Anda di halaman 1dari 79

BAB II

KARAKTERISTIK RESERVOIR
2.1. Karakteristik Batuan Dan Fluida Reservoir
2.1.1. Batuan Reservoir
Reservoir adalah bagian kerak bumi yang mengandung minyak dan gas
bumi. Cara terdapatnya minyak bumi di bawah permukaan haruslah memenuhi
beberapa syarat, yang merupakan unsur-unsur suatu reservoir minyak bumi. Unsurunsur tersebut, yaitu :
1. Batuan reservoir, sebagai wadah yang diisi dan dijenuhi oleh minyak dan gas
bumi. Biasanya batuan reservoir berupa lapisan batuan yang berongga-rongga
ataupun berpori-pori.
2. Lapisan penutup (cap rock), yaitu suatu lapisan yang tidak permeable terdapat di
atas suatu reservoir dan penghalang minyak dan gas bumi yang akan keluar dari
reservoir.
2. Perangkap reservoir (reservoir trap), merupakan suatu unsur pembentuk yang
bentuknya sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan
bentuk konkav ke bawah dan dan menyebabkan minyak dan gas bumi berada
dibagian teratas reservoir.
2.1.1.1. Komposisi Kimia Batuan Reservoir
Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa
batupasir, batuan karbonat, dan shale atau kadang-kadang vulkanik. Masing-masing
batuan tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda, begitu pula sifat fisiknya.
Unsur atau atom-atom penyusun batuan reservoir perlu diketahui mengingat macam
dan jumlah atom-atom tersebut akan menentukan sifat-sifat mineral yang terbentuk,
baik sifat-sifat fisik maupun sifat-sifat kimiawinya.

2.1.1.1.1. Batu Pasir


Menurut Pettijohn, batupasir dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
Orthoquartzites, Graywacke, dan Arkose. Pembagian tersebut didasarkan pada jumlah
kandungan mineralnya.
a. Orthoquartzites
Orthoquartzites merupakan jenis batuan sedimen yang terbentuk dari proses
yang menghasilkan unsur silica yang tinggi, dengan tidak mengalami metaformosa
(perubahan bentuk) dan pemadatan, terutama terdiri atas mineral kwarsa (quartz) dan
mineral lainnya yang stabil. Material pengikatnya (semen) terutama terdiri atas
carbonate dan silica. Orthoquartzites merupakan jenis batuan sedimen yang relatip
bersih yaitu bebas dari kandungan shale dan clay. (Tabel II-1) menunjukkan
komposisi kimia orthoquartzites.
Tabel II-1.
Komposisi Kimia Batupasir Orthoquartzites.18)

b. Graywack
Graywacke merupakan jenis batupasir yang tersusun dari unsur-unsur
mineral yang berbutir besar, terutama kwarsa dan feldspar serta fragmen-fragmen
batuan. Material pengikatnya adalah clay dan carbonate. Secara lengkap mineralmineral penyusun graywacke terlihat pada (Tabel II-2).

Tabel II-2.
Komposisi Mineral Graywacke.18)

Komposisi graywacke tersusun dari unsur silica dengan kadar lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata batupasir, dan kebanyakan silica yang ada bercampur
dengan silikat (silicate). Secara terperinci komposisi kimia graywacke dapat dilihat
pada (Tabel II-3).

Tabel II-3.
Komposisi Kimia Graywacke.18)

b. Arkose
Arkose merupakan jenis batupasir yang biasanya tersusun dari quartz sebagai
mineral yang dominan, meskipun seringkali mineral arkose feldspar jumlahnya lebih
banyak dari quartz. Sedangkan unsur-unsur lainnya, secara berurutan sesuai
prosentasenya ditunjukkan pada (Tabel II-4). Komposisi kimia arkose ditunjukkan
pada (Tabel II-5), dimana terlihat bahwa arkose mengandung lebih sedikit silica jika

dibandingkan dengan orthoquartzites, tetapi kaya akan alumina, lime, potash, dan
soda.
Tabel II-4.
Komposisi Mineral dari Arkose (%).18)

Tabel II-5.
Komposisi Kimia dari Arkose (%).18)

2.1.1.1.2. Batuan Karbonat


Dalam hal ini yang dimaksud dengan batuan karbonat adalah limestone,
dolomite, dan yang bersifat diantara keduanya. Limestone adalah istilah yang biasa
dipakai untuk kelompok batuan yang mengandung paling sedikit 80% calcium
carbonate atau magnesium. Istilah limestone juga dipakai untuk batuan yang
mempunyai fraksi carbonate melebihi unsur non-carbonate-nya. Pada

limestone

fraksi disusun terutama oleh mineral calcite, sedangkan pada dolomite mineral
penyusun utamanya adalah mineral dolomite. (Tabel II-6) menunjukkan komposisi
kimia limestone secara lengkap.
Tabel II-6.
Komposisi Kimia Limestone.18)

Dolomite adalah jenis batuan yang merupakan variasi dari limestone yang
mengandung unsur carbonate lebih besar dari 50%, sedangkan untuk batuan-batuan
yang mempunyai komposisi pertengahan antara limestone dan dolomite akan
mempunyai nama yang bermacam-macam tergantung dari unsur yang dikandungnya.
Untuk batuan yang unsur calcite-nya melebihi dolomite disebut dolomite limestone,
dan yang unsur dolomite-nya melebihi calcite disebut dengan limy, calcitic,
calciferous atau calcitic dolomite. Komposisi kimia dolomite pada dasarnya hampir
mirip dengan limestone, kecuali unsur MgO merupakan unsur yang penting dan
jumlahnya cukup besar. (Tabel II-7) menunjukkan komposisi kimia unsur penyusun
dari dolomite.
Tabel II-7.
Komposisi Kimia Dolomite.18)

2.1.1.1.3. Shale
Pada umumnya unsur penyusun shale ini terdiri dari lebih kurang 58%
silicon dioxide (SiO2), 15% alumunium oxide (Al2O3), 6% iron oxide (FeO) dan
Fe2O3, 2% magnesium oxide (MgO), 3% calcium oxide (CaO), 3% potasium oxide
(K2O), 1% sodium oxide (Na2O), dan 5% air (H2O). Sisanya adalah metal oxide dan
anion seperti terlihat pada (Tabel II-8).
Tabel II-8.
Komposisi Kimia Shale.18)

2.1.1.2.

Sifat-Sifat Fisik Batuan Reservoir


Pada dasarnya semua batuan dapat menjadi batuan reservoir asalkan

mempunyai porositas dan permeabilitas yang cukup, namun pada kenyataannya


hanya batuan sedimen yang banyak dijumpai sebagai batuan reservoir, khususnya
reservoir minyak. Oleh karena itu dalam penilaian batuan reservoir selanjutnya akan

banyak berhubungan dengan sifat-sifat fisik batuan sedimen, terutama yang porous
dan permeable.
2.1.1.2.1. Porositas
Porositas () didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume ruang
pori-pori terhadap volume batuan total (bulk volume). Besar-kecilnya porositas suatu
batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Secara matematis
porositas dapat dinyatakan sebagai :

Vb Vs V p

Vb
Vb

...........(2-1)

dimana :
Vb = volume batuan total (bulk volume).
Vs

= volume padatan batuan total (volume grain).

Vp = volume ruang pori-pori batuan.


Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Porositas absolut, adalah persen volume pori-pori total terhadap volume batuan
total (bulk volume).

Volume pori total


100%
bulk volume

.. (2-

2)
2. Porositas efektif, adalah persen volume pori-pori yang saling berhubungan
terhadap volume batuan total (bulk volume).

Volume pori yang berhubunga n


100%
bulk volume

... (2-

3)
Untuk selanjutnya porositas efektif digunakan dalam perhitungan karena dianggap
sebagai fraksi volume yang produktif.
Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan sedimen
diendapkan.
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan
sedimen terendapkan.
Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer adalah
batuan konglomerat, batupasir, dan batu gamping. Porositas sekunder dapat
diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses
pelarutan batuan.
2. Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban, seperti : lipatan,
sesar, atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi atau ditentukan secara
kuantitatip karena bentuknya tidak teratur.
3. Dolomitisasi, dalam proses ini batugamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi
dolomite (CaMg(CO3)2) atau menurut reaksi kimia :
2CaCO3 + MgCl2 CaMg(CO3)2 + CaCl2
Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas yang lebih
besar dari pada batugampingnya sendiri.
Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : ukuran
butir (semakin baik distribusinya, semakin baik porositasnya), susunan butir (susunan
butir berbentuk kubus mempunyai porositas lebih baik dibandingkan bentuk
rhombohedral), kompaksi, dan sementasi.
2.1.1.2.2. Wettability
Apabila dua fluida bersinggungan dengan benda padat, maka salah satu
fluida akan bersifat membasahi permukaan benda padat tersebut, hal ini disebabkan
adanya gaya adhesi. Dalam sistem minyak-air benda padat (Gambar 2.1), gaya adhesi
AT yang menimbulkan sifat air membasahi benda padat adalah :

AT = so - sw = wo. cos wo

.. (2-4)

dimana :
so = tegangan permukaan minyak-benda padat, dyne/cm.
sw = tegangan permukaan air-benda padat, dyne/cm.
wo = tegangan permukaan minyak-air, dyne/cm.
wo = sudut kontak minyak-air.

Gambar 2.1.
Kesetimbangan Gaya-Gaya Pada Batas Air-Minyak-Padatan.2)
Suatu cairan dikatakan membasahi zat padat jika tegangan adhesinya positip
( < 90), yang berarti batuan bersifat water wet. Sedangkan bila air tidak membasahi
zat padat maka tegangan adhesinya negatip ( > 90), berarti batuan bersifat oil wet.
Pada umumnya reservoir bersifat water wet, sehingga air cenderung untuk
melekat pada permukaan batuan sedangkan minyak akan terletak diantara fasa air.
Jadi minyak tidak mempunyai gaya tarik-menarik dengan batuan dan akan lebih
mudah mengalir.
Distribusi cairan dalam sistem poripori batuan tergantung pada kebasahan,
Distribusi fluida tersebut ditunjukkan pada (Gambar 2.2). Distribusi pendulair ring

adalah keadaan dimana fasa yang membasahi tidak kontinyu dan fasa yang tidak
membasahi ada dalam kontak dengan beberapa permukaan butiran batuan. Sedangkan
distribusi funiculair ring adalah keadaan dimana fasa yang membasahi kontinyu dan
secara mutlak terdapat pada permukaan butiran.

Gambar 2.2.
Distribusi Ideal Fasa Fluida "Wetting" Dan "Non Wetting"
Untuk Kontak Antar Butir Butir Batuan Yang Bulat. 2)
a) Distribusi "Pendulair Ring"
b) Distribusi "Funiculair Ring"
2.1.1.2.3. Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada
antara permukaan dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas)
sebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan mereka.
Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida "non-wetting
fasa" (Pnw) dengan fluida "Wetting fasa" (Pw) atau :
Pc = Pnw - Pw

... (2-5)

Tekanan permukaan fluida yang lebih rendah terjadi pada sisi pertemuan
permukaan fluida immiscible yang cembung. Di reservoir biasanya air sebagai fasa
yang membasahi (wetting fasa), sedangkan minyak dan gas sebagai non-wetting fasa
atau tidak membasahi.

Tekanan kapiler dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori dan
macam fluidanya. Secara kuantitatif dapat dinyatakan dalam hubungan sebagai
berikut
Pc

2. . cos
. g. h
r

..

(2-6)
dimana :
Pc

tekanan kapiler.

= tegangan permukaan antara dua fluida.

cos = sudut kontak permukaan antara dua fluida.


r

= jari-jari lengkung pori-pori.

= perbedaan densitas dua fluida.

= percepatan gravitasi.

= tinggi kolom.

Dari Persamaan (2-6) dapat dilihat bahwa tekanan kapiler berhubungan


dengan ketinggian di atas permukaan air bebas (oil-water contact), sehingga data
tekanan kapiler dapat dinyatakan menjadi plot antara h versus saturasi air (S w), seperti
pada (Gambar 2.3).
Perubahan ukuran pori-pori dan densitas fluida akan mempengaruhi bentuk
kurva tekanan kapiler dan ketebalan zona transisi.
Dari Persamaan (2-6) ditunjukkan bahwa h akan bertambah jika perbedaan
densitas fluida berkurang, sementara faktor lainnya tetap. Hal ini berarti bahwa
reservoir gas yang terdapat kontak gas-air, perbedaan densitas fluidanya bertambah
besar sehingga akan mempunyai zona transisi minimum. Demikian juga untuk
reservoir minyak yang mempunyai API gravity rendah maka kontak minyak-air akan
mempunyai zona transisi yang panjang.

Ukuran pori-pori batuan reservoir sering dihubungkan dengan besaran


permeabilitas yang besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan ketebalan
zona transisinya lebih tipis dari pada reservoir dengan permeabilitas yang rendah.

Gambar 2.3.
Kurva Tekanan Kapiler.17)
2.1.1.2.4. Saturasi
Dalam batuan reservoir minyak umumnya terdapat lebih dari satu macam
fluida, kemungkinan terdapat air, minyak, dan gas yang tersebar ke seluruh bagian
reservoir.
Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara volume
pori-pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan volume pori-pori
total pada suatu batuan berpori.
Saturasi minyak (So) adalah :
So

volume pori pori yang diisi oleh min yak


volume pori pori total

(2-7)
Saturasi air (Sw) adalah :

.....

Sw

volume pori pori yang diisi air


volume pori pori total

... (2-

8)
Saturasi gas (Sg) adalah :
Sg

volume pori pori yang diisi oleh gas


volume pori pori total

..... (2-

9)
Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :
Sg + So + Sw = 1

..... (2-10)

Jika diisi oleh minyak dan air saja maka :


So + Sw = 1

. (2-11)

Gambar 2.4.
Variasi Pc Terhadap Sw.1)
a) Untuk Sistem Batuan Yang Sama Dengan
Fluida Yang Berbeda.
b) Untuk Sistem Fluida Yang Sama Dengan
Batuan Yang Berbeda.
Terdapat tiga faktor yang penting mengenai saturasi fluida, yaitu :

a. Saturasi fluida akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dalam reservoir,
saturasi air cenderung untuk lebih besar dalam bagian batuan yang kurang porous.
Bagian struktur reservoir yang lebih rendah relatip akan mempunyai Sw yang
tinggi dan Sg yang relatip rendah. Demikian juga untuk bagian atas dari struktur
reservoir berlaku sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan densitas
dari masing-masing fluida ditunjukkan pada gambar 2.4.
b. Saturasi fluida akan bervariasi dengan kumulatip produksi minyak. Jika minyak
diproduksikan maka tempatnya di reservoir akan digantikan oleh air dan atau gas
bebas, sehingga pada lapangan yang memproduksikan minyak, saturasi fluida
berubah secara kontinyu.
c. Saturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam istilah pori-pori yang
diisi oleh hidrokarbon. Jika volume contoh batuan adalah V, ruang pori-porinya
adalah .V, maka ruang pori-pori yang diisi oleh hidrokarbon adalah :
So..V + Sg..V = (1-Sw)..V

. (2-12)

2.1.1.2.5. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu ukuran yang menunjukkan
kemampuan batuan berpori untuk meluluskan suatu fluida. Perhitungan permeabilitas
pertama kali dikembangkan oleh Henry Darcy (1865), yang memberikan hubungan
empiris dalam bentuk diferensial dengan persamaan sebagai berikut :
v

q
k P

A
L

.... (2-13)

dimana :
v

= kecepatan aliran, cm/sec.

= laju aliran fluida, cc/sec.

= luas penampang media berpori, cm2.

= permeabilitas, darcy.

= viskositas fluida, cp.

P/L

= gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm.

Tanda negatif pada Persamaan (2-13) menunjukkan bahwa bila terdapat


penambahan tekanan dalam satu arah, maka akan mempunyai arah aliran yang
berlawanan dengan arah penambahan tekanan tersebut.
Pemakaian persamaan Darcy mempunyai beberapa asumsi, yaitu :
aliran mantap (steady state)
fluida yang mengalir satu fasa dan incompressible
viskositas fluida yang mengalir konstan
tidak terjadi reaksi antara batuan dengan fluidanya
kondisi aliran isotermal
formasi homogen dan arah alirannya horisontal.
Pori-pori batuan reservoir umumnya berisi lebih dari satu macam fluida,
sehingga permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut :
1. Permeabilitas absolut, adalah permeabilitas dimana fluida yang mengalir
didalamnya adalah satu fasa dan harganya tidak tergantung dari macam fluida
yang mengalir.
2. Permeabilitas efektif, adalah permeabilitas dimana fluida yang mengalir
didalamnya lebih dari satu macam, misalnya minyak dan air, air dan gas, gas dan
minyak, atau ketiganya mengalir bersama-sama.
3. Permeabilitas relatif, adalah perbandingan permeabilitas efektif batuan terhadap
permeabilitas absolut batuan.

Gambar 2.5.
Diagram Percobaan Pengukuran Permeabilitas.2)
Dasar penentuan permeabilitas oleh Darcy ditunjukkan oleh gambar 2.5.
Apabila Persamaan (2-13) diintegralkan dengan batas tekanan P1 sampai P2 dan batas
panjang nol sampai L serta kecepatan aliran sama dengan laju aliran volumetrik per
satuan luas penampang, maka :
k

q L
A P1 P2

......(2-14)

dimana :
k

= permeabilitas absolut, darcy.

= panjang batuan, cm.

P1, P2 = tekanan pada titik 1 dan 2, atm.


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pada kenyataannya jarang sekali
ditemukan reservoir yang didalamnya hanya terdapat satu macam fluida, tetapi
kemungkinan terdiri dari dua atau tiga macam fluida. Berdasarkan hal tersebut, maka
dikembangkan konsep permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif. Permeabilitas
efektif untuk masing-masing fluida dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan-persamaan sebagai berikut :

Ko

qo o L
qg g L
qw w L
, Kw
dan K g
......(2A P1 P2
A P1 P2
A P1 P2

15)
Sedangkan permeabilitas relatif untuk masing-masing fluida adalah :
K ro

Kg
K
Ko
, K rw w dan Krg
k
k
k

2.1.1.2.6. Kompresibilitas Batuan


Menurut Geerstma (1957) terdapat tiga konsep kompressibilitas batuan,
antara lain :
a. Kompressibilitas matriks batuan, yaitu fraksi perubahan volume material padatan
(grains) terhadap satuan perubahan tekanan.
b. Kompressibilitas bulk batuan, yaitu fraksi perubahan volume bulk batuan
terhadap satuan perubahan tekanan.
c. Kompressibilitas pori-pori batuan, yaitu fraksi perubahan volume pori-pori batuan
terhadap satuan perubahan tekanan.
Diantara konsep diatas, kompressibilitas poripori batuan dianggap yang paling
penting dalam teknik reservoir khususnya.
Batuan yang berada pada kedalaman tertentu akan mengalami dua macam
tekanan, antara lain :
1. Tekanan hidrostatik fluida yang terkandung dalam pori-pori batuan
2. Tekanan-luar (external stress) yang disebabkan oleh berat batuan yang ada
diatasnya (overburden pressure).
Pengosongan

fluida

dari

ruang

pori-pori

batuan

reservoir

akan

mengakibatkan perubahan tekanan-dalam dari batuan, sehingga resultan tekanan pada


batuan akan mengalami perubahan pula. Adanya perubahan tekanan ini akan
mengakibatkan perubahan pada butir-butir batuan, pori-pori dan volume total (bulk)
batuan reservoir. Untuk padatan (grains) akan mengalami perubahan yang serupa
apabila mendapat tekanan hidrostatik fluida yang dikandungnya.
Perubahan

bentuk

volume

bulk

batuan

dapat

dinyatakan

sebagai

kompressibilitas Cr atau :
Cr

1 dVr
.
Vr dP

........(2-16)

Sedangkan perubahan bentuk volume pori-pori batuan dapat dinyatakan


sebagai kompressibilitas Cp atau :

Cp

1 dV p
.
V p dP *

... (2-17)

dimana :
Vr

volume padatan batuan (grains).

Vp = volume pori-pori batuan.


P

= tekanan hidrostatik fluida di dalam batuan.

P*

= tekanan luar (tekanan overburden).

2.1.2. Fluida Reservoir


Fluida reservoir yang terdapat dalam ruang pori-pori batuan reservoir pada
tekanan dan temperatur tertentu, secara alamiah merupakan campuran yang sangat
kompleks dalam susunan atau komposisi kimianya. Sifat-sifat dari fluida hidrokarbon
perlu dipelajari untuk memperkirakan cadangan akumulasi hidrokarbon, menentukan
laju aliran minyak atau gas dari reservoir menuju dasar sumur, mengontrol gerakan
fluida dalam reservoir dan lain-lain.
Fluida reservoir minyak dapat berupa hidrokarbon dan air (air formasi).
Hidrokarbon terbentuk di alam, dapat berupa gas, zat cair ataupun zat padat.
Sedangkan air formasi merupakan air yang dijumpai bersama-sama dengan endapan
minyak.
2.1.2.1.

Komposisi Kimia Fluida Reservoir


Fluida reservoir terdiri dari hidrokarbon dan air formasi. Dalam

pembahasannya akan dibicarakan mengenai sifat-sifat kimia dan fisika kedua jenis
fluida reservoir tersebut.
2.1.2.1.1. Hidrokarbon
Hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri dari atom karbon dan hidrogen.
Senyawa karbon dan hidrogen mempunyai banyak variasi yang terdiri dari
hidrokarbon rantai terbuka, yang meliputi hidrokarbon jenuh dan tak jenuh serta
hidrokarbon rantai tertutup (susunan cincin) meliputi hidrokarbon cyclic aliphatic dan

hidrokarbon aromatic. Keluarga hidrokarbon dikenal sebagai seri homolog, anggota


dari seri homolog ini mempunyai struktur kimia dan sifat-sifat fisiknya dapat
diketahui dari hubungan dengan anggota deret lain yang sifat fisiknya sudah di
ketahui Sedangkan pembagian tingkat dari seri homolog tersebut didasarkan pada
jumlah atom karbon pada struktur kimianya.

A. Golongan Hidrokarbon Jenuh


Seri homolog dari hidrokarbon ini mempunyai rumus umum CnH2n+1 dan
mempunyai ciri dimana atom-atom karbon diatur menurut rantai terbuka dan masingmasing atom dihubungkan oleh ikatan tunggal, dimana tiap-tiap valensi dari satu
atom C berhubungan dengan atom C disebelahnya. Seri homolog hidrokarbon ini
biasanya dikenal dengan nama alkana (Inggris : alkene) dimana penamaan anggota
seri homolog ini disesuaikan dengan jumlah atom karbon dalam sebutan Yunani dan
diakhiri dengan akhiran "ana" (Inggris : "ane"). Senyawa dari golongan ini (alkana)
disebut juga sebagai hidrokarbon golongan paraffin. Tabel II-9 menunjukkan contohcontoh nama-nama anggota alkana sesuai dengan jumlah atom karbonnya.
Tabel II-9.
Alkana (CnH2n+2).16)
No. Karbon, n

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
20
30

Methane
Ethane
Propane
Butane
Pentane
Hexane
Heptane
Octane
Nonane
Decane
Eicosane
Triacontane

Pada tekanan dan temperatur normal empat alkana yang pertama merupakan
gas. Sebagai hasil meningkatnya titik didih (boiling point) karena penambahan
jumlah atom karbon maka mulai pentana (C5H12) sampai hepta dekana (C17H36)
merupakan cairan. Sedangkan alkana yang mengandung 18 atom karbon atau lebih
merupakan padatan (solid). Alkana dengan rantai bercabang memperlihatkan gradasi
sifat-sifat fisik yang berlainan dengan n-alkana, dimana untuk rantai bercabang
memperlihatkan sifat-sifat fisik yang kurang beraturan.
Perubahan dalam struktur menyebabkan perubahan didalam gaya antar
molekul (inter molekuler force) yang menghasilkan perbedaan pada titik lebur dan
titik didih diantara isomer-isomer alkana.
Seri n-alkana yang diberikan pada Tabel II-10 memperlihatkan gradasi sifat-sifat fisik
yang tidak begitu tajam.

Tabel II-10.
Sifat Sifat Fisik n-Alkana.16)
N

Name

Boiling Point
o
F

Melting Point
o
F

Specific Gravity
60o/60 oF

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
15
20
30

Methane
Ethane
Propane
Butane
Pentane
Hexane
Heptane
Octane
Nonane
Decane
Undecane
Dodecane
Pentadecane
Eicosane
Triacontane

-258.7
-127.5
-43.7
31.1
96.9
155.7
209.2
258.2
303.4
345.5
384.6
421.3
519.1
648.9
835.5

-296.6
-297.9
-305.8
-217.0
-201.5
-139.6
-131.1
-70.2
-64.3
-21.4
-15
14
50
99
151

0.508
0.584
0.631
0.664
0.688
0.707
0.722
0.734
0.740
0.749
0.769

B. Golongan Hidrokarbon Tak Jenuh

Hidrokarbon ada yang mempunyai ikatan rangkap dua ataupun rangkap tiga
(triple), yang digunakan untuk mengikat dua atom C yang berdekatan. Oleh karena
itu, valensi yang semula tersedia untuk mengikat atom hidrokarbon telah digunakan
untuk mengikat atom C yang berdekatan, dengan cara ikatan rangkap dua atau
rangkap tiga yang mengikat dua atom C, maka hidrokarbon seperti ini disebut
hidrokarbon tak jenuh atau disebut juga sebagai keluarga alkena (Inggris : alkene)
dengan rumus umum CnH2n.
Dalam keadaan yang menguntungkan, hidrokarbon tak jenuh dapat menjadi
jenuh dengan penambahan atom-atom hidrokarbon pada rantai ikatan tersebut.
Tabel II-11.
Sifat-Sifat Fisik Alkena.16)

Name
Ethylene
Propylene
1-butene
1-pentene
1-hexene
1-heptene
1-octene
1-nonene
1-decene

Formula
CH2 = CH2
CH2 = CHCH3
CH2 = CH CH2CH3
CH2 = CH(CH2)2CH3
CH2 = CH(CH2)3CH3
CH2 = CH(CH2)4CH3
CH2 = CH(CH2)5CH3
CH2 = CH(CH2)6CH3
CH2 = CH(CH2)7CH3

Boiling
Point,
o
F

Melting
Point,
o
F

-154.6
-53.9
20.7
86
146
199
252
295
340

-272.5
-301.4
-301.6
-265.4
-216
-182
-155

Specific
Gravity,
60o/60 oF
0.601
0.646
0.675
0.698
0.716
0.731
0.743

Secara garis besar, sifat-sifat fisik alkena sama seperti sifat-sifat fisik alkana,
sebagai bahan perbandingan sifat-sifat fisik alkena, dapat dilihat pada (Tabel II-11).
Sebagaimana pada alkana, maka untuk alkena terjadi juga peningkatan titik didih
dengan bertambahnya kandungan atom karbon, dimana peningkatannya mendekati
20 - 30 oC untuk setiap penambahan atom karbon.
Secara kimiawi, karena alkena merupakan ikatan rangkap, maka alkena lebih
reaktip bila dibandingkan dengan alkana. Senyawa hidrokarbon tak jenuh yang telah

dijelaskan diatas hanya mempunyai satu ikatan rangkap yang lebih dikenal dengan
deretan olefin, tetapi ada juga diantara senyawa-senyawa hidrokarbon yang
mengandung dua atau lebih ikatan ganda (double bond), seperti alkadiena, alkatriena,
serta alkatetraena.
Selain ikatan ganda, senyawa hidrokarbon tak jenuh ada juga yang
mempunyai ikatan rangkap tiga (triple bond) yang dikenal sebagai deretan asetilen.
Rumus umum deretan asetilen adalah CnH2n-2, dimana dalam tiap molekul terdapat
ikatan rangkap tiga yang mengikat dua atom karbon yang berdekatan. Pemberian
nama untuk deret ini sama dengan untuk deret alkena dengan memberi akhiran "una"
(Inggris : "yne").
Sifat-sifat fisik deret asetilen ini hampir sama dengan alkana dan alkena,
sedang sifat-sifat kimianya hampir sama dengan alkena, dimana keduanya lebih
reaktip dari alkana.
C. Golongan Naftena Aromat yang Polisiklis
Senyawa golongan ini merupakan senyawa hidrokarbon, dimana susunan
atom karbonnya berbentuk cincin. Golongan ini termasuk hidrokarbon jenuh tetapi
rantai karbonnya merupakan rantai tertutup. Yang umum dari golongan ini adalah
sikloalkana atau dikenal juga sebagai naftena, sikloparafin atau hidrokarbon alisiklik.
Disebut sikloparafin karena sifat-sifatnya mirip dengan parafin sebagaimana terlihat
pada (Tabel II-12). Apabila dalam keadaan tidak mengikat gugus lain, maka rumus
golongan naftena atau sikloparafin ini adalah CnH2n. Rumus ini sama dengan rumus
untuk seri alkena, tetapi sifat fisik keduanya jauh berbeda karena strukturnya yang
sangat berbeda.
Tabel II-12.
Sifat-Sifat Fisik Hidrokarbon Naftena Aromat Yang Polisiklis.16)
Name

Boiling
Point,
o
F

Melting
Point,
o
F

Spesific
Gravity
60o/60 oF

Cyclopropane
Cyclobutane
Cyclopentane
Cyclohexane
Cycloheptane
Cyclooctane
Metylcyclopentane
Cis-1, 2-dimethylcyclopentane
Trans-1, 2-dimethylcyclopentane
Methylcyclohexane
Cyclopentene
1, 3-cyclopentadiene
Cyclohexene
1,3-cyclohexadiene
1,4-cyclohexadiene

-27
55
121
177
244
300
161
210
198
214
115
108
181
177
189

-197
-112
-137
44
10
57
-224
-80
-184
-196
-135
-121
-155
-144
-56

0.750
0.783
0.810
0.830
0.754
0.772
0.750
0.774
0.774
0.798
0.810
0.840
0.847

D. Golongan Aromatik
Pada deret ini hanya terdiri dari benzena dan senyawa-senyawa hidrokarbon
lainnya yang mengandung benzena. Rumus umum dari golongan ini adalah C nH2n-6,
dimana cincin benzena merupakan bentuk segi enam dengan tiga ikatan tunggal dan
tiga ikatan rangkap dua secara berselang-seling.
Adanya tiga ikatan rangkap pada cincin benzena seolah-olah memberi
petunjuk bahwa golongan ini sangat reaktif. Tetapi pada kenyataannya tidaklah
demikian, walaupun golongan ini tidak sestabil golongan parafin. Jadi deretan
benzena tidak menunjukkan sifat reaktip yang tinggi seperti olefin. Secara sederhana
dapat dikatakan bahwa sifat benzena ini pertengahan antara golongan parafin dan
olefin. Ikatan-ikatan dari deret hidrokarbon aromatik terdapat dalam minyak mentah
yang merupakan sumber utamanya.
Pada suatu suhu dan tekanan standard, hidrokarbon aromatik ini dapat berada
dalam bentuk cairan atau padatan. Benzena merupakan zat cair yang tidak berwarna
dan mendidih pada temperatur 176 F. Nama hidrokarbon aromatik diberikan karena
anggota deret ini banyak yang memberikan bau harum.
2.1.2.1.2. Air Formasi

Air formasi mempunyai komposisi kimia yang berbeda-beda antara reservoir


yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu analisa kimia pada air formasi perlu
sekali dilakukan untuk menentukan jenis dan sifat-sifatnya. Dibandingkan dengan air
laut, maka air formasi ini rata-rata memiliki kadar garam yang lebih tinggi. Sehingga
studi mengenai ion-ion air formasi dan sifat-sifat fisiknya ini menjadi penting artinya
karena kedua hal tersebut sangat berhubungan dengan terjadinya plugging
(penyumbat) pada formasi dan korosi pada peralatan di bawah dan di atas permukaan.
Air formasi tersebut terdiri dari bahan-bahan mineral, misalnya kombinasi
metal-metal alkali dan alkali tanah, belerang, oksida besi, dan aluminium serta bahanbahan organis seperti asam nafta dan asam gemuk. Sedangkan komposisi ion-ion
penyusun air formasi seperti terlihat pada (Tabel II-13) terdiri dari kation-kation Ca,
Mg, Fe, Ba, dan anion-anion chlorida, CO3, HCO3, dan SO4.
Air formasi mempunyai kation-kation dan anion-anion dengan jumlah
tertentu yang biasanya dinyatakan dalam satuan part per million (ppm) seperti yang
ditunjukkan pada (Tabel II-13). Kation-kation air formasi antara lain adalah :
Calcium (Ca++), Magnesium (Mg++), Natrium (Na+), Ferrum (Fe+), dan Barium (Ba++).
Sedangkan yang termasuk anion-anion air formasi adalah Chloride (Cl -), Carbonate
(CO3) dan Bicarbonate (HCO3), serta Sulfat (SO4).

Tabel II-13.
Komposisi Kimia Air Formasi.20)
Connate Water
Composition Ion

From Well#23

Sea Water

Stover Faria,

Parts Per Million

McKean Country,Pa.
Parts Per Million
Ca++
Mg++
Na+
K+

13,260
1,940
31,950
650

420
1,300
10,710
..

SO4_
Cl
Br
I-

730
77,340
320
10

2,700
19,410
........
........

Total

126,200

34,540

2.1.2.2. Sifat Fisik Fluida Reservoir


Beberapa sifat fisik fluida yang perlu diketahui adalah : berat jenis,
viskositas, faktor volume formasi, dan kompresibilitas.
2.1.2.2.1. Gas
1. Viskositas Gas
Viskositas gas akan naik dengan bertambahnya suhu, dalam hal ini tabiat gas
akan berlainan dengan cairan, untuk gas sempurna viskositasnya tidak tergantung dari
tekanan. Gas sempurna berubah menjadi gas tidak sempurna bila tekanannya
dinaikkan dan tabiatnya mendekati tabiat zat cair.
Salah satu cara untuk menentukan viskositas gas yaitu dengan korelasi grafis
(Carr et. al.), dimana cara ini untuk menentukan viskositas gas campuran pada
sembarang tekanan maupun suhu dengan memperhatikan adanya gas-gas ikutan,
seperti H2S, CO2, dan N2. Adanya gas-gas non-hidrokarbon tersebut akan
memperbesar viskositas gas campuran.

Gambar 2.6.
Viscositas Gas Pada Tekanan Atmosphire.16)
2. Densitas Gas
Densitas didefinisikan sebagai massa tiap satuan volume dan dalam hal ini
massa dapat diganti oleh berat gas, m. Sesuai dengan persamaan gas ideal, maka
rumus densitas untuk gas ideal adalah :
g

m PM

V
RT

. (2-18)

dimana :
m = berat gas, lb.
V = volume gas, cuft.
M = berat molekul gas, lb/lb mole.
P = tekanan reservoir, psia.
T = temperatur, R.
R =

konstanta gas = 10.73 psia cuft/lbmole R.

Rumus di atas hanya berlaku untuk gas berkomponen tunggal. Sedangkan


untuk gas campuran digunakan rumus sebagai berikut :
g

PM a
z RT

... (2-19)

dimana :
z

= faktor kompresibilitas gas.

Ma =
yi

berat molekul tampak = yi Mi.

= fraksi mol komponen ke-i dalam suatu campuran gas.

Mi = berat molekul untuk komponen ke-i dalam suatu campuran gas.


3. Faktor volume Formasi Gas
Faktor volume formasi gas adalah perbandingan volume dari sejumlah gas
pada kondisi reservoir dengan kondisi standard, dapat dituliskan:
Bg

Vres
Vsc

....... (2-20)

atau :
Bg 0.0282

zT cu. ft

P scf

.... (2-

21)
4. Kompressibilitas Gas
Kompressibilitas gas didefinisikan sebagai fraksi perubahan volume per unit
perubahan tekanan, atau dapat dinyatakan dengan persamaan :
Cg

22)

1
V

dv

dp

....

(2-

Gambar 2.7.
Koreksi Harga z (deviation faktor) Katz Dan Standing.16)
5. Faktor Deviasi
Dengan diketahuinya harga Ppc dan Tpc, maka harga Pr dan Tr dapat dihitung.
Untuk menentukan harga z (deviation faktor), Katz dan Standing telah membuat
korelasi berupa grafik z = f(Pr,Tr) dapat dilihat pada gambar 2.7.

2.1.2.2.2. Minyak
1. Viscositas Minyak
Viskositas minyak adalah suatu ukuran tentang besarnya keengganan minyak
untuk mengalir.
Viskositas dinyatakan dengan persamaan :

F/A
dv

............. (2-23)

dy

dimana :

= viskositas, gr/(cm.sec).

= shear stress.

= luas bidang paralel terhadap aliran, cm2.

A
dv

dy

gradient kecepatan, cm/(sec.cm).

Viskositas minyak dipengaruhi oleh P, T, dan Rs. Hubungan antara viskositas


minyak (o) terhadap P dan T dapat dilihat pada gambar 2.8.

Gambar 2.8.
Pengaruh Viscositas Minyak Terhadap Berbagai Tekanan.16)

2. Densitas Minyak
Densitas adalah perbandingan berat masa suatu substansi dengan unit dari
volume tersebut. Cara penentuan diantaranya dengan mencari hubungan antara
densitas minyak dengan pengaruh GOR (dikembangkan oleh Katz). Dengan cara ini
ketelitian berbeda 3% dari hasil percobaan.

Gambar 2.9.
Grafik Penentuan Gravity Gas Bila Diketahui Rs Dan 0API.4)
Hubungan tersebut dapat dituliskan :
o

sc (62,4) g (0,0764) Rs
Bo

......... (2-

24)
dimana :
o

= densitas minyak, lbm/cuft.

sc =

141,5
131,5 o API

........ (2-25)

Spesific gravity gas yang terlarut dalam minyak ini dapat dicari hubungan R s
(Gambar 2.7.).
Bila harga kelarutan gas dan komposisi gas diketahui, maka untuk
menghitung 0 dapat digunakan korelasi Standing, yaitu mengoreksi adanya CH4 C2H6
yang masih berupa gas (Gambar 2.9).
3. Faktor Volume Formasi Minyak
Faktor volume formasi minyak adalah perbandingan relatip antara volume
minyak awal (kondisi reservoir) terhadap volume minyak akhir (kondisi tangki
pengumpul), bila dibawa ke keadaan standart.

Standing melakukan perhitungan Bo secara empiris :


Bo = 0.972 + 0.000147.F1.175 ..... (2-26)
g
1.25T
F Rs .

..... (2-27)

dimana :
Rs = kelarutan gas dalam minyak, scf/stb.
o = specific gravity minyak, lb/cuft.
g = specific gravity gas, lb/cuft.
T = temperatur, F.
Harga Bo dipengaruhi oleh tekanan, dimana :
a. Tekanan dibawah Pb (P < Pb), Bo akan turun akibat sebagaian gas terbebaskan.
b. Tekanan diantara Pi dan Pb (Pb < P < Pi), Bo akan naik sebagai akibat terjadinya
pengembangan gas.
Grafik hubungan Bo terhadap tekanan dapat dilihat pada gambar 2.10.

Gambar 2.10.
Bo Sebagai Fungsi Tekanan.4)
4. Kompressibilitas Minyak
Kompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan volume minyak
akibat adanya perubahan tekanan, secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
Co

1
v

dv

dp

.....

(2-

28)
Persamaan (2-28) dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami, sesuai
dengan aplikasi di lapangan, yaitu :

Co

Bob Boi
Boi Pi Pb

.. (2-29)

dimana :
Bob = faktor volume formasi pada tekanan bubble point, bbl/stb.
Boi = faktor volume formasi pada tekanan reservoir, bbl/stb.
Pi

= tekanan reservoir. psi.

Pb

= tekanan bubble point, psi.

5. Kelarutan Gas dalam Minyak


Kelarutan gas (Rs) adalah banyaknya volume gas yang terbebaskan (pada
kondisi standart) dari suatu minyak mentah di dalam reservoir, yang di permukaan
volumenya sebesar satu stock tank barrel ditunjukkan pada gambar 2.11.
Faktor faktor yang mempengaruhi Rs adalah :
-

Tekanan, pada suhu tetap, kelarutan gas dalam sejumlah zat cair
tertentu berbanding lurus dengan tekanan .

Komposisi minyak dalam gas, kelarutan gas dalam minyak semakin besar dengan
menurunnya specific gravity minyak.

Temperatur, Rs akan berkurang dengan naiknya temperatur.

Gambar 2.11.
Rs Sebagai Fungsi Tekanan.19)

2.1.2.2.3. Air Formasi


1. Viskositas Air Formasi
Viskositas air formasi (w) akan naik terhadap turunnya temperatur dan
terhadap kenaikkan tekanan seperti terlihat pada gambar 2.12, yang merupakan
hubungan antara kekentalan air formasi terhadap tekanan dan temperatur. Kegunaan
mengetahui perilaku kekentalan air formasi pada kondisi reservoir terutama untuk
mengontrol gerakan air formasi di dalam reservoir.

Gambar 2.12.
Viscositas Air Formasi Sebagai Fungsi Temperatur.16)
2. Densitas Air Formasi
Densitas air formasi (brine) pada kondisi standart yang merupakan fungsi
total padatan. Berat jenis formasi (w) pada reservoir dapat ditentukan dengan
membagi w pada kondisi standart dengan faktor volume formasi (Bw) dan
perhitungan itu dapat dilakukan bila air formasi jenuh terhadap gas alam pada kondisi
reservoir.
3. Faktor Volume Formasi Air Formasi
Faktor volume formasi air formasi (Bw) menunjukkan perubahan volume air
formasi dari kondisi reservoir ke kondisi permukaan. Faktor volume formasi air
formasi ini dipengaruhi oleh pembebasan gas dan air dengan turunnya tekanan,
pengembangan air dengan turunnya tekanan dan penyusutan air dengan turunnya
suhu. (Gambar 2.13). menunjukkan hubungan faktor volume formasi air-formasi
dengan tekanan.

Gambar 2.13.
Tipe Faktor Volume Formasi Air Formasi Sebagai Fungsi Tekanan.16)
Faktor volume formasi air-formasi bisa ditentukan dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
Bw = (1 + Vwp)(1 + Vwt)

....... (2-30)

dimana :
Vwt = penurunan volume sebagai akibat penurunan suhu, faktor ini
ditentukan dengan menggunakan (Gambar 2.14).
Vwp = penurunan volume selama penurunan tekanan, faktor ini ditentukan
dengan menggunakan (Gambar 2.15).

Gambar 2.14.
Vwt Sebagai Fungsi Suhu Reservoir.16)

Gambar 2.15.
Vwp Sebagai Fungsi Tekanan Reservoir.16)
Faktor volume formasi air formasi meningkat, hal ini disebabkan oleh
pengembangan air formasi pada tekanan dibawah tekanan jenuh, gas keluar dari
larutan tetapi karena rendahnya kelarutan gas dalam air formasi, maka penyusutan
fasa cair relatip kecil. Dan biasanya penyusutan ini tidak cukup untuk mengimbangi
pengembangan air formasi pada penurunan tekanan, sehingga faktor volume formasi
air-formasi terus meningkat dibawah tekanan jenuh.
4. Kompresibilitas Air Formasi
Kompresibilitas air murni tergantung pada suhu, tekanan, dan kelarutan gas
dalam air. Kompresibilitas air murni tanpa adanya gas terlarut didalamnya
ditunjukkan pada gambar 2.16.

Kompresibilitas air murni pada suhu konstan dinyatakan dalam persamaan


berikut
1 V
Cwp

v P

.... (2-31)

dimana :
Cwp

= kompressibilitas air murni, psi-1.

= volume air murni, bbl.

= perubahan volume air murni, bbl.

= perubahan tekanan, psi.

Selain itu kompresibilitas air formasi dapat ditentukan dengan persamaan :


Cw = Cwp(1 + 0.0088 Rsw)

.. (2-32)

dimana :
Rsw

= kelarutan gas dalam air formasi.

Cwp

= kompressibilitas air murni, psi-1.

Cw

= kompressibilitas air formasi, psi.

Gambar 2.16.
Kompresibilitas Air Formasi Sebagai Fungsi Tekanan Dan Temperatur.7)

Gambar 2.17.
Faktor Koreksi Terhadap Gas Yang Terlarut.4)
5. Kelarutan Gas dalam Air Formasi
Kelarutan gas dalam air formasi akan lebih kecil bila dibandingkan dengan
kelarutan gas dalam minyak di reservoir pada tekanan dan temperatur yang sama.
Pada temperatur tetap, kelarutan gas dalam air formasi akan naik dengan naiknya
tekanan. Sedangkan pada tekanan tetap, kelarutan gas dalam air formasi mula-mula
menurun sampai harga minimum kemudian naik lagi terhadap naiknya suhu, dan
kelarutan gas dalam air formasi akan berkurang dengan bertambahnya kadar garam
(Gambar 2.18). Dengan demikian kelarutan gas dalam air formasi juga dipengaruhi
oleh kegaraman air formasi, maka harga kelarutan gas dalam air formasi perlu
dikoreksi, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.19.

Gambar 2.18.
Kelarutan Gas Dalam Air Formasi Sebagai
Fungsi Temperatur Dan Tekanan.4)

Gambar 2.19.
Koreksi Terhadap Kegaraman Untuk Kelarutan Gas
Dalam Air Formasi.4)
2.2. Kondisi Reservoir

Tekanan dan temperatur merupakan besaran-besaran yang sangat penting


dan berpengaruh terhadap keadaan reservoir, baik pada batuan maupun fluidanya (air,
minyak, dan gas). Tekanan dan temperatur lapisan kulit bumi dipengaruhi oleh
adanya gradient kedalaman, letak dari lapisan, serta kandungan fluidanya.
2.2.1. Tekanan Reservoir
Tekanan reservoir dapat terjadi oleh salah satu atau kedua sebab-sebab
berikut:
a. Tekanan hidrostatik, yang disebabkan oleh fluida (terutama air) yang mengisi
pori-pori batuan diatasnya.
b. Tekanan overburden, yang disebabkan oleh berat batuan diatasnya serta
kandungan fluidanya.
Pada prinsipnya tekanan reservoir adalah bervariasi terhadap kedalaman.
Hubungan antara tekanan dengan kedalaman ini disebut dengan gradient tekanan.
Gradient tekanan hidrostatik air murni adalah 0.433 psi/ft, sedangkan untuk air asin
berkisar antara 0.433 - 1 psi/ft. Penyimpangan dari harga tersebut dianggap sebagai
tekanan abnormal. Gradient tekanan overburden adalah :
2.3 x 0.433 psi/ft = 1 psi/ft
Setelah akumulasi hidrokarbon didapat, maka salah satu test yang harus
dilakukan adalah test untuk menentukan tekanan reservoir, yaitu tekanan awal
reservoir, tekanan statik sumur, tekanan alir dasar sumur, dan gradient tekanan
reservoir. Data tekanan tersebut akan berguna didalam menentukan produktivitas
formasi produktip serta metode produksi yang akan digunakan, sehingga dapat
diperoleh recovery hidrokarbon yang optimum tanpa mengakibatkan kerusakan
formasi.
Tekanan awal reservoir adalah tekanan reservoir pada saat pertama kali
diketemukan. Tekanan dasar sumur pada sumur yang sedang berproduksi disebut
tekanan aliran (flowing) sumur. Kemudian jika sumur tersebut ditutup maka selang
waktu tertentu akan didapat tekanan statik sumur.

2.2.2. Temperatur Reservoir


Berdasarkan anggapan bahwa bumi berisi magma yang sangat panas, maka
dengan bertambahnya kedalaman temperatur juga akan naik. Besar kecilnya kenaikan
temperatur tergantung pada gradien temperaturnya. Gradien temperatur ini disebut
juga dengan gradien geotermal, yaitu bilangan yang menunjukkan besarnya kenaikan
temperatur tiap turun kedalam bumi secara tegak lurus sedalam satu ft. Gradien
geotermal ini biasanya berkisar 1.6 F tiap 100 ft. Secara matematik temperatur
formasi dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
TD = Tp + (gT D)

. (2-33)

dimana :
TD = temperatur pada kedalaman D, F.
Tp

= temperatur permukaan rata-rata, F.

gT

= gradien temperatur, F/ft.

= kedalaman, ft.

2.3. Jenis-Jenis Perangkap


Jenis-jenis reservoir dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu : berdasarkan
fasa fluida, perangkap reservoir, dan mekanisme pendorong.
3.3.1. Berdasarkan Perangkap Geologi
Jenis reservoir berdasarkan perangkap reservoir dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu perangkap struktur, perangkap stratigrafi, dan perangkap kombinasi struktur dan
stratigrafi.
2.3.1.1. Perangkap Struktur

Perangkap struktur merupakan perangkap yang paling orisinil dan sampai


dewasa ini merupakan perangkap yang paling penting. Jelas di sini berbagai unsur
perangkap yang membentuk lapisan penyekat dan lapisan reservoir sehingga dapat
menangkap minyak, disebabkan gejala tektonik atau struktur, misalnya pelipatan dan
pematahan. Sebetulnya kedua unsur ini merupakan unsur utama dalam pembentukan
perangkap.
Perangkap yang disebabkan perlipatan merupakan perangkap utama. Unsur
yang mempengaruhi perangkap ini adalah lapisan penyekat dan penutup yang berada
diatasnya dan dibentuk sedemikian sehingga minyak tidak dapat lagi kemana-mana,
seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.20.
Untuk mengevaluasi suatu perangkap lipatan terutama mengenai ada
tidaknya tutupan (batas maksimal wadah dapat diisi oleh fluida), jadi tidak
dipermasalahkan apakag lipatan itu ketat atau landai, yang penting adalah adanya
tutupan. Suatu lipatan sehingga tidak dapat disebut suatu perangkap. Disamping itu
ada tidaknya tutupan tergantung pada faktor struktur dan posisinya ke dalam.
Contohnya, pada permukaan didapatkan struktur tutupan tetapi makin ke dalam
makin menghilang. Jadi untuk mengevaluasi perangkap pelipatan selain dari adanya
tutupan juga harus dievaluasi apakah tutupan tersebut terdapat pada lapisan reservoir.

Gambar 2.20.

Prinsip Penjebakan Minyak Dalam Perangkap Struktur.13)


Perangkap patahan sering juga terdapat dalam berbagai reservoir minyak dan
gas. Gejala patahan (sesar) dapat bertindak sebagai unsur penyekat dalam penyaluran
minyak. Sering dipermasalahkan apakah patahan itu merupakan penyekat atau
penyalur. Smith (1966) mengemukakan bahwa persoalan patahan sebagai penyekat
sebetulnya tergantung dari tekanan kapiler. Secara teoritis, memperlihatkan bahwa
patahan dalam batuan yang basah air tergantung pada tekanan kapiler dari medium
dalam jalur patahan tersebut. Besar-kecilnya tekanan yang disebabkan oleh
pelampungan minyak atau kolom minyak terhadap besarnya tekanan kapiler,
menentukan sekali apakah patahan itu bertindak sebagai penyalur atau penyekat. Jika
tekanan tersebut lebih besar daripada tekanan kapiler maka minyak masih dapat
tersalurkan melalui patahan, tetapi jika lebih kecil maka patahan tersebut bertindak
sebagai suatu penyekat. Patahan yang berdiri sendiri tidaklah dapat membentuk suatu
perangkap. Ada beberapa unsur lain yang harus dipenuhi untuk terjadinya suatu
perangkap yang betul-betul hanya disebabkan karena patahan, yaitu :
1. Adanya kemiringan wilayah
2. Harus paling sedikit dua patahan yang berpotongan
3. Adanya suatu pelengkungan lapisan atau suatu pelipatan
4. Pelengkungan dari patahan itu sendiri dan kemiringan wilayah
Dalam prakteknya jarang sekali terdapat perangkap patahan yang murni.
Patahan biasanya hanya merupakan suatu pelengkung daripada suatu perangkap
struktur.

Gambar 2.21.
Beberapa Unsur Utama Dalam Perangkap Stratigrafi,
Penghalang-Permeabilitas Dan Kedudukan Struktur.13)

2.3.1.3. Perangkap Stratigrafi


Prinsip perangkap stratigrafi ialah minyak dan gas terjebak dalam
perjalanannya ke atas, terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan
pinggir, karena batuan reservoir menghilang atau berubah fasies menjadi batuan lain
atau batuan yang karakteristik reservoir menghilang sehingga merupakan penghalang
permeabilitasnya. Beberapa unsur utama perangkap stratigrafi (Gambar 2.21) ialah :
1. Adanya perubahan sifat lithologi dengan beberapa sifat reservoir, ke satu atau
beberapa arah sehingga merupakan penghalang permeabilitas.
2. Adanya lapisan penutup/penyekat yang menghimpit lapisan reservoir tersebut ke
arah atas atau ke pinggir.
3. Keadaan struktur lapisan reservoir yang sedemikian rupa sehingga dapat
menjebak minyak yang naik. Kedudukan struktur ini sebetulnya melokalisasi
posisi tertinggi daripada daerah potensial rendah dalam lapisan reesrvoir yang
telah tertutup dari arah atas dan pinggir oleh beberapa unsur tersebut di atas.
Kedudukan struktur ini dapat disebabkan oleh kedudukan pengendapan atau juga
karena kemiringan wilayah.
Perubahan sifat litologi/ sifat reservoir ke suatu arah daripada lapisan
reservoir dapat disebabkan :
1. Pembajian, dimana lapisan reservoir yang dihimpit di antara lapisan penyekat
menipis dan menghilang, dapat dilihat pada gambar 2.22.

2. Penyerpihan (shale-out), dimana ketebalan tetap, akan tetapi sifat litologi berubah
(Gambar 2.23).
3. Persentuhan dengan bidang erosi.

Gambar 2.22.
Pembajian Lapisan Reservoir Sebagai
Unsur Perangkap Stratigrafi.13)
Pada hakekatnya, perangkap stratigrafi didapatkan karena letak posisi
struktur tubuh batuan sedemikian sehingga batas lateral tubuh tersebut merupakan
penghalang permeabilitas ke arah atas atau ke pinggir. Jika tubuh batuan reservoir itu
kecil dan sangat terbatas, maka posisi struktur tidak begitu penting, karena seluruhnya
atau sebagian besar dari tubuh tersebut merupakan perangkap. Posisi struktur hanya
menyesuaikan letak hidrokarbon ada bagian tubuh reservoir (Gambar 2.24).

Gambar 2.23.
Penyerpihan Lapisan Reservoir (Jari-Jemari)

Sebagai Unsur Perangkap Stratigrafi.13)

Gambar 2.24.
Penampang Beberapa Tubuh Pasir Memperlihatkan Posisi
Akumulasi Minyak Bumi Karena Kedudukan Struktur.13)
Jika tubuh reservoir memanjang atau meluas, maka posisi struktur sangat
penting. Perangkap tidak akan terjadi jika tubuh reservoir berada dalam keadaan
horisontal. Jika bagian tengah tubuh terlipat, maka perangkap yang terjadi adalah
perangkap struktur (antiklin). Untuk terjadinya perangkap stratigrafi, maka posisi
struktur lapisan reservoir harus sedemikian sehingga salah satu batas lateral tubuh
reservoir (yang dapat berupa unsur di atas tadi), merupakan penghalang permeabilitas
ke atas.
Levorsen (1954), membagi perangkap stratigrafi sebagai berikut :
1. Tubuh batuan reservoir terbatas (lensa) :
a. Batuan reservoir klastik detritus dan volkanik.
b. Batuan reservoir karbonat; terumbu, bioherm
2. Pembajian, perubahan fasies ataupun porositas dari lapisan reservoir ke suatu arah
regional ataupun lokal dari :
a. Batuan reservoir klastik detritus
b. Batuan reservoir karbonat.
3. Perangkap ketidak-selarasan.

2.3.1.3. Perangkap Kombinasi


Perangkap reservoir kebanyakan merupakan kombinasi perangkap struktur
dan perangkap stratigrafi dimana setiap unsur struktur merupakan faktor bersama
dalam membatasi bergeraknya minyak dan gas. Beberapa kombinasi antara unsur
stratigrafi dan unsur struktur adalah sebagai berikut :
1. Kombinasi antara lipatan dengan pembajian
Dalam gambar 2.25, dapat dilihat bahwa kombinasi lipatan dengan pembajian
dapat terjadi karena salah satu pihak, pasir menghilang dan di lain pihak hidung
antiklin menutup arah lainnya. Maka jelaslah hal ini sering terjadi pada perangkap
stratigrafi normal.
2. Kombinasi antara patahan dan pembajian
Pembajian yang berkombinasi dengan patahan jauh lebih biasa daripada
pembajian yang berdiri sendiri. Kombinasi ini dapat terjadi karena terdapat suatu
kemiringan wilayah yang membatasi bergeraknya ke suatu arah dan diarah lain
ditahan oleh adanya suatu patahan dan pada arah lainnya lagi ditahan oleh
pembajian (Gambar 2.26).

Gambar 2.25.
Kombinasi Perangkap Stratigrafi Dan Struktur Lipatan
Dimana Di Satu Pihak Lapisan Reservoir Membaji.13)

Gambar 2.26.
Peta Struktur Perangkap Kombinasi Patahan Dan Pembajian.13)
2.3.2. Berdasarkan Kelakuan Fasa
Jenis reservoir berdasarkan fasa fluida reservoir dapat dibagi menjadi lima,
yaitu reservoir minyak berat, reservoir minyak ringan, reservoir gas kondensat,
reservoir gas basah, dan reservoir gas kering.
2.3.2.1. Reservoir Minyak Berat
Diagram fasa dari minyak berat (low shrinkage crude oil) diperlihatkan pada
gambar 2.27. Sebagai catatan disini adalah bahwa daerah dua fasa mencakup kisaran
tekanan yang lebar dan juga bahwa temperatur kritik dari minyak adalah lebih tinggi
dari temperatur reservoir.

Gambar 2.27.
Diagram Fasa Dari Minyak Berat.16)
Garis vertikal 1-2-3 memperlihatkan pengurangan tekanan dengan
temperatur konstan yang terjadi apabila minyak tersebut diproduksikan. Garis yang
putus-putus memperlihatkan kondisi tekanan-temperatur yang terjadi apabila minyak
meninggalkan reservoir dan mengalir melewati tubing menuju ke seperator.
Titik 1 menunjukkan bahwa keadaan reservoir dikatakan tidak jenuh
(undersaturated), sedangkan titik 2 menunjukkan keadaan reservoir jenuh (saturated)
dimana minyak mengandung gas sebanyak-banyaknya dan suatu pengurangan
tekanan akan menyebabkan pembentukan fasa gas. Pada titik 3 fluida yang tetap
berada di reservoir terdiri dari 75% mol cairan atau 25% mol gas.
Titik yang menunjukkan tekanan dan temperatur di dalam seperator terletak
hampir dekat dengan garis titik gelembung yang diperkirakan 85% mol minyak
diproduksikan tetap sebagai cairan pada kondisi seperator. Karena mempunyai
prosentase cairan yang cukup tinggi, maka minyak ini disebut "low shrinkage crude
oil".
Apabila diproduksikan maka minyak berat ini biasanya menghasilkan gas oil
ratio permukaan sebesar 500 scf/stb dengan gravity 30API atau lebih. Cairan
produksi biasanya berwarna hitam dan lebih pekat lagi.

Gambar 2.28.
Diagram Fasa Dari Minyak Ringan.16)
2.3.2.2. Reservoir Minyak Ringan
Diagram fasa dari minyak ringan (high shrinkage crude oil) diperlihatkan
pada gambar 2.28. Garis vertikal menunjukkan pengurangan tekanan dengan
temperatur tetap selama produksi. Titik 1 dan titik 2 mempunyai pengertian yang
sama dengan diagram sebelumnya, bedanya apabila tekanan diturunkan di bawah
garis titik gelembung, prosentase gas akan lebih besar. Titik 3 reservoir mengandung
40% mol cairan.
Diperkirakan 65% fluida tetap sebagai cairan pada kondisi separator. Oleh
karenanya minyak disebut sebagai minyak ringan (high shrinkage crude oil). Jadi
minyak ini mengandung relatip sedikit molekul berat bila dibandingkan dengan
minyak berat.
Apabila diproduksikan maka minyak ringan ini biasanya menghasilkan gas
oil ratio permukaan sebesar kurang lebih 8000 scf/stb dengan gravity sekitar 50 oAPI.
Cairan produksi biasanya berwarna gelap.
2.3.2.3. Reservoir Kondensat
Adakalanya temperatur reservoir terletak diantara titik kritis dengan
cricondenterm dari fluida reservoir (Gambar 2.29). Sekitar 25% mol fluida produksi
tetap sebagai cairan di permukaan. Cairan yang diproduksikan dari campuran
hidrokarbon ini disebut "gas kondensat".

Gambar 2.29.
Diagram Fasa Dari Gas Kondensat.16)
Pada titik 1 reservoir hanya terdiri dari satu fasa dan dengan turunnya
tekanan reservoir selama produksi berlangsung, terjadi kondensasi retrograde dalam
reservoir. Pada titik 2 (titik embun) cairan mulai terbentuk dan dengan turunnya
tekanan dari titik 2 ke titik 3, jumlah cairan dalam reservoir bertambah. Pada titik 3
ini merupakan titik dimana jumlah maksimum cairan yang bisa terjadi. Penurunan
selanjutnya menyebabkan cairan menguap.
Gas oil ratio produksi dari reservoir kondensat dapat mencapai sekitar 70.000
scf / stb dengan gravity cairan sebesar 60 API. Cairan produksi biasanya berwarna
cerah.
2.3.2.4. Reservoir Gas Basah
Diagram fasa dari campuran hidrokarbon terutama mengandung molekul
lebih kecil, umumnya terletak dibawah temperatur reservoir. Contoh dari diagram
fasa untuk gas basah diberikan (Gambar 2.30).

Gambar 2.30.
Diagram Fasa Dari Gas Basah.16)

Dalam kasus ini fluida berbentuk gas secara keseluruhan dalam pengurangan
tekanan reservoir. Karena kondisi seperator terletak di dalam daerah dua fasa, maka
cairan akan terbentuk di permukaan. Cairan ini umumnya dikenal sebagai
"kondensat" atau gas yang dihasilkan disebut "gas kondensat".
Kata basah menunjukkan bahwa gas mengandung molekul-molekul
hidrokarbon ringan yang pada kondisi permukaan membentuk fasa cair. Pada kondisi
seperator, gas biasanya mengandung lebih banyak hidrokarbon menengah. Kadangkadang gas ini diproses untuk dipisahkan cairan butana dan propanannya.
Gas basah dicirikan dengan gas oil ratio permukaan lebih dari 100.000
scf/stb. Asosiasi minyak tangki pengumpul biasanya adalah air sebagai gravity lebih
besar daripada 50 API.

Gambar 2.31.
Diagram Fasa Dari Gas Kering.16)
2.3.2.5. Reservoir Gas Kering
Diagram fasa untuk gas kering diperlihatkan pada gambar 2.31. Untuk
campuran ini, baik kondisi reservoirnya maupun kondisi seperator terletak di luar
daerah dua fasa. Tidak ada cairan yang dapat dibentuk dalam reservoir atau di
permukaan dan gasnya disebut "gas alam".
Kata kering menunjukkan bahwa fluida tidak cukup mengandung molekul
hidrokarbon berat untuk membentuk cairan di permukaan. Tetapi perbedaan antara
gas kering dan gas basah tidak tetap, biasanya sistem yang gas oil ratio-nya lebih dari
100.000 scf / stb dipertimbangkan sebagai gas kering.
3.3.2.

Berdasarkan Mekanisme Pendorong


Telah diketahui bahwa minyak bumi tidak mungkin mengalir sendiri dari

reservoirnya ke lubang sumur produksi bila tidak terdapat suatu energi yang
mendorongnya. Jenis reservoir berdasarkan mekanisme pendorong reservoir dibagi
menjadi lima, yaitu : solution gas drive reservoir, gas cap drive reservoir, water drive
reservoir, gravitational segregation drive reservoir, dan combination drive reservoir.

Gambar 2.32.
Solution Gas Drive Reservoir.6)
2.3.3.1. Solution Gas Drive Reservoir
Reservoir jenis ini disebut solution gas drive disebabkan oleh karena energi
pendesak minyaknya adalah terutama dari perubahan fasa pada hidrokarbonhidrokarbon ringannya yang semula merupakan fasa cair menjadi gas. Kemudian gas
yang terbentuk ini ikut mendesak minyak ke sumur produksinya pada saat penurunan
tekanan reservoir karena produksi tersebut.(Gambar 2.32).
Setelah sumur selesai dibor menembus reservoir dan produksi minyak
dimulai, maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar lubang bor. Penurunan
tekanan ini akan menyebabkan fluida mengalir dari reservoir menuju lubang bor
melalui pori-pori batuan. Penurunan tekanan disekitar sumur bor akan menimbulkan
terjadinya fasa gas. Pada saat awal, karena saturasi gas tersebut masih kecil (belum
membentuk fasa yang kontinyu), maka gas tersebut terperangkap pada ruang antar
butiran reservoirnya, tetapi setelah tekanan reservoir tersebut cukup kecil dan gas
sudah terbentuk banyak atau dapat bergerak maka gas tersebut turut serta terproduksi
ke permukaan (Gambar 2.33).

Gambar 2.33.
Karakteristik Tekanan, PI dan GOR Pada
Solution Gas Drive Reservoir.6)
Pada awal produksi, karena gas yang dibebaskan dari minyak masih
terperangkap pada sela-sela pori batuan, maka gas oil ratio produksi akan lebih kecil
jika dibandingkan dengan gas oil ratio reservoir. Gas oil ratio produksi akan
bertambah besar bila gas pada saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir, hal ini
terus-menerus berlangsung hingga tekanan reservoir menjadi rendah. Bila tekanan
telah cukup rendah maka gas oil ratio akan menjadi berkurang sebab volume gas di
dalam reservoir tinggal sedikit. Dalam hal ini gas oil produksi dan gas oil ratio
reservoir harganya hampir sama.
Recovery yang mungkin diperoleh sekitar 5% - 30%. Dengan demikian
untuk reservoir jenis ini pada tahap teknik produksi primernya akan meninggalkan
residual oil yang cukup besar. Produksi air hampir-hampir tidak ada karena
reservoirnya terisolir, sehingga meskipun terdapat connate water tetapi hampirhampir tidak dapat terproduksi.
2.3.3.2. Gas Cap Drive Reservoir

Dalam beberapa tempat dimana terakumulasinya minyak bumi, kadangkadang pada kondisi reservoirnya komponen-komponen ringan dan menengah dari
minyak bumi tersebut membentuk suatu fasa gas. Gas bebas ini kemudian
melepaskan diri dari minyaknya dan menempati bagian atas dari reservoir itu
membentuk suatu tudung. Hal ini bisa merupakan suatu energi pendesak untuk
mendorong minyak bumi dari reservoir ke lubang sumur dan mengangkatnya ke
permukaan. Bila reservoir ini dikelilingi suatu batuan yang merupakan perangkap,
maka energi ilmiah yang menggerakkan minyak ini berasal dari dua sumber, yaitu
ekspansi gas cap dan ekspansi gas yang terlarut lalu melepaskan diri.
Mekanisme yang terjadi pada gas cap reservoir ini adalah minyak pertama
kali diproduksikan, permukaan antara minyak dan gas akan turun, gas cap akan
berkembang ke bawah selama produksi berlangsung. Untuk jenis reservoir ini,
umumnya tekanan reservoir akan lebih konstan jika dibandingkan dengan solution
gas drive. Hal ini disebabkan bila volume gas cap drive telah demikian besar, maka
tekanan minyak akan jadi berkurang dan gas yang terlarut dalam minyak akan
melepaskan diri menuju ke gas cap, dengan demikian minyak akan bertambah ringan,
encer, dan mudah untuk mengalir menuju lubang bor (Gambar 2.34).

Gambar 2.34.
Gas Cap Drive Reservoir.7)

Kenaikan gas oil ratio juga sejalan dengan pergerakan permukaan ke bawah,
air hampir-hampir tidak diproduksikan sama sekali. Karena tekanan reservoir relatip
kecil penurunannya, juga minyak berada di dalam reservoirnya akan terus semakin
ringan dan mengalir dengan baik, maka untuk reservoir jenis ini akan mempunyai
umur dan recovery sekitar 20% - 40%, yang lebih besar jika dibandingkan dengan
jenis solution gas drive. Sehingga residu oil yang masih tertinggal di dalam reservoir
ketika lapangan ini ditutup adalah lebih kecil jika dibandingkan dengan jenis solution
gas drive (Gambar 2.35).

Gambar 2.35.
Karakteristik Tekanan, PI, Dan GOR
Pada Gas Cap Drive Reservoir.6)

2.3.3.3. Water Drive Reservoir


Untuk reservoir jenis water drive ini, energi pendesakan yang mendorong
minyak untuk mengalir adalah berasal dari air yang terperangkap bersama-sama
dengan minyak pada batuan reservoirnya.
Apabila dilihat dari terbentuknya batuan reservoir water drive, maka air
merupakan fluida pertama yang menempati pori-pori reservoir. Tetapi dengan adanya
migrasi minyak bumi maka air yang berada disana tersingkir dan digantikan oleh
minyak. Dengan demikian karena volume minyak ini terbatas, maka bila
dibandingkan dengan volume air yang merupakan fluida pendesaknya akan jauh lebih
kecil (Gambar 2.36).
Gas oil ratio untuk reservoir jenis ini relatif lebih konstan jika dibandingkan
dengan reservoir jenis lainnya. Hal ini disebabkan karena tekanan reservoir relatip
akan konstan karena dikontrol terus oleh pendesakan air yang hampir tidak
mengalami penurunan.

Gambar 2.36.
Water Drive Reservoir.7)
Produksi air pada awal produksi sedikit, tetapi apabila permukaan air telah
mencapai lubang bor maka mulai mengalami kenaikan produksi yang semakin lama
semakin besar secara kontinyu sampai sumur tersebut ditinggalkan karena produksi
minyaknya tidak ekonomis lagi (Gambar 2.37).
Untuk reservoir dengan jenis pendesakan water drive maka bagian minyak
yang terproduksi akan lebih besar jika dibandingkan dengan jenis pendesakan
lainnya, yaitu antara 35% - 75% dari volume minyak yang ada. Sehingga minyak sisa
(residual oil) yang masih tertinggal didalam reservoir akan lebih sedikit.
2.3.3.4. Segregation Drive Reservoir
Segregation drive reservoir atau gravity drainage merupakan energi
pendorong minyak bumi yang berasal dari kecenderungan gas, minyak, dan air
membuat suatu keadaan yang sesuai dengan massa jenisnya (karena gaya gravitasi).
Gravity drainage mempunyai peranan yang penting dalam memproduksi
minyak dari suatu reservoir. Sebagai contoh bila kondisinya cocok, maka recovery
dari solution gas drive reservoir bisa ditingkatkan dengan adanya gravity drainage ini.
Demikian pula dengan reservoir-reservoir yang mempunyai energi pendorong
lainnya.

Gambar 2.37.
Karakteristik Tekanan, PI, Dan GOR Pada Water Drive Reservoir.6)
Seandainya dalam reservoir itu terdapat tudung gas primer (primary gas cap)
maka tudung gas ini akan mengembang sebagai proses gravity drainage tersebut.
Reservoir yang tidak mempunyai tudung gas primer segera akan mengadakan
penentuan tudung gas sekunder (secondary gas cap).
Pada awal dari reservoir ini, gas oil ratio dari sumur-sumur yang terletak
pada struktur yang lebih tinggi akan cepat meningkat sehingga diperlukan suatu
program penutupan sumur-sumur tersebut. Diharapkan dengan adanya program ini
perolehannya minyaknya dapat mencapai maksimum.
Besarnya gravity drainage dipengaruhi oleh gravity minyak, permeabilitas
zona produktip, dan juga dari kemiringan dari formasinya. Faktor-faktor kombinasi
seperti misalnya, viskositas rendah, specific gravity rendah, mengalir pada atau
sepanjang zona dengan permeabilitas tinggi dengan kemiringan lapisan cukup curam,
ini semuanya akan menyebabkan perbesaran dalam pergerakan minyak dalam
struktur lapisannya (Gambar 2.38).

Gambar 2.38.
Gravity Drainage Drive Reservoir.6)

Dalam reservoir gravity drainage perembesan airnya kecil atau hampir tidak
ada produksi air. Laju penurunan tekanan tergantung pada jumlah gas yang ada. Jika
produksi semata-mata hanya karena gas gravitasi, maka penurunan tekanan dengan
berjalannya produksi akan cepat. Hal ini disebabkan karena gas yang terbebaskan dari
larutannya terproduksi pada sumur struktur sehingga tekanan cepat akan habis
Recovery yang mungkin diperoleh dari jenis reservoir gravity drainage ini
sangat bervariasi. Bila gravity drainage baik, atau bila laju produksi dibatasi untuk
mendapatkan keuntungan maksimal dari gaya gravity drainage ini maka recovery
yang didapat akan tinggi. Pernah tercatat bahwa recovery dari gravity drainage ini
melebihi 80% dari cadangan awal (IOIP). Pada reservoir dimana bekerja juga
solution gas drive ternyata recovery-nya menjadi lebih kecil (Gambar 2.39).

Gambar 2.39.

Kelakuan Gravity Drainage Reservoir.7)

Gambar 2.40.
Combination Drive Reservoir.7)

Gambar 2.41.

Kelakuan Combination Drive Reservoir.7)


2.3.3.5. Combination Drive Reservoir
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa reservoir minyak dapat dibagi dalam
beberapa jenis sesuai dengan jenis energi pendorongnya. Tidak jarang dalam keadaan
sebenarnya energi-energi pendorong ini bekerja bersamaan dan simultan. Bila
demikian, maka energi pendorong yang bekerja pada reservoir itu merupakan
kombinasi beberapa energi pendorong, sehingga dikenal dengan nama combination
drive reservoir. Kombinasi yang umum dijumpai adalah antara gas cap drive dengan
water drive. Sehingga sifat-sifat reservoirnya jadi lebih kompleks jika dibandingkan
dengan energi pendorong tunggal (Gambar 2.40).
Untuk reservoir minyak jenis ini, maka gas yang terdapat pada gas cap akan
mendesak kedalam formasi minyak, demikian pula dengan air yang berada pada
bagian bawah dari reservoir tersebut. Pada saat produksi minyak tidak sempat
berubah fasa menjadi gas sebab tekanan reservoir masih cukup tinggi karena
dikontrol oleh tekanan gas dari atas dan air dari bawah. Dengan demikian peristiwa
depletion untuk reservoir jenis ini dikatakan tidak ada, sehingga minyak yang masih
tersisa di dalam reservoir semakin kecil karena recovery minyaknya tinggi dan
efesiensi produksinya lebih tinggi. (Gambar 2.41) merupakan salah satu contoh
kelakuan dari combination drive dengan water drive yang lemah dan tidak ada tudung
gas pada reservoirnya. Gas oil ratio yang konstan pada awal produksi dimungkinkan
bahwa tekanan reservoir masih di atas tekanan jenuh. Di bawah tekanan jenuh, gas
akan bebas sehingga gas oil ratio akan naik.
2.4. Perkiraan-Perkiraan Reservoir
Sejalan dengan produksi, maka studi berlanjut menjadi peramalan ulah
reservoir yang ada, meliputi : perkiraan cadangan, produktivitas formasi dan perilaku
reservoir.

2.4.1. Penaksiran Cadangan Hidrokarbon


Yang dimaksud dengan penaksiran cadangan adalah penentuan jumlah
cadangan hidrokarbon yang terkandung didalam reservoir.
Penaksiran cadangan dapat dibagi

menjadi tiga metode, yaitu metode

volumetris, metode material balance dan metode decline curve.


2.4.1.1. Pengertian Cadangan
Istilah cadangan mempunyai beberapa pengertian. Beberapa istilah yang
berhubungan dengan pengertian cadangan adalah :
-

Initial oil/gas in place, yaitu jumlah total hidrokarbon yang mula-mula ada di
dalam

reservoir, baik yang bisa diproduksikan maupun yang tidak dapat

diproduksikan.
-

Recoverable reserve, yaitu jumlah cadangan hidrokarbon yang mungkin dapat


diproduksikan sesuai dengan teknologi yang ada pada saat itu.

Ultimate recovery, yaitu jumlah hidrokarbon yang dapat diproduksikan sampai


batas ekonomisnya.

Recovery factor, yaitu angka perbandingan antara hidrokarbon yang dapat


diproduksi (recoverable reserve) dengan jumlah minyak mula-mula di dalam
reservoir.

2.4.1.2. Metode Volumetris


Perkiraan cadangan hidrokarbon dengan menggunakan metoda volumetrik
merupakan salah satu metoda yang paling sederhana, dimana dilakukan sebelum
tahap pengembangan dan data-data yang dibutuhkan juga belum banyak, hanya datadata geologi serta sebagian data-data batuan dan fluida reservoir.
Persamaan untuk menghitung initial oil in place (jika tidak ada gas) adalah:
Ni

7758 Vb (1 S wi )
Boi

........(2-34)

Sedangkan untuk initial gas in place (dalam tudung gas) adalah :


Gi

43560 Vb (1 S wi )
Bgi

Ni

= jumlah minyak mula-mula di reservoir, STB.

Gi

= jumlah gas mula-mula di reservoir, SCF.

....

(2-35)

dimana :

Vb = volume bulk reservoir, Acre-ft.


Boi = faktor volume formasi minyak mula-mula, BBL/STB.
Bgi = faktor volume formasi gas mula-mula, Cuft/SCF.

= porositas batuan, fraksi.

Swi = saturasi air mula-mula, fraksi.


Dengan melihat persamaan-persamaan diatas, maka data-data yang
dibutuhkan untuk memperkirakan cadangan adalah Vb, , Swi, Boi, dan Bgi. Data sifatsifat fisik batuan dan fluida reservoir diperoleh dari hasil laboratorium, sedangkan
untuk menentukan Vb diperlukan data-data geologi yang representatif.
Untuk menghitung bulk volume, terlebih dahulu harus dibuat peta isopach.
Peta isopach adalah suatu peta yang menggambarkan garis-garis yang menghubungkan
titik-titik dengan ketebalan yang sama dari lapisan produktif. Dari peta isopach
tersebut, selanjutnya dapat dilakukan perhitungan bulk volume dengan menggunakan
metoda-metoda yang akan dibahas dalam sub bab berikut ini.
1. Metoda Trapezoidal
Persyaratan utama dalam melakukan perhitungan dengan metoda ini adalah
perbandingan antara luas garis kontur yang berurutan harus lebih besar dari 0.5.
Secara matematik, persamaannya dapat dituliskan dalam bentuk sebagai berikut :
Vb = h (Ao + 2 A1 + ..... + 2 An1 + An) + tavg An
dimana :
Vb

= volume bulk batuan, acre-ft.

(2-36)

= interval kontur peta isopach, ft.

Ao

= luas daerah yang dibatasi oleh garis isopach (kontur) ke


nol (WOC), acre.

A1, A2, ..., An

= luas daerah yang dibatasi oleh garis kontur secara


berurutan, acre.

tavg

= ketebalan rata-rata diatas kontur teratas, ft.

2. Metoda Pyramidal
Persyaratan utama metoda ini adalah perbandingan antara luas garis kontur
yang berurutan harus kurang atau sama dengan 0.5. Persamaannya adalah :
Vb = 13 h (An + An+1 +

An An 1

.....

(2-

37)
dimana :
Vb = volume bulk batuan tiap bagian frustum piramid, acre-ft.
An

= luas daerah yang dibatasi oleh garis kontur terendah, acre.

An+1 = luas daerah yang dibatasi oleh garis kontur teratas, acre.

2.4.1.3. Metode Material Balance


Metoda material balance dapat digunakan untuk memperkirakan besar
cadangan reservoir, dimana data-data produksi yang diperoleh sudah cukup banyak.
Prinsip dari metoda material balance ini didasarkan pada prinsip kesetimbangan
volumetrik yang menyatakan bahwa : "apabila volume suatu reservoir konstan, maka
jumlah aljabar dari perubahan-perubahan volume minyak, gas bebas dan air dalam
reservoir harus sama dengan nol".
Untuk mempermudah penjabarannya, perubahan volume minyak, gas bebas
dan air dapat dinyatakan dengan persamaan-persamaan sebagai berikut :
a. Perubahan volume minyak

Volume minyak mula-mula di reservoir = N Boi, Cuft


Volume minyak pada waktu t dan tekanan P = (N Np) Bo, Cuft
Pengurangan volume minyak = N Boi (N Np) Bo, Cuft (2-38)
b. Perubahan volume gas bebas
Rasio gas bebas mula-mula dengan volume minyak mula-mula (m) =
Volume gas mula-mula = G Bgi = m N Boi

SCFgasbeas SCFgasbeasmula SCFgasyng SCFgasyngtersia



p ad aktu tw SCFgasterlaut diproduksi an dires voir
mNBoi

NR si N p R p N N p Rs
B gi

Gf

G B gi
N Boi

SCF gas bebas di re


servoir pada waktu t

mNBoi

NRsi N p R p N N p Rs Bg

B gi

Pengurangan volume gas =


m N Boi {

mNBoi
+ N Rsi Np Rp (N Np) Rs} Bg (2 - 39)
B gi

c. Perubahan volume air


Volume air mula-mula di reservoir = W, Cuft
Produksi air kumulatif = Wp Bw, Cuft
Volume air yang merembes kedalam reservoir = We, Cuft
Pertambahan volume air =
(W + We Wp Bw) W = We Wp Bw

..... (2-40)

Dengan menggabungkan Persamaan (2-38), (2-39) dan (2-40), dan kemudian


disederhanakan dengan harga Boi = Bti dan Bt = Bo + (Rsi Rs) Bg, maka persamaan
untuk N adalah :

N p Bt R p Rsi B g We W p Bw
mBti
Bg Bgi
Bt Bti
B gi

(2-41)

2.4.1.4. Metode Decline Curve


Decline curve merupakan suatu metoda yang menggambarkan penurunan

kondisi reservoir dan produksinya terhadap waktu. Pada prinsipnya, metoda decline
curve adalah membuat grafik hubungan antara laju produksi terhadap waktu atau laju
produksi terhadap produksi kumulatif.
Bentuk kurva penurunan laju produksi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
exponential decline, hyperbolic decline dan harmonic decline.
A. Exponential (Constant Percentage) Decline Curve
Bentuk decline curve ini mempunyai harga laju penurunan produksi per
satuan waktu sebanding dengan laju produksinya. Persamaan dasar dari exponential
decline curve adalah sebagai berikut :

dq dt
dt

d
b

. (2-41)

Dengan mengintegrasikan Persamaan (2-41) diatas, maka diperoleh :


q
dq dt

bt a

. (2-42)

dimana :
q

= laju produksi, STB/day.

dq/dt = perubahan

laju

produksi

terhadap

perubahan

waktu,

STB/day/month.
a

= loss ratio (decline rate), month.

= konstanta positif.

Untuk exponential decline, besarnya penurunan (decline rate) adalah


konstan, sehingga harga b = 0, dan persamaan (2-42) menjadi :
a

q
dq dt

. (2-43)

Dengan mengintegrasikan persamaan (2-43) tersebut, dimana qi adalah laju


produksi mula-mula dan qt adalah laju produksi pada saat t, maka secara matematik
dapat dibuat hubungan sebagai berikut :
q t qi e t a

.(2-44)

Harga Np (produksi kumulatif, STB) diperoleh dengan menggunakan


persamaan sebagai berikut :
t

N p q t dt

.. (2-45)

Dengan mensubstitusikan Persamaan (2-44) kedalam Persamaan (2-45),


maka diperoleh persamaan sebagai berikut :
N p a qi q t

....(2-46)

B. Hyperbolic Decline Curve


Besarnya laju penurunan (decline rate) pada hyperbolic decline tidak
konstan, melainkan selalu berubah, dimana besarnya laju penurunan akan
menunjukkan suatu deret hitung dan harga b akan berkisar antara nol hingga satu.
Dengan cara yang sama dengan exponential decline curve, maka persamaan produksi
kumulatif adalah :
Np

qib a 1b
qi q t1b
1 b

... (2-47)

C. Harmonic Decline Curve


Pada harmonic decline, penurunan laju produksi per satuan waktu
berbanding lurus terhadap laju produksinya. Bentuk kurva harmonic decline
merupakan bentuk khusus dari hyperbolic decline, yaitu untuk harga b = 1. Jadi
persamaan laju produksi kumulatifnya adalah sebagai berikut :
N p aqi ln

qi
qt

.. (248)

2.4.2. Perkiraan Produktivitas Formasi


Produktivitas formasi dapat dinyatakan sebagai kemampuan suatu akumulasi
hidrokarbon dalam batuan porous dan permeabel untuk memproduksikan fluida yang
dikandungnya.

2.4.2.1. Aliran Fluida Dalam Media Berpori


Fluida yang mengalir dari formasi produktif ke lubang sumur dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut :
a. Jumlah fasa yang mengalir.
b. Sifat-sifat fisik fluida reservoir.
c. Sifat-sifat fisik batuan reservoir.
d. Konfigurasi disekitar lubang bor, yaitu adanya lubang perforasi, skin (kerusakan
formasi), gravel pack dan rekahan hasil perekahan hidrolik.
e. Kemiringan lubang sumur pada formasi produktif.
f. Bentuk daerah pengurasan.
Keenam faktor tersebut diatas, secara ideal harus diwakili dalam setiap
persamaan perhitungan kelakuan aliran fluida dari formasi masuk ke lubang sumur.
Tetapi hingga saat ini belum tersedia suatu persamaan praktis yang memperhitungkan
keenam faktor diatas secara serentak. Sampai saat ini tersedia banyak persamaan
untuk memperkirakan kelakuan aliran fluida dari formasi ke dasar lubang sumur,
dimana masing-masing persamaan mempunyai anggapan-anggapan tertentu sesuai
dengan teknik pengembangannya. Jadi perlu diperhatikan tentang anggapananggapan tersebut sebelum menggunakan suatu persamaan pada suatu sumur.
Aliran fluida dalam media berpori telah dikemukakan oleh Darcy (1856)
dalam persamaan (2-13). Persamaan tersebut selanjutnya dikembangkan untuk
kondisi aliran radial, dimana dalam satuan lapangan persamaan tersebut berbentuk :

q 7.08 10 3

kh Pe Pwf

o Bo Ln re rw

..

49)
dimana :
q

= laju produksi, STB/hari.

= permeabilitas efektif minyak, md.

(2-

= ketebalan formasi produktif, ft.

Pe

= tekanan formasi pada jarak re dari sumur, psi.

Pwf = tekanan alir dasar sumur, psi.


o

= viskositas, cp.

Bo

= faktor volume formasi, BBL/STB.

re

= jari-jari pengurasan sumur, ft.

rw

= jari-jari sumur, ft.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menggunakan Persamaan (2-49)


tersebut adalah :
a. fluida berfasa tunggal
b. aliran mantap (steady state)
c. formasi homogen
d. arah alirannya horizontal
e. fluida incompressible.
Dengan demikian apabila variabel-variabel dari persamaan (2-49) diketahui,
maka laju produksi (potensi) sumur dapat ditentukan.
2.4.2.2. Produktivity Index
Indek produktivitas adalah indek yang digunakan untuk menyatakan
kemampuan suatu sumur pada kondisi tertentu untuk berproduksi. Secara matematik,
indek produktivitas (J) adalah perbandingan antara laju produksi yang dihasilkan oleh
suatu sumur pada suatu harga tekanan alir dasar sumur tertentu dengan perbedaan
tekanan dasar sumur dalam kondisi statik (Ps) dan tekanan dasar sumur pada saat
terjadi aliran (Pwf), atau :
J

q
, BBL/hari/psi
Ps Pwf

. (2-50)

Dengan melakukan substitusi persamaan (2-49) kedalam persamaan (2-50),


maka J dapat pula ditentukan berdasarkan sifaf-sifat fisik fluida reservoir, batuan
reservoir, serta geometri sumur dan reservoir, yaitu :

J 7.08 10 3

kh
o Bo Ln re rw

.....(2-

51)
Tentunya penggunaan persamaan (2-51) tersebut harus memperhatikan persyaratan
yang harus dipenuhi dalam persamaan (2-49).
Persyaratan persamaan (2-50) tidak selalu dipenuhi, misalkan yang paling
sering ditemui dalam praktek adalah adanya gas dalam aliran tersebut. Hal ini akan
dijumpai apabila tekanan reservoir dibawah tekanan bubble point minyak. Pada
kondisi ini J tidak dapat ditentukan dengan persamaan (2-50) atau (2-51), dan harga J
untuk setiap harga Pwf tertentu tidak sama dan selalu berubah. Sehubungan dengan
perubahan tersebut, maka persamaan J diperluas menjadi :
J

dq
dPwf

.. (2-52)

Persyaratan berfasa tunggal untuk persamaan (2-50) dapat pula tidak


terpenuhi apabila dalam aliran fluida tersebut terdapat air formasi. Tetapi dalam
praktek, keadaan ini masih dapat dianggap berfasa satu, sehingga persamaan (2-50)
dapat lebih diperjelas dengan memasukkan laju produksi air kedalam persamaan tersebut:
J

qo q w
Ps Pwf

.. (2-53)

Sesuai dengan persamaan Darcy (Persamaan (2-49)), persamaan (2-53) dapat


ditulis kembali dalam bentuk :
J 7.08 10 3

ko
h
k

w
Ln re rw o Bo w Bw

..

(2-

54)
Bentuk lain yang sering digunakan untuk menghitung produktivitas sumur adalah
indek produktivitas spesifik, yang didefinisikan sebagai perbandingan antara J dengan
ketebalan, yaitu :
Js

J
h

.. (2-55)

Js sering digunakan untuk membandingkan produktivitas sumur yang berbeda dalam


satu lapangan.
Lewis dan Horner menunjukkan bahwa J dapat pula ditentukan dengan
persamaan berikut :
J 5.9 10 4

kh
o Bo

.... (2-56)

dimana : k dalam md.


2.4.2.3. Inflow Performance Relationship (IPR)
Indek produktitas yang diperoleh dari hasil tes ataupun dari perkiraan, hanya
merupakan gambaran secara kualitatif mengenai kemampuan sumur untuk berproduksi.
Dalam kaitannya dengan perencanaan suatu sumur, ataupun untuk melihat kelakuan
suatu sumur untuk berproduksi, maka harga J tersebut dapat dinyatakan secara grafis,
yang disebut dengan grafik kurva IPR. Berdasarkan definisi J pada persamaan
(2-50), untuk suatu saat tertentu dimana Ps konstan dan J juga konstan, maka
variabelnya adalah laju produksi (q) dan tekanan aliran dasar sumur (P wf). Persamaan
(2-50) dapat diubah menjadi :
Pwf Ps

q
J

. (2-57)

Berdasarkan anggapan diatas, maka bentuk garis dari persamaan (2-50) adalah
merupakan garis lurus (Gambar 2.42).

Gambar 2.42.
Kurva IPR Linear.2)
Titik A adalah harga Pwf pada saat q = 0, dan sesuai dengan persamaan
(2-57), maka Pwf = Ps. Sedangkan titik B adalah harga q pada saat P wf = 0, dan sesuai
dengan persamaan (2-57), maka q = J Ps, dan harga laju produksi ini merupakan
harga laju produksi maksimum. Harga laju produksi maksimum ini disebut sebagai
potensial sumur, dan merupakan batas laju produksi yang diperbolehkan dari suatu
sumur.
Apabila sudut OAB adalah , maka :
tan

OB Ps J

J
OA
Ps

.. (2-58)

Dengan demikian J menyatakan 1/kemiringan dari garis kurva IPR.


Bentuk dari IPR akan linear bila fluida yang mengalir satu fasa, Muskat
menyatakan apabila yang mengalir adalah fluida dua fasa (minyak dan gas), maka
bentuk kurva IPR membentuk kelengkungan dan harga J tidak lagi merupakan harga
yang konstan, karena kemiringan garis IPR akan berubah secara kontinyu untuk
setiap harga Pwf. Dalam hal ini persamaan (2-50) tidak lagi berlaku, dan secara umum
definisi yang tepat adalah persamaan (2-52).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Vogel terhadap sumur-sumur
yang berproduksi dari reservoir solution gas drive, maka diperoleh suatu hasil disebut
"dimensionless IPR". Untuk tujuan praktis grafik IPR tak berdimensi tersebut dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan matematis :

P
qo
1 - 2 wf
qmax
Ps

Pwf
Ps

0.8

.........

(2-59)
Persamaan diatas hanya dapat digunakan untuk P wf yang lebih kecil dari Pb.
Sedangkan bila Ps diatas Pb maka sebagian dari kurva IPR merupakan garis linear dan
selanjutnya melengkung seperti terlihat pada (Gambar 2.43).
Untuk kondisi tersebut diatas, maka perubahan IPR dapat dilakukan dengan perluasan
persamaan Vogel, yaitu :

P
qo qb
1 - 2 wf
qmax qb
Ps

Pwf
Ps

0.8

..

(2-60)
dimana :
qo

= rate produksi minyak (data test), bbl/hari.

qmax

= rate produksi maksimum pada Pwf = 0, BOPD.

qb

= rate produksi pada saat Pwf = Pb, bbl/hari.

Pwf

= tekanan alir dasar sumur, psi.

Ps

= tekanan bubble point, psi.

Jadi harga J atau grafik IPR akan mengalami perubahan sesuai dengan
lamanya produksi.

Gambar 2.43.
Kurva IPR Tidak Linear.3)

Anda mungkin juga menyukai