Anda di halaman 1dari 14

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. PENGERTIAN
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah
penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti (Nursalam, 2008 : 159).
1.

EPIDEMIOLOGI
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat, dan
Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah
tanah air. Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes
(terutama A. aegypti, A. albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan
dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk
betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas, dan tempat
penampungan air).
Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus
dengue yaitu : vektor : perkembangbiakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan
vektor lingkungan, transportasi vektor satu dengan lainnya ; pejamu : terdapatnya
penderita di lingkungan keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan
jenis kelamin ; lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk
(Sudoyo, 2007 : 1709).
2. ETIOLOGI
- Virus dengue sejenis arbovirus yang dibawa oleh gigitan nyamuk aedes aegypti
- Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue
1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan
dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus
dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap inaktivitas oleh
diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC. Keempat serotif tersebut
telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling
banyak. Infeksi dengan salah satu tipe serotype akan menimbulkan antibody seumur
hidup terhadap serotype bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotype lain.

3. PATOFISIOLOGI
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan
kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody.
Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk ke dalam tubuh adalah viremia yang
mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegalpegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia
tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah
bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).
Dalam sirkulasi, virus akan mengaktivasi system komplemen, akibat aktivasi
C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan
histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas
dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor
koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya
perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Yang
menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh
darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan
diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut. Nilai hematokrit meningkat
bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah.
Hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi
anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

Pohon Masalah

Virus masuk melalui gigitan


nyamuk

Viremia

Reaksi antigen
antibodi

Mengaktifkan
sistem komplemen

Pelepasan C3a & C5a,

Permeabilitas
vaskuler meningkat

Hepatomegali

Kebocoran plasma

Mual, muntah,
anoreksia

Volume plasma
menurun

histamine, serotonin
Melepaskan histamin

Hipovolemia

Permebilitas kapiler

Syok

Perpindahan cairan
dari ruang
intravaskular ke
ekstravaskular

Resiko syok
hipovolemia

Menurunnya
Fungsi
trombosit dan
faktor
koagulan

Resiko
pendarahan

Perubahan
nutrisi : < keb.
tubuh

Inflamasi

Peningkatan
suhu tubuh

Hipertermia

Kurang
volume cairan

Pegal pegal
otot, sendi

Gangguan rasa
nyaman : nyeri

4. KLASIFIKASI
Klasifikasi DHF berdasarkan derajat ringannya penyakit, dapat dibagi menjadi 4
tingkat yaitu :
a. Derajat I
Panas 2-7 hari, gejala umum tidak khas, uji torniquet hasilnya positif, hanya
terdapat manifestasi perdarahan
b. Derajat II
Sama dengan derajat I ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan
seperti petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis, hematemesis melena, perdarahan
gusi, telinga dan lain-lain.
c. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi dan disertai kulit yang
dingin dan lembab, gelisah.
d. Derajat IV (DSS)
Renjatan berat dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah yang tidak teratur,
kulit tampak biru dan berkeringat (WHO, 1999 : 17-24).
5. GEJALA KLINIS
1) Demam tinggi yang timbul secara mendadak tanpa sebab yang jelas disertai
dengan keluhan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada
anggota badan, punggung, sendi, kepala dan perut. Gejala menyerupai
influenza biasa. Ini berlangsung selama 2-7 hari
2)

Hari ke 2 dan 3, timbul demam. Uji tourniquet positif karena terjadi


perdarahan di bawah kulit (peteki, ekimosis) dan di tempat lain seperti
epistaksis, perdarahan gusi, hematemisis akibat perdarahan dalam lambung,
melena dan juga hematuria massif

3) Antara hari ke 3 dan ke 7 syok terjadi saat demam menurun. Terdapat tanda
kegagalan sirkulasi (renjatan), kulit teraba dingin dan lembab terutama pada
ujung jari tangan dan kaki, nadi cepat dan lemah sampai tak teraba, takanan
darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari 2 detik.
4) Hepatomegali(pembesaran hati) pada umumnya dapat ditemukan pada
permulaan penyakit, bervariasi dari yang hanya sekedar diraba sampai 2-4

cm dibawah lengkung iga sebelah kanan. Nyeri tekan pada hepar tampak
jelas pada anak besar, ini menandakan telah terjadi perdarahan.
6. PEMERIKSAAN FISIK
a. Inspeksi :
Menggigil, wajah tampak kemerahan, mukosa mulut kering, perdarahan gusi,
tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis,
ekimosis, hematoma, hiperemia pada tenggorokan, nafas dangkal, gelisah,
konjungtiva anemis,
b. Palpasi :
Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa, nyeri tekan pada
epigastrik, ada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi,
ekstremitas dingin, sianosis perifer, nyeri otot, tulang dan sendi
c. Perkusi :
Abdomen timpani
d. Auskultasi :
Terdengar suara ronchi atau rales yang biasanya terdengar pada grade III dan
IV
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1) Pemeriksaan laboratorium
Parameter Laboratoris :
a. Leukosit : dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui
limfositosis relatif (>45% dari total leukosit disertai adanya limfosit
plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok
akan meningkat
b. Trombosit : umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3 ke 8.
c. Hematokrit : kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya
peningkatan hematokrit > 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai
pada hari ke 3 demam.
d. Protein / albumin : dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma
e. SGOT / SGPT (serum alanin aminotransferase) : dapat meningkat
f. Ureum / kreatinin : bila didapatkan gangguan fungsi ginjal
g. Elektrolit : sebagai parameter pemantauan pemberian cairan

h. Golongan darah dan cross match (uji cocok serasi) : bila akan diberikan
transfusi darah atau komponen darah
i. Imuno serologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue
i. IgM : terdeteksi mulai hari ke 3 5, meningkat sampai minggu ke
3, menghilang setelah 60 90 hari.
ii. IgG : pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14,
pada infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi pada hari ke 2
Uji serologi HI (Haemaglutination inhibiting antibody) : dilakukan
pengambilan hari I serta saat pulang dari perawatan. Uji ini digunakan
untuk kepentingan surveilans (Sudoyo, 2007 : 1710).
2) Pemeriksaan Radiologis
Pada foto dada didapatkan efusi pleura terutama pada hemitoraks kanan tetapi
apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua
hemotoraks. Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi lateral kanan
(pasien tidur pada sisi badan sebelah kanan). Ascites dan efusi pleura dapat pula
dideteksi dengan pemeriksaan USG (Sudoyo, 2007 : 1710).
3) Uji Torniquet
Mengembangkan manset tensimeter pada lengan atas sampai air raksa mencapai
pertengahan tekanan sistolik dan diastolic, biarkan selama 5 menit. Pada
pemeriksaan terdapat 20 petekie pada lengan bawah dengan diameter 2,5 cm (1
inchi) maka dinyatakan hasil positif (Mansjoer, 2000 : 420).
8. KRITERIA DIAGNOSIS
Dasar diagnosis DHF (WHO, 1999) yaitu :
1) Klinis
a. Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2 7 hari.
b. Manifestasi perdarahan: uji tourniquet positif, petekia, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena.
c. Pembesaran hati dengan nyeri tekan, tanpa ikterus.
d. Syok yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi menurun
(menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik
menurun sampai 80 mmHg atau kurang), disertai kulit yang teraba dingin
dan lembab terutama pada ujung hidung, jari, dan kaki, pasien menjadi
gelisah, timbul sianosis di sekitar mulut.

2)

Laboratorium
a. Trombositopenia (<100.000/l) dan hemokonsentrasi (nilai hemokonsentrasi
lebih 20% dari normal)
Dua gejala klinis pertama ditambah satu gejala laboratorium cukup untuk
menegakkan diagnosis kerja DBD (Mansjoer, 2000 : 421).

9. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a. Perdarahan luas
b. Shock atau renjatan
c. Efusi pleura
d. Gagal hepar
e. Penurunan kesadaran
f. Kematian
10. TERAPI / TINDAKAN PENANGANAN
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
a. Jenis cairan (Rekomendasi WHO)
1.

Kristaloid
-

Larutan ringer laktat (RL) atau dektrosa 5% dalam larutan RL (D5/RL).

Larutan ringer asetat (RA) atau dektrosa 5% dalam larutan RA


(D5/RL).

Larutan NaCI 0,9% (garam faali = GF) atau dekstrosa 5% dalam


larutan garam faali (D5/GF).

2.

Koloid
-

Dekstrosa 40

Plasma
b. Pasien harus dirawat dan segera diobati bila dijumpai tanda-tanda syok yaitu
gelisah, letargi/lemah, ekstremitas dingin, bibir sianosis, oliguri, dan nadi
lemah, tekanan nadi menyempit (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi dan
peningkatan mendadak kadar hematokrit yang meningkat terus menerus
walaupun telah diberikan cairan intravena.
c. Penanganan syok :

1. Dalam rejatan berjatan berat diberikan cairan RL secara cepat (diguyur)


selama 30 menit.
2. Apabila syok tidak diatasi, ganti cairan dengan koloid 10-20
ml/kgBB/jam dengan jumlah maksimal 30 ml/kgBB. Setelah perbaikan
segera cairan ditukar kembali dengan kristaloid (tetesan 20 ml/kgBB).
3. Bila dengan cairan kristaloid dan koloid tidak bisa mengatasi syok
sedangkat kadar hematokrit tetap, diduga telah terjadi perdarahan, maka
dianjurkan pemberian tranfusi darah segar.
4. Apabial kadar Ht tetap >40 vol%, berikan darah sebanyak 10
ml/kgBB/jam, tetapi bila perdarahan massif berikan 20 ml/kgBB. Bila
rejatan tidak berat diberikan cairan dengan kecepatan 20 ml/kgBB/jam.
5. Bila rejatan sudah diatasi, nadi sudah jelas teraba, amplitude nadi cukup
besar, tekanan sistolik 80 mmHg atau lebih, maka kecepatan tetesan
dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam.
6. Pada pasien gelisah, berikan kloralhidrat per oral atau per rectal dengan
dosis 12,5-50 mg/kgBB (tidak melebihi 1 gram), terapi O 2 2 liter per
menit harus selalu diberikan pada semua pasien syok (Mansjoer, 2000 :
422 - 423).
2). Terapi simptomatis, dapat meliputi :
a. Pemberian antipieretik berupa parasetamol, serta obat simptomatis untuk
mengatasi keluhan dispepsia.
b. Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya
dihindari karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagian
atas (lambung / duodenum).
c. Pemberian antibiotik bila terdapat kekhawatiran terjadinya infeksi
sekunder
d. Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam
e. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal
yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika
ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang
dengan penurunan Hb yang mencolok.
3). Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi :
a. Tirah baring (pada trombositopenia yang berat)

b. Pemberian makanan dengan kandungan gizi yang cukup, lunak, dan tidak
mengandung zat atau bumbu yang dapat mengiritasi saluran cerna.
c. Minum banyak (2 - 2,5 liter / 24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup
dan beri penderita sedikit oralit. Pemberian cairan merupakan hal yang
paling penting bagi penderita DHF.
11. PENCEGAHAN
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF adalah sebagai berikut :
a. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan perkembangan vektor pada
tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh
secara spontan.
b. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran, yaitu di
sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
c. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah yang berpotensi
penularan tinggi.
Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :
a. Menggunakan insektisida
Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah dengue
adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk
membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion ialah dengan
pengasapan. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan menaburkan bubuk
abate ke dalam sarang - sarang nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan
air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.
b. Tanpa insektisida
Caranya adalah :
1). Menguras bak mandi, tempayan, dan tempat penampungan air minimal 1 x
seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 - 10 hari)
2). Menutup tempat penampungan air rapat rapat
3). Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah, dan benda lain
yang memungkinkan nyamuk bersarang disana

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
1. Data dasar, meliputi :
-

Identitas Pasien
Nama (dengan menggunakan inisial), jenis kelamin, umur, status perkawinan,
agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat,
diagnosa medis, sumber informasi.

Identitas Penanggung
Nama (dengan inisial), jenis kelamin, umur, agama, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan dengan pasien.

2. Keluhan Utama
Panas tinggi dan lemah
3. Riwayat Kesehatan, meliputi :
-

Riwayat Kesehatan Sekarang


1) Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan
saat demam kesadaran compos mentis
2) Turunnya panas terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan pasien semakin lemah,
terkadang disertai dengan keluhan nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, sakit
kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata
terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III,
IV), melena atau hematemesis.

Riwayat Penyakit yang pernah diderita


Pada DHF, pasien bisa mengalami serangan ulangan DHF dengan tipe virus
yang lain.

Riwayat Imunisasi
Apabila pasien mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.

Riwayat Gizi
Status gizi pasien yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua pasien dengan
status gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila terdapat faktor
predisposisinya. Pasien yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual,
muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak

disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka pasien dapat


mengalami penurunan barat badan sehingga status gizinya menjadi kurang
4. Kondisi Lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang
bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar)
5. Pengkajian Review of Sistem dan Pola Fungsional
1) Sirkulasi
Tekanan darah normal/menurun, demam, epitaksis, petekie, ekimosis,
purpura, Stadium III : nadi cepat, lemah dengan penyempitan tekanan nadi
(<20 mmHg), stadium IV : nadi tidak teratur, anggota gerak terasa dingin,
berkeringat dan kulit tampak biru.
2) Pencernaan
Anoreksia, mual, muntah, penurunan BB, perdarahan gusi, hematemesis
melena.
3) Pernafasan
Takipnea, mungkin terdapat effuse pleura, dapat terdengar ronchi.
4) Eliminasi
Hematuria
5) Nyeri / kenyamanan
Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus, nyeri tekan pada otot dan
sendi, nyeri punggung, tulang, dan kepala.
6)

Aktivitas
Pasien mengeluh lemas, malaise

7)

Istirahat dan tidur


Pasien sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit/nyeri otot
dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya
kurang

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Hipertermi b/d proses infeksi virus dengue
2) Kurang volume cairan b/d perpindahan cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi yang
tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun
4) Neri b/d proses patologis penyakit
5) Resiko syok hipovolemik b/d pendarahan yang berlebihan, pindahnya ciran
intravaskuler ke ekstravaskuler.
6) Resiko terjadinya perdarahan b/d penurunan faktor-faktor pembekuan darah
(trombositopenia).

4. Implementasi Sesuai dengan Intervensi


5. Evaluasi Diagnosa
1). Suhu tubuh normal (36,5 0C 37C).
2). Tidak terjadi defisit volume cairan
Membran mukosa lembab.
Turgor kulit baik.
Tanda vital baik.
3). Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Intake nutrisi klien meningkat.
Masukan kalori adekuat.
Tidak terjadi penurunan BB
4). Nyeri pasien teratasi
Melaporkan nyeri hilang/terkontrol (skala nyeri 0-3).
Pasien tampak rileks dan mampu istirahat dengan tepat.
5). Tidak terjadi syok hipovolemik
Tanda vital dalam batas normal (suhu :36,5 -37,5C, Nadi : 75-100 x/menit, RR : 20-30
x/menit
6). Tidak terjadi pendarahan
TD 100/70 mmHG
N : 80 x/menit
Tidak ada tanda pendarahan lebih lanjut,
Trombosit meningkat

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC
Doenges, Marylinn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Ed. 3. Jakarta : EGC
Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Ed. 3. Jakarta : Media Aesculapius
Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda Definisi dan Klasifikasi 2005
-2006. Editor : Budi Sentosa. Jakarta : Prima Medika
Nursalam, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba Medika
Sudoyo, Aru, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Departemen Penyakit
Dalam FK UI
WHO. 1999. Demam Berdarah Dengue : Diagnostik, Pengobatan, dan Pengendalian.
Ed. 2. Jakarta : EGC