Anda di halaman 1dari 35

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

BAB 6
LERENG TAMBANG

Lereng tambang merupakan faktor teknologi dalam rancangan dan rencana


penambangan. Hal ini telah diuraikan secara singkat pada sub bab 4.2. Faktor
teknologi ini juga sering disebut sebagai pertimbangan teknik dalam rencana
penambangan.
Pertimbangan teknis dalam tambang terbuka harus mendapat perhatian yang serius,
karena hal ini menyangkut beberapa masalah :

Peningkatan produksi ; dengan merancang dan membuat geometri lereng yang


baik dan tepat berakibat pada pelaksanaan operasi tambang yang teratur dan baik,
sehingga efisiensi akan tercapai, yang berarti akan dapat meningkatkan produksi
dan menambah nilai ekonomis.

Keselamatan pekerja dan peralatan ; Dengan lereng yang mantap akan mencegah
terjadinya runtuhan lereng terhadap para pekerja dan alat tambang. lereng yang
mantap direncanakan dari perancangan yang baik dari geometri lereng, analisis
struktur geologi dan pengaruh airtanah.
Reklamasi ; Dengan perencanaan yang matang dalam operasioanl penambangan
dengan bentuk dan geometri lereng yang baik, maka pelaksanaan reklamasi
tambang dapat segera dilaksanakan. Sehingga issue tambang merupakan sebagai
perusak lingkungan dapat ditepis menjadi peubah lingkungan.

Pada Bab ini akan diuraikan tentang bagian-bagian dari lereng tambang. Hal ini sangat
terkait dengan perencanaan lereng tambang terbuka. Adapun bagian-bagian yang
akan dibahas adalah ;
1. Dasar-dasar geometri bench
2. Pit slope geometri
3. Slope failure

6.1 DASAR-DASAR GEOMETRI BENCH


Geometri bench tergantung kepada produksi yang diinginkan dan alat-alat berat yang
digunakan. Geometri bench adalah tinggi bench (H), lebar bench (S b) dan panjang
bench (L). Kemudian bagian-bagian lain adalah puncak bench (crest), kaki bench (toe),
muka bench (bench face), sudut lereng () dan bank width (Gambar 6.1). Secara
umum dan akumulatif dari 85 data diberbagai tambang terbuka, sudut lereng pada
batuan keras berkisar 55o 80o (Gambar 6.2)

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 76

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.1
Bagian-Bagian Bench

Gambar 6.2
Akumulatif Distribusi Sudut Lereng

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 77

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.3
Penggalian pada Working bench

Catch bench

Gambar 6.4
Fungsi Catch bench

Dalam berbagai tipe bench, working bench merupakan aktivitas penambangan. Lebar
bench pada working bench (Wb) didefenisikan sebagai jarak dari crest ke floor bench
berikutnya. Lebar yang diekstraksi dari working bench disebut cut (Gambar 6.3).
Secara detail harus diperhitungkan dimensi pemotongan (cut) dan working bench.
Setelah aktivitas cut tentunya material akan ditempatkan pada bagian catch bench,
dengan lebar SB (Gambar 6.4) yang berfungsi menahan sementara hasil peledakan,
namun catch bench ini juga akan ditambang atau diledakkan.

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 78

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Dalam menjaga tingkat keamanan bench (safety benches) lebar bench 2/3 dari tinggi
bench, namun untuk tambang yang memiliki umur tambang yang lama lebar bench
dapat direduksi menjadi 1/3 tinggi bench. Menurut Ritchie (1963) dan Call (1986)
rancangan geometri catch bench seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6.5 dan Tabel
6.1 sebagai berikut.

Gambar 6.5
Geometri Catch bench

Tabel 6.1
Tipe Rancangan Dimensi Catch Bench (Call, 1986)
Bench Height
(m)
15
30
45

Impact Zone
(m)
3,5
4,5
5

Berm Height
(m)
1,5
2
3

Berm Width
(m)
4
5,5
8

Minimum Bench
Width (m)
7,5
10
15

Geometri bench tergantung pada produksi yang diinginkan dan alat-alat mekanis yang
digunakan. Berdasarkan alat-alat yang dipakai, maka ukuran alat shovel
mempengaruhi dimensi bench, dimana harus dipertimbangkan gerak dan jangkauan
yang cukup untuk shovel. Disamping itu juga harus diperhitungkan lebar untuk alat
angkut dan ruang untuk pengeboran (Gambar 6.6).

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 79

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.6
Dimensi Bench dengan Kinerja Shovel dan Truck (Riese, 1993)

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 80

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.7
Bagian-Bagian Working Bench

Berikut ini diberikan lebar minimum bench dari beberapa ahli ;


Menurut Head Quarter Departement of the Army (USA)
Wmin = y + Wt + Ls + G + Wb (dalam feet)
Keterengan :
Wmin : Lebar minimum lereng, m
Y
: Lebar yang disediakan untuk pemboran, m
Wt
: Lebar yang disediakan untuk alat angkut
Ls
: Panjang power shovel, m
G
: floor cutting radius power shovel, m
Wb
: Lebar untuk broken material, m

Menurut L. Shevvakov (Mining of Mining Deposite)


Untuk Material Lunak ; B = (1,00 sampai 1,50) Ro + L + L1 + L2
Keterangan :
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 81

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

B
Ro
L
L1
L2

: Lebar lereng, m
: Digging radius alat muat, m
: Jarak antara sisi lereng dengan rel 3-4 m
: Lebar lori, 1,75 3 m
: Jarak untuk menjaga agar tidak terjadi runtuhan

Untuk Material Lunak ; B = N + L + L1 + L2


Keterangan :
N
: Lebar yang dibutuhkan untuk broken material, m
Disini tidak disediakan lebar untuk alat muat dan gali, karena dianggap alat bekerja disamping broken
material.

Menurut Melinkov dan Chevnokov (Safety in Open Cast Mining)


Vr = A + C + C1 + L + B
Keterangan :
Vr : Lebar lereng, m
A
: Lebar untuk broken material, m
C
: Jarak sisi timbunan ke sisi tengah rel, m
C1 : 0,5 lebar lori, 2 3 m
L
: Lebar yang disediakan untuk menjamin extraction dari endapan pada jenjang di bawahnya.
B
: Lebar endapan yang diledakkan, 6 12 m

Menurut Young (Element of Mining)


1. Tinggi lereng :
- untuk tambang bijih besi antara 20 40 ft
- untuk tambang bijih tembaga antara 30 70 ft
- untuk lime stone datap mencapai 200 ft
2. Lebar lereng : antara 50 250 ft
3. Kemiringan lereng : 45o 65o.
Menurut E.P. Pfleider (Surface Mining)
Tinggi Lereng (L) : Lm x Sf x
Keterangan :
Lm : maksimum cutting height alat muat
Sf : swell factor
X
: 1/3 untuk cara corner cut, dan 0,5 untuk cara box cut.

Menurut Lewis (Element of Mining)


Tinggi lereng adalah :
- Untuk cara hydraulicking yang baik adalah 200 600 ft
- Untuk cara dredging tinggi ideal antara 50 80 ft, tetapi ada yang mencapai
130 ft.
- Untuk open cut antara 12 75 ft, yang baik adalah 30 ft. Sedangkan untuk
tambang bijih dapat mencapai 225 ft. Lebar jenjang disesuaikan dengan
loading track dan power shovel serta untuk peledakan. Lebarnya antara 20 -
76 ft, umumnya 50 ft dan idealnya 30 ft.
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 82

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

6.2 PIT SLOPE GEOMETRI


Dalam tambang terbuka terdapat individual slope dan overall slope. Setiap individual
slope tentunya memiliki face angle () yang didefenisikan sebagai sudut yang dibentuk
terhadap bidang horizontal terhadap garis bidang dari toe hingga ke crest lereng.
Sedangkan overall slope angle () adalah sudut yang dibentuk dari toe lereng yang
paling bawah hingga ke crest lereng paling atas (Gambar 6.8).

Gambar 6.8
Face Angle Individual slope (atas) dan Overall Slope (bawah)

Pada Gambar 6.7 (bawah) terdapat 5 bench, dimana masing-masing bench memiliki
lebar bench adalah 35 ft dan tinggi bench adalah 50 ft, maka besar sudut overall slope
adalah :

(Overall) tan 1

5 x 50
50,4o
5 x 50
4 x 35
tan 75o

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 83

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Bila pada Gambar 6.8 (bawah) di bench ke tiga terdapat akses ramp dengan lebar 100
ft (Gambar 6.9), maka overall slope menjadi :

(Overall) tan 1

5 x 50
39,2o
5 x 50
4 x 35
100
tan 75o

Gambar 6.9
Overall slope Terdapat Ramp

Setelah ramp terbentuk, maka dapat dilihat bahwa sudut overall slope terbagi menjadi
dua bagian. sudut overall slope yang terbentuk disebut dengan sudut interramp
(IR1,2) lihat Gambar 6.10. Besaran sudut ini dapat dihitung sebagai berikut.

IR1 IR2 tan 1

5 x 50
50,40
2 x 50
25
2 x 35

tan 750 tan 750

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 84

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.10
Sudut Interramp slope

Bila pada Gambar 6.7 (bawah) di bench ke dua terdapat working bench dengan lebar
125 ft (Gambar 6.11), maka besar sudut overall slope ;

(Overall) tan 1

5 x 50
5 x 50
125 4 x 35
tan 75o

36,980

Gambar 6.11
Sudut Overall Slope Terdapat Working Bench

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 85

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Dari Gambar 6.11 terdapat pada bench 1 dengan ketinggian bench 50 ft, sehingga face
slope 1R1 adalah 75o, maka sudut overall slope dengan working bench adalah (1R2) ;

IR2 tan 1

4 x 50
4 x 50
125 3 x 35
tan 750

51,60

Gambar 6.12
Sudut Interramp berassosiasi dengan Working Bench

Kondisi tinggi slope dipengaruhi nilai kohesi (Tabel 6.2) dan besar sudut geser dalam
(Tabel 6.3) dari masing-masing jenis tanah dan batuan.
Tabel 6.2
Nilai Kohesi dari tanah dan batuan (Robertson, 1971)
2
2
Material
C (lb/ft )
C (kg/m )
Very soft soil
35
170
Soft soil
70
340
Firm soil
180
880
Stiff soil
450
2,200
Very Stiff soil
1,600
7,800
Very soft rock
3,500
17,000
Soft rock
11,500
56,000
Hard rock
35,000
170,000
Very hard rock
115,000
560,000
Very very hard rock
250,000
1,000,000

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 86

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Tabel 6.3
Nilai Sudut Geser Dalam (derajat) dari Beberapa Batuan (Hoek, 1970)
Rock
Intack Rock
Joint
Residual
Andesite
45
31 - 35
28 30
Basalt
48 - 50
47
Chalk
35 41
Diorite
53 - 55
Granite
50 - 64
31 33
Graywacke
45 - 50
Limestone
30 - 60
33 37
Monzonite
48 - 65
28 32
Porphyry
40
30 34
Quartzite
64
44
26 35
Sandstone
45 50
27 38
25 34
Schist
26 70
Shale
45 64
37
27 32
Siltstone
50
43
Slate
45 - 60
24 34
Material lainnya
Approximate
Clay gouge (remoulded)
10 - 20
Calcite shear zone material
20 27
Shale fault material
14 22
Hard rock breccia
22 30
Compacted hard rock agregatte
40
Hard rock fill
38

Hubungan tinggi slope dengan fungsi sudut slope dalam kasus planar failure dapat
dilihat pada Gambar 6.13. Sebagai contoh, sudut plane (i) sebesar 70 o, potensi
longsoran/failure plane () sebesar 50o dan sudut geser dalam () sebesar 30o. Dari
Gambar 6.13 diperoleh ;
(
(

)(

)
)(

X = 40o
Bila, Kohesi, C = 1,600 lb/ft2 dan = 160 lb/ft3 pada batas FK = 1, maka tinggi slope
adalah ;

H = 14 ft

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 87

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.13
Hubungan Tinggi Slope dengan Fungsi Sudut Slope (Planar Failure)

Gambar 6.13
Hubungan Tinggi Slope dengan Fungsi Sudut Slope (Planar Failure) dengan Variasi Faktor Keamanan (FK)

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 88

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

6.3 SLOPE FAILURE (LONSORAN LERENG)


Dalam massa batuan (mass rock) terdapat tegangan vertikal dan tegangan horizontal,
bila mana pada massa batuan itu dilakukan penggalian tambang (pit), maka akan
terjadi potensial daerah longsoran atau zone of potential failure (Gambar 6.14).
Longsoran yang terjadi diakibatkan oleh beberapa tegangan/tekanan, beban gravitasi
dan struktur batuan.

Gambar 6.14
Distribusi Tegangan Horizontal pada Pit

Pada sub bab ini akan diuraikan tentang dasar-dasar mekanika longsoran, longsoran
akibat beban gravitasi, pengaruh tekanan air dan tegangan geser, kestabilan lereng
termasuk didalamnya jenis-jenis longsoran lereng dan pemantauan proteksi lereng.

6.3.1 Dasar-Dasar Mekanika Longsoran


Sifat-sifat material yang relevan dengan masalah kestabilan lereng adalah sudut geser
dalam (), kohesi (C), dan berat jenis () batuan. Pengertian sudut geser dalam dan
kohesi akan dijelaskan pada Gambar 6.15. Gambaran secara grafik ini menjelaskan
secara sederhana tentang suatu batuan yang mengandung bidang diskontiniu dan
kemudian padanya bekerja tegangan geser dan tegangan normal sehingga akan
menyebabkan batuan tersebut retak pada bidang diskontiniu dan mengalami geseran.
Tegangan geser yang dibutuhkan sehingga batuan tersebut retak dan bergeser, akan
bertambah sesuai pertambahan tegangan normal. Pada grafik, hal ini berhubungan
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 89

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

secara linier membentuk suatu garis yang membentuk sudut sebesar terhadap
horizontal, sudut inilah yang dinamakan sudut geser dalam. Bila tegangan normal
dibuat nol dan batuan diberikan tegangan geser sampai batuan tersebut mulai retak,
maka harga tegangan geser yang dibutuhkan pada saat batuan mulai retak adalah
merupakan harga kohesi (c) dari batuan tersebut.
Hubungan antara tegangan geser () dan tegangan normal () dapat dinyatakan
sebagai berikut6) :

= c + tan ........................................................................................... [6-1]

Sudut geser
dalam

Tegangan geser

Tegangan
Tegangan
geser
Kohesi
c
Tegangan normal

Gambar 6.15
Hubungan antara tegangan geser dengan tegangan normal

6.3.2 Longsoran Akibat Beban Gravitasi


Suatu massa seberat W yang berada dalam keadaan setimbang diatas suatu bidang
yang membentuk sudut terhadap horizontal.

R
W sin

W cos
W

Gambar 6.16
Kesetimbangan benda diatas bidang miring.

Gaya berat yang mempunyai arah vertikal dapat diuraikan pada arah sejajar dan tegak
lurus bidang miring. Komponen gaya berat yang sejajar bidang miring dan yang
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 90

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

cenderung menyebabkan benda untuk menggelincir adalah W sin . Sedangkan


komponen gaya yang tegak lurus bidang dan merupakan gaya yang menahan benda
untuk menggelincir adalah W cos atau gaya normal.

(W cos.
dimana A adalah luas dasar benda...................................................[6-2]
A

Dimana diasumsikan bahwa tegangan geser didefenisikan oleh persamaan 6-1 dan
disubsitusikan tegangan normal dari persamaan 6-2, dihasilkan sebagai berikut :

(W cos.
tan
A

atau
R = cA + (W cos. ) . Tan ................................................................................... [6-3]
dimana R = A adalah gaya geser yang menahan benda tergelincir ke bawah.
Benda dalam kondisi batas kesetimbangan apabila gaya yang menyebabkan benda
tergelincir tepat sama dengan gaya yang menahan benda atau dapat dinyatakan
sebagai berikut :
W sin = cA + W cos .tan ................................................................... [6-4]
Bila harga kohesi c = 0, kondisi batas kesetimbangan dapat dinyatakan dengan :
= ............................................................................................................[6-5]

6.3.3 Pengaruh Tekanan Air pada Tegangan Geser


Pengaruh tekanan air pada tegangan geser akan lebih mudah dimengerti dengan
menggunakan analogi seperti diterangkan di bawah ini. Sebuah bejana yang diisi air
dan diletakkan di atas bidang miring seperti terlihat pada Gambar 6.17.
Susunan gaya yang bekerja disini sama dengan yang bekerja pada sebuah benda diatas
bidang miring seperti diterangkan pada Gambar 6.17. Untuk penyederhanaan, kohesi
antara dasar bejana dan bidang miring diasumsikan nol.
Menurut persamaan [6.5], bejana dan isinya akan mulai tergelincir pada saat 1= .
Dasar bejana kini dilubangi sehingga air dapat masuk ke celah antara dasar bejana dan
bidang miring memberikan tekanan air sebesar u atau gaya angkat sebesar U=uA,
dimana A adalah luas dasar bejana.

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 91

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gaya normal W cos 2 sekarang dikurangi oleh gaya angkat U, dan besarnya gaya
yang menahan gelinciran adalah :
R = (W cos 2-U) tan ................................................................................ [6-6]

Gambar 6.17
6)
Bejana teisi air di atas bidang miring

Seandainya berat per unit volume dari bejana yang berisi air adalah t, dan berat per
unit volume air adalah w, maka W = t . h . A dan U = w . hw . A, dimana h dan hw
adalah seperti yang tertera pada gambar 6.18.

U
hw
W cos 2

2
h

W sin 2

Gambar 6.18
Tekanan air pada celah antara bejana dan bidang miring.

Besarnya hw. = h cos 2 dan U = (w / t) W cos2

.............................................. [6-7]

Subsitusikan ke persamaan [6-6] didapat :


Bab 6. Lereng Tambang, hal. 92

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

R = W cos 2 (1 - 2 / t) tan

................................................ [6-8]

Dan kondisi batas kesetimbangan yang terdefenisi pada persamaan [6-4] menjadi :

tan 2 = (1 - W / t) tan

................................................. [6-9]

6.3.4 Kestabilan Lereng.


Pada batuan, umumnya gaya-gaya berada dalam keadaan setimbang (equilibrium),
maksudnya keadaan dimana distribusi tegangan pada batuan atau tanah tersebut
dalam keadaan mantap/stabil. Dengan adanya suatu kegiatan terhadap batuan atau
tanah tersebut seperti pengangkutan, penggalian, penimbunan, erosi atau aktivitas
lain sehingga kesetimbangannya terganggu.
Massa batuan (rock mass) adalah batuan insitu yang terdiri dari berbagai bidang
lemah yang ditunjukkan oleh kenampakan sistim struktur geologi seperti kekar (joint),
sesar (fault) serta bidang perlapisan (bedding). Longsoran pada lereng (slope) biasanya
diasosiasikan dengan perpindahan/pergeseran (displacement) pada permukaan
bidang lemah tersebut. Sedangkan batuan utuh (intact rock) adalah kumpulan dari
partikel mineral yang tersementasikan dan terkonsolidasi dengan baik yang
membentuk batuan massif diantara rekahan-rekahan pada massa batuan. Bidang
lemah (discontinuity) adalah kenampakan struktur utama yang memisahkan massa
batuan massif (massive rock mass) menjadi blok-blok. Bidang lemah ini dapat berupa
kekar (joint), sesar (fault) dan bidang perlapisan (bedding) serta belahan (fracture) dan
lain sebagainya. Bidang lemah utama adalah struktur bidang menerus seperti sesar
(fault) yang dapat merupakan bidang yang sangat lemah jika dibandingkan dengan
struktur lain pada massa batuan (Hoek and Bray, 1981).
Metoda yang banyak digunakan untuk menganalisis kestabilan lereng adalah metoda
kesetimbangan limit dan metoda numerik. Metoda kesetimbangan limit menggunakan
konsep faktor keamanan, yaitu perbandingan antar gaya penahan dan gaya penggerak
yang diperhitungkan pada bidang gelincirnya. Jika gaya penahan terlampaui maka
longsoran akan terjadi. Secara analitis, persamaan matematik untuk menganalisis
longsoran tersebut di atas sudah banyak diturunkan (Hoek and Bray, 1981;
Giani,1992). Namun untuk kemudahan dalam aplikasinya, beberapa dari persamaanpersamaan tersebut yang sudah dituangkan dalam bentuk grafik, diantaranya metoda
analisis kestabilan lereng untuk longsoran busur (Hoek and Bray, 1981).
Teknik stereografis banyak digunakan untuk membantu mengidentifikasi jenis
longsoran yang mungkin terjadi. Pengeplotan secara bersamaan antara strike dan
kemiringan baik muka lereng maupun bidang lemah dan besarnya sudut geser dalam
pada suatu stereonet akan segera dapat diketahui jenis dan arah longsorannya.

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 93

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Pada suatu lereng berlaku dua macam gaya yaitu gaya yang membuat massa batuan
atau tanah bergerak atau gaya penggerak dan gaya yang menahan massa batuan
tersebut dari penggerak atau gaya penahan. Lereng akan longsor jika gaya
penggeraknya lebih besar dari gaya penahan. Secara matematis kestabilan/kestabilan
suatu lereng dapat dinyatakan dalam bentuk Faktor Keamanan (FK) sebagai berikut :
FK = Gaya Penahan / Gaya Penggerak .................................................... [6-10]
Hubungan beberapa varisasi nilai faktor keamanan terhadap kemungkinan longsoran
lereng maupun pada perancangan lereng dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 6.1
Hubungan nilai FK dan kemungkinan kelongsoran (Bowles, JE)

Nilai FK

Kemungkinan Longsoran

FK < 1,07

Longsoran biasa terjadi

1.07 < FK < 1.25


FK > 1.25

Longsoran pernah tejadi


Longsoran jarang terjadi

Tabel 6.2
Nilai FK untuk perancang lereng (Sosrodarsono, Suyono)

Nilai FK
FK < 1.0
1,0 < FK < 1.2
1.3 < FK < 1,4
1,5 <FK > 1,7

Kemungkinan longsoran
Tidak stabil
Kestabilan diragukan
Memuaskan untuk pemotongan dan penimbunan
Stabil untuk bendungan

Strike atau jurus adalah arah dari garis perpotongan antara bidang lemah dengan
bidang datar (horizontal) acuan yang diukur dari utara, atau azimuth dari garis
perpotongan tersebut. Dip adalah besarnya sudut kemiringan maksimum sebuah
struktur bidang lemah terhadap bidang datar (horizontal).Dip direction adalah arah
kemiringan yang tegak lurus terhadap arah strike yang diukur dari utara searah
dengan arah jarum jam.
N

STRIKE

DIP DIRECTION
DIP

Gambar 6.19
Defenisi Geometrik Strike dan Dip (Hoek and Bray, 1981)

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 94

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng


Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menganalisis kestabilan lereng adalah
sebagai berikut :
1. Penyebaran batuan.
Macam batuan atau tanah yang terdapat di daerah penyelidikan harus diketahui,
demikian juga penyebaran suatu hubungan antar batuan. Ini perlu dilakukan
karena sifat-sifat fisik dan mekanis suatu batuan berbeda dengan batuan lain
sehingga kekuatan menahan bebannya sendiri juga berbeda.
2. Relief permukaan bumi.
Faktor ini mempengaruhi laju erosi dan pengendapan serta juga menentukan arah
aliran air permukaan dan air tanah. Hal ini disebabkan karena untuk daerah yang
curam, kecepatan aliran air permukaan tinggi dan mengakibatkan pengikisan lebih
intensif, banyak dijumpai singkapan batuan dan ini menyebabkan pelapukan yang
lebih cepat. Batuan yang lapuk mempunyai kekuatan yang rendah sehingga
kestabilan lereng semakin berkurang.
3. Struktur geologi.
Struktur geologi yang perlu dicatat disini adalah sesar, kekar, bidang perlapisan,
perlipatan, ketidakselarasan dan sebagainya. Ini merupakan hal penting dalam
analisis kestabilan lereng karena struktur ini merupakan bidang lemah di dalam
suatu massa batuan dan dapat menurunkan kestabilan lereng.
4. Iklim.
Iklim mempengaruhi kestabilan lereng karena iklim mempengaruhi ke perubahan
temperatur. Temperatur yang cepat sekali berubah dalam waktu yang singkat akan
mempercepat proses pelapukan batuan. Untuk daerah tropis pelapukan lebih
cepat dibandingkan daerah dingin. Oleh karena itu singkapan batuan pada lereng
daerah tropis akan lebih cepat lapuk dan ini mengakibatkan lereng mudah longsor.
5. Geometri lereng.
Geometri lereng mencakup tinggi lereng dan sudut kemiringan lereng. Lereng yang
terlalu tinggi akan mengakibatkannya menjadi tidak mantap dan cenderung
mudah longsor dibandingkan dengan lereng yang tidak terlalu tinggi bila susunan
batuannya sama. Demikian juga dengan sudut kemiringan lereng, lereng menjadi
kurang mantap jika kemiringannya besar.
6. Air tanah.
Muka air tanah yang dangkal menjadikan lereng sebagian besar basah dan
batuannya mempunyai kandungan air yang tinggi. Batuan dengan kandungan air
yang tinggi kekuatannya menjadi rendah sehingga lereng lebih mudah longsor. Hal
ini dikarenakan air yang terkandung dalam batuan akan menambah beban batuan
tersebut.
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 95

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

7. Gaya luar.
Gaya luar sedikit banyak dapat mempengaruhi kestabilan suatu lereng. Gaya ini
berupa getaran-getaran yang berasal dari sumber yang berada didekat lereng
tersebut. Getaran ini misalnya ditimbulkan oleh peledakan, lalu lintas kenderaan
dan lain sebagainya.
8. Pelapukan.
Kondisi massa batuan yang terlapukkan dapat disebabkan oleh adanya rembesan
air, perubahan iklim, ataupun pengaruh perubahan tekanan yang dialami batuan
sebagai akibat adanya besaran gaya-gaya terhadap massa batuan. Batuan yang
terlapukkan dapat dengan mudah untuk longsor dari pada batuan yang massive.
Data utama sebagai analisis kestabilan suatu lereng batuan adalah :
1. Geometri lereng.
Geometri lereng yang perlu diketahui adalah :
a. Orientasi (jurus dan kemiringan lereng ).
b. Tinggi dan kemiringan lereng (tiap jenjang maupun keseluruhannya).
c. Lebar jenjang.
2. Struktur batuan.
Struktur batuan yang mempengaruhi kestabilan suatu lereng adalah adanya
bidang-bidang lemah yaitu sesar, kekar, perlapisan dan rekahan.
3. Sifat fisik dan sifat mekanik batuan.
Sifat fisik dan mekanik batuan yang diperlukan sebagai dasar analisis kestabilan
lereng adalah :
a. Bobot isi batuan.
b. Porositas batuan.
c. Kandungan air dalam batuan.
d. Kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser batuan.
e. Sudut geser dalam.
Data utama tersebut diatas dapat diperoleh dari penyelidikan-penyelidikan di
lapangan dan di laboratorium.
1. Penyelidikan lapangan.
Penyelidikan lapangan dapat dilakukan dengan :
a. Pengukuran untuk mendapatkan data geometri lereng.
b. Seismik refraksi/refleksi untuk mendapatkan data litologi.
c. Pemboran ini dan pembuatan terowongan (adit) untuk mendapatkan data
litologi, struktur batuan dan contoh (sampel) batuan untuk dianalisis di
laboratorium.
d. Piziometer untuk mengetahui tinggi muka air tanah.

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 96

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

e.

Uji batuan di lapangan (insitu test) untuk mendapatkan data tentang sifat
mekanik batuan misalnya dengan block shear test.

2. Penyelidikan laboratorium.
Sifat fisik dan mekanik batuan diperoleh dari hasil uji coba di laboratorium
terhadap conto (sampel) batuan yang diambil dari lapangan. Penyelidikan
laboratorium dapat dilakukan dengan :
a. Uniaxial Compressive Test (UCS).
b. Triaxial Test.
c. Direct Shear Test.
d. Penentuan bobot isi batuan, kandungan air dan porositas batuan.

Jenis-jenis Longsoran.
Pada batuan dikenal tiga longsoran yaitu plane failure, wedge failure dan topling
failure. Sedangkan untuk tanah dikenal dengan longsoran circular failure.
Longsoran Bidang (plane failur).
Longsoran bidang terjadi bila seluruh kondisi di bawah ini terpenuhi, yaitu :
1. Jurus bidang luncur sejajar atau mendekati sejajar tehadap jurus bidang
permukaan lereng dengan perbedaan maksimal 20.
2. Kemiringan bidang luncur harus lebih kecil dari kemiringan bidang permukaan
lereng. atau peda gambar adalah > p.
3. Kemiringan bidang luncur lebih besar dari sudut geser dalam atau p > .
4. Terdapat bidang bebas yang merupakan batas lateral dari massa batuan yang
longsor.

Gambar 6.20
Penampang lereng dan bidang bebas pada longsoran bidang

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 97

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Longsoran Baji.
Longsoran ini terjadi bila dua buah jurus bidang kontiniu berpotongan dan besar sudut
garis potong kedua bidang tersebut (p) lebih besar dari sudut geser dalam () dan
lebih kecil dari sudut kemiringan lereng (1,). Perhitungan factor keamanan lebih
rumit dibandingkan pada longsoran bidang karena melibatkan dua bidang gelincir
dimana gaya-gaya yang bekerja pada bidang tersebut turut diperhitungkan.

Gambar 6.21
Longsoran Baji.

Longsoran Busur.
Bila longsoran bidang dan longsoran baji tejadi pada batuan keras, maka longsoran
busur lebih sering terjadi pada material tanah atau batuan lunak dengan struktur
kekar yang rapat. Bidang longsorannya berbentuk busur.

Gambar 6.22
Longsoran busur

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 98

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Longsoran Guling (topping failur)


Longsoran ini terjadi pada lereng yang terjal dan pada batuan yang keras dimana
struktur bidang lemahnya berbentuk kolom.

Gambar 6.23
Longsoran guling

Dalam rancangan pit semua jenis longsoran harus diplotkan pada setiap muka lereng,
sehingga memudahkan aktivitas penambangan.

Gambar 6.24
Kondisi Pit dengan Jenis Longsoran
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 99

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

6.3.5 Analisis Kestabilan Lereng


Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk melakukan analisis terhadap kestabilan lereng,
baik untuk batuan maupun untuk tanah. Pada bukaan atau penggalian yang tidak terlalu
dalam, umumnya metode yang dipergunakan adalah metode untuk tanah. Untuk menganalisis
kestabilan lereng terdiri dari beberapa metode yaitu :

Metode Swedia
Digunakan dengan asumsi bidang longsor berbentuk busur lingkaran. Harga faktor keamanan
(FK) dihitung dengan persamaan :
FK =

1
W . Sin

W = .h.b

(C .l tan . (W . cos u .l ))
'

'

..........................................[6-11]

......................................................................................................[6-12]

dimana :
W = berat beban total irisan (ton)
l
= panjang ab (meter) (lihat Gambar 6.25)
b
= lebar irisan/segmen (meter)
2
C = kohesi efektif (ton/m )
= sudut geser dalam efektif (derajat)

= kemiringan dasar irisan/segmen (derajat)


u
= gaya angkat akibat tekanan air pada permukaan bidang longsor (ton)
3

= bobot isi/density material (ton/m )


h
= tinggi irisan/segmen (meter)
Titik pusat rotasi

b
w

Gambar 6.25
Diagram gaya pada analisis metode lapis

Metode Bishop
Metode ini pada dasarnya sama dengan metode Swedia, tetapi dengan
memperhitungkan gaya-gaya antar irisan yang ada. Metode Bishop mengasumsikan
bidang longsor berbentuk busur lingkaran (Gambar 6.25).
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 100

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Pertama yang harus diketahui adalah geometri dari lereng dan juga titik pusat busur
lingkaran bidang luncur, serta letak rekahan kritisnya (critical tension craks). Cara
menentukan titik pusat busur lingkaran bidang luncur dan letak rekahan pada
longsoran busur tersebut dilakukan dengan bantuan grafik (Gambar 6.26). Titik pusat
bidang luncur tersebut perlu ditentukan apabila :
1. Penampang longsoran membentuk busur lingkaran.
2. Metode analisa kestabilan lereng yang dipakai adalah metode grafis yang disebut
slip circle analysis atau slice analysis (Ifleider, 1972).
Dalam hal ini yang diperlukan untuk menentukan titik pusat busur lingkaran bidang
luncur dan letak rekahan pada longsoran busur adalah harga sudut geser dalam (),
tinggi tebing/lereng (H) dan besarnya sudut lereng. Harga X dan Y diukur dari kaki
lereng (toe) dan dinyatakan dalam H (tinggi tebing/lereng).

Kedudukan pusat busur kritis untuk longsoran melalui kaki lereng


Gambar 6.26
Penentuan Titik Pusat Lingkaran Kritis Untuk Lereng Yang Kering
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 101

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Faktor keamanan (FK) untuk metode Bishop dapat dirumuskan sebagai berikut :

sec
1
FK =
C
'
b

W
(
1

B
)
tan

'

...................[6-13]

tan . tan
W . Sin
1
F

B=u.

1
W /b

............................................................................................ [6-14]

dimana :
W = berat beban total irisan (ton)
b
= lebar irisan/segmen (meter)
2
C
= kohesi efektif (ton/m )
= sudut geser dalam efektif

= kemiringan dasar irisan/segmen


u
= gaya angkat akibat tekanan air pada permukaan bidang longsor (ton)

Tahap selanjutnya dalam proses analisis adalah membagi massa material diatas bidang
longsor menjadi beberapa segmen atau potongan. Pada umumnya jumlah potongan
minimum 5 (lima) untuk menganalisis kasus yang sederhana. Untuk profil lereng yang
kompleks atau yang terdiri dari banyak material yang berbeda, jumlah segmen harus
lebih besar. Parameter yang mutlak dimiliki untuk tiap-tiap segmen adalah kemiringan
dari dasar segmen yaitu sebesar , tegangan vertikal yang merupakan perkalian antara
tinggi (h) dan berat jenis tanah atau batuan (), tekanan air yang dihasilkan dari
perkalian antara tinggi muka air tanah dari dasar segmen (hw) dan berat jenis air (w)
dan kemudian lebar elemen (b). Disamping parameter tersebut, kuat geser juga
diperlukan di dalam perhitungan.

Metode Janbu
Digunakan untuk menganalisis lereng yang bidang longsornya tidak berbentuk busur
lingkaran. Bidang longsor pada analisis metode janbu ditentukan berdasarkan zona
lemah yang terdapat pada massa batuan atau tanah. Cara lain yaitu dengan
mengasumsikan suatu faktor keamanan tertentu yang tidak terlalu rendah. Kemudian
melakukan perhitungan beberapa kali untuk mendapatkan bidang longsor yang
memiliki faktor keamanan terendah. Faktor keamanan untuk metode Janbu dapat
dirumuskan sebagai berikut :

FK =

fo . X / (1 Y / F )

Z Q

......................................................................[6-15]

X = (C + ( .h - w hw ) tan ' ).(1 + tan2 ). X

....................................[6-16]

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 102

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Y = tan . tan ......................................................................................[6-17]


Z = .h. X.sin ....................................................................................[6-18]
Q = . w .Z2 ............................................................................................[6-19]
fo = 1 + K (d/L 1,4 (d/L)2) .....................................................................[6-20]
dimana :
untuk C = 0; K = 0,31
untuk C >, ' > 0; K = 0,50

Gambar 6.27
Analisis longsoran non-circular pada metode Janbu

Metode Hoek dan Bray


1. Longsoran bidang
Dalam menganalisis longsoran bidang dengan metode Hoek dan Bray, suatu lereng
ditinjau dengan anggapan-anggapan sebagai berikut :
a. Semua syarat untuk terjadinya longsoran bidang terpenuhi.
Bab 6. Lereng Tambang, hal. 103

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

b. Terdapat regangan tarik tegak (vertikal) yang terisi air sampai kedalaman Zw.
Regangan tarik ini dapat terletak pada muka lereng maupun diatas lereng.
c. Tekanan air pada regangan tarik dan sepanjang bidang luncur tersebar secara
linier.
d. Semua gaya yang bekerja pada lereng melalui titik pusat massa batuan yang akan
longsor, sehingga tidak terjadi rotasi.
FK =

FK =

Gaya gaya penahan


Gaya gaya penggerak

C . A (W cos p U V sin p ) tan


W sin p V cos p

................................... ..........[6-21]

dimana :
FK = faktor kestabilan lereng
2
C
= kohesi pada bidang luncur (ton/m )
A
= panjang bidang luncur (meter)
p = sudut kemiringan bidang luncur

W
U

= sudut geser dalam batuan


= berat massa batuan yang akan longsor (ton)
= gaya angkat yang ditimbulkan oleh tekanan air disepanjang bidang
luncur (ton)

= . w Z w (H - Z).cosec p

= . w Z w

w
Zw
Z
H

2
3

= bobot isi air (ton/m )


= tinggi kolom air yang mengisi regangan tarik (meter)
= kedalaman regangan tarik (meter)
= tinggi lereng (meter)

Jika terjadi getaran yang diakibatkan oleh adanya gempa, peledakan maupun
aktivitas manusia lainnya, maka persamaan [6-21] menjadi :

F=

C . A W (cos p sin p ) U V sin p tan


W (sin p cos p ) V cos p

................................. [6-22]

dimana :
= percepatan getaran pada arah mendatar

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 104

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.28
Regangan tarik pada longsoran bidang

2. Longsoran baji
Dalam analisis dengan menggunakan metode Hoek dan Bray, longsoran baji
dianggap hanya akan terjadi pada garis perpotongan kedua bidang lemah. Faktor
kestabilan lereng dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : (lihat Gambar
6.29 dan 6.30).
F=


(Ca X Cb Y ) A w X tana B w Y tan b ...........................[6-23]
.H
2
2

dimana :
2
Ca
= kohesi pada bidang lemah I (ton/m )
2
Cb
= kohesi pada bidang lemah II (ton/m )

a
b

= sudut geser dalam, bidang lemah I


= sudut geser dalam, bidang lemah II
3

= bobot isi batuan (ton/m )


3
= bobot isi air (ton/m )

sin 24
sin 45 . cos 2 na

sin 13
sin 35 . cos 1nb

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 105

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

cos a cos b . cos na . nb


sin 5 .sin 2 na . nb

cos b cos a . cos na . nb


sin 5 .sin 2 na . nb

dimana a dan b adalah kemiringan (dip) dari bidang-bidang I dan II serta 5


adalah sudut penunjaman perpotongan bidang lemah I dan II. Jika pada bidang I dan
II tidak terdapat kohesi, serta kondisi lereng kering, maka persamaan [6-23]
menjadi:
FK = A tan a + B tan b

........................................................... ..........[6-24]

dimana A dan B adalah suatu faktor tanpa satuan yang besarnya tergantung pada
jurus (strike) dan kemiringan (dip) kedua bidang lemahnya. Bidang lemah yang
mempunyai kemiringan lebih kecil selalu dinamakan bidang lemah I, sedangkan
bidang lemah yang satunya lagi dinamakan bidang lemah II.

tampak samping

tegak lurus perpotongan bidang lemah

(gambar tiga dimensi)

Gambar 6.29
Model longsoran baji
Keterangan :
f = kemiringan lereng

p = kemiringan garis perpotongan bidang lemah


= sudut geser dalam

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 106

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 6.30
Stereoplot data longsoran baji
Keterangan :
na.nb = sudut perpotongan bidang lemah I dan II

1.nb = sudut antara bidang lemah I dengan garis perpotongan bidang lemah I
2. na

24

13
35

45
5

dan muka lereng


= sudut antara bidang lemah II dengan garis perpotongan bidang lemah II
dan muka lereng
= sudut antara garis perpotongan bidang lemah II dan muka lereng dengan
garis perpotongan bidang lemah II dan bagian atas lereng (upper slope)
= sudut antara garis perpotongan bidang lemah I dan muka lereng dengan
garis perpotongan bidang lemah I dan muka lereng
= sudut antara garis perpotongan bidang lemah I dan bagian atas lereng
(upper slope) dengan garis perpotongan bidang lemah I dan II
= sudut antara garis perpotongan bidang lemah II dan muka lereng dengan
garis perpotongan bidang lemah I dan II
= sudut penunjaman perpotongan bidang lemah I dan II

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 107

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

3. Longsoran guling
Dengan metode Hoek dan Bray terjadinya longsoran guling dapat dianalisis dengan
menggunakan suatu model yang sederhana. Model tersebut hanya berlaku untuk
kasus-kasus yang sederhana dan berupa balok-balok yang disusun pada suatu
tangga yang miring (Gambar 6.31).

Gambar 6.31
7)
Model longsoran guling

Dengan model tersebut akan dianalisis kestabilan batas suatu lereng terhadap
longsoran guling. Kestabilan batas adalah suatu keadaan dimana lereng pada saat
akan longsor. Gaya-gaya yang bekerja pada setiap balok dihitung dengan nilai
(angka) sudut geser dalam ( ) tertentu, sampai diperoleh nilai Po positif terkecil.
Nilai Po tersebut merupakan gaya yang menahan balok 1 (lihat Gambar 2.10). Nilai
sudut geser dalam ( ) yang menghasilkan Po positif terkecil kemudian dipakai
sebagai sudut geser dalam pada keadaan kestabilan batas. Faktor kestabilan lereng
terhadap longsoran guling kemudian dapat dinyatakan dengan persamaan :
FK =

tan 1
tan 2

....................................................................... .........[6-25]

dimana :
FK = faktor kestabilan lereng
1 = sudut geser dalam yang sebenarnya di lapangan

2 = sudut geser dalam pada kritis (kestabilan batas)

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 108

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

6.3.6 Pemantauan Proteksi Lereng.


Pemantauan dan proteksi terhadap suatu lereng merupakan suatu usaha yang
bertujuan untuk melindungi. bahakan memperbesar kestabilan lereng. Tindakan
tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Penguatan (supporting).
Penguatan merupakan suatu tindakan bertujuan untuk memperbesar kekuatan
(strength) batuan, sehingga lereng lebih mantap. Hal ini dapat dilakukan dengan :
a. Pemasangan jangkar batuan (rock anchor).
Jangkar batuan terutama berfungsi sebagai penguat (armature) dan pengikat
(confining) batuan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian jangkar
ini adalah :

Jenis jangkar.
Berdasarkan jenisnya, jangkar batuan dibedakan menjadi dua yaitu :
punctual dan distributed anchor, karena jenis jangkar ini mempunyai
kemampuan mengikat batuan lebih besar dibanding dengan punctual
anchor. Distributed anchor juga baik digunakan pada batuan yang banyak
mengandung air, karena bahan pengikatnya (grouting) sekaligus sebagai
pelindung jangkar terhadap korosi.

Panjang jangkar.
Panjang jangkar tergantung pada struktur batuan, terutama bidang-bidang
lemahnya. Pemasangan jangkar batuan selalu diusahakan agar dapat
mengikat batuan yang lemah 9lepas) pada batuan induknya yang kuat.

Kerapatan jangkar.
Pada prinsipnya jangkar batuan harus dapat mengikat (menahan) setiap
beban (massa batuan) yang akan longsor. Kerapatan jangkar tergantung
pada kuat tarik jangkar. Pada prinsipnya kuat tarik jangkar harus lebih
besar dari pada beban (massa batuan yang akan longsor).

Diameter jangkar.
Diameter jangkar ditentukan oleh besar beban yang akan longsor. Semakin
besar beban yang akan longsor, maka diperlukan diameter jangkar yang
lebih besar pula.

Orientasi jangkar.
Orientasi jangkar ditentukan berdasarkan struktur batuan, terutama
bidangbidang lemahnya. Pada prinsipnya jangkar harus dapat mengikat
batuan yang lepas (lemah) pada bartuan induknya yang kuat.

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 109

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Tarikan mula-mula.
Tarikan mula-mula pada jangkar bertujuan untuk mengikat batuan yang
(epas sebelum mengalami gerakan (deformasi) lebih lanjut. Dengan
demikian, batuan tersebut masih dapat menyangga dirinya sendiri.

b. Pemasangan beton tembak.


Beton tembak biasanya dipasang bersama-sama dengan anyaman kawat baja
(wire mesh). Selain berfungsi sebagai penguat, beton tembak juga berfungsi
sebagai pelindung batuan terhadap proses pelapukan dan rembesan air.
c. Pemasangan dinding penahan (retaining wall).
Dinding penahan biasanya dibuat dari beton bertulang yang dipasang pada muka
lereng. Penguatan dengan cara ini hanya cocok diterapkan pada batuan yang
sangat lapuk atau batuan yang bersifat seperti tanah.
d. Penanaman rumput (field sodding).
Rumput ditanam pada bagian lereng yang berupa tanah. Selain berfungsi sebagai
pencegah terjadinya erosi, rumput juga berfungsi sebagai penguat (memperbesar
kuat geser tanah).
2. Perbaikan kondisi lereng.
Kestabilan suatu lereng batuan dapat ditingkatkan dengan memperbaiki kondisi
lereng. Perbaikan kondisi lereng dapat dilakukan dengan :
a. Pembuatan lubang-lubang penirisan.
Air tanah maupun hujan yang merembes kedalam batuan akan memperbesar
gaya angkat (up lift) dan gaya mendatar, sehingga memperbesar gaya
penggerak yang menyebabkan lereng longsor. Dengan membuat lubang-lubang
penirisan, maka gaya-gaya tersebut berkurang sehingga lereng tidak mantap.
Lubanglubang penirisan dapat dibuat dengan member lereng maupun
menggali paritparit disetiap jenjang.
b. Memperlandai kemiringan lereng.
Kondisi suatu lereng batuan dapat diperbaiki dengan pemotongan lereng,
sehingga lereng menjadi lebih landai. Dengan demikian lereng akan menjadi
lebih mantap.

Bab 6. Lereng Tambang, hal. 110