Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik
Seiring dengan berkembangnya kebutuhan manusia, menyebabkan permintaan bahan
baku mentah, intermediet maupun bahan jadi semakin bertambah. Salah satu sektor yang
dapat menjadi parameter kenaikan kebutuhan manusia yaitu sektor industri. Permintaan
material yang semakin bertambah namun tidak diiringi dengan persediaan yang
mencukupi kebutuhan pasar. Selama ini kebutuhan dalam negri masih bergantung pada
impor. Sebagai contohnya yaitu impor paraxylene di Indonesia dari tahun 2013 hingga
2014 setiap bulannya cenderung mengalami kenaikan (BPS,2015).
Paraxylene atau 1,4 dimetil benzene adalah salah satu isomer dari xylene yang paling
penting. Dewasa ini paraxylene banyak digunakan sebagai bahan baku dasar bagi pabrik
penghasil dimetyl terephtalate (DMT) dan terephtalic acid (TPA) dimana keduanya
adalah perantara dalam produksi polyester. Keduanya digunakan dalam pembuatan resi
polybutylene terephtalate (PBT). Selain itu, paraxylene dapat digunakan untuk bahan
fiber, plasticizer, film, resin, dll. (Monika dan Lanny, 2010).
Xylene dapat dibuat dari berbagai macam bahan baku dan setiap bahan baku yang
digunakan memiliki proses yang berbeda. Xylene dapat dibuat dari naphta, toluene, dan
biomass. Proses pembentukan xylene dari toluene ada dua, yaitu transkilasi dan
disporporsionasi, sedangkan pembuatan xylene dari naphta menggunakan proses katalitik
reforming. Pembuatan Xylene dari biomassa ini sedang diteliti dan dikembangkan namun
belum diterapkan dalam industri.
Para-xylene memiliki banyak kegunaan karena merupakan bahan baku untuk banyak
industri kimia seperti PTA, resin ester, pelapis cat, emulsifier, bahan penggosok, pewarna,
dan perekat. Perihal kegunaan para-xylene maka dibutuhkan pasokan dalam negri yang
mencukupi kebutuhan pasar.
1.2 Kapasitas Rancangan
1.2.1 Proyeksi Kebutuhan Paraxylene Di Indonesia
Beberapa industri yang membutuhkan paraxylene di Indonesia dapat dilihat di
tabel 1.1. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan paraxylene di Indonesia
cukup besar dan hampir selalu meningkat tiap tahunnya. Di Indonesia belum ada
perusahaan yang memproduksi paraxylene dalam skala yang besar. Hingga saat ini,

industri intermediate yang membutuhkan paraxylene di Indonesia masih bergantung pada


Chandra Asri, Pertamina, dan produsen luar negeri.
Berdasarkan data BPS, jumlah impor paraxylene di Indonesia dari tahun ke tahun
selalu mengalami kenaikan yang berkisar antara 36 50 % per tahun.

Tabel 1.1 Data kenaikan impor paraxylene Indonesia


Periode Impor (Tahun)

Paraxylene (kg)

2008

586.496

2009

34463

2010

3.071.786

2011

5.937.575

2012

2.036.881

2013

1.661.136

2014

2.851.407

Sumber : BPS.com
Bila direncanakan pabrik akan didirikan pada tahun 2017 , maka dapat diprediksi
kebutuhan impor paraxylene Indonesia pada tahun tersebut 1,7 juta ton. Sedangkan selama ini
kebutuhan paraxylene dari dalam negeri dipasok oleh kilang paraxylene UP IV Cilacap yang
berkapasitas 270.000 ton / tahun.

1.2.2

ketersediaan bahan baku


Bahan baku merupakan kebutuhan utama suatu pabrik, sehingga beroperasi
atau tidaknya suatu pabrik sangat bergantung terhadap ketersediaan bahan baku
utamanya. Sehingga dalam merancang dan mendirikan pabrik harus memperhatikan
ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang. Bahan baku utama pembuatan
paraxylene adalah toluene. Di Indonesia, toluene diproduksi oleh PT Pertamina UP IV
Cilacap dengan kapasitas produksi 270000 ton/tahun.

1.2.3

kapasitas minimum yang menguntungkan

Faith and Keys dalam Industrial Chemical menyebutkan bahwa kapasitas


yang disyaratkan secara ekonomi menguntungkan untuk paraxylene adalah 38.000
s/d 685.000 ton/tahun. Dan pabrik paraxylene di Indonesia adalah kilang paraxylene
Pertamina UP IV Cilacap yang berproduksi dengan kapasitas 270.000 ton / tahun.
Sedangkan kapasitas terbesar diproduksi oleh PT. Makasar Petrosel dengan kapasitas
500.000 ton/tahun. Kebutuhan dalam negeri yang belum terpenuhi masih diimpor dari
Amerika Serikat, Jepang, Korea, Australia.
Berdasarkan beberapa pertimbangan diatas, serta prediksi kebutuhan
paraxylene pada tahun 2017 maka untuk perancangan tahap pertama diharapkan
pabrik dapat beroperasi untuk menghasilkan paraxylene yang dapat memenuhi 10 %
kebutuhan domestik, maka direncanakan pabrik beroperasi dengan kapasitas 280.000
ton / tahun. Dan jika menguntungkan dapat dikembangkan dan ditingkatkan kapasitas
produksinya sehingga memungkinkan untuk diekspor di masa mendatang.

1.3 Lokasi
Pemilihan lokasi pabrik penting dalam perancangan karena hal ini
berhubungan dengan nilai ekonomi pabrik, daya saing dan kelangsungan proses
produksinya. Pada perancangan ini lokasi pabrik paraxylene yang dipilih yaitu Indramayu
jawa Barat dengan faktor yang dijadikan acuan dalam penentuan pabrik dibagi dua faktor
utama yaitu :
1. Faktor primer
a. Bahan baku
Bahan baku merupakan kebutuhan pokok bagi kelangsungan suatu pabrik
sehingga kontinuitasnya harus dijaga. Sumber bahan baku merupakan faktor penting
dalam pemilihan lokasi pabrik dengan memperhatikan konsumsi jumlah bahan baku
yang sangat besar. Hal ini dapat mengurangi biaya transportasi dan penyimpanan.
Lokasi pabrik yang dipilih di daerah Indramayu jawa Barat karena dekat dengan
sumber bahan baku yang dapat diperoleh dengan mudah dari Pertamina Balongan.
Pabrik ini merupakan bagian Unit produksi paraxylene di Pertamina Balongan

indramayu jawa Barat. Bahan baku paraxylene yaitu toluene dan hidrogen yang
diperoleh secara inline melalui pipa dengan kapasitas yang memenuhi kebutuhan
proses.
b. Pemasaran
Pemasaran pabrik paraxylene ditekankan untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri. Lokasi pabrik di wilayah jawa barat yang dapat menjangkau kawasan industri
di wilayah Cilegon seperti PT Amoco Mitsui Indonesia, PT. Polyprima Karyareksa,
dan PT. Mitsubishi Chemical Indonesia memproduksi Purified Terephtalic Acid
(PTA).
c. Transportasi
Sarana transportasi diperlukan untuk mengangkut bahan, memasarkan produk
dan lainnya. Telah tersedia sarana transportasi yang memadai yaitu jalan raya dan
pelabuhan laut yang memudahkan distribusi dan pemasaran produk ke wilayah lain.
d. Utilitas
Sarana utilitas untuk pabrik paraxylene ini terintegrasi dengan
utilitas Pertamina Balongansehingga kebutuhan utilitas seperti air dan
listrik telah tersedia.
e. Buruh dan tenaga kerja

Faktor buruh atau tenaga kerja merupakan faktor yang penting bagi suatu
perusahaan, karena berhasil tidaknya pencapaian tujuan perusahaan juga dipengaruhi
oleh faktor buruh atau tenaga kerja yang berkualitas dan berkemampuan tinggi. Pabrik
paraxylene ini yang merupakan bagian dari Pertamina Balongan, sehingga tenaga
kerja yang digunakan sama seperti Pertamina yang terdiri dari tenaga kerja lokal
dengan tujuan meningkatkan tafar hidup masyarakat dan tenaga kerja alhi
dikhususkan pada bidang engineering.
f. Lahan

Faktor lahan berkaitan dengan rencana pengembangan pabrik lebih lanjut. Kawasan
Pertamina balongan telah memiliki lahan khusus untuk pendirian atau pengembangan
pabrik dimasa yang akan datang.
g. Kemungkinan perluasan pabrik
Apabila permintaan terus bertambah maka dapat dilakukan perluasan pabrik untuk
meningkatkan kapasitas produksi. Kemungkinan perluasan pabrik ini dapat dilakukan
oleh dinas tata kota.
2. Faktor sekunder
a. Kondisi Tanah dan Daerah
Kondisi tanah yang relatif masih luas dan merupakan tanah datar dengan kondisi
iklim yang stabil sepanjang tahun sangat menguntungkan. Disamping itu,
Indramayu merupakan kawasan unit pengolahan minyak pertamian balongan
sehingga pengaturan dan penanggulangan mengenai dampak lingkungan telah
dilaksanakan dengan baik.
b. Iklim
Keadaan iklim di Indonesia khususnya di Indramayau secara umum cukup
mendukung dan daerah yang tidak mudah dilanda topan dan banjir. Sehingga
akan menunjang kemajuan dari pabrik yang akan dibangun.
c. Kebijakan Pemerintah
Pendirian suatu pabrik perlu mempertimbangkan faktor kepentingan pemerintah
yang terkait didalamnya seperti kebijakan pengembangan industri dan hubungan
dengan pemerataan kesempatan kerja serta hasil-hasil pembangunan.
d. Sarana penunjang lain
Kawasan Pertamina balongan indramayu telah memiliki fasilitas terpadu seperti
perumahan, sarana olah raga, sarana kesehatan, sarana hiburan, dan lainnya.

Sehingga, unit produksi paraxylene yang merupakan bagian dari Pertamina


balongan telah memiliki fasilitas yang memadahi, meskipun pada nantinya harus
mengembangkan fasilitas-fasilitas untuk karyawannya sendiri tetapi untuk
mengurangi pembiayaan awal pendirian pabrik maka dapat mempergunakan
fasilitas yang telah tersedia tersebut
1.4.

Tinjauan Pustaka

1.4.1. Macam-macam Proses

Proses pembuatan paraxylene dapat dilakukan dengan menggunakan


beberapa proses yang berbeda, antara lain :
1. Alkilasi Toluene
Paraxylene dibuat dengan mereaksikan toluene dengan methanol sebagai pemberi
gugus alkil. Biasanya sering disebut methylasi dari toluene. Gugus methyl dari
methanol akan masuk pada senyawa benzene membentuk p-xylene. Proses ini tidak
komersial dengan adanya banyak kemungkinan reaksi samping
meliputi dehidrasi methanol, disproporsionasi toluene dan dealkilasi xylene.
Reaksi Utama :
C6H5CH3 + CH3OH

C6H4 (CH3)2 + H2O

toluene methanol

paraxylene

air

Reaksi samping :
1.

Dehidrasi methanol :

CH3OH

gas hidrokarbon + H2O

2. Disproporsionasi :
Toluene

: 2 C6H5CH3

C6H6 + C6H4 (CH3)2

Dealkilasi xylene

: C6H4 (CH3)2

C6H5CH3 + gas hidrokarbon

2. Adsorpsi dan Isomerisasi Xylene ( Proses AROMAX ISOLENE )

a. Proses Mobil High Activity Xylene Isomeration ( MHAI )


C8 aromatis atau mixed xylene dipompakan menuju adsorber untuk menyerap
paraxylene dengan adsorbent AD (Barium Oxide on Silica Alumina Support) yaitu
molecular sieve adsorbent temuan UOP. Umpan sebelum masuk reactor dibakar di
furnace agar sesuai dengan kondisi reactor dimana terjadi reaksi isomerisasi.
Isomerisasi katalitik menggunakan katalis zeolit jenis 19. Reaksi terjadi secara
eksotermis reversible. Sistem operasi reactor non isothermal, non adiabatic. Reaksi
terjadi dalam tube katalis pada suhu 450 0 C dan tekanan 24 atm. Produk keluaran
reaktor diturunkan tekanannya menjadi atmosferik menggunakan expander. Aliran gas
dikirim ke separator, didinginkan dalam kompresor sampai kondisinya antara dew dan
buble point sehingga aliran masuk separator bisa terpisah antara gas dan cairannya.
Hasil atas dikirim ke off gas, sedangkan aliran hasil bawah C 8 aromat dan sedikit
toluene dikirim ke menara destilasi untuk dimurnikan dan diambil toluennya
kemudian dikirim ke mixer tank untuk dicampur dengan umpan segar.

b.Proses Kombinasi Aromax dan Isolene (Kombinasi Adsorpsi &


Isomerisasi)
Proses aromax mengembangkan substansi yang membuat proses lebih
ekonomis dengan menyusun secara seri padatan adsorbent yang dapat mengadsopsi
secara selektif isomer tertentu dari campuran xylene. Aliran inlet umpan yang masuk
ke dalam adsorbent diatur dengan menggunakan on-off valve melalui control
computer sehingga memungkinkan bed dapat bergerak.
Setelah terjadi separasi, mother liquoir mengandung kandungan tinggi o-xylene, mxylene dan ethylbenzene. Proses isolene dikembangkan untuk mengisomerisasi
keluaran ini untuk memperbanyak hasil C8 aromatis.
3. Kristalisasi dan Isomerisasi Xylene ( Proses ISOMAR MERUZEN )

Proses ini digunakan untuk mengkristalkan dan mengisomerisasikan mixed xylene


menjadi paraxylene. Aromatik berat dan ringannya dapat digunakan dalam campuran
bensin dengan octane number 92 atau lebih. Umpan C 8 aromatis displit menjadi fraksi
ringan dan berat, aliran yang kaya akan xylene dipisahkan dimasukkan bersama
recycle xylene dari system fraksinasi.
Pada tipe proses ini, xylene berisi 1529 % p-xylene didinginkan dengan precooler
pada 400 C kemudian dilewatkan melalui heat exchanger yang mempunyai luas
perpindahan panasnya dijaga pada suhu 700 C dengan pendinginan luar memakai
etilene yang dididihkan. Slurry kristal paraxylene dilewatkan holding tank, kemudian
secara bertahap dilewatkan centrifuge. Kristal mentah dari centrifuge mengandung 80
% p-xylene. Dilelehkan dan dikristalkan kembali menjadi kemurnian 95 %. Mother
liquoir yang masih mengandung p-xylene dikembalikan ke stage pertama. Dengan
recycle filtrat, semua p-xylene dapat diperoleh semua. Sisa mother liquoir dari
centrifuge stage pertama dilewatkan ke reaktor fixed bed katalitik silica alumina pada
tekanan atmosfer, katalis mempunyai selektivitas terhadap p-xylene dan menjaga
aromatik dapat terecovery 100 %.
4. Disproporsinasi Toluene (Px-Plus UOP)
Proses disproporsionasi merupakan proses transkilasi secara katalitik. Dalam
bentuk yang paling sederhana toluene dikonversi menjadi benzene dan xylene.
Gugus metil dari molekul toluene satu pindah ke molekul toluene yang lain.
CH3
2

CH3

CH3
Toluene

paraxylene

benzene

Xylene yang terjadi dari campuran ini adalah campuran xylene dan benzene. Para

selektivity adalah jumlah proporsi p-xylene dalam total campuran xylene. Dari
percobaan yang dilakukan Young Butter dan Kaeding (Journal of Catalyst 76,
1982, hal. 418432) didapatkan bahwa penggunaan katalis modified ZSM5
Zeolith pada reaksi disproporsionasi toluene akan memberikan konsentrasi 7090
% p-xylene dalam campuran xylene tersebut. Konsentrasi tersebut jauh lebih besar
daripada konsentrasi paraxylene dalam kesetimbangan yang hanya mencapai 24 %.
Kenaikan para selektivity dalam katalis ini disebabkan adanya kontrol dispersi
secara selektif dari pori-pori katalis. Benzene yang terbentuk dari reaksi
disproporsionasi toluene dapat dengan cepat meninggalkan permukaan katalis,
kemudian diikuti p-xylene, sedang o- dan m-xylene lebih lama waktu tinggalnya
dalam katalis sebab difusifitasnya lebih rendah dari paraxylene. Proses
disproporsionasi toluene ini telah dikembangkan oleh beberapa perusahaan, yaitu
perusahaan Mobil di Enichem Refinery dengan nama MSTDP dan oleh perusahaan
Fina oil and Chemical Co. dengan nama Finas T2BX. Sealin itu juga ada proses
yang dikembangkan oleh perusahaan ExxonMobile yang diberi nama PxMax.
Hasil yang diperoleh dengan proses ini lebih baik dari kedua proses diatas, yaitu
kemurnian produk p-xylene yang lebih tinggi, total yield dari xylene yang lebih
baik, dan rasio xylene-benzene yang lebih baik, juga kebutuhan H 2/hidrokarbon
yang dapat ditekan sehingga diharapkan keuntungan yang didapat lebih besar.
Tabel 1.3. Proses pembuatan paraxylene
Proses

Parameter
o

Adsorbsi dan
Isomerasi
Xylene

T = 450 C

Kristalisasi

T = -18 C

P = 24 atm
X = 83%
Katalis ZSM-5

Keuntungan dan kerugian


Keuntungan
Kerugian
Modal Besar
Pemurnian produk tidak
Efisien
Keuntungan

Dan
Isomerisasi
Xylene

P=
X = 95 %

Alkilasi
Toluene

T = 400-450 C

Disproporsiona
si toluene

T = 390-400 C

P = 1-5 atm
X=
Katalis ZSM-5

P = 30 atm
X = 99%
Katalis ZSM-5
Umur katalis 3
tahun

Kemurnian produk tinggi


Investasi murah
Kerugian
Reliabilitas alat rendah
- Hanya untuk kapasitas kecil
Pemakaian mekanik tinggi
untuk menggerakan peralatan
Keuntungan
Selektivitas > 85%
- Paling murah untuk investasi
masa depan
Kerugian
Banyak reaksi samping
Keuntungan
- T, P operasi rendah
Konversi tinggi
- Umur katalis panjang yaitu
bisa bertahan selama 3 tahun
tanpa diregenerasi
Kerugian

Dalam pra rancangan ini digunakan proses disproporsionasi toluene proses


disproporsionasi toluene. Dari beberapa proses diatas, keuntungan proses
disproporsionasi toluene adalah :
1. Reaksi disproporsionasi toluene tidak mempunyai reaksi samping sedangkan
reaksi alkilasi toluene mempunyai reaksi samping yang cukup banyak (hingga 3
reaksi samping).
2. Reaksi disproporsionasi toluene mempunyai produk samping benzene yang
cukup besar, namun dalam hal ini benzene dapat diolah untuk dijual.

1.4.1
Kegunaan Produk (ratri)
Paraxylene merupakan produk antara yang banyak digunakan dalam industri
kimia bila dibandingkan dengan isomer- isomernya yang lain (ortho dan meta),
dimana bahan ini dapat diolah lebih lanjut menjadi beberapa produk akhir,
diantaranya untuk pembuatan Asam Terephtalat (PTA) dan Dimetyl Terephtalat

(DMT) yang digunakan sebagai bahan antara industri platik dan tekstil. Gambaran
proses pemakaian paraxylene dalam berbagai industri :
Tabel 2.4 Kegunaan Paraxylene Pada Industri (Kristiono,2013)
No
1
2

Jenis Penggunaan

Proses Pemakaian

PTA
Solven Penguapan

Bahan intermediate PTA


Ditambahakan pada zat

Xylidine

yang diuapkan
Nitrasi xylene

Petroleum

nitroxylene dan xylidine


Sebagai campuran bensin

Emulsifier dari fungsisida

supaya knocking tinggi


Pelarutan toxaphena

6
7

dan insektisida
Solven resin
Pewarna

Pelarut phenol
Digunakan dalam fotografi

menjadi

1.4.2 Sifat Fisis Dan Kimia


1. Bahan Baku
a. Toluene
Sifat Fisis
0

Fasa ( P = 1 atm ; T = 25 C )

: gas

BM

: 92,13
0

TD

(P = 1 atm)

: 110,629 C

TB

(P = 1 atm)

: - 94,99 C

Density ( gr / cm ) pada 25 C

: 0,8667

Temperatur kritis

: 318,7 C

Tekanan kritis

: 40,62 atm

Volume kritis

: 0,13 l / mol

Sifat Kimia
Substitusi gugus metil
CH3

CH2Cl
+ 3Cl2

CHCl2
+

CCl3

+ 3 H2

Reaksi dengan Oksigen dengan katalis bromine, cobalt dan manganese


menghasilkan asam benzoat

b. Hidrogen
Sifat Fisis
o

Fasa ( P = 1 atm ; T = 25 C )

BM ( kg / mol )

: gas
o
o

TD, pada 1 atm

Titik leleh

Suhu kritis

Tekanan kritis ( atm )

: 2,001
0

:-7 C
o
o
o
o

Density kritis ( gr / ml )
0

: -239,9 C
: 12,83
: 0,031

Density ( gr / ml ) pada 25 C
Viscositas ( Cp ) pada 25 C

: -259,1 C

: 0,0352
o

: 0,013

c. Methane
Sifat Fisis

BM ( kg / mol )

: 16,04

Titik Didih

: -161,6 C

Titik Beku

: -182,5 C

Density

0
0

- gas

: 0,77 kg/m

- cair

: 415 kg/m

2. Produk : Paraxylene
Sifat Fisis

Berat molekul

: 106,17

Titik Beku ( P = 1 atm)

: 13,263 0 C

Titik Didih (P = 1 atm)

: 138,351 0 C

Density ( gr / ml )

Pada T = 200 C

: 0,861

Pada T = 400 C

: 0,8437

Viscositas , Cp
Pada T = 200 C

: 0,644

Pada T = 400 C

: 0,508

Tekanan uap pada 250C

: 8,6 mmHg

Tc,0C

: 345

Pc ,0C

: 34

Density kritis

: 0,29 gr / ml

Spesific gravity

: 0,868

b. Sifat Kimia

Reaksi sulfonasi
Reaksi sulfonasi pada senyawa xylene terjadi sangat lambat dan

memungkinkan pemecahan xylene.


Reaksi oksidasi
Jika Xylene dioksidasi maka akan terbentuk asam phthalate dan
isophtalate.

3. Produk :
Benzene
Sifat Fisis

Berat molekul

: 78,11
0

Titik Beku

( P = 1 atm)

: 5,5 C

Titik Didih

(P = 1 atm)

: 80,1 C

Viscositas , Cp
0

Pada T = 16 C

Density kritis
Spesific gravity

: 0,8
: 0,29 gr / ml

20 0C

: 0,88

b. Sifat Kimia
Reaksi dalam benzene yaitu :

Adisi hydrogen dengan katalisator Ni dan Pt membentuk sikloheksan


Dengan chlor terbentuk chlorobenzene dengan katalis serbuk Fe
Jika benzene direaksikan dengan HNO3 pekat dan H2SO4 akan terbentuk

nitrobenzene
Jika benzene direaksikan dengan asam sulfat berasap maka akan terbentuk
benzene sulfonate

1.4.3

Tinjauan Proses Secara Umum (ratri)


Pembuatan paraxylene dari toluene dengan proses disporposionasi toluene
merupakan reaksi katalitik fase gas. Reaksi ini bersifat endotermis. Reaksi
berlangsung dalam reaktor fixed bed multitube menggunakan katalis HZSM- 5 type
zeolite pada suhu 470 C dan tekanan 21 atm. Reaksi yang terjadi yaitu :

Reaksi ini menghasilkan konversi toluene 48% dan Xylene yang dihasilkan
memiliki selektivitas p-xylene yang tinggi yaitu mencapai 90%. Serta menghasilkan
produk samping berupa Benzene yang memiliki nilai jual tinggi. Toluene yang belum
bereaksi akan di recycle kembali sebagai umpan proses. Proses pemurnian produk
menggunakan dua menara distilasi. Sebagai hasil atas menara distilasi pertama adalah
benzene, sedangkan produk xylenen didapat dari hasil bawah menara distilasi kedua
yang kemudian diteruskan ke unit kristalisasi untuk diambil para xylene nya.

BAB 2
DESKRIPSI PROSES
2.1 Spesifikasi Bahan Baku Dan Produk (ilham)
2.2 Konsep Proses (ratri)
2.2.1 Dasar reaksi
Reaksi pembentukan paraxylene dari disproporsionasi toluene adalah sebagai berikut :

Reaksi pembuatan paraxylene ini berlangsung pada kondisi operasi reaktor sebagai
berikut:
- Temperature = 470 C
- Tekanan
= 21 atm
- Fase
= gas
- Sifat reaksi = endotermis, irreversible
2.2.2 Sifat Reaksi
Sifat reaksinya adalah ireversibel (searah). Ditinjau dari besarnya harga panas
reaksi yang terjadi pada suhu 25oC adalah sebagai berikut : Hfo = 570 j/mol. Jadi
reaksi tersebut berjalan searah dan membutuhkan panas (endotermis).
Dari harga Hfo yang harganya positif dapat disimpulkan bahwa reaksi yang
terjadi adalah reaksi endotermis yang berarti ada penyerapan panas. Hal ini
mengakibatkan suhu reaktor akan mengalami penurunan terus-menerus. Oleh karena
itu perlu adanya jaket pemanas untuk mempertahankan suhu reaktor.

2.2.3

Tinjauan Termodinamika
Tinjauan termodinamika adalah untuk mengetahui reaksi itu memerlukan panas

atau melepaskan panas. Secara termodinamika reaksi pembentukan paraxylene dapat


dilihat dari harga enthalpi dan konstanta kesetimbangannya.
Diketahui pada suhu kamar (298,15 K) :
Hfo Toluene = 5,017 x 107 J/kmol
Hfo p-xylene = 1,803 x 107 J/kmol
Hfo benzene = 8,288 x 107 J/kmol
(Reff : Perry Chemical Engineering Hand Book)
Hr

= Hproduk - Hreaktan
= (1,803 x 107 + 8,288 x 107) (2x5,017x107)
= 0,057 x 107 J/kmol = 570 J/mol

Pada suhu kamar diperoleh data sebagai berikut :


Gfo Toluene = 12,22 x 107 J/kmol
Gfo p-xylene= 12,14 x 107 J/kmol
Gfo benzene = 12,96 x 107 J/kmol
Gr

= Gproduk - Greaktan
= (12,14 x 107 + 12,96x107) (2x 12,22 x 107)
= 0,66 x 107 j/kmol
Dari harga Hfo tersebut dapat dilihat bahwa reaksi pembentukan ammonium

chloride adalah endotermis. Sedangkan reaksi ini bersifat irreversible dengan harga G r
>0 yang berarti reaksi tidak berlangsung secara spontan.
2.2.4 Tinjauan Kinetika (liat file esterifikasi)

Dari persamaan vant Hoff :


Gof 298

= -RT ln K

06600 j/mol = -(8,314 J/mol K) (298,15 K) ln K

Ln K =

Ln k = -2,66167
K = 0,0698
Persamaan K pada suhu 470 C (743,15 K) dapat dihitung :

ln (K2/K1) =

ln (K743,15/K298,15) =

ln (K743,15/0,0698) = -0,13762
ln K743,15 ln 0,0698 = -0,13762
ln K743,15 = 2,5245
K743,15 = e (2,5245)
K743,15 = 12,48465

Dari perhitungan energi Gibbs di dapat nilai K >1 , maka dapat disimpulkan
reaksi disproporsionasi toluene untuk mengahsilkan metanol merupakan reaksi
irreversible.
2.2.5 Perbandingan Mol Reaktan
Pada proses pembuatan paraxylene reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Pada reaksi ini perbandingan mol reaktan terhadap produk adalah 2:1. Reaktan berupa
toulene sebanyak 2 mol dapat menghasilkan 1 mol paraxylene.

2.3 diagram alir proses


2.3.1
2.3.2
2.3.3
2.3.4

Diagram Alir
Langkah proses
Tahap Penyiapan Bahan Baku
Tahap Pembentukan Produk

2.3.5

Tahap Pemurnian Produk

2.3.6 Tahap penyimpana produk

DAFTAR PUSTAKA
Monika dan Lanny.2010. Tugas Prarancangan Pabrik Paraxylene Dari Proses Selektivitas
Disporposionasi Toluene Dengan Kapasitas 300 Ton/Tahun. Universitas sebelas Maret
Surakarta.
Kristiono,
2013.
PRARANCANGAN
PABRIK
PARAXYLENE
PROSES
DISPROPORSIONASI TOLUENE KAPASITAS 200.000 TON/TAHUN. Universitas
Muhammadiyah Purwokerto: Purwokerto
Perry, R.H. & P.W., Green,1986,Perrys Chemical Engineering Hand Book, 6th ed., Mc.
Graw Hill Book Co., International Student Edition, Singapura.