Anda di halaman 1dari 80

TUGAS INDIVIDU

IMPLEMENTASI ORIENTASI PASIEN BARU DI RUANG HANA


RUMAH SAKIT IMMANUELBANDUNG
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas individu Stase Kep.ManKep

Disusun oleh:
Pranita Rahayu

PPN 14234

PROGRAM STUDI PROFESI NERS XIII


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMMANUEL
BANDUNG
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha Esa, oleh karena kasih
dan perlindungan-Nya, kami dapat menyusun proposal dengan baik. Dalam laporan
ini, kami mengangkat kasus yang kami temukan di ruang Hana yaitu mengenai Tata
Kelola Area Keperawatan yang mana masalah tersebut harus diperbaiki demi
meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan. Ungkapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kami ucapkan kepada:
1. Dr. Bina Miguna, MM-BAT sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Immanuel.
2. Dr. Wintari Hariningsih, SKp.,SH.,MH.Kes sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan
3. Dr. Blacius Dedi, SKM., M.Kep sebagai Koordinator mata ajar kepemimpinan
dan manajemen.
4. Herwinda Sinaga S.Kep Ns sebagai tim pengajar kami dalam mata ajar
kepemimpinan dan manajemen keperawatan yang banyak membantu kami dalam
penyusunan laporan ini.
5. Sari Sarce S.Kep Ns sebagai tim pengajar kami dalam mata ajar kepemimpinan
dan manajemen keperawatan yang banyak membantu kami dalam penyusunan
laporan ini
6. Ating Elhana S.Kep Ns sebagai kepala ruangan yang telah memberi kesempatan
kepada kami untuk melakukan studi manajemen di Ruangan Hana

7. Nurlaela S.Kep Ns dan Anton Antoni S.Kep Ns sebagai CI klinik yang telah
membimbing kami dalam menyusun laporan ini
8. Seluruh anggota kelompok 5 yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan
ini
Kami juga menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan yang kami miliki. Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan

untuk perbaikan laporan ini menjadi lebih baik lagi. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat.

Bandung, 25 Mei 2015

Kelompok V
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................................iii
BAB IPENDAHULUAN..............................................................................................1
1.1.

Latar Belakang................................................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah...........................................................................................3

1.3.

Tujuan.............................................................................................................3

1.4.

Metode Pengumpulan Data.............................................................................4

1.5.

Sistematika Penulisan.....................................................................................5

BAB IITINJAUAN PUSTAKA....................................................................................6


2.1.

Konsep kepemimpinan di unit pelayanan keperawatan..................................6

2.2.

Konsep manajemen keperawatan....................................................................9

2.3.

Mutu pelayanan keperawatan.......................................................................28

BAB IIIKAJIAN SITUASI RUANG HANA.............................................................31


3.1.

Profil Rumah Sakit Immanuel Bandung.......................................................31

3.2.

Profil Ruang Hana.........................................................................................33

3.3.

Pengkajian Situasi Ruang dan Lingkungannya.............................................34

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................83

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Pelayanan kesehatan yang baik merupakan kebutuhan bagi setiap orang.


Semua orang yang ingin dilayani dan mendapatkan kedudukan yang sama
dalam pelayanan kesehatan. Dalam Undang Undang Dasar (UUD) negara
Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 dan Pasal 34 menyatakan negara menjamin
setiap warga negara mendapatkan hidup sejahtera, tempat tinggal, kesehatan
dan pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia, namun perkembangan dunia
kesehatan yang semakin pesat kian membuka pengetahuan masyarakat
mengenai dunia kesehatan dan keperawatan (Asmuji, 2012).
Rumah

Sakit

merupakan

institusi

pelayanan

kesehatan

yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang


menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (UU No.
44 Tahun 2009). Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan
memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan
derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Profesi tenaga kesehatan yang
terlibat dalam pelayanan di suatu Rumah Sakit saling bekerjasama antara satu
sama lain untuk menunjang pelayanan. Berbagai macam profesi yang terdapat
dalam pelayanan di rumah sakit antara lain dokter, bidan, ahli gizi, radiologi
dan lain sebagainya dan salah satunya adalah profesi perawat. Profesi perawat
mempunyai kedudukan penting dalam menghasilkan kualitas pelayanan
kesehatan di rumah sakit karena pelayanan yang diberikan berdasarkan
pendekatan bio, psiko, sosial, spritual dan dilaksanakan selama 24 jam secara
berkesinambungan (Depkes RI, 2010).
Keperawatan adalah suatu bentuk yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang ada dalam rumah sakit. Keberadaan keperawatan

dalam memberikan Asuhan Keperawatan dalam situasi yang kompleks 24 jam


secara berkesinambungan, melibatkan klien, keluarga, maupun profesi atau
tenaga kesehatan lainnya. Perawat sebagai salah satu pemberi asuhan
keperawatan diharapkan dapat melakukan asuhan keperawatan secara efektif
dan efisian bagi pasien yang dikelolanya. Asuhan keperawatan yang diberikan
bagi pasien dapat berhasil jika didukung dengan manajemen keperawatan
yang terorganisasi dengan baik (Nursalam, 2012).
Manajemen adalah suatu proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui
orang lain, sedangkan manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja
melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan
secara professional. Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan,
mengorganisasi, memimpin, dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang
tersedia untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang seefektif dan
seefisien mungkin bagi individu, keluarga dan masyarakat (Rika Widya
Sukmana 1999, dalam Nursalam 2011). Proses manajemen keperawatan
sejalan dengan proses keperawatan sebagai satu metode perlakuan asuhan
keperawatan secara profesional, sehingga diharapkan keduanya dapat saling
menopang. Sebagaimana proses keperawatan, dalam manajemen keperawatan
terdiri

dari

pengumpulan

data,

identifikasi

masalah,

perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi hasil. (Nursalam, 2012).


Stase kepemimpinan dan manajemen keperawatan dalam tahapan profesi ners
menjadi

tempat

belajar

bagi

mahasiswa

yang

secara

langsung

diimplementasikan dalam dunia kerja yang nyata. Dalam konteks belajar ini,
mahasiswa diberikan ruang rawat inap untuk dikelola dengan pendekatan
proses manajemen keperawatan, salah satunya adalah Ruang Rawat Inap Hana
RS Immanuel Bandung. Ruang Hana merupakan ruang rawat Prima I yang
terdiri dari kelas II A dan II B. Ruang Hana terdiri dari 19 kapasitas tempat
tidur, dan merupakan ruang rawat dengan multi kelas penyakit dalam dan

bedah baik kelas wanita dan pria. Jumlah perawat di ruangan Hana dan
Jokebed adalah 24 orang dengan klasifikasi pendidikan DIII Keperawatan 9
orang dan Sarjana Keperawatan Ners 15 (Komite Keperawatan, 2014).
Proses belajar ini diharapkan mampu menjadi suatu kesempatan bagi
mahasiswa untuk mengaplikasikan teori-teori manajemen yang dipadukan
secara komprehensif dengan kemampuan intelektual, kemampuan teknis
keperawatan dan kemampuan interpersonal dalam lingkup tatanan pelayanan
kesehatan yang nyata di ruang rawat inap di bawah arahan dan bimbingan
intensif dari pembimbing akademik dan pembimbing klinik.

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang
dirumuskan adalah Bagaimana pelaksanaan tata kelola pelayanan
keperawatan di Ruang Hana - Rumah Sakit Immanuel Bandung?

1.3.

Tujuan

1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan pengelolaan unit pelayanan di ruang rawat
inap dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menerapkan konsep, teori dan prinsip kepemimpinan
dalam tatanan unit pelayanan keperawatan
b. Mahasiswa mampu menerapkan fungsi fungsi manajemen dalam
pengelolaan unit pelayanan keperawatan
c. Mahasiswa mampu menerapkan model model atau tipe tipe
kepemimpinan dalam unit pelayanan keperawatan
d. Mahasiswa mampu bekerja sama dalam tim keperawatan dan tim
kesehatan lainnya.
e. Mahasiswa mampu melaksanakan analisis internal dan eksternal (SWOT)
di Ruang Hana
f. Mahasiswa mampu mengaplikasikan rencana kegiatan yang telah disusun
berdasarkan prioritas kegiatan dan rencana kegiatan (POA).

1.4.

Metode Pengumpulan Data


a. Observasi
Merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan mengamati perilaku
dan keadaan untuk memperoleh data tentang masalah manajemen
keperawatan dengan mengunakan lembar observasi yang telah disiapkan
terlebih dahulu. Hasil observasi tanggal 20 Mei 2015 24 Mei 2015pada
perawat ruang Hana menunjukan sudah melakukan standar precaution
dalam melakukan tindakan.
b. Wawancara
Merupakan teknik pengumpulan data dengan menanyakan atau
tanyajawab kepada pasien dan perawat berkaitan dengan masalah perawat
di ruang Hana.Hasil wawancara tanggal 20 Mei 2015 24 Mei 2015
dengan pengatur ruangan dan PJ Shift mengatakan bahwa penerimaan
dan pengkajian awal pasien, seperti orientasi ruangan belum dapat
dilakukan secara optimal sesuai dengan SAK dikarenakan beban kerja
dan kesibukan akan tindakan keperawatan yang dilakukan.
c. Studi Dokumentasi
Merupakan cara untuk mengumpulkan data dengan mempelajari data dan
catatan yang berhubungan dengan manjemen keperawatan.
d. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar
observasi dan pedoman untuk wawancara

1.5.

Sistematika Penulisan
Penulisan laporan ini dibuat dengan sistematika penulisan sebagai berikut Bab
I pendahuluan, terdiri dari latar belakang, tujuan umum dan khusus, waktu,
metode pengumpulan data dan sistematika penulisan. Bab II tinjauan pustaka.
Bab III uraian kegiatan terdiri dari Kajian Situasi Ruang Hana, berisi profil
Rumah Sakit, profil ruangan, pengkajian situasi lingkungan, analisa SWOT,

matriks strategi, matriks SWOT, prioritas masalah, fish bone dan Planning of
Action (POA).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Konsep kepemimpinan di unit pelayanan keperawatan

1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan
dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan
(Kirsmansa. 2008).
Menurut Ruth. M Tappen (2007), dalam buku essential of nursing leadership
and management, seorang pemimpin yang baik adalah pandai dalam
mengambil keputusan yang tepat dan berorientasi pada tindakan/action. Untuk
dapat mengambil keputusan dan bertindak dengan baik maka seorang
pemimpin

harus

memiliki

pengetahuan,

kesadaran

diri,

kemampuan

berkomunikasi dengan baik, energi, dan tujuan yang jelas. Seorang pemimpin
harus menjadi role model yang baik dalam cara kepemimpinannya, dalam
pelaksanaan tugas maupun dalam membangun kerja sama dan bekerja sama
dengan orang lain termasuk dengan bawahannya.
Selain itu seorang pemimpin yang efektif harus memiliki kualitas diri dan
kualitas perilaku sebagai berikut : integritas, berani mengambil resiko, inisiatif,
energy, optimis, pantang menyerah (perseverance), seimbang, kemampuan
menghadapi stress, dan kesadaran diri serta memiliki kualitas perilaku seperti:
berpikir

kritis,

menyelesaikan

masalah

(solve

problem),

menghormati/menghargai orang lain, kemampuan berkomunikasi yang baik,


punya tujuan dan mengkomunikasikan visi dan meningkatkan kemampuan diri
dan orang lain (Wargana, 2010).

2. Tipologi Kepemimpinan

Menurut Gillies 1996 dalam nursalam 2012. Gaya kepemimpinan berdsarkan


wewenang dan kekuasaan dibedakan menjadi empat yaitu:
a. Otoriter
Merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan.
Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam memimpin. Pemimpin
menentukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan.
Informasi diberikan hanya kepentingan tugas. Motivasi dilakukan dengan
imbalan dan hukuman.
b. Demokratis
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap
staf. Menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk mendorong ide
dari staf, memotivasi kelompok untuk memnentukan tujuan sendiri.
Membuat rencana dan pengontrolan dalam penerapannya. Informasi
diberikan seluas-luasnya dan terbuka.
c. Parisipatif
Merupakan gabungan antara otoriter dan demokratis, yaitu pemimpin yang
menyampaikan hasil analisis masalah kemudian mengusulkan tindakan
tersebut kepada bawahannya. Pemimpin meminta saran dan kritik staf serta
mempertimbangkan respons staf terhadap usulannya. Keputusan akhir
diambil bergantung pada kelompok
d. Laissez Faire
Gaya kepemimpinan yang mamou memepngaruhi orang lain agar bersedia
bekerja sama untuk mencapai tujuan dengan cara lebih banyak menyerahkan
pelaksanaan berbagai kegiatan kepada bawahan.

Menurut Siagian (2008), Gaya kepemimpinan berkembang menjadi beberapa


tipe kepemimpinan, diantaranya adalah sebagian berikut :
a. Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria
atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi;
Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; Menganggap
bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerima kritik, saran dan

pendapat; Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya; Dalam tindakan


penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung
unsur paksaan dan bersifat menghukum.
b. Tipe Militeristis.
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang
pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi
militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin
yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem
perintah yang lebih sering dipergunakan; Dalam menggerakkan bawahan
senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, senang pada formalitas
yang berlebih-lebihan, menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan,
sukar menerima kritikan dari bawahannya, menggemari upacara-upacara
untuk berbagai keadaan.
c. Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yangpaternalistis ialah
seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya
sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi (overly
protective); jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya
untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untukmengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering
bersikap maha tahu.
d. Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab
mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui
bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan
karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat
besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan
mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya
pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang
karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian

diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur,


kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma.
Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang
yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki
karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi
Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan
sebagai orang yang ganteng.
e. Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe
pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern.
Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai
berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari
pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu
berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan
kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima
saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha
mengutamakan kerjasama dan team work dalam usaha mencapai tujuan;
ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya
untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak
lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat
kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih
sukses dari padanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri
pribadinya sebagai pemimpin.
2.2.

Konsep manajemen keperawatan

1. Pengertian manajemen
Manajemen didefinisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui
orang lain untuk mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang
berubah.

Manajemen

juga

merupakan

proses

pengumpulan

dan

mengorganisasi sumbersumber dalam mencapai tujuan (melalui kerjaan

orang lain) yang mencerminkan dinamika suatu organisasi (Gillies, 1998


dalam Nursalam 2011).
Manajemen didefenisikan sebagai suatu proses dalam menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain, sedangkan menejemen keperawatan adalah
suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan
asuhan keperawatan secara profesional (Arwani, 2006).
Berdasarkan pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa manjemen
dapat didefenisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui orang
lain untuk mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang berubah.
Menejemen juga merupakan proses pengumpulan dan mengorganisasi
sumber-sumber dalam mencapai tujuan (melalui kerjaan orang lain) yang
mencerminkan dinamika suatu organisasi.
2. Fungsi-fungsi Manajemen
Secara ringkas fungsi manajemen adalah sebagai berikut :(Swanburg, 2005)
a. Perencanaan (planning)
Perencanaan adalah sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan
tujuan organisasi sampai dengan menyusun dan menetapkan rangkaian
kegiatan untuk mencapainya, melalui perencanaan yang akan dapat
ditetapkan tugas- tugas staf. Dengan tugas ini seorang pemimpin akan
mempunyai pedoman untuk melakukan supervisi dan evaluasi serta
menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staf dalam menjalankan
tugas- tugasnya
b. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian adalah rangkaian

kegiatan

manajemen

untuk

menghimpun semua sumber data yang dimiliki oleh organisasi dan


memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Actuating (directing, commanding, coordinating)
Penggerakan adalah proses memberikan bimbingan kepada staf agar
mereka mampu bekerja secara optimal dan melakukan tugas- tugasnya
sesuai dengan ketrampilan yang mereka miliki sesuai dengan dukungan
sumber daya yang tersedia.menggerakkan orang-orang agar mau/ suka

10

bekerja. Ciptakan suasana bekerja bukan hanya karena perintah, tetapi


harus dengan kesadaran sendiri, termotivasi secara interval.
d. Pengendalian / pengawasan (controling)
Pengendalian adalah proses untuk mengamati secara terus menerus
pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi
terhadap penyimpangan yang terjadi.merupakan fungsi pengawasan agar
tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana, apakah orang orangnya,
cara dan waktunya tepat. Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan
dapat segera diperbaiki.
e. Penilaian (evaluasi)
Merupakan proses pengukuran

dan

perbandingan

hasil-hasil

pekerjaanyang seharusnya dicapai. Hakekat penilaian merupakan fase


tertentu setelah selesai kegiatan, sebelum, sebagai korektif dan
pengobatan ditujukan pada fungsi organik administrasi dan manajemen.

3. Proses manajemen
Menurut Swanburg(2005) Proses manajemen keperawatan sesuai dengan
pendekatan sistem terbuka dimana masing-masing komponen saling
berhubungan dan berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Karena
merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari lima elemen yaitu input,
proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik.
a. Input
Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personel,
peralatan dan fasilitas.
b. Proses
Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari
tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana yang
mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan
pelayanan

keperawatan.

Untuk

melaksanakan

proses

manajemen

diperlukan keterampilan teknik, keterampilan hubungan antar manusia, dan


keterampilan konseptual.
c. Output

11

Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset.


d. Kontrol
Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk
budget dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat,
prosedur yang standar dan akreditasi.
e. Mekanisme timbal balik
Berupa laporan finansial, audit keperawatan, survey kendali mutu dan
penampilan kerja perawat. Berdasarkan prinsipprinsip diatas maka para
manajer dan administrator seyogyanya bekerja bersamasama dalam
perencanaan dan pengorganisasian serta fungsi fungsi manajemen lainnya
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
4. SWOT Analisis
Menurut Marquis Huston (2009), Analisis SWOT (singkatan bahasa Inggris
dari strengths, weaknesses, opportunities,dan threats) adalah metode
perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi
bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi
bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang
mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.
Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset pada
Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dengan
menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500. Sebelum
melakukan perencanaan, maka perlu dikaji terlebih dahulu beberapa hal.
Focus identifikasi bisa menggunakan pendekatan yang lazim dipakai yaitu
SWOT. Di dalam pendekatan ini kita akan mengumpulkan semua data tentang
tenaga keperawatan, adimistrasi dan bagian keuangan yang akan mepengaruhi
fungsi organisasi keperawatan secara keseluruhan. Setiap data akan di
kelompokan apakah merupakan kekuatan, kelemahan, kesempatan ataukah
merupakan ancaman bagi organisasi.
Teori Analisis SWOT adalah sebuah teori yang digunakan untuk
merencanakan sesuatu hal yang dilakukan dengan SWOT. SWOT adalah

12

sebuah singkatan dari, S adalah Strenght atau Kekuatan, W adalah Weakness


atau Kelemahan, O adalah Oppurtunity atau Kesempatan, dan T adalah Threat
atau Ancaman. SWOT ini biasa digunakan untuk menganalisis suatu kondisi
dimana akan dibuat sebuah rencana untuk melakukan sesuatu, sebagai contoh,
program kerja (Prawita).
Menurut Freddy Rangkuti (2005), SWOT adalah identitas berbagai faktor
secara sistematis untuk merumusakan strategi pelayanan. Analisis ini
berdasarkan logika yang dapat memaksimalkan peluang namun secara
bersamaan dapat meminimalkan kekurangan dan ancaman. Analisis SWOT
membandingkan antara faktor eksternal dan faktor internal.
Diagram analisis SWOT :
Berbagai peluang

III. Mendukung Strategi Turnaround


I. Mendukung Strategi Agresif
Kelemahan internal

Kekuatan internal

II. Mendukung Strategi Diversifikasi


IV. Mendukung Strategi Defensif

Berbagai ancaman
Gambar 1 Diagram Analisis SWOT

KUADRAN I: ini merupakan situasi yang sangatmenguntungkan. Perusahaan


tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan
peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi iniadalah
mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif. (Growth oriented strategy)
KUADRAN II: Meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan ini
masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan

13

adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang


dengan cara strategi diversifikasi (produk/jasa)
KUADRAN III: Perusahaan menghadapi peluang pasar yang sangat besar,
tetapi dilain pihak, ia menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal.
Fokus perusahaan ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal
perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik.
KUADRAN IV: Ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan,
perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.
5. Fish Bone Analis
Menurut Marquis, L Bessie dan Carol J. Huston (2009), Analisa tulang ikan
dipakai jika ada perlu untuk mengkategorikan berbagai sebab potensial dari satu
masalah atau pokok persoalan dengan cara yang mudah dimengerti dan rapi. Juga
alat ini membantu kita dalam menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi dalam
proses. Yaitu dengan cara memecah proses menjadi sejumlah kategori yang
berkaitan dengan proses, mencakup manusia, material, mesin, prosedur, kebijakan
dan sebagainya.
Langkah-langkah penerapan :
a. Langkah 1: Menyiapkan sesi Analisa Tulang Ikan yakni: analisa tulang ikan
kemungkinan akan menghabiskan waktu 50 - 60 menit, peserta dibagi dalam
kelompok maksimum 6 orang per kelompok, dengan menggunakan alat
curah pendapat memilih pelayanan atau komponen pelayanan yang akan
dianalisa, siapkan kartu dan kertas flipchart untuk setiap kelompok, buatlah
gambar pada flipchart berdasarkan contoh dibawah ini, tentukan seorang
pencatat dengan tugas pencatat adalah mengisi diagram tulang ikan.
b. Langkah 2: Mengidentifikasi akibat atau masalah yakni :Akibat atau
masalah yang akan ditangani tulislah pada kotak sebelah paling kanan
diagram tulang ikan. Misalnya Laporan Anggaran Akhir bulan terlambat.
c. Langkah 3: Mengidentifikasi berbagai kategori sebab utama yakni: Dari
garis horizontal utama, ada empat garis diagonal yang menjadi "cabang".
Setiap cabang mewakili "sebab utama" dari masalah yang ditulis, kategori
sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian rupa sehingga masuk akal

14

dengan situasi. Kategori-kategori ini bisa diringkas seperti : sumber daya


alam, sumber daya manusia, mesin, materi, pengukuran, metode, mesin,
material, manusia - (4m), tempat (place), prosedur (procedure), manusia
(people), kebijakan (policy) - (4p), lingkungan (surrounding), pemasok
(supplier), sistem (system), keterampilan (skill) - (4s). Kategori tersebut
hanya sebagai saran; bisa menggunakan kategori lain yang dapat membantu
mengatur gagasan-gagasan. Sebaiknya tidak ada lebih dari 6 kotak.
d. Langkah 4: Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran
yakni : Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan dengan
menggunakan curah pendapat, saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan
bersama-sama dimana sebab tersebut harus ditempatkan dalam diagram
tulang ikan. (yaitu, tentukan di bawah kategori yang mana gagasan tersebut
harus ditempatkan. misalnya di kategori mesin.), sebab-sebab ditulis pada
garis horizontal sehingga banyak "tulang" kecil keluar dari garis horizontal
utama, suatu sebab bisa ditulis dibawah lebih dari satu kategori sebab utama
(misalnya, menerima data yang terlambat bisa diletakkan dibawah manusia
dan sistem).
e. Langkah 5: Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama yakni: Setelah
setiap kategori diisi carilah sebab-sebab yang muncul pada lebih dari satu
kategori. Sebab - sebab inilah yang merupakan petunjuk "sebab yang
tampaknya paling mungkin " lingkarilah sebab yang tampaknya paling
memungkin pada diagram. Catat jawabannya pada kertas flipchart terpisah.
f. Langkah 6: Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin
yakni : Diantara semua sebab-sebab, harus dicari sebab yang paling
mungkin, kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan (sebab yang
tampaknya paling memungkinkan) dan tanyakan , "mengapa ini sebabnya ?",
pertanyaan "mengapa ?" akan membantu anda sampai pada sebab pokok
dari permasalahan teridentifikasi, tanyakan "mengapa ?" sampai saat
pertanyaan itu tidak bisa dijawab lagi. kalau sudah sampai kesitu sebab
pokok telah terindentifikasi.

15

6. Konsep model asuhan keperawatan


A. Konsep Model Asuhan Keperawatan
1. MAKP (Model Asuhan Keperawatan Profesional)
a. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) adalah suatu sistem

(struktur, proses, dan nilai-nilai) yang memungkinkan perawat profesional


mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk
menopang pemberian asuhan tersebut (Nursalam, 2007).
b. Dasar pertimbangan pemilihan Model Asuhan Keperawatn Profesional
(MAKP).
Menurut Nursalam (2007) mengidentifikasikan 8 model pemberian
asuhan keperawatan, tetapi model yang umum dilakukan di rumah
sakit adalah Keperawatan Tim dan Keperawatan Primer. Karena setiap
perubahan akan berdampak terhadap suatu stress, maka perlu
mempertimbangkan 6 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode
pemberian asuhan keperawatan yaitu :
1) Sesuai dengan visi dan misi institusi
2) Dapat

diterapkan

proses

keperawatan

dalam

asuhan

keperawatan.
3) Efisien dan efektif penggunaan biaya.
4) Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat.
5) Kepuasan kinerja perawat

2. MPKP (Model Praktek Keperawatan Profesional)


MPKP adalah suatu sistem (struktur, proses, dan nilai-nilai profesional) yang
memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan
termasuk lingkungan, yang dapat menopang pemberian asuhan tersebut

16

(Sitorus, 2005). Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu


sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat
profesional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan
tempat asuhan tersebut diberikan.
a. Unsur struktur yang harus disiapkan untuk dapat melaksanakan
MPKP,yaitu:
1)Menetapkan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah klien sesuai
dengan

derajat

ketergantungan

klien.

Penetapan

jumlah

tenaga

keperawatan menjadi penting karena bila jumlah perawat tidak sesuai


dengan jumlah tenaga yang dibutuhkan, maka tidak ada waktu bagi
perawat untuk melakukan tindakan keperawatan yang seharusnya
dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan. Akibatnya perawat hanya
melakukan tindakan kolaboratif dan tidak sempat melakukan tindakan
terapi keperawatan, observasi, dan pemberian pendidikan kesehatan.
2)Menetapkan jenis tenaga keperawatan di ruang rawat, yaitu Kepala Ruang,
Perawat Primer dan perawat Asosiate, sehingga peran dan fungsi masing
masing tenaga sesuai dengan kemampuannya dan terdapat tanggungjawab
yang jelas dalam sistem pemberian asuhan keperawatan.
3)Menyusun standar rencana keperawatan. Dengan standar renpra, maka PP
hanya melakukan validasi terhadap ketepatan penentuan diagnosis
berdasarkan pengkajian yang sudah dilakukan, sehingga waktu tidak
tersita untuk membuat penulisan renpra yang tidak diperlukan.
b. Jenis-Jenis MPKP (Nursalam, 2007)
1) MPKP Transisi
MPKP dasar yang tenaga perawatnya masih ada berlatar belakang
pendidikan SPK, namun kepala ruangan dan ketua timnya dari D3
keperawatan.
2) MPKP Pemula
MPKP dasar yang semua tenaga perawatnya minimal D3 Keperawatan.
3) MPKP Profesional

17

MPKP Profesional dibagi 3 tingkatan yaitu:


- MPKP I
MPKP yang tenaga perawat pelaksananya

minimal

D3

Keperawatan, tetapi kepala ruangan (karu) dan ketua tim (katim)


-

mempunyai pendidikan minimal S1 Keperawatan.


MPKP II
MPKP intermediate dengan tenaga minimal D3 Keperawatan dan
mayoritas Sarjana Ners Keperawatan, sudah memiliki tenanga
spesialis Keperawatan jiwa

MPKP III
MPKP Advance yang semua tenaga minimal Sarjana Ners
Keperawatan, sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa
dan dokter keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa.

c. Peran dan Tanggung Jawab Dalam MPKP


1) Peran Kepala Ruangan (Karu)
- Sebelum melakukan sharing dan operan pagi, KARU melakukan
ronde keperawatan kepada pasien yang dirawat, meliputi :
menanyakan keadaan pasien dan kebutuhannya serta mengobservasi
keadaan infus, tetesan infus dan bila ada obat yang belum diminum
oleh pasien segera diberikan dengan memberikan motivasi kepada
-

pasien tentang kegunaan obat.


Memimpin sharing pagi
Memimpin operan pagi
Memastikan pembagian tugas perawat yang telah dibuat oleh Kepala

Tim dalam pemberian asuhan keperawatan pada hari itu.


Memastikan seluruh pelayanan pasien terpenuhi dengan baik,
meliputi : pengisian Askep, Visite Dokter (Advise), pemeriksaan

penunjang (hasil Lab), dll


Memastikan ketersediaan fasilitas dan sarana sesuai dengan

kebutuhan.
Mengelola dan menjelaskan komplain dan konflik yang terjadi di

area tanggung jawabnya.


Melaporkan kejadian luar biasa kepada manajer.

18

2)

Ketua Tim (KATIM)


Tugas Utama: Mengkoordinir pelaksanaan Askep sekelompok pasien
oleh Tim keperawatan dibawah koordinasinya.
- Mengidentifikasi kebutuhan perawatan seluruh pasien yang
-

dikoordinirnya pada saat Pre Confrence


Memastikan seluruh PP membuat rencana asuhan yang tepat untuk

setiap pasiennya.
Memastikan setiap PA melaksanakan asuhan keperawatan sesuai

rencana yang telah dibuat PP


Melaksanakan validasi tindakan keperawatan seluruh pasien
dibawah koordinasinya pada saat Post Confrence.

3)

Penanggung Jawab Shift (PJ Shift)


Tugas Utama : Menggantikan fungsi pengatur pada saat shift
sore/malam dan hari libur.
- Memimpin kegiatan operan shift sore-malam.
- Memastikan PP melaksanakan follow up pasien tanggung jawabnya
- Memastikan seluruh PA melaksanakan Askep sesuai rencana yang
-

4)

telah dibuat PP
Mengatasi permasalahan yang terjadi diruang perawatan
Membuat laporan kejadian kepada pengatur ruangan.

Perawat Pelaksana (PP) & Perawat Asosiet (PA) :


Tugas Utama :Mengidentifikasi seluruh kebutuhan perawatan pasien
yang menjadi tanggung jawabnya, merencanakan asuhan keperawatan,
melaksanakan tindakan keperawatan dan melakukan evaluasi (follow
up) perkembangan pasien.
- Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan oleh PA
- Memastikan seluruh tindakan keperawatan sesuai dengan rencana

d. Macam-macam Metode MPKP (Nursalam, 2007)


1) Metode Fungsional

19

Sistem tugas di sini mengacu pada ilmu managemen yang diterapkan


pada bidang administrasi bisnis, yang berfokus pada tugas/pekerjaan
yang harus diselesaikan. Dalam pendekatan yang berorientasi pada tugas
ini, tenaga dengan latar belakang pendidikan kurang melakukan tugas
yang lebih ringan atau tidak kompleks dibandingkan dengan perawat
profesional. Model ini dibutuhkan pembagian tugas (job descriptions),
prosedur, kebijakan dan alur komunikasi yang jelas. Metode ini cukup
ekonomis dan efisien serta mengarahkan pemusatan pengendalian.
Kelemahan dari metode ini adalah munculnya fragmentasi keperawatan
di mana pasien menerima perawatan dari berbagai kategori tenaga
keperawatan.

Contoh : Perawat A tugasnya menyuntik, perawat B tugasnya mengukur


suhu badan klien. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau
lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan
bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima
laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang
klien.

a) Keuntungan
Keuntungan metode fungsional diantaranya perawat terampil untuk
tugas /pekerjaan tertentu, mudah memperoleh kepuasan kerja bagi
perawat setelah selesai tugas, kekurangan tenaga yang ahli dapat
diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu tugas
yang sederhana dan memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi
staf atau peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.
b) Kerugian

20

Kerugiannya pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau total


sehingga proses keperawatan sulit dilakukan, apabila pekerjaan
selesai cenderung meninggalkan klien dan melakukan tugas non
keperawatan, kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit
diidentifikasi kontribusinya terhadap pelayanan dan Perawat hanya
melihat asuhan keperawatan sebagai keterampilan saja.

2) Metode Tim (Nursalam, 2012)


Metode ini dirancang oleh Eleanor Lambertson pada tahun 1950-an
yang digunakan untuk mengatasi fragmentasi dari metode orientasi pada
tugas dan memenuhi peningkatan tuntutan kebutuhan perawat
profesional yang muncul karena kemajuan teknologi kesehatan dan
perawat. Tim keperawatanmerupakan pemberian asuhan keperawatan
pada setiap klien oleh tim keperawatan yang dipimpin oleh perawat
profesional.

Tim keperawatan terdiri dari perawat profesional (registered nurses),


perawat praktis yang mendapat ijin, dan sering pembantu perawat.
Indonesia suatu tim keperawatan dapat disusun dan terdiri dari perawat
sarjana atau perawat diploma sebagai ketua tim, perawat lulusan SPK
sebagai anggota dan dibantu pekerja kesehatan atau pembantu perawat.
Tim bertanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
sejumlah pasien selama 8 atau 12 jam. Metode ini lebih menekankan
segi manusiawi pasien dan para perawat anggota dimotivasi untuk
belajar. Hal pokok yang harus ada pada metode tim keperawatan adalah
konferensi tim yang dipimpin ketua tim, rencana keperawatan dan
keterampilan kepemimpinan.

21

Kelemahan metode Tim adalah pasien mungkin masih menerima


fragmentasi pemberian asuhan keperawatan jika ketua tim tidak dapat
menjalin hubungan yang baik dengan pasien. Keterbatasan tenaga dan
keahlian dapat menyebabkan kebutuhan pasien tidak terpenuhi. Bila di
unit tidak cukup dan tidak ada perawat profesional, maka perawat
teknisi yang secara pendidikan tidak dipersiapkan untuk berperan
sebagai pemimpin, sering diberi tugas untuk memegang peran, sebagai
ketua tim.

3) Metode Kasus (Nursalam, 2007)


Juga disebut sebagai perawatan total (total care) yang merupakan modal
paling awal. Ini merupakan metode client centered, di mana seorang
perawat bertanggung jawab untuk memberikan perawatan pada
sejumlah pasien dalam waktu 8 atau 12 jam setiap shift. Pegawai
tersebut mengkaji, menyusun diagnosa, membuat rencana, melakukan
tindakan dan evaluasi pada setiap pasien. Pasien akan dirawat oleh
perawat yang berbeda pada setiap pergantian shift (jaga). Metode ini
banyak dipakai pada keadaan kurang tenaga perawat. Untuk memenuhi
kekurangan perawat, para manager sering merekrut lebih banyak
perawat dengan latar belakang persiapan pendidikan kurang daripada
perawat professional.

4) Metode Perawat Primer (Nursalam, 2007)

22

Metode ini pertama kali diperkenalkan di Inggris oleh Lydia Hall


(1963). Ini merupakan sistem di mana seorang perawat bertanggung
jawab selama 24 jam sehari, 7 hari per minggu. Ini merupakan metode
yang memberikan perawatan secara komprehensif, individual dan
konsisten. Metode keperawatan primer membutuhkan pengetahuan
keperawatan dan ketrampilan manajemen.

Perawat primer mempunyai tugas mengkaji dan membuat prioritas


setiap kebutuhan pasien, mengidentifikasi diagnosa keperawatan,
mengembangkan
keefektivitasan

rencana

keperawatan,

dan

mengevaluasi

perawatan. Sementara perawat yang lain menjalankan

tindakan keperawatan, perawat primer mengkoordinasi perawatan dan


menginformasikan tentang kesehatan pasien kepada perawat atau tenaga
kesehatan lainnya. Keperawatan primer melibatkan semua aspek peran
profesional, termasuk pendidikan kesehatan, advokasi, pembuatan
keputusan, dan kesinambungan perawatan. Perawat primer merupakan
manager garis terdepan bagi perawatan pasien dengan segala
akuntabilitas dan tanggung jawab yang menyertainya.
a) Keuntungan
Keuntunngannya model praktek keperawatan profesional dapat
dilakukan atau diterapkan, memungkinkan asuhan keperawatan yang
komprehensif,

memungkinkan

penerapan

proses

keperawatan,

memberikan kepuasan kerja bagi perawat, dan emberikan kepuasan


bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.
b) Kerugian
Kerugiannya hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional, iaya
relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.

5) Model Modular

23

Model modular adalah pengorganisasian pelayanan atau asuhan


keperawatan yang dilakukan oleh perawat profesional dan non
profesional (terampil) untuk sekelompok klien dari mulai masuk rumah
sakit sampai pulang disebut tanggung jawab total atau keseluruhan.
Metode ini diperlukan perawat yang berpengetahuan, terampil dan
memiliki kemampuan kepemimpinan. Idealnya 2-3 perawat untuk 8-12
klien. Keunggulan dan kekurangan metode ini sampai dengan gabungan
antara metode tim dan metode perawatan primer (Arwani, 2006).
Menurut Arwani (2006) metode keperawatan moduler adalah suatu
variasi dari metode keperawatan primer. Metode ini merupakan
gabungan antara metode tim dengan metode primer. Metode ini sama
dengan metode tim karena baik perawat profesional maupun nonprofesional bekerja bersama dalam memberikan asuhan keperawatan
dibawah kepemimpinan seorang perawat profesional. Di samping itu,
dikatakan memiliki kesamaan dengan metode keperawatan primer
karena dua atau tiga orang perawat bertanggung jawab atas sekelompok
kecil pasien sejak masuk dalam perawatan hingga pulang, bahkan
sampai dengan waktu follow up care.
Dalam memberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan metode
keperawatan moduler, satu tim yang terdiri dari 2 hingga 3 perawat
memiliki tanggung jawab penuh pada sekelompok pasien berkisar 8-12
orang. Hal ini tentu saja dengan suatu persyaratan peralatan yang
dibutuhkan dalam perawatan cukup memadai. Sekalipun di dalam
memberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan metode ini
dilakukan oleh dua hingga tiga perawat, tanggung jawab yang paling
besar tetap ada pada perawat profesional. Perawat profesional juga
memiliki kewajiban untuk membimbing dan melatih non-profesional.
Apabila perawat profesional sebagai ketua tim dalam keperawatan
modular ini tidak masuk, tugas dan tanggung jawab dapat digantikan

24

oleh perawat profesional lainnya yang berperan sebagai ketua tim.


Peran perawat kepala ruang diarahkan dalam hal membuat jadwal dinas
dengan mempertimbangkan kecocokan untuk bekerja sama, dan
berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta memotivator.
a) Keuntungan dan Kelebihan Model Modular
Keuntungan Model Modular diantaranya memfasilitasi pelayanan
keperawtan yang komprehensif dan holistic dengan pertanggung
jawaban yang jelas, memungkinkan pencapaian proses keperawatan,
konflik atau perbedaan pendapat antar staf dapat ditekan melalui
rapat tim, cara ini efektif untuk belajar, memberi kepuasaan anggota
tim dalam hubungan interpersonal, memungkinkan menyatukan
kemampuan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan
efektif, produktif karena kerjasama, komunikasi dan moral, model
praktek keperawatan professional dapat dilakukan atau diterapkan,
memberikan kepuasan kerja bagi perawat, memberikan kepuasan
bagi pasien dan keluarga yang menerima asuhan keperawatan, lebih
mencerminkan otonomi, menurunkan dana perawat.
b) Kekurangan Model Modular :
Kekurangannya antara lain beban kerja tinggi terutama jika jumlah
klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan,
pendelegasian perawatan pasien hanya sebagian selama perawat
penanggung jawab pasien bertugas, biaya relatif lebih tinggi
dibandingakan metode lain, perawat harus mampu mengimbangi
kemajuan teknologi kesehatan/ kedokteran, perawat anggota dapat
merasa kehilangan kewenangan, masalah komunikasi.
Karu

PJ Shift

TIM I

PJ Shift

TIM II

PJ Shift

TIM III

25

Gambar 2 Bagan Struktur Model Modular

Sumber: Nursalam, 2012

A. Konsep mutu pelayanan


Pengertian mutu pelayanan kesehatan bersifat multi dimensional yaitu mutu
menurut pemakai pelayanan kesehatan dan menurut penyelenggara pelayanan
kesehatan (Azwar, 1996) dan dapat diuraikan sebagai berikut :
a) Dari pihak pemakai jasa pelayanan, pengertian mutu terutama berhubungan
erat dengan ketanggapan dan kemampuan petugas rumah sakit dalam
memenuhi kebutuhan pasien dan komunikasi petugas dengan pasien, termasuk
di dalamnya keramahan dan kesungguhan.
b) Dari pihak rumah sakit sendiri, termasuk didalamnya dokter, paramedis,
derajat mutu terkait pada pemakaian yang sesuai dengan perkembangan ilmu
dan teknologi.
Menurut Departemen Kesehatan RI (1998), mutu pelayanan adalah yang
menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang disatu pihak
menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan
penduduk, serta pada pihak lain, tata penyelenggaraannya sesuai dengan kode
etik dan standar pelayanan professional yang telah ditetapkan. Pengertian ini
yang dijadikan pedoman untuk pelayanan bagi Departemen Kesehatan RI dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Mutu menurut ISO 9000 adalah derajat yang dicapai oleh karakteristik yang
inheren dalam memenuhi persyaratan yaitu kebutuhan atau harapan yang
dinyatakan, biasanya tersirat atau wajib. Meskipun tidak ada definisi mengenai
mutu yang diterima secara universal, namun dari definisi diatas tedapat beberapa
persamaan, yaitu :

26

a.Mutu mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.


b.Mutu mencakup produk, tenaga kerja, proses dan lingkungan.
c.Mutu merupakan suatu kondisi yang berubah.

2. Aspek -aspek pelayanan kesehatan.


Menurut Jacobalis (1989) mutu pelayanan suatu sarana kesehatan adalah
produk akhir dari interaksi dan ketergantungan yang saling terkait antara
berbagai komponen atau aspek pelayanan kesehatan itu sebagai suatu sistem.
Komponen -komponen tersebut menurut Donabedian,1988 (dalam Jacobalis,
1989), adalah sebagai berikut:
a) Struktur, adalah sarana fisik, perlengkapan dan peralatan organisasi dan
manajemen, keuangan, sumber daya manusia serta sumber daya lainnya.
b) Proses adalah semua kegiatan medis atau dokter, perawat dan profesional
lainnya dalam interaksi professional dengan pasien,
c) Out put adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan profesional terhadap
pasien dalam meningkatkan derajat kesehatan dan kepuasan pasien.
3. Menjaga mutu pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan dalam mencapai tujuan, banyak syarat yang harus
dipenuhi. Syarat yang dimaksud paling tidak mencakup delapan hal pokok
yakni tersedia (available), wajar (appropriate), berkesinambungan (continue),
dapat diterima (acceptable), dapat dicapai (accessible), dapat dijangkau
(affordable), effesien (efficient) serta bermutu (quality) (Azwar, 1996).
Namun dari kedelapan syarat tersebut diatas, syarat mutu (quality) makin
bertambah penting, hal tersebut dikarenakan apabila pelayanan kesehatan
yang bermutu dapat diselenggarakan, bukan saja akan dapat memperkecil
kemungkinan timbulnya mal praktek, namun sekaligus dapat memenuhi
kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Lima dimensi mutu pelayanan (Service Quality), terdiri dari :

27

a. Wujud nyata (tangibles) adalah wujud langsung yang meliputi fasilitas


fisik, yang mencakup kemutahiran peralatan yang digunakan, kondisi
sarana, kondisi SDM perusahaan dan keselarasan antara fasilitas fisik
dengan jenis jasa yang diberikan.
b. Kehandalan (reliability) adalah aspek aspek keandalan system
pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa yang meliputi kesesuaian
pelaksanaan pelayanan dengan rencana, kepedulian perusahaan kepada
permasalahan yang dialami pasien, keandalan penyampaian jasa sejak
awal,

ketepatan

waktu

pelayanan

sesuai

dengan

janji

yang

diberikan,keakuratan penanganan.
c. Ketanggapan (responsiveness) adalah keinginan untuk membantu dan
menyediakan jasa yang dibutuhkan konsumen. Hal ini meliputi
kejelasan informasi waktu penyampaian jasa, ketepatan dan kecepatan
dalam pelayanan administrasi, kesediaan pegawai dalam membantu
konsumen, keluangan waktu pegawai dalam menanggapi permintaan
pasien dengan cepat.
d. Jaminan (assurance) adalah adanya jaminan bahwa jasa yang ditawarkan
memberikan jaminan keamanan yang meliputi kemampuan SDM, rasa
aman selama berurusan dengan karyawan, kesabaran karyawan,
dukungan pimpinan terhadap staf.
e. Empati (empathy) adalah berkaitan dengan memberiakan perhatian
penuh kepada konsumen yang meliputi perhatian kepada konsumen,
perhatian staf secara pribadi kepada konsumen, pemahaman kan
kebutuhan konsumen, perhatian terhadap kepentingan konsumen,
kesesuaian waktu pelayanan dengan kebutuhan konsumen.
Menurut Fitzmmons (dalam Nasution 2003) bahwa instrumen survei
yang mengukur kualitas pelayanan servqualdimana mengambil dasar
penerapan konsep kesenjangan mutupelayanan. Kepuasan pelanggan
terhadap mutu pelayanan dapat ditentukan dengan membandingkan dari
pelayanan yang diterima dengan pelayananyang diberikan yaitu :

28

a) Jika harapan itu terlampaui dari pelayanan tersebut dianggap dapat


dirasakan sebagai mutu yang luar biasa dan juga menjadi kejutan
yang menyenangkan.
b) Jika harapan tidak terpenuhi, mutu pelayanan tersebut dianggap
dapat diterima atau mengecewakan konsumendan jika harapan sama
yang dirasakan, mutu memuaskan.

2.3.

Mutu pelayanan keperawatan

1. Pengertian mutu pelayanan keperawatan.


Berdasarkan kebijakan Depkes RI (1998), mutu pelayanan keperawatan adalah
pelayanan kepada pasien yang berdasarkan standar keahlian untuk memenuhi
kebutuhandan keinginan pasien, sehingga pasien dapat memperoleh kepuasan
yang akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan kepada rumah sakit, serta dapat
menghasilkan keunggulan kompetitif melalui pelayanan yang bermutu, efisien,
inovatif, dan menghasilkan customer responsiveness. Strategi peningkatan mutu
pelayanan keperawatan antara lain pendidikan berlanjut, sumber daya
dimanfaatkan secara efisien dan efektif aman bagi pasien dan provider,
memuaskan bagi pasien dan provider, serta menghormati aspek sosial,
ekonomi, budaya, agama, etika dan tata nilai masyarakat. Prasyarat peningkatan
mutu pelayanan keperawatan antara lain pimpinan yang peduli dan mendukung,
sadar mutu bagi seluruh staf, program diklat untuk peningkatan sumber daya
manusia, sarana dan lingkungan yang mendukung dan adanya standar Depkes
RI (1988).
2. Standar Praktek Keperawatan.
Standar praktek keperawatan telah disahkan oleh MENKES RI dalam Surat
Keputusan Nomor: 660/Menkes/SK/IX/1987. Kemudian diperbaruhi dan
disahkan berdasarkan SK DIRJEN YANMED RI No: OO.03.2.6.7637, tanggal
18 Agustus 1993. Kemudian pada tahun 1996, DPP PPNI menyusun standar
profesi keperawatan SK No: 03/DPP/SK/I/1996 yang terdiri dari standar

29

pelayanan keperawatan, praktek keperawatan, standar pendidikan keperawatan


dan standar pendidikan keperawatan berkelanjutan.
Tujuan standar keperawatan menurut Gillies (1989) adalah :
a. Meningkatkan asuhan keperawatan.
b. Mengurangi biaya asuhan keperawatan
c. Melindungi perawat dari kelalaian dalam melaksanaka tugas dan
melindungi pasien dari tindakan yang tidak terapeutik.
Standar pelayanan keperawatan menurut (Depkes RI 1996) adalah meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Standar 1 : falsafah keperawatan


Standar 2 : tujuan asuhan keperawatan
Standar 3 : pengkajian keperawatan
Standar 4 : diagnosa keperawatan.
Standar 5 : perencanaan keperawatan.
Standar 6 : intervensi keperawatan
Standar 7 : evaluasi keperawatan.
Standar 8 : catatan asuhan keperawatan.

3. Indikator Mutu Pelayanan (Depkes RI, 2001)


a. Indikator mutu pelayanan rumah sakit.
1) Indikator pelayanan non bedah.
a) Angka pasien yang dekubitus
b) Angka kejadian infeksi karena jarum infus.
c) Angka kejadian infeksi karena tranfusi darah.
d) Angka ketidak lengkapan catatan medik.
e) Angka keterlambatan pertama gawat darurat.
b. Indikator untuk mutu standar asuhan keperawatan.
1) Standar dokumentasi Instrumen yang digunakan untuk mengetahui
catatan keperawatan yang dibuat oleh perawat dilakukan dalam rekam
medis sesuai aturandokumentasi atau tidak.
2) Observasi
Dilakukan selama pemberian asuhan keperawatan berlangsung yang
dilakukan oleh observer.
3) Angket.
Indikator masukan untuk memahami persepsi pasien terhadap proses
asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat selama proses asuhan
keperawatan berlangsung.

30

4. SOP orientasi penerimaan pasien baru diruang hana


RS. Imanuel bandung
1. Pengertian : suatu tata cara penerimaan pasien baru yang akan dirawat inap
Tujuan
1. Bagi rumah sakit : Agar prosedur pelayanan penerimaan pasien baru diruang
rawat inap berjalan dengan baik, teratur sesuai dengan tata cara yang telah
ditentukan.
2. Bagi pasien : Agar pasien/keluarga mendapat pelayanan yang baik cepat dan
terarah sesuai dengan kondisi pasien dan fasilitas yang ada.

Kebijakan :
1. Setiap pasien baru akan dirawat diruang rawat inap harus melalui
IGD/Poliklinik RS.Imanuel Bandung.
2. Petugas yang mengantarkan pasien baru keruangan rawat inap dan perawat
yang menerima pasien harus menerima kelengkapan berkas catatan medik
pasien ( CM1 -CM2 - CM3 - CM4) pernyataan persetujuan untuk masuk
rawat inap, kartu pasien yang dirawat diruangan.
3. Semua pasien yang dirawat jaga kerahasiaan dan keamanan.
Prosedur :
1. Persiapan alat
1. Tempat tidur siap pakai
2.

Meja pasien, kursi

3.

Status pasien lengkap

4.

Perlengkapan pasien : gelas minum, pakaian, handuk, perlengkapan alat


mandi, kertas tisu, baskom dll.

31

5. Alat untuk pemeriksaan : tensi, stetoskop, thermometer, jam tangan,


timbangan berat badan, pengukuran tinggi badan
6.

Papan nama pasien

7.

Gelang identitas pasien

8.

Pispot

9.

Urinal

10. Standar infuse


11. Sarung tangan ( bila perlu)
12. Suction (bila perlu)
13. Oksigen (bila perlu)

pelaksanaan
3.1 Cuci tangan.
3.2 Menyiapkan kamar dan tempat tidur serta peralatan yang
diperlukan siap pakai sesuai dengan kebutuhan pasien (disesuaikan
dengan fasilitas kelas perawat).
3.3 Perawat atau bidan memperkenalkan nama dan jabatan dan
memberitahukan penanggung jawab pasien.
3.4 Bila pasien dapat berdiri di timbang dulu BB, TB sebelum
dibaringkan ditempat tidur, kecuali jika sudah ditimbang di
poliklinik/IGD.
3.5 Membaringkan pasien di tempat tidur dan memberikan posisi yang
nyaman pada pasien dan melakukan tindakan sesuai kebutuhan.

32

3.6 Melakukan klarifikasi ulang kepada pasien/keluarga tentang dokter


penanggung jawab.
3.7 Kenalkan pasien dan keluarga dengan teman sekamar jika pasien
memesan kamar semi pribadi.
3.8 Serah terima kelengkapan berkas catatan medik pasien.
3.9 Melakukan pengkajian keperawatan
3.10

Melaporkan kepada dokter penanggung jawab pelayanan untuk

tindakan pengobatan yang harus dilakukan segera dan data-data


pasien.
3.11

Perawat atau bidan memberitahu kepada pasien/keluarga

tentang tindakan yang telah dan akan dilakukan.


3.12

Melaksanakan tindakan pengobatan sesuai program

pengobatan serta melaksanakan tindakan perawatan sesuai dengan


intervensi keperawatan yang direncanakan.
3.13

Melaporkan jenis makanan pasien kepada petugas gizi sesuai

dengan dietny.
3.14

Melakukan orientasi ruangan kepada pasien/keluarga tentang

fasilitas yang ada dan cara penggunaanya.


3.15

Memberikan informasi kepada pasien/keluarga sesuai dengan

prosedur pemberian informasi untuk pasien/keluarga.


3.16

Memberikan kesempatan kepada pasien/keluargan untuk

bertanya.
3.17

Memasang identitas pasien dan mengisi papan identitas pasien

3.18

Melengkapi dokumentasi askep

33

Dokumen terkait :
4.1 CM 1 Riwayat keluar masuk/identitas pasien
4.2 CM 2 Surat perintah opname
4.3 CM 3 Resume medis
4.4 CM 4 Anamnesis dan pemeriksaan fisik
4.5 Pernyataan persetujuan untuk masuk rawat inap

5. Penerimaan pasien baru


a. Pengertian
Penerimaan pasien baru adalah suatu cara dalam menerima kedatangan
pasien baru pada suatu ruangan.

Dalam penerimaan pasien baru

disampaikan beberapa hal mengenai orientasi ruangan, perawatan medis,


dan tata tertib ruangan.
b. Tujuan
a) Menerima dan menyambut kedatangan pasien dengan hangat dan
terapeutik.
b) Meningkatkan komunikasi antara perawat dank lien.
c) Mengetahui kondisi dan keadaan klien secara umum
d) Menurunkan tingkat kecemasan pasien saat masuk rumah sakit.
c. Tahapan penerimaan pasien baru
1. Tahap penerimaan pasien baru
a) Menyiapkan kelengkapan administrasi
b) Menyiapkan kelengkapan kamar sesuai pesanan
c) Menyiapkan format penerimaan pasien baru
d) Menyiapkan format pengkajian
e) Menyiapkan informed consent sentralisasi pengelolaan obat
f) Menyiapkan nursing kit
g) Menyiapkan lembar tata tertib pasien dan pengunjung ruangan
h) Menyiapkan lembar hak dan kewajiban pasien
i) Menyiapkan kartu penunggu
j) Menyiapkan kuisioner kepuasan pasien
2. Tahap pelaksanaan penerimaan pasien baru
a) pasien datang di ruangan diterima oleh kepala ruangan / katim /
perawat yang diberi delegasi

34

b) perawat memperkenalkan diri kepada klien dan keluarganya


c) perawat menunjukkan kamar / tempat tidur klien dan
mengantar ke tempat yang telah ditetapkan
d) perawat bersama karyawan lain memindahkan pasien ke
tempat tidur (apabila pasien datang dengan branchad / kursi
roda) dan berikan posisi yang nyaman.
e) Perawat melakukan pengkajian terhadap pasien sesuai dengan
format.
f) Perkenalkan pasien baru dengan pasien baru sekamar
g) Setelah pasien tenang dan situasi sudah memungkinkan
perawat memberikan informasi kepada klien dan keluarga
tentang orientasi ruangan, perawat (termasuk perawat yang
bertanggung jawab dan sentralisasai obat medis ( dokter yang
bertanggung jawab dan jadwal visite) dan tata tertib ruangan.
h) Perawat menanyakan kembali tentang kejelasan informasi yang
telah disampaikan
i) Apabila pasien atau keluarga sudah jelas, maka diminta untuk
menandatangani informed concent sentralisasi obat
j) Perawat menyerahkan kepada pasien lembar kuisioner tingkat
kepuasan pasien.
d. Hal hal yang perlu diperhatikan
a) Pelaksanaan secara efektif dan efisien
b) Dilakukan oleh kepala ruangan atau katim atau perawat associate
yang telah diberi wewenang / delegasi
c) Saat pelaksanaan tetap menjaga privasi klien
d) Ajak pasien dan keluarga komunikasi yang baik dan berikan
sentuhan terapeutik.
e. Peran perawat dalam penerimaan pasien baru
1. Kepala Ruangan
Menerima pasien baru
2. Ketua Tim
a) Menyiapkan lembar penerimaan pasien baru.
b) Menandatangani lembar penerimaan pasien baru
c) Melakukan pengkajian pada pasien baru
d) Mengorientasikan klien pada ruangan
e) Memberi penjelasan tentang perawat dan dokter yang
bertanggung jawab

35

f) Memberikan penjelasan tentang sentralisasi obat pada pasien


g) Mendokumentasikan penerimaan pasien baru
3. Perawat associate
Membantu katim dalam pelaksanaan penerimaan pasien baru.

BAB III
KAJIAN SITUASI RUANG HANA

3.1.

Profil Rumah Sakit Immanuel Bandung


Rumah Sakit Immanuel Bandung merupakan salah satu rumah sakit swasta Tipe
B dan rumah sakit pendidikan sehingga menjadi lahan praktik yang digunakan
untuk keperawatan manajemen. Rumah Sakit Immanuel mempunyai dua area
rawat inap yaitu Rawat Inap Prima I dan Rawat Inap Prima II. Area rawat Inap
Prima I terdiri dari kelas III B IA, sedangkan Rawat Inap Prima II terdiri dari
kelas I, VIP dan Super VIP.

3.1.1. Visi dan Misi Rumah Sakit Immanuel Bandung


a. Visi
Memberikan pelayanan dan pendidikan kesehatan yang prima dan inovatif
berfokus kepada pasien sebagai perwujudan cinta kasih Allah.
b. Misi
a) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna yang prima dan berbasis
keselamatan pasien.
b) Menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan mengembangkan budaya
ilmiah di bidang kesehatan.
c) Mengembangkan layanan tersier, unggul dan berkembang.
d) Membangun budaya kerja dan karakter SDM yang berlandaskan nilai-nilai
kristiani agar memberikan pelyanan terbvaik, handal dan beretika dalam
menjalankan kompetensinya.
e) Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dalam upaya memperkuat peran
rumah sakit dalam pelayanan dan pendidikan kesehatan.
c. Tujuan Rumah Sakit Immanuel Bandung
1) Terwujudnya layanan dan pendidikan kesehatan yang memberikan
kepuasan dan kepercayaan pelanggan.

36

2) Adanya penelitian dan pengembangan di bidang pelayanan dan


pendidikan kesehatan yang menghasilkan produk inovatif.
3) Terwujudnya sinergitas kerjasama dengan semua pihak dalam rangka
memperkuat peran rumah sakit dalam pelayanan dan pendidikan
kesehatan.
3.1.2. Visi dan Misi Keperawatan Rumah Sakit Immanuel Bandung
a. Falsafah
Pelayanan keperawatan professional berdasarkan cinta kasih, hormat dan
peduli
b. Visi
Menjadikan keperawatan sebagai unggulan RS Immanuel yang dapat
mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan terkini yang
mampu bersaing secara nasional dan internasional atas dasar kasih Kristus,
menghasilkan pelayanan prima.
c. Misi Keperawatan Rumah Sakit Immanuel
1) Membangun landasan yang kuat untuk menciptakan pelayanan
keperawatan profesional yang memiliki komitmen

untuk melayani

secara holistik.
2) Memberikan asuhan keperawatan secara professional yang bertanggung
jawab dan bertanggung gugat, berdasarkan standar dan etika profesi.
3) Menjadikan Keperawatan di Rumah Sakit Immanuel sebagai sarana
pembelajaran dan pengembangan ilmu keperawatan yang professional.
4) Menjadikan Tim Keperawatan Rumah Sakit Immanuel sebagai pilihan
masyarakat yang dapat dipercaya.
5) Menjadikan Rumah Sakit Immanuel sebagai pilihan masyarakat karena
memiliki tim keperawatan dapat dipercaya.
6) Menjadikan Rumah Sakit Immanuel sebagai pilihan masyarakat karena
memiliki tim keperawatan yang profesional.

3.1.3. Visi dan Misi Ruang Rawat Inap Prima I


a. Visi

37

Menjadi instalasi rawat inap yang mampu memberikan pelayanan medis


keperawatan secara prima dan sebagai lahan praktek pembelajaran
professional dalam menggembangkan ilmu dan pengetahuan dengan
dilandasi kasih Tuhan
b. Misi
1) Memberikan pelayanan prima kepada pasien dengan memperhatikan
keselamatan pasien dan tarif yang terjangkau
2) Menyelenggarakan pendidikan dan penelitian di bidang kesehatan
3) Membangun budaya kerja SDM yang mamou menampilkan
kompetensinya
c. Tujuan
1) Terwujudnya pelayanan prima dengan kendali mutu dan biaya
2) Terwujudnya tenaga kesehatan yang professional
3) Terwujudnya cost efektifness dalam penyediaan fasilitas
3.2.

Profil Ruang Hana


Ruang Hana merupakan unit perawatan penyakit dalam dan bedah multi kelas
IIA dan IIB untuk dewasa pria dan wanita. Ruang Hana memiliki kapasitas
tempat tidur sebanyak 19 buah dengan pembagian 3 kapasitas tempat tidur untuk
kelas IIA dan dan 16 kapasitas tempat tidur untuk kelas IIB.
Ruang Hana dan Jokebed memiliki jumlah tenaga kerja secara keseluruhan yaitu
26 orang; diantaranya Pengatur Ruang 1 orang, 8 orang perawat penanggung
jawab, perawat pelaksana sebanyak 15 orang dan inventaris 2 orang. Berdasarkan
tingkat pendidikan, dari 24 orang perawat terdapat 9 lulusan Ners, dan 15 orang
lulusan D3 Keperawatan serta2orang inventaris, 1 orang berpendidikan SMA dan
1 orang berpendidikan SMP. Pembagian jadwal dinas sudah di susun oleh kepala
Ruang. Ruang hana memiliki kapasitas kamar mandi untuk pasien dan keluarga
di setiap kamar pasien
Ruang Hana memiliki lokasi yang cukup strategis yang tergambar sebagai
berikut:
Sebelah Utara
Sebelah Timur

: Kantor Diklit
: Kantor Komite Keperawatan dan Instalasi

38

Sebelah Selatan
Sebelah Barat
3.3.

Nutrisi Klinik
:Apotek, Ruang Gideon dan Ruang
Hemodialisa
: Ruang Kefas

Pengkajian Situasi Ruang dan Lingkungannya


Rencana Pengkajian di Ruang Hana dilakukan dari tanggal 20 Mei s/d 24 Mei
2015. Pengkajian meliputi ketenagaan, sarana dan prasarana, model keperawatan,
anggaran biaya serta mutu pelayanan.

3.3.1. Sumber Daya Manusia (Ketenagaan)


Tabel 1 Distribusi Perawat Berdasarkan Jabatan, Pendidikan Terakhir, Lama Bekerja Di Ruang Hana
RS. Immanuel Bandung

No
Nama
1. Ating Elhana

Jabatan
Pengatur Ruangan

2.

Penanggung Jawab Shift

3.

Yeti Setiati
Melya Risnayani

Penanggung Jawab Shift

Pendidikan
S1

Masa kerja
30 tahun 4

D3

bulan
12 tahun 8

D3

bulan
8 tahun 9

4.

Sondang L. Tobing Perawat Pelaksana

D3

bulan
27 tahun 4

5.

Th. Haryanti

Perawat Pelaksana

D3

bulan
18 tahun 1

6.
7.

Risda Sagala
Nurlaela

Penanggung Jawab Shift


Penanggung Jawab Shift

D3
S1

bulan
10 tahun
5 tahun 8

8.
9.

Novi
Rini Kusumawati

Penanggung Jawab Shift


Perawat Pelaksana

D3
D3

bulan
5 tahun
2 tahun 1

Perawat Pelaksana

D3

bulan
2 tahun 9

.
11. Doni Hamdani

Perawat Pelaksana

D3

bulan
4 tahun 9

12

Perawat Pelaksana

D3

bulan
2 tahun 7

10

Agus Wasinton P

Ane Ayunitami

bulan

39

13

Susanti AR

Perawat Pelaksana

S1

Kurang dari 1

.
14

Dwi Hastuti

Penanggung Jawab Shift

D3

tahun
9 tahun 6

.
15

Endah Asri

Penanggung Jawab Shift

D3

bulan
8 tahun 6

.
16

Anton Antoni

Penanggung Jawab Shift

S1

bulan
5 tahun

.
17

Norlin

Perawat Pelaksana

D3

5 tahun 8

.
18

Maria Hermita

Perawat Pelaksana

S1

bulan
3 tahun

.
19

Retno Andico

Perawat Pelaksana

S1

8 bulan

.
20

Febri Nick Daniel

Perawat Pelaksana

S1

Kurang dari 1

.
21

Indah Megasari

Perawat Pelaksana

S1

tahun
Kurang dari 1

.
22

Risha

Perawat Pelaksana

S1

tahun
Kurang dari 1

.
23

Reski Sri Agustina

Perawat Pelaksana

D3

tahun
Kurang dari 1

D3

tahun
Kurang dari 1

.
24

Hervia Aqsa S

Perawat Pelaksana

tahun
( Sumber : Data Kepegawaian Ruang Hana, Mei 2015)
Berdasarkan Tabel 3.1 di atas dapat dilihat bahwa jumlah tenaga keperawatan yang
ada berjumlah 25 orang perawat, dengan pembagian 1 pengatur ruangan, 7 orang
perawat penanggung jawab dan 17 orang perawat pelaksana. Perawat yang bekerja
paling lama adalah 30 tahun 4 bulan masa kerja, dan masa kerja yang baru adalah
kurang dari 1 tahun.
Tabel 2 Distribusi Tenaga Penunjang Pelayanan Keperawatan

No

Nama Petugas

Tugas

Lama kerja

40

Eni Sumaryati

Inventaris
30 tahun 9 bulan
(Sumber :Data Kepegawaian Ruang Hana, Mei 2015)

Tabel 3 Distribusi Pendidikan Perawat di Ruang Hana

No
Tingkat Pendidikan
1
Sarjana
2
Diploma
Total

Jumlah

Presentase (%)
9
37,5 %
15
62,5 %
24
100 %
(Sumber : Data Kepegawaian Ruang Hana, Mei 2015)

Berdasarkan tabel 3.2 di atas, dapat dilihat bahwa mayoritas tingkat pendidikan
perawat di ruang Hana adalah Diploma Keperawatan yang berjumlah15 orang
(62,5%).

3.3.2. Sarana dan Prasarana


a. Peralatan dan Fasilitas
1. Fasilitas di Kamar Pasien
Tabel 4 Fasilitas di Kamar Pasien Ruang Hana

No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Nama Barang
Tempat Tidur
Meja Pasien
Jam Dinding
Kamar Mandi/WC
Washtafel
Bel
Kursi sofa
Tempat sampah pasien
Meja makan pasien
Lemari kecil pasien

Kondisi
Jumlah
Baik
Rusak
(buah)
19
19
19
19
6
6
10
10
7
7
19
19
19
19
10
10
19
19
19
19
(Sumber : data Inventaris Ruang Hana, Mei 2015)

Fasilitas yang terdapat di Ruang Hana cukup lengkap, dan hampir semuanya dalam
keadaan baik.
Tabel 5 Fasilitas dan Alat Kesehatan di Ruang Hana

No.
1.
2.

Nama Barang
Stetoskop
Lemari obat

Jumlah
2
1

Kondisi
Baik
2
1

Rusak
-

41

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Tabung O2 besar
Tabung O2 kecil
Trolly emergensi
Tensimeter
Bengkok
Gunting Perban
Suction
Termometer
Alat EKG
Nebulizer
Saturasi O2

5
1
1
3
3
1
2
2
1
2
1

5
1
1
3
3
1
2
2
1
2
1

14.

Tiang infus

20

20

15.

Pispot

20

20

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

Blood Warmer
Infus Pump
Syring pump
Viorek
Urinal
Kursi Roda
Timbangan
Automaticsoap dispenser

1
7
1
2
19
1
1
3

1
7
1
2
19
1
1
3

24.
25.
26.
27.
28.
29

Telepon
Komputer
Papan tulis (White board)
Alat pemadam kebakaran
Lampu baca hasil rongten
Baki Besar

1
1
1
1
1
2

1
1
1
1
1
2

30
31
32
33
34
35
36

Baki Kecil
Refleck hammer
Kulkas obat-darah
Alat penggerus obat
Tempat kassa steril
Tempat sampah medis
Tempat
sampah
non

3
1
1
1
1
1
16

3
1
1
1
1
1
16

37
38
39

medis
Cermin
Bel pasien
Tempat sampah tajam

7
7
19
19
1
1
(sumber: data Inventaris Ruang Hana, Mei 2015)

42

Berdasarkan tabel 3.6, alat kesehatan yang terdapat di ruang Hana yang terbanyak
adalah tiang infus, pispot, dan urinal berjumlah 20 buah. Beberapa alat jumlahnya
terbatas dan hanya 1 saja di Ruangan. Pengadaan alat dilakukan oleh inventaris, atas
permintaan perawat terkait alat-alat yang dibutuhkan. Pengecekan alat dilakukan
dilakukan oleh IPRS biasanya 1 bulan sekali, namun terkadang tidak dilakukan jika
tidak ada keluhan dari Ruangan.
Fasilitas yang ada di ruang rawat, sudah cukup lengkap dan dapat memenuhi
kebutuhan pasien selama perawatan. Fasilitas untuk petugas kesehatan terdiri dari
atas ruang kepala Ruang, satu kamar mandi perawat/WC, nursing station. Sarana
yang ada di nursing station adalah kipas angin, dispenser, meja tulis perawat, kulkas,
washtafel, meja, cermin, tempat obat, tempat sampah sesuai klasifikasi, tempat jarum,
tempat obat psikotropika dan terdapat tempat koran di depan ruang perawatan klien.
Selain itu juga terdapat telepon, bel pasien, komputer, lemari penyimpanan status
pasien, papan daftar nama pasien, papan tindakan dan papan peminjaman alat.
Sedangkan ruang penunjang lainnya yaitu terdapat gudang, ruang penyimpanan alat
kesehatan dan ruang spoelhock yang masing-masing terdiri dari satu. Namun, ada
beberapa ruang penunjang lainnya yang tidak terdapat di Ruang ini salah satunya
adalah tidak terdapatnya ruang pendidikan untuk mahasiswa yang praktik di Ruang
Hana, tidak terdapatnya ruang ganti perawat dan ruang tenun yang digabung bersama
ruang kepala Ruang.
a. Administrasi Penunjang
Tenaga penunjang pada administrasi tidak ada di ruang Hana, namun terdapat
seorang inventaris. Sarana dan prasarana di Ruang Rawat Inap Hana sudah
cukup baik. Fasilitas penunjang seperti ventilasi yang baik, dan Ruang setiap
pagi dan sore hari dibersihkan oleh petugas Clining Service dan kondisi Ruang
cukup tenang dan kondusif. Kondisi administrasi penunjang cukup baik, yang
terdiri atas: status klien yang dilengkapi dengan bagian-bagian untuk area

43

pencatatan perawat, selain itu juga terdapat nurse station yang sekalian
merupakan tempat pertemuan perawat, serta pencatatan status klien dll.
3.3.3. Model Asuhan Keperawatan
a. Penerapan Model Keperawatan Modular
Berdasarkan data model keperawatan yang diterapkan di ruang Hanaadalah
model keperawatan modular namun penerapan model keperawatan ini belum
baku dan masih bisa berubah sesuai dengan kebutuhan ruangan.
b. Overan
Berdasarkan data, didapatkan bahwa overan di Ruang Hana dilakukan
sebanyak 3 kali yaitu pada saat pagi, siang hari dan malam hari. Untuk waktu
overan sendiri, pada pagi hari dimulai pada jam 07.00 tepat sedangkan pada
siang hari dan malam hari waktu overan di sesuaikan dengan kesibukan di
ruangan. Overan pada pagi hari dipimpin sendiri oleh kepala Ruang,
sedangkan pada siang hari dan malam hari, overan dipimpin oleh perawat
penanggung jawab shift. Berdasarkan data, didapatkan saat penyerahan tugas
jaga pagi atau overan pagi dilakukan di nurse station dengan cara seperti
diskusi, adanya komunikasi antara pemberi tanggung jawab dan penerima
tanggung jawab yang dilakukan di Nursing station dengan suara perlahan/
tidak ribut, menginformasikan jenis dan waktu rencana tindakan keperawatan
yang belum dilakukan, menyebutkan terapi dan tindakan medis berserta
waktunya yang dilakukan selama shift, selain itu juga tindakan medis yang
belum dan akan dilakukan selama shift berikutnya. Selain itu, pada overan
pagi

juga

didapatkan

bahwa

adanya

ronde

keperawatan

sekaligus

memperkenalkan perawat yang akan bertugas selanjutnya. Sedangkan pada


saat overan siang dan overan malam hanya dilakukan antar beberapa perawat
saja dan ronde keperawatan ke kamar pasien belum dilakukan.
b. Prosedural
Ruang Hana memiliki138 buah SOPdalam bentuk dokumen yang disimpan di
nurse station. Ruang Hana juga memiliki SAK.
c. Perencanaan pulang

44

Dari data yang diperoleh, perencanaan pulang sudah dilaksanakan akan tetapi
hanya dilakukan oleh sebagian perawat dan hanya pada saat pasien akan
pulang. Isi format perencanaan pulang pun hanya tentang penjelasan penyakit
yang diderita oleh pasien dan obat-obatan yang diperlukan untuk mengatasi
penyakitnya.
3.3.4. Prosedural
Ruang Hana memiliki SOP dalam bentuk e-Dokumen yang tersimpan di
dalam Komputer Ruang Hana. Ruang Hana juga memiliki SAK.
3.3.5. Analisis Kebutuhan Tenaga Perawat
a. Perhitungan BOR (tanggal 20 Mei 2015)

BOR=

jumlah pasien
x 100
jumlah tempat tidur
14
x 100
BOR = 19

= 73,68 %
Jadi BOR Ruang Hana adalah 73,68%
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengatur Ruangan tanggal 23 Mei
2015 didapatkan hasil BOR Ruang Hana 3 bulan terakhir yaitu bulan
Februari 58,52%, Maret 72,94%, April 57,78%. Jumlah BOR menurun
dikarenakan adanya renovasi kamar.
b. Kebutuhan Tenaga Perawat
Pembagian jadwal dinas terbagi menjadi 3 shift yaitu dinas pagi, siang,
dan malam yang telah tersusun perbulan dan pembagiannya diatur oleh
Pengatur Ruangan. Kualifikasi perawat (Intermountain Health Care)
menurut Warstler (dalam Swansburg, 2002) :
1 58% RN (perawat register)
58% x 25 = 14,5 (14 orang)
2

26% LPN (Lincesed Practical Nurse)

45

26% x 7 = 1,2 (1 orang)


Jadi seharusnya kualifikasi perawat berdasarkan tingkatannya di dalam
Ruang Hana yaitu: 5 orang S1 keperawatan, 9 orang perawat DIII
keperawatan.

c. Jumlah Tenaga Perawat menurut Ketergantungan Pasien


Jumlah tenaga yang diperlukan bergantung dari jumlah pasien dan tingkat
ketergantungannya. Klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi
menjadi tiga kelompok (Nursalam, 2012), yaitu :
1. Perawatan minimal, memerlukan waktu 1-2 jam sehari
2. Perawatan parsial, memerlukan waktu 3-4 jam sehari
3. Perawatan total, memerlukan waktu 5-6 jam sehari.
Jumlah tenaga yang dibutuhkan menggunakan perhitungan tenaga
menurut Douglas dalam Nursalam 2012 adalah sebagai berikut:
Tabel 6 Distribusi jumlah kebutuhan tenaga berdasarkan tingkat ketergantungan

Tingkat Ketergantungan
Klasifikasi
Jumlah

Jumlah Kebutuhan Tenaga


PAGI

SORE

MALAM

0 x 0,17= 0

0 x 0,14= 0

0 x 0,07= 0

12

12 x 0,27= 3,24

12 x 0,15= 1,8

Total Care

2 x 0,36=0,72

Jumlah

14

3,96
4

Pasien
Minimal

Pasien

Care
Partial Care

12 x 0,10=
1,2

12x 0,36 =

2 x 0,20=

0,72
2,52
3

0,40
1,6
2

Total tenaga perawat yang dinas pada tabel di atas adalah: (tanggal 20
Mei 2015)
Dinas pagi

: 4orang

46

Dinas siang

: 3 orang

Dinas Malam

: 2 orang

Jumlah

: 9 orang

Dari hasil diatas terlihat bahwa Jumlah kebutuhan tenaga perawat di


Ruang Hana dalam 1x 24 jam adalah berjumlah 9 orang.
Loss Day
Rumus perhitungan Loss day :
jumlah hariminggu dalam 1 tahun+cuti +hari besar
loss Day=
x Jumlah Perawat
jumlah hari kerja efektif dalam1 tahun
Jumlah tenaga yang lepas per hari adalah :
loss day ruang Hana=

78 x 9
295

= 2,37 = 2
Keterangan:
Angka 78 merupakan jumlah hari libur dalam 1 atau lepas dinas dalam 1
tahun, sedangkan 286 adalah jumlah hari kerja efektif dalam 1 tahun.
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas padatanggal 20 Mei
2015 adalah: 9orang + 1 orang Kepala ruangan + 1PJ shift + 2 orang
lepas dinas = 13 orang perawat. Berdasarkan perhitungan tenaga perawat
di ruang Hana Sudah mencukupi untuk pembagian dinas pershiftnya.
Faktor Koreksi=( jumlah tenagakeperawatan+loss day ) x 25
= (24 + 2,37) x 25 %
= 26,37 x 25%
= 6,59

47

d. Distribusi 10 penyakit terbesar di Ruang Hana


Berdasarkan catatan Buku Saku Diagnosa Keperawatan di ruang Hana,
diperoleh 10 urutan besar untuk penyakit dalam dan bedah dalam 3 bulan
terakhir sebagai berikut:
Tabel 7 Distribusi 10 Penyakit Terbesar Diruang Hana

No
1.
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Penyakit

Jumlah

pasien
DHF (Dengue Haemoragic Fever)
19
Stroke
10
GE
9
Dyspneu
6
Anemi
5
Asma
5
Decom
4
Bronkhitis
3
Combustio
2
SOL
2
(Sumber : Buku Besar Ruang Hana, Maret 2015)

e. Analisis Swot
Pada tahap ini dilakukan analisis SWOT mengenai kekuatan dan
kelemahan (faktor internal) yang dimiliki oleh Ruang Hana sekaligus juga
menganalisis peluang dan tantangan atau ancaman (faktor eksternal) yang
dihadapi oleh Ruang Hana adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan
a. Terdapatnya perawat dengan latar belakang pendidikan S1
Keperawatan sebanyak 9 orang dan D3 Keperawatan sebanyak
16 orang.
b. Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap masing-masing di kamar
pasien.
c. Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap di ruang perawat atau
nurse station.

48

d. Adanya tenaga inventaris 1 orang dan serta tenaga kebersihan


sebanyak 2 orang saat pagi hari dan siang hari dan 1 orang pada
malam hari.
e. Tersedianya gelang identitas di tangan pasien.
f. Tersedianya nurse station yang berada di tengah Ruang dan 1 buah
meja konsultasi.
g. Kapasitas tempat tidur sebanyak 19 tempat tidur dengan rata-rata
pasien per hari 14-19 pasien.
h. Tersedia tempat duduk di kamar pasien untuk keluarga.
i. Terdapat lembar penggunaan dan pengecekan alat kesehatan yang
dipakai di Ruang.
j. Tersedianya fasilitas air mineral untuk pasien dan keluarga pasien.
k. Terdapatnya ruang penyimpanan alat, gudang alat dan ruang spoel
hock
l. Memiliki standar asuhan keperawatan dan Standar Operasional
Prosedur dan Standar Asuhan Keperawatan (SAK)
m. Memiliki visi dan misi rumah sakit yang diletakkan di Ruang
n. Alur informasi dalam penerimaan pasien baru cukup jelas, yaitu
dengan menggunakan sarana telepon serta informasi ulang
mengenai kesiapan Ruang
o. Persiapan tempat tidur sudah dilakukan sebelum pasien datang ke
Ruang.
p. Adanya pemberian informasi tentang biaya selama dilakukan
tindakan keperawatan.
q. Perawat memeriksa kelengkapan status dan catatan keadaan
pasien dari unit yang mengantar (IGD ataupun POLI) dan
melaporkannya ke dokter yang memegang pasiennya.
r. Sudah ditetapkannya jam berkunjung di Ruang.
2. Kelemahan
a. Orientasi dan informasi tentang fasilitas ruangan terhadap pasien
baru belum optimal
b. Pelabelan pada setiap formulir yang terdapat pada ruang nurse
stationbelum lengkap
c. Belum Optimalnya pembuatan leaflet/brosur untuk pasien pulang
sehingga informasi hanya disampaikan hanya secara lisan.

49

d. Ruang kepala ruangan yang bersatu dengan ruang penyimpanan


alat tenun
e. Tidak adanya locker penyimpanan tas perawat.
f. Belum optimalnya ronde keperawatan pada overan siang dan
malam hari
g. Ruang pendidikan bagi mahasiswa yang praktek belum tersedia.
h. Belum optimalnya pemberian informasi kesehatan untuk pasien
post op.
3. Peluang
a. Rumah sakit Immanuel merupakan salah satu Rumah sakit
rujukan diwilayah Bandung Selatan
b. Rumah Sakit memiliki hubungan kerja dengan Fakultas
kedokteran Maranatha yang bisa menjadi tempat bagi tenaga
kesehatan yang melanjutkan pendidikan.
c. Adanya kerja sama antar Rumah Sakit Immanuel dengan Rumah
Sakit di Jawa Barat.
d. Adanya kebijakan rumah sakit untuk meningkatkan jenjang
pendidikan perawat
e. Adanya UU Keperawatan sebagai payung hukum tenaga perawat
dalam melakukan pelayanan askep.

4. Ancaman
a. Klien dan keluarga semakin kritis terhadap pelayanan yang
berkualitas.
b. Adanya Rumah Sakit lain yang memiliki kualitas lebih baik
dengan standar akreditasi Joint Commission International(JCI).
c. Adanya undang-undang perlindungan konsumen.
d. Pembandingan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dengan
Rumah Sakit yang memiliki standar pelayanan yang kurang lebih
sama dengan standar pelayanan kesehatan dengan Rumah Sakit
Immanuel Bandung.
e. Banyaknya informasi kesehatan dari pasien yang mudah diakses di
media social .

50

f. Adanya rumah sakit yang baru (RS Santosa) di daerah Kopo.

57

f. Skoring
Tabel 8 Pembobotan/Skoring Aspek Kekuatan (Strengths)

No
1.

2.

4.

Kekuatan
Terdapatnya perawat dengan latar belakang

Bobot
1,0

Rating

Bobot x

Komentar

Rating
4

Dengan adanya latar belakang pendidikan

pendidikan S1 Keperawatan sebanyak 9

yang

orang dan D3 Keperawatan sebanyak 16

menghasilkan

orang.

sehingga memnberikan asuhan keperawatan

Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap

yang professional juga.


Dengan adanya fasilitas yang lengkap dan

0,7

2,1

sesuai

yang

professional

perawat

yang

dapat

professional

masing-masing di kamar pasien.

memadai dapat membantu kebutuhan ADL

Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap di

pasien setiap hari.


Tersedianya fasilitas yang lengkap di nurse

0,7

2,1

ruang perawat atau nurse station.

station dapat membantu meningkat kinerja

Adanya tenaga inventaris 1 orang dan serta

perawat.
Dengan tersedianya tenaga inventaris dan

0,6

1,2

tenaga kebersihan sebanyak 2 orang saat

tenaga

pagi hari dan siang hari dan 1 orang pada

kualitas layanan keperawatan.

malam hari.
Tersedianya gelang identitas di tangan

0,6

1,2

kebersihan

dapat

meningkatkan

Membantu meminimalkan kesalahan dalam

pasien.

pemberian obat serta memperjelas identitas

Tersedianya nurse station yang berada di

dan keamanan pasien.


Sarana ini membantu terjadinya komunikasi

0,7

2,1

58

tengah Ruang dan 1 buah meja konsultasi.

yang efektif antar pasie-perawat,perawattenaga kesehatan yang lain, serta membantu

Kapasitas tempat tidur sebanyak 19 tempat

0,7

2,1

dalam diskusi.
Kapasitas tempat tidur yang memadai dapat

tidur dengan rata-rata pasien per hari 14-19

meningkatkan

pasien.

diberikan serta dapat dipakai dalam jangka

Tersedia tempat duduk di kamar pasien

0,6

1,2

waktu yang lama.


Meningkatkan kenyamanan bagi keluarga dan

untuk keluarga.
Terdapat
lembar

0,6

1,2

pengunjung pasien.
Secara tidak langsung

penggunaan

dan

pengecekan alat kesehatan yang dipakai di

kualitas

pelayanan

dapat

yang

membantu

memantau dan memelihara alat kesehatan.

10

Ruang.
Tersedianya fasilitas air mineral untuk

0,6

1,2

Membantu memenuhi kebutuhan pasien dan

11

pasien dan keluarga pasien.


Terdapatnya ruang penyimpanan

0,7

1,4

keluarga.
Adanya ruangan

alat,

gudang alat dan ruang spoel hock


12

13

Memiliki standar asuhan keperawatan dan

khusus

memudahkan

pengecekan dan pemeliharaan alat.


0,9

2,7

Dengan

adanya

SOP

SAK

memudahkan

Asuhan Keperawatan (SAK).


Memiliki visi dan misi rumah sakit yang

keperawatan sesuai standar


Dengan adanya visi dan misi rumah sakit

diletakkan di Ruang.

2,1

dapat

membantu

melakukan

dapat

Standar Operasional Prosedur dan Standar


0,7

perawat

dan

meningkatkan

asuhan

kualitas

59

14

Alur informasi dalam penerimaan pasien


baru

cukup

jelas,

yaitu

menggunakan

sarana

telepon

0,7

2,1

dengan

pelayanan kesehatan
Sarana informasi dapat memperlancar proses
penerimaan pasien baru

serta

15

informasi ulang mengenai kesiapan Ruang


Persiapan tempat tidur sudah dilakukan

0,6

1,8

Dapat meningkatkan kepuasaan pasien dalam

16

sebelum pasien datang ke Ruang.


Perawat memeriksa kelengkapan status dan

0,8

2,4

pelayanan keperawatan
Memperlancar dalam

catatan keadaan pasien dari unit yang


mengantar

(IGD

ataupun

POLI)

memberi

asuhan

keperawatan

dan

melaporkannya ke dokter yang memegang


17

pasiennya.
Sudah ditetapkannya jam berkunjung di

0,8

1,6

Ruang.

Dengan adanya pembatasan jam berkunjung,


dapat membuat klien beristirahat dengan
cukup

untuk

mempercepat

proses

penyembuhan pasien
Tabel 9 Pembobotan/Skoring Aspek Kelemahan (Weakness)

No

Kelemahan

Bobot

Rating

Bobot x

Komentar

Belum optimalnya orientasi dan informasi

rating
3

Dengan adanya orientasi yang diberikan pada

tentang fasilitas ruangan terhadap pasien

pasien baru di ruangan dapat membuat pasien

baru

dan keluarga merasa nyaman dan puas.

60

Belum optimalnya pelabelan pada setiap

Leaflet sebagai media promosi kesehatan

formulir yang terdapat pada ruang nurse

secara visual sehingga pasien dan keluarga

station

lebih memahami tentang kesehatan

dan

papan

penunjuk

fasilitas

pelengkap (toilet)
Tidak adanya locker tempat penyimpanan

0,9

2,7

tas perawat.

Dengan

adanya

locker

perawat

dapat

meningkatkan kenyamanan perawat dan juga


tas perawat tidak disimpan disembarang

Belum

Optimalnya

pembuatan

0,9

2,7

tempat.
Adanya leaflet/ brosur unruk pasien pulang

leaflet/brosur untuk pasien pulang sehingga

mampu meningkatkan pemahaman pasien dan

informasi hanya disampaikan secara lisan.

mampu mengenal secara dini tentang masalah

Ruang kepala ruangan yang bersatu dengan

kesehatan
Ruangan kepala ruangan sebaiknya harus

0,6

1,2

ruang penyimpanan alat tenun

dipisahkan

Belum optimalnya ronde keperawatan pada

kinerja kepala ruangan.


Komunikasi dan perkenalan antar perawat-

0,9

2,7

overan siang dan malam hari

sehingga

dapat

memudahkan

pasien sangat penting dalam overan karena


secara tidak langsung akan membuat pasien

Tidak tersedianya ruang pendidikan bagi


mahasiswa yang praktek.

0,7

1,4

merasa dihargai dan diperhatikan.


Dengan adanya ruang pendidikan dapat
memudahkan
berkonsultasi.

mahasiswa

untuk

saling

61

Belum optimalnya pemberian informasi

0,6

1,2

Struktur organinsasi membantu dalam melihat

kesehatan untuk pasien post op.

fungsi

dan

peran

setiap

perawat

serta

membantu dalam mensosialisasikan perawat.

Tabel 10 Pembobotan/Skoring Aspek Peluang (Opportunity)

No
1

Peluang
Adanya

mahasiswa

Immanuel

praktik

Rating

Bobot x

t
0,7

rating
2,1

keperawatan

manajemen di Ruang Hana.


Adanya organisasi PPNI
menaungi

STIKes

Bobo

program

yang

pendidikan

yang

0,7

2,1

0,9

2,7

dapat

Adanya kesempatan bagi perawat di


Ruang untuk mengikuti pelatihan

meningkatkan

mutu

Dengan adanya keluarga disamping pasien dapat


meringankan tugas perawat dan dapat

mmpercepat proes penyembuhan pada pasien.


Kerjasama dengan bidang pendidikan
meningkatkan

meningkatkan mutu pelayanan.


5

dapat

teori terbaru yang telah didapat


Adanya perlindungan untuk perawat dan tindakan

membantu

Adanya kerja sama dengan bidang

praktek

keperawatan yang diberikan di pelayanan RS.

selama di rawat di Hana.


4

Mahasiswa

pelayanan, dan juga mampu mengimplementasikan

Profesi

Keperawatan.
Keluarga dapat mendampingi pasien

Komentar

wawasan

serta

dapat

memberikan

kesempatan bagi mahasiswa/I untuk mengaplikasikan


0,9

3,6

teori yang sudah didapat.


dengan adanya perawat yang memiliki pendidikan
yang tinggi dan keterampilan skill yang bagus dapat

62

keperawatan

dan

melanjutkan

memberikan asuhan keperawatan yang professional.

pendidikan ke jenjang yang lebih


6

tinggi.
Posisi ruang Hana yang strategis dan

0,7

1,4

Posisi ruangan yang strategis membuat ruang hana

dekat dengan sarana-sarana umum

menjadi ruangan yang mudah mengakses segala

berupa tempat ibadah (mushola),

fasilitas pelngkap yang ada,

ruang hemodialisa, apotek dan ruang


dokter jaga, sterilisasi alat tenun dan
institusi nutrisi klinik dan tempat
7

pemeliharaan alat kesehatan.


Tempat penjagaan/keamanan dekat

0,7

2,1

Tempat penjagaan yang dekat dengan ruangan dapt

dengan pintu keluar masuk Ruang

membantu dalam pengawasan terhadap pasien dan

memudahkan

juga jumlah pengunjung yang kadang-kadang tidak

pemulangan

pasien/pintu keluar lebih dekat.

mengikuti aturan yang berlaku

Tabel 11 Pembobotan/Skoring Aspek ancaman (threats)

No
1.

Ancaman

Bobot

Rating

Bobot x

Komentar

Adanya Rumah Sakit lain yang memiliki

0,7

Rating
2,1

Memotivasi perawat dan RS untuk lebih

kualitas lebih baik dengan standar akreditasi

meningkatkan pelayanan yang berkualitas

Joint Commission International(JCI).

sehingga

dapat

meningkatkan

kepuasan

63

2.

Adanya

undang-undang

perlindungan

0,6

1,2

konsumen.
3.

konsumen.
Adanya peluang untuk perawat mendapatkan
tuntutan baik secara profesionalisme kerja

Pembandingan pelayanan kesehatan oleh

0,8

2,4

ataupun hukum dari pasien/keluarga pasien.


Memotivasi rumah sakit sehingga lebih

masyarakat dengan Rumah Sakit yang

meningkatkan kualitas pelayanan, mutu dan

memiliki standar pelayanan yang kurang

tenaga medis yang lebih profesional dengan

lebih

pengalaman kerja yang berkualitas

sama

dengan

standar

pelayanan

kesehatan dengan Rumah Sakit Immanuel


4.

5.

Bandung.
Banyaknya informasi kesehatan dari pasien

0,7

1,4

Memotivasi tenaga medis untuk meningkatkan

yang mudah diakses di media sosial.

pengetahuan yang lebih tinggi dari pasien/

Adanya rumah sakit yang baru (RS Santosa)

masyarakat awam
Memotivasi rumah

di daerah Kopo.

0,6

1,2

sakit

sehingga

lebih

meningkatkan kualitas pelayanan, mutu dan


tenaga medis yang lebih profesional dengan
pengalaman kerja yang berkualitas

64

g. Matrix Strategi
Tabel 12 Matriks Strategi

Strength

1. Terdapatnya

Internal

perawat

Weakness

dengan

latar 1. Belum

orientasi

dan

belakang pendidikan S1 Keperawatan

informasi tentang fasilitas ruangan

sebanyak 9 orang dan D3 Keperawatan

terhadap pasien baru


2. Belum optimalnya pelabelan pada

sebanyak 16 orang.
2. Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap

Eksternal

optimalnya

masing-masing di kamar pasien.


3. Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap

setiap formulir yang terdapat pada


ruang nurse station dan papan nama

penunjuk ruangan
di ruang perawat atau nurse station.
3. Belum
Optimalnya
penggunaan
4. Adanya tenaga inventaris 1 orang dan
leaflet/brosur untuk pasien pulang
serta tenaga kebersihan sebanyak 2 orang
sehingga
informasi
hanya
saat pagi hari dan siang hari dan 1 orang
disampaikan hanya secara lisan.
pada malam hari.
4. Ruang kepala ruangan yang bersatu
5. Tersedianya gelang identitas di tangan
dengan ruang penyimpanan alat tenun
5. Tidak adanya locker penyimpanan tas
pasien.
6. Tersedianya nurse station yang berada di
perawat.
tengah Ruang dan 1 buah meja 6. Belum optimalnya ronde keperawatan
konsultasi.

pada overan siang dan malam hari

65

7. Kapasitas tempat tidur sebanyak 19 7. Tidak tersedianya ruang pendidikan


tempat tidur dengan rata-rata pasien per
hari 14-19 pasien.
8. Tersedia tempat duduk di kamar pasien
untuk keluarga.
9. Terdapat lembar

penggunaan

di Ruang.
10. Tersedianya fasilitas air mineral untuk
pasien dan keluarga pasien.
11. Terdapatnya ruang penyimpanan alat,
gudang alat dan ruang spoel hock
12. Memiliki
standar
asuhan
keperawatan dan Standar Operasional
dan

Standar

Asuhan

Keperawatan (SAK)
13. Memiliki visi dan misi rumah sakit yang
diletakkan di Ruang
14. Alur informasi dalam penerimaan
pasien baru cukup jelas, yaitu dengan
menggunakan
informasi
Ruang

sarana

ulang

telepon

mengenai

sehingga kamar tersebut tidak dapat

digunakan
optimalnya
dan 9. belum

pengecekan alat kesehatan yang dipakai

Prosedur

bagi mahasiswa yang praktek.


8. terdapat kebocoran atap di kamar 2

serta

kesiapan

pemberian

informasi kesehatan untuk pasien post


op.

66

15.

Persiapan

tempat

tidur

sudah

dilakukan sebelum pasien datang ke


Ruang.
16. Adanya pemberian informasi tentang
biaya

selama

dilakukan

keperawatan.
17. Perawat memeriksa

tindakan

kelengkapan

status dan catatan keadaan pasien dari


unit yang mengantar (IGD ataupun
POLI) dan melaporkannya ke dokter
yang memegang pasiennya.
18. Sudah ditetapkannya jam berkunjung di
Ruang.
Peluang

SO Strategi

WO Strategi

a. Rumah sakit Immanuel merupakan 1. SDM dengan kualifikasi pendidikan S1 1. Adanya penilaian mutu pelayanan RS
salah satu Rumah sakit rujukan

dan D3 merupakan kekuatan untuk

Immanuel menuntut ruangan untuk

diwilayah Bandung Selatan


b. Rumah Sakit memiliki hubungan

menangkap peluang kebijakan rumah

meningkatkan fasilitas ruangan, dan

sakit

standar operasional prosedur dalam

kerja dengan Fakultas kedokteran


Maranatha yang bisa menjadi tempat
bagi

tenaga

kesehatan

yang

dalam

mengadakan

pelatihan-

pelatihan bagi perawat.


semua tindakan keperawatan.
2. pemanfaatan sistem pendukung sesuai 2. Penambahan Jumlah tenaga perawat
3. Meningkatkan pengalaman kerja
dengan fungsinya untuk meningkatkan

67

melanjutkan pendidikan.
c. Adanya kerja sama antar Rumah

kualitas pelayanan
3. Pemanfaatan sarana dan prasarana yang

Sakit Immanuel dengan Rumah Sakit

ada
4. Meningkatkan keamanan dan penjagaan

di Jawa Barat.
d. Adanya kebijakan rumah sakit untuk
meningkatkan

jenjang

pendidikan

pasien dengan adanya penen / tanda


identitas pasien

perawat
e. Adanya UU Keperawatan sebagai

perawat-perawat diruangan dengan


cara menangkap peluang kebijakan
rumah

dalam

prasarana yang tersedia di ruangan


5. Adanya anggaran dari rumah sakit
pembuatan

kamar

perawat

melakukan pelayanan askep.

Ancaman / Threats

ST Strategi

mengadakan

pelatihan-pelatihan bagi perawat.


4. Perawatan dan pemanfaatan sarana

untuk

payung hukum tenaga perawat dalam

sakit

WT Srategi

mandi

68

1. Klien dan keluarga semakin kritis 1. Peningkatan


terhadap pelayanan yang berkualitas.
2. Adanya

Rumah

Sakit

lain

yang

memberikan

International(JCI).
3. Adanya undang-undang perlindungan
konsumen.

pelayanan

pelatihan

kepada

dengan 1. Meningkatkan

fasilitas

ruangan,

tenaga

mengoptimalkan

operan

diruangan,

mengoptimalkan

discharge

kesehatan.

memiliki kualitas lebih baik dengan 2. Peningkatan


standar akreditasi Joint Commission

mutu

mutu

kualitas

asuhan

keperawatan

untuk

memperkecil

planning
adanya

perbandingan pelayanan kesehatan oleh

3. Memotivasi perawat untuk melanjutkan


pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

masyarakat dengan RS yang memiliki


standar internasional.

4. Kapasitas tempat tidur yang memadai, 2. Meningkatkan

fasilitas

di

ruangan

4. Pembandingan pelayanan kesehatan

tempat tidur dan alat tenun yang lengkap

Lukas untuk memperkecil ancaman

oleh masyarakat dengan Rumah Sakit

dan bersih merupakan kekuatan untuk

adanya rumah sakit yang memiliki

yang memiliki standar pelayanan yang

memperkecil tuntutan dari pasien dan

standar internasional dan kualitas Joint

kurang lebih sama dengan standar

keluarga untuk mendapatkan pelayanan

Commission International.

pelayanan kesehatan dengan Rumah

yang profesional.

Sakit Immanuel Bandung.


5. Adanya rumah sakit yang baru (RS
Santosa) di daerah Kopo.

5. Perawat
pendidikan

yang
S1

3. Mengoptimalkan pendidikan kesehatan


memiliki

kualifikasi

yang diberikan pada saat pasien pulang,

dan

merupakan

orientasi ruangan pada pasien baru

D3

kekuatan untuk memperkecil persaingan

untuk

memperkecil

antar rumah sakit yang semakin kuat.

masyarakat

untuk

ancaman

dari

mendapatkan

pelayanan yang profesional

h. Matriks IFE (Analisis Matriks IFE (Internal Faktor Evalution))


Tabel 13 Matriks IFE

No
1.

Strength
Terdapatnya perawat dengan latar belakang pendidikan S1 Keperawatan

Bobot
0.07

Rating
4

Skor
0.28

69

2.
3.
4.

sebanyak 9 orang dan D3 Keperawatan sebanyak 16 orang.


Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap masing-masing di kamar pasien.
Tersedianya fasilitas yang cukup lengkap di ruang perawat atau nurse station.
Adanya tenaga inventaris 1 orang dan serta tenaga kebersihan sebanyak 2

0.05
0.04
0.02

2
3
3

0.10
0.12
0.06

5.
6.

orang saat pagi hari dan siang hari dan 1 orang pada malam hari.
Tersedianya gelang identitas di tangan pasien.
Tersedianya nurse station yang berada di tengah ruangan dan 1 buah meja

0.04
0.04

4
3

0.16
0.12

7.

konsultasi.
Kapasitas tempat tidur sebanyak 19 tempat tidur dengan rata-rata pasien per

0.03

0.06

8.
9.

hari 16-19 pasien.


Tersedia tempat duduk di kamar pasien untuk keluarga.
Terdapat lembar penggunaan dan pengecekan alat kesehatan yang dipakai di

0.02
0.02

2
2

0.04
0.04

10
11
12

ruangan.
Tersedianya fasilitas air mineral untuk pasien dan keluarga pasien.
Terdapatnya ruang penyimpanan alat, gudang alat dan ruang spoel hock
Memiliki standar asuhan keperawatan dan Standar Operasional Prosedur dan

0,02
0,02
0,05

2
2
4

0,04
0,04
0,20

13

Standar Asuhan Keperawatan (SAK).


Memiliki visi dan misi rumah sakit yang diletakkan di ruangan.

0,05

0,15

14

Alur informasi dalam penerimaan pasien baru cukup jelas, yaitu dengan

0,04

0,12

0,05
0,04

2
2

0,10
0,08

menggunakan sarana telepon serta informasi ulang mengenai kesiapan


15
16

ruangan.
Persiapan tempat tidur sudah dilakukan sebelum pasien datang ke ruangan.
Adanya pemberian informasi tentang biaya selama dilakukan tindakan
keperawatan.

70

17

Perawat memeriksa kelengkapan status dan catatan keadaan pasien dari unit

0,05

0,15

18

memegang pasiennya.
Sudah ditetapkannya jam berkunjung di ruangan.

0,03

0,06

19

Adanya mahasiswa STIKes Immanuel praktik keperawatan manajemen di

0,04

0,12

1
0.03

51
3

2,4
0.09

0,02

0.06

0,02

0,04

yang mengantar (IGD ataupun POLI) dan melaporkannya ke dokter yang

ruangan Hana.
1.

TOTAL
Belum optimalnya proses penerimaan pasien baru dalam hal pelaksanaan
orientasi dan fasilitasi ruangan terhadap pasien baru di Ruang Hana

Belum optimalnya pelabelan pada setiap formulir yang terdapat pada ruang
nurse station dan papan nama penunjuk ruangan

Belum Optimalnya pembuatan leaflet/brosur untuk pasien pulang sehingga


informasi hanya disampaikan hanya secara lisan.

4.

Ruang kepala ruangan yang bersatu dengan ruangan penyimpanan alat tenun.

0.02

0.02

5.

Tidak adanya locker penyimpanan tas perawat.

0.02

0.02

6.

Kurangnya komunikasi dan perkenalan antar perawat dan pasien saat overan

0.03

0.09

0,02

0,04

siang dan malam.


7

Tidak tersedianya ruang pendidikan bagi mahasiswa yang praktek.

71

Penyimpanan buku status tidak pada tempat yang sudah disiapkan.

0,02

0,04

Tidak ada perawat penanggung jawab dalam pembuatan leaflet sehingga

0,02

0,04

tidak tersedianya brosur/leaflet


10

Informasi kesehatan yang kurang untuk pasien post op.

0,01

0,01

11

Penempatan alat-alat pngambilan darah, cek gula darah dll disatukan dalam 1

0,02

0,06

0.03

0,09

1.0

30

0,62

baki dan itu tidak efektif karena bisa menyebabkan penyebaran kuman
infeksi.
Tidak adanya papan nama penunjuk ruangan, sarana pelengkap (toilet)

12

TOTAL

Rating (nilai) antara 1 sampai 4 bagi masing-masing faktor yang memiliki nilai
1 = Sangat Lemah
3 = Cukup Kuat
2 = Tidak Begitu Lemah, 4= Sangat Kuat
Jadi, rating mengacu pada kondisi perusahaan, sedangkan bobot mengacu pada industri dimana perusahaan berada.
a. Kalikan antara bobot dan rating dari masing-masing faktor untuk menentukan nilai skornya.
b. Jumlah semua skor untuk mendapatkan skor total bagi perusahaan yang dinilai. Nilai rata-rata adalah 2,5. Jika nilainya
dibawah 2,5 menandakan bahwa secara internal, perusahaan adalah lemah, sedangkan nilai yang berada diatas 2,5
menunjukkan posisi internal yang kuat. Seperti halnya pada matriks EFE, matriks IFE terdiri dari cukup banyak faktor.
Jumlah faktor-faktornya tidak berdampak pada jumlah bobot karena ia selalu berjumlah 1,0
i. Analisis Matriks EFE (Eksternal Faktor Evalution) Matriks
Tabel 14 Matriks EFE

No

Opportunity

Bobot

Ranting

Skor

72

1.
2.
3.
4.

Adanya kebijakan pemerintah tentang profesionalisme perawat.


Adanya organisasi PPNI yang menaungi program Profesi Keperawatan.
Keluarga dapat mendampingi pasien selama di rawat di Hana.
Adanya kerja sama dengan bidang pendidikan yang dapat

meningkatkan mutu pelayanan.


5. Adanya kesempatan bagi perawat di ruangan untuk mengikuti pelatihan
keperawatan dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
6. Posisi ruang Hana yang strategis dan dekat dengan sarana-sarana umum

0,05

0.1

0,5

1,5

0,05

0.1

0,1

0,3

0,1

0,3

0,05

0,1

0,1

0,2

0,1

0.2

0,1

0.2

0,1
0,1

2
2

0.2
0.2

berupa tempat ibadah (mushola), ruang hemodialisa, apotek dan ruang


dokter jaga, sterilisasi alat tenun dan institusi nutrisi klinik dan tempat
pemeliharaan alat kesehatan.
7. Tempat penjagaan/keamanan dekat dengan pintu keluar masuk ruangan
memudahkan pemulangan pasien/pintu keluar lebih dekat.

Threats / Ancaman
1. Klien dan keluarga semakin kritis terhadap pelayanan yang berkualitas.
2. Adanya Rumah Sakit lain yang memiliki kualitas lebih baik dengan
standar akreditasi Joint Commission International(JCI).
3. Adanya undang-undang perlindungan konsumen.
4. Pembandingan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dengan Rumah
Sakit yang memiliki standar pelayanan yang kurang lebih samadengan
standar pelayanan kesehatan dengan Rumah Sakit Immanuel Bandung.
5. Banyaknya informasi kesehatan dari pasien yang mudah diakses di

73

media social
6. Adanya rumah sakit yang baru (RS Santosa) di daerah Kopo.

Jumlah

0,05

0.1

0,1

0.2

1.0

35

3.7

Keterangan :
Rating setiap critical success factors antara 1 sampai 4, dimana:
1= di bawah rata-rata

2 = rata-rata

3= di atas rata-rata

4= sangat bagus

Rating ditentuan berdasarkan efektifitas strategi perusahaan.Dengan demikian, nilainya didasarkan pada kondisi perusahaan.
a. Kalikan nilai bobot dengan nilainya ratingnya untuk mendapatkan skor critical success factors.
b. Jumlahkan semua skor untuk mendapatkan skor total bagi perusahan yang dinilai. Skor 4,0 mengindikasikan bahwa
perusahaan merespon dengan cara yang luar biasa terhadap peluang-peluang yang ada dan menghindari ancama-ancaman di
pasar industri. Sementara itu, skor total sebesar 1,0 menunjukan bahwa perusahan tidak memanfaatkan peluang-peluang yang
ada atau tidak menghindar ancaman-ancaman eksternal.
j. Matriks Internal Eksternal (IE)
Matriks IE bermanfaat untuk memposisikan suatu SBU perusahaan ke dalam matriks yang terdiri dari 9 sel dengan
memperhatikan nilai total EFE dan IFE. Matriks IE menempatkan berbagai divisi dari organisasi dalam diagram skematis,
sehingga disebut matriks portofolio. Matriks IE dengan sumbu horizontal X adalah nilai IFE yang dibagi menjadi 3 daerah yaitu:
1,0 1,99
= IFE lemah
2,0 2,99
= IFE rata-rata

74

3,0 4,0

= IFE kuat

Matriks IE dengan sumbu vertikal Y adalah nilai EFE yang dibagi menjadi 3 daerah, yaitu;
1,0 1,99
2,0 2,99
3,0 4,0

= EFE rendah
= EFE rata-rata
= EFE kuat
S K O R TO TAL IF E
Kuat

Sedang

Lemah

3.043,02,0 2,99 2,0 1,0 - 1,99

IV

II

III

VI

S
K
O
R

Tinggi
3.7

T
O
T
A
L

Sedang
2,0 2,99

E
F
E
VII

VIII

IX

4.0
3,0

2,0
Rendah
1,0 1,99
1,0

Skor Total Matriks IE


IE matriks menghasilkan 3 implikasi strategi yang berbeda yaitu :

75

1. SBU yang berada pada sel I, II, atau IV dapat digambarkan sebagai Grow dan Build. Strategi yang cocok bagi SBU ini
adal strategi intensif (market penetration, market development, dan product development) dan strategi integratif
(backward integration, forward integration, dan horizontal integration).
2. SBU yang berada pada sel III, V, VII paling baik dikendalikan dengan strategi-strategi hold dan maintain. Strategi yang
umum dipakai adalah strategi market penetration dan product development.
3. SBU yang berada pada sel VI, VIII, IX dapat menggunakan strategi harest atau divestiture.
Kesimpulan:
Diagram cartesius berdasarkan kasus diatas termasuk kuadran 1 dan II dimana dapat digambarkan sebagai Grow dan Build.
Strategi yang cocok bagi SBU ini adal strategi intensif (market penetration, market development, dan product development) dan
strategi integratif (backward integration, forward integration, dan horizontal integration).
k. Identifikasi Masalah :
1. Belum optimalnya orientasi dan informasi tentang fasilitas ruangan terhadap pasien baru di Ruang Hana.
Berdasarkan hasil observasi tanggal 20-24 Mei 2015 didapatkan data dari 11 pasien baru yang masuk, 8 (72,72%) diantaranya
tidak diberikan informasi mengenai orientasi dan fasilitas ruangan dan 3 (27,27%) pasien baru diberikan informasi mengenai
orientasi dan fasilitas ruangan. Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa setiap pasien yang baru masuk di ruang Hana
belum optimal dalamorientasi dan kurang informasi mengenai fasilitas ruangan, perawat yang bertugas di ruangan, dokter
yang menangani pasien tersebut serta jadwal kunjungan dokter.
Oleh karena itu, sebaiknya jika setiap pasien baru hendak diberikan orientasi mengenai ruangan, fasilitas, perawat yang
bertugas saat itu serta dokter yang akan menangani dimana pasien itu dirawat sehingga pasien beserta keluarga dapat merasa
nyaman serta aman saat dirawat diruangan tersebut.
2. Belum optimalnya pelabelan tempat formulir yang terdapat pada ruang nurse station dan papan nama penunjuk ruangan

76

Berdasarkan datadidapatkan bahwa belum optimal pelabelan pada tempatformulir yang terdapat pada ruang nurse station dan
papan nama penunjuk ruangan. Hal ini dibuktikan dengan Tidak adanya papan nama penunjuk ruangan, sarana pelengkap
(toilet)
Berdasarkan data didapatkan bahwa beberapa tempat formulir belum di beri label, dan juga penyimpanan formulir tidak
sesuai dengan label yang telah ditempel
3. Belum optimalnya penggunaan leaflet/ brosur untuk Pasien pulang sehingga informasi hanya disampaikan secara lisan
Berdasarkan hasil observasi tanggal 20-24 Mei 2015 didapatkan data dari 9 pasien yang pulang, 9(100%) diantaranya tidak
diberikan informasi dengan menggunakan leaflet atau brosur. Berdasarkan datadidapatkan bahwa setiap pasien yang hendak
pulang, perawat hanya menyampaikan secara lisan saja tentang aturan minum obat tanpa penjelasan yang jelas dalam sebuah
leaflet tentang penyakit, diit makanan dan minuman serta aktivitas yang dapat dilakukan pasca penyembuhan dikhawatirkan
jika informasi tersebut disampaikan secara lisan saja akan menyebabkan keluarga pasien lupa dengan informasi tersebut dan
juga tidak terdapat tempat untuk menyimpan leaflet atau brosur di sekita ruang perawatan. Menurut penulis, leaflet merupakan
salah satu media pembelajaran secara tertulis dan bagian dari discharge planning yang penting untuk di berikan kepada pasien,
hal ini juga dapat memudahkan pasien untuk mengingat serta dapat dibawa pulang ke rumah sehingga sewaktu-waktu jika
diperlukan media leaflet tersebut dapat digunakan.
4. Tidak adanya locker penyimpanan tas perawat.
Berdasarkan datatidak ditemukan adanya locker perawat,sehingga tas perawat disimpan dilemari tempat penyimpanan alat di
Nurse station, berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang perawat, pada beberapa tahun yang lalu locker perawat
ruangan berada di lantai dasar Rumah Sakit Immanuel menurut penulis locker perawat seharusnya ada sehingga dapat
meningkatkan kenyamanan perawat
Proses untuk memprioritaskan masalah dengan metode pembobotan yang memperhatikan aspek :

77

a) Magnetude (Mg)
Kecenderungan besar dan seringnya masalah terjadi
b) Severy (Sv)
Besarnya kerugian yang ditimbulkan dari masalah ini
c) Manageability (Mn)
Berfokus pada keperawatan sehingga dapat diatur untuk perubahan
d) Nursing Consent (Nc)
Melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat
e) Affability (Af)
Ketersediaan sumber daya
Rentang nilai yang digunakan adalah 1- 5 :
1 Sangat penting
:5
2 Penting
:4
3 Cukup penting
:3
4 Kurang penting
:2
5 Sangat kurang penting : 1
l. Prioritas Masalah
Tabel 15 Prioritas Masalah

No.

Masalah

Belum optimalnya orientasi dan informasi tentang


fasilitas ruangan terhadap pasien baru.

Mg
4

Metode Pembobotan
Sv
Mn
Nc
3
3
4

Af
4

Skor

Ket

576

IV

78

Belum optimalnya

pelabelan pada tempat

2500

1200

III

108

formulir yang terdapat pada ruang nurse station

Belum optimalnya penggunaan leaflet/brosur


untuk pasien pulang sehingga informasi hanya
disampaikan secara lisan

Tidak adanya locker tempat penyimpanan tas


perawat.

Setelah dilakukan pembobotan diperoleh prioritas masalah sebagai berikut:


1. Belum optimalnya pelabelan pada tempat formulir yang terdapat pada ruang nurse station
2. Belum Optimalnya penggunaan leaflet/brosur untuk pasien pulang sehingga informasi hanya disampaikan secara lisan.
3. Belum optimalnya orientasi dan informasi tentang fasilitas ruangan terhadap pasien baru.
4. Tidak adanya locker tempat penyimpanan tas perawat.
m. Analisis Fish Bone
Sebelum rencana intervensi disusun maka dilakukan suatu analisis terhadap aspek Man (Sumber daya manusia), Money (uang atau
dana), Material (Materi atau bahan), Method (Metode), Machine (Mesin) dan Environment (Lingkungan) sebagai penyebab dari
masalah yang muncul menggunakan metode analisis Fish bone.

MACHINE:
MATERIAL:
Enviroment/Lingkungan:
Tidak ada bagan alur penerimaan
Tidak adapasien
formatbaru
penerimaan
Pasien
padabaru
pasien
yang
baru
dating lebih dari satu pasien

Belum optimalnya orientasi dan informasi tentang fasilitas ruangan terhadap pasien baru di

MONEY:
METODE:
MAN:
Pembayaran
Serah terimarawat
laporan
inap
perawat
dilakukan
dilakukan
di billing
di Perawat
nurse station
melibatkan
dan keluarga.pasien baru.
belumtanpa
masksimal
dalampasien
mengorientasikan

Gambar 3 Analisis Fishbone: Belum optimalnya orientasi dan informasi tentang fasilitas ruangan terhadap pasien baru di Ruang Hana.

n. Plan Of Action (POA)


Tabel 16 Planning Of Action (POA)

1.

Belum

Menginform

optimalnya

asikan

orientasi

kepada

buku

dan

setiap pasien

orientasi

informasi

baru

tentang

ruangan

Persiapan:

1. Lihat kembali isi

di

pedoman

tentang

ruangan

fasilitas yang

terhadap

terdapat

pasien

ruangan

pasien

baru.
2. Pencarian literatur
dan

fasilitas

baru.

Persiapan:

studi

kepustakaan

1. Mengklarifikasi

Rumah

kebutuhan ruangan
akan

pedoman

orientasi.
2. Mendapatkan
sumber
yang

di

SOP

3. Penyusunan

informasi
tepat dalam

merevisi

pedoman

orientasi

pasien

penerimaan Pasien
Baru

Perawat
Primer
dan
perawat
assosiate

3. Melengkapi hal-hal

pedoman orientasi

Kepala
Ruangan,

baru.

Hana.

Sakit

yang belum ada dan

Setiap
pasien dan
keluarga

menyesuaikan
dengan kondisi dan

yang baru
di ruangan

kebijakan.

Hana.
4. Konsultasi
dan

SOP
lembar

4. Mendiskusikan

isi

27 Mei- Pranita
Cindy
4 Juni
2015

orientasi

lembar

penerimaan pasien

pasien.

orientasi

baru kepada kepala


ruangan.

Pelaksanaan:
1. Desiminasi tentang
orientasi

Pelaksanaan:
1. Memperbaiki

isi

penerimaan

pasien

pedoman

baru

kepada

orientasi penerimaan

perawat

Ruang

pasien

Hana

lembar
baru

dan

masukan-masukan
yang diperlukan.

2. Sosialisasikan
kepada

perawat

ruangan pentingnya
pengorientasian

2. Ka Ru, PN dan AN
dapat melaksanakan
orientasi

ruangan

terhadap pasien yang

melalui pembuatan
poster

tentang

lembar

orientasi

penerimaan

baru masuk.

pasien

baru
3. Memberikan
informasi
orientasi
kepada

dan
ruangan
setiap

pasien yang baru


masuk.

Evaluasi:

Evaluasi:
Evaluasi
pelaksanaan

Memperoleh gambaran
hasil
orientasi

ruangan untuk pasien


baru

pelaksanaan

orientasi

ruangan terhadap pasien


baru.

DAFTAR PUSTAKA
Amsyah. (2005). Manajemen Sistem Informasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Asmadi (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC
Christensen dan Kenney. (2009). Proses Keperawatan : Model Aplikasi Konseptual. Jakarta: EGC.
Darmadi. (2008). Infeksi Nosokomial: Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta: Salemba Medika.
Gillies (2004). Manajemen Keperawatan: Sebagai Pendekatan Sistem. Bandung: Yayasan IAPKP
Herujito (2001). Dasar-Dasar Manajemen. Bogor: Penerbit PT Grasindo.
Kozier dan Berman. (2009). Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. Jakarta: EGC
Marrelli. (2007). Buku Saku Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
Nursalam. (2007). Manajemen Keperawatan: Aplikasi Dalam Praktek Keperawatan Profesional Edisi 2. Jakarta: Salemba
Medika
Nursalam.(2002). Manajemen Keperawatan: Aplikasi Dalam Praktek Keperawatan Profesional Edisi 2. Jakarta: Salemba
Medika
Nursalam (2004). Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Potter dan Perry. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep, proses dan praktik (4 ed.). Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Rangkuti. (2006). Teknik Mengukur dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan. (Measuring Customer Satifaction.
Jakarta :Penerbit PT Gramedia Pustaka Utami