Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN HEPATITIS


I.

KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Definisi Hepatitis
Hepatitis virus akut adalah penyakit infeksi yang penyebarannya luas, walaupun
efek utamanya pada hati (Syivia A. Price, 2005). Hepatitis virus akut adalah penyakit hati
yang gejala utamanya berhubungan erat dengan adanya nekrosis pada hati. Bisanya
disebabkan oleh virus yaitu hepatitis A, virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan lain-lain
(Arief Mansjoer, 2001). Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang
dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh rekasi toksik terhadap obat-obatan serta
bahan-bahan kimia (Sujono Hadi, 1999). Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh
virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001).
Hepatitis adalah peradangan dari sel-sel liver yang meluas atau menyebar. Hepatitis virus
merupakan jenis yang paling dominan, dimana merupakanhasil infeksi yang disebabkan
oleh salah satu dari lima golongan besar jenis virus, antara lain :
1. Virus Hepatitis A (HAV)
2. Virus Hepatitis B (HBV)
3. Virus Hepatitis C (HCV)
4. Virus Hepatitis D (HDV) atau Virus Delta
5. Virus Hepatitis E (HEV)
6. Hepatitis F dan G mempunyai kesamaan atau identitas tersendiri, tetapi jenis
inijarang ada.
7. Hepatitis kemungkinan terjadi sebagai infeksi sekunder selama perjalanan infeksi
dengan virus-virus lainnya, seperti : Cytomegalovirus, Virus Epstein-Barr, Virus
Herpes simplex, Virus Varicella-zoster.
B. Penyebab Hepatitis
1. Agen Penyebab Hepatitis dengan Transmisi secara Enterik
Terdiri atas virus hepatitis A (HAV) dan virus hepatitis E (HEV). Secara umum,
tanda-tanda virus A dan E adalah tidak mempunyai selubung, rusak bila terpajan
cairan empedu/deterjen, tidak terdapat dalam tinja, tidak dihubungkan dengan
penyakit hati kronis, dan tidak terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi
karier intestinal.
a. Hepatitis A
Virus hepatitis A merupakan virus RNA dari famili Picarnovirus. Virus ini
banyak menyerang anak-anak. Biasanya , jenis hepatitis yang ditimbulkan
mengenai masyarakat golongan ekonomi lemah serta mereka yang tinggal di
lingkungan tidak bersih. Price (2001) mengemukakan bahwa sebagian besar

infeksi VHA (Virus Hepatitis A) terjadi pada usia anak-anak dan bersifat
asimtomatik.
Penularan dapat terjadi melalui fecal-oral dan kontaminasi pada minuman dan
makanan yang tercemar virus hepatitis A, lewat makanan/minuman mentah
atau setengah matang, minum air atau es batu yang terkontaminasi dengan
feses, dan kerang-kerangan yang tidak dimasak. HVA juga dapat menular
melalui hubungan seks oral-anal (mulut-dubur) dan jarang menular melalui
transfusi parenteral (infus).
Hepatitis A dibedakan menjadi empat stadium, yaitu masa inkubasi, prikterik
(prodromal), ikterik, dan masa penyembuhan. Masa inkubasi berlangsung
selama 5-45 hari, dengan rata-rata kurang lebih 25 hari. Masa prodromal terjadi
selama 4 hari sampai 1 minggu atau lebih.
Gejala masa prodromal adalah kelelahan (fatigue), rasa tidak enak badan
(malaise), nafsu makan berkurang, mual, muntah, rasa tidak nyaman di daerah
perut kanan atas, demam (biasanya suhu kurang dari 39 oC), merasa dingin,
sakit kepala, gejala seperti flu, keluar ingus (nasal discharge), sakit
tenggorokan, dan batuk.
Gejala yang jarang dijumpai yaitu terjadinya penurunan berat badan ringan,
nyeri sendi (artralgia), dan mononeuritis cranial atau mononeuritis prifer
(sejenis salah urat saraf). Tanda yang ditemukan biasanya hepatomegali dengan
nyeri tekan (70%). Dan manifestasi ektrahepatik lain pada kulit, sendi, atau
splenomegali.
Masa ikterik dimulai dengan urine berwarna kuning tua, seperti the atau warna
gelap, diikuti oleh feses berwarna dempull (clay-coloured faeces) kemudian
warna sclera, dan kulit perlahan-lahan menjadi kuning. Muncul juga gejala
anoreksia, lesu, lelah, mual dan muntah berat untuk sementara waktu. Ketika
fase sakit kuning (ikterik) ini bertambah berat, maka gejala-gejala tersebut
berkurang dan timbul pruritus atau gejala gatal-gatal pada kulit beberapa dari
sesudahnya. Masa penyembuhan diawali dengan menghilangnya gejala ikterik
dan feses kembali normal dalam empat minggu setelah serangan. Komplikasi
yang sering terjadi pada sebagian kecil pasien adalah hepatitis fulminan (tapi
persentasenya kurang dari 1%).
Di negara-negara yang telah maju, insiden infeksi virus hepatitis A telah
menurun dalam beberapa tahun terakhir ini. Penderitanya pun telah beralih
pada kalangan yang usianya lebih tua. Hal ini disebabkan oleh adanya
perbaikan kondisi sosial ekonomi yang diikuti dengan perbaikan higiene dan

sanitasi. Masa penyembuhan diawali dengan menghilangnya ikterus dan


keluhan-keluhan lain. Masa yang paling infektip (berpotensi menularkan
penyakitnya) adalah selama dua minggu sebelum timbul gejala viremia.
b. Hepatitis E
Hepatitis E banyak terjadi di negara-negara berkembang, terutama yang airnya
terkontaminasi. Kelompok yang paling rentan terkena adalah turis atau
pelancong Asia Selatan dan Afrika Utara. Kasus ini jarang terjadi Amerika
Serikat, karena tidak ada riwayat perjalanan ke negara-negara endemik.
Penyebab penyakit ini adalah virus hepatitis E. Tanda dan gejala hepatitis
meliputi sakit kuning (Jaundice) lemah, nyeri abdomen, kurang nafsu makan,
mual dan muntah dan urine berwarna gelap.
Penyakit ini bisa menimbulkan efek jangka panjang tanpa vaksinasi, tidak ada
infeksi kronis namun akan lebih parah bila menyerang pada wanita hamil,
khususna di trimester III. penyebaran penyakit ditemukan pada feses manusia
dan binatang dengan hepatitis E. kuman penyebabnya juga bisa disebarkan oleh
makanan dan minuman yang terkontaminasi, sebab perpindahan kuman dari
orang ke orang tidak selazim pada kasus hepatitis A.
2. Agen penyebab hepatitis dengan transmisi melalui darah
Virus yang menjadi agen hepatitis melalui darah terdiri dari virus hepatitis B
(HBV), hepatitis C (HCV), dan hepatitis D (HDV). Secara umum, ciri-ciri dari
virus tersebut adalah tidak mempunyai selubung, tahan terhadap cairan empedu,
ditemukan di tinja, tidak dihubungkan dengan penyakit hati kronis, dan tidak
terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi karier intestinal.
a. Hepatitis B (HBV)
Insiden penyakit hepatitis B diperkirakan 78% berada di asia tenggara.
Hepatitis B (HBV) merupakan virus DNA famili Hepadnavirus yang terdiri dari
sebuah protein selubung luar virus (mengandung antigen permukaan hepatitis B
atau HbsAg). HbsAg ini membungkus nucleocapsid viral yang tersusun dari
antigen ini hepatitis B atau HbcAg. HbsAG terdeteksi dalam semua serum
penderita HBV aktif dan kronis.
HbcAg tidak terdapat di sirkulasi dan hanya dapat dideteksi dengan radio
immunoassay dalam sel hati bila terdapat replikasi virus yang aktif. Antibodi
terhadap antigen permukaan hepatitis B (anti-HBs) dapat dideteksi dalam dua
fraksi yaitu anti HbcIgM (infeksi akut dan masa replikasi viral penyakit kronis).
Dan anti-HBc total (terdiri dari fraksi IgM dan IgG) pada hepatitis B akut (igM)
dan (IgG).

Penularan melalui parenteral (transimisi) cairan saliva dan semen, air mata,
keringat, darah, dan jarang terdapat pada feses dan urine. Oleh karenanya,
hindari penggunaan barang bersama dengan pasien ini. Masa inkubasi virus ini
6-8 minggu. Manifestasi klinis yang dapat dijumpai adalah tidak enak di perut,
biasanya mendahului timbulnya ikterus (gatal-gatal pada kulit), peningkatan
kadar SGPT, hepatomegali, antralgia, dan ruam kemerahan pada kulit.
b. Hepatitis C
Hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitis C. (HCV = hepatitis C virus) yang
masuk ke sel hati dan mereplikasikan diri dengan menggunakan dan
mereplikasikan diri dengan menggunakan material yang terdapat dalam sel dan
menginfeksi banyak sel lainnya. Sekitar 85% kasus hepatitis C berkembang
menjadi kronis dan merusak hati bertahun-tahun. hati kemudian dapat menjadi
sirosis atau berkembang ke arah keganasan. terdapat enam tipe genotipe virus
hepatitis C dan lebih 50 subtipenya. masa inkubasi hepatitis C sekitar 7 minggu
(3-20 minggu). manifestasi klinis dari hepatitis C adalah serangannya lambat
dengan gejala yang tidak spesifik atau tanpa gejala bila penyakit timbul.
Umumnya penderita mengalami tidak enak badan (malaise), susah makan
(Anoreksia), mual, dan kadang-kadang nyeri abdomen di kuadran kanan atas.
ikhterik dapat berlangsung hingga beberapa bulan, disertai dengan pruritas
(sensasi gatal ringan), Steatorrhea (kandungan lemak dalam feses), dan
penurunan berat badan ringan (2-5 kg).
Tanda fisik dari pasien penderita hepatitis C akut juga tidak jelas. Pada
sebagian kecil pasien dapat dijumpai hepatomegali dan splenomegali. pada
pasien hepatitis C kronis yang simptomati, gejala kelelahan kronis (fatigue)
merupakan keluhan yang paling sering. Pada keadaan yang berat, terdapat
spider angioma dan hepatosplenomegali. Kurang lebih 20% pasien hepatitis C
kronis akan menjadi sirosis dalam 10 tahun.
Penularan hepatitis C dapat terjadi melalui kontak langsung lewat darah atau
produknya, serta jarum atau alat tajam lainnya yang telah terkontaminasi.
Resiko terinfeksi hepatitis C melalui hubungan seksual lebih tinggi pada orang
yang mempunyai lebih dari satu pasangan. aktivitas menyusui tidak
menularkan hepatitis C. satu konsekuensi paling berat pada penderita hepatitis
C adalah komplikasi hepatitis fulminan kronis aktif, sirosis, hipertensi portal,
dan karsinoma hepatoseluler.
c. Hepatitis D

Hepatitis D (dulu virus delta) adalah virus tak sempurna yang mengandung
RNA. Agar infeksi dan replikasi virus ini dapat terjadi, diperlukan kehadiran
HBV. Jadi, infeksi delta hanya dapat terjadi apabila seorang pembawa HbsAg
kemudian terpapar virus delta atau pada seseorang terinfeksi secara simultan
oleh HBV dan virus hepatitis D endemic di daerah seluruh laut tengah dan
daerah-daerah tertentu di timur tengah dan amerika selatan. Infeksi terjadi
paling pada para pecandu obat bius dan penderita yang melakukan transfusi
darah berulang-ulang. HDV akut didiagnosis dari adanya HDV Ag dan anti
HDV Ig M dalam serum.
C. Epidemiologi Hepatitis
Infeksi Hepatitis B ditemukan di seluruh dunia, dengan tingkat prevalensi yang
berbeda-beda antar negara. Pembawa infeksi kronis merupakan reservoir utama, di
beberapa negara, khususnya di negara-negara belahan timur, 5-15 dari semua orang
membawa virus, meskipun sebagian besar tidak menunjukkan gejala. Pasien dengan
infeksi HIV, 10% adalah pembawa kronis hepatitis B. Di Amerika Serikat, diperkirakan
bahwa 1,5 juta orang terinfeksi hepatitis B, dan diperkirakan 300.000 kasus baru terjadi
setiap tahunnya. Sekitar 300 orang ini mati dengan hepatitis fulminan akut, dan 5-10% dari
pasien yang terinfeksi hepatitis B kronis menjadi pembawa virus. Sekitar 4000 orang mati
per tahun karena sirosis hatiterkait hepatitis B dan 1000 karena karsinoma hepatoseluler.
Sekitar 50% dariinfeksi di Amerika Serikat menular secara seksual (Wilson,
2001).Sebelum skrining donor untuk anti-HCV (1992), HCV adalah penyebab paling
umum pasca transfusi hepatitis di seluruh dunia, jumlahnya untuk sekitar 90% dari
penyakit ini di Amerika Serikat. Studi yang dilakukan pada 1970 menunjukkan bahwa
sekitar 7% dari penerima transfusi menderita hepatitis NANB, dan bahwa sampai 1% dari
darah unit mungkin berisi virus. Pengenalan skrining anti-HCV telah mengurangi transmisi
hingga hampir 100 %. Saat ini diAmerika Serikat, HCV menyumbang sekitar 20% dari
kasus hepatitis virus akut, kurang dari 5% berhubungan dengan transfusi darah. Prevalensi
anti-HCV tertinggi pada pengguna narkoba suntik dan penderita penyakit darah (hingga
98%), sangat bervariasi pada pasien hemodialisis (<10% -90%), prevalensi rendah pada
heteroseksual dengan mitra seksual multipel, pria homoseksual, pekerjakesehatan dan
kontak keluarga orang terinfeksi HCV (1% -5%), dan terendah didonor darah sukarela
(0,3% -0,5% ). Dalam populasi umum bervariasi (0,2%-18%). Daerah prevalensi tinggi

meliputi negara-negara di belahan timur, Negara-negara Mediterania dan daerah-daerah


tertentu di Afrika dan Eropa Timur (WHO, 2010).
Di Indonesia, kurang lebih 10 persen (3,4-20,3%) dari populasi adalah pembawa
virus hepatitis B (HBV). Prevalensi ini tidak menurun. Di Jakarta, hampir 9 persen
pengguna narkoba suntikan (IDU) HBsAg+ (mempunyai infeksi HBV kronis, dan dapat
menular pada orang lain). Namun di Asia-Pasifik, kebanyakan penularan terjadi dari ibuke-bayi, dan 90 persen anak yang terinfeksi tetap mempunyai infeksi kronis waktu menjadi
dewasa. Penyakit hepatitis biasanya juga didapat karena seseorang telah mengkonsumsi
makanan yang terkontaminasi, susu, atau air. Pada tahun 2001, ada lebih dari 10.000 kasus
infeksi hepatitis akut dilaporkan di AS (Anonim, 2010)
D. Patofisiologi Hepatitis
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus
dan akibat reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional
dasar dari hepar disebut lobul. Unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Seiring
dengan berkembanganya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu.
Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel- sel hepar ini menyebabkan kerusakan
sel-sel hepar.
Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh
respons sistem imun tubuh dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. oleh
karenanya, sebagian besar pasien yang mengalami hepatitis dapat sembuh dengan fungsi
hepar normal. Fase ini juga ditandai dengan inflamasi dan peregangan kapsul hati yang
memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. hal ini
dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati. timbulnya ikhterus
disebabkan karena kerusakan sel parenkim hati. walaupun jumlah bilirubin yang belum
mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan
sel hati dan duktuli empedu intrapatik, maka terjadi kerusakan dalam konjugasi. akibatnya
bilirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus. hal ini dikarenakan terjadi
retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli empedu belum
mengalami konjugasi (bilirubin indirect), maupun bilirubin yang sudah mengalami
konjugasi (bilirubin direct).
Jadi, ikhterus yang timbul, terutama disebabkan karena adanya kerusakan dalam
pengangkutan, konjungsi, dan ekskresi bilirubin. tinja mengandung sedikit sterkobilin,
sehingga tampak pucat (abolish). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka
bilirubin dapat diekskresi ke dalam kemih, sehingga bilirubin urine menjadi pisitif dan

urine berwarna gelap. peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan
garam-garam empedu dalam darah yang menimbulkan gatal-gatal pada kulit karena
ikhtesus. Dampak dari kerusakan hati akibat infeksi virus hepatitis adalah terjadi
pembesaran pada perut penderita. Hal ini disebabkan adanya akumulasi cairan di rongga
perut atau yang biasa disebut asites. Asites terjadi pada penderita hepatitis dikarenakan
kadar albumin yang rendah menyebabkan perubahan tekanan yang diperlukan untuk
mencegah terjadinya pertukaran cairan, yang memungkinkan cairan keluar dari pembuluh
darah. Pada keadaan normal

albumin dibentuk oleh hati. Bilamana hati terganggu

fungsinya, maka pembentukan albumin juga terganggu dan kadarnya menurun , sehingga
tekanan koloid osmotic juga berkurang. Terdapatnya kadar albumin kurang dari 3gr %
sudah merupakan tanda kritis untuk timbulnya asites.

Intolensi
aktivitas

Resiko
kerusakan
inegritas
E. Gejala Klinis Hepatitis
kulit

Ada beberapa manifestasi klinis dari hepatitis. Gejala hepatitis akut terbagi dalam
empat tahap, yaitu fase inkubasi, fase prodormal, fase ikterik, dan konvalesen.
1. Fase Inkubasi
Fase inkubasi merupakan waktu di antara masuknya virus sampai timbulnya gejala
keluhan.
2. Fase Prodromal
Fase ini adalah fase diantara timbulnya keluhan-keluhan pertama sampai gejala
timbulnya ikterus. Fase ini ditandai dengan rasa tidak enak badan umum (malaise),
mialgia, antralgia, mudah lelah, gejala infeksi saluran napas atas, anoreksia, mual,
muntah, diare/konstipasi, demam, derajat rendah (Hepatitis A), dan nyeri ringan
pada abdomen kuadran kanan atas. Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang
disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Keluhan yang lain adalah
nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, dan nyeri perut
kanan atas (uluh hati). Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu, dan
malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39 oC
berlangsung selama 2-5 hari, pusing, dan nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal
mencolok juga pada virus hepatitis B.
3. Fase Ikterik
Ikterus muncul setelah 5-10 hari, tetapi juga muncul bersamaan dengan gejala.
Setelah timbul ikterus, jarang terjadi perburukan gejala prodromal, namun justru
akan terjadi perbaikan klinis yang nyata. Urine berwarna seperti the pekat, tinja
berwarna pucat, dan terjadi penurunan suhu badan yang disertai dengan
bradikardia. Ikterus muncul pada kulit dan sclera yang terus meningkat pada satu
minggu, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadangkadang, fase ini disertai dengan timbulnya gatal-gatal pada seluruh badan, rasa
lesu, dan lekas capek dirasakan selama 1-2 minggu.
4. Fase Konvalesen (penyembuhan)

Fase ini dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di
hulu hati, dan kemudian disusul bertabahnya nafsu makan. Fase ini berlangsung
rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal,
penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capek.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan pigmen
- Urobilirubin direk
- Bilirubin serum total
- Bilirubin urine
- Urobilirubin urine
- Urobilirubin feses
b. Pemeriksaan protein
- Protein total serum
- Albumin serum
- Globulin serum
- HbsAg
c. Waktu protombin
- Respon waktu terhadap vitamin K
d. Pemeriksaan serum transferase dan transaminase
- AST atau SGOT
- ALT atau SGPT
- LDH
- Amonia serum
2. Radiologi
a. Rontgen abdomen
b. Arteriografi pembuluh darah seliaka
3. Pemeriksaan tambahan
a. Laparoskopi
b. Biospi hati
G. Penatalaksanaan Hepatitis
1. Pengobatan pada hepatitis virus lebih ditekankan pada tindakan pencegahan
2. Rawat jalan kecuali pasien dengan mual atau anoreksia berat yang akan
enyebabkan dehidrasi.
3. Mempertahankan asupan kalori dan cairan memadai
4. Pemberian intraferon alpa pada hepatitis C akut dapat menurunkan risiko kejadian
infeksi kronis.
5. Obat-obatan yang tidak penting harus dihentikan
6. Pemantauan fungsi hati dan serologi hati HVB enam bulan kemudian, bila terdapat
peningkatan titer SGOT-SGTP lebih besar dari sepuluh kali nilai batas atas normal,
koagulopati, ensefalopati, sebab dapat dicurigai adanya hepatitis fulminan.
7. Pemeriksaan HbeAg, Ig anti-HBc, SGOT/PT, dan USG hati.

8. Terapi antivirus yang terdiri dari antireplikasi virus, imunomodulator, dan


antiproliferasi. Pegylated interferon alfa disebut dengan polythylene glikol (PEG)
yang larut dalam air terdiri dari penginterferon alfa-2a, dan penginterferonalfa-2b.
Ribavirin diberikan bersama interferon alfa untuk pengobatan hepatitis C kronis.
Sementara, tujuan tetapi antivirus adalah.
a. Menekan replikasi virus sehingga mengurangi risiko transmisi,
b. Normalisasi amino transferasi dan perbaikan histologis hati,
c. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan,
d. Mencegah progretivitas.
II.

KONSEP DASAR ASKEP


A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Anamnesa
a. Biodata
Pada biodata diperoleh data tentang nam, umur, jenis kelamin, tempat tinggal,
pekerjaan, pendidikan dan status perkawinan.
b. Keluhan utama
Penderita datang untuk berobat dengan keluhan tiba-tiba tidak nafsu makan,
malaise, demam (lebih sering pada HVA), rasa pegal linu dan sakit kepala pada
HVB, serta hilangnya daya rasa lokal untuk perokok.
2. Riwayat penyakit/Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat kesehatan yang mencangkup tentang nyeri abdomen pada kuadran
kanan atas, demam, malaise, mual, muntah
(anoreksia), feses berwarna tanah liat dan urine pekat
b. Riwayat penyakit lalu
Riwayat apakah pasien pernah mengalami bradikardi atau pernah menderita
masa medis lainnya yang menyebabkan hepatitis (yang meliputi penyakit gagal
hati dan penyakit autoimun). Dan, kaji pula apakah pasien pernah mengindap
infeksi virus dan buat catatan obat-obatan yang pernah digunakan.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji riwayat keluarga yang mengonsumsi alkohol, mengindap hepatitis, dan
penyakit biliaris.
Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati
1. Persepsi dan Penanganan Kesehatan
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan dan penanganan kesehatan. Persepsi
terhadap arti kesehatan, dan piata laksanaan kesehatan, kemampuan menyusun
tujuan, pengetahuan tentang praktek kesehatan. Komponen:
a. Gambaran kesehatan secara umum dan saat ini,
b. Alasan kunjungan dan harapan,

c. Gambaran terhadap sakit dan penyebabnya dan penanganan yang dilakukan,


1) Kepatuhan terhadap pengobatan
2) Pencegahan/tindakan dalam menjaga kesehatan
3) Penggunaan obat resep dan warung,
4) Penggunaan produk atau zat didalam kehidupan sehari-hari dan frekuensi
(misal : rokok, alkohol)
5) Penggunaan alat keamanan dirumah/sehari-hari, dan faktor resiko
timbulnya penyakit
6) Gambaran kesehatan keluarga
2. Nutrisi-Metabolik
Menggambarkan intake makanan, keseimbangan cairan dan elektrolit, nafsu
makan, pola makan, diet, fluktuasi BB dalam 6 bulan terakhir, kesulitan menelan,
mual / muntah, kebutuhan julah zat gizi, masalah / penyembuhan kulit, akanan
kesukaan.
a.

Anoreksia

b.

Berat badan menurun

c.

Mual dan muntah

d.

Peningkatan oedema

e.

Asites

3. Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi eksresi, kandung kemih dan kulit.
a. Urine gelap
b. Diare feses warna tanah liat
4. Aktivitas-Latihan
Menggambarkan pola aktivitas dan latihan, fungsi pernafasan dan sirkulasi.
a.

Kelemahan

b.

Kelelahan

c.

Malaise

5. Tidur-Istirahat
Menggambarkan pola tidur-istirahat dan persepsi pada level energi. Komponen :
a. Berapa lama tidur dimalam hari
b. Jam berapa tidur-Bangun
c. Apakah terasa efektif
d. Adakah kebiasaan sebelum tidur
e. Apakah mengalami kesulitan dalam tidur
6. Kognitif-Persepsi

Menggambarkan pola pendengaran, penglihatan, pengecap, taktil, penciuman,


persepsi nyeri, bahasa, memori dan pengambilan keputusan. Komponen :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Kemampuan menulis dan membaca


Kemampuan berbahasa
Kemampuan belajar
kesulitan dalam mendengar
Penggunaan alat bantu mendengar/melihat
Bagaimana visus
Adakah keluhan pusing bagaimana gambarannya
Apakah mengalami insensitivitas terhadap dingin, panas,nyeri
Apakah merasa nyeri
1) Kram abdomen
2) Nyeri tekan pada kuadran kanan
3) Mialgia
4) Atralgia
5) Sakit kepala
6) Gatal ( pruritus )

7. Persepsi Diri Konsep Diri


Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap kemampuan,harga
diri,gambaran diri dan perasaan terhadap diri sendiri. Komponen :
a. Bagaimana menggambarkan diri sendiri
b. Apakah ada kejadian yang akhirnya mengubah gambaran terhadap diri
c. Apa hal yang paling menjadi pikiran
d. Apakah sering merasa marah, cemas, depresi, takut, bagaimana gambarannya
8. Peran Hubungan
Menggambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga-lainnya.
Komponen :
a. Bagaimana gambaran pengaturan kehidupan (hidup sendiri/bersama)
b. Apakah mempunyai orang dekat?Bagaimana kualitas hubungan?Puas?
c. Apakah ada perbedaan peran dalam keluarga, apakah ada saling keterikatan
d. Bagaimana dalam mengambil keputusan dan penyelesaian konflik
e. Bagaimana keadaan keuangan
f. Apakah mempunyai kegiatan sosial?
9. Koping Toleransi Stres
Menggambarkan kemampuan untuk menangani stres dan menggunakan sistem
pendukung. Komponen :
a. Apakah ada perubahan besar dalam kehidupan dalam beberapa tahun terakhir
b. Dalam menghadapi masalah apa yang dilakukan?efektif?
c. Apakah ada orang lain tempat berbagi?apakah orang tersebut ada sampai
sekarang?
d. Apakah anda selalu santai/tegang setiap saat

e. Adakah penggunaan obat/zat tertentu


10. Nilai Kepercayaan
Menggambarkan spiritualitas, nilai, sistem kepercayaan dan tujuan dalam hidup.
Komponen :
a.
b.
c.
d.

Apakah anda selalu mendapatkan apa yang diinginkan


Adakah tujuan,cita-cita,rencana di masa yang akan datang
Adakah nilai atau kepercayaan pribadi yang ikut berpengaruh
Apakah agama merupakan hal penting dalam hidup?

11. Pemeriksaan Fisik


a. Kepala
Inspeksi : bentuk kepala simetris atau tidak , warna rambut , jenis rambut,
kulit kepala bersih atau tidak, ada lesiatau tidak.
Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan , ada tidaknya benjolan.
b. Mata
Inspeksi : bentuk mata simetris, bola mata hitam, konjungtiva merah muda,
sklera kemerahan, terdapat atau tidaknya lingkaran hitam sekitar mata.
Palpasi : ada atau tidaknya nyeri tekan, ada atau tidaknya benjolan.
c. Hidung
Inspeksi : bentuk simetris, terdapat sekret atau tidak. Ada atau tidaknya
Napas cuping hidung
d. Telinga
Inspeksi : bentuk simetris, pendengaran baik atau tidak, daun telinga bersih
atau kotor, ada tidaknya lesi.
e. Mulut dan Gigi
Inspeksi : mukosa bibir lembab atau kering, gigi rapi atau berantakan dan
bersih atau tidaknya keadaan gigi, lidah bersih atau tidak.
f. Leher
Inspeksi : ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid, ada tidaknya lesi.
Palpasi : arteri karotis teraba,ada atau tidak ada benjolan, ada atau tidak ada
massa.
g. Thorax
Inspeksi : bentuk simetris atau tidak, pergerakan dada.
Palpasi : ada atau tidak ada nyeri tekan, ada atau tidak ada benjolan.
Auskultasi : suara nafas normal atau tidak.
h. Abdomen
Inspeksi : ada tidaknya lesi, bentuk simetris atau tidak.
Auskultasi : bising usus terdengar atau tidak terdengar.
Palpasi :ada atau tidak ada ascites, ada atau tidak ada distensi.
i. Ekstremitas
Atas

Inspeksi : jari-jari tangan lengkap, terpasang infus di tangan sebelah

mana, kuku bersih atau tidak , ada atau tidaknya lesi.


Palpasi :ada atau tidaknya edema.
Bawah
Inspeksi : jari-jari kaki lengkap, kuku bersih atau kotor dan pendek atau
panjang, tidak ada lesi atau ada lesi.
Palpasi : ada atau tidak ada edema.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita hepatitis :
1. Hipertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder
terhadap inflamasi hepar
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang
mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan
tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme
pencernaan makanan;penurunan peristaltik (refleks viseral), kegagalan masukan
untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah,
peningkatan kebutuhan kalori/ status hipermetabolik.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan
pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
5. Intoleransi

akivitas

berhubungan

dengan

kelemahan

umum;

penurunan

kekuatan/ketahanan;nyeri, mengalami keterbatasan aktivitas;depresi.


6. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
A.
B. DIAGNOSA
H.

Perubahan

kurang

dari

C. TUJUAN
E. RENCANA
G. RASIONAL
D. KEPERAWATAN
F. KEPERAWATAN
nutrisi J.
Setelah diberikan 1. Ajarkan dan bantu klien untuk 1. keletihan

istirahat sebelum makan.


menurunkan keinginan untuk
K.
tubuh berhubungan dengan, dihrapkan nutrisi terpenuhi.
makan.
2. Awasi pemasukan diet/jumlah
U.
perasaan tidak nyaman di Dengan criteria hasil :
kalori, tawarkan makan sedikit 2. adanya pembesaran hepar
kuadran
kanan
atas, Menunjukkan
tapi sering dan tawarkan pagi
dapat menekan saluran gastro
gangguan absorbsi dan
peningkatan berat badan
paling sering.
intestinal dan menurunkan
metabolisme

kebutuhan asuhan

berlanjut

pencernaan

makanan;penurunan
peristaltik (refleks viseral),
kegagalan masukan untuk
memenuhi

dengan

keperawatan

nilai

laboratorium normal
Bebas dari tanda-tanda
mal nutrisi

L.
3. Pertahankan hygiene mulut
yang baik sebelum makan dan
sesudah makan.
M.

kebutuhan

N.

metabolik karena anoreksia,


mual

dan

peningkatan
kalori/
hipermetabolik.
I.

O.

muntah,
kebutuhan
status

P.
4. Anjurkan makan pada posisi
duduk tegak.
Q.
R.
S.

kapasitasnya.
3. akumulasi partikel makanan di
mulut dapat menambah baru
dan

rasa

tak

sedap

yang

menurunkan nafsu makan.


V.
4. menurunkan rasa penuh pada
abdomen

dan

dapat

meningkatkan pemasukan.
W.
5. glukosa dalam karbohidrat
cukup

efektif

untuk

pemenuhan energi, sedangkan

T.
5. Berikan diit tinggi kalori,
rendah lemak
X.

Gangguan

rasa Z.

lemak
sehingga

akan
yang

membebani
berhubungan

nyaman

(nyeri) asuhan

keperawatan

untuk

metode

dengan hepatitis sangat tidak

berhubungan

dengan diharapkan

nyeri

yang dapat digunakan untuk

nyaman, oleh karena terdapat

intensitas nyeri

peregangan secara kapsula hati,

yang

pembengkakan hepar yang dirasakan berkurang atau


mengalami

inflamasi

hati hilang

dan bendungan vena porta.


Y.

dengan

criteria

menentukan

untuk

diserap/dimetabolisme

hepar.
diberikan 1. Kolaborasi dengan individu 1. Nyeri

Setelah

sulit

AB.

hasil:
Tidak meringis
Skala nyeri berkurang.

melalui

pendekatan

individu
AC.

mengalami

perubahan kenyamanan nyeri


diharapkan

AA.
AD.

yang

kepada

lebih

efektif

mengurangi nyeri.
AW.
2. klienlah yang harus mencoba

AE.
AF.

meyakinkan pemberi pelayanan


AG.

kesehatan bahwa ia mengalami


nyeri.

AH.
AI.
AJ.

AX.
AY.
AZ.

2. Tunjukkan

pada

penerimaan

klien

tentang

respon

BA.

klien terhadap nyeri


AK.

Akui

adanya BB.

nyeri

BC.

AL.
dengan

Dengarka

penuh

perhatian 3. Klien yang disiapkan untuk

ungkapan

klien

tentang

nyerinya

penjelasan

AM.
AN.

3. Berikan informasi
Jelaskan

penyebab nyeri
AP.
berapa

nyeri
nyeri

melalui
yang

sesungguhnya akan dirasakan

akurat dan
AO.

mengalami

lebih

tenang

dibanding

klien

yang

penjelasan

kurang/tidak

terdapat penjelasan)

Tunjukkan
lama

(cenderung

nyeri

BD.
akan 4. kemungkinan nyeri sudah tak

berakhir, bila diketahui

bisa dibatasi dengan teknik

AQ.

untuk mengurangi nyeri.

AR.
AS.
AT.

AU.
AV.4.

Penggunaan

analgetik

yang tak mengandung efek


BE.

Hypertermi

BG.

Setelah

berhubungan dengan invasi asuhan

keperawatan

agent dalam sirkulasi darah diharapkan


sekunder terhadap inflamasi pasien
hepar

suhu

normal

criteria hasil:
Tidak

BF.

hepatotoksi
diberikan 1. Monitor tanda vital : suhu 1. Sebagai
badan
klien

pentingnya

mempertahankan cairan yang


terjadi

peningkatan suhu tubuh.


Suhu tubuh pasien
dalam keadaan normal.

untuk

mengetahui status hypertermi


BR.
2. Dalam kondisi demam terjadi

tubuh BH.
dengan 2. Ajarkan

indikator

peningkatan

evaporasi

yang

2000

memicu timbulnya dehidrasi


BS.

mencegah

BT.

dehidrasi.
BI.
3. Berikan kompres hangat pada

BU.

adekuat

(sedikitnya

l/hari)

untuk

lipatan ketiak dan femur


BJ.

BV.
BW.

BK.
3. Menghambat pusat simpatis di
BL.

hipotalamus sehingga terjadi


vasodilatasi

BM.

kulit

dengan

merangsang kelenjar keringat


untuk mengurangi panas tubuh

BN.
BO.

melalui penguapan.
BX.
4. Kondisi kulit yang mengalami
lembab

memicu

timbulnya

pertumbuhan jamur. Juga akan


BP.

mengurangi kenyamanan klien,


BQ.

mencegah

timbulnya

ruam

kulit.
4. Anjurkan
memakai
BY.

Keletihan

CA.

keperawatan

BZ.

pakaian

yang

individu

inflamasi kronis sekunder diharapkan keletihan klien


terhadap hepatitis

untuk

menyerap keringat
diberikan 1. Jelaskan sebab-sebab keletihan 1. Dengan

Setelah

berhubungan dengan proses asuhan

klien

CB.

criteria hasil:
KU klien baik, badan tidak

CC.

lemas
Dapat melakukan aktivitas

CD.

mandiri
Kekuatan
normal

otot

secara

klien cenderung lebih tenang


2. Tirah
baring
akan
meminimalkan
dikeluarkan

CE.

kembali CF.
CG.

sebab-

sebab keletihan maka keadaan

dapat berkurang dengan

sehari-hari

penjelasan

energi

yang

sehingga

metabolisme dapat digunakan


untuk penyembuhan penyakit.
CV.
3. Memungkinkan klien dapat
memprioritaskan

kegiatan-

kegiatan yang sangat penting

CH.
2. Sarankan klien untuk tirah
baring

dan

meminimalkan

pengeluaran

energi

untuk

kegiatan yang kurang penting


CW.

CI.
CJ.
CK.

CX.
4. Keletihan

dapat

diminimalkan
CL.

mengurangi

segera
dengan

kegiatan

yang

dapat menimbulkan keletihan


5. untuk mengurangi keletihan
CM.
3. Bantu

individu

mengidentifikasi
kekuatan,

untuk
kekuatan-

kemampuan-

kemampuan dan minat-minat


CN.
CO.
CP.

baik fisik maupun psikologis


CY.

CQ.
CR.
CS.
4.

Analisa bersama-sama tingkat


keletihan

meliputi

waktu

puncak

energi,

waktu

kelelahan,

aktivitas

yang

berhubungan dengan keletihan


CT.
CU.
5. Bantu untuk belajar tentang
keterampilan

koping

yang

efektif (bersikap asertif, teknik


CZ.

Resiko tinggi DB.

Setelah

kerusakan integritas asuhan


kulit dan jaringan diharapkan

relaksasi)
diberikan DD. 1.Pertahankan kebersihan 1.
keperawatan
resiko

tanpa
kering

berhubungan dengan kerusakan integritas klien DE.

menyebabkan

kulit

Kekeringan
meningkatkan sensitifitas kulit
dengan
saraf
DJ.

merangsang

ujung

pruritus

sekunder tidak terjadi dengan criteria DF.

terhadap

akumulasi hasil:
pigmen
bilirubin Jaringan kulit utuh,
penurunan pruritus
dalam garam empedu DC.
DA.

2.Cegah

yang

penghangatan 2.

berlebihan

pertahankan
dingin

suhu

dan

Penghangat

dengan

an yang berlebih menambah

ruangan

pruritus dengan meningkatkan

kelembaban

sensitivitas

rendah, hindari pakaian terlalu

melalui

vasodilatasi.
DK.

tebal
DG.

3.

Anjurkan

tidak

DL.

menggaruk, instruksikan klien

DM.

untuk memberikan tekanan


kuat pada area pruritus untuk

ruangan

merangsang

pelepasan

hidtamin, menghasilkan lebih

4.Pertahankan

kelembaban

Penggantia
n

tujuan menggaruk
DH.

3.

pada

banyak pruritus
DN.

30%-40% dan dingin

DO.

DI.

DP.
DQ. 4.

Pendinginan

akan

menurunkan vasodilatasi dan


kelembaban kekeringan
DS.

Intoleransi akivitas

berhubungan dengan

DU.
asuhan

Setelah

diberikan
keperawatan

DR.
DW. 1.Ubah posisi sesering
EB. 1.Meningkatkan
mungkin

dan

berikan

fungsi

pernafasan dan meminimalkan

kelemahan umum;

diharapkan

penurunan

beraktifitas mandiri dengan

DX.

kekuatan/ketahanan;nyeri,

kriteria hasil:
Menunjukkan

DY.

mengalami keterbatasan
aktivitas;depresi.
DT.

klien

dapat

prawatan kulit yang baik.

sesuai

tekanan pada area tertentu


untuk

2.Tingkatkan
toleransi,

aktivitas

menurunkan

risiko

kerusakan jaringan.

bantu EC.

2. Tirah baring lama dapat

teknik/prilaku

yang melakukan latihan rentang gerak menurunkan kemampuan. Ini


memampukan kembali sendi pasif/aktif.
dapat terjadi karena keterbatasan
melakukan aktivits dan DZ.
aktivitas
yang
mengganggu
melakukan

peningatan EA. 3.Dorong


penggunaan periode istirahat.
toleransi aktivitas.
teknik
manajemen
stress, ED. 3.Meningkatkan relaksasi
DV.
misalnya relaksasi progresif, dan
penghematan
energi,
visualisasi, bimbingan imajinasi, memusatkan kembali perhatian,
dan berikan aktivitas hiburan.

dan dapat meningkatkan koping.


EE.
EF.
EG.

EH.
EI.DAFTAR PUSTAKA
EJ.
EK.

Brunner & Suddarth. 2011. Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 12. Jakarta :

EGC.
EL.
EM.

Dongoes, Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.


Cahnoto.

2010.

Askep

Pada

Pasien

Hepatitis.

(http://cahnoto.blogspot.com/2010/04/askep-pada-pasien-hepatitis.html)
Diakses tanggal 17 November 2014
EN.

Carpenito, Lynda Juall. 2013. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta :

EGC
EO.

Haryono, Rudi. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan.


Yogyakarta : Gosyen Publishing.

EP.

Subianto,

Teguh.

2009.

Asuhan

Keperawatan

(http://teguhsubianto.blogspot.com/2009/06/asuhan-keperawatanhepatitis.html) Diakses tanggal17 November 2014


EQ.

Hepatitis.

ER.

Mengetahaui,
ES.

ET.Nama Pembimbing / CI,

Nama

Mahasiswa,
EU.
EV.
EW.
EX.
EY. NIP
EZ.
FA.
FB.
FC.

Luh Putu Nita Meliandari


NIM. P07120213021

FD. Nama Pembimbing / CT,


FE.
FF.
FG.
FH. Ns. IGA. Ari Rasdini, S.Pd., S.Kep., M.Pd.
FI.

NIP. 195910151986032001

FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
FW.