Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan pola hidup, maka tidak
dapat dipungkiri lagi obesitas telah menjadi masalah yang cukup sering ditemui
dalam praktik kesehatan. Masalah obesitas tidak hanya banyak ditemukan di
negara maju, namun juga di negara berkembang seperti Indonesia. Pada tahun
2014, World Health Organization (WHO) mencatat bahwa terdapat lebih dari 1.9
milyar penduduk dunia yang memiliki BMI 25kg/m2 (overweight), diantaranya
terdapat lebih dari 600 juta penduduk memiliki BMI 30kg/m2 atau mengalami
obesitas. 39% penduduk dunia (38% pria dan 40% wanita) pada tahun 2014
mengalami berat badan berlebih (overweight) dan 13% (11% pria dan 15%
wanita) mengalami obesitas.1
Di Indonesia sendiri, prevalensi berat badan lebih pada tahun 2013 adalah
sebesar 13.5% dan obesitas sebesar 15.4%. Prevalensi penduduk laki-laki
dewasa obesitas pada tahun 2013 sebanyak 19,7 persen, lebih tinggi dari tahun
2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%). prevalensi obesitas perempuan dewasa
(>18 tahun) 32,9 persen, naik 18,1 persen dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5
persen dari tahun 2010 (15,5%). Selain itu, Departemen Kesehatan Indonesia
juga melakukan pendataan status gizi berdasarkan nilai lingkar perut dengan
kriteria WHO Asia Pasifik, dimana nilai LP > 90cm pada laki-laki dan LP >
80cm pada perempuan dinyatakan sebagai obesitas sentral. Secara nasional,
prevalensi obesitas sentral adalah 26.6 persen, lebih tinggi dari prevalensi pada
tahun 2007 (18,8%). DKI Jakarta menduduki peringkat tertinggi dengan angka
sebesar 39.7%.2
Obesitas berkaitan erat dengan berbagai macam penyakit seperti hipertensi,
diabetes mellitus, hiperlipidemia, dan obstructive sleep apnea (OSA).3 Kondisikondisi seperti ini tentu sangat berperan besar dalam menentukan tindakan
medis yang akan diambil oleh para klinisi, tidak terkecuali dalam manajemen
anestesi. Seorang dokter harus mampu membuat keputusan medis bagi pasien
obesitas yang hendak menjalani operasi mulai dari penilaian pra-operasi,
manajemen anestesi, hingga pada saat pasien berada di ruang pemulihan. Untuk
1

itu, pemahaman yang menyeuruh mengenai patofisiologi obesitas dan


komplikasi yang dapat terjadi berkaitan dengan anestesi perlu dipahami oleh
seorang calon klinisi.4
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana manajemen anestesi pada pasien obesitas?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada pasien
obesitas.
1.3.2 Mengetahui manajemen anestesi yang tepat untuk pasien obesitas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi dan Klasifikasi Obesitas
Obesitas merupakan suatu kelainan komplek pengaturan nafsu makan dan
metabolisme energi yang dikendalikan oleh beberapa faktor biologik spesifik.
Faktor genetik diketahui sangat berpengaruh bagi perkembangan penyakit ini.
Secara fisiologis obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak yang tidak
normal atau berlebihan dijaringan adiposa sehingga dapat mengganggu
kesehatan.
Keadaan obesitas ini, terutama obesitas sentral, meningkatkan risiko penyakit
kardiovaskular karena keterkaitannya dengan sindrom metabolik atau sindrom
resistensi insulin yang terdiri dari resistensi insulin / hiperinsulinemia,
hiperuresemia, gangguan fibrinolisis, hiperfibrinogenemia dan hipertensi.
Sangat sulit untuk mengukur lemak tubuh secara langsung sehingga sebagai
penggantinya dipakai body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh (IMT)
untuk menentukan berat badan lebih dan obesitas pada orang dewasa.
Pengukuran ini merupakan langkah awal dalam menetukan derajat adipositas,
dan dikatakan berkorelasi kuat dengan jumlah massa lemak tubuh. Untuk
penelitian epidemiologi digunakan IMT atau indeks Quetelet yaitu berat badan
dalam kg dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (m2). Karena IMT
menggunakan tinggi badan, maka pengukurannya harus dilakukan dengan teliti.
Disamping IMT, menurut rekomendasi WHO lingkar pinggang (LP) juga harus
dihitung untuk menilai adanya obesitas sentral dan komorbid obesitas terutama
pada IMT 25- 34,9 kg/m2. 5
Klasifikasi IMT yang direkomendasikan untuk digunakan adalah klasifikasi
yang diadopsi dari the National Institute of Health (NIH) dan World Health
Organization (WHO), yang tertera pada tabel 2.1 di bawah ini.

Kategori
IMT (kg/m2)
Berat badan kurang
< 18.5
Kisaran normal
18.5 24.9
Berat badan lebih
> 25
Pra-obes
25.0 29.9
Obes tingkat I
30.0 34.9
Obes tingkat II
35.0 39.9
Obes tingkat III
> 40.0
Tabel 2.1 Klasifikasi berat badan lebih dan obesitas berdasarkan IMT
Karena definisi berat badan lebih dan obesitas sangat tergantung pada ras,
maka wilayah Asia Pasifik pada saat ini telah menggunakan klasifikasi dan
kriteria obesitas sendiri seperti yang terdapat didalam tabel 2.2. Hingga saat ini
masih terdapat perdebatan menentukan cut-off yang digunakan sebagai
patokan batas obesitas pada populasi Asia. Beberapa negara seperti Jepang dan
Cina sudah menggunakan batasan yang lebih rendah sebagai kriteria obesitas.

Klasifikasi

IMT (kg/m2)

Risiko Komorbiditas
Lingkar Pinggang
< 90 cm (pria)
90 cm (pria)
< 80 cm (wanita) 80 cm (wanita)
Rendah
Sedang
Sedang
Meningkat

Berat badan kurang < 18.5


Kisaran normal
18.5 22.9
Berat badan lebih
23.0
Berisiko
23.0 24.9
Meningkat
Moderat
Obes I
25.0 29.9
Moderat
Berat
Obes II
30.0
Berat
Sangat berat
Tabel 2.2 Kategori berat badan berdasarkan klasifikasi Asia-Pasifik

2.2 Perubahan Fisiologi yang Terjadi Pada Pasien Obesitas


2.2.1 Sistem Kardiovaskular
Obesitas berhubungan dengan bertambahnya volume darah dan cardiac
output sebesar 20 - 30 ml untuk setiap kilogram lemak yang berlebih.
Peningkatan cardiac output ini disebabkan oleh dilatasi ventrikel dan
bertambahnya volume sekuncup. Dilatasi ventrikel mengakibatkan

bertambahnya stress pada dinding ventrikel kiri yang menyebabkan


hipertrofi ventrikel. Hipertrofi dari ventrikel kiri ini akan menurunkan
compliance dan fungsi diastolik ventrikel kiri. Pada keadaan ini akan
terjadi gangguan pengisian ventrikel, elevasi dari LVEDP (left ventricular
end diastolic pressure) dan edem paru. Kapasitas dilatasi untuk ventrikel
juga memiliki batasan, sehingga jika penebalan dinding ventrikel kiri tidak
dapat mengiringi dilatasi maka fungsi sistolik akan terganggu dan
terjadilah kardiomiopati obesitas.6
Pasien obesitas cenderung memiliki berbagai macam penyakit sistem
kardiovaskular seperti iskemia, hipertensi, hingga gagal jantung.
Hipertensi ringan sampai sedang terjadi pada 50-60% pasien obesitas dan
hipertensi berat pada 5-10% pasien. Diduga hipertensi pada pasien obesitas
terjadi karena pengaruh faktor genetik, hormonal, renal, dan hemodinamik.
Terdapat peningkatan tekanan sistolik sebesar 3-4 mmHg dan diastolik 2
mmHg untuk setiap kenaikan berat badan 10 kg. Adanya cairan pada
ekstraseluler akan berakibat terjadinya hipervolemia dan peningkatan
cardiac output. Hiperinsulinemia sebagai karakteristik pada obesitas juga
memberikan kontribusi dengan mengaktifkan sistem saraf simpatik yang
menyebabkan retensi sodium. Selain itu, resistensi insulin juga
bertanggung jawab terhadap aktivitas norepinefrin dan angiotensin II.
Selain hipertensi, obesitas (terutama obesitas sentral) juga merupakan
faktor risiko terjadinya iskemia jantung. Faktor lain seperti diabetes
mellitus, hiperkolesterolemia dan rendahnya HDL (High Density
Lipoprotein) menambah beratnya risiko penyakit ini.
Pasien obestias juga cenderung mengalami aritmia jantung. Terdapat
beberapa faktor presipitasi yang menyebabkan hal ini diantaranya
hipoksia, hiperkapnia, ketidakseimbangan elektrolit akibat terapi dengan
diuretik, penyakit jantung koroner, bertambahnya konsentrasi katekolamin
dalam sirkulasi, obstructive sleep apnea, hipertrofi miokard, dan
penumpukan lemak dalam sistem konduksi.7
2.2.2 Sistem Respirasi
Kenaikan berat badan sebanding dengan meningkatnya kesulitan
bernapas. Pada kasus berat, penurunan kemampuan bernapas dapat
5

mencapai tiga puluh persen. Kombinasi dari tekanan intraabdomen,


reduksi dari compliance, dan meningkatnya kebutuhan metabolik dengan
gerakan otot dada, menghasilkan gerak inefisien dari otot dada tersebut,
sehingga pada orang tersebut terjadi usaha bernapas lebih berat. Walaupun
terdapat akumulasi jaringan lemak di dalam dan sekitar dinding dada yang
berakibat tertahannya gerak dinding dada (restriksi), namun beberapa
penelitian mengemukakan bahwa hal ini disebabkan oleh peningkatan
volume darah paru. Tertahannya gerak dinding dada juga berhubungan
dengan penurunan FRC, terhimpitnya saluran napas, dan kegagalan
pertukaran gas. Perubahan compliance dan resistensi thorax terlihat
dengan adanya napas cepat dan dangkal, frekuensi yang meningkat dan
berkurangnya kapasitas paru. Selain hal-hal di atas, ambilan oksigen dan
pelepasan karbondioksida pada penderita obesitas juga meningkat sebagai
hasil dari aktivitas metabolik karena jumlah lemak yang berlebih dan
bertambahnya simpanan pada jaringan. Aktivitas metabolik basal (Basal
Metabolic Activity atau BMA) berhubungan dengan luasnya permukaan
tubuh.
Penurunan kapasitas residu fungsional (Functional Residual Capacity
atau FRC), volume ekspirasi cadangan (Expiratory Reserve Volume atau
ERV) dan kapasitas total dari paru-paru merupakan masalah yang dihadapi
penderita obesitas seiring dengan peningkatan berat badan. Kapasitas
residu

fungsional

menurun

akibat

penyempitan

saluran

napas,

ketidakseimbangan perfusi dan ventilasi, shunt dari kanan ke kiri, dan


hipoksemia arteri. Pemberian anestesi dikatakan menurunkan FRC sebesar
50% pada penderita obesitas, sedangkan pada orang normal terjadi
penurunan FRC sebesar 20%. Karena kurangnya FRC, pada penderita
obesitas terjadi kegagalan toleransi ketika terjadi apnea, disamping itu juga
terjadi desaturasi oksigen segera setelah induksi anestesi.7
Gangguan pernapasan yang paling sering ditemui pada pasien obesitas
adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang ditandai oleh ciri-ciri sebagai
berikut:7,8
a) Episode apnea atau hipopnea yang sering terjadi saat tidur dan
membangunkan pasien secara mendadak. Episode ini digambarkan
sebagai obstruktif apnea selama 10 detik atau lebih yang menyebabkan
6

penutupan total dari saluran napas dan adanya usaha keras untuk tetap
bernapas. Hipopnea diartikan sebagai reduksi dari 50% aliran udara
yang adekuat yang berujung pada penurunan 4% saturasi oksigen
arterial. Frekuensi episode apnea atau hipopnea tercatat lebih dari lima
kali per jam atau lebih dari 30 kali tiap malam. Hal yang penting
diperhatikan adalah sekuele dari keadaan ini yaitu hipoksia,
hiperkapnia, hipertensi sistemik atau pulmonal, dan aritmia.
b) Mengorok. Semakin hebat obstruksi, makan suara yang terdengar akan
semakin jelas. Mengorok pada pasien OSA juga diikuti periode sunyi
(silence) saat tidak ada aliran udara yang masuk dan setelahnya akan
terjadi gasping atau choking yang membangunkan pasien dari tidurnya,
bernapas beberapa kali, dan kemudian tidur kembali (siklus ini berulang
sepanjang waktu tidur).
c) Gejala pada siang hari seperti sering mengantuk, konsentrasi dan
memori terganggu. Terkadang penderita mengeluhkan sakit kepala pada
pagi hari akibat retensi karbondioksida (CO 2) pada malam harinya dan
vasodilatasi serebral.
d) Perubahan fisiologi. Apnea berulang dapat menyebabkan hipoksemia,
hiperkapnia, vasokonstriksi pulmonal dan sistemik. Hipoksemia
berulang dapat berujung pada polisitemia yang meningkatkan risiko
penyakit jantung iskemia dan penyakit serebrovaskular. Sedangkan
vasokonstriksi pulmonal menyebabkan kegagalan ventrikel kanan
(right ventricle failure).

2.2.3 Sistem Gastrointestinal


Risiko terjadinya aspirasi asam lambung diikuti oleh pneumonia
aspirasi lebih tinggi pada pasien obesitas. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor antara lain tekanan intraabdomen yang tinggi, tingginya
volume dan rendahnya pH dalam lambung, dan tingginya risiko gastroesofageal. Walaupun pasien obesitas memilki volume lambung yang lebih
besar daripada orang normal, namun pengosongan lambung justru lebih
cepat berlangsung pada penderita obesitas, terutama pada intake energi
tinggi seperti emulsi lemak. Oleh karena adanya risiko aspirasi asam, maka
pasien obesitas dapat diberikan H2-reseptor antagonis, antasid, dan
prokinetik, juga dilakukan induksi secara cepat dengan tekanan pada
krikoid dan ekstubasi trakea ketika pasien sadar penuh.7
2.3 Manajemen Anestesi Pada Pasien Obesitas
2.3.1 Pra-operasi
Obat-obatan premedikasi yang diberikan pada pasien obesitas harus
dipertimbangkan dengan baik. Opioid dan obat sedatif dapat menyebabkan
depresi napas pada pasien obesitas, maka obat-obatan jenis ini sebaiknya
dihindari. Obat-obatan yang dimasukan dengan cara injeksi intra-muskular
dan sub-kutan juga sebaiknya tidak digunakan karena absorbsinya yang
tidak dapat diprediksi. Jika akan dilakukan intubasi sadar dengan serat
optik, maka pasien harus diberikan antisialogogue.
Karena pasien obesitas memiliki risiko aspirasi asam lambung yang
tinggi, maka seluruh pasien obesitas sebaiknya diberikan profilaksis
berupa kombinasi H2 blocker (ranitidin 150mg per oral) dan prokinetik
(metoklopramid 10mg per oral) 12 jam dan 2 jam sebelum pembedahan.
Jika pasien menderita diabetes, maka perlu diberikan regimen insulindekstrosa. Pasien obesitas juga lebih memilki risiko untuk mengalami
infeksi pada luka paska-operasi, maka pemberian antibiotik sebagai
profilaksis dapat dipertimbangkan.
Sebagian besar pasien obesitas tidak dapat bergerak setelah operasi dan
akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami thrombosis vena

dalam, oleh karena itu, heparin dosis rendah dapat diberikan sebagai
profilaksis dan diteruskan setelah operasi sampai pasien dapat bergerak.
Evaluasi pasien obesitas yang akan menjalani operasi mayor harus
dilakukan untuk mengukur cadangan kardiopulmoner. Pemeriksaan yang
dapat dilakukan antara lain adalah roentgen dada, EKG, dan analisis gas
darah arteri. Tekanan darah harus diukur dengan ukuran manset yang
sesuai. Lokasi potensial untuk akses intravena dan intraarteri harus dicari
dan ditentukan sebagai antisipasi saat keadaan gawat. Tebalnya lapisan
lemak di jaringan dan sulitnya memposisikan pasien mungkin akan
membuat regional anestesi dengan peralatan dan teknik biasa sulit
dilakukan. Untuk menilai sistem respirasi, kemampuan pasien untuk
bernapas dalam dan patensi dari jalan napas harus diperiksa. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap, foto
thoraks, gas darah, fungsi paru dan oksimetri. Pasien yang dicurigai
menderita OSA disarankan melakukan tes polysomnografi. Pasien juga
harus diingatkan risiko spesifik dari anestesi, kemungkinan dilakukannya
intubasi dalam kesadaran penuh, pemberian ventilasi pascaoperasi, dan
bahkan trakeostomi mengingat pasien obesitas mungkin sulit untuk
diintubasi

karena

pergerakan

sendi

temporomandibular

dan

antlantooksipital yang terbatas, jalan napas yang sempit, dan jarak


mandibular dan bantalan lemak sternum yang pendek. Perlu diingat pula,
setiap penderita obesitas yang akan menjalani operasi harus diperiksa gula
darahnya, baik gula darah sewaktu atau dapat juga dilakukan tes toleransi
glukosa. Respon katabolik selama operasi mungkin mengindikasikan
pemberian insulin pascaoperasi untuk mengontrol konsentrasi glukosa
dalam darah. Kegagalan dalam menjaga konsentrasi ini akan berakibat
tingginya risiko infeksi pada luka operasi dan infark miokard pada periode
iskemia miokard.

2.3.2 Intra-operasi
Pasien obesitas harus dianestesi di atas meja operasi di dalam kamar
operasi untuk mempermudah proses pemindahan pasien sehingga
mengurangi risiko cedera baik pada pasien maupun pada petugas
kesehatan. Setelah pasien diposisikan, maka perhatian khusus harus
diberikan pada bagian-bagian tubuh yang tertekan selama operasi untuk
menghindari kerusakan saraf akibat penekanan. Kompresi vena cava
inferior harus dihindari dengan cara sedikit memiringkan meja operasi ke
kiri atau meletakkan sanggahan di bawah pasien.
Monitoring tekanan arteri secara invasif dilakukan pada hampir semua
operasi kecuali operasi minor. Jika monitoring tekanan darah dilakukan
secara invasif, maka harus tersedia ukuran manset yang sesuai. Oksimetri
denyut, elektrokardiograf, kapnograf, dan pengawasan blok neuromuskular
harus dilakukan.7
Anestesi regional pada pasien obesitas menurunkan risiko dari
kegagalan intubasi dan aspirasi asam lambung. Untuk pembedahan dada
dan abdomen, sebagian besar dokter anestesi menggunkan teknik
kombinasi epidural dan anestesi umum. Teknik ini memberikan lebih
banyak keuntungan dibandingkan jika menggunakan anestesi umum saja,
karena akan mengurangi penggunaan opioid dan anestesi inhalasi. Anestesi
epidural berkelanjutan juga memiliki keuntungan dalam meredakan nyeri
dan menurunkan komplikasi pernapasan selama masa pasca-operasi.
Namun, penggunaan anestesi regional pada pasien obesitas memiliki
kesulitan sendiri, antara lain adalah sulitnya mencari patokan tulang yang
biasa digunakan. Jarum yang lebih panjang atau bahkan ultrasonografi
mungkin dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pembiusan.9 Perlu
diketahui, pasien obesitas memerlukan dosis anestesi spinal 20-25% lebih
sedikit daripada dosis normal karena vena epidural yang terdistensi dan
tekanan intra-abdomen yang meningkat menyebabkan menyempitnya
ruang epidural.10
Selain teknik anestesi, perhitungan dosis obat pada pasien obesitas juga
harus diperhatikan. Berat badan total (total body weight) seseorang terdiri
dari berat badan tanpa lemak (lean body weight) dan berat lemak pada
10

tubuh orang tersebut. Secara teoritis, cadangan lemak yang banyak akan
meningkatkan volume distribusi dari obat yang larut dalam lemak
(benzodiazepin,

opioid).

Dosis

obat-obatan

seperti

ini

dihitung

berdasarkan berat badan total, sedangkan dosis obat-obatan yang tidak


larut dalam lemak dihitung berdasarkan berat badan tanpa lemak. Oleh
karena itu, perlu diketahui jenis obat-obatan yang larut dalam lemak dan
yang larut dalam air untuk menentukan apakah dosis obat tersebut dihitung
berdasarkan berat badan total, berat badan tanpa lemak, atau bahkan berat
badan ideal. Tabel 2.3 dan Tabel 2.4 memperlihatkan cara penghitungan
berat badan dan cara menentukan dosis pada beberapa obat-obatan yang
sering dipakai saat intra-operasi.11,12,13
Jenis Berat Badan Cara Penghitungan (berat badan dalam kg)
Berat Badan Ideal 45.4 + 0.89 x (tinggi dalam cm - 152.4) untuk wanita
49.9 + 0.89 x (tinggi dalam cm - 152.4) untuk pria
(IBW)
Berat

Badan (1.07 x TBW) - (0.0148 x BMI x TBW) untuk wanita


(1.10 x TBW) - (0.0128 x BMI x TBW) untuk pria
Tanpa
Lemak
ATAU
(LBW)
(9,720 x TBW)/(8,780 + (244 x BMI)) untuk wanita
(9,270 x TBW)/(6,680 + (216 x BMI)) untuk pria
Tabel 2.3 Rumus perhitungan berat badan

11

Obat
Thiopental Sodium
Propofol

Dosis Berat Badan


LBW
LBW (bolus induksi)

Etomidate
Succinylcholine
Pancuronium
Rocuronium
Vecuronium
Cisatracurium
Fentanyl
Alfentanil
Remifentanil
Midazolam

TBW (pemeliharaan)
LBW
TBW
IBW
IBW
IBW
IBW
LBW
LBW
LBW
TBW (dosis bolus)

Paracetamol
Neostigmine
Sugammadex
Enoxaparin (profilaksis trombosis

IBW (infus)
LBW
TBW
TBW atau IBW + 40%
TBW 0.5mg/kgBB

vena dalam)
Tabel 2.4 Skala dosis berat untuk obat-obatan yang sering
digunakan dalam operasi
Oleh karena adanya risiko aspirasi dan hipoventilasi, pasien obesitas
biasanya diintubasi pada semua kasus anestesi umum kecuali pada kasus
anestesi umum yang sebentar. Namun memutuskan pemilihan intubasi
dalam kesadaran penuh atau tidur dalam merupakan pilihan sulit. Beberapa
sumber menyarankan intubasi dilakukan dalam kesadaran penuh terutama
jika berat badan sesungguhnya > 175% berat badan ideal. Apabila terdapat
gejala OSA, maka sudah dapat dipastikan morfologi jalan napas bagian
atas yang sedikit berbeda yang membuat pemakaian sungkup menjadi
sulit, sehingga intubasi dalam kesadaran penuh lebih disarankan. Jika
intubasi sulit dilakukan, maka digunakan bronkoskop serat optik atau
laringoskopi video. Posisi pasien saat intubasi dilakukan sangat membantu
dan auskultasi napas untuk memastikan apakah ETT sudah masuk
mungkin sulit dilakukan. Ventilasi terkendali mungkin membutuhkan
konsentrasi oksigen inspirasi yang lebih besar untuk mencegah hipoksia,
terutama pada posisi lithotomi, Trendelenburg, atau tengkurap.
12

2.3.3 Paska-operasi
Kegagalan napas merupakan masalah pasca-operasi terbesar pada
pasien obesitas. Risiko hipoksi pasca-operasi meningkat pada pasien
dengan hipoksi pra-operasi yang diikuti dengan pembedahan rongga dada
atau abdomen bagian atas. Ekstubasi harus ditunggu hingga kerja dari
pelumpuh otot telah dibalikkan dan pasien sadar. Pasien obesitas harus
tetap diintubasi hingga jalur napas yang adekuat dan volume tidal dapat
dipertahankan secara pasti. Jika pasien diekstubasi di dalam kamar operasi,
suplementasi oksigen harus diberikan selama pasien dipindahkan ke
PACU. Posisi duduk 45o dapat memperbaiki ventilasi dan oksigenasi.
Risiko hipoksia pada pasien obesitas tetap ada hingga beberapa hari pascaoperasi, oleh karena itu suplementasi oksigen dan CPAP mungkin dapat
dipertimbangkan. Komplikasi lain yang sering terjadi pada pasien obesitas
adalah infeksi luka, trombosis vena dalam, dan emboli pulmoner.14
Untuk penatalaksanaan nyeri paska-operasi, analgesik epidural dengan
opioid atau anestesi lokal mungkin merupakan pilihan yang paling efektif
dan aman bagi pasien obesitas. Selain itu, pemberian analgesik epidural
juga dapat diiringi dengan pemberian parasetamol atau NSAIDs lainnya.
Penanganan nyeri yang baik akan membuat pasien dapat melakukan
mobilisasi lebih awal, hal ini memberi keuntungan untuk mengurangi
risiko terjadinya infeksi paru dan trombosis vena dalam.7
Hal lain yang perlu diperhatikan pada masa paska-operasi pasien
obesitas adalah tingginya risiko untuk mengalami infeksi pada luka bekas
operasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
hal ini adalah dengan mengontrol gula darah pasien obesitas paska-operasi.
Di samping itu, pemberian antibiotik dengan waktu dan dosis yang tepat
perlu dipertimbangkan. 15

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

13

Keberhasilan pengelolaan anestesi pasien obesitas memerlukan banyak


pertimbangan dari berbagai sudut pandang. Diperlukan pengetahuan yang luas
dan mendalam mengenai perubahan-perubahan fisiologi yang terjadi pada pasien
obesitas agar manajemen anestesi pada pasien obesitas dapat terlaksana dengan
baik.

Kondisi

pasien

yang

berkaitan

erat

dengan

gangguan

sistem

kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, dan metabolisme menuntut klinisi


dalam bidang anestesi untuk dapat memonitor secara ketat perubahan-perubahan
yang mungkin terjadi selama operasi. Tindakan pra-operasi, intra-operasi, dan
paska-operasi yang adekuat sangat mendukung keberhasilan kesembuhan pasien.
Diperlukan kerjasama yang baik, dari dokter, perawat anestesi, dokter penyakit
dalam, maupun dokter bedah agar kerberhasilan tindakan pada pasien obesitas
dapat tercapai.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Obesity and Overweight Fact Sheets. January; 2015.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesahatan Dasar 2013.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013.
3. Jr Morgan G E., Mikhail M S., Murray M J. Anesthesia For Patient with
Endocrine Disease : Obesity. Lange 4th Ed. Mcgraw-Hill Companies ; 2006 ;
813-15
4. Adams, J P and Murphy, P G. Obesity in Anesthesia and Intensive Care (British
Journal). Available from : http://bja.oxfordjournals.org/cgi/content/full/85/1/91
5. Sugondo S. Obesitas. Di dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Marcellus
SK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed ke-3. Jakarta: Interna
Publishing;2009. Hlm 1977-80.
6. RiderOJ,PetersenSE,FrancisJM,etal.Ventricularhypertrophyandcavity
dilatationinrelationtobodymassindexinwomenwithuncomplicatedobesity.
Heart2011;97:2038.
7. Cullen A, Ferguson A. Perioperative management of the severely obese patient:
a selective pathophysiological review. Can J Anesth 2012 (59):974-96. Available
from: http://link.springer.com/article/10.1007%2Fs12630-012-9760-2
8. Lopez PP, Stefan B,Schulman CI,Byers PM.Prevalence of sleep apnea in
morbidlyobesepatientswhopresentedforweightlosssurgeryevaluation:more
evidenceforroutinescreeningforobstructivesleepapneabeforeweightloss
surgery.AmSurg2008;74:8348.
9. Chin KJ, Perlas A. Ultrasonography of the lumbar spine for neuraxial and
lumbarplexusblocks.CurrOpinAnaesthesiol2011;24:56772.
10. Ingrande J, Lemmens HJ. Dose adjustment of anaesthetics in the morbidly
obese.BrJAnaesth2010;105(Suppl1):i1623.
11. LeykinY,MiottoL,PellisT.Pharmacokineticconsiderationsintheobese.Best
PractResClinAnaesthesiol2011;25:2736.
12. Janmahasatian S, Duffull SB, Ash S, Ward LC, Byrne NM, Green B.
Quantificationofleanbodyweight.ClinPharmacokinet2005;44:105165.
13. Ingrande J, Brodsky JB, Lemmens HJ. Lean body weight scalar for the
anestheticinductiondoseofpropofolinmorbidlyobesesubjects.AnesthAnalg
2011;113:5762.
15

14. GaszynskiT,TokarzA,PiotrowskiD,MachalaW.BoussignacCPAPinthe
postoperativeperiodinmorbidlyobesepatients.ObesSurg2007;17:4526.
15. HuttunenR,SyrjanenJ.Obesityandtheriskandoutcomeofinfection.IntJ
Obes(Lond)2012.

16