Anda di halaman 1dari 39

Tetapi untuk borate crosslink karena gellingnya dapat kembali lagi

(reversible), linear gel, gel fluids, atau foam/emulsi di mana shear malah akan
menaikkan viskositasnya, hal ini tidak terlalu menjadi persoalan.
Tabel IV-11 di bawah akan diberikan batasan untuk pemompaan fluida
dengan Titanate Crosslink agar tidak mengakibatkan terjadinya degradsi
viskositas.

Tabel IV-11
Laju Pemompaan Maksimum 4)
Ukuran Tubing (in)

Laju Maksimum (min)

2-3/8
2-7/8
3-1/2
4-1/2
5-1/2

6-8
10 - 12
14 - 16
28 - 30
35 - 40

4.6. Pelaksanaan Perekahan di Lapangan


Perekahan hidrolik terdiri atas tiga tahapan utama, yakni :
Desain perekahan
Pelaksanaan perekahan
Evaluasi perekahan
Pada bagian sebelumnya telah dibicarakan mengenai hal-hal dalam proses
mendesain suatu proyek perekahan. Di sini akan dibicarakan mengenai
pelaksanaan perekahan di lapangan dan setelah itu akan disusul dengan evaluasi
hasil pekerjaan perekahan.
4.6.1. Alat-alat di Lapangan

Secara umum alat-alat yang dipakai untuk pelaksanaan suatu proyek


perekahan hidrolik terdiri dari :
Untuk fluida :

Tanki-tanki yang dapat berpindah-pindah (mobil) 500 bbl

Tanki-tanki vertikal 400 bbl

Untuk proppant :

Dump trucks dengan volume 400 ft3

Bulk storage (conveyor atau gravity silos)

Mempunyai volume 2000 ft3 sampai 4000 ft3

Mempunyai 4 sampai 6 kompartemen dengan pintu yang bisa diatur untuk


10.000 sampai 30.000 lb/menit
Blender (pencampur)

Screw atau auger

Dengan gravitasi atau tertutup


Kapasitas

25.000 lb/menit

22 lb/gal

0 100 bpm
Alat-alat lain :

Kit untuk dry additive (satu perunit) :


FLA dan gellant

Kit untuk liquid additive (enam tiap


unit) : crosslinker, surfactan

Unit pompa :
Mempunyai daya 700 sampai

2000 hhp

Bertekanan 0 sampai 10.000

psi
Ukuran

plunger

bervariasi

mulai dari 0 sampai 20 bbl/menit


Intensifyers (Halliburton) atau Pressure Multipliers (Dowell)

1.000 sampai 5.000 hhp

10.000 sampai 20.000 psi

0 sampai 15 bbl/menit

Manifold/Headers/Missile Trailers
Wellhead Isolation Tool (sampai 20.000 psi)
Liquefied Gas Transports
N2 Vaporization Units
CO2 Boaster Pumps

4.6.2. Pelaksanaan Pekerjaan di Lapangan


Pelaksanaan pekerjaan perekahan hidrolik di lapangan dapat dibagi
menjadi beberapa bagian, yaitu :

Sebelum pekerjaan dilakukan

Persiapan di sekitar sumur (quality control)

Pekerjaan selama pemompaan

Flushing

Pekerjaan setelah pelaksanaan perekahan

Shut-in

Aliran balik (flow back)

4.6.2.1. Pertimbangan Sebelum Pekerjaan Dilakukan

Menghitung tekanan injeksi yang diharapkan dan berapakah

tekanan maksimum yang diijinkan.


Memeriksa arsip sumur untuk data informasi penyemenan sumur

dari CBL dan CET.


Menghitung kekuatan packer dan mengevaluasi pipa-pipa yang

nantinya dilewati fluida injeksi.

Memeriksa arsip untuk informasi perforasinya.

Menghitung kapasitas rat hole.

Hal-hal lain tergantung dari parameter sumur dan desainnya.


Seandainya dari log terdapat zona air atau gas yang berdekatan, maka harus
diawasi perkembangan rekahannya dengan mengontrol net pressure atau
viskositas.

Desain Optimum dan Praktis


Proses desain yang optimum dan praktis di sini akan meliputi :

Kapasitas pompa (P, Q, dan HP)

Tekanan injeksi dan laju injeksi

Tipe unit

Pemipaannya
Blenders (penyampur)

Ukuran pipa

Batas injeksi

Laju proppant

Flowmeter dan tachometer (pengukur kecepatan)

Integral hopper

Densimeter

Jenis pekerjaan
Keperluan tanki

Ukuran pekerjaan

Melalui tubing atau casing (dasar


tanki)

Manifold

Fluid transfer

Ukuran tiap stages (prepad, pad, job,


flushing) dan waktunya

Volume yang diinjeksikan


Volume proppant

Kapasitas storage dari


alat-alat

Laju

pemasukan

proppant

Ukuran pekerjaan dan


waktunya

Volume

displacing-

nya

Kecepatan
meningkatnya pemasukan proppant
Lain-lain

Waktu pemompaan

Temperatur dasar sumur (BHT)


Jenis fluida dan sifat-sifatnya

Kepercayaan terhadap harga-harga yang diperkirakan

Tentukan range-nya

Issue Utama

Laju/volume dan proppant schedule

Limit laju dapat diinjeksikannya fluida perekahan

Sumber air

Keperluan tanki dan letaknya

Jenis additive dan fungsinya

Tekanan injeksi permukaan

Tekanan-tekanan lainnya

Waktu dan statusnya

Persiapan lokasi

Persediaan alat-alat kalau diperlukan (stand-by)

Rencana lain bila terjadi hal yang tak terduga dan


waktunya

Pertimbangan keselamatan kerja

Pemeriksaan lapangan dan prosedur sampling

Kemungkinan lain dan pertanyaan-pertanyaan

Tabel IV-12. memperlihatkan bentuk laporan untuk kualitas proppant, dan


Tabel IV-13. menunjukkan suatu contoh material untuk perekahan dan alatalatnya.
Tabel IV-12.
Bentuk Laporan Kualitas Proppant 4)

PROPPANT QUALITY REPORT


Well Name

Field

Nominal Range of Proppant

Date taken

Sample No.

Sampled by

Analysis by

SIEVE ANALYSIS : (for any proppant)


Sieve

Nominal

8/16 12/20 20/40

40/70

16/20

16/30

Order
A
B
C
D
Pan

Range
6
8
16
20
Pan

Sieve
Order
A
Pan
C
Sieve
Order
Sieve A
Sieve C
Pan

8
12
20
30
Pan

Tolerable
Values
< 0,1 %
< 1,0 %
> 90 %

Sieve
Wt, gms

Sieve & Sand


Weight, gms

16
20
40
50
Pan

30
40
70
100
Pan

12
16
20
30
Pan

12
16
30
40
Pan

Unacceptable
Values
> 0,1 %
> 0,1 %
< 88 %
Sand Wt.
gms

% Sand
By Wt.

Desired
Value
0%
90 %
0%

ROUNDNESS & SPHERICITY : (API recommends 0,6)


Roundness :

Sphericity :

Tabel IV-13.
Contoh Material Perekahan dan Alat-alatnya 4)
Step

Fluid

Inject
Rate
(bbls/
min)

Liquid
Volum
(gal)

Cum.
Liquid
Volume
(gal)

Proppa
n
Type

Stage
Volum
(gal)

Cum.
Slurry
Volume

Tank

Prepad

WF50

20

40.000

40.000

40.000

40.000

1,2

Pad

YF650

20

60.000

100.000

60.000

100.000

3,4,5

Pad

YF640

20

25.000

125.000

25.000

125.000

6,7

0,5 lb

YF640

20

9.804

137.000

10.000

135.000

1 lb

YF640

20

15.238

150.000

16.000

151.000

7,8

2 lb

YF640

20

11.609

161.051

12.000

163.000

8,9

3 lb

YF640

20

8..929

169.980

10.000

173.000

2040
Ottawa
2040
Ottawa
2040
Ottawa
2040
Ottawa
16/20
LWP

Remarks
Fluid contains 2%
KCl, 10% NaOH +
the following per
1000 gal; 50lb J347,
2 gal D47, 2 gal F75,
10 gal FGMBB and
50 lb Resin
Fluid is contain 2%
KCl, 5% D.O. + the
following per 1000
gal; 50 lb J347, 10 lb
J353, 30 lb Resin
Stop Resin

4 lb

YF640

20

8.621

178.601

5 lb

YF640

20

8.333

186.934

6 lb

YF640

20

4.878

191.312

Flush

YF640

20

2.100

193.912

16/20
LWP
16/20
LWP
16/20
LWP

10.000

185.000

9,10

10.000

193.000

10

6.000
2.100

199.000

10,11

201.000

Add 0,5 ppg J218


breaker
Add 1,0 ppg J218
breaker

11

4.6.2.2. Persiapan di Sekitar Sumur


Persiapan tempat untuk tanki-tanki guna pelaksanaan proyek perekahan.
Kualitas dan kebersihan harus dijaga pada tanki untuk fluida perekah,
proppant, additive, dan air. Di sini, bactericide (anti bakteri) harus
ditambahkan pada tanki-tanki tersebut.
Perlu juga dijaga kebersihan dari air yang dipakai dan campuran air harus
dianalisa pengaruhnya.
Dapatkan sampel proppant dari yang diterima dan perika juga fines,
kualitas, distribusi butiran dan turbidity-nya. Setelah itu disimpan untuk
evaluasi setelah pekerjaan perekahan selesai nantinya.
Hitung jenis dan jumlah proppant.
Minta kontraktor untuk menguji tiap tanki selama pencampuran
berlangsung dan dicatat hasilnya.
Menguji fluida dengan crosslinker yang akan dipakai pada pekerjaan
perekahan tersebut.
Menguji pipa-pipa, manifold, hose, dan lain-lain dari kebocoran.

Setelah Fluida Dijadikan Gel


Naik ke atas tanki dan periksa volume, konsistensi, dan lain-lain.
Setelah proppant dimasukkan ke dalam tanki, lihat jumlah dan lokasinya
Melihat persiapan keperluan material dan membandingkan dengan
material yang telah ada.
Selama pengamatan, perlu juga dilihat persiapan pemasangan alat-alat.

Pemasangan Alat-alat (Rig-up)


Setiap pompa harus terisolasi dan memiliki check valve.
Perlu memastikan kemampuan HHP dari pompa.
Pipa untuk perekahan harus disusun dan mempunyai check valve.
Semua ball injector harus paling tidak berjarak 40 ft dari kepala sumur.
Pipa bleed-off (pelepas tekanan) harus selalu diperiksa.
Pemeriksaan pompa, meliputi pemeriksaan pemipaan blender dan
lokasinya.
Tempat untuk alat-alat tambahan atau pengganti (stand-by) harus diperiksa
kalau diperlukan sehingga nantinya akan mudah untuk pengoperasiannya.
Lokasi-lokasi densimeter perlu juga diperiksa.
Sesaat Sebelum Pemompaan
Tanki-tanki fluida perekah harus diaduk.
Volume pengukuran di tanki-tanki harus selalu dicatat.
Densimeter untuk ketelitian juga harus dicek.
Flowmeter harus selalu dikalibrasi.
Pengujian terhadap treesaver, yakni pipa yang digunakan agar kepala
sumur terisolasi dari tekanan, yang meliputi :

Pemeriksanaan terhadap pompa-pompa.

Semua alat harus terpasang benar dan mesin harus sudah dipanaskan.

Pemeriksaan terhadap komunikasi radio.

Pemeriksaan apakah ada perubahan pH, viskositas, dan waktu


crosslink.

4.6.2.3. Selama Pemompaan

Catatan detail perlu dibuat secara periodik selama fasa-fasa injeksi


perekahan.

Sampel diambil dari setiap tingkat pelaksanaan pekerjaan.

Catatan persediaan material dibuat selama proses pemompaan

berlangsung.
Secara periodik, perlu diperiksa tanki perekah, bin proppant, bahan

bakar, dan seterusnya, lalu bandingkan dengan catatan perjalan pekerjaan


(tally)

Laju additive diperiksa

Laju injeksi, volume fluida, tekanan injeksi permukaan, dan


tekanan annulus harus selalu dimonitor

4.6.2.4. Flushing
Flushing adalah penginjeksian fluida biasa agar mendesak slurry untuk
masuk ke formasi. Overflushing yakni pengusahaan agar semua proppant dapat
masuk ke formasi adalah sangat berbahaya, karena bisa menyebabkan choke di
dekat sumur, yaitu menutupnya rekahan karena proppant-nya lewat dan terdesak
oleh overflushing tersebut.
Jangan biarkan semua proppant masuk ke rekahan tetapi sisakan sebagian
di sumur.
Penekanan (pressure-up) terhadap proppant jangan terus dilakukan karena
akan mengakibatkan terjadinya overflush.
Volume flush sama dengan kapasitas pipa dikurangi 100 ft atau kapasitas
pipa dikurangi 2 3 bbl.
Konsentrasi proppant dimonitor dengan menggunakan densimeter yang
diletakkan di kepala sumur, dan jika konsentrasi proppant sudah menurun
maka itu berarti flushing harus sudah mulai dihitung.
Volume flush harus dimonitor dengan benar yakni dengan :

Bypass tub di blender

Flush blender

Tempat yang penuh dengan flush volume

4.6.2.5. Setelah Pelaksanaan Perekahan (Postfrac)

ISIP dicatat untuk 5, 10, 15 menit setelah shut-in.

Backside dilepaskan tekanannya (bleed-off).

Tanki frac dan tempat proppant diperhatikan lalu dibandingkan


dengan tally terakhir dengan tally mula-mula kemudian tentukan volume
yang terpompakan.

Sampel untuk pengujian di tahan atau disimpan bila diperlukan.

Dapatkan salinan grafik pompa, tekanan, dan volume.

Kontraktor perlu juga dievaluasi.

4.6.2.6. Periode Shut-in


Meminta kontraktor untuk mengambil contoh gel pada fase pemompaan
terakhir dan menentukan waktu pecahnya gel tersebut (gunakan BHST
dikurangi 25 atau 50oF). Ini adalah perode shut-in minimum walaupun
kadang-kadang perode ini ditentukan dari waktu closure yang tidak terlalu
lama.
Tekanan menutup rekahan dapat diperkirakan dari shut-in pressure dengan
SIP dari grafiknya.
Plot tekanan versus akar dari waktu (shut-in)
4.6.2.7. Tahap Pengaliran Kembali (Flowback Operation)
Pengaliran kembali hanya dapat dilakukan kalau rekahan telah menutup
dan fluida perekah telah mencair (break), kecuali kalau dikuatirkan
proppant di bagian atas rekahan akan mengendap pada interval rekahan
yang panjang. Waktu break bisa diuji di lapangan dari sampel yang
diambil.
Salah satu cara adalah dengan menambah jumlah breaker pada fluida yang
terakhir masuk.

Flowback langsung terjadi tetapi pada laju yang rendah (1/8 bpm),
tekanan setelah perekahan dapat dimonitor dengan alat Martin Decker
Gauge & Recorder.
Flowback yang salah dan screen-out adalah dua hal yang dapat
menyebabkan kerusakan proppant, karena itu alirkan fluida ke dalam
sumur secara lambat dan mantapkan dengan tekanan yang cukup tinggi
selama proses clean-up (pengaliran kembali).
Contoh (sampel) diambil dan dievaluasi kalau ada fines (butiran halus),
lalu viskositas dan kadar klorida dan proppant dukur (bedakan antara
proppant dengan pasir formasi).
Bila proppant ikut terproduksi (tergantung banyaknya), maka choke
dikecilkan atau sumurnya ditutup (shut-in).
Selanjutnya katup anulus dibuka dan tekanan dilepaskan karena adanya
pemanasan.
Volume cairan dan proppant yang balik ke permukaan dicatat.
Kedalaman sumur (PBTD) diperiksa dan dilakukan pembersihan proppant
dari sumur kalau diperlukan.

Gambar 4.91.
Skematik Peralatan Perekahan Besar
Ditambah Cadangan 100 % 4)

Gambar 4.92.
Unit Truk Pemompa dengan Laju Injeksi Tinggi
untuk Kondisi Tekanan Tinggi 12)

Gambar 4.93.
Diagram Skematik Blender

Gambar 4.94.
Unit Trailer Blender 12)

Gambar 4.95.
Instalasi Flowmeter pada Unit Blender 12)

Gambar 4.96.
Density Meter 12)

Gambar 4.97.
Fracture Monitor 12)

Gambar 4.98.
Unit Transport Proppant dengan
Kapasitas 20.000 lb 12)

Gambar 4.99.
Wellhead Manifold 12)

Gambar 4.100.
Wellhead Manifold Check Valve 12)

Gambar 4.101.
Hydraulic Jetting Tool 14)

Gambar 4.102.
Cross-over Valve 14)

4.7. Evaluasi Keberhasilan Pelaksanaan Perekahan Hidrolik


Pada bagian ini, akan dibicarakan mengenai evaluasi dari perekahan
hidrolik, yaitu untuk mengetahui apakah pelaksanaan perekahan hidrolik berhasil
untuk menaikkan produktivitas sumur. Untuk mudahnya, ukuran dari setiap
stimulasi termasuk di sini adalah perekahan hidrolik adalah bila indeks
produktivitas akan naik seperti yang terlihat pada Gambar 4.103. di bawah ini.

Gambar 4.103.
Perbandingan Langsung PI Sebelum dan Sesudah
Perekahan dari IPR 4)

Dari Gambar 4.103. dapat dilihat bahwa bilamana indeks produktivitas


setelah perekahan (PIH) lebih besar dari indeks produktivitas sebelum perekahan
(PIi), maka perekahan bisa dikatakan berhasil. Selanjutnya nanti akan dibicarakan
mengenai analisa kenaikan PI dari sumur minyak, menghitung panjang rekahan
dengan menggunakan Pressure Transient Analysis, dan yang terakhir mengenai
pengukuran tinggi rekahan.
4.7.1. Analisa Kenaikan Indeks Produktivitas
Gambar 4.103. di atas hanya merupakan gambaran secara sederhana
mengenai prinsip untuk mengetahui kenaikan indeks produktivitas dalam
hubungannya dengan evaluasi keberhasilan dari perekahan hidrolik. Seperti pada
Bab II tentang produktivitas formasi, maka untuk sumur minyak, indeks
produktivitas (PI atau J), dapat ditulis sebagai :

qo
...............................................................................(4-110)
( p s p wf )

Dari persamaan aliran pseudo-steady state untuk sumur minyak,

p s p wf

141,2 q o B o o re
ln
kh
rw

0,75 s ............................(4-111)

Jadi, untuk aliran pseudo-steady state minyak adalah :

qo

(p s p wf )

kh
r
.......................(4-112)
141,2 B o o ln e 0,75 s
rw

Di sini tidak akan dibicarakan lebih jauh tentang indeks produktivitas dari gas.

4.7.2. Perbandingan Indeks Produktivitas


Baik untuk sumur gas ataupun sumur minyak, pengaruh perekahan dapat
dinyatakan sebagai perbandingan antara indeks produktivitas sesudah dan
sebelum perekahan. Persamaan yang umum digunakan untuk menyatakan
perbandingan tersebut adalah dari Prats, Tinsley et. al., dan McGuire dan Sikora
untuk sumur pada keadaan steady state dan pseudo-steady state.
4.7.2.1. Metode Prats
Metode Prats12) adalah metode yang pertama kali digunakan dan sangat
sederhana. Kelemahan dari metode ini adalah bahwa semua keadaan dianggap
ideal. Metode Prats dijabarkan lewat persamaan :

Jo

re
rw

ln
ln

re
0,5 L f

..........................................................................(4-113)

di mana :
Lf = setengah panjang rekahan dua sayap

Anggapan dalam persamaan Prats adalah :


keadaan steady state
di daerah silinder
fluida incompressible
konduktivitas rekahan tidak terbatas
tinggi rekahan sama dengan tinggi formasi
Sebagai contoh, bila Lf = 500 ft, re = 2106 ft (spasi sumur 320 acres,
segiempat), rw = 0,354 ft, maka akan menghasilkan J/J o = 4,08 untuk Persamaan
(4-113) di atas.

4.7.2.2. Grafik Tinsley, Van Poollen, dan Saunders


Tinsley, Van Poollen, dan Saunders menggunakan model electrolytic untuk
membuat grafik J/Jo dan grafik ini bisa digunakan untuk bermacam-macam
ketinggian rekahan. Gambar 4.104. dan Gambar 4.105. memperlihatkan hasil
perhitungannya yang juga menganggap keadaan steady state, reservoir silindris,
fluida incompressible dan re/rw untuk model ini dianggap sma dengan model
lapangannya (pengaruh perbedaan diabaikan). Tinsley juga melakukan studi
perekahan setengah tebal formasi dan menganggap seluruh rekahan terisi
proppant.

Gambar 4.104.
Korelasi Tinsley, Van Poollen, dan Saunders untuk Perbandingan
Indeks Produktivitas dengan hf/h =1 4)

Gambar 4.105.
Korelasi Tinsley, Van Poollen, dan Saunders untuk Perbandingan
Indeks Produktivitas dengan hf/h =0,5 4)

4.7.2.3. Grafik McGuire dan Sikora


Dengan menggunakan studi analog elektrik, maka McGuire dan Sikora
membuat analogi perekahan di lapangan. Grafik ini adalah yang paling umum
digunakan. Anggapannya adalah :
aliran pseudo-steady state
laju aliran konstan dengan tanpa aliran dari luar batas re
daerah pengurasan segiempat sama sisi
aliran incompressible
lebar rekahan sama dengan lebar formasi
Perbandingan produktivitas untuk aliran stabil, pwf konstan, adalah seperti
pada keadaan pseudo-steady state. Pada Gambar 4.106., absis dari grafik

McGuire-Sikora adalah konduktivitas relatif 12(wkf/k)(40/A)1/2 dan ordinatnya


adalah skala tingkat kenaikan produktivitas, (J/Jo) (7,13/ln(0,472Le/rw)). Di sini
faktor skala tingkat digunakan untuk merubah daerah pengurasan selain dari 40acre (16ha) dan harga Le/rw untuk lapangan yang dianalisa.

Gambar 4.106.
Grafik McGuire-Sikora untuk Menunjukkan
Kenaikan Produktivitas dari Perekahan 12)

Beberapa kesimpulan dapat diperoleh dari grafik McGuire-Sikora :


Pada permeabilitas rendah dengan perekahan yang konduktivitasnya
tinggi, maka hasil dari kenaikan produktivitas akan makin besar terutama
karena panjang rekahan dan bukan dari konduktivitas relatif rekahan.
Untuk suatu panjang rekahan (Lf), maka akan ada konduktivitas rekahan
optimal. Menaikkan konduktivitas rekahan lebih lanjut tidak akan
menguntungkan. Misalnya untuk harga Lf/Le = 0,5, kenaikan konduktivitas
selanjut tidak akan ada artinya untuk harga relative conductivity di atas
105.
Maksimum kenaikan perbandingan indeks produktivitas teoritis untuk
sumur yang tidak rusak (damage) adalah sebesar 13,6.

Selanjutnya Holditch4) membuat suatu simulasi dengan alat finitedifference simulator yang lebih mutakhir dan membandingkannya dengan grafik
McGuire-Sikora. Dalam hal ini, asumsinya sama yakni suatu sumur dengan pusat
di tengah reservoir segiempat sama sisi tanpa aliran di luar batasnya, alirannya
agak compressible, tinggi rekahan sama dengan lebar formasi, dan alirannya
pseudo-steady state. Hasil yang diperoleh adalah sama dengan grafik McGuireSikora walaupun ada beberapa perbedaan detail. Di mana ada perbedaan, hasil
yang diperoleh Holditch adalah yang benar. Gambar 4.107. memperlihatkan
grafik dari simulator Holditch.

Gambar 4.107.
Modifikasi Grafik McGuire-Sikora oleh Holditch 4)
4.7.2.4. Grafik Tannich dan Nierode
Tannich dan Nierode membuat grafik seperti pada grafik McGuire-Sikora
tetapi untuk gas, di mana pengaruh non-Darcy turut diperhitungkan. Metodenya
menggunakan dua grafik, yang pertama merupakan bagian dari stimulasi karena
perubahan aliran reservoir yang hampir sama dengan grafik McGuire-Sikora, dan
yang kedua memberikan jumlah stimulasi yang dihasilkan akibat pengurangan
pengaruh aliran radial. Dengan ini maka :

Jg '
Jg '

Jg.o' Jg.o

Jg.o

.............................................................(4-114)
Jg.o'

Bagian pertama yang menunjukkan perubahan pola aliran reservoir


diperlihatkan pada Gambar 4.108., di mana perbandingan indeks produktivitas
dikalikan dengan faktor skala yang mana merupakan fungsi dari panjang rekahan
tanpa dimensi dan konduktivitas aliran relatif non-Darcy (Cnr). Persamaan (4115) menunjukkan harga Cnr yang meliputi aliran non-Darcy di rekahan melalui
koefisien turbulen di rekahan (f).
Menurut Cooke, harga f dapat dikorelasikan dari laboratorium. Gambar
4.108. menunjukkan Cnr sebagai absis, dan bisa dihitung dari persamaan :

Cnr

12 w
k

zT
2

f g ( p e p wf )

2,640
re .................................(4-115)

Gambar 4.108.
Rasio Stimulasi dari Modifikasi Pola Aliran pada Sumur Gas 4)

Sedangkan bagian kedua yang merupakan kontribusi dari pengurangan


aliran non-Darcy pada batuannya sendiri diberikan pada grafik Gambar 4.109.

Gambar 4.109.
Kenaikan Produktivitas dari Hilangnya Tahanan
Aliran Non-Darcy di Dekat Sumur 4)
Kenaikan produktivitas ditunjukan sebagai fungsi kebalikan dari
kemiringan (n) dari grafik back pressure (tekanan balik) dan kelompok aliran
non-Darcy formasi (Gnf). Seperti yang terlihat pada Persamaan (4-116), Gnf
mengandung yaitu faktor non-Darcy formasi yang mempengaruhi aliran nonDarcy di batuan. Harga specific gravity dapat dicari dari buku Handbook of Gas
Engineering (Katz).

G nf

k 2 g (p e

p wf ) 27,59
1
r

2
1
,
128
re
zT
w

ln
r

....................(4-116)

Seringkali eksponen dari Gambar 4.109. diabaikan atau sering juga


pengaruh aliran non-Darcy formasi telah hilang karena adanya pengasaman
matriks yang efisien atau pengerjaan perekahan sebelumnya. Dalam hal ini yang
diperhitungkan hanya komponen dari modifikasi pola aliran reservoir saja.

Perbandingan Indeks Produktivitas pada Sumur yang Damage


Bilamana sumur memang mulanya mengalami damage, maka hasil
kenaikan produktivitas akan jauh di atas harga yang diberikan oleh McGuire dan
Sikora. Padahal dalam hal permeabilitas yang besar, damage sangat mungkin
terjadi karena adanya mud filtrate loss selama pemboran berlangsung, dan
perekahan hidrolik adalah salah satu cara yang paling baik kalau damage-nya
dalam (selain tidak bereaksi negatif dengan formasi). Raymond dan Binder4)
menurunkan persamaan untuk sumur damage yang distimulasi dengan asumsi
bahwa rekahannya terbatas, alirannya

pseudo-steady state, dan daerah

pengurasannya berbentuk silindris.

r
r
ln d ln e
rw
rd
kf
w k

1
L f f 1
kd
k
ln re
ln
L
w k

kf
f
rd f 1
1

k
kd

k
kd

Jo
k
ln
kd

rd

w
rw

..............(4-117)

Persamaan di atas cukup baik untuk Lf/Le 0,5, seperti yang telah
dibandingkan oleh mereka dengan grafik McGuire-Sikora. Harga k/kd dan rd/rw
dapat dicari dari PBU (UKL) dari harga s sebagai berikut :

k
s
k d

r
1 ln d ....................................................................(4-118)
rw

dan rd dapat diestimasi atau bila dari laboratorium dapat dengan pendekatan untuk
kd/k, akan dapat dicari harga re.

Perbandingan Indeks Produktivitas untuk Aliran Unsteady State


Pada formasi dengan permeabilitas yang rendah dan rekahan yang
panjang, aliran steady state atau pseudo-steady state tidak akan dicapai sampai
waktu lama, yakni bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan, sehingga dalam
hal ini metode McGuire-Sikora tidak dapat dipakai. Untuk itu aliran unsteady
state sebelum mencapai keadaan stabil harus diperhitungkan. Morse dan von
Gonten membuat studi mengenai fluida agak kompresibel untuk kasus tekanan
alir dasar sumur dan laju aliran yang konstan. Gambar 4.110. memperlihatkan
suatu perbandingan antara J sesaat (instanteneous, selama unsteady state laju
aliran

konstan)

dengan

Jo

(PI

sebelum

direkahkan

dan

stabil

laju

produksi/tekanan). Perbandingan ini diplot terhadap dimensionless time, yaitu :

t Lcd

0,0002637 k t
cT Lc 2

....................................................................(4-119)

dengan parameter Lf/Lc (perbandingan panjang rekahan dengan radius


pengurasan) bervariasi dari 0,0 ke 1,0 hasilnya dibuat untuk daerah pengurasan
segiempat sama sisi dan rekahan dengan konduktivitas tak terhingga.
Pada Gambar 4.110. harga J/Jo akan mencapai harga stabil pada harga t LcD
0,25 tak tergantung dari panjang rekahannya. Di sini terlihat bagaimana harga
J/Jo yang besar mula-mula, makin panjang rekahan, makin besar J/J o versus waktu
pada mula-mulanya. Harga ini lebih nyata terlihat pada Gambar 4.111. yang

menyatakan harga J/Jo versus waktu untuk panjang rekahan yang tetap (Lf/Lc =
0,5), untuk beberapa harga permeabilitas dengan parameter lainnya tetap. Di sini
terlihat bahwa harga J stabil pada waktu kurang dari 1 hari untuk k = 100 md
tetapi butuh waktu 10.000 hari (27,4 tahun) untuk stabil pada 0,01 md.
Gambar 4.112. sama seperti Gambar 4.110. tetapi dinyatakan dalam
harga pwf yang konstan. Di sini J/Jo juga akan stabil pada tLcD 0,25. Waktu dan
ukuran pengaruh unsteady state bisa dilihat pada Gambar 4.113. untuk
parameter-parameter reservoir tertentu dan harga permeabilitas yang bervariasi.

Gambar 4.110.
Perbandingan Produktivitas versus Waktu Dimensionless
Dengan Laju Aliran Konstan 4)

Gambar 4.111.
Perbandingan Produktivitas versus Waktu Sebenarnya
Dengan Laju Aliran Konstan 4)

Gambar 4.112.
Perbandingan Produktivitas versus Waktu Dimensionless
Dengan Pwf Konstan 4)

Gambar 4.113.
Perbandingan Produktivitas, Pwf Konstan 4)
4.7.3. Pengukuran Tinggi Rekahan
Pengukuran tinggi rekahan adalah penting untuk mengetahui keefektifan
dari pelaksanaan pekerjaan perekahan, untuk menghitung kelakuan produksi
sumurnya dan untuk memeriksa ketelitian model yang digunakan apakah PKN,
KGD, atau radial, yang bisa dipakai untuk pekerjaan lain di lapangan tersebut di
waktu yang akan datang. Juga dengan mengetahui tinggi rekahan maka bisa
dihitung panjang rekahan dengan lebih baik yang nantinya akan meliputi
perhitungan produktivitasnya. Dan juga bila terjadi perbedaan menyolok antara
model dan hasil pengukuran yang sebenarnya maka dapat digunakan untuk
mendesain pada masa mendatang.
Alat pengukur yang dipakai pada masa kini adalah :
Temperatur Logging

Gamma Ray Logging


Metode Seismic
Borehole Televiewer
Formation Microscanner
Noise Logging
Spinner Survey
Teknik di atas mungkin langsung mengukur ataupun harus diintepretasikan
dahulu dan beberapa di antaranya hanya jelas pada lubang tanpa selubung
(casing).
4.7.3.1. Temperatur Logging
Log tempereatur dilakukan sebelum dan sesudah perekahan untuk melihat
interval yang didinginkan oleh injeksi fluida perekahan. Thermal konduktivitas
batuan akan mempengaruhi hasilnya.. Dobkins

4)

menganjurkan sirkulasi sebelum

adanya perekahan dan Gambar 4.114. menunjukkan hasil dari survei temperatur
tersebut. Untuk sumur sangat dangkal kadang-kadang temperaturnya akan tidak
jelas bedanya.
Tinggi rekahan yang ditunjukkan oleh temperatur survei adalah tinggi
rekahan yang terjadi dan bukan tinggi yang diisi proppant. Kalau temperatur
survei dilakukan lama setelah perekahan selesai, maka hasilnya sering tidak jelas
lagi. Dengan melakukan berkali-kali temperatur survei bisa didapat gambaran
yang agak lengkap mengenai bentuk rekahannya seperti yang terlihat pada
Gambar 4.115.

Gambar 4.114.
Temperatur Log Sebelum dan Sesudah Perekahan 4)

Gambar 4.115.
Temperatur Survey yang Dilakukan Beberapa Kali
Untuk Menggambarkan Situasi Perekahan 4)
4.7.3.2. Gamma Ray Logging
Zat radioaktif sering dimasukkan ke dalam fluida perekah atau pada
proppant-nya diberi zat radioaktif tersebut sehingga nantinya mudah mendeteksi
dengan gamma ray yang lalu dibandingkan dengan gamma ray log sebelum
perekahan. Kesulitannya adalah kadang-kadang hasilnya tidak jelas karena zat
radioaktif ada yang tertinggal di sumur dan untuk banyak zona sukar dibedakan
kalau hanya menggunakan satu isotop. Pada akhir-akhir ini digunakan spectral
gamma log dan mampu melakukan pengecekan kalaupun terdapat banyak zona.
Gambar 4.116. menunjukkan kombinasi survey gamma ray dengan temperatur
log.

Gambar 4.116.
Gamma Ray Dikombinasikan dengan Temperatur Survey 4)
4.7.2.3. Spectral Gamma Ray
Karena isotop tunggal tidak dapat membedakan material mengandung
radioaktif yang ada dalam sumur, celah/rekahan semen, ataupun rekahannya
sendiri, maka penggunaannya perlu dikombinasikan dengan alat lain, misalnya
dengan temperatur survey. Anderson4) mendiskusikan penggunaan highresolution, germanium crystal, gamma ray spectroscopy tool yang bisa
membedakan antara energi yang dikeluarkan oleh masing-masing sumber.
Gambar 4.117. memperlihatkan suatu contoh di mana terlihat di situ rekahan dari
kedalaman 3800 4200 ft. Perhitungan geometri rekahan dengan model 3D dan
data sumur lain menunjukkan bahwa rekahan adalah antara 4000 dan 4150 ft.
Anderson menganjurkan bahwa dengan menggunakan crossplot data dari total
photo sum versus background window count rate akan dapat dibuat crossplot
gamma ray spectral dengan dua trend, garis A dan B pada Gambar 4.118. Data A
menunjukkan data dari sumur dan rekahan semen di sekitarnya, sedangkan data B
berasal

dari rekahan yang dalam. Dengan memisahkan data yang tidak

berhubungan dengan memplot data B saja, maka akan didapat Gambar 4.119.
yang memperlihatkan bahwa rekahan antara 4090 4170 ft mendekati model 3D.

Gambar 4.117.
Gamma Ray Sebelum dan Sesudah Perekahan 4)

Gambar 4.118.
Cross Plot Gamma Ray 4)

Gambar 4.119.
Log Netto untuk Menunjukkan Rekahan 4)

4.7.3.4. Multiple Isotope Tracking


Kemampuan untuk mendeteksi lebih dari satu material radioaktif akan
sangat berguna dalam menentukan misalnya tiga tingkat pelaksanaan perekahan,
dimana setiap tingkat diberi zat berlainan, misalnya antimon dan scandium.
Dengan setiap isotop memberi emisi yang berlainan maka gamma ray
spectroscopy tool dengan detektor natrium iodide, akan dapat menghitung laju
sinar versus kedalaman untuk ketiga perekahan tersebut. Gambar 4.120
memperlihatkan dua isotop untuk dua tingkat perekahan. Pertama perekahan pada
kedalaman 6456 6483 ft dan dicek dengan scandium 46. Perforasi atas 6378
6384 ft direkahkan setelah bridge plug dipasang sedalam 6420 ft dan dicek
dengan iridium 192. Di sini terlihat bahwa perekahan kedua tidak merekahkan
bagian bawah interval seperti yang diinginkan.
Contoh kedua yakni pada Gambar 4.121 dengan menggunakan dua isotop
untuk satu tingkat perekahan. Pad pertama menggunakan scandium 46 dan
proppant dengan iridium 192. Di sini yang terukur hanyalah iridium karena

scandium-nya masuk ke dalam rekahan, hal yang memang seharusnya demikian


kalau perekahan berjalan dengan baik.

Gambar 4.120.
Dua Isotop Digunakan untuk Mengecek
Perekahan Dua Tingkat 4)

Gambar 4.121.
Dua Isotop Digunakan untuk Mengecek Apakah
Pad dan Slurry Berurutan 4)

4.7.3.5. Metode Seismik


Ada dua macam cara yang digunakan dalam metode seismik untuk
mengukur tinggi rekahan dan geometrinya. Yang pertama dilakukan bersamaan
dengan pelaksanaan perekahan dan yang kedua dilakukan setelah perekahan
selesai, dan keduanya masih dalam tingkat eksperimental.
Seismik Selama Perekahan Berlangsung
Teknik passive borehole seismic dilakukan dengan menurunkan alat
seismik ke sumur dengan kabel seperti pada geophysic untuk profil seismik
vertikal. Alat tersebut dilekatkan pada casing di bagian bawah perforasi.
Sementara perekahan berlangsung, setiap 0,1 0,3 detik diukur mikroseismiknya. Karena orientasi alat dapat diukur, maka gelombang mikroseismik-nya akan
dapat menentukan arah rekahan dan geometrinya. Perlu diketahui bahwa metode
ini tidak akan baik untuk rekahan yang alamiah. Dobecki4) memeberikan
keterangan interpretasi seismik ini di mana setiap data dianalisa untuk gelombang
kejadian P dan S. Interval waktu kemudian dikonversikan ke jarak sumbernya,
yang dalam hal ini adalah shear failure batuan selama perekahan berlangsung,
karena baik kecepatan gelombang kompresional maupun shear medianya telah
diketahui. Gambar 4.122. menunjukkan pekerjaan Dobecki tersebut.

Gambar 4.122.
Pekerjaan Monitoring Selama Perekahan
dengan Metode Seismik 4)
Metode Seismik Setelah Perekahan
Metode ini bekerja seperti di atas tetapi dengan tambahan sumber suara.
Martin4) memberikan contoh di lapangan dengan metode shear-wave polarization
dan splitting. Contoh lapangan menunjukkan bahwa polarisasi gelombang S dan
penundaan split shear tadi dapat dipergunakan untuk menghitung azimuth
anisotropi. Dengan ini orientasi rekahan dapat diketahui dan juga dengan konsep
ini bisa diketahui geometri dan tinggi suatu rekahan.
4.7.3.6. Borehole Televiewer
Alat ini adalah yang paling teliti karena seakan-akan rekahan dipotret oleh
alat ini, namun sayang alat ini tidak dapat melihat melalui casing. Alat lain seperti
downhole video camera telah diperkenalkan di Indonesia pada permulaan tahun
1996 tetapi juga sukar melihat di belakang casing, jadi hanya untuk sumur open
hole.
4.7.3.7. Formation Microscanner
Dengan menggunakan prinsip resistivity untuk membuat bayangan (image)
dari dinding sumur sekaligus dapat mengetahui ketinggian dari rekahan.
Digunakan hanya untuk open hole.