Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dengan semakin berkembangnya tehnologi ilmu pengetahuan


yang berhubungan dengan pelayaran maka kapal merupakan moda
transportasi laut yang dapat di andalkan untuk memenuhi kebutuhan
orang

banyak.

pengangkutan

Baik
barang

untuk

kebutuhan

maupun

untuk

transportasi
menunjang

manusia,

operasional-

operasional lainnya yang berhubungan dengan kelautan. Di dalam


armada pelayaran khususnya kapal juga harus ditunjang dengan
keselamatan yang memadai, baik armadanya maupun anak buah
kapal (ABK). Supaya di dalam operasionalnya tidak mengakibatkan
kecelakaan yang bisa mengakibatkan kerugian materi maupun korban
jiwa manusia. Berbagai peraturan-peraturan dan prosedur perawatan
dibuat diatas kapal khususnya di kamar mesin sangat berguna untuk
menunjang keselamatan kerja.
Untuk

menunjang

keselamatan

pelayaran,

khususnya

pencegahan kecelakaan di kamar mesin maka diperlukan koordinasi


dan ketrampilan anak buah kapal (ABK) mesin dalam perawatan
maupun penggunaan peralatan keselamatan kerja di kamar mesin.
Oleh karena itu maka komponen-komponen di kapal harus terawat
dengan baik dan selalu dilakukan pengecekan secara rutin dan jadwal
yang telah ditentukan dengan menggunakan Sistem Manajemen
Perawatan (Plaining Maintenance System / PMS) .
Apabila persyaratan tentang perawatan maupun pengecekan
dilakukan secara rutin, maka resiko terjadinya kecelakaan dapat
dicegah paling tidak dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja. Salah
satu hal yang terpenting adalah anak buah kapal (ABK) harus

memahami tentang cara-cara perawatan yang benar dan sesuai


prosedur kerja.
Dalam

setiap

kejadian-kejadian

yang

pernah

ada

maka

kecelakaan kerja sering kali disebabkan oleh factor kesalahan


manusia (Human Error). Kecelakan kerja tersebut akibat kurangnya
pemahaman perawatan dan keselamatan kerja oleh ABK yang tidak
sesuai dengan pelaksanaan kerja yang terarah.
Penulis pernah mengalami suatu kejadian di atas kapal AHT
OCEAN UNITY I pada tanggal 5 april 2013 di Batam yang dialami oleh
Oiler 1. Pada waktu itu disaat Oiler 1 akan memulai melakukan kerja
di kamar mesin, kakinya tersangkut potongan plat lantai besi yang
sedang diperbaiki sehingga menyebabkan kakinya terluka parah
karena tidak memakai sepatu kerja (safety shoes). Kejadian itu terjadi
karena Masinis 3 tidak menempatkan barang pekerjaan dan alat-alat
kerja pada tempatnya. Saat itu kapal akan melakukan pelayaran dari
Batam ke Natuna untuk melaksanakan operasi anchor handling.
Karena kejadian itu Oiler 1 mengalami luka parah dan harus dibawa
ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut sehingga
keberangkatan kapal jadi tertunda.
Berdasarkan pengalaman tersebut maka penulis mencoba untuk
menuangkan permasalahan tersebut dalam bentuk makalah sesuai
permasalahan dan pemecahannya sesuai dengan pengetahuan dan
pengalaman penulis yang didapat selama bekerja di atas kapal AHT
OCEAN UNITY I yang berhubungan dengan perawatan dan
keselamatan kerja. Maka dalam makalah ini penulis memilih judul :
Pentingnya

Perawatan

Di

Kamar

Mesin

Guna Menunjang

Keselamatan Kerja Di Kapal AHT OCEAN UNITY I.

B. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan Penulisan

a. Untuk

mengidentifikasi

permasalahan

dan

menentukan

permasalahan utama dalam kaitannya dengan perawatan di


kamar mesin guna menjamin keselamatan kerja.
b. Untuk menganalisa penyebab dan pemecahan permasalahan
tentang kurangnya perawatan di kamar mesin.

2. Manfaat Penulisan

a. Manfaat bagi dunia akademik


Hasil analisa yang disusun dalam bentuk makalah di
harapkan dapat menambah pengetahuan bagi penulis sendiri
maupun bagi kawan-kawan satu profesi, untuk mengetahui
bagaimana

usaha

yang

dilakukan

untuk

meningkatkan

perawatan di kapal AHT OCEAN UNITY I. Bagi lembaga BP3IP


Jakarta sebagai bahan pedoman makalah dan juga sebagai
kelengkapan perpustakaan sehingga berguna untuk rekan-rekan
Pasis.

b. Manfaat bagi dunia praktisi


Makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran
kepada perusahaan terkait maupun perusahaan-perusahaan
pelayaran lainnya dalam meningkatkan perawatan di kamar
mesin yang terarah dan tepat sasaran

sehingga dapat

menjamin keselamatan kerja.

C. Ruang Lingkup

Salah satu tujuan program manajemen perawatan adalah


menciptakan kondisi kerja di kamar mesin yang aman bagi semua anak
buah (ABK) mesin tentang cara perawatan ruangan kamar mesin
meliputi lantai, ruang bengkel, instalasi pipa-pipa dan cara penggunaan
perlengkapan keselamatan kerja yang sesuai dengan fungsinya. Dalam
penulisan makalah ini penulis hanya membahas tentang ruangan kamar
mesin AHT OCEAN UNITY I yang kurang terawat serta penggunaan
peralatan

keselamatan

yang

kurang

lengkap

sehingga

dapat

membahayakan keselamatan anak buah kapal (ABK) mesin. Di kapal


AHT OCEAN UNITY I mempunyai sistem perawatan yang sudah
ditentukan oleh perusahaan disertai petunjuk dan cara pelaksanaannya
yaitu : system perawatan berencana (Plainning Maintenance System /
PMS). Maka dari itu disini penulis hanya membatasi tentang pentingnya
perawatan kamar mesin guna meningkatkan keselamatan kerja di kapal
AHT OCEAN UNITY I yang terjadi selama penulis bekerja dalam periode
Desember 2012 sampai dengan Desember 2013.

D. Metode Penyajian

Adapun dalam penyusunan makalah ini penulis mengumpulkan


data-data dan bahan yang berkaitan dengan judul diatas melalui :

1. Metode Pengumpulan Data

a. Studi Lapangan

Dalam pengumpulan data penulis melakukan pengamatan


dan pengalaman selama bekerja menjadi Masinis 2 di atas kapal
AHT OCEAN UNITY I. Adapun pengamatan yang di lakukan
antara lain:

1). Melakukan pengamatan secara langsung kondisi di atas kapal


terdapat ceceran minyak dan karatan pada dilantai, tangga,
dinding-dinding dan juga instalasi pipa-pipa di daerah kamar
mesin.
2). Penulis melakukan tanya jawab secara bertahap kepada
semua anak buah kapal (ABK) mesin sejauh mana
pengetahuan

mereka

tentang

kamar

mesin

dan

perawatannya serta hal-hal yang pernah dialami berkaitan


dengan keselamatan kerja.

b. Studi Kepustakaan

Sebagai

bahan

pertimbangan

yang

berkaitan

dengan

permasalahan dan pemecahannya maka penulis memakai


wacana sebagai berikut :
1). Membaca buku yang berkaitan dengan judul yang penulis pilih
di perpustakaan BP3IP Jakarta.
2). Mempelajari

dokumen

pelaksanaan

perawatan Safety

Management System (SMS) yang di instruksikan dari


perusahaan yang ada di atas kapal.
3). Dengan membaca buku tentang manajemen perawatan dan
perbaikan.

2. Metode Analisis Data

Metode

analisa

data

yang

digunakan

penulis

dalam

penyusunan makalah ini diawali dengan mengumpulkan data-data


dan pengamatan langsung penulis selama berada di atas kapal,
tentang kondisi di kamar mesin yang kurang terawat dan

pelaksanaan program kerja yang tidak terarah serta penggunaan


peralatan

keselamatan

kerja

permasalahan-permasalahan
melakukan

pengamatan

menyelesaikan

yang
yang

yang

permasalahan

telah

tidak

lengkap.

Adapun

terjadi

selama

penulis

diambil

tersebut.

penulis

Kemudian

dalam

dilakukan

perbandingan antara permasalahan-permasalahan yang ada di


atas kapal dengan buku referensi, untuk selanjutnya dapat
diperoleh pemecahan masalah.

BAB II
FAKTA DAN PERMASALAHAN

A. FAKTA

1. Data Kapal

Kapal AHT OCEAN UNITY I merupakan kapal jenis supply


yang melayani operasi anchor handling. Kapal dengan GRT: 495
ton, mesin induk: 1920 KW x 2 type Yanmar 6EY26 dengan jumlah
crew 12 orang termasuk Nahkoda.
Perawatan

ruang

kamar

mesin

yang

menyangkut

keselamatan kerja meliputi :


- Lantai kamar mesin
- Instalasi pipa-pipa di kamar mesin
- Ruang bengkel kamar mesin
- Perlengkapan keselamatan kerja

2. Fakta Kondisi

Berikut adalah keadaan yang yang terjadi di atas kapal yang


penulis amati untuk dapat menarik kesimpulan tentang fakta kondisi
yang terjadi di kamar mesin. Dengan demikian maka penulis dapat
menerangkan bahwa fakta kondisi yang terjadi sebagai berikut:

a. Kurangnya perawatan yang dilakukan dikamar mesin

Kondisi kamar mesin yang terjadi banyak terdapat karat


pada lantai maupun instalasi pipa-pipa yang mengakibatkan
pengeroposan pada instalasi tersebut. Karena kurangnya

perawatan maupun pengawasan yang dilakukan oleh anak


buah kapal (ABK) mesin maka hal tersebut akan selalu muncul
masalah karatan dan pengeroposan. Apabila kondisi tersebut
dibiarkan berlarut-larut maka bisa mengakibatkan kerusakan
dan kebocoran pada instalasi pipa-pipa tersebut.
Kejadian tersebut terjadi sewaktu kapal berlayar dari
Singapura menuju ke Vietnam pada tanggal 2 pebruari 2013,
pada saat itu Oiler jaga melaporkan bahwa di got kamar mesin
penuh dengan air laut bahkan hampir setinggi lantai kamar
mesin. Maka pada saat itu langsung diadakan pemompaan
secara langsung dengan pompa bilges supaya air laut yang di
dalam got kamar mesin supaya bisa segera keluar dari kapal.
Setelah dilakukan pengecekan satu persatu ternyata ditemukan
adanya kebocoran pada pipa pendingin air laut dari gear box
mesin induk

menuju ke pipa over board, tepatnya dibawah

lantai kamar mesin.


Karena kurangnya penerapan sistem perawatan yang
baik, maka yang terjadi kondisi ruangan di kamar mesin masih
ditemui karatan yang mengakibatkan pengeroposan dan
kebocoran-kebocoran pada instalasi pipa-pipa.

b. Keselamatan kerja kurang diperhatikan

Kebiasaan yang sering terjadi terjadi pada anak buah


kapal (ABK) mesin adalah tidak menggunakan perlengkapan
keselamatan kerja secara lengkap sewaktu melakukan aktifitas
kerja di kamar mesin. Sedangkan perlengkapan standar
keselamatan kerja yang harus dipakai oleh setiap anak buah
kapal (ABK) mesin adalah:
a) Baju kerja (over all)
b) Sepatu pengaman (safety shoes)
c) Helm pengaman (safety helmet)

d) Sumbat telinga (ear plug/protection)


e) Sarung tangan (safety gloves)
f) Kacamata (safety glasses)
Pernah suatu kali pada saat kapal melaksanakan operasi
melayani rig North Belut CPP di perairan Natuna pada tanggal
23 agustus 2013, pada saat itu dialami oleh Oiler 2 yang
sedang melakukan perawatan lantai kamar mesin. Kejadian
berawal saat Oiler 2 sedang membersihkan karat lantai kamar
mesin dengan alat gurinda tangan jenis brush. Tanpa di sadari
ketika sedang melakukan pekerjaan tersebut butiran karat yang
dibersihkan mengenai mata, karena sewaktu melakukan
pekerjaaan tersebut tidak memakai kacamata pengaman
sehingga menyebabkan luka dibagian mata Oiler 2.
Peralatan keselamatan kerja ini sering kali diabaikan oleh
anak buah kapal (ABK) mesin, padahal di saat mereka bekerja
banyak sekali resikonya. Hal itu membuktikan bahwa sebagian
besar anak buah kapal (ABK) mesin belum mengerti betapa
pentingnya keselamatan kerja sewaktu melakukan pekerjaan di
atas kapal khususnya di kamar mesin.

B. Permasalahan

1. Identifikasi masalah

Perlu diperhatikan bahwa perawatan di kamar mesin sangat


diperlukan tapi karena tidak dilakukan dengan baik, sehingga hasil
yang di dapat tidak bisa maksimal. Disamping perawatan yang
dilakukan maka hal yang terpenting lainnya adalah melakukan
pengawasan

yang

teliti,

karena

hal

tersebut

menyangkut

keselamatan jiwa manusia dan kapal. Berdasarkan uraian tersebut


maka penulis mengidentifikasi pokok permasalahan tersebut
adalah:

a. Pelaksanaan kerja yang kurang terarah

Didalam melakukan perawatan maupun pekerjaan di


kamar mesin, banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak sesuai
dengan kondisi yang ada. Disini perawatan selalu di kerjakan
oleh para anak buah kapal (ABK) mesin karena merupakan
kewajiban yang harus dilakukan, tetapi hasil yang di dapat tidak
tepat sasaran bahkan tidak bermanfaat sama sekali. Hal tersebut
dikarenakan

kurangnya

pengertian

dalam

pelaksanaan

perawatan, maka hasil kerja para anak buah kapal (ABK) mesin
tidak teratur. Sehingga banyak ditemui area yang dikerjakan
berulang-ulang dan ada area yang tidak tersentuh sama sekali.

b. Parlengkapan keselamatan kerja kurang diperhatikan

Pada

dasarnya

dari

pihak

perusahaan

sudah

menginstruksikan kepada semua anak buah kapal (ABK) mesin


supaya

dalam

melakukan

pekerjaan

selalu

memakai

perlengkapan keselamatan kerja secara lengkap. Hal ini untuk


menghindari kecelakaan

yang terjadi sewaktu melakukan

aktifitas kerja di kamar mesin. Akan tetapi disini masih saja


dijumpai anak buah kapal (ABK) mesin tidak mentaati peraturan
tersebut dengan memakai perlengkapan keselamatan kerja
tetapi

tidak

lengkap,

sehingga

hal

tersebut

sangat

membahayakan keselamatan anak buah kapal (ABK) mesin


yang bersangkutan.

c. Sarana alat-alat kerja yang kurang mendukung

Untuk menunjang kelancaran kerja di kamar masin selalu


disediakan peralatan-peralatan kerja yang dibutuhkan, meliputi

10

batu gurinda, mata brush, peralatan las, cipping dan lain


sejenisnya. Alat-alat tersebut sangat penting sekali guna
menunjang perawatan maupun perbaikan yang akan dilakukan
oleh anak buah kapal (ABK) mesin. Tetapi kenyataannya alatalat kerja yang ada tidak lengkap karena ada kalanya terkendala
oleh faktor keterlambatan pengiriman dari perusahaan sehingga
dalam melakukan perbaikan maupun perawatan tidak bisa
dilakukan lebih lanjut. Di samping kurang lengkap juga
ditemukan peralatan kerja dengan kwalitas yang kurang bagus,
sehingga kurang terjamin keselamatannya saat digunakan.
Pernah juga ditemui pemakaian alat-alat kerja seadanya dengan
cara jalan pintas tapi biasanya hal tersebut malah menimbulkan
kerusakan karena peralatan yang di gunakan tidak sesuai
dengan kegunaan yang semestinya.

d. Rendahnya disiplin anak buah kapal (ABK) di kamar mesin

Peraturan jam kerja anak buah kapal (ABK) mesin di kapal


AHT OCEAN UNITY I untuk kerja harian adalah:
Pagi hari mulai kerja jam

08.00 10.00

Istirahat (Coffe time) jam

10.00 10.30

Lanjut kerja pagi jam

10.30 12.00

Istirahat (makan siang) jam

12.00 13.00

Siang hari mulai kerja jam

13.00 16.00

Pada pagi hari yang seharusnya kerja harian dimulai jam


08.00 anak buah kapal (ABK) mesin belum turun ke kamar mesin
untuk melakukan kegiatan rutin, bahkan masih terlihat dudukduduk santai di ruang makan. Waktu istirahat siang yang
seharusnya jam 12.00 tapi kenyataannya jam 11.00 sudah
istirahat, begitu pula pada sore hari yang seharusnya istirahat
jam 16.00 tapi jam 15.00 sudah istirahat padahal pekerjaan
belum selesai.

11

e. Kurangnya koordinasi perawatan di kamar mesin

Pekerjaan perawatan di kamar mesin biasanya selalu


melibatkan semua anak buah kapal (ABK) mesin. Oleh karena
itu setiap anak buah kapal (ABK) mesin harus mengetahui
tentang rencana kerja dan tugas apa yang harus di lakukan.
Tetapi disini penulis menemui pekerjaan-pekerjaan yang kurang
jelas tujuannya dilakukan oleh anak buah kapal (ABK) mesin,
karena mereka tidak berkoordinasi dengan anak buah kapal
(ABK) mesin yang lain maupun kepada Chief engineer. Sehingga
hasilnya tidak teratur dan tidak berkesinambungan antara kerja
yang sedang dilakukan dengan pekerjaan selanjutnya. Jadi
sering kali ditemui anak buah kapal (ABK) mesin melakukan
pekerjaan menurut kemauannya sendiri tanpa sepengetahuan
dan melaporkan kepada Chief engineer maupun ABK mesin
yang lainnya.

f. Penempatan alat-alat kerja yang tidak sesuai tempatnya

Peralatan-peralatan

kerja

seperti:

kunci-kunci,

alat

pengukur, oil can, grease gun serta peralatan lainnya di kamar


mesin selalu disediakan berikut dengan tempat penyimpananya
sesuai dengan kegunaannya, supaya mudah di jangkau dalam
penggunaannya.

Karena

penempatan

dan

kegunaanya

dirancang agar terjaga supaya tidak cepat rusak. Tetapi para


anak buah kapal (ABK) mesin sering di dapati setelah selesai
memakai alat-alat kerja tersebut tidak di kembalikan ketempat
yang semestinya, bahkan dibiarkan tercecer dimana-mana.
Sehingga pada saat akan digunakan seringkali harus mencari
alat-alat yang di perlukan dahulu karena tidak di kembalikan
ketempat yang semestinya. Hal ini sering kali menghambat

12

proses perawatan maupun perbaikan yang sedang dikerjakan,


sehingga akan memakan waktu untuk mencarinya. Padahal
didalam kapal AHT OCEAN UNITY I dalam melayani pencarter
harus selalu ready setiap kali diperlukan untuk melayani
pekerjaan operasi anchor handling.

g. Kurangnya kesadaran ABK dalam mentaati peraturanperaturan di kamar mesin

Di dalam melakukan pekerjaan setiap anak buah kapal


(ABK) mesin selalu dibekali pengetahuan tentang betapa penting
keselamatan kerja. Disamping peraturan-peraturan yang di
sampaikan melalui lisan maupun yang ditulis di tempat-tempat
tertentu yang mudah di lihat dan di pahami. Tetapi anak buah
kapal (ABK) mesin masih saja tidak mengindahkan peraturanperaturan tersebut. Sebagai contoh para anak buah kapal (ABK)
mesin melakukan pekerjaan sambil merokok, padahal hal itu
sudah ditulis peraturan daerah rawan kebakaran. Tetapi hal itu
dilakukan oleh anak buah kapal (ABK) mesin baik secara
sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Padahal dikapal
sudah disediakan tempat khusus daerah untuk merokok waktu
istirahat kerja.

2. Permasalahan Pokok

Dari hasil identifikasi 7 permasalahan yang telah penulis


uraikan sebelumnya, maka

penulis mengambil 2 permasalahan

pokok yang akan dibahas sebagai berikut :


a.

Pelaksanaan kerja yang kurang terarah

b.

Perlengkapan keselamatan kerja kurang diperhatikan

13

BAB III
PEMBAHASAN

A. Landasan Teori

Di kapal AHT OCEAN UNITY I dalam melakukan perawatan di


kamar mesin seringkali ditemui permasalahan-permasalahan yang
menyangkut tentang cara perawatan yang kurang terarah dan
masalah keselamatan kerja yang kurang diperhatikan oleh para anak
buah kapal (ABK) mesin. Sehingga pekerjaan-pekerjaan yang
dilakukan oleh para anak buah kapal (ABK) mesin perlu ditingkatkan
lagi. Sehingga nantinya bisa menghasilkan kerja yang efektif dalam
pengorganisasian di kamar mesin, serta mendukung perawatan yang
efisien dan tepat sasaran dengan mengutamakan keselamatan kerja.
AHT OCEAN UNITY I merupakan kapal jenis supply anchor
handling tug yang melayani sebuah rig North Belut CPP diperairan
Natuna sehingga dalam pelayanannya diharapkan bisa memenuhi
order sesuai permintaan pencarter. Didalam melakukan operasionaloperasional yang dilakukan sering kali ada pergerakan-pergerakan
kapal yang tidak sesuai jadwal dikarenakan keperluan-keperluan yang
emergency sehingga waktu perawatan instalasi-instalasi di kamar
mesin

agar

selalu

dikerjakan

dengan

baik

sesuai

standart

keselamatan kerja. Oleh karena itu pemahaman-pemahaman tentang


perawatan maupun hal keselamatan kerja yang diterima oleh anak
buah kapal (ABK) mesin harus di sosialisasikan dengan baik agar
tidak mengganggu kelancaran operasional kapal.
Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang ada maka bisa
terdeteksi bahwa perawatan yang tidak sesuai prosedur dan tidak
terarah akan sangat berpengaruh terhadap operasional kapal karena
hal tersebut kurangnya efisien kerja dan waktu, dampaknya juga

14

berpengaruh terhadap keselamatan kerja di kamar mesin. Oleh


karena itu maka penulis mengambil kesimpulan bahwa permasalahanpermasalahan tersebut akan menjadi landasan teori yang kemudian
penulis mencari cara penyelesaiannya dengan metode Planing
Organization Action Controling (POAC).
Dengan perawatan pencegahan kita mencoba untuk mencegah
terjadinya kerusakan atau bertambahnya kerusakan, atau untuk
menemukan kerusakan dalam tahap ini. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan

menggunakan

metode

tertentu

untuk

menelusuri

perkembangan yang terjadi. Perencanaan dan persiapan perbaikan


merupakan kaitan bersama. Hal itu telah dibuktikan melalui diskusi
dan tukar-menukar pengalaman, para peserta dapat menyetujui halhal yang praktis dan langkah-langkah organisasi yang akan di
jalankan oleh masing-masing pihak harus siap 1.
Oleh karena itu di dalam perawatan di kamar mesin agar selalu
diperhatikan perencanaan dalam melakukan pelaksanaan kerjanya.
Disini yang perlu diperhatikan meliputi lantai kamar mesin, instalasi
pipa-pipa, peralatan kerja diruang bengkel dan peralatan keselamatan
kerja. Karena instalasi dan peralatan-peralatan tersebut sangat
menunjang pekerjaan perawatan dan keselamatan kerja di kamar
mesin.
Melalui perawatan kita mencari jalan bagaimana mengotrol
atau memperlambat tingkat kemerosotan dan kita ingin melakukan
untuk beberapa alasan, ada 5 (lima) pertimbangan :
1. Pemilik kapal berkewajiban atas keselamatan dan kelaikan kapal.
2. Pengusaha berkepentingan untuk menjaga dan mempertahankan
nilai modal dengan cara memperpanjang umur ekonomis serta
meningkatkatkan nilai jual sebagai kapal bekas.
3. Mempertahankan kinerja kapal sebagai sarana angkutan dengan
cara meningkatkan kemampuan dan efisiensi.
1

J.E. Habibie, NSOS, Manajemen Perawatan Dan Perbaikan (halaman 16)

15

4. Memperhatikan efisiensi berkaitan dengan biaya-biaya operasi


kapal yang harus diperhitungkan.
5. Pengaruh

lingkungan

di

kapal

terhadap

awak

kapal

dan

kinerjanya 2.

B. Analisis Penyebab Masalah

Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa


pokok permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut adalah :

1. Pelaksanaan kerja yang kurang terarah


Didalam upaya perawatan di kamar mesin sering kali di
temukan pelaksanaan kerja yang tidak tertuju pada perawatan
berkesinambungan yang saling berhubungan antara pekerjaan
yang satu dengan yang lainnya, sehingga hasil pekerjaan yang
sudah dilakukan hasilnya tidak teratur karena tidak bisa mencakup
keseluruhan instalasi lantai dan pipa-pipa di kamar mesin hal itu
bisa terjadi karena penyebabnya adalah :

a. Minimnya informasi tentang rencana kerja

Karena kurangnya informasi yang diterima di kamar


mesin,

sehingga

para

anak

buah

kapal

(ABK)

mesin

memutuskan untuk mengambil keputusan masing-masing


dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini tidak bisa dipungkiri
karena sering kali pimpinan kurang lengkap dalam memberikan
informasi tentang rencana kerja, padahal sebagai anak buah
kapal (ABK) mesin harus melaksanakan tugas pekerjaan
harian.
2

Goenawan Danuasmoro, Manajemen Perawatan (halaman 5)

16

Demikian juga karena tidak ada informasi yang jelas


sehingga para anak buah kapal (ABK) mesin cenderung
bekerja menurut keputusannya sendiri, sehingga hasil kerja
perawatan kurang maksimal dan mengakibatkan pekerjaan
perawatan di kamar mesin menjadi tidak menentu karena
minimnya informasi yang diterima.

b. Pelaksanaan program kerja kurang teratur

Setiap melakukan pekerjaan di kamar mesin harus


melakukan pelaksanaan kerja yang teratur sesuai dengan apa
yang di sudah programkan, sehingga bisa memenuhi target
yang di dapat tanpa meninggalkan unsur keselamatan kerja.
Tetapi hal ini terjadi adalah pelaksanaan program-program
kerja yang tidak teratur sehingga setelah selesai melakukan
pekerjaan perawatan di kamar mesin tidak bisa mendapatkan
hasil yang memuaskan, karena sistem kerja tidak sesuai pada
program yang ada. Sehingga pekerjaan perawatan yang
selesai

dikerjakan

tidak

berkesinambungan

karena

pelaksanaan program kerja yang disusun tidak sesuai dengan


kondisi pada perawatan lantai dan instalasi pipa-pipa yang ada
di kamar mesin.

2. Perlengkapan keselamatan kerja kurang diperhatikan

Dalam melakukan suatu pekerjaan khususnya perawatan


dikamar mesin setiap anak buah kapal (ABK) mesin diharuskan
untuk memakai perlengkapan keselamatan kerja secara lengkap,
tetapi masih saja ditemui para anak buah kapal (ABK) mesin tidak
memakai secara lengkap, oleh karena itu penyebabnya adalah :

17

a. Kurangnya kesadaran para anak buah kapal (ABK) mesin

Untuk

menunjang

kelancaran

pekerjaaan

baik

perawatan maupun perbaikan di kamar mesin maka diperlukan


keterampilan dan kondisi fisik yang baik dari para anak buah
kapal (ABK) mesin. Oleh karena itu untuk melindungi anggota
tubuh maka diperlukan alat-alat keselamatan kerja, baik yang
bersifat standar perseorangan maupun alat-alat keselamatan
yang berfungsi khusus. Tetapi seringkali ditemui para anak
buah kapal di dalam melakukan pekerjaan di kamar mesin tidak
melengkapi peralatan keselamatan secara lengkap. Mereka
belum menyadari tentang betapa pentingnya perlengkapan
keselamatan

kerja

tersebut

digunakan,

karena

dalam

pelaksanakan kerja banyak sekali resikonya.

b. Tidak berfungsinya perlengkapan keselamatan kerja

Karena tidak dirawat dengan baik maka alat-alat kerja


bisa mengakibatkan kerusakan, sehingga hal tersebut sering
kali tidak bisa digunakan. Hal itu terjadi karena disamping
perawatan serta penyimpanan yang tidak benar, juga di
pengaruhi oleh kwalitas alat-alat keselamatan kerja yang
kurang bagus yang telah diberikan dari perusahaan ke kapal.
Tentang

cara

penyimpanan

yang

salah

sangat

besar

pengaruhnya pada kondisi alat-lat keselamatan kerja tersebut,


karena apabila disimpan di tempat penyusunan yang salah,
maka bisa mengakibatkan kerusakan di tempat penyimpanan.
Permasalahan ini sering kali terjadi karena para anak buah
kapal (ABK) mesin kurang menyadari betapa pentingnya
merawat

alat-alat

keselamatan kerja tersebut,

sehingga

18

sewaktu ada kejadian darurat peralatan keselamatan tersebut


tidak bisa dipakai secara maksimal.

C. Analisis Pemecahan Masalah

1. Pelaksanaan kerja yang terarah

a. Memberikan informasi yang jelas tentang rencana kerja

Pelaksanaan perawatan instalasi yang di kamar mesin


sebaiknya dilakukan dengan perencanaan yang baik, dan di
informasikan kepada semua anak buah kapal (ABK) mesin,
sehingga dalam pelaksanaan kerja akan lebih terarah dan tepat
sasaran. Dengan informasi yang diterima dengan jelas maka
anak buah kapal (ABK) mesin akan bekerja mengikuti prosedur
yang berlaku hal itu bertujuan pada hasil kerja yang akan
dicapai nantinya sesuai dengan perintah dari pimpinan maupun
kepala kerja. Untuk menghindari kesalahan yang terjadi maka
informasi harus di terima dengan jelas. Diharapkan agar kepala
kerja selalu memantau pekerjaan perawatan instalasi-instalasi di
kamar mesin, supaya apabila ada informasi yang tidak jelas
atau pekerjaan perawatan instalasi-instalasi yang menyimpang
akan segera di terangkan sehingga nantinya informasi-informasi
yang sudah diterima bisa di jalankan dengan baik.
Dengan informasi yang diterima dengan jelas maka bisa
diharapkan rencana kerja yang terarah, maka langkah-langkah
yang diharapkan yaitu :
1). Dengan informasi yang diterima dengan jelas, maka anak
buah kapal (ABK) mesin bisa menyiapkan peralatan kerja
yang akan di gunakan dalam pelaksanaan kerja perawatan
instalasi-instalasi di kamar mesin.

19

2). Pada saat pelaksanaan kerja yang sesuai dengan informasi


yang diterima, bisa mengantisipasi kejadian-kejadian yang
tidak diinginkan, karena setiap langkah kerja bisa dipantau
oleh kepala kerja dan bisa di kordinasikan dengan pimpinan
dan anak buah kapal (ABK) mesin yang lainnya.
3). Setiap melakukan pekerjaan perawatan, diharapkan saling
memberikan informasi sesama anak buah kapal (ABK)
mesin, sehingga hasilnya bisa saling berkesinambungan
dan pekerjaan perawatan instalasi di kamar mesin yang
dihasilkan tidak tumpang tindih.
4). Dengan cara sistem kerja yang terkontrol dengan baik
melalui informasi-informasi yang di terima dan di akhir
pekerjaan, anak buah kapal (ABK) mesin bisa melaporkan
hasil kerja kepada pimpinan yang nantinya dapat diambil
kesimpulan, sehingga berguna bagi pekerjaan-pekerjaan
perawatan instalasi-instalasi di kamar mesin yang lainnya.
Suatu organisasi pemeliharaan yang efisien haruslah
fleksibel, instruksi pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan, baik
secara lisan maupun tulisan, dapat begitu mudah diartikan
secara berbeda oleh ABK yang berbeda. Umpan balik dari
seorang

ABK

mengenai

pekerjaan

yang

dikerjakannya,

misalnya apa yang rusak, penyebab kerusakan dan penjelasan


lengkap mengenai reparasi yang telah dilakukan adalah
informasi

penting

bagi

manajemen

dan

pimpinan

yang

memungkinkan mereka mengendalikan operasi pemeliharaan 3.

b. Memperbaiki pelaksanaan program kerja yang teratur

Supaya pekerjaan perawatan di kamar mesin bisa merata


dan teratur maka pelaksanaan program kerja perlu dilakukan
3

ANTONY CORDER, Teknik Manajemen Pemeliharaan (halaman 15)

20

dengan tepat dan efisien. Supaya nantinya akan menghasilkan


perawatan-perawatan

yang

rutin

dan

teratur,

sehingga

pekerjaan perawatan bisa dlakukakan secara berurutan. Hal ini


bertujuan supaya pekerjaan yang satu dengan yang lainnya bisa
saling berkaitan, jangan sampai area tertentu dikerjakan lebih
dari satu kali, sedangkan masih ada area yang lain tidak ada
penanganan sama sekali.
Dengan

mengharapkan

hasil

yang

maksimal

maka

langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :


1). Catatan program kerja agar selalu disusun secara teratur
dan diteliti sehingga pekerjaan yang akan dilakukan dapat
dikerjakan dengan baik, supaya apa yang diprogramkan
dapat berjalan secara teratur sesuai dengan program kerja
yang sudah disusun.
2). Pelaksanaan perawatan supaya dilakukan dengan baik dan
terarah sesuai dengan apa yang sudah diprogramkan,
karena akan mengacu pada pekerjaan-pekerjaan perawatan
selanjutnya sehingga dapat saling berkesinambungan antara
perawatan yang sudah dikerjakan dan yang akan dikerjakan
selanjutnya.
3). Tentang hasil pekerjaan perawatan instalasi-instalasi yang
ada di kamar mesin agar selalu diawasi secara rutin dan
teratur karena hal itu merupakan bagian dari pelaksanaan
program kerja.
4). Laporan dan masukan dari anak buah kapal (ABK) mesin
sangat

berguna

sekali dalam program kerja, sehingga

nantinya dapat diambil kesimpulan supaya bisa dianalisa


sehingga sangat menunjang dalam program perawatan yang
terencana dengan baik.

21

2. Perlengkapan keselamatan kerja agar lebih diperhatikan

Untuk menunjang keselamatan kerja maka diperlukan


perlengkapan keselamatan kerja yang baik dan benar. Maka
untuk itu diharapkan para anak buah kapal (ABK) mesin agar
selalu

memperhatikan

dan

mentaati

serta

melaksanakan

peraturan tentang pentingnya memakai peralatan keselamatan


kerja secara lengkap sewaktu melakukan aktifitas perawatan
kerja di kamar mesin.

a. Memberi masukan kepada ABK

tentang penggunaan

peralatan keselamatan kerja

Di sini para anak buah kapal (ABK) mesin diharapkan


kesadarannya

supaya

mengerti

tentang

pentingnya

menggunakan perlengkapan keselamatan kerja. Khususnya


pada saat melakukan aktifitas perawatan kerja di kamar
mesin, karena hal tersebut menyangkut keselamatan jiwa
seseorang. Sehingga pekerjaan-pekerjaan perawatan yang
dilakukan di kamar mesin bisa terlaksana dengan baik, tanpa
meninggalkan unsur keselamatan kerja.
Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam masukan kepada anak buah kapal (ABK) mesin
mengenai pemakaian peralatan keselamatan yaitu:
1). Diharapkan kepada seluruh anak buah kapal (ABK) mesin
dengan

kesadarannya

masing-masing

agar

selalu

mempergunakan perlengkapan keselamatan kerja secara


lengkap pada saat melakukan pekerjaan perawatan di
kamar mesin.
2). Dengan melakukan pengarahan-pengarahan baik secara
tertulis maupun secara langsung kepada anak buah kapal
(ABK)

mesin

tentang

pentingnya

penggunaan

22

perlengkapan kerja secara lengkap, karena hal tersebut


untuk kepentingan keselamatan para anak buah kapal
(ABK) mesin yang bersangkutan.
3). Apabila pengarahan sudah dilakukan tetapi masih saja
melanggar aturan tersebut, maka sebaiknya diberikan
teguran pertama dan selanjutnya akan diberikan teguran
yang keras bahkan kalau perlu diturunkan dari kapal
apabila dikemudian hari masih melanggar peraturan
tersebut.
4).

Peran aktif perwira di kamar mesin dalam melakukan


sosialisasi tentang pentingnya penggunaan perlengkapan
kerja secara lengkap juga diharapkan untuk menunjang
kesadaran para anak buah kapal (ABK) mesin dalam
mentaati peraturan keselamatan kerja tersebut.

b. Memperbaiki dan merawat peralatan keselamatan kerja

Peralatan keselamatan kerja di kamar mesin sangat


penting diperlukan guna menunjang kinerja dalam perbaikan
maupun perawatan di kamar mesin, oleh karena itu peralatan
keselamatan kerja tersebut harus dirawat dengan benar
tentang

cara

penyimpanan

sampai

dengan

cara

penggunaannya.
Disini dijelaskan bahwa lahkah-langkah yang harus
dilakukan dalam perawatan dan perbaikan tentang peralatan
kerja yaitu :
1). Untuk menjaga alat-alat kerja supaya bisa digunakan
dalam jangka waktu panjang, maka diperlukan perawatanperawatan yang tepat sesuai dengan bahannya dan
jenisnya.
2). Begitu juga apabila ada peralatan keselamatan kerja yang
rusak agar segera diperbaiki dan apabila sudah tidak bisa

23

diperbaiki ada baiknya untuk didata supaya bisa diajukan


permintaan lagi kepada perusahaan.
3). Di dalam penggunaannya
tersebut

peralatan keselamatan kerja

harus dipakai sesuai dengan kegunaannya

masing-masing, karena dengan penggunaan yang salah


bisa mengakibatkan rusaknya alat-alat tersebut.
4). Perlu diperhatikan tentang cara penyimpanan peralatan
keselamatan kerja tersebut, agar diusahakan lebih teratur
untuk menghindari kerusakan peralatan keselamatan kerja
di dalam tempat penyimpanannya hal ini yang harus
dipahami oleh anak buah kapal (ABK) mesin sehingga
peralatan keselamatan tersebut bisa digunakan dengan
baik sewaktu-waktu diperlukan.

24

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Perawatan di kamar mesin rutin dilakukan secara benar dan


terarah guna menunjang keselamatan kerja dan untuk memperlancar
operasional kapal. Karena apabila dilakukan tidak sesuai dengan
sasaran

akan

mengakibatkan

kerugian-kerugian

baik

yang

menyangkut aspek keselamatan maupun efisiensi kerja. Yang menjadi


pokok permasalahan pada kapal AHT OCEAN UNITY I pada saat
penulis bekerja di kapal tersebut adalah pelaksanaan kerja yang tidak
terarah

dan

perlengkapan

keselamatan

kerja

yang

kurang

diperhatikan.
Adapun kesimpulan dari bab sebelumnya adalah :
1. Perawatan kamar mesin yang tidak teratur dikarenakan minimnya
informasi yang diterima oleh anak buah kapal (ABK) mesin,
sehingga dalam pelaksanaan kerja tidak ada koordinasi antara
pimpinan maupun anak buah kapal (ABK) mesin yang lainnya.
2. Pelaksanaan program kerja yang sudah dikerjakan maupun yang
belum dikerjakan tidak sesuai dengan prosedur yang tepat
sehingga dalam pelaksanaan kerja tidak saling berkaitan karena
pelaksanaan program kerja yang kurang teratur.
3. Kurangnya kesadaran para anak buah kapal (ABK) mesin dalam
mentaati peraturan keselamatan dan penggunaan perlengkapan
keselamatan kerja kurang lengkap sewaktu melakukan aktifitas
perawatan di kamar mesin.
4. Kurangnya kwalitas yang bagus dan salah dalam penyimpanan
peralatan keselamatan kerja sehingga mengakibatkan kerusakan
pada peralatan tersebut sehingga pada waktu mau digunakan alatalat tersebut tidak berfungsi dengan baik.

25

B. Saran-saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah penulis uraikan di atas


tentang pentingnya perawatan di kamar mesin guna menunjang
keselamatan kerja, maka penulis memberikan saran-saran sebagai
berikut :
1. Meningkatkan informasi tentang perawatan kamar mesin kepada
seluruh

anak

pelaksanaan

buah
kerja

kapal
nantinya

(ABK)
bisa

mesin

sehingga

mendapatkan

hasil

dalam
yang

maksimal sesuai seperti yang sudah di instruksikan dari pimpinan.


2. Diharapkan supaya pelaksanaan program kerja yang akan
dilakukan agar ditingkatkan kembali dengan menganalisa pada
kondisi yang ada sesuai dengan standart peraturan perusahaan
sehingga nantinya pelaksanaan program kerja bisa berjalan
dengan baik dan tepat sasaran.
3. Agar lebih ditingkatkan kesadaran kepada para anak buah kapal
(ABK) mesin agar selalu mentaati peraturan keselamatan dan
menggunakan perlengkapan keselamatan kerja secara lengkap
sewaktu melakukan aktifitas perawatan di kamar mesin.
4. Supaya meningkatkan kwalitas peralatan keselamatan kerja dan
perlu

diperhatikan

tentang

cara

penyimpanan

peralatan

keselamatan kerja tersebut dengan benar, agar bisa digunakan


sewaktu-waktu apabila diperlukan.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Antony Corder .(1988), Teknik Manajemen Pemeliharaan, Penerbit: PT


Erlangga, Jakarta
2. J.E. Habibie, NSOS, Manajemen Perawatan Dan Perbaikan
3. Dr. Bennet N.B Silalahi. MA dan Rumondang B. Silalahi. MPH
(1995), Manajemen Keselamatan Dan Keselamatan Kerja, Penerbit:
PT Pustaka Minaman Pressindo, Jakarta
4. Goenawan Danuasmoro, Manajemen Perawatan (2002) Penerbit:
Yayasan Bina Citra Samudera, Jakarta

27

DAFTAR LAMPIRAN

1. Ship particular .................................................................... Lampiran 1


2. Crew List ............................................................................ Lampiran 2
3. Daftar Riwayat Hidup.......................................................... Lampiran 3
4. Gambar kapal ..................................................................... Lampiran 4
5. Gambar baju standart keselamatan kerja ......................... ..Lampiran 5
6. Gambar seorang ABK sedang melakukan perbaikan ......... Lampiran 6
7. Gambar seorang ABK sedang melakukan perawatan ........ Lampiran 7
8. Gambar ruang bengkel di kamar mesin .............................. Lampiran 8

28