Anda di halaman 1dari 3

PROSES PERADILAN PIDANA DI INDONESIA

I. PENYELIDIKAN

Merupakan suatu rangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan


suatu peristiwa yang diduga sebai tindak pidana guna menentukan dapat atau
tidaknya penyidikan lebih lanjut.
II. PENYIDIKAN
Suatu rangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan barang bukti,
dengan bukti tersebut membuat terang tentang kejahatan atau pelanggaran yang
terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
III.PENUNTUTAN
Tindakan JPU untuk melimpahkan perkara pidana ke PN yang berwenang dalam hal
dan menurut cara yang diatur dalam hukum acara pidana dengan permintaan supaya
diperiksa oleh hakim di sidang pengadilan.

IV. SIDANG Di PENGADILAN


1. DAKWAAN
Surat dari Penuntut Umum yang menunjuk atau membawa suatu
perkara pidana ke pengadilan apabila cukup alas an untuk
mengadakan penuntutan terhadap tersangka yang memuat peristiwaperistiwa dan keterangan-keterangan mengenai Locus serta Tempus
dimana perbuatan tersebut dilakukan, dan keadaan-keadaan terdakwa
melakukan perbuatan tersebut, terutama keadaan yang meringankan
dan memberatkan kesalahan terdakwa.
2. EKSEPSI/TANGKISAN/KEBERATAN
Alat pembelaan dengan tujuan utama untuk menghindarkan
diadakannya putusan tentang pokok perkara, karena apabila eksepsi
ini diterima oleh PN, maka pokok perkara tidak perlu diperiksa dan
diputus.
3. PEMERIKSAAN ALAT BUKTI:
a) Berdasarkan Pasal 184 KUHAP Alat bukti yang sah antara lain:

keterangan saksi dan

keterangan ahli

surat

petunjuk

keterangan terdakwa
b) Keterangan saksi adalah keterangan yang diberikan di muka
persidangan mengenai apa yang saksi lihat dan dengar sendiri
c) Saksi ada dua macam: a charge (memberatkan) dan a de
charge (meringankan)
d) Keterangan (saksi) ahli / Espertise adalah keterangan pihak
ketiga yang objektif untuk memperjelas dan member kejernihan
dari perkara yang disidangkan serta untuk menambah

pengetahuan hakim dalam penyeesaian perkara. Keterangan


ahli diberikan sesuai dengan keahlian dari ahli tersebut
e) Seluruh keterangan saksi dan keterangan ahli di muka
persidangan berada di bawah sumpah (alat bukti yang
sah)
f) Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan
dalam persidangan tentang perbuatan yang ia lakukan atau
yang ia alami dan ia ketahui sendiri
4. REQUISITOIR / TUNTUTAN JAKSA
Tuntutan JPU sebagai kesimpulan pemeriksaan dimuka persidangan
yang diajukan setelah smua saksi dan ahli-ahli didengar serta suratsurat yang berguna sebagai alat bukti dibacakan dan dijelaskan
kepada terdakwa.
5. PLEDOI / PEMBELAAN
Setelah JPU membacakan requisitoirnya maka terdakwa / penasehat
hukumnya mengajukan pledoinya.
Pledoii adalah pembelaan dari terdakwa/penasehat hukumnya
terhadap tuntutan yang diajukan oleh JPU, berdasarkan semua
keterangan dalam proses pembuktian yang menguntungkan pihak
terdakwa.
6. REPLIK JPU
Setelah pembelaan/pledoi penasehat hukum dibacakan, maka JPU
diberikan kesempatan oleh hakim untuk mengajukan replik secara
tertulis
Replik tersebut diserahkan kepada Hakim Ketua sidang dan turunannya
kepada pihak-pihak yang berkepntingan

7. DUPLIK TERDAKWA / PENASEHAT HUKUM


Duplik ini diajukan secara tertulis dan dibacakan oleh pansehat hukum
dipersidangan terhadap replik JPU
Duplik tersebut diserahkan kepada Hakim Ketua sidang dan
turunannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan

8. PUTUSAN MAJELIS HAKIM


Menurut KUHAP ada 3 (tiga) macam putusan pengadilan, yaitu :

Putusan yang mengandung pembebasan terdakwa (vrijspraak)

Putusan yang mengandung pelepasan terdakwa dari segala


tuntutan hukum (onstlag van rechtvervolging)

Putusan yang mengandung penghukuman terdakwa

V. UPAYA HUKUM TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI


Upaya Hukum :
Hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan
tingkat pertama. Karena putusan itu tidak luput dari kekeliruan atau kekhilafan,
bahkan tidak mustahil memihak, oleh karena itu demi kebenaran dan keadilan setiap
putusan hakim dimungkinkan untuk diperiksa ulang agar kekeliruan putusan tersebut
dapat diperbaiki
Upaya Hukum Biasa
1. Naik Banding (revisi) ke Pengadilan Tinggi (PT)
Upaya hukum terhadap Pengadilan Tingkat ke 2 9dua)/Pengadilan Tinggi
(PT) yang mengulangi pemeriksaan baik mengenai fakta-faktanya
maupun mengenai penerapan hukum atau undang-undangnya.
2. Kasasi (Pembatalan) ke Mahkamah Agung (MA)
Upaya hukum yang dilakukan ke Mahkamah Agung sebagai pengawas
tertinggi atas putusan-putusan pengadilan lain.
Upaya Hukum Luar Biasa
1. Kasasi Demi Kepentingan Hukum
Terhadap semua putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
dari pengadilan selain MA, dapat diajukan Kasasi oleh Jaksa Agung.
2. Peninjauan Kembali (PK) Putusan Pengadilan yang mempunyai
kekuatan hukum tetap
Terhadap putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap,
kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana
atau ahli warisnya dapat mengajukan PK ke MA