Anda di halaman 1dari 4

Istilah status asmatikus belakangan ini terutama di Eropa mulai ditinggalkan, cukup

menggunakan istilah asma akut berat karena antara keduanya sebenarnya tidak berbeda.
Status asmatikus sendiri juga suatu serangan asma berat, namun demikian istilah ini masih
tetap relevan dipergunakan untuk membedakan serangan asma akut berat yang memerlukan
rawat inap di rumah sakit dan yang tidak.
Per definisi, status asmatikus adalah suatu keadaan darurat medik berupa serangan
asma berat kemudian bertambah berat yang refrakter bila setelah 1 sampai 2 jam pemberian
obat untuk serangan asma akut seperti adrenalin subkutan, aminofilin intravena atau agonis 2 tidak ada perbaikan atau malah memburuk

Etiologi

Mekanisme pemacu serangan akut terjadi bermacam-macam : alergen, kerja fisik,


insfeksi virus pada jalan nafas, ketegangan emosional, perubahan iklim dan beberapa
janis obat sepreti aspirin.
Ketidak seimbangan modulasi adenergic dan kolinergic dari broncus.
Sering terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, anak laki-laki sering terkena dari
pada anak perempuan.
Biasanya mempunyai alergi dengan kadar IgE meninggi (asma atopic/aksentrik
berkaitan dengan keadaan alergi lain sperti eksema fifer).
Asma instrinsik terjadi pada penderita non atopic yang lebih tua.

Patofisiologi
Banyak faktor pencetus status asmatikus yakni asma berat. Status asmatikus diawali
serangan asam biasa, yang dalam perjalannya kemudian resisten terhadap bronkudilator jadi
kebanyakan status asmatikus ditimbulkan oleh faktor-faktor pencetus yang biasa seperti :
a. Infeksi alat pertnafasan
Bakterial
Nonbakterial
b. Alergen
Inhalan : debu rumah, tungau, tepung sari, serpihan binatang, bulu,jamur.
Ingestan : susu sapi, telur, ikan, biah-biahan, biji-bijian dan sebagainya.
c. Kegiatan Jasmani
Terutam lari : diperberat bila cuaca dingin

d. Keadaan emosi
Emosi yang meluap
Marah, takut
Tertawa/menagis
e. Konflik dalam keluarga
Ketegangan di rumah
Proteksi yang berlebihan
f. Cuaca
Perubahan cuaca
Kabut, angin
Cuaca dingin
g. Lain-lain.
Aspirin
Anti biotik dan sebagainya

Tanda dan Gejala


Gejala yang menonjol,sukar bernafas, yang timbul intermiten dan wheezing pada waktu
inspirasi, lebih sering terutama pada malam hari.
Batuk-batuk dengan lendir yang lengket : kesulitan pada ekspektoransi
Gelisah, usaha bernafas dengan keras.
Bernafas melalui sela-sela bibir
Sianosis
Takipnea
Nadi cepat

Penatalaksanaan

1. Peroide dinatar waktu serangan


a. Hilangnya penyebab dari lingkungan penderita asma yang alregic
b. Derivat amniphilin oranl.
c. Beta alfa agonis oral atau inhalasi
d. Inhalasi kostikostiroid yang tidak diserap, beclometazone
e. Modifikasi reaksi alergen antibidy dengan inhalasi cromolyu
f. Kostikostiroid oral untuk kasus yang berat
2. Serangan akut
a. Hidrasi adekuat sangat penting
b. Epinefrin subkutan atau simpatomimetik lain sering membantu pada permulaan
serangan.
c. Derivat aminophilin parenteral.
d. Inhalasi bronkho selektive beta agonist pada serangan ringan.
e. Serangan yang hebat mungkin memerlukan pengobatan steroid dan dipertahankan untuk
jangka waktu lama dengan dosis selektif minimum bila serangan hilang timbul.
3. Status Asmatikus
a. Serangan asma yang lama dan berat dapat berbahaya bagi jiwa klien
b. Harus diberikan pengobatan yang cepat seperti pada serangan akut.
c. Pengobatan seperti pada searangan akut.
d. Harus diberikan hiodrokortison secara intar vena.
e. Terapi O2 mungkin perlu pada penderita yang dapat menahan CO2.
f. Mungkin memelukan inkubasi endotracheal dan bantuan ventilator.
4. Penanganan pada pre-hospital
Yang pertama dan utama bagian dari penilaian pasien pada saat pre-hospital dengan
trauma disebut survei primer. Tahap pertama dari survei utama adalah sebagai berikut :
a. Untuk menilai jalan napas. Jika pasien mampu berbicara, jalan napas cenderung jelas.
Jika pasien tidak sadar, pasien mungkin tidak dapat mempertahankan jalan napas
sendiri. Untuk mempertahankan jalan napas, dapat menggunakan teknik head tilt- chin

lift atau jaw thrust. Airway tambahan berarti diperlukan. Jika jalan nafas tersumbat
(misalnya, dengan darah atau muntah atau lidah yang jatuh ke belakang), cairan harus
dibersihkan dari mulut pasien dengan bantuan alat penyedotan (suction).
b. Pemeriksaan dada-thorak bisa dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi. Identifikasi jika ada Emphysema Subkutan dan deviasi trakea.
c. Selama survei utama dilakukan, dibuat penilaian neurologis dasar, dikenal dengan
AVPU (alert, verbal stimuli response, painful stimuli response, unresponsive). Sebuah
evaluasi neurologis cepat dan tepat dilakukan pada akhir survei primer. Ini menetapkan
tingkat kesadaran pasien. Glasgow Coma Scale (GCS) adalah cara cepat untuk
menentukan tingkat kesadaran pasien. Jika tidak dilakukan dalam survei primer, hal itu
harus dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan neurologis yang lebih rinci dalam
survei sekunder. Tingkat kesadaran yang berubah mengindikasikan perlunya segera reevaluasi oksigenasi pasien, ventilasi, dan status perfusi.
d. Memotong pakaian pasien jika perlu. Kemudian selimuti pasien untuk mencegah
hipotermi pada saat dilakukan rujukan dan agar privasi pasien tetap terjaga.
e. Ketika survei primer selesai, upaya resusitasi, dan tanda-tanda vital mulai normal,
survei sekunder dapat dilakukan. Survei sekunder merupakan evaluasi head-to-toe dari
pasien trauma, termasuk riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, kemudian dilakukan
penilaian ulang terhadap semua tanda-tanda vital. Setiap bagian tubuh harus diperiksa
sepenuhnya.