Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Untuk dapat memberikan pelayanan penunjang Radiologi yang memenuhi standar, maka
diperlukan adanya standar pelayanan Radiologi yang dibuat dan dibukukan dalam menjamin
kualitas pelayanan di rumah sakit.
Dengan tersusunnya pedoman ini, diharapakan dapat bermanfaat bagi upaya peningkatan mutu
pelayanan kesehatan dan berguna pula untuk melindungi profesi pelaksana pelayanan medis
Radiologi serta masyarakat pengguna jasa kesehatan.
Prosedur-prosedur yang dibuat disini akan terus dievaluasi, diperbaiki secara berkala dan
dikembangkan sesuai dengan kemajuan teknologi kedokteran/kesehatan dan tuntutan pengguna
jasa pelayanan Radiologi di RS Sehat Sejahtera

1.2. TUJUAN
1.2.1.
Tujuan Umum
Sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan, prosedur dan segala proses di bidang
Radiologi di RS SEHAT SEJAHTERA

1.2.2.

Tujuan Khusus
1.2.2.1.
Memberikan pelayanan Radiologi sesuai dengan standar profesi, etik
1.2.2.2.
1.2.2.3.

kedokteran, tuntutan masyarakat dan perkembangan teknologi


Memberikan pelayanan Radiologi yang berorientasi kepada safety baik
kepada pasien maupun untuk staff Radiologi sendiri
Menurunkan angka kejadian film reject dalam pemeriksaan Radiologi

1.3. LANDASAN & REFERENSI


1.3.1.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
1.3.2.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor Nomor 65 tahun 2005 tentang
1.3.3.
1.3.4.
1.3.5.
1.3.6.

Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal


Peraturan
menteri
kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
159b/Menkes/SK/Per/II/1988 tentang Rumah sakit.
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit.
Standar Pelayanan Minimal Rumah sakit, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik
Departemen Kesehatan RI tahun 2008
Hospital Accreditation Standard 3rd Edition - Joint Commission International

1.4. KERANGKA KERJA (FRAMEWORK)

1.5. RUANG LINGKUP


1.5.1.
Planning
1.5.1.1.
Penyusunan Pedoman Pelayanan Radiologi, Pengorganisasian Unit
Radiologi & Staffing dengan berkoordinasi :

Komite Medik & Komite Etik RS

SMF Radiologi

Direktorat Keperawatan

KPPI, K3RS, Quality

1.5.2.

1.5.3.

1.5.1.2.
Penyusunan Berbagai Kebijakan dan Prosedur
1.5.1.3.
Penyusunan Berbagai Program
Action
1.5.2.1.
Pelayanan Administrasi
1.5.2.2.
Pelayanan Pemeriksaan General X-Ray
1.5.2.3.
Pelayanan Pemeriksaan Fluoroscopy
1.5.2.4.
Pelayanan Pemeriksaan Mammography
1.5.2.5.
Pelayanan Pemeriksaan Dental & Panoramic
1.5.2.6.
Pelayanan Pemeriksaan Bone Densitomteri
1.5.2.7.
Pelayanan Pemeriksaan CT Scan
1.5.2.8.
Pelayanan Pemeriksaan MRI
Monitoring
1.5.3.1.
Pengumpulan Indikator :
Jumlah film reject per bulan
Waktu tunggu pelayanan

1.5.4.

1.5.3.2.
Pengawasan Lapangan
1.5.3.3.
Performance & Disiplin SDM
1.5.3.4.
Performance alat medik & teknologi
1.5.3.5.
Updating standar profesi dengan latest evidence
Evaluation
1.5.4.1.
Evaluasi SDM
1.5.4.2.
Evaluasi Prosedur (SOP) & Kebijakan
1.5.4.3.
Evaluasi Alat (Equipment)
1.5.4.4.
Evaluasi Standar Profesi
1.5.4.5.
Evaluasi Managerial Process
1.5.4.6.
Evaluasi Data Indikator
Pada prinsipnya merupakan upaya pengolahan data hasil monitoring yang dilakukan
manajemen unit Radiologi bersama jajaran manajemen unit dan atasan struktural
(manajer jangmed/senior manajer medik) secara berkala dan ditentukan oleh manajer
Jangmed.

1.5.5.

Continuous Imprevement
Merupakan tindak lanjut (rekomemndasi dan pelaksanaan rekomendasi) dari hasil
pengolahan data pada tahap evaluasi. Wujudnya dapat berupa suatu project, program
tahunan, atau revisi dari sistem (kebijakan dan prosedur), revisi dari metode,
penambahan alat, SDM dan lain sebagainya baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

1.6. FALSAFAH
1.6.1.
Falsafah
1.6.1.1.
Pasien adalah focus perhatian kita
1.6.1.2.
Dalam mencapai pelayanan yang memuaskan akan selalu melaksanakan
1.6.2.
1.6.3.

1.6.1.3.
Visi
1.6.2.1.
Misi
1.6.3.1.
1.6.3.2.
1.6.3.3.

1.6.4.

Strategi
1.6.4.1.
1.6.4.2.
1.6.4.3.

perbaikan terus menerus


Memberikan pelayanan yang bertanggung jawab dan professional
Menjadi pusat pelayanan Radiologi unggulan di Indonesia
Memberikan pelayanan Radiologi dengan standar professional yang
setinggi mungkin
Berperan dalam bidang pendidikan dan penelitian untuk menegakkan
diagnose
Memberikan suasana pelayanan yang nyaman, aman, ramah, efisien dan
efektif

Meningkatkan kualitas SDM serta melengkapi sarana dan prasarana di


unit Radiologi
Meningkatkan kemampuan dan pengatuah SDM melalui pendidikan dan
pelatihan di dalam maupun di luar negeri secara terencana dan terarah
Bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain dalam dan luar negeri, dalam
rangka pengembangan kualitas pelayanan Radiologi yang optimal

BAB 2
PENGORGANISASIAN
2.1. STRUKTUR ORGANISASI

Manager
Penunjang
Medis

Unit

Supervisor
Diagnostic

Ketua
Komite
Medis

Ka SMF

PPR
Asisten

Koordinat
or

Ket :

PENANGGUNG JAWAB
ALAT
MRI
CT Scan 64
CT Scan 2
General X-Ray
Fluoroscopy
Mamografi
Dental & Panoramik
Bone Densitometri
USG
Garis Komando
Garis Koordinasi

2.2. URAIAN TUGAS

Koordina
tor

RADIOGRAFER
PERAWAT
NA

Koordinat
or
Administr
STAF ADM
STAF
BILLING

2.2.1.

Supervisor Radiologi
2.2.1.1.
Tugas dan Wewenang

2.2.1.2.

Kualifikasi

2.2.2.

Menyusun perencanaan di bidang pelayanan Radiologi


Melakukan pengorganisasian dan staffing unit Radiologi,
termasuk terlibat dalam penyusunan kriteria staf professional
unit Radiologi serta proses prekrutan staf.
Memimpin operasional sehari-hari unit Radiologi
Melakukan monitoring terhadap kinerja dan mutu dari pelayanan
dan staf unit Radiologi
Melakukan evaluasi dan merencanakan tindak lanjut perbaikan
berdasarkan hasil evaluasi kinerja dan mutu dari pelayanan dan
staf unit Radiologi
Mengetahui dan berpartisipasi dalam program peningkatan mutu
dan keselamatan pasien di RS SEHAT SEJAHTERA
Mengetahui dan berartisipasi dalam program pencegahan dan
pengendalian infeksi serta keselamatan kerja di RS SEHAT
SEJAHTERA
Melakukan koordinasi baik intern unit Radiologi maupun dengan
struktur lain
Membuat perencanaan pengembangan staf di unit Radiologi
Pendidikan spesialis Radiologi, lebih diutamakan yang
mempunyai pengalaman/pendidikan Manajemen
Pengalaman minimal 2-3 tahun di bidang manajemen radiologi
Dapat bekerja dengan baik sebagai tim atau perorangan

Asisten Supervisor Radiologi

2.2.2.1.

Tugas dan Wewenang

Turut mengawasi kegiatan administrasi di Unit Radiologi


Membantu supervisor Radiologi dalam kegiatan pengaturan
jadwal dokter spesialis radiologi dan radiografer
Membantu supervisor Radiologi mengatur pembinaan sumber
daya manusia, pemeliharaan etika dan disiplin serta meneliti dan
mengawasi pelaksanaan tugas-tugas pelayanan Radiologi
Memberikan usulan kebutuhan tenaga medik dan radiografer di
unit Radiologi
Membantu supervisor Radiologi melaksanakan pengawasan
rencana dan pelaksanaan pemeliharaan peralatan medik dan
penggunaannya
Melaksanakan pengawasan pemakaian material kesehatan habis
pakai di unit Radiologi (film, chemical, bahan kontras dan
sebagainya)
Memberikan laporan kegiatan pelayanan Radiologi kepada
supervisor Radiologi

2.2.2.2.

2.2.3.

Kualifikasi

Pendidikan minimal dokter umum atau Sarjana di bidang


kesehatan , pengalaman minimal 3 tahun di bidang manajemen
radiologi atau pendidikan strata 2, pengalaman minimal 1 tahun
di bidang manajemen radiologi.

Dapat bekerja dengan baik dibawah tekanan,sebagai tim maupun


perorangan
Koordinator Pelayanan Radiologi

2.2.3.1.

Tugas dan Wewenang

2.2.3.2.

2.2.4.

Memberikan saran dan masukan kepada supervisor Radiologi


sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan pelayanan Radiologi
Mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi di bidang
Radiologi

Turut mengatur dan memberi tugas kepada radiografer


Membantu asisten supervisor Radiologi dalam kegiatan
pengaturan jadwal radiografer
Membantu supervisor dan asistennya dalam mengatur
pembinaan radiografer dalam pemeliharaan etika dan disiplin
Memberikan usulan kebutuhan tenaga radiografer kepada
supervisor dan asisten supervisor Radiologi
Membantu asisten supervisor dalam melaksanakan pengawasan
pemakaian material kesehatan habis pakai di unit Radiologi
(film,chemical,bahan kontras dan sebagainya)
Membantu supervisor dan asistennya dalam menjaga kualitas
hasil pekerjaan
Memberikan saran dan masukan kepada supervisor Radiologi
sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan pelayanan Radiologi
Mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi di bidang
Radiologi.

Kualifikasi

Pendidikan minimal D-III APRO/ATRO dan berpengalaman


menjadi radiografer di rumah sakit minimal 5 tahun

Mempunyai kemampuan dalam manajemen Radiologi

Dapat bekerja dengan baik dibawah tekanan,sebagai tim maupun


perorangan.
Koordinator Peralatan Radiologi

2.2.4.1.

Tugas dan Wewenang

Mengontrol/memeriksa fungsi alat-alat kesehatan Radiologi


Membantu supervisor dan asistennya dalam membuat laporan
keadaan peralatan kesehatan Radiologi
Melaporkan dengan segera bila terjadi kerusakan atau tidak
berfungsinya alat kepada pihak maintenance RS SEHAT
SEJAHTERA dan memberitahukan hal tersebut juga kepada
supervisor atau asisten supervisor Radiologi sebagai tembusan
Memberikan usulan kebutuhan peralatan kepada supervisor atau
asisten supervisor Radiologi

2.2.4.2.

2.2.5.

Kualifikasi

Pendidikan minimal D-III APRO/ATRO dan berpengalaman


menjadi radiografer di rumah sakit minimal 5 tahun

Mempunyai kemampuan dalam manajemen radiologi

Dapat bekerja dengan baik dibawah tekanan,sebagai tim maupun


perorangan.
Koordinator Administrasi Radiologi

2.2.5.1.

Tugas dan Wewenang

2.2.5.2.

2.2.6.

Membantu supervisor dan asisten supervisor Radiologi dalam


melaksanakan pengawasan perawatan (maintenance) rutin alatalat kesehatan Radiologi
Mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi di bidang
Radiologi

Membantu supervisor dan asisten supervisor Radiologi dalam


membuat laporan jumlah pemeriksaan DI, jenis pemeriksaan DI,
jenis pasien DI, rekapitulasi honor radiolog
Membantu supervisor dan asisten supervisor Radiologi dalam
mengatur pembinaan staf administrasi dalam pemeliharaan etika
dan disiplin
Menjamin tersedianya logistic umum (amplop roentgen, form
permintaan,ATK, dsb)
Membantu supervisor dan asisten supervisor Radiologi dalam
melaksanakan pengawasan penggunaan logistic umum Radiologi
Mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi di bidang
Radiologi

Kualifikasi

Pendidikan minimal S1
Mempunyai kemampuan dalam administrasi
kondisi fisik sehat jasmani dan rohani

Radiografer Pelaksana
2.2.6.1.
Tugas dan Wewenang

Mencatat semua pengeluaran dan penggunaan alkes, obat-obatan


dan film di Radiologi
Menjaga dan merawat semua peralatan yang ada di Radiologi
Menjaga kebersihan dan kerapihan tempat kerja
Menghidupkan dan mengoperasikan alat processing film sesuai
dengan prosedur
Menghidupkan dan mengoperasikan alat roentgen (CT
Scan,MRI,Konvensional X ray dan lain-lain)
Secara periodic menurut waktu yang ditentukan mengganti
cairan pembangkit (developer dan fixer)
Secara periodic menurut waktu yang ditentukan membersihkan
keseluruhan alat processing
Melaporkan dengan segera kepada pihak yang terkait, apabila
terjadi kerusakan alat di Radiologi
Melaksanakan tugas-tugas khusus yang diberikan oleh
atasannya.

2.2.6.2.

2.2.7.

Kualifikasi

Petugas Administrasi Radiologi


2.2.7.1.
Tugas dan Wewenang

Melayani penerimaan pendaftaran pemeriksaan Radiologi

Mencatat pengeluaran dan pemakaian film dan bahan kontras

2.2.7.2.

2.2.8.

Pendidikan minimal D-III ATRO/APRO


Dapat bekerja dengan baik dibawah tekanan,sebagai tim maupun
perorangan.

pada buku register pasien Radiologi


Melayani permohonan perjanjian pemeriksaan Radiologi
Mencatat pasien yang melakukan perjanjian pada buku
perjanjian
Membuat amplop pemeriksaan serta memasukkan film dan hasil
ekspertise ke dalam amplop tersebut
Menyimpan amplop pemeriksaan tersebut pada lemari file
Mengarsipkan lembaran tembusan hasil ekspertise
Melayani pengambilan hasil pemeriksaan dan foto-foto pasien

Kualifikasi

Pendidikan minimal D-III Administrasi


Mempunyai kemampuan dalam administrasi
Kondisi fisik sehat jasmani dan rohani

Perawat Radiologi
2.2.8.1.
Tugas dan Wewenang

2.2.8.2.

Mengobservasi tanda-tanda vital (mengukur nadi dan tekanan


darah) dan keluhan-keluhan pasien.
Melakukan tindakan keperawatan yang meliputi : pemasangan iv
line, needle atau wing needle
Menerapkan komunikasi therapeutic
Melaporkan keadaan pasien yang bermasalah kepada radiolog
Mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan
Bekerjasama dengan radiografer dalam mempersiapkan
peralatan medis yang dibutuhkan pada saat pemeriksaan
Membantu penanganan pasien yang alergi terhadap bahan
kontras
Membantu mempersiapkan mental pasien sebelum dilakukan
tindakan pemeriksaan radiologi
Membantu dokter dalam memberikan obat penurun tekanan
darah kepada pasien yang memerlukannya
Menghadiri pertemuan rutin yang diadakan secara berkala
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terutama di bidang
perawatan melalui pertemuan-pertemuan ilmiah, membaca buku
atau jurnal keperawatan.

Kualifikasi

Pendidikan D-III keperawatan


Kondisi fisik sehat jasmani dan rohani

2.2.9.

NA Radiologi
2.2.9.1.
Tugas dan Wewenang

2.2.9.2.

2.2.10.

Setiap pagi mengganti selimut,laken, dll


Mengambil barang-barang kebutuhan Radiologi pada logistic
farmasi dan logistic umum
Mencatat semua penerimaan alkes dan obat-obatan pada kartu
stock gudang
Mencatat semua pengeluaran dan pemakaian alkes dan obatobatan pada kartu stock gudang
Mendistribusikan alkes dan obat-obatan dari gudang ke ruangruang pemeriksaan yang memerlukan alkes dan obat-obatan pada
hari itu
Membantu radiografer dalam merapikan dan membersihkan
alkes yang sudah terpakai
Membantu radiolog dalam melakukan pemeriksaan USG
(memanggil pasien, memasukkan data pasien pada alat USG dan
merapikan ruang pemeriksaan USG)
Menjaga kebersihan alat USG

Kualifikasi

Pendidikan minimal SMA atau SMEA


Mempunyai kemampuan dalam administrasi
Kondisi fisik sehat jasmani dan rohani

Running Boy Radiologi


2.2.10.1. Tugas dan Wewenang

2.2.10.2.

Setiap pagi dan sore mengantarkan hasil foto dan expertise yang
telah jadi untuk pasien rawat inap kecuali hari minggu dan libur.
Membantu petugas administrasi dalam hal pengambilan dan
penyerahan hasil radiologi, memasukkan foto&expertise ke
dalam amplop dan mengirimkan salinan hasil expertise radiologi
ke rekam medik.
Membantu radiografer bila dibutuhkan dalam hal pencucian film,
penggantian cairan mesin automatic processing dan pelaksanaan
foto di tempat
Membantu dalam kegiatan pengiriman surat ke unit/bagian lain.
Mengambil foto yang dipinjam basah maksimal 1x24 jam setelah
dipinjam di rawat inap
Membantu mendorong/memindahkan pasien.

Kualifikasi

Pendidikan minimal SMA atau SMEA

BAB 3
SARANA & PRASARANA
3.1. SARANA FISIK
3.1.1.
Ruang Pemeriksaan Khusus :
3.1.1.1.
Ruang Pemeriksaan Khusus untuk Magnetic Resonance Radiologi ( MRI
) 1,5 Tesla.
Ruang Pemeriksaan Khusus untuk Computer Tomografi Scaning ( CT
Scan ) 64 Slice.
3.1.1.3.
Ruang Pemeriksaan Khusus untuk Computer Tomografi Scaning ( CT
Scan ) Dual Slice.
3.1.1.4.
Ruang Pemeriksaan Khusus untuk Colon, OMD, Fistulografi, BNO-IVP,
HSG, Myelografi, Phblebografi dll.
Semua ruang pemeriksaan khusus tersebut di atas dilengkapi oleh monitor
Ruang Pemeriksaan Radiography Konvensional.
Ruang Pemeriksaan Mammography.
Ruang Pemeriksaan Gigi ( Dental, Panoramik & Cephalometri )
Ruang Pemeriksaan Bone Densitometri.
Ruang Pemeriksaan Ultrasonography.
Ruang Administrasi ; untuk pendaftaran dan pengambilan hasil pemeriksan
Radiologi.
Ruang Pencucian film roentgen ( Kamar Gelap )
Ruang Konsultasi
Ruang Baca Radiolog.
Ruang Jaga Radiografer.
Ruang Gudang Alkes, Obat dan Bahan Habis Pakai.

3.1.1.2.

3.1.2.
3.1.3.
3.1.4.
3.1.5.
3.1.6.
3.1.7.
3.1.8.
3.1.9.
3.1.10.
3.1.11.
3.1.12.

3.2. SARANA PENGAMANAN BAHAYA RADIASI


3.2.1.
Pengamanan terhadap bahaya radiasi bagi petugas yang menjalankan peralatan
Radiologi.
Petugas yang setiap hari menjalankan peralatan Radiologi harus benar-benar aman
dari bahaya radiasi. Hal yang harus diperhatikan adalah :
3.2.1.1.
Ketebalan dari dinding harus setara dengan 2,5 mm Pb (timah hitam).
3.2.1.2.
Jarak antara sumber radiasi dengan petugas minimal 2 m dari sumber
sinar primer setelah diberi shielding.
3.2.1.3.
Pintu ruang pemeriksaan Radiologi harus dilapisi dengan 2,5 mm Pb
(timah hitam)
3.2.1.4.
Tersedia cukup pelindung radiasi ; apron Pb, sarung tangan Pb, kaca
mata Pb, Neck Shield

3.2.2.
3.2.3.

3.2.4.

3.2.5.

3.2.6.

Pengamanan terhadap bahaya radiasi bagi pasien & pengantar pasien.


Hal yang harus diperhatikan oleh petugas yang menjalankan peralatan Radiologi
adalah :
3.2.3.1.
Bila pengantar pasien berada di dalam ruang pemeriksaan, maka harus
diberi pelindung ( Apron Pb ),
3.2.3.2.
Membatasi jumlah sinar X yang keluar sesuai dengan obyek yang akan
di rontgen.
3.2.3.3.
Melindungi bagian organ tubuh yang sangat peka terhadap radiasi (organ
genetalia), terutama pada pasien hamil atau pada anak-anak.
Pengamanan terhadap bahaya radiasi untuk lingkungan sekitarnya .
Untuk pengamanan terhadap bahaya radiasi bagi lingkungan sekitarnya, hal yang
harus diperhatikan antara lain :
3.2.4.1.
Ketebalan dinding ruang pemeriksaan minimal harus setara dengan 2,5
mm Pb (timah hitam)
3.2.4.2.
Pintu ruangan pemeriksaan yang terdapat peralatan yang menggunakan
sinar-X harus dilapisi dengan Pb yang tebalnya minimal 2,5 mm
3.2.4.3.
Pada waktu pemeriksaan berlangsung, pintu pemeriksaan harus dalam
keadaan tertutup rapat.
Pengamanan bahaya radiasi secara umum.
3.2.5.1.
Peralatan Radiologi hanya boleh dijalankan/dilakukan oleh petugas
khusus, yaitu :

Radiografer ( berpendidikan D-III ATRO )

Radiolog.
3.2.5.2.
Pengamanan terhadap petugas yang menjalankan peralatan Radiologi
selalu dimonitor secara berkesinambungan.
3.2.5.3.
Alat personal monitoring ( fim badge ) diperiksa secara berkala oleh
instansi yang berwenang yaitu : DEPKES dan setiap bulan dikrim
hasilnya.
3.2.5.4.
Peralatan Radiologi dinilai dan diperiksa oleh seorang Ahli Fisika Medis.
3.2.5.5.
Ruang pemeriksaan Radiologi dinilai dan diperiksa secara berkala oleh
Ahli Radiasi dai Instansi yang berwenang, yaitu : BPFK.
3.2.5.6.
Perbaikan peralatan Radiologi diserahkan kepada Ahli Teknik
Elektromedis.
Keselamatan radiasi di unit Radiologi diatur dalam program proteksi radiasi yang
terintegrasi dengan program safety management.(AOP 6.2)

3.3. DATA FASILITAS PERALATAN RADIOLOGI


3.3.1.
Multi Slices Scan 64 slice Siemens

3.3.2.

Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: Straton Z
Nomor Seri
: 275360504
Kondisi Maksimum
: 140 kV/320 mA
Multi Slices Scan Dual slice Siemens
Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: Dura 202 MV
Nomor Seri
: 100755000
Kondisi Maksimum
: 130 kV/180 mA

3.3.3.

3.3.4.

3.3.5.

3.3.6.

3.3.7.

3.3.8.

3.3.9.

3.3.10.

3.3.11.

Siemens Polymobil Plus


Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: Single Tank/IAE X2208/1,3
Nomor Seri
: 12927
Kondisi Maksimum
: 125 kV/250 mAs
Siemens Mammomat 3000
Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: P40 mOW-100G
Nomor Seri
: 40683
Kondisi Maksimum
: 40 kV/400 mAs
Siemens Polydoros IT/Multix Compact K
Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: OPTI 150/30/HC100
Nomor Seri
: 428993
Kondisi Maksimum
: 150 kV/500 mAs
GE Lunar Bone Densitometry
Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: BX.1L
Nomor Seri
: 68794
Kondisi Maksimum
: 76 kV/3 mA
Panoramic X-Ray Soredex (Cranex Tome)
Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: 000-101
Nomor Seri
: X61181
Kondisi Maksimum
: High Frequency Dental Soredex (Minray)
Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: D-0711S
Nomor Seri
: 1147
Kondisi Maksimum
: 70 kV / 840 mAs
USG Philips
Jumlah
: 1( Satu )
Tipe
: HD-11
Nomor Seri
: Kondisi Maksimum
: Kondisi Maksimum
:Automatic Processor Kodak
Jumlah
: 1 ( Satu )
Tipe
: X-OMAT 2000
Nomor Seri
:Printer Dry View Kodak
Jumlah
: 2 ( Dua )
Tipe
: - Dry View 8100
- Dry View 8150


3.3.12.

Nomor Seri
ID Camera
Jumlah
Tipe
Nomor Seri

: : 1 ( Satu )
: Kodak ID camera 4 L
: -

3.4. MAINTENANCE ALAT RADIOLOGI


Maintenace alat di unit Radiologi diatur dalam program pengelolaan paralatan Radiologi.

3.5. ALKES DAN BAHAN HABIS PAKAI UNIT RADIOLOGI


Persediaan alkes dan bahan habis pakai di unit Radiologi dikelola secara berkala untuk
menjamin ketersediannya serta disimpan, dilabel dan disalurkan berdasarkan ketentuan yang
berlaku (sesuai ketentuan dari produsen alkes dan bahas habis pakai tersebut) sehingga terjamin
kualitasnya dan pelayanan dapat berlangsung dengan baik.

BAB 4
PELAYANAN RADIOLOGI
4.1. KETENTUAN UMUM
4.1.1.
Loket Pendaftaran Buka :
4.1.1.1.
Untuk Pelayanan Umum

Senin Sabtu :07.00 20.00 WIB


4.1.1.2.
Untuk Pelayanan Emergency/Cito

Senin Sabtu :20.00 07.00 WIB

Minggu/Hari Libur
: 24 Jam
4.1.2.
Pelayanan di loket pendaftaran hanya dilakukan kepada mereka yang membawa
4.1.3.
4.1.4.
4.1.5.

4.1.6.
4.1.7.

formulir atau surat permintaan pemeriksaan roentgen dari dokter dengan klinis yang
jelas.
Bila pasien tidak membawa formulir atau surat permintaan, maka pasien dapat
membuat formulir permintaan dengan terlebih dahulu di diagnosa oleh Radiolog dan
setelah itu Radiologlah yang membuat formulir permintaan tersebut.
Untuk pasien dengan kasus gawat darurat/emergency, tanpa kelengkapan administrasi
tetap dapat dilakukan tindakan Radiologi sesudah mendapat persetujuan dari SOD
atau dokter yang mewakilinya
Untuk pasien perusahaan langganan ( kontraktor ), misalnya Telkom, Askes, atau RS
lainyang telah kerjasama, harus memenuhi persyaratan teknis administrasi lainnya,
seperti : surat jaminan, kartu perusahaan dan identifikasi pasien, yaitu : Nomor foto,
nomor Rekam Medis, jenis pemeriksaan, nama, alamat, umur pasien serta tanggal,
bulan dan tahun pemeriksaan.
Formulir pemeriksaan dikirim ke ruang pemeriksaan ( diberikan ke Radiografer yang
bertugas ).
Unit Radiologi RS Sehat Sejahtera mengadakan kerjasama dengan pihak ketiga
bilamana pelayanan Radiologi di RS SEHAT SEJAHTERA mengalami gangguan.
(AOP 6.1)

4.2. PROSEDUR PENDAFTARAN


4.2.1.
Loket Perjanjian.
4.2.1.1.
Pelayanan untuk pasien dengan pemeriksaan yang memerlukan
persiapan teknis medik yaitu pemeriksaan dengan bahan kontras.
Tidak termasuk pemeriksaan dengan bahan kontras yang harus
dilakukan tindakan medis segera ( CITO )

4.2.1.2.

4.2.1.3.

4.2.2.

4.2.3.

4.2.4.

Mekanisme pelayanan:

Menerima formulir permintaan pemeriksaan Radiologi.

Memberikan penjelasan tentang tata cara


persiapan
pemeriksaan dengan jelas dan benar serta memberikan formulir
persiapannya.

Pencatatan pada buku


perjanjian
yang meliputi :
tanggal pemeriksaan, jenis pemeriksaan, identitas pasien dan no
telp/HP pasien.

Penyimpanan formulir permintaan pemeriksaan Radiologi


pada map perjanjian.
Loket Penerimaan Pasien
4.2.2.1.
Penerimaan formulir pemeriksaan Radiologi
4.2.2.2.
Menjelaskan biaya pemeriksaan atau memastikan kelengkapan
administrasi yang digunakan serta mencatat identitas pasien.
4.2.2.3.
Pasien melakukan pembayaran.
4.2.2.4.
Pasien menungu panggilan untuk dilakukan tindakan.
4.2.2.5.
Pasien dibuatkan kertas buat pengambilan hasil roentgen atau pasien
diminta membawa bukti pembayaran pada waktu akan mengambil hasil.
Loket Pengambilan Hasil
4.2.3.1.
Menerima semua foto yang telah selesai di expertise dan mencocokkan
dengan data pada formulir permintaan rontgen
4.2.3.2.
Membuat identitas pasien dan nomor foto pada amplop film dan
memasukkan filmnya.
4.2.3.3.
Menyimpan amplop film pada rak pengambilan hasil.
4.2.3.4.
Menyimpan arsip hasil expertise pada file khusus
4.2.3.5.
Memberikan hasil roentgen pada pasien yang membawa bukti tanda
pelunasan dan menandatangani buku pengambilan hasil.
Berdasarkan jenis permintaan pemeriksaan radiologi terdiri atas :
4.2.4.1.
Rawat Jalan
:pasien dari poliklinik rawat jalan, cardiac cente &
neuro center.
4.2.4.2.
Rawat inap
:pasien dari rawat inap RS SEHAT
SEJAHTERA termasuk ICU/HCU/PICU
4.2.4.3.
Gawat Darurat : pasien dari UGD
4.2.4.4.
Luar
: pasien dari luar RS SEHAT SEJAHTERA seperti
puskesmas, klinik
swasta, dokater praktek dan klinik perusahaan
4.2.4.5.
APS
: pasien yang
meminta sendiri pemeriksaan
Radiologi.

4.3. PELAYANAN RADIOLOGI RUTIN


4.3.1.
Unit Radiologi memberikan pelayanan rutin setiap hari kerja mulai pukul 07.00 WIB
4.3.2.
4.3.3.

sampai dengan 20.00 WIB


Bila pelayanan rutin dilakukan di luar jam tersebut di atas (point 4.3.1), maka
dianggap pelayanan darurat (CITO)
Prosedur pelayanan umum diagnostic adalah sebagai berikut :
4.3.3.1.
Pasien dari luar, APS, rawat jalan dan rawat inap mendaftar di loket
Radiologi dan mengurus kelengkapan administrasi serta melakukan

4.3.3.2.
4.3.3.3.
4.3.3.4.
4.3.3.5.
4.3.3.6.
4.3.3.7.
4.3.3.8.
4.3.3.9.

pembayaran pada kasir untuk pasien dari luar, APS, rawat jalan dan
penginputan biaya untuk pasien langganan dan rawat inap.
Setelah itu pasien menunggu panggilan untuk diperiksa di ruang
tunggu.
Pemeriksaan Radiologi dilakukan di ruang pemeriksaan tertentu.
Setelah itu film roentgen diproses di kamar gelap
Pengecekan hasil roentgen dilakukan oleh radiografer, jika baik, pasien
diberitahu bahwa pemeriksaan telah selesai, tapi jika kurang baik, maka
dilakukan pengulangan foto.
Pasien pulang atau kembali ke ruang perawatan bagi pasien yang
dirawat.
Untuk pasien yang cito, hasil expertise dapat ditunggu.
Hasil Pemeriksaan Radiologi dilaporkan dalam kerangka waktu
yang telah ditetapkan.
Analisis dan expertise dilakukan oleh radiolog.

4.4. PELAYANAN RADIOLOGI GAWAT DARURAT


4.4.1.
Unit Radiologi memberikan pelayanan gawat darurat setiap hari selama 24 jam.
4.4.2.
Prosedur pelayanan gawat darurat diagnostic adalah sebagai berikut :
4.4.2.1.
Pasien dari unit gawat darurat dan rawat inap
4.4.2.2.
Mendaftar di loket Radiologi dan mengurus kelengkapan administrasi
4.4.2.3.
4.4.2.4.
4.4.2.5.
4.4.2.6.
4.4.2.7.

serta melakukan pembayaran pada kasir untuk pasien umum dan


penginputan biaya untuk pasien langganan dan rawat inap.
Pemeriksaan Radiologi dilakukan di ruang pemeriksaan tertentu.
Setelah itu film roentgen diproses di kamar gelap.
Pengecekan hasil roentgen dilakukan oleh Radiografer, jika baik,
pasien ke UGD atau ruang perawatan, tapi jika kurang baik, maka
dilakukan pengulangan foto.
Untuk pasien ICU/HCU/PICU, pemeriksaan diagnostic dilakukan di
ruang ICU/HCU/PICU dengan menggunakan mobile unit.
Analisis dan expertise dilakukan oleh radiolog.

BAB 5
JENIS PELAYANAN RADIOLOGI

5.1. PELAYANAN RADIOGRAFI KONVENSIONAL


5.1.1.
Radiografi Konvensional Dengan Kontras
5.1.1.1.
Oesophagography adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk melihat
5.1.1.2.
5.1.1.3.
5.1.1.4.
5.1.1.5.
5.1.1.6.
5.1.2.

kelainan sepanjang kerongkongan/oesophagus


Maag Duodenography adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk
melihat kelainan-kelainan dari lambung sampai usus 12 jari.
Barium Enema/Colon Inloop adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk
melihat kelainan dari rectum sampai caecum
BNO-IVP ( Buich Neir Oversich Intra Vena Pyelografi ) adalah
pemeriksan dengan penyuntikan kontras iodium ke dalam pembuluh
darah untuk melihat fungsi ginjal dan salurannya.
Urethrocystography adalah pemeriksaan untuk mengetahui kelainan
kandung kencing dan saluran urethtra.
HSG ( Hystero Salpingografi ) adalah pemeriksaan kandungan dan
saluran telur dengan memasukan kontras ke dalam kandungan.
Phlebografi adalah pemeriksaan untuk melihat kelainan pembuluh vena

5.1.1.7.
Radiografi Konvensional Tanpa Kontras
5.1.2.1.
Thorax Foto

5.1.2.2.

Foto

Posisi PA (Postero-Anterior)
Posisi Lateral
Posisi AP (Antero-Posterior)
Posisi Top Lordotik
Posisi Lateral Dekubitus
Kepala
Posisi Antero-Posterior (A-P)
Posisi Lateral kanan / kiri.
Posisi Cadwells (Postero anterior dengan angulasi tabung 15 o
25O arah kaudal).
Posisi Waters

5.1.2.3.

Foto

5.1.2.4.

Foto Extremitas Bawah

5.1.2.5.

5.1.2.6.

Extremitas Atas
Humerus
Radius Ulna
Pergelangan Tangan
Tangan
Femur
Sendi Lutut
Tungkai Bawah
Ankle joint

Kaki
Foto Vertebrae

Cervical

Thoracal

Lumbal
Foto Abdomen

Abdomen AP
Abdomen lateral
Abdomen lateral dekubitus

5.2. PELAYANAN ULTRASONOGRAFI


5.2.1.
USG Black and White
5.2.1.1.
USG Abdomen
5.2.1.2.
USG Traktus Urinarius
5.2.1.3.
USG Mamae
5.2.1.4.
USG Appendiks
5.2.1.5.
USG Hepatobilier
5.2.1.6.
USG Uterus
5.2.1.7.
USG Thyroid
5.2.1.8.
USG superficial mass
5.2.1.9.
USG Pelvis
5.2.1.10. USG Biopsi
5.2.2.

USG Doppler
5.2.2.1.
USG Testis
5.2.2.2.
USG arteri/vena ekstremitas
5.2.2.3.
USG carotis
5.2.2.4.
USG aorta/arteri iliaka
5.2.2.5.
USG kepala bayi

5.3. PELAYANAN CT SCAN


Semua pemeriksaan dilakukan melalui perjanjian terlebih dahulu, kecuali untuk pasien
dengan kasus cito. Pelayanan CT-Scan di RS Sehat Sejahtera dapat dilakukan dengan 2 alat
yang tersedia, yaitu : CT dual slice dan CT 64 slice.

Jenis pemeriksaan CT Scan :

5.3.1. CT Scan Kepala/Otak


5.3.2. CT Scan Telinga, Os Petrusum, Dan Os Mastoid
5.3.3. CT Scan Orbita
5.3.4. CT Scan Nasopharing
5.3.5. CT Scan Sinus Paranasalis
5.3.6. CT Scan Thorax
5.3.7. CT Scan Abdomen
5.3.8. CT Scan Spine
5.3.9. CT Scan Extremitas
5.3.10. CT Scan Cardiac/Jantung

5.4. PELAYANAN MAGNETIC RESONANCE RADIOLOGI (MRI)


Semua pemeriksaan dilakukan melalui perjanjian terlebih dahulu, kecuali untuk pasien dengan
kasus cito. Pelayanan MRI di RS Sehat Sejahtera dilakukan dengan menggunakan alat MRI
1,5 Tesla.

Jenis pemeriksaan MRI :


5.4.1. MRI Kepala
5.4.2. MRCP
5.4.3. MRI Cervical
5.4.4. MRI Lumbal
5.4.5. MRI Thoracal
5.4.6. MRI Muscoloscletal
5.4.7. MRI Angografi
5.4.8. MRI Spectroscopy
5.4.9. MRI Pelvis
5.4.10. MRI Abdomen
5.5. PELAYANAN LAINNYA
Selain pelayanan di atas RS SEHAT SEJAHTERA juga memberikan pelayanan lain misalnya :
5.5.1. Panoramik,
5.5.2. Dental X-Ray
5.5.3. Bonedensitometri
5.5.4. Mamografi

BAB 6
PATIENT & STAFF SAFETY, INFECTION PREVENTION & CONTROL , KESEHATAN &
KESELAMATAN KERJA DI UNIT RADIOLOGI

6.1. IDENTIFIKASI RISIKO


Risiko adalah potensi terjadinya kerugian yang dapat timbul dari proses kegiatan saat sekarang
atau kejadian di masa datang.
Risiko di Unit Radiologi meliputi :

6.1.1.

Risiko Keselamatan Pasien (Patient Safety)


6.1.1.1.
Pasien jatuh
6.1.1.2.
Salah pemberian obat (dosis, rute, obat, pasien)
6.1.1.3.
Resiko pemberian obat/kontras media (alergi)
6.1.1.4.
Terpapar radiasi
6.1.1.5.
Tindakan yang salah / dilakukan pada pasien yang salah
6.1.1.6.
Penanganan terlambat

6.1.2.

Risiko Keselamatan Staf (Staff Safety)


6.1.2.1.
Karyawan jatuh
6.1.2.2.
Tertusuk Jarum Suntik atau benda tajam lain.
6.1.2.3.
Terpapar Bahan Kimia atau cairan tubuh pasien
6.1.2.4.
Terpapar radiasi
6.1.2.5.
Terpapar Infeksi
6.1.2.6.
Low Back Pain karena proses mengangkat yang tidak tepat. Dan
6.1.2.7.

pemakaian Apron
Security hazard dari pasien / pengunjung.

6.2. MANAJEMEN RISIKO /RISK MANAGEMENT

Manajemen risiko adalah pendekatan proaktif untuk mengidentifikasikan, mengevaluasi dan


memprioritaskan risiko untuk mengurangi risiko cedera dan kerugian pada pasien, karyawan
rumah sakit, pengunjung dan organisasi sendiri
Upaya mengurangi resiko tersebut diantaranya adalah dengan :
6.2.1.1.
Prosedur Identifikasi Pasien, Komunikasi & Prosedur Keselamatan lain
6.2.1.2.
Prosedur penanganan needle stick injury & cairan tubuh lainnya
6.2.1.3.
Penyediaan & pemakaian alat pelindung diri termasuk Apron
6.2.1.4.
Pengkajian 4 tepat (tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat rute) dalam
pemberian obat.
6.2.1.5.
Pembuatan signage
6.2.1.6.
Pelatihan teknik safety lifting
6.2.1.7.
Memastikan kecukupan tenaga.
6.2.1.8.
Monitoring paparan radiasi baik personal monitoring mapun device
monitoring
6.2.1.9.
Medical Check up berkala bagi karyawan
6.2.1.10. Pemberian extra fooding
6.2.1.11. Pengadaan, penyimpanan, pemakaian dan pembuangan B3 dengan sesuai
prosedur
6.2.1.12. Penanaman budaya safety, safety meeting & awareness.
-

6.3. INFECTION CONTROL


Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh ketika seseorang dirawat di rumah sakit,
infeksi nosokomial dapat terjadi setiap saat dan di setiap tempat di rumah sakit. Untuk
mencegah dan mengurangi kejadian infeksi nosokomial serta menekan angka infeksi ke tingkat
serendah-rendahnya perlu adanya upaya pengendalian infeksi nosokomial. Pengendalian infeksi
nosokomial bukan hanya tanggung jawab pimpinan rumah sakit atau dokter / perawat saja
tetapi tanggung jawab bersama dan melibatkan semua unsur / profesi yang ada di rumah sakit.
Unit Radiologi menerapkan kebijakan dan prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi
sesuai dengan kebijakan rumah sakit, dengan selalu berkoordinasi dengan Komite Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi RS SEHAT SEJAHTERA

6.3.1.

Sumber Infeksi
Yang merupakan sumber infeksi adalah :

6.3.1.1.Petugas rumah sakit (perilaku)

6.3.1.2.

Kurang atau tidak memahami cara-cara penularan penyakit.


Kurang atau tidak memperhatikan kebersihan.
Kurang atau tidak memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik.
Menderita suatu penyakit.
Tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.

Alat-alat yang dipakai (alat kedokteran / kesehatan, linen dan lainnya)

Kotor atau kurang bersih / tidak steril.


Rusak atau tidak layak pakai.
Penyimpanan yang kurang baik.
Dipakai berulang-ulang.
Lewat batas waktu pemakaian

6.3.1.3.Pasien

Kebersihan kurang.
Menderita penyakit menular / infeksi.

6.3.1.4.

6.3.2.

Tidak ada sinar matahari yang masuk.


Ventilasi / sirkulasi udara yang kurang baik.
Ruangan lembab.
Banyak serangga.

Faktor Yang Sering Menimbulkan Terjadinya Infeksi


6.3.2.1.
Banyaknya pasien yang dirawat di rumah sakit yang dapat menjadi sumber
6.3.2.2.
6.3.2.3.
6.3.2.4.
6.3.2.5.
6.3.2.6.

6.3.3.

Lingkungan

infeksi bagi lingkungan dan pasien lain.


Adanya kontak langsung antara pasien satu dengan pasien lainnya.
Adanya kontak langsung antara pasien dengan petugas rumah sakit yang
terinfeksi.
Penggunaan alat-alat yang terkontaminasi.
Kurangnya perhatian tindakan aseptik dan antiseptik.
Kondisi pasien yang lemah.

Pencegahan
6.3.3.1.
Petugas

6.3.3.2.

Peralatan

6.3.3.3.

Bekerja sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) untuk


pelayanan diagnostoc Radiologi.
Memperhatikan aseptik dan antiseptik.
Menggunakan alat pelindung diri (APD)
Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.
Bila sakit segera berobat.
Perhatikan kebersihan
Penyimpanan bahan kimia Radiologi yang benar dan perhatikan batas
waktu penyimpanan (FIFO).
Peralatan yang rusak segera diganti.

Ruangan/Lingkungan

Tersedia air yang mengalir untuk cuci tangan.


Penerangan cukup.
Ventilasi sirkulasi udara baik.
Perhatikan kebersihan dan kelembaban ruangan.
Pembersihan secara berkala.
Lantai kering dan bersih.

6.4. KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA


Dalam menerapkan kebijakan dan prosedur kesehatan dan keselamatan kerja, Unit Radiologi
disesuaikan dengan kebijakan rumah sakit, dengan selalu berkoordinasi dengan Tim Kesehatan
& Keselamatan Kerja RS SEHAT SEJAHTERA dan unit terkait lainnya.

6.4.1. Prinsip Dasar Usaha Kesehatan Kerja


Prinsip dasar usaha kesehatan kerja terdiri atas :

6.4.1.1.Ruang lingkup usaha kesehatan kerja


Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan
pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara /
metode kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :
Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat
pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental
maupun kesejahteraan sosial.
Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan / kondisi lingkungan kerjanya.
Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja didalam
pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktorfaktor yang membahayakan kesehatan.
Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan
yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjaan.

6.4.1.2.Kapasitas kerja dan beban kerja


Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen
utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara
ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang optimal.
Kapasitas kerja seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja serta kemampuan
fisik prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya
secara optimal. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja yang prima
merupakan modal awal seseorang untuk mencapai produktifitas yang
diharapkan. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapt dipengaruhi oleh
kondisi temperatur kerja, gizi kerja, kebugaran jasmani dan kesehatan
mental.
Beban kerja meliputi fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu
berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang
pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.

6.4.1.3.Lingkungan kerja dan penyakit kerja yang ditimbulkannya


Penyakit akibat kerja dan / atau berhubungan dengan pekerjaan dapat
disebabkan oleh pemajanan di lingkungan kerja. Fakta di lapangan
menunjukan terdapat kesenjangan antara pengetahuan tentang bagaimana
bahaya kesehatan berperan dan usaha untuk mencegahnya antara kognisi dan
emosi. Misalnya alat pelindung kerja yang tidak digunakan secara tepat oleh
pekerja rumah sakit dengan kemungkinan terpajan melalui kontak langsung
atau tidak tersedianya pelindung. Untuk mengantisipasi permasalahan ini
maka langkah awal penting adalah pengenalan / identifikasi bahaya yang
dapat ditimbulkan upaya perlindungan dan penanggulangan dan dievaluasi
kemudian dilakukan pengendalian.

6.4.2. Potensi Bahaya Pada Unit Radiologi


6.4.2.1.Kebakaran
Kebakaran merupakan hal yang mungkin terjadi di Unit Radiologi.
Pencegahan dan Penanggulangan:
Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah
terbakar penyimpanan bahan kimia di Unit Radiologi RS SEHAT
SEJAHTERA sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Mengidentifikasi dan pengawasan hal-hal yang bisa menimbulkan
bahaya kebakaran, seperti alat listrik yang bisa menimbulkan arus
pendek

Menjadikan unit Radiologi sebagai kawasan bebas rokok


Perlengkapan pemadam dan penanggulangan kebakaran seperti alat
pemadam api ringan (APAR) & Hydrant
Alat-alat pemadam kebakaran harus ditempatkan pada tempat yang
rawan terjadi kebakaran, mudah terlihat
Pengecekan rutin terhadap fungsi alat-alat pemadam kebakaran
Pelatihan dan sosialisasi kepada staf mengenai penanggulangan bahaya
kebakaran dan penggunaan alat pemadam kebakaran

6.4.2.2.Terpeleset/Terjatuh
Terpeleset / terjatuh pada lantai yang sama adalah bentuk kecelakaan kerja
yang dapat terjadi pada unit Radiologi. Walaupun jarang terjadi kematian
tetapi dapat mengakibatkan cedera yang berat seperti fraktur, dislokasi sendi
dan cedera kepala..
Penanggulangan:
Jangan memakai sepatu dengan hak tinggi, sol yang rusak atau memakai
tali sepatu yang longgar.
Konstruksi lantai harus rata dan sedapat mungkin dibuat dari bahan yang
tidak licin.
Pemeliharaan lantai:
Lantai harus selalu dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti air,
debu, minyak yang memudahkan terpeleset.
Lantai yang cacat misalnya banyak lubang atau permukaannya
miring harus segera diperbaiki.

6.4.2.3.Bahaya Mikrobiologi
Bahaya mikrobiologi adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang
diakibatkan oleh mikrobiologi hidup seperti bakteri, virus, ricket parasit dan
jamur. Petugas unit Radiologi yang menangani pasien senantiasa kontak
dengan bahan dan menghirup udara yang tercemar kuman patogen.
Pencegahan terhadap bahaya mikrobiologi adalah sebagai berikut :
Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang baik dalam ruangan
pelayanan.
Menggunakan alat pelindung diri (APD)
Melakukan tindakan dekontaminasi, disinfeksi dan sterilisasi terhadap
bahan dan alat yang digunakan.
Secara teknis setiap petugas harus melakukan tugas pekerjaan sesuai
dengan SOP.

6.4.2.4.Bahaya Bahan Kimia


Bahaya bahan kimia yang ada di unit Radiologi diantaranya ditimbulkan oleh
larutan fixer, developer, dan lain-lain. Tingkat risiko yang diakibatkan
tergantung dari besar, luas, dan lama pemajanan. Walaupun zat kimia tersebut
sangat toksik, pemajanan terhadap bahan kimia yang membahayakan tidak
dapat dielakan. Oleh karena itu sikap hati-hati terhadap semua jenis bahan
kimia yang dipakai manusia dan potensial masuk ke dalam tubuh. Sebagian
dari informasi bahan kimia tersebut dapat dibaca pada label kemasan dari
produsennya yang lazim disebut Material Safety Data Sheet (MSDS).

6.4.2.5.Bahan Berbahaya Beracun


Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung
bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya

dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat


mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia
serta mahluk hidup lain.
Limbah B3 terbagi menjadi 2 bagian, yaitu limbah B3 padat dan cair :
1. Limbah B3 Padat adalah limbah padat yang mengandung bahan
berbahaya dan/atau beracun, yaitu :
Limbah padat medis adalah limbah padat yang terdiri dari limbah
infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi,
limbah sitotoksik, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah
container bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat
yang tinggi.
i.

ii.
iii.

iv.

v.
vi.

LIMBAH INFEKSIUS adalah limbah yang terinfeksi organisme


pathogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan
organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk
menularkan penyakit pada manusia rentan.
LIMBAH PATOLOGI adalah limbah yang terdiri dari jaringan,
organ / bagian tubuh, fetus manusia dan bangkai binatang.
LIMBAH BENDA TAJAM adalah limbah benda-benda yang
meliputi jarum, jarum hipodermik, pisau bedah, pisau, peralatan
gergaji operasi, pecahan gelas, dan paku yang dapat
menyebabkan luka tertusuk atau terluka.
LIMBAH FARMASI adalah limbah yang meliputi produk
farmasi yang kadaluarsa, tidak digunakan, tertumpah, atau
terkontaminasi. Antara lain : botol, kardus mengandung residu,
sarung tangan, masker, pipet dan ampul obat.
LIMBAH KIMIAWI adalah limbah bahan kimia selain obat
yang termasuk dalam golongan Bahan Beracun dan Berbahaya
(B3) seperti batu baterai, aki bekas dan kemasan B3.
Limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.

Untuk secara lebih jelasnya pengelompokan limbah B3 padat dapat


dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar Alur Limbah Padat B3

LIMBAH PADAT B3
Limbah Infeksius :
Bahan / Alat Disposible yang
terkena cairan tubuh.
Limbah benda tajam :
Jarum, pecahan kaca, benda
lain yang dapat merobek
jaringan kulit
Limbah Patologi :
Jaringan dan organ/bagian
tubuh serta bangkai binatang

Limbah Farmasi :
Obat kadalurasa, obat sisa,
bahan yang terkontaminasi
dengan produk farmasi.
Limbah Kimia :
B3 yang telah kadalurasa,
tercecer dan bahan yang
terkontaminasi B3.
Cat *:
Limbah yang mengandung
logam berat (mis : mercury)
disimpan
terpisah
dan
disampaikan langsung ke
unit sanitasi dan tidak
dibakar
di
insinerator
pengolah limbah B3 (medis)
Pengolah limbah B3
(Medis) yang telah berizin

Autoclave

Limbah Infeksius :
Specimen
mikrobiologi

Limbah Kimia B3 yang


mempunyai Nilai Jual :
Limbah baterai, film radiologi

Pemanfaat Limbah B3 yang


telah berizin

2. Limbah B3 cair adalah limbah sisa usaha dan/atau kegiatan yang


mengandung bahan beracun dan berbahaya dalam bentuk cair, yaitu :
a. Limbah developer dan limbah fixer hasil cuci cetak film radiologi

b. Aki bekas.
3. Hal yang perlu diperhatikan sebelum membuang B3 cair, yaitu :
a. Menggunakan kemasan yang lebih kecil untuk bahan-bahan yang
jarang digunakan untuk mengurangi resiko kadaluarsa.
b. Selalu mengosongkan kemasan/memakai seluruh B3 dari kemasan
sehingga mengurangi resiko terlepasnya B3 tersebut ke lingkungan.
4. Pemisahan Penempatan Limbah B3 Cair.
Limbah B3 cair harus dikumpulkan dalam container yang berbeda,
berdasarkan sifat bahan kimia yang dibuang, kategori minimal yang
dapat diikuti adalah :
a. Pelarut organic bebas halogen dan bahan organic dalam larutan,
b. Pelarut organic mengandung halogen dan bahan organic dalam
larutan,
c. Residu padat bahan kimia organic
d. Larutan garam : stabilkan isi container agar PH mencapai range 6-8
e. Residu bahan inorganic beracun dan garam logam berat dan
larutannya.
f.

Bahan mudah menyala dan beracun

g. Merkuri dan sisa merkuri inorganic.


h. Residu garam logam, setiap logam dikumpulkan terpisah,
i.

Padatan inorganic.

j.

Pisahkan pegumpulan limbah gelas, logam dan plastic.

Perlu diingat, sebelum pencampuran limbah yang berkategori sama,


diharuskan melihat MSDS untuk melihat kesaling-sesuaian bahan dan
untuk meyakinkan antara bahan satu dengan lainnya tidak saling
bereaksi.
5. Distribusi B3
Pendistribusian B3 dari gudang logistik farmasi dan atau umum ke unit
Radiologi dengan memperhatikan hal berikut :
a. Alat bantu angkut (trolley) harus kuat, stabil dan tidak terbuat dari
bahan yang dapat bereaksi dengan B3/Hazmat yang diangkut apabila
terjadi kebocoran, tumpahan atau ceceran.
b. Apabila akan mengangkut lebih dari satu B3/Hazmat, penyimpanan
didalam trolleynya harus disusun sesuai dengan kesalingsesuaian dan
pemisahannya, apabila tidak memungkinkan, maka pendistribusian
dilakukan perjenis B3/Hazmat.
c. Penggunaan APD sesuai dengan B3/Hazmat yang diangkut.

6. Pengelolaan limbah B3
Pengelolaan limbah B3 dapat dilakukan sendiri atau dilimpahkan pada
pihak ke-3. Persyaratan pengelola limbah B3 adalah mempunyai izin
pengelolaan limbah tersebut secara spesifik dari Kementerian Negara
Lingkungan Hidup. Hal ini menandakan bahwa pengelolaan limbah ini
telah layak dan tidak mencemari lingkungan.

Gambar Alur Limbah Cair B3


Pengolah limbah B3 yang telah
berizin

Limbah Cair B3 :
Limbah reagen lab B3
Reagen lab B3 kadaluarsa
Developer

Pemanfaat limbah B3 yang


telah berizin

Limbah Cair B3 yang


mempunyai nilai jual*:
Minyak pelumas bekas
Air aki bekas
Fixer

LIMBAH CAIR B3

Keterangan :
* Apabila pemanfaat limbah B3 tidak mempunyai izin memanfaatkan limbah tersebut
dari Kementerian Negara Lingkunga Hidup, maka limbah tersebut diserahkan kepada
pengolah limbah B3 yang telah berizin.

29

BAB 7
MONITORING MUTU, EVALUASI & CONTINUOUS IMPROVEMENT
7.1. MONITORING MUTU
Data Monitoring
Monitoring dilakukan untuk memantau performa dan mutu pelayanan Radiologi. Untuk itu,
maka ditetapkan beberapa indikator baik klinis maupun manajerial sebagai berikut :
Input

Proses

Output

Mutu

1.Prosentase
Radiografer 1. Waktu tunggu pelayanan
yang bekerja di Unit
foto thorax
Radiologi yang menguasai 2. Kejadian kegagalan
alat canggih CT 64 Slice
pelayanan rontgen
dan MRI
2.Prosentase staf administrasi
yang bekerja di Unit
Radiologi yang sudah
pelatihan
dasar-dasar
administrasi
3.Prosentase
staf
unit
Radiologi yang
bisa
berbahasa inggris dengan
baik
4.Prosentase dokter yang
memenuhi kualifikasi

1. Angka salah baca


hasil rontgen

Standar

1.50 % dari jumlah seluruh


Radiografer
2.50 % dari jumlah seluruh
staf administrasi
3.80 % dari jumlah seluruh
staf
4.100 %

1. 1 %

1. 3 jam
2. 2 %

Monitoring dilakukan dengan mengintegrasikan pengumpulan data dalam aktivitas sehari-hari,


kemudian rekapitulasi dilakukan setiap bulan.

Process Monitoring
Selain daripada pengumpulan data tersebut, monitoring dilakukan juga dengan cara melakukan
pengawasan pelaksanaan SOP di lapangan oleh petugas Unit Radiologi.

7.2. EVALUASI
Evaluasi dilakukan terhadap :

Data hasil monitoring

30

Data hasil monitoring dikumpulkan, disajikan dalam bentuk grafik, kemudian dibandingkan
dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Data dibuat trend dan dilakukan analisa setiap 3
bulan sekali.
Data dibandingkan dengan standar atau nilai yang diharapkan dari setiap indikator / parameter
yang diukur.
Analisa dilakukan untuk mencari penyebab dari penyimpangan yang ditemukan dari proses
pengumpulan data.

Hasil process monitoring


Selain melakukan analisa data indikator yang diukur, analisa juga dilakukan terhadap data
subyektif hasil pengawasan (Observasi) pelaksanaan SOP di lapangan. Adapun proses-proses
yang esensial untuk dilakukan pengawasan di lapangan oleh supervisor Radiologi dan tim
quality Radiologi :
7.2.1.1. Proses proteksi radiasi
7.2.1.2. Ketepatan waktu melaporkan hasil pemeriksaan untuk pasien gawat darurat
(AOP 6.4,ME 2)
7.2.1.3. Kualitas hasil pemeriksaan Radiologi

Insiden/Kejadian
Setiap insiden, terutama yang berhubungan dengan pelayanan pasien di Unit Radiologi, baik
yang terkait dengan profesi medik maupun keperawatan, kepuasan pelanggan, maupun
keselamatan pasien / staf dikumpulkan dan dicatat oleh SQICO (Safety Quality & Infection
Control Officer), kemudian dilakukan analisa insiden. Untuk kejadian atau insiden keselamatan
baik pasien, pengunjung maupun staf, akan dilakukan grading oleh tim K3RS atau KKP-MRK.
Bila grading biru atau hijau, maka analisa dilakukan oleh supervisor Unit Radiologi dengan
cara investigasi sederhana.
Hasil analisa tersebut berbuah pada kesimpulan / rekomendasi.

Analisa Prospektif
Apabila Unit Radiologi memiliki suatu program baru atau rencana perubahan alur proses, maka
dapat dilakukan analisa prospektif untuk alur proses yang akan dibuat / diterapkan. Analisa
prospektif dapat dilakukan dengan metode Failure Mode & Effect Analysis (FMEA)
FMEA juga dapat dilakukan untuk melakukan analisa standar profesi / clinical pathway secara
prospektif.
Data hasil monitoring yang telah dianalisis dilaporkan kepada manager penunjang medik setiap
bulannya, untuk ditindak lanjuti.

7.3. PROGRAM KENDALI MUTU


Untuk menjaga mutu pelayanan (quality assurance) unit Radiologi mengaturnya dalam
program kendali mutu..
7.4. CONTINUOUS IMPROVEMENT
Merupakan perumusan upaya-upaya perbaikan dari hasil analisis. Tujuannya adalah menyusun
rencana atau program kerja dengan tujuan untuk memperbaiki performance / mutu yang
diperoleh dari proses monitoring.
Continuous improvement selain berupa :
7.4.1.1. Penyusunan program atau rencana kerja baru.
31

7.4.1.2.
7.4.1.3.
7.4.1.4.
7.4.1.5.

Revisi prosedur dan kebijakan, maupun penyusunan prosedur / kebijakan baru.


Penambahan tenaga baik kuantitas (rekrutment) maupun kualitas (training).
Penambahan / penggantian medical equipment maupun equipment lain
Perubahan lay out ruangan Radiologi

32

BAB 8
STAFF DEVELOPMENT

Dalam upaya ikut mewujudkan visi dan misi RS Sehat Sejahtera (RS SEHAT SEJAHTERA) untuk
menjadi Rumah Sakit Bertaraf Internasional unggulan di tanah air, maka unit Radiologi unit
menyusun beberapa program untuk rencana pengembangan pelayanan Radiologi RS SEHAT
SEJAHTERA.
Sumber daya manusia (SDM) merupakan asset yang paling berharga dalam suatu unit pelayanan
yang bertitik tumpu kepada jasa. Walau kelengkapan alat dan kecanggihan alat merupakan suatu
faktor yang bermakna dalam memberikan pelayanan yang professional, namun perkembangan di
bidang alat / equipment tersebut juga menuntut pengembangan SDM itu sendiri
Pengembangan SDM di unit Radiologi harus meliputi beberapa aspek, yang mana aspek pertama dan
yang terpenting adalah masalah sikap atau attitude, kemudian diikuti pengetahuan dan ketrampilan
(knowledge and skill). Oleh karena itu, program pengembangan SDM di unit Radiologi selalu
memiliki sasaran yang mencakup pencapaian yang lebih di ketiga bidang tersebut.
Unit Radiologi RS SEHAT SEJAHTERA akan terus meningkatkan mutu pelayanan yaitu dengan
selalu mengikuti pengembangan ilmu kepustakaan, seminar dan kongres-kongres sehingga dapat
melakukan riset demi perbaikan di unit maupun di masyarakat.
Seluruh aktivitas tersebut dikoordinir dan di bawah tanggung jawab supervisor Unit Radiologi.
Untuk persiapan penyusunan standar pelayanan Radiologi akan dibentuk tim akan melakukan
rangkaian pertemuan untuk menyusun standar dan me-review peralatan terkait dengan standar yang
dibuat. Adapun tim-tim tersebut adalah sesuai dengan struktur organisasi Unit Radiologi yang
berlaku. adapun Tujuan dari Program Pengembangan Staf dan Pendidikan adalah :
1. Menciptakan SDM yang berkualitas dalam hal pelayanan Radiologi.
2. Menjadikan Unit Radiologi RS SEHAT SEJAHTERA sebagai Unit Radiologi dengan pelayanan
berstandar internasional di Jawa Barat.
3. Mengoptimalkan pelayanan-pelayanan untuk pemeriksaan non konvensional seperti CT Scan,
MRI, Bone Densitometri
4. Dokter dan staf unit Radiologi mampu memberikan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan
dan standar profesi yang berlaku secara universal.
Seluruh staf Unit Radiologi RS SEHAT SEJAHTERA dapat memberikan pelayanan kepada pasien
secara cepat ramah dan professional.
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga agar sesuai dengan kebutuhan, maka Unit Diagnostik Radiologi
juga melakukan analisa kebutuhan tenaga setiap akhir tahun. Analisanya menggunakan metoda
analisa kebutuhan tenaga yang disesuaikan dengan standar yang ditetapkan oleh Human Resource
Department RS SEHAT SEJAHTERA

33