Anda di halaman 1dari 35

BAB IV

PEREKAHAN HIDROLIK

4.1. Geometri Perekahan


Model geometri dari perekahan hidrolik perlu dilakukan dengan
mengetahui berapa hasil produksi, material yang diperlukan, tekanan, fluid loss,
dan lain-lain. Model dibuat berdasarkan mekanika batuan, sifat-sifat fluida
perekah, seperti kondisi injeksi fluida (viskositas, laju injeksi, tekanan) dan stressstress di batuan. Namun sebelum membahas lebih mendetail tentang model
geometri suatu rekahan maka perlu diketahui tentang orientasi rekahan.
4.1.1. Orientasi Rekahan
Orientasi rekahan merupakan hal-hal yang perlu diketahui sebelum dibuat
suatu perencanaan yang menyeluruh dari suatu proyek perekahan.
4.1.1.1. Pemilihan Sumur-sumur untuk Pelaksanaan Perekahan Hidrolik.
Ada beberapa kriteria untuk menentukan suatu sumur yang cocok untuk
dilakukan perekahan hidrolik, yakni sebagai berikut :
1.

Karena tujuannya untuk menaikkan produksi, maka tentunya sebelum


dilakukan pekerjaan perekahan, pada sumur tersebut harus diketahui terlebih
dahulu apakah volume hidrokarbon (volume minyak atau gas) dalam lapisan
tersebut masih cukup ekonomis untuk distimulasi dengan cara perekahan.

2.

Apakah sumur tersebut masih mempunyai tekanan yang cukup untuk


mengalirkan fluida dari reservoir ke dalam rekahan kemudian masuk ke
lubang bor. Keterangan ini bisa diperoleh dari hasil tes tekanan yang
dilakukan pada saat awal mula sumur dikomplesi, yakni dari hasil DST (Drill
Steam Test) atau uji PBU (Pressure Build-up Test). Kedua jenis tes tersebut
dapat juga dilakukan terhadap sumur-sumur tua, untuk menentukan seberapa
besar tenaga pendorong yang tersedia, permeabilitas zona produktif, dan
pemeabilitas sekitar lubang bor.

3.

Sumur yang diproduksikan dari lapisan yang mempunyai permeabilitas


rendah adalah tepat untuk distimulasi dengan cara perekahan hidrolik. Suatu
sumur yang diproduksikan dari lapisan yang mempunyai permeabilitas rendah
tidak akan memberikan produksi yang cukup ekonomis, karena aliran
fluidanya terhambat, sehingga kehilangan tekanan sebelum minyak masuk ke
dalam lubang bor cukup besar. Perekahan akan memperbesar atau membuka
jalan baru bagi minyak untuk bisa lebih mudah mengalir menuju ke lubang
bor.

4.

Perekahan juga baik untuk dilakukan pada sumur yang diproduksi dari
lapisan dengan kadar lempung yang tinggi, atau lapisan tercemar oleh filtrat
lumpur pemboran, walaupun lapisan tersebut sebetulnya mempunyai
permeabilitas yang cukup besar. Jika kerusakan yang terjadi begitu parah dan
masuk ke dalam lapisan yang jauh dari lubang bor, stimulasi dengan
pengasaman atau surfaktan untuk membersihkan lapisan mungkin tidak
memperoleh hasil yang memuaskan. Perekahan perlu dilakukan pada lapisan
yang mengalami kerusakan tersebut.

5.

Sumur yang diproduksi dari lapisan yang telah memiliki rekahan-rekahan


alamiah akan bisa memberikan tambahan jumlah perolehan hidrokarbon bila
dilakukan stimulasi dengan cara perekahan hidrolik. Perekahan ini akan
menghubungkan rekahan-rekahan alamiah yang telah ada, sehingga ada
tambahan kapasitas aliran dari formasi menuju ke lubang sumur, dengan
demikian produksinya dapat diharapkan akan bertambah.

6.

Perekahan tidak hanya dilakukan pada sumur produksi, tetapi juga pada
sumur injeksi atau sumur pembuangan (disposal well).

4.2.1.2. Tekanan Perekahan


Dalam pelaksanaan perekahan hidrolik, pertama-tama perlu dilakukan
orientasi secara menyeluruh tentang rekahan yang akan dibuat. Masalah pertama
adalah model rekahan yang akan dibuat tersebut apakah rekahan horizontal
ataukah vertikal. Biasanya perekahan horizontal memang dilakukan namun bila
berhadapan dengan dengan formasi yang cukup dalam maka yang dilakukan

adalah perekahan vertikal, dan jenis perekahan inilah yang biasanya dilakukan.
Tekanan dasar sumur (Bottom Hole Pressure) merupakan variabel yang dapat
dipakai untuk membedakan antara perekahan horizontal ataukah vertikal. Tekanan
dasar sumur (BHP) diukur selama proses perekahan berlangsung.
Dalam perekahan hidrolik, tekanan awal yang diberikan harus cukup untuk
menghancurkan atau merekahkan suatu formasi dan seterusnya harus mampu
mengembangkan rekahan yang telah ada tersebut. Pertama kali suatu rekahan
dibentuk, fluida di dalamnya akan berfungsi sebagai pendesak, memberikan gaya
pada rekahan agar dapat terus berkembang. Suatu rekahan akan lebih mudah
dilakukan dengan menggunakan fluida penetrasi (fluida perekah) berviskositas
rendah daripada

fluida non-penetrasi berviskositas tinggi. Perilaku tekanan

selama perekahan dilakukan ditunjukkan oleh Gambar 4.1.

Gambar 4.1.
Perilaku Ideal dari Tekanan Selama Proses Perekahan19)
Dari gambar, terlihat bahwa laju fluida injeksi adalah konstan, kecuali
untuk situasi tertentu di mana aliran fluida dihentikan guna pengukuran tekanan

penutupan sesaat (instantaneous shur-in). Dari gambar juga dapat dilihat plot
antara tekanan dasar sumur

versus waktu dari awal fluida diinjeksi sampai

dengan selesai. Di sini tekanan permukaan sudah tentu berbeda dengan tekanan di
dasar sumur karena adanya pengaruh berat fluida serta adanya kehilangan friksi di
dalam lubang bor. Bagian-bagian dari kurva yang ditunjukkan oleh Gambar 4.1.
menjelaskan tahap-tahap dari tekanan yang diberikan.

Tekanan rekah (breakdown pressure), adalah tekanan yang diperlukan


untuk menghancurkan formasi pada permulaan proses perekahan.

Tekanan pengembangan (Propagation Pressure), adalah tekanan yang


diperlukan untuk membuat rekahan terus berkembang atau semakin
bertambah luas.

Tekanan penutupan sesaat (Instantaneous Shut-in Pressure), adalah


tekanan yang diperlukan untuk menahan

pembukaan dari rekahan

yang telah dibuat.


Tekanan penutupan sesaat yang diukur dengan cara menghentikan aliran
fluida, bergantung pada lebar rekahan dan juga tekanan yang ada di sekitar
rekahan. Bila fluida yang diinjeksi berada dalam volume yang besar karena
keinginan untuk membuat rekahan yang lebih lebar, maka dalam pengukurannya
akan diperoleh tekanan penutupan sesaat yang besar pula. Sedangkan bila kita
ingin mengetahui adanya pengaruh dari tegangan tektonik (tectonic stress) pada
suatu formasi yang akan direkahkan, maka tekanan penutupan harus diukur
setelah diinjeksikan sejumlah fluida berviskositas rendah (dalam jumlah yang
sedikit). Hal ini karena pada kondisi tersebut di atas, tekanan injeksi fluida belum
banyak berpengaruh terhadap melebarnya rekahan. Besarnya tekanan injeksi
fluida tersebut biasanya kurang dari 3000 Kpa19).
Setelah tekanan penutupan dilakukan, karena pengaruh stress yang ada
dalam bumi maka mengakibatkan fluida perekah akan menempel pada dinding
rekahan sampai rekahan tersebut menutup kembali. Dan selanjutnya pada saat
dinding rekahan mulai menutup dan karena adanya pengaruh dari stress bumi dan

juga adanya kebocoran fluida, sehingga mengakibatkan tekanan turun dengan


sendirinya.
Di sini perlu diketahui bahwa perilaku tekanan seperti yang diperlihatkan
pada Gambar 4.1. adalah sangat ideal karena dalam prakteknya mungkin tidak
demikian. Sebagai contoh, bila pada suatu formasi yang sebelumnya telah
dilakukan perekahan, maka mungkin tidak akan ada perbedaan antara besar
tekanan rekah dengan tekanan pengembangan.. Dan bila suatu reservoir memiliki
tekanan yang sangat rendah, sumur akan terus membuka pada saat rekahan
menutup sehingga tekanan statis reservoir tidak akan bisa diukur di permukaan.
Bila ISIP adalah tekanan penutupan sesaat yang diukur di permukaan dan
BISIP adalah tekanan penutupan dasar sumur, maka :

BISIP ISIP gD ..................................................................(4-1)

di mana D adalah kedalaman formasi. Persamaan di atas adalah tepat karena


ketika aliran fluida dihentikan maka tekanan friksi akan turun atau berkurang.
Sedangkan gradien rekah (FG) akan diperoleh dengan membagi tekanan
dasar sumur dengan kedalaman. Secara sistematis dapat ditulis :

FG BISIP / D ..........................................................................(4-2)

4.2.1.3. Perekahan Vertikal atau Horizontal


Gambar 4.2 (a), (b), dan (c) memperlihatkan data tekanan perekahan
yakni data tekanan rekah dan data tekanan pengembangan di mana tekanan yang
diperlukan untuk menghancurkan formasi akan lebih besar daripada tekanan untuk
mengembangkan rekahan. Data tersebut diambil dari daerah Texas-Lousiana Gulf
Coast yang memiliki gradien tekanan rekahnya berkisar dari 17,9 kPa/m (0,8
psi/ft) sampai 19,0 kPa/m dimana gradien tekanan rekah untuk kedalaman lebih

dari 1800 m berkisar antara 15,6 16,7 kPa/m (0,69 0,74 psi/ft). Hal ini berarti
ada penambahan tekanan dari data yang ada yakni sebesar 2,2 KPa/m.
Tekanan overburden yang normal berkisar antara 22,3 24,6 kPa/m (0,99
1,08 psi/ft). Bila gradien rekah lebih kecil dari nilai tersebut maka suatu formasi
akan lebih mudah untuk dipisahkan atau dibagi daripada diangkat sehingga yang
akan terbentuk adalah perekahan vertikal. Kurva gradien rekah menunjukkan
bahwa untuk reservoir dengan kedalaman lebih dari dari 600 m akan memiliki
gradien rekah kurang dari 22,3 kPa/m sehingga yang terbentuk adalah rekahan
vertikal. Untuk reservoir yang dangkal, gradien rekahan akan lebih besar dari 24,6
kPa/m sehingga yang terbentuk adalah rekahan vertikal.
Prinsip

paling mendasar yang menentukan dalam pembuatan suatu

rekahan adalah pembukaan rekahan dan melebarkannya seperti yang ditunjukkan


oleh Gambar 4.3. Retakan pada gambar adalah tegak lurus terhadap x

yang

merupakan stress terkecil dari ketiga stress utama yang diberikan pada batuan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rekahan akan terbentuk ke arah
stress utama yang paling kecil di sepanjang bidang normal. Pada Gambar 4.2.
telah diketahui bahwa gradien rekah bernilai lebih kecil dari tekanan overburden
(untuk formasi yang dalam) sehingga yang terbentuk adalah rekahan vertikal
dengan catatan bahwa stress horizontal lebih kecil dari stress vertical.
Keadaan stress di bawah permukaan adalah fungsi kompleks dari
kedalaman dan aktivitas tektonik di daerah tersebut 19). Banyak teori yang
menjelaskan tentang stress horizontal di antaranya dikemukakan oleh Hubbert
dan Willis19) yaitu :

Batuan akan menunjukkan awal dari arah sesar di mana keadaan stress
tidak berhubungan dengan elastisitas batuan.

Selama proses diagenesa berlangsung, pergerakan lapisan bumi ke arah


horizontal adalah terbatas.

Gambar 4.2.
Gradien Rekah U.S. Gulf Coast dan Inland 19)

Gambar 4.3.
Rekahan Batuan Tegak Lurus dengan Arah Stress Terkecil19)
Stress hanya dapat ditahan dengan pemberian strain ke arah vertikal secara
bersama-sama. Persamaan yang menggambarkan suatu material elastis adalah :
v

i p 2G i
e (i = x, y, z)..................................... .(4-3)
1

2
v

di mana
p = tekanan formasi
G = modulus shear
V = perbandingan poisson
Bila strain dibatasi pada arah z (axial) seperti pada Gambar 4.4. maka :
x y 0 dan e z ....................................................... ..(4-4)

Stress vertikal harus sama dengan berat tekanan overburden sehingga :


z o Dg .............................................................................. (4-5)

di mana o = densitas overburden, 2290 kg/m3. Tekanan overburden akan naik


menurut kedalaman yakni untuk tiap meter tekanan overburden akan naik sekitar
22,4 kPa (1 psi/ft).
Substitusikan Persamaan (4-4) dan (4-5) ke Persamaan (4-3), maka
strain pada arah z menjadi :
o Dg
2G

1 2v

......................................................(4-6)
1 v

Selanjutnya kita dapat menyelesaikan untuk harga x dan y dimana


asumsinya adalah harga kedua stress tersebut adalah sama karena pengaruh
pergerakan lapisan bumi. Aktivitas tektonik memainkan peranan yang cukup
penting dalam penentuan keadaaan stress. Selanjutnya substitusikan Persamaan
(4-6) ke Persamaan (4-3) di mana i = x, sehingga di dapat :

v
v

o Dg p 1
y ......................................(4-7)
1 v
1 v

Di sini menarik untuk diketahui bila kita membandingkan besar x atau y dengan
z. Bila z lebih besar dari x maka yang terjadi adalah rekahan vertikal.
Bila suatu rekahan dengan pembukaan secara vertikal yang bekerja
berlawanan dengan stress x maka memungkinkan bagi kita mengidentifikasi x
sebagai PBISIP yang merupakan tekanan yang diperlukan untuk menahan rekahan
setelah rekahan tersebut terbuka.
PBISIP
p
v
v
FG
o g 1
.......................... . (4-8)
D
D
1 v
1 v

Persamaan (4-8) dipergunakan untuk memprediksi gradien rekah untuk


daerah yang baru di mana informasi tentang gradien rekah itu sendiri tidak
tersedia. Persamaan (4-8) juga menunjukkan bahwa harga gradien rekah akan
turun bila tekanan reservoir turun.

4.1.2. Perekahan Vertikal


Walaupun dimensi akhir rekahan merupakan

hal penting untuk diketahui

dalam proses pelaksanaan perekahan hidrolik guna menaikkan produktivitas suatu


sumur, namun sebenarnya perlu terlebih dahulu diketahui tentang dinamika
rekahan itu sendiri sehingga bisa ditentukan dimensi akhir rekahan tersebut.
Geometri dari rekahan vertikal meliputi beberapa bagian yaitu :
1. Panjang rekahan, yang merupakan fungsi dari waktu
2. Lebar rekahan, bergantung pada besarnya jarak dari lubang bor, posisi
vertikal, dan waktu
3. Tinggi rekahan, bergantung pada besarnya jarak dari lubang bor dan
waktu.
Gambar 4.4. memperlihatkan sebuah sayap rekahan. Secara normal, suatu
rekahan akan berkembang secara simetris terhadap lubang bor sehingga dapat
diasumsikan bahwa dua buah rekahan adalah sama. Perlu diketahui bahwa suatu
rekahan akan terus berubah menurut waktu bila fluida diinjeksi. Selanjutnya akan
dibahas satu persatu.

Gambar 4.4.
Geometri Rekahan Vertikal19)
4.1.2.1. Azimuth Rekahan.
Untuk formasi yang dalam, perekahan biasanya

dilaksanakan secara

vertikal sehingga sebelum dimulai proses pelaksanaannya perlu diprediksi arah

atau azimuth-nya. Hal ini penting terutama bila perekahan tersebut direncanakan
untuk dilaksanakan pada sumur-sumur pengembangan.
Pada bagian sebelumnya telah dianggap bahwa stress-stress utama pada
arah horizontal akan berharga sama namun pergerakan lapisan bumi selama waktu
geologi akan mengakibatkan deformasi berulang kali, sesar, dan juga patahan di
dalam formasi sehingga variasi secara substansi pada ketiga komponen stress
utama akan selalu ada. Hal ini ditegaskan lagi oleh Hubbert dan Willis dengan
menggunakan contoh sistem sederhana, yakni menggunakan kotak pasir yang
dibagi menjadi dua bagian seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5a.

Gambar 4.5.
Model Kotak Pasir yang Menunjukkan Simulasi Perubahan
Stress Horizontal Akibat Pergerakan Tektonik8)
a) Stress-stress Utama dalam Keadaan Sama
b) Stress-stress utama dalam Keadaan Tidak Sama

Pergerakan ke bagian kanan akan menyebabkan pasir sekitar sekat di


sebelah kiri akan turun dan menghasilkan seri sesar normal. Hal ini ditunjukkan
oleh Gambar 4.5b., di mana pasir pada bagian kiri akan membentuk suatu

kemiringan (dip) dengan sudut 60o. Dengan demikian stress horizontal sebagai
komponen dari stress yang tegak lurus dengan sesar normal akan terus turun bila
terjadi pergerakan sekat. Di sini x merupakan stress terkecil (dari ketiga stress
yang ada) sehingga rekahan vertikal akan tegak lurus dengan x atau dapat
dikatakan suatu rekahan yang vertikal akan paralel dengan arah sesar.
Pada Gambar 4.5. pergerakan sekat ke kanan akan menghasilkan suatu
seri pendesakan sesar dan akan mengakibatkan x naik. Selanjutnya rekahan, bila
vertikal, akan paralel dengan x dan tegak lurus dengan sesar tersebut.
Aktivitas tektonik lokal merupakan faktor paling berpengaruh dalam
menentukan azimuth suatu rekahan. Untuk mengetahui arah perkembangan dari
rekahan dapat digunakan cara-cara pengukuran seperti dari pengaruh packers,
caliper logs, tiltmeter, analisa core, dan metoda seismik.
Caliper log pada suatu lubang terbuka dapat memberikan indikasi dari arah
stress horizontal minimum di mana lubang bor tersebut akan terdeformasi oleh insitu stress. Oleh sebab itu bila diberikan aliran fluida yang berlebihan baik itu ke
dalam maupun ke luar formasi yang mengakibat terjadinya pengikisan dinding
sehingga lubang bor akan berbentuk elips, maka caliper log akan menampakkan
garis lurus untuk arah stress horizontal sebagai stress terkecil.
Tersedianya sampel core yang masih segar dapat digunakan untuk
menentukan arah stress horizontal (stress terkecil) yakni dengan menggunakan
metoda relaksasi pada saat core diangkat dari dasar lubang menuju permukaan. Di
sini dapat ditentukan strain utama yang mana akan dapat pula dihitung besar stress
utama yakni dengan asumsi bahwa stress utama akan berkurang sesuai dengan
penurunan besar strain utama.
4.1.2.2. Tinggi Rekahan
Salah satu hal yang perlu ditelaah adalah tentang ketahanan dari suatu
rekahan untuk tidak menutup kembali setelah direkahkan. Dalam kenyataannya
rekahan yang terjadi biasanya cenderung untuk bertambah panjang ke arah
horizontal atau semakin bertambah tinggi untuk arah vertikal. Rekahan yang

terjadi ke arah vertikal ini akan terus bertambah tinggi sampai pada akhirnya akan
mencapai seluruh daerah produktif namun dapat juga rekahan tersebut akan
menembus daerah-daerah yang tidak diinginkan seperti daerah aquifer atau
menembus daerah yang berada di bagian bawah atau bagian atas dari daerah
produktif (payzone).
Seperti yang telah dikemukakan, in-situ stress merupakan faktor yang
paling penting dalam menentukan ketahanan dari berkembangnya suatu rekahan.
Sebelum di bahas lebih lanjut, akan dibahas terlebih dahulu tentang mekanisme
dari pelebaran rekahan.
A. Faktor Intensitas Stress (Stress Intensity Factor)
Dalam teori linier perekahan, stress di sekitar rekahan dapat diprediksi
secara singular dengan rumus

1
2

, dimana r adalah besarnya jarak menuju ujung

rekahan, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 4.6.

Gambar 4.6.
Komponen-komponen Stress Sekitar Ujung Rekaran19)
Kekuatan dari stress tersebut diukur dengan menetapkan faktor intensitas rekahan
(K) di mana untuk satu tensile crack besarnya harga K :
2r ..............................................................................(4-9)
K = lim
r 0

Di mana :

= tensile stress sepanjang ujung rekahan.

Di sini harga K bergantung pada geometri rekahan dan besarnya gaya yang
diberikan. Untuk rekahan yang panjang (tinggi) dan material bersifat homogen,
maka:
K 1,25 p

............................................................................(4-10)

Di mana :
p = p f pBISIP
p f = tekanan fluida di dalam rekahan
Untuk rekahan yang berbentuk penny-shaped dengan radius R,
K 0,8 p

..............................................................................(4-11)

Suatu rekahan akan terus berkembang kapanpun pada saat K mencapai


suatu harga kritis (Kc), yakni harga faktor intensitas rekahan kritis, kekenyalan
rekahan, atau fracturabilitas. Kc untuk sandstone berkisar antara 0,44 sampai 1,76
x 103 kPa/m1/2 sedangkan Kc untuk karbonat berkisar antara 0,44 sampai 1,04 x
103 kPa/m1/2.
B. Pengaruh Horizontal In-situ Stress
Persamaan (4-10) dan Persamaan (4-11) memperlihatkan suatu zona
yang memiliki tekanan p paling kecil di mana bila harga K < K c maka suatu
lapisan akan sulit untuk direkah termasuk apabila perekahan dilakukan pada zona
dengan minimum horizontal stress yang paling tinggi sekalipun akan
menghasilkan suatu rekahan yang terbatas.
Simonson et al.19) mengemukakan bahwa besarnya horizontal in-situ stress
merupakan faktor yang paling penting dalam menahan suatu rekahan yang sedang
berkembang. Hal tersebut telah diuji coba di laboratorium dan proses
perkembangan tersebut disimulasikan dengan menggunakan komputer yang mana
diperoleh bahwa besarnya stress untuk bisa menahan suatu rekahan adalah
berkisar 2 sampai 3 x 103 kPa.

Gambar 4.7. menunjukkan perhitungan perkembangan rekahan vertikal


pada suatu zona produksi dengan horizontal in-situ stress lebih besar dari 344 kPa
(50 psi). Untuk kasus ini, perkembangan rekahan ke arah vertikal adalah terbatas
oleh karena adanya perbedaan stresss hingga pada akhirnya rekahan tidak
tertahankan. Di sini ditunjukkan bahwa rekahan terus memanjang sampai 320 ft
(97,5 ft) dan mempunyai tinggi 180 ft (54,9 m) setelah diberikan in-situ stress
selama 31 menit.

Gambar 4.7.
Perkembangan Rekahan dengan Ketahanan
In-situ Stress 344 kPa (50 psi) 19)
(E=5,8x106 kPa, v=0,3, =150 cp, t=3,18 m3/min, C=1,83x10-4 m/min)

Gambar 4.8. dan Gambar 4.9. menunjukkan perkembangan rekahan pada


saat stress dinaikkan menjadi 690 kPa dan 1380 kPa dengan kondisi pelaksanaan
perekahan yang sama seperti pada Gambar 4.7. Di sini terlihat jelas perbedaan

dengan keadaan rekahan pada Gambar 4.7. di mana pada saat stress mencapai
tekanan 1380 kPa (200 psia), rekahan tetap terus terbuka.

Gambar 4.8.
Perkembangan Rekahan dengan Ketahanan
In-situ Stress 690 kPa (100 psi) 19)
(Kondisi Treatment Seperti pada Gambar 4.7.)

Gambar 4.9.
Perkembangan Rekahan dengan Ketahanan In-situ
Stress 1,38 x 103 kPa (200 psi) 19)
(Kondisi Treatment Seperti pada Gambar 4.7.)

Tingkat ketahanan suatu rekahan bergantung sepenuhnya pada horizontal


in-situ stress namun hal ini pun tidak selamanya benar. Persamaan (4-10) dan
Persamaan (4-11) memperlihatkan bahwa bila tekanan fluida ke dalam rekahan
dinaikkan, maka K juga akan naik bahkan bisa melewati harga Kc. Gambar 4.10.

menunjukkan hasil dari perekahan dengan kondisi yang sama seperti pada
Gambar 4.9. kecuali untuk harga Modulus Young formasi yang telah dinaikkan.
Di sini tekanan fluida dinaikkan dengan maksud agar dapat terus mengembangkan
rekahan yang ada namun peningkatan tekanan ini pun dapat mengakibatkan harga
K melewati Kc di sepanjang batas luar vertikal rekahan. Gu 8) telah membuat
perhitungan (dalam kasus di atas) bahwa diperlukan in-situ stress sebesar 5,5 x
103 kPa (800 psi) untuk menahan suatu rekahan agar tidak kembali menutup.

Gambar 4.10.
Perkembangan Rekahan dengan Ketahanan In-situ
Stress 1,38 x 103 kPa (200 psi) 19)
(Kondisi Treatment Seperti pada Gambar 4.7. Kecuali Harga E
Dinaikan Menjadi 2,91 x 1010)

C. Pengukuran In-situ Stress


Prats19) mengatakan bahwa horizontal in-situ stress pada suatu formasi
bergantung pada sejarah proses sedimentasi termasuk pengaruh suhu (ekspansi
thermal), creep, dan elastisitas. Konsep tersebut lebih lanjut dikembangkan oleh
Abou Sayed19) yang secara garis besar mengatakan bahwa sifat ductilitas batuan

yang tinggi akan memerlukan minimum horizontal stress yang besar agar dapat
menahan penutupan rekahan daripada sifat batuan yang mempunyai ductilitas
yang rendah.
Harga perbandingan Poisson yang besar dapat menjadi indikator
kenaikkan minimum horizontal stress seperti di daerah Lousiana Gulf Coast yang
merupakan formasi sandstone. Di sini stress diukur dengan menggunakan log
sonic yang memakai gelombang S dan gelombang P. Namun teknik tersebut
kurang akurat apalagi bila pada formasi ada penambahan jumlah clay yang akan
mengurangi perbandingan shale dan sandstone. Pada akhirnya dapat dikatakan
bahwa perbandingan Poisson tidak bisa dijadikan indikator yang akurat dalam
penentuan ketahanan suatu horizontal stress.
Metoda yang paling akurat dalam penentuan in-situ stress adalah dengan
menggunakan uji lapangan minifracture. Tekanan penutupan sesaat bisa diukur
pada zona terisolasi yang lebih spesifik sehingga nantinya akan memberikan data
terbaik guna memprediksi perkembangan dari suatu rekahan.
4.1.2.3. Model Geometri Rekahan
Untuk menghitung pengembangan rekahan, diperlukan prinsip hukum
konversi momentum, massa dan energi, serta kriteria berkembangnya rekahan,
yang berdasarkan interaksi batuan, fluida dan distribusi enersi.
Secara umum model geometri perekahan adalah:
1. Model perekahan dua dimensi (2D)
Tinggi tetap, aliran fluida satu dimensi (1D)
2. Model Perekahan pseudo tiga dimensi (3D)
Perkembangan dengan ketinggian bertambah, aliran 1 atau 2D
3. Model 3 dimensi 3D
Perluasan rekahan planar 3D, aliran fluida 2D
Dalam penjelasan di sini hanya akan dibicarakan model perekahan 2D,
karena masih bisa dipecahkan secara manual dengan bantuan matematika atau
grafis. 3D memerlukan komputer canggih atau PC yang canggih tetapi makan

waktu agak lama (dan butuh data yang lengkap mengenai stiffness matrix, variasi
stress, dan lain-lain) sedangkan model software P3DH bisa untuk PC dan dijual
oleh beberapa perusahaan antara lain oleh SSI, Meyer & Assoc. Intercomp,
Holditch & Assoc., NSI Technologies Inc dan beberapa yang lain adalah yang
paling umum dipakai saat ini.
Di bawah ini akan dibicarakan tiga model dimensi perekahan, yakni :

Howard & Fast (Pan American) serta diolah secara metematika oleh Carter

PKN atau Perkins, Kern (ARCO) & Nordgren

KGD atau Kristianovich, Zheltov (Russian Model ) lalu diperbaharui oleh


Geertsma dan de Klerk (Shell).

1. PAN American Model


Howard dan Fast memperkenalkan metode ini yang kemudian dipecahkan
secara matematis oleh Carter. Untuk menurunkan pesamaannya maka dibuat
beberapa asumsi :
a. Rekahannya tetap lebarnya
b. Aliran ke rekahan linier dan arahnya tegak lurus paa muka rekahan.
c. Kecepatan aliran leak-off ke formasi pada titik rekahan tergantung dari
panjang waktu pada mana titik permukaan tsb mulai mendapat aliran.
d. Fungsi kecepatan v = f(t) sama untuk setiap titik di formasi, tetapi nol pada
waktu pertama kali cairan mulai mencapai titik tersebut.
e. Tekanan di rekahan adalah sama dengan tekanan di titik injeksi di formasi,
dan dianggap konstan.

Gambar 4.11.
Skematis Model Carter 4)
Dengan asumsi tersebut Carter menurunkan persamaan untuk luas bidang
rekah satu sayap :
A(t )

qiW
4C 2

2c
e

A(t )

qiW
4C 2

t W

2 erfc 2c t 4C t 1
............... ..(4-12)
W
W

atau
2x

x2
e erfc x 1 .....................................(4-13)

Dimana:
x

2C t w

A(t)

= luas, ft2 untuk satu sisi pada waktu t

= adalah laju injeksi, cuft/men,

= lebar rekahan, ft,

= waktu injeksi, menit dan

= total leak off coeffisient = Ct di bab III, ft/V men, dan erfc adalah

complementary error function yang ditabelkan pada Tabel IV-1.


Tabel IV-1.
Complementary Error Function 4).
x
0,0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1,0
1,1
1,2
1,3
1,4
1,5
1,6
1,7
1,8
1,9
2,0
2,1
2,2
2,3
2,4
2,5
2,6

0
1,0000
0,8875
0,7773
0.6714
0,5716
0,4795
0,3961
0,3222
0,2579
0,2031
0,1573
0,1195
0,0697
0,0660
0,0477
0,0339
0,0237
0,0162
0,0109
0,0072
0,00468
0,00295
0,00186
0,00114
0,00069
0,00041
0,00024

1
0,9887
0,8764
0,7665
0,6611
0,5620
0,4708
0,3883
0,3153
0,2520
0,1981
0,1532
0,1165
0,0870
0,0639
0,0461
0,0327
0,0228
0,0156
0,0105
0,0069
0,00448
0,00285
0,00178
0,00109
0,00065
0,00039
0,00022

0,9774
0,8652
0,7557
0,6509
0,5525
0,4621
0,3806
0,3086
0,2462
0,1932
0,1492
0,1132
0,0845
0,0619
0,0446
0,0316
0,0220
0,0150
0,0101
0,0066
0,00428
0,00272
0,00169
0,00103
0,00062
0,00037
0,00021

0,9662
0,8541
0,7450
0,6407
0,5431
0,4535
0,3730
0,3019
0,2405
0,1884
0,1452
0,1100
0,0819
0,0600
0,0431
0,0305
0,0212
0,0144
0,0097
0,0063
0,00409
0,00259
0,00161
0,00098
0,00059
0,00035
0,00020

0,9549
0,8431
0,7343
0,6300
0,5335
0,4451
0,3654
0,2953
0,2349
0,1837
0,1414
0,1069
0,0795
0,0581
0,0417
0,0294
0,0204
0,0139
0,0093
0,0061
0,00391
0,00247
0,00154
0,00094
0,00056
0,00033
0,00019

0,9436
0,8320
0,7237
0,6206
0,5245
0,4367
0,3550
0,2888
0,2283
0,1791
0,1376
0,1039
0,0771
0,0562
0,0403
0,0284
0,0196
0,0133
0,0089
0,0055
0,00374
0,00236
0,00146
0,00089
0,00053
0,00031
0,00018

0,9324
0,8210
0,7131
0,6107
0,5153
0,4254
0,3506
0,2825
0,2239
0,1746
0,1339
0,1009
0,0745
0,0544
0,0359
0,0274
0,0189
0,0128
0,0085
0,0056
0,00358
0,00225
0,00139
0,00085
0,00050
0,00029
0,00017

0,9221
0,8110
0,7026
0,6008
0,5063
0,4202
0,3434
0,2762
0,2186
0,1701
0,1302
0,0960
0,0752
0,0527
0,0376
0,0264
0,0182
0,0123
0,0032
0,0053
0,00342
0,00215
0,00133
0,00080
0,00048
0,00028
0,00016

0,9099
0,7991
0,6921
0,5910
0,4973
0,4121
0,3362
0,2700
0,2133
0,1658
0,1267
0,0952
0,0703
0,0510
0,0363
0,0255
0,0175
0,0118
0,0078
0,0051
0,00327
0,00205
0,00126
0,00076
0,00045
0,00026
0,00015

0,8987
0,7882
0,6817
0,5813
0,4883
0,4041
0,3292
0,2639
0,2082
0,1615
0,1232
0,0924
0,0684
0,0493
0,0351
0,0245
0,0168
0,0114
0,0075
0,0049
0,00312
0,00195
0,00120
0,00072
0,00043
0,00025
0,00014

2,7
2,8
2,9

0,00013
0,000075
0,000041

0,00013
0,000071
0,000039

0,00012
0,000067
0,000036

0,00011
0,000063
0,000034

0,00011
0,000059
0,000032

0,00010
0,000056
0,000030

0,00009
0,000052
0,000028

0,00008
0,000049
0,000027

0,00008
0,000046
0,000025

0,00008
0,000044
0,000023

Fracture Efficiency
Dari Persamaan (4-13) dapat diturunkan persamaan untuk fracture
efficiency, yaitu volume rekahan dibagi fluida yang dipompakan atau disebut juga
sebagai fluid efficiency.
Eff V f Vi WA(t ) qi t ............................................. (4-14)

Substitusikan Persamaan (4-13) ke Persamaan (4-14) maka :

2x

x2
e erfc x 1

Eff

W qiW
qi t 4C 2

Eff

W x2
2x

e erfc ( x)
1
2
4C t

Eff

1
x2

2x

x2
e erfc x 1 ................................(4-15)

Karena efisiensi hanya merupakan fungsi dari x saja maka bisa diplot
versus x seperti pada Gambar 4.12.

Gambar 4.12.
Plot Fluid Efficiency sebagai Fungsi dari x 4)
2. PKN dan KGD
PKN adalah model pertama dari 2D yang banyak dipakai dalam analisa
setelah tahun 1960-1970. Metode ini digunakan bila panjang (atau dalam) rekahan
jauh lebih besar dari tinggi rekahan (x fhf). Apabila sebaliknya, dimana tinggi
rekahan jauh lebih besar dari kedalamannya (xfhf) maka metode KGD-lah yang
harus dipilih. Sebenarnya ada bentuk lain yang disebut radial atau berbentuk
mata uang logam(penny shape) kalau xf = hf, tetapi jarang dipakai. Gambar 4.13.
menunjukkan skematik dari geometri model PKN, dan Gambar 4.14.
menunjukkan skematik dari model KGD.

Gambar 4.13.
Skematik dari Pengembangan Linier Perekahan.
Menurut Model PKN 4)

Gambar 4.14.
Skematik dari Pengembangan Linier Perekahan
Menurut Mode KGD dan Radial 4)
Dalam Persamaan harga E sering diganti dengan G, yaitu Modulus Shear
Elastis yang hubungannya dengan Modulus Young adalah :
G

E
...........................................................(4-16)
21 v

Tabel IV-2 menunjukkan persamaan-persamaan yang dibuat berdasarkan


metode PKN dan KGD serta Tabel IV-3 menunjukkan harga dari koefisienkoefisien pada persamaan tersebut apabila dilakukan perhitungan dengan metode
metrik, misalnya panjang h, L, w dalam meter, sedangkan bila dalam satuan ft,

maka harus dibagi dengan 3,28. Viskositas dalam kPa.men dan kalau di cp harus
dikali terlebih dahulu dengan 1,67 10-8 . K dalam kPav cm maka kalau dalam
Tabel IV-2
Persamaan-persamaan untuk Mencari Panjang Rekahan L,
Lebar Rekahan Maksimum w, dan Tekanan Injeksi p dan
Dianggap Laju Injeksi Konstan 4)
Model
Geometri

L(t)

Model PKN

(1 v)h f 4

Model KGD

1/ 5

G qo3

C1

t 4C/ 5 (1 v) q o

1/ 5

t 2C/ 3 (1 v) q o
5

Gh f 3

1/ 4

1/ 4

G qo3

C4

(0,t) - H

W(0,t)

(1 v)h f 3

Gh f

4/5

1/ 3

C 3 Gq o 3 L

H f (1 v) 3

1/ 4

C 4 Gq o h f 3

2H f (1 v) 3 L2

unit disini maka psi v in harus dikali dengan 10,99. G dan

1/ 4

dalam kPa,

sedangkan kalau dalam psi maka harus dikali dengan 6,896.


Tabel IV-3
Harga C1 sampai C6 pada Tabel IV-2 4)
Model
Geometri
PK

PKN

KGD

Satu
Sayap

Dua
Sayap

C1
C2
C3
C1
C2
C3
C1
C2
C3

0,60
2,64
3,00
0,68
2,50
2,75
0,68
1,87
2,27

0,395
2,00
2,52
0,45
1,89
2,31
0,48
1,32
1,19

Dalam persamaan untuk model-model di atas, model PKN mempunyai


irisan berbentuk elips di muka sumur. Lebar maksimum terletak di tengah-tengah
elips tersebut dan harganya sama dengan nol untuk batas paling atas dan paling
bawah. Model KGD lebarnya sama sepanjang rekahannya dan berbentuk setengah
elips di ujungnya. Tinggi rekahan sama dengan tebal reservoir dan dan tekanan
dianggap konstan pada irisan vertikal. Sifat reaksi batuannya adalah bereaksi

secara vertikal. Model KGD lebarnya sama

(seperti segiempat) sepanjang

rekahannya dan berbetuk setengah elips diujungnya. Dalam hal ini tinggi rekahan
juga diambil sama dengan tebal reservoir. Di sini tiffness batuan bekerja
horizontal. Dengan model KGD (Halliburton) maka rekahannya relatif lebih
pendek, lebih lebar, serta konduktivitasnya akan lebih besar dari PKN.
Harga w yang maksimum dapat dihitung dengan persamaan dalam Tabel
IV-2 tadi, tetapi untuk harga lebar rekahan rata-rata w, maka w
dikalikan dengan faktor geometri, yang besarnya

tadi harus

0.59 , karena = 0,75


4

(Economides/ Hills/Economides), tetapi di SPE Mon. No.12, w =2/3 w(0) untuk


PKN dan 8/15 w(0) untuk KGD (atau GdK dibuku SPE Mon. No.12).
Dari persamaan pada tabel-tabel di atas terlihat misalnya tebal rekahan
adalah fungsi dari laju injeksi dan viskositas. Untuk PKN kenaikkan laju injeksi
sebesar dua kali akan menaikan lebar rekahan sebesar 1,3 kali. Sedangkan bila
ditingkatkan menjadi dua kali viskositas akan menaikan lebar rekahan sebesar 1,1
kali.

(1 v) q0 R

w(0) C1

.....................................(4-17)

di mana :
untuk PKN C1 = 1,4
untuk KGD C1 = 2,15.
Tinggi Rekahan dalam batuan Menurut SPE. Mon. No. 12, untuk Griffith crackstability, dapat diturunkan di mana Kc = critical stress intensity factor
dengan K c

K
2

dengan pengaruh gaya gravitasi diabaikan. Dan

bilamana P1 p H 1 dan P2 p H 2
persamaan :

maka dapat diturunkan

K 2 P h
h2
1
c
............................(4-18)
2


h2
h1
f

hg h f sin

Selanjutnya bilamana harga hf (lihat Gambar 4.15.) relatif sangat besar,


maka dapat diturunkan persamaan mengenai perbandingan antara tinggi rekahan
hR dan jarak barier diatas dan dibawahnya hf

h2 P
..................................(4-19)

H2
H1

hg h f sin
atau

P H1
...............................(4-20)
hg h f sin 1
H 2 H 1

Metode di atas digunakan untuk metode PKN kalau stress di atas dan di
bawahnya diketahui. Misalnya suatu lateral stress minimum stress katakan 2750
psi (19 Mpa) di target batuan, dan batuan di atas dan di bawahnya (bariernya)
misalnya 3045 psi (21 Mpa). Tekanan rekah 2900 psi (29 Mpa) maka dengan
Persamaan (4-19) akan didapat hR h f sin 2 0,50 0,71. Tetapi andaikan
untuk stress dan tekanan yang sama, h f = 1,181 in. (3103 cm), maka dari
Persamaan (4-18) maka hR h f sin 2 0,56 0,77. Jadi dalam hal ini,
rekahan akan keluar dari formasi dan merekahkan juga barier di atas dan di
bawahnya sebesar 30-40% dan hal ini umum terjadi.

Gambar 4.15.
Penetrasi Rekahan pada Formasi diantara Dua Barrier
dengan Stress Tinggi 4)
4.1.2.4. Kombinasi Efek Non-Newtonian dan Fluid Loss
Peter Valko dan Economides

memberikan solusi untuk PKN maupun

KGD dengan kombinasi efek baik untuk non Newtonian maupun adanya fluid
loss (laminer). Penurunannya menggunakan viskositas apparent pada fluida non
Newtonian baik untuk PKN maupun KGD. Hasilnya adalah sebagai berikut :
xf

( w 2 S p ) q0
2

exp( 2 )erfc ( )
1
2

4C1 h f

. ..(4-21)

di mana :

E
E

2C1 t
w 2S p

= Plane Strain Modul

E
1 v2

Sp

= support loss, m (meter)

qo

= laju injeksi dalam m3/det

Ct

= koeffisien fluid loss, m/det1/2

hf

= tinggi rekahan, m

= waktu, detik

w(0)

= lebar rekahan di sumur

= lebar rekahan rata-rata, m

xf

= L =panjang rekahan satu sayap, m

A. Untuk PKN :
1 ( 2n 2)

w(o) 9.15

(4-22)

x3.98

n ( 2n 2)

1 2n 2

q n0 h1f n x f

1 ( 2n 2)

dengan asumsi bahwa shape factornya w ( 5) w(0) dan


Pnet Pf E ( w(0)) (2h f ) .........................................................(4-23)

Untuk Harga 4 maka :


2

e erfc

B. Untuk KGD:
1 (2n 2)

w(0) 11.1

x3.24

n (2n 2)

1 ( 2 n 2)

1 2n 2

qn x f 2
0

2
h f E

(4-

24)
di sini harga xf seperti pada PKN di atas dan w 4 w(0) serta
Pnet Pf E ( w(0) / 4 x f ) ......................................(4-25)

Persamaan-persamaan di atas baik untuk PKN dalam hal ini Persamaan


(4-21) dan Persamaan (4-22) ataupun KGD dalam hal ini Persamaan (4-21) dan
Persamaan (4-25) harus dipecahkan sekaligus untuk variabel w dan x f. Metode
diatas dinamakan PKN-C dan KGD-C dengan power law.
Gambar 4.16. memperlihatkan skematik petunjuk pemilihan untuk model
perekahan hidraulik

Gambar 4.16.
Petunjuk Pemilihan Model Perekahan 4)
4.1.3. Perekahan Horizontal
Pada kedalaman yang cukup dangkal mungkin saja terjadi perekahan pada
bidang datar atau rekahan horizontal. Analisa stress akan hampir sama seperti
penny shape (radial) pada perekahan vertikal, walaupun pemecahan matematiknya
berbeda. Distribusi tekanan sepanjang rekahan dianggap simetris di sekitar sumur,
yang akan menghasilkan lebar rekahan yang berdasarkan persamaan elastisitas
ideal, tetapi untuk mengetahui kehilangan tekanan fluida, diperlukan harga lebar
rekahannya. Maka pemecahannya harus dilakukan secara simultan.
4.1.3.1. Aliran Laminer
Dalam hal ini fluida dialirkan secara radial dari sumurnya. Gambar 4.17.
menunjukkan suatu rekahan radial. Bila efek fluid loss diabaikan dan lebar
rekahan dianggap konstan, fluidanya Newtonian, juga dengan mengabaikan
inersia fluida yang pada aliran radial akan tergantung pada posisinya, maka kita
dapat menghitung distribusi dari tekanan sebagai fungsi dari posisi radialnya.
Fungsi tekanan terhadap posisi perlu diketahui untuk menentukan lebar
rekahannya.
Mulai dengan kecepatan, vt = vz

(t,z)

dan v0 = vz = 0, maka persamaan

kecepatan adalah:

p
p

v
1
( rvr ) 2r 0 ..............(4-26)
r r
z

Dan persamaan kontinuitas dapat ditulis sebagai:

( rvr ) 0 .....................................................(4-27)
z

Sumbu z diukur ke arah vertikal. Persamaan kontinuitas menyatakan bahwa


volume yang lewat lingkaran pada jari-jari r harus sama untuk setiap waktu. Maka
persamaan akan menjadi :
rvr = (z) ................................................................(4-28)
dimana :
(z)

= fungsi dari z bukannya r.

= jari-jari rekahan

= jarak diukur dari tengah sumur

w(r,t) = lebar rekahan


rw

= jari-jari sumur

fr

= r/R

Gambar 4.17.
Skematik dari Perekahan Horisontal 4)

Dengan subtitusi dari Persamaan (4-28) ke Persamaan (4-26) maka:


r

p
r

d 2
0 .................................................(4-29)
dz 2

Harga r ( p r ) tidak tergantung dari z karena lebar rekahan dianggap


konstan, kecuali di bagian ujung di mana pengaruhnya diabaikan. Persamaan (429) dapat diintegrasikan menjadi:

(z)

r d p w2
4z 2
1

.............................................(4-30)
dr 8
w2

Integrasi Persamaan (4-29) menganggap bahwa vt (r,z) = 0 untuk z =


w 2

Hubungan laju injeksi fluida ke vt adalah:


w

2rv dz ..........................................................(4-31)
t

di mana berlaku untuk semua harga z, atau:


i

r 3 dp
w
......................................................... .(4-32)
6
dr

yang bisa dipermudah menjadi:


pw p

6i r dr 6 i r
.............................(4-33)

ln
w3 r0 r w3 rw

dengan asumsi bahwa lebar adalah konstan. Persamaan (4-33) menentukan


distribusi tekanan didalam rekahan. Untuk mudahnya didefinisikan fr = r/R dengan
R = jari-jari rekahan, maka:
pw p

6 i f r
.(4-34)
ln
w3 f rw

4.1.3.2. KesetimbanganVolume untuk Perekahan Horizontal


Bila q (r,t) adalah volume fluida yang bergerak ke luar di dalam rekahan
(Gambar 4.17) per unit waktu, maka harga ini akan bervariasi tergantung dari
waktu dan posisi dari suatu volume balance sebagai berikut :

4rC
w
2r
........................................(4-35)
t
t (r )

Dalam hal perekahan horizontal , untuk R rw, fluid loss menjadi


dominan, dan w r dapat diabaikan dan dalam hal ini maka:
R(t )

1 4 l 2t
...............................(4-36)
C2

Jadi jari-jari dari penny shape (berbentuk uang logam bundar) untuk
rekahan horizontal akan tumbuh sebagai fungsi dari t1,4 (rekahan linear tumbuh
sebagai fungsi dari t1/2). Juga perlu diketahui bahwa Persamaan (4-36) ini
diturunkan tanpa anggapan adanya spurt loss.
Geertsma dan de Klerk menurunkan persamaan untuk perekahan radial
horizontal untuk lebar rekahan sebagai berikut :
wn 24

lR
............................................................(4-37)
G

Dan dengan asumsi v = 0,25 dan rekahan yang panjang, maka;


p

5 Gwn R
............................................(4-38)
ln
4 R
rw

atau kalau harga R meningkat tekanan malah menurun. Valko dan Economides 22)
telah menurunkan persamaan disertai adanya fluid loss yakni sebagai berikut :
iR
w 2.24

(w 2S p )
4C 2 2

2C t
w 2S p

14

........................................................................(4-39)

exp ierfc
1 ................................(4-40)

....................................................................................(4-41)

4.1.4. Pengaruh Luas Rekahan terhadap Produktivitaas Sumur

Pengaruh penetrasi rekahan terhadap produksi minyak dapat dipelajari


dengan model analisa ataupun model elektrikal. Penyelidikan menunjukan bahwa
keberhasilan suatu proyek perekahan hidrolik tidak hanya dipengaruhi oleh
kapasitas alir dari tekanan hidrolik yang diberikan tetapi juga dipengaruhi oleh
luas rekahan yang dalam hal ini lebar rekahan yang dibuat.
Pengaruh yang diperoleh dapat diklasifikasikan untuk tahap flush
production dan tahap post flus production pada saat suatu rekahan dibuat.
4.1.4.1. Flush Production
Pengaruh penetrasi pada perekahan horizontal untuk waktu flush
production suatu sumur dapat digambarkan lewat perhitungan secara analisis yang
hasilnya ditunjukkan pada Gambar 4.18. yang merupakan plot antara laju
produksi dengan waktu pelaksanaan pada skala logaritma untuk kondisi yang
tertera.

Gambar 4.18.
Pengaruh Radius Perekahan Horizontal terhadap
Laju Produksi 12)

Kurva pada gambar menunjukkan bahwa laju produksi yang tinggi akan
diperoleh untuk waktu yang lama ketika rekahan yang dalam dibuat. Di sini
penetrasi rekahan memiliki pengaruh yang kecil terhadap laju produksi. Selain itu,
hasil perhitungan dari plot grafik pada Gambar 4.18. menunjukkan laju produksi
yang lebih tinggi dapat diperoleh sampai hampir semua minyak yang diproduksi
dapat diperoleh kembali dari dalam reservoir.
4.1.4.2. Post-Flush Production
Hasil penetrasi pada saat produksi mencapai keadaan steady state (setelah
penurunan pada tahap flush production) ditunjukkan melalui studi model
elektrikal. Gambar 4.19. merupakan grafik hasil dari plot antara perbandingan
produktivitas (perbandingan produktivitas setelah perekahan dengan produktivitas
sebelum perekahan) terhadap lebar rekahan.

Gambar 4.19.
Pengaruh Penetrasi Rekahan terhadap Produktivitas 12)
Di sini menunjukkan pengaruh peningkatan luas rekahan terhadap
perbandingan produktivitas untuk satu rekahan horizontal di tengah-tengah zona
produktif dan juga untuk rekahan vertikal yang memiliki dua sayap dengan jarak

dan luas yang sama. Dari gambar dapat dilihat bahwa perbandingan produktivitas
meningkat sesuai dengan luas rekahan yang semakin bertambah.
Perlu diketahui bahwa rekahan yang lebih dalam tidak hanya
meningkatkan produksi minyak namun juga meningkatkan ultimate recovery-nya.