Anda di halaman 1dari 17

Tekanan darah

Tekanan darah berarti tenaga yang digunakan oleh darah terhadap setiap satuan dinding
pembuluh darah tersebut. Bila orang mengatakan bahwa tekanan darah 50 mmHg, ini berarti
bahwa tenaga yang digunakan tersebut akan cukup untuk mendorong suatu kolom air raksa ke
atas setinggi 50 mmHg (Guyton dan Hall, 2007). Menurut D.G Beevers (2002) tekanan darah
adalah tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung memompakan darah ke seluruh tubuh.
Pengaturan tekanan darah arteri rata-rata dilakukan dengan mengontrol curah jantung, resistensi
perifer total, dan volume darah (Sherwood, 2001). Tekanan sistolik di sistem vaskuler mengacu
pada tekanan puncak yang tercapai selama kontraksi ventrikel, demikian juga, tekanan diastolik
mengacu pada tekanan terendah selama diastol.
Klasifikasi tekanan darah untuk usia 18 tahun ada 3 sumber yakni dari Joint National
Committee (JNC) VII yang biasanya digunakan di negara Amerika Serikat, WHO yang
digeneralisasikan ke seluruh dunia, serta dari hasil Perhimpunan Hipertensi Indonesia.
Klasifikasi tekanan darah dari JNC VII, WHO dan hasil Perhimpunan Hipertensi Indonesia
tersebut dapat kita lihat pada tabel-teabel berikut :
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut Joint National Committee VII
Klasifikasi

Tekanan sistole

Tekanan diastole

(mmHg)

(mmHg)

Normal

< 120

< 80

Pre Hipertensi

120 139

80 89

Stadium I

140 159

90 99

Stadium II

160

100

Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia


Kategori

Tekanan

Sistolik Dan/Atau

(mmHg)

Tekanan
(mmHg)

Normal

< 120

Dan

< 80

Pre Hipertensi

120 139

Atau

80 89

Hipertensi Tahap 1

140 159

Atau

99 99

Hipertensi Tahap 2

160

Atau

100

sistol 140

Dan

< 90

Hipertensi
terisolasi

Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO


Klasifikasi

Tekanan sistolik Tekanan Diastolik


(mmHg)

(mmHg)

Optional

< 120

<80

Normal

< 130

< 85

Tingkat 1 (hipertensi ringan)

140 159

90 99

Sub grup : perbatasan

140 149

90 94

Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160 179

100 109

Tingkat 3 ( hipertensi berat)

180

110

Hipertensi sistol terisolasi

140

< 90

Sub grup : perbatasan

140 149

< 90

Diastolik

Tabel 3. Klarifikasi Hipertensi Menurut WHO


Klasifikasi

Tekanan sistolik Tekanan diastolik


(mmHg)

(mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Tingkat 1 (hipertensi ringan)

140 159

90 99

Sub grup : perbatasa

140 149

90 94

Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160 179

100 109

Tingkat 3 (hipertensi berat)

180

110

Hipertensi sistol terisolasi

140

< 90

Sub grup

140 149

< 90

a. fisiologi tekanan darah


tekanan darah tergantung pada curah jantung dan resistensi perifer total
(sherwood, 2001).
curah jantung atau jumlah darah yang dipompa oleh jantung tiap menit
dipengaruhi oleh denyut jantung, isi sekuncup, dan aliran balik vena. Pengaruh denyut
jantung terhadap curah jantung tergantung dari keseimbangan rangsangan simpatis dan
parasimpatis. rangsang simpatis dapat meningkatkan denyut jantung sedangkan rangsang
parasimpatis memberikan pengaruh sebaliknya. isi sekuncup adalah jumlah darah yang
dapat dikeluarkan oleh ventrikel di tiap denyutnya. isi sekuncup dipengaruhi oleh volume
akhir diastolik, total tahanan perifer dan kekuatan kontraksi ventrikel (guyton dan Hall,
2007)
aliran balik vena terjadi karena daya isap jantung, kontraksi-relaksasi otot-otot
atau pompa otot dan pompa pernapasan. sedangkan alirannya ditentukan oleh perbedaan
tekanan antara ventrikel kiri dengan ventrikel kanan (snell,2006)

resistensi perifer merupakan tahanan pembuluh darah (terutama arteriol) terhadap


tekanan darah. resistensi ini terutama dipengaruhi oleh jari-jari pembulu darah dan
viskositas darah. apabila viskositas darah meningkat akan menyebabkan peningkatan
resistensi dan apabila jari-jari pembuluh darah semakin kecil maka resistensi semakin
besar. panjang pembuluh darah pada persamaan diatas tidak mempunyai pengaruh yang
besar karena pembuluh darah didalam tubuh relatif konstan.
faktor-faktor yang mempengaruhi jari-jari pembuluh darah yaitu faktor intrinsik
(berupa perubahan metabolik lokal dan pengeluaran histamin) dan faktor ekstrinsik
(berupa kontrol saraf dan hormon). perubahan metabolik yang dapat menyebabkan
relaksasi otot polos arteriol (vasodilatasi) adalah peningkatan karbondioksida (CO2) dan
asam serta osmolaritas, penurunan oksigen (O2), pengeluaran prostaglandin dan adenosin.
peningkatan aktifitas simpatis menimbulkan vasokonstriksi arteriol di mana serat-serat
saraf ini mempersarafi otot polos arteriol di seluruh tubuh, kecuali di otak. hormon yang
berpengaruh terhadap jari-jari pembuluh adalah norepinefrin dan epinefrin yang
dihasilkan oleh medulla adrenal yang dirangsang oleh adanya perangsangan simpatis.
selain itu, hormon angiotengsin II dan vasopressin menyebabkan adanya resistensi garam
serta air dan vasokontriksi pembuluh darah (silbenagi dan lang, 2007)
b. faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah
peningkatan tekanan darah oleh banyak peneliti dianggap sebagai suatu keadaan
patologis yang multifaktorial (halim dkk,2006). faktor yang mempengaruhi antara
lain: 1) Umur, kondisi kardivaskuler mengalami penurunan pada usia lanjut sehingga
mudah mengalami gangguan fungsi (kardi, 2004). hal ini dikarenakan semakin
bertambahnya usia maka tekanan darah semakin tinggi, sebagai oleh karena
timbulnya arterosklerosis, 2) pada wanita sebelum menopause 5 10 mmHg lebih
rendah dari pria seusianya, tetapi setelah menopause tekanan darahnya lebih
meningkat, 3) BMI adalah berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan
pangkat dua (dalam meter). orang dengan obesitas atau Body Mass /index (BMI)
lebih dari normal cenderung memiliki tekanan darah tinggi. BMI lebih dari 23 kg/m 2
memiliki resiko hipertensi, 4) syatria dan rahmatullah (2006) dalam penelitiannya
menyebutkan bahwa olahraga teratur olahraga yang menggunakan lengan minimal 3

kali seminggu dapat menurunkan

tekanan darah yang bermakna. olahraga juga

memiliki efek yang posotif terhadap stressmental. di samping itu, olahraga teratur
juga dapat mengubah faktor-faktor kardiovaskuler, misalnya peredaran darah jantung
yang membaik, dan meningkatkan kolesterol HDL, 5) Merokok juga merupakan
faktor resiko mayor terhadap penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskuler.
zat-zat kimia dalam asap rokok terserap ke dalam aliran darah dan membuat pebuluh
darah menyempit serta membuat sel darah merah menjadi lebih lengket sehingga
mudah membentuk gumpalan. jumlah rokok yang dihisap juga berpengaruh,
risikonya meningkat sesuai tingkat konsumsi, yaitu ringan (<10 batang sehari),
sedang (10-20 batang sehari), dan perokok berat (>20 batang sehari) (davidson,
2003), 6) mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak dapat meningkatkan
tekanan darah, sehingga peluang untuk terkena hipertensi semakin tinggi (enggar dan
puruite, 2008), 7) kondisi psikis seseorang dapat mempengaruhi tekanan darah,
misalnya kondisi psikis seseorang yang mengalami stress atau tekanan. respon tubuh
terhadap stres disebut alarm yaitu reaksi pertahanan atau respon perlawanan. kondisi
ditandai dengan peningkatan tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan
ketegangan otot. selain itu stres juga dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan
aliran darah ke otot-otot angka dan penurunan aliran darah ke ginjal, kulit, dan
saluran pencernaan (guyton dan hall, 2007), 8) faktor genetik dalam hipertensi
termasuk golongan multifaktor, yaitu interaksi sejumlah gen dengan faktor
lingkungan(murray, 2003). secara umum bila dalam satu keluarga ada yang menderita
hipertensi pada anggota keluarga yang lainnya di masa mendatang juga dapat
meningkat (kusuma,2009).
c. hipertensi
a. pengertian hipertensi
tekanan darah digolongkan normal jika tekanan darah sistolik tidak
melampaui 140 mmHg dan tekanan darah diastolik tidak melampaui 90 mmHg
dalam keadaan istirahat, sedangkan hipertensi adalah tekanan darah normal
bervariasi sesuai usia (staessen dkk, 2003)

tekanan darah normal tinggi (prehipertensi) yaitu sistolik 130 s/d 139
mmHg, diastolik 85 s/d 89 mmHg mempunyai resiko tinggi untuk kejadian
kardiovaskuler dibandingkan dengan kelompok tekanan darah optimal sistolik <
120 mmHg dan diastolik 80 mmHg. secara umum seseorang dikatakan menderita
hipertensi jika sistolik/diastolik 140/90 mmHg (suyono, 2001)
penyempitan pembuluh nadi atau arterosklerosis merupakan gejala
awalyang umum terjadi pada hipertensi. karena arteri-arteri mengeras dan
meengerut dalam arterosklerosis, darah memaksa melewati jalan yang sempit itu,
sebagai hasilnya tekanan darah menjadi tinggi (wirakusumah, 2002)
hipertensi akan memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh
sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan
berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi
kerusakan pada pembuluh darah jantung), serta penyempitan ventrikel kiri/bilik
kiri (terjadi pada otot jantung). selain itu dapat pula menyebabkan gagal ginjal,
penyakit pembuluh lain, diabetes melitus dan sebagainya.
hipertensi dianggap sebagai faktor utama stroke, di mana stroke
merupakan penyakit yang sulit disembuhkan dan mempunyai dampak yang sangat
luas terhadap kelangsungan hidup penderita dan keluarganya. dikemukakan
bahwa penderita dengan tekanan diastolik di atas 95 mmHg mempunyai risiko
dua kali lebih besar untuk terjadinya infark otak dibanding dengan tekanan
diastolik kurang dari 80 mmHg, sedangkan kenaikan sistolik lebih dari 180
mmHg mempunyai resiko tiga kali terserang stroke iskemik dibandingkan dengan
tekanan darah kurang 140 mmHg. akan tetapi pada penderita usia lebih dari 65
tahun risiko stroke hanya 1,5 kali daripada normotensi (yundini, 2006).
sasaran pengobatan hipertensi adalah untuk menurunkan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskuler dan ginjal. dengan menurunkan tekanan darah kurang
dari 140/90 mmHg, diharapkan komplikasi akibat hipertensi berkurang. terapi non
farmakaologi antara lain mengurangi asupan garam, olahraga, menghentikan

rokok, dan mengurangi berat badan dapat dimulai sebelum atau bersama-sama
obat farmakologi.
b. patogenesis hipertensi
tekanan darah yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem
sirkulasi dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (cardiac output/CO) dan
dukungan dari arteri (peripheral resistance/PR). fungsi kerja masing-masing
penentu tekanan darah ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor-faktor
tersebut, yang ditandai dengan peningkatan curah jantung dan/atau ketahanan
periferal. selengkapnya dapat dilihat pada bagan 1.

(kaplan,2004)

c. gala klinis hipertensi


Menurut Elizabeth J. Corwin, sebagian besar orang hipertensi tanpa
disertai gejala yang mencolok dan manifestesi klinis timbul setelah bertahuntahun berupa 1) Nyeri kepala saat terjaga, kadang disertai mual dan muntah,
akibat tekanan darah intrakranium, 2) Penglihatan kaur akibat kerusakan retina
karena hipertensi, 3) Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan
syaraf, 4) Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus,
5) Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler. Peninggian tekanan darah
kadang merupakan satu-satunya gejala, terjadi komplikasi padaginjal, mata, otak,
atau jantung. Gejala lain adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga
berdengung, rasa berat di engkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan
pusing.
d. Diagnosis
Menurut Slamet Suyono (2001), evaluasi pasien hipertensi mempunyai
tiga tujuan yakni 1) Mengidentifikasi penyebab hipertensi, 2) Menilai adanya
kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskuler, beratnya penyakit, serta
respon terhadap pengobatan,

3) mengidentifikasi

adanya

faktor risiko

kardivaskuler yang lain atau penyakit penyerta yang ikut menentukan prognosis
dan ikut menentukan panduan pengobatan.
Data yang diperlukan untuk evaluasi tersebut diperoleh dengan cara
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan
penunjang. Peninggian tekanan darah kadag sering merupakan satu-satunya tanda
klinis yang akurat. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran seperti
faktor pasien, faktor alat dan tempat pengukuran.
Anamnesis yang dilakukan meliputi tingakt hipertensi dan lama
menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan seperti penyaklit
jantung koroner,penyakit serebrovaskuler dan lainnya. Apakah terdapat riwayat
penyakit dalam keluarga, gejala yang berkaitan dengan penyakit hipertensi,
perubahan aktifitas atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat

dan faktor psikososial keluarga, pekerjaan, dan lain-lain). Dalam pemeriksaan


fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak dua
menit, kemudian diperiksa ulang dengan kontralateral (Mansjoer, 2006)
e. Pengukuran tekanan darah
Tekanan darah diukur berdasarkan berat kolum air raksa yang harus
ditanggung yang tingginya dinyatakan dalam milimeter. Tekanan darah arteri
yang normal adalah 110-120 mm (sistolik) dan 65-80 mm (diastolik). Alat untuk
mengukur tekanan darah disebut spigmomanometer. Ada beberapa jenis
spigmomanometer, tetapi yang paling umum terdiri dari dari sebuah manset karet,
yang dibalut dengan bahan yang difiksasi di sekitarnya secara merata tanpa
menimbulkan kontraksi. Sebuah selang kecil dihubungkan dengan mansert karet
ini. Dengan alat ini, udara dapat dipompakan ke dalamnya, mengembangkan
manset karet tersebut dan menekan ekstremitas dan pembuluh darh didalamnya.
Bantalan ini dihubungkan dengan sebuah manometer yang mengandung air raksa
sehingga udara didalamnya dapat dibaca sesuai skala yang ada (Arieska, 2005).
Untuk mengukur tekanan darah, manset karet difiksasi melingakari lengan
dan pulsasi nadi pada pergelangan tangan diraba dengan satu tangan, sementara
tangan yang lain digunakan untuk mengembangkan manset sampai suatu tekanan,
di mana pulsasi arteri radialis tidak teraba lagi. Stetoskop diletakkan di atas
pulsasi arteri brakialis pada fossa cubiti dan tekanan pada manset karet diturunkan
perlahan dengan melonggarkan katupnya. Ketika tekanan diturunkan, mula- mula
tidak terdenga r suara, namun ketika mencapai tekanan darah sistolik terdengar
suara ketukan (tapping sound) pada stetoskop (korotkof fase 1). Pada saat itu
tinggi air raksa di dalam manometer harus dicatat. Ketika tekanan di dalam
manset diturunkan, suara semakin keras sampai saat tekanan darah diastolik
tercapai, karakter bunyi tersebut berubah dan meredup (korotkof fase IV).
Penurunan tekanan manset lebih lanjut akan menyebabkan bungyi mnghilang
sama sekali (korotkoff fase V). tekanan diastolik dicatat pada saat karakter bunyi
tersebut (|Gunawan 2001).

Menurut Gunawan Lany (2005), dalam pengukuran tekanan darah ada


beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu 1) Pengukuran tekanan darah boleh
dilaksanakan pada posisi duduk ataupun berbaring. Namun yang penting, lengan
harus dapat diletakkan dengan santai, 2) pengukuran tekanan darah dalam posisi
duduk, akan memberikan angka yang agak lebih tinggi dibandingkan dengan
posisi berbaring meskipun selisihnya relatif kecil, 3) Tekanan darah juga akan
dipengaruhi kondisi saat pengukuran. Pada orang yang bangun tidur, akan
didapatkan tekanan darah paling rendah. Tekanan darah yang diukur setelah
berjalan kaki atau aktifitas fisik lain akan memberi angka yang lebih tinggi. Di
samping itu, juga tidak boleh merokok atau minum kopi karena merokok atau
minum kopi akan menyebabkan tekanan darah sedikit naik, 4) Pada pemeriksaan
kesehatan, sebaiknya tekanan darah diukur dua atau tiga kali berturut-turut, dan
pada detakan yang terdengar tegas pertama kali mulai dihitung. Jika hasilnya
berbeda maka nilai yang dipakai adalah nilai yang terendah. 5) ukuran manset
harus sesuai dengan lingkar lengan, bagian yang mengembang harus melingkari
80 % lengan dan mencakup dua pertiga dari panjang lengan atas.
f. Pemeriksaan penunjang hipertensi
Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan laboratorium rutin yang
dilakukan sebelum memulai terapi yang bertujuan untuk menentukan adanya
kerusakan organ dan faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi.
Biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium,
kreatinin, guia darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL). Sebagai tambahan
dapat dilakuakan pemeriksaan alin, sperti klirens kreatinin, protein urin 24 jam,
asam urat, koledterol LDL, TSH, dan ekokardografi (Mansjoer, 2006)
Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam darah dipakai untuk
menilai fungsi ginjal. Kadar kreainin serum lebih berarti dibandingkan dengan
ureum sebagai indikator laju glomerulus (glomerolar filtration rarte) yang
menunjukkan derajat fungsi ginjal. Pemeriksaan yang lebih tepat adalah
pemeriksaan klirens atau yang lebih populer disebut creatinin clearense test

(CTC), pemeriksaan kalium dalam serum dapat membantu menyingkirkan


kemungkinan aldosteronisme primer pada pasien hipertensi (Lany, 2005)
Menurut Slamet Suyono (2001), pemeriksaan urinalisa diperlukan karena
selain dapat membantu menegakkan diagnosis penyakit ginjal, juga karena
proteinuria ditemukan pada hampirseparuh pasien. Sebaiknya pemeriksaan
dilakukan pada urin segar.
g. Jenis-jenis hipertensi
Berdasarkan penyebab, hipertensi dibagi menjadi menjadi dua golongan
hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya
dijumpai kurang lebih 90 % dan hipertensi sekunder yang penyebabnya diketahui
yaitu 10 % dari seluruh hipertensi (Lany, 2005)
1)

Hipertensi primer
Merupakan hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan
jelas. Berbagai faktor yang diduga turut berperan sebagai penyebab
hipertensi primer seperti bertambah umur, stres psikologis, dan hereditas
(keturunan). Sekitar 90 % pasien hipertensi diperkirakan termasuk kategori
ini. Pengobatan hipertensi primer sering dilakukan adalah membatasi
konsumsi kalori bagi orang yang kegemukan (obes), membatasi konsumsi
garam, dan olahraga. Obat antihipertensi mungkin pula digunakan tetapi
kadang-kadang menimbulkan efek samping seperti meningkatnya kadar
kolesterol, menurunnya kadar natrium (Na) dan kalium (K) di dalam tubuh
dan dehidrasi.

2)

Hipertensi sekunder
Artinya penyebab boleh dikatakan telah pasti yaitu hipertensi yang
diakibatkan oleh kerusakan suatu organ. Yang termasuk hipertensi sekunder
seperti hipertensi karena penyakit jantung dan ginjal, hipertensi diabetes
melitus, dan hipertensi sekunder lain yang tidak spesifik (Kaplan, 2004).

h. Faktor resiko hipertensi


Faktor resiko hipertensi dibedakan atas:
1)

Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol adalah a) umur, arteri kehilangan


elastisitasnya atau kelenturannya, terjadi perubahan alami pada jantung,
pembuluh darah dan hormon yang seiring dengan bertambahnya umur
(Staessen, 2003), b) jenis kelamin, wanita lebih banyak menderita hipertensi
dibandig karena terdapatnya hormon estrogen pada wanita yang secara tidak
langsung ikut berpengarh dalam mempengaruhi tekanan darah, c) riwayat
keluarga, Sheps (2005) dalam penelitiannya mengatakan bahwa hipertensi
cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika seseorang dari orang tuanya
mempunyai hipertensi, kemungkinan seseorang dapat terkena penyakit
tersebut 60 %, d) genetik, peran faktor genetik terhadap timbulnya
hipertensi lebih banyak terjadi pada kembar monozigot daripada
heterozigot.

2)

Faktor yang dapat diubah/dikontrol adalah a) kebiasaan merokok, zat-zat


kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui
rokok, yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan
hipertensi (Nurkhalida, 2003). Mekanisme lain dalam peningkatan tekanan
darah adalah nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil di
paru-paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa detik
nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan
memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin).
Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa
jantung bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi (Sheps, 2005),
b) konsumsi garam, pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi
terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan
darah (Lany, 2005). Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh,
karena menarik cairan di luar sel agar tidak keluar, sehingga akan
meningkatkan volume dan tekanan darah. Konsumsi garam yang dianjurkan

tidak lebih dari 6 gram/hari (Kaplan, 2004), c) konsumsi lemak jenuh


mengakibatkan risiko ateroskelosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan
darah (Sheps, 2005), d) penggunaan jelantah, secara kimia kandungan
minyak jelantah adalah aam lemakjenuh (ALJ) dan asam lemak tidak jenuh
(ALTJ). Dalam jumlah kecil terdapat lesitin, cephalin, fostatida, sterol, asam
lemak bebas, lilin, pigmen laut, karbohidrat dan protein. Penggunaan
minyak goreng sebagai media penggorengan bisa menjadi rusak karena
minyak goreng tidak tahan terhadap panas. Bila mengkomsumsi gorengan
dari minyak jelantah, akan menyebabkan hiperkolesterolemia (Khomsan,
2003), e) kebiasaan konsumsi minum-minuman beralkohol menyababkan
kenaikan tekanan darah. Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat
alkohol masih belum jelas. Namundiduga, peningkatan kadar kortisol dan
peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah merah berperan
dalam menaikkan darah (Nurkhalida, 2003), f) obesitas, di mana berat badan
mencapai indeks massa tubuh > 25 merupakan salah satu faktor resiko
terhadap timbulnya hipertensi. Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau
normal,

sedangkan aktifitas

renin plasma yang rendah. Obesitas

meningaktkan risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin


besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok
oksigen dan makanan ke jaringa tubuh. Ini berarti volume darah yang
beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi
tekanan lebioh besar pada dinding arteri. Kelebihan berat badan juga
meningkatkan frekusnsi denyut jantung dan kadar insulin dalam darah.
Peningkatan insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan air (Yundini,
2006). Pada penelitian lain dibuktikan bahwa curah jantung dan volume
darah sirkulasi pasien obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan
dengan penderita yang mempunyai berat badan normal dengan tekanan
darah yang setara (Suyono, 2001), g) olahraga-olahraga isotonik dan teratur
dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.
Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung
yang lebih tinggi sehingga oto jantungnya harus bekerja lebih keras pada

setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus memompa,
makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri (Sheps, 2005), h) stres
dapat pula meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila stres
menjadi berkepanjangan dapat berakibat pada berakibat tekanan darah
menajdi lebih tinggi.
i. Penatalaksanaan hipertensi
1)

Penatalaksanaan non farmakologis


Pendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal sebelum
penambahan obat-obatan hipertensi. Sedangkan pasien hipertensi yang
terkontrol, pendekatan nonfarmakologis ini dapat membantu pengurangan
dosis obat pada sebagian penderita, oleh karena itu, modifikasi gaya hidup
merupakan hal yang penting diperhatikan, karena berperan dalam
keberhasilan penanganan hipertensi (Nurkhalida, 2003). Menurut beberapa
ahli, pengobatan nonfarmakologis, terutama pada pengobatan hipertensi
derajat 1. Pada hipertensi derajat 1, pengobatan secara nonfarmakologis
kadang-kadang dapat mengendalikan tekanan darah sehingga pengobatan
farmakologis tidak diperlukan atau pemberiaannya dapat ditunda. Jika obat
antihipertensi diperlukan, pengobatan nonfarmakologis dapat dipakai
sebagai pelengkap untuk mendapatkan hasil pegobatan yang lebih baik
(Suyono, 2001). Pendekatan nonfarmakologis dibedakan menjadi beberapa
hal :
a) Menurunkan faktor risiko yang menyebabkan aterosklerosis. Misalnya
berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol. Menurut Corwin (2001)
berhenti merokok penting untuk mengurangi efek jangka panjang
hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke
berbagai organ dan dapat meningkatkan beban kerja jantung.
b) Olahraga dan aktifitas fisik untuk mengatur tekanan darah, dan menjaga
kebugaran tubuh. Olahraga yang teratur dibuktikan dapat menurunkan
tekanan perifer sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Menurut

Dede Kusmana (2009), beberapa patokan berikut ini perlu dipenuhi


sebelum memutuskan berolahraga, antara lain: (1) Penderita hipertensi
sebaiknya dikontrol atau dikendalikan tanpa atau dengan obat terlebih
dahulu tekanan darahnya, sehingga tekanan darah sistolik tidak
melebihi 160 mmHg dan tekanan darah diastolik tidak melebihi `100
mmHg, (2) sebelum berolahraga terlebih dahulu mendapat informasi
mengenai penyebab hipertensi yang sedang diderita, (3) Sebelum
melakukan latihan dilakukan uji latih jantung dengan beban
(treadmill/ergometer) agar dapat dinilai reaksi tekanan darah serta
perubahan aktifitas listrik antung (EKG), sekaligus menilai tingkat
kapasitas fisik, (4) Pada saat uji latih obat yang sedang diminum tetap
diteruskan sehingga dapat diketahui efektifitas obat terhadap kenaikan
beban. (5) Latihan yang diberikan ditujukan untuk meningkatkan daya
tahan tubuh da tidak menambah peningkatan darah. (6) Olahraga yang
bersifat kompetisi dan peningkatan kekuatan tidak diperbolehkan. (7)
Secara teratur memeriksakan tekanan darah sebelum dan sesudah
latihan, (8) Umumnya penderita hipertensi mempunyai kecenderungan
ada kaitannya degan beban emosi (stres). Oleh karena itu disamping
olahraga yang bersifat fisik dilakukan pula olahraga oengendalian
emosi, artinya berusaha mengurangi ketegangan emosional yang ada.
(9) jika hasil latihan menunjukkan penurunan tekanan darah, maka
dosis/takaran obat yang sedang digunakan sebaiknya dilakukan
penyesuaian (Kusmana, 2009).
c) Perubahan pola makan dapat membantu mengontrol tekanan darah.
Beberapa pola maka yang dianjurkan adalah (1) Mengurangi asupan
garam, pada hipertensi derajat I, pengurangan asupan garam dan upaya
penurunan berat badan dapat digunakan sebagai langkah awal
pengobaan hipertensi. Nasihat pengurangan asupan garam harus
memperhatikan kebiasaan makan pasien, dengan memperhitungkan
jenis makanan tertentu yang banyak mengandung garam. Pembatasan
asupan garam sampai 60 mmol per hari, berarti tidak menambahkan

garam pada waktu makan, memasak tanpa garam, menghindari


makanan yang sudah diasinkan, dan menggunakan mentega yag bebas
garam. Cara tersebut akan sulit dilaksanakan karena akan mengurangi
asupan garam secara ketat dan akan mengurangi kebiasaan makan
pasien secara drastis (Khomsan, 2003). Beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk mengurangi konsumsi garam adalah memperbanyak
makanan segar dan mengurangi makanan yang diawetkan, memilih
produk dengan natrium rendah, tidak menambahkan garam pada
makanan saat memasak, tidak menambah garam saat di meja makan,
membatasi penggunaan saus-sausan, dan membilas makanan dalam
kaleng, (2) Diet rendah lemak jenuh. Penurunan konsumsi lemak jenuh,
terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan
peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang berasal dari
minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang bersumber dari
tanaman dapat menurunkan tekanan darah, (3) Memperbanyak
konsumsi sayuran, buah-buahan, dan susu rendah lemak. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa bebrapa mineral bermanfaat mengatasi
hipertensi. Kalium dibuktikan erat kaitannya dengan penuruna tekanan
darah arteri dan mengurangi resiko terjadinya stroke. Selain itu,
mengkonsumsi kalsium dan magnesium bermanfaat dalam penurunan
tekana darah. Banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan
mengandung banyak mineral, seperti seledri, kol, jamur (banyak
mengandung

kalium),

kacang-kacangan

(banyak

mengandung

magnesium). Sedangkan susu dan pruduk susu mengandung banyak


kalsium (Nurkhalida, 2003)
d) Menghilangkan stres. Stres menjadi masalah bila tuntutan dari
lingkungan hampir atau bahkan sudah melebihi kemampuan orang
untuk mengatasinya. Cara untuk menghilangkan stres yaitu perubahan
dalam kehidupan rutin sehari-hari dapat meringankan beban stres.
Perubahan-perubahan itu ialah: (1) merencanakan semuanya dengan
baik. Membuat jadwal tertulis untuk kegiatan setiap hari sehingga tidak

akan terjadi bentrokan acara atau terpaksa harus terburu-buru untuk


tepat janji atau aktifitas, (2) menyederhanakan jadwal dan bekerja
dengan lebih santai, (3) membebaskan diri dari stres yang berhubungan
dengan pekerjaan (4) menyiapkan cadangan untuk keuangan (5)
berolahraga (6) tidur dan istirahat yang cukup (7) mengubah gaya dan
perilaku saat sedang dilanda strs, (8) menyediakan waktu untuk keluar
dari kegiatan rutin, (9) membina hubungan sosial yang baik, (10)
mengubah pola pikir agar dapat menekan perasaan kritis atau negatif
terhadap diri sendiri, (11) menyediakan waktu unutk hal-hal yang
memerlukan perhatian khusus. (12) mencari humor, (13) berserah diri
kepada Tuhan (Sheps, 2005)
2)

Penatalaksaan farmakologis
Selain cara pengobatan nonfarmakologis, penatalaksanaan utama
hipertensi primer adalah memberikan obat antihipertensi berdasarkan
beberapa faktor seperti derajat peninggian tekanan darah, terdapatnya
kerusakan organ target dan terdapatnya manifestasi klinis penyakit
kardiovaskuler atau faktor risiko lain (Suyono, 2001). Terapi dengan
pemberian obat antihipertensi terbukti dapat menurunkan sistole dan
mencegah terjadinya stroke pada pasien usia 70 tahun atau lebih.
Menurut Arif Mansjoer (2001), penatalaksanaan dengan obat
antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis rendah
kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai umur dan kebutuhan. Terapi
yang optimal harus efektif 24 jam dan lebih disukai dosis tunggal karena
kepatuhan lebih baik, lebih mudah dan dapat mengontrol hipertensi terus
menerus dan lancar, dan melindungi pasien terhadap risiko dari .