Anda di halaman 1dari 205

LAPORAN

HIBAH PENULISAN BUKU AJAR

MATA KULIAH

KIMIA ORGANIK SINTESIS


BAGIAN 2

Oleh :
Dr. Firdaus, M.S

Dibiayai oleh Dana DIPA Layanan Umum


Universitas Hasanuddin Tahun 2014
Sesuai dengan SK Rektor Unhas Nomor 813/UN4.12/PP.12/2014
Tanggal 8 April 2014

PROGRAM STUDI KIMIA JURUSAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2014

KATA PENGANTAR

Kimia organik sintesis berkembang dari hasil penelitian yang dilakukan di


laboratorium, baik dari hasil penelitian kimia organik bahan alam maupun dari hasil
penelitian pengembangan material yang telah dikenal. Manfaat dari perkembangan
ilmu ini bagi kesejahteraan umat manusia sebenarnya sudah sangat banyak, namun
ilmu ini tetap saja menuai tudingan negatif dari para pemerhati lingkungan. Oleh
karena itu, pemikiran tentang bagaimana meminimalisasi dampak negatif proses
sintesis juga telah menjadi pemikiran serius dari para kimiawan, dan menghasilkan
bidang ilmu kimia yang baru, yakni Green Chemistry.
Di dalam proses pembelajarannya, ilmu ini mempunyai daya tarik bagi
mahasiswa karena dapat melatih mahasiswa untuk berpikir secara analisis dan
sintesis, serta dapat mengembangkan kreativitas dan nalar mahasiswa. Di dalam
kurikulum 2009 Program Studi Kimia FMIPA Unhas, mata kuliah Kimia Organik
Sintesis beri bobot 4 sks dan disajikan dalam dua semester, yaitu Kimia Organik
Sintesis I dengan bobot 2 sks dan Kimia Organik Sintesis II dengan bobot 2 sks pula.
Buku ajar Kimia Organik Sintesis I telah disusun oleh penulis pada tahun 2012 yang
lalu dan telah diunggah ke internet.
Di dalam kurikulum 2014 Program Studi Kimia FMIPA Unhas, kedua mata kuliah
tersebut telah digabung menjadi satu di dalam mata kuliah Kimia Organik Sintesis
dengan bobot 4 sks. Oleh karena itu, penulis memandang perlu menyusun buku ajar
Kimia Organik Sintesis bagian 2 ini sebagai kelanjutan buku ajar Kimia Organik
Sintesis I tersebut di atas. Jadi, dengan terbitnya buku ajar Kimia Organik Sintesis
Bagian 2 ini maka buku ajar Kimia Organik Sintesis I tersebut merupakan bagian
pertama buku ajar mata kuliah Kimia Organik Sintesis yang terdapat di dalam
Kurikulum 2014 Program Studi Kimia FMIPA Unhas.
Berdasarkan penelusuran literatur, penulis menemukan beberapa buku kimia
organik sintesis yang masih mengandung penulisan mekanisme reaksi yang kurang
logis, bahkan cenderung tidak konsisten sehingga dapat membingunkan mahasiswa.
Salah salah buku teks yang penulis anggap cukup memadai untuk digunakan sebagai
referensi dalam pengajaran kimia organik sintesis di tingkat S-1 adalah buku yang

iii

ditulis oleh N.O.C. Norman dan J.M. Coxon dengan judul Principles of Organic
Synthesis, meskipun buku itu juga masih mengandung kekurangan sebagaimana
yang telah dikemuan di atas. Oleh karena itu di dalam penulisan buku ini, penulis lebih
banyak mengacu pada buku tersebut dan berusaha untuk menyajikan mekanisme
reaksi yang logis dan konsisten. Penulis berharap bahwa dengan kehadiran buku ini
akan dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari tentang kimia organik sintesis,
dan menghilangkan kebingungannya tentang cara menuliskan mekanisme reaksi
kimia organik.
Penyusunan buku ajar ini pada dasarnya diperuntukkan untuk mahasiswa
program studi S-1 Ilmu Kimia, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dapat digunakan
pada disiplin ilmu yang serumpun seperti pada program studi Ilmu Farmasi. Penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan buku ini melalui
E-mail: firdaus_tdg@yahoo.com, serta tak lupa mengucapkan Syukur Alhamdulillah
atas rahmat dan hidayahNya, dan menyampaikan terima kasih kepada pihak
Universitas Hasanuddin atas dana yang diberikan sehingga penyusunan buku ajar
berbasis content ini dapat terselesaikan.

Makassar, 14 Oktober 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN

.......

SURAT PERNYATAAN .................................................................................

ii

KATA PENGANTAR .....................................................................................

iii

DAFTAR ISI ..................................................................................................

iv

BAB 1 PENDAHULUAN

...........................................................................

1.1

Gambaran Profil Lulusan Program Studi Kimia .....................

1.2

Kompetensi Lulusan ..............................................................

1.3

Analisis Kebutuhan Pembelajaran .........................................

(a) Kondisi awal mahasiswa peserta mata kuliah Kimia


Organik Sintesis

..............................................................

(b) Norma pedagogis pemilihan materi pembelajaran ...........

(c) Pendekatan pembelajaran Kimia Organik Sintesis ...........

(d) Metode pembelajaran Kimia Organik Sintesis ..

1.4

Tinjauan Mata Kuliah ..............................................................

1.5

Rancangan Pembelajaran .......................................................

BAB 2 PEMBENTUKAN IKATAN KARBON-NITROGEN ALIFATIK .......

16

2.1

Pendahuluan ..

16

2.2

Prinsip Pembentukan Ikatan Karbon-Nitrogen

16

(a) Nitrogen nukleofil ..

16

(b) Nitrogen elektrofilik

17

Substitusi Nitrogen Nukleofil Pada karbon Tak Jenuh ...

18

(a) Reaksi amoniak dan amina .

18

(b) Reaksi nukleofil nitrogen yang lain .

21

Adisi Nitrogen Nukleofil Ke Karbon Tak-Jenuh ...

23

(a) Reaksi dengan aldehid dan keton ..

23

(b) Reaksi dengan karbon tak jenuh jenis yang lain .

28

Substitusi Oleh Nitrogen Nukleofil Pada Karbon Tak Jenuh

30

(a) Reaksi amoniak dan amina .

31

(b) Reaksi nukleofil nitrogen lain ..

33

Reaksi Elektrofilik Nitrogen

33

(a) Nitrosasi .

33

2.3

2.4

2.5

2.6

(b) Nitrasi .

35

(c) Pembentukan Imina .

35

Penutup .

36

(a) Soal tes formatif .

37

(b) Umpan balik ...

37

SUBSTITUSI AROMATIK ELEKTROFILIK

39

3.1

Pendahuluan .

39

3.2

Mekanisme Substitusi

39

3.3

Deaktivasi dan Faktor Pengontrol Kecepatan .

42

3.4

Pembentukan Ikatan karbon-Karbon

43

(a) Alkilasi Friedel-Crafts

43

(b) Asilasi Friedel Crafts .

47

(c) Klorometilasi

49

(d) Formilasi Gatterman-Koch ..

51

(e) Formilasi Gattermann

51

(f) Asilasi Hoesch

52

(g) Formilasi Vilsmeyer ..

53

(h) Formilasi Reimer-Tiemann ..

54

(i) Karboksilasi Kolbe-Schmitt ...

55

(j) Reaksi Mannich ..

56

Pembentukan Ikatan Karbon-Nitrogen .

56

(a) Nitrasi .

56

(b) Nitrosasi

60

Pembentukan Ikatan Karbon-Belerang

61

(a) Sulfonasi ..

61

(b) Klorosulfonasi .

63

(c) Sulfonilasi

63

Pembentukan Ikatan Karbon Halogen ..

64

(a) Klorinasi

64

(b) Brominasi

65

(c) Iodinasi

65

Reaksi-Reaksi Lain .

66

(a) Hidroksilasi .

66

2.7

BAB 3

3.5

3.6

3.7

3.8

vi

(b) Metalasi ..

66

(c) Penggantian gugus-gugus selain hidrogen ..

67

Penutup .

70

(a) Soal tes formatif

70

(b) Umpan balik ...

71

BAB 4 SUBSTITUSI NUKLEOFILIK AROMATIK

73

3.9

4.1

Pendahuluan

..

73

4.2

Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik Aromatk

73

4.3

Penggantian Ion Hidrida ...

74

4.4

Penggantian Anion Lain

75

(a) Halida .

75

(b) Oksianion ..

77

(c) Ion sulfida ...

77

(d) Anion nitrogen ..

77

4.5

Substitusi Lewat Benzin .

79

4.6

Reaksi SRN1 .

80

4.7

Reaksi Bucherer ..

81

4.8

Penutup

82

(a) Soal tes formatif

82

(b) Umpan balik ..

82

BAB 5 GARAM DIAZONIUM AROMATIK ..

84

5.1

Pendahuluan ..

84

5.2

Pembentukan Garam Diazonium ..

84

5.3

Reaksi Diazonium

85

(a) Reaksi nukleofil pada nitrogen

85

(b) Reaksi SN1 .

86

(c) Reduksi satu-elektron

86

Reaksi Di Mana Nitrogen yang Tereliminasi ..

87

(a) Penggantian oleh hidroksil .

87

(b) Penggantian oleh halogen ..

87

(c) Penggantian dengan siano .

88

(d) Penggantian dengan nitro

89

(e) Penggantian dengan hidrogen

89

5.4

vii

(f) Penggantian dengan karbon alifatik

91

(g) Penggantian dengan karbon aromatik

92

(h) Penggantian dengan spesies lain ..

95

Reaksi Di Mana Nitrogen Dipertahankan

96

(a) Reduksi menjadi arilhidrazin ..

96

(b) Reaksi kopling ..

96

Nilai Sintesis Diazo-Kopling ..

100

(a) Bahan Celupan .

100

(b) Indikator .

102

(c) Sintesis amina ..

102

(d) Sintesis kuinon ..

103

Penutup .

103

(a) Soal tes formatif

104

(b) Umpan balik ..

104

PENATAAN ULANG MOLEKUL .

106

5.5

5.6

5.7

BAB 6

6.1

Pendahuluan .. 106

6.2

Penatan Ulang Ke Karbon Kekurangan Elektron . 106

6.3

(a) perpindahan karbon .

106

(b) Perpindahan halogen, oksigen, belerang, dan nitrogen ..

114

Penataan Ulang Ke Nitrogen Kekurangan Elektron . 117


(a) Penataan ulang Hofmann, Curtius, Schmidt, dan Lossen

117

(b) Penataan Ulang Beckmann

120

6.4

Penataan Ulang Ke Oksigen Kekurangan Elektron ..

121

6.5

Penataan Ulang Ke Karbon Kaya Elektron .

122

6.6

Penataan Ulang AromatiK .

124

(a) Perpindahan antarmolekul dari nitrogen ke karbon .

125

(b) Perpindahan antarmolekul dari oksigen ke karbon ..

126

(c) Perpindahan intramolekul dari nitrogen ke karbon ..

127

(d) Perpindahan intramolekul dari oksigen ke karbon 128


6.7

BAB 7

Penutup .

129

(a) Soal tes formatif ..

129

(b) Umpan balik .

130

OKSIDASI .

132

viii

7.1

Pendahuluan .

132

7.2

Hidrokarbon .

133

(a) Ikatan rangkap alkena .

133

(b) Cincin aromatik .

139

(c) Gugus CH jenuh

142

Sistem yang Mengandung Oksigen ..

148

(a) Alkohol primer

148

7.3

(b) Alkohol sekunder 152

7.4

(c) Alkohol alilik

153

(d) Alkohol benzilik ..

154

(e) 1,2-Diol

156

(f) Aldehida ..

157

(g) Keton ..

158

(h) -Ketol

159

Sistem yang Mengandung Nitrogen .

160

(a) Amina primer .

160

(b) Amina sekunder .. 162


(c) Amina tersier ..

162

(d) Hidrazin 162


(e) Hidrazon .

163

Sistem yang Mengandung Belerang .

164

(a) Tiol ..

164

(b) Sulfida

165

7.6

Sistem yang Mengandung Fosfor .

166

7.7

Sistem yang Mengandung Iodin

166

7.8

Penutup .

166

(a) Soal tes formatif

167

(b) Umpan balik ..

167

REDUKSI ..
8.1 Pendahuluan

170

8.2

Hidrokarbon .....

171

(a) Alkana .

171

(b) Alkena .

171

7.5

BAB 8

ix

170

8.3

8.4

(c) Alkena terkonjugasi ..

175

(d) Alkuna .

177

(e) Cincin Aromatik .

178

Hidrogenolisis 180
(a) Sistem benzilik ..

180

(b) Sistem alilik

182

(c) Sistem alkil .

183

(d) Sistem aromatik .

184

Aldehida dan Keton .

185

(a) Reduksi menjadi hidrokarbon 185

8.5

8.6

8.7

(b) Reduksi menjadi Alkohol .

187

(c) Reduksi menjadi 1,2-diol ..

190

Epoksida

190

(a) Litium aluminium hidrida ..

190

(b) Hidroborasi

191

Asam dan Turunannya ..

191

(a) Reduksi menjadi alkohol dan amina .

192

(b) Reduksi menjadi aldehida

194

Sistem yang Mengandung Nitrogen 198


(a) Senyawa nitro

198

(b) Imina

201

(c) Oksim 203

8.8

8.9

(d) Senyawa nitroso

204

(e) Senyawa-Azo

205

Sistem yang mengandung belerang . 205


(a) Disulfida ..

205

(b) Sulfonil klorida ..

206

Penutup

206

(a) Soal tes formatif

206

(b) Umpan balik ..

207

BAB 2
PEMBENTUKAN IKATAN KARBON-NITROGEN ALIFATIK
2.1 Pendahuluan
Bab ini membahas tentang reaksi pembentukan ikatan antara atom karbon dan
atom nitrogen. Sebagaimana diketahui bahwa atom nitrogen di dalam suatu senyawa,
seperti amoniak dan amina memiliki satu pasangan elektron bebas sehingga di dalam
reaksi, senyawa-senyawa semacam itu akan bertindak sebagai nukleofil, dan akan
bereaksi dengan karbon elektrofil. Nitrogen juga dalam beberapa spesies kimia
tertentu dapat juga bersifat elektrofil sehingga dalam pembentukan ikatan dengan
karbon memerlukan karbon yang bersifat nukleofil. Umumnya nitrogen di dalam
spesies kimia seperti itu mengemban muatan positif.
Mekansime reaksi pembentukan ikatan karbon nitrogen di mana nitrogen
bertindak sebagai nukleofil tentu berbeda dengan mekanisme reaksi di mana nitrogen
bertindak sebagai elektrofil. Perbedaan itulah yang menjadi fokus bahasan dalam
Bab ini, baik itu menyangkut struktur spesies kimia yang terkait, tahap-tahap reaksi,
kondisi reaksi di mana reaksi dapat berjalan, dan mekanisme reaksinya. Beberapa
bahasan diberikan pula contoh reaksi beserta rendamennya.
2.2 Prinsip Pembentukan Ikatan Karbon-Nitrogen
Pembentukan ikatan antara karbon dengan nitrogen dibagi ke dalam dua
metode. Pertama adalah nitrogen nukleofil bereaksi dengan karbon elektrofil, kedua
adalah nitrogen elektrofil bereaksi dengan karbon nukleofil. Metode pertama
merupakan metode yang lebih penting daripada metode kedua.
(a) Nitrogen nukleofil
Suatu atom nitrogen terneri memiliki sebuah pasangan elektron dan oleh
karena atom tersebut bersifat nukleofil. Nitrogen terneri dapat bereaksi dengan
karbon jenuh di mana suatu gugus dapat digantikan dengan pasangan elektron ikatan
kovalen (reaksi SN2).

Nitrogen terneri dapat juga bereaksi dengan karbon tak jenuh, dan pada awalnya
menghasilkan spesies teradisi (adduct).

16

Produk reaksi-reaksi tersebut di atas tergantung pada jenis reaktannya. Di


dalam proses SN2, jika atom nitrogen tidak mengikat hidrogen maka yang terbentuk
adalah suatu garam kuaterneri.

Akan tetapi, jika nitrogen mengikat satu atau lebih atom hidrogen maka satu atom
hidrogen akan dilepaskan sebagai proton menghasilkan nitrogen terneri baru yang
dapat bereaksi lebih lanjut.

Reaksi pada pusat tak-jenuh dapat diikuti dengan pergeseran proton


menghasilkan suatu spesies teradisi, sebagai contoh:

Jika gugus karbonil mengikat sebuah gugus pergi yang bersifat elektronegatif maka
akan terjadi pelepasan sebuah proton dan sebuah anion, sebagai contoh:

Eliminasi juga lazim terjadi dari spesies teradisi bila situasi struktur memungkinkan.

(b) Nitrogen elektrofilik


Nitrogen di dalam kation seperti ion diazonium aromatik (ArN2+), ion nitronium
(+NO2), dan ion nitrosonium (+N=O), serta di dalam molekul netral seperti alkil nitrit

17

(RO-N=O) dan nitroso (R-N=O) adalah nitrogen elektrofil. Atom nitrogen di dalam alkil
nitrit dan senyawa berkaitan dengannya adalah elektrofil karena penambahan
nukleofil menghasilkan sebuah oksianion yang relatif stabil; reaksi ini disempurnakan
dengan pelepasan sebuah anion, sebagai contoh:

Reaksi ini analog dengan reaksi antara nukleofil dengan suatu ester karboksilat.
2.3 Substitusi Nitrogen Nukleofil Pada karbon Tak Jenuh
(a) Reaksi amoniak dan amina
Pengolahan suatu alkil halida dengan amoniak mulanya menghasilkan asam
konjugasi dari amina primer, sebagai contoh:

Spesies ini kemudian bereaksi lagi dengan amoniak menghasilkan amina primer
dalam kesetimbangan asam-basa,

dan amina primer tersebut bereaksi dengan molekul halida kedua,

Reaksi selanjutnya akan mengarah kepada pembentukan amina tersier dan garam
amonium kuaterner.
Sebagai konsekwensi dari reaksi di atas adalah terbentuknya campuran
produk reaksi, dan alkilasi sederhana amoniak adalah suatu proses yang tidak efisien
untuk pembuatan amina sekunder dan tersier. Akan tetapi, penggunaan amoniak
yang berlebih dapat menghasilkan amina primer dengan rendamen yang lebih baik;
dan hal ini menandakan bahwa amina yang terbentuk adalah kompetitor yang tidak
efektif untuk bereaksi dengan halida.
(i) Halida. Sebagaimana halnya di dalam proses SN2 yang lain, aril dan
alkenil halida lembam terhadap amina dan amoniak. Halida primer bereaksi secara

18

efisien tetapi halida sekunder biasanya memberikan produk eliminasi dengan


rendamen yang relatif berarti, dan halida tersier memberikan produk yang seluruhnya
adalah produk eliminasi, dan amina secara istimewa bereaksi sebagai basa dan
berjalan melalui reaksi eliminasi E2. Alkil tersier amina seperti (CH3)3C-NH2 biasanya
dibuat melalui reaksi pereaksi Grignard dengan O-metilhidroksilamina, atau
menggunakan reaksi Ritter seperti berikut.

(ii) Metode Gabriel. Masalah yang muncul di dalam usaha membuat amina
primer melalui monoalkilasi dipecahkan dengan prosedur Gabriel. Reaksi ini
berdasarkan pada fakta bahwa ftalamida mempunyai sebuah gugus asam N-H
bereaksi dengan basa menghasilkan anion yang mengandung nitrogen; dan sebagai
nukleofil, nitrogen tersebut bereaksi dengan alkil halida. Hidrolisis terhadap senyawa
hasilnya akan menghasilkan amina primer.

2
2

Sebagai contoh, kalium ftalamida bereaksi dengan 1,2-dibromoetana berlebih pada


suhu 180-190C menghasilkan -ftalamidiletil bromida dengan rendamen reaksi 75%,
hidrolisis lebih lanjut menghasilkan -bromoetilamina.

19

(iii)

Gugus pergi lain. Seperti biasanya di dalam reaksi SN2, alkohol relatif

lembam terhadap nitrogen nukleofil. Akan tetapi, di dalam kondisi yang relatif keras
dengan adanya asam Lewis yang membantu perginya ion hidroksida melalui
koordinasi dengan oksigen maka reaksi dapat dilangsungkan. Sebagai contoh,
metilamina secara industri dibuat melalui reaksi metanol dengan amoniak pada suhu
400C di bawah tekanan dan adanya alumina.

Seperti halnya alkohol, eter juga relatif lembam, tapi eter siklik dapat bereaksi.
Sebagai contoh, etilen oksida bereaksi dengan amina sekunder menghasilkan amina
tersier -hidroksi.

Sementara amoniak bereaksi dengan etilen oksida menghasilkan amina primer hidroksi, amina sekunder -hidroksi, dan amina tersier -hidroksi secara berurutan.

Reaksi lain yang analog dengan reaksi di atas adalah reaksi amoniak dengan propiolakton menghasilkan -alanin.

20

Substitusi nukleofilik intramolekul dapat terjadi dengan mudah menghasilkan


cincin alisiklik beranggota tiga, lima, dan enam. Sebagai contoh, distilasi etanolamin
hidrogen sulfat dengan larutan natrium hidroksida menghasilkan etilenimina.

Demikian

pula

dengan

tetrametilendiamina,

dan

pirolidin

terbentuk

piperidina

terbentuk

melalui
melalui

pemanasan

garam

pemanasan

garam

pentametilendiamina secara berturut-turut.

(b) Reaksi nukleofil nitrogen yang lain


(i) Nitrit. Logam nitrit dapat bereaksi dengan alkil halida pada nitrogen dan
oksigen secara berturut-turut menghasilkan senyawa nitro dan nitrit.

21

Perbandingan dua produk tersebut tergantung pada struktur reaktan dan kondisi
reaksi.
(1) Berkaitan dengan halida, perak nitrit yang disuspensikan di dalam eter
memberikan senyawa nitro dengan proporsi yang lebih besar daripada logam
alkali nitrit.
(2) Berkaitan dengan nitrit, proporsi senyawa nitro menurun dari halida primer ke
halida sekunder ke halida tersier. Sebagai contoh:

(3) Meskipun secara normal logam alkali nitrit memberikan senyawa nitro dengan
rendamen yang sangat rendah, tapi penggunaan pelarut polar aprotik DMF
dan DMSO untuk alkil primer dan sekunder bromida, dan alkil primer dan
sekunder iodida sangat meningkatkan rendamen reaksi (sampai sekitar 5060%). Akan tetapi, alkil halida tersier di dalam kondisi ini mengalami eliminasi.
Sebagai contoh, t-butil bromida menghasilkan isobutilen.
Nitrometana dapat diperoleh secara konvensional melalui reaksi seperti berikut,
meskipun rendamennya tidak tinggi.

22

(ii) Ion azida. Halida bereaksi dengan azida seperti natrium azida
menghasilkan alkil azida. Reaksi ini menyediakan suatu metode untuk pembuatan
amina primer melalui reduksi katalitik azida, sebagai contoh:

(iii)

Hidrazin.

Hidrazin

bereaksi

dengan

alkil

halida

menghasilkan

alkilhidrazin. Masuknya gugus alkil pertama meningkatkan nukleofilisitas nitrogen


teralkilasi sehingga alkilasi lebih lanjut cenderung terjadi. sebagai contoh:

2.4 Adisi Nitrogen Nukleofil Ke Karbon Tak-Jenuh


(a) Reaksi dengan aldehid dan keton
(i) Amoniak. Amoniak bereaksi dengan aldehid dan keton tertentu, namun
biasanya produknya kompleks. Reaksi dengan aldehida, tahap pertama adalah reaksi
adisi nukleofilik sederhana,

Akan tetapi, produknya tidak stabil kecuali jika karbon aldehid terikat pada suatu
gugus yang bersifat kuat menarik elektron. Sebagai contoh,

23

Produk reaksi ini tidak dapat diperoleh di dalam keadaan murni, sedangkan kloral
memberikan produk yang stabil dan dapat diisolasi.
Cl3C

Cl3C
C

NH3

Banyak

aldehid

H2N

OH

aromatik

(contoh

benzaldehida)

memberikan

produk

kondensasi yang pembentukannya melibatkan dehidrasi produk adisi pertama diikuti


dengan reaksi lebih lanjut:

Kebanyakan aldehid yang lain memberikan polimer imina bersangkutan, tetapi


jika reaksi dijalankan di dalam adanya pereaksi yang dapat bereaksi dengan imina
maka proses dapat menghasilkan produk yang berguna. Ada dua buah contoh
sebagai berikut:
(1) Sintesis Strecker. Reaksi antara aldehida dengan amoniak yang dijalankan di
dalam adanya ion sianida. Produk dehidrasi spesies teradisi bereaksi dengan
sianida menghasilkan -aminonitril.

sebaiknya menggunakan larutan amonium klorida dan natrium sianida


sebagai pereaksi, amoniak diproduksi secara in situ melalui hidrolisis.
Hidrolisis -aminonitril menghasilkan suatu asam -amino.

24

(2) Aminasi reduktif. Jika reaksi antara aldehid dengan amoniak dijalankan di
dalam adanya agen pereduksi seperti hidrogen dan serbuk nikel maka imina
akan tereduksi sesaat terbentuknya menghasilkan amina primer.

Keton dengan amoniak tidak menghasilkan produk teradisi. Reaksi pada


gugus karbonilnya terjadi secara dapat balik, tetapi hanya akan mengarah kepada
produk jika reaksi tersebut diikuti dengan suatu reaksi yang menghasilkan produk
yang stabil. Ada tiga contoh ilustrasi.
(1) Ester asetoasetat bereaksi dengan amoniak menghasilkan imina yang
bertautomeri menjadi amina terkonjugasi.

(2) 2,4-pentadienon bereaksi pada satu gugus karbonil memberikan produk adisi
yang gugus aminonya pada posisi yang tepat untuk bereaksi secara
intramolekul dengan gugus karbonil kedua. Dehidrasi terjadi menghasilkan
2,5-dimetilpirol.

(3) Imina dapat diperangkap dengan metode reduktif sebagaimana yang telah
diuraikan untuk aldehid.

25

Aseton berkelakuan berbeda dari biasanya, mula-mula mengalami kondensasi


diri sendiri di bawah pengaruh amoniak yang mana di sini lebih suka bertindak
sebagai basa daripada sebagai nukleofil. Ada dua produk yang diisolasi, pertama
berasal dari adisi amoniak tipe Michael ke produk reaksi,

Produk kedua adalah berasal dari suatu reaksi yang serupa pada produk kondensasi
selanjutnya.

(ii) Amina primer. Seperti halnya dengan amoniak, aldehid dan keton
bereaksi dengan amina primer yang diawali dengan adisi, kemudian terjadi dehidrasi
menghasilkan imina.

Imina tersebut

tidak stabil (kecuali dari amina aromatik) sehingga cenderung

polimerisasi (kecuali diperangkap dalam proses adisi yang lain). Sebagai contoh,

26

Imina dari amina aromatik biasanya stabil dan dapat diisolasi. Sebagai contoh,
benzaldehid dan anilin bereaksi secara eksotermis menghasilkan benzilidenanilin
dengan rendamen 85%.

Senyawa-senyawa -dikarbonil bereaksi dengan orto-diamina aromatik melaui


proses adisi-eliminasi secara berurutan menghasilkan quinoksalin.

(iii)

Amina sekunder. Aldehid dan keton yang memiliki hidrogen yang

terikat pada karbon- bereaksi dengan amina sekunder menghasilkan enamina,


sebagai contoh:

Prosedur aminasi reduktif mengarah pada pembentukan amina tersier.

Dianilinoetana bereaksi dengan aldehid melalui reaksi nukleofilik yang


berurutan, pada reaksi kedua terjadi secara intramolekul.

27

(iv)

Nukleofil nitrogen lain. Selain amina, masih banyak senyawa-senyawa

nitrogen lain dapat melakukan reaksi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,
seperti hidroksilamina dan hidrazin. Hidroksilamina dengan mudah bereaksi dengan
aldehid dan keton menghasilkan oksim.

Ketoksim dapat menghasilkan amida melalui penataan ulang Beckman (dibicarakan


dalam Bab berikutnya), sedangkan aldoksim berubah menjadi nitril melalui
didehidrasi dengan anhidrida asetat.

Hidrazin juga bereaksi dengan aldehida dan keton menghasilkan hidrazon yang
bereaksi lebih lanjut dengan senyawa karbonil yang kedua menghasilkan azin,
sehingga biasanya diperoleh campuran dari dua produk tersebut.

(b) Reaksi dengan karbon tak jenuh jenis yang lain


(i) Nitril. Amidin dapat diperoleh melalui pemanasan nitril dengan amonium
klorida.

28

Dengan cara yang sama, sianamida menghasilkan guanidin.

(ii) Sianat dan isosiant. Pemanasan amonium sianat akan menghasilkan


urea. Reaksi kemungkinan terjadi melalui amoniak dan asam isosianat.

Prinsip dasar reaksi ini dapat diterapkan untuk pembuatan urea mono- dan
disubstitusi.

(iii)

Tiosianat dan isotiosianat. Reaksi tiosianat dan isotiosianat analog

dengan reaksi yang dilakukan oleh sianat dan isosianat seperti pembentukan tiourea,

29

mono N-alkiltiourea, dan N,N-dialkiltiourea. Tiourea disubstitusi simetris dengan


mudah diperoleh dengan cara merefluks amina dan karbon disulfida di dalam alkohol.

Reaksi terakhir tersebut di atas adalah reaksi dapat balik, dan pengolahan dengan
asam untuk memindahkan amina maka isotiosianat dapat diperoleh.

Pengolahan triourea disubstitusi dengan raksa(II) oksida telah digunakan untuk


memperoleh karbodiimida.

2.5 Substitusi Oleh Nitrogen Nukleofil Pada Karbon Tak Jenuh


Suatu gugus karbonil yang terikat ke suatu gugus yang mampu untuk pergi
dengan pasangan elektron ikatannya adalah rentan tersubstitusi oleh nitrogen
nukleofil, sebagai contoh

30

(a) Reaksi amoniak dan amina


Asam dengan amoniak bereaksi hanya pada sushu tinggi. Sebagai contoh,
asam benzoat dan amoniak bila dipanaskan pada suhu 200C di dalam tabung yang
ditutup rapat menghasilkan berzamida.

Pembuatan amida dan amida tersubstitusi lebih mudah bila dilakukan malalui
pengolahan klorida asam atau anhidrida asam dengan aminiak atau suatu amina.
Reaksi ini dapat sangat keras, terutama jika menggunakan klorida asam.
R

Cl

NH3

R
C

Cl
C

R
NH3

RCO2H

O
R
+

R'NH2

NHR'
C

HCl

HCl

O
Cl

HCl

NH2
C

O
R

NH2
C

R
+

R'2NH

NR'2
C
O

Amida sendiri adalah nukleofil yang demikian lemah untuk dapat bereaksi
lebih lanjut,. Sebagai contoh adalah reaksi

Berjalan sangat lambat dan hanya mono-asilasi yang dapat diisolasi dalam rendamen
yang tinggi. Akan tetapi pengantian internal dapat terjadi jika memungkinkan

31

terbentuknya cincin beranggota lima atau enam. Sebagai contoh suksinimida dapat
dapat diperoleh melalui pemanasan diamida alisiklik asam suksinat.

Di dalam prakteknya, lebih mudah memperoleh suksinimida atau imida siklik


langsung dari anhidrida yang sesuai melalui pengolahan dengan amoniak pada suhu
tinggi. Sebagai contoh, reaksi pembuatan ftalamida dari ahidrida ftalat melalui
pemanasan pada suhu 300C memberikan rendamen 95%.

Etil kloroformat dan fosgen (karbonil klorida) bereaksi dengan amina, masingmasing menghasilkan uretan dan urea tersubstitusi.

32

(b) Reaksi nukleofil nitrogen lain


Hidrazin bereaksi dengan klorida asam, anhidrida, dan ester menghasilkan
hidrazid; sebagai contoh:

Hidroksilamina juga bereaksi dengan turunan asam karboksilat menghasilkan


asam hidroksamat, sebagai contoh:

2.6 Reaksi Elektrofilik Nitrogen


Ada empat macam gugus mengandung nitrogen yang dapat terikat ke karbon
alifatik melalui prosedur yang melibatkan nitrogen elektrofil. Keempat gugus tersebut
adalah nitoso (-NO), nitro (-NO2), arilazo (-N=NAr), dan arilimino (=NAr).
(a) Nitrosasi
Gugus nitroso dapat dimasukkan melalui satu dari dua cara. Pertama, karbon
tak jenuh yang sangat aktif terhadap elektrofil seperti bentuk enol. Di dalam reaksi
dengan asam nitrit atau suatu organo nitrit dalam proses terkatalis asam, elektrofil
difikirkan berubah menjadi ion nitosonium (NO+).

33

Jika produk mempunyai atom hidrogen yang terikat pada karbon yang memuat nitroso
maka terjadi tautomerisasi ke oksim yang lebih stabil.

Senyawa-senyawa yang bukan enol tetapi mepunyai kemampuan untuk


berenolisasi dengan katalis asam dapat pula bereaksi.

Produk nitrosasi mempunyai dua kegunaan utama di dalam sintesis. Pertama


adalah reduksi mengarah kepada turunan amina. Turunan dari keton adalh tidak
stabil karena dengan segera mengalami kondensasi diri sendiri, tetapi beberapa
sintesis heterosiklik berhasil dijalankan dengan cara mereduksi -keto-oksim dalam
adanya senyawa-senyawa dengan mana produknya bereaksi untuk membentuk
sistem cincin seperti pirol.

Kedua adalah hidrolisis memngubah oksim menjadi gugus karbonil, sebagai contoh:

34

Dengan demikian, proses keseluruhan dapat digunakan untuk transformasi COCH2- -CO-CO-.
(b) Nitrasi
Pembentukan ion nitronium (NO2+) analog dengan pembentukan ion
nitrosonium, yaitu melalui pengolahan asam nitrat pekat dengan asam kuat seperti
asam sulfat. Metode ini cukup luas digunakan untuk pembentukan ikatan karbon
aromatik dengan gugus nitro. Akan tetapi tidak cocok untuk nitrasi sistem alifatis
karena oksidasi dan degradasi yang cenderung terjadi di dalam kondisi yang sangat
keras seperti itu. Meskipun demikian, suatu prosedur terkatalis basa yang analog
dengan nitrosasi dapat digunakan, yakni senyawa pembentuk enolat diolah dengan
basa dalam adanya nitrat organik. Sebagai contoh, benzil sianida dan metil nitrat
diolah dalam adanya uion etoksida menghasilkan senyawa nitro yang mana pada
hidrolisis alkali yang dikuti dengan pengasaman menghasilkan fenilnitrometana
dengan rendamen 50-55%.

(c) Pembentukan Imina


Senyawa pembentuk enolat bereaksi dengan senyawa nitroso aromatik
menghasilkan imina.

35

Reaksi ini menyediakanmetode suatu metode untuk oksidasi gugus metilen aktif
menjadi gugus karbonil yang mana dilepaskan dari imina pada hidrolisis asam.
Sebagai contoh adalah reaksi 2,4-dinitrotoluena yang mana gugus metilnya diaktifkan
oleh gugus nitro orto dan para menghasilkan 2,4-dinitrobenzaldehida.

2.7 Penutup
Untuk menguji prestasi mahasiswa setelah mempelajari Bab ini maka pada
Sub-bab 2.7 bagian (a) berikut ini diberikan contoh-contoh latihan yang berkaitan
dengan tujuan pembelajaran bab ini. Untuk memberikan jawaban yang benar, pada
Sub-bab 2.7 bagian (b) diberikan umpan balik di mana bagian mana mahasiswa harus
memdalami jawaban soal yang bersangkutan.
36

(a) Soal tes formatif


1.

Tuliskan struktur senyawa produk yang dapat diperoleh dari reaksi antara
amoniak dengan: metil iodida, asetil klorida, dan etilen oksida.

2.

Bagaimana cara memperoleh suatu senyawa amina primer yang bebas dari
amina sekunder dan tersier dengan mengunakan masing-masing precursor
suatu alkil halida dan dan suatu aldehida. Tuliskan mekanisme reaksinya.

3.

Berikan suatu contoh reaksi di mana terjadi konversi gugus COCH2 menjadi
COCO. Tuliskan mekanisme terjadinya reaksi tersebut.

4.

Tuliskan mekanisme reaksi konversi benzil sianida menjadi fenilnitrometana


menggunakan pereaksi nitrometana yang diikuti dengan hidrolisis-asam dan
dekarboksilasi.

(b) Umpan balik


Setelah mengerjakan soal-soal latihan di atas, namun mahasiswa belum bisa
menjawab dengan benar maka disarankan untuk mengikuti instruksi berikut:
1.

Untuk menjawab soal nomor 1 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 2.3 dan Sub-bab 2.5

2.

Untuk menjawab soal nomor 2 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 2.4 bagian (a).

3.

Untuk menjawab soal nomor 3 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 2.5 bagian (a).

4.

Untuk menjawab soal nomor 4 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 2.6 bagian (b).

Daftar Pustaka
Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.
37

Senarai Istilah dan Artinya

Istilah

Arti

Adduct

Spesies kimia hasil adisi suatu gugus ke dalam


spesies kimia yang mengalami adisi.

Garam kuaterneri

Suatu garam yang terbentuk dari proses kimia di mana


elektron bebas nitrogen trivaensi digunakan untuk
mengikat proton sehingga terbentuk kation yang
kemudian berpasangan dengan suatu anion.

Karbon elektrofil

Karbon yang kekurangan elektron sehingga bersifat


menyukai suatu atom yang kaya elektron

Karbon nukleofil

Karbon yang kaya elektron sehingga bersifat


menyukai suatu atom yang kekurangan elektron

Nitrogen elektrofil

Nitrogen yang kekurangan elektron sehingga bersifat


menyukai suatu atom yang kaya elektron

Nitrogen nukleofil

Nitrogen yang kaya elektron sehingga bersifat


menyukai suatu atom yang kekurangan elektron

Nitrogen terneri

Nitrogen mengikat tiga gugus, dan salah satu


pasangan elektron bebas

Spesies kimia

Unsur, molekul, senyawa, ion, atau radikal

38

BAB 3
SUBSTITUSI AROMATIK ELEKTROFILIK
3.1 Pendahuluan
Meskipun senyawa aromatik tergolong senyawa tak-jenuh namun senyawa ini
mempunyai stabilan yang sangat tinggi sehingga tidak mudah mengalami reaksi
adisi. Untuk menghindari hilangnya energi kestabilan yang dimiliki maka senyawa
aromatik lebih cenderung untuk menjalani reaksi substitusi. Cincin aromatik juga
diketahui mengandung kerapatan elektron yang tinggi sehingga spesies yang dapat
bereaksi dengannya adalah spesies yang kekurangan elektron (elektrofil), dan reaksi
substitusi yang terjadi padanya disebut reaksi substitusi elektrofilik.
Keberadaan substituen terikat pada inti aromatik mempengaruhi kerapatan
elektron inti aromatik. Substituen pendorong elektron akan meningkatkan kerapatan
elektron pada cincin dan meningkatkan keaktivannya terhadap elektrofil, demikian
sebaliknya. Sifat-sifat substituen yang ada pada cincin suatu senyawa aromatik
secara langsung berpengaruh pada reaksi yang dijalani.
Di dalam Bab ini akan membahas tentang terjadinya reaksi substitusi
elektrofilik, faktor-faktor yang memudahkan atau memfasilitasi terjadinya ikatan
antara karbon cincin aromatik dengan substituen yang datang dan terjadinya.
Beberapa golongan reaksi dinamai berdasarkan substituen yang masuk, dan
sebagian dinamai berdasarkan penemunya.
3.2 Mekanisme Substitusi
Substitusi benzena dengan pereaksi elektrofil (E+) terjadi dalam dua tahap,
pertama: pereaksi mengadisi ke satu atom karbon inti benzena menghasilkan
karbokation dalam mana muatan positif terdelokalisasi pada tiga atom karbon, dan
kedua: proton tereliminasi dari spesies teradisi.

Elektrofil dapat berupa spesies bermuatan seperti ion nitronium dan kation tersier,
atau spesies tak bermuatan yang dapat menangkap elektron dari inti aromatik seperti
belerang trioksida dan halogen.
39

Berikut ini adalah karakter utama reaksi substitusi elektrofilik aromatik.


(1)

Spesies karbokation hasil adisi tidak cukup stabil untuk diisolasi sebagai
garam kecuali dalam lingkungan khusus. Sebagai contoh, benzotrifluorida
bereaksi dengan nitril fluorida (NO2F) dan boron trifluorida pada suhu rendah
menghasilkan kristal garam.

Produk ini satabil pada suhu -50C, di atas suhu tersebut akan
terdekomposisi menjadi nitrobenzotrifluorida, hidrogen fluorida, dan boron
trifluorida.
(2)

Di dalam kebanyakan kejadian, tahap pertama proses ini adalah tahap


penentu kecepatan reaksi, sebagai contoh di dalam nitrasi dan brominasi
benzena. Ada beberapa reaksi di mana tahap kedua sebagai penentu
kecepatan reaksi, sebagai contoh adalah sulfonasi.

(3)

Dengan sedikit perkecualaian, reaksi ini adalah tak dapat balik dan produk
yang terbentuk adalah hasil kontrol kinetik. Ada dua perkecualian yang
penting, yaitu sulfonasi dan Friedel-Crafts.

(4)

Reaksi ini adalah subyek katalis elektrofilik. Sebagai contoh, reaksi benzena
dengan bromin tanpa katalis dapat dibaikan kecepatannya, tapi dengan
adanya besi(III) bromida maka reaksi menjadi lebih cepat.

40

(5)

Elektrofil dapat mengadisi ke posisi yang sudah tersubstitusi, proses ini


dikenal sebagai reaksi-ipso.
Karbokation yang terbentuk dapat bereaksi dengan salah satu dari tiga cara

sebagai berikut:
(1)

Suatu produk substitusi dapat terbentuk melalui perginya substituen sebagai


kation atau yang ekuivalen dengannya, sebagai contoh:

(2)

Jika substituen tidak mudah pergi seperti di atas (contohnya metil) maka
nukleofil dapat bereaksi menghasilkan diena sebagai produk. Hal ini relatif
jarang terjadi karena kebanyakan reaksi elektrofilik dengan senyawa
aromatik dijalankan pada bawah kondisi di dalam mana hanya spesies
nukleofil yang sangat lemah yang ada sehingga karbokation kembali ke
reaktan. Akan tetapi, nitrasi dengan asam nitrat di dalam anhidrida asetat
dan asam asetat maka dapat dihasilkan diena. Sebagai contoh,

(3)

Karbokation dari fenol dapat menghasilkan dienon dengan cara melepaskan


proton hidroksilatnya. Sebagai contoh,

41

Catatan: Bandingkan dengan reaksi antara alkena dengan elektrofil.


Meskipun benzena dan turunan sederhananya relatif lembam terhadap adisi,
akan tetapi senyawa di mana dua atau lebih cincin benzena bergabung adalah cukup
rentan terhadap adisi. Sebagai contoh, antarasen bereaksi dengan bromin
menghasilkan 9,10-dibromo-9,10-dihidroantrasen.

Beberapa benzena tersubstitusi sangat cepat bereaksi dengan elektrofil.


Sebagai contoh, asetanilida dengan cepat bereaksi dengan bromin menghasil pbromoasetanilida sebagai produk utama, bahkan reaksi dimetilanilin dengan bromin
jauh lebih cepat lagi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan substituen menstabilkan
karbokation-antara.

3.3 Deaktivasi dan Faktor Pengontrol Kecepatan


Peranan yang dimainkan oleh nitrogen dalam brominasi asetanilida seperti
diuraikan di atas merupakan ilustrasi satu prinsip yang sangat penting di dalam
substitusi aromatik, yaitu kecepatan reaksi sangat tergantung pada sifat substituen
yang ada di dalam inti aromatik. Selajutnya, kemudahan relatif substitusi pada posisi
yang berbeda dalam suatu senyawa aromatik juga tergantung pada sifat substituen.
Di dalam hal asetanilida, urutan reaktivitas pada karbon inti adalah para > orto >>

42

meta. Efek pengarah dan efek pengontrol kecepatan reaksi dari substituen adalah
suatu hal yang sangat penting dalam penerapan reaksi substitusi elektrofilik aromatik
di dalam sintesis; dan diskusi tentang hal tersebut telah dibahas dalam buku Kimia
Organik Fisik.
3.4 Pembentukan Ikatan karbon-Karbon
(a) Alkilasi Friedel-Crafts
Halida adalah pereaksi yang paling sering dipilih di dalam alkilasi, dan
biasanya yang digunakan sebagai katalis adalah aluminium triklorida. Dipercaya
bahwa karbon yang merupakan bagian dari pasangan ion yang dibentuk oleh halida
primer atau sekunder dengan asam Lewis akan dipengaruhi oleh substituen.
RCH2Cl

AlCl3

RCH2+ ACl4pasngan ion

R
CH2+

H
CH2R

AlCl4-

Karbokation yang dipandang bebas adalah karbokation yang melibatkan


halida tersier. Sebagai contoh, benzena, t-butil klorida, dan besi(III) klorida bereaksi
melalui kation t-butil menghasilkan t-butil benzena dengan rendamen 80%.

Sebagai pengalkilasi, benzil halida sangat reaktif; tapi alkenil dan aril halida
lembam. Penggunaan di- dan polihalida mengarah kepada alkilasi. Benzena bereaksi
dengan diklorometana di dalam adanya aluminium triklorida menghasilkan
difenilmetana.

43

Reaksi dengan 1,2-dikloroetana menghasilkan dibenzil,

dan dengan karbon tetraklorida menghasilkan trifenil klrorida (efek rintangan sterik
yang mencegah penggatian klor yang keempat).

Alkohol, ester, dan eter bereaksi secara analog dengan halida. Alkena bereaksi
melalui karbokation yang dibentuk dengan asam-asam proton.

Sebagai contoh, adisi sikloheksena ke dalam benzena dengan adanya asam sulfat
pekat pada suhu 5-10C menghasilkan sikloheksilbenzena dengan rendamen 65%.

Stirena dibuat secara industrial melalui etilasi benzena pada katalis aluminium
triklorida dan diikuti dengan dehidrogenasi.

Sintesis Bogert-Cook untuk fenantren dan turunannya menggunakan alkilasi


intramolekul dengan alkena. Sebagai contoh,

44

Aldehid dan keton dapat juga bertindak sebagai agen pengalkilasi di -dalam
adanya asam proton, akan tapi proses ini kalah bersaing dengan kondensasi diri
sendiri senyawa karbonil kecuali jika alkilasi intramolekul lebih disukai secara
stereokimia. Sebagai contoh, 4-metil-2-quinolon dapat diperoleh melalui pengolahan
asam amodo-keton yang terbentuk dari anilina dan ester asetoasetat.

Me

H+

N
H

OEt

OH

Me

Me

OH

Me

N
H

-H2O

-H+

N
H

OH

Me

- EtOH

O
NH2

Me

N
H

N
H

Sintesis Skraup quinolin juga melibatkan alkilasi intramolekul terkatalis asam.

(i) Reaktivitas senyawa aromatik. Senyawa aromatik yang inti aromatik


lebih reaktif daripada benzen dapat berhasil dialkilasi tetapi senyawa aromatik yang

45

terdeaktivasi sangat kuat tidak akan bereaksi. Sebagai contoh, klorobenzena


bereaksi tetapi nitrobenzena tidak. Fenol tidak bereaksi dengan baik karena fenol
bereaksi dengan asam Lewis melalui oksigennya (ArOH + AlCl3 ArOAlCl2 +
HCl) dan menghasilkan senyawa yang sedikit larut dalam media reaksi sehingga
reaksinya sangat lambat. Konversi fenol ke dalam metil eternya berhasil dilakukan
melalui alkilasi pada suhu rendah dengan meminimalkan penggunaan katalis asam
untuk mencegah pemecahan gugus eter. Amina aromatik membentuk kompleks
dengan asam Lewis sehingga tidak cocok untuk dialkilasi.
Asam-asam Lewis yang digunakan sebagai katalis mempunyai aktivitas yang
berbeda-beda. Untuk tujuan alkilasi dengan halida, urutan aktivitas katalis adalah:
AlCl3 > SbCl5 > FeCl3 > SnCl4 > ZnCl2. Pemilihan katalis tergantung pada reaktivitas
senyawa aromatik dan agen pengakilasinya. Disarankan untuk menggunakan katalis
yang mepunyai kekuatan aktivitas sedang, karena katalis yang lebih aktif cenderung
mempengaruhi isomerisasi.
Alkilasi dengan alkohol dan eter dapat dikatalis dengan asam Lewis atau asam
proton. Di antara asam-asam Lewis, pereaksi yang paling sering dipilih adalah boron
trifluorida karena mempunyai kecenderungan yang kuat untuk membentuk kompleks
dengan oksigen. Asam-asam proton yang dapat digunakan adalah hidrogen fluorida,
asam sulfat pekat, dan asam fosfat; asam sulfat kerapkali tidak cocok digunakan
karena kemampuannya membentuk sulfonat sebagai produk samping. Reaksi
alkena, aldehida, dan keton normalnya dikatalis dengan asam proton.
(ii) Masalah yang muncul pada alkilasi. Ada tiga masalah ditemukan di
dalam alkilasi.
1) Oleh karena gugus alkil bersifat pengaktif di dalam substitusi elektrofilik
maka produk alkilasi lebih aktif daripada bahan dasarnya, sehingga
terjadinya alkilasi lebih lanjut tidak dapat dielakkan. Sebagai contoh, metilasi
benzena dengan metil klorida di dalam adanya aluminium triklorida
menghasilkan campuran toluena, ksilena, tri- dan tetrametilbenzena,
pentametilbenzena, dan heksametiklbenzena.
2) Ada beberapa gugus alkil yang dapat mengalami penataan ulang selama
alkilasi berjalan. Sebagai contoh, benzena dan propil halida menghasilkan
campuran propilbenzena dan isopropilbenzena.
3) Alkilasi adalah reaksi dapat balik, dengan demikian reaksi adalah kontrol
termodinamik.

Sebagai

contoh,

benzena

monosubstitusi

biasanya

46

menghasilkan turunan alkil meta sebagai produk utama karena paling stabil
secara termodinamika.

Seperti halnya mudahnya gugus alkil tersier masuk ke karbon inti benzena
selama alkilasi, gugus ini juga mudah lepas sebagai karbokation tersier yang relatif
stabil.

Berdasarkan sifat tersebut, gugus t-butil dapat digunakan untuk melindungi


posisi reaktif yang tidak diharapkan untuk bereaksi di dalam suatu senyawa,
kemudian dengan penambahan benzena berlebih maka gugus t-butil dilepaskan
kembali. Sebagai contoh:

(b) Asilasi Friedel Crafts


Asilasi cincin aromatik dapat disempurnakan dengan klorida asam atau
anhidrida asam di dalam adanya asam Lewis, atau dengan asam karboksilat dalam
adanya asam proton. Di dalam metode katalis asam Lewis, ada dua elektrofil yang
terlibat. Satu adalah kompleks di mana oksigen terikat dengan katalis. Sebagai
contoh:

47

3
3

3
3

3
3

Elektrofil yang lain adalah ion asilium dalam konsentrasi rendah yang terbentuk dari
kompleks tapi lebih reaktif sebagai elektrofil.

Pembentukan ion asilium lebih disukai jika R adalah aromatik. Untuk reaksi benzoilasi
antara toluena dengan klorobenzena, urutan aktivitas asam Lewis adalah: SbCl5 >
FeCl3 > AlCl3 > SnCl4.
Ada sejumlah perbedaan penting antara asilasi dengan alkilasi.
(1) Alkilasi tidak mempersyaratkan jumlah stoikiometri asam Lewis karena asam
Lewis dihasilkan kembali pada tahap terakhir, sedangkan asilasi sangat
mempersyaratkan lebih besar daripada jumlah ekuivalensi karena keton
membentuk kompleks dengan asam Lewis.
(2) Oleh karena gugus asil mendeaktivasi inti aromatik terhadap substitusi
elektrofilik, jadi produk asilasi kurang reaktif daripada bahan baku dan produk
mono-asilasi mudah diisolasi.
(3) Suatu keuntungan lebih lanjut asilasi atas alkilasi adalah isomerisasi dan
disproporsionasi yang karakteristik dari proses alkilasi tidak terjadi dalam
proses asilasi. Meskipun demikian, ada satu keterbatasan yaitu usaha asilasi
dengan turunan asam tersier dapat mengarah kepada alkilasi. Sebagai
contoh, trimetilasetil klorida bereaksi dengan benzena di dalam adanya
aluminium triklorida menghasilkan t-butilbenzena sebagai produk utama
setelah pelepasan karbon monoksida.

48

Tidak disangsikan lagi bahwa driving force dekarboksilasi adalah kestabilan


karbokation tersier.
(4) Kompleks agen pengasilasi dengan asam Lewis jelas sangat besar
ukurannya; dan sebagai pengarah orto dan para, benzena monosubstitusi
memberikan sangat sedikit produk orto. Sebagai contoh, nitrasi toluena
menghasilkan hampir 60% turunan orto; sedangkan pada asetilasi sangat sulit
menghasilkan o-metilasetofenon, tapi p-metilasetofenon dapat mencapai
rendamen lebih besar dari 85%.
(i) Siklisasi. Asilasi Friedel-Crafts berguna terutama dalam pembentukan
sistem siklik. Kebanyakan anhidrida asam dibasis yang digunakan dalam reaksi ini.
Sebagai contoh, benzena dan anhidrida suksinat di dalam adanya aluminium
triklorida menghasilkan asam -benzoilpropionat dengan rendamen 80%, kemudian
dilanjutkan dengan mereduksi gugus karbonilnya menjadi gugus metilen, konversi
gugus asam menjadi gugus klorida asam, dan siklisasi dengan aluminium triklorida
menghasilkan -tetralon. Deretan reaksi tersebut dilukiskan secara sederhana seperti
berikut.

(c) Klorometilasi
Gugus klorometil (-CH2Cl) dapat dimasukkan ke senyawa aromatik melalui
pengolahan formaldehida dengan hidrogen klorida di dalam adanya asam. Sebagai
contoh, benzil klorida dapat diperoleh dengan rendamen 80% dengan cara
mengalirkan hidrogen klorida ke dalam suspensi paraformaldehida dengan seng

49

klorida di dalam benzena. Mula-mula asam membebaskan formaldehida dari


paraformaldehida, dan kemudian mengambil peran dalam reaksi berikut.

Fluorometilasi, bromometilasi, dan iodometilasi dapat dijalankan dengan asam


halogen yang sesuai. Reaksi klorometilasi melalui mekanisme sebagai berikut.

Ada dua komplikasi yang dapat terjadi dalam klorometilasi. Pertama, produk
klorometilasi dapat mengalkilasi molekul aromatik yang lain di dalam adanya katalis
asam. Sebagai contoh,

Reaksi sekunder ini sangat dominan jika senyawa aromatiknya teraktivasi dengan
kuat, dan dengan alasan inilah sehingga klorometilasi tidak cocok untuk metilasi fenol
dan anilina.
Kedua, gugus klorometil diaktifkan, meskipun kurang begitu aktif daripada
gugus metil karena substituen klor dalam metil mengurangi efek +I gugus tersebut.
Biasanya sulit untuk menghindari klorimetilasi lanjut, meskipun hal ini bukan
merupakan persoalan penting sebagaimana halnya di dalam alkilasi Friedl-Crafts.
Kondisi reaksi dapat bervariasi dengan luas. Hidrogen klorida anhidrat dapat diganti
dengan

asam

klorida

pekat,

formaldehida

dapat

dimasukkan

sebagai

paraformaldehida atau metilal {CH2(OCH3)2}, dan seng klorida dapat diganti dengan
asam sulfat pekat atau asam fosfat.

50

Hal yang membuat klorometilasi menjadi lebih penting adalah terletak pada
mudahnya klorida benzilik digantikan oleh nukleofil. Konversi benzil klorida menjadi
alkohol (ArCH2OH), eter (ArCH2OR), nitril (ArCH2CN), dan amina (ArCH2NR2) dapat
terpenuhi secara efisien, pengolahan dengan enolat seperti ester malonat akan
mengarah pada perpanjangan rantai karbon alifatik. Sebagai contoh,

(d) Formilasi Gatterman-Koch


Gugus formil (-CHO) dapat dimasukkan ke dalam senyawa aromatik dengan
cara mengolah dengan karbon monoksida dan hidrogen klorida di dalam adanya
asam Lewis.
HCl + asam Lewis
ArH

ArCHO

CO

Reaksi dilakukan di bawah tekanan atau di dalam adanya tembaga(I) klorida.


Patut diduga bahwa reaksi tersebut di atas terjadi melalui pembentukan formil
klorida dari karbonmonoksida dan hidrogen klorida, diikuti dengan asilasi FreidelCrafts terkatalis asam Lewis; akan tetapi formil klorida tidak pernah diperoleh.
Sekarang diperkirakan spesies elektrofilnya adalah kation formil [HCC+ HC+=O],
terbentuk tanpa melalui formil klorida.
HCl

CO

HCO+

AlCl3

AlCl4-

H+
ArH

HCO+

ArCHO

Formilasi tidak berhasil pada senyawa aromatik yang reaktivitas intinya lebih
rendah daripada halobenzena sehingga nitrobenzena dapat digunakan sebagai
pelarut dalam reaksi ini. Reaksi ini juga tidak berhasil pada amina, fenol, dan eter
fenol karena membentuk kompleks dengan asam Lewis.
(e) Formilasi Gattermann
Reaksi ini adalah suatu reaksi alternatif untuk reaksi Gattermann-Koch,
menggunakan hidrogen sianida sebagai pengganti karbon monoksida. Produk
awalnya adalah iminium klorida yang dikonversi menjadi aldehida menggunakan
asam mineral.
51

Reaksi ini tidak berhasil pada senyawa yang terdeaktivasi seperti nitrobenzena, dan
senyawa yang reaktivitasnya sedang seperti benzena dan halobenzena yang hanya
memberikan rendamen yang rendah. Senyawa yang lebih reaktif memberikan
rendamen yang cukup tinggi. Sebagai contoh, antrasen menghasilkan 9-aldehida
dengan rendamen 60%.
Berbeda dengan reaksi Gattermann-Koch, formilasi Gattermana berhasil
pada fenol dan eter fenol. Sebagai contoh, p-anisaldehida diperoleh dari fenol di
dalam adanya aluminium klorida. Inti yang lebih reaktif masih dapat diformilasi
dengan adanya asam Lewis yang lebih lemah seperti seng klorida, bahkan furan
terformilasi menghasilkan 2-aldehida tanpa adanya katalis.
Untuk menghindari penggunaan hidrogen sianida maka digunakan seng
sianida yang bereaksi dengan hidrogen klorida secara in situ menghasilkan hidrogen
sianida. Sebagai contoh, mesitilaldehida dapat diperoleh (rendamen 75%) dengan
cara mengalirkan hidrogen klorida ke dalam larutan mesitilen di dalam tetrakloroetana
dan adanya seng sianida, penambahan aluminium triklorida, dan dekomposisi
imonium hidroklorida yang dihasilkan dengan menggunakan asam klorida.

(f) Asilasi Hoesch


Reaksi ini adalah sebuah adaptasi formilasi Gattermann, menggunakan nitril
alifatik untuk menggantikan peranan hidrogen sianida di dalam upaya untuk
memperoleh turunan asil senyawa aromatik yang digunakan.

52

Reaksi ini hanya terjadi pada senyawa aromatik yang sangat teraktivasi seperti
fenol di- dan polihidrat. Fenol monohidrat bereaksi terutama pada oksigennya
menghasilkan imodo-ester.

Akan tetapi, kombinasi meta dari dua atau tiga gugus hidroksil akan meningkatkan
reaktivitas inti posisi orto atau para terhadap hidroksil. Sebagai contoh,
floroasetofenon dapat diperoleh (rendamen 80%) dengan cara mengalirkan hidrogen
klorida ke dalam larutan floroglusinol dingin. Sebagai contoh, floroasetofenon dapat
diperoleh (rendamen 80%) dengan cara mengalirkan hidrogen klorida ke dalam
larutan floroglusinol (1,3,5-trihidroksibenzena) dan asetonitril di dalam eter yang
mengandung seng klorida, dan kemudian padatan hasilnya (garam imonium klorida)
dihidrolisis dengan cara mendidihkan di dalam larutan berair.

(g) Formilasi Vilsmeyer


N-Formilamina dari amina sekunder dan asam format diperoleh melalui reaksi
formilasi senyawa aromatik di dalam adanya fosfor oksiklorida.

53

Kebanyakan hanya senyawa aromatik reaktif yang dapat terformilasi. Sebagai


contoh, benzena dan naftalena tidak reaktif tetapi antrasena menghasilkan 9-aldehida
(84%), N,N-dimetilanilina menghasilkan p-dimetilaminobenzaldehida (80%), dan
tiofen menghasilkan 2-aldehida (70%). Metode ini sangat efektif untuk senyawasenyawa pirol yang tidak dapat terformilasi oleh prosedur lain. Sebagai contoh, pirol
menghasilkan 2-aldehida (85%) dan indol menghasilkan 3-aldehida (97%).

(h) Formilasi Reimer-Tiemann


Pengolahan fenol dengan kloroform di dalam larutan basa menghasilkan
aldehida. Sebagai contoh,

Reaksi terjadi melalui klorokarben yang dihasilkan dari reaksi kloroforn dengan
basa, kemudian diserang oleh nukleofil ion fenoksida. Hidrolisis benzal klorida yang
diikuti dengan pengasaman menghasilkan aldehida.

54

Pirol menjalani reaksi Reimer-Tiemann menghasilkan pirol-2-aldehida, tetapi


produk kedua yaikni 3-kloropiridina juga masih diperoleh. Masing-masing produk
dihasilkan dari spesies-antara yang sama.

Reaksi ini juga dapat digunakan untuk memasukkan gugus metil angular ke
dalam turunan dekalin. Gugus angular dimasukkan sebagai CHCl2 dan dikonversi
menjadi gugus CH3 melalui reaksi hidrogenalisis. Sebagai contoh,

(i) Karboksilasi Kolbe-Schmitt


Ion fenoksida cukup reaktif untuk mengadisi ke karbondioksida yang merupakan
elektrofil lemah. Reaksi dijalankan pada kondisi di bawah tekanan dan suhu 100C.
Produk orto menjadi dominan, kemungkinan disebabkan oleh pengaruh kestabilan
kelat substitusi orto pada keadaan transisi. Sebagai contoh,

55

Meskipun demikian, reaksi ini dapat balik dan pada suhu sekitar 240C, isomer para
menjadi produk yang dominan.
Pirol juga mengalami reaksi yang serupa menghasilkan asam pirol-2karboksilat pada pemanasan dengan amonium karbonat pada 120C.
(j) Reaksi Mannich
Reaksi ini cocok untuk pembentukan ikatan karbon alifatik ke posisi reaktif fenol, pirol,
dan indol. Sebagai contoh, pirol, formaldehida, dan dimetilamina menghasilkan 2dimetilaminometilpirol.

dan indol biasanya bereaksi pada posisi-3 menghasilkan gramin.

Furan bertahan pada kondisi Mannich, tetapi 2-metilfuran bereaksi pada posisi-5.

3.5 Pembentukan Ikatan Karbon-Nitrogen


(a) Nitrasi
Sejauh ini metode yang paling umum digunakan untuk mengikatkan nitrogen
ke sistem aromatik adalah nitrasi. Alasannya adalah luasnya macam kondisi nitrasi

56

yang tersedia. Metode yang paling sering digunakan adalah sesuai dengan urutan
sebagai berikut:
Campuran asam nitrat pekat dengan asam sulfat pekat,
Asam nitrat berasap di dalam anhidrida asetat,
Asam nitrat di dalam asam asetat glasial,
Asam nitrat encer.
Campuran asam nitrat pekat dengan asam sulfat pekat menghasilkan ion
nitronium (NO2+), dan spesies ini aktif sebagai elektrofil.

Reaksi ini merupakan reaksi kesetimbangan, dan kesetimbangan lebih mengarah


kepada pembentukan ion nitronium. Akan tetapi, penambahan air dapat menurunkan
konsentrasi ion nitronium sehingga kekuatan nitrasi sistem menjadi lebih rendah pula.
Suatu larutan asam nitrat dalam anhidrida asetat mengandung sejumlah
spesies yang berkesetimbangan.

HNO3

Ac

OAc

2 AcONO2
O2N

NO2

HO

Ac

AcOAc
NO2+

+
+

AcO
O2N

NO2
O

NO2

NO3-

Diyakini bahwa ion nitronium di sini merupakan elektrofil utama.


Asam nitrat encer mengandung ion nitronium dengan konsentrasi yang sangat
kecil, dan ion tersebut bertindak sebagai agen nitrasi dengan adanya asam nitrit yang
terkandung di dalamnya. Spesies ini menghasilkan ion nitrosonium yang akan
menitrosasi cincin aromatik, dan senyawa nitroso tersebut dioksidasi oleh asam nitrat
menjadi senyawa nitro yang mana proses ini menghasilkan asam nitrit lagi untuk
meneruskan reaksi berantai.
ArH
ArNO

HNO2
+

HNO3

ArNO

ArNO2

H2O
+

HNO2

Konsenkwensinya, hanya senyawa yang mengalami nitrosasi (seperti fenol) yang


dapat ternitrasi oleh asam nitrat encer.

57

(i) Benzena. Benzena dinitrasi oleh campuran asam nitrat pekat dengan
asam sulfat pekat. Oleh karena gugus nitro mendeaktivasi inti aromatik terhadap
elektrofil maka terjadinya dinitrasi atau polinitrasi relatif mudah untuk mencegah.
Nitrobenzena dengan cepat diperoleh pada suhu 30-40C (rendamen 95%),
sedangkan dinitrasi dapat dilangsungkan pada suhu lebih tinggi, yakni 90-100C.
(ii)

Inti teraktivasi sedang. Meskipun alkilbenzena lebih reaktif daripada

benzena (contoh, kecepatan nitrasi toluena 25 kali lebih cepat daripada nitrasi
benzena), asam nitrat di dalam asam sulfat pekat masih merupakan metode yang
paling memuaskan. Turunan o- dan p-nitro yang dominan, tapi turunan o- gagal pada
alkil yang berukuran semakin besar.
(iii)

Inti teraktivasi kuat. Naftalena cukup reaktif terhadap nitrasi dengan

asam nitrat di dalam asam asetat menghasilkan 1-nitronaftalena, dan pada kondisi
yang sama menghasilkan 2-nitrotiofen (70-85%) dari tiofen, dan nitromesitilen (75%)
dari mesitilen.
Fenol yang lebih reaktif dinitrasi dengan asam nitrat encer dan menghasilkan
o- dan p-nitrofenol di dalam jumlah yang berimbang. Anilina cukup mudah teroksidasi
jika dinitrasi secara langsung, sehingga gugus aminonya perlu dilindungi dahulu
dengan metode asetilasi, kemudian asetanilida dinitrasi, dan gugus asetilnya
dilepaskan kembali dengan metode hidrolisis. N,N-dimetilanilina kurang mudah
teroksidasi daripada anilina, dan dapat nitrasi dengan asam nitrat encer.
Furan dan pirol terpolimerisasi oleh sistem nitrasi asam, tetapi berhasil dinitrasi
di dalam anhirida asetat pada suhu rendah. Masing-masing senyawa menghasilkan
turunan-2-nitro, dan turunan 2-nitro yang dari furan terbentuk melalui suatu spesies
teradisi.

Senyawa 3-nitroindol dapat diperoleh melalui pengolahan indol dengan etil


nitrat di dalam etanol yang mengandung natrium etoksida. Reaksi terjadi melalui
anion indolat.

58

(iv) Inti terdeaktivasi sedang. Halobenzena yang reaktivitasnya kira-kira


sepersepuluh daripada benzena akan ternitrasi dengan cara sama dengan benzena.
Produk yang dominan adalah turunan p-nitro, dan nitrasi lebih lanjut menghasilkan
turunan 2,4-dinitro sebagai produk utama. Asam nitrat dan asam sulfat pekat pada
suhu rendah atau di bawah suhu kamar cocok untuk menitrasi senyawa kurang reaktif
seperti benzaldehida, asetofenon, dan metil benzoat, masing-masing menghasilkan
turunan m-nitro sebagai produk utama. Sebagai contoh, nitrasi metil benzoat pada
suhu 5-15C menghasilkan metil nitrobenzoat dengan rendamen 80%.
(v) Inti terdeaktivasi dengan kuat. Nitrobenzena kurang reaktif daripada
senyawa-senyawa seperti benzaldehida tetapi prosedur campuran asam pada suhu
90-100C berhasil memberikan m-dinitrobenzena dengan rendamen 80%. Senyawa
m-dinitrobenzena sendiri sangat terdeaktivasi sehingga nitrasi lebih lanjut
memerlukan asam nitrat berasap dan asam sulfat berasap pada 110C selama
beberapa hari untuk menghasilkan 1,3,5-trinitrobenzena. Senyawa seperti ini lebih
berhasil diperoleh dari toluena karena pengaruh aktivasi gugus metilnya sehingga
dengan campuran asam maka 2,4,6-trinitrotoluena mudah terbentuk, dan gugus
metilnya dilepaskan menggunakan oksidasi dan dekarboksilasi.

59

Piridina sangat kuat terdekativasi sehingga pada penggunaan asam sulfat


100% dan campuran natrium dan kalium nitrat pada 300C hanya menghasilkan 3nitropiridina sebanyak 5%.

(b) Nitrosasi
Nitrosasi dijalankan dengan dengan cara mengolah senyawa aromatik
dengan natrium nitrit dan asam kuat. Asam nitrit dapat digunakan karena asam ini
mengoksidasi senyawa nitroso menjadi senyawa nitrat dan asam sulfat atau asam
hidroklorida merupakan pilihan yang normal.
Keseluruhan elektrofil adalah adalah ion nitrosonium (NO+) yang dihasilkan dari
asam nitrit dan asam kuat dengan cara yang analog dengan pembentukan ion
nitronium dari asam nitrat.

Nitrosasi terbatas untuk inti fenol yang sangat reaktif dan amina tersier
aromatik. Amina aromatik primer mengalami diazotasi, dan amina sekunder
mengalami N-nitrosasi (ArNHR + NO+ ArNRN=O + H+). Di dalam prosedur
tertentu, 2-naftol di dalam larutan natrium hidroksida diolah dengan natrium nitrit,
kemudian ditambahi dengan asam sulfat sehingga diperoleh 1-nitroso-2-naftol
dengan rendamen di atas 90%.

60

Pengolahan N,N-dimetilanilina dengan natrium nitrit dan asam hidroklorida


menghasilkan p-nitrosodimetilanilina dengan rendamen 85%.
Senyawa nitroso yang terbentuk, di samping mudah teroksidasi, juga mudah
direduksi menjadi senyawa amina aromatik. Sifat ini dimanfaatkan di dalam sintesis
adenin (6-aminopurin).
2

- +
2

2
-

3.6 Pembentukan Ikatan Karbon-Belerang


(a) Sulfonasi
Agen sulfonasi elektrofilik adalah belerang trioksida yang ada di dalam asam
sulfat pekat berasap sebagai hasil dari kesetimbangan seperti berikut:

Di dalam asam sulfat berasap, konsentrasi SO3 lebih tinggi. Belerang triokisda juga
dapat dibawa oleh piridina dalam bentuk ion piridinium-1-sulfonat.

Senyawa ini cocok digunakan untuk sulfonasi senyawa yang tidak stabil terhadap
asam.

61

Pada dasarnya mekanisme sulfonasi sama dengan substitusi elektrofilik yang


lain.

Akan tetapi, tidak sama dengan kebanyakan substitusi, sulfonasi adalah reversibel;
gugus asam sulfonat terlepas oleh pemanasan bersama asam sulfat encer.
Pirol, furan, dan indol yang terdekomposisi oleh asam berhasil disulfonasi
dengan piridinium-1-sulfonat. Reaksi terjadi pada posisi-2 masing-masing senyawa
tersebut. Tiofen yang lebih stabil dapat disulfonasi dengan asam sulfat 95%, tetapi
rendamen yang lebih tinggi (sekitar 90%) diperoleh jika menggunakan piridinium-1sulfonat.
Anilina bereaksi dengan asam sulfat membentuk garam tetapi pada pemanasan
yang kuat terjadi penataan ulang dari asam fenilsulfamat menjadi asam sulfanilat.

Fenol mengalami disulfonasi dengan mudah menghasilkan asam 2,4-disulfonat.


(i) Penerapan reaksi balik sulfonasi. Reversibilitas sulfonasi membuat
gugus sulfonat memungkinkan untuk digunakan sebagai pelindung.
(1) Penggunaan sulfonat sebagai gugus pelindung digambarkan di dalam reaksi
sintesis o-nitroanilin. Asetanilida disulfonasi menghasilkan hampir semuanya
adalah asam p-sulfonat; nitrasi terjadi pada posisi orto terhadap gugus
asetamido; dan pada akhirnya gugus asam sulfonat dilepaskan melalui
pengolahan dengan asam sulfat.

62

(2) Sulfonasi pada suhu rendah menghasilkan produk kontrol kinetik, terutama
asam toluena-p-sulfonat dari toluena, dan asam naftalena-1-sulfonat dari
naftalena; sedangkan pada suhu sekitar 160C, produk stabil yakni asam
toluena-m-sulfonat dari toluena, dan asam naftalena-2-sulfonat dari naftalena
yang dominan.
(b) Klorosulfonasi
Senyawa aromatik yang tidak terdeaktivasi kuat dan juga stabil terhadap
asam dapat bereaksi dengan asam klorosulfonat. Sebagai contoh, benzena pada
suhu 20-25C menghasilkan benzenasulfonil klorida dengan rendamen 75%.

Salah satu contoh penting terjadi di dalam sintesis sulfanilamida (obat Sulfa
pertama).

(c) Sulfonilasi
Di

dalam

adanya

aluminium

triklorida,

benzena

bereaksi

dengan

benzenasulfonil klorida menghasilkan difenil sulfon.

63

Rekasi ini analog dengan asilasi Friedel-Crafts, dan mempunyai keterbatasan seperti
klorosulfonasi.

3.7 Pembentukan Ikatan Karbon - Halogen


(a) Klorinasi
Ada tiga prosedur umum yang tersedia untuk klorinasi, pemilihan metode
didasarkan pada reaktivitas senyawa aromatik. Kondisi yang paling lunak melibatkan
penggunaan molekul klorin, biasanya dilarutkan di dalam asam asetat atau pelarut
non polar seperti karbon tetraklorida. Klorin dapat dimasukkan sebagai unsur gas
atau dapat dihasilkan secara in situ dari reaksi N-kloroamina dengan hidrogen klorida.

Reaktivitas molekul klorin meningkat oleh penambahan asam Lewis. Umumnya


digunakan aluminium triklorida atau besi(III) klorida. Fungsi asam Lewis adalah
menarik elektron dari molekul klorin sehingga meningkatkan sifat elektrofilisitasnya.
Perlu ditekankan bahwa polarisasi ini tidak mengarah pada ionisasi sempurna: Cl2 +
AlCl3 Cl+ + AlCl4- ; reaksi seharusnya dinyatakan sebagai berikut:

Kondisi yang masih lebih reaktif lagi diperoleh dengan menggunakan larutan
asam hipoklorat. Diduga bahwa elektofil yang efektif adalah ion klorinium (Cl+).

tapi mekanisme ini kemungkinan sangat disederhanakan. Suatu bentuk reaktif yang
serupa klorin adalah diturunkan dari larutan klorin dalam karbon tetraklorida dengan
adanya perak sulfat.

64

(b) Brominasi
Metode brominasi sangat erat hubungannya dengan klorinasi, yakni molekul
bromin ditambahkan atau dihasilkan secara in situ dari reaksi N-bromoamina dengan
asam. Peningkatan kekuatan elektrofil dapat diperoleh dengan menggunakan asam
Lewis. Ion brominium (Br+) diperoleh pada pengasaman asam hipobromat dan dapat
pula dari reaksi bromin dengan perak sulfat di dalam asam sulfat.
Bromin sendiri dapat mengkatalis molekul bromin dengan memanfaatkan
kemampunannya membentuk ion tribromida.

Iodin seringkali juga digunakan untuk mengkatalis reaksi brominasi untuk


melepaskan ion bromida sebagai IBr2-.

(c) Iodinasi
Iodin adalah elektrofil yang relatif lemah dan hanya bereaksi dengan senyawa
aromatik yang sangat teraktivasi seperti fenol dan amina. Meskipun demikian,
senyawa aromatik yang kurang reaktif dapat diiodinasi di dalam adanya asam nitrit
atau asam oksiasetat. Sebagai contoh, benzena dan iodin di dalam adanya asam
nitrit menghasilkan iodobenzena dengan rendamen 86%.

Di dalam asam peroksida dimungkinankan agen pengiodinasi adalah iodin asetat.

65

3.8 Reaksi-Reaksi Lain


(a) Hidroksilasi
Hidrogen

peroksida

dan

peroksida

asam

di

dalam

media

asam

menyempurnakan reaksi hiroksilasi elektrofilik. Asam-asam proton kemungkinan


bertindak dengan cara membentuk ikatan hidrogen dengan atom oksigen senyawa
peroksida sehingga meningkatkan kecenderungan elektrolisis ikatan O-O di bawah
pengaruh senyawa aromatik.

2
2

Asam-asam Lewis seperti boron trifluorida bertindak dengan cara membentuk


koordinadi dengan oksigen.

(b) Metalasi
Garam-garam dari raksa divalensi menyempurnakan reaksi merkurasi
senyawa-senyawa aromatik. Sebagai contoh,

Rendamen yang diperoleh adalah rendah kecuali jika udara dan air dikeluarkan dari
sistem reaksi, dan raksa(II) oksida ditambahkan untuk mengusir asam nitrat dan
mencegah reaksi balik.

66

Turunan raksa mempunyai kegunaan di dalam terapan. Sebagai contoh, oiodofenol telah disintesis dengan mudah melalui pengolahan fenol dengan raksa(II)
asetat, konversi turunan o-asetoksiraksa yang terbentuk menjadi turunan oklororaksa, pengolahan turunan o-klororaksa dengan iodin.

2-Bromo- dan 2-iodofuran dapat diperoleh dari furan dengan cara yang sama.

(c) Penggantian gugus-gugus selain hidrogen


Sejumlah besar substitusi elektrofilik diketahui mengandung atom atau gugus
selain hidrogen dilepaskan dari cincin aromatik (ipso-substitusi).
(i) Dekarboksilasi. Substituen pengaktivasi kuat mengarah pada pelepasan
gugus karboksil (seperti karbondioksida) dari senyawa aromatik. Sebagai contoh,
asam pirol- dan furan-karboksilat terdekarboksilasi pada pemanasan di mana reaksi
dipandang sebagai reaksi yang melibatkan substitusi elektrofilik internal oleh
hidrogen.

Dekarboksilasi asam fenolik terkatalis asam juga mirip. Sebagai contoh,

67

Elektrofil lain daripada proton dapat melepaskan gugus karboksil dari inti
teraktivasi. Sebagai contoh, asam salisilat dan bromin menghasilkan 2,4,6tribromofenol.

(ii)

Desulfonasi.

Gugus asam sulfonat mudah dilepaskan dari cincin

aromatik oleh basa dan dapat pula dilepaskan dari posisi teraktivasi kuat (contoh, orto
atau para terhadap hidroksil atau amino) oleh halogen.

Br

Br

OH

OH

OH

Br

Br

Br

Br

Br2

SO2

- HBr
Br
SO2OH

SO2OH

Br

Demikian juga di dalam kondisi nitrasi, sebagai contoh:

(iii) Dealkilasi. Alkil tersier terlepas dari cincin aromatik oleh asam (kebalikan
dari alkilasi Friedel-Crafts) dan juga halogen. Meskipun reaksi paling suka jika gugus
alkil pada posisi orto atau para terhadap substituen teraktivasi kuat, namun terjadi
pula di dalam beberapa situasi yang tidak teraktivasi. Sebagai contoh, klorinasi dan
brominasi t-butilbenzena mengarah kepada klorobenzena dan bromobenzena.
Reaksi ini hanya terbatas untuk gugus alkil tersier karena mengandalkan
kestabilan karbokation tersier sebagai gugus pergi. Sebagai contoh,

68

Nitrasi dapat juga mengarah kepada delakilasi. Sebagai contoh, nitrasi pdiisopropil benzena menghasilkan sejumlah produk deprotonasi dan dealkilasi.

Reaksi samping ini hanya berarti jika melibatkan gugus alkil yang tersubstitusi tinggi.
(iv)

Dehalogenasi.

Reaksi kebalikan dari halogenasi terjadi jika atom

halogen berdampingan dengan dua substituen yang sangat besar. Sebagai contoh,
2,4,6-tri-t-butilbromobenzena terdebrominasi oleh asam kuat. Reaksi ini difasilitasi
oleh lepasnya tegangan sterik antara halogen dengan substituen orto di dalam
perjalanan dari reaktan eclipsed ke spesies-antara staggered.
Br
Me3C

Br
CMe3
H+

CMe3

Me3C

CMe3

CMe3

Dehalogenasi sebagai reaksi samping lebih sesrius di dalam nitrasi. Sebagai


contoh, reaksi p-iodoanisol dengan asam nitrat menghasilkan p-nitroanisol.

69

Reaksi ini difasilitasi oleh efek aktivasi kuat dari gugus p-metoksil, tapi deiodinasi
terjadi pula terhadap beberapa lingkungan yang kurang teraktivasi. Sebagai contoh,
nitrasi iodobenzena menghasilkan pula sejumlah kecil nitrobenzena.

3.9 Penutup
Untuk menguji prestasi mahasiswa setelah mempelajari Bab ini maka pada
Sub-bab 3.9 bagian (a) berikut ini diberikan contoh-contoh latihan yang berkaitan
dengan tujuan pembelajaran bab ini. Untuk memberikan jawaban yang benar, pada
Sub-bab 3.9 bagian (b) diberikan umpan balik di mana bagian mana mahasiswa harus
memdalami jawaban soal yang bersangkutan.
(a) Soal tes formatif
Tuliskan urutan reaksi metode sintesis untuk senyawa-senyawa berikut
dengan menggunakan precursor yang disebutkan, kemudian tuliskan mekanisme
reaksinya secara lengkap.

70

(b) Umpan balik


Setelah mengerjakan soal-soal latihan di atas, namun mahasiswa belum bisa
menjawab dengan benar maka disarankan untuk mengikuti instruksi berikut:
1.

Untuk menjawab soal nomor 1 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.2 dan Sub-bab 3.4 bagian (a).

2.

Untuk menjawab soal nomor 2 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.4 bagian (h).

3.

Untuk menjawab soal nomor 3 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.4 bagian (a).

4.

Untuk menjawab soal nomor 4 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.4 bagian (h).

5.

Untuk menjawab soal nomor 5 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.4 bagian (a).

6.

Untuk menjawab soal nomor 6 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.8 bagian (b).

7.

Untuk menjawab soal nomor 7 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.4 bagian (c).

8.

Untuk menjawab soal nomor 8 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 3.6 bagian (b).

Daftar Pustaka
Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.

71

Senarai Istilah dan Artinya

Istilah

Arti

Alkilasi

Substitusi elektrofilik pada inti aromatik di mana gugus


alkil menggantikan atom hidrogen

Alkilasi intramolekul

Alkilasi yang terjadi dalam molekul yang sama

Asilasi

Substitusi elektrofilik pada inti aromatik di mana gugus


asil menggantikan atom hidrogen

Efek rintangan sterik

Rintangan yang muncul dari gugus-gugus berukuran


besar

Formilasi

Substitusi langsung hidrogen pada inti aromatik


tersubstitusi oleh gugus formil

Hidrogenalisis

Substitusi langsung suatu gugus oleh hidrogen

Kontrol kinetik

Kuantitas setiap produk yang mungkin dari suatu


reaksi ditentukan oleh seberapa cepat produk itu
terbentuk

Kontrol termodinamik

Perbandingan kuantitas produk-produk yang mungkin


dari suatu reaksi ditentukan oleh kestabilan relatif
masing-masing produk

Klorometilasi

Substitusi elektrofilik pada inti aromatik di mana gugus


klorometil menggantikan atom hidrogen

72

BAB 4

SUBSTITUSI NUKLEOFILIK AROMATIK


4.1 Pendahuluan
Di dalam Bab 3 telah dijelaskan bahwa senyawa aromatik khususnya benzena
cukup reaktif terhadap elektrofil, tapi senyawa ini lembam terhadap nukleofil.
Meskipun demikian, keberadaan gugus jenis -M pada cincin benzena maka cincin
tersebut akan teraktivasi terhadap nukleofil. Sebagai contoh, o- dan p-nitrofenol
terbentuk melalui pemanasan nitrobenzena dengan serbuk kalium hidroksida.

Di dalam Bab ini akan diuraikan tentang mekanisme terjadinya reaksi


substitusi nukleofilik aromatik dan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya.
4.2 Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik Aromatk
Mekanisme reaksi substitusi nukleofilik aromatik mirip dengan mekanisme
reaksi substitusi elektrofilik aromatik kecuali pada spesies-antara yang terlibat, dalam
hal ini melibatkan anion. Nukleofil mengadisi ke dalam cincin aromatik menghasilkan
anion yang terdelokasi dan dari anion tersebut dilepaskan ion hidrida.

73

Substitusi nukleofilik aromatik yang lebih memuaskan ditemukan bilamana


gugus perginya adalah ion halida sebagaimana di dalam reaksi p-nitroklorobenzena
dengan ion hidroksida.

Ada empat mekanisme lain yang dipikirkan terjadi secara luas di dalam
substitusi nukleofilik aromatik. Salah satunya adalah substitusi pada senyawa
heteroaromatik beranggota enam yang mengandung nitrogen aktif terhadap nukleofil.
Hal ini terjadi karena muatan negatif pada posisi orto dan para terhadap nitrogen
produk adisi nukleofil distabilkan oleh delokalisasi ke atom nitrogen yang lebih
elektronegatif.

Akibatnya, piridina menyerupai nitrobenzena yang mengalami substitusi nukleofilik


pada posisi 2 dan 4. Alasan yang serupa berlaku pada senyawa-senyawa
heteroaromatik mengandung nitrogen lain seperti berikut.

4.3 Penggantian Ion Hidrida


Benzena tidak diserang oleh nukleofil, dan nitrobenzena hanya bereaksi
dengan nukleofil yang sangat reaktif, seperti ion amida atau ion amida tersubstitusi.

74

Senyawa m-dinitrobenzena jauh lebih teraktifkan daripada nitrobenzena, dan


bereaksi dengan ion sianida.

Piridina umumnya menyerupai nitrobenzena yang mana bereaksi dengan


pereaksi organologam. Produk yang dominan adalah senyawa turunan-2.

Reaksi yang serupa terjadi pada kuinolin terutama pada posisi-2, dan pada
isokuinolin pada posisi-1.

4.4 Penggantian Anion Lain


(a) Halida
Di dalam kondisi normal, keempat halobenzena sangat lembam terhadap
nukleofil. Tidak bereaksi dengan ion metoksida atau dengan perak nitrat dalam

75

alkohol mendidih. Senyawa-senyawa aromatik ini hanya dapat bereaksi jika: pertama,
kondisi yang sangat keras seperti dalam pembentukan fenol melalui pemanasan
klorobenzena dengan larutan natrium hidroksida 10% di bawah tekanan dan suhu
350C.
OH-

OHPhOH

PhCl

PhO-

H+

PhOH

- Cl

Kedua, reaksi halobenzena dengan ion alkoksida sepuluh kali lebih cepat dalam
media dimetil sulfoksida daripada dalam media hidroksilat. Sebagai contoh,
bromobenzena dengan ion butoksida menghasilkan fenil t-butil eter dengan
rendamen reaksi sebesar 45%.

Keberadaan substituen M pada posisi orto atau/dan para terhadap halogen


meningkatkan kemudahan substitusi nukleofilik.

(i)

Reaksi terkatalis tembaga. Halida aromatik yang tidak teraktivasi

terhadap nukleofil mengalami substitusi terkatalis tembaga pada pemanasan di


dalam pelarut aprotik seperti DMF. Sebagai contoh,

Diperkirakan reaksi ini terjadinya melalui adisi oksidatif halida ke Cu(I) diikuti dengan
reaksi sebaliknya, tapi dengan mentransfer sianida ke cincin aromatik.
76

(b) Oksianion
Meskipun fenil eter stabil dalam kondisi basa tapi masuknya substituen M
pada posisi orto dan para mempermudah hidrolisis. Sebagai contoh,

(c) Ion sulfida


Peleburan sulfonat aromatik dengan basa alkali pada suhu tinggi
menghasilkan fenol melalui pengusiran ion sulfida. Sebagai contoh, natrium ptoluenasulfonat dengan campuran natrium hidroksida dan sedikit kalium pada suhu
250-300C menghasilkan p-kresol dengan rendamen 65-75%.

(d) Anion nitrogen


Ion nitrit dapat dilepaskan dengan mudah dari senyawa nitro aromatik jika
terdapat gugus nitro lain yang mengaktifkan inti. Sebagai contoh,

77

Jika 1,3,5-trinitrobenzena direfluks dalam metanol yang mengandung ion


metoksida maka akan terbentuk 3,5-dinitroanisol dengan rendamen 70%.

Perlu dicatat di sini bahwa posisi orto dan para terhadap gugus nitro adalah posisi
yang lebih teraktifkan terhadap nukleofil daripada posisi meta. oleh karena itu,
kecenderungan terjadinya reaksi di atas sudah pasti disebabkan oleh kecenderungan
gugus nitro pergi sebagai ion nitrit daripada hidrogen pergi sebagai ion hidrida.
Substituen amino dapat dilepaskan sebagai ion amida. Metode ini berguna bila
akan membuat amina sekunder tanpa terkontaminasi dengan amina primer dan
tersier sebagaimana yang terjadi apabila dibuat dari alkil halida.

78

4.5 Substitusi Lewat Benzin


Benzin cukup tidak stabil untuk diisolasi dan akan bereaksi dengan nukleofil
apa saja yang ada. Sebagai contoh, penambahan ester malonat ke amoniak cair yang
mengandung ion amida menghasilkan enolat yang bereaksi dengan benzin yang juga
dihasilkan dalam sistem reaksi tersebut.

Satu kerugian pada penggunaan benzin dalam sintesis adalah nukleofil dapat
bereaksi pada masing-masing ujung ikatan rangkap tiganya, jika benzinnya adalah
monosubstitusi maka akan diperoleh suatu campuran dari dua produk. Sebagai
contoh, p-klorotoluena dengan ion hidroksida pada 340C menghasilkan campuran
ekuimolekul m- dan p-kresol.

Untunglah karena di dalam hal tertentu, efek pengarah dari substituen juga
bekerja. Sebagai contoh, m-aminoanisol adalah produk yang ekslusif dari okloroanisol dengan sodamida di dalam amoniak cair.

Di dalam tidak adanya nukleofil, benzin berdimerisasi menghasilkan bifenilena


seperti berikut,

79

dan di dalam adanya diena maka diena bereaksi seperti dienofil menghasilkan produk
Diels-Alder.

4.6 Reaksi SRN1


Halida-halida tak-teraktivasi mengalami substitusi nukleofilik di dalam reaksi
berantai dengan melibatkan anion radikal pada tahap inisiasi transfer elektron.

Nukleofil yang digunakan adalah enolat keton, ion amida, dan anion tiol. Inisiasi
biasanya dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut: (1) dengan cara elektron
solvasi (solvated electron) (natrium di dalam amoniak cair) atau (2) dengan cara
eksitasi fotokimia di mana nukleofil adalah donor elektron. Kemiripan dua tahap
pertama dengan reaksi SN1 mengarahkan kepada penandaan SRN1 (R untuk radikal).
Biasanya pelarut yang digunakan adalah amoniak cair, dan dapat melibatkan
basa kuat bilamana diperlukan (sebagai contoh, untuk pembentukan enolat). Contoh
yang berikut ini memperlihatkan suatu metode untuk konversi fenol menjadi amina.

80

4.7 Reaksi Bucherer


Senyawa fenol tertentu bereaksi dengan amonium sulfit berair menghasilkan
amina aromatik. Reaksi melalui hasil adisi sulfit tautomeri keto-enol fenol. Sebagai
contoh,

Reaksi ini terbatas pada senyawa fenol yang mempunyai kecenderungan melakukan
ketonisasi, seperti 1- dan 2-naftol, dan m-dihidroksibenzena. Di dalam contoh di atas,
2-naftilamina dapat diperoleh dengan rendamen 95% dengan cara menjalankan
reaksi pada suhu 150C di bawah tekanan. Oleh karena 2-naftol dapat diperoleh dari
naftalena melalui sulfonasi suhu tinggi yang diikuti dengan pengolahan dengan alkali,

81

maka reaksi ini menyediakan metode untuk memperoleh naftalena tersubstitusi-2


melalui diazotasi 2-naftilamina.
Reaksi Bucherer adalah dapat balik, dan melalui pengontoralan yang hati-hati
jumlah amoniak dan air maka reaksi ini dapat digunakan untuk menkoversi amina
menjadi fenol.

4.8 Penutup
Untuk menguji prestasi mahasiswa setelah mempelajari Bab ini maka pada
Sub-bab 4.8 bagian (a) berikut ini diberikan contoh-contoh latihan yang berkaitan
dengan tujuan pembelajaran bab ini. Untuk memberikan jawaban yang benar, pada
Sub-bab 4.8 bagian (b) diberikan umpan balik di mana bagian mana mahasiswa harus
memdalami jawaban soal yang bersangkutan.
(a) Soal tes formatif
Tuliskan reaksi yang dapat melakukan konversi sebagai berikut, kemudian
tuliskan mekanisme reaksinya.
1. Naftalena menjadi 2-naftol
2. Klorobenzena menjadi 2,4-dinitrofenilhidrazin
3. Klorobenzena menjadi p-klorofenol
4. Anisol menjadi p-EtOC6H4NO2
5. Piridina menjadi 2-aminopiridina
(b) Umpan balik
Setelah mengerjakan soal-soal latihan di atas, namun mahasiswa belum bisa
menjawab dengan benar maka disarankan untuk mengikuti instruksi berikut:
1. Untuk menjawab soal nomor 1 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 4.7.
2. Untuk menjawab soal nomor 2 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 4.4 bagian (a).
3. Untuk menjawab soal nomor 3 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 4.2 bagian (c).
4. Untuk menjawab soal nomor 4 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 4.4 bagian (b).

82

5. Untuk menjawab soal nomor 5 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 4.3.

Daftar Pustaka
Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.

Senarai Istilah dan Artinya

Istilah

Arti

Eksitasi fotokimia

Eksitasi elektron yang melalui penyinaran

Elektron solvasi

Cara transfer elektron di mana sumber elektron


(logam) disuspensikan di dalam pelarut

Ekuimolekul

Jumlah mol yang seimbang

Heteroaromatik

Inti aromatik yang melibatkan atom bukan karbon

Pelarut aprotik

Pelarut yang tidak memiliki hidrogen bermuatan parsil


positif

Substituen M

Substituen penarik elektron lewat peristiwa mesomeri

83

BAB 5
GARAM DIAZONIUM AROMATIK
5.1 Pendahuluan
Umumnya, garam diazonium disintesis dengan tujuan untuk digunakan
sebagai zat-antara di dalam sintesis senyawa yang lebih berguna, seperti zat
pewarna. Diazonium terbentuk melalui reaksi antara suatu amina aromatik primer
atau sekunder dengan asam nitrit dalam kondisi asam kuat.
Salah satu keistimewaan yang dimiliki ion diazonium di dalam sintesis adalah
kemudahannya melepaskan nitrogen dan digantikan dengan suatu nukleofil. Melalui
pemanfaatan sifat tersebut, berbagai jenis senyawa telah dibuat. Di samping itu,
berbagai senyawa juga telah disintesis melalui reaksi kopling antara ion diazonium
dengan nukleofil yang diaktifkan oleh suatu gugus lain yang ada di dalam inti
aromatik. Produk reaksi ini secara sederhana disebut produk kopling.
Uraian berikut membahas tentang reaksi pembentukan garam diazonium dan
reaksi-reaksi yang dapat dijalaninya sebagai zat-antara di dalam sintesis, meliputi
reaksi substitusi dan reaksi kopling. Mekanisme kedua reaksi tersebut dituliskan
secara lengkap dan logik.
5.2 Pembentukan Garam Diazonium
Amina primer bereaksi dengan asam nitrit di dalam larutan asam
menghasilkan garam diazonium (RN+N) melalui mekanisme reaksi sebagai
berikut:

HO

HO

NH

H O

RNH

R
O

N
O

-H O
R

R
O

Diazotisasi amina aromatik primer nornalnya dijalankan dengan cara


menambahkan larutan natrium nitrit ke larutan (atau suspensi) amina hidroklorida di

84

dalam asam hidroklorida berlebih yang didinginkan di dalam pendingin es. Kecepatan
penambahan dikontrol sedemikian rupa agar suhu tetap di bawah 5C, dan
penambahan terus lakukan sampai asam nitrit di dalam larutan sedikit berlebih.
Amina aromatik yang intinya tersubstitusi dengan gugus penarik elektron tidak
mudah untuk didiazotasi karena nukleofilisitas nitrogen amino berkurang oleh tarikan
partial pasangan elektron bebasnya ke dalam inti. Sebagai contoh,
NH2

NH2

N
O

N
O

Di dalam hal seperti ini, biasanya media reaksi yang cocok adalah asam asetat;
bahkan dengan media asam asetat, senyawa 2,4,6-trinitroanilin dapat terdiazotasi.
Kebanyakan reaksi yang menggunakan garam diazonium dapat dijalankan di
dalam larutan, dan secara normal tidak perlu mengisolasi garam tersebut. Akan
tetapi, bila harus diisolasi maka ada dua cara yang dapat digunakan. Pertama, larutan
berair garam diazonium (biasanya garam klorida atau sulfat) disiapkan dan diolah
dengan asam fluoroborat. Garam diazonium fluroborat (ArN2+BF4-) yang tidak larut
akan segera mengendap. Kedua, amina hidroklorida diolah dengan nitrit organik dan
asam asetat di dalam eter. Garam diazonium yang tidak larut dalam eter akan segera
mengendap.

5.3 Reaksi Diazonium


Ada tiga jenis reaksi yang dapat dibedakan:
(a) Reaksi nukleofil pada nitrogen
Meskipun ion diazonium ada dalam larutan bersama anion stabil (yakni anion
dari asam kuat) seperti klorida, anion kurang stabil (yakni anion dari asam lemah)
bereaksi ion diazonium menghasilkan senyawa diazo kovalen. Sebagai contoh,

85

Banyak senyawa diazo yang tidak stabil dan terdekomposisi di dalam larutan
menghasilkan radikal aril.
Ion fenoksida adalah salah satu gugus nukleofil penting yang dapat bereaksi
dengan ion diazonium aromatik.

(b) Reaksi SN1


Pada pemanasan, ion diazonium terdekomposisi menjadi kation aril dan
nitrogen. Kation aril sangat reaktif dan relatif tidak selektif, meyerang dengan cepat
nukleofil apa saja yang mendekatinya. Oleh karena itu, reaksi di dalam larutan berair
mengarah kepada pembentukan fenol.

(c) Reduksi satu-elektron


Ion diazonium adalah subyek untuk reduksi satu-elektron dengan membentuk
radikal aril dan nitrogen.

Ion tembaga(I) sering digunakan sebagai agen pereduksi satu-elektron. Radikal


aril sangat reaktif dan mampu mengabstraksi suatu ligan dari ion logam transisi atau
satu atom hidrogen dari ikatan kovalen.

86

5.4 Reaksi Di Mana Nitrogen yang Tereliminasi


(a) Penggantian oleh hidroksil
Ketika garam diazonium dipanaskan dalam penangas air maka fenol
terbentuk melalui mekanisme SN1. Reaksi secara normal dijalankan di dalam larutan
asam agar fenol berada dalam bentuk tak-terionkan. Jika tidak demikian maka terjadi
reaksi antara garam diazonium dengan ion fenoksida.
Prosedur untuk pembuatan fenol dari garam diazonium (proses 1) kerapkali
memberikan rendamen yang lebih rendah daripada prosedur yang menggunakan
asam sulfonat yang dipadukan dengan alkali (proses 2). Jika dimulai dari hidrokarbon
aromatik, proses 1 memerlukan nitrasi, reduksi gugus nitro menjadi gugus amino,
diazotasi, dan hidrolisis; sedangkan prosedur 2 hanya memerlukan sulfonasi dan
peleburan alkali. Meskipun demikian, metode diazonium dapat digunakan di dalam
lingkungan di mana metode sulfonat gagal. Sebagai contoh, m-nitrofenol yang tidak
dapat diperoleh dari asam m-nitrobenzenasulfonat tapi dapat dibuat dari mnitroanilina dengan rendamen 80%.
(b) Penggantian oleh halogen
Untuk penggantian dengan halogen, prosedur yang digunakan berbeda-beda
berdasarkan halogen yang akan dimasukkan. Fluorida aromatik dibuat dengan
menggunakan reaksi Schiemann. Larutan berair garam diazonium diolah dengan
asam fluoroborat sehingga diazonium fluoroborat mengendap. Garam ini dikeringkan
kemudian dipanaskan pelan-pelan sampai mulai terdekomposisi, dan setelah itu
reaksi terjadi secara spontan. Dengan cara ini maka fluorobenzena dapat diperoleh
dari anilina dengan rendamen sebesar 55%. Reaksi ini melibatkan mekanisme SN1.

Prosedur termodifikasi terbaru menggunakan diazonium fluorofosfat yang


lebih kurang larut daripada fluoroborat dan memberikan rendamen yang lebih baik
ketika dipanaskan pada suhu 165C.

Klorida dan bromida aromatik dapat diperoleh dengan cara yang analog
dengan fluoroaromatik, yaitu dengan cara masing-masing menggunakan diazonium
87

tetrakloroborat dan tetrabromoborat. Akan tetapi senyawa tersebut kerap kali


terdekomposisi dengan keras ketika dipanaskan. Prosedur untuk klorida terdiri atas
penambahan larutan berair diazonium klorida ke dalam larutan tembaga(I) klorida di
dalam pelarut asam hidroklorida, kompleks yang sulit larut segera terpisah dan
terdekomposis menjadi aril klorida pada saat pemanasan. Reaksi melibatkan reduksi
satu-elektron ion diazonium diikuti dengan transfer ligan.

Aril bromida dapat dibuat dengan cara yang serupa, yakni dari diazonium
hidrogen sulfat dan tembaga(I) bromida di dalam asam hidroborat. Konversi
keseluruhan dari amina memberikan rendamen antara 70 80% untuk p-klorotoluena
dan p-bromotouluena.
Aril iodida dapat dibuat tanpa menggunakan garam tembaga(I). Di dalam
larutan berair garam diazonium diolah dengan kalium iodida dan dihangatkan.
Dengan cara ini, biasanya iodida dapat diperoleh dengan rendamen yang tinggi;
sebagai contoh, anilin memberikan 70% iodobenzena. Pada awalnya diperkirakan
bahwa reaksi berjalan melalui mekanisme SN1 karena iodida adalah nukleofil yang
lebih kuat sehingga mampu bersaing dengan air yang ada di dalam sistem reaksi,
berbeda dengan klorida dan bromida. Akan tetapi, sekarang ada fakta bahwa ion
iodida berpotensi sebagai pereduksi satu-elektron sebagaimana halnya tembaga(I).

Dengan demikian berarti bahwa reaksi tersebut dipicu oleh urutan rantai-radikal:

(c) Penggantian dengan siano


Aromatik nitril diperoleh dengan menggunakan tembaga(I) sianida (Metode
Sandmeyer) di dalam larutan berair kalium sianida. Sebagai contoh, p-toluidina
menghasilkan 64-70% p-tolunitril.

88

(d) Penggantian dengan nitro


Ada dua prosedur yang tersedia untuk konversi garam diazonium menjadi
senyawa nitro.
(1) Larutan netral garam diazonium diolah dengan natrium kobaltnitrit di dalam
adanya tembaga(I) oksida dan tembaga(II) sulfat.

(2) Suspensi diazonium fluoroborat di dalam air ditambahkan ke larutan natrium


nitrit di dalam mana serbuk tembaga tersuspensi. Sebagai contoh, p-nitrobenzena
dapat diperoleh dari p-nitroanilina dengan rendamen sebesar 75%.

(e) Penggantian dengan hidrogen


Ada dua metode yang dapat digunakan untuk konversi ArN2+ ArH. Di dalam
metode pertama, larutan diazonium dihangatkan bersama etanol.

Hampir dipastikan bahwa reaksi ini melibatkan radikal aril. Rendamen reaksi ini
kerapkali rendah karena kompetisi nukleofil pengganti.

Pada metode kedua yang umum digunakan sekarang, agen pereduksinya


adalah asam hipofosfit, dan reaksi terjadi pada suhu kamar di mana reaksi SN1
pesaing jauh lebih lambat. Garam tembaga(I) dapat mengkatalis proses ini dan terjadi
reaksi berantai.

89

ArN2+

inisiasi:

Cu+

Ar

N2

Cu2+
H

H
Ar

ArH

OH

OH
propagasi:
ArN2+

PH(OH)

H2O

Ar

N2

H3PO3

H+

Kemudahan pelepasan gugus amino dari cincin aromatik melalui diazotasi


dan reduksi dipandang berharga di dalam sintesis. Sebagai contoh, 1,3,5tribromobenzena dapat dibuat melalui brominasi anilina diikuti dengan pelepasan
gugus amino.

Sebuah jalan yang lebih rinci digunakan untuk membuat m-bromo toluena
digambarkan dalam reaksi berikut:

90

(f) Penggantian dengan karbon alifatik


Alkena di dalam mana C=C terkonjugasi dengan gugus tak-jenuh lain
(sebagai contoh, C=O, CN) bereaksi dengan garam diazonium di dalam adanya
sejumlah katalis tembaga(I) klorida (Reaksi Meerwein). Sebagai contoh,

Seperti di dalam reaksi Sandmeyer, tembaga(I) mereduksi ion diazonium menjadi


radikal aril dan tembaga(II) yang bertindak sebagai agen transfer-ligan terhadap hasil
adisi radikal tersebut dengan alkena.

Di dalam beberapa kasus, tahap akhir reaksi adalah pelepasan hidrogen. Sebagai
contoh,

Radikal aril dapat pula terbentuk dari ion diazoniun dengan titanium(III)
klorida. Akan tetapi, karena titanium(IV) adalah oksidan yang sangat lemah sehingga
pada tahap terakhirnya justru lebih mudah terjadi reduksi oleh titanium(III) daripada
oksidasi.

91

Sebagai contoh,

(g) Penggantian dengan karbon aromatik


Sejumlah prosedur mengarah kepada arilasi karbon aromatik oleh garam
diazonium.
(i) Reaksi Gomberg. Suatu sistem cairan dua fase yang terdiri atas larutan
berair garam diazonium dan suatu cairan aromatik, atau suatu larutan padatan
aromatik di dalam pelarut lembam diolah dengan larutan natrium hidroksida.
Diazohidroksida kovalen terbentuk (ArN2+Cl- + NaOH ArN=NOH + NaCl) dan
menghasilkan radikal aril melalui suatu mekanisme kompleks yang mirip dengan
reaksi diazoasetat. Radikal-radikal tersebut bereaksi dengan cairan aromatik.
Rendamennya tidak pernah tinggi dan biasanya kurang dari 40%. Sebagai contoh,

Jika senyawa aromatik taksimetris, arilasi menghasilkan suatu produk


campuran.

Sebagai

contoh,

benzenadiazonium

klorida

bereaksi

dengan

nitrobenzena di dalam kondisi Gomberg menghasilkan suatu campuran yang


mengandung tida nitrobifenil. Reaksi tersebut akan lebih bernilai jika benzena itu
sendiri atau para-substitusi benzena simetris. Mekanisme arilasi homolitik dan faktorfaktor yang menguasai orientasi substitusi.

(ii) Diazoasetat. Dekomposisi diazoasetat aromatik menjadi radikal aril yang


menyempurnakan arilasi aromatik senyawa aromatik. Mekanismenya kompleks.

92

Biasanya lebih menyenangkan menggunakan N-nitrosoasilarilamina sebagai starting


material daripada diazoasetat karena N-nitrosoasilarilamina mengalami penataan
ulang menjadi diazoaester pada pemanasan.

O
N

N
N

Ar

Ar

R
N

Ar
O

Ar

(iii) Reaksi Pschorr. Salah satu metode sintesis yang lebih menyenangkan
untuk pembuatan fenantrena adalah melalui reaksi antara o-nitrobenzaldehida
dengan asam fenilasetat di dalam adanya anhidrida asam asetat, reduksi gugus nitro
menjadi amino, diazotasi, pengolahan garam diazonium dengan tepung tembaga,
dan akhirnya dekarboksilasi.

93

Awalnya prosedur ini digunakan oleh Pschorr untuk mensintesis fenantrena


dan turunannya, namun sudah diperluas untuk membentuk sistem aromatik yang lain.
Sebagai contoh, fluorenon dapat diperoleh dari 2-aminobenzofenon dengan metode
ini.

(iv) Reduksi dengan ion tembaga(I) amonium. Penambahan tembaga(I)


amonium hidroksida (diperoleh melalui pengolahan tambaga(II) sulfat di dalam
amoniak dengan hidroksilamina) untuk mendiazotasi asam antranilat menghasilkan
asam difenat dengan rendamen sekitar 90%.

94

Reaksi ini kemungkinan terjadi melalui reduksi satu-elektron terhadap ion diazonium
diikuti dengan dimerisasi radikal aril yang dihasilkan. Substitusi nukleofilik jenis
Sandmeyer yang terjadi di dalam adanya ion tembaga(II) dapat diperlihatkan di sini
karena ion tembaga(II) membentuk ikatan sebagai ion tembaga(II)-amonium
sehingga mekanisme ligan-transfer tidak dapat bekerja.
(h) Penggantian dengan spesies lain
Sama baiknya dengan ion iodida, ion azida dan beberapa jenis anion berpusat sulfur
(RS-, RSS-, EtOC(S)S-) bereaksi secara langsung dengan garam diazonium. Sebagai
contoh, reaksi antara asam antranilat terdiazotasi dengan natrium disulfida
menghasilkan asam ditiosalisilat,

dan m-toluidina terdiazotasi bereaksi dengan kalium etil ksantat menghasilkan m-tolil
etil ksantat.

Sebuah mekanisme radikal-rantai telah ditetapkan untuk reaksi tersebut di


atas dengan PhS-,

dan nukleofil lain dapat bereaksi dengan cara yang serupa.

95

5.5 Reaksi Di Mana Nitrogen Dipertahankan


Reaksi suatu nukleofil dengan nitrogen terminal ion diazonium menghasilkan
azo-senyawa kovalen. Di dalam banyak hal, produk-produk sangat tidak stabil dan
segera melapaskan nitrogen, tetapi ada dua prosedur sintesis yang memberikan
produk di mana nitrogen dipertahankan.
(a) Reduksi menjadi arilhidrazin
Ion diazonium aromatik direduksi oleh natrium sulfit menjadi arilhidrazin.
Mekanisme yang mungkin mengandung reaksi ion diazonium dengan anion sulfit
menghasilkan azo-sulfit kovalen yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi
dengan gugus penerima elektron, mengadisi ion sulfit nukleofil kedua; dan hidrolisis
menghasilkan hidrazin.

Melalui cara ini, fenilhidrazin dapat diperoleh dari anilin dengan rendamen di atas
80%.
(b) Reaksi kopling
Reaksi ion diazonium dengan inti aromatik dikenal sebagai reaksi kopling. Ion
diazonium adalah elektrofil lemah dan hanya bereaksi dengan senyawa aromatik
yang sangat teraktivasi terhadap elektrofil. Senyawa-senyawa tersebut meliputi
amina, fenol, dan sistem heterosiklik seperti pirol.

96

(i) Amina. Amina aromatik tersier bereaksi dengan ion diazonium hampir
eksklusif pada posisi para. Mekansime reaksi ini adalah mekanisme yang umum
untuk substitusi aromatik elektrofilik, yakni ion diazonium mengadisi ke senyawa
aromatik dan kemudian melepaskan hidrogen.
H
Me N

Me N

Ar

N
Ar

-H
Me N

N
N

Ar

Pengontrolan pH dengan sangat hati-hati adalah suatu hal yang penting. pH


di dalam daerah 4-10 sangat memuaskan, dan biasanya diperlukan buffer natrium
asetat untuk mempertahankan kondisi yang sesuai.
Amina aromatik primer dan sekunder biasanya bereaksi secara istimewa
dengan ion diazonium pada atom nitrogennya. Sebagai contoh, ketika anilina hanya
diazotasi parsial di dalam asam hidroklorida, adisi natrium asetat akan membebaskan
anilina yang sisa dari asam konjugasinya dan kemudian terjadi kopling menghasilkan
diazoaminobenzena dengan rendamen 70%.

C-kompling langsung untuk amina primer dan sekunder terjadi di dalam dua
kondisi:

pertama,

ketika

ion

diazonium

sangat

reaktif

(contoh,

ion

p-

nitrobenzenadiazonium); dan kedua, di dalam larutan berair asam format yang mana
pengasaman cukup bagi produk N-kopling untuk melakukan penataan ulang. Jika
struktur dan stereokimia ion diazonium sesuai maka N-kopling dapat terjadi. Sebagai
contoh, diazotasi o-fenilenadiamina mengarah langsung kepada pembentukan
benzotriazol dengan rendamen di atas 75%.

97

(ii) Fenol. Kopling ion diazonium dengan fenol terjadi melalui ion fenoksida
yang dipandang lebih teraktifkan terhadap elektrofil daripada fenolnya sendiri. pH
optimum untuk terjadinya kopling adalah di sekitar 9-10, tetapi hasilnya yang
memuaskan diperoleh dengan cara menambahkan larutan asam berair garam
diazonium ke larutan fenol di dalam alkali yang cukup untuk menetralkan asam yang
terbentuk, dan untuk mempertahankan kebasaannya yang sesuai sehingga kopling
terjadi dengan cukup cepat dan dekstruksi ion diazonium menjadi tercegah.
Mekanisme kopling dengan ion fenoksida analog dengan reaksi amina, dan
reaksi langsung mengarah kepada posisi para. Sebagai contoh,

Jika posisi para telah tersubstitusi maka kopling terjadi pada posisi orto. Sebagai
contoh,

(iii) Enol. Meskipun alkena tidak bereaksi dengan ion diazonium, namun enol
dapat bereaksi karena diaktivasi oleh oksigen gugus hidroksilat. Reaksi lebih mudah
terjadi di dalam kondisi alkali karena ion enolat lebih reaktif daripada enol. Salah satu
contoh adalah reaksi ester asetoasetat dengan benzenadiazonium klorida di dalam
buffer natrium asetat.

98

Jika atom karbon di mana terjadinya kopling tidak memiliki atom hidrogen
sehingga pergeseran prototropik terakhir tidak terjadi, maka pada produk awal segera
terjadi pemutusan C-C menghasilkan arilhidrazon (reaksi Japp-Klingemann).

Diazotisasi

o-aminoasetofenon

mengarah

kepada

pembentukan

4-

hidroksisinnolin akibat terjadi reaksi secara intramolekul dengan enol yang secara
streokimia sangat dimungkinkan.

(iv)

Pirol. Pirol yang juga reaktif terhadap elektrofil akan bereaksi dengan

garam diazonium terutama pada posisi-2.

Jika posisi-2 dan -5 telah tersubstitusi maka penggabungan terjadi pada posisi-3.

99

(v) Inti aromatik yang kurang teraktivasi. Inti aromatik yang kurang aktif
terhadap elektrofil dibanding dengan ion fenoksida dan amina aromatik tidak akan
kopling dengan ion benzenadiazonium. Akan tetapi, masuknya substituen penarik
elektron pada ion diazonium akan meningkatkan elektrofilisitas ion ini dan inti yang
kurang

reaktif

pun

segera

dapat

bereaksi.

Sebagai

contoh,

ion

2,4-

dinitrobenzenadiazonium cukup reaktif untuk kopling dengan anisol, dan bahkan ion
2,4-trinitrobenzenadiazonium dapat kopling dengan mesitilena.

5.6 Nilai Sintesis Diazo-Kopling


(a) Bahan Celupan
Senyawa azo aromatik semuanya berwarna terang (sebagai contoh,
azobenzena berwarna orange-red, maks 448 nm) dan banyak dari senyawa-senyawa
tersebut yang dibuat secara reaksi kopling digunakan sebagai pewarna tekstil. Ada
tiga kelompok bahan pewarna.
(1) Senyawa azo netral digunakan sebagai pewarna kombinasi azoik, dibuat
secara in situ di dalam serat. Sebagai contoh adalah para red dibuat dari 2-naftol dan
ion p-nitrobenzenadiazonium.

100

(2) Senyawa azo yang mengandung gugus sulfonat atau gugus amino terserap
langsung ke serat dari larutan berair. Sebagai contoh, orange II (sebuah pewarna
asam), dan Bismarck brown R (sebuah pewarna basa).

SO3H

N
N
O

OH
+

SO3-

(3) Senyawa-senyawa azo yang mengandung gugus yang mampu membentuk


khelat dengan ion logam digunakan sebagai pewarna mordant. Ion logam tersebut
terserap pada serat dan mengikat zat warna. Sebagai contoh adalah alizarin yellow
R yang membentuk khelat dengan bantuan gugus fenolik dan karbonilnya. Umumnya
mengunakan oksida aluminium dan oksida kromium sebagai pengikat.

101

(b) Indikator
Senyawa azo yang mengandung gugus asam dan basa dapat digunakan
sebagai indikator karena warna basa konjugasi dan asam konjugasinya berbeda
jelas. Sebagai contoh, metil merah dibuat dari asam antranilat dan dimetilanilina
dengan rendamen sekitar 64%, dan metil orange dibuat dari asam sulfanilat
terdiazotasi dan dimetilanilin.
3

(c) Sintesis amina


Senyawa azo rentan terhadap hidrogenalisis menghasilkan amina. Biasanya
menggunakan

natrium

ditionat

sebagai

agen

pereduksi,

tapi

dapat

pula

menggunakan metode katalitik. Sebagai contoh, 4-amino-1-naftol diperoleh 1-naftol


kopling dengan benzenadiazonium klorida dikuti dengan reduksi dengan ditionat.

102

Amina alifatik dapat diperoleh dengan cara yang serupa, yakni melalui kopling
dengan enol diikuti dengan reduksi.
(d) Sintesis kuinon
Diamina orto dan para dengan aminofenol mudah teroksidasi menjadi kuinon.
Kedua kelompok senyawa tersebut dibuat melalui kopling diazo diikuti dengan
reduksi, jalur ini menyediakan rute bermanfaat ke kuinon. Sebagai contoh,
Ph
N
N
O

OH
PhN

Na S O

NH

O
OH

O
FeCl

5.7 Penutup
Untuk menguji prestasi mahasiswa setelah mempelajari Bab ini maka pada
Sub-bab 5.7 bagian (a) berikut ini diberikan contoh-contoh latihan yang berkaitan
dengan tujuan pembelajaran bab ini. Untuk memberikan jawaban yang benar, pada
Sub-bab 5.7 bagian (b) diberikan umpan balik di mana bagian mana mahasiswa harus
memdalami jawaban soal yang bersangkutan.

103

(a) Soal tes formatif


Buatlah jalur sintesis untuk senyawa-senyawa berikut ini yang menggunakan
garam diazonium, mulailah dengan suatu senyawa benzena monosubstitusi.

(b) Umpan balik


Setelah mengerjakan soal-soal latihan di atas, namun mahasiswa belum bisa
menjawab dengan benar maka disarankan untuk mengikuti instruksi berikut:
1. Untuk menjawab soal nomor 1 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 5.4 bagian (b).
2. Untuk menjawab soal nomor 2 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 5.4 bagian (c).
3. Untuk menjawab soal nomor 3 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 5.3 bagian (b).
4. Untuk menjawab soal nomor 4 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 5.4 bagian (e).
5. Untuk menjawab soal nomor 5 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 5.5 bagian (b).

104

Daftar Pustaka
Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.

Senarai Istilah dan Artinya

Istilah

Arti

C-kopling

Pembentukan ikatan antara dua atom C

N-kopling

Pembentukan ikatan antara dua atom N

Nukleofilisitas

Reaktivitas relatif suatu nukleofil

Prototropik

Pergeseran proton di dalam suatu molekul

105

BAB 6
PENATAAN ULANG MOLEKUL

6.1 Pendahuluan
Kelompok reaksi penataan ulang muncul karena adanya banyak reaksi-reaksi
yang secara mekanistik tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok reaksi yang
umum, seperti reaksi adisi, substitusi, eliminasi, dan sebagainya. Secara mekanistik,
reaksi-reaksi penataan ulang cukup variatif dan luas cakupannya, namun tetap
memenuhi kaidah-kaidah mekanisme reaksi kimia organik.
Ada berbagai jenis reaksi penataan ulang, secara umum reaksi-reaksi
tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis atom gugus yang berpindah. Di samping
itu, dikenal pula penamaan berdasarkan senyawa asalnya, produknya, maupun
penemunya. Masing-masing reaksi mempunyai ciri khas, baik dalam hal mekanisme
terjadinya maupun produk yang dihasilkan.
Di dalam bab ini, masing-masing reaksi tersebut akan dibahas secara lengkap
baik tentang persyaratan dan mekanisme terjadinya, serta ciri khas produk yang
dihasilkan.

6.2 Penatan Ulang Ke Karbon Kekurangan Elektron


Reaksi penataan ulang yang melibatkan karbon kekurangan elektron
dikelompokkan berdasarkan sifat gugus yang berpindah.
(a) perpindahan karbon
(i) Penataan ulang Wagner Meerwein. Salah satu sistem yang paling
sederhana di mana suatu karbon berpindah dengan membawa pasangan elektronikatan ke atom karbon lain yang kekurangan elektron adalah kation neopentil.

Semua reaksi yang menghasilkan ion seperti ini memberikan produk turunan dari ion
penataan ulang. Sebagai contoh,

106

Driving force untuk penataan ulang ini terletak pada lebih tingginya kestabilan
karbokation tersier daripada karbokation primer.
Di dalam sistem alisiklik, pelepasan tegangan dapat menyediakan driving force
yang kuat untuk penataan ulang. Sebagai contoh, adisi hidrogen klorida kepada pinen memberikan produk penataan ulang, yakni isobornil klorida. Cincin beranggota
empat yang tegang di dalam karbokation diperluas menjadi cincin beranggota lima,
dan hal ini mengesampingkan fakta tentang kestabilan yang lebih tinggi karbokation
tersier yang ada pada cincin beranggota empat daripada karbokation sekunder yang
ada pada cincin yang beranggota lima.

H+
Cl
isobornil klorida

-pinen

Gambaran utama yang lain dari perpindahan ini adalah sebagai berikut.
1. Karbokation dapat diperoleh melalui berbagai cara.
(1) Dari halida dengan menggunakan pelarut pengion yang kuat, atau melalui
penambahan

asam

Lewis

seperti

ion

perak

yang

membantu

pembentukan karbokation dengan cara mengabstraksi halida.

(2) Dari alkohol melalui pengolahan dengan asam untuk mendorong


terjadinya heterolisis.

107

(3) Dari amina melalui pengolahan dengan asam nitrit. Reaksi terjadi melalui
ion diazonium alifatik yang kemudian melepaskan nitrogen dengan cepat.

(4) Dari alkena melalui protonasi. Sebagai contoh,

2. Hidrogen dapat juga berpindah di dalam sistem ini. Sebagai contoh, reaksi
yang terjadi melalui kation isobutil menghasilkan produk utama yang
diturunkan dari kation t-butil.

Sebuah contoh lengkap tentang pergeseran hidrida adalah pergeseran yang


terjadi di dalam reaksi amina alifatik primer dengan asam nitrit. Sebagai
contoh,

3. Gugus aril memiliki kepantasan yang lebih besar untuk berpindah daripada
gugus alkil atau hidrogen. Sebagai contoh, klorida di bawah ini mengalami

108

solvolisis dengan penataan ulang yang ribuan kali lebih cepat daripada
neopentil klorida di dalam kondisi yang sama.

Gugus aril tersebut dikatakan menyediakan anchimeric assistance kepada


reaksi.
4. Penataan ulang adalah stereospesifik. Gugus yang berpindah mendekati atom
karbon yang kekurangan elektron dari arah yang berlawanan dengan arah
perginya gugus pergi sebagaimana halnya di dalam reaksi SN2.

Akan tetapi, di dalam turunan trans-dekalin di bawah ini, gugus hidroksil tetap
dalam posisi ekuatorial karena sistem cincin tidak dapat flip (membalik). Di
dalam situasi seperti ini tidak ada hidrogen anti terhadap hidroksil, tetapi dua
atom karbon cincin ada dalam posisi anti yang cocok untuk penataan ulang,
dan di dalam adanya asam maka terjadi pengecilan cincin.

5. Penataan ulang di dalam sistem bisiklik adalah kejadian yang sangat umum,
seperti di dalam konversi kamfen hidroklorida menjadi isobornil klorida,
terkatalis dengan asam Lewis.

109

6. Dapat terjadi dua atau lebih penataan ulang secara berurutan. Kejadian ini
digambarkan di dalam reaksi konversi berikut di mana terjadi lima pergeseran1,2, yakni tiga hidrida dan dua gugus metil.

(ii) Penataan ulang pinacol. Pengolahan 1,2-diol (pinacol) dengan asam


mengarah pada penataan ulang. Sebagai contoh,

Meskipun penatan ulang pinacol pada dasarnya mirip dengan penataan ulang
WagnerMeerwien, tapi berbeda dalam hal ion yang tertata ulang. Asam konjugasi
keton relatif stabil dari pada karbokation tertata ulang yang terbentuk dalam reaksi
WagnerMeerwien; akibatnya, driving force untuk penataan ulang pinacol jauh lebih
besar.
Berikut ini adalah karakteristik penataan ulang Wagner-Meerwien yang
diterapkan pula untuk penataan ulang pinacol:
(1) Alkil, aril, hidrogen berpindah
(2) Kelayakan gugus aril untuk berpindah lebih besar daripada alkil atau hidrogen;
dan di antara gugus-gugus aril, gugus aromatik yang paling mudah berpindah
adalah gugus yang mengandung substituen yang dapat meningkatan
kerapatan elektronnya. Sebagai contoh, p-klorofenil < fenil < p-metoksifenil.

110

Tol
Ph
HO

Tol
Ph

H2SO4

OH

Ph

Tol

Tol
Tol

Tol

Ph
O

Ph

Ph
6%

94%
Tol = p-tolil

(3) Reaksi terjadi dalam posisi anti.


Ada faktor yang tidak dapat diterapkan untuk reaksi Wagner-Meerwien. Dari
dua gugus hidroksil yang tersedia sebagai gugus pergi, gugus yang pergi adalah yang
menghasilkan karbokation yang lebih stabil. Faktor ini mengambil hak yang lebih
tinggi daripada faktor kecenderungan gugus berpindah. Sebagai contoh, penataan
ulang 1,1-dimetil-2,2-difenil glikol mengarah kepada pembentukan 3,3-fenil-2butanon melalui pemindahan metil.

Persyaratan bahwa gugus yang berpindah harus pada posisi anti dengan
gugus-pergi memiliki konsekwensi penting di dalam sistem alisiklik. Sebagai contoh,
cis-1,2-dimetilsikloheksan-1,2-diol mengalami pergeseran metil menghasilkan 2,2dimetilsikloheksana, sedangkan isomer trans-nya mengalami pengecilan cincin
dengan menghasilkan turunan siklopentana.

111

(iii) Penataan ulang benzilik. -Diketon mengalami penataan ulang ketika


diolah dengan ion hidroksida menghasilkan asam -hidroksi. Contoh yang paling
dikenal adalah konversi benzil menjadi asam benzilat. Driving force reaksi ini terletak
pada kepindahan produk tersebut oleh ionisasi gugus karbonil.

(iv)

Penataan ulang melibatkan diazometan. Diazometana mengambil

bagian dalam dua jenis reaksi yang mengarah kepada produk sebagai hasil penataan
ulang yang menyelipkan gugus metilen ke dalam rantai atom karbon. Pereaksi yang
digunakan adalah suatu karbon nukleofil yang diturunkan dari lepasnya nitrogen.
1. Aldehida dan keton dikonversi menjadi aldehida dan keton deret homolog yang
lebih panjang.

Tahap perpindahan gugus mirip dengan reaksi pinacol. Akan tetapi, ada dua
kerugian menggunakan prosedur ini di dalam sintesis. Pertama, keton tak
simetris memberikan campuran dua produk; dan kedua, terbentuk epoksida
sebagai produk samping, dan kadang dalam beberapa kasus epoksida ini justru
menjadi produk utama.
O
- N2

R
R

N
N

112

Reaksi ini harus dijalankan pada suhu yang sangat rendah karena reaktivitas
siklopropana sangat tinggi, kalau tidak demikian maka siklopropanon bereaksi
dengan diazometana membentuk siklobutanon.
Diazometana dapat diperoleh secara in situ melalui pengolahan N-metilN-nitrosotoluen-p-sulfoamida dengan basa.

2. Reaksi diazometana dengan klorida asam menghasilkan diazoketon yang mana


pada pemanasan di dalam adanya perak oksida akan mengalami penataan
ulang Wolff menghasilkan ketena.

Di dalam reaksi ini, diazometana yang digunakan harus berlebih untuk


meminimalkan pembentukan produk alternatif (RCOCH2Cl). Ketika penataan
ulang dijalankan di dalam adanya air atau alkohol, ketena langsung terkonversi
menjadi asam atau ester.

113

Keseluruhan proses ini (sintesis Arndt Eistert) memberikan metode konversi


suatu asam RCO2H menjadi RCH2CO2H dalam tiga langkah dengan rendamen
total sekitar 50-80%.
(v) Penataan ulang alkana. Rantai karbon jenuh menjalani penataan ulang
ketika dipanaskan dengan dengan asam Lewis di dalam adanya sejumlah katalis
halida organik. Penataan ulang terjadi melalui karbokation yang terbentuk dari halida
yang kemudian mengabstraksi ion hidrida dari alkana.

Di dalam sistem asiklik, produk yang diperoleh merupakan campuran yang


kompleks karena energi bebas isomer hidrokarbon asiklik hanya sedikit berbeda.
Akan tetapi di dalam sistem siklik yang tegang, perbedaan energi bebas menjadi
relatif besar akibat terjadinya pembebasan dari ketegangan cincin. Sebagai contoh,
isomerisasi metilsiklopentana menghasilkan siklohekasana; tidak ada etil- atau
dimetilsiklobutana.

(b) Perpindahan halogen, oksigen, belerang, dan nitrogen


Suatu atom X yang memiliki pasangan elektron bebas di dalam sistem X-CC-Y dapat membantu heterolisis ikatan C-Y dengan cara yang sama dengan yang
dilakukan gugus fenil.

114

Di dalam sistem simetris seperti Et-S-CH2CH2Cl tidak terjadi penataan ulang karena
setiap serangan nukleofil kepada masing-masing atom karbon jembatan keduanya
mengarah kepada produk yang sama; akan tetapi di dalam sistem tak-simetris,
serangan tersebut memberikan produk yang berbeda, salah satunya adalah produk
penataan ulang.

Berikut ini adalah contoh-contoh reaksi tersebut.

115

Kation jembatan dapat dibentuk melalui protonasi ikatan tak jenuh seperti di
dalam penataan ulang alkohol -asetilenat (penataan ulang Rupe). Sebagai contoh,

Gugus asetoksi tetangga membantu solvolisis melalui pembentukan ion


asetoksinium beranggota-lima.

Ion siklik kemudian terbuka oleh reaksi dengan nukleofil. Reaksi dengan air terjadi
pada atom karbon asetoksi menghasilkan cis-hidroksiasetat, sedangkan reaksi
dengan ion asetat pada karbon alkil sebagaimana reaksi SN2 menghasilkan transdiasetat.

116

6.3 Penataan Ulang Ke Nitrogen Kekurangan Elektron


(a) Penataan ulang Hofmann, Curtius, Schmidt, dan Lossen
Ada satu kelompok penataan ulang yang sangat dekat hubungannya dengan
perpindahan karbon dari karbon ke nitrogen. Penataan ulang ini secara umum
dinyatakan sebagai berikut,

dengan R adalah gugus alkil atau aril dan X adalah gugus-pergi boleh Br (penataan
ulang Hofmann), N+N (penataan ulang Curtius dan Schmidt), dan OCOR
(penataan Lossen). Di dalam masing-masing reaksi tersebut, jika karbon alkil yang
berpindah adalah asimetris maka terjadi pertahanan konfigurasi.
(i) Penataan ulang. Ketika suatu amida asam karboksilat diolah dengan
natrium hipobromit, atau bromin di dalam alkali maka senyawa N-bromoamida yang
terbentuk dan bereaksi dengan basa menghasilkan basa konjugasi di mana penataan
ulang terjadi menghasilkan isosianat. Akan tetapi reaksi ini secara normal dijalankan
di dalam larutan berair atau beralkohol di mana pada kondisi ini suatu isosianat
terkonversi menjadi amina atau uretan.

117

Penataan ulang memberikan jalur yang efisien untuk pembuatan amina alifatik
dan aromatik primer. Sebagai contoh, -alanin dapat diperoleh dengan rendamen
45% melalui pengolahan suksinat dengan bromin dan larutan kalium hidroksida.
O

O
OHNH

NH2

Br2-KOH

CO2-

NH2
CO2-

Dengan cara yang sama, asam antranilat dapat diperoleh dari ftalamida dengan 85%.

Sebuah contoh yang sangat berguna adalah reaksi pembuatan -aminopiridin


(60-70%) dari nikotinamida yang diperoleh dari alam. Senyawa tersebut tidak dapat
diperoleh dari nitrasi piridin dengan rendamen yang baik.

(ii) Penataan Curtius.

Azida asam

terkomposisi oleh pemanasan

menghasilkan isosianat.

Isosianat tersebut dapat diisolasi dengan cara menjalankan reaksi di dalam media
aprotik seperti kloroform, tapi biasanya reaksi menggunakan pelarut beralkohol; dan
pelarut tersebut bereaksi dengan isosianat membentuk uretan. Hidrolisis uretan
dengan asam yang kemudian mengalami dekarboksilasi menghasilkan amina.

118

Penataan ulang Curtius telah digunakan untuk mensintesis asam -amino.


Sebagai contoh,

(iii) Reaksi Schmidt. Asam karboksilat bereaksi dengan asam hidrazoat di


dalam adanya asam sulfat pekat menghasilkan isosianat. Reaksi terjadi melalui azida
asam; tapi di dalam kondisi asam yang kuat, azida asam tersebut berada sebagai
asam konjugasi di mana nitrogen dilepaskan tanpa pemanasan.

Azida asam dibuat dari klorida asam melalui pengolahan dengan natrium azida,

dan dari ester dibuat dengan cara mengolah dengan hidrazin diikuti dengan asam
nitrit,

119

(iv) Penataan Ulang Lossen. Reaksi ini berbeda dengan penataan ulang
Hofmann hanya di dalam hal gugus-pergi, yaitu: anion karboksilat; sedangkan di
dalam penataan ulang Hofmann adalah anion bromida. Starting material-nya adalah
ester dari asam hidroksamat.
O

O
R

NH
OH

R'COCl

NH
O

OH-

R'

O
R

R'

H2O
N

R'

-RCO2-

N
O

RNH2

CO2

C
O

(b) Penataan Ulang Beckmann


Di dalam kondisi asam, oksim mengalami penataan ulang menghasilkan
amida tersubstitusi.

Penataan ulang Beckmann adalah stereospesifik, gugus trans terhadap


gugus-pergi yang berpindah. Sebagai contoh, asetofenon oksim yang secara
sterokimia diperlihatkan seperti berikut hanya menghasilkan asetanilida.

120

Jika atom karbon gugus yang berpindah adalah asimetris maka gugus tersebut
mempertahankan konfigurasinya.

6.4 Penataan Ulang Ke Oksigen Kekurangan Elektron


Penataan ulang yang paling umum dari jenis ini adalah reaksi Baeyer-Villiger
di mana keton dikonversi menjadi ester, dan keton siklik diubah menjadi lakton melalui
pengolahan dengan asam peroksida. Mekanismenya sangat dekat dengan
mekanisme penataan ulang pinacol, yaitu nukleofil peroksida menyerang gugus
karbonil menghasilkan suatu spesies-antara yang tertata ulang melepaskan anion
asam.
R

O
O
R'

O
R

-H

O
H

-R'CO2O

R'

R
O
O

Di dalam keton asimetris, gugus yang berpindah adalah gugus yang lebih
mampu mensuplai elektron. Seperti halnya di dalam penataan ulang WagnerMeerwien, kemudahan alkil berpindah adalah: tersier > sekunder > primer > metil.
Sebagai contoh, pinacolon meberikan t-butil asetat.

Urutan kemudahan gugus aril berpindah adalah p-metoksifenil > p-tolil > fenil > pklorofenil. Gugus aril lebih mudah berpindah daripada gugus alkil primer, dan jika
gugus aril mengandung substituen pendorong elektron maka akan lebih mudah
berpindah daripada alkil sekunder dan tersier.
Keton siklik menjalani perluasan cincin ketika diolah dengan peroksida.
Sebagai contoh, siloheksanon memberikan kaprolakton.

121

Reaksi Dakin. Benzaldehida yang mengandung gugus orto- dan para-hidroksil


masing-masing terkonversi menjadi katekol dan kuinol.

6.5 Penataan Ulang Ke Karbon Kaya Elektron


Kelompok penataan ulang ini belum dipelajari secara intensif, dan kurang
penting di dalam sintesis daripada penataan ulang ke karbon yang kekurangan
elektron. Contoh yang telah dikenal adalah jenis:

di dalam reaksi ini, gugus R berpindah dari X ke C.


(i) Penataan ulang Steven. Ion amonium yang mengandung atom hidrogen mengalami eliminasi E2 (Hofmann) dengan basa. Sebagai contoh,

Akan tetapi, jika tidak ada gugus alkil yang memiliki hidrogen- namun ada satu gugus
yang memilki karbonil maka satu hidrogen- akan dilepaskan oleh basa
menghasilkan suatu ylide (suatu spesies di dalam mana atom-atom yang
berdampingan memuat muatan formal yang berlawanan). Sebagai contoh,

122

Kemudian terjadi pentaan ulang:

Ph
Ph
Ph

Me

N
Me

Ph
N

Me

Ketidakberadaan

gugus

Me

karbonil-

maka

hidrogen-

cukup

lemah

keasamannya untuk dapat dipengaruhi oleh ion hidroksida. Basa yang kuat seperti
ion amida di dalam amoniak akan efektif membangkitkan karbanion yang dapat
menyebabkan penataan ulang, akan tetapi penataan ulang yang terjadi adalah
pergeseran-[1,2], penataan ulang sigmatropik-[3,2] (penataan ulang Sommelet).

(ii) Penataan ulang Wittig. Benzil dan alil eter mengalami penataan ulang
terkatalis basa yang analog dengan penatan ulang Steven. Karbanion benzilik atau
alilik dihasilkan oleh basa kuat seperti ion amida atau fenillitium, dan kemudian karbon
berpindah mengarah kepada oksianion yang lebih stabil.

(iii)

Penataan ulang Favorskii. Keton--halo bereaksi dengan basa

menghasilkan enolat yang tertata ulang melalui siklopropanon menjadi ester.

123

Arah pembukaan cincin ditentukan oleh karbanion mana yang lebih stabil dari dua
karbanion yang mungkin. Sebagai contoh,
Cl
Ph
O

Ph

Ph
MeO

MeO
- HCl
Cl

OMe

O
Me

Ph
MeOH
CO2Me

O
Ph

CO2Me
Ph

Penataan ulang dapat digunakan untuk memperkecil cincin istem siklik.


Sebagai contoh, 2-klorosikloheksanon dan ion metoksida menghasilkan metil
siklopentanakarboksilat dengan rendamen 60%.

6.6 Penataan Ulang Aromatik


Ada sejumlah tipe penataan ulang yang terjadi di dalam senyawa aromatik.

124

Unsur X yang paling umum adalah nitrogen dan di dalam beberapa kasus adalah
oksigen. Perindahan antarmolekul dan intramolekul juga dikenal di dalam reaksi ini.
(a) Perpindahan antarmolekul dari nitrogen ke karbon
Ada bebarapa turunan anilina yang mengalami penataan ulang pada
pengolahan dengan asam. Di dalam contoh berikut, asam konjugasi amina
megeliminasi spesies elektrofil kemudian beraksi dengan posisi orto dan para aktif
amina.
(i) N-Haloanilida. Sebagai contoh, N-kloroasetanilida dan asam hidroklorida
menghasilkan campuran o- dan p-kloroasetanilida dalam perbandingan yang sama
sebagai hasil klorinasi langsung asetanilida.

(ii)

N-Alkil-N-nitrosoanilina.

Ion nitrosonium dilepaskan dari asam

konjugasi amina dan menitrosasi atom karbon inti.

(iii) N-Arilazoanilina. Kation arildiazonium terbentuk dan diperpasangkan,


terutama pada atom karbon para.

125

(iv) N-Alkilanilina. Mekanisme penataan ulang garam amina sama dengan


mekanisme di atas, meskipun di dalam hal ini perlu pada suhu tinggi (250-300C).

(v)

N-Arilhidroksilamina.

Penataan

ulang

arilhidroksilamina

menjadi

aminofenol secara mekanismtik berbeda dengan penataan ulang sebelumnya. Asam


konjugasi hidroksilamina mengalami serangan nukleofilik oleh pelarut. Sebagai
contoh,

Ketika alkohol digunakan sebagai pelarut maka yang terbentuk adalah senyawa palkoksi.
(b) Perpindahan antarmolekul dari oksigen ke karbon
Reaksi yang umum dari penataan ulang jenis ini adalah Penataan ulang Fries
di mana aril ester diolah dengan asam Lewis menghasilkan orto dan para hidroksi-

126

keton. Kompleks antara ester dengan asam Lewis melepaskan ion asilium yang
mensubstitusi posisi orto dan para sebagaiman di dalam asilasi Friedel-Crafts.

Sebagai contoh, pengolahan fenil propionat dengan aluminium pada 130C


menghasilkan isomer o-propiofenol 35% dan isomer-para 45-50%.
(c) Perpindahan intramolekul dari nitrogen ke karbon
Mekanisme reaksi ini belum diketahui sepenuhnya, meskipun diketahui di
dalam setiap hal yang mana gugus berpindah tidak terlepas dari sistem aromatik
selama penataan ulang.
(i) Fenilnitramina. Senyawa ini tertata ulang pada pemanasan bersama asam
menghasilkan turunan o-nitro sebagai produk utama. Sebagai contoh,

(ii)

Asam fenilsulfamat.

Senyawa ini tertata ulang pada pemanasan

menghasilkan turunan asam o-sulfonat sebagai produk utama. Sebagai contoh,

127

(iii) Hidrazobenzena. Reaksi ini menghasilkan benzidin pada pemanasan di


dalam pengolahan dengan asam. Sebagai contoh,

Ada fakta bahwa senyawa-4,4 terbentuk melalui penataan ulang sigmatrofik[5,5], tapi mekanisme terbentuk senyawa-2,4 belum diketahui.

(d) Perpindahan intramolekul dari oksigen ke karbon


Penataan ulang Claisen aril alil eter menjadi alilfenol adalah reaksi
sigmatrofik-[1,3]. Sebagai contoh,
OH

O
MeO

MeO
panas

128

6.7 Penutup
Untuk menguji prestasi mahasiswa setelah mempelajari Bab ini maka pada
Sub-bab 6.7 bagian (a) berikut ini diberikan contoh-contoh latihan yang berkaitan
dengan tujuan pembelajaran bab ini. Untuk memberikan jawaban yang benar, pada
Sub-bab 6.7 bagian (b) diberikan umpan balik di mana bagian mana mahasiswa harus
memdalami jawaban soal yang bersangkutan.
(a) Soal tes formatif
Tuliskan struktur produk yang diharapkan reaksi berikut, dan tuliskan pula
mekanisme reaksinya:

129

(b) Umpan balik


Setelah mengerjakan soal-soal latihan di atas, namun mahasiswa belum bisa
menjawab dengan benar maka disarankan untuk mengikuti instruksi berikut:
1. Untuk menjawab soal nomor 1 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 6.2, bagian (a), sub-bagian (iv).
2. Untuk menjawab soal nomor 2 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 6.2, bagian (a), sub-bagian (ii).
3. Untuk menjawab soal nomor 3 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 6.2, bagian (a), sub-bagian (i).
4. Untuk menjawab soal nomor 4 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 6.2, bagian (a), sub-bagian (iii).
5. Untuk menjawab soal nomor 5 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 6.2, bagian (b).
6. Untuk menjawab soal nomor 5 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 6.2, bagian (a) sub-bagian (i).

Daftar Pustaka
Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.

130

Senarai Istilah dan Artinya

Istilah

Arti

Anchimeric assistance

Partisipasi gugus tetangga di dalam tahap penentu


kecepatan reaksi.

Penataan ulang
sigmatrofik

Penataan ulang yang mengandung perpindahan


ikatan (sebenarnya adalah elektron ), dan gugus
yang terikat pada ikatan ini berpindah dari satu posisi
di dalam suatu rantai atau cincin ke posisi baru di
dalam rantai atau cincin.

Solvolisis

Suatu substitusi nukleofilik di mana pelarut bertindak


sebagai pereaksi penyerang.

131

BAB 7
OKSIDASI

7.1 Pendahuluan
Ada perbedaan utama tentang teknik oksidasi yang digunakan di dalam
laboratorium dengan proses berskala besar di dalam industri. Di dalam laboratorium,
molekul polifungsi yang rumit kerap kali dilibatkan, memerlukan pereaksi
regiaoselektif dan/atau stereoselektif dan banyak di antara pereaksi-pereaksi tersebut
berharga mahal, dan biasanya menghindari penggunaan suhu tinggi. Di dalam proses
industri, senyawa yang digunakan relatif sederhana dan kerapkali melibatkan kondisi
yang keras, lebih mementingkan biaya yang murah. Udara adalah agen pengoksidasi
alami industri sebagaimana di dalam konversi isopropanol menjadi aseton, propilena
menjadi propenal, dan naftalena menjadi anhidrida fatalat yang masing-masing terjadi
di atas permukaan katalis logam oksida pada suhu tinggi.
Oksidasi secara bakterial juga digunakan secara industri. Sebagai contoh,
acetobacter suboxydans adalah pereaksi terbaik untuk oksidasi spesifik karbon-C2 Dglusitol di dalam produksi vitamin C (asam L-askorbat) dari glukosa.

132

Metode bakterial dan enzimatik dengan cepat terbukti menjadi alat yang kuat untuk
oksidasi selektif di dalam laboratorium.
Bab ini disusun menurut jenis sistem yang akan teroksidasi sehingga kapan
saja diperlukan suatu metode tertentu maka dapat dengan mudah didapatkan, sifatsifat agen pengoksidasi tidak dikumpulkan bersama-sama.
7.2 Hidrokarbon
(a) Ikatan rangkap alkena
(i)

Epoksidasi. Alkena bereaksi dengan peroksida asam menghasilkan

epoksisa. Reaksi ini biasanya dinyatakan sebagai berikut,

Akan tetapi pernyataan tersebut tidak mencerminkan fakta bahwa gugus pengusirelektron di dalam alkena akan meningkatkan reaktivitasnya (sebagai contoh:
RCH=CHR ~ R2C=CH2 > RCH=CH2 > CH2=CH2), seperti juga halnya gugus penarik
elektron terhadap peroksiasam.
Karakteristik reaksi ini adalah:

Reaksi ini adalah regioselektif terhadap ikatan rangkap yang lebih kaya
elektron bilamana terdapat lebih daripada satu ikatan rangkap. Sebagai
contoh,

133

Sebagaimana diharapkan dari mekanisme di atas, reaksi ini adalah


stereospesifik. Sebagai contoh, cis-2-butena hanya menghasilkan produk cis.

Alkena siklik diserang terutama dari sisi yang kurang terlindungi. Sebagai
contoh,

Peroksida dapat dibuat secara in situ dari asam induk dengan hidrogen
peroksida. Akan tetapi, umumnya lebih disukai menggunakan bahan yang sudah
tersedia secara komersial. Kebanyakan peroksida yang digunakan dan memberikan
rendamen yang baik adalah asam m-kloroperoksibenzoat, tapi atas pertimbangan
keamanan maka penggunaan senyawa tersebut digantikan oleh garam magnesium
asam monoperoksiftalat.
Senyawa karbonil ,-tak-jenuh. Senyawa-senyawa karbonil ,-tak-jenuh
dapat diepoksidasi dengan larutan basa hidrogen peroksida. Adisi nukleofilik HO2- ke
dalam gugus C=C difasilitasi oleh gugus C=O.

Epoksidasi enantioselektif: Reaksi Shapless. Alkohol alilik memberikan satu


enantiomer sebagai hasil utama bila diepoksidasi dengan t-butilhidroperoksida di
dalam adanya Ti(OCHMe2)4 dan senyawa dihidroksi kiral seperti (2R,3R)-dietil tatrat.
Sebagai contoh,

134

Reaksi epoksida. Nilai epoksida terletak pada bervariasinya jalan sintesis


yang tersedia untuk membuka cincinnya yang tegang.
(1) Reduksi (litium aluminium hidrida) menghasilkan alkohol.

(2) Pengolahan dengan asam Lewis menghasilkan senyawa karbonil.

(3) Pengolahan dengan dimetil sulfoksida menghasilkan -keto.

(4) Hidrolisis menghasilkan 1,2-diol. Hidrolisis dapat menggunakan kondisi asam


atau basa.

135

Nukleofil lemah lain seperti alkohol dan ion bromida juga efektif apabila
reaktivitas epoksida ditingkatkan melalui protonasi.

(ii)

Pembentukan diol. Ada tiga metode yang dapat digunakan untuk

mengkonversi langsung alkena menjadi diol.


1. Osmiun tetraoksida. Adisi alkena ke osmium tetraoksida di dalam eter
menyebabkan pengendapan ester siklik osmat. Pridina yang mana dapat membentuk
kompleks dengan atom osmium di dalam ester sering ditambahkan sebagai katalis.
Kemudian ester dihidrolisis (umumnya menggunakan natrium sulfit berair)
menghasilkan cis-1,2-diol.

Seperti halnya dengan sifatnya sebagai stereospesifik-syn, karakteristik lain yang


dimiliki pereaksi ini sama dengan yang diperlihatkan oleh epoksida, yaitu (1) bilamana
terdapat lebih daripada satu ikatan rangkap, pereaksi ini kebanyakan bereaksi
dengan ikatan rangkap yang lebih kaya elektron sehingga dapat digunakan secara
regioselektif; dan (2) menyerang sistem siklik dari arah yang kurang terlindungi.
2.

Kalium permanganat bereaksi dengan alkena dengan cara yang mirip

dengan osmium tetraoksida.

Normalnya, pereaksi ini digunakan di dalam larutan berair di mana senyawa organik
tidak larut atau terdispersi, sehingga kadang menggunakan pelarut tambahan
(biasanya t-butanol atau asam asetat).

136

3. Iodin-perak asetat (basah). Metode ini juga menghasilkan cis-diol. Alkena


diolah dengan iodin di dalam larutan asam asetat dengan adanya perak asetat.

(iii) Pemutusan ikatan rangkap dua


1.

Ozonolisis. Ozon sebagai sebuah elektrofil bereaksi dengan alkena

membentuk ozonida primer yang mana tertata ulang melalui spesies-antara zwitterion
menjadi ozonida yang dapat diisolasi.

Solvolisis langsung terhadap ozonida menghasilkan keton dan/atau asam, tergantung


pada struktur alkenanya. Sebagai contoh,

137

Alkuna juga teroksidasi oleh ozon tetapi umumnya kecepatan reaksinya hanya
seperseribu kali daripada kecepatan reaksi ozonolisis alkena. Reaksi dengan alkuna
menghasilkan asam karboksilat bersama sejumlah kecil senyawa -dikarbonil.
O
O3
R

R'
R

R'

H2O

R'

O
+

OH

HO

R'

2. Pereaksi Lemieux. Pereaksi ini terdiri atas larutan berair encer natrium
periodat dengan sejumlah katalis kalium permanganat dan oksium tetraoksida. Pada
awalnya alkena dioksidasi menjadi cis-diol yang kemudian diuraikan oleh periodat
menghasilkan aldehida dan/atau keton. Selanjutnya, pereaksi permanganat
mengoksidasi produk aldehid menjadi asam karboksilat. Reaksi ini cepat pada suhu
kamar dan selektif terhadap alkena. Sebagai contoh,

3.

Kromium(VI) oksida. Pemutusan ikatan C=C dengan krom oksida

berkompetisi dengan oksidasi ikatan CH alilik. Sebagai contoh, sikloheksena


menghasilkan campuran 3-sikloheksanon dengan asam adipat.

Penggunaan media sedikit berair lebih menyukai proses pemutusan ikatan,


sedangkan media ahidrus seperti asam asetat glasial lebih menyukai oksidasi alilik.

138

(b) Cincin aromatik


Oksidasi cincin aromatik tak-tersubstitusi yang mengakibatkan hilangnya energi
kestabilan memerlukan kondisi yang keras. Reaksi dapat menghasilkan pemecahan
cincin atau pembentukan kuinon. Penggunaan ozon di dalam hal ini menyebabkan
pemecahan cincin. Sebagai contoh,

Suatu metode industri yang jauh lebih murah daripada ozonolisis adalah
menggunakan oksidasi udara di atas permukaan katalis vanadium pentoksida pada
suhu 400-500C. Sebagai contoh,

Reaksi seperti di atas dapat pula menggunakan kromiun(VI) oksida. Sebagai


contoh, kuinolin dioksidasi oleh kromiun(VI) oksida menjadi asam piridin-2,3-

139

dikarboksilat yang mana produk ini akan melepaskan substituen-2-karboksi pada


pemanasan, dan reaksi ini memberikan jalan yang mudah menuju asam nikotinat.

Kromium(VI) oksida juga dapat mengarah kepada produk tanpa pembukaan


cincin. Sebagai contoh, reaksi kromium(VI) oksida dengan naftalena di dalam larutan
asam asetat pada suhu kamar menghasilkan 1,4-naftokuinon dengan rendamen
sebesar 20%.

Cincin aromatik fenol sangat rentan terhadap oksidasi oleh oksidan satuelektron. Lepasnya atom hidrogen menghasilkan delokalisasi radikal ariloksi.

Nasib radikal tersebut tergantung pada struktur fenol. Difenol dapat terbentuk
dari radikal tersebut, seperti di dalam oksidasi 2-naftol dengan ion besi(III).

140

Reaksi oksidasi dengan Fe3+ berikutnya dapat menghasilkan kuionon. Sebagai


contoh,

Amina aromatik juga sensitif terhadap oksidasi dan menjadi berwarna gelap di
dalam udara. Analina teroksidasi oleh dikromat menjadi p-benzokuinon dengan
rendamen 60%.

Secara industri, anilina dioksidasi menjadi benzokuinon dengan menggunakan


mangan oksida dan asam sulfat.
Fenol orto- dan para-dihidrat mudah teroksidasi menjadi kuinon oleh oksidan
satu-elektron. Reaksi terjadi melalui delokalisasi radikal semikuinon. Sebagai contoh,

o-Benzokuinon dapat dibuat dengan cara oksidasi katekol menggunakan perak


oksida yang disuspensikan di dalam eter, dan ditambahi nantrium sulfat sebagai agen

141

pendehidrasi karena kuinon sangat cepat diserang oleh air (adisi ke dalam sistem
karbonil ,-tak jenuh).

Aminofenol yang serupa bereaksi dengan cara yang sama.

(c) Gugus CH jenuh


(i) Sistem alilik dan benzilik. Kestabilan sebanding antara radikal alil dan benzil.
Sebagai contoh,

Sistem alilik dan benzilik rentan terhadap oksidasi melalui reaksi radikal bebas.
Oksidasi menjadi alkohol. Toluena dapat dioksidasi menjadi benzil alkohol
dengan belerang klorida di dalam adanya inisiator radikal seperti peroksida diikuti
dengan hidrolisis benzil klorida.

Metode yang diterapkan secara luas untuk sistem alil adalah menggunakan
selenium oksida.

142

Pelibatan t-butil hidroperoksida untuk reoksidasi Se(OH)2, selenium dioksida dapat


digunakan dalam jumlah katalitik.
Oksidasi menjadi aldehida. Salah satu contoh yang penting secara komersial
adalah oksidasi propilena menjadi propenal (CH2=CHCHO) di atas tembaga(II)
oksida pada suhu 300-400C. Suatu metode hasil pengembangan melibatkan
oksidasi udara terhadap propilena di dalam adanya amoniak di atas katalis (contoh,
bismut molibdat) menghasilkan propenal sebagai produk awal dan bereaksi lebih
lanjut.

Proses ini telah mengganti metode pembuatan akrilonitril dari asetilen dengan
hidrogen sianida.
Ada tiga metode yang tersedia untuk oksidasi selektif ArCH3 menjadi ArCHO.
(1) Dengan kromil klorida (reaksi Etard). Larutan kromil klorida di dalam karbon
disulfida ditambahkan secara secara hati-hati ke senyawa benzilik pada suhu 2545C, dan kompleks warna coklat yang terpisah didekomposisi dengan air
menghasilkan aldehida dan asam kromat(VI). Sebagai contoh,

CHO

Me
1) CrO2Cl2 / CS2
2) H2O

Me

Me
75%

Aldehida tersebut harus dipisahkan dengan cepat dengan cara distilasi atau ekstraksi
untuk mencegah oksidasi lebih lanjut.
(2) Dengan kromium(VI) oksida di dalam anhidrida asetat. Oksidasi dilakukan
dengan kromium(VI) oksida di dalam campuran anhidrida asetat, asam asetat, dan
asam sulfat pada suhu rendah. Sesaat terbentuk, aldehida dikonversi menjadi 1,1diasetat-nya yang stabil terhadap oksidasi. Senyawa ini diisolasi dan dikonversi lagi
menjadi aldehida melalui hidrolisis asam. Sebagai contoh,

143

(3) Dengan p-nitrosodimetilanilin. Senyawa benzilik diolah dengan p-nitrosodimetilanilin, dan imina yang dihasilkan selanjutnya dihidrolisis. Metode ini hanya
diterapkan untuk senyawa-senyawa yang gugus metilnya teraktivasi dengan kuat.
Sebagai contoh, 2,4-dinitrotoluena.

Oksidasi menjadi asam karboksilat. Gugus metil pada cincin aromatik dapat
dioksidasi dengan kromiun(VI) oksida, permanaganat, atau asam nitrat. Sebagai
contoh, permanganat encer mengoksidasi o-klorotoluena menjadi asam oklorobenzoat dengan rendamen 65%.

Asam nitrat pekat mengoksidasi o-ksilena menjadi asam o-toluat dengan rendamen
54%.

Substituen pada gugus metil juga dipindahkan pada kondisi ini. Sebagai contoh,
nikotin dioksidasi oleh asam nitrat pekat pada suhu 70C menjadi asam nikotinat.

144

(ii) Sistem CH2CO. Gugus metilen yang berdampingan dengan karbonil


dapat dioksidasi menjadi karbonil melalui dua cara.
1. Melalui oksim. Gugus metilen diaktivasi oleh gugus karbonil terhadap reaksi
dengan nitrit organik di dalam adanya asam atau basa. Senyawa nitroso yang
dihasilkan bertautomerisasi menjadi oksim yang dapat dihidrolisi menjadi senyawa dikarbonil.

2. Dengan selenium dioksida (reaksi Riley). Reaksi ini terjadi dengan cara
seperti berikut ini.

145

Sebagai, kamfor bereaksi di dalam anhidrida asetat yang refluks menghasilkan


kamforkuinon dengan rendamen 95%,

dan aseton fenon bereaksi di dalam dioksan menghasilkan fenilglioksal dengan


rendamen sekitar 70%.

(iii) Sistem CH2CH2CO dan sistem lain yang terkait. Dehidrogenasi


menghasilkan senyawa karbonil ,-tak-jenuh dapat dilakukan dengan menggunakan
brominasi terkatalis-asam diikuti dengan dehidrobrominasi terkatalis-basa.

(iv) CH tidak teraktifkan. Oksidasi selektif gugus CH tak teraktifkan di


dalam suatu molekul yang memiliki pusat alternatif untuk diserang dilakukan dengan
menggunakan pereaksi di mana CH bereaksi melalui mekanisme radikal yang relatif
tidak spesifik. Akan tetapi, selektivitas diperoleh di dalam dua keadaan. Pertama,
Pada radikal bebas yang kurang reaktif, seperti atom bromin maka diskriminasi
menjadi lebih tajam, reaksi lebih menyukai terjadi pada CH tersier daripada primer
dan sekunder. Oksidasi CH menjadi COH kadang kala dapat dicapai secara
langsung dengan menggunakan permanganat alkalin, dan reaksi terjadi dengan
mempertahankan konfigurasi.

146

Kedua, abstraksi radikal bebas intramolekul; reaksi secara spesifik terjadi


melalui keadaan transisi beranggota-enam sehingga memungkinkan oksidasi selektif
pada ikatan CH-.

N
O

OH

NO

NO

OH

O
N

(v)

R
OH

OH

H3O+

OH

Aromatisasi. Senyawa alilik yang merupakan produk reduksi sistem

aromatik dapat didehidrogenasi aromatik melalui tiga cara.


1. Menggunakan belerang atau selenium. Reaksi terjadi dengan belerang pada
200C dan dengan selenium pada sekitar 250C. Hidrogen dilepaskan sebagai
hidrogen sulfida atau hidrogen selenida. Penataan ulang kerangka dapat
terjadi dan atom karbon dapat pula dipindahkan; khususnya metil pada sudut
yang terdegredasi.

147

2. Secara katalitik. Cincin alisiklik yang mengandung beberapa karbon tak-jenuh


dapat dihidrogenasi di atas permukaan katalis di mana hidrogenenasi berhasil
dilakukan. Katalis yang umum digunakan adalah paladium di atas arang atau
asbes. Kondisi yang terapkan untuk reaksi ini jauh lebih lunak daripada
penggunaan selenium, dan prosedur diterapkan secara luas. Sebagai contoh,

3. Menggunakan kuinon. Cincin alisklik tak jenuh parsial teroksidasi oleh kuinon
melalui pemindahan ion hidrida.

7.3 Sistem yang Mengandung Oksigen


(a) Alkohol primer
(i)

Menjadi aldehida.

Oksidasi alkohol primer menjadi aldehida

menghadirkan kesulitan-kesulitan. Pertama, aldehida mudah terosidasi menjadi


asam oleh banyak jenis pereaksi; dan kedua, di bawah kondisi asam, aldehida
bereaksi dengan alkohol tak-bermuatan menghasilkan campuran kesetimbangan
hemiastal yang mudah teroksidasi menjadi ester.

Secara mekanistik, satu prinsip umum yang digunakan adalah untuk sistem yang
mengikat gugus elektrofil kuat (X) pada oksigen alkohol, maka H+ dan X- dapat
tereliminasi.

148

Pendekatan kedua adalah menggunakan oksidan penerima hidrida.

1. Kromium(vi) oksida. Untuk aldehida bertitik didih rendah, prosedur oksidasi


yang paling sederhana adalah menambahi larutan berasam kalium dikromat
ke dalam alkohol secara pelan-pelan. Sebagai contoh,

Reaksi terjadi melalui ester kromat dengan keadaan-transisi siklik.

Rendamen aldehida dapat ditingkatkan dengan menggunakan


kompleks CrO3 2C5H5N yang terbentuk melalui kromium(VI) oksida dengan
piridina. Penambahan kromium(VI) oksida ke piridina dikikuti dengan alkohol,
atau lebih baik lagi mengisolasi kompleks diikuti dengan oksidasi di dalam
diklorometana. Sebagai contoh,

Metode ini sangat berguna untuk senyawa yang mengandung gugus yang
sensitif terhadap asam atau gugus yang mudah teroksidasi (contoh, ikatan
C=C).
2. Klorin. Klorin mengoksidasi dengan cara menerima ion hidrida dari alkohol.

149

Hidrogen klorida yang terbentuk dapat mengkatalis klorinasi ikatan CH yang


berdampingan dengan karbonil, jadi metode ini tidak cocok untuk
pembentukan aldehida sederhana. Akan tetapi, ada sejumlah senyawa
penting yang telah dibuat melalui oksidasi etanol dengan klorin.

3. Dimetil sulfoksida. Ada dua metode penggunaan dimetil sulfoksida. Sulfoksida


diolah dengan suatu elektrofil untuk membentuk spesies yang aktif terhadap
adisi alkohol ke atom belerang dan yang juga memiliki gugus pergi yang baik,
atau alkohol yang teraktifkan melalui konversi menjadi tosilatnya yang siap
bereaksi dengan sulfoksida. Di dalam masing-masing metode, ion
alkoksisulnium

terbentuk

dan

mengalami

eliminasi

terkatalis-basa

menghasilkan senyawa karbonil.


Metode pertama dapat digambarkan melalui reaksi dengan klorida asam.

Di dalam metode kedua (metode Kornblums), tosilat diolah dengan dimetil


sulfoksida di dalam adanya natrium hidrogen karbonat pada suhu 150C
selama beberapa menit.

150

Senyawa benzilik yang lebih reaktif daripada turunan alkilnya terhadap


nukleofil bereaksi pada suhu yang lebih rendah (100C). -Bromo-keton
menjalani oksidasi langsung, meskipun ion bromida adalah gugus pergi yang
tidak sebaik dengan toluena-p-sulfonat. Sebagai contoh,

4. Dehidrogenasi katalitik. Dehidrogenasi pada permukaan tembaga atau


tembaga klorida terjadi pada suhu sekitar 300C. Secara industri, perak
digunakan

sebagai

katalis

untuk

memproduksi

folmaldehida

dan

asetaldehida.

Di dalam adanya oksigen, terjadi oksidasi jenis kedua.

(ii)

Menjadi asam karboksilat. Alkohol primer dapat dioksidasi secara

langsung dengan menggunakan pereaksi seperti asam kromat(VI), asam nitrat, dan
kalium permanganat; tapi di dalam masing-masing reaksi ini terjadi reaksi samping
dan biasanya mempunyai rendamen yang tidak tinggi. Sebagai contoh, asam
kromat(VI) mendegradasi asam karboksilat menjadi molekul-molekul kecil, terutama
menghasilkan asam asetat (dari gugus C-metil) dan karbon dioksida.
Metode selektif juga tersedia, seperti metode yang menggunakan oksigen pada
permukaan katalis platinium. Sebagai contoh, pentaeritol di dalam kondisi terkontrol
(buffer natrium hidrogen karbonat, 35C) menghasilkan asam trihidroksimetilasetat
dengan rendamen 50%.

151

(b) Alkohol sekunder


Oleh karena keton hanya teroksidasi pada kondisi yang keras (dengan
memutuskan CC), oksidasi alkohol sekunder menjadi keton tidak mendatangkan
kesulitan seperti yang terjadi pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida. Ada tiga
metode yang digunakan secara luas.
(1) Krom oksida. Oksidasi alkohol berskala besar dengan kondisi keras dapat
dilangsungkan dengan menggunakan pereaksi yang tidak mahal seperti
natrium dikromat di dalam larutan berair asam asetat panas. Akan tetapi,
kondisi yang lebih lunak yaitu pada suhu kamar atau dibawahnya kerapkali
diperlukan, yaitu menggunakan piridium klorokromat di dalam diklorometana
atau kromium trioksida di dalam larutan asam sulfat dan aseton berair.
Penambahan dihentikan ketika warna kuning campuran telah permanen
yang menunjukkan Cr(VI) telah berlebih. Melalui cara ini, over oksidasi dapat
dicegah dan diperoleh rendamen di atas 90%.
Teknik alternatif juga telah tersedia. Sebagai contoh, kekuatan oksidan
meningkat melalui penggunaan asam asetat sebagai pelarut, dan kondisi
yang lebih lembut lagi dapat diperoleh dengan menggunakan kromium(VI)
oksida di dalam piridin.
(2) Metode Oppernauer. Alkohol sekunder dan keton berkesetimbangan dengan
keton dan alkohol sekunder yang sesuai oleh pemanasan di dalam adanya
aluminium

t-butoksida. Penambahan aseton berlebih menyebabkan

kesetimbangan dipaksa berjalan ke kanan.

Metode ini spesifik untuk alkohol. Sebagai contoh, senyawa yang


mengandung ikatan C=C atau gugus fenolik.
152

Salah kerugian metode ini adalah bahwa senyawa aluminium adalah basa
dan dapat menyebabkan terjadinya pergeseran proton di dalam produk.
Sebagai contoh, oksidasi kolesterol disertai dengan perpindahan ikatan
rangkap C=C menghasilkan keton ,-tak-jenuh.

(3) Dehidrogenasi katalitik. Seperti halnya alkohol primer, alkohol sekunder


terdehidrogenasi ketika dilewatkan pada katalis tertentu yang panas.
Sebagai contoh, aseton diperoleh secara industri melalui dehidrogenasi
isopropanol di atas tembaga atau seng oksida pada 300C.
(c) Alkohol alilik
Alkohol alilik teroksidasi menjadi senyawa karbonil ,-tak-jenuh pada
permukaan suspensi mangan dioksida di dalam pelarut inert seperti diklorometana.

Metode ini cocok juga untuk alkohol benzilik tetapi tidak untuk alkohol primer dan
sekunder.
Kuinon yang sangat berpotensi untuk digunakan mengoksidasi alkohol alilik,
benzilik, dan propargilik (CCCH(OH)). Reaksi terjadi melalui karbokation yang
relatif stabil dan terbentuk melalui pelepasan ion hidrida.

153

Cl
R

Cl
R

H
O
R'

R'

R'

O
OH

OH

OH
Cl

Cl
Cl

R'

-H

Cl

R'
HO

+
OH

OH

O
Cl

Cl

(d) Alkohol benzilik


Ada beberapa proses spesifik yang telah dikembangkan.
(1) Nitrogen dioksida (metode Fields). Benzil alkohol primer dan sekunder
bereaksi dengan dinitrogen peroksida di dalam kloroform pada 0C. Sebagai
contoh,

Reaksi terjadi melalui radikal dinitrogen dioksida dengan pembentukan dan


dekomposisi senyawa hidroksinitro.

(2) Heksametilentetraamina (Reaksi Sommelet). Senyawa halida dari benzil


alkohol diolah dengan heksametilentetramina, dan garam yang dihasilkan
dihidrolisis

dengan

asam

asetat

berair

di

dalam

masih

adanya

heksametilentetramina sehingga menghasilkan aldehida.

154

Substituen penarik elektron menurunkan rendamen reaksi ini dan substituen


orto menghalangi reaksi. Sebagai contoh, baik 2,4-dinitro- maupun 2,6dimetilbenzaldehida tidak dapat dibuat melalui reaksi ini.
Reaksi ini melibatkan transfer ion hidrida. Pada penggunaan asam,
garam benzil kuaterner dihidrolisis menjadi benzilamina, amoniak, dan
formaldehida. Benzilamina mentransfer ion hidrida ke metilenimina (dari
formaldehida dan amoniak) menghasilkan imina yang dihidrolisi menjadi
aldehida aromatik.

(3) Reaksi Krhnke. Benzil halida dikonversi menjadi garam piridium-nya dan
kemudian dengan p-nitrosodimetilanilina dikonversi menjadi nitroso. Hidrolisis
asam menghasilkan aldehida aromatik.

155

(e) 1,2-Diol
Senyawa 1,2-diol dipecah oleh timbal tetraasetat, feniliodoso asetat, dan asam
periodat atau natrium metaperiodat. Sebagai contoh, dibutil tartrat dan timbal
tetraasetat menghasilkan butil glioksilat dengan rendamen lebih daripada 80%;
OH
CO2Bu

Pb(OAc)4

BuO2C

BuO2C

OH

serta 2,3-butandiol dan natrium periodat menghasilkan asetaldehida.

Normalnya, reaksi ini terjadi melalui oksidasi dua-elektron (Pb(IV) menjadi P(II) dan
I(VII) menjadi I(V) di dalam spesies-antara siklik.

Timbal tetrasetat juga memberikan dampak bisdekarboksilasi terhadap asam


suksinat.

156

(f) Aldehida
Aldehida dapat dioksidasi menjadi asam menggunakan pereaksi yang keras
seperti asam kromat(VI) dan permanganat.

Akan tetapi, kebanyakan kasus memerlukan kondisi yang lunak. Ada tiga metode
yang tersedia untuk oksida dengan kondisi lunak.
(1) Pereaksi Jones. Reaksi ini cepat terjadi pada suhu kamar. Reaksi diperkirakan
terjadi melalui 1,1-diol.
HO
RCHO

HO

CrO3

H2O

Cr
R

OH

R
RCO2H

OH

CrO(OH)2

(2) Oksidasi Baeyer Villiger. Di dalam spesies-antara yang terbentuk dengan


peroksida, hidrogen berpindah sebagaimana halnya gugus alkil dan aril.

Kondisi ini kurang kuat keasamannya daripada pereaksi Jones.


(3) Perak oksida. Jika kondisi asam harus dihindari maka perak oksida dapat
digunakan. Sebagai contoh,

157

(g) Keton
Ikatan CCO di dalam keton dapat dioksidasi melalui tida cara.
(1) Menggunakan asam nitrat atau larutan basa kalium permanganat. Kondisi
yang kuat ini menghasilkan asam karboksilat. Reaksi terjadi melalui enol
(larutan asam) atau enolat (larutan basa). Sebagai contoh,

Serangan dapat terjadi pada kedua sisi gugus karbonil (kecuali keton siklik)
sehingga dapat diperoleh produk yang berupa campuran. Dengan keton siklik,
rendamen yang diperoleh cukup baik. Sebagai contoh, sikloheksanol
dioksidasi

dengan

asam

nitrat

50%

panas

melalui

sikloheksanon

menghasilkan asam adipat dengan rendamen 60%.

(2) Mengunakan halogen di dalam alkali. Metil keton dioksidasi dengan klorin,
bromin, atau iodin di dalam larutan alkali menghasilkan asam dan
haloform yang sesuai. Reaksi terjadi oleh halogenasi terkatalis-basa
diikuti dengan eliminasi basa-konjugasi haloform.

158

Metode ini disediakan terutama untuk sintesis asam aromatik. Sebagai


contoh, asetilasi naftalena di dalam larutan nitrobenzene menghasilkan
-asetilnaftalena yang mana dari senyawa tersebut akan diperoleh asam
-naftoat dengan rendamen reaksi sebesar 97% ketika diolah dengan
klorin di dalam larutan natrium hidroksida pada suhu 55C.

(3)

Menggunakan peroksida. Keton mengalami penataan ulang oksidatif


dengan peroksiasam menghasilkan ester atau lakton.
O

O
R

(h) -Ketol
Sistem ini sangat mudah terosidasi menjadi senyawa -dikarbonil. Oksidan
satu-elektron di dalam larutan basa cukup efektif. Bagi enediolat yang terbentuk oleh
basa dapat mendonorkan satu elektron kepada oksidan menghasilkan suatu radikal
yang terdelokalisasi. Pelepasan elektron menyempurnakan reaksi oksidasi.

159

Sebagai contoh, tembaga sulfat di dalam piridina pada suhu 95C mengoksidasi
benzoin menjadi bezil dengan rendamen sebesar 86%.

(i) Asam: dekarboksilasi oksidatif


Asam karboksilat mengalami dekarboksilasi oksidatif ketika dipanaskan dengan
timbal tetraasetat di adalam adanya sejumlah katalis garam tembaga(II).

Reaksi diperkirakan terjadi melalui homolisis timbal karboksilat diikuti dengan


oksidasi radikal yang dihasilkan dengan tembaga(II). Sebagai contoh,

Ion Tembaga(I) kemudian dioksidasi dengan timbal(IV) menjadi tembaga(II).

7.4 Sistem yang Mengandung Nitrogen


(a) Amina primer
Amina aromatik mengalami autooksidasi pada permukaan memberikan
campuran produk yang kompleks. Sejumlah produk yang dimunculkan oleh oksidasi

160

amina aromatik menjadi senyawa nitroso dan nitro dikuti dengan kondensasi, sebagai
contoh, ArNH2 ArNO; ArNH2

ArNO ArN=NAr. Pengulangan reaksi

menghasilkan amina hitam.


Metode yang berguna secara sintetik adalah yang mempunyai selektivitas yang
tinggi. Pereaksi yang paling behasil untuk keperluan itu adalah hidrogen peroksida
dan peroksiasam.
(1) Hidrogen peroksida mengkonversi amina alifatik menjadi aloksim. Sebagai
contoh,

Melalui substitusi nukleofilik oleh amina pada peroksida:

NH2

N
OH

OH
R

OH
R

-H2O
N
H

H2O2
-H2O

-H2O

OH
R

Oksida senyawa aromatik menjadi senyawa nitroso umumnya dijalankan


dengan menggunakan asam peroksidisulfurat (HO3SOOSO3H. sebagai
contoh,

Senyawa nitroso aromatik dapat juga dibuat dari hidroksilamina dengan cara
mengoksidasi dengan dikromat pada suhu rendah. Sebagai contoh,

(2) Asam trifluoroperoksiasetat. Oksidan ini lebih kuat daripada hidrogen


peroksida, mengkonversi secara langsung amina primer menjadi senyawa

161

nitro. Umumnya amina aromatik memberikan rendamen yang tinggi. Sebagai


contoh, o-nitroanilina dioksidasi di dalam diklorometana refluks menjadi odinitrobenzena dengan rendamen sebesar 92%.

Akan tetapi dengan amina alifatik, asam trifluoroperoksiasetat memberikan


rendamen rendah. Oksidan lain yang telah digunakan dan cukup berhasil
adalah asam peroksiasetat. Sebagai contoh, 1-heksilamina dioksidasi dengan
asam peroksiasetat menjadi senyawa nitro dengan rendamen 33%.
(b) Amina sekunder
Oksidasi dengan hidrogen peroksida menghasilkan hidroksilamina.

(c) Amina tersier


Hidrogen peroksida mengkonversi amina tersier menjadi hidrat N-oksida-nya.
N-oksida diperoleh melalui penangasan hidrat tersebut di dalam vakum.

(d) Hidrazin
Hidrazin monosubstitusi bereaksi dengan oksidan satu-elektron seperti ion
tembaga(II) dan besi(III) menghasilkan senyawa azo yang tidak stabil sehingga
terdekomposisi dengan cara melepaskan nitrogen dan menghasilkan hidrokarbon.
2+
2

Arilhidrazin

dioksidasi

oleh

oksidan

dua-elektron

klorin

dan

bromin

menghasilkan garam diazonium. Sebagai contoh,

162

Hidrazin N,N-disubstitusi menghasilkan senyawa azo. Sebagai contoh,


azobisisobutironitril dapat diperoleh dari aseton, hidrazin, dan sianida diikuti dengan
oksidasi. Sebagai contoh, oksidasi dengan raksa(II) oksida.

Senyawa-azo dapat dioksidasi lebih lanjut menjadi senyawa azoksi di dalam


kondisi yang lebih keras. Sebagai contoh,

(e) Hidrazon
Hidrazon dioksidasi oleh raksa(II) oksida menjadi diazoalkana. Reaksi ini
mengandung substituen aril dan memberikan produk yang cukup stabil untuk dapat
diisolasi. Sebagai contoh, benzofenon hirdazon menghasilkan difenildiazometana
dengan rendamen yang baik.

Diazoalkana yang hanya mengandung gugus tak-jenuh mudah terdekomposisi


menjadi nitrogen dan produk turunan dari karben (R2CN2 R2C: + N2). Reaksi ini

163

digunakan sebagai prosedur sintesis alkuna. Bishidrazon dari -diketon dioksidasi


dengan raksa(II) oksida menjadi senyawa bisdiazo tak-stabil yang mana kemudian
terdekomposisi menjadi alkuna.
Monohidrazon dari -diketon di dalam kondisi ini menghasilkan keten. Sebagai
contoh, pengolahan benzil monohidrazon dengan raksa(II) oksida menghasilkan
senyawa diazo yang mengalami penataan ulang dan melepaskan nitrogen pada
distilasi menghasilkan difenilketen.

7.5 Sistem yang Mengandung Belerang


(a) Tiol
Senyawa tiol teroksidasi pada belerang jauh sangat mudah dibanding dengan
oksidasi pada karbon senyawa yang mengandung hidroksil. Hal ini disebabkan oleh
rendahnya energi ikat S-H dibanding dengan O-H.
(i) Oksidasi menjadi disulfida. Berbagai oksidan yang relatif lemah seperti
hidrogen peroksida, ion (besi(III), dan iodin mengoksidasi tiol menjadi disulfida.

(ii)

Oksidasi menjadi sulfonil klorida. Tiol dioksidasi oleh klorin melalui

disulfida menjadi sulfenil klorida.

Dari sulfenil klorida dapat diturunkan asam sulfenat. Sebagai contoh,

164

(iii)

Oksidasi asam sulfonat. Pereaksi keras seperti asam nitrat dan

permanganat menghasilkan asam sulfonat, kemungkinan melalui asam sulfenat dan


asam sulfinat yang mana mudah teroksidasi menjadi senyawa yang dapat diisolasi.

Asam sulfonat juga terbentuk oleh pengolahan timbal tiolat dengan asam nitrat.

(b) Sulfida
Sulfida dapat dioksidasi menjadi sulfoksida dan sulfon. Sulfoksida diperoleh
reaksi sulfida dengan dinitrogen tetroksida cair di dalam etanol yang didinginkan
dengan karbondioksida padat. Oksidasi lebih lanjut tidak terjadi, dan produknya
adalah anhidrus.

Oksidasi ini dapat juga dijalankan dengan menggunakan natrium metaperiodat sedikit
berlebih pada 0C dan dengan hidrogen peroksida namun metode ini menyebabkan
oksidasi lebih lanjut menghasilkan sulfon.
Kesensitifan yang sangat pada sulfida memerlukan pengolahan yang baik.
Sebagai contoh, hanya pereaksi mangan dioksida yang mengoksidasi dialil sulfida
menjadi dialil sulfoksida dengan rendamen memadai.
Secara normal sulfon diperoleh dari sulfida dengan cara oksidasi dengan
hidrogen peroksida di dalam air atau larutan asam asetat.

165

7.6 Sistem yang Mengandung Fosfor


Karakteristik kimia fosfor dibanding dengan nitrogen adalah forfor trivalen
mudah teroksidasi menjadi berbilangan oksidasi lima, dan PO lebih stabil daripada
NO. Oksidasi pada fosfor terjadi pada kondisi yang lembut. Sebagai contoh,

7.7 Sistem yang Mengandung Iodin


Atom iodin di dalam aril iodida dapat dioksidasi menjadi berbilangan oksidasi
tiga dan lima. Sebagai contoh, iodobenzena bereaksi dengan klorin di dalam
kloroform kering menghasilkan dikloroiodobenzena dengan rendamen 90%.
Dikloroiodobenzena tersebut dapat dihidrolisis menjadi iodosilbenzena dengan
rendamen 60% dan iodilbenzena dapat diperoleh dengan rendamen lebih daripada
90%melalui distilasi uap iodobenzena untuk meindahkan iodobenzena yang
terbentuk.

Senyawa alifatik yang valensinya lebih tinggi adalah senyawa yang tidak stabil.

7.8 Penutup
Untuk menguji prestasi mahasiswa setelah mempelajari Bab ini maka pada
Sub-bab 7.8 bagian (a) berikut ini diberikan contoh-contoh latihan yang berkaitan

166

dengan tujuan pembelajaran bab ini. Untuk memberikan jawaban yang benar, pada
Sub-bab 7.8 bagian (b) diberikan umpan balik di mana bagian mana mahasiswa harus
memdalami jawaban soal yang bersangkutan.
(a) Soal tes formatif
Bagaimana cara melakukan transformasi berikut ini:

(b) Umpan balik


Setelah mengerjakan soal-soal latihan di atas, namun mahasiswa belum bisa
menjawab dengan benar maka disarankan untuk mengikuti instruksi berikut:
1. Untuk menjawab soal nomor 1 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.2, bagian (a), sub-bagian (i).

167

2. Untuk menjawab soal nomor 2 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 7.2, bagian (a), sub-bagian (ii).
3. Untuk menjawab soal nomor 3 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.2, bagian (c), sub-bagian (ii).
4. Untuk menjawab soal nomor 4 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.3, bagian (h).
5. Untuk menjawab soal nomor 5 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.3, bagian (d).
6. Untuk menjawab soal nomor 6 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.3, bagian (a), sub-bagian (i).
7. Untuk menjawab soal nomor 7 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.4, bagian (d).
8. Untuk menjawab soal nomor 8 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.2, bagian (a).
9. Untuk menjawab soal nomor 9 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.5, bagian (a), sub-bagian (i).
10. Untuk menjawab soal nomor 10 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 7.2, bagian (a), sub-bagian (i) dan (ii).

Daftar Pustaka
Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.

168

Senarai Istilah dan Artinya

Istilah

Arti

Bisdekarboksilasi

Dekarboksilasi yang melibatkan dua molekul CO2


yang dilepaskan

Dekarboksilasi oksidatif

Dekarboksilasi yang mengakibatkan perubahan


bilangan oksidasi

Enantioselektif

Selektivitas ke salah satu enantiomer

Regioselektif

Suatu reaksi di mana satu isomer struktur yang lebih


disukai daripada isomer lain yang mungkin ada

Stereospesifik

Suatu reaksi di mana stereoisomer tertentu yang


bereaksi menghasilkan satu produk stereoisomer
spesifik (atau pasangan d,l)

169

BAB 8
REDUKSI
8.1 Pendahuluan
Proses reduksi yang diuraikan di dalam bab ini dibagi ke dalam tiga kategori,
yaitu pelepasan oksigen, adisi hidrogen, dan penambahan elektron. Adisi hidrogen
masih dapat dibagi lagi ke dalam sub-bagian (i) hidrogenasi, yakni adisi hidrogen ke
dalam sistem tak-jenuh. Sebagai contoh,

Sub-bagian (ii) adalah hidrogenalisis, yakni adisi hidrogen dengan pemutusan ikatan
secara bersamaan; sebagai contoh,

Secara mekanistik, ada tiga cara reduksi terjadi:


(1) Dengan cara penambahan elektron diikuti dengan pengambilan hidrogen,
seperti di dalam reduksi alkuna dengan natrium di dalam amoniak cair;

atau dengan cara kopling, seperti di dalam reduksi keton menjadi pinacol.

(2) Dengan cara transfer ion hidrida, seperti di dalam reduksi gugus karbonil
dengan litium hidrida.

170

Transfer seperti ini dapat pula terjadi secara intramolekul, seperti reduksi
Meerwein-Pondorf-Verley.
(3) Dengan cara adisi hidrogen molekul terkatalis, seperti di dalam reduksi pada
molekul alkena.
8.2 Hidrokarbon
(a) Alkana
Alkana hanya dapat direduksi dengan cara memutuskan ikatan karbonkarbon. Agen pereduksi yang kuat belum cukup untuk melakukan reduksi ini. Akan
tetapi, ada satu lingkungan di mana reduksi terkatalis dapat mempengaruhinya,
misalnya dengan senyawa siklik yang tegang, karena terjadi reduksi ini akan
menghilangkan tegangannya. Sebagai contoh,

(b) Alkena
(i) Hidrogenasi katalitik. Hampir semua olefin dapat dijenuhkan melalui
pengolahan dengan hidrogen dan katalis logam. Katalis yang paling aktif adalah yang
khusus dibuat dari platina dan paladium.
(1) Katalis Adams. Asam kloroplatinat dipadukan dengan natrium nitrat
menghasilkan platina coklat (PtO2) yang dapat disimpang. Ketika diperlukan,
pereaksi tersebut diolah dengan hidrogen menghasilkan suspensi logam
berwarna hitang yang sangat halus. Pereaksi ini biasanya dipilih di dalam
laboratorium; reaksi dijalankan di dalam pelarut seperti asam asetat, etil
asetat, dan metanol. Biasanya diperlukan sekitar 0,2 gram platinium oksida
per 10 gram reaktan yang digunakan.
(2) Paladium. Suatu bentuk aktif paladium dapat diperoleh dari paladium klorida
dengan cara yang sama dengan yang digunakan di dalam katalis Adams,
171

tapi cara yang paling umum adalah paladium klorida direduksi di dalam
adanya suspensi karbon atau padatan pendukung lain di mana logam
disimpan sebagai butiran yang sangat halus.
Suatu katalis yang paling reaktif diperoleh dengan cara mereduksi
paladium oksida dengan natrium borohidrida secara in situ di dalam adanya
karbon. Molekul hidrogen yang diperlukan untuk hidrogenasi dihasilkan
melalui penambahan asam ke dalam borohidrida berlebih.
Kebanyakan ikatan C=C direduksi pada permukaan katalis ini pada
suhu yang lebih rendah daripada 100C dan tekanan atmosfir atau dengan
sedikit penaikan tekanan. Sebagai contoh, perlakuan asam maleat di atas
permukaan platina pada suhu 20C dan tekanan 1 atmosfir selama 30 menit
menghasilkan asam suksinat dengan rendamen 98%.

(3) Nikel Raney. Katalis ini sedikit kurang aktif daripada platina atau paladium,
dibuat dengan cara mengolah campuran logam nikel-aluminium dengan
natrium hidroksida, disusul dengan pencucian untuk membuang natrium
alumina

sehingga

meninggalkan

suspensi

jenuh

berwarna

hitam.

Kebanyakan alkena dihidrogenasi di atas nikel Raney pada suhu di sekitar


100C dan tekanan di atas 3 atmosfir.
(4) Tembaga kromit. Tembaga kromit dibuat dari tembaga nitrat dan natrium
kromat dan bersesuain dengan CuO.CuCr2O4. Katalis ini jauh lebih murah
daripada paladium atau platina.
(5) Hidrogenasi

transfer.

Hidrogen

disuplai

oleh

suatu

donor

seperti

sikloheksena atau hidrazin.

Keuntungan metode ini adalah:


Selektivitas. Hidrogenasi katalitik dapat digunakan untuk reduksi
selektif C=C di dalam adanya cincin aromatik dan gugus akrbonil, baik itu
terkonjugasi maupun tidak terkonjugasi. Sebagai contoh,

172

Stereokimia. Reduksi adalah stereoselektif yang tinggi, menghasilkan


cis-alkena yang dominan. Sebagai contoh,

(6) Hidrogenasi katalitik homogen. Penggunaan kompleks rodium atau ruterium


sebagai katalis membuat hidrogenasi dapat dilakukan di dalam larutan
homogen. Metode ini mempunyai beberapa keuntungan. Pertama, hanya
alkena dan alkuna yang tereduksi; gugus umum yang ada seperti C=O, CN,
dan NO2 tidak terpengaruh.

Kedua, alkena yang mono- dan disubstitusi jauh lebih cepat direduksi
daripada alkena tri- atau tetrasubstitusi. Hal ini memberikan derajat
selektivitas lebih lanjut sebagaimana diilustrasikan di dalam reduksi karvon
menjadi dihidrokarvon yang menyisahkan ikatan rangkap trisubstitusi
dengan rendamen di atas 90%.

Ketiga, hidrogenolisis tidak terjadi. Sebagai contoh, benzil sinnamat


menghasilkan turunan dihidro.

173

(ii) Metode diimida. Diimida adalah suatu senyawa yang tidak stabil, biasanya
dibuat melalui reaksi oksidasi terkatalis tembaga(II) terhadap hidrazin dengan udara
atau

hidrogen

peroksida.

Di

dalam

tidak

adanya

spesies

yang

dapat

memerangkapnya maka senyawa tersebut akan terdekomposisi menjadi nitrogen dan


hidrogen; tetapi ketika senyawa tersebut dihasilkan di dalam adanya alkena atau
sedikit asam asetat maka terjadi reduksi sterospesifik-syn. Driving force reaksi ini
adalah kestabilan yang tinggi molekul nitrogen dibanding dengan sistem N=N.
Peranan asam asetat adalah untuk mengkatalis pembentukan isomer-cis diimida dari
isomer-trans yang lebih stabil, isomer-cis kemudian bereaksi dengan alkena melalui
keadaan transisi siklik.

Alkuna dan senyawa azo juga direduksi, tetapi gugus yang mengandung karbonil,
gugus nitro, sulfoksida, dan ikatan SS tidak terpengaruh.
(iii) Hidroborasi. Organoboran yang terbentuk melalui reaksi alkena dengan
diboran atau agen boronasi lainnya tersolvolisis oleh asam organik menjadi alkana.

Diperkirakan reaksi ini terjadi seperti berikut:

Aldehida, keton, asam, ester, nitril, dan epoksida juga dapat direduksi.

174

(c) Alkena terkonjugasi


(i) Transfer elektron. Untuk dapat tereduksi dengan metode katalitik, diena
konjugasi dan poliena, dan senyawa yang mengandung ikatan C=C terkonjugasi
dengan gugus yang mengandung karbonil dapat direduksi dengan agen transferelektron. Alasannya adalah pengambilan elektron oleh sistem ini menghasilkan
spesies-antara terdelokalisasi, sedangkan adisi elektron ke alkena tidak demikian.

Reduksi diena terkonjugasi terjadi melalui adisi-1,4. Sebagai contoh,

Sebuah ikatan C=C terkonjugasi dengan cincin aromatik juga direduksi, produk adisi1,2 terbentuk karena pembentukan produk adisi-1,4 akan disertai dengan dengan
hilangnya energi kestabilan aromatik. Sebagai contoh, stilbena direduksi menjadi
bibenzil,

Reduksi senyawa karbonil ,-tak-jenuh menghasilkan ion enolat sebagai


spesies-antara. Meskipun protonasi lebih cepat terjadi pada oksigen daripada karbon,
tapi enol dengan cepat bertautomeri menjadi senyawa karbonil yang lebih stabil.
Sebagai contoh,

175

(ii) Transfer hidrida. Senyawa di mana C=C terkonjugasi dengan substituen


jenis M adalah rentan terhadap serangan nukleofil.

Reduksi jenis ini diharapkan cocok dengan senyawa karbonil ,-tak-jenuh. Jika
gugus M adalah CHO, reduksi seperti di atas tidak terjadi; justru yang terjadi
adalah reduksi karbonil.

Ketika konjugasi adalah suatu gugus keto (yang kurang reaktif daripada CHO
terhadap nukleofil), campuran dari produk reduksi karbonil dan reduksi secara penuh
terbentuk. Sebagai contoh,

Litium aluminium hidrida mempunyai tendensi yang relatif lebih kuat untuk bereaksi
pada gugus karbonil. Di dalam reaksi di atas, litium aluminium hidrida memberikan
94% 2-sikloheksenol dan hanya 2% sikloheksanol. Akan tetapi, jika substituen M
sendiri tidak bisa tereduksi oleh hidrida maka selektivitas reduksi ikatan C=C dapat
dipengaruhi. Sebagai contoh,

176

(d) Alkuna
(i)

Reduksi katalitik. Ikatan CC dapat direduksi secara penuh pada

permukaan katalis yang digunakan untuk reduksi alkena, tetapi hal ini jarang
diperlukan di dalam sintesis.
(ii)

Hidroborasi. Hidroborasi alkuna dijalankan dengan cara yang sama

dengan hidroborasi alkena.

(iii) Transfer elektron. Elektron lebih mudah ditransfer ke alkuna daripada ke


alkena. Pereaksi yang paling baik adalah sistem logam-amina dan logam-amoniak.
Diperkirakan reaksi terjadi melalui pertukaran transfer elektron dengan proton.

Pembentukan produk-trans diperkirakan dikontrol oleh terjadinya kesetimbangan


yang cepat antara radikal cis- dan trans-vinil di mana radikal trans lebih dominan. Hal
ini berarti bahwa anion trans lebih cepat terbentuk. Metode ini melengkapi metode
katalitik. Sebagai contoh, trans-sikloheksanon dapat diperoleh dari siklononuna.

177

(iv) Transfer hidrida. Diisobutil aluminium hidrida mereduksi alkuna menjadi


alkena, tetapi litium aluminium hidrida hanya efektif ketika alkuna memilki gugus
hidroksil pada pada posisi-. Gugus hidroksil memfasilitasi reaksi melalui
pembentukan kompleks dengan aluminium, dan produknya adalah alkena-trans.

(e) Cincin Aromatik


(i)

Hidrogenasi katalitik. Cincin aromatik dapat dihidrogenasi pada

permukaan katalis yang cocok untuk alkena tetapi memerlukan kondisi yang lebih
keras. Berbagai kondisi berdasarkan besarnya energi kestabilan yang hilang di dalam
proses ini. Sebagai contoh, naftalena direduksi menggunakan katalis Adams pada
suhu 100-150C dan tekanan 100-150 atmosfir selama 10 jam, dibandingkan dengan
reduksi alkena sederhana dilakukan pada 20C dan tekanan atmosfir selama 1 jam.
Reduksi pada kondisi lembut menghasilkan produk utama cis, tetatpi jika
produk trans lebih stabil maka dibutuhkan kondisi keras untuk membuat dominan.
Sebagai contoh, reduksi naftalena di dalam larutan pada permukaan platina
menghasilkan produk utama cis-dekalin sedangkan pada permukaan tembaga kromit
di dalam fasa gas menghasilkan trans-dekalin sebagai produk yang dominan.
Senyawa aromatik yang berada di dalam kesetimbangan dengan perbandingan
signifikan dapat direduksi di dalam kondisi yang cocok untuk alkena. Sebagai contoh,
m-dihidroksibenzena direduksi melalui tautomeri diketo-nya pada suhu 50C dan
tekanan 80 atmosfir pada permukaan nikel Raney.

(ii) Transfer elektron. Pereaksi transfer-elektron dapat sangat selektif. Reaksi


terjadi melalui transfer elektron dan proton secara berurutan. Sebagai contoh,

178

H
e

(H+)

H H

(H+)

H H

Natrium di dalam amoniak cair umumnya digunakan sebagai agen pereduksi.


Amoniak dapat bertindak sebagai sumber proton, akat tetapi adanya substituen
pendorong elektron seperti OMe, atau NMe3, dan karena amoniak adalah sumber
proton yang lemah, maka kesetimbangan pertama terletak jauh ke kiri sehingga
reaksi berjalan lambat. Untuk itu, biasanya melibatkan alkohol untuk secepatnya
memerangkap radikal anion.
Struktur produk ditentukan oleh lokasi protonasi pertama, selanjutnya anion
yang terbentuk bereaksi dengan karbon sistem delokalisasi untuk menyempurnakan
adisi-1,4. Substituen pendorong elektron mengarahkan protonasi pertama terjadi
pada posisi orto. Sebagai contoh,

Hidrolisis terkatalis asam (pH 2-4) terhadap produk tersebut (enol eter) menghasilkan
senyawa keton tak jenuh yang mana pada kondisi yang lebih asam lagi (pH 1)
bertautomeri dengan isomer konjugasinya.

179

Hal yang berbeda, substituen CO2- mengarahkan protonasi ke posisi para. Sebagai
contoh,

Reduksi 1-naftol dan eter etil 2-naftol memberikan pertentangan yang menarik.
Reduksi senyawa 1-naftol dengan litium di dalam amoniak cair yang mengandung
alkohol memberikan 98% produk reduksi yang terjadi pada cincin tak tersubstitusi;
sedangkan senyawa eter etil 2-naftol tereduksi pada cincin yang tersubstitusi
menghasilkan 2-tetralon dengan rendamen 45% setelah dihidrolisis.

8.3 Hidrogenolisis
(a) Sistem benzilik
Jika gugus benzilik mengikat OH, OR, OCOR, NR2, atau halogen maka sangat
rentan terhadap agen pereduksi nukleofilik, reduksi katalitik, dan pereaksi transferelektron.

180

Reduksi katalik digunakan secara luas, seperti di dalam contoh-contoh berikut.

Reduksi transfer-elektron dimungkinkan difasilitasi oleh kemampuan cincin


benzoid untuk mendelokalisasikan muatan pada anion.

2e
CH2

-X-

CH2

H+

dst

Me

Berikut ini adalah beberapa contoh reaksi tersebut di atas.


Ph

H
N

Na - NH
PhMe + CO

CO H

H N
CO H
-alanin
95%

NH

NH
Na - NH
Ph

PhMe +

CO H

HS

CO H
sistein
78%

Me

Me

Me
NMe I

Na - Hg

Me

Me
+

NMe

181

Sistem difenilmetil lebih mudah dihidrogenolisis daripada sistem benzil.


Sebagai contoh, asam benzilik direduksi menjadi asam difenilasetat dengan
rendamen 95% melalui pengolahan fosfor merah dan iodin di dalam asam asetat
refluks.

Sistem trifenilmetil (tritil) masih lebih mudah direduksi.

Sistem trifenilmetil siap membentuk kation tritil dan kation ini sangat rentan
terhadap reduksi dengan agen transfer-hidrida. Sebagai contoh,

(b) Sistem alilik


Sistem alilik di dalam kebanyakan reaksi berkelakuan yang analog dengan
sistem benzilik. Akan tetapi, meskipun sistem benzilik lebih normal tereduksi melalui
hidrogenolisis daripada hidrogenasi cincin aromatik, tapi sistem alilik berkelakuan
sebaliknya sehingga reduksi katalitik umumnya tidak cocok untuk hidrogenolisis
sistem alilik. Untungnya litium aluminium hidrida dan natrium di dalam amina adalah
pereaksi yang cocok karena tidak akan bereaksi dengan ikatan C=C terisolasi,

dan ester alil pecah oleh natrium di dalam etilamina,

182

(c) Sistem alkil


Sistem alkil umumnya kurang mudah dihidrogenolisis daripada sistem benzil
yang terkait dengannya.
(i)

Alkohol tidak dapat dihidrogenolisis langsung tetapi dapat dikonversi

menjadi toluena-sulfonat yang dapat direduksi dengan natrium sianoborohidrida atau


dengan litium aluminium hidrida.

(ii) Halida jauh lebih reaktif daripada alkohol di dalam reaksi substitusi SN2 dan
oleh karenanya lebih rentan terhadap transfer hidrida dari litium aluminium hidrida
atau hidrida yang lebih baik lagi, yakni natrium sianoborohidrida. Sebagai contoh,

Agen transfer-elektron bereaksi dengan 1,2-dihalida. Kedua atom halogen


dilepaskan dan ikatan satu ikatan C=C terbentuk. Normalnya menggunakan seng
sebagai agen pereduksi.

Sebagai contoh, alena dapat diperoleh dengan rendamen 80% melalui pengolahan
2,3-dikloropropilena dengan seng di dalam etanol berair.
Cl
Zn

H2C

-ZnCl2

ZnBr2

Cl

183

(iii)

Asetal dan ketal dihidrogenolisis menjadi eter dengan rendamen yang

tinggi oleh litium aluminium hidrida di dalam adanya aluminium triklorida.

(iv) Amina primer dapat direduksi dengan cara mengolah turunan toluena-psulfonamida dengan asam hidroksilamina-O-sulfonat di dalam alkohol alkali.

(d) Sistem aromatik


Aril halida dapat direduksi melalui pembentukan pereaksi Grignard atau
senyawa litium diikuti dengan pengolahan dengan air; atau dengan hidrazin pada
permukaan katalis paladium. Sebagai contoh, 2-bromonaftalena direduksi menjadi
naftalena di dalam etanol mendidih selama 5 menit dengan rendamen sebesar 95%.

Reduksi

dengan

ion

kromium(II)

juga

efesien.

Sebagai

contoh,

1-

bromonaftalena dengan kromium(II) yang dikomplekskan dengan etilendiamina di


dalam dimetilformamida berair menghasilkan naftalena dengan rendamen sebesar
93-98%.
Atom halogen pada posisi 2- dan 4-piridin dan turunannya dapat efisien
dilepaskan menggunakan agen pereduksi hidrogen terkatalis dan agen pereduksi
transfer-elektron. Oleh karena gugus hidroksil pada posisi tersebut dapat dikenversi
menjadi substituen klor dengan fosfor oksiklorida maka cara ini menyediakan metode
untuk reduksi fenol.

184

Fenol dapat didehidrogenolisi lewat ester fosfatnya dengan cara mereduksi


dengan natrium di dalam amoniak cair, tapi rendamen yang diperoleh biasanya tidak
lebih dari 50%.

Amina aromatik tidak dapat dihidrogenolisis langsung, senyawa ini


terdeaminasi oleh reduksi terhadap ion diazonium-nya.

8.4 Aldehida dan Keton


Aldehida dan keton dapat direduksi menjadi hidrokarbon, alkohol, dan 1,2-diol.
(a) Reduksi menjadi hidrokarbon
Ada lima metode yang tersedia. Pemilihan metode berdasarkan sensitivitas
gugus pusat pusat di dalam senyawa yang akan direduksi.
(1) Metode Clemmensen. Agen pereduksinya adalah seng amalgam dan asam
hidroklorida.

185

Metode ini sangat berguna untuk keton yang mengandung gugus penolik atau
karbosiklik. Sebagai contoh, reduksi asam 3-benzoilpropionat di dalam toluena
menghasilkan asam 4-fenilbutirat dengan rendamen 85%.

(2) Metode Wolff Kishner. Hidrazon dari aldehida dan keton direduksi di dalam
kondisi basa dan keras dengan melepaskan nitrogen.

(3) Metode Mozingo. Senyawa karbonil dikonversi dengan etanaditiol di dalam


adanya asam Lewis menjadi asetal-ditio atau ketal, dan kemudian dihidogenolisis
pada permukaan nikel Raney.

Sebagai alternatif, senyawa ditiosiklik direduksi menggunakan transfer-hidrogen


dari hidrazin pada suhu 100-200C.
(4) Metode tosilhidrazon. Reaksi senyawa karbonil dengan toluena-psulfonilhidrazin menghasilkan tosilhidrazon yang efisies direduksi dengan
natrium borohidrida atau sianoborohidrida.

186

Kemungkinan reaksi terjadi melalui mekanisme seperti berikut:

(5) Litium aluminium hidrida. Keton aromatik direduksi dengan litium aluminium
hidrida di dalam adanya aluminium triklorida. Reaksi terjadi melalui reduksi
menjadi alkohol diikuti dengan hidrogenolisis sistem benzilik yang dibantu
dengan asam Lewis.
Ar
O

LiAlH4

Ar

Ar

AlCl3

H3Al

R
H

O
AlCl2

Ar
+

CH

AlCl2

(b) Reduksi menjadi Alkohol


Senyawa karbonil direduksi menjadi alkohol dengan berbagai pereaksi. Dari
tiga kelompok proses reduksi yang umum, hidrogenasi katalitik normalnya tidak
digunakan karena lambat, tetapi transfer-hidrida dan transfer-elektron keduanya
digunakan.
(i) Transfer hidrida. Hidrida logam alkali (NaH) tidak cocok sebagai agen
pereduksi karena tidak larut di dalam pelarut organik, dan yang paling utama lagi
adalah karena kekuatan efeknya sebagai katalis reaksi yang dikatalis basa. Akan
tetapi, litium aluminium hidrida (LiAlH4) dan natrium borohidrida (NaBH4) telah
berhasil digunakan.
(1) Litium aluminium hidrida dibuat dengan cara mengolah litium hidrida dengan
aluminium triklorida.

Pereaksi ini larut di dalam eter seperti dietil eter dan terahidrofuran dalam
mana normalnya digunakan. Pelarut tersebut harus benar-benar kering
karena hidrida dihancurkan oleh air,

187

Harus juga ditangani sebagai padatan dengan sangat hati-hati karena dapat
menyala secara spontan selagi digerus di dalam lumpang , dan dapat meledak
dengan keras pada pemanasan yang kuat. Semua senyawa yang
mengandung hidroksil, amino, dan tiol melepaskan hidrogen secara kuantitatif
dari reaksi ini. Sebagai contoh,

Setiap atom hidrogen di dalam aluminium hidrida bersedia ditransfer ke gugus


karbonil. Sebagai contoh,
R

R
H3Al

OAlH3

3 RR'C

(RR'CHO)4Al

R
4 H2O

4 RR'CH

OH

Al(OH)3

OH-

(2) Sodium borohidrida jauh kurang reaktif. Pereaksi ini dapat digunakan di dalam
pelarut alkoholik dan bahkan air, untuk dekomposisi pereaksi ini maka cukup
hanya membuat larutannya menjadi alkalin.

Kemoselektivitas. Dua pereaksi di atas berbeda kekuatan reduksinya. Litium


aluminium hidrida tidak hanya mereduksi gugus aldehida dan keton, tetapi juga
gugus-gugus asam, klorida asam, ester, nitril, imina, dan nitro; sedangkan natrium
borohidrida hanya mereduksi aldehida, keton, klorida asam, dan imina.
(ii) Sistem transfer-hidrida yang lain
(1) Reaksi cannizarro. Aldehida yang tidak mempunyai gugus -CH tidak dapat
mengalami reaksi terkatalis-basa. Sebagai gantinya pereaksi ini bereaksi dengan
basa melalui disproporsinasi yang melibatkan transfer ion hidrida. Sebagai contoh,
Ph

Ph

Ph

OH

OH

PhCH2

PhC

OH

PhCH2

O
PhC

OH

188

(2) Reaksi Meerwien-Ponndorf-Verley. Reaksi ini adalah kebalikan dari oksidasi


Oppernauer. Kesetimbangan ditetapkan antara gugus karbonil untuk direduksi dan
isopropanol pada satu sisi, dan alkohol dan aseton yang diperlukan pada sisi lain di
dalam adanya aluminium isopropoksida. Oleh karena aseton yang mempunyai titik
didih paling rendah di dalam campuran, maka senyawa produk tersebut dapat
didistilasi secara kontinyu sehingga kesetimbangan bergeser ke kanan.

(ii) Pereaksi transfer-elektron. Pereaksi-pereaksi dari golongan ini kurang


selektif daripada pereaksi natrium borohidrida dan Meerwien-Ponndorf-Verley.
Pereaksi ini mereduksi juga ikatan C=C di dalam senyawa karbonil ,-tak-jenuh.
Meskipun demikian, di dalam kasus yang sederhana reaksinya cepat dan efisien.
Sebagai contoh, 2-heptanon direduksi dengan sodium di dalam etanol menjadi 2heptanol dengan rendamen di atas 60%,

dan heptanal direduksi dengan besi di dalam asam asetat berair menjadi 1-heptanol
dengan rendamen 80%.
Jika keton mengandung substituen pada posisi- yang merupakan gugus pergi
yang baik, spesies-antaranya yakni radikal-anion akan mengalami eliminasi. Sebagai
contoh,

189

Di dalam reduksi ini, seringkali juga menggunakan seng sebagai agen pereduksi.
(c) Reduksi menjadi 1,2-diol
Di dalam hal tidak adanya suatu donor proton, logan elektropositif mereduksi
keton menjadi 1,2-diol lewat dimerisasi radikal-anion.

Prosedur standar-nya menggunakan magnesium amalgam dengan benzena sebagai


pelarut, padatan garam magnesium dari diol terbentuk dan dihidrolisis menjadi diolnya sendiri. Sebagai contoh, refluks aseton di dalam benzena selama 2 jam
menghasilkan pinacol dengan rendamen 45%.

Me

Mg - Hg
Me2C

Me

Me

Me
O

O
Mg

H2O

HO

OH
pinacol

Di dalam prosedur yang yang telah dikembangkan melibatkan titanium tetraklorida.


8.5 Epoksida
(a) Litium aluminium hidrida
Epoksida direduksi menjadi alkohol dengan litium aluminium hidrida. Oleh
karena epoksida dengan mudah diperoleh dari alkena maka reaksi keseluruhan
melayani untuk hidrasi alkena. Prosedur ini melengkapi metode hidroborasi karena
hidrida ini menyerang secara selektif ke karbon epoksida yang kurang teralkilasi,
sehingga menghasilkan alkohol lebih teralkilasi.

Reaksi ini memiliki karakteristik stereokimia proses SN2. Sebagai contoh,

190

Cincin tegang di dalam eter beranggota-empat juga dibuka oleh litium aluminium
hidrida. Sebagai contoh,

Akan tetapi, eter beranggota lima memerlukan kondisi yang lebih keras yang
diperoleh dengan menggunakan aluminium triklorida.

(b) Hidroborasi
Epoksida direduksi oleh diboran menghasilkan alkohol yang kurang
tersubstitusi sebagai produk utama.

8.6 Asam dan Turunannya


Sebelum datangnya metode hidrida logam kompleks (1947), metode yang
digunakan untuk mereduksi asam dan turunannya relatif tidak selektif. Sebagai
contoh, ester dapat direduksi menjadi alkohol di atas tembaga kromit di dalam kondisi
yang keras. Sebagai contoh,

191

Akan tetapi, gugus-gugus lain yang dapat tereduksi di dalam molekul seperti C=C dan
CC juga ikut tereduksi.
Ada banyak metode yang tersedia, beberapa di antaranya unik dan yang lain
cukup selektif.
(a) Reduksi menjadi alkohol dan amina
Litium aluminium hidrida mereduksi asam dan semua turunannya menjadi
alkohol atau amina. Mekanisme umumnya adalah sebagai berikut:

Diboran mereduksi asam karboksilat menjadi alkohol, serta nitril dan amida
menjadi amina melalui pembentukan kompleks.

192

Metode ini mempunyai keuntungan dibanding dengan litium aluminium hidrida, yakni
gugus ester dan nitro tidak direduksi. Sebagai contoh, asam p-nitrobenzoat
menghasilkan nitrobenzil alkohol dengan rendamen reaksi sebesar 80%.
Ester dapat direduksi dengan metode asilon dan dengan metode BouveaultBlanc (natrium di dalam etanol refluks). Sebagai contoh,

Klorida asam dapat direduksi dengan natrium borohidrida di dalam larutan


diglim. Gugus aldehida dan keton tereduksi, tetapi asam, ester, amida, C=C, dan CC
di dalam molekul tidak tereduksi. Natrium trimetoksiborohidrida (NaBH(OCH3)3) juga
mereduksi gugus COCl menjadi CH2OH tanpa mempengaruhi gugus ester.
Nitril dapat direduksi secara katalitik. Tanpa penambahan amoniak, amina
sekunder yang terbentuk cukup banyak jumlahnya karena amina primer dapat
mengadisi ke dalam amino spesies-antara.

193

Berbelit-berlitnya proses ini adalah penambahan amoniak berlebih yang diasumsikan


berperan sebagai nukleofil di tempat amina primer dan kemudian meningkatkan
rendamen. Sebagai contoh, di atas Raney nikel, benzil sianida di dalam amoniak di
bawah tekanan menghasilkan feniletilamina dengan rendamen 85%; dan 1,8oktandinitril di dalam etanol beramoniak menghasilkan dekametilendiamina dengan
rendamen 79-80%.

Reduksi nitril dengan natrium di dalam etanol mengalami kerugian karena


terbentuknya amina sekunder, sebagaimana di dalam metode katalitik amoniakbebas.

(b) Reduksi menjadi aldehida


Seringkali diperlukan untuk mengkonversi asam dan turunannya menjadi
aldehida. Untuk itu diperlukan prosedur yang selektif karena aldehida mudah
tereduksi menjadi alkohol.

194

(i) Asam. Litium di dalam etilamina dapat digunakan tapi pada umumnya
memberikan rendamen rendah. Sebagai contoh,

Rendamen yang memuaskan dapat diperoleh melalui mereduksi imidazolida asam


tersebut dengan litium aluminium hidrida. Sebagai contoh,

(ii) Ester
(1) Metoda McFadyen dan Stevens terkandung di dalam konversi ester menjadi
hidrazinnya; yaitu ester diolah dengan benzenasulfonil klorida, dan produknya
dihidrolisis dengan basa.

Hanya aldehida aromatik yang dapat dibuat dengan cara ini, dan rendamennya
kerap kali rendah.
(2) Diisobutilaluminium hidrida (DIBAL) mereduksi ester menjadi alkohol pada suhu
kamar. Reaksi terjadi dengan cara spesies-antara aluminium alkoksida secara
spontan membentuk aldehida yang lebih mudah tereduksi daripada esternya
menjadi alkohol.

195

Gugus amida, nitril, dan CC juga direduksi.

(iii) Halida asam


(1) Metode Rosenmunds mengandung reduksi klorida asam dengan hidrogen di atas
permukaan katalis paladium yang didukung dengan barium sulfat, atau kalsium
karbonat, atau karbon.

Mengontrol suhu adalah suatu hal yang penting dilakukan, reaksi harus
dijalankan pada suhu serendah mungkin untuk mencegah reduksi lebih lanjut.
Toluena atau ksilena refluks (yakni 110-140C) biasanya sudah sesuai, dan
reaksi dapat diikuti dengan cara melewatkan hidrogen klorida ke dalam basa
standar.
Rendmen reaksi biasanya tinggi, bahkan dengan senyawa yang rintangan
steriknya tinggi. Sebagai contoh,

(2) Desulfurisasi ester tiol di atas Raney nikel yang telah dideaktivasi secara parsial
dengan cara mendidihkan dengan aseton adalah suatu metode yang efektif.
Sebagai contoh,

196

(3) Litium tri-t-butoksialuminium hidrida, mereduksi amida disubstitusi menjadi


aldehida, suhu harus dijaga agar tetap rendah.

Pada suhu yang lebih tinggi, spesies-antara yang pertama akan tereliminasi, dan
reduksi terjadi lebih lanjut menjadi amina. Biasanya menggunakan N-metilanilida.
Sebagai contoh,

(v) Nitril
(1) Reaksi Stephen melibatkan penambahan nitril ke dalam suspensi timah(II) klorida
di dalam dietil eter jenuh dengan hidrogen klorida, diikuti dengan hidrolisis.
Reduksi terjadi pada suhu kamar. Sebagai contoh,

197

(2) Hidrogen dan nikel Raney di dalam adanya semikarbazida dan air menghasilkan
semikarbazon dari aldehida yang mana dari produk tersebut dilepaskan aldehida
dengan cara mempertukarkannya dengan formaldehida. Over reduksi di sini
dicegah dengan cara memerangkap aldehida.

H2 - Ni
R

H2O

N
R

NH

H2NNHCONH2
R

CH2O

H
N

NH2

(3) DIBAL dan litium trietoksialuminium hidrida dapat digunakan mereduksi nitril
menjadi aldehida. Sebagai contoh,

8.7 Sistem yang Mengandung Nitrogen


(a) Senyawa nitro
Reduksi senyawa-nitro alifatik menjadi amina hanya memiliki sedikit
kepentingan karena gugus amino mudah dimasukkan ke dalam senyawa alifatik
melalui sejumlah cara. Ada dua metode yang sesuai untuk keperluan ini, yakni litium
aluminium hidrida dan reduksi katalitik di atas nikel Raney. Sebagai contoh, 2nitrobutana direduksi menjadi 2-aminobutana menggunakan pereaksi litium
aluminium hidrida dengan rendamen sebesar 85%.
Reduksi senyawa-nitro aromatik jauh lebih penting karena gugus nitro dapat
dimasukkan ke dalam berbagai sistem aromatik dengan cara nitrasi, sedangkan
gugus amino hanya dapat dimasukkan ke dalam sistem aromatik jika senyawa
aromatik tersebut sangat teraktivasi terhadap nukleofil. Ada beberapa jenis produk
reduksi yang diperoleh sebagaimana digambarkan untuk nitrasi benzena:

198

Di dalam larutan netral yang dibufer dengan amonuim klorida, fenilhidrolamina adalah
produk utama. Di dalam larutan basa, penggunaan pereduksi lemah seperti
dekstrosaatau glukosa, spesies-antara yakni nitrobenzena bereaksi dengan
fenilhidroksilamina menghasilkan azoksibenzena yang dengan agen pereduksi kuat
akan terkonversi menjadi azobenzena dan hidrazobenzena. Litium aluminium hidrida
menghasilkan azobenzena secara kuantitaif, dan di dalam adanya asam Lewis,
terjadi reaksi lebih lanjut menghasilkan hidrazobenzena. Logam-logam di alam
larutan asam menyempurnakan reduksi menjadi anilina. Secara industri, besi dan
asam hidroklorida digunakan sebagai agen pereduksi, produknya dinetralisasi
dengan kapur, dan anilina diisolasi dengan cara distilasi.
Reaksi elektrolitik terkontrol terjadi di dalam tahap yang pasti:

199

Untuk memperoleh gugus amino melalui reduksi gugus nitro biasanya


menemui hambatan, khususnya masalah selektivitas pereaksi bilamana terdapat
gugus lain yang dapat tereduksi di dalam senyawa nitro tersebut. Pereaksi standar
untuk mereduksi nitrobenzena menjadi anilina, yakni timah dan asam hidroklorida
tidak cocok untuk kebanyakan senyawa nitro tersubstitusi.
Metode katalitik adalah metode yang sesuai untuk reduksi senyawa nitro di
mana tidak terdapat gugus C=C dan CC. Sebagai contoh,

Hidrogenasi-transfer oleh hidrazin pada permukaan paladium juga sangat efektif.


Pereaksi transfer-elektron yang lembut juga dapat digunakan. Sebagai contoh,

Kebalikan dari dua reaksi yang terakhir di atas adalah reduksi gugus aldehida tanpa
mereduksi gugus nitro. Reaksi ini dapat diefektifkan dengan menggunakan natrium
borohidrida.
Dimungkinkan pula mereduksi satu gugus nitro di dalam adanya gugus nitro
yang lain. Metode yang sudah lama dikenal adalah menggunakan amonium sulfida.
Sebagai contoh,

200

Biasanya, metode katalitik lebih efesien. Sebagai contoh, m-dinitrobenzena


memberikan hampir seluruhnya adalah m-nitroanilina ketika direduksi di atas
paladium dengan sikloheksena sebagai donor hidrogen.

(b) Imina
Imina tipe RCH=NR dan RCH=NR2+ dapat direduksi secara selektif dengan
natrium borohidrida.

Suatu pereaksi alternatif adalah dimetilamina boran yang mereduksi C=N tanpa
mereduksi asam, ester, atau nitro. Rendamennya juga tinggi. Sebagai contoh,

(i)

Aminasi reduktif. Ketika reaksi antara aldehida atau keton dengan

amoniak atau amina primer atau amina sekunder dijalankan di dalam adanya agen
pereduksi yang sesuai, maka imina atau ion imonium yang terbentuk dapat direduksi
secara in situ menjadi amina. Biasanya agen pereduski yang digunakan adalah
hidrogen di atas nikel Raney Sebagai contoh,

201

atau natrium sianoborohidrida. Sebagai contoh,

Reaksi ini dirugikan oleh terjadinya reaksi samping. Amina dapat bereaksi
lebih lanjut dengan senyawa karbonil menghasilkan imina baru dan dengan reduksi
menghasilkan amina baru. Sebagai contoh,

Reaksi samping ini dapat diminimalkan dengan menggunakan amoniak atau amina
primer secara berlebih.
Salah satu variasi metode yang sesuai untuk pembuatan amina tersier, yang
mana paling tidak mengandung gugus N-metil adalah memanaskan amina bersama
formaldehida dan asam format di bawah refluks (100C) (reaksi Eschweiler-Clarke).
Dengan amina sekunder, ion imonium yang merupakan spesies-antara direduksi
menjadi ion format.

202

Ketika dimulai dari primer, kondensasi dan reduksi terjadi secara berurutan.

Sebagai contoh, konversi PhCH2CH2NH2 PhCH2CH2NMe2 terjadi dengan


rendamen 80%.
Reaksi Leuckart adalah varian dari reaksi Eschweiler-Clarke di dalam mana
aldehida dan keton selain dari formaldehida dipanaskan bersama amonium format
atau formamida pada suhu 180-200C. Sebagai contoh,
Ph

Me
+

HCO2-

NH4+

180oC

Ph

Me
NH2
60%

(c) Oksim
Normalnya, pereaksi yang digunakan adalah pereaksi transfer-elektron
sebagaimana di dalam pembentukan 1-heptilamina dari oksim heptanal dan natrium
di dalam etanol dengan rendamen 60%.

Di dalam sintesis pirol dengan metode Knorr, natrium ditionit digunakan sebagai
pereaksi transfer-elektron.

203

Metode katalitik lebil efisien tetapi juga cenderung menghasilkan amina


sekunder. Sebagai contoh,

(d) Senyawa nitroso


Senyawa C-nitroso dapat dikonversi menjadi hidroksilamina melalui reduksi
elektrolitik terkontrol. Reduksi menjadi amina secara normal dilakukan dengan
pereaksi transfer-elektron. Sebagai contoh,
NH2

NO
OH

OH
N2S2O4

70%

Reaksi ini umumnya digunakan untuk memperoleh gugus amino di dalam inti
aromatik yang teraktifkan dengan kuat terhadap nukleofil, karena lebih mudah
menitrosasi senyawa-senyawa seperti itu daripada menitrasinya.
Senyawa N-nitroso direduksi dengan pereaksi transfer-elektron lembut
menjadi hidrazin tersubstitusi. Sebagai contoh, N-nitroso-N-metilanilin dengan seng
di dalam asam asetat menghasilkan N-metil-N-fenilhidrazin dengan rendamen 55%.

Agen pereduksi yang kuat akan memutuskan ikatan N-N. sebagai contoh,

204

(e) Senyawa-Azo
Senyawa-azo direduksi menjadi senyawa-hidrazo oleh litium aluminium
hidrida di dalam adanya asam Lewis. Jenis reduksi yang lebih berguna adalah reduksi
yang dilakukan oleh natrium ditinit yang dapat memutuskan ikatan N=N menjadi
amina. Sebagai contoh,

Metode alternatif di mana nitosasi yang diikuti dengan reduksi juga tersedia.

8.8 Sistem yang mengandung belerang


Reduksi katalitik senyawa yang mengandung belerang melepaskan belerang
sebagai hidrogen sulfida. Reduksi dengan mempertahankan atom belerang
memerlukan metode yang selektif, biasanya menggunakan pereaksi yang kurang
aktif.
(a) Disulfida
Seng di dalam asam asetat refluks digunakan secara normal. Sebagai contoh,
asam tiosalisilat dapat diperoleh dari asam antranilat dengan cara ini, rendamen
reaksi keseluruhan sebesar 75-80%.

205

(b) Sulfonil klorida


Asam sulfonat tidak mudah direduksi, tapi turunan kloridanya dengan mudah
direduksi menjadi asam sulfinat dan menjadi tiol. Reaksi ini mirip dengan reduksi
gugus nitro. Seng atau timah di dalam asam mineral menghasilkan gugus tiol,
sedangkan di dalam larutan netral atau alkali akan diperoleh produk-antara. Sebagai
contoh, reduksi benzenasulfonil klorida dengan seng di dalam asam sulfat
menghasilkan tiofenol dengan rendamen 96%.

Reduksi toluena-p-sulfonil klorida dengan seng di dalam larutan berair natrium


hidroksida menghasilkan natrium toluena-p-sulfinat dengan rendamen sebesar 64%.
SO2- Na+

SO2Cl
Zn - NaOH

Me

Me

8.9 Penutup
Untuk menguji prestasi mahasiswa setelah mempelajari Bab ini maka pada
Sub-bab 8.9 bagian (a) berikut ini diberikan contoh-contoh latihan yang berkaitan
dengan tujuan pembelajaran bab ini. Untuk memberikan jawaban yang benar, pada
Sub-bab 8.9 bagian (b) diberikan umpan balik di mana bagian mana mahasiswa harus
memdalami jawaban soal yang bersangkutan.
(a) Soal tes formatif
Bagaimana cara melakukan transformasi berikut ini:

206

m
m

trans 2

(b) Umpan balik


Setelah mengerjakan soal-soal latihan di atas, namun mahasiswa belum bisa
menjawab dengan benar maka disarankan untuk mengikuti instruksi berikut:
1. Untuk menjawab soal nomor 1 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.7, bagian (b).
2. Untuk menjawab soal nomor 2 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.2, bagian (b) dan Sub-bab 8.2, bagian (c) subbagian (iii).
3. Untuk menjawab soal nomor 3 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.6, bagian (a); Sub-bab 8.4 bagian (a); dan Subbab 8.2 bagian (b).
4. Untuk menjawab soal nomor 4 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.2, bagian (c) dan Sub-bab 8.6.

207

5. Untuk menjawab soal nomor 5 dengan benar, disarankan agar mahasiswa


membaca kembali Sub-bab 8.6, bagian (b), sub-bagian (iii).
6. Untuk menjawab soal nomor 6 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.4, bagian (b), sub-bagian (ii); Sub-bab 8.7,
bagian (a), Sub-bab 8.4 bagian (a).
7. Untuk menjawab soal nomor 7 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.2, bagian (b).
8. Untuk menjawab soal nomor 8 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.5, bagian (a) dan bagian (b).
9. Untuk menjawab soal nomor 9 dengan benar, disarankan agar mahasiswa
membaca kembali Sub-bab 8.4 bagian (b), sub-bagian (ii).

Daftar Pustaka
Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.

Senarai Istilah dan Artinya

Istilah

Arti

Disproporsinasi

Tahap terminasi reaksi radikal di mana dua radikal


bereaksi menghasilkan dua senyawa yang berbeda

Hidrogenolisis

Hidrogenasi yang disertai dengan peruraian

Kemoselektivitas

Selektivitas berdasarkan reaktivitas kimia

208

Daftar Pustaka

Carruthers, W. and Coldham, I., 2004, Modern Methods of Organic Synthesis, 4th
Edition, Cambridge University Press, New York
Norman, R.O.C and Coxon, J.M., 1993, Principles of Organic Synthesis, 3rd Edition,
Alden Press, Oxford
Orchin, M., Kaplan, F., Macomber, R.S, Wilson, R.M., and Zimmer, H., 1980, The
Vocabulary of Organic Chemistry, John Wiley & Sons, New York
Zweifel, G.S and Nantz, M.H, 2007, Modern Organic Synthesis: An Introduction, 1st
Edition, W.H. Freeman and Company, New York.

209