Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
GANGGUAN PROSES PIKIR:WAHAM

A.PENGERTIAN
1. Keyakinan yang salah, tidak sesuai dengan kondisi obyektif, dipertahankan

terus-menerus.( Stuart, G. W.,1998)


2. Keyakinan palsu yang tetap dipertahankan sekalipun dihadapkan cukup

bukti kekeliruannya.( Kaplan and Saddock.,2005)


3. Tidak serasi dengan latar belakang pendidikan social dan budaya.

( Maramis, 2004)
4. Waham adalah Kepercayaan yang tidak dapat diterima oleh orang lain, dari

kelas Pendidikan atau latar belakang kebudayaan yang sama, yang tidak
dapat diganti oleh pendapat logis,atau bukti yang melawan. (Stuart dan
sundeen,1998)
5. Waham adalah Keyakinan pasien yang salah, yang tidak nyata

( Keliat, B. A.,1998)
6. Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas

yang salah.( Stuart dan sundeen,1998)


7. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar

belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan

perkembangan seperti adanya penolakan,

kekerasan, tidak ada kasih

sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Keliat, B .A.,1999)


8. Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun

tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas social
(Stuart, G. W.,1998)
9. waham adalah Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai

dengan(Townsend, 1998)
10. kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang

kebudayaan. ( Maramis, 2004)

B.PROSES TERJADI NYA MASALAH


1. Factor Predisposisi
a.

Genetis : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem


saraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.

b.

Neurobiologis : Adanya gangguan pada korteks pre frontal dan


korteks limbic

c.

Neurotransmitter ; abnormalitas pada dopamine, serotonin dan


glutamat.

d.

Virus : paparan virus influensa pada trimester III

e.

Psikologis : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.

1. Teori Biologis
a.

Penelitian-penelitian telah mengindikasikan bahwa faktor-faktor


genetic yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan, suatu
kelainan kejiwaan (townsend 1998)

b.

Tampak bahwa individu-individu yang berada dalam resiko tinggi


terhadap kelainan ini adalah mereka yang mempunyai anggota

keluarga dengan kelainan yang sama. (orang tua, saudara kandung,


sanak saudara yang lain.
c.

Secara relative ada penelitian baru, yang mengatakan bahwa


skizofrenia mungkin pada kenyataannya, merupakan suatu kenyataan
sejak

lahir.

Terjadi

bahwa

hipotalamus

otak.

Pengamatan

memperlihatkan adanya suatu kekacauan dari sel-sel pyramid


didalam otak, dari orang-orang yang mengalami skizofrenia tampak
tersuruh rapi. (townsend 1998).
d.

Teori biokiomia mengatakan adanya peringatan dari dopemine


neurotransmitter,

yang diperkirakan gejala-gejala peringatan

aktivitas yang berlebihan, dan pemesahan asosiasi-asosiasi yang


umumnya diobservasi pada psikosis. ( townsend.1998).
2. Teori Psikososial
a) Teori system keluarga

Digambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan


disfungsi keluarga. Konflik di antara suami istri mempengaruhi anak,
menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas. Di mana
anak harus meninggalkan ketergantungan pada orang tua, dan masuk
ke masa dewasa, anak tidak mau akan memenuhi tugas perkembangan
masa dewasanya.

b) Teori interpersonal

Orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan sesuatu hubungan


orang tua anak yang penuh ansietas tinggi (Silliyan.1953.di dalam
townsend). Anak menerima pesan-pesan yang membingungkan dan
penuh konflik dari orang tua dan tidak mampu membentuk rasa

percaya kepada orang lain. Bila tidak ansietas yang tinggi


dipertahankan maka konsep diri anak akan mengalami ambivalen.
Suatu kemunduran psikosis memberikan tanda-tanda ansietas dan
anda rasa tidak aman dalam suatu hubungan yang inti dan akrab.
c) Teori psikodinamik

Hartman (1964), di dalam townsend (1998). menegaskan bahwa


psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah perkembangan yang
di hambat oleh suatu hubungan saling mempengaruhi antara orang tua
anak, karena ego

menjadi

lemah. Penggunaan

mekanisme

pertahanan ego pada waktu ansietas yang ekstrem menjadi suatu yang
maladaptive dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dari
segmen Td dalam kepribadian.
2. Faktor Presipitasi
a) Proses pengolahan informasi yang berlebihan.
b) Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.
c) Adanya gejala pemicu.

Rawlins mengemukakan bahwa etiologi waham secara umum dapat dilihat dari
lima dimensi yaitu : fisik, emosional, intelektual, social dan spiritual. Untuk
setiap dimensi yang menjadi focus, masing-masing memiliki beberapa hal
yang bersifat prinsip yaitu :
a. Dimensi fisik

Waham bisa disebabkan karena infeksi, gangguan metabolic, intok sikasi


alcohol dan penyakit sistemik, sedangkan waham curiga pada paranoid
bisa disebabkan karena hilangnya pendengaran seseorang.
b. Dimensi emosional

Waham terjadi karena gangguan cemas yang berlebihan, curiga yang


terlalu ekstrem dan perasaan rendah diri, bisa sebagai penyebab waham
paranoid.
c. Dimensi Intelektual

Dalam dimensi ini waham bisa disebabkan karena pertahanan fungsi ego
yang lemah, mekanisme defisiensi yang digunakan dalam menghadapi
kecemasan seperti denial dan proyesi, batas ego yang hilang
menyebabkan

ketidakmampuan

memisahkan

realita

dan

fantasi

kemunduran tingkat perkembangan (regeresi), waham bisa juga


merupakan cara klien untuk merubah kegagalan yang di alami menjadi
bayangan yang menyenangkan, pada waham menetap mungkin
disebabkan karena psikosik.

d. Dimensi social

Waham merupakan salah satu cara negative untuk beradaptasi terhadap


lingkungan, dimana tidak terpenuhinya hubungan interpersonal, control
diri, dan harga diri perasaan malu, binggung dan tanggapan negative
lingkungan terhadap kegagalan yang diatasi klien dengan penolakan juga
dapat menyebabkan timbulnya waham yang berlawanan dengan keadaan
sebenarnya.
e. Dimensi spiritual

Adanya rasa tidak puas dalam hidup, perasaan tidak berharga, kebaikan
orang lain yang disalah artikan yang menyebabkan klien menjadi
menarik diri dan tidak ada kepuasan dalam hubungan social.

3 . Patopsikologi

Pasien ini tidak memperlihatkan gangguan pikiran dan mood yang perpasif
yang ditemukan pada kondisi psikotik lain, tidak ada afek datar atau afek
tidak serasi, halusinasi yang menonjol, atau waham aneh yang nyata pasien
memilki satu atau beberapa waham, sering berupa waham kejar, dan
ketidaksetiaan dan dapat juga berbentuk waham kebesaran, somatik, atau
eretomania yang :
a. Klien terlihat eksentrik
b. Tampak aneh
c. Pencuriga dan bermusuhan.
d. Mood klien konsisten dengan waham.
e. Klien tidak punya daya titik diri.

f.

Bisa dipercaya kejujurannya

g. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,

kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara


berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
h. Klien tampak tidak mempunyai orang lain
i.

Curiga

j.

Bermusuhan

k. Merusak (diri, orang lain, lingkungan)


l.

Takut, sangat waspada

m. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas


n. Ekspresi wajah tegang
o. Mudah tersinggung
3. JENIS WAHAM
a)

Waham kebesaran

b)

Waham agama

c)

Waham paranoid

7
d)

Waham somatic

e)

Siar pikir

f)

Sisip fikir

g)

Kontol fikir

A. Tipe-Tipe kelainan waham

Tipe-tipe waham menurut townsend (1998) dibagi menjadi lima tipe utama
dan dua tipe tambahan yaitu :

1. Lima tipe utama


a. Tipe Erotomunik

Waham dimana orang lain yang biasanya berstatus lebih tinggi


mencintai pasien.
b. Tipe kebesaran

Waham peningkatan kemampuan, kekuatan, pengetahuan, identitas,


atau hubungan khusus dengan dewa.
c. Tipe cemburu

Waham bahwa pasangan seksual pasien tidak jujur.


d. Tipe kejar

Waham yang menganggap kalau dirinya diperlakukan secara dengki.


e. Tipe somatic

Waham bahwa klien memiliki sesuatu cacat fisik atau kondisi medis.
2. Dua tipe tambahan

1.Tipe campuran
Karakteristik waham salah satu atau lebih tipe diatas, tetapi tidak ada
satu tipe yang menonjol.
2.Tipe tidak ditentukan
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan pada klien dengan waham yaitu

8
a. Klien cukup puas hanya dengan membicarakan wahamnya tanpa

menunjukkan perilaku yang sesuai dengan wahamnya.

b. Klien hidup dengan wahamnya akan tetapi perilakunya tidak


terpengaruh oleh wahamnya, ini biasanya terdapat pada waham
yang menetap
c. Klien betul-betul terlibat dengan wahamnya sehingga perilakunya
sesaui dengan isi wahamnya. (waham yang sistematik).
4. PERILAKU WAHAM
1. Wahan agama : percaya bahwa seseorang menjadi kesayangan

supranatural atau alat supranatural.


2. Waham somatic : percaya adanya gangguan pada bagian tubuh.
3. Waham kebesaran : percaya memiliki kehebatan atau kekuatan luar biasa.
4. Siar fikir ; percaya bahwa fikirannya disiarkan ke dunia luar.
5. Sisip fikir : percaya ada fikiran orang lain yang masuk dalam fikirannya.
6. Kontol fikir : merasa perilakunya dikendalikan oleh fikiran orang lain
7. Waham paranoid

: kecurigaan seseorang yang berlebihan atau tidak rasional

dan tidak mempercayai orang lain, ditandai dengan waham yang sistematis
bahwa orang lain ingin menangkap atau memata-matainya.
5. GAMBARAN UMUM ASKEP DENGAN GANGGUAN ISI

PIKIR : WAHAR, PADA SKIZOPRENIA


1.Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan isi pikir : waham pada
skizoprenia

1. Dimensi fisik
a. Riwayat

Aktifitas kehidupan sehari-hari


1. Nutrisi

Nutrisi tidak adekuat pada waham kejar


2. Tidur

Adanya gangguan tidur


3. Aktifitas seksual

Mengalami distangsi / kadang berlebiha


4. Dekresi minat

Penurunan minat karena asyik memiliki wahamnya


5. Kebersihan diri

Penurunan minat kebersihan diri


6. Obat-obat dan medis

Menolak obat dan medikasi, tetapi kadang klien mau


melaksanakan program pengobatan. Program pengobatan sesuai
petunjuk karena adanya bahaya jika tidak di taati.
7. Perilaku merusak

Karena kondisi social


8. Pencobaan bunuh diri

Usaha membunuh orang lain.

9. Riwayat kesehatan

10

Penyakit skizoprenia organ sistemik, intoksikasi obat, kerusakan


otak dan kehilangan pendengar.
10. pemeriksakaan fisik

Pada waham yang berhubungan dengan somatic, klien akan


mengeluh adanya sesuatu dalam tubuhnya sesuai wahamnya.

b. Test Diagnosis :
a. EEG
b. Kimia darah
c. Interpretasi hasil pemeriksaan kognitif yang mengalami
kerusakan
4. Manifertasi Klinis
a.

menyatakan dirinya orang besar,

b.

mempunyai kekuatan pendidikan atau kekayaan yang luar biasa

c.

menyatakan perasaan di kejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok


orang

d.

mengatakan perasaan mengenai penyakit yang ada di dalam tubuhnya

e.

menarik diri dan isolasi

f.

sulit menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain

g.

rasa curiga yang berlebihan

h.

kecemasan meningkat

i.

sulit tidur

j.

ampak apatis

k.

suara monoton

l.

eksperi wajah datar

m. kadang tertawa atau menangis sendiri


n.

rasa tidak percaya pada orang lain.

11

RENTANG RESPON WAHAM


Respon

Respon

Adaptif

maladaptif

Pikiran logis
Persepsi akurat

Distorsi
pikiran

pikiran/waham

ilusi

sulit berespon

Emosi konsisten
dengan pengalaman

Gangguan

reaksi omosi

perilaku sesuai

berlebihan

berhubungan

/ kurang

sosial

emosi
perilaku kacau
isolasi sosial

perilaku
aneh/tdk biasa
menarik diri

5. Penatalaksanaan
Pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan disesuaikan dengan masalah
yang timbul pada perencanaan yang telah ditetapkan. Hendaknya

dalam pelaksaan keperawatan ini keamanan dan memperlakukan pasien


sebagai makhluk biopsikososial, cultural-spiritual oleh karena itu perlu
dijalin suatu hubungan yang terapeutik dengan pasien dan keluarga.
1. Membina hubungan saling percaya
a)

Bersikap tenang

b)

Empati terhadap klien

c)

Pertahankan kontak mata

d)

Perkenalkan diri

12
e)

Buat kontrak yang jelas dengan klien. tetapi kontrak yang telah
disepakati

f)

Dengarkan ekspresi perasaan klien

g)

Tidak mencoba menjelaskan / membantah klien

2. Identifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi


a. Diskusikan harapan-harapan klien selama ini
b. Diskusikan harapan yang tercapai dan tidak tercapai
c. Dikusikan perasaan klien tehadap harapan yang tidak tercapai

tersebut
d. Diskusikan hubungan antara perasaan kien dengan

kenyakinan(waham)klien
3.

Bantu klien mengontrol waham


a) Diskusikan perasaan takut, cemas dan marah yang dirasakan oleh

klien.

b) Diskusikan kaitan perasaan klien dengan keyakinan klien(yang

salah)
c) Diskusikan konsep fungsi keyakinan klien terhadap kehidupan

sehari-hari klien.
d) Paparkan klien pada realita sesuai kondisi lingkungan
4.

Pendidikan kesehatan keluarga


a. Jelaskan masalah waham yang dialami oleh klien
b. Jelaskan adanya kebutuhan / harapan klien yang tidak terpenuhi

sehinnga muncul waham


c. Jelaskan cara berkomunikasi verbal dan non verbal dengan klien

13
d. Jelaskan perlukan dukungan keluarga agar klien minum obat secara

teratur
5.

Jelaskan tentengan pengunaan obat


a)

Jelaskan jenis obat yang digunakan oleh klien

b)

Jelaskan manfaat masing-masing obat

c)

Jelaskan efek samping yang mungkin tejadi

d)

Jelaskan cara benar mengkomsomsi obat (5 benar)

e)

Jelaskan cara mendapat informasikan terkait dengan penggunaan


obat dan bila efek samping tejadi

6.

7.

Kendala intervensi waham


a.

menjadi cemas dan menghindari klien

b.

menguatkan wakam

c.

berupaya menjelaskan bahwa klien salah

d.

mensetting tujuan yang tidak reatistis

e.

kebingungan terhadap wahan klien

f.

gagal mengklarifikasi hal-hal yang terjadi disekitar waham klien

g.

tidak konsisten

h.

memprioritaskan waham dari pada manusianya

PRINSIP-PRINSIP TERAPI
a. Perawatan di rumah sakit.

Pada dasarnya klien dengan waham dapat di ubah dengan rawat


jalan, tetapi harus diperhitungkan perawatan di rumah sakit dengan
alasan-alasan tertentu.
b. Farmokoterapi

Keadaan klien dengan waham yang teragitasi parah perlu diberikan


obat anti psikotik secara intra muscular, klien dengan waham sering

14

berperilaku hyperaktif, obat antiseptic secara per oral diberikan


untuk menurunkan aktivitas klien yang kadang membahayakan
orang lain
c. Psikoterapi

Perawat harus membina hubungan saling percaya dengan klien


perhatian secara individu lebih efektif dari pada kelompok.
d. Teori psikodinamika

Proyeksi merupakan mekanisme pertahanan utama pada klien


dengan waham karenanya klien harus memahami kebutuhan akan
pertahanan proyeksi.

e. Terapi keluarga

Pada saat keluarga hadir, mereka dapat dilibatkan dalan rencana


pengobatan keluarga dapat diajak bicara agar kondisi klien terjaga
dan berkesinambungan.

6 . MEKANISME KOPING
Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi klien dari pengalaman yang
menakutkan berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi
1.

Regresi : berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk


mengatasi ansietas

2.

Proyeksi : sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi

3.

Menarik diri

4.

Pada keluarga : mengingkari

C . POHON MASALAH
Efek..Kerusakan komunikasi verbal
CPPerubahan proses fikir : waham

15

CausaGangguan konsep diri : harga diri rendah

D. MASALAH KEPERAWATAN
a. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
b. Perubahan proses pikir : waham
c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

E . DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan

gangguan isi fikir waham (Townsend, M)Yaitu :


a. Resiko tinggi melakukan tindak kekerasan, agresif, destritif pada diri

sendiri dan orang lain behubungan dengan isi pikir curiga terhadap
orang lain, pikiran dekusional.
b. Gangguan interaksi social behubungan dengan curiga, waham dan
rekresi.
c. Koping individu tidak efektif behubungan dengan rendah diri, disfusi
keluarga, ego kurang berkembang.
d. Perubahan persepsi sensori pendengaran, penglihatan behubungan
dengan menarik diri, factor herebiter.
e. Kerusakan komunikasi verbal behubungan dengan menarik diri,
pikiran tidak realialistis.

16

f. Kurang perawatan diri behubungan dengan ketidakmampuan


mempercayai orang lain.
g. Gangguan pola tidur behubungan dengan peningkatan kecemasan.
2.

3.

TUJUAN
1.

Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

2.

Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi

3.

Klien dapat mengontrol waham

4.

Klien mendapat keluarga untuk mengatasi wahamnya.

5.

Klien dapat minum obat sesuai program

TINDAKAN KEPERAWATAN
a.

Bina hubungan saling percaya dengan klien

b.

Diskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

c.

Bantu klien mengontrol waham

d.

Beri pendidikan kesehatan kepada keluaga untuk mengatasi waham


klien

e.

Jelaskan dan fasilitasi minum obat

F . FOKUS INTERVENSI
Perencanaan pada klien dengan gangguan isi pikir : waham pada
skizoprenia(townsend.1998)
1.

Resiko tingi tehadap kekerasan


Intervensi:
a.

Pertahankan lingkungan pada stimulus yang rendah

b.

Observasi perilaku klien

c.

Singkirkan benda-benda yang membahayakan

17
d.

Salurkan perilaku merusak diri kekegiatan fisik untuk menurunkan


kecemasan klien.

e.

Pertahankan perilaku petugas yang tenang terhadap klien, beri obat


sesuai program dokter

2.

Isolasi social sehubungan dengan kurang percaya pada orang


lain panic, regresi, waham, kesulitan interaks
Intervensi:
a)

Lakukan kontak sering tapi singka

b)

Perhatikan penguatan positif

c)

Temani klien selama aktifitas kelompok.

d)

Jujur dan menempati janji klien.

e)

Orientasi pasien pada orang, tempat, waktu sesuai kebutuhan.

f)

Diskusikan tanda peningkatan kecemasan dan tehnik memutus


respon.

g)

Berikan pengalaman penghargaan tanda disuruh pasien dapat


beinteraksi dengan orang lain.

h)
3.

Berikan obat penenang ssuai program pengobatan .

Perubahan persepsi sensori : pendengaran, penglihatan


Intervensi:
a.

Observasi klien dan tanda-tanda halusinasin.

b.

Isyaratkan pada klien sebelum menyentuh halusinasinya.

18

4.

c.

Jangan dukung halusinasi klien.

d.

Alihkan pasien dari halusinasi.

Perubahan proses pikir sehubungan dengan curiga, panic,


takut, stressberat
Intervensi :
a)

Tunjukan bahwa perawat menerima tapi tidak mendukung keyakinan


klien yang salah

b)

Gunakan teknik keraguan yang beralasan terhadap keyakinan klien

c)

Jangan membantu atau menyangkal keyakinan klien

d)

Bantu klien menghubungkan keyakinan-keyakinan yang salah


tersebut dengan peningkatan kecemasan yang dirasakan klien

e)

Dikusikan teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi


kecemasan

f)

Kaitkan klien pada realita

g)

Kurangi lamanya ingatan pada pikiran rasional

h)

Bicarakan kejadian-kejadian nyata

i)

bantu klien dalam mengungkapkan perasaan secara verbal.

19

BAB II
RESUME KEPERAWATAN

A.

PENGKAJIAN
Hari / tanggal
Jam
Oleh
Tempat
Sumber data
Metode

I.

: Kamis, 16 juli 2009


: 08.30 WIB
: Rutliana Sartika. Sinaga
: Ruang Putri, Bangsal Teratai IRNA IV
: Pasien, keluarga, tim kesehatan, dan dokumentasi
:Observasi,
wawancara,
pemeriksaan
fisik,
dokumentasi

Identitas
a. Identitas klien

Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Suku / bungsa
Pendidikan
Pekerjaan
Status
Alamat
Dx. Medis
No. RM
Tanggal masuk
b. Penanggung jawab

: Ny P
: 60 Thn
: Perempuan
: Islam
: Jawa / Indonesia
: SD
: IRT
: Janda
: Watalangkah Ambar Ketawang.Gamping
: skizofrenia paranoid DD skizofrenia tak terinci
: 01417022
: 09 juli 2009

20

Nama
Umur
Pekerjaan
Alamat
Hubungan dengan klien

II.

: Tn A
: 46 Thn
: Tukang becak
: Watalangkah Ambar Ketawang.Gamping
: Anak

Alasan masuk
1.

Factor predisposisi
a) 3 bulan sebelum masuk rumah sakit klien mengalami perubahan

tingkah laku ketakutan yaitu

seperti : takut pada orang yang

bergerombol, takut juga pada mobil yang lewat dan, klien merasa takut
kalau akan dibunuh.
b) Klien selalu menpunyai fikiran, kalau ada orang bergerombol serasa

ingin mengikuti dirinya sehingga ketakutan kalau ada mobil yang lewat,
harus dilihat dulu lewat jendela, karena ketakutan klien bertambah dan
tidak bisa tidur.
2.

Factor predisipitasi
a. Klien pernah masuk rumah sakit sardjito selama 1 bulan
b. Klien sempat ingin bunuh diri 2X dengan cara mengantukan diri dan

pernah mencoba masuk kedalam sumur.


c. Klien tidak mau minum obat secara teratur.
d. Klien sering merasa takut dengan orang yang bergerombol, dan kalau

ada mobil yang lewat.


III. DATA FOKUS

Seorang klien dengan bernama NyP, usia 60 tahun, masuk tanggal


09 juli 2009 dengan diagnose skizofrenia paranoid DD skizofrenia tak
terinci. saat dilakukan pengkajian pada tanggal 16 juli 2009, didapatkan data
sebagai berikut :

21

a) Klien mengatakan takut kalau ada mobil yang lewat.


b) Klien mengatakan kalau dia tidak disukai oleh tetangganya karena dia

dikira menjodoh-jodohkan anaknya


c) Klien mengatakan tidak ingat kalau pernah mencoba bunuh diri dengan

cara menceburkan dirinya ke sumur dan mencoba gantung diri.


d) Klien mengatakan kalau ada masalah jarang berdiskusi dengan keluarga
e) Klien memiliki riwayat ide bunuh diri
f) Klien terlihat merasa takut kalau ada orang yang bergerombol-gerombol.
g) Klien tidak mau berkomunikasi bila tidak dimulai pembicara.
h) Klien terlihat takut dengan mobil.
i) Klien lebih senang diam
j) Klien tampak tertutup
k) Klien Saat ditanya tentang masalah klien, klien tidak mau bercerita
4. Pemeriksaan fisik
a. Tanda vital

TD

: 110 / 80 mmHg

: 80 x/ menit

: 36 o C

: 20 x/ menit

b. Status gizi

5.

TB

: 158 CM

BB

: 46 Kg

Terapi pengobatan
1. Haloperidol 2 X 1,5 mg

22
2. Trihexyphenidil (THP) 2 X 2mg
6.

Aspek medis
1. Axis I

: F. 20.

2. Axis II

:-

3. Axis III : 4. Axis IV : tidak jelek


5. Axis V
IV.

: Jelek

PENGELOMPOKAN DATA
a. Data subjektif
1. Klien mengatakan takut kalau ada mobil yang lewat
2. Klien mengatakan kalau dia tidak disukai oleh tetangganya karena dia

dikira menjodoh-jodohkan anaknya


3. Klien mengatakan tidak ingat kalau pernah mencoba bunuh diri

dengan cara menceburkan dirinya ke sumur dan mencoba gantung


diri.
4. Klien mengatakan kalau ada masalah jarang berdiskusi dengan

keluarga
b. Data objektif
1. Klien memiliki riwayat ide bunuh diri
2. Klien terlihat merasa takut kalau ada orang yang bergerombol-

gerombol.

3. Klien tidak mau berkomunikasi bila tidak dimulai pembicara.


4. Klien terlihat takut dengan mobil.
5. Klien lebih senang diam
6. Klien tampak tertutup
7. Klien Saat ditanya tentang masalah klien, klien tidak mau bercerita

23

ANALISA DATA
NO
1.

DATA

PROBLEM

DS :
Gangguan proses pikir : waham
a. Klien mengatakan takut kalau ada mobil yang
lewat
DO :
a. Klien terlihat merasa takut kala ada orang yang
bergerombol-gerombol.
b. Klien terlihat takut dengan mobil.

2.

DS :
Resiko bunu diri
a. Klien mengatakan tidak ingat kalau pernah
mencoba bunuh diri dengan cara menceburkan

24

dirinya ke sumur dan mencoba gantung diri.


DO :
a. Klien memiliki riwayat ide bunuh diri.
3.

DS :
Koping individu tidak efektif :
a. Klien mengatakan kalau ada masalah jarang
Percaya diri tidak adekuat dalam
berdiskusi dengan keluarga.
b. Klien mengatakan kalaudia tidakdisukai olehkemampuan koping.
tetangganya karena dia dikira menjojoh-jojohkan
anaknya
DO :
a. Klien tidak mau berkomunikasi bila tidak dimulai
pembicara.
b. Klien lebih senang diam
c. Klien tampak tertutup.
d. Klien Saat ditanya tentang masalah klien, klien
tidak mau bercerita

MASALAH KEPERAWATAN
1.

Gangguan proses pikir : waham curiga

2. Resiko bunuh diri


3. Koping individu tidak efektif : Percaya diri tidak adekuat dalam

kemampuan koping.

POHON MASALAH
Efek---------------Resiko bunih diri

Cord problem---------Gangguan proses pikir :


waham curiga

Causa-----------Koping individu tidak efektif


ketidakadekuatan percaya diri dalam kemampuan koping

25

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko Bunuh diri berhubungan dengan gangguan proses pikir : waham curiga
2. Gangguan proses pikir : waham curiga berhubungan dengan Koping individu

tidak efektif
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan percaya

diri dalam kemampuan koping.