Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Sengketa Laut China Selatan telah menjadi konflik yang benar-benar perlu
diperhatikan dan sangat kompleks. Begitu kompleksnya sehingga Laut China
Selatan ini diwarnai klaim sepihak antar negara yang besengketa. Klaim ini
sendiri saling bertumpang tindih dengan klaim negara-negara lain yang ikut
bersengketa sehingga menyebabkan ketegangan dan dikhawatirkan menuju
konflik yang terbuka.
Apa yang menjadi daya tarik konflik ternyata bukan hanya isapan jempol
belaka. Minyak dan gas yang digadang-gadang lebih melimpah ketimbang laut
Persia, jalur transportasi laut yang selalu dilalui kapal-kapal besar, dan juga
diyakini bahwa 8% hasil tangkapan ikan di dunia berasal dari laut ini. Maka
bukan sebuah hal yang aneh ketika banyak negara saling beradu untuk
mendapatkan laut surga ini.
Konflik ini melibatkan sebagian negara-negara yang tergabung dalam
ASEAN dan China (Taiwan dan PRT). China (PRT) sendiri sangat menyadari
akan dirinya sebagai kekuatan yang besar dibandingkan para pesaingnya sehingga
tidak tanggung-tanggung mengklaim hampir keseluruhan dari Laut China Selatan
yang membentang dari Taiwan hingga Indonesia ini, Vietnam, dan yang lainnya,
tentu tidak tinggal diam dan mengklaim sebagian dari Laut China Selatan.
Namun, jika disandingkan dengan China (PRT) maka konflik ini dikatakan tetap
tidak seimbang.
Sampai saat ini pun, konflik ini belum selesai bahkan menuju ke arah yang
lebih parah. Setiap negara tentu memiliki alasan yang berbeda-beda sehingga sulit
ditemukan jalan tengah yang disetujui kedua belah pihak. Maka setiap resolusi

yang ditawarkan selalalu dianggap akan tidak adil oleh sepihak. Maka jalan untuk
penyelesaian konflik ini pun semakin panjang.
Untuk menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kedaulatan, maka sangat
dibutuhkan sebuah metode penyelesaian yang lebih adil dan tidak menguntungkan
secara sepihak. Sebenarnya, tanpa dianalisis lebih jauh pun, menurut kami sudah
tentu harus menggunakan resolusi dari penyelesaian multilateral. Banyaknya
negara yang terlibat konflik, potensi ketidakseimbangan kekuatan, juga berbagai
persepsi yang berbeda akan laut ini dari setiap negara tentunya mengundang
benturan persepsi yang tentu sulit diselesaikan dengan bilateral. Maka bagi kami
perlu sebuah organisasi atau pun institusi yang memfasilitasi adanya perundingan
bagi semua negara sehingga tercapai persetujuan yang lebih bisa diterima oleh
semua pihak dan menghilangkan resiko akan terjadinya konflik terbuka di wilayah
ini.
1.2 Rumusan Masalah
a. Sejarah Konflik Laut China Selatan
b. Perkembangan Konflik Laut China Selatan
c. Bagaimana ASEAN menyikapi konflik ini
d. Multilateral sebagai cara mutlak menghadapi konflik ini.

BAB 2

Landasan Teori
2.1 Multilateral
Multilateralisme dapat diartikan kumpulan beberapa negara yang bekerja
sama

untuk

mengatasi

isu

yang

ada.

Robert

Keohane mengartikan

multilateralisme yaitu, the practice of coordinating national policies in groups of


three or more states, artinya bahwa, ketika sesuatu dibicarakan secara
multilateral maka masalah akan dibawa ke jenjang lebih terbuka dan mengundang
beberapa negara untuk ikut memutuskan.
Penyelesaian multilateral sendiri seringkali dianggap sebagai prinsip yang
menjadi opposite dari penyelesaian bilateral (unilateral). Prinsip bilateral lebih
mengutamakan solusi dari kedua negara yang berkonflik. Tentu jika kedua negara
tersebut seimbang kekuatannya maka solusi yang keluar merupakan solusi yang
adil, Namun, apa yang terjadi jika negara besar bertentangan dengan negara kecil
maka prinsip multilateral lah yang dijadikan pijakan. Maka prinsip multilateral
bisa menjadi mekanisme keadilan yang bisa dimiliki negara-negara kecil dalam
menghadapi superiority dari negara-negara besar.
Selain itu, penyelesaian multilateral juga dapat sangat efektif tergantung
dari seberapa efektifnya institusi multilateralnya. Institusi multilateral mampu
mengancam negara manapun jika melanggar atau dianggap menghalangi
terjadinya perdamaian pada konflik yang bersangkutan. Contohnya ialah ketika
NATO memulai intervensi kemanusiaan di Kosovo, kekuatan NATO ini mampu
mendiamkan Rusia dan China sekalipun dua negara ini merupakan dewan
keamanan tetap PBB namun dua negara ini tidak berkutik lagi untuk membantu
lebih jauh Serbia.

2.2 UNCLOS
United Nation Convention Law of The Sea ini lahir pada tahun 1982.
Konvensi ini merupakan sebuah jawaban atas ketidakpastian akan batas laut setiap
negara khususnya negara kepulauan. Walau begitu, hasil dari UNCLOS ini sendiri
menjadikan banyak benturan antara persepsi setiap negara sehingga kadang
menjadi sumber konflik yang baru selain menjadi penyelesai konflik.
Yang terkenal dari UNCLOS ini sendiri ialah ditetapkannya zona batas
territorial, zona landas kontinen dan Zona Ekonomi Ekslusif. Zona territoria
sendiri ialah 12 mil. Landas kontinen merupakan kelanjutan pulau yang diukur
pada ketinggian tertentu dan ZEE merupakan zona yang bebas dieksploitasi
negara yang bersangkutan dan mencakup jarak 200 mil. Di antara zona ini
seringkali berbenturan dengan zona bagi negara lain sehingga sering terjadi
perbedaan pendapat dan mengundang konflik.
Karena paper ini membahas tentang Laut China Selatan yang bisa
dianggap laut tertutup, maka bisa kami sebutkan beberapa ketentuan UNCLOS
bagi laut tertutup.
Pasal 123 UNCLOS:
Kerjasama

antara

negara-negara

yang

berbatasan

dengan

laut

tertutup atau setengah tertutup. Negara-negara yang berbatasan dengan laut


tertutup atau setengah tertutup hendaknya bekerjasama satu sama lainnya dalam
melaksanakan hak dan kewajibannya berdasarkan konvensi ini. Untuk keperluan
ini, mereka harus berusaha secara langsung atau melalui organisasi regional yang
tepat :
(a)

untuk

mengkoordinasikan

pengelolaan,

konservasi,

eksplorasi

dan

eksploitasi sumber kekayaan hayati laut;


(b)

untuk mengkoordinasikan pelaksanaan hak dan kewajiban mereka bertalian


dengan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan laut;

(c)

untuk mengkoordinasikan kebijaksanaan riset ilmiah mereka dan untuk


bersama-sama dimana perlu mengadakan program bersama riset ilmiah di
kawasannya;

(d)

untuk mengundang, menurut keperluan, Negara lain yang berminat atau


organisasi internasional untuk bekerjasama dengan mereka dalam
pelaksanaan lebih lanjut ketentuan pasal ini.

BAB 3

PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Konflik Laut China Selatan
Sengketa teritorial di Laut Cina Selatan melibatkan klaim maritim antara
tujuh negara-negara berdaulat di kawasan ini, yaitu Brunei, Republik Rakyat
Tiongkok Taiwan, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Terjadi perselisihan
tentang Spratly dan Kepulauan Paracel, serta batas maritim di Teluk Tonkin.
perselisihan lebih lanjut juga terjadi di perairan dekat Kepulauan Natuna
Indonesia.
Sejak tahun 1947, China (Kuomintang) sudah mengklaim secara
keseluruhan kepulauan Spratly sebagai bagian dari Provinsi Guangdong.
Kemudian di tahun 1974, China mengerahkan militer nya memasuki Paracel
Island yang kemudian membuat protes Vietnam dan menuntut untuk China keluar
dari Paracel maupun Spratly. Ketegangan kembali muncul di tahun 1988 ketika
puluhan pelaut Vietnam terbunuh ketika terjadi pertikaian di Laut China Selatan
dengan China.
Di tahun 1992, China kemudian mengerahkan militernya merebut
Mischief Reef yang diklaim Filipina. Hal ini kemudian membuat ASEAN mulai
focus mada masalah laut China selatan ini dan menyayangkan tindakan China.
Di tahun 2002, China kemudian menawarkan sebuah rangkaian deklarasi
kode etik kepada ASEAN yang isinya kurang lebih mengesampingkan lebih dulu
masalah perbedaan klaim dan menahan diri dari tindakan yang merugikan
perdamaian semua pihak. Deklarasi ini kemudian diterima dan ditandatangani di
Pnom Penh.

3.2 Gambaran konflik dan Laut China Selatan menurut berbagai pandangan
negara yang bersengketa
Perselisihan LCS melibatkan perbatasan laut dan pulau-pulau. Di bawah
ini gambaran Konflik yang terjadi, yang masing-masing melibatkan wilayah
sengketa yang berbeda dari tiap negara:

Batas laut di sepanjang pantai Vietnam antara Vietnam, Cina, dan Taiwan
Batas maritim di perairan utara dari Kepulauan Natuna antara Indonesia,

China, dan Taiwan


Utara batas laut Kalimantan antara Vietnam, China, Taiwan, Malaysia,

Filipina, dan Brunei


Kepulauan di selatan Laut Cina Selatan, termasuk Kepulauan Spratly

antara Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, Taiwan, dan China


Batas laut di lepas pantai Palawan dan Luzon antara Filipina, China, dan

Taiwan
Kepulauan di bagian utara dari Laut Cina Selatan, termasuk Kepulauan

Paracel antara Vietnam, Cina, dan Taiwan


Batas maritim di Selat Luzon antara Filipina dan Taiwan, termasuk pulau-

pulau yang ada di dalamnya


Daerah jalur titik 9 yang diklaim oleh Cina yang meliputi sebagian besar
LCS dan tumpang tindih dengan klaim Zona Ekonomi Eksklusif dari
Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam
China memandang laut China Selatan khususnya Kepulauan Spratly dan

Paracel sebagai bagian dari China secara sejarah sejak dinasti Yuan. Kepulauan
Paracel dianggap bagian dari Kepulauan Nansha, sedangkan Spratly adalah bagian
dari kepulauan Hainan. Merujuk pada UNCLOS yang diratifikasinya di tahun
1996, China sangat mempergunakan hak klaiman ZEE nya sebagai negara
kepulauan didasarkan pada kepulauan Paracel dan Spratly yang ia klaim.
Taiwan sendiri juga mengklaim Laut China Selatan khususnya pulau
terbesar di Spratly Islands yaitu pulau Aba (Taiping Dao). Namun, karena adanya
kebijakan One Chinas Policy, maka klaimnya tidak dibuktikan dengan legal
hukum internasional.

Vietnam memandang Spratly Island dan Paracel Island sebagai warisan


dari penjajahan Prancis. Juga memakai argumen landas kontinen sebagai bagian
lepas pantai dari provinsi Khan Koa.
Filipina lebih memakai argumen landas kontinen atas beberapa pulau yang
ia klaim. Tahun 1956, Penjelajah Filipina mengumpulkan data yang di dalamnya
disebutkan bahwa pulau yang diklaim Filipina bukanlah bagian dari kepulauan
Spratly dan merupakan kepulauan kosong yang sah diklaim oleh siapapun. 1971
kemudian Filipina mengklaim 8 pulau di area sengketa sebagai bagian dari
provinsi Palawan.
Malaysia juga menggunakan prinsip landas Kontinen dan mengklaim 3
pulau yang dilalui landas kontinennya. Di lain pihak, Brunei Darusalam tidak
mengklaim pulau apapun, hanyalah kelanjutan dari landas kontinennya di Laut
China Selatan.
3.3 Sebab dan Perkembangan Konflik Laut China Selatan
Laut China Selatan bisa dibilang salah satu primadona lautan di dunia ini.
Menurut pihak China, LCS berpotensi memiliki minyak dan gas bahkan melebihi
stok dari negara Kuwait yang saat ini pengekspor minyak terbesar keempat di
dunia. Sehingga kawasan ini sangat menjanjikan untuk digunakan sebagai
penyedia energy bagi beberapa puluh tahun ke depan.
Laut China selatan juga merupakan laut yang selalu dihinggapi ikan dalam
jumlah lumayan banyak. Terhitung sekitar 8% konsumsi Ikan dunia dihasilkan
dari kawasan ini. Hal ini menyebabkan sering terjadi bentrokan antara nelayan di
kawasan ini dalam memperebutkan wilayah menangkap ikan.
Laut China selatan juga merupakan jalur laut yang sangat sibuk yang
menghubungkan banyak negara-negara besar seperti Jepang, Amerika Serikat dll.
Jalur laut ini dihitung lebih sibuk 3 kali lipat ketimbang terusan Suez dan 5 kali
lebih sibuk dibanding terusan Panama.

3 hal inilah yang kemudian menyebabkan persaingan sengketa wilayah


lebih memanas. China tentu sebagai negara besar tak mau menyia-nyiakan
peluang sekecil apapun untuk mendapatkan wilayah yang kaya yang secara
historis masih punya hubungan dengan China. Vietnam sendiri pun sebagai negara
yang perlu suntikan dana untuk membangun negeri juga melihat Laut China
Selatan sebagai potensi yang sangat baik dalam membangun wilayahnya. Begitu
juga dengan negara ASEAN lainnya.
Perkembangan konflik sendiri sekarang sekurang-kurangnya ada tujuh pos
terdepan baru yang sudah didirikan oleh lima negara untuk mengukuhkan klaim
mereka atas cadangan minyak dan gas alam yang sangat besar, yang ada di dasar
Laut China Selatan. Yaitu:
Pulau Karang Barat Daya, diduduki oleh Vietnam
Terumbu Karang Mariveles, diduduki oleh Malaysia
Pulau Thitu, diduduki oleh Filipina
Itu Aba, diduduki oleh Taiwan
Terumbu Karang Fiery Cross, diduduki oleh China
Bantaran Ardasler, diduduki oleh Malaysia, dan
Kepulauan Spratly, diduduki oleh Vietnam

3.4 Peran ASEAN

ASEAN sebenarnya sudah mulai membicarakan masalah Laut China


Selatan sejak kehadiran China di Mischief Reef di Filipina. Namun memang,
tidak terlalu banyak pengaruh yang bisa ASEAN lakukan pada konflik ini sampai
pada tahun 2002 di bentuklah DOC (Declaration OF Conduct) antara ASEAN dan
China.DOC ini sendiri sebenarnya ampuh dalam mengatasi konflik fisik yang
besar namun pelanggaran tetap terjadi sebagai realitas akibat tidak adanya
ketegasan dari ASEAN sendiri.
Lalu, apakah ASEAN dapat berperan sebagai peredam konflik bagi
anggotanya dan kawasan Asia Pasifik? Peran ASEAN sebagai peredam konflik
akan menjadi semakin penting ketika para anggota ASEAN saling mengingatkan
bahwa komitmen terhadap Treaty of Amity in Southeast Asia (TAC) yang telah
dicanangkan bersama beberapa tahun lalu tetap menjadi langkah bagi
penyelesaian konflik secara damai. Tujuannya agar mampu memanfaatkan
peluang yang muncul dari isu yang berkaitan dengan masalah keamanan dengan
mengartikulasikan kepentingan-kepentingan politik di kawasan. Dalam hal ini
ASEAN harus tetap menjalankan diplomasi pencegahan (preventive diplomacy)
dalam lingkungannya sendiri untuk mencegah konflik yang akan muncul ke
permukaan. Selain itu, fungsi ASEAN dalam membangun saling percaya
(confidence building measures) yang mempertemukan kepentingan-kepentingan
keamanan di kawasan juga perlu ditingkatkan terus agar tercipta perimbangan
kepentingan di antara anggotanya.
Lingkungan strategis baru mendorong ASEAN untuk mengambil berbagai
kebijakan baru dalam masalah politik keamanan dan melengkapi perannya sebagai
peredam konflik (conflict defuser). Pada Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN
(AMM) di Manila, Juni 1992 untuk pertama kalinya ASEAN mengeluarkan
komunikasi bersama tentang masalah keamanan regional. Komunikasi bersama itu
menyoroti masalah persengketaan di Laut Cina Selatan. Bagi negara-negara yang
bersengketa, upaya untuk menempuh cara-cara damai dan menghindari adanya
penggunaan senjata menjadi komitmen bersama di dalam mengatasi konflik yang
muncul di masa depan.

Perkembangan lainnya, disepakatinya antara ASEAN dengan negara mitra


dialog untuk menjadikan ASEAN-PMC sebagai forum dialog mengenai masalah
keamanan regional. Selama ini ASEAN-PMC merupakan wadah untuk
membicarakan kerja sama ekonomi, teknologi dan sosial budaya antara negara
ASEAN dengan mitra dialognya. Pada KTT ASEAN ke-4 di Singapura, Januari
1992 akhirnya dicapai keputusan untuk menggunakan forum ASEAN-PMC
sebagai sarana membicarakan masalah-masalah politik dan keamanan. Di samping
itu, dalam pertemuan AMM di Singapura Juli 1993 juga telah diputuskan untuk
membentuk ASEAN Regional Forum (ARF).
Dibentuknya ARF menunjukkan tiga hal penting. Pertama, selama ini
masalah keamanan dalam lingkup ASEAN lebih terpusat pada dinamika
hubungan bilateral di antara sesame negara anggotanya. ASEAN merasa enggan
untuk membicarakan masalah-masalah keamanan secara multilateral. Namun
demikian, perkembangan sekarang ini menghadapkan ASEAN pada masalah
keamanan regional yang semakin kompleks dan cakupannya yang semakin luas
sehingga bagi ASEAN pendekatan bilateral kini dirasa tidak cukup.
Kedua, keikutsertaan negara-negara besar, seperti AS, Rusia, Cina, Jepang,
Australia, Kanada, Uni Eropa di lingkungan Asia Pasifik, menunjukkan bahwa
stabilitas dan keamanan wilayah ini sangat tergantung pada kebijakan negaranegara besar tersebut. Ketiga, dibentuknya ARF menunjukkan pengakuan bahwa
masalah politik dan keamanan kawasan Asia Tenggara tidak dapat dipisahkan
dengan situasi politik dan keamanan Asia Pasifik secara keseluruhan. Sulit bagi
ASEAN untuk meraih suatu separate peace hanya di lingkungannya sendiri
apabila negara-negara besar di kawasan tidak mendukungnya..
Dalam menghadapi masalah klaim di Laut Cina Selatan misalnya, ASEAN
harus tampil sebagai "an honest broker" peredam konflik. Keterlibatan beberapa
negara ASEAN dalam sengketa Laut Cina Selatan, menjadi semakin penting
dilakukannya perundingan damai secara terus-menerus. Terutama ketika harus
berhadapan dengan Cina yang mengklaim seluruh wilayah di Laut Cina Selatan.

Secara demikian, usaha kerjasama akan menciptakan hubungan baik dan


mengurangi rasa curiga di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Usahausaha kerjasama untuk menyelesaikan sengketa akan dapat menurunkan tingkat
potensi konflik menuju identifikasi dan usaha pemanfaatan peluang-peluang
kerjasama dalam menciptakan keamanan, stabilitas dan perdamaian di kawasan.
Peran komunitas ASEAN mendatang, terutama

pilar Komunitas

Keamanan ASEAN sangat vital dalam upaya penyelesaian sengketa antarnegara


anggotanya agar tercipta hubungan yang lebih baik berdasarkan prinsip
perdamaian dan keamanan internasional. Terciptanya perdamaian dan stabilitas di
kawasan akan menjadi modal bagi proses pembangunan ekonomi dan social
budaya masyarakat ASEAN.
3.5 Analisa Kecocokan Penyelesaian Multilateral Pada konteks Konflik Laut
China Selatan.
Konflik laut China Selatan sangat berbeda sekali dengan yang terjadi di
laut China Utara. Konflik di laut China Utara lebih kepada masalah sengketa
pulau antara dua negara (Senkaku-JepangChina, Dokdo-jepangkorea dll). Laut
China Selatan lebih kepada masalah sengketa yang melibatkan banyak negara dan
perebutan wilayah oleh banyak negara. Terhitung ada 6 negara yang dominan
untuk saling berebut wilayah dikawasan ini terutama China dan Vietnam yang
porsi klaimnya sangat besar di laut China Selatan ini. Maka jika dilakukan secara
bilateral seperti yang berlaku di Laut China Utara, akan sangat sulit jika
diterapkan karena ketika terjadi kesepakatan antara dua negara, belum tentu
kemudian disetujui oleh negara lain dan belum tentu akan adil.
Perbedaan yang kedua ialah konflik ini melibatkan negara-negara yang
jika dibandingkan secara kekuatan sangatlah berbeda jauh. 4 Negara ASEAN yang
bersengketa jika ditotalkan kekuatan militernya masih dibawah kekuatan China,
maka butuh sebuah institusi multilateral yang menjadi kekuatan pemaksa yang
kemudian mampu menundukkan setiap pihak manapun pada persetujuan yang
kemudian disetujuinya.

Kekuatan multilateral sendiri bisa menjadi penahan dari ambisi setiap


negara bersengketa untuk tidak memperburuk keadaan, misalkan ketika Vietnam
atau negara manapun kemudian mengkhianati jalan perdamaian maka balasan dari
institusi multilateral lebih menyakitkan karena dikutuk oleh banyak negara
dibanding jika ia melewati jalan bilateral dengan tidak ada satu negara pun
mampu mengintervensi (terjegal prinsip non-interference ASEAN).
Hanya saja memang yang jadi masalah adalah hal yang menyangkut
kedaulatan tiap negara. Ini menjadi masalah yang serius karena setiap negara tidak
akan percaya pada intitusi apapun ketika kedaulatan negaranya terancam oleh
ketidak adilan. Maka perlu penempatan yang pas dan pemanfaatan kekuatan
multilateral pada tempatnya sehingga tidak menjadi arena pertempuran
kepentingan baru ketika beberapa kekuatan lain muncul untuk perdamaian.
Maka kemudian China menawarkan Declaration Of Conduct pada tahun
2002 yang kemudian disambut baik oleh ASEAN sebagai institusi multilateral
yang kemudian nantinya diharapkan mengawasi pelaksanaan DOC. DOC ini
sebenarnya berisi tentang kesepakatan pemilihan perundingan daripada jalan
kekerasan dan peningkatan kerjasama antara China dan ASEAN. Namun, tidak
adanya sanksi apapun dan tidak diadaptasikannya ke hukum internal negara
bersangkutan menjadikan DOC ini menjadi kompetisi untuk saling dilanggar.
Maka menjadi pekerjaan rumah selanjutnya bagi ASEAN untuk bertindak lebih
tegas pada masalah yang makin mengkhawatirkan ini.
Isu selanjutnya yang muncul ialah tidak satunya suara ASEAN. Secara
jelas kita bisa berfikir jika suara tidak satu mana mungkin ASEAN mampu
menghadapi China yang lebih siap dalam hal apapun untuk mendapatkan
kepentingannya. Isu ini tergambar ketika konferensi ASEAN tahun 2012 di
Kamboja. Isu ini terlihat ketika gagalnya komunikasi antara negara-negara
ASEAN perihal tindakan terhadap China, khususnya Kamboja, yang terus
menolak hal yang takutnya akan membangkitkan kemarahan China. Ini
menggambarkan bahwa sudah betapa jauhnya China masuk ke ASEAN dan

mempengaruhi negara-negara di ASEAN. Di sinilah terlihat bahwa ASEAN mulai


terbelah dalam perihal laut China Selatan. Maka ini juga menjadi pekerjaan rumah
yang sulit bagi kelangsungan ASEAN.
Isu yang ketiga ialah masalah tidak percayanya antara China maupun
ASEAN. China mencurigai AS di belakang negara-negara ASEAN dan sangat
mengharamkan campur tangan AS atas masalah ini. ASEAN sendiri tidak percaya
akan China atas keinginannya yang memperlihatkan bahwa China ingin menjadi
hegemon di Asia Tenggara. Saling tidak percaya ini menjadi titik gagalnya DOC
yang dirintis tahun 2002.
Isu yang terakhir yang kami tangkap ialah masalah tidak maunya China
mengangkat masalah ini ke meja mahkamah Internasional. Di sini terlihat bahwa
tida adanya itikad baik dari China untuk membuat adil dan selalu China
mendorong terjadinya proses bilateral yang ujung-ujungnya dikhawatikan
merugikan negara-negara ASEAN.
3.6 Solusi penyelesaian Multilateral yang efektif.
Sebelum mencoba mengurai solusi yang kami kira dapat mengatasi isu-isu
yang telah dipaparkan, maka alangkah baiknya kami paparkan dulu isu yang kami
bahas di bagian 3.5, yaitu:
a.
b.
c.
d.

Dilanggarnya DOC
Tidak satunya negara ASEAN
Saling tidak percaya
Tidak adanya itikad baik untuk meneruskan sengketa ini ke wilayah
internasional.
Penyelesaian multilateral sebenarnya sudah kami anggap penyelesaiaan

paling pas untuk bisa mendapatkan hasil yang seadil-adilnya. Namun memang,
sebagai organisasi regional multilateral, ASEAN tidak memiliki negara kuat di
antara anggotanya maka dibutuhkan kesatuan kuat untuk menjadi kekuatan
regional yang mampu memaksa pihak bersengketa untuk bisa duduk sama adil.

Setelah DOC sendiri kemudian dibentuk Code Of Conduct (COC) atau


kode etiknya di antara negara yang bersengketa di Laut China Selatan. Nah, di sini
dibutuhkan ketegasan ASEAN dalam mengawasi jalannya diterapkan Code of
Conduct ini.
Tegasnya ASEAN juga dipengaruhi oleh satu atau tidaknya suara dari
ASEAN. Maka solidaritas internal perlu ditekankan sehingga mampu menyatukan
seluruh kepentingan dan menjadi kekuatan regional yang disegani.
Penerapan COC sendiri butuh rasa saling percaya. Di sini kami kurang
setuju, jika selain ASEAN ada lagi kekuatan lain yang ikut campur sehingga perlu
penegasan bahwa tidak boleh adanya campur tangan negara lain, kecuali jika
China sudah mau melanjutkan ke Mahkamah Internasional.
China sendiri yang lebih memilih jalan bilateral sebenarnya sudah dari
dulu. Bahkan sebenarnya China pada tahun 2005 keberatan jika harus menghadapi
keseluruhan negara ASEAN. Namun seiring berjalan waktu, China kemudian
mulai menyetujui dan malah menunjukkan itikad baik untuk melanjutkan COC
yang sempat tidak tersendat pembuatannya. Ketika ASEAN sudah disetujui China
sebagai penengah, maka yang harus dilakukan ASEAN adalah menempatkan diri
pada tempat yang tepat.
1. ASEAN sebagai fasilitator dan pengingat akan jasa baik antar negara yang
bersengketa.
2. ASEAN tidak memihak siapapun.
3. ASEAN sebagai kekuatan mengawasi jalannya perundingan yang terjadi
(bisa bilateral, bisa multilateral tergantung berapa negara yang
bersengketa)
4. ASEAN sebagai kekuatan multilateral mampu menjadi bargaining position
ketika keputusan adil dijatuhkan, misal, China akan kehilangan pasar
marketnya di ASEAN jika kemudian melanggar isi perjanjian dan lainlain.
5. Sebisa mungkin ASEAN membujuk China memasuki mahkamah
Internasional sehingga kemudian jelaslah masalah landas kontinen, ZEE

atau apapun yang di usulkan di UNCLOS namun menjadi persengketaan


nyatanya.
Kerjasama yang intens menjadi harga mati akan perdamaian di laut
tertutup seperti Laut China Selatan. Ini semua sebenarnya tergambar dalam
UNCLOS pada artikel 123, di sana digambarkan perlu kerjasama yang dalam dan
rasa saling percaya yang kemudian mampu menegaskan lebih pentingnya
kerjasama dua belah pihak ketimbang wilayahnya dipersengketakan. Setelah
kerjasama terjalin akan memungkinkan terjadinya itikad baik antara kedua belah
pihak.

BAB 4

Kesimpulan
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa, konflik Laut China Selatan
merupakan konflik yang paling mengkhawatirkan bagi ASEAN. Konflik ini bukan
sekedar gengsi, tetapi ada kepentingan ekonomi yang sangat besar pada laut China
Selatan. Potensi ini yang kemudian memperlambat terjadinya perundingan lebih
aman dan menjadikan potensi konflik semakin runcing. Maka perlu sebuah
penyelesaian yang lebih jitu dan lebih memaksa.
Laut China Selatan sendiri terdiri dari konflik banyak negara dengan
kepentingan yang saling tumpang tindih, juga konflik yang terdiri dari berbagai
perbedaan tingkat kekuatan negara. Maka jika dilakukan secara bilateral
dikhawatirkan tidak seimbang dan tidak adil sehingga penyelesaian multilateral
menjadi hal yang lebih baik ketimbang bilateral.
Namun, penyelesaian multilateral pun tidak serta merta menyelesaikan
masalah karena banyak isu yang kemudian menghambat diadakannya
penyelesaian yang lebih jelas (di Mahkamah Internasional). Isu ini yaitu

a.
b.
c.
d.

Dilanggarnya DOC
Tidak satunya negara ASEAN
Saling tidak percaya
Tidak adanya itikad baik untuk meneruskan sengketa ini ke wilayah
internasional.

Satu hal yang menjadi kunci ialah satunya dari suara ASEAN sehingga
pengawasan kemudian akan lebih tegas lagi dan mampu menghalau negaranegara kepentingan di luar sehingga meningkatkan kepercayaan China
terhadap ASEAN. Dan mungkin kemudian mendorong adanya itikad baik
China menuju mahkamah Internasional.
Maka ASEAN harus menjadi fasilitator dan penengah multilateral atas
konflik ini. Hal ini kemudian menjadikan ASEAN sebagai pengawas yang
tegas akan diadakannya COC dan nantinya perundingan yang lebih jelas.

Daftar Pustaka

Djalal, Hasim. Managing Potential Conflicts In The South East Asia: Lesson
Learned http://www.asean.org

Mikulaschek Christop, Paul Romita. 2011. Conflict Prevention: Toward More


Effective Multilateral Strategies http://reliefweb.int
Kimivaki, Timo. Reason and Power in Territorial Disputes : The South China
Sea. http://www.kent.ac.uk
_______.1982. United Nations Convention the Law Of Sea http://www.un.org
Calkins, M. Audrey. Multilateralism in International Conflict: Recipe for Success
or Failure? http://www.thepresidency.org
Karmin,

Tannas.

Konflik

dan

Solusi

Laut

China

Selatan.

http://www.lemhannas.go.id
Schaeffr, Daniel. Recent Development in The South China Sea Implications To
Peace, Stability and Cooperation In The Region http://nghiencuubiendong.vn
Ali, Herman Hervas. Dinamika Kontemporer Sengketa Laut China Selatan
http://binkorpspelaut.tnial.mil.id

http://thediplomat.com/2014/05/solving-intra-asean-south-china-sea-disputes/
http://edition.cnn.com/2011/WORLD/asiapcf/07/21/china.sea.conflict/
http://www.washingtonpost.com/wp-srv/world/special/south-china-sea-timeline/
http://thediplomat.com/2014/02/why-china-isnt-interested-in-a-south-china-seacode-of-conduct/
http://thediplomat.com/2013/09/a-code-of-conduct-for-the-south-china-sea/
http://www.eastasiaforum.org/2013/10/30/how-much-can-asean-do-for-a-southchina-sea-code-of-conduct/
http://www.asean.org/asean/external-relations/china/item/declaration-on-theconduct-of-parties-in-the-south-china-sea

https://saripedia.wordpress.com/tag/sengketa-laut-china-selatan/
http://apdforum.com/id/article/rmiap/articles/online/features/2013/12/05/chinasea-outposts
http://kyotoreview.org/issue-15/tiga-tindakan-yang-harus-diutamakan-dalammemelihara-perdamaian-dan-stabilitas-di-laut-cina-selatan/
http://www.academia.edu/4065115/ASEAN_DALAM_KISRUH_LAUT_CINA_
SELATAN
http://www.dw.de/south-china-sea-timeline/a-16732585
http://kyotoreview.org/bahasa-indonesia/mengelola-isu-keamanan-di-laut-cinaselatan-dari-doc-ke-coc/
http://www.bbc.com/
http://www.dw.de/
http://news.usni.org/
http://en.wikipedia.org/