Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus
maupun jamur. Berdasarkan data WHO/UNICEF tahun 2006 dalam Pneumonia: The
Forgotten Killer of Children, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia untuk kasus
pneumonia pada balita dengan jumlah penderita mencapai 6 juta jiwa. Diperkirakan
sekitar separuh dari total kasus kematian pada anak yang menderita pneumonia di
dunia disebabkan oleh bakteri pneumokokus.
Pneumonia (radang paru), salah satu penyakit akibat bakteri pneumokokus yang
menyebabkan lebih dari 2 juta anak balita meninggal. Pneumonia menjadi
penyebab 1 dari 5 kematian pada anak balita. Streptococcus pneumoniae
merupakan bakteri yang sering menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 2
tahun. Sejauh ini, pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak usia
di bawah lima tahun (balita).

B Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari referat ini adalah apakah definisi, etiologi, gejala klinis,
patogenesis, dan penatalaksanaan pneumonia pada bayi dan anak.

C Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah dapat meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman dokter muda mengenai penatalaksanaan pneumonia pada bayi dan
anak.

D Manfaat
Penulisan makalah laporan kasus dapat meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman dokter muda mengenai penatalaksanaan pneumonia pada bayi dan
anak.

BAB II
PNEUMONIA

DEFINISI
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli)
biasanya disebabkan oleh masuknya kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinis
batuk, demam tinggi dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA (P2ISPA)
semua bentuk pneumonia baik pneumonia maupun bronchopneumonia disebut
pneumonia.
Secara kinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang
disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk. Sedangkan
peradangan paru yang disebabkan oleh non mikroorganisme (bahan kimia, radiasi,
aspirasi bahan toksik,obat-obatan dan lain-lain) disebut pneumonitis. (PDPI.2003)
Pneumonia merupakan penyakit batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat.
Napas sesak ditandai dengan dinding dada bawah tertarik ke dalam, sedangkan
napas cepat diketahui dengan menghitung tarikan napas dalam satu menit. Untuk
balita umur 2 tahun sampai 5 tahun tarikan napasnya 40 kali atau lebih dalam satu
menit, balita umur 2 bulan sampai 2 tahun tarikan napasnya 50 kali atau lebih per
menit, dan umur kurang dari 2 bulan tarikan napasnya 60 kali atau lebih per menit.

EPIDEMIOLOGI
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran napas yang terbanyak
dan dapat menyebabkan kematian hamper diseluruh dunia. Angka kematian di
inggris adalah sekitar 5 10%. Berdasarkan umur, pneumonia dapat menyerang
siapa saja, meskipun lebih banyak ditemukan pada anak anak. Di Amerika Serikat
pneumonia mencapai 13% dari penyakit infeksi saluran napas pada anak dibawah 2
tahun Di negara berkembang, pneumonia merupakan salah satu penyebab utama
kematian atau kedua setelah dehidrasi akibat diare berat. (Merck Manual.2011).

UNICEF memperkirakan bahwa 3 juta anak di dunia meninggal karena penyakit


pneumonia setiap tahun. Kasus pneumonia di Negara berkembang tidak hanya lebih
sering di dapatkan tetapi juga lebih berat dan banyak menimbulkan kematian pada
anak. Insiden puncak pada umur 1 5 tahun dan menurun dengan bertambahnya
usia anak. Mortalitas diakibatkan oleh bacteremia karena Streptococcus pnumoniae
dan Staphilococcus aureus,tetapi di Negara berkembang juga berkaitan dengan
malnutrisi dan kurangnya akses perawatan. Dari data mortalitas tahun 1990
pneumonia merup[akan seperempat penyebab kematian pada anak dibawah 5
tahun dan 80% terjadi di Negara berkembang. Pneumonia yang disebabkan oleh
infeksi RSV didapatkan sebanyak 40%. Dinegara dengan 4 musim, banyak terdapat
pada musim dingin sampai awal musim semi, di Negara tropis pada musim hujan.
Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan
prevalensi nasional ISPA 25% angka kematian (morbiditas) pneumonia pada bayi
2,2%, balita 3 %, angka kematian (mortalitas) pada bayi 23,8% dan balita 15%.

ETIOLOGI
Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh bakteri,
virus, mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus) dan protozoa.
1

Bakteri

Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah
Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu
pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri segera
memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Balita yang terinfeksi pneumonia
akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah dan denyut jantungnya
meningkat cepat.

Usia

Etiologi yang sering

Etiologi yang jarang

Lahir 20 hari

Bakteri

Bakteri

E. colli

Bakteri anaerob

Streptoccus group B

Streptoccous group D

Listeria
monocytogenes

Haemophilllus
influenzae

Streptococcus
pneumoniae
Ureaplasma
urealyticum
Virus
Virus sitomegalo
Virus Herpes simpleks
3 minggu 3 bulan

Bakteri

Bakteri

Chlamydia trachomatis Bordetella pertusis

4 bulan 5 tahun

Streptococcus
pneumoniae

Haemophilus
influenzae tipe B

Virus

Moraxella catharalis

Virus Adeno

Staphylococcus
aureus

Virus Influenza

Ureaplasma
urealyticum

Virus Parainfluenza
1,2,3

Virus

Respiratory Syncytial
Virus

Virus sitomegalo

Bakteri

Bakteri

Chlamydia
pneumoniae

Haemophillus
influenzae tipe B

Mycoplasma
pneumoniae

Moraxella catharalis

Streptococcus
pneumoniae

Neisseria meningitidis

Virus

Staphylococcus aureus

Virus Adeno

Virus

Virus Influenza

Virus Varisela-Zoster

Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncytial
virus
5 tahun remaja

Bakteri

Bakteri

Chlamydia
pneumoniae

Haemophillus
influenzae

Mycoplasma
pneumoniae

Legionella sp

Streptococcus
pneumoniae

Staphylococcus aureus
Virus
Virus Adeno
Virus Epstein-Barr
Virus Influenza
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncytial
Virus
Virus Varisela-Zoster

Virus

Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus yang
tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV).
Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas,
pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya sebagian
besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun bila
infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan kadang
menyebabkan kematian.
3

Mikoplasma

Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada
manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri,
meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya
berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia,
tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat
rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
4

Protozoa

Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis.


Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia (PCP). Pneumonia
pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur. Perjalanan penyakitnya
dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat
cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada
jaringan paru atau spesimen yang berasal dari paru.

KLASIFIKASI
1

Berdasarkan umur
a

Kelompok usia < 2 bulan


1

Pneumonia Berat

Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis.


Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia (PCP). Pneumonia
pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur. Perjalanan penyakitnya
dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat
cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada
jaringan paru atau spesimen yang berasal dari paru.
2

Bukan Pneumonia

Jika anak bernapas dengan frekuensi kurang dari 60 kali per menit dan tidak
terdapat tanda pneumonia seperti di atas.

Kelompok usia 2 bulan sampai < 5 tahun


1

Pneumonia sangat berat

Batuk atau kesulitan bernapas yang disertai dengan sianosis sentral, tidak dapat
minum, adanya penarikan dinding dada, anak kejang dan sulit dibangunkan.
2

Pneumonia berat

Batuk atau kesulitan bernapas dan penarikan dinding dada, tetapi tidak disertai
sianosis sentral dan dapat minum.
3

Pneumonia

Batuk atau kesulitan bernapas dan pernapasan cepat tanpa penarikan dinding dada.
4

Bukan pneumonia

Batuk atau kesulitan bernapas tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding
dada.

Pneumonia persisten

Balita dengan diagnosis pneumonia tetap sakit walaupun telah diobati selama 1014 hari dengan dosis antibiotik yang kuat dan antibiotik yang sesuai, biasanya
terdapat penarikan dinding dada, frekuensi pernapasan yang tinggi, dan demam
ringan.

Berdasarkan klinis dan epidemiologis


a

Pneumonia Komuniti (community-acquired pneumonia) :


Pneumonia yang terjadi di lingkungan rumah atau masyarakat,
juga termasuk pneumonia yang terjadi di rumah sakit dengan
masa inap kurang dari 48 jam

Pneumonia Nosokomial (hospital-acquired pneumonia/


Nosocomial pneumonia).

Pneumonia Aspirasi.

Pneumonia pada penderita immunocompromised.

Berdasarkan agen penyebab


a

Pneumonia Bakterial / tipikal. Klebsiella pada penderita


alkoholik, staphyllococcus pada penderita pasca infeksi
influenza.

Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan


Chlamydia

Pneumonia virus disebabkan oleh virus RCV, influenza virus

Pneumonia jamur, sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi


terutama pada penderita daya tahan tubuh lemah

PATOFISIOLOGI
Pneumonia bakterial menyerang baik ventilasi maupun difusi. Suatu reaksi inflamasi
yang dilakukan oleh pneumokokus terjadi pada alveoli dan menghasilkan eksudat,
yang mengganggu gerakan dan difusi oksigen serta karbon dioksida. Sel-sel darah
putih, kebanyakan neutrofil, juga bermigrasi ke dalam alveoli dan memenuhi ruang
yang biasanya mengandung udara. Area paru tidak mendapat ventilasi yang cukup
karena sekresi, edema mukosa, dan bronkospasme, menyebabkan oklusi parsial
bronki atau alveoli dengan mengakibatkan penurunan tahanan oksigen alveolar.
Darah vena yang memasuki paru-paru lewat melalui area yang kurang terventilasi
dan keluar ke sisi kiri jantung tanpa mengalami oksigenasi. Pada pokoknya, darah
terpirau dari sisi kanan ke sisi kiri jantung. Percampuran darah yang teroksigenasi
dan tidak teroksigenasi ini akhirnya mengakibatkan hipoksemia arterial.
Sindrom Pneumonia Atipikal. Pneumonia yang berkaitan dengan mikoplasma,
fungus, klamidia, demam-Q, penyakit Legionnaires. Pneumocystis carinii, dan virus
termasuk ke dalam sindrom pneumonia atipikal.
Pneumonia mikoplasma adalah penyebab pneumonia atipikal primer yang paling
umum. Mikoplasma adalah organisme kecil yang dikelilingi oleh membran berlapis
tiga tanpa dinding sel. Organisme ini tumbuh pada media kultur khusus tetapi
berbeda dari virus. Pneumonia mikoplasma paling sering terjadi pada anak-anak
yang sudah besar dan dewasa muda.
Pneumonia kemungkinan ditularkan oleh droplet pernapasan yang terinfeksi,
melalui kontak dari individu ke individu. Pasien dapat diperiksa terhadap antibodi
mikoplasma.
Inflamasi infiltrat lebih kepada interstisial ketimbang alveolar. Pneumonia ini
menyebar ke seluruh saluran pernapasan, termasuk bronkiolus. Secara umum,
pneumonia ini mempunyai ciri-ciri bronkopneumonia. Sakit telinga dan miringitis
bulous merupakan hal yang umum terjadi. Pneumonia atipikal dapat menimbulkan
masalah-masalah yang sama baik dalam ventilasi maupun difusi seperti yang
diuraikan dalam pneumonia bakterial.

FAKTOR RESIKO
Banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya pneumonia pada balita,
diantaranya :

Faktor Intrinsik

Salah satu faktor yang berpengaruh pada timbulnya pneumonia dan berat
ringannya penyakit adalah daya tahan tubuh balita. Daya tahan tubuh tersebut
dapat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :
a

Status gizi

Keadaan gizi adalah faktor yang sangat penting bagi timbulya pneumonia. Tingkat
pertumbuhan fisik dan kemampuan imunologik seseorang sangat dipengaruhi
adanya persediaan gizi dalam tubuh dan kekurangan zat gizi akan meningkatkan
kerentanan dan beratnya infeksi suatu penyakit seperti pneumonia.
b

Status imunisasi

Kekebalan dapat dibawa secara bawaan, keadaan ini dapat dijumpai pada balita
umur 5-9 bulan, dengan adanya kekebalan ini balita terhindar dari penyakit.
Dikarenakan kekebalan bawaan hanya bersifat sementara, maka diperlukan
imunisasi untuk tetap mempertahankan kekebalan yang ada pada balita. Salah satu
strategi pencegahan untuk mengurangi kesakitan dan kematian akibat pneumonia
adalah dengan pemberian imunisasi. Melalui imunisasi diharapkan dapat
menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit yang dapapat dicegah dengan
imunisasi.
c

Pemberian ASI (Air Susu Ibu)

Asi yang diberikan pada bayi hingga usia 4 bulan selain sebagai bahan makanan
bayi juga berfungsi sebagai pelindung dari penyakit dan infeksi, karena dapat
mencegah pneumonia oleh bakteri dan virus. Riwayat pemberian ASI yang buruk
menjadi salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian pneumonia pada
balita.
d

Umur Anak

Umur merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia.


Risiko untuk terkena pneumonia lebih besar pada anak umur dibawah 2 tahun
dibandingkan yang lebih tua, hal ini dikarenakan status kerentanan anak di bawah 2
tahun belum sempurna dan lumen saluran napas yang masih sempit.

Faktor Ekstrinsik

Lingkungan khususnya perumahan sangat berpengaruh pada peningkatan resiko


terjadinya pneumonia. Perumahan yang padat dan sempit, kotor dan tidak
mempunyai sarana air bersih menyebabkan balita sering berhubungan dengan
berbagai kuman penyakit menular dan terinfeksi oleh berbagai kuman yang berasal
dari tempat yang kotor tersebut, yang berpengaruh diantaranya :

Ventilasi

Ventilasi berguna untuk penyediaan udara ke dalam dan pengeluaran udara kotor
dari ruangan yang tertutup. Termasuk ventilasi adalah jendela dan penghawaan
dengan persyaratan minimal 10% dari luas lantai. Kurangnya ventilasi akan
menyebabkan naiknya kelembaban udara. Kelembaban yang tinggi merupakan
media untuk berkembangnya bakteri terutama bakteri patogen

Polusi Udara

Pencemaran udara yang terjadi di dalam rumah umumnya disebabkan oleh polusi di
dalam dapur. Asap dari bahan bakar kayu merupakan faktor risiko terhadap
kejadian pneumonia pada balita. Polusi udara di dalam rumah juga dapat
disebabkan oleh karena asap rokok, kompor gas, alat pemanas ruangan dan juga
akibat pembakaran yang tidak sempurna dari kendaraan bermotor.

MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan
hingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil yang berat,
mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan
perawatan di RS.
Gejala infeksi umum seperti demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
napsu makan, dan keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, atau diare. Gejala
gangguan respiratori seperti batuk, sesak napas, retraksi dada,takipnea, napas
cuping hidung, air hunger, merintih, sianosis

Pneumonia pada neonatus dan bayi kecil


Sering terjadi akibat transmisi vertikal ibu-anak yang berhubungan dengan
proses persalinan
Infeksi terjadi akibat kontaminasi dengan sumber infeksi dari ibu, misalnya
melalui aspirasi mekonium, cairan amnion, atau dari serviks ibu.
Serangan apnea
Sianosis
Merintih

Napas cuping hidung


Takipnea
Letargi, muntah
Tidak mau minum
Takikardi atau bradikardi
Retraksi subkosta
Demam
Sepsis pada pneumonia neontus dan bayi kecil sering ditemukan sebelum 48
jam pertama
Angka mortalitas sangat tinggi di negara maju, yaitu dilaporkan 20-50%
Angka kematian di Indonesia dan di negara berkembang lainnya diduga lebih
tinggi

Pneumonia pada balita dan anak yang lebih besar


Takipnea
Retraksi subkosta (chest indrawing)
Napas cuping hidung
Ronki
Sianosis
Ronki hanya ditemukan bila ada infiltrat alveolar
Retraksi dan takipnea merupakan tanda klinis pneumonia yang bermakna
Kadang-kadang timbul nyeri abdomen bila terdapat pneumonia lobus kanan
bawah yang menimbulkan infiltrasi diafragma
Nyeri abdomen dapat menyebar ke kuadran kanan bawah dan menyerupai
apendisitis.

DIAGNOSA

Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Untuk Pelayanan Kesehatan Primer


Bayi dan anak berusia 2 bulan 5 tahun
Pneumonia berat
o

Bila ada sesak napas

Harus dirawat dan diberikan antibiotik

Pneumonia
o

Bila tidak ada sesak napas

Ada napas cepat

Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral.

Bukan pneumonia
o

Bila tidak ada napas cepat dan sesak napas.

Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya diberikan pengobatan
simptomatis seperti penurun panas.

Bayi berusia dibawah 2 bulan


Pneumonia
o

Bila ada napas cepat atau sesak napas

Harus dirawat dan diberikan antibiotik

Bukan pneumonia
o

Tidak ada napas cepat atau sesak napas

Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatis

Gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis pneumonia. Gejalanya meliputi:


Gejala Mayor:
1.Batuk2.Sputum produktif3.Demam (suhu>38 c)
Gejala Minor:

1. sesak napas. nyeri dada. konsolidasi paru pada pemeriksaan fisik4. jumlah
leukosit >12.000/L
Gambaran klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas akut bagianatas
selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam, menggigil, suhu
tubuhkadang-kadang melebihi 40 C, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sendi. Juga
disertai batuk, dengan sputum mukoid atau purulen, kadang-kadang berdarah. Pada
pemeriksaan fisik dada terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernafas , pada
palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasiterdengar
suara napas bronkovesikuler sampai bronchial yang kadang-kadangmelemah.
Mungkin disertai ronkhi halus, yang kemudian menjadi ronkhi basah kasar pada
stadium resolusi

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah
leukosit, biasanya >10.000/ul kadang-kadang mencapai 30.000/ul, dan pada hitung
an jenisleukosit terdapat pergeseran ke kiri serta terjadi peningkatan LED. Untuk
menentukan diagnosis etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan
serologi. Kulturdarah dapat positif pada 20-25% penderita yang tidak diobati.
Anlalisa gas darah menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia, pada stadium lanjut
dapat terjadi asidosisrespiratorik.

GAMBARAN RADIOLOGIS
Gambaran Radiologis pada foto thorax pada penyakit pneumonia antara lain:
-

Perselubungan/konsolidasi homogen atau inhomogen sesuai dengan lobus


atausegment paru secara anantomis.

Batasnya tegas, walaupun pada mulanya kurang jelas.

Volume paru tidak berubah, tidak seperti atelektasis dimana paru mengecil.
Tidaktampak deviasi trachea/septum/fissure/ seperti pada atelektasis.

Silhouette sign (+) : bermanfaat untuk menentukan letak lesi paru ;


batas lesidengan jantung hilang, berarti lesi tersebut berdampingan dengan
jantung atau dilobus medius kanan.

Seringkali terjadi komplikasi efusi pleura.

Bila terjadinya pada lobus inferior, maka sinus phrenicocostalis yang paling
akhirterkena.

Pada permulaan sering masih terlihat vaskuler.

Pada masa resolusi sering tampak Air Bronchogram Sign(terperangkapnya


udara pada bronkus karena tidanya pertukaran udara pada alveolus)

Foto thoraks saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia,hanya
merupakan petunjuk ke arah diagnosis etiologi, misalnya
penyebab pneumonia lobaris tersering disebabkan olehStreptococcus pneumonia ,
Pseudomonas aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral atau
gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumonia sering menunjukan
konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan meskipun dapat mengenai beberapa
lobus.

Pneumonia Lobaris

Tampak gambaran gabungan konsolidasi berdensitas tinggi pada


satu segmen/lobus (lobus kanan bawah PA maupun lateral)) atau bercak yangmengi
kutsertakan alveoli yang tersebar. Air bronchogram biasanya ditemukan pada
pneumonia jenis ini.

Pneumonia Lobularis

Pada gambar diatas tampak konsolidasi tidak homogen di lobus atas kiri dan lobusb
awah kiri

PEMERIKSAAN BAKTERI
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal,torakosintesis,
bronkoskopi, atau biopsi. Kuman yang predominan pada sputumdisertai PMN yang
kemungkinan penyebab infeksi.Pengambilan dahak dilakukan pagi hari. Pasien
mula-mula kumur-kumurdengan akuades biasa, setelah itu pasien diminta inspirasi
dalam kemudianmembatukkan dahaknya. Dahak ditampung dalam botol steril dan
ditutup rapat
Dahak segera dikirim ke labolatorium (tidak boleh lebih dari 4 jam). Jika
terjadikesulitan mengeluarkan dahak, dapat dibantu nebulisasi dengan NaCl 3%.

Kriteriadahak yang memenuhi syarat untuk pemeriksaan apusan langsung dan


biarkan yaitu bila ditemukan sel PMN > 25/lpk dan sel epitel < 10/lpk.

DIAGNOSA BANDING
TUBERKULOIS PARU
tuberculosis Paru (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yangdisebabkan oleh
M. tuberculosis. Jalan masuk untuk organism M. tuberculosis adalahsaluran
pernafasan, saluran pencernaan. Gejala klinis TB antara lain batuk lama
yang produktif (durasi lebih dari 3 minggu), nyeri dada, dan hemoptisis dan gejala
sistemikmeliputi demam, menggigil, keringat malam, lemas, hilang nafsu makan
dan penurunan berat badan.

Tampak gambaran cavitas pada paru lobus atas kanan pada foto thorax proyeksi PA

ATELETAKSIS
Atelektasis adalah istilah yang berarti pengembangan paru yang tidaksempurna
dan menyiratkan arti bahwa alveolus pada bagian paru yang terserang
tidakmengandung udara dan kolaps. Memberikan gambaran yang mirip dengan

pneumoniatanpa air bronchogram. Namun terdapat penarikan jantung, trakea, dan


mediastinumke arah yang sakit karena adanya pengurangan volume interkostal
space menjadilebih sempit dan pengecilan dari seluruh atau sebagian paru-paru
yang sakit.Sehingga akan tampak thorax asimetris.

Atelektasis pada foto thorax proyeksi PA

EFUSI PLEURA
Memberi gambaran yang mirip dengan pneumonia, tanpa air bronchogram.Terdapat
penambahan volume sehingga terjadi pendorongan jantung, trakea,
danmediastinum kearah yang sehat. Rongga thorax membesar. Pada edusi
pleurasebagian akan tampak
meniscus sign (+) tanda khas pada efusi pleura.

KOMPLIKASI
1. Efusi pleura dan empiema. Terjadi pada sekitar 45% kasus, terutama pada
infeksi bakterial akut berupa efusi parapneumonik gram negative sebesar 60%,
Staphylococcus aureus 50%. S. pneumonia 40-60%, kuman anaerob
35%.Sedangkan pada Mycoplasmapneumoniae sebesar 20%. Cairannya transudat
dansteril. Terkadang pada infeksi bakterial terjadi empiema dengan cairan
eksudat.2. Komplikasi sistemik. Dapat terjadi akibat invasi kuman atau bakteriemia
berupameningitis. Dapat juga terjadi dehidrasi dan hiponatremia, anemia pada
infeksikronik, peningguan ureum dan enzim hati. Kadang-kadang terjadi
peninggianfostase alkali dan bilirubin akibat adanya kolestasis
intrahepatik.3. Hipoksemia akibat gangguan difusi.4. Abses Paru terbentuk akibat
eksudat di alveolus paru sehingga terjadi infeksioleh kuman anaerob dan bakteri
gram negative.5. Pneumonia kronik yang dapat terjadi bila pneumonia berlangsung
lebih dari 4-6minggu akibat kuman anaerob S. aureus, dan kuman Gram (-)
seperti Pseudomonas aeruginosa. Bronkiektasis. Biasanya terjadi karena pneunomia
pada masa anak-anak tetapidapat juga oleh infeksi berulang di lokasi bronkus distal
pada cystic fibrosis atau hipogamaglobulinemia, tuberkulosis, atau pneumonia
nekrotikans.

TATALAKSANA
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu diraawat inap. Indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit, misalnya toksis, distres
pernapasan, tidak mau makan/minum, atau ada penyakit dasar yang lain,
komplikasi, dan terutama mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi kecil
dengan kemungkinan klinis pneumonia harus dirawat inap.
Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan
antibiotik yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi
pemberian cairan intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan
keseimbangan asam-basa, elektrolit, dan gula darah. Untuk nyeri dan demam dapat
diberikan analgetik/antipiretik. Suplementasi vitamin A tidak terbukti efektif.
Penyakit penyerta harus ditanggulangi dengan adekuat, komplikasi yang mungkin
terjadi harus dipantau dan diatasi.
1

Pneumonia rawat jalan

Pada pneumonia rawat jalan diberikan antibiotik lini pertama secara oral misalnya
amoksisilin atau kotrimoksazol. Dosis amoksisilin yang diberikan adalah 25
mg/KgBB. Dosis kotrimoksazol adalah 4 mg/kgBB TMP 20 mg/kgBB
sulfametoksazol). Makrolid, baik eritromisin maupun makrolid baru, dapat

digunakan sebagai terapi alternatif beta-laktam untuk pengobatan inisial


pneumonia, dengan pertimbangan adanya aktivitas ganda terhadap S. Pneumoniae
dan bakteri atipik.
2

Pneumonia rawat inap

Pilihan antibiotika lini pertama dapat menggunakan beta-laktam atau kloramfenikol.


Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap obat diatas, dapat diberikan
antibiotik lain seperti gentamisin, amikasin, atau sefalosporin. Terapi antibiotik
diteruskan selama 7-10 hari pada pasien dengan pneumonia tanpa komplikasi .
Pada neonatus dan bayi kecil, terapi awal antibiotik intravena harus dimulai
sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya sepsis atau meningitis. Antibiotik
yang direkomendasikan adalah antibiotik spektrum luas seperti kombinasi betalaktam/klavunalat dengan aminoglikosid, atau sefalosporin generasi ketiga. Bila
keadaan sudah stabil, antibiotik dapat diganti dengan antibiotik oral selama 10 hari.
Pada balita dan anak yang lebih besar, antibiotik yang direkomendasikan adalah
antibiotik beta-laktam dengan/ aatau tanpa klavulanat. Pada kasus yang lebih berat
diberikan beta-laktam/klavulanat dikombinasikan dengan makrolid baru intravena,
sefalosporin generasi ketiga. Bila pasien sudah tidak demam atau keadaan sudah
stabil, antibiotik diganti dengan antibiotik oral dan berobat jalan.

PENCEGAHAN
Untuk mencegah pneumonia perlu partisipasi aktif dari masyarakat atau keluarga
terutama ibu rumah tangga, karena pneumonia sangat dipengaruhi oleh kebersihan
di dalam dan di luar rumah. Pencegahan pneumonia bertujuan untuk menghindari
terjadinya penyakit pneumonia pada balita. Berikut adalah upaya untuk mencegah
terjadinya penyakit pneumonia :
1

Perawatan Selama Masa Kehamilan

Untuk mencegah risiko bayi dengan berta badan lahir rendah, perlu gizi ibu selama
kehamilan dengan mengkonsumsi zat-zat bergizi yang cukup bagi kesehatan ibu
dan pertumbuhan janin dalam kandungan serta pencegahan terhadap hal-hal yang
memungkinkan terkenanya infeksi selama kehamilan.
2

Perbaikan Gizi Balita

Untuk mencegah risiko pneumonia pada balita yang disebabkan karena malnutrisi,
sebaiknya dilakukan dengan pemberian ASI pada bayi neonatal sampai umur 2
tahun. Karena ASI terjamin kebersihannya, tidak terkontaminasi serta mengandung
faktor-faktor antibodi sehingga dapat memberikan perlindungan dan ketahanan

terhadap infeksi virus dan bakteri. Oleh karena itu, balita yang mendapat ASI secara
ekslusif lebih tahan infeksi dibanding balita yang tidak mendapatkannya.
3

Memberikan Imunisasi Lengkap pada Anak

Untuk mencegah pneumonia dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi yang


memadai, yaitu imunisasi anak campak pada anak umur 9 bulan, imunisasi DPT
(Difteri, Pertusis, Tetanus) sebanyak 3 kali yaitu pada umur 2 bulan, 3 bulan dan 4
bulan.
4

Memeriksa Anak Sedini Mungkin Apabila Batuk

Balita yang menderita batuk harus segera diberi pengobatan yang sesuai untuk
mencegah terjadinya penyakit batuk pilek biasa menjadi batuk yang disertai
dengan napas cepat/sesak napas.
5

Mengurangi Polusi didalam dan diluar Rumah

Untuk mencegah pneumonia disarankan agar kadar debu dan asap diturunkan
dengan cara mengganti bahan bakar kayu dan tidak membawa balita ke dapur
serta membuat lubang ventilasi yang cukup. Selain itu asap rokok, lingkungan tidak
bersih, cuaca panas, cuaca dingin, perubahan cuaca dan dan masuk angin sebagai
faktor yang memberi kecenderungan untuk terkena penyakit pneumonia.
6

Menjauhkan balita dari penderita batuk.

Balita sangat rentan terserang penyakit terutama penyakit pada saluran


pernapasan, karena itu jauhkanlah balita dari orang yang terserang penyakit batuk.
Udara napas seperti batuk dan bersin-bersin dapat menularkan pneumonia pada
orang lain. Karena bentuk penyakit ini menyebar dengan droplet, infeksi akan
menyebar dengan mudah. Perbaikan rumah akan menyebabkan berkurangnya
penyakit saluran napas yang berat. Semua anak yang sehat sesekali akan
menderita salesma (radang selaput lendir pada hidung), tetapi sebagian besar
mereka menjadi pneumonia karena malnutrisi.

BAB III
KESIMPULAN

`Pneumonia adalah salah satu penyakit akibat infeksi parenkim paru yangdapat
menyerang segala usia. Pneumonia paling banyak disebabkan oleh infeksi bakteri

Streptococcus pneumonia
dengan gejala yang muncul seperti demam, batuk berdahak, sesak napas, dan
terkadang disertai nyeri dada.Pemeriksaan radiologi, dalam hal ini foto thorax
konvensional dan CT Scanmenjadi pemeriksaan yang sangat penting pada
pneumonia. Gambaran khas
pada pneumonia adalah adanya konsolidasi dengan adanya gambaran air bronchog
ram. Namun tidak semua pneumonia memberikan gambaran khas tersebut. Untuk
menentukan etiologi pneumonia tidak dapat hanya semata-mata menggunakan
fotothorax, melainkan harus dilihat dari riwayat penyakit, dan juga pemeriksaan
laboratorium. Penatalaksanaan medis pada pneumonia adalah pemberian antibiotik
yangsesuai dengan kuman penyebab
pneumonia disamping terapi supportif lainnya. Prognosis pneumonia secara umum
baik jika mendapat terapi antibiotik yang adekuat, faktor predisposisi pasien dan
ada tidaknya komplikasi yang menyertai.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Pelayanan Kesehatan anak di Rumah Sakit.Jakarta. WHO

Dahlan, Z. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Pulmonologi. Pusat


Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta

Price SA, Wilson LM. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,
Edisi 6, Volume 2: Penerbit EGC. Jakarta.

Rahajoe, NN, Bambang s, Darmawan, BS. 2008. Buku Ajar Respirologi Anak.
Jakarta. IDAI.

Soedarsono. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian Ilmu Penyakit Paru
FK UNAIR. Surabaya

Behrman RE, Vaughan VC, 1992, Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Edisi
12, Penerbit EGC, Jakarta, hal: 617-628.

Isselbacher, et al, Harrison, 1995, Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi


13, Vol. 2, Penerbit EGC, Jakarta, hal. 906-909.