Anda di halaman 1dari 7

HOMOMORFISME

NAMA :
DESSY NURMALASARI (10.84 202. )
LARAS AMALIA (10.84 202.024)
RIADLUSSHOLIHAH (10.84 202. 034)
RIA RIZKIA (10.84 202. 143)
SEMESTER 5/ KELAS A1
FKIP/MATEMATIKA
TUGAS STRUKTUR ALJABAR
DOSEN : YENNI, M. Pd

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG


Jl. Perintis Kemerdekaan 1/33 Cikokol - Tangerang
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..2
HOMOMORFISME...3
1. Pengertian Homomorfisme..3
2. Definisi dan Teorema Homomorfism..3
3. Latihan....15
DAFTAR PUSTAKA16

HOMOMORFISME
1. Pengertian Homomorfisme
Homomorfisme merupakan struktur peta yang menghubungkan dua struktur aljabar.
Setiap homomorfisme pasti dapat ditentukan kanelnya, dan kanel pasti subgrup normal, sehingga
selalu dapat dibentuk grup faktor, selanjutnya akan dibentuk pengkaitan baru dari domain
homomorfisma ke grup faktor yang dibentuknya, sehingga terbentuklah homomorfisme baru
yang disebut homomorfisma natural.
Dalam mempelajari sistem, perlu juga mempelajari tentang suatu fungsi yang
mengawetkan operasi aljabar. Sebagai contoh, dalam aljabar linier dipelajari tentang alih ragam
linier ( linier transformation ). Fungsi ini T : V W mengawetkan penjumlahan dan pergandaan
skalar.

2. Definisi dan Teorema Homomorfisme


Definisi :
Diketahui pemetaan/fungsi f : A B. Fungsi f dikatakan surjektif jika dan hanya jika
untuk setiap y B terdapat x A sehingga y = f(x).
Contoh :
Diketahui fungsi f : R R dengan f(x) = x. Fungsi f merupakan fungsi yang surjektif.
Sedangkan fungsi f : R R dengan f(x) = x2 bukan fungsi surjektif karena -2 R tetapi tidak
ada x R sehingga f(x) = x2 = -2.
Definisi :
Diketahui pemetaan/fungsi f : A B. Fungsi f dikatakan injektif jika dan hanya jika
untuk setiap x, y A dengan f(x) = f(y) berlaku x = y.
Contoh :
Diketahui fungsi f : R R dengan f(x) = x3. Fungsi f merupakan fungsi yang injektif
karena untuk setiap x, y R dengan f(x) = f(y) maka x3 = y3 sehingga berlaku x= y.
Sedangkan fungsi f : R R dengan f(x) = x2 bukan fungsi injektif karena ada 2 , 2 R dan -2 2 tetapi f(-2) = (-2)2 = 4 = 22 = f(2).
Definisi :
Diketahui
pemetaan/fungsi f : A B. Fungsi f dikatakan
bijektif
jika f injektif
danf surjektif.
Contoh :
1. Fungsi f : R R dengan f(x) = x merupakan fungsi bijektif.
2. Fungsi f : R R dengan f(x) = x2 merupakan bukan fungsi bijektif karena f tidak injektif.
3. Fungsi f : R R dengan f(x) = 2 x + 3 merupakan fungsi bijektif.
4. Fungsi f : R R dengan f(x) = x3 merupakan fungsi bijektif.
5. Fungsi f : R R+ dengan f(x) = ex merupakan fungsi bijektif.
Definisi :
Misalkan < G, * > dan < H, .> grup. Pemetaan f : G H dinamakan homomorfisma grup
jika f mengawetkan operasi yaitu asalkan bahwa f(x * y) = f(x) . f(y) untuk semua x, y G.
Contoh :
Misalkan < G, . > suatu grup abelian dan n bilangan bulat tertentu. Akan ditunjukkan
bahwa aturan f(x) = xn mendefinisikan suatu homomorfisma
f : G G.
Karena f(xy) = (xy)n = xn yn = f(x) f(y) maka f mengawetkan operasi.
Khususnya, : Z10* Z10* dengan (x) = x2. Hal itu berarti (1) = 1, (3) = 9, (7) = 9,
dan (9) = 1.

Determinan sebenarnya merupakan homomorfisma dari M 2x2* ke R* karena determinan


mempunyai sifat det(AB) = det(A) . det(B) yang berarti fungsi determinan mengawetkan operasi.
Dalam hal ini determinan juga merupakan fungsi yang surjektif.
Suatu
homomorfisma
grup
yang
bijektif
(surjektif
dan
injektif)
dinamakanisomorfisma grup, sedangkan isomorfisma dari grup G ke dirinya sendiri
dinamakanautomorfisma.
Dalam teori grup automorfisma dapat digunakan untuk menghubungkan grup bagian dari
suatu grup G dengan grup bagian yang lain dalam upaya menganalisis struktur dari grup G. Salah
satu bentuk automorfisma yang penting adalah sebagai berikut: untuk setiap b dalam G terdapat
suatu automorfisma fb yang membawa x ke konjugatnya yaitu b-1xb. Peta dari sebarang grup
bagian S dibawah automorfisma fb adalah b-1Sb = { b-1 s b | sdalam S }.
Dalam hal ini merupakan grup bagian dari G yang isomorfis dengan S. Berbagai grup bagian b1
Sb dinamakan konjugat dari S.
Manfaat utama dari homomorfisma f : G H yaitu dengan melihat sifat-sifat dari
petanya (image) dapat disimpulkan sifat-sifat dari grup G.
Definisi :
Peta Im(f) atau f(G) dari homomorfisma grup f : G H didefinisikan sebagai
Im(f) = f(G) = { f(g) | g G }.
Peta dari homomorfisma f sama dengan H jika f surjektif atau f pada (onto) H.
Teorema:
Jika f : G H homomorfisma grup maka Im(f) grup bagian dari H.
Bukti :
1. Akan dibuktikan bahwa f(G) tertutup.
Ambil sebarang f(a), f(b) dalam f(G). Karena f homomorfisma maka f(ab) =f(a) f(b).
Tetapi a, b dalam G sehingga ab dalam G (sebab G grup).
Jadi f(a) f(b) = f(ab) dalam G dengan ab dalam G atau f(G)tertutup.
2. Akan dibuktikan bahwa e dalam f(G)
Anggota e adalah identitas dalam H untuk membedakan dengan e dalam G. Misalkan f(b)
sebarang anggota dalam Im(f). Karena f(b) dalam Im(f) maka f(e)f(b) = f(eb) = f(b) = e f(b).
Dengan menggunakan hukum kanselasi kanan didapat f(e) = e.
3. Akan dibuktikan f(G) mengandung invers dari anggota f(G).
Misalkan f(x) dalam f(G). Anggota f(x-1) merupakan invers dari f(x) karena f(x) f(x-1)
= f(xx-1) = f(e) = e. Dengan cara yang sama, didapat
f(x-1) f(x) = e dan f(x-1) invers (yang tunggal) dari f(x) dengan f(x-1) dalam f(G).
Teorema :
Misalkan < G, . > grup dan < B,* > sistem aljabar dengan operasi *.
Maka fungsi f : G B mengawetkan operasi maka Im(f) merupakan grup terhadap operasi *
yang termuat dalam sistem B.

Bukti:
Dengan sedikit perubahan pada pembuktian Teorema VII.1 maka dapat dibuktikan sifat
ketertutupan, identitas dan hukum invers. Tinggal dibuktikan bahwa hukum assosiatif berlaku.
Misalkan f(a), f(b), f(c) dalam f(G). Pada satu sisi, ( f(a)*f(b) ) * f(c) = f(ab)*f(c)
=f((ab)c) Sedangkan pada sisi lain, f(a) * (f(b)*f(c)) = f(a)*f(bc) = f(a(bc)) Karena G grup maka
(ab) c = a (bc) sehingga kedua hasil di atas sama.
Contoh :
Dalam contoh ini diperlihatkan bagaimana
grup Zke Zn untuk
membuktikan
bahwa Zn grup.
= r dan rmerupakan sisa pembagian x oleh n.

menggunakan suatu fungsi dari


Didefinisikan f : Z Zn dengan f(x)

Definisi :
Misalkan f : G H homomorfisma grup. Inti dari f atau Ker(f) didefinisikan sebagai
anggota G yang dipetakan oleh f ke anggota identitas dari H yaitu
Ker(f) = { x G | f(x) = e }.
Contoh :
Bila didefinisikan pemetaan f : Z20* Z20* dengan f(x) = x2 maka dengan menggunakan
metode trial and error akan diperoleh
Ker(f) = { 1, 9, 11,19 }.
Teorema :
Jika f : G H homomorfisma grup maka Ker(f) grup bagian dari G.
Bukti :
1. Akan dibuktikan bahwa e dalam Ker().
Telah ditunjukkan bahwa f(e) = e. Akibatnya identitas e dalam G merupakan anggota Ker(f).
2. Akan ditunjukkan bahwa Ker() tertutup.
Misalkan x, y dalam Ker(f). Karena x, y dalam Ker(f) maka f(x) = e dan f(y) =e sehingga (xy)
= f(x) f(y) = e e= e. Oleh karena itu , xy dalam Ker(f).
3. Akan ditunjukkan bahwa Ker()mengandung invers dari anggotanya.
Misalkan x dalam Ker(f). Karena x dalam Ker(f) maka f(x) = e sehingga f(x) = e
f(x) f(x-1) = e f(x-1)
f(x x-1) = f(x-1)
f(e)= f(x-1)
e= f(x-1)
Berarti f(x-1) dalam Ker(f).
Teorema :
Misalkan f : G H homografisma grup dengan peta f(g). Sifat-sifat berikut ini berlaku :
a. Jika G berhingga maka orde dari f(G) membagi orde G.
b. Jika G siklik maka f(G) siklik.
c. Jika a G mempunyai orde berhingga maka order dari membagi order a.

d. Jika G abelian maka f(G) abelian.


Misalkan G = (a) = { ak | k Z }. Akibatnya f(G) = { f(ak) | k Z }.
Tetapi karena f(ak) = ( f(a) )k ( dengan induksi ) maka f(G) = { ( f(a) )k | k Z }. Berarti f(G)
dibangun oleh f(a) atau f(G) siklik. Order dari f(a) sama dengan order dari grup bagian siklik
( f(a) ). Tetapi pada bagian (2) dalam bukti ini terlihat bahwa fmembawa (a) pada ( f(a) ). Pada
bagian (1) dalam bukti ini juga menjelaskan bahwa order dari ( f(a) ) membagi orde (a). Dengan
kata lain, orde dari ( f(a) ) membagi orde a. Ambil sebarang f(a), f(b) dalam f(G)
dengan G abelian.
Akibatnya f(a) f(b) = f(ab) = f(ba) = f(a) f(b).
Berarti f(G) abelian.
Contoh :
Fungsi f : dengan f(x) = 8x merupakan homomorfisma 2 ke 1.
Karena f(0) = 0 dan f(5) = 0 maka
K=Ker(f) = { 0, 5 }.
Koset dari K dibawa ke anggota dari peta f yaitu 10 anggota dibawa dalam 2 ke 1 cara ke 5
anggota peta f.
{0,5}0
{1,6} 8
{2,7} 6
{3,8} 4
{4,9} 2
Teorema :
Misalkan f : G H homomorfisma grup dengan inti Ker(f) dan peta f(G).
Sifat-sifat berikut ini berlaku :
a. Fungsi f injektif jika dan hanya jika Ker(f)={ 0 }
b. Jika f injektif maka G isomorfis dengan f(G).
Contoh :
Didefinisikan pemetaan f : Z Z dengan aturan f(x) = 3x. Karena f(x+y) = 3(x+y)
= 3x+3y = f(x) + f(y) maka f homomorfisma. Penyelesaian persamaan 3x = 0 adalah x = 0
sehingga Ker(f) = { 0 } atau f injektif.
Dengan menggunakan teorema maka Z isomorfis dengan Im(f) = { 3x | x dalam Z } = (3)
yang merupakan grup bagian sejati dari Z.

Soal :
Misalkan diketahui R himpunan bilangan real dan R* = R {0}.
Didefinisikan f : R* R* dengan f(x) = x2 Buktikan f homomorfisma tetapi f tidak injektif.
Jawab :
Berdasarkan Contoh VII.4, dengan mengingat R* grup terhadap operasi perkalian
maka f homomorfisma tetapi
Ker(f) = { x R* | f(x) = x2 = 1 }
= { 1, -1 } { 1 } sehingga f tidak injektif.
Kernel Dari Homomorfisma
Definisi: misalkan f suatu homomorfisma dari grup G ke dalam f (Kf) adalah himpunan
semua x G yang dipetakan olek f ke e dimana e meupakan unsur identitas dalam G atau Kf =
{ x G f(x) e }.
Contoh:
(Z,+) yaitu grup bilangan bulat dengan operasi penjumlahan.
Pemetaan f : Z Z didefinisikan f(x)= mx untuk setiap x elemen G dan m suatu bilangan bulat,
maka f adalah suatu homomorfisma dan kernel dari (Z,+) tersebut adalah {0}.
Teorema:
Misalkan f homomorfisma dari grup G ke G dengan kernel K, maka K adalah subgrup normal
dari G.
Bukti:
Pertama akan ditunjukkan bahwa K subgrup dari G.
misakan x,y K maka f(x)=e dan f(y)=e
sehingga f(xy)= f(x) f(y)= e e= e dimana xy K (sifat tertutup).
Selanjutnya
jadi
K (sifat invers).
Untuk menunjukkan sifat normal, ambil g G dan k K maka:
diperoleh
sehingga K subgrup normal dari G.
Homomorfisme Natural
Setiap homomorfisma pasti dapat ditentukan kanelnya, dan kanel pasti subgrup normal, sehingga
selalu dapat dibentuk grup factor, selanjutnya akan dibentuk pengkaitan baru dari domain homomorfisma
ke grup factor yang dibentuknya, sehingga terbentuklah homomorfisma baru yang disebut
homomorfisma natural
Theorema :
Mislkan G suatu grup dan N adalah subgroup normal di G, di definisikan suatu pemetaan f dari G ke grup
factor G/N.
f : G G/N dimana
, untuk setiap x G. maka f adalah homomorfisma dari G yang bersifat pada.
Bukti :
Misal x,y G sebarang
Maka

Jadi, f homomorfisma
Tunjukkan pada / surjektif
Ambil sebarang y G/N
Maka
untuk suatu y G
sdemikian hinga Jadi, homomorfisma f pada
Teorema Fundamental Homomorfisma
Jika f suatu homorfisma dari grup G ke dalam grup G dengan kernel K,maka terdapat suatu
isomorfisma dari G/K ke dalam G.
Bukti :
Misalkan f fungsi dari G pada G dengan pengaitan f : G G untuk setiap x G.,dan g
fungsi G ke dalam G/K dengan pengaitan g : x Kx untuk setiap x G dan kernel dari g adalah K.
Sekarang bangun fungsi h dari G/K ke dalam G dengan pengitan h : Kx f(x) untuk
setiap x G.
Perhatikan diagram berikut
Pengaitan f.g dan h digambarkan seperti gambar berikut
Akan ditunjukkan bahwa h adalah suatu homomorfisma dan satu-satu (isomorfisma) dari G/K ke
dalam G/K.
Pertma-tama kita akan menunjukkan bahwa h merupakan pemetaan,dalam arti kita akan
menunjukkan bahwa pengaitan untuk h : Kx f(x) terdefinisi dengan baik (well defined).

3. Latihan
1. Tentukan fungsi ini homomorfisma atau bukan.
f : Z R* dengan f(k) = 2 .
f : R R dengan f(x) = x .
f : Z Z dengan f(k. 1) = k. 1.
2. Jika pada soal nomor 1 di atas homomorfisma maka tentukan peta dan intinya.
3. Jika G dan H sebarang grup dan f : G H dengan f(x) = e untuk semua x dalamG buktikan
bahwa f homomorfisma.
4. Diketahui f : R R+ dengan f(x) = 2-x. Tunjukkan bahwa f homomorfisma yang injektif dengan
uji kernel.
5. Diketahui Z3* = { 1, 2 } dan f : Z3* Z3* dengan f(x) = x2.
Apakah f homomorfisma bijektif ?