Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Nyeri punggung bawah adalah gejala yang paling sering timbul di
masyarakat. Hampir setiap orang pernah mengalami episode nyeri punggung
bawah di sepanjang hidupnya. Nyeri dapat bervariasi dari berat dan berlangsung
lama sampai sedang dan sebentar. Ini akan membaik dalam beberapa minggu bagi
kebanyakan orang.
Anamnesa dan pemeriksaan fisik memegang peranan penting untuk bisa
mengetahui penyebab dari terjadinya nyeri punggung bawah ini seperti, riwayat
trauma, demam, riwayat kanker, penggunaan steroid yang lama, dan lain-lain.
Salah satu penyebab timbulnya keluhan nyeri punggung bawah adalah
Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Nyeri punggung bawah pada HNP dapat berupa
nyeri tumpul maupun tajam, selain memberikan keluhan klinis berupa nyeri
punggung bawah, HNP juga dapat bermanifestasi menjadi keluhan kram otot,
kelemahan kaki, hilangnya fungsi kaki, hilangnya control bladder dan bowel, dan
yang paling khas adalah adanya sciatica.
HNP perlu mendapatkan perhatian khusus karena keluhan yang ada pada
penyakit ini dapat mengganggu aktivitas keseharian dari penderita dan pada
beberapa kasus HNP dengan keluhan berat terkadang memerlukan tindakan
operasi yaitu laminotomy dan discectomy.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN

Nyeri pinggang bawah adalah gejala nyeri pinggang berkaitan dengan


banyak kelainan klinis dan kebanyakan disebabkan berdasarkan gangguan
mekanik seperti deformitas anatomik dari struktur (hernia nucleus pulposus).
Nyeri Pinggang Bawah Kronis
Nyeri pinggang dikatakan kronis bila lamanya lebih dari 12 minggu.
Dapat disebabkan oleh gangguan mekanis maupun non mekanis, dimana
lamanya sakit bisa berbulan bulan hingga bertahun-tahun. Masing-masing
kelainan seperti stenosis spinal dapat didiagnosa dari riwayat, pemeriksaan
fisik dan laboratorium. Karakteristik yang berkaitan dengan penyakit ini
dapat kita lihat pada tabel :

Kelainan Mekanik Berkaitan dengan LBP Kronis


Hernia Nukleus

Osteoarthritis

Spinal Stenosis

30-50 tahun

>50 tahun

>60 tahun

Lokasi

Pinggang

Pinggang

Tungkai

Onset

Akut

Akut

Buruk

Berdiri

Menurun

Meningkat

Meningkat

Duduk

Meningkat

Menurun

Menurun

Pulposus
Umur
Pola nyeri

Membungkuk

Meningkat

Menurun

Menurun

+ (dengan tekanan)

CT

Hernia diskus

Artritis sendi

Penyempitan kanal

MR scan

Hernia diskus

Straight

leg

raising
X- ray

Penyempitan kanal

HNP yang sering disebut pula sebagai slipped disc adalah terjebol atau
menonjolnya nukleus pulposus dari tempatnya semula melalui bagian
terlemah dari diskus.

B. FAKTOR RESIKO DAN PATOFISIOLOGI HNP


Banyak faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya HNP:
-

Lifestyle seperti pengguna tembakau, kurangnya latihan atau olahraga,

dan juga inadekuat nutrisi yang dapat mempengaruhi kesehatan diskus.


Usia, perubahan biokimia yang natural menyebabkan diskus menjadi
lebih kering yang akhirnya menyebabkan kekakuan atau elastisitas dari

diskus.
Postur tubuh

yang

tidak

proposional yang

dikombinasi

dengan

mekanisme gerak tubuh yang tidak benar dapat menyebabkan stres dari
-

lumbar spine.
Faktor indeks massa tubuh yang meliputi berat badan, tinggi badan.
Trauma.
HNP dapat terjadi tiba-tiba ataupun perlahan-lahan. Empat langkah

terjadinya HNP adalah:


1. Degenerasi diskus: perubahan kimia yang terkait dengan usia menyebabkan
diskus menjadi lemah.
2. Prolapse: bentuk ataupun posisi dari diskus dapat berubah yang ditunjukkan
dengan adanya penonjolan ke spinal kanal. Hal ini sering pula disebut
dengan bulge atau protrusion.

3. Extrusion: nucleus pulposus keluar melalui robekan dari annulus fibrosus.


4. Sequestration atau Sequestered Disc: nucleus pulposus keluar dari annulus
fibrosus dan menempati sisi luar dari discus yaitu pada spinalcanal.
Lokasi HNP dapat bermanifestasi pada keadaan klinis yang berbeda
tergantung dari arah ekstrusi dari nucleus pulposus:
1.

Bila menjebolnya nukleus ke arah anterior, hal ini tidak mengakibatkanya

2.

munculnya gejala yang berat kecuali nyeri.


Bila menonjolnya nukleus ke arah dorsal medial maka dapat menimbulkan
penekanan medulla spinalis dengan akibatnya gangguan fungsi motorik
maupun sensorik pada ektremitas, begitu pula gangguan miksi dan
defekasi yang bersifat UMN.
Bila menonjolnya ke arah lateral atau dorsal lateral, maka hal ini dapat

3.

menyebabkan tertekannya radiks saraf tepi yang keluar dari sana dan
menyebabkan gejala neuralgia radikuler.
Kadangkala protrusi nukleus terjadi ke atas atau ke bawah masuk ke dalam

4.

korpus vertebral dan disebut dengan nodus Schmorl.


C. MANIFESTASI KLINIS
Simptom dari herniasi diskus lumbalis antara lain:
-

nyeri punggung bawah yang berat


nyeri yang menyebar ke bokong dan ektremitas inferior
nyeri bertambah berat dengan batuk, tertawa ataupun straining.
numbness pada ektremitas inferior
kelemahan otot yang selanjutnya dapat menjadi atrofi
spasme otot

D. DIAGNOSA
1. Anamnesa
Kapan mulai sakit, sebelumnya pernah tidak?
Apakah nyeri diawali oleh suatu kegiatan fisik tertentu? apa pekerjaan
sehari-hari? adakah suatu trauma?
Dimana letak nyeri? sebaiknya penderita sendiri yang disuruh
menunjukkan dimana letak nyerinya. Ada tidak penjalaran?
Bagaimana sifat nyeri? apakah nyeri bertambah pada sikap tubuh
tertentu? Apakah bertambah pada kegiatan tertentu

Apakah nyeri berkurang pada waktu istirahat?


Adakah keluarga dengan riwayat penyakit serupa?
Ada tidak perubahan siklus haid, atau perdarahan pervaginam. Ada tidak
gangguan miksi dan defekasi atau penurunan libido?
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Perhatikan cara berjalan, berdiri, duduk.
Inspeksi daerah punggung. Perhatikan jika ada lurus tidaknya,
lordosis, ada tidak jalur spasme otot para vertebral? deformitas?
kiphosis? gibus?
b. Palpasi
Palpasi sepanjang columna vertebralis (ada tidaknya nyeri tekan
pada salah satu procesus spinosus, atau gibus/deformitas kecil dapat
teraba pada palpasi atau adanya spasme otot para vertebral)
c. Pemeriksaan Neurologik
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memastikan apakah kasus
nyeri pinggang bawah adalah benar karena adanya gangguan saraf
atau karena sebab yang lain.
d. Pemeriksaan sensorik
Bila nyeri pinggang bawah disebabkan oleh gangguan pada
salah satu saraf tertentu maka biasanya dapat ditentukan adanya
gangguan sensorik dengan menentukan batas-batasnya, dengan
demikian segmen yang terganggu dapat diketahui.
e. Pemeriksaan motorik
Dengan mengetahui segmen otot mana yang lemah maka
segmen mana yang terganggu akan diketahui, misalnya lesi yang
mengenai segmen L4 maka musculus tibialis anterior akan menurun
kekuatannya.
f. Pemeriksaan reflek
Reflek tendon akan menurun pada atau menghilang pada lesi
motor neuron bawah dan meningkat pada lesi motor atas. Pada nyeri
punggung bawah yang disebabkan HNP maka reflek tendon dari
segmen yang terkena akan menurun atau menghilang
g. Pemeriksaan khusus
1) Tes lasegue (straight leg raising)

Tungkai difleksikan pada sendi coxae sedangkan sendi lutut


tetap lurus. Saraf ischiadicus akan tertarik. Bila nyeri pinggang
dikarenakan iritasi pasa saraf ini maka nyeri akan dirasakan pada
sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari pantat sampai ujung
kaki.
2) Crossed lasegue
Bila tes lasegue pada tungkai yang tidak sakit menyebabkan
rasa nyeri pada tungkai yang sakit maka dikatakan crossed
lasegue positif.Artinya ada lesi pada saraf ischiadicus atau akarakar saraf yang membentuk saraf ini.
3) Tes kernig
Sama dengan lasegue hanya dilakukan dengan lutut fleksi,
setelah sendi coxa 90O dicoba untuk meluruskan sendi lutut.
4) Patrick sign (FABERE sign)
FABERE merupakan singkatan dari fleksi, abduksi,
external, rotasi, extensi. Pada tes ini penderita berbaring, tumit
dari kaki yang satu diletakkan pada sendi lutut pada tungkai yang
lain. Setelah ini dilakukan penekanan pada sendi lutut hingga
terjadi rotasi keluar. Bila timbul rasa nyeri maka hal ini berarti
ada suatu sebab yang non neurologik misalnya coxitis.
5) Chin chest maneu
Fleksi pasif pada leher hingga dagu mengenai dada.
Tindakan ini akan mengakibatkan tertariknya myelum naik ke
atas dalam canalis spinalis. Akibatnya maka akar-akar saraf akan
ikut tertarik ke atas juga, terutama yang berada di bagian thorakal
bawah dan lumbal atas. Jika terasa nyeri berarti ada gangguan
pada akar-akat saraf tersebut
3. Pemeriksaan Laboratorium
6

Pemeriksaan laboratorium dapat meliputi pemeriksaan darah dan


juga pemeriksaan cairan otak. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosa sekaligus menyingkirkan diagnosa banding.
4. Pemeriksaan Radiologi
- Foto Lumbosacral. Foto ini dapat digunakan untuk menemukan
-

kelainan pada daerah lumbal, antara lain hilangnya dics space.


Spine MRI maupun spine CT dapat memperlihatkan adanya kompresi

pada spinal canal oleh herniasi dari diskus.


Myelogram digunakan untuk mengetahui ukuran maupun lokasi dari
herniasi diskus.

E. PENATALAKSANAAN
Penanganan HNP

dapat

dilakukan

dalam

beberapa

langkah

penatalaksanaan diantaranya adalah:


1. Perawatan non-farmakologis.
Bed Rest mutlak di tempat tidur yang padat dengan posisi yang
relaks, lutut agak ditekuk dan di bawah pinggang untuk HNP lumbalis
selama 2-3 minggu, tergantung keparahannya.
2. Perawatan farmakologi
- Pemberian obat analgesik
- Obat-obatan NSAID
- Obat-obatan pelemas otot (muscle relaxant)
- Penenang minor atau major bila diperlukan.
3. Pembedahan
- Discectomy
Membuang sebagian ataupun keseluruhan intervertebral dics.
- Laminotomy
Beberapa bagian lamina dibuang untuk mengurangi tekanan pada
saraf.
- Laminectomy
Membuang keseluruhan lamina.
4. Perubahan gaya hidup
- Melakukan pekerjaan sehari-hari secara ergonomis
- Menurunkan berat badan
5. Rehabilitasi
- Aplikasi pemanasan di area yang nyeri.
- Traksi tidak banyak membantu kecuali pasien menjadi lebih patuh di
-

tempat tidur.
TENS, electrical stimulation.
Bila nyeri sudah berkurang dapat dilakukan latihan secara bertahap.

Pada mobilisasi diperlukan korset lumbal dan servikal


Berenang baik untuk HNP lumbalis namun tidak baik untuk HNP
servikal.

F. PROGNOSIS
Kebanyakan pasien penderita HNP 80-90% akan membaik keadaannya
kepada aktivitas normal tanpa terapi yang agresif, dan dapat sembuh
sempurna dalam hitungan kira-kira 1-2 bulan. Tetapi sebagian kecil akan
berlanjut menjadi kronik nyeri punggung bawah walaupun telah menjalani
terapi. Dan bila berlanjut dengan adanya keluhan pada kontrol bowel dan
bladder maka perlu dipikirkan kembali untuk dilakukan tindakan bedah.
G. PENCEGAHAN
Bekerja atau melakukan aktifitas dengan aman, menggunakan teknik
yang aman. Mengontrol berat badan bisa mencegah trauma punggung atau
pinggang pada beberapa orang.

BAB III
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Usia
Jenis kelamin
Agama
Status marital
Pekerjaan
Suku
Alamat
MRS

: Ny. S
: 32 thn
: Perempuan
: Islam
: Menikah
: Buruh tani
: Jawa
: Ipuh, Bengkulu Utara
: Ruang Seruni, tanggal 28 April 2015

B. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan di ruang Seruni pada tanggal 28 April 2015
1. Keluhan utama : nyeri pinggang bawah
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Nyeri pinggang bawah sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit.
Nyeri dirasakan tajam dan terlokalisir di pinggang bawah, nyeri juga tidak
mengganggu aktivitas pasien. Namun nyeri dirasakan semakin memberat
sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri tajam dialami terus
menerus sepanjang hari, tidak bergantung baik siang ataupun malam.
Nyeri juga dirasakan menjalar ke paha kiri bagian belakang, tungkai
bawah hingga jari-jari kaki kiri. Pasien juga mengeluhkan bahwa nyeri
dalam 3hari ini sudah menggangu aktivitas. Nyeri dirasakan semakin berat
saat pasien melakukan perubahan posisi ( tidur ke duduk atau duduk ke
berdiri), saat batuk, mengedan, dan bersin. Nyeri dirasakan berkurang
dengan posisi berbaring disertai posisi kaki yang ditekuk.
Pasien juga mengalami kebas di bagian lateral tungkai bawah kanan
hingga ke jari-jari kaki kanan. Kebas dialami sejak 1 hari yang lalu. Pasien
tidak ada mengalami keluhan buang air kecil maupun air besar. Tidak ada
trauma tulang belakang, demam, batuk lama, serta penurunan berat badan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu :


- Riwayat nyeri pinggang bawah dialami sejak tahun 2008
- Tidak ada riwayat HT
- Tidak ada riwayat DM
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
- Tidak ada keluarga pasien yang memiliki keluhan serupa.
- Tidak ada riwayat HT maupun DM
5. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai buruh tani di perkebunan kelapa sawit, pasien
hampir setiap hari mengangkat beban berat saat bekerja.
6. Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak merokok dan tidak teratur berolahraga

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Praesens
Keadaan umum
: sakit sedang
Kesadaran
: Composmentis
GCS
: E4V5M6
TD
: 120/70 mmHg
BB
TB
N
RR
IMT
T

: 48 kg
: 152 cm
: 88 x/mnt, reguler, equal, isi cukup
: 20 x/mnt, abdominothorakal
: 20,8
: 36,8 C

Kepala : Normocephali, rambut tidak mudah dicabut, pertumbuhan rambut


merata, dan warna rambut hitam.

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor

3mm/ 3mm , reflex cahaya (+/+), refleks kornea (+/+).


Leher : Pembesaran KGB (-/-), pembesaran kelenjar tiroid
Thorax : - Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
- Paru :Statis dinamis simetris, vesikuler (+/+), ronki (-/-),
whezing (-/-)
Abdomen : Datar, supel, nyeri tekan (-), timpani di semua regio, bising
usus (+) normal, hepar/ lien tidak teraba
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-), sianosis (-),

2. Status Neurologis
10

Kesadaran: Compos Mentis, E4V5M6


Kepala
: Normocephali, simetris, nyeri tekan (-)
Mata
: Pupil isokor D et S 3 m.
Leher
: Pergerakan (+)
Tanda Meningeal:
Lasegue Test
Kernig Test
Kaku kuduk
Burdzinski I
Burdzinski II
Burdzinski III
Burdzinski IV

: (-/70O)
: (-/110O)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

Nervus Cranialis
Pemeriksaan

Kanan

Kiri

Subjektif

+N

+N

Objektif teh

+N

+N

Objektif kopi

+N

+N

Tajam Penglihatan

+N

+N

Lapangan Pandang

+N

+N

Melihat Warna

+N

+N

Pergerakan bola mata

+N

+N

Strabismus

+N

+N

Refleks cahaya

+N

+N

Diameter Pupil

3mm

3 mm

Bentuk pupil

Bulat

Bulat

N. Olfactorius

N Optikus

N. Occulomotorius

Diplopia
N. Trochlearis

11

Pergerakan mata (kebawah-keluar)

+N

+N

Membuka mulut

+N

+N

Mengunyah

+N

+N

Menggigit

+N

+N

Refleks kernig

+N

+N

Sensibilitas muka

+N

+N

+N

+N

Mengerut dahi

+N

+N

Menutup mata

+N

+N

Memperlihatkan gigi

+N

+N

Bersiul

+N

+N

Perasaan lidah

+N

+N

N. Trigeminus

N. Abducens
Pergerakan mata ke lateral
N. Fasialis

Perasaan muka

Dahi

+N

+N

Pipi

+N

+N

Dagu

+N

+N

Mendengarkan detik arloji

+N

+N

Mendengarkan suara gesek tangan

+N

+N

Posisi Uvula

+N

+N

Fungsi menelan

+N

+N

N. vestibulocothlearis

N. Glosopharingeus

N. Accesorius

12

Mengangkat bahu

+N

+N

Memalingkan kepala

+N

+N

Menjulurkan lidah

+N

+N

Atrofi lidah

+N

+N

Artikulasi

+N

+N

Tremor Lidah

+N

+N

N. Hipoglossus

Badan dan Anggota Gerak


Badan
a. Motorik
Respirasi : vesikuler, pergerakan simetris
Duduk : dbn
b. Refleks

Refleks kulit
Perut atas
Perut tengah
Perut bawah

Kanan

Kiri

+N
+N
+N

+N
+N
+N

Anggota Gerak Atas (Lengan)

Motorik
Pergerakan
Kekuatan
Tonus
Tropik
Refleks
Biceps
Triceps
Huffman

Kanan

Kiri

+N
5-5-5-5
+N
-

+N
5-5-5-5
+N
-

+N
+N
-

+N
+N
-

13

Frommer

Kanan

Kiri

+N
5-5-5-5
+N

+N
5-5-5-5
+N

+
+
-

+
+
-

Hipoestesia

+N
+N
+N

Anggota Gerak Bawah (Kaki)

Motorik
Pergerakan
Kekuatan
Tonus
Refleks
Patella
Achilles
Babinski
Chaddock
Clonus kaki
Clonus Patella
Sensibilitas
Sensibilitas taktil
Sensibilitas nyeri
Sensibilitas suhu

dermatom L4S1
Hipoestesia
dermatom L4S1
Hipoestesia
dermatom L4S1

Pemeriksaan Tambahan:
-

Test Patrick (-/-)


Test Kontra Patrick (-/-)
Deformitas vertebrae: Tidak ditemukan
Nyeri tekan di lumbal 5 dan paravertebral kiri-kanan
Nyeri tekan bokong kanan
Koordinasi Gait Keseimbangan : cara berjalan normal
14

Tremor : -

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lab Darah (28/04/15)
- Leukosit
: 9300/mm3
- Hb
: 12.2 gr/dl
- Ht
: 37 %
- Trombosit : 274.000 /mm3
- Uric Acid
: 2.8 mg/dl
- GDS
: 89 mg/dl

Foto Lumbosacral

E. DIAGOSIS
Diagnosa Klinis

: Ischialgia Sinistra + Hipoestesia dermatom L5-S1

Sinistra
Diagnosa topis
: Susp. diskus intervertebralis L4-5
Diagnosa etiologi
: Susp.HNP
Diagnosa bandinng : Spinal stenosis
F. TATALAKSANA
- Rawat inap di RS
- Inj. Ketorolac 3x1 amp
- Inj. Ranitidin 2x20 mg
- Neurodex
1x1 tab
- Gabapentin 3x1
- Konsul Rehabilitasi Medik untuk fisioterapi

15

Edukasi perubahan life style terutama dalam melakukan pekerjaan secara


ergonomis

G. PROGNOSIS
Vitam
Functionam

: Dubia et Bonam
: Dubia ad Bonam

H. FOLLOW UP
Tanggal 29 April 2015
S: Nyeri pinggang menjalar (+)
susah berjalan
O: TD : 110/70 mmHg
N : 82x/menit
P : 18x/menit
S: 36,6 0C
Kesadaran : CM
Fungsi luhur : dbn
Saraf kranial : dbn
Motorik
555

555

5
555

5
555

5
5
Sensorik : dbn
Refleks fisiologi

: Biseps +/+
Trisep +/+
Patella +/+

Refleks patologi

: Babinksi : -/-

A: LBP e.c Susp. HNP


P: Inj. Ketorolac 3x1 amp
Inj. Ranitidin 2x20 mg
Neurodex

1x1 tab

16

Gabapentin

3x1

Tanggal 2 Mei 2015`


S: Nyeri pinggang (+), berkurang
Sudah bisa berjalan
O: TD : 110/60 mmHg
N : 90x/menit
P : 17x/menit
S: 36.8 0C
Kesadaran : CM
Fungsi luhur : dbn
Saraf kranial : dbn
Motorik
555

555

5
555

5
555

5
5
Sensorik : dbn
Refleks fisiologi

: Biseps +/+
Trisep +/+
Patella +/+

Refleks patologi

: Babinksi : +/+

A: LBP e.c Susp. HNP


P: Inj. Ketorolac 3x1 amp
Inj. Ranitidin 2x20 mg
Neurodex

1x1 tab

Gabapentin

3x1

Methyl prednisolon 3x1


Tanggal 5 April 2015
S: tidak ada keluhan
O: TD : 120/70 mmHg
17

N : 88x/menit
P : 28x/menit
S: 36,9 0C
Kesadaran : CM
Fungsi luhur : dbn
Saraf kranial : dbn
Motorik
555

555

5
555

5
555

5
5
Sensorik : dbn
Refleks fisiologi

: Biseps +/+
Trisep +/+
Patella +/+

Refleks patologi

: Babinksi : -/-

A: Susp. HNP
P: Neurodex
Gabapentin

1x1 tab
3x1

Pasien boleh pulang

BAB IV
PEMBAHASAN
Nyeri pinggang pada pasien ini adalah nyeri pinggang bawah kronis yang
lamanya lebih dari 12 minggu. Pasien ini adalah penderita dengan diagnosa susp.
HNP. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan anamnesa adanya nyeri pinggang
bawah sebelah kiri, nyeri ini dirasakan pasien menjalar ke paha namun betis dan
jari kaki terasa kram, nyeri berkurang saat pasien berbaring, nyeri bertambah saat
pasien duduk, berjalan, dan berjongkok. Pada pemeriksaan fisik, kesadaran pasien

18

Compos Mentis dan vital sign dalam batas normal, status neurologis pasien tidak
ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan reflek fisiologis tidak didapatkan kelainan,
pada tes kernig dan laseque (+). Untuk penatalaksanaan, tidak dibutuhkan
penatalaksanaan emergensi dikarenakan secara klinis pasien dalam keadaan cukup
baik.

Teori

Fakta

Umur 30 50 tahun

Usia Pasien: 32 tahun

Nyeri pinggang: kronis bila lamanya lebih Nyeri pinggang: sejak 6 bulan yang
dari 12 minggu
disebabkan oleh

lalu, hampir setiap hari mengangkat


gangguan

mekanis

beban berat

maupun non mekanis


Lokasi: Pinggang

Lokasi: Pinggang

Onset: Akut

Onset: Akut

Berdiri: Menurun

Berdiri: Meningkat

Duduk: Meningkat

Duduk: Meningkat

Membungkuk: Meningkat

Membungkuk: Meningkat

Faktor Resiko: Lifestyle, usia, Postur tubuh Faktor resiko: kurangnya latihan atau
yang tidak proposional, faktor indeks olahraga, posisi pekerjaan mengangkat
massa tubuh, dan trauma

beban berat.

Straight leg raising: +

Straight leg raising: (-/70O)


Kernig Test: (-/110O)

Foto Lumbosacral: menemukan kelainan Foto Lumbosacral: pada daerah lumbal, antara lain hilangnya
dics space.
Spine

MRI/spine

CT:memperlihatkan Tidak dilakukan

adanya kompresi pada spinal canal oleh


herniasi dari diskus.
Myelogram: mengetahui ukuran maupun Tidak dilakukan

19

lokasi dari herniasi diskus.


Diagnosis: HNP

Diagnosis:
Diagnosa Klinis: Ischialgia sinistra +
Hipoestesia dermatom L5-S1 sinistra
Diagnosa topis: Suspect diskus
intervertebralis L4-5
Diagnosa etiologi: Susp.HNP

Medikamentosa:
Medikamentosa:

Pemberian obat analgesik


- Inj. Ketorolac 3x1 amp

Obat-obatan NSAID
- Inj. Ranitidin 2x20 mg

Penenang minor atau major bila


- Neurodex
1x1 tab
diperlukan.
- Gabapentin 3x1
Non Medikamentosa:

Bed Rest selama 2-3 minggu


Usulan terapi:
tergantung keparahannya.

Perubahan gaya hidup


- Diazepam 2 mg 2x1 tab

Rehabilitasi
Non Medikamentosa:
-

Rawat inap di RS
Perubahan gaya hidup
Fisioterapi

Prognosis: pasien penderita HNP 80-90% Prognosis:


Vitam: Dubia et Bonam
akan membaik.
Functionam: Dubia ad Bonam
Pencegahan:
aktifitas

Bekerja

dengan

atau

teknik

Mengontrol berat badan.

melakukan Pencegahan: Edukasi

yang

aman. style

terutama

perubahan

dalam

life

melakukan

pekerjaan secara ergonomis

20

DAFTAR PUSTAKA
Bratton, Robert L. Assessment And Management Of Acute Low Back Pain. The
American academy of family physician. November 15, 2013
(onlinewww.aafp.org 29 April 2015)
Kevin B. Freedman, MD, MSCE; Bryn Mawr, PA. Herniated nucleus pulposus
(slipped
disk).
(online
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000442.htm tgl 29 April
2015)
Mark R Foster, MD, PhD. Clinical Herniated Nucleus Pulposus (online
http://www .emedicine.com/orthoped/topic138.htm tgl 29 April 2015)
P. croft, A .Papageorgius, R.McNelly. Low Back Pain. HCNA chap.7. 2012.
(online www. HCNA.org. tgl 29 April 2015)
Waddel. G, A.K.Burton. Occupational Health Guideline for The Management
Low Back Pain at Work Evidence Review. Occup Med vol.53. Oxford
University Press. Great Britain. 2011

21