Anda di halaman 1dari 7

TUGAS DISKUSI KELOMPOK

PEMICU 2
MODUL RESPIRASI

Disusun Oleh:
Abidah Bazlinah Dermawan

I1011131055

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

1. Hipoventilasi dan Hiperventilasi


Hipoventilasi adalah tidak adekuatnya ventilasi untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme untuk O2 delivery dan CO2 removal atau keadaan dimana
terjadi penurunan ventilasi alveolar. Keadaan hipoventilasi ini biasa ditemukan
pada pernapasan dangkal, asma, penyakit paru restriktif. Pada sebagian besar
penyakit paru, terjadi penimbunan CO 2 dalam darah arteri disertai deficit O 2
karena pertukaran O2 dan CO2 antara paru dan atmosfer sama-sama terganggu.1,2
Hiperventilasi terjadi ketika seseorang overbreathes yaitu, ketika
kecepatan ventilasi melebihi kebutuhan metabolik tubuh untuk pengeluaran CO 2.
Sebagai akibatnya, CO2 dikeluarkan ke atmosfer lebih cepat daripada produksinya
di jaringan sehingga Pco2 arteri turun. Hiperventilasi dapat dipicu oleh keadaan
cemas, demam, dan keracunan aspirin. Selama hiperventilasi Po2 alveolar
meningkat karena lebih banyak O2 segar yang disalurkan ke alveolus dari
atmosfer daripada yang diekstraksi dari alveolus untuk konsumsi jaringan, dan
karenanya Po2 meningkat. Namun, karena Hb hampir tersaturasi penuh pada Po2
arteri normal maka sangat sedikit O2 yang ditambahkan ke dalam darah. Kecuali
sedikit tambahan O2 yang larut, kandungan O2 darah pada hakikatnya tidak
berubah selama hiperventilasi.1,2

Hiperventilasi ini diatur oleh kemoreseptor dalam kontrol pernapasan.


Kemoreseptor terhadap oksigen dan karbon dioksida secara strategis berhubungan
dengan sirkulasi arteri. Apabila oksigen dalam darah arteri yang menuju otak dan
jaringan lain berjumlah terlalu sedikit, frekuensi, dan kedalaman pernapasan
meningkat. Apabila kecepatan pembentukkan Co2 dalam sel melampaui
pengeluaran CO2 oleh paru, Pco2 arteri meningkat, dan ventilasi akan meningkat
untuk

menyelaraskan

pembuangan

dengan

pembentukkan

CO2.

Reflex

homeostasis bekerja terus-menerus mempertahankan Po2 dan Pco2 dalam kisaran


yang sempit.1

Efek peningkatan Pco2 artei pada ventilasi2

2. Hubungan Hiperventilasi dan Hipoventilasi dengan Asam Basa


Peningkatan ventilasi (hiperventilasi) dideskripsikan sebagai kompensasi
respirasi untuk asidosis. Ventilasi dan status asam basa secara dalam berhubungan
sebagai mana ditunjukkan pada persamaan berikut.
Perubahan pada ventilasi dapat mengoreksi gangguan pada keseimbangan asam
basa, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan ini bisa terjadi. Karena
keseimbangan dinamis antara CO2 dan H+, berbagai perubahan pada Pco2 plasma
mempengaruhi kandungan H+ dan HCO3- pada darah.1

Sebagai contoh, ketika seseorang mengalami hipoventilasi dan Pco 2


meningkat, lebih banyak asam karbonat terbentuk, dan H + meningkat, membuat
asidosis.
Sebaliknya, ketika seseorang mengalami hiperventilasi, penurunan CO 2 dengan
demikian menurunkan Pco2 plasma, yang berarti bahwa H+ kombinasi dengan
HCO3- dan menjadi asam karbonat, sehingga menurunkan konsentrasi H +. kadar
H+ yang rendah berarti peningkatan pH.1
Ventilasi mempengaruhi secara langsung kadar H+ plasma melalui
kemoreseptor karotid dan aorta. Peningkatan H+ plasma menstimulasi
kemoreseptor, yang selanjutnya memberikan sinyal ke pusat kontrol pernapasan
di medulla untuk meningkatkan ventilasi. Peningkatan ventilasi alveolar
menyebabkan paru mengekskresikan lebih banyak CO2 dan mengubah H+
menjadi asam karbonat.1

3. Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Respirasi?


Seiiring dengan bertambahnya ketinggian, tekanan atmosfer secara
progresif menurun. Pada ketinggian 18.000 kaki di atas permukaan laut misalnya,
tekanan hanya 380 mm Hg, setengah dari tekanan normal. Karena proporsi O2 dan
N2 di udara masih sama, Po2 udara yang terinspirasi pada ketinggian ini 21% dari
380 mmHg, atau 80 mmHg, dengan Po2 alveolar menjadi lebih rendah pada
tekanan 45 mmHg.2
Seseorang yang dengan cepat mendaki pada ketinggian 10.000 kaki atau
lebih dapat mengalami acute mountain sickness dan berkontribusi dalam hipoksia
hipoksik dan akibatnya terjadi hipokapnia yang diinduksi oleh alkalosis.
Peningkatan ventilasi untuk mendapatkan lebih banyak O2 menyebabkan alkalosis
respiratorik karena pembentukan asam oleh CO 2 menurun secara cepat daripada
produksinya. Gejala mountain sickness meliputi fatigue, nausea, hilangnya nafsu

makan, labored breathing, denyut jantung yang cepat (dipicu oleh hipoksia
sebagai mekanisme kompensasi untuk meningkatkan penyaluran O2 ke jaringan),
dan disfungsi saraf yang dikarakteristikkan oleh penilaian yang buruk, pusing,
dan inkoordinasi.2
Pada orang-orang yang tinggal di ketinggian, terdapat mekanisme yang
disebut aklimatisasi. Ketika seseorang berada di ketinggian, respons kompensasi
akut dari peningkatan ventilasi dan curah jantung secara bertahap tergantikan
selama periode waktu berhari-hari oleh perkembangan kompensasi yang lebih
lambat yang diukur dimana oksigenasi jaringan adekuat dan restorasi
keseimbangan asam basa yang normal. Produksi sel darah merah meningkat,
distimulasi oleh eritropoietin sebagai respons terhadap menurunnya penyaluran
O2

ke ginjal, Peningkatan jumlah sel darah merah meningkatkan kapasitas

penyaluran oksigen oleh darah.2

4. Pengaruh Olahraga terhadap Respirasi?


Ketika otot berkontraksi selama latihan, konsumsi O2 besar dan
menghasilkan CO2 dalam jumlah yang besar. Selama latihan yang kuat, konsumsi
O2 dan ventilasi pulmonal meningkat secara dramatis. Pada onset latihan,
peningkatan tiba-tiba pada ventilasi pulmonal diikuti oleh peningkatan yang lebih
secara gradual. Selama latihan moderate, peningkatan kebanyakan akibat
peningkatan kedalaman ventilasi daripada peningkatan breathing rate. Ketika
latihan lebih berat, frekuensi pernapasan juga meningkat.3
Peningkatan tiba-tiba pada ventilasi pada awal latihan disebabkan oleh
perubahan neural yang mengirim impuls eksitatori ke pusat respirasi di medulla
oblongata. Perubahan-perubahan ini meliputi (1) antisipasi dari aktivitas, yang
menstimulasi sistem limbic; (2) impuls sensori dari propioseptor di otot, tendon,
dan sendi; (3) impuls motoric dari korteks motoric primer (girus presentral).
Peningkatan lebih gradual pada ventilasi selama latihan moderate disebabkan oleh
perubahan secara fisik dan kimia di dalam darah, meliputi (1) penurunan sedikit
Po2, akibat meningkatnya konsumsi O2; (2) peningkatan sedikit Pco2, akibat

meningkatnya produksi CO2 oleh kontraksi serat otot; dan (3) meningkatnya suhu,
akibat liberasi panas sebagaimana banyaknya O2 yang digunakan. Selama latihan
berat, HCO3- membuffer pelepasan H+ oleh asam laktat pada reaksi yang
mengliberasi CO2, yang selanjutnya meningkatkan Pco2.3

REFERENSI
1. Silverthorn DU. Human Physiology: An Integrated Approach, 6 th Edition. US:
Pearson; 2013.
2. Sherwood, Lauralee. Introduction to Human Physiology, 8 th Edition. US:
Brooks/Cole; 2013.
3. Tortora GJ, Derrickson BH. Principles of Anatomy and Physiology. 13 th Edition.
Hoboken, NJ: Wiley; 2011.