Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

DEPARTEMEN SURGICAL
ABSES MANDIBULA

Oleh:
NADIA OKTIFFANY PUTRI
NIM. 115070201131017

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

1. Definisi
Abses adalah kumpulan tertutup jaringan cair, yang dikenal sebagai nanah, di suatu
tempat di dalam tubuh. Ini adalah hasil dari reaksi pertahanan tubuh terhadap benda
asing (Mansjoer A, 2005)
Abses adalah tahap terakhir dari suatu infeksi jaringan yang diawali dengan proses
yang disebut peradangan (Bambang, 2005)
Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.
(Siregar, 2004). Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di
mandibula. Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu
komponennya sebagai kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare,
2001)
2. Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara antara lain:
a. Bakteri masuk kebawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang
tidak steril
b. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain
Lebih lanjut Siregar (2004) menjelaskan peluang terbentuknya suatu abses akan
meningkat jika :
a.
b.

Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi


Terdapat gangguan sisitem kekebalan.

Menurut Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, (2001), abses
mandibula sering disebabkan oleh infeksi didaerah rongga mulut atau gigi.
Peradangan ini menyebabkan adanya pembengkakan didaerah submandibula yang
pada perabaan sangat keras biasanya tidak teraba adanya fluktuasi. Sering
mendorong lidah keatas dan kebelakang dapat menyebabkan trismus. Hal ini sering
menyebabkan sumbatan jalan napas
Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau kelenjar limfa
submandibula. Mungkin juga sebagian kelanjutan infeksi ruang leher dalam lain.
Kuman penyebab biasanya campuran kuman aerob dan aerob.
Abses mandibula merupakan salah satu bagian dari abses leher dalam. Sebagian
besar abses leher dalam disebabkan oleh campuran berbagai kuman, baik kuman
aerob, anaerob, maupun fakultatif anaerob. Kuman aerob yang sering ditemukan
adalah Stafilokokus, Streptococcus sp, Haemofilus influenza, Streptococcus
Pneumonia, Moraxtella catarrhalis, Klebsiell sp, Neisseria sp. Kuman anaerob yang
sering ditemukan pada abses leher dalam adalah kelompok batang gram negatif,
seperti Bacteroides, Prevotella, maupun Fusobacterium.

Di Bagian THT-KL Rumah Sakit dr. M. Djamil Padang, periode April 2010 sampai
dengan Oktober 2010 terdapat sebanyak 22 pasien abses leher dalam dan dilakukan
kultur kuman penyebab, didapatkan 73% spesimen tumbuh kuman aerob, 27% tidak
tumbuh kuman aerob dan 9% tumbuh jamur yaitu Candida sp.
Tabel 1. Hasil kultur abses leher dalam Bagian THT-KL dr. M.Djamil Padang periode
April 2010-Oktober 2010.
Jenis Kuman

Jumlah

37

Klepsiella sp

25

Enterobacter sp

19

Staphylococcus aureus

12,5

Staphilococcus

E. Coli

Proteus vulgaris

Streptocccus haemoliticus

epidermidis

3. Tanda dan Gejala


Menurut Smeltzer dan Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa :
a. Nyeri
b. Nyeri tekan
c. Teraba hangat
d. Pembengakakan
e. Kemerahan
f. Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai benjolan..
Jika abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit
diatasnya menipis. Suatu abses di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala
seringkali terlebih tumbuh lebih besar. Abses dalam lebih mungkin menyebarkan
infeksi keseluruh tubuh. Adapun tanda dan gejala abses mandibula adalah nyeri
leher disertai pembengkakan di bawah mandibula dan di bawah lidah, mungkin
berfluktuasi.

Inspeksi Abses Mandibula

4. Patofisiologi
Terlampir

5. Pemeriksaan penunjang
Menurut Siregar (2004), abses dikulit atau di bawah kulit sangat mudah dikenali.
Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan. Pada penderita abses, biasanya
pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menetukan
ukuran dan lokasi abses dalam biasanya dilakukan pemeriksaan Rontgen,USG, CT,
Scan, atau MRI.

1. Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin, didapatkan leukositosis. Aspirasi material yang
bernanah (purulent) dapat dikirim untuk dibiakkan guna uji resistensi antibiotic
2. Radiologis
a

Rontgen jaringan lunak kepala AP

Rontgen panoramic
Dilakukan apabila penyebab abses mandibula berasal dari gigi.
c. Algoritma pemeriksaan benjolan di leher

6. Tindakan umum yang dilakukan


Menurut FKUI (1990), antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus
diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal untuk
abses yang dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam bila letak abses dalam dan
luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi 0,5 tiroid,
tergantung letak dan luas abses. Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari sampai gejala dan
tanda infeksi reda.
Untuk mendapatkan jenis antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebab, uji kepekaan
perlu dilakukan. Namun, pemberian antibiotik secara parenteral sebaiknya diberikan
secepatnya tanpa menunggu hasil kultur pus. Antibiotik kombinasi (mencakup terhadap
kuman aerob dan anaerob, gram positip dan gram negatif) adalah pilihan terbaik
mengingat kuman penyebabnya adalah campuran dari berbagai kuman. Secara empiris
kombinasi ceftriaxone dengan metronidazole masih cukup baik. Setelah hasil uji
sensistivitas kultur pus telah didapat pemberian antibiotik dapat disesuaikan.
Berdasarkan uji kepekaaan, kuman aerob memiliki angka sensitifitas tinggi terhadap
terhadap ceforazone sulbactam, moxyfloxacine, ceforazone, ceftriaxone, yaitu lebih dari
70%. Metronidazole dan klindamisin angka sensitifitasnya masih tinggi terutama untuk
kuman anaerob gram negatif. Antibiotik biasanya dilakukan selama lebih kurang 10 hari.
Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses akan pecah dengan
sendirinya dan mengeluarkan isinya,.kadang abses menghilang secara perlahan karena

tubuh menghancurkan infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi. Untuk
meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan
dikeluarkan isinya. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian
tubuh lainnya.

7. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Identitas Pasien :
Identitas klien :
nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,tanggal MRS,tanggal
pengkajian,diagnostic medic.
Identitas penanggung :
nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,hubungan dengan
klien
2. Keluhan Utama : Biasanya pasien mengeluh bengkak.
3. Riwayat Kesehatan.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada
keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk

menanggulanginya.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Apakah ada keluarga pernah menderita penyakit seperti ini
Riwayat Psikososial :
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang
mengalami

stress yang berkepanjangan.

Diagnosa Keperawatan
Menurut T. Heather Herdman, et.al (2007), diagnosa keperawatan yaitu :
1. Nyeri Akut yang berhubungan dengan egen injuri biologi
2. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit
3. Kerusakan Intergritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik.
Rencana Keperawatan
Menurut Johnson, Marion Meridean Maas dan Sue Moorhead, ed (2000) rencana
keperawatan terdiri dari :
1. Nyeri Akut yang berhubungan dengan Agen Injury Biologi

Tujuan : Level nyaman.


Kriteria hasil : Melaporkan puas dengan kontrol nyeri
Intervensi (Joane C, Mc.Closkey, 1996)
Manajemen Nyeri
a) Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik durasi, frekuensi,
dan faktor presipitas
R: memudahkan untuk menentukan intervensi yang akan di laksanakan.
b) Observasi reaksi non verbal dari ketidak nyaman
c) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
R: agar tidak memperberat kondisi pasien
d) Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri, kolaborasi dengan dokter jika ada
komplain dan tindakan nyeri yang tidak berhenti
e) Ajarkan teknik relaksasi
R: untuk mengalihkan rasa nyeri
f) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum obat
R: agar obat yang diberikan memberikan hasil sesuai dg yang diharapkan
g) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
R: agar bisa di pantau perbandingan sebelum dan sesudah di berikan analgesik
h) Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat sesuai porgram.
R: agar rasa nyeri bisa teratasi secara efektif

2.

Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit (Johnson, Marion Meridean


Maas dan Sue Moorhead, ed., 2000)
Tujuan : Status termoregulasi dalam batas normal
Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal
Intervensi
a) Monitor temperatur baru sampai stabil
R: untuk mengetahui perubahan suhu dan penentu tindakan
b) Monitor gejala hipertermi
R: untuk memudahkan dalam pemnentuan intervensi
d) Monitor TTV
e) Kolaborasi dalam pemberian antipiretik
f) Atur suhu lingkungan sesuai kebtuhan pasien
R: mengurangi hipotermi
g) Berikan pemasukan nutrisi dan cairan yang adekuat.

3. Kerusakan Integritas kulit yang berhubungan dengan abses


Tujuan : Integritas kulit dan jaringan yang normal setelah dilakukan

perawatan
Kriteria hasil: Integritas kulit membaik
Intervensi
a) Kaji luas kerusakan akibat abses
R: memudahkan dalam penentuan intervensi
b) Berikan perawatan pada daerah yang mengalami abses
R: mengurangi terjadinya komplikasi lebih lanjut
c) Gunakan prinsip steril untuk perawatan luka abses
R: agar tidak terjadi komplikasi
d) Berikan obat sesuai indikasi
R: membantu mempercepat usaha penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2007. 145-48
2. Standring, S. 2004. Grays Anatomy. The Anatomical Basis of Clinical Practise.
Churcill LivingStone: Elsevier
3. Lee, K. J. 1999. Essential Otolaringologi : Head and Neck Surgery Eight Edition.
Chapter 21. McGraw Hill Medical Publishing Division.
4. Dr David Maritz. Deep space infections of the neck and floor of mouth- Hand Out.
5. Ariji Y, Gotoh M, Kimura Y, Naitoh K, Kurita K, Natsume N, et all. Odontogenic
infection pathway to the submandibular space: imaging assessment. Int. J. Oral
Maxillofac. Surg. 2002; 31: 1659
6. Megran, D.W., Scheifele, D.W., Chow, A.W. Odontogenic Infection Disease. 1984.
3:21
7. Pictures

of

submandibular

neck.

Otolaryngology

Houston.

Diunduh

dari

http://prosites-otohouston.homestead.com/neckabscess.html [Diakses tanggal 16


Juni 2011]
8. Lalwani, A. K. 2007. Neck Masses. Current Diagnosis & Treatment. Otolaryngology
Head and Neck Surgery Second Edition. New York: Mc Graw Hill LANGE
9. Micheau A, Hoa D. ENT anatomy: MRI of the face and neck - interactive atlas of
human anatomy using cross-sectional imaging (updated 24/08/2008 10:51 pm).
Diunduh dari http://www.imaios.com/en/e-Anatomy/Head-and-Neck/Face-and-neckMRI. [Diakses tanggal 16 Juni 2011].
10. Calhoun KH. 2001. Head and neck surgery-otolaryngology Volume two. 3nd Edition.
USA: Lippincott Williams and Wilkins. 705,712-3
11. Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Edisi 13. jakarta : EGC. 1999.
12. Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2.
Jakarta:EGC,2004.
13. Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Bruner and Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia
:Monica Ester. Edisi 8 jakarta : EGC,2001.

PATOFISIOLOGI

Bakteri

Menginvasi jaringan sehat


Kerusakan integritas jaringan kulit

Infeksi
Meninggalkan rongga berisi jaringan & sel mati
Kematian sel

Hipotalamus

Pelepasan Sitokin

P suhu tubuh

Memicu inflamasi

Akumulasi pus dalam rongga

Mendorong jaringan sekitarnya


Gangguan rasa nyaman

Menarik kedatangan leukosit


Terbentuk dinding oleh sel-sel sehat
Leukosit melawan infeksi

Nyeri
ABSES
Sensi nyeri

Kematian leukosit

Nyeri telan

Anoreksia

P intake nutrisi

Penurunan produksi energi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kelemahan

Intoleransi aktivitas