Anda di halaman 1dari 8

ILEUS OBSTRUKSI

DEFINISI
Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang
sering dijumpai dan merupakan 60% - 70% dari seluruh kasus gawat abdomen. Ileus
adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut
yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Ileus terbagi dua yaitu ileus
obstruksi dan ileus paralitik.

EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Markogiannakis et al (pada tahun
2001 2002), ditemukan 60% penderita yang dirawat di Hippokration Hospital,
Athens mengalami ileus obstruksi dan rata rata berumur sekitar 16 98 tahun,
dengan perbandingan jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki laki.

ETIOLOGI
Penyebab obstruksi pada usus halus dapat dibagi menjadi 3 yaitu obstruksi
pada ekstraluminal, obstruksi intrinsik dan obstruksi intraluminal. Obstruksi
ekstraluminal misalnya adhesi, hernia, karsinoma dan abses. Obstruksi intrinsik pada
dinding usus seperti tumor primer. Dan obstruksi intraluminal seperti enteroliths,
gallstones dan adanya benda asing. Penyebab tersebut dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel Penyebab Ileus Obstruksi
Lesi ekstrinsik pada dinding usus

Adhesi (postoperative)

Hernia (inguinal, femoral, umbilical)

Neoplasma

Abses intraabdominal

Lesi intrinsic

Kongenital (Malrotasi, kista)

Inflamasi (Chrons Disease, Divertikulitis)

Neoplasma

Traumatik

Intusepsi

Obstruksi intraluminal

Gallstone

Enterolith

Adhesi, hernia inkarserata dan keganasan usus besar paling sering


menyebabkan obstruksi. pada adhesi, onsetnya terjadi secara tiba tiba dengan
keluhan perut membesar dan nyeri perut. Dari 60% kasus ileus obstruksi di USA,
penyebab terbanyak adhesi yaitu pada operasi ginekologik, appendektomi dan reseksi
kolorektal.
Ileus karena adhesi umumnya tidak disertai strangulasi. Adhesi umumnya
berasal dari rongga peritoneum akibat peritonitis setempat atau umum atau pasca
operasi. Adhesi dapat berupa perlengketan mungkin dalam bentuk tunggal atau
multipel.

PATOFISIOLOGI
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa
memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik maupun
fungsional. Perbedaan utama adalah pada obstruksi mekanik (ileus obstruksi) yaitu
peristaltik mula mula kuat kemudian intermittent dan kemudian menghilang.
Sedangkan pada ileus paralitik, peristaltik dari awal sudah tidak ada.
Patofisiologik obstruksi mekanik pada usus berhubungan dengan perubahan
fungsi dari usus, dimana terjadi peningkatan tekanan intraluminal. Bila terjadi
obstruksi maka bagian proksimal dari usus mengalami distensi dan berisi gas, cairan
dan elektrolit. Bila terjadi peningkatan tekanan intraluminal, hipersekresi akan
meningkat pada saat kemampuan absorbsi usus menurun, sehingga terjadi kehilangan
volume sistemik yang besar dan progresif. Awalnya, peristaltik pada bagian proksimal
usus meningkat untuk melawan adanya hambatan. Peristaltik yang terus berlanjut

menyebabkan aktivitasnya pecah, dimana frekuensinya tergantung pada lokasi


obstruksi. Bila obstruksi terus berlanjut dan terjadi peningkatan tekanan intraluminal,
maka bagian proksimal dari usus tidak akan berkontraksi dengan baik dan bising usus
menjadi tidak teratur dan hilang. Peningkatan tekanan intraluminal dan adanya
distensi menyebabkan gangguan vaskuler terutama stasis vena. Dinding usus menjadi
udem dan terjadi translokasi bakteri ke pembuluh darah. Produksi toksin yang
disebabkan oleh adanya translokasi bakteri menyebabkan timbulnya gejala sistemik.
Efek lokal peregangan usus adalah iskemik akibat nekrosis disertai absorpsi toksin
-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik.
Pada obstruksi mekanik sederhana, hambatan pasase muncul tanpa disertai
gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang tertelan, sekresi usus
dan udara akan berkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit.
Bagian proksimal dari usus mengalami distensi dan bagian distalnya kolaps. Fungsi
sekresi dan absorpsi membran mukosa usus menurun dan dinding usus menjadi
edema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat dengan sendirinya secara terus
menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa serta
meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi, iskemik, nekrosis, perforasi, peritonitis dan
kematian.
Pada obstruksi strangulata, biasanya berawal dari obstruksi vena, yang
kemudian diikuti oleh oklusi arteri, menyebabkan iskemik yang cepat pada dinding
usus. Usus menjadi udem dan nekrosis, memacu usus menjadi gangrene dan perforasi.

DIAGNOSIS

Gejala Klinis
Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen, mual,
muntah, perut distensi dan tidak bisa buang air besar (obstipasi). Mual muntah
umumnya terjadi pada obstruksi letak tinggi. Bila lokasi obstruksi di bagian distal
maka gejala yang dominant adalah nyeri abdomen. Distensi abdomen terjadi bila
obstruksi terus berlanjut dan bagian proksimal usus menjadi sangat dilatasi.
Obstruksi pada usus halus menimbulkan gejala seperti nyeri perut sekitar
umbilikus atau bagian epigastrium. Pasien dengan obstruksi partial bisa

mengalami diare. Kadang kadang dilatasi dari usus dapat diraba. Obstruksi pada
kolon biasanya mempunyai gejala klinis yang lebih ringan dibanding obstruksi
pada usus halus. Umumnya gejala berupa konstipasi yang berakhir pada obstipasi
dan distensi abdomen. Muntah jarang terjadi pada obstruksi bagian proksimal usus
halus biasanya muncul gejala muntah. Nyeri perut bervariasi dan bersifat
intermittent atau kolik dengan pola naik turun. Jika obstruksi terletak di bagian
tengah atau letak tinggi dari usus halus (jejenum dan ileum bagian proksimal)
maka nyeri bersifat konstan/menetap. Pada tahap awal, tanda vital normal. Seiring
dengan kehilangan cairan dan elektrolit, maka akan terjadi dehidrasi dengan
manifestasi klinis takikardi dan hipotensi postural. Suhu tubuh biasanya normal
tetapi kadang kadang dapat meningkat.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya demam, takikardi, hipotensi dan
gejala dehidrasi yang berat. Demam menunjukkan adanya obstruksi strangulate.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen tampak distensi dan peristaltic
meningkat (bunyi Borborigmi). Pada tahap lanjut dimana obstruksi terus berlanjut,
peristaltic akan melemah dan hilang. Adanya feces bercampur darah pada
pemeriksaan rectal toucher dapat dicurigai adanya keganasan dan intusepsi.

Pemeriksaan Penunjang
-

Laboratorium
Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan

diagnosis, tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan


membantu dalam resusitasi. Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium
yang normal. Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis
dan nilai elektrolit yang abnormal. Peningkatan serum amilase sering
didapatkan. Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi
hanya terjadi pada 38% - 50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27% - 44%
pada obstruksi non strangulata. Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada
dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas
darah mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik bila muntah berat, dan
metabolik asidosis bila ada tanda tanda shock, dehidrasi dan ketosis.

Radiologik
Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran step ladder dan air fluid

level pada foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa adanya suatu
obstruksi. Foto polos abdomen mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada
obstruksi usus halus, sedangkan sensitivitas 84% pada obstruksi kolon.
Pada foto polos abdomen dapat ditemukan gambaran step ladder dan
air fluid level terutama pada obstruksi bagian distal. Pada kolon bisa saja
tidak tampak gas. Jika terjadi stangulasi dan nekrosis, maka akan terlihat
gambaran berupa hilangnya muosa yang reguler dan adanya gas dalam dinding
usus. Udara bebas pada foto thoraks tegak menunjukkan adanya perforasi
usus. Penggunaan kontras tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan
peritonitis akibat adanya perforasi.
CT scan kadang kadang digunakan untuk menegakkan diagnosa pada
obstruksi usus halus untuk mengidentifikasi pasien dengan obstruksi yang
komplit dan pada obstruksi usus besar yang dicurigai adanya abses maupun
keganasan.

PENATALAKSANAAN
Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan
cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi
peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki
kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.

Resusitasi
Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda tanda
vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami
dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan
intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan
memonitor tanda tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian
cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT

digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila


muntah dan mengurangi distensi abdomen.

Farmakologis
Pemberian obat obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai
profilaksis. Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah.

Operatif
Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk
mencegah sepsis sekunder. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul
dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama laparotomi.
Jika obstruksinya berhubungan dengan suatu simple obstruksi atau adhesi,
maka tindakan lisis yang dianjurkan. Jika terjadi obstruksi stangulasi maka reseksi
intestinal sangat diperlukan.
Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan
pada obstruksi ileus. 4 macam tindakan bedah tersebut adalah:
(a) Koreksi sederhana (simple correction) Hal ini merupakan tindakan
bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada
hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada
volvulus ringan.
(b) Tindakan operatif by-pass

Membuat saluran usus baru yang

"melewati" bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor


intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
(c) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat
obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut.
(d) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis
ujung-ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus,
misalnya

pada

carcinomacolon,

invaginasi,

strangulata,

dan

sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan


tindakan operatif bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri
maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid

obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari


dilakukan reseksi usus dan anastomosis.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat timbul antara lain perforasi usus, sepsis, syokdehidrasi, abses, pneumonia aspirasi dari proses muntah dan meninggal.

PROGNOSIS
Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi
dapat segera dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika
terjadi strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai
sekitar 35% atau 40%.3 Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan
dengan cepat.

Anda mungkin juga menyukai