Anda di halaman 1dari 17

Preventive Resin Restoration

(PRR)
1. Pengertian
Restorasi preventif resin adalah suatu teknik untuk merestorasi gigi yang karies dan
pencegahan karies secara simultan tanpa perluasan preparasi dan menggunakan teknik etsa asam.

2. Tipe-Tipe Preventive Resin Restoration (PRR)


Ada 3 tipe yang diperkenalkan oleh Simon (1980) dan Hicks (1984) :
a. TIPE A : Memerlukan preparasi minimal pada pit dan fisur dengan menggunakan round bur
no 1/4 dan
b. TIPE B : Pembuangan karies dengan menggunakan round bur no. 1 atau 2. Pembuangan
karies pada tipe ini biasanya lebih dari satu setengah total kedalaman enamel yang terlibat,
tetapi kavitasi masih berada di enamel.
c. TIPE C : Pembuangan karies dengan round bur no. 2 atau lebih, kavitas biasanya sudah
3.
a.
-

mencapai dentin dan memerlukan kalsium hidroksida sebagai basis restorasi.


Indikasi dan Kontra Indikasi
Indikasi
Eksplorer tertahan pada pit dan fisur dari permukaan yang utuh, menandakan adanya karies.
Gambaran klinis yang opak sepanjang pit dan fisur, yang mengindikasikan karies dini pada

dasar pit dan fisur


b. Kontraindikasi
- Diperlukannya restorasi karies interproksimal.
- Melibatkan karies yang luas sehingga memerlukan restorasi seluruh permukaan dengan
amalgam atau restorasi komposit posterior.
4. Teknik Aplikasi Preventive Resin Restorative (PRR).
Pada dasarnya sama dengan prinsip teknik etsa asam seperti pada fisur silen, kecuali ada
pembuangan karies pada pit dan fisur.
1. Isolasi gigi dengan rubber dam atau gulugan kapas disertai saliva ejektor.Dengan gulungan
kapas menghasilkan isolasi jangka pendek walaupun kapas harus sering diganti oleh karena
gulungan kapas akan dipenuhi oleh saliva.
2. Pembuangan karies pit dan fisur yang terdeteksi menggunakan round bur dengan handpiece
kecepatan tinggi. Hanya pit dan fisur yang terdeteksi danya karies yang dipreparasi.
3. Profilaksis permukaan gigi dengan rubber cup atau brush dengan bahan pumis yang tidak
mengandung fluor. Cuci permukaan gigi untuk menghilangkan pasta profilaksis dan debris,
4.

kemudian gigi dikeringkan dengan semprotan udara.


Jika dasar kavitas mencapai dentin, basis Ca(OH)2 harus diletakkan pada dasar kavitas

(dentin) sebelum dilakukan pengetsaan.


5. Aplikasi asam fosfat 37 % pada permukaan enamel gigi dengan fine brush atau cotton pellet
atau dapat juga dengan sponge kecil selama 60.

6. Permukaan gigi dicuci dengan semprotan air dan udara selama 10, kemudian keringkan
7.

selama 5 . Enamel yang telah dietsa akan terlihat putih buram.


Untuk restorasi preventif tipe A hanya bahan silen yang diaplikasikan pada permukaan
oklusal termasuk enamel yang dipreparasi. Untuk restorasi tipe B, letakkan selapis tipis
bonding ke dalam preparasi kavitas kemudian aplikasi resin ke dalam kavitas dan lakukan
penyinaran selama 60 detik, setelah itu aplikasi bahan silen di atas daerah restorasi dan pit
dan fisur sekitarnya yang telah dietsa, kemudian disinar selama 40 detik. Untuk restorasi tipe
C, dimana karies meluas ke dentin diikuti dengan peletakan kalsium hidroksid selanjutnya

sama seperti prosedur tipe B.


8. Dengan menggunakan eksplorer daerah pit dan fisur ditelusuri, jika belum terisi bahan silen
dapat ditambahkan kembali.
9. Lakukan evaluasi oklusi, lakukan perbaikan jika diperlukan dengan bur polis.

DAFTAR PUSTAKA
Farahanny W.Tekhnik Restorasi Resin Komposit. Medan: FKG USU. 2009. P10-12.
Heasman P. Restorative Dentistry, Paediantric Dentistry, and Orthodontics. Volume 2.
Newcastle: Churchill Livingstone. p91. 2009.
Dean, Avery, McDonald. Dentistry for the Child and Adolescent. Ed 9th. Missouri:
Mosby Elsevier. p318-320. 2011

Metode Penghitungan Skor Plak


PENILAIAN INDEKS PLAK MENURUT MODIFIKASI TURESKY - GILMORE GLICKMAN DARI QUIGLEY- HEIN
Menurut Quigley dan Hein (1962), pengukuran indeks plak, dilakukan dengan membagi gigi
menjadi 3 bagian, dan yang diperiksa hanyalah permukaan fasial dari gigi anterior, setelah

mempergunakan obat kumur berbahan dasar fuschin sebagai disklosing, rentang penilaian dari
0-5.
Turesky dan kawan-kawan memodifikasi penilaian dari Quigley dan Hein, penilaian dilakukan
pada seluruh gigi pada bagian permukaan fasial dan lingual setelah pemberian disklosing.
Skor plak perorangan =

Jumlah total nilai yang diperoleh


Jumlah permukaan yg diperiksa

Kriteria indeks plak modifikasi Turesky-Gilmore-Glickman dari Quigley-Hein adalah sebagai


berikut:
Skor PI
0
1
2
3
4
5

Kondisi
Tidak ada plak
Terdapat bercak-bercak plak yang terpisah pada bagian margin servikal dari gigi
Terdapat lapisan tipis plak sampai setebal 1mm pada bagian margin servikal dari
gigi
Terdapat lapisan plak lebih dari 1mm tetapi mencapai 1/3 bagian mahkota
Terdapat lapisan plak, lebih dari 1/3 akan tetapi tidak lebih dari 2/3 bagian mahkota
Terdapat lapisan plak, menutupi seluruh permukaan gigi

PENGUKURAN KEBERSIHAN MULUT MENURUT PODSHADLEY AND HALEY


(PATIENT HYGIENE PERFORMANCE INDEX ATAU INDEKS PHP)
Indeks ini pertama kali dikembangkan dengan maksud untuk menilai individu atau perseorangan
dalam pembersihan debris setelah diberi instruksi menyikat gigi.
Cara pemeriksaan klinis berdasarkan indeks plak PHP adalah sebagai berikut:
1. Digunakan larutan disklosing untuk memeriksa plak yang terbentuk pada permukaan gigi

2. Pemeriksaan dilakukan pada bagian fasial dan lingual gigi dengan membagi tiap permukaan
gigi menjadi lima subdivisi : D, distal; G, sepertiga tengah gingival; M, mesial; C, sepertiga
tengah; I/O' sepertiga tengah insisal atau oklusal.

gbr Lima subdivisi permukaan gigi dalam Indeks Plak PHP


3. Pemeriksaan dilakukan secara sistematis pada: (a) permukaan labial gigi insisif kanan atas; (b)
permukaan labial gigi insisif pertama kiri bawah; (c) permukaan bukal gigi molar pertama kanan
atas; (d) permukaan bukal molar pertama kiri atas; (e) permukaan lingual gigi molar pertama kiri
bawah; (f) permukaan lingual gigi molar pertama kanan bawah.
4. Cara penilaian plak adalah:
nilai 0 = tidak ada plak ; nilai 1 = ada plak
5. Cara pengukuran untuk menentukan indeks plak PHP, yaitu dengan rumus:
IP PHP = Jumlah total skor plak seluruh permukaan gigi yang diperiksa
jumlah gigi yang diperiksa
6. Kriteria penilaian IP PHP
Sangat baik

= 0

Baik

= 0,1 - 1,7

Sedang

= 1,8 - 3,4

Buruk

= 3,5 - 5

PENGUKURAN KEBERSIHAN MULUT MENURUT PERSONEL HYGIENE


PERFORMANCE MODIFIED (PHPM) OLEH MARTEN DAN MESKIN
Metode Personal Performance Modified sering digunakan untuk pemeriksaan kebersihan gigi
dan mulut pada masa geligi campuran.

Prinsip pemeriksaan hampir sama dengan PHP, akan tetapi permukaan yang diperiksa adalah
bagian bukal dan lingual. Geligi yang diperiksa adalah gigi paling belakang yang tumbuh di
kuadran kanan atas, gigi kaninus atas kanan atau kiri yang terseleksi, gigi premolar atau molar
kuadran kiri atas, gigi paling belakang yang tumbuh pada kuadran kiri bawah, gigi kaninus kiri
bawah atau gigi yang terseleksi, dan gigi premolar dan molar kanan kuadran bawah.
Gigi indeks yang digunakan pada metode PHP-M ini adalah sebagai berikut :
1.
Gigi paling belakang tumbuh di kwadran kanan atas.
2.
Gigi C| atau c| , bila gigi ini tidak ada, dipakai gigi anterior lainnya.
3.
|P1 atau |m1.
4.
Gigi paling belakang tumbuh di kwadran kiri bawah.
5.
Gigi C kiri bawah atau c kiri bawah , bila gigi ini tidak ada, dipakai gigi anterior
lainnya.
6.
P1 kanan bawah atau m1 kanan bawah
jika dijumpai plak pada permukaan gigi yang diperiksa maka penilaian diberi tanda (+) dan jika
tidak ada penumpukan plak diberi (-).
Hasil penilaian plak yaitu dengan menjumlahkan setiap skor plak pada setiap permukaan gigi,
sehingga skor plak untuk setiap gigi indeks bisaberkisar antara 0-10.
Jumlah skor per orang maksimal 60 yang diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor.

METODE O'LEARY
OLeary Plaque Control Record merupakan metode yang digunakan untuk menilai area
akumulasi plak dari individual pasien. Metode ini melibatkan semua elemen gigi yang terdapat
dalam rongga mulut sehingga semua gigi dilakukan pemeriksaan akumulasi plak. Terdapat 4
permukaan gigi yang diperiksa yaitu mesial, bukal, distal dan lingual.

Cara penilaian plak dengan metode OLeary:


1. Pasien mengaplikasikan larutan atau tablet disklosing pada masing-masing permukaan gigi
kecuali permukaan oklusal untuk memeriksa ada tidaknya plak pada dentogingival junction.
2. Setelah itu, pasien berkumur dan dilakukan pemeriksaan akumulasi plak pada
daerah dentogingival junction pada permukaan mesial, bukal, distal dan lingual. Area gigi yang
tidak terwarnai diberi skor 0 sedangkan area gigi yang terwarnai diberi skor 1.
3. Setelah semua gigi diperiksa dan dinilai, indeks plak dapat dihitung dengan menjumlahkan
permukaan yang ada akumulasi plak (terwarnai) dibagi dengan jumlah seluruh permukaan gigi
yang diperiksa (mesial, bukal, distal dan lingual) kemudian dikalikan 100%. Skor plak tergolong
baik, apabila skornya 10% atau kurang
Skor plak = Jumlah total permukaan akumulasi plak

x 100%

jumlah gigi yg diperiksa x 4

Matsson, L. 2001. Periodontal Conditions in Children and Adolescent. Munksgaard,


Copenhagen.
Newmann, M.G. Takei, H.H. Klokkevoid P.R., Carranza, F.A., (ed):Clinical
Periodontolgy, 10 th ed. Saunders Company. Philadelphia.
Sriyono, Niken Widiyanti. Ilmu Kedokteran Pencegahan. Yogyakarta : Medika FK
UGM. 2009.
Putri MH, Herijulianti E, Nurjannah N. Ilmu pencegahan penyakit jaringan keras dan
jaringan pendukung gigi. Jakarta: EGC; 2009, 97-100.

Teknik Menyikat Gigi


Teknik menyikat gigi adalah cara yang umum di anjurkan untuk membersihkan deposit lunak
pada permukaan gigi dan gusi dan merupakan tindakan preventif dalam menuju keberhasilan dan

kesehatan rongga mulut yang optimal. Oleh karena itu, teknik menyikat gigi harus di mengerti
dan dilaksanakan secara aktif dan teratur. Ada beberapa teknik yang berbeda-beda untuk
membersihkan gigi dan memijat gusi dengan sikat gigi.
Dalam penyikatan gigi harus memperhatikan hal-hal berikut.
a. Teknik penyikatan gigi harus dapat membersihkan semua permukaan gigi dan gusi secara efisien terutama
daerah saku gusi dan daerah interdental.
b. Pergerakan sikat gig tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan gusi atau abrasi gigi.
c. Teknik penyikatan harus sederhana, tepat, dan efisien waktu. 17
Frekuensi Penyikatan gigi sebaiknya 3 kali sehari, setiap kali sesudah makan, dan sebelum tidur. Namun,
dalam praktiknya hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan, terutama pada siang hari ketika seseorang
berada di kantor, sekolah, atau di tempat lain. Manson (1971) berpendapat bahwa penyikatan gigi
sebaiknya dua kali sehari, yaitu setiap kali setelah makan pagi dan sebelum tidur.
Lamanya penyikatan gigi yang di anjurkan adalah minimal 5 menit, tetapi sesungguhnya ini terlalu lama.
Umumnya orang melakukan penyikatan gigi maksimum 2 menit. Cara penyikatan gigi harus sistematis
supaya tidak ada gigi yang terlewat, yaitu mulai dari posterior ke anterior dan berakhir pada bagian
posterior sisi lainnya.
Kebanyakan teknik penyikatan gigi dapat di golongkan ke dalam enam golongan berdasarkan macam
gerakan yang dilakukan, yaitu:

Teknik Vertikal
Teknik vertikal dilakukan dengan kedua rahang tertutup, kemudian permukaan bukal gigi disikat dengan
gerakan ke atas dan ke bawah. Untuk permukaan lingual dan palatinal dilakukan gerakan yang sama
dengan mulut yang terbuka.

Gambar 1 Teknik Penyikatan Vertikal; A. dari atas ke bawah, B. dari bawah ke atas

Teknik Horizontal
Permukaan bukal dan lingual disikat dengan gerakan ke depan dan ke belakang. Untuk permukaan
oklusal gerakan horizontal yang sering disebut scrub brush technic dapat dilakukan dan terbukti
merupakan cara yang sesuai dengan bentu anatomis permukaan oklusal. Kebanyakan orang yang belum
diberi pendidikan khusus, biasanya menyikat gigi dengan teknik vertical dan horizontal dengan tekanan
yang keras. Cara-cara ini tidak baik karena dapat menyebabkan resesi gusi dan abrasi gigi.

Gambar 2 Teknik Penyikatan Horizontal

Teknik Roll atau Modifikasi Stillman


Teknik ini disebut ADA-roll Technic, dan merupakan cara yang paling sering di anjurkan karena
sederhana tetapi efisien dan dapat digunakan diseluruh bagian mulut. Bulu-bulu sikat ditempatkan pada
gusi sejauh mungkin dari permukaan oklusal dengan ujung-ujung bulu sikat mengarah ke apeks dan sisi
bulu sikat digerakkan perlahan-lahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang dari kepala sikat
bergerak dengan lengkungan. Pada waktu bulu-bulu sikat melalui mahkota klinis, kedudukannya hamper
tegak lurus permukaan email. Gerakan ini diulang 8-12 kali setiap daerah dengan sistematis sehingga

tidak ada yang terlewat. Cara ini terutama sekali menghasilkan pemijatan gusi dan juga di harapkan
membersihkan sisa makanan dari daerah interproksimal.

Gambar 3 Metode Modifikasi Stillman

Vibratory Technic
Diantaranya adalah: (a) teknik Charter; (b) teknik Stillman- McCall dan, (c) teknik Bass.
a. Teknik Charter
Pada permukaan bukal dan labial, sikat di pegang dengan tangkai dalam kedudukan horizontal. Ujungujung bulu diletakkan pada permukaan gigi membentuk sudut 45 0 terhadap sumbu panjang gigi mengarah
ke oklusal. Hati-hati jangan sampai menusuk gusi. Dalam posisi ini sisi dari bulu sikat berkontak dengan
tepi gusi, sedangkan ujung dari bulu-bulu sikat berada pada permukaan gigi. Kemudian sikat ditekan
sedemikian rupa sehingga ujung-ujung bulu sikat masuk ke interproksimal dan sisi-sisi bulu sikat
menekan tepi gusi.
Sikat digetarkan dalam lengkungan-lengkungan kecil sehingga kepala sikat bergerak secara sirkuler,
tetapi ujung-ujung bulu sikat harus tetap ditempat semula. Setiap kali dapat dibersihkan dua atau tiga gigi.
Setelah tiga atau empat lingkaran kecil, sikat diangkat, lalu ditempatkan lagi pada posisi yang sama,
untuk setiap daerah dilakukan tiga atau empat kali. Jadi pada teknik ini tidak dilakukan gerakan oklusal
maupun ke apical. Dengan demikian, ujung-ujung bulu sikat akan melepaskan debris dari permukaan gigi
dan sisi bulu sikat memijat tepi gusi dan gusi interdental.
Permukaan oklusal disikat dengan gerakan yang sama, hanya saja ujung bulu sikat ditekanke dalam ceruk
dan fisura. Permukaan lingual dan palatinal umumnya sukar dibersihkan kerena bentuk lengkungan dari

barisan gigi. Biasanya kepala sikat tidak dipegang secara horizontal, jadi hanya bulu-bulu sikat pada
bagian ujung dari kepala sikat yang dapat digunakan.
Metode Charter merupakan cara yang baik untuk pemeliharaan jaringan tetapi keterampilan yang
dibutuhkan cukup tinggi sehingga jarang pasien dapat melakukannya dengan sempurna.

Gambar 4. Metode Charter

b. Teknik Stillman-McCall
Posisi bulu sikat yang berlawanan dengan Charter. Sikat gigi di tempatkan sebagian pada gigi dan
sebagian pada gusi, membentuk sudut 45 0 terhadap sumbu panjang gigi mengarah ke apical. Kemudian
sikat gigi ditekankan sehingga gusi memucat dan dilakukan gerakan rotasi kecil tanpa mengubah
kedudukan ujung bulu sikat. Penekanan dilakukan dengan cara sedikit menekuk bulu-bulu sikat tanpa
mengakibatkan friksi atau trauma terhadap gusi. Bulu-bulu sikat dapat ditekuk ketiga jurusan, tetapi
ujung-ujung bulu sikat harus pada tempatnya.
Metode Stillman-McCall ini telah diubah sedikit oleh beberapa ahli, yaitu ditambah dengan gerakan ke
oklusal dari ujung-ujung bulu sikat, tetap mengarah ke apical. Dengan demikian, setiap gerakan berakhir
dibawah ujung insisal dari mahkota, sedangkan pada metode yang asli, penyikatan hanya terbatas pada
daerah servikal gigi dan gusi.

Gambar 5. Metode Stillman

c. Teknik Bass
Sikat di tempatkan dengan sudut 450 terhadap sumbu panjang gigi mengarah ke apikal dengan ujungujung bulu sikat pada tepi gusi. Dengan demikian, saku gusi dapat dibersihkan dan tepi gusi dapat dipijat.
Sikat digerakkan dengan getaran-getaran kecil ke depan dan ke belakang selama kurang lebih 10-15 detik
ke setiap daerah yang meliputi dua atau tiga gigi. Untuk permukaan lingual dan palatinal gigi belakang
agak menyudut (agak horizontal) dan pada gigi depan, sikat dipegang vertical.

Gambar 6 Metode Bass

Teknik Fones atau Teknik Sirkuler


Bulu-bulu sikat ditempatkan tegak lurus pada permukaan bukal dan labial dengan gigi dalam keadaan
oklusi. Sikat digerakkan dalam lingkaran-lingkaran besar sehingga gigi dan gusi rahang atas dan rahang
bawah disikat sekaligus. Daerah interproksimal tidak diberi perhatian khusus. Setelah semua permukaan
bukal dan labial disikat, mulut dibuka lalu permukaan lingual dan palatinal disikat dengan gerakan yang
sama, hanya dalam lingkaran-lingkaran yang lebih kecil. Karena cara ini agak sukar dilakukan di lingual

dan palatinal, dapat dilakukan gerakan maju-mundur untuk daerah ini.


Teknik Fisiologik
Untuk teknik ini digunakan sikat gigi dengan bulu-bulu yang lunak. Tangkai sikat gigi dipegang secara
horizontal dengan bulu-bulu sikat tegak lurus terhadap permukaan gigi. Metode ini didasarkan atas
anggapan bahwa penyikatan gigi harus menyerupai jalannya makanan, yaitu dari mahkota kearah gusi.
Setiap kali dilakuakn beberapa kali gerakan sebelum berpindah ke daerah selanjutnya.
Teknik ini sukar dilakukan pada permukaan lingual dari premolar dan molar rahang bawah sehingga dapat
diganti dengan gerakan getaran dalam lingkaran kecil. Bulu-bulu sikat gigi ditempatkan pada sudut

kurang lebih 450 terhadap sumbu panjang gigi ke arah okusal, kemudian dengan menggunakan tekanan
bulu-bulu sikat digetarkan di antara gigi-gigi disertai gerakan-gerakan rotasi kecil. Dengan demikian, sisi
dari bulu-bulu sikat berkontak dengan pinggiran gusi dan menghasilkan pemijatan yang ideal. Setelah 3
atau 4 lingkaran kecil tanpa mengubah posisi, bulu-bulu sikat diangkat dan diletakkan kembali pada
posisi yang sama. Prosedur ini dilakukan sampai seluruh permukaan bukal, labial, dan lingual, serta
interproksimal bersih. Permukaan oklusal dibersihkan dengan cara menekan bulu sikat ke dalam ceruk
dan fisura kemudian dilakukan gerakan rotasi kecil, sikat diangkat dan diletakkan kembali. Prosedur ini
harus dilakukan berulang kali sampai seluruh permukaan kunyah menjadi bersih.
Yanti GN, Natamiharja L. Pemilihan dan pemakaian sikat gigi pada murid-murid SMA di
Kota Medan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Dentika Dental Journal
2005; 1(10): 28-32.
Putri MH, Herijulianti E, Nurjannah N. Ilmu pencegahan penyakit jaringan keras dan
jaringan pendukung gigi. Jakarta: EGC; 2009, 59-60, 112-120

Walianto S. Asimetri dental dan wajah. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati
Denpasar. Interdental Jurnal Vol. 5 No. 2, 2008.

ASIMETRI WAJAH
Asimetri wajah merupakan ketidakseimbangan yang terjadi pada bagian yang homolog pada
wajah dalam halu ukuran, bentuk dan posisi pada sisi kiri dan kanan. Karena wajah yang asimetri
sering disertai ketidaksimetrisan dental, maka keadaan ini merupakan hal yang perlu
diperhatikan dalam merawat suatu maloklusi. Dalam mendiagnosis harus diketahui bahwa
asimetri wajah merupakan fenomena alami dan bukanlah merupakan hal yang abnormal.
Asimetri keseluruhan struktur wajah dapat dideteksi dengan cara membandingkan bagian yang
homolog pada sisi sebelah dari wajah yang sama, distorsi pola pertumbuhan karena luka atau
penyakit dapat menimbulkan asimetri wajah yang parah, ketidaksimetrisan struktur wajah tidak
mutlak dapat dirawat dengan perawatan ortodontik.
Penyebab dari asimetri sangat beragam dan berbeda tiap individu. Pada beberapa pasien
disebabkan karena erupsi gigi yang tidak normal, gigi sulung yang tanggal terlalu dini, dan
akibat pencabutan gigi permanen. Pada pasien lain disebabkan kelainan skeletal yang meliputi
maksila atau mandibula. Meskipun penyebabnya sangat beragam. Kelainan-kelainan tersebut
dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu defek perkembangan, trauma, patologi.

Langkah pertama dalam mendiagnosis adalah menentukan ketidaksimetrisan yang terjadi akibat
kelainan skeletal atau dental. Untuk mendiagnosis asimetri dental atau skeletal, dapat dilakukan
dengan pemeriksaan klinis dan radiografik yang menyeluruh pada skeletal, gigi, fungsional dan
pola jaringan lunak wajah.
A. Pemeriksaan Klinis
1) Pemeriksaan kesimetrisan wajah pada pasien dengan posisi natural head, mandibula dalam
keadaan relasi sentrik, dan jaringan lunak dalam keadaan istirahat. Pasien duduk di kursi dan
pemeriksa berdiri tepat di depanny. Langkah pertama adalah membuat garis tengah wajah
dengan bantuan dental floss yang ditarik pada bidang sagital mulai dari atas kepala sampai
bagian terbawah dagu. Garis yang terbentuk membagi dua alis mata, zygoma, lubang hidung,
bibir, philtrum, sudut gonial.
2) Evaluasi garis tengah dental pada posisi mulut terbuka, relasi sentrik, kontak dini, oklusi
sentrik.
3) Evaluasi pergeseran anteroposterior unilateral: Kelainan yang terjadi karena perbedaan dalam
ukuran bentuk, posisi dari kedua sisi wajah dalam jurusan anteroposterior horisontal. Gambar 2
memperlihatkan pandangan frontal dan lateral pasien dengan kelainan asimetri karena pergeseran
posterior unilateral. Pandangan inferior memperlihatkan jarak sudut gonial kanan ke ujung dagu
pasien lebih pendek dibandingkan sisi kiri. Pada pemeriksaan maksila, tidak tampak adanya
perbedaan panjang maksila kiri dan kanan. Relasi oklusi gigi memperlihatkan relasi molar Klas 1
Angle pada sisi kanan dan Klas 2 Angle pada sisi kiri. Relasi ini tetap pada posisi istirahat. Pada
pandangan oklusal, gigi molar kanan dan kiri tidak memperlihatkan perbedaan antero-posterior,
sedangkan pada mandibula, terlihat gigi molar permanen pertama, gigi molar sulung pertama,
kedua dan kaninus sulung lebih ke anterior dibandingkan sisi kiri.

4) Evaluasi pergeseran vertikal: Asimetri yang akibatkan perbedaan tinggi dalam ukuran, bentuk,
posisi bagian bagian dentofasial pada kedua sisi wajah. Gambar 3 memperlihatkan pasien dengan
gigi dan bibir dalam keadaan berkontak. Garis terputus-putus menggambarkan ramus mandibula
sebelah kanan lebih tinggi dibandingkan sebelah kiri. Gambaran intra oral memperlihatkan
pengaruh asimetri terhadap bidang oklusal. Pada sisi kanan pasien, terlihat bagian maksila lebih
besar dan ramus mandibula lebih panjang, bidang oklusalnya lebih rendah. Pada sisi kiri, maksila
lebih kecil, dan bidang oklusal lebih tinggi.

Pasien dengan pergeseran dalam jurusan vertikal (gambar 4) terlihat mata kiri lebih tinggi
dibandingkan mata kanan. Tulang pipi dan telinga sebelah kiri juga tampak lebih tinggi
dibandingkan yang kanan. Maksila sebelah kiri lebih besar dibandingkan yang kanan, dan ramus
sebelah kiri lebih panjang dibandingkan sebelah kanan. Gambaran oklusi memperlihatkan
perbedaan tinggi bidang oklusi pada sisi kiri dan kanan.

5) Evaluasi pergeseran dalam jurusan lateral: Merupakan asimetri yang diakibatkan adanya
perbedaan jurusan lateral horisontal dalam ukuran, bentuk, posisi bagian-bagian dentofasial pada
sisi kiri dibandingkan dengan yang kanan. Pasien dengan kelainan ini (gambar 5), pada
pandangan inferior terlihat ujung dagu bergeser kearah kanan terhadap bidang tengah sagital.
Mata kiri tampak lebih tinggi. Muka bagian bawah memperlihatkan sudut gonial kanan lebih ke
lateral terhadap bidang tengah sagital dibandingkan sisi kiri. Telinga sebelah kanan lebih
posterior dibandingkan sisi lawannya. Intra oral memperlihatkan gigitan silang pada gigi molar
permanen, molar sulung dan kaninus sulung. Pada sisi kiri terlihat perkembangan yang normal.
Garis tengah dental mandibula yang bergeser ke kanan saat oklusi dan relasi bukolingual yang
merupakan gigitan silang, tetap dalam posisi tersebut saat istirahat.

6) Evaluasi pergeseran rotasi: Pergeseran rotasi adalah suatu asimetri yang disebabkan
pergeseran seluruh bagian maksila atau mandibula. Pada gambar 6 terlihat seorang wanita
dengan pergeseran rotasi pada mandibula dan pergeseran unilateral pada maksila kiri. Pergeseran

rotasi pada mandibula dilihat pada pandangan inferior mandibula. Ujung dagu dan sudut gonial
menentukan adanya rotasi pada mandibula. Pada kelainan tersebut, seluruh mandibula terputar
ke arah kanan akibatnya sudut gonial kiri lebih ke anterior dari sebelah kanan, dagu akan tampak
lebih ke kanan terhadap bidang tengah sagital.