Anda di halaman 1dari 6

Asal-muasal Zionisme Modern

Minggu, 15 November 2009 17:28

Sabbatai Zevi dalam abad ke-17, ia mengklaim


dirinya sebagai juru selamat Yahudi yang
dijanjikan
Ideologi Zionisme Modern berakar pada
pemikiran seorang Yahudi Mesiah palsu bernama
Sabbatai Zevi dalam abad ke-17, ia mengklaim
dirinya sebagai juru selamat Yahudi yang
dijanjikan, ia datang untuk mendirikan kerajaan
Yahudi di tanah yang dijanjikan di Palestina.
Zevi adalah seorang tokoh yang sangat
kontroversial, dia tidak hanya menolak Talmud
tetapi memerintahkan untuk melakukan apa yang
bertentangan dengan perintah Tuhan di dalam
Talmud. “Dosa” dan “kesalahan” tidak ada lagi
dan segala sesuatu serta apa pun diperbolehkan,
perintah-perintah Tuhan di dalam Taurat sekarang
dibatalkan, karena neurut Zvi, zaman mesiah telah
tiba dan dialah orangnya yang akan melakukan
penyelamatan terhadap mereka.

Sebagaimana ditulis oleh Jerry Rabow dalam


bukunya berjudul “50 Jewish Messias” diterbitkan oleh Gefen di Jerusalem, (sumber Barry
Chamish): “Melalui semua ini, Shabbatai Zevi terus mengeluarkan pernyataan mengenai
perubahan teologis yang dilakukannya sehubungan dengan kedatangan zaman messiah.
Kebaktian baru Shabbatai adalah, ‘Pujian kepada-Nya yang membolehkan yang terlarang.”
Ketika segala sesuatu akan diizinkan pada zaman messiah, Shabbatai mengumumkan bahwa
banyak dari pembatasan-pembatasan sebelumnya dalam Taurat tidak lagi diterapkan lagi. Dia
menghapuskan hukum mengenai hubungan seksual. Dia secepatnya mengumumkan bahwa
sejumlah tigapuluh enam jenis dosa utama yang dimuat dalam kitab Bibel saat ini diizinkan dan
memerintahkan sebagian dari pengikut-pengikutnya bahwa adalah tugas mereka untuk
melakukan beberapa dosa dalam rangka untuk mempercepat penyelamatan “

Zevi atau Zvi adalah seorang kabbalis dan okultis yang menipu sebagian besar Yahudi pada
waktu itu dan yang datang kemudian. Dia dilahirkan pada tanggal 9 Agustus 1626, di Smyrna,
Turki. Pada tahun 1666 dia pindah agama dan memeluk Islam bersama-sama dengan sebagian
dari pengikut-pengikutnya dan mengganti namanya dengan Aziz Mehemet.
Sebagian besar Yahudi dikecewakan dengan tindakannya ini, akan tetapi dia mengatakan kepada
mereka bahwa dia harus menjadi Muslim dalam rangka untuk memurtadkan orang-orang Muslim
mengajaknya kedalam agama Yahudi, namun sebaliknya, kepada Sultan dan orang-orang Turki
menceritakan bahwa dia harus tetap melakukan hubungan yang erat dengan Yahudi dalam
rangka untuk memurtadkan Yahudi dan mengajaknya masuk kedalam agama Islam. Dengan
demikian Zevi bebas untuk pergi kemanapun dan melakukan apapun yang ia sukainya.
Shabbatai Zvi, Nathan Ghazzati sang nabi dan Jacob Frank

Perihal Zevi diungkapkan kepada orang-orang Turki oleh mesiah Yahudi lain dari Polandia. Zevi
menyatakan kepada mesiah dari Polandia mengenai nubuwatan yang diberikan oleh orang
kepercayaannya, Nathan Ghazzati sang nabi, bahwa Zevi ditakdirkan untuk menjadi penguasa
Kekaisaran Ottoman. Akibatnya, Zevi diasingkan ke sebuah desa kecil di Albania dimana disana
ia mati. Akan tetapi para pengikut Shabbatai sungguh kemudian menjadi penguasa sebenarnya di
Turki modern, sekalipun hanya melalui cara halus yang tidak nampak.

Pengaruh Zevi di antara Yahudi tidak hilang dengan kematiannya, banyak orang Yahudi
mempercayai si jago tipu-muslihat ini yang menghalalkan tipu-daya sebagai sebuah cara untuk
mencapai tujuannya. Kemudian. seorang rabbi ekstrem bernama Rebbe Berechiah menggantikan
peran Zevi dan mengambil-alih gerakan Shabbataisme.

Barry Chamish dalam sebuah artikelnya berjudul “Deutsch Devils,” (Desember 31, 2003), dalam
situsnya (barryChamish.com) mengatakan bahwa “para pengikut Shabbatai melanjutkan
kehidupan kelompok mereka dengan sembunyi-sembunyi di dalam sebuah sekte Donmeh di
Turki, kegiatan mereka berlanjut sampai dengan hari ini, sebagaimana dilaporkan secara
ekstensif pada tahun ini, bahkan dilaporkan pula oleh the Jerusalem Post. Salah seorang pengikut
Donmeh adalah Jacob Frank (1726-1726), yang akan mentransformasikan Eropa dan dunia ke
dalam sebuah neraka Shabbataian, setidaknya setelah satu abad kemudian.”

Jakob Frank kemudian menggantikan Rebbe Berechiah dan dalam abad kedelapan belas
membawa ideologi Donmeh ke Eropa. Dia membuat sebuah persekutuan di dekat Frankfurt,
Jerman, dengan seorang Jesuit bernama Adam Weishaupt dan kerajaan Rothschild. (Adam
Weishaupt adalah pendiri Illuminati dan perampas kekuasaan atas loji-loji Freemasonic di
seluruh dunia, khususnya loji-loji di Inggris serta Scotlandia).

Barry Chamish, di dalam artikel tersebut di atas, ia mengutip ucapan Rabbi Antelman yang
menjelaskan didalam bukunya ” To Eliminate the Opiate: ” bahwa “Sebuah gerakan yang
sepenuhnya pengikut setan saat ini sedang memegang peran”. Tujuan Jesuit adalah
menghancurkan agama Reformasi Protestan yang mendorong dikembalikannya kedudukan
seorang paus yang diberikan kewenangan penuh untuk menghakimi terhadap seluruh umat
manusia.
Sedangkan tujuan keluarga Rothschild adalah untuk melakukan kontrol terhadap kekayaan
dunia. Sementara visi Frankist adalah membinasakan etika Yahudi untuk menggantikannya
dengan sebuah agama yang benar-benar bertentangan dengan kehendak Tuhan atau [Setanisme
kelas atas]. Ketika fraksi ini bersatu, meletuslah peperangan demi peperangan berdarah melawan
kemanusiaan, dengan Yahudi di garis terdepan”

Dalam sebuah buku berjudul “The Messianic Idea in Judaism” ditulis oleh profesor Yahudi
Gershon Scholem (edisi 1971, halaman 126) pengarang menulis tentang Jacob Frank sbb:
“Dalam semua tindakannya [Jacob Frank] bertindak sebagai seorang yang sungguh-sungguh
sangat jahat dan merosotkan moral dan etika individu” dan sebagai “salah satu dari fenomena
yang paling menakutkan dalam keseluruhan sejarah Yahudi.”

ImageJacob Frank menganggap dirinya sebagai seorang messiah. Dia mengaku sebagai titisan
dari kepala keluarga Yahudi, Jacob. Dia memerintahkan kepada k.l. 13,000 orang pengikut-
pengikutnya untuk berpura-pura memeluk agama Katholik dan melakukan infiltrasi di dalam
gereja Katholik. Dia menunjuk Katholik sebagai “Esau,” saudara Jacob menurut kitab Bibel,
sementara dia dan para pengikut-pengikutnya mengaku sebagai bagian dari Jacob menurut kitab
Bibel.
Kepada pemeluk agama Kristen Katholik dia menceritakan bahwa sudah waktunya untuk
melakukan sebuah rekonsiliasi antara “Jacob” dan “Esau.” Sementara itu dia mengatakan kepada
para pengikut-pengikutnya secara rahasia, bahwa mereka berperan sebagai Jacob yang menipu
Esau sebagaimana dalam cerita Alkitab, sehingga melalui cara penipuan ini, kata Jacob, kita
akan mendirikan sebuah kerajaan Yahudi yang anti-kristus di wilayah Palestina.

Rabow, dalam bukunya pada halaman 130 menyebutkan bahwa: “para pengikut Frankis juga
melibatkan diri dalam berbagai intrik politik internasional, dan mengirimkan utusan rahasia
kepada pemerintah Russia serta Gereja Ortodoks Ketimuran menawarkan untuk membantu
menggulingkan pemerintah Polandia serta Gereja Katholik.”

Jerry Rabow menggambarkannya lebih rinci dalam bukunya “50 Jewish Messiahs” (sumber
Barry): “Dia [Frank] memperluas pengajaran paradoks Shabbatai Zevi bahwa dengan datangnya
zaman messiah telah terjadi transformasi Alkitab mengenai larangan hubungan seksual menjadi
dibolehkan dan bahkan merupakan sebuah kewajiban. Menurut Frank, melibatkan diri kedalam
sebuah pesta-pora seks sekarang menjadi cara atau jalan untuk melakukan pensucian jiwa dari
dosa-dosa.
Penyelewengan susila menjadi sebuah terapi … Frank meyakinkan para pengikut-pengikutnya
bahwa hanya ada satu jalan bagi agama Yahudi yang mereka yakini untuk tetap bertahan adalah
dengan cara berpura-pura secara lahiriah memeluk agama Kristen, sebagaimana dilakukan oleh
Yahudi Donmeh, berpura-pura memeluk agama Islam.

Dalam bulan Pebruari 1759, para pengikut Frank menyatakan kepada Gereja Katholik bahwa
mereka siap untuk di baptis.”

Pada halaman 121 buku Rabow, disebutkan bahwa: “Donmeh sekarang telah merubah
Shabbatain Purim ke dalam sebuah pesta-pora seks tahunan, ketika para anggotanya saling
bertukar pasangan dalam sebuah upacara yang disebutnya sebagai ‘memadamkan cahaya
-extenguishing the lights.’ Donmeh menjustifikasi pesta pora seks Purim, dan mereka juga secara
reguler mempraktekan aktivitas hubungan seks lainnya dengan saling bertukar pasangan istri-
suami dengan memuji keteladan kitab Bibel

The Jewish Encyclopedias mendefinisikan Donmeh sebagai “sebuah kata Turki untuk ‘orang
murtad’ dan mengacu kepada Yahudi dari Timur Dekat pengikut Sabbatai Zevi yang memeluk
agama Islam pada tahun 1666, tetapi dengan diam-diam mereka masih mempraktekan ajaran dan
upacara agama Yahudi, menyembah Sabbatai sebagai Mesiah dan titisan Tuhan.”

Peneliti lain mengatakan bahwa: “Sikap Yahudi Donmeh kepada publik Turki memperlihatkan
kasih sayang yang besar kepada Islam, akan tetapi di kalangan mereka, seluruhnya menolak
Islam bahkan meremehkannya.” Tidak perlu dikatakan lagi bahwa di Kekaisaran Ottoman
mereka juga secara diam-diam dan bahkan lebih membenci serta meremehkan agama Kristen.
Sama seperti yang dilakukan oleh “Turki” Donmeh yang berkuasa di Turki sewaktu Perang
Dunai I ketika terjadi Genosida atas suku bangsa Armenia. Mereka adalah para penguasa
Kekaisaran Ottoman dan merekalah yang melaksanakan serta memberikan perintah untuk
melakukan pembantaian — dengan cara paling kejam yang tidak pernah terpikirkan dalam benak
manusia sesuai dengan rencana yang telah mereka buat untuk membantai — hampir semua
penduduk Kristen di Asia Kecil: Satu Setengah Juta orang Armenia, setengah juta orang Yunani
dan Yunani Pontian serta setengah juta orang Asyria dan Caldean.

Pengarang Turki, Mevlan Z. Rifat, mengacu pada sekte Donmeh dan dikatakannya sebagai
“sebuah sekte sinkretis Yahudi-Muslim,” yang ditulis dalam bukunya berjudul “Inner Folds of
the Ottoman Revolution” 1929.– “Genosida bangsa Armenia diputuskan pada bulan Agustus
1910 dan Oktober 1911 oleh seorang anggota Komite Turki Muda, dimana keseluruhan anggota
komite adalah Yahudi Balkan dalam bentuk sekte sinkretis Yahudi-Muslim, termasuk di
dalamnya adalah Tallat, Enver, Behaeddin Shakir, Jemal dan Nazim, mereka bergaya dan
bersikap seperti orang-orang Muslim.
Hal itu sesuai dengan loji Grant Orient yang didanai oleh Rothschild di Yunani Salonika. Oleh
karena itu tidaklah heran infrastrukturnya disusun dalam bulan Agustus 1914 di Erzerum untuk
merencanakan Pembantaian Besar-besaran – Great Massacres, hampir tiga bulan sebelum Turki
terlibat ke dalam Perang Besar. Selama Perang Dunia I, Yahudi menduduki posisi-posisi penting
dalam pemerintahan Turki yang belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya, termasuk
anggota sekte sinkretis Yahudi-Muslim adalah tiga orang presiden Turki, yaitu Ataturk, Inonu,
dan Bayar.” Tidak diketahui apakah buku karangan Rifat tersedia terjemahannya dalam bahasa
Inggris atau tidak, namun buku itu sudah diterjemahkan kedalam bahasa Armenia pada tahun
1939.

Seorang ilmuwan Yahudi bernama Avrum M. Ehrlick, menulis buku dengan judul “Sabbatean
Messianism As Proto-Secularism” (sumber, tulisan Berry, Kerry, Gaza and the New Sabbatean
Holocaust): “Dr Nazim, Nuzhet Faik, Mustafa Arif, Muslihiddin Adil, Sukru Bleda, Halide Edip
Adivar dan Ahmet Emin Yalman mereka semuanya aktif di dalam gerakan Turki Muda serta
berasal dari keluarga Yahudi Donmeh.

Mehmet Kapanci (1839-1924) seorang walikota Salonica dan pemilik bank terkenal yang
membiayai C.U.P [beberapa orang Armenia adalah anggota mason dan bagian dari the
Committee of the Union and Progress Party sebelum terjadinya Genosida] dan berasal dari
Yahudi Donmeh.
Yahudi lainnya yang aktif di dalam gerakan Turki Muda adalah Nissim Mazliah dari Izmir dan
Vitali Faradji, Moise Cohen (juga dijuluki Munis Tekinalp) adalah Yahudi yang aktif dan pernah
menjadi mahasiswa kerabbian kemudian beralih menjadi pebisnis serta dengan aktif menyatakan
kebanggaan identitasnya sebagai seorang Turki dengan sentimen/perasaan Zionis … Adalah
aneh bahwa Perdana Menteri Israel pertama dan kedua, yaitu David Ben Gurion dan Moshe
Sharett serta Presiden kedua Israel Yitzchak Ben Zvi pernah tinggal serta belajar di Istambul dan
memeluk konsep ‘lehitatmen’, yang dalam bahasa Ibrani artinya adalah ‘untuk menjadi seorang
Ottoman’. Ben Zvi dikatakan orang sebagai keturunan dari keluarga Sabbatean. Sharett bertugas
pada angkatan darat Ottoman dalam Perang Dunia I.
Ben Gurion pindah kewarganegaraan Russia menjadi warganegara Ottoman, mereka takut
melakukannya di Palestina. Presiden Israel Ben Zevi, Zalman Shazar dan status yang lebih
rendah lainnya seperti Yitzchak Navon, mereka menjadi mahasiswa Ottomanism. Mehmet Cavit
Bey (1875-1926) adalah salah seorang tokoh politik Yahudi Donmeh yang paling penting. Dia
aktif dalam revolusi pada tahun 1908, ia juga sebagai seorang editor sukses sebuah tabloid dan
profesor keuangan serta pernah menjadi Menteri Keuangan selama tiga periode dalam
pemerintahan Turki Modern sampai dieksekusi karena diduga keras berperan dalam usaha
pembunuhan Ataturk. Cavit Bey adalah seorang Zionis yang paling bersemangat yang dapat
melihat keuntungan-keuntungan bagi Turki di pemukiman Yahudi di Palestina.”

Kemal AttaturkAvrum Ehrlich menguraikan secara terperinci dalam bukunya yang sama :
“Tingkat keterlibatan Yahudi dalam revolusi gerakan Turki Muda diperdebatkan, beberapa
membantah bahwa Yahudi dan Yahudi Donmeh mendominasi the Committee of the Union and
Progress Party (C.U.P) yang menguasai Negara. Yang lainnya berpendapat bahwa hal ini adalah
retorika anti-Yahudi dan terlalu melebih-lebihkan, sementara itu Yahudi mendukung revolusi di
tingkat lapisan bawah, mereka tidak benar-benar terwakili di eselon partai.
Menurut diplomat Inggris yang melaporkan kepada pemerintahnya menjelaskan bahwa ada
sebuah komplotan konspirasi Yahudi-Masonik yang bekerja menguntungkan revolusi. Donmeh
dipercaya sama-sama terlibat dalam revolusi, akan tetapi detilnya yang pasti sedikit diketahui
karena sejumlah alasan-alasan … Adalah melalui loji Masonik-lah bahwa Donmeh, Yahudi dan
Bektashi serta kaum sekuler, mereka yang kurang diterima dalam lingkungan mainstream
masyarakat, namun kemudian mereka mampu mendapatkan pijakan yang sejajar, dan banyak
dari mereka menjadi instrumen penting dari revolusi. … Dalam hubungan ini, benar atau
tidaknya, terdapat kecurigaan bahwa Masonry bertanggungjawab atas hasutan dan aktivitas-
aktivitasnya yang bersifat subversif, memang Turki waktu itu merupakan tempat yang sesuai
untuk sebuah revolusi, menyediakan loji dan personilnya, kerahasiaan serta kerangka untuk
revolusi.
Donmeh tumbuh subur di lingkungan Masonik, membiarkan mereka secara rahasia maupun
untuk mempengaruhi, memelihara ide-ide religius mereka dalam sebuah atmosfir yang non-
dogmatis. Menghilangkan perbedaan antara Yahudi dan orang-orang Muslim, mereka tampak
merepresentasikan kepuasan yang dikompromikan dari sebuah revolusi sekuler Turki Muda.
Sampai hari ini Donmeh terlibat dalam Loji-loji Masonik Turki.”

Barry Chamish percaya bahwa Genosida Bangsa Armenia adalah sebuah pengulangan Holokos
Yahudi. Berry adalah mantan seorang anggota militer Israel dan beralih profesi menjadi seorang
wartawan investigasi, ia sudah memberikan peringatan kepada sesama orang Yahudi mengenai
akan terjadinya sebuah Holokos Kedua Yahudi yang waktunya sesuai dengan yang direncanakan
Israel. Saat ini bangsa-bangsa Arab dan orang-orang Muslim memainkan peran Nazi Jerman
sewaktu Perang Dunia II.

Penelitian Barry menyampaikannya kepada fakta, bahwa baik para perencana maupun penghasut
Genosida bangsa Armenia dalam Perang Dunia II itu pada dasarnya sama dengan perencana dan
penghasut Holokos Yahudi pada waktu Perang Dunia II, dan mereka sedang merencanakan
holokos Yahudi lainnya saat terjadi Perang Dunia III, yang direncanakan disulut di Timur
Tengah.

Jangan menuduh pengarang artikel ini sebagai seorang anti-Semit, dia akan menjadi orang
pertama yang datang untuk membantu setiap orang Yahudi yang hidupnya dalam keadaan
bahaya. Juga, dia bukan seorang pembenci, hatinya penuh dengan cinta-kasih terhadap sesama.
Dia juga bukan seorang pendusta, dia tidak akan melakukan kedustaan dengan sengaja; sekarang
dia seorang tua yang ayahnya termasuk salah seorang yang selamat dari Genosida bangsa
Armenia 90 tahun lalu dan dia sedang berusaha untuk menemukan fakta apa yang sebenarnya
terjadi, karena keadilan di muka bumi ini belum menyentuh terhadap Genosida Armenia dan
isunya tidak pernah akan mati. Tidak bisa disapu di bawah permadani sebagaimana dilakukan
oleh Turki dan sekutu mereka sedang berusaha untuk melakukan hal yang sama.

Sebagaimana dikatakan oleh President Putin sewaktu melakukan kunjungan pertamanya ke


Israel: “Dalam abad ke-21, di masa mendatang tidak ada lagi tempat untuk penyakit xenophobia
– benci pada asing, anti-Semitisme atau bentuk-bentuk lain daripada ketidak-toleranan rasial atau
religius. Hal ini bukan hanya merupakan hutang kita kepada jutaan yang mati di dalam kamar-
kamar gas [dan dapat saya tambahkan, dalam medan pembunuhan Armenia yang bersejarah],
adalah tugas kita untuk generasi yang akan datang.”(konspirasi/sbl)

The Origins Of Modern Zionism


http://www.sabili.co.id