Anda di halaman 1dari 15

BAB I

STATUS PASIEN
I.

II.

Identitas
1. Nama
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Alamat

: Tn. T/Laki-Laki/55tahun
: SMP
: Swasta
:Rt. 23 Pakuan Baru

LatarBelakangSosio-EkonomiDemografidanLingkunganKeluarga :
a. Status perkawinan
: Sudah menikah
b. Jumlah anak
:4
c. Status ekonomikeluarga : Cukup
d. Kondisirumah
:Rumah berdinding

semen

dan

beratap seng dengan ukuran rumah 10 x 7 meter.Samping


kanan ada rumah tetangga, mempunyai halaman rumah.
Memiliki ruang tamu, 3 ruang kamar tidur, 1 ruang keluarga
sekaligus ruang makan dan 1 ruang dapur dan ada kamar
mandi, Rumah memiliki ventilasi pertukaran udara yang cukup
dan cukup pencahayaan. Sumber air berasal dariair PDAM.
Kamar mandi menggunakan wc jongkok.
e. Kondisi Lingkungan Keluarga :
Pasien tinggal bersama anaknya. Anak pasien bekerja di
swasta dan sedangkan pasien bekerja sebagai tukang ojek.
III.

Aspekpsikologis di keluarga :
Secara psikologis pasien tidak bermasalah. Pasien dikenal sebagai
seorang ayah yang baik bagi keluarganya.

IV.

Anamnesa :
a. Keluhan utama :
Batuk berdahak sejak 5 hari yang lalu
b. Keluhan tambahan :
Sesak Nafas
c. Riwayat perjalanan penyakit
Pasien mengeluh batuk berdahak sejak 6 bulan yang lalu,
dahak berwarna putih kekuningan, banyak dan kental. Munculnya
batuk tidak dipengaruhi oleh alergi. Awalnya badan pasien terasa

dingin kemudian perut panas lalu muncul sesak nafas kemudian


akhirnya batuk. Keadaan kemudian membaik sendiri setelah 20
menit. Pasien juga mengalami nyeri dada pada saat batuk. Setelah
keadaan membaik, sekitar 2 jam kemudian pasien akan merasakan
batuk lagi yang kemudian akan membaik lagi dengan sendirinya,
begitu seterusnya. Tidak ada mual, muntah, dan tidak ada keluhan
pada BAB dan BAK. Dahulu pasienadalah perokok aktif dan
sekarang sudah berhenti merokok 2 tahun yang lalu.
V.

Riwayat penyakit dahulu / penyakit keluarga :


Pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama
Riwayat alergi makanan, cuaca, debu dan bulu disangkal
Riwayat penyakit Hipertensi disangkal
Riwayat Penyakit Diabetes Melitus disangkal
Riwayat merokok (+) sejak usia 15 tahun. Pasien adalah perokok
berat, dalam sehari menghabiskan 1 bungkus rokok. 2 tahun
terakhir pasien sudah mulai berhenti merokok.

VI.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
Keadaan umum
Kesadaran
TD
Nadi
RR
Suhu

: Tampak sakit ringan


: Compos mentis
: 120/80 mmhg
: 80x/menit
: 22x/menit
: 36C

Pemeriksaan Organ
Kepala
Bentuk

: Simetris, normocephal

Mata

: Konjungtivaanemis -/-, Skleraikterik -/-

Telinga

: Dalam Batas Normal

Hidung

: Napascupinghidung -/-, Sekret -/-, Epistaksis -/-

Mulut

: Dalam Batas Normal

Thoraks
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Simetris, retraksi (-)


: Krepitasi (-), vokal fremitus sama kanan dan kiri
: Hipersonor pada kedua lapang paru
: Vesikuler +/+, Rhonki+/+, wheezing -/BJI dan II regular, BJ III (-), bisingjantung (-)

Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Ekstremitas

VII.

: Datar, sikatriks (-).


: Nyeritekan (-)
: Timpani (+)
: Bisingusus (+) normal
: Akralhangat +/+, edema -/-

Pemeriksaan anjuran
Pemeriksaan Sputum
Darah Lengkap
Rontgen

VIII. Diagnosa
Bronkitis Kronis
IX.

Diagnosa Banding
1. TB paru
2. Asma
3. CHF

X.
-

Manajemen
Promotif:
Memberikan edukasi kepada pasien tentang penyakitnya serta

komplikasi yang dapat terjadi


Memberikan pengetahuan tentang pengobatan yang diberikan serta

pentingnya keteraturan dalam berobat


Memberi edukasi kepada keluarga pasien tentang penyakit pasien

serta menciptakan lingkungan bebas polusi di rumah


Menghirup uap air panas 2-3x selama 15 30 menit/hari

Menghindari zat zat yang mengiritasi bronkus seperti berhenti


merokok, menghindari asap rokok orang lain (perokok pasif) serta

memakai masker bila terpapar zat yang bisa mengiritasi bronkus


Latihan fisik, psikososial, latihan pernapasan

Preventif

Mengurangi paparan terhadap asap baik asap bakaran ataupun asap


rokok

Mengurangi aktivitas berlebihan untuk meminimalkan terjadinya


sesak

Menciptakan lingkungan yang bebas dari polusi

Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan


yang bergizi tinggi

Kuratif
Non Farmakologi
1. Istirahat di rumah
2. Menggunakan masker
3. Makan makanan yang bergizi untuk menjaga imunitas tubuh,
bila dianggap perlu dapat diberikan vitamin tambahan
4. Berolahragaringan
danteraturuntukmemperbaikipernapasandanmemperbanyakoksi
genmasukkeparu-paru

Farmakologi
Dexametason tablet 0,5 mg 3 x sehari
Amoxicilin tablet 500 mg 3 x sehari
GG tablet 3x sehari
Rehabilitatif
Menjalankanpengobatandenganteratur
Sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak kontak dengan
asap, baik asap rokok ataupun asap pembakaran

Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan

bergizi tinggi
Jika keluhan tidak membaik dan dirasa semakin sesak segera
berobat ke RS/Puskesmas terdekat

XI.

Resep
Dinas Kesehatan Kota Jambi
Puskesmas Pakuan Baru
Jln. Jendral Sudirman No. 75
Dokter : Meuthia Nadhiroh
SIP :
STR :
Tanggal : 23 Maret 2015
R/ Dexametason tab 0,5 mg

No X

3 dd tab I
R/ Amoxicilin tab 500 mgNo X
3 ddtab I
R/ GG tab 100mg

No X

3 dd tab I

Pro
: Tn. T
Umur : 55tahun
Alamat : Rt. 23 PakuanBaru
Resep tidak boleh ditukar tanpa
sepengetahuan dokter

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1DefinisiBronkitis Kronik
Bronkhitis kronis adalah suatu bentuk penyakit obstruksi paru kronik, pada
keadaan ini terjadi iritasi bronkhial dengan sekresi yang bertambah dan batuk
produktif selama sedikitnya tiga bulan atau bahkan dua tahun berturut-turut,
biasanya keadaan ini disertai emfisema paru.1
2.2Epidemiologi
Di Indonesia, belum ada angka kesakitan Bronkitis kronis secara pasti.
Sebagai perbandingan, di AS ( National Center for Health tatistics ) diperkirakan
sekitar 4% dari populasi di diagnose sebagai Bronkitis kronis. Angka ini pun
diduga masih di bawah angka kesakitan yang sebenarnya (underestimate)
dikarenakan tidak terdiagnosanya Bronkitis kronis. Di sisi lain dapat terjadi pula
overdiagnosis bronchitis kronis pada pasien pasien dengan batuk non spesifik
yang self-limited (sembuhsendiri). Bronkitis kronis dapat dialami oleh semua ras
tanpa ada perbedaan. Frekuensi angka kesakitan Bronkitis kronis lebih kerap
terjadi pada pria disbanding wanita. Hanya saja hingga kini belum ada angka
perbandingan yang pasti.1,2,3
2.3 Etiologi4
1.
2.
3.
4.
5.

Asap rokok.
Polusi udara.
Pekerjaan : lebih umum pada perempuan terkena debu atau gas beracun.
Infeksi: serangan berulang bronchitis akut.
Perokok pasif dan perokok aktif.

2.4 Gejala dan Keluhan


Keluhan dan gejala-gejala klinis Bronkitis kronis adalah sebagai berikut:2,4,5

Batuk dengan dahak atau batuk produktif dalam jumlah yang banyak.
Dahak makin banyak dan berwarna kekuningan (purulen) pada serangan
akut (eksaserbasi). Kadang dapat dijumpai batuk darah.

Sesak napas. Sesak bersifat progresif (makin berat) saat beraktifitas.

Ada kalanya terdengar suara mengi (ngik-ngik).

Pada pemeriksaan dengan stetoskop (auskultasi) terdengar suara krokkrok terutama saat inspirasi (menarik napas) yang menggambarkan
adanya dahak di saluran napas.

2.5 Patofisiologi
Bronkitis Kronik berhubungan dengan berlebihnya mukus trakeobronkial,
cukup membuat batuk dengan dahak selama 3 bulan dalam setahun sekurangnya
2 tahun berurutan. Gambaran histopatologinya menunjukkan hipertrofi kelenjar
mukosa bronkial dan peradangan peribronkial yang menyebabkan kerusakan
lumen bronkus berupa metaplasia skuamos, silia yang abnormal, hiperplasia sel
otot polos saluran pernapasan, peradangan dan penebalan mukosa bronkus.
Ditemukan banyak sel neutrofil pada lumen bronkus dan infiltrat neutrofil pada
submukosa.1,3,5
Terjadi peradangan hebat pada bronkiolus respiratorius, banyak sel
mononuklear, sumbatan mukus. Semua hal diatas menyebabkan obstruksi saluran
pernapasan. Sel epitel pada saluran pernapasan melepaskan mediator mediator
inflamasi sebagai respon dari zat toksik,infeksi, ditambah lagi berkurangnya
pelepasan dari produk regulatori seperti ACE (angiotensin-converting enzym)
dan neutral endopeptidase.1,2

Bronkitis kronik dapat dikategorikan sebagai bronkitis kronik sederhana,


bronkitis kronik mukopurulent, atau bronkitis kronik dengan obstruksi. Bronkitis
kronik dengan ditandai oleh produksi mucoid sputum. Produksi sputum yang
tetap atau berulang tanpa adanya penyakit supuratif seperti bronkiektasis
mengarah pada bronkitis kronik mukopurulen.
Bronkitis kronik harus dapat dibedakan dengan asma. Perbedaannya
didasarkan pada riwayat penyakit sebelumnya: pasien yang menderita bronkitis
kronik mengalami batuk produktif yang lama dan mengi atau wheezing yang
muncul setelahnya,sedangkan pasien dengan asma mengalami mengi yang lama
dan diikuti oleh batuk produktif. Bronkitis kronik bisa akibat dari serangkaian
serangan akut dari bronkitis akut.6

2.6

Klasifikasi6,7
1. Bronkitis kronis ringan( simple chronic bronchitis), ditandai dengan
batuk berdahak dan keluhan lain yang ringan.

2. Bronkitis kronis mukopurulen ( chronic mucupurulent bronchitis),


ditandai

dengan

batuk

berdahak

kental,

purulen

(berwarna

kekuningan).
3. Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas( chronic bronchitis
with obstruction ), ditandai dengan batuk berdahak yang disertai
dengan sesak napas berat dan suara mengi.
Untuk membedakan ketiganya didasarkan pada riwayat penyakit dan
pemeriksaan klinis oleh dokter disertai pemeriksaan penunjang (jika diperlukan),
yakni radiologi (rontgen), faal paru, EKG, analisa gas darah.
2.7 Diagnosis
1. Anamnesis
Adanya batuk berdahak ataupun tidak, biasanya di sertai sesak nafas
yang memberat saat melakukan aktifitas.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan keadaan normal dan kadangkadang terdengar suara wheezing di beberapa tempat. Rhonki dapat
terdengar jika produksi sputum meningkat
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Foto thorax
Foto thorax biasanya menunjukkan gambaran normal atau
tampak corakan bronkial meningkat dan terdapat gambaran air
bonkogram. Diagnosis ditegakkan dengan foto thorax dengan
gambaran fotonya tidak dijumpai infiltrat.

b. Uji faal paru


Pada beberapa penderita menunjukkan adanya penurunan uji
fungsi paru.
c. Laboratorium
Pada bronkhitis didapatkan jumlah leukosit meningkat.
2.8 Diferensial Diagnosis
1. Empisema
2. TB Paru
3. Asma
2.9 Penatalaksanaan

10

Penatalaksanaan Bronkitis kronik dilakukan secara berkesinambungan


untuk mencegah timbulnya penyulit, meliputi:8
Edukasi, yakni memberikan pemahaman kepada penderita untuk
mengenali gejala dan faktor-faktor pencetus kekambuhan Bronkitis
kronis.
Sedapat mungkin menghindari paparan faktor-faktor pencetus.
Rehabilitasi medic untuk mengoptimalkan fungsi pernapasan dan
mencegah kekambuhan, diantaranya dengan olah raga sesyuai usia dan
kemampuan, istirahat dalam jumlah yang cukup, makan makanan
bergizi.
Oksigenasi (terapi oksigen)
Obat-obat bronkodilator dan mukolitik agar dahak mudah dikeluarkan.
Antibiotika. Digunakan manakala penderita Bronkitis kronis mengalami
eksaserbasi oleh infeksi kuman (H. influenzae, S. pneumoniae, M.
catarrhalis). Pemilihan jenis antibiotika (pilihan pertama, kedua dan
seterusnya) dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.
Para penderita Bronkitis kronik sebaiknya memeriksakan diri dan
berkonsultasi ke dokter manakala mengalami keluhan-keluhan batuk berdahak
dan lama, sesak napas, agar segera mendapatkan pengobatan yang tepat.
BAB III
ANALISA KASUS

a. Hubungan Diagnosis dengankeadaanRumahdanLingkunganSekitar


Keadaan rumah dan lingkungan sekitar rumah cukup tenang dan tidak
begitu padat. Rumah pasien berlantai semen, berdinding semen dan beratap seng.
Rumah memiliki 3 buah kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan yang
bergabung dengan ruang keluarga, 1 dapur bergabung dengan tempat mencuci

11

piring dan 1 buah kamar mandi. Rumah memiliki ventilasi dan cukup
pencahayaan. Sumber air bersih berasal dari PDAM.
Penyakit bronkitis kronis dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang
berdebu dan berpolusi. Biasanya pada daerah perkotaan atau tempat tinggal yang
dekat dengan jalan raya maupun dekat dengan pabrik.
Rumah pasien tidak terletak di jalan raya yang padat. Pasien juga tidak
tinggal di daerah perkotaan. Di sekitar tempat tinggal pasien juga tidak terdapat
pabrik ataupun bangsal kayu yang menghasilkan banyak debu. Sehingga pada
pasien ini tidak ada hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan
sekitar.
b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga.
Keadaan keluarga dan hubungan pasien dengan keluarga tergolong baik.
Hubungan antar keluarga pun harmonis. Istri dan anak pasien selalu mendukung
pasien untuk rutin melakukan pengobatan.
Penyakit bronkitis
dipengaruhi oleh keadaan keluarga maupun
hubungan antar keluarga karena faktor resiko terjadinya bronkitis kronik adalah
paparan debu, asap, kebiasaan merokok. Sehingga dapat disimpulkan tidakada
hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga.

c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan


lingkungan sekitar.
Pasien dulunya adalah seorang perokok aktif. Pasien mulai merokok saat
usia 15 tahun. Dalam 1 hari pasien bisa menghabiskan sekitar 1 bungkus rokok.
Walaupun sejak dahulu pasien sudah mulai merasakan batuk dan sedikit sesak
namun pasien tetap mengkonsumsi rokok. Hal ini menandakan pasien tidak
memiliki kepedualian terhadap perilaku kesehatan dirinya.
Lingkungan sekitar pasien juga tidak sehat. Dahulu kebanyakan teman
teman pasien adalah perokok aktif, hal ini menyebabkan pasien sering terkena
paparan asap rokok dari lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar pasien juga
merupakan tempat yang berdebu dan berpolusi tinggi karena pekerjaan pasien
adalah seorang tukang ojek maka hampir seluruh waktunya dihabiskan di jalan.

12

Pada pasien ini ada hubungan antara perilaku kesehatan dalam keluarga dan
dengan lingkungan sekitar.
d. Analisis kemungkinan berbagai factor resiko atau etiologi penyakit pada
pasien ini
Kemungkinan faktor resiko terjadinya bronkitis kronis pada pasien ini
adalah kebiasaan merokok dan paparan debu dari lingkungan sekitar. Merokok
merupakan penyebab tersering bronkitis kronis karena komponen asap rokok
menstimulasi perubahan pada selsel penghasil mukus bronkus dan silia.
Komponenkomponen tersebut juga menstimulasi inflamasi kronis. Secara
patologis rokok berhubungan dengan hiperplasi kelenjar mucus bronkus dan
metaplasia skuamus epitel saluran pernapasan juga dapat menyebabkan
bronkokonstriksi kronis.
Eksasebasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi
virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang
diisolasi paling banyak adalah hemophilus influenza dan streptococcus
pneumonie. Pajanan debu dan gas berbahaya. Polusi tidak begitu besar
pengaruhnya sebagai factor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan
lebih tinggi. Zat-zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis adalahzat-zat
pereduksi O2, zat-zat pengoksidasi seperti N2O, hidrokarbon, aldehid,ozon. Pada
kasus ini dapat disimpulkan bahwa faktor resiko pada pasien ini kebiasaan
merokok.
e. Analisis untuk mengurangi paparan/memutuskan rantai penularan
dengan factor resiko atau etiologi pada pasien ini
Untuk mengurangi paparan/memutuskan rantai penularan dengan faktor
resiko atau etiologi pada pasien ini adalah dengan cara berhenti merokok, tidak
berada didekat orang yang sedang merokok, tidak berada di tempat yang banyak
debu serta menghindari terkena penyakit inflamsi paru lainnya. Selain itu pasien
juga disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi zat gizi untuk
meningkatkan daya tahan tubuh, karena penyakit bronkitis kronis juga sering

13

mengenai mereka yang daya tahan tubuhnya sedang tidak baik. Pasien juga
disarankan untuk rutin berobat ke puskesmas dan mengkonsumsi obat secara
teratur.

DAFTAR PUSTAKA

1. Snell, SR. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; 2006.
hal. 88-90.
2. Hartanto H, Natalia S, Pita W, Dewi AM. Anatomi dan fisiologi sistem
pernapasan. Dalam Wilson LM, editor. Patofisiologi konsep klinis prosesproses penyakit. Edisi ke-enam. Terjemahan Price SA, Lorraine MW.
Pathophysiology: Clinical concepts of disease processes. Jakarta: EGC;
2005. hal. 736-69.
3. Novrianti A, Frans D, Titiek R, Luqman YR, Husny M, Aryandhito WN, et
al, editor. Fisiologi kedokteran. Edisi ke-dua puluh dua. Terjemahan Ganong
WF. Medical physiology. Jakarta: EGC; 2008. hal. 669-78.

14

4. Rachman LY, Huriawati H, Andita N, Nanda W, editor. Buku ajar fisiologi


kedokteran. Edisi ke-sebelas. Terjemahan Guyton AC, Hall JE. Textbook of
medical physiology. Jakarta: EGC; 2007. hal. 495-559.
5. Santoso BI, editor. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi ke-dua.
Terjemahan Sherwood L. Human physiology: from cells to systems. Jakarta:
EGC; 2001. hal. 410-35.
6. PDT IlmuPenyakitParu FK Unair, RSU Dr.Soetomo, edisi 3, 2005.
7. Bronchitis, JazeelaFayyaz, DO, eMedicine Specialties Pulmonology, 2009
8. Diagnosis danTerapiIlmuPenyakitDalam, Lawrence M, Tierney, Jr, MD et
all, 2002.

15