

: RUSLIANDI

NIM

: H14112063

KELOMPOK : 3 (TIGA)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bentos merupakan salah satu kelompok terpenting dalam ekosistem perairan
sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan.
Selain itu tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat
digunakan sebagai indikator pencemaran. Hewan bentos seringkali digunakan sebagai
petunjuk bagi penilaian kualitas air. Jika ditemukan limpet air tawar, kijing, kerang,
cacing pipih siput memiliki operkulum dan siput tidak beroperkulum yang hidup di
perairan tersebut maka dapat digolongkan kedalam perairan yang berkualitas sedang
(Pratiwi dkk, 2004)
Bentos memiliki peranan ekologis dan struktur spesifik dihubungkan dengan
makrofita air yang merupakan materi autochthon. Karakteristik dari masing-masing
bagian makrofita akuatik ini bervariasi, sehingga membentuk substratum dinamis
yang komplek yang membantu pembentukan interaksi makroinvertebrata terhadap
kepadatan dan keragamannya sebagai sumber energi rantai makanan pada perairan
akuatik. Menurut Welch (1980), kecepatan arus akan mempengaruhi tipe substratum,
yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap kepadatan dan keanekaragaman bentos.
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam
bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatu an volume
atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk
menghitung produktifitas dan untuk membandingkan kepadatan suatu jenis dengan
kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. (Suin.N.M,1989).
1.2 Rumusan Masalah
Masalah dalam praktikum ini adalah bagaimana kepadatan dan keanekaragaman
bentos yang ada Di Danau Lait, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir ,Kabupaten
Sanggau Provinsi Kalimantan Barat.

1.3 Tujuan
Tujuan praktikum lapangan ini adalah mengetahui keanekaragaman bentos Di
Danau Lait, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir ,Kabupaten Sanggau Provinsi
Kalimantan Barat.
1.4 Manfaat
Manfaat praktikum ini adalah sebagai informasi kepadatan dan keragaman
populasi bentos Di Danau Lait, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir ,Kabupaten
Sanggau Provinsi Kalimantan Barat..

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bentos
Bentos adalah organisme yang hidup pada dasar perairan, dan merupakan
bagian dari rantai makanan yang keberadaannya bergantung pada populasi organisme
yang tingkatnya lebih rendah (Noortiningsih et al., 2008). Bentos juga merupakan
sumber makanan utama bagi organisme lainnya seperti ikan demersal (Zaleha et al.,
2009). Pratiwi, et al (2004) menyatakan bentos merupakan organisme yang hidup
menetap (sesile) dan memiliki daya adaptasi yang bervariasi terhadap kondisi
lingkungan. Selain itu tingkat keanekaragaman bentos yang terdapat di lingkungan
perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran.
Bentos merupakan hewan berukuran lebih dari 1 mm (Mann, (1982) dalam Ni
Made Suartini et al, (2006). Menurut Cummins (1975) dalam Ni Made Suartini et al,
(2006), bentos dapat mencapai ukuran tubuh sekurang-kurangnya 3-5 mm

saat

pertumbuhannya maksimum. Lebih lanjut disebutkan bahwa organisme yang


termasuk bentos diantaranya adalah Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta,
Moluska, Nematoda dan Annelida. Menurut Pennak (1989), berbagai jenis bentos
ada yang berperan sebagai konsumen primer dan ada pula yang berperan sebagai
konsumen sekunder atau konsumen yang menempati tempat yang lebih tinggi. Pada
umumnya, zoobentos merupakan makanan alami bagi ikan-ikan pemakan di dasar.
Organisme ini mempunyai peranan yang cukup penting dalam mempercepat
proses dekomposisi materi organik. Bentos yang bersifat herbivor dan detritivor,
dapat menghancurkan makrofitakuatik yang hidup maupun yang mati dan
serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil,
sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi

nutrien

bagi

produsen perairan. Bentos juga merupakan sumber makanan yang alami bagi ikan
(Rosmelina, 2009).

Bentos merupakan biota air yang mudah terpengaruh oleh adanya bahan
pencemar kimiawi serta keberadaan lumpur, pasir dan arus air. Hal ini
disebabkan bentos pada umumnya tidak dapat bergerak cepat dan habitatnya di
dasar perairan yang merupakan penumpukan bahan pencemar kimia, lumpur serta
pasir. Perubahan substrat dan penambahan bahan pencemar akan berpengaruh
terhadap kepadatan, komposisi dan tingkat keragaman bentos. Berbagai aktifitas di
sepanjang perairan diantaranya adalah aktifitas pelabuhan, jalur transportasi, limbah
pabrik dan limbah rumah tangga dapat menyebabkan perubahan ekosistem serta
dapat mempengaruhi biota didalamnya. Perubahan ini terjadi akibat dari
ketidakseimbangan lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan terhadap
kehidupan organisme akuatik khususnya makrozoobenthos (Sastrawijaya, 1991).
Bentos mempunyai peranan sangat penting dalam siklus nutrien di dasar
perairan. Montagna et al, (1989). Ni Made Suartini et al, (2006) menyatakan bahwa
dalam ekosistem perairan, bentos berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung
dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi.
Menurut Odum (1993), bentos merupakan organisme yang hidup di permukaan atau
di dalam substrat dasar perairan yang meliputi tumbuhan (fitobentos) dan hewan
(zoobentos). Bentos memegang beberapa peran penting di suatu perairan seperti
dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan
Lind (1985) dalam Ni Made Suartini et al, (2006), serta menduduki beberapa tingkat
trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993).
2.2 Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Air
Pengkajian kualitas perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti
dengan analisis fisika dan kimia air serta analisis biologi. Untuk perairan yang
dinamis, analisis fisika dan kimia air kurang memberikan gambaran sesungguhnya
akan kualitas perairan, sedangkan analisis biologi khususnya analisis struktur
komunitas hewan bentos, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas
perairan. Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai

petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke
habitatnya. Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka
terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk
makrozoobentos (Pradinda, 2008).
Bioindikator adalah kelompok atau komunitas organisme yang keberadaannya
dan perilakunya di alam berhubungan dengan kondisi lingkungan, apabila terjadi
perubahan kualitas air maka akan berpengaruh terhadap keberadaan dan perilaku
organisme tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai penunjuk kualitas lingkungan
(Sastrawijaya, 1991)..
2.3 Faktor Fisika - Kimia yang Mempengaruhi Komunitas Makrozoobentos
Menurut Nybakken (1992), sifat fisika-kimia perairan sangat penting dalam
ekologi. Oleh karena itu selain melakukan pengamatan terhadap faktor biotik, seperti
makrozoobentos, perlu juga dilakukan pengamatan faktor-faktor abiotik (fisikakimia) perairan, karena antara faktor abiotik dan biotik saling berinteraksi. Menurut
Barus (2004), dengan mempelajari aspek saling ketergantungan antara organisme
dengan faktor-faktor abiotiknya maka akan diperoleh gambaran tentang kondisi dan
kualitas perairan.
Faktor abiotik (fisika-kimia) perairan yang mempengaruhi komunitas
makrozoobentos antara lain:
2.3.1 Kecepatan Arus
Kecepatan arus dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian antara bagian hilir dan
hulu (topografi) badan air, dimana semakin tinggi perbedaan ketinggian (elevasi)
tersebut maka arus semakin kuat. Kecepatan arus akan mempengaruhi komposisi
substrat dasar (sedimen) dan juga akan mempengaruhi aktifitas makrozoobentos yang
ada. Kaitannya dengan kecepatan arus Odum (1971) menyebutkan tujuh bentuk
adaptasi yang dilakukan makrozoobentos, yaitu:
a.

Membentuk kait dan alat pelekat

b.

Melekat pada substrat yang kokoh.

c.

Bentuk tubuh yang sesuai.

d. Tubuh pipih.
e.

Reotaksis positif.

f.

Tigmotaksis positif.

g.

Bagian tubuh melekat.


Kecepatan arus merupakan salah satu faktor penentu kemelimpahan dan

keanekaragaman makrozoobentos. Pada perairan yang relatif tenang dan banyak


ditumbuhi tumbuhan air biasanya banyak ditemukan kelompok Molusca sedangkan
perairan dengan arus kuat atau jeram banyak ditemukan makrozoobentos dari
kelompok Insekta dan Hirudinae (Sastrawijaya, 1991).
Organisme yang ada di dasar sungai bergantung kepada sifat dasar sungainya.
Dasar sungai tergantung kepada kecepatan arus air jika aliran sungai deras, maka
dasar sungai mengandung kerikil dan pasir. Jika arus hampir diam, maka dasar sungai
adalah lumpur.
2.3.2 Temperatur Air
Penelitian pada ekosistem akuatik, pengukuran temperatur air merupakan hal
yang mutlak dilakukan. Hal ini disebabkan karena kelarutan berbagai jenis gas di air
serta semua aktivitas biologis di dalam ekosistem akuatik sangat dipengaruhi oleh
temperatur. Menurut hukum Van Hoffs kenaikan temperatur sebesar 100 C (hanya
pada kisaran temperatur yang masih ditolerir) akan meningkatkan laju metabolisme
dari organisme sebesar 2-3 kali lipat. Akibat meningkatnya laju metabolisme, akan
menyebabkan konsumsi oksigen meningkat. Pola temperatur ekosistem air
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas
antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga oleh faktor
kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi (Brehm dan
Meijering, 1990 dalam Barus, 2004).
Temperatur air pada suatu perairan merupakan faktor pembatas bagi
pertumbuhan dan distribusi makroinvertebrata air. Pada umumnya temperatur di atas
300oC dapat menekan populasi makroinvertebrata air (Odum, 1994). Welch (1980)

menyatakan bahwa hewan makroinvertebrata air pada masa perkembangan awal


sangat rentan terhadap temperatur tinggi dan pada tingkatan tertentu dapat
mempercepat siklus hidup sehingga lebih cepat dewasa. temperatur yang tinggi
menyebabkan semakin rendahnya kelarutan oksigen yang menyebabkan sulitnya
organisme akuatik dalam melakukan respirasi karena rendahnya kadar oksigen
terlarut.
2.3.3 Penetrasi Cahaya
Kemampuan penetrasi cahaya sampai dengan kedalaman tertentu juga akan
mempengaruhi distribusi dan intensitas fotosintesis tumbuhan air dibadan perairan
Pengaruh utama dari kekeruhan adalah penurunan penetrasi cahaya secara mencolok.
Sehingga menurunkan aktifitas fotosintesis fitoplankton dan alga, akibatnya
menurunkan produktivitas perairan(Sastrawijaya,1991).
Muatan padatan tersuspensi dan kekeruhan, menurut Sandy (1985) sangat
dipengaruhi oleh musim. Pada waktu musim penghujan kandungan lumpur relatif
lebih tinggi karena besaran laju erosi yang terjadi; sedangkan pada musim kemarau
tingkat kekeruhan air sungai dipengaruhi oleh laju aliran air yang terbatas menoreh
hasil-hasil endapan sungai. Cahaya matahari tidak dapat menembus dasar perairan
jika konsentrasi bahan tersuspensi atau zat terlarut tinggi. Berkurangnya cahaya
matahari disebabkan karena banyaknya faktor antara lain adanya bahan yang tidak
larut seperti debu, tanah liat maupun mikroorganisme air yang mengakibatkan air
menjadi keruh.
2.3.4 Intensitas Cahaya
Faktor cahaya matahari yang masuk ke dalam air akan mempengaruhi sifat-sifat
optis dari air. Sebagian cahaya matahari tersebut akan diabsorbsi dan sebagian lagi
akan dipantulkan ke luar dari permukaan air. Vegetasi yang ada disepanjang aliran air
juga dapat mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk ke mengabsorbsi cahaya
matahari. Efek ini terutama akan terlihat pada daerah hulu yang aliran airnya
umumnya masih kecil dan sempit (Sastrawijaya,1991).

Bagi organisme air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan
mendukung kehidupan organisme tersebut dalam habitatnya. Larva dari Baetis
rhodani akan bereaksi terhadap perubahan intensitas cahaya, dimana jika intensitas
cahaya matahari berkurang, hewan ini akan ke luar dari tempat perlindungannya yang
terdapat pada bagian bawah dari bebatuan didasar perairan, bergerak menuju ke
bagian atas bebatuan untuk mencari makanan (Barus, 2004).
2.3.5 DO (Disolved Oxygen)
Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam
ekosistem air, yaitu untuk respirasi sebagian besar organisme air. Kelarutan oksigen
di dalam air sangat dipengaruhi temperatur, dimana kelarutan maksimum oksigen di
dalam air pada temperatur 0oC sebesar 14,16 mg/l O2, kelarutan ini akan menurun
jika temperatur air meningkat (Barus, 2004).
Nilai DO yang berkisar di antara 5,45 7,00 mg/l cukup bagi proses kehidupan
biota perairan. Barus (2004), menegaskan bahwa nilai oksigen terlarut di perairan
sebaiknya berkisar antara 6 8 mg/l, makin rendah nilai DO maka makin tinggi
tingkat pencemaran ekosistem tersebut (Sastrawijaya,1991).
Kadar organik adalah satu hal yang sangat berpengaruh pada kehidupan
makrozoobentos, dimana kadar organik ini adalah sebagai nutrisi bagi bentos
tersebut. Tingginya kadar organik pada suatu perairan umumnya akan mengakibatkan
meningkatnya jumlah populasi hewan bentos dan sebagai organisme dasar, bentos
menyukai substrat yang kaya akan bahan organik. Maka pada perairan yang kaya
bahan organik, umumnya terjadi peningkatan populasi hewan bentos (Koesbiono,
1979).

BAB III
METODE KERJA
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 6-7 juni 2015, bertempat Di Danau
Lait, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir ,Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan
Barat..
3.2 Deskripsi Lokasi
Lokasi praktikum keanekaragaman bentos tergolong lokasi wisata yang
merupakan kawasan lindung, lokasi praktikum berupa danau yang terbuka dengan
intensitas cahaya matahari tinggi menembus permukaan air, suhu juga berubah-ubah
dipengaruhi cuaca terdapat beberapa makrofita akuatik dan juga kondisi substrat
berupa tanah dan perakan.

Gambar 1. Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas

3.3 Alat dan Bahan


3.3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum keanekaragaman makrozoobentos adalah
Keping secci, nampan ukuran 20x20 cm, plastic packing ,pH meter, sekop dan
Termometer .
3.3.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum keanekaragaman makrozoobentos
adalah Air, Alkohol dan Formalin.
3.4 Cara Kerja
3.4.1 Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel bentos dilakukan didalam air, nampan 20x20 diletakkan


didasar perairan lalu ditekan dan hasil cetakan nampan digali sedalam 10 cm dengan
sekop kemudian substrat yang telah diambil dimasukkan kedalam plastk packing dan
diberi formalin secukupnya, sampel diambil dari dua titik yaitu tepi dititik 1 dengan
2x pengambilan dengan posisi acak, dan titik 3 dengan 2x pengambilan dengan
sistem acak pula.
3.4.2 Parameter Lingkungan
3.4.2.1 Kedalaman
Kedalaman diukur menggunakan keeping seci , keeping seci cukup
ditenggelamkan hingga ujungnya mencapai dasar. Dan dilihat ukuran kedalaman air
pada batang yang telah dilengkapi meteran gulung pada batangnya.
3.4.2.2 Kecerahan
Kecerahan air diukur menggunakan keeping seci , ditenggelam kan keeping seci
kedalam air dengan perlahan perhatikan warna putih pada keeping seci, pada saat
keeping seci ditenggelamkan pada saat pola putih tidak kelihatan maka diukur berapa
dalamnya dari permukaan air.

3.4.2.3 Suhu
Pengukuran suhu pada lokasi diukur menggunakan thermometer,
dtenggelamkan thermometer didalam air , lalu dibiakan beberapa saat sampai tinggi
air raksa dalam termometer stabil. Lalu di lihat suhu yang terbaca pada termometer.
3.5 Analisis Data
Dari data yang diperoleh dilakukan analisis dengan rumus:
3.5.1 Kerapatan Jenis (K)
Kerapatan Jenis (K) merupakan jumlah tegakan jenis ke-i dalam suatu unit area.
Nilai ini dihitung dengan rumus:
Kerapatan (K)

Jumlah individu suatu jenis


Jumlah unit contoh (sampling unit)

3.5.2 Kerapatan Relatif (KR)


Kerapatan relatif (KR) merupakan perbandingan jumlah spesies dengan jumlah
total individu seluruh spesies. Nilai ini dihitung dengan rumus:
Kerapatan Relatif (KR) =
Kerapatan suatu jenis x 100%
Kerapatan semua jenis
3.5.3 Frekuensi Jenis (F)
Frekuensi jenis (F) merupakan peluang suatu jenis spesies ditemukan dalam
titik contoh yang diamati, dirumuskan sebagai berikut :
Frekuensi (F) =
Jumlah petak contoh dimana spesies ditemukan
Jumlah total petak contoh yang akan diamati
3.5.4 Frekuensi Kehadiran (FK)
Frekuensi Kehadiran (FK) adalah perbandingan antara jumlah unit yang
ditemukan jenis dan jumlah unit semua contoh, dirumuskan sebagai berikut :
Frekuensi Kehadiran (FR) =

Jumlah unit contoh ditemukan suatu jenis x100%


Jumlah senua unit contoh
Dengan nilai FK : 0-25% (sangat jarang); 25-50 (jarang); 50-75% (sering); >75%
(sangat sering)

3.5.5 Indeks keragaman Shannon-Wienner


Untuk melihat keanekaragaman jenis zoobenthos digunakan indeks
keanekaragaman Shannon Wienner (Odum, 1993) dengan rumus sebagai berikut :
s

H = pi ln pi
'

i=1

Keterangan:
H = Indeks keanekaragaman jenis
Pi = ni/N
ni = Jumlah individu jenis ke-i
N = Jumlah total individu
dengan nilai H1 :
0 < H< 2,302
= keanekaragaman rendah
2,302 < H < 6,907 = keanekaragaman sedang
H > 6,907
= keanekaragaman tinggi
3.5.6

Indeks Dominansi

Untuk melihat

ada

atau tidaknya

jenis yang mendominasi pada suatu

ekosistem dapat dilihat dari nilai indeks dominansi Simpson (Odum, 1993) dengan
rumus sebagai berikut :
s

C= ( pi)2
i=1

Keterangan:
C = Indeks dominansi jenis
Pi = ni/N
ni = Jumlah individu jenis ke-i
N = Jumlah total individu
3.5.7

Indeks similaritas
Indeks similaritas Sorensen digunakan membandingkan kesamaan antar stasiun

berdasarkan parameter biologi antar jenis spesies. Rumus yang digunakan:

So =

2C
(Si+ Sj)

Keterangan:
So: Indeks Sorensen
C: jumlah jenis yang ditemukan pada dua stasiun
Si: jumlah spesies yang ditemukan pada stasiun-i
Sj:jumlah spesies yang ditemukan distasiun j