Anda di halaman 1dari 14

Cekungan Jawa Barat Utara

CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA


( NORTWEST JAVA BASIN )
Oleh : Ahmad Agustin (D1H 03 017) , Tiggi Choanji (D1H 03 018), dan Armen Sinaga (D1H 03 019)

PENDAHULUAN
Minyak dan gas bumi merupakan sumber energi yang dibutuhkan oleh manusia dan
salah satu kekayaan bangsa indonesia yang sangat potensial.
Dengan penggunaan yang semakin banyak maka hal ini membuat manusia dituntut
untuk melakukan penelitian dalam menemukan sumber hidrokarbon yang baru.
Oleh karena itu kami coba untuk membahas kondisi suatu daerah penghasil minyak dan
gasbumi yang terletak di Jawa barat bagian utara.
PETA LOKASI
Cekungan Jawa Barat Utara terletak di bagian baratdaya Pulau Jawa dan meluas
kelepas pantai Laut Jawa. Meliputi daerah seluas kurang lebih 40.000 Km2, dimana 25.000 km2
diantaranya terletak di daerah lepas pantai.

Gambar 1. Peta Lokasi Cekungan Jawa Barat Utara


PETA SITUASI CEKUNGAN (FISIOGRAFI)

Cekungan ini dibatasi oleh cekungan bogor dibagian selatan, dibagian baratlaut dibatasi
oleh seribu platform, diutara oleh cekungan Arjuna dan dibagian timur oleh Busur Karimun
Jawa.
Sesar sesar utama yang berpola utara selatan dan berumur pratersier menyebabkan
cekungan ini terpisah menjadi tiga sub-cekungan, yaitu : Sub-cekungan Ciputat, Sub-Cekungan
pasir putih dan sub-cekungan Jatibarang yang merupakan blok-blok turun dari sesar-sesar
utama. Ketiga sub-cekungan tersebut dibatasi tinggian yang merupakan blok naik dari sesarsesar utama tadi, yaitu : tinggian Tanggerang, tinggian Rengasdengklok dan tinggian
Kendanghaur- Gantar ( Soejitno dan Yahya, 1984).

Gambar 2. Peta Situasi Cekungan Jawa Barat Utara


TEKTONIK SETTING
Sejarah tektonik Cekungan Jawa Barat Utara tidak dapat lepas dari sejarah tektonik
global Indonesia Bagian Barat.
Berawal dari Zaman Kapur Akhir hingga Tersier Awal, Cekungan Jawa Barat Utara
terletak pada posisi tektonik busur magmatik dan memperlihatkan pola struktur berarah NE
SW atau pola meratus. Pada kala Paleogen Pulau Jawa mengalami fase tektonik pertama
berupa tektonik tarikan ( regangan ) yang membentuk cekungan Paleogen Jawa Barat Utara
dengan sistem sesar-sesar normal (horst graben system), yang berarah N-S atau pola Sunda.
Sedimen klastik seperti endapan lakustrin dan volkanik dari formasi Jatibarang dan endapan
transisi dari formasi Talangakar mengisi cekungan ini pada daerah rendahan, sedangkan

endapan karbonat dari formasi Baturaja terendapkan secara berangsur dari tinggian ke
rendahan.
Fase tektonik kedua terjadi pada awal Neogen dimana jalur penujaman baru terbentuk
di selatan Jawa, dikenal sebagai Old Andesite. Pola ini dikenal dengan sebagai Pola Jawa yang
merubah pola struktur NE-SW menjadi E-W dan menghasilkan suatu sistem sesar sesar naik
dan mendatar. pola ini dikenal sebagai thrust fold beld system. pada kala Miosen Awal
diendapakan Formasi Cibulakan yang menunjukkan lingkungan laut dangkal dan ditindih secara
tidak selaras oleh endapa karbonat dari formasi Parigi.
Fase tektonik terakhir terjadi pada kala Plio-Pleistosen yag pengaruhnya ditunjukkan
oleh terbentuknya sesar-sesar naik pada jalur selatan di Cekungan Jawa Barat Utara.
Sementara endapan yang terbentuk adalah formasi Cisubuh.

Gambar 3. Peta Tektonik Cekungan Jawa Barat Utara


KLASIFIKASI CEKUNGAN
Cekungan ini merupakan Cekungan Belakang Busur (back-arc basin) yang
berhubungan dengan Sumatra - Java arc-trench system yang merupakan produk aktivitas pullapart extension dan Tektonik yang berkembang pada proses cekungan Jawa Barat bagian utara
mengalami tektonik ekstension rifting.

Gambar 4. Klasifikasi Cekungan Jawa Barat Utara.


STRATIGRAFI
Secara umum stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Gambar 1) berturut-turut dari
yang tua hingga yang termuda adalah :
a.

Formasi Jatibarang ( Paleogen awal Oligosen )


Formasi ini merupakan early synrift. Formasi ini berdiri menghampar diatas basement

pretersier. Dijumpai di bagian tengah dan timur dari Cekungan Jawa Barat Utara. Di bagian
barat cekungan ini daerah Rengasdengklok), formasi ini sangat tipis bahkan tidak dijumpai.
Formasi ini terdiri dari tufa yang berinterkalasi dengan satuan ekstrusif stratigrafi seperti breksi,
aglomerat dan konglomerat alas. Ketebalan formasi ini lebih dari lebih dari 1200 m. Minyak dan
gas diproduksi dari rejakan tuff yang terdapat di Jatibarang field.
b.

Formasi Talangakar ( Akhir Oligosen Awal Miosen )


Nama Formasi Talangakar diajukan untuk satuan Litostratigrafi di Sumatra Selatan

(Cekungan Sumatra Selatan) dengan lokasitipe di daerah Talangakar. Formasi Talangakar


ini, di bawah-permukaan dikenal sebagai lapisan produksi hidrokarbon. Secara praktisekonomis, Formasi Talangakar ini dikenali juga di deerah Jambi, Sub-Cekungan Sunda-Asri,
daerah lepas pantai dan daratan Pantai Jawa Barat (daerah wilayah Pertamina Cirebon)
hingga ke timur sampai di sekitar Semarang.
Litologi formasi ini diawali oleh perselingan sedimen batupasir dengan serpih non-marin
dan diakhiri oleh perselingan antara batugamping, serpih dan batupasir dalam fasies marin.
Ketebalan Formasi ini sangat bervariasi dari beberapa meter yang berada di Tinggian
Rengasdengklok sampai 254 m yang berada di Tinggian Tangerang hingga diperkirakan 1500

m lebih untuk di pusat Depresi Ciputat. Carbonaceous shales di Formasi Talang Akar
merupakan source rock yang baik dengan TOC 0.5 2.0 %.
c.

Formasi Baturaja ( Awal Miosen )


Satuan litostratigrafi Formasi Baturaja dikenal di Daerah Baturaja sebagai

Lokasitipe di Sumatra Selatan (Cekungan Sumatra Selatan). Batugamping merupakan ciri


satuan ini, dan di bawahpermukaan dikenal sebagai lapisan produksi hidrokarbon dengan
pelamparan dari daerah Jambi hingga sekitar Semarang, Jawa Tengah.
Formasi Baturaja ini terdiri dari batugamping, baik yang berupa paparan maupun yang
berkembang sebagai reef build-up, yang menandai fase postrift dan secara regional menutupi
seluruh sedimen klastik formasi Talangakar marin di Cekungan Jawa Barat Utara.
Perkembangan batugamping terumbu pada umumnya dijumpai di daerah tinggian (Tinggian
Cimalaya dan Tinggian Tangerang).
Sekuen ini memiliki minyak dan gas bumi dengan konsentrasi CO2 yang tinggi.
d.

Formasi Cibulakan Atas ( Awal Tengah Miosen )


Batuan Formasi Cibulakan Atas itu sendiri tersingkap dipermukaan, di Pasir

Cibulakan sebagai Lokasitipe yang terletak di daerah Loji, selatan Kota Karawang, Jawa
Barat. Oleh karena itu yang disebut "Formasi Cibulakan Atas" oleh Sutrisno dan Benyamin
(2003) selanjutnya disebut sebagai Formasi Cibulakan. Beberapa lapisan batupasir dan
batugamping didalam Formasi Cibulakan yang berada di bawah-permukaan merupakan
lapisan-lapisan produksi hidrokarbon.
Formasi Cibulakan Atas terdiri dari perselingan antara serpih dengan batupasir dan
batugamping, baik yang berupa batugamping klastik maupun batugamping terumbu Mid Main
Carbonate (MMC) yang berkebang secara setempat setempat dan batupasir kuarsa untuk
MMS. Diendapkan pada lingkungan inner outer Shelf.
e.

Formasi Parigi ( Akhir Miosen )


Formasi Parigi terdiri dari batugamping, baik batugampingklastik maupun batugamping

terumbu. Pengendapan batugamping ini melampar di seluruh Cekungan Jawa Barat Utara, dan
pada umumnya berkembang sebagai batugamping terumbu yang diendapkan secara selaras di
atas Formasi Cibulakan Atas.
f.

Formasi Cisubuh ( Akhir Miosen Kuarter )

Nama formasi ini dikenal di kalangan para ahli geologi yang bekerja di Perusahaan
Migas (terutama Pertamina Cirebon) sebagai "lapisan tudung" ("regional seal") yang
dicirikan oleh lempung atau serpih gampingan, dan berada di atas batugamping Formasi
Parigi. Walaupun batuan yang menindih di atas Formasi Parigi tidak hanya tersusun oleh
lempung gampingan saja (ke atas dicirikan oleh batupasir glauconite, akan tetapi selalu di
sebut sebagai Formasi Cisubuh saja.
Formasi Cisubuh ini merupakan satuan litostratigrafi yang dicirikan di permukaan
dan menerus ke bawah-permukaan. Lokasi tipe Formasi Cisubuh berada di sungai
Cisubuh (kadang-kadang ditulis "Cisubah"), sebelah selatan Kota Karawang. Adapun
nama yang sepadan untuk satuan ini adalah Formasi Subang (Silitonga, 1975) dengan
lokasi tipe Kota Subang dan tidak disertai penampang tipe. Satuan batuan di atas Formasi
Subang dimasukan kedalam Formasi Kaliwangu yang dicirikan oleh batupasir glokonitan
dan lempung hijau atau biru mengandung moluska.
Formasi Cisubuh terdiri dari sedimen klastik serpih, batulempung, batupasir, dan di
tempat yang sangat terbatas diendapkan juga batugamping tipis. Sedimentasi ini sekaligus
mengakhiri proses sedimentasi di Cekungan Jara Barat Utara.

Gambar 5. Stratigrafi Cekungan Jawabarat Utara

Gambar 6. Penampang Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara ( berarah utara selatan )

Gambar 7. Penampang Stratigrafi Cekungan Jawa barat Utara ( berarah barat timur )

PETROLEUM SYSTEM
Cekungan Jawa barat Utara memiliki cadangan hidrocarbon yang baik, tentunya
didukung oleh adanya petroleum system yang menjadikan cekungan ini sangat potensial.
Petroleum system cekungan ini diantaranya :

Source rock
Source rock utama dari cekungan ini terletak pada Formasi Talang Akar yang memiliki
kadar TOC 0.5 2.0%. Umumnya terdapat pada batubara dan shale kaya-organik yang
diendapkan pada lingkungan delta dan danau pada bagian bawah formasi.
Dari kandungan maceral yang didapat, kandungan source rock didominasi maceral
vitrinit kerogen type III dan meningkat hingga 30 % maceral exinit kerogen Tipe II.

Exinit

tumbuhan kaya hidrogen ini adalah souce untuk waxy oil yang diproduksi di sub Cekungan
Arjuna dan Jatibarang. ( Ponto et al., 1987). Kandungan TOC berkisar antara 40 70 % untuk
batubara dan 0.5 9 % pada shale kaya organik. Total ketebalan dari lapisan batubara berkisar
mulai dari 25 feet sampai 200 feet hingga ke deposenter ( pusat cekungan ), sementara
ketebalan total dari shale kaya organik berkisar antara 100 feet sampai lebih dari 2,000 feet
( Wu, 1987)
Proses pematangan minyak mencapai puncaknya pada waktu kurang dari 13 Ma ago.
Dan terjadi hampir di seluruh cekungan. Oil window terletak pada kedalaman 2200 3000 m.

Gambar 8. Peta Kematangan Minyak di Cekungan Jawa Barat Utara


Reservoir
Formasi formasi yang bertindak sebagai reservoir adalah :
1. Vulkanik Jatibarang , terdapat pada batuan pyroclastik yang porous, konglomerat atau
rekahan batuan vulkanik.
2. Batupasir Talang Akar ( Lower Cibulakan ), pada bagian bawah formasi porositas
mencapai 10 20 % dan umumnya ditemukan pada sayap sayap tinggian. Pada
bagian bawah formasi porositas mencapai 25 28 %.
3. Batugamping ( Baturaja Formation ), Middle Cibulakan terdapat pada

batugamping

terumbu ( Reef Build Up) , akibat pengaruh diagenesis menyebabkan porositasnya


tinggi pada sayap sayap tinggian
4. Batupasir ( Massive and Main Formation ), dengan ukuran butir halus sedang, sortir
menengah dan sementasi buruk memliki porositas 20 30 % umumnya berkembang di
Arjuna Sub Basin.
5. Mid Main carbonate , Pre Parigi Lime Stone , merupakan reservoir baik buruk di
NWJ Basin , umumnya pada carbonate build up dengan asosiasinya terhadap basement
high
6. Parigi Patch Reef dan reefal buildup, memiliki porositas 25 30 % ( reservoir baik ).

Seal
Lapisan Seal untuk tiap formasi berbeda beda diantaranya :
1. Formasi Jatibarang
Yang bertindak sebagai seal adalah penggantian mikrokristalin silika dan mineral clay
sekunder yang menyebabkan pengurangan dan memperkecil porositas.

2. Formasi Talang Akar


Yang bertindak sebagai intraformational seal adalah selang - seling lapisan mud pada
endapan danau ( interbedded lacustrine mud ) dan endapan laut pada Formasi
Talang Akar Atas memberikan seal yang cukup untuk menjadi perangkap bagi
hidrokarbon.
3. Formasi Baturaja
Lapisan batugamping yang tight dan massive shale yang tebal diatas formasi ini menjadi
seal untuk formasi ini. Patahan memainkan peranan penting dalam migrasi hidrokarbon
menuju lapisan karbonat ini ( Ponto, C.V et. Al., 1990/1991 internal report).
4. Formasi Main dan Massive
Batulempung / shale diatas formasi Baturaja dengan Formasi Massive menjadi seal
yang

potensial dalam menutupi migrasi hidrokarbon dari formasi Baturaja hingga

formasi yang lebih muda.


5. Formasi Cisubuh
Formasi ini merupakan seal yang bersifat regional. Formasi ini bertindak sebagai seal
untuk batugamping formasi Pre-Parigi dan Parigi .

Migrasi
Proses migrasi pada cekungan ini terbagi menjadi dua yaitu migrasi primer ( pada
Formasi Talng Akar ) dan migrasi sekunder yaitu melalui Carrier bed ( Lapisan Pembawa ) ,
growth fault ( basement related ) dan juxta position ( conduit fault ) sebagai jalur utama
pembawa hidrokarbon menuju reservoir.

Gambar 9. Proses jalur migrasi dari source rock menuju reservoir

Trap
Trapping utama dari cekungan ini umumnya pada roll-over fold , basement high dan buildups.
Tapi pada sub cekungan Arjuna, terdapat beberapa jenis mekanisme trapping, yaitu :
1. Faulted Anticline
2. Dip Opposed upthrown/ downthrown
3. Unfaulted Anticline
4. Dip Parallel Unthrown
5. Dip Parallel Down Thrown
6. Structural/ Stratigraphic ( Sand Pinch out, truncation, etc)
7. Stratigraphic ( bioherm )
Secara statistik , faulted domal anticline dan dip opposed fault closure memiliki kemungkinan
terbanyak mengandung hidrokarbon

Gambar 10. Jenis jenis trapping mechanism di cekungan Jawa barat Utara
( Sub cekungan Arjuna )

KONSEP EKSPLORASI DAN PLAY CONCEPT


Konsep eksplorasi dan play concept dari cekungan Jawa Barat Utara dilihat dari
struktural play, karakteristik reservoir, source rock, dan konsep lingkungan pengendapan maka
didapat beberapa konsep eksplorasi, diantaranya :
1. Formasi Jatibarang
Untuk formasi ini cenderung pada patahan patahan yang terangkat yang berfungsi
sebagai trap dari reservoirnya ( batuan vulkanik )
2. Formasi Talang Akar Atas
Konsep eksplorasi pada formasi ini cukup banyak dari stratigrafi, roll-over fold,
patahan ( Tilted Fault Block ), dengan karakteristik reservoir berupa batupasir.

3. Formasi Baturaja dan Formasi Parigi


Umumnya konsep eklsplorasi dari formasi ini adalah pencarian bentukan carbonate
build up pada seismik yang terlihat.

Gambar 11. Konsep Eksplorasi dan Play concept Cekungan Jawa Barat Utara
Berbeda dengan play concept di Arjuna Sub basin, dari ketujuh structural play,
karakteristik, potensi reservoir, faktor keberhasilan ( Chance Faktor ), dan source rock play
concept yang digunakan adalah :

1. Faulted Domal Anticline


Tipe ini adalah struktur yang baik dalam akumulasi hidrokarbon. Tutupan yang berada
pada 4 arah memberikan kapabilitas trapping yang baik. Sementara pada bagian bawah
memberikan jalur migrasi untuk mengisi reservoir dengan tingkat yang berbeda-beda.
Secara statistik tingkat kesuksesannya sangat tinggi.
2. Dips Opposed Fault Closure

Tipe ini dikarakteristikan oleh lapisan yang kemiringannya memiliki arah yang berbeda
dengan patahan. Mungkin terdapat rollover dengan tutupan 4 arah pada sisi
downthrown. Tingkat kesuksesan yang didapat cukup tinggi.
3. Unfaulted Anticlinal Closure
Merupakan trap yang efektif, bagaimanapun kurangnya patahan biasanya mengurangi
proses pengisian kembali (charge) ke reservoir. Struktur ini sangatlah prospektif pada
daerah yang berkembang formasi batupasir Talang Akar khususnya ketika batupasir itu
berselang-seling dengan source rock yang sudah matang.
4. Upthrown Dips Parallel Closure
Perangkap ini dibentuk oleh tutupan di sisi atas patahan. Perangkap ini adalah yang
paling efektif di dalam puncak dari dua batupasir formasi Main, karena batulempung
yang lembut dari Formas Parigi terpatahkan terhadap Formasi Batupasir Main Atas.
Bagian bawah Formasi batupasir Main, Massive, dan Baturaja dan Talang Akar akan
terperangakap pada jenis struktur seperti ini. Tingkat kesuksesannya menengah sampai
rendah.
5. Downthrown Dips Parallel Fault Closure
Perangkap ini bergantung semata-mata pada karakter patahan dan tutupan patahan
pada sisi bawah dari patahan. Tingkat kesuksesannya cukup rendah.
6. Structural / Stratigraphic Traps
Perangkap

ini

dibentuk

oleh

reservoir

yang

onlap

sampai

basement

atau

ketidakselarasan dan pinch out. Tingkat kesuksesan perangkap ini sangat rendah dan
beresiko tinggi.
7. Bioherm
Perangkap ini umumnya merupakan Carbonate Build-up yang dibentuk oleh foraminifera
bentonik. Bioherm dari Formasi Pre-Parigi dan Parigi memiliki orientasi N-S dan
cenderung berkonsentrasi pada rendahan di bagian barat dari sub Cekungan Arjuna.
Gas pada perangkap in adalah konbinasi thermigenik dari Formasi Talang Akar dan
migrasi secara vertikal melalui patahan bersama biogenic gas. Umumnya perangkap ini
sering dicara pada Formasi Parigi.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Amril., Sukowitono, Supriyanto. 1991. Jatibarang Sub Basin A Half Graben Model In
The Onshore Of North West Java. Twentieth Annual Convention IPA Jakarta 8 10
October 1991.
Budiyani, Sri., Priambodo, Doddy, dkk.1991. Konsep Eksplorasi di Cekungan Jawa Barat Utara.
Makalah Ikatan Ahli Geologi Indonesia PIT ke-20. Twentieth IAGI Annual Convention
Jakarta, Indonesia December 10 12, 1991.
Djuhaeni. 2003. Satuan Stratigrafi Bawah-Permukaan Cekungan Jawa Barat Utara.
Mustafid, Pepi Sahal. 2005. Model Reservoar Karbonat Untuk Studi Pengembangan Lapangan
MMN-MMT, Formasi Baturaja, Cekungan Jawa Barat Utara, Bekasi. Laporan Tugas
Akhir Jurusan Geologi FMIPA Universitas Padjadjaran.
Soeyono dan Setyoko. 20th 22nd October 1987. Application of dual porosity concept for well log
interpretation of Jatibarang volcanic tuff. Proceeding of IPA sixteenth annual convention
jakarta.
Sutrisno dan Benyamin. 2003. Sari Stratigrafi Indonesia. Komisi Sandi Stratigrafi
Indonesia, Lokakarya Stratigrafi Indonesia-IAGI, 36p. P Jawa, Bandung.