Anda di halaman 1dari 6

A.

Tentang Tanaman Akar Wangi

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Vetiveria

Spesies

: V.zizanoides

TanamanAkar wangi (Vetiveria zizanioides, syn. Andropogon zizanoides) adalah


sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini dapat tumbuh sepanjang tahun, dan
dikenal orang sejak lama sebagai sumber wangi-wangian. Tumbuhan ini termasuk dalam
famili poaceae, dan masi sekeluarga dengan serai atau padi.
Tanaman akar wangi (Andropogon zizanioides Linn.) merupakan tanaman obat yang
merupakan jenis tanaman kasar tegak, berumbai abadi, tingginya 1 sampai 2 meter tinggi,
mempunyai akar yang berserat berbau harum. Daunnya teratur dua baris, panjangnya sekitar
1 meter dan lebar 1 cm atau kurang, dan melipat.Tanaman akarwangi merupakan salah satu
jenis tanaman penghasil minyak atsiri, minyak akarwangi dikenal dengan Java vetiver oil.
Tanaman akarwangi dapat tumbuh mulai dari dataran rendah (200 mdpl) sampai
dataran tinggi (1.400 m dpl), ketinggian optimum adalah 750 m dpl. Akarwangi
menghendaki sinar matahari langsung, sehingga tidakcocok ditempat teduh karena akan

berpengaruh terhadap pertumbuhan sistem perakarannya dan mutu minyak. Curah hujan
yang dikehendaki berkisar antara 2.0003.000 mm/tahun dengan suhu udara 17270C.
Tanaman ini bisa bertahan pada bulan kering (tidak turun hujan) selama 2 bulan.
B. Potensi Akar Wangi
Produksi akar segar rata-rata 64.000 ton/tahun dari areal 3.200 ha, diolah menjadi
minyak 1.856 ton (dari 46.400 ton akar segar) dan industri kerajinan 10.560 ton akar kering
(dari 17.600 ton akar segar). Selain itu juga diperoleh 128.000 ton brangkasan dan 24.000 ton
ampas penyulingan. Industri minyak akarwangi saat ini umumnya masih berupa industri
tradisionil dengan kapasitas industri dan teknologi yang sederhana, industri kerajinan rumah
tangga dengan bahan baku akar segar juga demikian, sedangkan industri pengolahan
brangkasan dan ampas penyulingan belum berkembang. Sebaran areal akarwangi disajikan
pada table dibawah
Provinsi/
Areal Produksi
kabupaten
(ha)
(ton)
Jawa Barat
Garut
1200
24000
Sukabumi
100
1200
Bandung
400
7200
Sumedang
500
10000
Kuningan
200
4000
Jawa Tengah
Wonosobo
300
7500
Klaten
200
4200
Ungaran
220
5000
Daerah lain-lain
80
900
Jumlah
3200
64000
Sumber: dalam Anonim, 2003
Angka-angka di atas menunjukan bahwa potensi akarwangi masih cukup besar,
industri pengolahan masih punya peluang untuk ditingkatkan menjadi yang lebih modern,
ketersediaan bahan baku untuk membangun industri yang lebih kehilir masih besar.
C. Pemanfaatan Akar Wangi
Selama ini produk olahan akar wangi yang dihasilkan masih terbatas minyak
akarwangi kasar, padahal minyak tersebut mengandung unsur kimia yang cukup lengkap

yang dapat diolah menjadi produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi, sementara
brangkasan daunnya dapat diolah menjadi produk seperti barang kera-jinan dan
industrilainnya. Produk-produk turunan yang dapat dihasilkan. dari pengolahan minyak
akarwangi antara lain; Benzoil acid, Vetiverol, Furfurol (analdehyde), a-vetivone, vetivene,
vetivenyl dan sebagainya, yang dapat digunakan selain untuk parfum, pewangi juga sebagai
aromatherapy. Akar segar selain disuling jadi minyak juga digunakan masyarakat sebagai
bahan kerajinan seperti tikar, hiasan dinding dan lain- lain, demikian juga dari
brangkasannya.
D. Penggolongan Tanaman Obat
a. Berdasarkan jenis simplisia
- Akar : Dari akar tanaman akarwangi, melalui penyulingan akan dihasilkan minyak
kasar akar wangi (produk primer). Dari minyak akarwangi ini masih dapat
dikembangkan berbagai industri lebih hilir seperti; bezoid acid, vetiverol, furfurol, vetiveno, -vetiveno, vetivene, dan vetivenyl-vetivenate yang digunakan untuk
parfum, minyak wangi, obat- obatan dan minuman penyegar/sehat.Selain akar diolah
menjadi minyak juga diolah menjadi produk kerajinan seperti boneka, tas, hiasan
dinding, tikar dan sebagainya. Produk kerajinan ini selain penampilannya cukup
menarik tetapi juga mengeluar-kan aroma yang cukup wangi, sehingga tidak hanya
-

sebagai hiasan tetapi juga sebagai pewangi ruangan.


Brangkasan : Brangkasan merupakan bagian tanaman akarwangi di atas permukaan
tanah, yaitu daun dan batang akar-wangi. Brangkasan ini sebagian besar mengandung
serat yang tinggi, sehing-ga dapat dijadikan juga sebagai bahan kerajinan seperti daun
pandan untuk pembuatan tikar, keranjang dan sebagainya. Selain itu dengan kadar
lignin yang tinggi brangkasan ini berpotensi untuk dijadikan bahan padaindustri
kertas (pulp).Selain itu brangkasan juga berpotensi sebagai bahan baku untuk industri
obat nyamuk bakar, selain baunya yang khas, mempunyai sifat mengusir serangga

dan mudah pembakarannya.


b. Berdasarkan pola budidaya
Tanaman akar wangi merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk
dimanfaatkan bagian akarnya untuk menghasilkan ekstrak minyak atsiri. Minyak atsiri
yang dihasilkan dari penyluingan akar wangi dapat digunakan sebagai bahan baku
kosmetik, parfum, dan obat-obatan. Selain itu, anaman akar wangi dapat berfungsi

sebagai usaha konservasi tanah dan air karena kelebatan akarnya mencapai 50 cm.
Maka akar wangi dapat ditanam di pematang-pematang sawah untuk menghindari atau
mengendalikan kerusakan pematang sawah. Selain itu akar wangi dapat melindungi
lahan terasering, melindungi lahan sekitar jembatan dan sekitar dam.
c. Berdasarkan kegunaan tanaman
Selain dimanfaatkan untuk tanaman obat, tanaman akar wangi juga dapat
dijadikan sebagai tanaman pagar pada lahan budidaya khususnya tanaman pangan dan
hortikultura, dimana tanaman akar wangi dapat menahan aliran permukaan air sehinnga
memperkecil dampak bila terjadi erosi.
d. Berdasarkan cara perbanyakan
Perbanyakan akar wangi umumnya menggunakan cara vegetatif yakni dengan
menggunakan bonggol akar. Bonggol berasal dari tanaman dalam rumpun yang tidak
berbunga, kemudian dipecah-pecah sehingga tiap pecahan bonggol memiliki mata tunas
yang selanjutnya bonggol ini dapat langsung ditanam di lahan yang sudah dipersiapkan.
E. Prospek
Produk akarwangi umumnya bentuk minyak akarwangi yang dikenal dengan Java
vetiver, hampir sebagian besar diekspor, dengan pangsa pasar mencapai 26,5% pangsa pasar
dunia. Pada tahun 2003, total nilai ekspor minyak akarwangi Indonesia mencapai US$ 680,7
juta dengan volume ekspor 36,65 ton yang dikirim ke negara-negara Amerika, Belanda dan
negara Eropah lainnya (dalam Departemen Pertanian, 2003).
Permintaan pasar ekspor produk akarwangi diperkirakan akan terus meningkat,
karena makin meningkat-nya pemakaian parfum, sabun wangi, aromaterapi, dan sebagai
bahan peng-obatan seperti antiseptic, antispas-modic, aphrodisiac, depurative, ner-vine,
rubefacient, sedative, stimulant, tonic dan vermifugal ( Deptan, 2005).
Sebagai contoh pemakaian akarwangi akan meningkat dengan digunakan sebagai
bahan aphrodisiac. Bahan aphrodisiac akan mengalami pening-katan sejalan dengan
meningkatnya minuman berenergi di Indonesia. Pada tahun 1994 konsumsi minuman
berenergi

penduduk

Indonesia

sebesar

72

liter/kapita/tahun,

naik

menjadi

113,6liter/kapita/tahun pada tahun 1999. Dengan asumsi bahwa perekono-mian Indonesia


akan terus membaik, BMDI (Barometer Milenium Data Indonesia) memproyeksikan sampai
4 tahun mendatang konsumsi minuman kesehatan termasuk minuman ber-energi akan

semakin naik, diperkirakan mencapai 15%/tahun. Bila tahun 2000 sekitar 27 juta liter, tahun
2004 sekitar67 juta liter maka pada tahun 2010 akan mencapai 127,3 juta liter, pasar yang
sangat potensi di dalam negeri (Majalah Prospektif, 2001).
F. Kendala Pengembangan
Permasalahan dalam budidaya tanaman akarwangi :
1. Ketebatasan modal yang dimiliki dalam mengolah akarwangi menjadi minyak atsiri,
terutama modal untuk memenuhi biaya produksi yang mengalami peningkatan.
2. Haraga jual minyak akar wangi turun baik di pasaran domestic dan internasional.
3. Motivasi petani dalam mengusahakan akarwangi menurun karena rendahnya
permintaan akarwangi serta harga jual akarwangi yang rendah.
Permasalahan keterbatasan modal, produktivitas, pemasaran, dan kemampuan petani
untuk bergerak dibidang off-farm, serta masih lemahnya kemampuan petani baik dalam hal
permodalan maupun sumber daya manusia menyebabkan pendapatan petnai cenderung
rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan pendapatan akar wangi sebaiknya pelaksanaan
kebijakan lebih memperhatikan kendala tersebut.
G. Solusi
1. Bantuan modal berupa pinjaman atau hibah untuk produksi minyak atsiri. Dana ini
berfungsi sebagai dana unruk membeli bahan baku dari petani.
2. Bantuan teknologi untuk memperbaiki kualitas yang memenuhi standar ekspor. Alat yang
diperlukan adalah penyuling system uap atau katel uap atau revenery.
3. Campur tangan pemerintah dalam menetukan harga ke eksportir. Campur tangan ini
diperlukan pula untuk menghindari adanya permainan para mafia yang menyebabkan
posisi tawar petani dan pengolah lemah.
4. Bantuan pemerintah dalam sertifikasi mutu minyak atsiri sehinnga petani maupun
pengolah tidak dipermaikan oleh pihak pembeli (eksportir).
Daftar Pustaka
Departemen Pertanian, 2003. Pengkajian peningkatan produksi agribisnis berbasis minyak atsiri.
Balittro kerjasama dengan Bagian Proyek Pengembangan Jaringan Pertanian. 85 hal
Emmyzar, et al. Prospek Pengembangan Tanaman Akar Wangi. Balai Penelitian Tanaman Obat
dan Aromatik.

Majalah Prospektif, 2001. Pasar minuman kesehatan makin seksi. Vol. 3. No. 15. 26 Februari
2001. hal 60-66.
Rochdiani, dini. 2008. Pola Pendapartan Petani Akar Wangi di Kecamatan Samarang Kabupaten
Gatut Provinsi Jawa Timur. Univ Padjajaran, Jatinangor, Bandung 40600.